Anda di halaman 1dari 12

Pengetahuan tentang patologi, patofisiologi, dan imunologi asma telah berkembang sangat pesat, khususnya untuk asma pada

orang dewasa dan anak besar. Pada anak kecil dan bayi, mekanisme dasar perkembangan penyakit ini masih belum diketahui dengan pasti. Bayi dan balita yang mengalami mengi saat terkena infeksi saluran napas akut, banyak yang tidak berkembang menjadi asma saat dewasanya. Walaupun banyak hal yang berkaitan dengan asma telah terungkap namun ternyata hingga saat ini, secara keseluruhan asma masih merupakan misteri. Akibat ketidakjelasan tadi, definisi asma pada anak sulit untuk dirumuskan, sehingga untuk menyusun diagnosis dan tatalaksana yang baku juga mengalami kesulitan. Akibat berikutnya adalah adanya under / overdiagnosis maupun under / overtreatment. Secara internasional untuk saat ini panduan penanganan asma yang banyak diikuti adalah Global Initiative for Asthma ( !"A# yang disusun oleh National Lung, Heart, and Blood Institute Amerika yang bekerjasama dengan W$%. Batasan asma yang lengkap menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanisme terjadinya asma dikeluarkan oleh !"A. Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran napas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit &. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam hari atau dini hari. ejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas namun ber'ariasi, yang paling tidak sebagian bersifat re'ersibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. !nflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreakti'itas jalan napas terhadap berbagai rangsangan Batasan di atas memang sangat lengkap, namun dalam penerapan klinis untuk anak tidak praktis. Agaknya karena itu para perumus (onsensus !nternasional dalam pernyataan ketiganya tetap menggunakan definisi lama yaitu) *engi berulang dan+atau batuk persisten dalam asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab lain yang lebih jarang telah disingkirkan.

Pedoman "asional Asma Anak juga menggunakan batasan yang praktis dalam bentuk batasan operasional yaitu mengi berulang dan+atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut) timbul secara episodik, cenderung pada malam hari+dini hari (nokturnal#, musiman, adanya faktor pencetus diantaranya akti'itas fisis, dan bersifat re'ersibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien+keluarganya. Pengertian kronik dan berulang mengacu pada kesepakatan ,(( Pulmologi pada (%"!(A - di *edan tahun ./0. tentang Batuk (ronik Berulang (B(B# yaitu batuk yang berlangsung lebih dari .1 hari dan+atau tiga atau lebih episode dalam waktu 2 bulan berturut3turut. Diagnosis Wheezing berulang dan + atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis. &ermasuk yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah anak3anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu3satunya tanda, dan pada saat diperiksa tanda wheezing, sesak dan lain3lain sedang tidak timbul. Sehubungan dengan kesulitan mendiagnosis asma pada anak kecil., khususnya anak di bawah 2 tahun, respons yang baik terhadap obat bronkodilator dan steroid sistemik (4 hari# dan dengan penyingkiran penyakit lain diagnosis asma menjadi lebih definitif. ,ntuk anak yang sudah besar (56 tahun# pemeriksaan faal paru sebaiknya dilakukan. ,ji fungsi paru yang sederhana dengan ea! flow meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. ,ji pro'okasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (e"er#ise$, udara kering dan dingin atau dengan "a7l hipertonis, sangat menunjang diagnosis. Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung diagnosis asma anak melalui 2 cara yaitu didapatkannya ) .. -ariabilitas pada P89 atau 8:-! 5 .4 ; -ariablitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan + penurunan# hasil P89 dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan 'ariabilitas mingguan yang pemeriksaan berlangsung 5 < minggu. <. 9e'ersibilitas pada P89 atau 8:-! 5 .4;

