Anda di halaman 1dari 22

ASTRONOMI & ASTROLOGI DALAM TINJAUAN ISLAM May 5, '09 2:03 PM untuk semuanya

Oleh: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, SHI.* Prolog

Langit dengan segala yang berada disekitarnya adalah fenomena menarik dikalangan bangsa-bangsa kuno Babilonia, Mesir, Cina, India, Persia, Yunani, dll. Peradaban Babilonia adalah peradaban yang punya pengaruh besar dalam ilmu pengetahuan. Orang-orang Babilonia dikenal hobi dengan ilmu eksperimental, membuat peradaban ini bertahan dan terus berkembang. Sumbangsih besar, sekaligus masalah besar peradaban Babilonia yang telah mengakar hingga saat ini adalah Astrologi. Astrologi lahir sekitar 2000 tahun SM di Lembah Mesopotamia (di antara sungai Eufrat dan Tigris). Dapat dibayangkan, langit yang gemerlap oleh ribuan bintang-bintang tentunya sangat inspiratif untuk para Astrolog dan pendeta Babilonia ketika itu. Mengamati sekaligus meramal kejadian dilangit adalah kebiasaan mereka dahulu, mereka beranggapan bahwa setiap gerak benda-benda dilangit adalah pesan dari penguasa alam yang harus diterjemahkan. Astrologi banyak diminati dahulu bahkan hingga kini dikarenakan ia bicara tentang manusia dengan segala karakter dan nasibnya. Datangnya Islam, secara tegas melarang praktek ini. Astronomi dengan Astrologi sangatlah berbeda, meski kedua-duanya sama, sama dalam menerjemahkan alam raya (langit), keduanya memang tidak lepas dari pemaknaaan dan penerjemahan benda-benda langit. Astrologi mempelajari hubungan kedudukan rasi-rasi bintang (zodiak) terhadap karakter dan nasib seseorang. Sementara Astronomi menerjemahkan langit demi pengembangan peradaban, dan khusus dalam Islam berguna dalam kepentingan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dll. Astronomi mempelajari alam secara fisika-matematika dan hukum-hukum alamnya. Sehingga kesimpulannya bahwa bendabenda di atas sana adalah benda langit, bukan dewa-dewi atau makhluk luar biasa. Sejak dulu, orang meyakini bahwa Bumi adalah sebagai pusat Tata Surya (Geosentris), antara lain dipelopori oleh Claudius Ptolemeus dari Yunani dalam Almagest-nya. Namun, sekitar tiga belas abad kemudian, sistem Geosentris ini runtuh oleh teori Heliosentris Nicholas Copernicus (w.1543 M) di tahun 1512. Ia menuturkan, planet dan bintang bergerak mengelilingi Matahari dengan orbit lingkaran (da'iry). Johanes Kepler (w.1630 M) mendukung gagasan itu di tahun 1609 melalui teorinya bahwa Matahari adalah pusat Tata Surya, Kepler juga memperbaiki orbit planet menjadi bentuk elips (ihlijy) yang dikenal dengan tiga hukum Kepler-nya. Di tahun yang sama, Galileo Galilei (w.1642 M) menciptakan Teleskop monumental di dunia. Dari pengamatannya, ia berkesimpulan bahwa Bumi bukan pusat gerak. Penemuan Teleskopnya, selain memperkuat konsep Heliosentris, juga membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu Astronomi modern. Ilmu Falak (Astronomi) Masa Islam

Dalam Islam, pada awalnya Ilmu Falak tidak lebih hanya sebagai kajian 'nujumisme' (Astrologi). Hal ini terjadi antara lain dengan dua alasan: 1.) Kebisaan hidup mereka dipadang pasir yang luas serta kecintaan mereka pada bintang-bintang untuk mengetahui tempat terbit dan terbenamnya, mengetahui pergantian musim, dll. 2.) Keterpengaruhan mereka terhadap kebiasaan bangsa-bangsa sebelumnya yang punya kebiasaan Astrologi.

Datangnya Rasulullah S.a.w. beserta risalah-Nya dengan membawa cahaya al-Quran, menebas habis paham nujum tersebut. Bahagia dan celaka (nasib) mutlak dalam kekuasaan Allah S.w.t. Ilmu falak terus berkembang dengan kontrol al Qur'an, hingga akhirnya banyak melahirkan sarjana-sarjana falak berpengaruh dalam Islam seperti al Biruni, al Battani, Ibnu Yunus, Ibnu Syathir, Ibnul Majdi, dll.

Adalah Dinasti Abbasiyyah masa Al Mansur berjasa meletakkan Ilmu Falak pada posisi istimewa, setelah Ilmu Tauhid, Fikih, dan Kedokteran. Ketika itu, Ilmu Falak -dikenal juga dengan Astronomi- tidak hanya dipelajari dan dilihat dalam perspektif keperluan praktis ibadah saja, namun lebih dari itu, ilmu ini lebih dikembangkan sebagai pondasi dasar terhadap perkembangan science lain seperti ilmu pelayaran, pertanian, kemiliteran, pemetaan, dll. Tidak tanggung-tanggung, Khalifah Al Manshur membelanjakan dana negara yang besar dalam rangka mengembangkan kajian Ilmu Falak.

Sejak masa Al Makmun, telah marak gerakan penerjemahan literatur-literatur Falak asing kedalam bahasa Arab seperti buku "Miftah an Nujum" yang dinisbahkan pada Hermes Agung (Hermes al Hakim) dimasa Umawiyah, menyusul buku Sind Hind tahun 154 H/ 771 M yang diterjemahkan oleh Ibrahim al Fazzary, Almagest Ptolomaeus yang diterjemahkan oleh Yahya bin Khalid al Barmaky dan disempurnakan oleh al Hajjaj bin Mutharr dan Tsabit bin Qurrah (w.288 H), dll.

Hal penting yang perlu dicatat, perkembangan peradaban falak Arab-Islam memang tidak bisa dilepaskan dari peradaban sebelumnya, namun terdapat beberapa keistimewaan dalam ilmu falak Islam, antara lain sbb.: 1.] Meski Arab menukil dari peradaban sebelumnya, namun senantiasa disertai dengan koreksi, penjelasan ulang teori, penambahan informasi, yang berikutnya membuat karya-karya tersendiri yang punya ciri dan keunggulan. 2.] Peradaban falak Arab-Islam tidak hanya terhenti dalam sebatas tinjauan teoritis saja, namun mempolanya dalam bentuk ilmu-ilmu pasti seperti matematika, fisika, kimia, dll. 3.] Dalam hal perbintangan (Astrologi), Arab-Islam memang tidak mampu menghapus habis tradisi ini, bahkan praktek ini tetap ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari hingga saat ini. Hal ini dikarenakan Astrologi bicara tentang diri seseorang dengan segala kemungkinan suka dan dukanya.

Rekonstruksi Fakta Teori Tata Surya

Hukum atau teori Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton tentang Tata Surya memang telah diakui dunia sebagai yang terbenar dalam abad ini. Terhadap hal ini, khususnya tiga hukum Kepler, Prof.Dr.Muhammad Shalih an-Nawawy (Guru Besar Falak Universitas Kairo) menyatakan dalam makalahnya berjudul "Ibn Syathir wa Nashiruddin at Thusy wa Dawa'ir al Aflak" yang dipresentasikan pada seminar internasional sejarah ilmu pengetahuan tahun 2004 lalu di Perpustakaan Alexandria-Mesir, ia mengungkap, bahwa teori tersebut pada dasarnya telah dikemukakan atau setidak-tidaknya disinggung oleh Ibnu Syathir (w.777 H/1375 M) diabad 8 H/14 M dalam kaeryanya: "Kitab Ta'liq al Arshad" dan "Nihayat al Ghayat fi [l] a'mal al Falakiyyat" dan Nihayah as Sul fi Tashih al Ushul.

Matahari sebagai pusat Tata Surya (Heliosentris) juga dipertegas oleh QS. An Naml ayat 88, (Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan, ...) (QS.An Naml/88)

Zodiak

Zodiak adalah sekumpulan bintang yang melintasi Bumi dalam peredarannya mengelilingi Matahari, meski seolah-olah terlihat Matahari-lah yang melintasi Bumi (harakah zhahiriyyah). Zodiak (Dairatul Buruj) terdiri dari 12 rasi, yaitu: Leo (), Taurus (), Copricorn (), Gemini (), Aries (), Pisces (), Aquarius (), Cancer (), Virgo (), Scorpio (), Sagitarius (), Libra ().

Zodiak-zodiak ini terbagi dalam empat musim: *1.+ Musim semi (rabi), 21 Maret s.d. 22 Juni (Aries, Taurus, Gemini). *2.+ Musim panas (shayf), 22 Juni s.d. 23 September (Cancer, Leo, Virgo). [3.] Musim gugur (kharif), 23 September s.d. 22 Desember (Libra, Scorpio, Sagitarius). *4.+ Musim dingin (syita), 22 Desember s.d. 21 Maret (Copricorn, Aquarius, Pisces).

Mengaitkan zodiak-zodiak tersebut dengan karakter/nasib seseorang adalah terlarang dalam Islam. Al Quran mengecam praktek Astrologi ini, antara lain firman Allah Swt. Dalam QS.Al Araf/188: (Katakanlah, Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku, dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita bagi orang-orang yang beriman).

Juga firman Allah Swt. dalam QS.Al Jinn/26: (Dialah yang maha mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu). Juga Hadits Nabi Saw.: { } [ ] Ilmu Falak (Astronomi) & Peranannya Dalam Islam

Ilmu Falak (Astronomi) adalah Ilmu yang mempelajari tentang tata lintas pergerakan benda-benda angkasa khususnya Bulan, Bumi dan Matahari secara sistematis dan ilmiah, demi kepentingan manusia. 'Falak' pluralnya 'aflak' berarti orbit atau edarnya benda-benda angkasa. Adapaun pembahasan Ilmu Falak dalam Islam adalah sbb.:

1.] Menentukan Waktu-Waktu Shalat Firman Allah S.w.t dalam QS. An Nisa/103, Al Isra/78 dan HR. Muslim dari Abdullah bin Umar menyatakan bahwa waktu shalat punya limit dan ketentuan (awal dan akhir) yang berarti shalat tidak bisa dilakukan dalam sembarang waktu, tetapi harus mengikuti atau berdasarkan dalil-dalil baik dari Al Quran maupun Hadis terkait. Persoalannya adalah, baik Al Qur'an maupun Hadits tidak memberi limit pasti awal dan akhir waktu-waktu shalat tersebut, yang ada hanyalah "kitaban mauquta" (waktu yang sudah ditentukan) tanpa ada penjelasan rinci dan mate-matis terhadap kalimat tersebut. Hal ini membawa konsekuensi pada beragamnya penafsiran terhadap penetapan awal dan akhir waktu-waktu tersebut, dan ilmu falak berperan besar dalam persoalan ini.

2.] Menentukan Arah Kiblat Menghadap kiblat adalah satu keharusan (syarat) untuk sah dan berkualitasnya shalat yang dilakukan. Ulama berbeda pendapat tentang kriteria dan urutan penentuan arah kiblat yang berada jauh (tidak terlihat) dari Ka'bah. Apakah harus menghadap ain (bangunan) kabah atau cukup dengan jihah (area) atau serta merta menghadap saja. Secara lebih tegas kalangan Syafi'iyah menyatakan berpalingnya arah kiblat meski sedikit saja (al inhiraf al yasir) membawa konsekusensi pada batalnya shalat. Wallahu alam

3.] Menentukan Awal Bulan Qamariyah Penetapan awal Ramadhan dan Syawal adalah persoalan ijtihad sehingga sangat memungkinkan terjadinya perbedaan pandangan dan pendapat. Dalam konteks Indonesia persoalan ini sudah sering terjadi bahkan kita rasakan berkali-kali. Jauh hari, Nabi kita Muhammmad S.a.w. telah mengingatkan sekaligus menganjurkan untuk memulai dan mengakhiri puasa & hari raya dengan rukyat hilal, yaitu melihat hilal secara langsung diakhir Syaban dan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits beliau S.a.w. ; Puasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya-lah) karena melihat hilal, jika hilal tertutup awan maka hitunglah (kadarkan-lah). HR.Bukhari-Muslim.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, hadits Nabi S.a.w. tersebut mulai diperbincangkan bahkan dikritik. Diklaim, dalam aktifitas rukyat banyak kelemahan yang tidak bisa ditolerir oleh akal manusia seiring dengan majunya pengetahuan. Terdapat dua kubu berlawanan dalam hal ini, kubu rukyat dan kubu hisab, yang kerap berselisih dan terkadang hampir saja merobohkan persatuan dan kesatuan umat.

