Anda di halaman 1dari 64
 OLEH  Dr.Asan Petrus  Pembimbing:  Prof.dr.H.Amar Singh.SpF  DEPT.KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL 
  • OLEH

  • Dr.Asan Petrus

 OLEH  Dr.Asan Petrus  Pembimbing:  Prof.dr.H.Amar Singh.SpF  DEPT.KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL 
  • Pembimbing:

  • Prof.dr.H.Amar Singh.SpF

  • DEPT.KEDOKTERAN FORENSIK DAN

MEDIKOLEGAL

  • FAKULTAS KEDOKTERAN USU

THANAT OS
THANAT
OS
LOGOS
LOGOS

THANATOL

OGI

Thanatologi ilmu yang mempelajari tentang pengertian mati, cara menetapkan telah terjadi kematian dan perubahan post mortem. Penetapan seseorang telah mati dan memberi penilaian terhadap perubahan post mortem berkaitan erat dengan pemeriksaan jenazah untuk

kepentingan medikolegal

Menentukan apakah korban telah pasti meninggal A S P E Menentukan telah berapa lama K korban
Menentukan apakah korban
telah pasti meninggal
A
S
P
E
Menentukan telah berapa lama
K
korban meninggal
M
E
Menentukan posisi korban
waktu meninggal
D
I
K
Menentukan apakah posisi
O
korban telah berubah dari posisi
L
semula
E
G
Menentukan sebab dan cara
kematian
A
L
Menentukan apakah korban telah pasti meninggal A S P E Menentukan telah berapa lama K korban
Menentukan apakah korban telah pasti meninggal A S P E Menentukan telah berapa lama K korban
ORANG MATI HIDUP LAGI

ORANG MATI HIDUP LAGI

ORANG MATI HIDUP LAGI
KONSEP LAMA KONSEP
KONSEP
LAMA
KONSEP
BARU
BARU

“ BRAIN STEM DEATH IS

DEATH ”

DINI : -HENTI PERNAPASA, HENTI SIRKULASI,HENTI INERVASI,KULIT PUCAT, SEGERA : PERUBAHAN TEMPERATUR LEBAM MAYT KAKU MAYAT

DINI : -HENTI PERNAPASA, HENTI SIRKULASI,HENTI INERVASI,KULIT PUCAT,

DINI : -HENTI PERNAPASA, HENTI SIRKULASI,HENTI INERVASI,KULIT PUCAT, SEGERA : PERUBAHAN TEMPERATUR LEBAM MAYT KAKU MAYAT

SEGERA:

PERUBAHAN TEMPERATUR LEBAM MAYT KAKU MAYAT

LANJUTAN:

PEMBUSUKAN

ADIPOSERE

MUMIFIKASI

HENTI SIRKULASI

HENTI RESPIRASI

HENTI INERVASI

SUBSIDIARY TESTS
SUBSIDIARY TESTS

Test bulu ayam

HENTI SIRKULASI HENTI RESPIRASI HENTI INERVASI SUBSIDIARY TESTS • Test bulu ayam • Test Magnus •

