Anda di halaman 1dari 46

17 Nopember 2013 | 09:04 wib | Solo Metro 16 SMK di Solo dan Klaten Sinergikan Kurikulum 2013 SOLO, suaramerdeka.

com Sebanyak 16 SMK di Kota Solo dan Kabupaten Klaten bersinergi dalam penerapan Kurikulum 2013 di masing-masing sekolah. Sinergi SMK ini berupa sosialisasi, pendampingan, diskusi, dan sharing agar Kurikulum 2013 dapat diimplementasikan dengan tepat. Adapun sembilan SMK di Solo meliputi SMKN 2, SMKN 3, SMKN 4, SMKN 5, SMKN 6, SMKN 7, SMKN 8, SMKN 9, dan SMK Warga. Sedangkan tujuh SMK dari Kabupaten Klaten yakni SMKN 1, SMKN 2, SMKN 3, SMK Trucuk, SMK Muhammadiyah 1, SMK Batur Jaya, dan SMK Muhammadiyah 2 Jatinom. Kepala SMKN 2 Surakarta, Susanta, mengemukakan, sosialisasi Kurikulum 2013 kepada 16 SMK tersebut telah dilakukan di SMKN 2 Solo. Dalam hal ini SMKN 2 Solo selaku Koordinator Cluster Implementasi Kurikulum 2013 di SMK Kota Solo dan Kabupaten Klaten. Sosialisasi tersebut menyasar pada guru kelas X dengan narasumber dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dan pengawas Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora). "Terutama untuk tingkat 10, dengan tiga mata pelajaran (mapel) yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Sejarah. Ada 168 guru mapel dari 16 SMK yang mengikuti sosialisasi Kurikulum 2013 hari awal pekan lalu," ungkap Susanta. Adapun materi yang diberikan dalam sosialisasi itu di antaranya filosofi Kurikulum 2013, teknis penjabaran kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD), menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), serta teknis penilaian. Usai mengikuti sosialisasi, diharapkan para guru dapat langsung menerapkan ilmu yang mereka dalam implementasi Kurikulum 2013. ( Evie Kusnindya / CN33 / SMNetwork )
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2013/11/17/179890

PENDIDIKAN KLATEN DP Pesimistis Penerapan Kurikulum 2013 Bisa Optimal pada 2014
Rabu, 22 Januari 2014 14:37 WIB | Ayu Abriyani KP/JIBI/Solopos |

Solopos.com, KLATEN--Dewan Pendidikan se-Soloraya pesimistis penerapan Kurikulum 2013 bisa berjalan optimal pada 2014. Sebab, masih banyak sekolah terutama sekolah swasta dan di wilayah terpencil yang memerlukan banyak persiapan. Mereka memperkirakan penerapan kurikulum baru tersebut bisa optimal pada 2015. Hal itu muncul dari hasil rapat koordinasi Dewan Pendidikan se-Soloraya di SMKN 1 Klaten yang dihadiri sekitar 90 orang, Selasa (21/1/2014). Peserta terdiri atas Dewan Pendidikan seSoloraya, perwakilan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Forum Komite Sekolah, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Polres Klaten, dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan. Ketua Dewan Pendidikan Klaten, Syamsuddin Asyrofi, mengatakan dari hasil monitoring yang dilakukan Dewan Pendidikan se-Soloraya, penerapan kurikulum baru tersebut belum bisa optimal pada 2014. Sebab, sekolah swasta dan sekolah di wilayah terpencil membutuhkan waktu cukup lama untuk menyesuaikan kurikulum baru. Baik dari kesiapan sekolah, guru, dan siswa. Hasil evaluasi sementara yang kami lakukan untuk penerapan kurikulum 2013, kesiapan sekolah masih sebatas di sekolah percontohan. Walaupun kurikulum baru tersebut mulai diterapkan di semua sekolah pada 2014 ini, namun kami pesimistis bisa optimal. Terutama bagi sekolah di wilayah terpencil dan swasta, katanya saat dihubungi solopos.com, Rabu (22/1/2014). Ia menyatakan sejumlah kendala dalam penerapan kurikulum tersebut di antaranya pendidikan karakter di dalam mata pelajaran, kesiapan guru yang memiliki sumber daya manusia yang berbeda-beda, dan pemahaman siswa. Jadi, saat ini masih ada sejumlah kendala seperti kemampuan guru yang berbeda-beda, sistem penilaian yang belum jelas, dan peran aktif siswa dalam pemahaman kurikulum baru. Apalagi di wilayah terpencil yang minim fasilitas. Kalau tahun ini merupakan masa transisi Kurikulum 2013 untuk semua sekolah, maka harus dipersiapkan semaksimal mungkin. Jadi, pada 2015 penerapannya bisa optimal, tuturnya. Ia berharap semua pihak bisa bekerja sama untuk kesiapan penerapan Kurikulum 2013 agar lebih optimal. Salah satunya MKKS dan komite yang saling memperkuat untuk membantu kesiapan sekolah. Ia juga berharap Dinas Pendidikan terus melakukan pendampingan ke sekolah-sekolah terutama swasta dan di daerah terpencil. Selain itu, lanjut dia, dalam rapat koordinasi tersebut juga dibahas kuota 20% untuk penerimaan siswa baru dari luar daerah. Peraturan itu dianggap diskriminatif karena membatasi hak anak

untuk sekolah. Sebenarnya, pembatasan itu tidak perlu dilakukan karena pemerintah daerah bisa memaksimalkan kualitas sekolah sehingga menarik calon siswa agar tidak bersekolah di daerah lain. Di sisi lain, Ketua Forum Komunikasi Dewan Pendidikan se-Soloraya, Arif Suyono, merekomendasikan agar sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) disamakan tentang domisilinya yakni menggunakan alamat sekolah atau alamat rumah. Jadwal PPDB juga dibuat serentak untuk mencegah terjadinya kecurangan dan mendukung seleksi yang adil. PPDB SMP hendaknya juga dilaksanakan dengan tes tertulis dan mempertimbangkan nilai raport kelas IV, V dan VI untuk tiga mata pelajaran. Yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta piagam sebagai prestasi siswa, katanya saat sambutan acara, Selasa.
Editor: Anik Sulistyawati

http://www.solopos.com/2014/01/22/pendidikan-klaten-dp-pesimistis-penerapan-kurikulum2013-bisa-optimal-pada-2014-483998

KURIKULUM 2013 Disdik Klaten Siap Terapkan Kurikulum Baru di Semua Sekolah
( Sabtu, 30 November 2013 04:14 WIB | Ayu Abriyani KP/JIBI/Solopos | )

Solopos.com, KLATENDinas Pendidikan Klaten akan menerapkan Kurikulum 2013 di semua sekolah pada 2014 nanti. Saat ini, pelatihan untuk semua guru dilakukan secara bertahap baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Klaten, Pantoro, mengatakan pada tahun ajaran 2014/2015 nanti, Kurikulum 2013 akan diterapkan untuk semua sekolah di beberapa kelas. Di tingkat SD, diterapkan di kelas I, II, IV, dan V. Sedangkan untuk SMP akan diterapkan di kelas VII dan VIII, untuk SMA/SMK diterapkan di kelas X dan XI. Sementara, pada tahun ajaran 2013/2014 ini, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk kelas I dan IV bagi tingkat SD, kelas VII untuk tingkat SMP, dan kelas X di tingkat SMA. Terkait program tersebut, ditunjuk sekolah percontohan. Di Klaten, ada 13 SD, tingkat SMP ada enam sekolah, di tingkat SMA ada lima sekolah, dan SMK ada tujuh sekolah. Memang, sekolah yang paling siap ya sekolah percontohan yang sudah menerapkan kurikulum baru itu. Tapi, di tahun ajaran berikutnya, kami berupaya menerapkan kurikulum baru itu di semua sekolah. Nantinya, untuk semester I dibiayai dari BOS [bantuan operasional sekolah], sedangkan pada semester II dibantu DAK [dana alokasi khusus] untuk penyediaan buku pegangan bagi guru dan siswa, katanya saat dijumpai Solopos.com di Pendapa Pemkab Klaten, Jumat (29/11/2013). Menurutnya, dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 ini, kesulitan yang masih dihadapi guru berupa patokan angka penilaiannya. Sebab, sistem penilaian dalam kurikulum baru tersebut berbeda dengan sebelumnya karena metode pembelajarannya lebih banyak berada di lapangan dan diskusi. Selain itu, lanjut dia, untuk mendukung penerapan kurikulum baru di semua sekolah, pemerintah pusat akan melakukan pemerataan guru. Menurutnya, jika ada guru yang sudah besertifikat tetapi nantinya mengajar di bidang yang tidak sesuai dengan sertifikasinya, harus mencari sertifikasi baru. Terkait hal itu, pihaknya berharap jika ada guru baru yang masuk ke Klaten, sebaiknya dialihkan untuk mengajar di SD. Sebab, ia menyatakan kekurangan guru SD di Klaten masih cukup banyak. Kami sudah berkoordinasi dengan BKD [Badan Kepegawaian Daerah] untuk usulan pengisian guru SD tersebut. Jadi, kalau ada guru SD dari luar daerah yang ingin mengajar di Klaten, diperbolehkan asal mau mengajar di SD, imbuhnya.
Editor: Rini Yustiningsih

http://www.solopos.com/2013/11/30/kurikulum-2013-disdik-klaten-siap-terapkan-kurikulumbaru-di-semua-sekolah-469691

KURIKULUM 2013 31 Sekolah di Klaten Terapkan Kurikulum 2013


Selasa, 16 Juli 2013 07:35 WIB | Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos |

Solopos.com, KLATEN Sebanyak 31 sekolah dari jenjang SD, SMP dan SMA/SMK di Klaten menerapkan Kurikulum 2013 pada mulai Tahun Ajaran (TA) 2013/2014. Launching Kurikulum 2013 dilakukan di SDN 1 Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten yang dihadiri oleh Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (15/7/2013). Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Pantoro, mengungkapkan 31 sekolah itu terdiri atas 13 SD, enam SMP, lima SMA dan tujuh SMK. SD yang menerapkan Kurikulum 2013 di antaranya, SDN 1 Paseban, SD Muhammadiyah Tonggalan, SDN 1 Kendalsari dan SDN 1 Prambanan. Untuk SMP, di anataranya SMPN 2 Klaten, SMPN 2 Wedi, SMPN 1 Prambanan. SMA di antaranya SMAN 1,2 dan 3 Klaten, SMAN 1 Cawas dan SMAN 1 Karanganom. Sedangkan untuk SMK yakni SMKN 1, 2, 3 Klaten, SMKN 1 Trucuk dan SMK Muhammadiyah 1 Jatinom. Sebelumnya, kami total mengajukan lebih dari 90 sekolah di seluruh Klaten untuk bisa menerapkan Kurikulum 2013. Namun, yang tembus 31 sekolah, jelas Pantoro saat ditemui Solopos.com seusaiPeluncuran Kurikulum 2013 Provinsi Jawa Tengah di SDN 1 Paseban, Senin. Peluncuran itu dihadiri oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikbud, Ainun Naim, B upati Klaten, Sunarna dan sejumlah Muspida serta puluhan guru dari sekolah yang menerapkan Kurikulum baru itu di Klaten. Dalam sambutannya, Sekjen Kemendikbud, Ainun Naim, berharap banyak dari Klaten sukses menyelenggarakan Kurikulum 2013. Mulai TA baru ini, sudah ada lebih dari 6.000 sekolah dari berbagai jenjang di Indonesia yang mengimplementasikan Kurikulum 2013, kata Ainun.
Editor: Tutut Indrawati

http://www.solopos.com/2013/07/16/kurikulum-2013-31-sekolah-di-klaten-terapkan-kurikulum2013-426422

Penerapan Kurikulum 2013, Siswa Masih Sulit Beradaptasi


Rabu, 04/09/2013

Padahal adaptasi siswa dengan hal yang baru membutuhkan waktu. Sampai sekarang, mereka belum dapat membedakan tema dalam setiap pelajaran. Joko Purwanto, Guru Kelas IV SD Al Irsyad Solo
SOLO-Penerapan Kurikulum 2013 di sejumlah sekolah percontohan kembali menuai keluhan. Jika sebelumnya kebanyakan keluhan berkaitan dengan masalah teknis, maka kali ini keluhan datang dari tenaga pengajar, tepatnya guru kelas IV tingkat sekolah dasar (SD). Dalam hal ini, pendidik mengeluhkan karakter siswa yang sebagian besar masih kesulitan beradaptasi dengan penerapan Kurikulum 2013. Guru Kelas IV SD Al Irsyad Solo, Joko Purwanto, kepada Joglosemar, Selasa (3/9), menuturkan, karakter anak didiknya saat kelas III masih terbawa hingga kelas IV saat ini. Hal tersebut menimbulkan kesulitan tersendiri pada guru untuk melaksanakan pembelajaran kurikulum baru. Siswa pada penerapan Kurikulum 2013 diharuskan lebih aktif dan mandiri. Tapi untuk mereka kebanyakan masih belum dapat mandiri sepenuhnya. Saya sampai harus berkali-kali mengingatkan pada orang tua siswa perihal tanggung jawab anaknya di sekolah. Jika tidak begitu, anak-anak tidak akan bertanggung jawab penuh, ungkapnya. Menurut Joko, di luar kendala administrasi pada penerapan Kurikulum 2013 kali ini, kendala adaptasi siswa juga harus diperhitungkan. Seperti kita tahu bahwa penerapan Kurikulum 2013 kali ini sangat mendesak persiapannya dan cenderung kurang matang. Padahal adaptasi siswa dengan hal yang baru membutuhkan waktu. Sampai sekarang, mereka belum dapat membedakan tema dalam setiap pelajaran. Misalnya, jika sekarang mereka mengerti setelah dijelaskan, mereka akan kembali kebingungan pada hari selanjutnya. Siswa masih kesulitan memilah-milah temanya, imbuhnya. Joko menambahkan, kendala tersebut tidak akan terlalu berdampak jika dalam penerapan Kurikulum 2013 tersebut ada program pembinaan karakter siswa yang tidak hanya melibatkan wali kelas, namun juga Bimbingan Konseling (BK). Sehingga guru bisa konsentrasi ke materi kurikulum dengan pembinaan karakter siswa ada di tangan BK, tukasnya. Kondisi yang sama dialami oleh guru Kelas IV SD Muhammadiyah Program Khusus, Slamet Rismiyadi. Dikatakannya, kendala datang pada implementasi Kurikulum 2013 ketika siswa tidak memiliki sifat kemandirian penuh. Maka mereka akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi.

Karena seperti diketahui bahwa dalam penerapan kurikulum baru ini mengharuskan siswa lebih kreatif dan inisiatif. Guru dalam hal ini memiliki kedudukan sebagai pendamping, ujarnya. Triawati Prihatsari Purwanto
http://joglosemar.co/2013/09/penerapan-kurikulum-2013-siswa-masih-sulit-beradaptasi.html

Ada Sejumlah Masalah Krusial dalam Implementasi Kurikulum 2013


Laporan: Timi Trieska Dara Kamis, 11 Juli 2013 | 15:13 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memantau pelatihan guru dan persiapan implementasi Kurikulum 2013 di 17 kabupaten/kota dari 10 provinsi di Tanah Air.

Hasilnya, kegagalan sistemik pelatihan guru dan sejumlah masalah krusial implementasi Kurikulum 2013 ditemukan. Pelatihan hanya berlangsung searah dan mengedepankan ceramah. FSGI menilai ini akan berdampak pada kegagalan mengubah paradigma guru dalam pembelajaran. Ini akan menjadi sumber kegagalan implementasi Kurikulum 2013. "Harus diingat substansi perubahan dari Kurikulum 2006 ke 2013 adalah perubahan proses pembelajaran. Dari pola guru menulis di papan tulis lalu murid mencatat atau guru menerangkan murid mendengar menjadi pola yang mengedepankan murid pengamatan, bertanya, mencoba, dan mengeksplorasi. Pola itu hanya mungkin terwujud bila mindset guru telah berubah," kata Presidium FSGI, Guntur Ismail dalam siaran pers di kantor LBH Jakarta, Kamis (11/7). Hal ini bukan perkara mudah. Mengubah mindset guru menjadi pekerjaan rumah untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Perubahan mindset guru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, butuh waktu bertahun-tahun. Padahal Kurikulum 2013 akan dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Perubahan itu dilakukan dengan mendorong guru untuk terus belajar," kata Sekjen FSGI, Retno Listyarti. Dalam pelatihan guru, sekolah kesulitan menentukan guru yang akan pelatihan. Lantaran hanya satu hingga dua guru yang diminta. Ketika guru bahasa Indonesia dan bahasa Inggris digabung, ternyata terjadi diskriminasi. Mulai dari tempat menginap sampai keterlambatan menerima soal pretest. Di Sumenep malah tidak terdengar hingar bingar Kurikulum 2013. Tidak ada sosialisasi dan penunjukkan sekolah yang menerapkan. Problem teknis, adanya pelajaran yang hilang dan bertambah jamnya sehingga membingungkan pihak sekolah karena berimplikasi pada nasib guru. Di antaranya penghapusan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di SMP dan SMA. Selain itu, dalam Kurikulum 2013 tidak ada pedoman penjurusan atau minat di tingkat SMA. Tidak ada pula

sosialisasi kepada kepala program keahlian di SMK. Ini membingungkan pihak sekolah, guru, dan murid tentunya.
Editor: Asnawi Khaddaf

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/11/3/167491/Ada-Sejumlah-MasalahKrusial-dalam-Implementasi-Kurikulum-2013

Wapres: Pendidik Harus Berkarakter dan Kreatif


Selasa, 02 Juli 2013 | 20:29 WIB Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Presiden Boediono menilai para guru atau pendidik harus memiliki kreativitas dalam mengajar. Jika nuansa lingkungan kreatif, maka murid akan semakin mudah menyerap ilmu yang diberikan. "Suasana dalam mengajar dan mendidik ini, terkadang kita lupakan dan kita fokuskan substansinya pada informasi faktanya, tetapi lupa bahwa lingkungan ini menentukan sekali, apakah bisa diterima apa tidak, apakah bisa diterima dengan benar atau tidak. Semua itu akhirnya memang menyadarkan kita semua bahwa mendidik dan mengajar itu memang harus dilihat secara utuh, secara menyeluruh," kata Wapres Boediono ketika menerima Indonesia Heritage Foundation (IHF) di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (2/7). Diingatkan Boediono, konsentrasi atau daya serap seorang anak didik sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempatnya belajar. Karena itu, ia sangat senang dengan adanya metode pengajaran yang menggunakan sisi lingkungan yang kreatif. "Untuk meningkatkan daya serap, daya belajar dari anak-anak kita perlu suatu environment dan cara memberikan yang pas," ingat Boediono. Wapres pun merasakan betul suasana yang menyenangkan ketika memasuki ruangan yang dipenuhi para guru binaan IHF tersebut. Ia merasakan lingkungan yang kondusif dan positif. "Saya tadi masuk ke sini sudah merasakan vibrasi yang positif," kata Wapres yang ketika masuk disambut dengan yel-yel gembira para guru. Pendiri IHF, Ratna Megawangi menyatakan, sejauh ini ada 30 Sekolah Dasar (SD) yang dibina pihaknya. Saat ini, IHF sedang melakukan pembinaan para guru di Ciracas, Jakarta Timur. Para guru diberikan pelatihan dan pembekalan selama enam hari. "Kami tanamkan para guru yang bersemangat dan kreatif. Ini untuk menimbulkan suasana kreatif dan anak didik pun terbawa kreatif dan bersemangat," kata Ratna. (Fidel Ali Permana)
Editor: Afwan Albasit