4.] Menentukan terjadinya Gerhana Gerhana adalah fenomena alamiah yang jarang terjadi. Dalam fikih Islam dikenal/dianjurkan untuk melakukan shalat sunat Gerhana ketika terjadinya fenomena ini. Namun tidak banyak orang yang perhatian dan mengerti akan fenomena ini, sehingga ilmu falak berperan dalam menentukan kapan dan dimana terjadinya Gerhana ini, baik Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Sehingga seorang muslim bisa melakukan shalat sunat yang muakkad ini. Wallahu alam

*** Daftar Pustaka

Ali Abdullah Faris, Tarikh al 'Ulum 'inda[l] 'Arab (Majmu'ah Abhats Nadwah Ra's al Khayyimah at Tarikhiyyah al Khamisah, 6-10 Sya'ban 1417 H/16-20 Desember 1996), 2005 Ali Hasan Musa, At Tawqit wa*t+ Taqwim (Dar*ul+ Fikr al Mu'ashir-Libanon, cet. II, 1419 H/1998 M) .- . , Al Mawsu'ah al Falakiyyah, Terjemah: Prof.Dr.Abdul Qawy 'Iyad, Editor: Prof.Dr.Muhammad Jamaluddin al Afandy (Maktabah al Usrah-Kairo, dalam Mahrajan al Qira'ah li[l] Jami', 2002) Imam Ibrahim Ahmad, Tarikh al Falak 'Inda*l+ 'Arab (Maktabah as Tsaqafiyah-Wizarah as Tsaqafah wa al Irsyad al Qawmy, t.t.) Muhammad Shalih an-Nawawy dalam "Abhats an Nadwah al 'Alamiyah as Tsaminah li Tarikh al 'Ulum" di Perpustakaan Iskandariah-Mesir, 28-30 September 2004 M, dipublikasi oleh Mansyurat Jami'ah Halb (Ma'had at Turats al 'Ilmy al 'Araby), 1427 H/2006 M Ishamat al Hadharah al Arabiyyah wal Islamiyyah fi Ulum al Falak, Penerbit Maktabah Alexandria, 2005. ------------------------* Program Pasca Sarjana Institut Manuskrip Arab Kairo, jurusan Filologi & Studi Manuskrip Arab [dalam Tesis Tahkik & Dirasah Manuskrif Falak Islam Klasik]. ASTRONOMI Orang awam kadang tidak bisa membedakan antara astronomi dan astrologi. Secara mudah kadang keduanya difahami sebagai ilmu bintang. Padahal jelas sekali bedanya, terutama dalam hal tafsir atas suatu fenomena langit. Nah, soal tafsir inilah yang sangat rawan dalam menimbulkan keresahan. Orang awam kadang tidak bisa membedakan mana tafsir astrologi dan mana tafsir astronomi. Astrologi adalah ilmu yang mempelajari pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan dengan nasib manusia, baik secara individu maupun masyarakat. Sedangkan astronomi adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini. Pokoknya bila fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin tafsir astrologi. Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan bukanlah tafsir astronomi. Kepercayaan itu terkait dengan astrologi. Masih ingat geger ramalan bencana 5 Mei 2000 lalu? Fenomena astronomi pengelompokan matahari, bulan, dan lima planet terang pada 5 Mei 2000 telah menghangatkan berita media massa dengan ramalan adanya bencana. Bencana tidak terjadi. Tetapi, ada satu hal penting yang luput dari perhatian awam: berita media massa telah mencampuradukkan fenomena astronomi dengan ramalan astrologi. Istilah superkonjungsi tidak dikenal astronomi, tetapi hanya ada dalam terminologi astrologi. Konjungsi dalam pengertian astronomi adalah posisi dua benda langit yang segaris bujur dalam penampakannya di langit. Dalam bahasa hisab, dikenal ijtimak untuk konjungsi bulan dan matahari. Pada saat itu terjadi bulan baru dan mungkin juga terjadi gerhana matahari. Secara astronomi mustahil terjadi konjungsi yang melibatkan lebih dari dua benda langit. Namun dalam pengertian astrologi, konjungsi tidak harus segaris bujur. Ada toleransi (disebut orb) antara 8-9 derajat, mungkin juga lebih. Karenanya pengelompokan dua planet atau lebih dalam sektor geosentik yang sempit sering dianggap konjungsi. Bila melibatkan banyak planet disebut superkonjungsi. Tafsir Astrologi

Secara astrologi, pengaruh paling kuat benda-benda langit pada kehidupan manusia di bumi adalah pada saat terjadi konjungsi tersebut. Ramalan bencana 5 Mei 2000 akibat superkonjungsi sepenuhnya hasil tafsiran astrologi, bukan astronomi. Ramalan bencana alam atau bencana sosial, dilakukan oleh cabang astrologi yang disebut astrologi duniawi (mundane). Cabang astrologi ini memfokuskan perhatian pada pengaruh benda-benda langit pada kondisi bangsa, partai politik, serta aset-aset tak hidup (bangunan, kendaraan). Astrologi populer yang berkaitan dengan watak seseorang dan ramalan nasibnya (disebut astrologi natal), juga memperhatikan masalah konjungsi tersebut. Di Indonesia pada tahun 1995 seorang tokoh paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Ramalan tentang chaos pada tahun 1995 didasarkan pada informasi astrologi bahwa planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain berita disebutkan Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung selama lima tahun. Menurut data astronomi pernyataan itu tidak benar. Tahun 1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Hanya planet Uranus dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat). Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55. Dan planet Uranus dan Neptunus berada pada posisi segaris dengan matahari pada tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16. Namun nalar astrologi berbeda dari argumentasi astronomi. Tahun 1974 John R. Gribbin and Stephen H. Plagemann menerbitkan buku The Jupiter Effect yang meramalkan bakal terjadinya bencana pada tahun 1982 akibat berkelompoknya semua planet pada satu sektor yang sama. Memang pada saat itu semua planet dari Merkurius sampai Pluto berkumpul pada sektor dengan rentang 95 derajat, sektor paling sempit selama abad 20. Kemudian sekitar tahun 1997-an Richard Noone mempublikasikan buku 5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster yang bercerita tentang ramalan bencana pada 5 Mei 2000. Tulisan Noone inilah yang tampaknya mewarnai cerita-cerita di media massa tahun lalu. Ramalan astrologi mundane yang paling terkenal adalah karya Nostradamus. Dengan nama asli Michel de Nostradame (15031566), Nostradamus yang pernah menjadi dokter istana Raja Perancis Charles IX mempublikasikan bukunya Les Centuries pada 1555. Banyak peristiwa besar dikaitkan orang dengan ramalan Nostradamus, seperti perang dunia I dan II serta perang teluk Irak-Kuwait yang diduga bisa memicu perang dunia III. Kepanikan massa akibat berita yang menyesatkan tentang segarisnya planet-planet pernah terjadi pada tahun 1962. Pada superkonjungsi 4 Februari 1962 (5 Februari waktu Indonesia) orang-orang berkumpul di Observatorium Griffith (Los Angeles) menunggu informasi apa yang akan terjadi. Mobil berderet hampir satu kilometer. Berita sensasional juga berkembang di Amerika pada tahun 1982. Superkonjungsi 1982 dikabarkan akan menghancurkan pantai barat Amerika dan memusnahkan jutaan orang. Bencana itu tidak terjadi, tetapi sekian banyak orang dibuatnya ketakutan dengan ramalan itu. Bahkan ada yang meminta nasihat astronom perlu tidaknya pindah ke daerah lain. Planetarium Denver menerima 130 telepon dalam lima jam dari orang-orang yang ketakutan. Pada 1998 ramalan Nostradamus juga sempat merepotkan para astronom di Observatorium Griffith. Setelah penayangan film The Man Who Saw Tomorrow yang bercerita tentang Nostradamus, banyak orang menelpon observatorium menanyakan kapan terjadinya planet-planet segaris yang akan menyebabkan gempa. Ternyata gempa memang tidak terbukti terjadi. Tafsir astrologi tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, di negara maju sekali pun ramalan-ramalan bencana seperti itu cukup membuat panik banyak orang. Tidak tampaknya dampak sosial di Indonesia terhadap ramalan-ramalan bencana tersebut belum tentu berarti masyarakat telah berfikir rasional, tetapi mungkin karena penyebaran informasinya tidak seluas di negara-negara maju. Tafsir Astronomi Superkonjungsi dalam terminologi astronomi lebih tepat disebut pengelompokan planet-planet dalam suatu sektor tertentu. Pengelompokan planet-planet pada 5 Mei 2000 lalu telah dihitung oleh Jean Meeus, pakar matematika astronomi dari Belgia, yang menuliskannya dalam majalah astronomi Sky and Teleskop (1961). Berkelompoknya matahari, bulan, dan 5 planet utama lainnya (dalam konsep lama semuanya dianggap planet) dalam rentang 100 tahun sebenarnya telah terjadi pada 5 Februari 1962 dan 5 Mei 2000, kemudian akan terjadi lagi pada 9 September 2040. Dari segi astronomi, tidak ada hal yang istimewa dengan berkelompoknya planet-planet tersebut. Mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah bila kejadiannya malam hari. Pengelompokan banyak planet dalam satu wilayah langit yang sempit sangat menarik bagi penggemar astrofotografi. Selain hal itu, sama sekali tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan mekanisme kaitan antara susunan planet tersebut dengan bencana di bumi.

Ada tiga hal yang perlu dikaji sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi: efek pasang surutnya, radiasinya, dan pancaran partikelnya. Efek pasang surut (pasut) sudah kita kenal akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan surut secara periodik. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang pendek bisa terputus. Pancaran partikel dari matahari berupa angin matahari atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi. Adakah tiga hal tersebut terjadi bila planet-planet berkelompok? Efek pasut planet-planet amat sangat kecil dibandingkan dengan efek pasut bulan dan matahari. Dengan memperhitungkan massa planet dan jaraknya pada suatu waktu, dapat dihitung gaya pasutnya di permukaan bumi. Matahari saja yang sekitar 27 juta kali massa bulan, gaya pasutnya pada 5 Mei 2000 hanya sepertiga gaya pasut bulan. Efek pasut matahari baru terasa pada saat bulan baru atau bulan purnama, ketika gaya pasut bulan dan matahari saling memperkuat yang menyebabkan pasang air laut menjadi lebih tinggi daripada biasanya. Sedangkan efek pasut planet-planet sangat kecil. Gaya pasut yang terbesar saja dari planet Jupiter, hanya dua-per-sejuta kali gaya pasut bulan. Jadi efek pasut planet-planet tersebut sama sekali tidak berdampak pada bumi. Planet-planet pun tidak memancarkan radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang mencapai bumi. Jadi, sama sekali tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya tidak beralasan mengaitkan penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia.

SEJARAH PERADABAN DAN HUBUNGAN ASTRONOMI (ILMU FALAK) DENGAN ASTROLOGI Dimaklumi, lapangan pembahasan ilmu falak adalah langit dengan segala yang berada didalam dan sekitarnya. Bangsa-bangsa kuno Babilonia, Mesir, Cina, India, Persia, Yunani, dll. dimasanya masing-masing telah melakukan aktifitas Astronomi (falak) dan Astrologi (nujum) secara bersamaan dengan model masing-masing.

Peradaban (bangsa) Sumeria yang telah muncul sekitar tahun 4500 SM diduga sebagai cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan terkhusus kajian Astronomi-Astrologi bagi peradaban sesudahnya. Peradaban Babilonia (Iraq Selatan) adalah lanjutan peradaban Sumeria tersebut yang punya pengaruh yang sangat kuat. Orang-orang Babilonia dikenal hobi dengan ilmu eksperimental, membuat peradaban ini bertahan dan berkembang dalam sejarah. Sumbangsih besar, sekaligus masalah besar Babilonia yang telah mengakar hingga saat ini adalah Astrologi. Astrologi lahir sekitar 2000 tahun SM di Lembah Mesopotamia (diantara sungai Eufrat dan Tigris). Dapat dibayangkan, langit yang begemerlapan oleh ribuan bintang-bintang dengan ketiadaan lampu taman dan kota ketika itu, tentunya sangat inspiratif untuk para Astrolog dan pendeta Babilonia, mereka mengamati dan memandang sekaligus meramal kejadian dilangit, mereka beranggapan bahwa setiap gerak benda-benda dilangit adalah pesan dari penguasa alam yang harus diterjemahkan. Ramalan yang pada mulanya diperuntukkan untuk raja dan negara, tetapi juga merembes untuk meramal kehidupan sehari-hari orang biasa. Kenapa demikian? Karena Astrologi bicara tentang manusia sehari-hari dengan segala kemungkinan suka dan dukanya. Namun, sejauh mana kita merelakan peruntungan pada benda-benda angkasa tersebut?, atau, apakah Islam melegalisir aktifitas ini ! Astronomi dengan Astrologi sangatlah berbeda, meski kedua-duanya sama, sama dalam menerjemahkan alam raya (langit), keduanya memang tidak lepas dari pemaknaaan benda-benda langit. Astrologi mempelajari hubungan kedudukan rasi bintang (zodiak), planet, matahari dan bulan terhadap karakter dan nasib seseorang. Sementara Astronomi tidak hanya mempelajari planet, matahari, bulan, bintang, tapi juga galaksi, black hole, pulsar, dan benda-benda angkasa lainnya. Astronomi mempelajari alam secara fisika-matematika dan hukum-hukum alamnya. Sehingga kesimpulannya bahwa benda-benda di atas sana adalah benda langit, bukan dewa-dewi atau makhluk luar biasa. Dimasa peradaban Babilonia, telah muncul tabel-tabel peredaran benda-benda langit, penyiapan kalender pergantian musim dan perubahan wajah bulan, pemetaaan langit, dan peramalan terjadinya Gerhana yang merupakan embrio Astronomi modern. Sumbangsih penting lain dari peradaban ini adalah, bangsa Babilonia menetapkan sebuah lingkaran menjadi 360 derajat, berdasarkan itu juga, Babilonia menjadikan keadaan bumi (muhith al ardh/muhith al falak) 360 derajat. Dan lagi, Babilonia telah menetapkan satu hari = 24 jam, satu jam = 60 menit dan satu menit = 60 detik.

