Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Keadaan politik di Indonesia saat ini begitu terpuruk. Terbukti dengan banyaknya masalah yang timbul akibat ketidaksinergian diantara lembaga pemerintah dalam mengambil keputusan hingga menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Salah satu penyebab hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah diantaranya adalah kasus korupsi di berbagai kalangan pejabat lembaga pemerintahan yang sudah membudaya di Indonesia saat ini, baik yang telah terungkap oleh KPK maupun yang belum terungkap oleh KPK. Budaya korupsi di Indonesia menjadi masalah pelik di kalangan pemerintah yang hingga saat ini belum terselesaikan. Banyak para pejabat yang berkedudukan tinggi menyalahgunakan jabatannya dengan melakukan korupsi dengan jumlah yang sangat besar dan tentunya sangat merugikan negara. Upaya pemerintah untuk memberantas korupsi telah dilakukan dengan cara membentuk lembaga pemberantasan korupsi, yang memang mampu mengungkap berbagai kasus korupsi di berbagai kalangan pejabat pemerintahan maupun di berbagai Instansi negara lainnya. Terlepas dari keberhasilan KPK dalam mengungkap berbagai kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, pada kenyataannya hingga saat ini KPK belum bisa memberantas korupsi hingga ke akarnya. Kasus korupsi yang telah membudaya di Indonesia saat ini tidak hanya berdampak terhadap keadaan ekonomi negara yang merosot, tetapi masyarakat Indonesia pun juga merasakan dampak atas maraknya kasus korupsi yang terjadi saat ini. Membudayanya korupsi di Indonesia menyebabkan penurunan kondisi moral bangsa Indonesia, khususnya generasi muda penerus bangsa. Dengan maraknya kasus korupsi yang terjadi menyebabkan lahirnya generasi yang terdidik dalam melihat peluang untuk melakukan korupsi. Tentu hal ini menjadi musuh utama bagi moral bangsa Indonesia khusunya para generasi muda.

Untuk tidak hanya pendidikan dari aspek formal saja yang mengutamakan lahirnya generasi muda anti korupsi yang cerdas dan mampu bersaing secara nasional maupun International, tetapi pendidikan karakter dan moral pada generasi muda sangat diperlukan dan harus diutamakan sehingga dapat menciptakan masyarakat anti korupsi yang nantinya dapat ikut berkontribusi dalam pemberantasan budaya korupsi di Indonesia. Hal itulah yang melatarbelakangi kami untuk menulis makalah dengan judul Masyarakat Anti Korupsi 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan korupsi? 2. Bagaimana studi kasus dalam pokok bahasan ini? 3. Bagaimana konsep masyarakat anti korupsi ? 4. Bagaimana peranan pendidikan anti korupsi sejak dini di kalangan generasi mudadalam mencegah terjadinya tindak korupsi? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui lebih dalam tentang korupsi. 2. Untuk membahas studi kasus yang berhubungan dengan pokok bahasan ini. 3. Untuk mengetahui peranan pendidikan anti korupsi dini di kalangan generasi muda dalam mencegah terjadinya tindak korupsi. 1.4 Manfaat 1. Makalah ini diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat terutama generasi muda agar tidak melakukan tindakan korupsi. 2. Makalah ini diharapkan dapat memperbaiki moral masyarakat. 3. Makalah ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi muda untuk ikut berperan dalam pemberantasan korupsi.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Korupsi Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik atau jabatan yang telah dimiliki dan dipercayakan kepada mereka. Korupsi menurut Huntington (1968) adalah perilaku pejabat publik yang menyimpang dari norma-norma yang diterima oleh masyarakat, dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi. Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum.Selanjutnya, dengan merujuk definisi

Huntington diatas, Heddy Shri Ahimsha-Putra (2002) menyatakan bahwa persoalan korupsi adalah persoalan politik pemaknaan. Sedangkan berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Korupsi merupakan tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri/orang lain (perseorangan atau sebuah korporasi) , yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan keuangan atau prekonomian negara, yang dari segi materi perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat.Maka dapat disimpulkan korupsi merupakan perbuatan curang yang merugikan Negara dan masyarakat luas dengan berbagai macam modus. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah. Hingga kini pemberantasan korupsi di Indonesia belum menunjukkan titik terang melihat peringkat Indonesia dalam perbandingan korupsi antar negara

yang tetap rendah. Hal ini juga ditunjukkan dari banyaknya kasus-kasus korupsi di Indonesia.