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/02/3/165370/Wapres-Pendidik-HarusBerkarakter-dan-Kreatif

Kurikulum 2013 Terancam Gagal


Selasa, 09 Juli 2013 | 20:52 WIB Metrotvnews.com, Jakarta: Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan rendahnya nilai pre tes dan post tes para instruktur nasional menunjukkan rendahnya pengetahuan dan penguasaan materi atas kurikulum 2013. Kepada Media Indonesia, Retno mengatakan keberhasilan suatu pelatihan sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu pertama materi pelatihan, kedua siapa pelatihnya dan ketiga metode pelatihan. Ketidakpahaman pelatih akan materi tidak akan mungkin bisa menghasilkan guru inti berkualitas. Hal itu juga akan berdampak pada kualitas guru sasaran. "Kalau pelatihnya saja tidak paham, mana mungkin berhasil melatih orang lain. Jika kualitas pelatih rendah masak diharapkan menghasilkan orang berkualitas tinggi? Hal ini (nilai) menunjukkan pelatih inti belum memahami kurikulum 2013," urainya pada Selasa (9/7). Metode pelatihan juga sebaiknya menggunakan cara simulasi dan praktik agar guru dapat memahami dan merasakan secara langsung materi yang diajarkan. Melalui simulasi diharapkan pemahaman akan pengajaran akan lebih mudah terserap caranya dan lebih lebih efektif. Selain itu metode simulasi dan praktik juga harus banyak dilakukan pada guru SD yang akan memberikan materi secara tematik integratif. Metode pelatihan yang sering ditemui adalah dengan menggunakan power poin dan disampaikan dalam bentuk seperti ceramah. Pemerintah, lanjutnya, seperti sedang merencanakan kegagalan pelatihan secara sistemik. Pelatihan guru yang hanya berlangsung selama 52 jam dan beberapa hari diyakini tidak akan bisa menghasilkan guru yang memiliki pemahaman instan terhadap materi kurikulum 2013. (Vera Erwaty Ismainy)
Editor: Edwin Tirani

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/09/3/166928/-Kurikulum-2013Terancam-Gagal

FSGI: Guru tidak Siap, Kurikulum Baru bakal Gagal


Kamis, 11 Juli 2013 | 15:25 WIB Metrotvnews.com, Jakarta: Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan pihaknya melakukan pencatatan atas pelatihan guru inti oleh instruktur nasional. Beberapa hal yang harus dicatat dari pelatihan adalah pertama soal metode. Metode pelatihan didominasi ceramah yang bersifat searah. Bukan metode partisipatif atau dua arah. Kedua adalah konsep yang dibangun dalam pelatihan tidak membangun pola pikir holistik dan kreatif dalam penerapan pola tematik integratif pada guru. Ketiga adalah proses pelatihan yang tidak dikemukakan dengan baik oleh guru inti ke guru sasaran atau mata pelajaran. Hal itu terjadi akibat dari mulai pelatihan instruktur nasional tidak tercipta pemahaman yang baik soal kurikulum 2013. Substansi perubahan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ke kurikulum 2013 adalah perubahan proses pembelajaran dari pola pembelajaran di mana guru menulis di papan tulis dan murid mencatat dibuku serta guru menerangkan dan murid mendengarkan menjadi proses pembelajaran yang mengedepankan pengamatan, pola pikir kritis, eksplorasi dan mencoba.

"Semua hanya mungkin terjadi jika cara berpikir guru sudah berubah," terang Retno yang ditemui pada Kamis (11/7). Proses pelatihan guru harus diperbaiki karena berpengaruh terhadap kualitas pengajaran yang akan diberikan kepada anak-anak. Kenyataannya, pelatih atau instruktur nasional juga tidak paham apa yang diubah dari KTSP 2006 sehingga tidak bisa menerangkan apa perubahan yang ada dalam kurikulum 2013 pada guru inti yang akan melatih guru sasaran atau guru mata pelajaran. Selain itu sosialisasi kurikulum baru juga tidak berjalan karena banyak guru dan sekolah yang tidak paham apa sesungguhnya perubahan dalam kurikulum 2013. Bentuk kebingungan sekolah dapat terlihat di beberapa daerah seperti di Tasikmalaya dan Medan yang mengaku bingung dengan adanya perubahan struktur kurikulum yang menyebabkan hilang, bertambah dan berkurangnya beberapa mata pelajaran. Semua itu berakibat kepada guru-guru yang mata pelajarannya ikut berkurang atau dihapuskan. Pengamat pendidikan Romo Benny Susetyo mengatakan kurikulum baru tidak menjawab persoalan dasar pendidikan Indonesia yaitu kualitas guru. Persoalan mendasar pendidikan Indonesia adalah masalah mentalitas guru. "Pemerintah harus melakukan evaluasi apakah kurikulum baru bisa diterapkan karena banyak hal yang terjadi tidak menunjukkan adanya kesiapan," ujarnya Romo Benny. Memaksakan guru yang tidak siap hanya akan membawa bencana dalam dunia pendidikan Indonesia. Dalam hal ini yang menjadi korban sudah jelas para siswa. FSGI bersama beberapa organisasi guru akan melayangkan somasi kepada Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan (Kemendikbud) jika pemerintah tetap memaksakan kurikulum baru diterapkan pada 15 Juli mendatang. Rendahnya pemahaman guru terhadap kurikulum baru hanya akan membuat tinggal tunggu waktu saja terjadinya bencana dalam dunia pendidikan. Nilai tes akhir Instruktur Nasional hanya 63,92 poin. Sebanyak 23,5% instruktur nasional melewati tes dengan nilai kurang dan cukup. Hasil ini mengecewakan karenamereka tidak berhasil melebihi angka yang sudah ditetapkan yaitu minimal 60 poin. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh mengatakan dari hasil tes awal dan tes akhir pengetahuan 544 peserta instruktur nasional tentang kurikulum 2013 diketahui rerata hasil tes awal para instruktur nasional hanya 53 poin dan 63,92 poin saat tes akhir. Hal itu menunjukkan setelah pelatihan pemahaman instruktur nasional tentang kurikulum 2013 hanya naik 10,92%. Namun rendahnya kualitas para instruktur nasional itu dianggap wajar oleh Mendikbud karena mereka memang belum mengetahui secara persis bagaimana kurikulum baru. Setelah melewati pelatihan, Mendikbud mengatakan mereka punya kemampuan yang cukup untuk melatih guru inti.(Vera Erwaty Ismainy)
Editor: Asnawi Khaddaf

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/11/3/167497/FSGI-Guru-tidak-SiapKurikulum-Baru-bakal-Gagal

Keseriusan Implementasi Kurikulum Baru Dipertanyakan


Selasa, 13 Agustus 2013 | 11:48 WIB Metrotvnews.com, Jakarta: Implementasi kurikulum baru di lapangan masih menemui banyak kendala, keseriusan pemerintah dipertanyakan. Kendala-kendala yang dihadapi antara lain adalah belum berjalannya pendampingan terhadap para guru yang mengajar, keterlambatan sampainya buku panduan ke tangan guru dan siswa juga belum bisa diterapkannya kurikulum ini di semua sekolah. Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan semua masalah di lapangan terkait implementasi kurikulum menunjukkan dengan jelas pemerintah tidak siap dan tidak serius menjalankannya. Retno mengatakan kurikulum baru adalah proyek 'buru-buru' yang pada akhirnya mengorbankan kepentingan para peserta didik. Terkait pertemuan dan lobi dengan Wakil Presiden (Wapres) Boediono, Retno mengatakan proses ini baru memasuki tahap penyerahan dua laporan pemantauan FSGI per 11 Juli 2013 dan per 30 Juli 2013. Pengiriman laporan sudah ditanggapi asisten pribadi Wakil Presiden Boediono. "Ada rencana Wapres akan memfasilitasi FSGI berdialog dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)," jelasnya kepada Media Indonesia pada Selasa (13/8). Pada pertemuan yang masih dalam tahap perencanaan ini, FSGI akan mengajukan dua usulan. Usulan pertama adalah meminta dibentuknya tim independen di luar Kemendikbud untuk melakukan evaluasi implementasi kurikulum 2013 per tiga bulan. Tim ini, lanjutnya, harus dibentuk Wapres dan melaporkan pula hasil evaluasinya di lapangan ke Wapres. Sementara itu usulan kedua adalah menyampaikan pelanggaran hukum dan hak-hak anak atas terlambatnya implementasi kurikulum 2013. Masih carut marutnya implementasi kurikulum baru di lapangan jelas melanggar hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik dari pemerintah. "Kami berharap usulan kami diperhatikan karena hal ini berdasarkan fakta di lapangan dan juga mempertimbangkan kepentingan anak-anak," ucapnya.(Vera Erwaty Ismainy)
Editor: Agus Tri Wibowo

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/08/13/3/174517/Keseriusan-ImplementasiKurikulum-Baru-Dipertanyakan

