Anda di halaman 1dari 16

Upaya Peningkatan Pangan Lokal Melalui Diversifikasi Pangan dalam Memenuhi Ketahanan Pangan

Teknologi Pengolahan Pangan Lokal

Upaya Peningkatan Pangan Lokal Melalui Diversifikasi Pangan dalam Memenuhi Ketahanan Pangan Teknologi Pengolahan Pangan Lokal Oleh

Oleh :

Kelompok 8

  • 1. Ertriani Anindya M

121710101007

Heni Prahesti

  • 2. 121710101018

Illafi Radinal F

  • 3. 121710101026

  • 4. Rahayu Wahyuningtyas

121710101035

Ambar Ismaya

  • 5. 121710101038

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER

2014

Upaya Peningkatan Pangan Lokal Melalui Diversifikasi Pangan dalam Memenuhi Ketahanan Pangan

Abstrak

Pangan lokal adalah pangan yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya wilayah dan budaya setempat. Ketersediaan pangan lokal di Indonesia

sangat melimpah. Namun, pola konsumsi masyarakat Indonesia akan pangan lokal sebagai pangan pokok masih rendah. Aneka ragam pangan lokal berpotensi sebagai bahan alternatif pengganti beras. Maka, diperlukan diversifikasi pangan yaitu penganekaragaman pangan untuk mengadakan lebih dari satu jenis komoditi pangan untuk dikonsumsi sebagai pangan pokok selain beras. Diversifikasi pangan dapat dipercepat melalui program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) untuk memenuhi ketahanan pangan nasional. Sistem ketahanan pangan yang meliputi ketersediaan pangan mencakup aspek produksi, distribusi pangan yang mencakup aspek aksesibilitas secara fisik dan ekonomi secara merata dan upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi dan kesehatan yang baik.

Pendahuluan

Potensi ketersediaan pangan lokal di Indonesia sangat melimpah. Indonesia memiliki aneka bahan makanan lokal yang mengandung karbohidrat dengan kandungan setara dengan nasi sehingga bisa dijadikan pengganti pangan pokok (Yuliatmoko, 2010). Produk pangan lokal biasanya berkaitan dengan budaya masyarakat setempat. Karena itu, produk pangan lokal sering sekali menggunakan nama daerah seperti, dodol garut; jenang kudus, gudeg yogya (Haryadi, 2007). Banyaknya keragaman pangan lokal olahan tersebut bila dikembangkan dengan baik akan memiliki nilai ekonomi dan sangat berpotensi dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Terwujudnya kemandirian pangan suatu daerah atau negara akan mempercepat tercapainya ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang cukup, aman, bermutu, bergizi, beragam, dan harganya terjangkau oleh daya beli masyarakat. Konsumsi pangan harus terpenuhi baik dari aspek kuantitatif maupun aspek kualitatif yang meliputi aman, bermutu, dan bergizi. Ketahanan pangan dapat melahirkan sistem pangan dengan pondasi yang kokoh. Dengan demikian, ketahanan pangan perlu didukung dengan pondasi kemandirian pangan. Kaitan erat antara pangan lokal dengan

ketahanan pangan dapat dilihat dari hubungan antara kemandirian pangan dengan ketahanan pangan. Namun, hingga saat ini, produk pangan lokal belum mampu menggeser beras dan tepung terigu yang mendominasi makanan di Indonesia. Salah satu penyebabnya yaitu rendahnya diversifikasi pangan dan inovasi teknologi terhadap produk pangan lokal sehingga pangan lokal belum mampu menarik minat konsumen untuk mengkonsumsinya. Oleh karena itu, diversifikasi pangan harus ditingkatkan secara lebih merata, serta inovasi atau kreasi terhadap produk pangan tidak hanya terfokus pada mutu, gizi, dan keamanan semata. Namun aspek selera konsumen juga patut dipertimbangkan untuk menunjang ketahanan pangan nasional.

Isi

  • 1. Pangan Lokal

Pangan lokal adalah pangan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya wilayah dan budaya setempat (Kementan, 2012). Aneka ragam pangan lokal tersebut berpotensi sebagai bahan alternatif pengganti beras. Sebagai contoh, di Papua memanfaatkan pangan lokal sebagai bahan baku pengganti beras, seperti ubi jalar, talas, sagu,

gembili, dan jawawut (Wahid Rauf dan Sri Lestari, 2009). Selain di Papua, beberapa pangan lokal yang telah dimanfaatkan oleh masyarakatnya sebagai bahan pengganti beras adalah jagung di Madura dan Gorontalo.