Sementara itu, peradaban Mesir kuno punya segudang talenta sejarah yang panjang nan banyak memenuhi halaman bukubuku sejarah. Khusus dalam kaitan kajian perbintangan, Mesir kuno memang tidak punya begitu banyak perhatian terhadap observasi Gerhana dan gerakan bulan dan planet-planet lainnya, namun peradaban Mesir kuno punya kepercayaan yang mengakar dalam penanggalan. Melalui rutinitas banjir sungai Nil setiap tahun yang selalu bertepatan dengan munculnya bintang Sirius (najm syi'ry yamany) dibagian timur pada malam bulan musim panas sekitar tanggal 19 Tamuz / ( Juli) dan mulai bersinar diakhir bulan Ab / ( Agustus). Karena munculnya bintang ini selalu bersamaan dengan datangnya banjir sungai Nil setiap tahun, Mesir kuno menjadikan fenomena alam ini sebagai dasar penanggalan yang terus digunakan hingga saat ini. Diperadaban ini juga, Mesir kuno telah mengenal dan menciptakan jam matahari (mizwalah) yang muncul lebih kurang tahun 1500 SM. Peradaban China, tak kalah besar pengaruhya dengan peradaban lainnya, diperadaban ini telah ada perhitungan gerak bendabenda angkasa seperti menghitung terjadinya gerhana seperti dipelopori oleh Konfusius (w. abad V SM). Dimasa ini telah ada pula sistem penanggalan dengan segala plus-minusnya, diduga pula, bangsa China kuno telah dan pernah melakukan pengkajian-perhitungan terhadap Nova dan Supernova. Astronom China silam, Shi Shen, konon sudah berhasil menyususn katalog bintang-bintang yang sangat boleh jadi sebagai katalog 'tertua' yang terdiri 800 entri pada tahun 350 SM.

Peradaban India dan Persia Dua peradaban (bangsa) ini, adalah peradaban yang punya kedudukan istimewa. Dari dua peradaban inilah -secara langsungmuncul dan lahirnya peradaban falak Arab (Islam), disamping peradaban Yunani kuno yang telah mengakar. Peradaban India adalah yang terkuat dalam pengaruhnya terhadap Islam (Arab) dibanding Persia. Bangasa India kuno, yang telah memulai peradabannya sedikitnya sejak 3000 tahun SM di lembah sungai Indus di Mahenjo-Daro atau Harappa punya gambaran mitos menarik tentang jagad raya, mereka percaya bumi ini adalah datar bersangga diatas punggung beberapa ekor gajah raksasa; gajah-gajah itu berdiri diatas punggung seekor kura-kura maha besar. Langit tidak lain adalah seekor ular kobra raksasa yang badannya melingkari bumi, pada malam hari sisik-sisik ular itu mengkilat berkilauan sebagai bintang-bintang. Buku Sind Hind / dari bahasa asli punya pengaruh besar dalam perkembangan peradaban falak Arab Islam, dengan puncaknya pada Dinasti Abbasiyah masa pemerintahan Al Manshur, diturunkan SK (baca: perintah) untuk meringkas dan menerjemahkan buku ini kedalam bahasa Arab. Ibrahim al Fazzari (w?) adalah orang yang menerima perintah untuk menerjemahkan buku ini, sekaligus pula ia melahirkan buku penjelas "As Sanad Hind al Kabir", dan buku ini terus bertahan hingga masa Al Makmun Dinasti Umawiyah. Perkembangan berikutnya, bermunculan karya-karya falak Arab nan banyak lagi beragam dimasa Dinasti Abbasiyah dan Umawiyah, namun kesemuanya senantiasa bernuansa gaya falak ala-Sind Hind tersebut. Peradaban Persia, berada pada urutan kedua setelah India dalam pengaruhnya dalam Islam, peradaban ini juga mengambil (belajar) dari peradaban India disamping peradaban lainnya. Namun demikian, pengaruh peradaban Persia tetaplah signifikan, terbukti dipemerintahan Abbasiyah masa Al Manshur ia mengumpulkan pembesar-pembesar ahli perbintangan Persia untuk berdiskusi seperti Nubekht al Farisy (w.326 H), Umar bin al Farkhan (w. 200 H), Ibrahim al Fazzary (w...?), dll. Diantara istilah falak Persia yang terus dipakai dalam Islam hingga saat ini antara lain; zayj (zig), awj (Aphelion), dll. Sementara buku-buku falak bahasa Persia yang banyak mendapat perhatian Arab Islam antara lain; dan yang merupakan ephemiris (Zig) yang cukup masyhur ketika itu. Berikutnya Al Khawarizmi (w.232 H) juga membuat Zig-nya (Ta'adil al Kawakib) dalam corak mazhab Persia, demikian lagi Abu Ma'syar al Falaky (w.272 H), dll. Buku-buku falak Persia yang dinukil kedalam bahasa Arab antara lain buku " " yang dinisbahkan pada , dan "Shuwar al Wujuh" karya .

Peradaban Yunani Seperti disebut diatas, pengamatan fenomena jagad raya telah dilakukan sejak dahulu kala oleh orang-orang peradaban Babilonia, Cina, Mesir kuno, dll. Namun Astronomi sebagai ilmu pengetahuan baru berkembang pada peradaban Yunani pada abad ke-6 SM. Adalah Thales diduga sebagai yang memelopori ilmu Astronomi klasik di Yunani. Ia berpendapat bahwa Bumi merupakan sebuah dataran yang luas. Di waktu yang sama, Phytagoras melontarkan pendapat yang berbeda dengan Thales, menurut Phytagoras, bentuk bumi adalah bulat, meski belum didukung banyak bukti. Terobosan Astronomi lainnya dilakukan oleh Aristarchus (w.250 SM) di abad 3 SM. Ia berpendapat, Bumi bukan pusat alam semesta. Ia mengungkap bahwa bumi berputar dan beredar mengelilingi matahari (Heliosentris). Walaupun teori tersebut akhirnya terbukti benar, tapi saat itu tidak banyak yang mendukungnya. Justeru yang didukung adalah teori yang dilontarkan oleh Hiparchus ( tahun 190 125 SM.). Ia menyatakan bahwa Bumi itu diam, dan matahari, bulan, serta planet-planet lain

mengelilingi bumi (Geosentris). Sistem Geosentris ini disempurnakan sekaligus populerkan lagi oleh Cladius Ptolomeus (w.160 M) dan lebih dikenal sebagai Sistem Ptolomeus yang terekam dalam maha karyanya Almagest, yang menjadi buku pedoman Astronomi hingga dimasa awal abad pertengahan selama berabad-abad. Sekitar tiga belas abad kemudian, sistem Geosentris runtuh oleh Nicholas Copernicus (w.1543 M) di tahun 1512. Ia menuturkan, planet dan bintang bergerak mengelilingi matahari dengan orbit lingkaran (da'iry). Johanes Kepler (w.1630 M) mendukung gagasan itu di tahun 1609 melalui teorinya bahwa matahari adalah pusat tata surya, Kepler juga memperbaiki orbit planet menjadi bentuk elips (ihlijy) yang dikenal dengan tiga hukum Kepler-nya. Di tahun yang sama, Galileo Galilei (w.1642 M) menciptakan Teleskop monumental di dunia. Dari pengamatannya, ia berkesimpulan bahwa bumi bukan pusat gerak. Penemuan Teleskop tersebut, selain memperkuat konsep Heliosentris Copernicus, juga membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu Astronomi. Falak Pasca Jahiliyah (Era Islam) Dalam Islam, pada awalnya Ilmu Falak juga tidak lebih hanya sebagai kajian 'nujumisme' (Astrologi). Hal ini terjadi antara lain dengan dua alasan; 1.) Kebisaan hidup mereka dipadang pasir yang luas serta kecintaan mereka pada bintang-bintang untuk mengetahui tempat terbit dan terbenamnya, mengetahui pergantian musim, dll. 2.) Keterpengaruhan mereka terhadap kebiasaan bangsa-bangsa yang berdekatan dengan mereka yang punya kebiasaan yang sama (Astrologi). Datangnya Rasulullah S.a.w. beserta risalah-nya dengan membawa cahaya Al-Quran, menjelaskan bahwa masa bagi Allah S.w.t. adalah sama, tidak ada bahagia dan tidak ada celaka, bahagia dan celaka mutlak dalam kekuasaan Allah S.w.t. Perkembangan berikutnya aktifitas falak terus berkembang dengan kontrol Al Qur'an, hingga lahirlah banyak sarjana-sarjana falak berpengaruh dalam Islam. Adalah Dinasti Abbasiyyah -tepatnya masa pemerintahan Ja'far al Mansur- berjasa meletakkan Ilmu Falak pada posisi istimewa, setelah Ilmu Tauhid, Fikih, dan Kedokteran. Ketika itu, Ilmu Falak -dikenal juga Astronomi- tidak hanya dipelajari dan dilihat dalam perspektif keperluan praktis ibadah saja, namun lebih dari itu, ilmu ini lebih dikembangkan sebagai pondasi dasar terhadap perkembangan science lain seperti; ilmu pelayaran, pertanian, kemiliteran, pemetaan, dll. Tidak tanggung-tanggung, Khalifah Al-Manshur membelanjakan dana negara cukup besar dalam rangka mengembangkan kajian Ilmu Falak. Ilmu Falak-pun terus berkembang hingga zaman pemerintahan Umawiyah, dengan puncak kecemerlangan perkembangannya dipemerintahan Khalifah Al-Makmun. Kajian Astronomi dibuat secara sistematik dan intensif yang melahirkan sarjana-sarjana Falak Islam semisal Al Battani (w.317 H), Al Buzjani (w.387 H), Ibn Yunus (399 H), At Thusy (w.672 H), Biruny (w.442 H), dll. Di era peradaban Arab-Islam inilah kajian falak mulai berkembang secara alamiah dan ilmiah dengan berbagai pembenahan teori, terjemah, cetak ulang, perbaikan, dan ta'lif dengan berbagai penambahan dan penemuan. Khusus dalam kepentingan ibadah, Qudama' Arab telah melakukan perhitungan waktu-waktu shalat, arah kiblat, rukyat hilal, perhitungan musim, dll. Dimasa Al Makmun, mulai marak pula gerakan penerjemahan literatur-literatur Falak asing kedalam bahasa Arab, seperti buku "Miftah an Nujum" yang dinisbahkan pada Hermes Agung (Hermes al Hakim) dimasa Umawiyah, menyusul buku Sind Hind tahun 154 H/ 771 M yang diterjemahkan oleh Ibrahim al Fazzary (w...?), Almagest Ptolomaeus yang diterjemahkan oleh Yahya bin Khalid al Barmaky dan disempurnakan oleh al Hajjaj bin Mutharr dan Tsabit bin Qurrah (w.288 H), dll. Hal penting yang perlu dicatat -seperti ditegaskan diatas- , perkembangan peradaban falak Arab-Islam memang tidak bisa dilepaskan dari peradaban sebelumnya, dalam bahasa yang agak 'ekstrim', Arab memang berhutang terhadap peradaban sebelumnya. Namun terdapat beberapa keistimewaan dibalik keberhutangan tersebut, antara lain sbb.; 1.] Meski Arab menukil dari peradaban sebelumnya, namun senantiasa disertai dengan koreksi (tashih al akhtha'), penjelasan ulang teori (syarh), penambahan informasi, yang berikutnya membuat karya-karya (ta'alif ) tersendiri yang punya ciri dan keunggulan. 2.] Peradaban falak Arab-Islam tidak hanya terhenti dalam sebatas tinjauan teoritis saja (dirasat nazhariyyah), namun mempolanya dalam bentuk ilmu-ilmu pasti seperti mate-matika, fisika, kimia, dll., hal ini paling tidak dapat dilihat dari karyakarya (alat-alat) observasi yang ada. 3.] Dalam hal perbintangan (Astrologi), Arab-Islam memang tidak mampu menghapus habis tradisi ini, bahkan praktek ini tetap ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari hingga saat ini. Alasannya -seperti disebutkan diatas-, Astrologi bicara tentang diri seseorang dengan segala kemungkinan suka dan dukanya. Wallah a'lam.