Mendikbud: Kurikulum 2013 Membangun Peradaban


Senin, 15 Juli 2013 | 14:54 WIB Metrotvnews.com, Bantul: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan Kurikulum 2013 yang baru diluncurkan bukan hanya berkaitan dengan masalah pendidikan. "Kurikulum 2013 bukan sekadar urusan belajar mengajar, tetapi dalam rangka membangun peradaban Indonesia ke depan," kata Mendikbud di sela peluncuran Kurikulum 2013 di SMAN 1 Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (15/7). Menurut Mendikbud, ada dua hal yang mendasar dalam Kurikulum 2013 yaitu basis kreativitas yang akan melahirkan inovasi, kemudian moralitas yang akan mengawal dan memberikan terhadap apa yang akan dihadapi ke depan. "Itu semua dirumuskan dalam satu pernyataan dan pemahaman yang paling singkat, yaitu ingin mengembangkan kompetensi baik pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi bijak," katanya. Oleh sebab itu, kata Menteri di dalam kurikulum juga untuk menambah pendidikan agama dan budi pekerti yang menjadi dasar penting karena selama ini masih dirasakan betapa rendahnya faktor budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. "Dengan pendidikan agama dan budi pekerti, supaya para siswa mempunyai tata krama meskipun sedikit, karena kalau ini kita biarkan kita khawatir bangsa ini akan tejebak dalam yang namanya kegersangan sosial," katanya. Sementara itu Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam sambutannya mengatakan, memberikan apresiasi positif terhadap peluncuran Kurikulum 2013 yang baru di SMAN 1 Bantul, Kabupaten Bantul, ini. Menurut Sultan, pihaknya sudah sejak lama mengikuti pembahasannya dan menilai langkah ini sudah tepat, meski demikian Sultan menilai terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya. "Terutama terkait terdapatnya perbedaan kompetensi guru dan siswa di daerah terpencil, kami mengusulkan perlunya melibatkan kalangan akademisi untuk memberikan pendampingan," katanya.(Ant)

Editor:

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/15/3/168301/Mendikbud-Kurikulum2013-Membangun-Peradaban

23 Januari 2014 | 10:53 wib | Solo Metro Sekolah Terpencil Masih Kesulitan Terapkan Kurikulum 2013 KLATEN, suaramerdeka.com - Dewan Pendidikan Klaten akan melakukan pemantauan pelaksanaan Kurikulum 2013. Meski demikian, diyakini pelaksanaannya belum bisa berjalan optimal tahun 2014 ini karena masih ada sejumlah kendala, terutama di sekolah yang berada di lokasi terpencil atau sekolah swasta. Monitoring dilakukan bersamaan dengan Dewan Pendidikan se-Soloraya. Bahkan, blangkonya pun akan disediakan oleh Forum Komunikasi Dewan Pendidikan Solo Raya, agar standar monitoringnya bisa seragam. Hasil monitoring tersebut akan dijadikan bahan evaluasi. ''Kami pesimis pelaksanaan Kurikulum 2013 bisa berjalan optimal tahun ini, karena masih banyak sekolah yang memerlukan persiapan, terutama sekolah swasta dan sekolah di daerah terpencil,'' kata Ketua Dewan Pendidikan Klaten Drs H Syamsuddin Asyofi MHum, Kamis (23/1). Dia memperkirakan penerapan kurikulum 2013 baru bisa berjalan sesuai harapan pada tahun 2015 mendatang. Saat ini, pihak sekolah, guru pengajar dan siswa masih melakukan penyesuaian. Tahun ajaran ini, pelaksanaannya masih dalam tahap uji coba di sejumlah sekolah. ''Hasil monitoring akan dijadikan bahas evaluasi. Monitoring akan dilakukan pada penerapan kurikulum 2013 di sekolah percontohan. Rencananya, kurikulum baru mulai diterapkan di semua sekolah tahun 2014, tapi kami masih pesimis. Hal itu akan kami lihat di lapangan,'' ujar Syamsuddin. Ada sejumlah yang dihadapi antara lain, pendidikan karakter dalam tiap mata pelajaran, SDM guru yang tidak seragam, tingkat pemahaman siswa dan sistem penilaian juga belum jelas. Tahun ini merupakan masa transisi Kurikulum 2013, diharapkan tahun 2015 mendatang sudah berjalan optimal. ( Merawati Sunantri / CN19 / SMNetwork )

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/01/23/188246

17 DESEMBER 2013

TANTANGAN PENERAPAN KURIKULUM 2013 BAGI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN


Pendidikan merupakan unsur utama dalam pengembangan manusia Indonesia seuutuhnya, maka pengelolan pendidikan harus berorientasi kepada bagaimana menciptakan perubahan yang lebih baik. Salah satu upaya itu di tempuh dengan menerapkan kurikulum 2013 yang disusun dengan dilandasi pemikiran tantangan masa depan yaitu tantangan abad ke 21 yang ditandai dengan abad ilmu pengetahuan, knowlwdge-based society dan kompetensi masa depan. Bagi pendidik dan tenaga kependidikan khususnya para guru yang akan melaksanakan kurikulum tersebut pada tahun ajaran 2013/2014 yaitu guru SD kelas I dan IV, SMP kelas VII, dan SMA/SMK kelas X merupakan tantangan yang harus disikapi dengan semangat yang berorientasi pada perubahan secara totalitas khususnya perubahan pada dimensi kompetensi guru yang meliputi dimensi kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian dan sosial. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang diharapkan dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan dari KBK 2004 dan KTSP 2006 yang mempertimbangkan penataan pola pikir dan tata kelola, pendalaman dan perluasan materi, serta penguatan proses dan penyesuaian beban. Perubahan Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013 pada dasarnya adalah perubahan pola pikir (mindset), dapat dikatakan merupakan perubahan budaya mengajar dari para guru dalam melaksanakan pendidikan di sekolah. Dengan demikian, untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 sesuai dengan rancangan yang diinginkan. Secara normatif-konstitusional, pengembangan secara utuh kurikulum 2013 berlandaskan pada ketentuan perundangan-undang berikut : 1. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional; 2. Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang perencanaan nasional tahun 2005-2025; 3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen; 4. Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru; 5. Peraturan pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005; 6. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah; 7. Peraturan meneteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah;

8. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 tentang standar nilai pendidikan; 9. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah; 10. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah menegah pertam/Madrasah Tsanawiyah; 11. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013 tentang kerangka dasar struktur kurikulum sekolah menengah atas/Madrasah Aliyah; 12. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013 tentang kerangka dasar struktur kurikulum sekolah menengah kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan; 13. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 tentang buku teks pelajaran dan buku panduan guru untuk pendidikan dasar dan menegah; Peraturan menteri pendidikan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum Guna menjamin terlaksananya implementasi kurikulum 2013 secara efektif efisien disekolah, para pendidik dan tenaga kependidikan perlu pemahaman yang sama dalam menerapkan Kurikulum 2013, upaya untuk meningkatkan pemahaman yang sama tersebut dalam implementasi kurikulum 2013, setiap stakeholder serta instansi terkait di Indonesia umumnya dan di setiap propinsi khususnya, termasuk di dalam nya UPT pusat dalam hal ini Kementerian pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Propinsi dan dinas kota/kabupaten di setiap wilayah Indonesia perlu memberikan dukungan (supporting system) dengan : 1. Pemberian fasilitasi dalam implementasi kurikulum 2013 pada satuan pendidikan; 2. Pemberian bantuan kunsultasi, pemodelan (modeling), dan pelatihan personal dan spesifik (coaching) untuk hal spesifik dalam implementasi kurikulum 2013 secara tatap muka dan online; 3. Pemberian solusi kontekstual dalam menyelesaikan pemasalahan yang dihadapi saat implementasi kurikulum 2013 disekolah masing-masing 4. Penciptaan budaya mutu sekolah melalui penerapan kurikulum secara inovatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Dengan upaya yang dilakukan tersebut diharapkan Pendidik dan tenaga kependidikan secara keseluruhan dapat memahami Kebijakan Pemerintah dan mampu memecahkan masalah implementasi Kurikulum 2013, serta menguasai prinsip, program, strategi dan mekanisme implementasi Kurikulum 2013 serta mampu merefleksi dan memperbaiki pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Salah satu hal pokok dalam penerapan Kurikulum 2013 adalah bagaimana guru mampu menerapkan model dengan pendekatan saintifik (scientific approach) dan pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student center) serta menekankan pada pembelajaran siswa aktif dengan di terapkannya model Pembelajaran penemuan (Discovery Learning), Pembelajaran berbasis proyek (Project base learning) serta pembelajaran berbasis Pemecahan masalah (Problem base learning). Kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa yang sebenarnya sudah