  • 2. Pola Konsumsi

Pola konsumsi adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan rata-rata per orang per hari,

yang umum dikonsumsi penduduk dalam jangka waktu tertentu. Pola konsumsi masyarakat menggambarkan bentuk konsumsi yang berlaku pada anggota masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pola konsumsi pangan penduduk Indonesia masih tinggi terhadap konsumsi beras sebagai pangan pokok masih sangat rendah dalam pemanfaatan sumber pangan lokal lainnya masih rendah.

  • 3. Angka Kecukupan Gizi

Angka Kecukupan Gizi adalah suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas tubuh dan kondisi fisiologis khusus untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Acuan yang digunakan untuk menghitung persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada label adalah AKG pelabelan sesuai dengan kelompok umur sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan Kepala Badan POM yang berlaku. Pencantuman AKG untuk pangan bagi anak ditujukan

untuk anak berusia 6 sampai 24 bulan dan 2 sampai 5 tahun, persentase AKG yang dicantumkan hanya untuk protein, vitamin dan mineral.

  • 4. Kemandirian Pangan

Kemandirian pangan didefinisikan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang cukup, bermutu baik, aman, dan halal, yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis sumber daya lokal. Membangun kemandirian pangan merupakan strategi terbaik untuk keluar dari krisis pangan. Sebagai negara agraris dengan keberagaman sumber daya hayati, Indonesia berpotensi besar untuk memproduksi pangan dalam jumlah yang cukup. Selain itu, Indonesia mempunyai aneka pangan lokal untuk mendukung diversifikasi pangan nasional.

  • 5. Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari

tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (UU RI No18 tahun 2012).

Tingkat konsumsi pangan rata-rata orang Indonesia yang diukur dari konsumsi energi pada tahun 2010 mencapai 1.957 kkal/kap/hari mendekati anjuran WNPG (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi) VIII tahun 2004 sebesar 2.000 kkal/kap/hari. Meskipun demikian, pencapaian tersebut belum diiringi dengan pemenuhan kualitas konsumsi pangan penduduk yang ditandai dengan skor keragaman konsumsi pangan sebesar 80,6 pada tahun 2010 dari target skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 95 pada tahun 2015. Masalah ketahanan pangan pada kenyataannya adalah sangat komplek mulai dari aspek penyediaan jumlah pangan yang cukup untuk memenuhi permintaan pangan yang meningkat karena pertumbuhan penduduk, perubahan komposisi penduduk maupun akibat peningkatan penduduk, aspek pemenuhan tuntutan kualitas dan keanekaragaman bahan pangan untuk mengantisipasi perubahan preferensi konsumen yang semakin peduli pada masalah kesehatan dan kebugaran, aspek tentang pendistribusian bahan-bahan pangan pada ruang dan waktu dan juga aspek keterjangkauan pangan yaitu ketersediaan bahan pangan (jumlah, kualitas, ruang dan waktu) harus dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Sistem ketahanan pangan dan gizi secara komprehensif meliputi empat subsistem, yaitu: ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh penduduk;

distribusi pangan yang lancar dan merata; konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi seimbang; yang berdampak pada status gizi masyarakat. Dengan demikian, sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya menyangkut soal produksi, distribusi, dan penyediaan pangan ditingkat regional dan nasional, tetapi juga menyangkut aspek ditingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga, terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.

  • 6. Diversifikasi Pangan

Menurut Riyadi (2003), diversifikasi pangan atau penganekaragaman pangan merupakan suatu proses pemilihan pangan yang tidak hanya tergantung pada satu jenis pangan,

akan tetapi memiliki beragam pilihan (alternatif) terhadap berbagai bahan pangan. Pakpahan dan Suhartini (1989) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan. Konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok, sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non-beras.

Menurut Kasryno, et al (1993) diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat, yang mencakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi.

  • 7. Tujuan Diversifikasi Konsumsi Pangan

Penganekaragaman tanaman pangan memiliki dua bentuk tujuan dari aspek pelaksanaan, yaitu berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan berdasarkan aspek kesejahteraan masyarakat (Suyastiri,

2008). Fakta yang dihadapi sekarang ini, bahwa pola konsumsi pangan nasional masih bergantung pada satu jenis tanaman pokok, yaitu beras/padi. Berdasarkan fakta tersebut, tujuan diversifikasi konsumsi pangan berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan adalah:

  • 1. Mengurangi Ketergantungan Impor Beras Diharapakan bahan pangan menjadi semakin beragam, sehingga menekan ketergantungan terhadap impor beras.