Test Magnus

Fungsi motorik

Test ujung jari

Test diaphonu s

Test cermin

Test Winslow

berhenti

Fungsi sensorik

berhenti

Hilangny a refleks

Potong arteri

TES MAGNUS

TES TRANSILUMINATION TES POINTING

TES MAGNUS TES TRANSILUMINATION TES POINTING TES NAIL
TES MAGNUS TES TRANSILUMINATION TES POINTING TES NAIL

TES NAIL

TES MAGNUS TES TRANSILUMINATION TES POINTING TES NAIL
TES MAGNUS TES TRANSILUMINATION TES POINTING TES NAIL

TES WINSLOW

TES MIRROR/CERMIN

TES WINSLOW TES MIRROR/CERMIN TES FEATHER/B.AYAM REFLEK CAHAYA

TES FEATHER/B.AYAM

TES WINSLOW TES MIRROR/CERMIN TES FEATHER/B.AYAM REFLEK CAHAYA

REFLEK CAHAYA

TES WINSLOW TES MIRROR/CERMIN TES FEATHER/B.AYAM REFLEK CAHAYA
Tidak Sadar (Unconsiousness ) Kelemahan otot Kulit , mukosa bibir, dan konjungtiva menjadi pucat Tanda-Tanda segera
Tidak Sadar
(Unconsiousness
)
Kelemahan otot
Kulit , mukosa
bibir, dan
konjungtiva
menjadi pucat
Tanda-Tanda
segera saat
kegagalan
fungsi otak
(Primary
Relaxation)
Kematian
Terhentinya
denyut jantung
dan pergerakan
nafas
Pupil tidak
bereaksi terhadap
rangsangan
cahaya dan
kehilangan reflek
kornea
PERUBAHAN SUHU TUBUH PEMBUSUKA PERUBAH N, AN POST ADIPOSERE, MORTEM MUMIFIKASI
PERUBAHAN
SUHU
TUBUH
PEMBUSUKA
PERUBAH
N,
AN POST
ADIPOSERE,
MORTEM
MUMIFIKASI

KAKU

MAYAT

LEBAM

MAYAT

KURVA: SIGMOID 1.TUBUH TDD LAP.TDK HOMOGEN ,BERTINGKAT 2.TEMPRATUR GRADIEN : KEADAAN TELAH TERCAPAI PERBEDAAN SUHU YG

KURVA: SIGMOID

1.TUBUH TDD LAP.TDK HOMOGEN ,BERTINGKAT

2.TEMPRATUR GRADIEN : KEADAAN TELAH TERCAPAI PERBEDAAN SUHU YG BERTAHAP ANTARA LAPISAN PENYUSUN TUBUH, MK PENYALURAN PANAS BERJALAN LANCAR

3.PERBEDAAN SUHU TUBUH DGN SUHU LINGKUNGAN TDK BESAR

SYMPSON

MODY

KEMATIA N 6 ja Suhu tubuh turun m 6 2.5⁰F/jam ja Suhu tubuh turun 1.6 –
KEMATIA
N
6
ja
Suhu tubuh
turun
m
6
2.5⁰F/jam
ja
Suhu tubuh
turun 1.6 –
m
2⁰F/jam

Menetap sama dengan suhu sekitar

KEMATIAN 2 ja Suhu tubuh ↓ ½ dari perbedaan suhu tubuh & sekitar m 2 ja
KEMATIAN
2
ja
Suhu tubuh ↓ ½
dari perbedaan
suhu tubuh &
sekitar
m
2
ja
Suhu tubuh ↓
½ dari
m
2
pertama
ja
m

Suhu tubuh ½ dari yang terakhir

SYMPSON MODY KEMATIA N 6 ja Suhu tubuh turun m 6 2.5⁰F/jam ja Suhu tubuh turun

(1/8 suhu

Suhu Tubu h Suhu Awal Media Sekita r KURVA Ruanga Umur n SUHU Penutu Jenis p
Suhu
Tubu
h
Suhu
Awal
Media
Sekita
r
KURVA
Ruanga
Umur
n
SUHU
Penutu
Jenis
p
Kelami
Tubuh
n
Gizi

Keadaan dimana temperatur mayat meningkat dlm 2 jam pasca mati. Ok : 1.sistem regulasi suhu tubuh terganggu sesaat sebelum kematian, mis. Meninggal akibat sengatan matahari.

2.aktivitas bakteri berlebihan,mis septikemia,demam akut

3.adanya proses peningkatan suhu tubuh akibat kejang-kejang,mis tetanus.

4.kematian karena renjatan panas (heat stroke)

Menentukan kematian yang pasti Memperkirakan lamanya kematian Memperkirakan keadaan lingkungan

Mengarahkan penyebab kematian

LIVOR MORTIS POST LIVIDIT MORTE Y LEBAM M STAINI MAYAT HYPOST NG ASIS SUGGILATION
LIVOR
MORTIS
POST
LIVIDIT
MORTE
Y
LEBAM
M
STAINI
MAYAT
HYPOST
NG
ASIS
SUGGILATION
8 JAM – 12 JAM SETELAH KEMATIAN LEBAM MAYAT MENETAP HAEME MEREMBES KE JARINGAN HEMOLIS SEL-SEL
8 JAM – 12 JAM
SETELAH
KEMATIAN
LEBAM
MAYAT
MENETAP
HAEME
MEREMBES
KE
JARINGAN
HEMOLIS
SEL-SEL
DARAH
30 MENIT-2 JAM
SETELAH
KEMATIAN
LEBAM
MAYAT
CAIRAN
TUBUH
DIPENGARU
HENTI
HI
SIRKULA
GRAVITASI
SI
Mekanisme l.mayat 30 mnt – 6 jam l.mayat hilang pd pe Nekanan, intensitas maks.8-12 jam Faktor

Mekanisme l.mayat

30 mnt 6 jam l.mayat hilang pd pe Nekanan, intensitas maks.8-12 jam

Faktor lain l.mayat tdk hilang :

1.Banyaknya darah dlm p.darah /kapiler (tingginya kolom darah) shg pd penekanan sukar berubah,ingat diameter kapiler yg hanya sedikit lebih besar

dari diameter sel darah.