Rekonstruksi Fakta Setiap kali bicara tentang orbit benda-benda langit, kita pasti akan bersentuhan dengan hukum Kepler. Hukum ini digagas oleh Johannes Kepler pada awal abad ke-15 M. Kepler mendasarkan hukumnya berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Astronom

Denmark, Tycho Brahe. Hukum ini memang telah diakui sebagai terbenar dalam abad ini. Hukum Kepler terdiri dari tiga postulat yang menjelaskan tentang orbit planet. Secara singkat, Hukum Kepler pertama menjelaskan bahwa planet-planet mengorbit (mengelilingi) matahari dengan lintasan berbentuk elips (ihlijy) dengan Matahari pada salah satu fokusnya. Hukum kedua Kepler menjelaskan tentang pergerakan planet. Dalam satu rentang waktu yang sama, planet bergerak menyapu daerah yang sama panjangnya. Karena orbit planet berbentuk elips, maka konsekuensinya makin dekat jarak planet ke Matahari, makin cepat pula gerak orbitnya. Terakhir, hukum ketiga Kepler menyatakan bahwa kuadrat dari periode planet (waktu yang diperlukan untuk menempuh satu orbit) adalah sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata planet itu dari matahari. Pernyataan ini dituangkan dalam persamaan matematis: P2 = a3, dimana P adalah periode planet mengelilingi Matahari (dihitung dalam tahun) dan a adalah jarak planet ke Matahari (dalam Satuan Astronomi). Konsekuensi dari hukum ini adalah semakin jauh jarak planet, makin lambat pula pergerakannya. Terhadap tiga hukum Kepler diatas, Prof.Dr.Muhammad Shalih an-Nawawy (Guru Besar Falak Universitas Kairo) menyatakan (menulis) dalam makalahnya berjudul "Ibn Syathir wa Nashiruddin at Thusy wa Dawa'ir al Aflak" yang dipresentasikan pada seminar internasional sejarah ilmu pengetahuan tanggal 28-30 September 2004 M di Perpustakaan Iskandariah-Mesir, ia mengungkap, bahwa teori tersebut pada dasarnya telah dikemukakan atau setidak-tidaknya disinggung oleh Ibn Syathir (w.777 H) diabad 8 H melalui karyanya "Kitab Ta'liq al Arshad" dan "Nihayat al Ghayat fi [l] a'mal al Falakiyyat". Lebih lanjut, melalui diskusi (bincang-bincang) penulis dengan Dr.Muhammad Abdul Wahab Jalal (mantan Guru Besar falak-riyadhiyyat dan Sejarah Ilmu Pengetahuan (History Science) Universitas Perancis) menyatakan; Nicholas Copernicus dalam teori "bulat bumi"-nya, ternyata komposisi jadwal Astronomi yang ia buat sama persis seperti teori (jadwal) yang dibuat Ibn Syathir dalam jadwal (Zig)nya. Wallah a'lam Defenisi & Terminologi Falak 25 Februari 2009 8:44 Ilmu Falak (Astronomi) adalah Ilmu yang mempelajari tentang tata lintas benda-benda angkasa (terutama bulan, bumi dan matahari) secara sistematis dan ilmiah, demi kepentingan manusia. Ilmu ini terhitung sebagai cabang ilmu pengetahuan tertua, sebab ilmu ini ada semenjak jagad raya ini terbentuk. Kata 'falak' pluralnya 'aflak' bermakna orbit edarnya benda-benda angkasa (al madar yasbah fihi al jirm as samawy). Ibn Khaldun (w.808 H) mendefenisikan ilmu ini sebagai ilmu yang membahas tentang pergerakan bintang-bintang (planet-planet) yang tetap, bergerak dan gumpalan-gumpalan awan yang beterbangan. HUBUNGAN ILMU FALAK DAN ASTROLOGI Penamaan Ilmu Falak sangat beragam dalam khazanah turats sebelum dan sesudah Islam seiring dengan kadar kemampuan manusia dalam menerjemahkan fenomena angkasa raya. Dalam Islam, peran bangsa Yunani (Greek) agaknya tidak bisa dilepaskan, justeru istilah Astronomi yang telah mengakar tersebut berasal dari bahasa ini. Astro berarti Bintang, dan Nomia berarti Ilmu. Secara alami, ilmu ini terus berkembang seiring perkembangan nalar manusia, sehingga membawa konsekuensi kepada berubahnya penamaan ilmu ini kepada berbagai macam penamaan meski obyeknya tetap sama. Diantara beragam penamaan tersebut yang banyak menghiasi buku-buku klasik antara lain; 'Ilm an Nujum, 'Ilm Hay'ah, 'Ilm Hay'ah al Aflak, 'Ilm Hay'ah al 'Alam, 'Ilm al Aflak, 'Ilm Shina'ah an Nujum, 'Ilm at Tanjim, 'Ilm Shina'ah at Tanjim, 'Ilm Ahkam an Nujum, dll. Di abad pertengahan ( abad IX H) ilmu ini lebih dikenal dengan nama 'ilm al hay'ah atau 'ilm al hay'ah al aflak. Sementara itu penggunaan kata 'ilm al falak tidak begitu masyhur, pula tidak banyak beredar, meski kata ini tetap ada menghiasi buku-buku klasik dengan maksud dan tujuan yang sama. Antara lain, Ibn an-Nadim (w.388 H) dalam Al Fihrist-nya, ketika menjelaskan biografi Ya'qub bin Thariq menyebut kata ini (baca: falak/ilmu falak) sebagai cabang ilmu yang dimaksud. Kata 'falak', dengan makna 'edar' sebagai dimaksud dalam disiplin 'Ilmu Falak' banyak tertera dalam Al Qur'an, antara lain QS.Yasin ayat 40: Carlo Nillino, Guru Besar Ilmu Falak Universitas Fu'ad Awwal (Jami'ah al Misriyyah) sekarang Jami'ah al Qahirah dan Universitas Pallermo Italia menyatakan; kata falak yang banyak beredar dalam Al Qur'an bukan berasal dari bahasa Arab, akan tetapi teradopsi dari bahasa Babilonia yaitu 'Pulukku' yang berarti 'edar'. Wallah a'lam Perkembangan selanjutnya, ilmu falak terus berkembang dengan berbagai elaborasi dan akselerasi ilmiah hingga akhirnya ilmu ini dengan khas nama 'Ilmu Falak' mengakar diperadaban Islam sampai detik ini. Terlihat, diperguruan-perguruan tinggi, instansi-instansi pemerintah, organisasi keislaman muncul kajian-kajian dan mata kuliah Ilmu Falak dalam teori dan praktek. Secara lebih khusus, Ilmu Falak berperan secara detil dalam kepentingan umat Islam dalam empat hal, yaitu: [1]. Menentukan awal bulan Qamariyah, [2]. Menentukan jadwal shalat, [3]. Menentukan bayang (arah) kiblat, [4]. Menentukan kapan dan dimana terjadinya gerhana.

Astronomi, falak dan astrologi merupakan istilah yang memiliki kedekatan dari aspek objek kajian, yakni mengkaji masalah yang berhubungan dengan benda langit meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi, tujuan dan ruang lingkup kajiannya. Tulisan ini lebih lanjut akan menyoroti perbedaan dan hubungan ketiganya. Astronomi adalah studi ilmiah terhadap benda-benda langit seperti bintang-bintang, bulan, planet, galaksi, materi gelap dan lain-lain yang dilakukan menggunakan metode scientific. Objeknya adalah fisik benda langit, proses terjadinya suatu benda langit, gerak, ukuran dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Basis ilmu yang mendukung studi astronomi antara lain matematika, fisika dan kimia. Di era modern ini astronomi didukung oleh berbagai sarana pengamatan seperti teleskop (optik dan radio) dan pesawat antariksa. Berbeda dengan astronomi, astrologi memiliki keunikan tersendiri, yang karena keunikannya disiplin ini sering mendapatkan sorotan tajam dari dunia sains. Secara umum, astrologi adalah bahasa, seni dan ilmu pengetahuan yang mempelajari keterkaitan antara siklus benda-benda langit dan kehidupan manusia di muka bumi. Inti astrologi adalah berawal dari wawasan kosmologi manusia yang memandang adanya pengaruh peredaran benda langit terhadap kehidupan manusia di bumi. Pada tahapan ini wawasan kosmologi manusia masih diselimuti kabut mitos. Mitos kosmologi ini telah berjasa membangkitkan perhatian yang besar manusia di masa lalu terhadap alam semesta khususnya benda-benda langit yang diyakini memberi pengaruh pada kehidupan manusia. Dari sini pengamatan secara terstruktur terus dilakukan hingga ribuan tahun. Hasil pengamatan astrologi ini pada gilirannya berhasil memetakan benda-benda langit yang dengan sentuhan metode dan pendekatan baru akhirnya melahirkan disiplin astronomi. Dengan demikian astrologi telah berjasa besar dalam meletakan fondasi astronomi. Landasan astrologi sama seperti astronomi yang juga didasarkan pada observasi atau pengamatan. Itulah sebabnya astrologi di kalangan pendukungnya dinyatakan sesuatu yang memiliki landasan ilmiah yang sama dengan sains. Astrologi tidak ada hubungannya dengan dunia klenik dan mistik, sehingga seseorang yang berniat untuk mempelajari astrologi tidak perlu mempunyai indra keenam dan kekuatan ghoib seperti yang orang sebut kekuatan supranatural. Di masyarakat luas, pandangan tentang astrologi umumnya selalu dikaitkan dengan ramalan, namun para astrolog sendiri lebih suka menyebutnya sebagai perkiraan atau prediksi. Sebagaimana ilmuwan memprediksikan cuaca atau seorang pialang saham memperkirakan nilai saham, demikian pula para astrolog berupaya memperkirakan peristiwa-peristiwa apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Bedanya hanya basis data yang dipergunakan. Ilmuwan mempergunakan data-data iklim suatu negara sebagai tolok ukurnya, pialang saham memanfaatkan data-data fluktuasi harga saham dimasa lampau, sedangkan para astrolog menggunakan letak benda-benda langit sebagai acuan penelaahannya. Astrologi itu sebenarnya tidak berhubungan dengan dunia mistik. Pembuatan peta langit astrologis tidak didasari oleh ilmu ghaib, tetapi melalui serangkaian perhitungan matematis dan astronomis yang rumit. Para astrolog semenjak zaman ribuan tahun yang lampau telah melakukan pengamatan terhadap posisi relatif benda-benda langit satu sama lain. Astrologi bukanlah sains murni, tetapi ia merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan, seni dan filosofi. Astrologi ini mempelajari tentang pengaruh sitem tata surya pada beragam bentuk kehidupan dan efeknya pada manusia dan yang berkaitan dengan bumi. Astrologi juga memberikan panduan pada semua aspek kehidupan, harmonisasi pikiran, tubuh, jiwa. Astrologi memudahkan seseorang untuk memprediksi masa depan. Prediksi ini berdasarkan pengamatan, persepsi, perhitungan dan serangkaian uji coba. Karena sifatnya yang hanya prediksi, analisis dengan astrologi mungkin saja meleset, hal itu disadari karena alam memiliki keragaman hukum kausalitas yang saling bertautan dan rumit. Semakin banyak kemampuan manusia untuk mengidentifikasi dan memahami hukum kausalitas di alam semesta, akan membantu manusia untuk dapat melakukan rekayasa dalam kehidupan dan memanipulasi kondisi-kondisi buruk yang dipredikasikan akan terjadi. Di dalam astrologi manusia dipandang memiliki kehendak bebas dalam memanfaatkan berbagai energi di alam semesta ini dan pastinya ada yang terkandung positif atau negatif. Astronomi juga berbeda dengan astrologi dari segi konsepsi grand theory. Teori astrologi bernuansa geosentrismeanthromorfisme. Di sini bumi dipandang sebagai pusat dari alam semesta, dan benda-benda langit yang mengitari bumi masingmasing memberikan pengaruh pada kehidupan manusia yang hidup di bumi. Teori itu dalam perkembangan selanjutnya disanggah oleh Coppernicus yang mengetengahkan konsep bahwa bumilah yang sesungguhnya mengelilingi matahari dan mataharilah yang menjadi pusat alam semesta. Teori Copernicus yang disebut heliosentrisme mematahkan anggapan yang bertahan selama berabad-abad. Inilah tonggak berdirinya ilmu astronomi yang kemudian disambut oleh masyarakat sedunia. Meskipun sebenarnya teori geosentrisme masih ada dianut oleh berbagai kalangan secara minoritas. Yang ingi penulis kemukakan di sini adalah bahwa Ilmu astrologi memberikan sumbangsih yang besar kepada perkembangan ilmu alam dan menginspirasi ilmuwan besar seperti Pythagoras, Plato, Aristotle, Galen, Paracelsus, Girolamo Cardan, Nicholas Copernicus, sehingga pada gilirannya melahirkan