dikenal sejak akhir 1980-an dulu dikenal dengan istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Dan sampai kini, model serta pendekatan CBSA sebenarnya masih menjadi perhatian utama. Tapi sampai di mana praktik itu mencapai tujuan hakikinya?. Siswa aktif itu seperti apa? Bagaimana siswanya mau aktif, kalau gurunya belum mempunyai motivasi diri untuk merubah Kegiatan Belajar Mengajar yang mengarah pada pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan belajar secara totalitas dan hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi pendidik dan tenaga kependidikan khususnya guru. Adengan demikan guru harus mempunyai komitmen dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya untuk benar-benar mengembangkan aspek empat dimensi kompetensi guru yaitu kompetensi Profesional, pedagogic , kepribadian dan sosial. Dari kondisi tersebut saat ini yang diperlukan adalah optimalisasi peran guru, selain itu juga partisipasi dan keterlibatan semua komponen masyarakat. Dunia pendidikan harus fokus mengerahkan sumber daya kependidikan untuk melaksanakan implementasi kurikulum 2013 ini. Segala sumber daya harus dikelola sesuai kaidah-kaidah pedagogik dan ilmiah. Guru harus mengikuti perubahan dengan mengubah pola pikir terbuka terhadap perubahan saat ini. Guru wajib mengikuti atau disertakan dalam program pelatihan dan pengembangan profesi yang bersifat periodik. Guru dan tenaga kependidikan hendaknya dapat mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar-seminar, maupun kunjungan studi. Guru secara pribadi, dan sekolah secara kelembagaan, harus mencari solusi dan langkah-langkah strategis agar guru dapat mengikuti berbagai program peningkatan pengetahuan dan keterampilan guna menunjang pembelajaran. Guru secara pribadi juga harus mempunyai motivasi berprestasi untuk mengembangkan potensi dirinya. Tantangan lainnya dapal pelaksanaan Kurikulun 2013 bahwa guru juga perlu menambah durasi membaca buku atau hasil-hasil penelitian tentang pembelajaran dan pendidikan atau mengkaji penelitian tindakan kelas (Classroom action research). Kurikulum baru akan diimplementasikan, mulai tahun pelajaran 2013/2014 dan implemenrtasinya akan dilakukan secara bertahap untuk kelas-kelas awal. Dan khusus di tingkat SD, termasuk kelas IV. Ini untuk menyesuaikan dengan kondisi Pembelajaran siswa. Implementasi Pelaksanaan Kurikulum 2013 merupakan Tantangan dan bagian dari upaya perbaikan kondisi pendidikan di Indonesia, dan kurikulum 2013 ini di harapkan akan mampu menjadi pedoman pendidikan di tanah air. Saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melakukan berbagai sosialisasi. Berbagai persiapan, seperti penyiapan pelatihan guru, buku pegangan guru, buku paket untuk siswa , dan sebagainya. Disadari bahwa guru merupakan kunci utama keberhasilan proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, harapan keberhasilan pendidikan sering dibebankan pada guru. Salah satu hal mendasar yang penting disikapi oleh guru adalah kesiapan mental terhadap perubahan yang terjadi saat ini. Guru tidak boleh terjebak dalam rutinitas dan

formalitas. Masih banyak guru yang enggan mengupdate informasi atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait profesi. Di lapangan masih banyak guru yang belum selesai dengan urusannya sendiri. Masih sibuk untuk hal-hal yang di luar konteks menciptakan pembelajaran yang efektif. Globalisasi telah menembus batas-batas ruang dan waktu. Dinamika yang demikian cepat di bidang teknologi dan informasi, menuntut tindakan antisipasi dan adaptasi yang cepat. Perkembangan sosial budaya, pengetahuan, teknologi, telah membawa kehidupan siswa pada suatu tahapan kehidupan yang lebih cepat dari usianya. Substansi suatu kurikulum adalah program pendidikan yang bertujuan membentuk siswa berkarakter, bertanggung jawab, pantang menyerah, dan tertanam jiwa nasionalisme. Penerapan kurikulum 2013 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk mewujudkan cita-cita pendidikan. Tenaga pendidikan dan kependidikan ditantang untuk menjembatani kondisi ideal dan kondisi nyata dunia pendidikan. Rencana perubahan kurikulum nasional yang akan dimulai tahun 2013 ini menjadi pembicaraan hangat di kalangan praktisi pendidikan. Pro dan kontra menghinggap di sistem Kurikulum 2013, bahkan perubahan kurikulum ini pun diragukan dapat mengubah kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Meski terus ditolak mentah-mentah, pemerintah nampaknya maju terus. Masyarakat memandang kurikulum belum membawa perubahan besar terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku serta keterampilan dan kreativitas anak sekolah. Dimulai dengan diadakannya uji publik dan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lain di seluruh Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) percaya diri sistem tersebut akan berhasil. Tujuan dari dirombaknya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 ini sebenarnya cukup baik yaitu untuk membangkitkan kemampuan nalar dan kreativitas anak didik secara merata karena di dalam content Kurikulum 2013 stressing nya lebih banyak kepada penggalian kompetensi siswa secara akademik (Hard skill) dan pengembangan nilai nilai sikap, serta penggalian potensi keterampilan. Tekanan pokok dalam kurikulum baru ini adalah model pembelajaran tematik dan penguatan pada pembangunan karakter. Pendidikan tematik dan karakter ini akan banyak difokuskan pada pendidikan dasar (SD). Pada akhirnya, untuk pendidikan SD, ada pemadatan mata pelajaran. Mata pelajaran IPA dan IPS akan teringtegrasi dengan mata pelajaran lain berdasarkan tematiknya. Contohnya pengetahuan soal air pada IPA akan diintegralkan dengan tema pembahasan air pada mata pelajaran PKn, Bahasa Indonesia maupun agama. Integrasi mata pelajaran dan pendidikan karakter yang ditawarkan dalam kurikulum 2013 sebenarnya bukan hal yang baru. Pengintegrasian beberapa mata pelajaran telah dilaksanakan meskipun tidak tersusun secara sistematis dan mungkin tidak semua sekolah melaksanakannya. Pendidikan karakter bahkan bukan merupakan wacana baru dalam sistem pendidikan, karena esensi pendidikan salah satunya adalah untuk membentuk karakter bangsa. Meskipun demikian, pembelajaran tematik dan karakter ini lebih sering berhenti

dalam tataran wacana dan konsep saja. Di tataran praktek konsep tersebut berbanding terbalik. Selama ini, fokus kurikulum masih pada aspek kognitif, sementara aspek afektif tidak terlalu diperhatikan. Setidaknya ada dua faktor besar sebagai penentu keberhasilan Kurikulum 2013 ini. Faktor pertama adalah adanya kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dengan kurikulum dan buku teks. Faktor ini sangat penting karena pendidik harus tahu benar apa dan bagaimana yang akan diajarkan kepada para siswa. Kedua, faktor pendukung yang terdiri dari tiga unsur, yakni ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum, peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan, serta penguatan manajemen dan budaya sekolah. Banyak hal yang menjadi kendala yang menjadi bagian dari penerapan Kurikulum 2013 misalnya penghapusan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) dan pengurangan jam pelajaran bahasa Inggris menimbulkan aksi reaksioner di kalangan guru yang bersangkutan. Tidak salah jika sikap demikian muncul, karena di era globalisasi dan teknologi yang tidak terbatas ini dua mata pelajaran tersebut dipangkas bahkan dihilangkan. Pemerintah berdalih bahwa tidak ada penghapusan mata pelajaran namun diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Pihak kemendikbud juga memiliki asumsi bahwa teknologi khususnya komputer bisa dipelajari dimana saja. Memang benar komputer bisa dipelajari tanpa harus masuk dalam kurikulum, namun tanpa arahan yang baik dari guru, dikhawatirkan efek negatif akan lebih besar daripada positifnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan ditangani langsung oleh pemerintah di satu sisi meringankan kinerja guru. Guru akan lebih fokus dalam mengajar tanpa disibukkan oleh beban membuat RPP yang banyak menyita waktu. Sisi negatifnya dan ini mungkin yang akan terjadi nanti, guru hanya akan menjadi pelaksana dari pemerintah dan mengurangi kreativitas guru dalam mengembangkan pelajaran sesuai dengan kondisi anak di kelas. Guru merupakan orang yang terlibat dan mengerti langsung bagaimana kondisi anak didik mereka, sementara pemerintah tidak terjun langsung di lapangan. Dengan demikian pemangku kepentingan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 harus lebih cermat dalam menyusun perangkat mengajar bagi sekolah. Akan lebih baik jika perangkat mengajar yang diterbitkan oleh pemerintah nantinya memberikan keleluasaan kepada guru untuk mengembangkan sesuai dengan kondisi di lapangan. Guru merupakan ujung tombak penerapan kurikulum. Guru diharapkan bisa menyiapkan dan membuka diri terhadap beberapa kemungkinan terjadinya perubahan. Kesiapan guru pun lebih penting daripada pengembangan Kurikulum 2013. Pada diri guru, sedikitnya ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan Kurikulum 2013, yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi akademik (keilmuan), kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Guru yang kurang mengembangkan diri atau tidak berkualitas dianggap sulit bisa melahirkan lulusan yang kompeten. Apalagi, keberadaan guru tidak bisa digantikan oleh faktor lain sehingga untuk meningkatkan mutu pendidikan, upaya-upaya peningkatan kualitas guru harus selalu dilakukan secara terus menerus tanpa henti.

Posisi guru yang sedemikian strategis itu, maka di akhir-akhir ini, mereka mendapatkan perhatian serius. Sebagai bagian peningkatan kualitas itu, guru disertifikasi. Guru profesional harus bersertifikat, itulah tekadnya. Atas dasar sertifikasi itu, mereka berhak diberi tunjangan profesional. Tunjangan dimaksud juga sudah diberikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, keluhan bahwa guru berpendapatan rendah sudah tidak terdengar lagi. Kenyataan itu menunjukkan bahwa sertifikasi dan juga peningkatan kesejahteraan guru lewat tunjangan profesi tidak serta merta berhasil meningkatkan kompetensi guru. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan selalu tidak sederhana. Selain itu untuk menentukan kualitas guru juga tidak semudah yang dibayangkan. Bekal guru tidak saja berupa pengetahuan dan ketrampilan mengajar, melainkan juga ada faktor lain seperti etos, integritas, tanggung jawab dan kecintaan terhadap profesi. Dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan disadari satu kebenaran fundamental, yakni bahwa kunci keberhasilan mempersiapkan dan menciptakan guru-guru yang profesional, yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab yang baru untuk merencanakan pendidikan di masa depan. Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan, terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung di ruang-ruang kelas. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru memegang peran yang penting. Guru adalah kreator proses belajar mengajar. Dia adalah orang yang bisa mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Guru akan berperan sebagai model bagi anak didik. Kebesaran jiwa, wawasan dan pengetahuan guru atas perkembangan masyarakatnya akan mengantarkan para siswa untuk dapat berpikir melewati batas-batas kekinian, berpikir untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Tugas utama guru adalah mengembangkan potensi siswa secara maksimal lewat penyajian mata pelajaran. Setiap mata pelajaran, dibalik materi yang dapat disajikan secara jelas, memiliki nilai dan karakteristik tertentu yang mendasari materi itu sendiri. Oleh karena itu, pada hakekatnya setiap guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran harus menyadari sepenuhnya bahwa seiring menyampaikan materi pelajaran, ia harus pula mengembangkan watak dan sifat yang mendasari dalam mata pelajaran itu sendiri. Materi pelajaran dan aplikasi nitai-nilai terkandung dalam mata pelajaran tersebut senantiasa berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Agar guru senantiasa dapat menyesuaikan dan mengarahkan perkembangan, maka guru harus memperbaharui dan meningkatkan ilmu pengetahuan yang dipelajari secara terus menerus. Dengan kata lain, diperlukan adanya pembinaan yang sistematis dan terencana bagi para guru. Peningkatan keterampilan, pengetahuan dan perubahan sikap secara holistik dari peserta didik diharapkan akan muncul dengan sistem kurikulum baru ini. Semua