2.2 Ciri- Ciri Korupsi Menurut Husein Al-Atas ciri-ciri korupsi diringkas sebagai berikut: 1. Pengkhianatan terhadap sebuah kepercayaan 2. Penipuan terhadap badan pemerintah, lembaga swasta atau masyarakat umum 3. Dengan sengaja melalaikan kepentingan umum untuk kepentingan khusus 4. Dilakukan dengan rahasia 5. Melibatkan lebih dari satu pihak 6. Adanya kewajiban dan keuntungan bersama, dalam bentuk uang atau yang lain 7. Adanya usaha untuk menutupi perbuatan korup dalam bentuk bentuk pengesahan umum 8. Menunjukkan fungsi ganda yang kontradiktif pada mereka yang melakukan korupsi

2.3 Jenis- Jenis Korupsi 1) Korupsi Transaktif (Transactive Corruption) Menunjukkan kepada adanya kesepakatan timbal balik antara pembeli dan pihak penerima, demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh kedua-duanya. 2) Korupsi yang Memeras (Extortive Corruption) Pihak pembeli dipaksa untuk menyuap guna mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingannya atau orang-orang dan hal-hal yang dihargainya. 3) Korupsi Investif (Investive Corruption) Pemberian barang atau jasa tanpa ada pertalian langsung dari keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibayangkan akan diperoleh di masa yang akan datang. 4) Korupsi Perkerabatan (Nepotistic Corruption)

Penunjukan yang tidak sah terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang jabatan dalam pemerintahan, atau tindakan yang memberikan perlakuan yang mengutamakan dalam bentuk uang atau bentuk-bentuk lain kepada mereka secara bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku. 5) Korupsi Defensive (Defensive Corruption) Perilaku korban korupsi dengan pemerasan, korupsi dalam rangka mempertahankan diri. 6) Korupsi Otogenik (Autogenic Corruption) Korupsi yang dilaksanakan oleh seorang diri. 7) Korupsi Dukungan (Supportive Corruption) Korupsi ini tidak secara langsung menyangkut uang atau imbalan langsung dalam bentuk lain.

2.4 Tingkatan Korupsi 1) Betrayal of trust (penghianatan kepercayaan) Pengkhianatan merupakan bentuk korupsi paling sederhana Semua orang yang berkhianat atau mengkhianati kepercayaan atau amanat yang diterimanya adalah koruptor. Amanat dapat berupa apapun, baik materi maupun non materi (ex: pesan, aspirasi rakyat). Anggota DPR yang tidak menyampaikan aspirasi rakyat atau menggunakan aspirasi untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk korupsi. 2) Abuse of Power (penyalahgunaan kekuasaan) Abuse of power merupakan korupsi tingkat menengah. Merupakan segala bentuk penyimpangan yang dilakukan melalui struktur

kekuasaan, baik pada tingkat negara maupun lembaga-lembaga struktural lainnya, termasuk lembaga pendidikan, tanpa mendapatkan keuntungan materi. 3) Material Benefit (penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan materi) Penyimpangan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan material baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Korupsi pada level ini merupakan tingkat paling membahayakan karena melibatkan kekuasaan

dan keuntungan material. Ini merupakan bentuk korupsi yang paling banyak terjadi di indonesia.

2.5 Prinsip Anti- Korupsi Pada dasarnya prinsip prinsip anti korupsi terkait dengan semua objek kegiatan publik yang menuntut adanya intergritas, objektivitas, kejujuran, keterbukaan, tanggung gugat dan meletakkan kepentingan publik di atas kepentingan individu. Secara umm prinsip-prinsip anti korupsi adalah sebagai berikut: a. Akuntabilitas Prinsip ini merupakan pilar penting dalam rangka mencegah terjadinya korupsi. Prinsip ini dasarnya dimaksudkan agar segenap kebijakn dan langkah-langkah yang dijalankan sebuah lembaga dapat

