Anda di halaman 1dari 15

RANGKUMAN MATERI KULIAH

(RMK Materi 13)

Perpajakan II

Oleh :
KELOMPOK 9
1. Ni Made Shinta Widhiasari

(1206305122)

2. Made Ayu Mentari Putri

(1206305123)

3. Amadeus Vincent R. N.

(1206305126)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2013

PBB, BPHTB dan Bea Materai


I.

Pengertian PBB, BPHTB dan Bea Materai


Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak yang dikenakan terhadap objek pajak

berupa tanah dan bangunan yang didasarkan pada asas kenikmatan dan manfaat yang dibayar
tiap berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994. PBB adalah pajak
yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek
yaitu bumi/tanah dan atau bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut
menentukan besarnya pajak.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan
atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut pajak. Perolehan
hak atas tanah dan atau bangunan: adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang
mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Hak
atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, berserta bangunan di tasnya
sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang lainnya.
Bea Meterai merupakan pajak yang dikenakan terhadap dokumen yang menurut
Undang-undang Bea Meterai menjadi objek Bea Meterai. Atas setiap dokumen yang menjadi
objek Bea Meterai harus sudah dibubuhi benda meterai atau pelunasan Bea Meterai dengan
menggunakan cara lain sebelum dokumen itu digunakan.

II.

Dasar Hukum PBB, BPHTB dan Bea Materai

a) Dasar Hukum PBB


1. UU No. 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 12 Tahun
1994 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
2

2. KMK No.201/KMK.04/2000 Tentang Penyesuaian Besarnya Nilai Jual Objek Pajak


Tidak Kena Pajak Sebagai Dasar Penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan.
3. KMK No. 523/KMK.04/1998 Tentang Penentuan Klasifikasi dan Besarnya Nilai Jual
Objek Pajak Sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan.
4. KMK No. 1004/KMK.04/1985 Tentang Penentuan Badan atau Perwakilan Organisasi
Internasional yang Menggunakan Objek Pajak Bumi dan Bangunan Yang Tidak
Dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan.
5. Kep Dirjen Pajak Nomor: KEP-251/PJ./2000 Tentang Tata Cara Penetapan Besarnya
Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Sebagai Dasar Penghitungan Pajak Bumi
dan Bangunan.
6. Kep Dirjen Pajak Nomor: KEP-16/PJ.6/1998 Tentang Pengenaan Pajak Bumi dan
Bangunan.Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor: SE-43/PJ.6/2003 Tentang Penyesuaian
Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) PBB dan Perubahan
Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) BPHTB Untuk Tahun
Pajak 2004.
7. Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor: SE-57/PJ.6/1994 Tentang Penegasan dan
Penjelasan Pembebasan PBB atas Fasilitas Umum dan Sarana Sosial Untuk Kawasan
Industri dan Real Estate.

b) Dasar Hukum BPHTB


1. UU No. 20 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas UU No. 21 Tahun 1997 Tentang Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
2. KMK Nomor : 630/KMK.04/1997 Tentang Badan atau Perwakilan Organisasi
Internasional Yang Tidak Dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

c) Dasar Hukum Bea Materai


1.

Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai

2.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea


Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal Yang Dikenakan Bea
Meterai.

3.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.03/2005 tentang Perubahan Atas


3

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 Tentang Bentuk, Ukuran,


Warna, Dan Desain Meterai Tempel Tahun 2005
4.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK.04/2000 tentang Pelunasan Bea


Meterai dengan Menggunakan Cara Lain.

5.

Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-122b/PJ./2000 tentang Tatacara Pelunasan


Bea Meterai dengan membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin
Teraan.

6.

Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-122c/PJ./2000 tentang Tatacara Pelunasan


Bea Meterai dengan membubuhkan Tanda Bea Meterai dengan Teknologi
Percetakan.

7.

Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-122d/PJ./2000 tentang Tatacara Pelunasan


Bea Meterai dengan membubuhkan Tanda Bea Meterai dengan Sistem
Komputerisasi.