2.Penjepitan kapiler ok.adanya kaku mayat 3.imbibisi(darah keluar dr pembuluh) bila sdh ada pembusukan 4.Penurunan suhu yg menyebabkan asam lemak/lemak tubuh kental

1.Merupakan tanda kematian

2.Bisa membantu menentukan posisi mayat dan penyebab kematian (pembunuhan /bunuh diri)

3.Pd beberapa kasus l.mayat berwarna lain dr biasanya , dpt menentukan sumber penyebab

4.Memperkirakan saat kematian.

Warna pink ok CO

Livor Mortis
Livor
Mortis
Livor Mortis
Livor
Mortis
PERBANDINGAN WARNA LEBAM MAYAT METHAEMO INTOKSIKAS NORMAL CLOSTRIDI I GLOBINEMI M MERAH A CO PERFRINGE KEUNGUAN
PERBANDINGAN WARNA
LEBAM MAYAT
METHAEMO
INTOKSIKAS
NORMAL
CLOSTRIDI
I
GLOBINEMI
M
MERAH
A
CO
PERFRINGE
KEUNGUAN
COKLAT
NS
MERAH
“CHERRY
TUA
PINK”
LEBAM MAYAT NORMAL LEBAM MAYAT KERACUN AN CO
LEBAM MAYAT NORMAL LEBAM MAYAT KERACUN AN CO

LEBAM

MAYAT

NORMAL

LEBAM MAYAT KERACUN AN CO

Onset terjadinya lebam mayat
Onset terjadinya lebam mayat
PERBEDAAN LEBAM MAYAT DAN
PERBEDAAN LEBAM MAYAT DAN

MEMAR

NO.

LEBAM MAYAT

MEMAR

  • 1. Tidak ada perubahan warna yang tiba-tiba

Ada perubahann warna yang tiba- tiba

  • 2. Pinggiran reguler

Pinggiran ireguler

  • 3. Terdapat pada bagian terbawah tubuh

Dapat terjadi dimana saja

  • 4. Dapat meliputi daerah yang luas

Biasanya daerah yang terkena tidak luas

  • 5. Jika ada penekanan post mortem pada daerah lebam mayat maka akan terdapat

daerah yang pucat

Tidak dipengaruhi penekanan post mortem

  • 6. Berada di superficial dermis

Berada di intradermal

ADA 3 TAHAP : RELAKSASI PRIMER(2-3 JAM),KAKU MAYAT(24-48 JAM),RELAKSASI SKUNDER

MEKANISME:

ADA 3 TAHAP : RELAKSASI PRIMER(2-3 JAM),KAKU MAYAT(24-48 JAM),RELAKSASI SKUNDER MEKANISME:
RIGOR MORTIS (KAKU MAYAT)
RIGOR MORTIS
(KAKU MAYAT)
Rahang Otot-otot Wajah Pergelangan Tangan Lutut Bahu Pinggul Seluruh Tubuh
Rahang
Otot-otot Wajah
Pergelangan
Tangan
Lutut
Bahu
Pinggul
Seluruh Tubuh
RIGOR MORTIS (KAKU MAYAT)
RIGOR MORTIS (KAKU MAYAT)
RIGOR MORTIS
(KAKU MAYAT)
Suhu Tubuh Aktivitas & Fisik Lingkungan Usia Bentuk & Tubuh Keadaan Gizi
Suhu Tubuh
Aktivitas
&
Fisik
Lingkungan
Usia
Bentuk
&
Tubuh
Keadaan
Gizi
3 – 8 jam •Hangat •Dingin •Hangat •Lemas •Lemas •Kaku < 3 jam > 36 jam
3 – 8 jam •Hangat •Dingin •Hangat •Lemas •Lemas •Kaku < 3 jam
3 – 8
jam
•Hangat
•Dingin
•Hangat
•Lemas
•Lemas
•Kaku
< 3 jam

> 36 jam

•Dingin •Kaku
•Dingin
•Kaku
8 – 36 jam
8 – 36 jam

Tidak digunakan sebagai kesimpulan pasti untuk proses legal, hanya sebagai petunjuk “on the spot

CADAVERIC SPASM (Instaneous Rigor)

CADAVERIC SPASM ( Instaneous Rigor ) *Bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan bersifat

*Bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan bersifat menetap.