  • 2. Mencapai Pola Konsumsi Pangan Yang Tepat Pemanfaatan potensi lokal, baik berupa potensi tanaman lokal maupun sumberdaya manusia.

  • 3. Mewujudkan Pola Pangan Harapan

Memberikan nutrisi atau gizi yang memadai bagi pola konsumsi rumah tangga, sehingga akan mampu untuk memenuhi pola konsumsi sehat dan bergizi di masyarakat.

  • 4. Gizi Yang Terjangkau Oleh Semua Tingkat Pendapatan Mampu mengalokasikan pendapatan memilih jenis komoditi pangan yang relatif lebih terjangkau.

  • 8. Konsep Pelaksanaan Diversifikasi Konsumsi Pangan

Pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan terkait dengan perwujudan ketahanan pangan (Suyastiri, 2008). Maka, konsep

pelaksanaan diversifikasi pangan sama dengan konsep

ketahanan pangan yang diadopsi dari Food and Agricultural Organization (FAO). Ada empat pilar utama yang dibutuhkan untuk mewujudkan ketahanan pangan, yaitu:

  • 1. Aspek Ketersediaan (Food Availability) Melalui cara menanam sendiri dan membeli dengan cara impor. Cara impor hanya menjadi cara alternatif yang dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek.

  • 2. Aspek Stabilitas Ketersediaan (Stability of Supplies) Memfokuskan pada aspek kepengelolaan tanaman pangan, baik dari segi produksi tanaman pangan maupun pengaturan konsumsi pangan.

  • 3. Aspek Keterjangkauan (Access to Supplies) Memfokuskan pada pengaruh keseimbangan permintaan dan penawaran komoditi pangan, sehingga harga

komoditas pangan akan lebih terjangkau oleh seluruh lapisan pendapatan.

  • 4. Aspek Konsumsi Pangan (Food Utilization)

Berfokus pada penyediaan pangan yang bermutu dan bergizi untuk dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga akan berdampak pada pembentukan kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Berdasarkan keempat pilar ketahanan pangan di atas, pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan diharapkan akan mampu mendukung keseluruhan aspek di dalam ketahanan pangan. Melalui penganekaragaman konsumsi pangan akan memberikan pilihan konsumsi, sesuai dengan golongan pendapatan maupun pontensi tanaman lokal (daerah). Potensi tanaman lokal, selain mampu untuk mencukupi mutu dan gizi makanan, diharapkan pula dapat mengembangkan potensi pendapatan yang dapat mendukung aspek keterjangkauan

pangan.

  • 9. Pelaksanaan Diversifikasi Konsumsi Pangan

Prinsip pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan harus didasarkan salah satunya pada potensi sumber daya pangan lokal. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki

karakteristik tanaman yang beragam atau multi holticultura. Untuk tanaman pangan sendiri, Indonesia memiliki potensi variasi tanaman pangan yang diperlukan untuk memenuhi

kebutuhan karbohidrat yang memiliki potensi untuk dikembangkan keberagaman produksi pangan maupun konsumsi tanaman pangan. Dalam pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan, perlu dilakukan identifikasi atas segala jenis tanaman pangan yang dapat dijadikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pangan. Berikut ini adalah jenis tanaman pangan untuk keperluan konsumsi yang menjadi sasaran pelaksanaan diversifikasi konsumsi tanaman pangan.

  • 1. Jenis Umbi-Umbian Jenis umbi-umbian adalah jenis tanaman pangan pokok yang dapat mudah tumbuh di seluruh daerah di Indonesia. Jenis tanaman ini hanya dimanfaatkan sebagai tanaman pangan alternatif.

  • 2. Jenis Serealia Jenis tanaman serealia meliputi jagung, cantel, dan sorgum. Masyarakat menanam tanaman jenis serealia tidak untuk konsumsi pokok.

  • 3. Jenis Padi-Padian Jenis padi-padian adalah jenis tanaman pangan pokok konsumsi pangan masyarakat di Indonesia.