8.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan Bea


Meterai dengan Cara Pemeteraian Kemudian.

9.

Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-02/PJ./2003 tentang Tatacara Pemeteraian


Kemudian.

10.

Surat Edaran Nomor 29/PJ.5/2000 tentang Dokumen Perbankan yang dikenakan


Bea Meterai.

III.

Subyek dan Obyek PBB, BPHTB dan Bea Materai


A. Subyek dan Obyek PBB
Subyek PBB ( Pasal 4 UU No. 12 Tahun 1985 jo. UU No.12 Tahun 1994 )
Yang menjadi subjek PBB adalah orang atau badan yang secara nyata :
1) mempunyai hak atas bumi/tanah, dan/atau;
2) memperoleh manfaat atas bumi/tanah dan/atau;
3) memiliki, menguasai atas bangunan dan/atau;
4) memperoleh manfaat atas bangunan.

Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak

menjadi Wajib Pajak

menurut UU PBB.
Apabila suatu objek pajak tidak diketahui secara jelas siapa yang akan menanggung
pajaknya maka yang menetapkan subjek pajak sebagai wajib pajak adalah Direktorat
Jenderal Pajak.
Penetapan ini ditentukan berdasarkan bukti-bukti :
1) Apakah ada perjanjian antara pemilik dan penyewa yang mengatur ?
2) Siapa yang menanggung kewajiban pajaknya ?
3) Dan siapa yang secara nyata mendapat manfaat atas bidang tanah dan
bangunan tersebut?
Obyek Pajak ( Pasal 2 ayat (1) UU No. 12 Tahun 1985 jo. UU No.12 Tahun 1994 )
Yang menjadi objek pajak adalah Bumi dan Bangunan
Pengertian Bumi, Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di
bawahnya.
Pengertian Bangunan, Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau
dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan.
Yang termasuk pengertian bangunan adalah :
1) Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel,
pabrik, dan emplasemennya dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan
dengan kompleks bangunan tersebut;
2) jalan TOL;
3) kolam renang;
4) pagar mewah;
5) tempat olah raga;
6) galangan kapal, dermaga;

7) taman mewah;
8) tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak;
9) fasilitas lain yang memberikan manfaat.

B. Subyek dan Obyek BPHTB


Subyek Pajak
Yang menjadi subjek pajak BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang
memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan.
Obyek Pajak
Yang menjadi objek pajak BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau
bangunan, perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, meliputi :

Pemindahan hak karena :


1) jual beli;
2) tukar-menukar;
3) hibah;
4) hibah waris;
5) waris;
6) pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya;
7) pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan;
8) penunjukan pembeli dalam lelang;
9) pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
10) penggabungan usaha;
11) peleburan usaha;

12) pemekaran usaha;


13) hadiah;

Pemberian hak baru karena :


1) pelanjutan pelepasan hak;
2) diluar pelepasan hak

Hak atas tanah adalah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai,
hak milik atas satuan rumah susun atau hak pengelolaan.

C. Subyek dan Obyek Bea Materai


Subyek Pajak
Subjek atau pihak yang terutang Bea Meterai adalah pihak yang menerima atau pihak
yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak pihak yang bersangkutan
menentukan lain.
Obyek Pajak
Objek dari Bea Materai adalah dokumen. Dokumen yang dimaksud adalah kertas
yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan
atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak pihak yang berkepentingan.

IV.

Tarif dan Tata Cara Perhitungan, Penyetoran dan Pelaporan PBB,


BPHTB dan Bea Materai

Tarif PBB
Besarnya tarif PBB adalah 0,5%

Rumus Penghitungan PBB


Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP
1.

Jika NJKP = 40% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB

= 0,5% x 40% x (NJOP-NJOPTKP)

= 0,2% x (NJOP-NJOPTKP)

2.