9e'ersibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan# P89 atau 8:-! setelah pemberian inhalasi bronkodilator. 2. Penurunan 5 <= ; pada 8:-! (P><= atau P7<=# setelah pro'okasi bronkus dengan metakolin atau histamine. Penggunaan ea! flow meter merupakan hal yang penting dan perlu diupayakan, karena selain untuk mendukung diagnosis juga untuk mengetahui keberhasilan tatalaksana asma. Berhubung alat tersebut tidak selalu ada, maka ?embar 7atatan $arian dapat digunakan sebagai alternatif karena mempunyai korelasi yang baik dengan faal paru. ?embar 7atatan $arian dapat digunakan dengan atau tanpa pemeriksaan P89. Pada anak dengan gejala dan tanda asma yang jelas, serta respons terhadap pemberian obat bronkodilator baik sekali, maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Bila respons terhadap obat asma tidak baik, sebelum memikirkan diagnosis lain, maka perlu dinilai dahulu beberapa hal. $al yang perlu die'aluasi adalah apakah penghindaran terhadap pencetus sudah dilakukan, apakah dosis obat sudah adekuat, cara dan waktu pemberiannya sudah benar, serta ketaatan pasien baik. Bila semua aspek tersebut sudah dilakukan dengan baik dan benar. *aka perlu dipikirkan kemungkinan diagnosis bukan asma. Pada pasien dengan batuk produktif, infeksi respiratorik berulang, gejala respiratorik sejak masa neonatus, muntah dan tersedak, gagal tumbuh, atau kelainan fokal paru, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah foto 9ontgen paru, uji fungsi paru, dan uji pro'okasi. Selain itu mungkin juga perlu diperiksa foto 9ontgen sinus paranasalis, uji keringat, uji imunologis, uji defisiensi imun, pemeriksaan refluks, uji mukosilier, bahkan tindakan bronkoskopi. >i !ndonesia, tuberkulosis (&B# masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai dan salah satu gejalanya adalah batuk kronik berulang. %leh karena itu uji tuberkulin perlu dilakukan baik pada kelompok yang patut diduga asma maupun yang bukan asma (lihat alur diagnosis asma, lampiran#. >engan cara tersebut di atas, maka penyakit tuberkulosis yang mungkin bersamaan dengan asma akan terdiagnosis dan diterapi. Pasien &B yang memerlukan steroid untuk pengobatan asmanya, steroid sistemik jangka

pendek atau steroid inhalasi tidak akan memperburuk tuberkulosisnya karena sudah dilindungi dengan obat &B. *enurut pengamatan di lapangan,sering terjadi overdiagnosis &B dan underdiagnosis asma, karena pada pasien anak dengan batuk kronik berulang sering kali yang pertama kali dipikirkan adalah &B, bukan asma. Berdasakan alur diagnosis asma anak, setiap anak yang menunjukkan gejala batuk dan + atau wheezing maka diagnosis akhirnya dapat berupa ) .. Asma <. Asma dengan penyakit lain 2. Bukan asma

Tujuan Tatalaksana &ujuan tatalaksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci tujuan yang ingin dicapai adalah) .. Pasien dapat menjalani akti'itas normalnya, termasuk bermain dan berolahraga. <. Sesedikit mungkin angka absensi sekolah. 2. ejala tidak timbul siang ataupun malam hari. 1. ,ji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada 'ariasi diurnal yang mencolok. 4. (ebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan. 6. :fek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Apabila tujuan ini belum tercapai maka perlu ree'aluasi tatalaksananya. Tatalaksana Medikamentosa %bat asma dapat dibagi dalam < kelompok besar, yaitu obat pereda (relie'er# dan obat pengendali (controller#. %bat pereda ada yang menyebutnya pelega, atau obat serangan. %bat kelompok ini digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada gejala lagi maka obat ini tidak digunakan lagi. (elompok kedua adalah obat pengendali, yang sering disebut sebagai