dipertanggungjawabkan secara sempurna. Akuntabilitas mensyaratkan adanya sebuah kontrak aturan main baik yang teraktualisasi dalam bentuk konveksi maupun konstruksi, baik pada level budaya (individu dengan individu) maupun pada level lembaga. Melalui aturan main itulah sebuah kebijakan dapat dipertanggungjawabkan. b. Transparansi Prinsip yang mengharuskan semua proses kebijakan dilakukan secara terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui oleh publik. Transparansi menjadi pintu masuk sekaligus kontrol bagi seluruh proses dinamika struktural kelembagaan. Dalam bentuk yang paling sederhana, transparansi mengacu pada keterbukaan dan kejujuran untuk saling menjunjung tinggi kepercayaan (trust). Sektor sektor yang melibatkan masyarakat adalah sebagai beikut: 1. Proses penganggaran yang bersifat bottom up, mulai dari perencanaan, implementasi, laporan pertanggungjawaban dan

penilaian (evaluasi) terhadap kinerja anggaran. 2. Proses penyusunan kegiatan atau proyek pembangunan. Hal ini terkait pula dengan proses pembahasan tentang sumber-sumber

pendanaan (anggaran pendapatan) dan alokasi anggaran (anggaran belanja). 3. Proses pembahasan tentang pembuatan rancangan peraturan yang berkaitan dengan strategi penggalangan (pemungutan) dana, mekanisme pengelolaan proyek mulai dari pelaksanaan tender, pengerjaan teknis, pelaporan finansial dan pertanggungjawaban secara teknis. 4. Proses pengawasan dalam pelaksanaan program dan proyek pembangunan yang berkaitan dengan kepentingan publik dan yang lebih khusus lagi adalah proyek-proyek yang diusulkan oleh masyarakat sendiri. 5. Proses evaluasi terhadap penyelenggaraan proyek yang dilakukan secara terbuka dan bukan hanya pertanggungjawaban secara administratif, tapi juga secara teknis dan fisik dari setiap out put kerja-kerja pembangunan. c. Kewajaran Prinsip fairness ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi (ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam bentuk mark up maupun ketidakwajaran lainnya. Lima langkah menegakkan kebijakan ini adalah: 1. Komprehensif dan disiplin: mempertimbangkan keseluruhan aspek, berkesinambungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran dan tidak melampaui batas (off budget). 2. Fleksibilitas: adanya kebijakan tertentu untuk efisiensi dan efektifitas. 3. Terprediksi: ketetapan dalam perencanaan atas dasar asas value for money dan menghindari defisit dalam tahun anggaran berjalan. Anggaran yang terprediksi merupakan cerminan dari adanya prinsip fairness di dalam proses perencanaan pembangunan. 4. Kejujuran: adanya bias perkiraan penerimaan maupun pengeluaran yang disengaja, yang berasal dari pertimbangan teknis maupun politis. Kejujuran - bagian pokok dari prinsip fairness.

5. Informatif: adanya sistem informasi pelaporan yang teratur dan informatif sebagai dasar penilaian kinerja, kejujuran dan proses pengambilan keputusan. Sifat informatif - ciri khas dari kejujuran. d. Aturan Main Aturan main disini terkait dengan kebijakan anti korupsi yang tidak hanya dapat berupa Undang-Undang anti korupsi tetapi juga dapat berupa Undang-Undang kebebasan mengakses informasi, Undang-Undang

desentralisasi, Undang-Undang anti-monopoli, maupun lainnya yang dapat memudahkan masyarakat mengetahui sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan penggunaan anggaran negara oleh para pejabat negara. Kebijakan anti koupsi dapat dilihat dalam beberapa perspektif, yaitu : 1. Isi kebijakan Kebijakan anti-korupsi akan efektif apabila di dalamnya terkandung unsur-unsur yang terkait dengan persoalan korupsi. 2. Pembuat kebijakan Kualitas isi kebijakan tergantung pada kualitas dan integritas pembuatnya.