*Merupakan rigor mortis yang timbul

dengan intensitas

sangat kuat tanpa didahului fase relaksasi primer.

*Penyebab: habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat

setempat karena

kelelahan atau emosi yang hebat sesaat

sebelum kematian.

HEAT STIFFENING

HEAT STIFFENING *Suhu ekstrim  koagulasi protein otot oleh panas  otot mengalami ( false rigor)

*Suhu ekstrim koagulasi protein otot oleh panas otot mengalami (false rigor)

*Otot berwarna merah kecoklatan “cooked meat”, kaku, mudah robek

*Bergabungnya otot

fleksor & ekstensor serabut otot memendek

  • fleksi leher, siku, paha,

lutut & tulang belakang

opistotonus sikap petinju (pugilistic attitude)

*Murni post mortem & bukan indikasi terbakar/dibakar saat hidup = kremasi

COLD STIFFENING

COLD STIFFENING *Kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, temperature dibawah nol (< -5 ⁰ C) *Panas tubuh

*Kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, temperature dibawah nol (< -5C)

*Panas tubuh hilang

  • pembekuan cairan

tubuh, cairan sendi, pemadatan jaringan

lemak subkutan &

otot otot mengeras

  • bila sendi ditekuk

akan terdengar bunyi

pecahan es dalam

rongga sendi

PERUBAHAN LANJUT
PERUBAHAN LANJUT
PERUBAHAN LANJUT PEMBUSUKAN ADIPOCERE MUMIFIKASI
PERUBAHAN LANJUT PEMBUSUKAN ADIPOCERE MUMIFIKASI
PERUBAHAN LANJUT PEMBUSUKAN ADIPOCERE MUMIFIKASI
PEMBUSUKAN
PEMBUSUKAN
ADIPOCERE
ADIPOCERE
MUMIFIKASI
MUMIFIKASI

P

E

M

B

U

S

U

K

A

N

perubahan terakhir yang terjadi (late post-mortem periode)
perubahan terakhir yang terjadi
(late post-mortem periode)
pemecahan protein kompleks menjadi protein yang lebih sederhana
pemecahan protein kompleks menjadi
protein yang lebih sederhana
gas-gas pembusukan dan perubahan warna
gas-gas pembusukan dan
perubahan warna
Perubahan warna pada Marbling pada kulit iliaka kanan Pembengkakan akibat Gas pembusukan Skin slippage Pencairan jaringan
Perubahan warna pada
Marbling pada kulit
iliaka kanan
Pembengkakan akibat
Gas pembusukan
Skin slippage
Pencairan jaringan lunak
tubuh
Pembusukan organ
dalam
Tulang belulang
Pembusukan lanjut
Marbling pada kulit Tampak cairan keluar dari lubang hidung dan telinga, berwarna kemerahan
Marbling pada kulit
Tampak cairan keluar dari lubang hidung
dan telinga, berwarna kemerahan
Pembengakakn tubuh dan perubahan warna
Pembengakakn tubuh dan perubahan warna
Pembengakakn tubuh dan perubahan warna
TEMPERATUR UDARA LEMBAB KEADAAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUBUH PENUTUP DAN PAKAIAN PEMBUSUKAN USIA PENYAKIT
TEMPERATUR
UDARA LEMBAB
KEADAAN
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI
TUBUH
PENUTUP DAN
PAKAIAN
PEMBUSUKAN
USIA
PENYAKIT

PEMBUSUKAN DI AIR

•Terjadi lebih lambat dibanding udara • Variasi temperatur sedikit • Terdapat perlindungan terhadap predator darat •
•Terjadi lebih lambat
dibanding udara
• Variasi temperatur sedikit
• Terdapat perlindungan
terhadap predator darat
• Terbentuk gas 
tubuh mengapung
• Pembusukan terutama
dari M.O dari tubuh
sendiri

PEMBUSUKAN DI TANAH

•Terjadi lebih lambat dibanding air dan udara • Semakin dalam  Pembusukan semakin lambat • Temperatur
•Terjadi lebih lambat
dibanding air dan udara
• Semakin dalam 
Pembusukan semakin
lambat
• Temperatur yang rendah
• Tidak ada predator
• Sedikit oksigen
Pembusukan di air
Pembusukan di air
Pembusukan di air
FIGURE 1.63 After ten days in the ground the body was in relatively good condition.