obat pencegah, atau obat profilaksis. %bat ini digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma yaitu inflamasi respitorik kronik. >engan demikian pemakaian obat ini terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, tergantung derajat penyakit asma dan responsnya terhadap pengobatan+penanggulangan. %bat3obat pengendali diberikan pada Asma :pisodik Sering dan Asma Persisten. Asma Episodik Jarang Asma :pisodik @arang cukup diobati dengan obat pereda berupa bronkodilator A3agonis hirupan kerja pendek (Short Acting B<3Agonist, SABA# atau golongan santin kerja cepat bila perlu saja, yaitu jika ada gejala+serangan. (:'idence A# Anjuran memakai hirupan tidak mudah dilakukan mengingat obat tersebut mahal dan tidak selalu tersedia disemua daerah. >i samping itu pemakaian obat hirupan (*etered >ose !nhaler atau >ry Powder !nhaler# memerlukan teknik penggunaan yang benar (untuk anak besar#, dan membutuhkan alat bantu (untuk anak kecil+bayi# yang juga tidak selalu ada dan mahal harganya. Bila obat hirupan tidak ada+tidak dapat digunakan, maka B3 agonis diberikan per oral. (e'idence ># Penggunaan teofilin sebagai bronkodilator makin kurang perannya dalam tatalaksana asma karena batas keamanannya sempit. "amun mengingat di !ndonesia obat B3agonis oralpun tidak selalu ada maka dapat digunakan teofilin dengan memperhatikan kemungkinan timbulnya efek samping. >i samping itu penggunaan B3agonis oral tunggal dengan dosis besar seringkali menimbulkan efek samping berupa palpitasi, dan hal ini dapat dikurangi dengan mengurangi dosisnya serta dikombinasi dengan teofilin. (:'idence 7#. (onsensus !nternasional !!! dan juga pedoman "asional Asma Anak seperti terlihat dalam klasifikasi asmanya tidak menganjurkan pemberian anti inflamasi sebagai obat pengendali untuk asma ringan. @adi secara tegas P"AA tidak menganjurkan pemberian pemberian obat controller pada Asma :pisodik @arang. $al ini sesuai dengan !"A yang belum perlu memberikan obat controller pada Asma !ntermiten, dan baru memberikannya pada Asma Persisten 9ingan (derajat < dari 1# berupa anti3inflamasi yaitu steroid hirupan

dosis rendah, atau kromoglikat hirupan.2 (:'idence A# >alam alur tatalaksana jangka panjang (?ampiran # terlihat bahwa jika tatalaksana Asma :pisodik @arang sudah adekuat namun responsnya tetap tidak baik dalam 136minggu, maka tatalaksananya berpindah ke Asma :pisodik Sering. (onig menemukan bukti bahwa dengan mengikuti panduan tatalaksana yang laCim, yaitu hanya memberikan bronkodilator tanpa anti3inflamasi pada Asma :pisodik @arang, ternyata dalam jangka panjang (D0 tahun# pada kelompok tersebut paling sedikit yang mengalami perbaikan derajat asma..= >i lain pihak, Asma :pisodik Sering yang mendapat kromoglikat, dan Asma Persisten yang mendapat steroid hirupan, menunjukkan perbaikan derajat asma yang lebih besar. Perbaikan yang dimaksud adalah menurunnya derajat asma, misalnya dari Asma Persisten menjadi Asma :pisodik Sering atau Asma :pisodik @arang, bahkan sampai asmanya asimtomatik. Asma Episodik Sering @ika penggunaan B3agonis hirupan sudah lebih dari 2E perminggu (tanpa menghitung penggunaan praakti'itas fisis#, atau serangan sedang+berat terjadi lebih dari sekali dalam sebulan, maka penggunaan anti3inflamasi sebagai pengendali sudah terindikasi (:'idence A# pada awalnya, anti3inflamasi tahap pertama yang digunakan adalah kromoglikat, dengan dosis minimum .= mg <31 kali perhari. %bat ini diberikan selama 630 minggu, kemudian die'aluasi hasilnya. @ika asma sudah terkendali, pemeberian kromoglikat dapat dikurangi menjadi <32 kali perhari. Penelitian terakhir, &asche dkk, mendapatkan hasil bahwa pemberian kromolin kurang bermanfaat pada terlaksana asma jangka panjang. >engan dasar tersebut P"AA re'isi terakhir tidak mencantumkan kromolin (kromoglikat dan nedokromil# sebagai tahap pertama melainkan steroid hirupan dosis rendah sebagai anti3inflamasi (?ampiran#. (:'idence A# &ahap pertama obat pengendali adalah pemberian steroid hirupan dosis rendah yang biasanya cukup efektif. %bat steroid hirupan yang sudah sering digunakan pada anak adalah budesonid, sehingga digunakan sebagai standar. >osis rendah steroid hirupan adalah setara dengan .==3<== ug+hari budesonid (4=3.== ug+hari flutikason# untuk anak