para astronom besar seperti Galileo Galilei, Tycho Brahe, Johannes Kepler, Carl Jung dan lain sebagainya. Dewasa ini astronomi berkembang menjadi cabang sains yang bukan hanya mengkaji posisi dan pergerakan benda-benda langit, tetapi juga fisis dan evolusinya. Perkembangannya demikian pesat yang menimbulkan lahirnya cabang-cabang baru, misalnya astrofisika (menitikberatkan pada segi struktur dan komposisi fisis, bukan lagi posisi dan pergerakan benda langit), kosmogoni (menitikberatkan pada asal-usul dan evolusi tata surya), kosmologi (menitikberatkan pada asal-usul dan evolusi alam semesta), dan yang baru adalah bioastronomi (menitik beratkan kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi). Teoriteorinya senantiasa diperbarui bila ada bukti-bukti lain yang menyempurnakan atau menggugurkan teori semula. Melalui astronomi, manusia mencoba mendeskripsikan apa dan bagaimana proses fenomena alam bisa terjadi dalam konteks eksperimen dan pengamatan, dengan parameter yang bisa diamati dan diukur, yang bisa benar bisa pula salah. Agama memperluas lagi spektrum makna alam semesta bagi manusia tentang kehadiran benda-benda alam semesta Dengan demikian astrologi dan astronomi merupakan sebuah rangkaian perkembangan peradaban manusia yang perlu dilihat secara utuh, meskipun keduanya kini telah bercerai disimpang jalan. Mempelajari astrologi dan pembacaan horoskop tidaklah selalu merugikan dan harus dituding sebagai barang haram, sebab di balik itu semua ilmu astrologi menyimpan rahasia-rahasia dunia yang tak terjawab oleh astronomi, yang menanti untuk dikuak oleh manusia. Terlepas dari benar tidaknya anggapan bahwa astrologi adalah mitos, namun manusia secara nature tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari mitos. Sejarah membuktikan betapa mitos diperlukan oleh manusia sebagai jawaban sementara sebelum sains. Mitos pula yang menggugah rasa ingin tahu manusia dengan hasrat yang begitu besar.

Ilmu Falak Falak merupakan istilah arab ( )yang diserap dari bahasa Babilonia yaitu fulukku yang berarti edar. Dalam berbagai literatur objek kajian falak sebenarnya sama dengan objek kajian astronomi, yakni benda-benda langit, termasuk dalam pembahasannya adalah keadaan benda langit, ukuran, jarak, posisi, gerak edar dan berbagai efek yang diakibatkan dari pola hubungan antar benda-benda langit tersebut, seperti gerhana. Dengan demikian menurut hemat penulis kajian ilmu falak pada dasarnya amat luas, sehingga dapat disamakan dengan kajian astronomi dan idealnya tidak perlu ada dikotomi antara astronomi dan ilmu falak, hanya saja dewasa ini di dunia Islam terminologi ilmu falak dipergunakan terbatas untuk keperluan ibadah seperti menentukan arah kiblat, waktu salat, puasa dan hari raya. Mengacu pada kenyataan dan praktik yang demikian maka dapat dimaknai bahwa falak merupakan astronomi spesifik dalam ruang lingkup kajian yang lebih sempit. Dewasa ini, ruang lingkup kajian falak yang sempit perlu dikembalikan pada kedudukannya sebagai disiplin keilmuan yang sejajar dengan astronomi dengan obyek kajian dan terminologi tidak terbatas seperti sekarang ini. Para astronom muslim di masa lalu tidak membatasi ruang lingkup kajiannya pada bumi, matahari dan bulan yang tujuannya untuk kepentingan ibadah semata, tetapi mereka melakukan pengamatan dan penelitian benda-benda angkasa luar yang lebih luas lagi, berkaitan juga dengan teori-teori eksak dan alat-alat teknologi ruang angkasa. Salah seorang tokoh ilmu falak yang sangat berpengaruh di dunia Islam adalah al-Khawarizmi dengan karyanya al-Mughtashar fi Hisab al-jabr Wa al-muqabalah, sangat berpengaruh terhadap cendekiawan-cendikiawan Eropa. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Robert Chester pada tahun 1140 M dengan judul Algebras et almucabala. Kemudian pada tahun 1831 M, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Federic Rasen. Selain Khawarizmi, tokoh astronom muslim lainnya adalah Abu Raihan al-Biruni, karyanya yang berjudul al-Qanun al-Masudi merupakan buku terlengkap mengenai astronomi pada masanya, karena menerangkan gerak planet-planet di angkasa raya. Karyanya yang lain berjudul al-Atsar al-Baqiyah, secara khusus membahas tentang rotasi bumi (yang pada waktu itu masih diperdebatkan) dan menetapkan dengan teliti garis-garis lintang dan garis bujur. Satu lagi tokoh yang terkenal adalah alHaitsam dengan julukan bapak optik, salah satu karyanya adalah buku yang berjudul al-Muntakhab fi Ilal Ain, buku ini mengupas mengenai petunjuk perawatan mata, selain itu banyak artikel-artikel yang mengenai matematika, astronomi, fisika dan kedokteran. Berdasarkan sumbangan ilmu pengetahuan para tokoh tersebut, sudah semestinya ilmu falak sekarang tidak membatasi luang lingkupnya pada kajian bumi, bulan dan matahari saja tetapi lebih diarahkan lagi kepada upaya pengembangan lebih jauh untuk melakukan observasi dan usaha-usaha yang lebih serius berkaitan dengan kajian ruang angkasa. Kajian falak harus sejajar dengan astronomi dalam objek dan ruang lingkupnya. Falak hanyalah adalah pintu masuk untuk memahami dimensi alam semesta yang lebih luas lagi.

Susiknan Azhari mendefinisikan astrologi sebagai praktek kepercayaan yang berasal dari Babilonia kuno. Praktek tersebut didasarkan pada horoskop yang digunakan untuk menentukan nasib seseorang menurut kedudukan dan gerak benda langit. Dalam bahasa arab biasa disebut Fannu At- Tanjim atau ilmu at-Tanjim (ilmu nujum). Dalam dunia Islam, menurut Howard turner, astrologi mulai berkembang pada abad pertengahan. Saat itu, astrologi menjadi ilmu yang popular di berbagai wilayah dan kalangan. Sumber-sumber keilmuannya, sama jauhnya dengan sejarah matematika dan astronomi muslim. Umat islam mewarisi tradisi praktek astrologi kuno seperti bangsa-bangsa sebelumnya yang melindungi praktek astrologi dalam berbagai tingkatan. Howard Turner menyatakan astrolog muslim juga menggunakan sebagian instrumen dan disiplin ilmu matematika yang sama dengan yang digunakan dalam astronomi observasional dan teoritis. Prosedur-prosedur yang digunakan astrolog muslim abad pertengahan hampir sama dengan para astrolog yang hidup sebelumnya. Hubungan dan perubahan kedudukan antara Matahari, bintang dan planet-planet pun tetap menjadi aktor utama. Berbagai kombinasi, hubungan dan disposisi benda-benda langit ditentukan dan ditafsirkan untuk semua kejadian. Namun demikian. seiring dengan perkembangannya, astrologi membangkitkan tantangan yang keras, terutama dari teolog dan filosof seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Meski al Biruni, seorang astronom dan filosof Persia, berhasil membuat manual astrologi, namun al Biruni sendiripun tak meyakini astrologi sebagai sains eksak. Gambaran perlawan umat islam terhadap astrologi dijelaskan secara rinci dalam kitab Muqaddimah karya Ibnu Kholdun. Turner menambahkan bahwa setelah abad ke sepuluh, intensitas penolakan terhadap astrologi semakin meningkat. Para astronom dan matematikawan terkemuka secara perlahan menyingkir dari orang-orang yang ikut serta dalam kajian astrologi. Dan hal ini menjadikan astronomi memperoleh kursi utama dari para pemimpin agama karena astronomi semakin jelas dan berguna dalam pelaksanaan ibadah. Bagaimana Hukum Mempercayai Astrologi Di Era Sekarang? Mustofa Ali Yakub, wakil ketua komisi fatwa MUI menuturkan bahwa mempercayai ramalan dalam berbagai bentuknya, termasuk perkara yang diharamkan. Islam mengharamkan astrologi karena astrologi sama dengan ramalan. Rasulullah bersabda Barang siapa yang bertanya kepada peramal maka sholatnya tidak diterima 40 hari, dan barang siapa yang bertanya dan mempercayainya maka dia telah keluar dari islam . Ungkapnya, ketika diwawancarai di Hotel Siliwangi Semarang. Meskipun dalam ayat Alquran terdapat ayat yang menyuruh kita untuk memperhatikan langit, namun hal itu bukan berarti ada kaitan antara posisi benda langit dengan kehidupan manusia. Mustofa Ali Yaqub melanjutkan bahwa dulu Nabi Muhammad pernah mempunyai anak yang bernama Ibrahim. Beberapa waktu kemudian Ibrahim meninggal saat terjadi gerhana. Masyarakat beranggapan gerhana terjadi karena matinya anak nabi. Setelah mendengar berita itu, rasulullah langsung membantahnya karena gerhana hanya gejala alam biasa. Tidak ada kaitannya dengan kematian Ibrahim. Quraish sihab dalam bukunya Kumpulan Tanya jawab Quraish Sihab Mistik, sex dan Ibadah mengungkapkan dulu orang percaya bahwa bintang-bintang langit adalah dewa-dewa yang mempengaruhi bumi dan isinya. Mereka juga percaya bahwa mantera para dukun atau peramal dapat mempercepat datangnya permintaan dan menghindarkan hal yang mencelakakan. Lalu islam datang dan mengkategorikan astrologi tersebut, sebagai bagian ilmu sihir yang dilarang agama.

Hubungan Astrologi, Astronomi dan Ilmu pengetahuan Astrologi atau ilmu perbintangan, kata ini diserap dari bahasa Yunani, di mana berdasarkan letak posisinya di antara berbagai benda langit, peramal bisa meramalkan nasib seseorang. Astrologi ditinjau dari beberapa sistem pengetahuan untuk mengerti, dan menterjemahkan tentang kenyataan dan keberadaan manusiawi, berdasarkan posisi dan gerak-gerik relatif berbagai benda langit, terutama Matahari, Bulan, planet, dan lunar node seperti dilihat pada waktu dan tempat lahir atau lain peristiwa dipelajari. Bagi banyak astrologer, hubungan itu tidak perlu sebab musabab. Hubungan antara astrologi, astronomi dan ilmu pengetahuan Astrologi tidak sama dengan astronomi. Astronomi sering dikelirukan dengan astrologi, dan sebaliknya. Karena mereka menganggapnya sebagai tidak mengikuti tingkat metode ilmiah, ilmuwan dari negara barat secara umum menolak astrologi untuk menjadi ilmu semu. Astronomi dapat dipahami sebagai ilmu tentang posisi benda-benda langit, sedangkan astrologi lebih pada menghubungkan gerakan benda-benda langit dengan nasib manusia.