FIGURE 1.63 After ten days in the ground the body was in relatively

good condition.

DEF. fenomena yg terjadi pada mayat yg tdk mengalami pembusukan yg biasa. Ciri : 1.mirip seperti

DEF. fenomena yg terjadi pada mayat yg tdk mengalami pembusukan yg biasa.

Ciri : 1.mirip seperti lilin. Lunak, warna putih keruh s/d coklat tua

2. ,biasanya terbentuk pd mayat yg tertanam di air/rawa-rawa 3. lama pembentukan 1-10 mgg 4.bau tengik,se perti bau minyak kelapa.

5.terbakar dengan nyala api kuning

6.terapung dalam air 7.larut dlm alkohol dan eter.

ADIPOCERE • Asam lemak tak jenuh  hydrogenasi  asam lemak jenuh • Asam lemak jenuh
ADIPOCERE
• Asam lemak tak jenuh  hydrogenasi
asam lemak jenuh
• Asam lemak jenuh + alkali  sabu
• Cl. Perfringens membantu dalam reaksi tersebut
karena bakteri ini memproduksi lecithinase yang
membantu hidrolisa dan hidrogenas asam lemak
• Di daerah yang mengandung banyak air
dan bersifat basa
KEPENTINGAN ADIPOCERE Identifikasi Mempertahankan bekas kekerasan Menghambat pembusukan Waktu kematian
KEPENTINGAN ADIPOCERE
Identifikasi
Mempertahankan
bekas kekerasan
Menghambat
pembusukan
Waktu kematian
KEPENTINGAN ADIPOCERE Identifikasi Mempertahankan bekas kekerasan Menghambat pembusukan Waktu kematian
FIGURE 1.47 Even though she had been in the cold water for over ten months, she

FIGURE 1.47 Even though she had been in the cold water for over ten months, she was visually identified by the sheriff. See next photo.

M Terjadi pada daerah kering U terutama dengan suhu panas M namun dapat juga terjadi pada
M
Terjadi pada daerah kering
U
terutama dengan suhu panas
M
namun dapat juga terjadi
pada suhu beku
I
F
Daerah dengan arus udara
yang bergerak
I
kulit mengerut & berkeriput,
melapisi dengan ketat
seluruh tonjolan anatomis
K
A
S
Identifikasi baik
I

Ilmu yg mempelajari serangga yg dijumpai pd mayat

Ilmu yg mempelajari serangga yg dijumpai pd mayat Ilmu ini penting pd mayat yg telah membusuk

Ilmu ini penting pd mayat yg telah membusuk dimana penurunan suhu,lebam mayat dan kaku mayat tdk dpt digunakan lagi dlm memperkirakan waktu kematian

ENTOMOLO GI FOFRENSIK Penentuan Lama Berdasarkan Siklus Kematian Hidup Serangga Penentuan Apakah Mayat Telah Dipindahkan Aspek
ENTOMOLO
GI
FOFRENSIK
Penentuan Lama
Berdasarkan Siklus
Kematian
Hidup Serangga
Penentuan Apakah
Mayat Telah
Dipindahkan
Aspek
Medikolegal
Penunjuk Luka
Sampling
Toksikologi
Bau Pembusuka Telur n 18-24 jam Larva Lalat Instar I Siklus Hidup 1-2 hari 1-2 hari
Bau
Pembusuka
Telur
n
18-24 jam
Larva
Lalat
Instar I
Siklus Hidup
1-2 hari
1-2 hari
Lalat
Larva
Pupa
Instar II
1-2 hari
3-4 hari
1-2 hari
Prepupa
Larva
Instar III
Perkembangan Lalat Hijau (Calliphoridae) Lalat Daging (Sarcopharidae) Telur Menetas 16-24 jam Larva (Vivipar) Larva Instar I
Perkembangan
Lalat Hijau
(Calliphoridae)
Lalat Daging
(Sarcopharidae)
Telur Menetas
16-24 jam
Larva (Vivipar)
Larva Instar I
1-2 hari
2-3 hari
Larva Instar II
2-3 hari
3-4 hari
Larva Instar III
3-6 hari
4-5 hari
Prepupa
4-7 hari
5-7 hari
Pupa
5-10 hari
6-9 hari
Lalat
8-13 hari
8-11hari

Beberapa perubahan lain dpt digunakan untuk memperkirakan lama kematian:

1.mata, kilatan kornea tdk ada lagi,kornea

jadi keruh ,10-12 jam

2.Isi sal.cerna.