berusia kurang dari .< tahun, dan <==31== ug+hari budesonid (.==3<== ug+hari flutikason# untuk anak berusia di atas .< tahun. >alam penggunaan beklometason atau budesonid dengan dosis .==3<== ug+hari, atau setara flutikason 4=3.== ug belum pernah dilaporkan adanya efek samping jangka panjang. Sesuai dengan mekanisme dasar asma yaitu inflamasi kronik, obat pengendali berupa anti3inflamasi membutuhkan waktu untuk menimbulkan efek terapi. %leh karena itu penilaian efek terapi dilakuakn setelah 630 minggu, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengendalikan inflamasinya. Setelah pengobatan selama 630 minggu dengan steroid hirupan dosis rendah tidak respons (masih terdapat gejala asma atau atau gangguan tidur atau akti'itas sehari3hari#, maka dilanjutkan dengan tahap kedua (?ampiran 2# yaitu menaikkan dosis steroid hirupan sampai dengan 1== ug+hari yang termasuk dalam tatalaksana Asma Persisten. @ika tatalaksana dalam suatu derajat penyakit asma sudah adekuat namun responsnya tetap tidak baik dalam 630 minggu, maka derajat tatalaksanya berpindah ke yang lebih berat (step3up#. Sebaliknya jika asmanya terkendali dalam 630 minggu, maka derajatnya beralih ke yang lebih ringan (step3down#. Bila memungkinkan steroid hirupan dihentikan penggunaannya. Sebelum melakukan step3up, perlu die'aluasi pelaksanaan penghindaran pencetus, cara penggunaan obat, faktor komorbid yang mempersulit pengendalian asma seperti rintis dan sinusitis. &elah dibuktikan bahwa penatalaksanaan rintis dan sinusitis secara optimal dapat memperbaiki asma yang terjadi secara bersamaan. Asma Persisten 7ara pemberian steroid hirupan apakah dimulai dari dosis tinggi ke rendah selama gejala masih terkendali, atau sebaliknya dimulai dari dosis rendah ke tinggi hingga gejala dapat dikendalikan, tergantung pada kasusnya. >alam keadaaan tertentu, khususnya pada anak dengan penyakit berat, dianjurkan untuk menggunakan dosis tinggi dahulu, disertai steroid oral jangka pendek (234 hari#. Selanjutnya dosis steroid hirupan diturunkan sampai dosis terkecil yang masih optimal.