3. Pelaksana kebijakan Kebijakan yang telah dibuat dapat berfungsi apabila didukung oleh aktor-aktor penegak kebijakan; yaitu kepolisian, kejaksaan,

pengadilan, pengacara, dan lembaga pemasyarakatan. 4. Kultur kebijakan Eksistensi sebuah kebijakan terkait dengan nilai-nilai, pemahaman, sikap, persepsi, dan kesadaran masyarakat terhadap hukum atau undang-undang anti korupsi. Lebih jauh kultur kebijakan ini akan menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. e. Kontrol Aturan Main Tradisi pembangunan yang dianut selama ini lebih bersifat sentralistik. Menurut David Korten lebih dari tiga dasawarsa, pembangunan diasumsikan dari pemerintah dan untuk pemerintah sendiri. Ini berarti

bahwa fungsi peran dan kewenangan pemerintah teramat dominan hingga terkesan bahwa proses kenegaraan hanya menjadi tugas pemerintah dan tidak melibatkan masyarakat. Kontrol kebijakan merupakan upaya agar kebijakan yang dibuat betulbetul efektif dan mengeliminasi semua bentuk korupsi. Tiga model Kontrol Kebijakan : 1. Partisipasi Melakukan kontrol terhadap kebijakan dengan ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaannya. 2. Oposisi Mengontrol dengan menawarkan alternatif kebijakan baru yang dianggap lebih layak. 3. Revolusi Mengontrol dengan mengganti kebijakan yang dianggap tidak sesuai.

2.6 Masyarakat Anti Korupsi Masyarakat anti korupsi adalah masyarakat yang menolak, menentang segala macam tindakan korupsi. Karakteristik masyarakat anti korupsi yaitu sangat memahami konsep korupsi, ciri-ciri korupsi, dan memiliki sikap untuk memerangi tindakan korupsi. Apabila suatu masyarakat memahami tentang konsep korupsi, tetapi tidak memiliki keinginan untuk memerangi korupsi, maka masyarakat seperti ini tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat anti korupsi. Masyarakat anti korupsi akan tercapai bila suatu masyarakat berperang dan bergerak secara bersama-sama untuk memberantas segala macam tindakan korupsi. Korupsi adalah masalah bersama yang penuntasannya tidak dapat dilakukan seketika. Kekuatan hukum dalam menimbulkan efek jera pun terkesan belum maksimal. Banyak pelaku tindak korupsi yang mendapat hukuman minim dan bahkan lolos dari jerat hukum. Untuk itu, jalur pendidikan ditilik sebagai wahana terbaik untuk memutus arus korupsi dengan peningkatan moral generasi penerusnya. Rencana masuknya pendidikan

karakter antikorupsi dalam kurikulum tentunya mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Ada yang pro dan ada juga yang kontra terhadap pelaksanaannya. Tindak pidana korupsi yang telah membudaya di Indonesia ini tidak bisa hanya diperangi oleh individu saja, tetapi gerakan serentak dan konsisten yang diperlukan bila kita ingin memberantas korupsi hingga ke akarnya. Konsep anti korupsi harus dilakukan secara utuh dan menyeluruh serta harus bisa membaca persoalan secara utuh pula. Tanpa pembenahan perilaku secara mendalam, maka kasus korupsi akan semakin kronis terjadi. Perilaku anti korupsi tidak bisa dipaksakan, tetapi harus berdasar pada kemauan dan komitmen yang tinggi. Hati nurani yang benar-benar bersihlah yang dapat merasakan bahwa sesuatu itu patut dilakukan atau tidak. Masyarakat harus bisa menjadi part of solution dan bukan menjadi part of problem.

2.7 Studi Kasus Sejak berakhirnya zaman orde baru, dan digantikan oleh reformasi, masyarakat banyak berharap akan adanya penegakan hukum yang menegakkan keadilan bagi setiap anggota masyarakat. Tanpa pandang bulu mengenal pangkat dan jabatan, status sosial yang dimiliki oleh mereka.

Namun, faktanya penegakan hukum khususnya pada kasus korupsi harus berjuang untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. Setelah Vonis bebas yang berikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Bandung, terhadap terdakwa korupsi Mochtar Mohammad, yang merupakan Walikota Bekasi nonaktif, tahun 2011 lalu. Kini publik kembali mempertanyakan kredibilitas para aparat penegak hukum di Indonesia. Hal itu, terkait kasus Korupsi simulator sim yang dilakukan oleh Irjen. Joko Susilo. Djoko Susilo terbukti memperkaya diri sendiri sebesar Rp32 miliar dan memperkaya orang lain atau korporasi dari proyek pengadaan driving simulator SIM pada tahun 2011. Kerugian keuangan negara dalam proyek ini ditaksir sekitar Rp121,830 miliar. Namun, sangat disayangkan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) hanya memvonis Joko Susilo dengan Hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider enam bulan