Astrologi secara mendalam pernah digabungkan dengan astronomi, dan perbedaan jelas antara kedua kembali hanya sampai masa Galileo. Dia ialah orang yang pertama menggunakan metode ilmiah untuk menguji pernyataan obyektif tentang langit. Astronomi bermaksud mengerti jalannya fisik alam semesta. Hal ini secara khusus sangat menarik dan relevan di astrologi. Fokus utama kebanyakan bentuk astrologi atas korelasi yang tak terbukti antara gerakan fisik badan langit, dan berbagai urusan manusiawi, seperti peristiwa dunia, peristiwa di jiwa pribadi orang, dan bawaan sejak lahir ciri kepribadian. Astrologer yang lain memperpanjang korelasi ini sampai gejala geologis tak berhubungan sampai aktivitas manusiawi, seperti gempa bumi dan letusan vulkanik. Banyak bilangan menonjol di sejarah purbakala astronomi Barat, termasuk Tycho Brahe, Johannes Kepler, dan Galileo sendiri, juga hidup dari usaha mereka mempraktekan astrologi bagi bangsawan kaya. Isaac Newton kadang-kadang disebutkan sebagai mempunyai minat di astrologi, tetapi usulan bukti tidak tahan untuk memeriksanya. Tidak ada satu kata tercatat di tangan Newton yang mengatakan subyek, dan genggam buku itu di miliknya yang berisi referensi sampai astrologi terutama dikenai dengan alkemi. Adalah beberapa gejala biologis yang mengkoordinasikan dengan gerak-gerik langit (misalnya circadian irama, melihat Kronobiologi). Ini tidak membuktikan atau menggagalkan klaim astrologi, tetapi menyarankan pengaruh yang sepenuhnya tidak dimengerti. Usaha ilmuwan untuk membuktikan pengaruh astrologi sudah menyerahkan hasil negatif atau tak konklusif, untuk sebab yang dibantahkan. Para ilmuwan akan mengatakan astrologi tidak mempunyai dasar di kenyataan, dan oleh karena itu tidak bisa terbukti. Astrologers akan mengatakan ilmuwan sudah mendesain studi dengan kurang baik karena mengerti tidak cukup astrologi. Stephen Hawking sependapat dengan filsuf Karl Popper (1902-1994) dan Sir James Jean (1877-1946), bahwa sebuah teori tidak pernah dapat dibuktikan mutlak benar. Ini tentu juga berlaku bagi teori-teori ciptaan Hawking sendiri. Jadi Hawking tidak pernah mengatakan bahwa teorinya mutlak benar. Ia bahkan berpendapat bahwa teorinya tidak pernah dapat dibuktikan benar. Meskipun dalam perspektif ilmiah, Stephen Hawking tidak menuntut bahwa teori ilmiahnya harus diterima sebagai mutlak benar. Ia menulis : Setiap teori fisika selalu bersifat sementara, dalam arti teori itu hanyalah suatu hipotesis; Anda tidak pernah dapat membuktikannya. Tidak peduli berapa kali hasil-hasil eksperimen cocok dengan suatu teori, Anda tidak pernah dapat merasa pasti bahwa lain kali hasil itu tidak akan berlawanan dengan teori itu. Di pihak lain Anda dapat membuktikan bahwa suatu teori itu salah dengan menemukan suatu pengamatan, bahkan satu saja sudah cukup, yang tidak cocok dengan ramalan itu. (Any physical theory is always provisional, in the sense that it is only a hypothesis: you can never prove it. No matter how many times the results of experiments agree with some theory, you can never be sure that the next time the result will not contradict the theory. On the other hand, you can disprove a theory by finding even a single observation that disagrees with the predictions of the theory). Astrological konsep merembes di banyak masyarakat, dan berlangsung terus meskipun ada usaha kuat oleh ilmuwan untuk mendiskreditkan mereka. Hal ini terbukti oleh fakta bahwa influenza begitu dinamai karena doctor pernah percaya kepadanya untuk disebabkan oleh pengaruh planet dan istimewa yang tak mendukung. Astrologi sebagai bahasa deskriptif untuk pikiran Astrologi juga bisa dilihat sebagai sistem kebudayaan simbolisme karena berbicara tentang hal pikiran dan tokoh di kebudayaan Barat. It mempunyai mencari-cari di alkemi dan Hermetic tradisi yang sangat berpengaruh sampai abad ke-17. Only lewat mengerti sistem astrologi untuk menganalisa manusia kelakuan bisa banyak pemikiran dan kesusasteraan Barat sampai Pencerahan sepenuhnya dimengerti. Banyak ahli pikir modern, khususnya Carl Jung, sudah mengakui kekuasaan deskriptifnya pikiran tanpa secara perlu berlangganan ke klaim prediksinya. Astrologi sudah dikenal sejak jaman Babilonia sekitar 4.000 tahun yang lampau. Pada saat sekarang ada tiga macam astrologi yang cukup populer ialah astrologi barat, astrologi Tionghoa (Shio) dan astrologi India (Iyotisha). Astrologi Tionghoa adalah astrologi yang tertua. Walaupun astrologi ini menggunakan hewan sebagai lambang, tetapi ini tetap ada kaitannya dengan ilmu perbintangan. Lima elemen utama dari astrologi ini adalah Venus (metal atau emas), Jupiter (kayu), Mercury (air), Mars (api) dan Saturnus (tanah). Seni ramalan yang sesungguhnya dalam astrologi Tionghoa lebih dikenal dengan sebutan Zi Wei Dou Shu (ramalan bintang ungu).

*** Senin, 07 Mei 2012 Perkembangan Ilmu Falak pada masa Kejayaan Islam

Dengan bertambahnya kebutuhan manusia yang berkembang seiring bergulirnya zaman, maka betambah pula keilmuan dan pengetahuan sebagai sarana utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak terkecuali ilmu yang menjadi konsentrasi kita pada perguruan tinggi yang saat ini kita duduki, yakni ilmu falak. Ilmu falak mungkin saja masih terdengar langka di telinga masyarakat sekarang ini. Apalagi generasi muda yang condong kepada ilmu umum dan mulai meninggalkan ilmu keIslaman karena sudah dianggap kolot. Ilmu falak adalah bagian dari ilmu keIslaman karena berhubungan erat dengan keabsahan ibadah yang dilakukan seorang muslim.[1] Merupakan hal yang wajar, apabila generasi muda mulai meninggalkan ilmu falak, karena mereka menganggap ilmu falak tidak memiliki keistimewaan untuk dikaji. Anggapan ini boleh jadi muncul, karena pengetahuan mengenai urgensi mempelajari ilmu falak tertutupi oleh keterbatasan ilmu yang mereka miliki mengenai ilmu falak. Dengan istilah lain, ilmu falak adalah khazanah keIslaman yang fenomenal dengan para ilmuan Islam yang terkenak dan handal namun ada kesan kolot dan tertinggal.

Hal inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita khususnya sebagai mahasiswa yang duduk mengkaji dan mendalami ilmu falak, untuk menghidupkan dan membumikan kembali khazanah keIslaman yang terkesan kolot dan tertinggal ini. Namun kita tidak akan dapat berbuat banyak dan merupakan sesuatu yang ironis, jikalau kita sendiri sebagai pengemban tanggung jawab, tertinggal dalam pengetahuan tentang sejarah ilmu falak. Oleh karena itu, merupakan sebuah keharusan seorang ahli falak mengetahui dan memahami mengenai sejarah ilmu yang ia sedang dalami. Makalah ini, kiranya dapat memberikan diskripsi mengenai perkembangan ilmu falak, namun, lebih terkhususkan pada pada masa kejayaan islam. Berdasarkan paparan di atas, maka unuk dapat memudahkan pemahaman mengenai perkembangan ilmu falak pada masa kejayaan islam, maka gelas analisis[2] yang kami pakai adalah dengan menilik hasil perkembangan tersebut serta tokoh-tokoh yang berpengaruh di bidang itu. Oleh karena itu, kami dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 1. 2. 1. Bagaimana perkembangan ilmu falak pada masa kejayaan Islam? 2. Siapakah tokoh ilmu falak yang berjasa pada masa kejayaan islam?

1. Ilmu Falak Pasca Islam Meskipun yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini adalah perkembangan ilmu falak pada masa kejayaan Islam, namun, penting kiranya kami juga sedikit mengulas mengenai pekembangan ilmu falak pada awal Islam. Hal ini kami

lakukan dengan tujuan agar dapat memberikan hubungan dengan apa yang menjadi pembahasan inti dalam makalah ini, yakni ilmu falak pada masa kejayaan Islam. Oleh karena kehidupan bangsa Arab berada di padang pasir yang sangat panas dan terbuka, di tambah lagi dengan bahwa mereka sering berpindah tempat tinggal, serta seringnya mereka bepergian jauh untuk melakukan perdagangan ke negeri tetangga, maka keberadaan ilmu falak untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan menjadi sebuah kebutuhan. Pada awalnya, ilmu falak muncul dari ilmu astrologi atau ilmu perbintangan. Sedangkan pada masa Rasulullah sendiri, ilmu falak belum menjadi kajian ilmiah yang berdasarkan kapada ilmu pengetahuan. Hal ini, dikarenakan pada saat itu, umat Islam hanya disibukkan dengan jihad perang dan menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh pelosok dunia. Setelah Islam menyebar sampai di luar Makkah dan Madinah, mulailah para sahabat mengkaji akan khaznah ilmu falak, namun masih terbatasi dalam tinjauan Islam.[3] Akan tetapi dalam perkembangannya, ilmu falak sebenarnya dimulai dari kekhalifahan bani Abbasiyyah. Pembahasan inilah yang akan kami ulas dalam sub bab selanjutnya.

2. Perkembangan Ilmu Falak Pada Masa Kejayaan Islam Sebagaimana apa yang sudah kami singgung di atas, bahwa ilmu falak sebenarnya dimulai dari kekhalifahan bani Abbasiyyah. Dinasti Abbasiyyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiah. Daulat Abbasiyah adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan dinasti Abbasiah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Rasulullah SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah, nama lengkapnya adalah Abdullah as-Saffahibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullahibn al-Abbas. Dalam zaman Daulah Abbasiyah, tidak hanya seb gai zaman kemajuan ilmu falak. Namun, zaman dimana melahirkan banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadist, ahli filsafat, ahli bangunan dan sebagainya. Hal ini di sebabkan pada masa itu, kesusastraan dan ilmu pengetahuan disalin ke dalam bahasa arab. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Jarji Zaidan, bahwa zaman Abbasiyah adalah zaman keemasaan Islam. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemulyaan, baik kekayaan, kemajuan ataupun kekuasaan.[4] Dalam masa ini, telah lahir dan berkembang berbagai ilmu keislaman yang tidak terkecuali ilmu falak. Perkembangan ilmu falak pada masa kekhalifahan Abbasiyah ditandai dengan mulai diterjemahkannya karya-karya di bidang astronomi ke dalam bahasa arab. Tokoh yang pertama kali menerjemahkan buku astronomi ke dalam bahasa Arab adalah Muhammad Ibn Ibrahim al-Farizi (w. 796 M). Alfarizi menerjemahkan buku yang dibawa oleh seorang pengembara India yang berjudul Sindhid (Sidhanta). Hal ini dilakukan Alfarizi atas perintah dari khalifah Abu Jafar al-Manshur (719-775 M.). Namun, atas usaha ini, Alfarizi dikenal sebagai ahli ilmu falak yang pertama di dunia Islam.[5] Kemudian al-mansur juga memerintahkan kepada Abu Yahya untuk menerjemahkan Kitab al-Maqalat al-Arbaah karya Ptolomeaus, yaitu berbicara tentangf sistem perbintangan. Kegiatan penerjemahan karya-karya astronomi terus berlanjut, termasuk dari karya-karya bangsa Yunani. Sebagian karya bangsa Yunani yang sangat mempengaruhi perkembangan ilmu falak dikalangan umat Islam adalah The Sphere in Movement (Al-kurrah al-Mutaharrikah) karya Aratus, Introduction to Astronomy (al-Madhkhal ila Ilmi Falak) karya, Hipparchus dan Almagesty karya Ptolomeus. Yakub bin Thariq (w.179 H/796 M) juga telah berhasil menerjemahkan kitab al -Arkindi danTarkibul aflak. Al-Arkindi adalah buku yang membahas tentang almanak perbintangan (Ephemeris) atau kalender Astronomi berisikan tentang tabel-tabel yang menerangkan peredaran matahari, bulan, dan bintang dalam garis orbit.

Kitab-kitab falak tersebut tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, tetapi ditindak lanjuti dengan penelititanpenelitian baru yang berkelanjutan hingga akhirnya menghasilkan teori-teori baru. Berawal dari sanalah muncul tokoh falak dikalangan umat Islam yang sangat berpengaruh, yaitu Abu Jafar al-Khawarizmi (780-847 M) sebagai ketua obseravtorium alMakmun. Oleh khalifah Mansur, dana yang ia keluarkan untuk membiayai pembangunan astronomi tidaklah sedikit. Sehingga, tidak heran jika hasil-hasil yang dicapai sangatlah memuaskan. Sedangkan kajian tentang astronomi Islam mencapai masa kejayaan dan keemasan ketika tampuk pemerintahan dipegang oleh Makmun bin Harun al-Rasyid (w.218 H/833 M), karena pada masa itu, buku-buku tentang astronomi yang berbahasa Persia, India, Yunani, banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Di masa Makmun ini juga muncul para ahli astronomi terkenal, yang akan kami paparkan pada sub bab selanjutnya, bersama karya serta teori monumental sebagai sumbangsih mereka dalam perkembangan ilmu falak.