harapan tersebut tidak akan tercapai jika semua elemen pendidikan tidak bekerja secara maksimal. Terlepas dari pro-kontra dan kekurangan yang ada, kita semua berharap agar kurikulum 2013 bisa memberikan harapan baru yang lebih baik bagi dunia pendidikan Indonesia. Keseriusan Pemerintah terlihat dalam menyiapkan dan mematangkan konsep kurikulum, mengembangkan silabus, menyiapkan (menulis dan mencetak) dan mendistribusikan buku teks atau bahan ajar baik berkenaan dengan buku peserta didik maupun buku pegangan guru, menyiapkan nara sumber untuk semua level, dan menentukan jumlah, memilih dan menatar guru, kepala sekolah dan pengawas. Di samping itu upaya penting yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu membangun dan menjaga jaringan dan kerja sama yang sinergis dengan semua stakeholder, terutama dinas pendidikan, Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK), dan organisasi profesi, serta yayasan penyelenggara pendidikan, sehingga dapat memperlancar proses implementasi kurikulum. Untuk menuntaskan implementasi kurikulum 2013, pemerintah terus berkewajiban mengawal implementasi kurikulum secara tuntas, melanjutkan penulisan, pengadaan dan pendistribusian buku kelas atasnya, dengan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, di samping melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 di lapangan dan selalu terbuka terhadap feedback dari semua kalangan. Pengembang kurikulum harus mengawal penulisan buku teks dan buku penunjang, serta sub sistem pendidikan dan pembelajaran lainnya. Pengembang kurikulum 2013 bertanggung jawab pula untuk mendeseminasikan kurikulum di sekolah, sehingga terbangun common vision. Dengan begitu diharapkan kita bisa terhindar dari distorsi dan pembiasan implementasi kurikulum, sehingga pelaksanan praktek pendidikan dan pembelajaran di kelas tetap terkendali. Dalam posisi ini pengembang kurikulum memainkan peran sebagai pengarah dan mediator implementasi kurikulum, di samping pengembang kurikulum yang mengetahui hakikat pelaksanaan kurikulum 2013. Guru pada hakekatnya memiliki peran yang sangat strategis dalam mengawal implementasi kurikulum di lapangan. Berdasarkan hasil banyak penelitian, guru memiliki sumbangan yang terbesar secara signifikan dalam implementasi kurikulum. Hal ini dibuktikan bahwa selama ini dokumen kurikulum secara nasional sama, namun pada prakteknya ada sekolah yang masuk katagori unggul, rata-rata, dan rendah. Diferensiasi katagori ini sangat diyakini berkaitan erat dengan kualitas kinerja guru dan kepemimpinan kepala sekolah. Menyadari akan pentingnya posisi guru dan kepala sekolah, maka kerapihan diseminasi kurikulum terhadap guru dan kepala sekolah perlu diupayakan secara optimal. Untuk menjamin guru tetap terjaga komitmennya dalam memainkan perannya sebagai pengembang kurikulum di kelas (curriculum developer in the classroom), kiranya guru perlu dilindungi keamanannya untuk dapat memberikan keteladanan akhlaq yang mulia dan budi pekerti, menciptakan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya, di samping diberikan insentif yang memadai. Demikian pula untuk menjamin kepala sekolah dapat menegakkan kepemimpinan akademiknya, perlu

dilindungi posisinya, sehingga mereka memiliki keberanian membuat keputusan yangvisioner. Kompleksitas persoalan pendidikan, terutama kurikulum untuk pendidikan dasar dan menengah yang tidak pernah berakhir, bahkan disinyalir akan semakin menantang di kemudian hari. Untuk itu pelaksanaan implementasi Kurikulum 2013 menjadi tantangan bagi pendidik dan tenaga kependidikan, dan pada pelaksanaannya harus di sesuaikan dengan rambu-rambu pelaksanaan nya karena akan berdampak terhadap kualitas lulusan. Dengan demikain Tantangan tantangan pada pelaksanaan implementasi Kurikulum 2013 dapat diatasi guna menghasilkan lulusan atau generasi penerus Indonesia yang lebih baik.
Diposkan oleh nasarudin taufik di 12/17/2013

15 Juli 2013

Tajuk Rencana

Abakadabra, Kurikulum 2013!


0 0

Bermula dari keinginan mengevaluasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), di tengah jalan tiba-tiba berbelok haluan ingin mengubah total Kurikulum 2006 itu. Hari ini, 6.325 sekolah jenjang SD/ MI sampai SMA/ SMK di seluruh provinsi di Jawa Tengah 881 sekolah dan 295 kabupaten/ kota dijadikan uji coba Kurikulum 2013. Kendati hanya 5 persen dari total sekolah di Tanah Air dan berstatus pilot project, namun gaungnya disetting sebagai implementasi kurikulum bermuatan utama pendidikan karakter itu. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memilih awal Tahun Ajaran 2013/ 2014 sebagai momentum untuk memulai dengan apa yang disebut sebagai perubahan besar dan mendasar. Abakadabra! Perubahan dari meng-evaluasi menjadi membuat kurikulum baru, begitu cepat, kurang dari dua tahun. Sejumlah pihak menilai kritik Wakil Presiden Boediono terhadap sistem pendidikan kita, membuat gerah Mendikbud M Nuh. Alhasil, lahirlah kurikulum baru dari persiapan dan perencanaan yang serbamepet. Proses pembelajaran diubah dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu. Dari proses penilaian berbasis output ke proses. Kreativitas pembelajaran dioptimalkan, sehingga anak-anak kreatif dan mandiri, lebih peka terhadap lingkungan dengan strategi belajar di ruang kelas dan lingkungan masyarakat. Anakanak juga lebih kritis, daya nalar diasah melalui pembelajaran eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi; selanjutnya mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Konsekuensinya, dituntut skill luar biasa para guru. Ini kendala pelaksanaan Kurikulum KTSP 2006. Kala itu, KTSP juga memberikan keleluasaan guru untuk mengembangkan kreativitas, namun nihil. Publik pun pesimistis, mengingat tuntutan kali ini jauh lebih berat. Guru bukan hanya dituntut kreatif dan inovatif, tetapi juga memiliki kemampuan mengintegrasikan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill) dalam setiap pembelajaran. Persoalannya adalah waktu sosialisasi yang mepet. Kita hebat dalam merancang, namun lemah dalam implementasi. Seolah-olah lupa, kurikulum sehebat apa pun tidak membawa hasil tanpa guru berkualitas. Kebutuhan guru berkualitas mutlak, namun realitasnya hanya 42 persen guru yang dinilai bermutu. Hasil pelatihan instruktur kurikulum baru juga belum optimal; guru kurang memahami konsep kurikulum, substansi bidang studi, dan integrasi berbagai keterampilan pada mata pelajaran. Bagaimana dengan anggaran besar untuk pelatihan? Integrasi pendidikan dan pembentukan karakter sejatinya mengacaukan konsep Kurikulum 2013 yang mencampuradukan antara tugas utama sekolah dan masyarakat. Namun konsep ini bisa kita pahami sebagai ikhtiar yang meyakini pendidikan sebagai obat mujarab keberhasilan seseorang 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosi (ESQ), dan hanya 20 persen kecerdasan otak (IQ) untuk menyembuhkan berbagai penyakit serius bangsa. Pelaksanaan misi sulit ini jelas butuh kesungguhan.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/07/15/230952/AbakadabraKurikulum-2013