10

kurungan. Tentu hal ini sangat disayangkan oleh publik yang mendambadambakan adanya penegakan hukum yang baik dan profesional. Proses hukum berbelit-belit yang digambarkan dengan lamanya waktu penyelidikan hingga ringannya hukuman vonis penjara kepada Irjen. Joko Susilo semakin membuktikan masih tumpul dan lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomitmen kepada masyarakat untuk terus memberantas korupsi. Akan tetapi, hal berbeda terjadi ketika proses hukum sedang berjalan. Para penegak hukum serasa tidak mampu bersikap adil. Tajam ke bawah tumpul di atas. Ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada Joko Susilo jelas tidak sesuai dengan kerugian yang harus ditanggung oleh negara, apalagi memenuhi rasa keadilan pada masyarakat. Tidak hanya dari sisi materil,namun juga dari sisi moral dan kepercayaan rakyat terhadap aparat penegak hukum yang bersih dan adil bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai orang awam yang tidak mengenal hukum, masyarakat sangat berharap aparat penegak hukum dapat bersikap profesional dalam menegakkan hukum di Indonesia. Selain itu, vonis hukum yang diberikan kepada Joko Susilo juga menjadi cermin yang menggambarkan bahwa seolah-olah ada permainan dalam penegakan hukum. Akan ada asumsi yang berkembang dimasyarakat bahwa hukum dapat dibeli. Namun, dikemas secara apik sehingga tidak tampak secara gamblang bahwa hukum itu sebuah permainan, yang dapat diperjual belikan. Masyarakat semakin memahami bahwa Indonesia adalah negara yang dari sisi Pelayanan Publik maupun terhadap proses Penegakan Hukum masih jauh dari harapan masyarakat. Ketika di negara tetangga telah berani menghukum mati bagi para koruptor, di Indonesia justru terkesan melindungi para koruptor. Memberikan hukuman seringan-ringannya bahkan vonis bebas kepada para pengeruk uang rakyat tersebut. Menurut Soerjono Soejono bahwa tujuan hukum adalah untuk menciptakan kedamaian, ketertiban dan ketentraman. Masyarakat sangat mengharapkan negara mampu memberikan kepastian hukum (Teori

11

Positivisme) atas permasalahan-permasalahan yang terjadi. Sehingga apabila hukum tidak mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan yang dijabarkan dalam bentuk Perintah, kewajiban, kedaulatan dan sanksi tegas (John Austin),maka, secara perlahan dan pasti akan terjadi kesemrawutan dan ketidak adilan dalam penyelenggaraan suatu negara yang berdaulat. Dengan demikian, maka tidak diherankan ketika Indonesia kerap mengalami konflikkonflik sosial budaya yang mengganggu kestabilan negara. Untuk itu, masyarakat sangat mengharapkan pemerintah mampu

memberikan stabilitas negara dalam bentuk kepastian hukum. Lembaga negara harus mampu berlaku adil atas proses penegakan hukum. Salah satunya adalah dengan memberikan vonis tepat bagi Joko Susilo yang telah mengeruk uang rakyat. Kiranya aparatur penegak hukum perlu memahami benar amanat Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 secara bijak. Di dalam butir-butir Pancasila dijelaskan bahwa Indonesia merupakan negara berdaulat yang mampu memberikan rasa aman dan keadilan bagi seluruh rakyat, tanpa memandang unsur SARA. Pancasila butir kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan kelima (Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum sebagai media kontrol sosial (Social Control) perilaku masyarakat. Masyarakat saling mengawasi setiap prilaku yang dilakukan oleh sekitarnya. Masyarakat selalu mengawasi apakah hukum ditegakkan sesuai dengan kenyataannya, tidak ada yang ditutup-tutupi. Apalagi dipermainkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Keinginan KPK mengajukan banding merupakan langkah tepat dalam upaya penegakan hukum di Indonesia. Hal ini wajib di apresiasi tinggi. Bagaimana pun juga MK merupakan lembaga tertinggi yang memiliki hak menyelesaikan berbagai persoalan hukum di Indonesia. KPK harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa di negerinya hukum tidak lah tumpul. KPK harus mampu membuktikan bahwa tidak ada ampun bagi para koruptor, tanpa pandang bulu. Harus ada efek jera bagi oknum-oknum yang ingin mengeruk uang rakyat. Dengan demikian, stabilitas negara menjadi terjamin. Namun juga perlu diingatkan, KPK harus tetap pada rel penegakan hukum bukan atas pertimbangan yang lain apalagi politik.