3. Tokoh Muslim dalam Perkembangan Ilmu Falak pada Masa Kejayaan Islam. Salah satu yang menjadi tolok ukur serta cerminan kemajuan ilmu falak pada masa kejayaan Islam adalah menjamurnya tokoh-tokoh dari kalangan Islam yang ikut membangun dan mengembangkan ilmu falak. Berikut ini, kami akan paparkan tokohtokoh tersebut beserta sumbangsihnya dalam perkembangan ilmu falak, sebagaimana yang kami kutib dari salah satu buku[6] yang menjadi bahan refrensi kami. A. Abu Masar al-Falaky (788-885 M) merupakan seorang ahli falak dari Balkh (Khurasan) yang di Eropa dikenal dengan nama Albu Masar. Beliaulah yang menemukan adanya pasang naik dan pasang surut air laut sebagi akibat dari posisi bulan terhadap bumi. Karya-karya beliau antara lain al-Madkhal Kabiir, al-Kabir, Ahkam al-Sinni wa al-Kawakib, Itsbat al-Ulum, dan Haiat al-Falak. B. Ibn Jabir al-Battani (858-929 M) yang di dunia barat diknal dengan nama Albatenius. Beliau melakukan perhitungan jalan bintang, garis edar dan gerhana, membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cincin, menetapkan garis kemiringan perjalanan matahari, panjangnya tahun sideris dan tropis, musim-musim serta lintasan matahari semu dan sebenarnya, adanya bulan mati,serta fungsi sinus, tangen, dan cotangen. Di antara karya-karya al-Battani adalah membuat perbaikan serta tambahan terhadap buku syntasis karya Ptolomeus, dalam judul barunya Tabril al-Maghesty, di samping bukunya sendiri yang berjudul Tamhid al-Musthafa li Mana al-Mamar. C. Abu Raihan al-Biruni (388-440 H. / 973-1048 M.) berasal dari Paris, ia sangat termashur namanya dalam sejarah pertumbuhan ilmu Falak, sehingga beliau diberi gelar al-Ustadz fi al-Ulum (maha guru), karena selain ahli perbintangan, juga menjadi binntang cendekiawan dalam zaman keemasan Islam (Golden Era of Islam) karena juga menguasai berbagai bidang ilmu seperti filsafat, matematika, geografi, dan fisika. Beliau telah menemukan teori tentang rotasi bumi dan mampu menentukan garis bujur dan garis lintang untuk setiap daerah (kota) di permukaan bumi dengan akurasi yang sangat teliti. Karyanya antara lain Al-Atsar Baqiyyat min Al-Qurun al-Khaliyat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Cronology of Ancient Nations dan kitab Al-Qanun al-Masudy fi al-Haiat wa al-Nujumi (sebuah ensiklopedi astronomi yang dipersembahkan kepada Sultan Masud Mahmud) yang ditulis pada tahun421 H/1030 M. Menurut Prof. Ahmad Baiquni, al -Biruni adalah orang yang pertama menolak teori Ptolomeus, dan menganggap teori Geosentris tidak masuk akal, karena langit yang begitu besar dan luas dengan bintang-bintangnya dinyatakan mengelilingi bumi sebagai pusat tata surya. Oleh karena itu, al-Biruni dipandang sebagai peletak dasar teori heliosentris. D. Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Katsir al-Farghani seorang ahli falak yang beras dari Farghana, Transoxania, sebuah kota yang terletak di tepi sungai Sardaria, Uzbekistan. Di kalangan ilmuwan Barat ia dikenal dengan nama Alfarganus. Karya-karya besarnya seperti Jamawi al-ilm al-Nujum wa Harakat al-Samawiyyat, Ushul Ilm al-Nujum, Al-Madkhal ila ilm Haiat al-Falak, dan Fushul al-Tsalatsin, masih tersimpan di Oxford, Paris, Kairo dan perpustakaan Princeton University. Karya-karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Yohanes Hispalamsis dari Seville dan Gerard dari Cremona dengan nama Compendium yang dipakai pegangan dalam mempelajari ilmu perbintangan oleh Astronom -astronom Barat, seperti Regiomontanus. E. Maslamah Abul Qasim al-Majriti, jasa terbesar beliau ialah merubah tahun Persi dengan tahun Hijriyah di Andalusia, dengan meletakkan bintang-bintang sesuai awal tahun hijriyah. F. Ali bin Yunus (w.1009) dengan karyanya Zaij al-Kabir al-Hakimi yang berisi antara lain tentang Astronomis matahari, bulan dan komet, serta perubahan titik equenox.

G. Abu Ali al-Hasan bin al-Haytam (965-1039) seorang pakar falak dari Bashrah, yang terkenal dengan bukunya Kitab alManadhir dan tahun 1572 M diterjemahkan dengan nama Optics yang merupakan temuan baru tentang refraksi (sinar bias). H. Abu Jafar Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan Nasiruddin at-Tusi berasal dari Marogho (Asia Kecil), telah membangun observatorium di Maragha atas perintah Raja Hulaghu Khan. Dengan observatoriumnya, ia telah berhasil membuat tabel-tabel data astronomis benda-benda langit dengan nama Jadwal al-Kaniyan serta membuat Astrologi guna menentukan kedudukan tiap-tiap bintang di langit, terutama mengenai lintasan, ukuran dan jarak planet Merkurius, terbit dan terbenam, ukuran dan jarak matahari dan bulan, dan kenaikkan bintang-bintang. Karya-karya beliau antara lain al-Mutawassit baina al-Handasah wa al-Haiah (kumpulan karya terjemahan dari Yunani tentang Geometri dan Astronomi), at-Tadzkir fil ilm al-haiah dan Zubdah alHaiah (Intisari Astronomi). I. Muhammad Turghay Ulughbeik (797-853 H./ 1394-1449 M) lahir di Salatin, Iskandaria, dan pada tahun 823 H./1420 M berhasil membangun observatorium di Samarkand. Karya dan temuan yang monumental berupa Jadwal Ulughbeik (zij sulthani), yaitu tabel Astronomi tentang matahari dan bulan. Tabel yang berupa data astronomi ini banyak dijadikan rujukan pada perkembangan ilmu hisab selanjutnya, termasuk kitab klasik yang berkembang di Indonesia Sullam al-Nayyirani juga menggunakan tabel dari UlughBeik. Pada tahun 1650 M Jadwal Ulughbeik diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Greaves dan Thyde, dan oleh Saddilet disalin dalam bahasa Perancis.

Beberapa tokoh yang kami kemukakan di atas telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu falak pada masa kejayaan Islam. Selanjutnya di abad seterusnya, perkembangan ilmu falak di tubuh Islam masih tetap berlanjut hingga kini. Dan sudah mengalami perkembangan sesuai dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran dan Sunnah. Zaman kegemilangan astronomi ini, berakhir dalam kurun ke 12. Hasil usaha zaman gemilang ini, sedikit demi sedikit telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin, terutama di Toledo Sepanyol, yang kemudian tersebar di seluruh bangsa Eropa. Melalui terjemahan tersebutlah, para tokoh intelektual Eropa mengkaji semua teori Ptolomeus dan mempelajari perkembangan astronomi hasil sumbangan dunia Islam.[7]

KESIMPULAN

Dari beberapa paparan mengenai perkembangan ilmu falak khususnya pada masa kejayaan Islam dan paparan tokohtokohnya, maka kami dapat menarik sebuah kesimpulan yang kami rangkum dalam paragrap berikut ini: Ilmu falak merupakan khazanah keislaman yang sangat penting bagi umat Islam, karena di dalamnya terdapat ketentuan yang memberikan tuntunanan kepada pengetahuan. Kalau boleh dilogikakan, ilmu falak ibarat sebuah koin yang sisinya berlainan, namun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Analogi inilah yang sangat tepat untuk ilmu falak dengan keIslaman. Di awal perkembangan Islam, ilmu falak mulai berkembang dengan diterjemahkannya buku astronomi ke dalam bahasa Arab. Sejalan dengan perkembangan zaman, ilmu falak juga berkembang seiring dan berjalan searah dengan keilmuan yang lain. Dibuktikan dengan munculnya ahli-ahli astronomi yang sempat berada pada puncak kejayaan. Intinya, ilmu falak akan terus berkembang, untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia yang ikut berjalan pula dengan perkembangan zaman

KESIMPULAN

Dari beberapa paparan mengenai perkembangan ilmu falak khususnya pada masa kejayaan Islam dan paparan tokohtokohnya, maka kami dapat menarik sebuah kesimpulan yang kami rangkum dalam paragrap berikut ini: Ilmu falak merupakan khazanah keislaman yang sangat penting bagi umat Islam, karena di dalamnya terdapat ketentuan yang memberikan tuntunanan kepada pengetahuan. Kalau boleh dilogikakan, ilmu falak ibarat sebuah koin yang sisinya berlainan, namun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Analogi inilah yang sangat tepat untuk ilmu falak dengan keIslaman. Di awal perkembangan Islam, ilmu falak mulai berkembang dengan diterjemahkannya buku astronomi ke dalam bahasa Arab. Sejalan dengan perkembangan zaman, ilmu falak juga berkembang seiring dan berjalan searah dengan keilmuan yang lain. Dibuktikan dengan munculnya ahli-ahli astronomi yang sempat berada pada puncak kejayaan. Intinya, ilmu falak akan terus berkembang, untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia yang ikut berjalan pula dengan perkembangan zaman

PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami persembahkan dengan harapan, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya. Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan yang ada dalam makalah ini. Namun, kami berharap kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari penbaca, guna perbaikan untuk makalah penulis selanjutnya.

[1] Ahmad, Izzuddin, ilmu falak praktis, (Semarang: Komala Grafika, 2006), Hlm. 4. [2] Meminjam istilah Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag. dalam bukunya, Fiqih Hisab Rukyah, (Jakarta: Erlangga, 2007), Hlm. XX. [3] http://afdacairo.blogspot.com/2009.02/sejarah-perkembangan-ilmu-falak-pra-dan.html [4] http://www.all-shia.org/html/id/books/001/01.html [5] Muhyiddin, khazin, Ilmu falak dalam teori dan praktik, (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004), Hlm. 23. [6] Moh. Murtadho, Ilmu Falak Praktis, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), Hlm. 25-28. [7] http://astroscientist.multiply.com/journal/item/14 Perkembangan Ilmu Falak Pada Awal Islam08 Mei 2012 21:10oleh : Nursodik El Hadee

Ilmu falak atau biasa disebut dengan Ilmu Hisab merupakan salah satu Ilmu keislaman yang mulai terlupakan. Padahal ilmu falak merupakan ilmu tertua yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim sejak abad pertama Hijriyah. Dalam perkembangannya ilmu falak (Astronomi) dimulai dari zaman Babilonia (selatan irak ), Mesir kuno,China, India, Persia dan Yunani. Bahkan jika kita melihat kembali sejarah, sesungguhnya dalam Islam sendiri sendiri sudah ada tanda-tanda akan adanya ilmu falak (Astronomi) yang diawali ketika Nabi Ibrahim as. dalam mencari tuhannya, Pada waktu itu nabi Ibrahim sendiri senantiasa mengawasi dan mengamati benda-benda luar angkasa seperti, matahari, bulan, bintang di langit untuk meyakini dirinya akan siapa Tuhannya? Akan tetapi, Pengamatan yang dilakukan Nabi Ibrahim belum bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena belum ada penelitian secara ilmiah yang sistematis, hanya sebatas pengetahuan yang ditunjukkan khusus oleh Allah swt. kepada nabi Ibrahim[1].Demikian menarik untuk mencoba sedikit membahas Perkembangan Ilmu Falak pada awal islam. Dalam makalah ini mungkin belum dapat dirumuskan secara sistematis tentang sejarah perkembangan ilmu Falak pada awal islam. Hal ini karena dari buku-buku ilmu Falak yang telah ditulis oleh berbagai kalangan ahli dan praktisi ilmu

Falak sampai sekarang belum banyak yang mengulasnya secara memadai. Namun akan berusaha diungkapkan poin-poin penting dalam perkembangan ilmu Falak pada awal Islam.

A. Faedah dan dasar Ilmu Falak Ilmu falak merupakan ilmu pengetahuan yang secara garis besar mempelajari tentang lintasan benda-benda langit, khususnya bumi, bulan dan matahari dengan tujuan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda langit tersebut, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi.Ilmu falak dalam islam pada umumnya mempelajari sesuatu yang ada hubungannya dengan pelaksanaan ibadah, diantaranya arah kiblat dan bayangannya, waktu-waktu sholat, awal bulan, dan gerhana.Maka dari itu, dengan mempelajari ilmu falak diantaranya kita dapat : kabah bagi suatu tempat di permukaan bumi syarat syahnya sholat Mengetahui kemana arah kiblat yang tepat menghadap ke arah

Memastikan waktu-waktu sholat maktubah maupun nafilah yang menjadi

Dengannya pula kita dapat mengetahui kapan waktunya matahari terbit dan terbenam.