07 Oktober 2013 | 07:36 wib | Nasional Kurikulum 2013 Bertujuan untuk Hadapi Tantangan Global YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Dirjen Dikdas Kemdikbud periode 2010-2013 Prof Suyanto mengungkapkan, manfaat perubahan kurikulum sebagai penataan perbukuan, penataan LPTK, penataan pelatihan guru, memperkuat budaya sekolah, memperkuat integrasi pengetahuan, dan budaya. Selain itu, Kurikulum 2013 tentunya bertujuan untuk menghadapi tantangan global, karena kurikulum berkaitan dengan standar isi. Ditambahkan, tujuan kurikulum 2013 adalah menghasilkan siswa yang selalu bertanya akan sesuatu hal atau meningkatkan jiwa kritis dalam diri siswa. "Sementara dasar kurikum 2013 adalah attitude dan aktualisasi diri. Disampaikan juga bahwa sistem penilaian kurikulum tidak hanya dinilai dari guru dan siswa, namun pemerintah dan sekolah mempunyai fungsi yang signifikan untuk keefektififan kurikulum 2013," katanya dalam seminar nasional dalam rangka Dies Natalies Fakultas ILmu Sosial (FIS) UNY. Ditambahkan, Perbedaan mendasar dari kurikulum 2013 dengan kurikulum yang lain adalah kreativitas menjadi ciri utama kurikulum 2013. Selain itu, Prof Suyanto juga mengatakan bahwa seorang guru juga harus menjadi motivator siswa. Di sisi lain, dosen FIS UNY, Mukminan menyampaikan, perbaikan kurikulum adalah perjalanan panjang menuju perbaikan kualitas pendidikan. Dia menambahkan kerangka kualifikasi kurikulum nasional Indonesia ada sembilan jenjang dengan karaktersitiknya. "Setiap PT harus segera merumuskan kurikulum Prodi yang ber-KKNI karena itu akan menjadi rujukan kurikulum 2013. Selain itu kita juga tidak boleh mengabaikan pertimbangan-pertimbangan domain kognitif, afektif, dan psikomotorik juga menjadi perhatian," katanya. Ditambahkan, dalam menyongsong kurikulum 2013 yang harus dibaca selain PP no 19 adalah PP no 12 dan UU no 20. Hingga saat ini menurutnya, payung hukum untuk kurikulum 2013 masih dimatangkan. ( Bambang Unjianto / CN26 / SMNetwork ) http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2013/10/07/174798

06 Februari 2014 | 20:55 wib | Suara Kedu & DIY Belum Semua Guru Paham Kurikulum 2013 TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Kendati kurikulum 2013 akan segera diterapkan untuk seluruh sekolahan pada tahun ajaran 2014/2015, mulai Juli mendatang, namun sampai saat ini, belum semua guru paham mengenai kurikulum tersebut. Karena itu, musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) IPS SMP di Kabupaten Temanggung berinisiatif menggelar pendidikan dan latihan (diklat) kurikulum 2013. Ketua Panitia Penyelenggara Diklat Kurikulum 2013, Tri Murwati, di sela-sela pelaksanaan diklat tersebut, di aula SMP 1 Temanggung, Kamis (6/2), mengakui, baru sebagaian guru yang paham kurikulum 2013, beserta cara penilaian kepada peserta didik peserta pembelajaran dengan metode kurikulum 2013. "Sebagaian besar guru masih blank (kosong, red) pengetahuan dan pemahamannya terhadap kurikulum 2013 ini. Sebagaian lagi sudah paham karena pernah mengikuti pelatihan atau merupakan guru beberapa sekolah yang ditunjuk menerapkan kurikulum 2013, sejak tahun ajaran 2013 lalu," tuturnya. Diungkapkannya, sebetulnya telah banyak petunjuk pelaksanaan kurikulum 2013 tersebut, seperti berupa peraturan menteri pendidikan, peraturan pemerintah, dan juklak lainnya. Namun demikian, hanya belajar dari juklak-juklak itu saja tidak cukup untuk memahami cara penerapan dan pelaksanaan kurikulum 2013 dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. "Hanya membaca juklah saja masih belum cukup, karena untuk penerapan kurikulum 2013 itu perlu pemahaman dan penerjemahan, sekaligus belajar dengan cara praktek," ujarnya. Menurutnya, sampai dengan saat ini, terutama guru IPS SMP di Kabupaten Temanggung, baru sebagian yang pernah mengikuti diklat kurikulum 2013. Karena itu, baru sebagaian guru pula yang memahami kurikulum tersebut, termasuk berkait cara penilaian peserta didik dengan metode kurikulum 2013. "Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung hingga kini juga belum mengadakan diklat mengenai kurikulum 2013 secara umum untuk para guru," tambahnya.

Adapun SMP di Kabupaten Temanggung yang ditunjuk melaksanakan kurikulum 2013 sejak 2013, sehingga para gurunya diperkirakan telah lebih dahulu memahami kurikulum tersebut, ada enam sekolahan. Yakni, SMP 1, SMP 2 dan SMP 6 Temanggung. Kemudian, SMP 1 Parakan, SMP 1 Ngadirejo, dan SMP 2 Kedu.

Berkait dengan pelaksanaan diklat oleh MGMP IPS tersebut, Tri Murwati, mengatakan, kegiatan tersebut diikuti 115 guru IPS dari seluruh SMP dan MTs di Kabupaten Temanggung. Selain hari ini, para peserta juga akan mengikuti dua sesi materi lagi, yakni pada tanggal 13 dan 20 Februari mendatang. "Para guru cukup antusias mengikuti diklat ini, sebab dari target jumlah peserta 100 orang, ternyata yang mendaftar hingga 115 orang. Ini juga sekaligus merupakan bukti, para guru ingin mengetahui secara mendalam kurikulum 2013," tuturnya. Kurikulum 2013 itu sendiri diterapkan untuk menggantikan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006, yang selama dipakai sekolahan-sekolahan di Indonesia. ( Henry Sofyan / CN38 / SMNetwork )
http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/02/06/190055

27 Desember 2013 Pemahaman Guru Rendah, Tantangan Kurikulum 2013 POLEMIK dan pro-kontra Kurikulum 2013 reda seiring dengan diterapkannya kurikulum baru tersebut sejak awal tahun ajaran 2013/2014. Meskipun di lapangan baru beberapa sekolah yang menerapkan kurikulum tersebut. Dari data yang ada, jumlah sekolah tersebut masih sangat minim, yakni 2% (2.598 SD), 4% (1.436 SMP), 10% (11.629 SMA), dan 10% (10.628 SMK). Dalam implementasi awal, pemerintah sepertinya memiliki strategi khusus, yakni dengan cara memilih atau menunjuk sekolah-sekolah terbaik untuk dijadikan percontohan. Jika itu yang dilakukan, maka kekhawatiran pemerintah akan kegagalan bisa ditampik. Sekolahsekolah yang ditunjuk adalah sekolah yang memiliki sarana-prasarana serta infrastruktur memadai. Kualitas dan mutu guru di sekolah juga menjadi pertimbangan utama. Karena itu, keberhasilan menjadi hal yang wajar. Namun, apakah penerapan kurikulum tersebut akan berjalan lancar jika diterapkan di sekolah-sekolah yang kurang baik dari sisi fasilitas maupun mutu pendidik? Hal itu yang masih menjadi pekerjaan rumah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Perbaikan Strategi menunjuk sekolah-sekolah bermutu membuahkan hasil. Laporan dan evaluasi sementara yang diberikan kepada Komisi X DPR beberapa waktu lalu menunjukkan, implementasi Kurikulum 2013 memberikan perbaikan dalam sistem pendidikan. Sensus pelaksanaan Kurikulum 2013 yang dilakukan kepada guru, kepala sekolah, pengawas, serta orang tua siswa menghasilkan sinyal positif. Sebagai contoh, 77,46% guru SD yang telah mengajar dengan kurikulum baru menyatakan telah memahami pendekatan tematik. Lebih dari 80% guru SD dan SMP menyatakan, Kurikulum 2013 efektif membentuk karakter siswa. Lalu 73,49% guru SD dan SMP menyatakan pemahamannya terhadap pendekatan saintifik. Kemdikbud juga menyimpulkan, penerapan Kurikulum 2013 kepada siswa SD dan SMP memberikan pengaruh yang baik dalam pembentukan karakter, keaktifan, proses belajar, kreativitas, pola pikir, dan budaya membaca. Untuk siswa SMA/SMK, pemerintah

berkesimpulan, penerapan kurikulum tersebut menjadikan proses pembelajaran yang lebih interaktif, sehingga memberikan dampak positif dalam menumbuhkan produktivitas, keaktifan, karakter siswa yang lebih positif, dan perubahan pola pikir. Tidak hanya kepada peserta didik, kementerian juga mengambil kesimpulan, bahwa diterapkannya kurikulum tersebut menuntut guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kemampuan untuk mengintegrasikan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah, dan membangun karakter anak. Selain itu, memengaruhi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran. Pada dasarnya, poin-pion tersebut yang menjadi tujuan dari pengembangan kurikulum. Jika hal itu benar-benar terjadi, diharapkan bisa membangkitkan kembali gairah dan semangat pendidikan di Indonesia yang sedang merosot. Merosot Kemerosotan mutu dan sistem pendidikan terbukti dari hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2012. Dari 65 negara anggota PISA, pendidikan Indonesia berada di bawah peringkat 64. Hasil PISA menunjukkan bahwa skor ujian literasi ujian Matematika pelajar Indonesia berada di peringkat 64. Skor literasi membaca 396 dengan ranking 61 dan skor literasi Sains 382 di peringkat 64. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan yang juga sebagai Ketua Tim Penyusun Kurikulum 2013, Musliar Kasim, kepada Suara Merdeka mengakui, sistem pendidikan Indonesia jauh tertinggal dengan negara lain. Dia berpendapat, pola pendidikan yang selama ini ada hanya mengandalkan anak untuk menghafal. Pola pendidikan dan kurikulum lama yang menyebabkan Indonesia merosot. Karena itu, harus kita ubah. Hasil PISA menunjukkan kemampuan rendah, karena belum melaksanakan Kurikulum 2013, katanya. Melalui Kurikulum 2013 peserta didik tidak lagi dituntut untuk menghafal, akan tetapi lebih mengedepankan dan mengembangkan pola pikir serta daya analisis anak-anak. Dengan demikian, mereka bisa berpikir untuk memecahkan masalah, imbuhnya. Terkait dengan implementasi, dikatakan bahwa banyak sekolah dan daerah yang justru meminta untuk segera menerapkan kurikulum berbasis pendekatan saintifik tersebut. Seperti diketahui, mulai tahun depan kurikulum ini akan dilaksanakan secara masif di delapan