  • 4. Jenis Rimpang Jenis rimpang yang dikenal di Indonesia, yaitu ganyong dan garut. Tanaman gayong dimanfaatkan dengan

mengambil patinya untuk pembuatan bubur ataupun bihun, dan pembuatan nasi jagung. Sedangkan tanaman garut dimanfaatkan untuk pembuatan biskuit ataupun puding. Tidak semua jenis kelompok di atas dijadikan sasaran pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan melalui program Percepatan Program Diversifikasi Pangan (PPDP). Pihak Departemen Pertanian (Deptan) RI memfokuskan pada prioritas tanaman jagung, ubi jalar, dan ubi kaya sebagai komoditas alternatif dari komoditas utama. Kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan akan memberi dorongan pada penyediaan produk pangan yang lebih beragam, bergizi seimbang dan aman untuk dikonsumsi, termasuk produk pangan yang berbasis sumber daya lokal, sehingga meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan lokal dan aneka olahannya. Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dalam pelaksanaannya dilakukan melalui empat kegiatan yaitu: Pemberdayaan Kelompok Wanita; Pengembangan Pangan Lokal; Sosialisasi dan Promosi; dan Pengembangan Kawasan Diversifikasi Pangan. Kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara bertahap agar tujuan dari P2KP dapat terwujud sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan kegiatan P2KP merupakan tugas bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat. Peran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan P2KP harus dikedepankan sebagai pelaku utama penentu keberhasilan program. Partisipasi masyarakat, swasta, organisasi non- pemerintah/LSM, organisasi profesi maupun perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan.

  • 10. Program ketahanan pangan

Ketahanan pangan nasional merupakan isu yang strategis bagi Indonesia mengingat kecukupan produksi, distribusi dan konsumsi pangan memiliki dimensi yang terkait dengan dimensi sosial, ekonomi dan politik. Dengan demikian diperlukan penyesuaian peningkatan produksi disatu pihak. Ketahanan pangan terdiri dari suatu sistem yang memiliki subsistem antara lain:

1. Ketersediaan pangan yang mencakup aspek produksi, cadangan serta keseimbangan antara impor dan ekspor pangan, harus dikelola dengan baik, agar volume pangan tetap tercukupi dan stabil. 2. Distribusi pangan mencakup mengenai fisik dan ekonomi atas pangan secara merata. Sistem distribusi perlu dikelola secara optimal agar tercapai efisiensi dalam proses pemerataan akses pangan bagi seluruh penduduk.

3. Upaya peningkatan pengetahuan pada masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi dan kesehatan yang baik. Ketahanan pangan merupakan prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional (RPJMN) tahap II 2010-2014. Untuk melaksanakan tugas tersebut, strategi yang akan ditempuh Kementerian Pertanian dilakukan melalui penerapan Tujuh Gema Revitalisasi, yaitu: Revitalisasi Lahan; Revitalisasi Perbenihan dan Pembibitan; Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana; Revitalisasi Sumber Daya Manusia; Revitalisasi Pembiayaan Petani; Revitalisasi Kelembagaan Petani; serta Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. Ketujuh gema revitalisasi pembangunan pertanian tersebut, menjadi acuan pada strategi Badan Ketahanan Pangan dalam memfasilitasi program pembangunan ketahanan pangan tahun

2010-2014.

Kesimpulan

Pangan lokal yang ada di Indonesia berpotensi untuk dijadikan olahan atau sebagai pangan pokok sebagai pengganti beras melalui diversifikasi pangan untuk mengatur pola

konsumsi pangan dari masyarakat untuk mencapai kemandirian pangan sehingga dapat memenuhi ketahan pangan nasional.

Daftar Pustaka

Badan Ketahan Pangan. 2011. Direktori Pengembangan Konsumsi Pangan. Jakarta : BKP, Kementerian Pertanian.

Hariyadi, P. 2010. Penguatan Industri Penghasil Nilai Tambah Berbasis Potensi Lokal, (Peranan Teknologi Pangan untuk Kemandirian Pangan). Jurnal PANGAN, Vol. 19 •.No. 4 Desember 2010: 295-301.

Kasryno, F., M. Gunawan, dan C. A. Rasahan. 1993. Strategi Diversifikasi Produksi Pangan. Jakarta : LP3ES.

Kementan. 2012. Pedoman Umum Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat Badan Ketahanan Pangan Tahun 2012. Jakarta: BKP.

Rauf, A.W dan Sri Lestari,M. 2009. Pemanfaatan Komoditas Pangan Lokal Sebagai Sumber Pangan Alternatif di Papua. Jurnal Litbang Pertanian, 28 (2).

Suyastiri Y.P, N.M. 2008.

Diversifikasi Pangan Pokok

Berbassis Potensi Lokal dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Pedesaan di Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Ekonomi

Pembangunan, 13, 51-60.

Undang Undang Pangan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Ketahanan Pangan. Undang Undang Pangan Republik Indonesia.

Yuliatmoko, W. dan Artama, T. 2010. Difusi Inovasi Teknologi Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Seminar Nasional “Perspektif STS (Science, Technology, and Society) dalam Aktualitasi Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta : FMIPA Universita Terbuka.