12

Apalagi tampaknya, koruptor di Indonesia menggunakan teori Ramirez Torres yang intinya seseorang akan berani melakukan korupsi apabila hasil (reward) yang diperoleh dari kegiatan korupsi lebih besar dari ancaman hukuman (punishment) yang bakal dijatuhkan bila ketahuan, itupun dengan kemungkinan (probability) tertangkapnya sangat kecil. Sedangkan menurut Jack Bolonge dalam teori GONE-nya menerangkan, GONE singkatan dari empat huruf yang membentuknya yaitu G (greedy) atau rakus, O (opportunity) atau kesempatan, N (Needs) atau kebutuhan dan E (expose) atau membuka. Teori ini yang paling komplet tentang motivasi seseorang melakukan korupsi. Keserakahan dan kerakusan seseorang, didukung oleh kesempatan yang terbuka lebar ditambah dengan sifat dan mental yang tidak pernah merasa puas, serta ancaman hukuman yang ringan akan memperluas korupsi. Sementara itu, Klitgaard merumuskan terjadinya korupsi dengan C= D+M-A atau C (Corruption) terjadi jika discretion of official (diskresi pejabat) ditambah monoply of power (monopoli kekuasaan) tidak diimbangi dengan accountability (pertanggungjawaban), juga dapat menjadi gambaran

bagaimana hebatnya korupsi di negara tercinta ini. Sekedar ilustrasi saja, di Cina setiap koruptor pasti akan dieksekusi mati. Menurut catatan penggiat hukum di Cina, setidaknya ada 8.000 koruptor yang dieksekusi mati di Cina setiap tahunnya, walaupun tidak dipublikasikan secara internasional, sedangkan menurut catatan Amnesty International ada sekurangnya 3.900 orang koruptor dieksekusi mati setiap tahunnya di Cina. Dengan hukuman yang keras saja, korupsi masih marak di Cina, apalagi di Indonesia dengan hukuman yang sangat ringan, koruptor malah menjadi selebritis dengan mringas-mringis di depan kamera TV ataupun bahkan menjadi triliuner setelah bebas. Wajar jika, masyarakat hari ini menumpahkan seluruh harapan mereka ke KPK. Masyarakat berharap, KPK mampu menjadi jembatan yang mampu menyelesaikan berbagai tindak korupsi di negeri ini, dengan memberikan hukuman yang setimpal bagi setiap orang yang coba-coba bermain dengan uang rakyat. Apabila hal ini terus dibiarkan tanpa ada solusi konkrit dari

13

seluruh stake holder penegakan hukum untuk memberikan efek jera, maka, dalam waktu dekat bisa dipastikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap hukum di Indonesia menjadi hilang. Di sisi lain, jumlah para koruptor akan semakin meningkat sesuai dengan perkembangan teknologi. Bahkan korupsi akan dilakukan dengan cara selingkuh dengan berbagai kelembagaan dan dilakukan secara terang-terangan didepan publik.

2.8 Peranan Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini di Kalangan Generasi Muda dalam Mencegah Terjadinya Tindak Korupsi Pemuda adalah aset zaman yang paling menentukan keadaan zaman tersebut dimasa depan. Dalam arti sempit, pemuda adalah aset bangsa yang akan menentukan mati atau hidup, maju atau mundur, jaya atau hancur, sejahtera atau sengsaranya suatu bangsa. Perjalanan bangsa ini tidak lepas dari peran generasi muda yang menjadi bagian kekuatan perubahan. Hal itu dibuktikan dengan adanya peristiwa sumpah pemuda, yang terjadi pada tahun 1928, para tokoh pemuda memberikan semangat nasionalisme bahasa, bangsa serta tanah air yang satu yaitu Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda menggerakkan jiwa para pemuda untuk memunculkan semangat baru guna melawan dan juga mengusir para penjajah Belanda melalui berbagai gerakan. Oleh karena itulah, jika zaman dahulu para pemuda harus berperang serta rela mengorbankan seluruh jiwa raganya dalam mempertahankan