Menghitung waktu terjadinya gerhana matahari maupun gerhana bulanDan masih banyak lagi faedah-faedah mempelajari ilmu falak yang tidak dapat kami sebutkan dalam makalah ini. Dengan demikian, keberadaan ilmu falak sangat urgen bagi umat muslim, karena sangat terkait dengan sah atau tidaknya ibadah yang terkait [2] dan dengan ilmu falak dapat menumbuhkan keyakinan seseorang dalam melakukan ibadah, sehingga ibadahnya lebih khusyuk.[3] Adapun dasar-dasar ilmu falak sebagai berikut:1. a.Surat Yunus ayat 5 Artinya : Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.(QS. Yunus : 5) Al Quran

b. Surat Al Baqarah ayat 189 Artinya :Mereka kepadamu tentang bulan sabit, katakanlah bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. (QS.al Baqarah:189)

c.

Surat Yasin ayat 38-40

Artinya : Dan matahari bertempat di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (QS. Yasin : 38-40)

B. Sejarah Ilmu Falak Menurut Syekh Zubair Umar Jaelany, Penemu pertama ilmu falak adalah Nabi Idris as. yang mana Allah SWT memberikan ilmu hikmah pada beliau dengan jalan memberikan pengetahuan mengenai rahasia-rahasia peredaran bintang dan susunan titik perkumpulan bintang-bintang di jagad raya[4]. Hal ini berarti ilmu falak sudah ada sejak pada waktu itu. Atau bahkan ilmu falak sudah ada lebih awal sebelum adanya temuan falak itu sendiri. Suatu temuan baru biasanya merupakan suatu respon atau tanggapan berdasarkan persoalan yang muncul ditengah masyarakat itu.Perkembangan ilmu Falak sangatlah dinamis. Dalam

hal ini, perkembangan ilmu falak dapat mengalami pasang surut sesuai dengan keadaan yang ada. Ilmu falak merupakan salah satu kemajuan peradaban Islam di bidang intelektual. Dalam perjalanannya selama ini ilmu Falak hanya mengkaji mengenai persoalan-persoalan ibadah, seperti pengukuran arah kiblat, gerhana, penentuan waktu sholat dan awal bulan. Pada dasarnya cakupan ilmu Falak sangatlah luas. Namun, kebanyakan orang hanya menggunakannya untuk kepentingan ibadah.Dr. Yahya Syami dalam bukunya yang berjudul Ilmu Falak Safhat min at-Turatsval-Ilmiy al-Arabiy wa al-Islamiy memetakan sejarahperkembangan ilmu Falak menjadi dua fase, yaitu fase pra islam (Babilonia,Mesir kuno, Mesopotamia, Cina, India, Prancis, dan Yunani) dan fase Islam.[5] Pertumbuhan dan perkembangan ilmu falak di dunia Islam dapat dilihat pada masa awal Islam, dimana terdapat zaman keemasan pada peradaban Islam sampai pada perkembangan di zaman modern ini. 1. Ilmu Falak Masa Pra IslamDari uraian diatas bahwa Ilmu Falak (astronomi) dan antropologi sudah dikenal semenjak bangsa Babilonia (Irak kuno) dengan mengamati rasi-rasi bintang. Dimana perbintangan tersebut menurut bangsa Babilonia sebagai petunjuk Tuhan yang harus di pecahkan. Bahkan pada zaman tersebut, manusia lebih banyak menggunakan rasi bintang untuk meramal kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga ilmu ramal (astrologi) lebih maju dan lebih diminati dibandingkan dengan astronomi itu sendiri. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan mereka tetap menggunakan ilmu astronomi guna membantu kehidupan mereka sehari-hari dalam hal penentuan musim, arah, pergantian hari dan bulan. Bahkan pada masa itu sudah mengalami perkembangan untuk melihat kapan terjadinya gerhana matahari atau bulan dengan petunjuk rasi bintang. Sehingga bangsa Babilonia memberikan sumbangan yang sangat penting sekali karena mereka bisa memunculkan tabel-tabel kalender tentang pergantian musim, waktu, bulan, gerhana dan pemetaan langit (observational tables). Pada zaman ini, mulai ada penetapan waktu dalam satu hari yaitu 24 jam. Satu jamnya= 60 Menit dan satu menitnya= 60 detik. Ketika itu masyarakat Babilonia menyebutnya sebagai hukum Sittiyni atau sudus[6], yaitu hukum per enam puluh. Karena mereka menganggap bahwa keadaan bumi adalah bulat dan berbentuk lingkaran yang memilki 360 derajat dan pembagiannya habis dengan 60 (Muhtul ardh atau muhthul falak). (Lihat; Tarkhul ulm indal Arab, Ali Abdullah Faris dan Ilmul Falak wat Taqwm; Dr. Muhammad Bashil Al Thoiy).[7]Kemudian untuk peradaban Mesir kuno, mereka menyakini bahwasanya bintang keseluruhannya hanyalah berjumlah 36 bintang dan masing-masing memiliki dewa penjaga dan setiap dewa tugasnya menjaga bintang tersebut selama 10 hari untuk setiap tahunnya yang menurut mereka setahunnya hanya berjumlah 360 hari. Sebenarnya mereka juga mempercayai, bahwasanya jumlah hari dalam setahun berjumlah365hari. Masa selanjutnya pada masa setelah runtuhnya Yunani dan romawi kiblat ilmu astronomi itu berpindah ke bangsa arab dan berkembang pesat pada masa Islam. Dalam hal ini akan dijelaskan pada sub babselanjutnya.2. Ilmu Falak pada Awal IslamPada dasarnya ilmu falak tidak akan bisa dipisahkan dari kegiatan ibadah.

Karena ilmu falak ini sangatlah erat kaitannnya dengan perhitungan waktu-waktu tertentu yang nantinya akan disumbangkan dalam dunia peribadatan. Contohnya pada perhitungan awal bulan ramadhan, harus mengetahui kapan terjadinya tanggal 29 Syaban. Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang berbunyi Berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila hilal tertutup debu atasmumaka sempurnakanlah bilangan bul an syaban menjadi tiga puluh. Hadist tersebut adalah perpaduan antara perhitungan (hisab) dan rukyat. Kalau penentuan waktu -waktu ibadah tersebut adalah bagian dari ilmu falak, maka tentunya sudah dipastikan bahwa adanya ilmu falak ini sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW. Meskipun perkembangan ilmu falak di masa awal Islam (masa Rasulullah saw, Sahabat dan Tabiin) belum memiliki bobot ilmiah yang tinggi, juga belum masyhur di kalangan umat Islam, sebagaimana terekam dalam hadist Nabi saw: inna ummatun umiyyatun la naktubu wala nashibu. (al-Bukhari, juz III, 1345: 34)[8]Sebenarnya ada beberapa di antara mereka yang mahir dalam perhitungan. Dan realitasnya bahwa ilmu falak sudah ada pada masa Rasulullah meskipun masih belum masyhur dalam sisi hisabnya. Sebenarnya perhitungan tahun Hijriyah pernah digunakan sendiri oleh Nabi Muhammad saw ketika beliau menulis surat pada kaum nasrani bani Najran, tertulis ke 5 Hijriyah, namun di dunia Arab lebih mengenal

peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga ada istilah tahun gajah, tahun izin, tahun amar dan tahun zilzal. Dinamakan tahun gajah karena ketika kelahiran Nabi Muhammad terjadi penyerangan pasukan bergajah. Disebut tahun izin tahun diizinkannya hijrah ke Madinah. Disebut tahun amar, tahun diperintahkannya diri dengan menggunakan senjata. Disebut tahun zilzal, karena terdapat gonjang-ganjing pada tahun ke 4 Hijriyah.(Sofwan Jannah,1994:2)[9]Sekitar tiga ratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Islam telah memiliki pengetahuan yang tinggi. Di bidang ilmu falakpun bisa dilihat selalu mengalami perkembangan. Pada tahun 773, seorang pengembara India menyerahkan sebuah buku data astronomis berjudul Sindhind atau Sidhanta kepada kerajaan Islam di Baghdad. Oleh khalifah Abu jafar al-Mansur (719-775), diperintahkan agar buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Perintah ini dilakukan oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Farizi (w.796 M). Atas usaha inilah al-Farizi dikenal sebagai ahli falak yang pertama di dunia Islam.[10] 3. Ilmu Falak dalam Peradaban EropaPada saat negara-negara Islam mencapai masa kejayaan, bangsa Eropa masih berada dalam ketertinggalan. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Setelah banyak pengetahuan yang mereka pelajari dari negaranegara Islam. Mereka mulai menemukan penemuan-penemuan baru. Di samping itu, dari bangsa Eropa mulai melancarkan serangan kepada negara-negara Islam. Sebagai akibat tidak sedikit perpustakaan yang penuh dengan puing-puing berserakan dan isinya pun terbakar.[11] Dan bangsa Islam yang mulanya jaya itu menjadi hilang kejayaannya. Sementara bangsa Eropa terus menerus menggali ilmu pengetahuan yang terdapat di bangsa arab dan negara-negara Islam. Mereka mulai mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.Bangsa Eropa mulai melakukan langkah-langkah menterjamahkan buku-buku ilmu falak ke dalam bahasa Eropa. Misalnya buku al-Mukhtasar fi Hisabil Jabr wal Muqobalah karya al-khawarizmi diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Cremona. Buku hasil terjemahan ini dengan judul barunya The Mathematics of Equations dipakai sebagai buku pegangan utama dalam ilmu pasti di perguruan-perguruan tinggi Eropa hingga abad 16 M[12]. Diantara ilmuwan Eropa dalam bidang astronomi pada dekade ini adalah:1. (1564-1642 M)3. Johannes Kepler (1571-1630 M) Nicholas Copernicus (1473-1543 M)2. Galileo Galilei

C. Tokoh-tokoh dalam perkembangan Ilmu Falak Berdasarkan uraian mengenai perkembangan ilmu falak pada awal islam terdapat tokoh tokoh yang berperan, diantaranya sebagai berikut : Nama Tempat Lahir dan wafat Karya karya Bidang Al Farghani Farghana (Transoxania) 813-881

Jawami ilm An-Nujm wa al Harakat as- Samawiyya, Ushul Ilm An-nujm, Al madkhal ila ilm hayat al-falak dan kitab al-Fushul ats-Tsalatsin Astronomi Al Khawarizmi Kheva, Uzbekistan 770-840 Al Mukhtasar fi hisab al-jabr wa al Muqabalah

Matematik, Astronomi,

Abu Masyar Al Falaki

Wafat 272 H/ 885 M Isbatul Ulum dan haiatul falak Falak, Astronomi

Jabir batany Wafat 319H/931 M Kitabu Marifati Mathli il buruj baina Arbail Falak dan Alat Peneropong bintang ajaib Astronomi, Astrologi matematika Astronomi Abu raihan al biruni 363 H-440H/973M-1048M, di Uzbekistan Al- qonun al masudi Astronomi,

Nasiruddin at-Tusi 598M-673M/1201H-1274H. di Khurasan Iran Al-mutawasit baina al handasah wa al-haiah Ulugh bek 797M-853M/ 1394H-1449 H Tables of Planetary motions Ilmu falak

DAFTAR PUSTAKA Azhari, Susiknan.Ilmu Falak Perjumpaan Al Khazanah Bisri.Pustaka Islam : Dan Sains modern.Yogyakarta : Suara Falak

Muhammadiyah.2003Bisri,Musthofa.Kamus

Progressif.

1999Izzuddin,Ahmad.Ilmu

Praktis,Semarang:KOMALA GRAFIKA.2006Khazin, Muhyiddin,Ilmu Falak Dalam teori dan praktik. Jakarta : Pustaka Buana.2004Murtadho,Muhammad. Ilmu Falak Praktis, Malang:UIN Malang press,2008Umar, Zubair jaelany,Al Khulashoh al wafiyah. Menara Kudushttp://afdacairo.blogspot.com/2009/02/sejarah-perkembangan-ilmu-falak-pra-dan.html

*1+ Lihat penjelasan Quran Surat Al-Anam ayat 75-78[2]A. Izzuddin,Ilmu Falak Praktis,Semarang:KOMALA GRAFIKA,2006,hal 4[3]Muhyiddin Khazin,Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktek,Yogyakarta:BUANA PUSTAKA,2008,hal 5

[4] Zubair Umar Jaelany, Al Khulashoh al wafiyah.Menara Kudus.hal.5[5] Dr. Susiknan Azhari,Ilmu Falak,Yogyakarta:suara Muhammadiyah,2004,hlm.6[6] Lihat Mustofa bisri ,Al Bisri Kamus Indonesia Arab.Surabaya : Pustaka Progressif.1999.hal 70 [7] http://afdacairo.blogspot.com/2009/02/sejarah-perkembangan-ilmu-falak-pra-dan.html[8] Drs. Moh. Murtadho, M.HI, Ilmu Falak Praktis, Malang:UIN Malang press,2008,21[9] Ibid, hlm. 22[10] Muhyiddin Khazin,Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek,Yogyakarta:Buana Pustaka,2004,hlm.23[11] Ibid,hlm.26[12] ibid