>osis steroid hirupan yang masih dianggap aman adalah setara budesonid 1== ug+hari. >i atas dilaporkan adanya pengaruh sistemik minimal, sedangkan dengan dosis 0== ug+hari agaknya mulai berpengaruh terhadap poros $PA (hipotalamus3hipotesis3adrenal# sehingga dapat berdampak terhadap pertumbuhan. :fek samping steroid hirupan dapat dikurangi dengan penggunaan alat pemberi jarak berupa perenggang (spacer# yang akan mengurangi deposisi di daerah orofaringeal sehingga mengurangi absorbsi sistemik dan meningkatkan deposisi obat di paru..2 Selain itu untuk mengurangi efek samping steroid hirupan, bila sudah mampu pasien dianjurkan berkumur dan air kumurannya dibuang setelah menghirup obat. Setelah pemberian steroid hirupan dosis rendah tidak mempunyai respons yang baik, diperlukan terapi alternatif pengganti yaitu meningkatkan steroid yang baik, diperlukan terapi alternatif pengganti yaitu meningkatkan steroid menjadi dosis medium atau terapi steroid hirupan dosis rendah ditambah dengan ?ABA (?ong Acting B3< Agonist# atau ditambahkan &heophylline Slow 9elease (&S9# atau ditambahkan Anti3?eukotriene 9eceptor (A?&9#(.,2#. (:'idence A# Fang dimaksud dosis medium adalah setara dengan <==31== ug+hari budesonid (.==3<== ug+hari flutikason# untuk anak berusia kurang dari .< tahun, 1==36== ug+hari budesonid (<==32== ug+hari flutikason# untuk anak berusia di atas .< tahun.(:'idence ># Apabila dengan pengobatan lapis kedua selama 630 minggu tetap terdapat gejala asma, maka dapat diberikan alternatif lapis ketiga yaitu dapat meningkatkan dosis kortikosteroid sampai dengan dosis tinggi, atau tetap dosis medium ditambahkan dengan ?ABA, atau &S9, atau A?&9. (:'idence A# yang dimaksud dosis tinggi adalah setara dengan 51== ug+hari budesonid (5<== ug+hari flutikason# untuk anak berusia kurang dari .< tahun, dan 56== ug+hari budesonid (52== ug+hari flutikason# untuk anak berusia di atas .< tahun.1 (:'idence ># Penambahan ?ABA pada steroid hirupan telah banyak dibuktikan keberhasilannya yaitu dapat memperbaiki 8:-!, menurunkan gejala asmanya, dan memperbaiki kualitas hidupnya. Apabila dosis steroid hirupan sudah mencapai 50== ug+hari namun tetap tidak

mempunyai respons, maka baru digunakan steroid oral (sistemik#. @adi penggunaan kortikosteroid oral sebagai controller (pengendali# adalah jalan terakhir setelah penggunaan steroid hirupan atau alternatif di atas telah dijalankan. (:'idence B# ?angkah ini diambil hanya bila bahaya dari asmanya lebih besar daripada bahaya efek samping obat. ,ntuk steroid oral sebagai dosis awal dapat diberikan .3< mg+kgBB+hari. >osis kemudian diturunkan sampai dosis terkecil yang diberikan selang hari pada pagi hari. Penggunaan steroid secara sistemik harus berhati3hati karena mempunyai efek samping yang cukup berat. Pada pemberian antileukotrien (Cafirlukas# pernah dilaporkan adanya peningkatan enCim hati, oleh sebab itu kelainan hati merupakan kontraindikasi. *engenai pemantauan uji fungsi hati pada pemberian antileukotrien belum ada rekomendasi. *engenai obat antihistamin generasi baru non3sedatif (misalnya ketotifen dan setiriCin#, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada anak dengan asma tipe rinitis, hanya untuk menanggulangi rinitisnya. Pada saat ini penggunaan kototifen sebagai obat pengendali (controller# pada asma anak tidak lagi digunakan karena tidak mempunyai manfaat yang berarti.(:'idence A# Apabila dengan pemberian steroid hirupan dicapai fungsi paru yang optimal atau perbaikan klinis yang mantap selama 630 minggu, maka dosis steroid dapat dikurangi bertahap hingga dicapai dosis terkecil yang masih bisa mengendalikan asmanya. Sementara itu penggunaan A3agonis sebagai obat pereda tetap diteruskan. Cara Pemberian Obat 7ara pemberian obat asma harus disesuaikan dengan umur anak karena perbedaan kemampuan menggunanakan alat inhalasi. >meikian juga kemauan anak perlu dipertimbangkan. ?ebih dari 4=; anak asma tidak dapat memakai alat hirupan biasa (*etered >ose !nhaler#. Perlu dilakukan pelatihan yang benar dan berulang kali. &abel berikut memperhatikan anjuran pemakaian alat inhalasi disesuakan dengan usianya. &abel 2. @enis alat inhalasi disesuakan dengan usia
,mur G< tahun Alat inhalasi "ebuliser, Aerochamber, Babyhaler

<31 tahun 430 tahun

"ebuliser,

Aerochamber,

Babyhaler

Alat

hirupan (*>!# dengan perenggang (spacer# "ebuliser *>! dengan spacer Alat hirupan bubuk (Spinhaler, >iskhaler, 9otahaler, &urbuhaler# "ebuliser *>! (metered dose inhaler# Alat hirupan bubuk Autohaler