kemerdekaan Indonesia demi rasa nasionalisme yang tumbuh di dalam sanubarinya. Kini, para pemuda harus melanjutkan tongkat estafet para pemuda dan pahlawan untuk menjaga dan berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui pendidikan serta memperbaiki kondisi bangsa dalam berbagai aspek. Salah satunya yang masih menjadi belenggu bangsa Indonesia adalah kasus korupsi. Disinilah peran generasi sangat diperlukan guna memberantas kasus korupsi melalui berbagai gerakan diantaranya adalah melalui pendidikan. Pendidikan sangat mempengaruhi perilaku generasi muda pada masa yang akan datang. Termasuk juga pendidikan anti korupsi yang diberikan kepada para generasi muda sejak dini. Menurut beberapa tokoh,

14

pendidikan korupsi adalah suatu hal penting dalam upaya pemberantasan korupsi.Salah satu tokoh dalam hal ini adalah Mantan Nahkoda KPK sebelum digantikan Antasari Azhar yaitu Taufiequrachman Ruki. Beliau berpendapat bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya

menyangkut bagaimana menangkap dan memidanakan pelaku tindak pidana korupsi, tapi lebih jauh daripada itu adalah bagaimana mencegah tindak pidana korupsi agar tidak terulang pada masa yang akan datang melalui pendidikan anti korupsi, kampanye antikorupsi dan island of integrity (daerah percontohan bebas korupsi). Salah satu kekeliruan upaya pemberantasan korupsi selama ini adalah terlalu fokus pada upaya menindak para koruptor. Sedikit sekali perhatian pada upaya pencegahan korupsi. Salah satunya lewat upaya pendidikan antikorupsi. Terakhir, era reformasi melahirkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang selain diserahi tugas penindakan, juga tugas pencegahan tindak pidana korupsi, seperti pendidikan antikorupsi kepada masyarakat. Menyadari hal ini, timbullah gagasan memasukkan materi antikorupsi dalam kurikulum pendidikan perguruan tinggi, sebagai bentuk nyata pendidikan antikorupsi. Tujuan pendidikan antikorupsi adalah menanamkan pemahaman dan perilaku antikorupsi. Ide memasukkan materi antikorupsi dalam kurikulum mendapat respons positif masyarakat. Hasil jajak pendapat harian Seputar Indonesia terhadap 400 responden (27/5), sebanyak 87% menyatakan perlunya memasukkan pendidikan antikorupsi dalam kurikulum. Keyakinan masyarakat juga relatif besar. Hampir 200 responden menyatakan keyakinannya bahwa pendidikan antikorupsi bisa berjalan efektif membendung perilaku korupsi di Indonesia. Seperti yang dilansir dari program KPK yang akan datang bahwa pendidikan dan pembudayaan antikorupsi akan masuk ke kurikulum pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pemerintah akan memulai proyek percontohan pendidikan antikorupsi di pendidikan tinggi. Jika hal tersebut dapat terealisasi dengan lancar maka masyarakat Indonesia bisa optimis di masa depan kasus korupsi bisa diminimalisir.

15

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak hanya lembaga pemberantasan korupsi sajalah yang wajib memberantas kasus korupsi yang hingga saat ini masih menjamur diberbagai kalangan khususnya kalangan pejabat. Untuk itu, pemberantasan korupsi tidak dapat tercapai bila tidak melibatkan peran generasi muda, karena nantinya generasi muda lah yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan para pendahulunya. Selain hanya kesadaran sikap anti korupsi, tetapi juga dimantapkan melalui pendidikan anti korupsi pada generasi muda. Sehingga melalui pendidikan serta kompetensi yang dimiliki para generasi muda maka kelak generasi muda dapat menjadi agen perubahan bagi moral masyarakat Indonesia untuk bersikap jujur dan menghindari tindak korupsi. Sehingga kelak para pemuda dapat membawa bangsa Indonesia kepada masa kejayaan dan menjadi bangsa yang bersih serta bebas korupsi. 3.2 Saran Berdasarkan makalah yang telah kami bahas, saran untuk makalah selanjutnya adalah mengupas dan menganalisis peran serta aksi mahasiswa dalam memberantas kasus korupsi di Indonesia. Semoga dengan begitu, masyarakat dan mahasiswa menjadi lebih tergerak untuk meberantas korupsi secara bersama-sama.

16