Jika NJKP = 20% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya PBB

= 0,5% x 20% x (NJOP-NJOPTKP)

= 0,1% x (NJOP-NJOPTKP)

Tempat Pembayaran PBB


Wajib Pajak yang telah menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat
Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagihan Pajak (STP) dari KPP Pratama atau disampaikan
lewat Pemerintah Daerah harus melunasinya tepat waktu pada tempat pembayaran yang telah
ditunjuk dalam SPPT yaitu Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro.
Tata Cara Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan / BPHTB
Wajib pajak membayar pajak BPHTB yang terutang tidak didasarkan pada surat ketetapan
pajak atau SKP, melainkan dengan cara menghitung dan membayar sendiri pajak terutang
dengan mengisi Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan atau SSB.
Pajak yang terutang dapat dibayar di Bank pemerintah, Bank DKI dan juga Kantor Pos di
wilayah Kotamadya yang meliputi letak tanah dan atau bangunan dengan SSB. Tempat
terutang pajak adalah di wilayah kabupaten, kota atau propinsi yang meliputi letak tanah dan
bangunan.
SSB dapat diperoleh di Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan / KP PBB / KPBB yang
adal di wilayah DKI Jakarta, PPAT, Notaris, Kantor Lelang dan Kantor Pertanahan serta
Kantor Bank Pemerintah, Bank DKI dan Kantor Pos. Pembayaran BPHTB dapat dilakukan
tanpa menunggu diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak / SKP.

SKP atau Surat Ketetapan Pajak adalah dokumen yang menjelaskan jumlah pajak yang
kurang atau lebih bayar yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak setelah adanya
pemeriksaan. SKP BPHTB disingkat menjadi SKB (Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas
Tanah dan Bangunan). SKB dapat dikeluarkan dalam jangka lima tahun semenjak saat
8

terutang BPHTB. SKB dapat berupa SKBKB untuk yang kurang bayar, SKBLB untuk yang
lebih bayar dan SKBN untuk yang nihil atau nol bayar.
TARIF BEA METERAI

1 Tarif Bea Meterai Rp 6.000,00 untuk dokumen sebagai berikut:


.
a. Surat Perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk
digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan
yang bersifat pendata
b. Akta-akta Notaris termasuk salinannya
c. Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep selama nominalnya lebih dan
Rp1.000.000,00.;
d. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan,
yaitu:
- surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan.
- surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya,
jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain selain dan
tujuan semula.
2. Untuk dokumen yang menyatakan nominal uang dengan batasan sebagai berikut:
- nominal sampai Rp250.000,- tidak dikenakan Bea Meterai
- nominal antara Rp250.000,- sampai Rp1.000.000,- dikenakan Bea Meterai
Rp3.000,- nominal diatas Rp 1.000.000,- dikenakan Bea Meterai Rp 6.000,3. Cek dan Bilyet Giro dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp 3.000,- tanpa
batas pengenaan besarnya harga nominal.
4. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal
sampai dengan Rp1.000.000,- dikenakan Bea Meterai Rp 3.000,- sedangkan yang
mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,- dikenakan Bea Meterai Rp
6.000,-.
5. Sekumpulan Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam
surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp
1.000.000,- dikenakan Bea Meterai Rp 3.000,-, sedangkan yang mempunyai harga
9

nominal lebih dan Rp 1.000.000,- dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp
6.000,-.

V.

Besarnya PBB, BPHTB dan Bea Materai Terhutang

Saat Yang Menentukan Pajak Terutang


Saat yang menentukan pajak terutang adalah adalah keadaan Objek Pajak pada tanggal 1
Januari. Dengan demikian segala mutasi atau perubahan atas Objek Pajak yang terjadi setelah
tanggal 1 Januari akan dikenakan pajak pada tahun berikutnya.
Perhitungan Besaran PBB:
Sebuah rumah dengan bangunan 100 m berdiri di atas lahan 200 m. Misalnya, berdasarkan
NJOP (nilai jual obyek pajak) harga tanah Rp700.000 per m dan nilai bangunan Rp600.000
per m. Berapa besaran PBB yang harus dibayar oleh pemilik rumah tersebut?
* Harga tanah : 200 m x Rp. 700.000