50 tahun

(>ikutip dari ?enfant 7, (haltae' ". Workshop 9eport <==< #

lobal !nitiati'e for asthma. "$?B!+W$%

Pemakaian alat perenggang (spacer# mengurangi deposisi obat dalam mulut (orofaring#, jadi mengurangi jumlah obat yang akan tertelan sehingga mengurangi efek sistemik. Sebaliknya deposisi dalam paru lebih baik sehingga didapat efek terapeutik yang baik. (:'idence B# %bat hirupan dalam bentuk bubuk kering (>P! H >ry Powder !nhaler# seperti Spinhaler, >iskhaler, 9otahaler, &urbuhaler, :asyhaler, &wisthalerI memerlukan inspirasi yang kuat. ,mumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak usia sekolah. Sebagian alat bantu yaitu spacer (-olumatic, "ebuhaler, Aerochamber, Bayhaler, Autohaler# dapat dimodifikasi dengan menggunakan bekas gelas atau botol minuman, atau menggunakan botol dengan dot yang talah dipotong untuk anak kecil dan bayi. (:'idence ># . Prevensi dan Intervensi Dini Pencegahan dan tindakan dini harus menjadi tujuan utama dokter, khususnya spesialis anak dalam menangani anak asma. Pengendalian lingkungan, pemberian AS! eksklusif minimal 1 bulan, penghindaran makanan berpotensi alergenik, pengurangan pajanan terhadap tungau debu rumah dan rontokan bulu binatang, telah terbukti mengurangi manifestasi alergi makanan dan pre'alens asma jangka panjang diduga ada tetapi masih dalam penelitian. Penggunaan antihistamin non3sedatif seperti ketotifen dan setiriCin jangka panjang dilaporkan dapat mencegah terjadinya asma pada anak dengan dermatitis atopik. %bat3 obat di atas tidak bermanfaat sebagai obat pengendali asma (controller#. &indakan dini

pada asma anak berdasarkan pendapat bahwa keterlambatan pemberian obat pengendali akan berakibat penyempitan jalan napas yang ire'ersibel (airway remodeling#. Faktor Alergi dan ingkungan Saat ini telah banyak bukti bahwa alergi merupakan salah satu faktor penting berkembangnya asma. Paling tidak J43/=; anak asma balita terbukti mengidap alergi, baik di negara berkembang maupun negara maju. Atopi merupakan faktor risiko yang nyata untuk menetapnya hiperreakti'itas bronkus dan gejala asma. >erajat asma yang lebih berat dapat diperkirakan dengan adanya dermatitis atopik. &erdapat hubungan antara pajanan alergen dengan sensitisasi. Pajanan yang tinggi berhubungan dengan peningkatan gejala asma pada anak.(:'idence A# Pengendalian lingkungan harus dilakukan untuk setiap anak asma. Penghindaran terhadap asap rokok merupakan rekomendasi penting. (eluarga dengan anak asma dianjurkan tidak memelihara binatang berbulu, seperti kucing, anjing, urung. Perbaikan 'entilasi ruangan, dan penghindaran kelembaban kamar perlu untuk anak yang sensitif terhadap debu rumah dan tungaunya.(:'idence A# Perlu ditekankan bahwa anak asma sering kali menderita rinitis alergika dan+atau sinusitis yang membuat asmanya sukar dikendalikan. >eteksi dan diagnosis kedua kelainan itu diikuti dengan terapi yang adekuat akan memperbaiki gejala asmanya. Prognosis Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak bayi dengan wheeCing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 14 hingga 04;, tergantung besarnya sampel studi, tipe studi kohort, dan lamanya pemantauan. Adanya asma pada orang tua dan dermatitis atopik pada anak dengan wheeCing merupakan salah satu indikator penting untuk terjadinya asma dikemudian hari. Apabila terdapat kedua hal tersebut maka kemungkinan menjadi asma lebih besar atau terdapat salah satu di atas disertai dengan < dari 2 keadaan berikut yaitu eosinofia, rinitis alergika, dan wheeCing yang menetap pada keadaan bukan flu.