3.Kandung kemih

4.Pakaian

5.Jam tangan

•Pengukura n Temperatu r Tubuh Jasing P.Modi Simpson Normogram Henssege
•Pengukura
n
Temperatu
r
Tubuh
Jasing
P.Modi
Simpson
Normogram
Henssege
•Rigor Mortis & Hipostasis
•Rigor
Mortis &
Hipostasis
•Eksitabilit as Elektrik dari Otot
•Eksitabilit
as Elektrik
dari Otot
•Waktu Pegosonga n Lambung
•Waktu
Pegosonga
n Lambung
•Pengukura n Temperatu r Tubuh Jasing P.Modi Simpson Normogram Henssege •Rigor Mortis & Hipostasis •Eksitabilit as
•Perubahan Mata
•Perubahan
Mata
•Perubahan Kimiawi Cairan Tbh
•Perubahan
Kimiawi
Cairan
Tbh
•Perubahan Sitologis Sumsum Tlg
•Perubahan
Sitologis
Sumsum
Tlg
PENENTUAN WAKTU KEMATIAN
PENENTUAN WAKTU
KEMATIAN
4-6 Jam 10-12 Jam • Tubuh • Tubuh
4-6 Jam
10-12 Jam
• Tubuh
• Tubuh

Jam Pertama Kematian Tubuh masih hangat

dingin

Kaku

dingin

Kaku

Seluruh otot masih

relaksasi

Selaput mata masih

bening

Belum tampak lebam

mayat

mayat

terdapat

di rahang dan beberapa persendia

n, mudah

dilawan

Lebam mayat hilang pada penekana n

mayat

lengkap di

seluruh

tubuh

Lebam mayat

sangat

jelas dan tidak hilang pada

penekana

n

16-18 Jam

20-24 Jam

Tubuh

Tubuh

 

dingin,

dingin

Kaku mayat

Kaku mayat

Tanda

di

beberapa

sudah

persendian telah hilang

menghilang

Lebam

pembusuka

mayat luas

n semakin

di

bagian

jelas, keluar

terendah

darah

 

tubuh

pembusuka

Mulai

n dari

tampak

hidung dan

tanda pembusuka n di perut

mulut

kanan

bawah

berwarna

biru

kehijauan

30-36 Jam

Mayat menggemb

ung, muka bengkak, mata tertutup,

bibir

menebal, keluar gas

dan air pembusuka

n dari

hidung dan mulut

Tampak garis

pembuluh

darah di

permukaan

(Marble

Appearance

40-48 Jam •Gelembung pembusukan di seluruh tubuh, sebagian gelembung pecah dan terkelupas •Lidah bengkak dan menonjol
40-48 Jam
•Gelembung
pembusukan di
seluruh tubuh,
sebagian
gelembung pecah
dan terkelupas
•Lidah bengkak
dan menonjol
keluar
•Skrotum
membengkak
3 Hari •Periode pembusukan lanjut
3 Hari
•Periode
pembusukan
lanjut
4-5 Hari 6-10 Hari •Perut mengempes •Jaringan lunak tubuh
4-5 Hari
6-10 Hari
•Perut
mengempes
•Jaringan
lunak tubuh

kembali

Sutura

kepala

meregang

Otak

mengalami

perlunakan

melembek

dan lama- lama

menjadi

hancur

Rongga

dada dan

rongga

perut dapat terlihat karena otot sudah

hancur

Thanatologi adalah bagian dari ilmu ked.forensik yg memp.ttg kematian dan perubahan setelah kematian serta faktor yg mempengaruhi perubahan tsb.

Thanatologi memiliki prosfek yg baik kedepan

Manfaat medikolegal:

Apakah korban telah pasti meninggal Telah berapa lama meninggal Posisi korban Apakah posisi telah berubah Menentukan sebab dan cara kematian

Thanatologi juga penting bagi bidang ilmu yg lain kususnya penegak hukum