Rp

140.000.000

* Harga Bangunan: 100 m x Rp600.000

Rp

60.000.000

-------------------- +
* NJOP sebagai dasar pengenaan PBB

Rp

200.000.000

* NJOP Tidak Kena Pajak

Rp

12.000.000

* NJOP untuk penghitungan PBB

Rp

188.000.000

* NJKP (Nilai Jual Kena Pajak): 20% x Rp188.000.000

Rp

37.600.000

0,5% x Rp37.600.000

Rp

188.000

* Faktor Pengurangan / Stimulus

Rp

15.000

* Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang :

------------------- PBB YANG HARUS DIBAYARKAN

Rp

73.000

Perhitungan Besaran BPHTB


Seseorang membeli sebuah rumah di Bandung dengan luas tanah 200 m dan luas bangunan
100 m. Berdasarkan NJOP, harga tanah Rp700.000 per m dan nilai bangunan Rp600.000
per m. Berapa besaran BPHTB yang harus dikeluarkan oleh pembeli rumah tersebut?

10

* Harga Tanah: 200 m x Rp700.000

Rp

140.000.000

* Harga Bangunan: 100 m x Rp600.000

Rp

60.000.000

-------------------- +
* Jumlah Harga Pembelian Rumah:

Rp

200.000.000

* Nilai Tidak Kena Pajak *)

Rp

60.000.000

--------------------- * Nilai untuk penghitungan BPHTB

Rp

140.000.000

Rp

7.000.000

* BPHTB yang harus dibayar


5% : 5% x Rp140.000.000

*) untuk wilayah Bandung Rp60.000.000, Surakarta Rp40.000.000, Cilacap Rp30.000.000


dan sebagainya. Besaran ini dapat berubah sesuai peraturan pemerintah setempat.

TATA CARA PELUNASAN BEA METERAI


SAAT TERUTANG
Saat terutangnya bea meterai adalah saat sebelum dokumen yang terutang bea meterai
tersebut digunakan. Dalam Pasal 5 Undang-undang No. 13 Tahun 1985 disebutkan saat
terutangnya Bea Meterai adalah:
- Dokumen yang dibuat oleh satu pihak adalah pada saat dokumen itu diserahkan;
- Dokumen yang dibuat oleh lebih dan satu pihak adalah pada saat selesainya dokumen
dibuat;
- Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia,

CARA PELUNASAN BEA METERAI


A. Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Meterai Tempel
Cara mempergunakan meterai tempel :
- Meterai Tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen
yang dikenakan Bea Meterai.
- Meterai Tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan.
- Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun
dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan di
11

atas kertas dan sebagian lagi di atas Meterai Tempel.


- Jika digunakan lebih dan satu Meterai Tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian
di atas semua Meterai Tempel dan sebagian di atas kertas.
- Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan Meterai Tempel tetapi tidak memenuhi
ketentuan di atas, dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai.
B. Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Kertas Meterai
Cara mempergunakan kertas meterai :
- Sehelai Kertas Meterai hanya dapat digunakan untuk sekali pemakaian.
- Kertas Meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi.
- Jika isi dokumen yang dikenakan Bea Meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya
di atas Kertas Meterai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal
dapat digunakan kertas tidak bermeterai.
- Jika sehelai Kertas Meterai karena sesuatu hal tidak jadi digunakan dan dalam hal ini
belum ditandatangani oleh yang berkepentingan, sedangkan dalam Kertas Meterai telah
terlanjur ditulis dengan beberapa kata/kalimat yang belum merupakan suatu dokumen
yang selesai dan kemudian tulisan yang ada pada Kertas Meterai tersebut dicoret dan
dimuat tulisan atau keterangan baru, maka Kertas Meterai yang demikian dapat
digunakan dan tidak Perlu dibubuhi meterai lagi.
- Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud di atas tidak dipenuhi, dokumen yang
bersangkutan dianggap tidak bermeterai.
C. Pelunasan dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan
Pelunasan dengan cara membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan
memerlukan beberapa syarat sebagai berikut:
1. Pelunasan Bea Meterai dengan mesin teraan meterai hanya diperkenankan kepada
penerbit dokumen yang melakukan pemeteraian dengan jumlah rata-rata setiap hari
minimal sebanyak 50 dokumen.
2. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan mesin teraan
meterai harus melakukan prosedur sebagai berikut:
- mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
setempat dengan mencantumkan jenis/merk dan tahun pembuatan mesin teraan
meterai yang akan digunakan, serta melampirkan surat pernyataan tentang jumlah
rata-rata dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap hari.
12

- melakukan penyetoran Bea Meterai di muka minimal sebesar Rp 15.000.000,- (lima


belas juta rupiah) dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Ke Kas Negara melalui
Bank Persepsi.
- Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin teraan meterai kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat tanggal 15 setiap bulan.
- Ijin penggunaan mesin teraan meterai berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal
ditetapkannya, dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.

D. Pelunasan dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan Sistem


Komputerisasi
1.

Pelunasan Bea Meterai dengan sistem komputerisasi hanya diperkenankan untuk


dokumen yang berbentuk surat yang memuat jumlah uang dalam Pasal 1 huruf d PP
No. 24 Tahun 2000 dengan jumlah rata-rata pemeteraian setiap hari minimal
sebanyak 100 dokumen.
- mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak
dengan mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan jumlah rata-rata dokumen
yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari.
- pembayaran Bea Meterai di muka minimal sebesar perkiraan jumlah dokumen
yang harus dilunasi Bea Meterai setiap bulan, dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak (ke Kas Negara melalui Bank Pensepsi).
- menyampaikan laporan bulanan tentang realisasi penggunaan dan saldo Bea
Meterai kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat tanggal 15 setiap bulan.

2.

Ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan
sistem komputerisasi berlaku selama saldo Bea Meterai yang telah dibayar pada saat
mengajukan ijin masih mencukupi kebutuhan pemeteraian 1 (satu) bulan berikutnya.

E. Tata Cara Pelunasan Bea Meterai Dengan Teknologi Percetakan


1. Pelunasan Bea Meterai dengan teknologi pencetakan hanya diperkenankan untuk
dokumen yang berbentuk cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam
13

bentuk apapun.
2. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan
teknologi pencetakan harus melakukan prosedur sebagai berikut:
- pembayaran Bea Meterai di muka sebesar jumlah dokumen yang harus
dilunasi Bea Meterai, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke Kas
Negara melalui Bank Persepsi.
- mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak
dengan mencantumkan jenis dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai dan
jumlah Bea Meterai yang telah dibayar.
3. Perum Peruri dan perusahaan sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea
Meterai Lunas pada cek, bilyet giro, atau efek dengan nama dan dalam bentuk
apapun, harus menyampaikan laponan bulanan kepada Direktur Jenderal Pajak
paling lambat tanggal 10 setiap bulan.
4. Pelunasan Bea Meterai bagi dokumen yang dibuat di Luar Negeri
Dokumen yang dibuat di luar negeri tidak dikenakan Bea Meterai sepanjang
tidak digunakan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mardiasmo. 2011. Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta: ANDI.


2. http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=pajak&cat=pbb
3. http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=pajak&cat=bphtb
4. http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=pajak&cat=meterai
5. http://mahonakmohak.wordpress.com/2012/08/21/bea-meterai/
6. http://sharing-pajak.blogspot.com/2009/02/pengertian-objek-pajak-dan-subjek-

pajak.html

14

7. http://gjberkarya.blogspot.com/2011/02/pbb-bphtb-dan-bea-materai.html

15