jenjang, yakni kelas I, II, IV, dan V SD, lalu kelas VII dan VIII SMP, serta X dan XI SMA/SMK. Penerapan Kurikulum 2013 sampai saat ini masih membutuhkan perbaikan, terutama pemahaman guru. Menurutnya, belum semua guru yang dilatih dan mengajar kurikulum baru sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu, pelatihan guru akan menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah. Apalagi pada 2014 pihaknya akan memberikan pelatihan kepada sekitar 1,3 juta guru yang tersebar di seluruh Indonesia. Sanggupkan pemerintah melakukan persiapan tersebut, mengingat faktanya saat ini pemahaman guru terhadap kurikulum baru belum memuaskan? Pemerintah hanya memiliki waktu paling lama satu semester untuk menciptakan tenaga-tenaga pendidik yang memahami Kurikulum 2013. Kita akan tetap meningkatkan persiapan terutama dalam segi pemahaman guru, karena belum sesuai yang kita harapkan. Satu semester cukup bagi 1,3 juta guru untuk ikut pelatihan, ungkapnya. Faktanya, memang belum semua guru mengetahui konsep dan perubahan kurikulum baru. Pemerintah seakan tidak mau ambil pusing dengan kenyataan itu. Keyakinan pemerintah adalah, para guru cukup diberi pelatihan beberapa jam untuk menerapkan Kurikulum 2013. Padahal, banyak perbedaan yang terjadi, mulai dari metode pembelajaran hingga sistem penilaian. Tidak apa-apa, itu karena mereka belum pernah dilatih. Kita yakinkan mereka bisa, ujar Musliar. Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen mengatakan, dari sisi kualitas pendidikan tidak mengalami kemajuan, justru cenderung merosot. Atas kenyataan tersebut, pemerintah sepertinya menganggap perubahan kurikulum menjadi cara tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, jika dilihat dari sisi konten, pendekatan, dan persiapan guru dalam memahami metode-metode kurikulum baru, tidak ada perubahan yang cukup bermakna dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dari sisi konten, dirinya melihat belum ada korelasi yang jelas, yang justru akan mengacaukan proses pembelajaran. Ini akan kacau kalau guru tidak diajari tentang perubahan yang mendasar. Perlu pelatihan terencana dan langkah terukur, sehingga guru bisa memiliki paradigma baru. Perencanaan seperti ini tidak terlihat, baik pelatihan guru maupun metodelogi pembelajaran baru, ungkapnya.

Karena itu, dia memprediksi Kurikulum 2013 tidak akan menimbulkan perubahan yang berarti. Kecuali kerepotan-kerepotan administratif saja, imbuhnya. Dengan tegas dia mengatakan, argumentasi yang sering diungkapkan oleh pemerintah bahwa Kurikulum 2013 akan membawa perubahan bagi masa depan adalah janji-janji yang muluk. Pasalnya, Kurikulum 2013 belum cukup memadai untuk dijadikan media perubahan. Untuk membuat perubahan, menurut Abduhzen, harus dengan pemetaan yang tengah dan akan dihadapi pada masa depan. Tujuan pemerintah mempersiapkan generasi emas pada 2045 melalui Kurikulum 2013 terlampau jauh. Bagaimanapun juga, pendidikan beserta sistemnya akan terus berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Menurut teori dan beberapa studi, masa depan perlu kemampuan mengolah informasi. Bukan hanya menyimpan fakta ilmu pengetahuan atau mengingat, tapi bagaimana mengolah itu menjadi penalaran yang aktual. Dalam arti, memecahkan problem kehidupan, tandasnya. Menurutnya, untuk menciptakan generasi emas yang didambakan, pemerintah harus melakukan sejumlah kajian dan persiapan secara mendalam. Kemudian harus bisa mengambil langkah dan kebijakan yang akan menimbulkan efek domino pada pengembangan sektor pendidikan. Jangan sampai impian generasi emas itu justru akan membuat gelembung besar yang dibayangkan gemilang, tapi karena tidak dikaji secara mendasar di mana titik menjadi penentu, maka perkembangan masa depan itu tidak serius, ungkapnya. Dia mencontohkan, sejak 2005 profesionalisme guru tidak pernah terjadi. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan, salah satunya tunjangan profesi. Artinya, kita sudah terjebak pada langkah yang salah. Karena itu, pemerintah tidak perlu terburu-buru, namun bisa mengambil langkah tepat dan strategis untuk berbagai perubahan, ujarnya. Terkait rencana implementasi yang akan dilakukan secara besar-besaran pada tahun ajaran 2014/2015 dan dituntaskan pada 2015/2016, tidak akan mengubah sistem pendidikan. Hal itu didasarkan pada sistem pelatihan yang diberikan kepada guru. Pola pelatihan TOT yang diterapkan tidak tertata dengan baik, sehingga keterampilan yang seharusnya diterapkan tidak akan terserap sampai kepada guru-guru sasaran. Pelatihan tetap akan menjadi ceramah seperti yang sudah-sudah. Beberapa keluhan guru mengatakan bahwa fasilitator hanya membanyol. Sangat tidak profesional, tutur Abduhzen. (Satrio Wicaksono-37)

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/12/27/247560

08 Nopember 2013 | 04:26 wib | Nasional Sekolah Diadang 10 Kendala Kurikulum 2013

SOLO, suaramerdeka.com - Berbagai kendala pelaksanaan Kurikulum 2013 mengemuka dalam Dialog bertema Kurikulum 2013 dan Ujian Nasional untuk Persiapan Global yang digelar Pusat Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta. Kepala SMAN 1 Surakarta HM Thoyibun mengemukakan, setidaknya terdapat 10 kendala pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMA yang dipimpinnya. ''Yang pertama adalah terlalu mepetnya pelaksanaan sosialisasi. Sebagai perbandingan, untuk pelaksanaan Kurikulum KTSP di SMAN 1, dua bulan sebelum tahun ajaran baru telah dilakukan persiapan dokumen maupun perangkat. Sementara untuk Kurikulum 2013, Sosialisasi dari Direktorat dilaksanakan pada 9 -13 Juli 2013. Padahal masuk tahun ajaran baru pada 15 Juli,'' katanya.

Metode Pembelajaran yang diharapkan pada kurikulum 2013 yaitu metode pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (scientific approach) yang merangsang siswa untuk menjadi peneliti. Namun perbedaan penafsiran pengertian scientific approach dan kurangnya contoh pembelajaran dengan metode ini di masing-masing mapel membuat pengajar bingung dalam pelaksanaan pembelajaran yang harus dilakukan. Thoyibun juga memaparkan mengenai kesulitan mengenai penilaian. Penilaian yang diharapkan pada kurikulum 2013 yaitu penilaian yang terintegrasi dari aspek pengetahuan , ketrampilan dan sikap. Namun pada penilaian sikap yang berkaitan observasi, penilaian diri , penilaian teman sejawat dan jurnal. Demikian halnya untuk penilaian antar mata pelajaran. wali kelas harus bersama-sama guru mapel membuat penilaian per individu siswa dan hal itu dikeluhkan sangat sulit oleh guruguru pelaksana.

Guru yang hanya mengajar 2 jam seminggu juga sangat sulit menilai per individu siswa mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap. ''Begitu begitu banyak rubrik dan komponen yang harus dinilai sehingga sangat rumit. Jika bisa disederhanakan akan sangat membantu,'' katanya. Kurikulum 2013 juga mensyaratkan peminatan atau penjurusan dilakukan pada saat siswa masuk kelas X. Kendalanya adalah, hampir semua siswa memilih peminatan IPA sedang yang memilih IPS tidak memenuhi kelas. Hal lain yang disampaikan yakni kurikulum baru yang mewajibkan siswa untuk mengambil mata pelajaran lintas minat sebagai pengayaan. Ia mencontohkan tentang siswa peminatan IPA bisa mengambil mata pelajaran dari peminatan IPS atau sebaliknya. Namun mapel lintas minat yang diharapkan untuk menyalurkan minat justru menjadi beban bagi siswa. ''Guru juga belum siap menerima perubahan karena kurangnya sosialisasi dan apatis dengan seringnya perubahan aturan-aturan,'' katanya. ( Evie Kusnindya / CN34 / SMNetwork ) http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2013/11/08/178749

11 Mei 2013 LENTERA Kurikulum 2013 dan Kreativitas Guru Oleh Sudaryanto KURIKULUM 2013 merupakan pengembangan Kuriku lum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis sejak tahun 2004. KBK telah melahirkan Kurikulum 2006 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Dengan kata lain, Ku rikulum 2013 merupakan kurikulum penyempurna dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Jika demikian, apa sajakah yang disempurnakan dari kurikulum saat ini? Menurut catatan penulis, ada dua hal yang disempurnakan dalam Kurikulum 2013. Pertama, standar kompetensi kelulusan lebih menitikberatkan pada sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kedua, standar proses melalui pengembangan tematik-integratif (SD/MI), mata pelajaran (SMP/MTs), mata pelajaran wajib dan pilihan (SMA/MA), dan mata pelajaran wajib, pilihan, dan vo kasi (SMK). Kedua hal itu terkait erat dengan persoalan iklim kreativitas para guru di sekolah. Selama ini, jujur diakui, iklim kreativitas para guru kita belum terwujud secara baik. Dari segi pembelajaran di kelas, umumnya para guru mengajar dengan me tode ceramah. Selama satu-dua jam para guru mengajar di kelas, selama itu pula mereka berceramah. Bisa Anda bayangkan, suasana pembelajaran di kelas tersebut akan terasa bosan, kaku, dan siswa sulit memahami isi materi pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Pada gilirannya, siswa pun te rus-menerus menjadi objek pendidikan yang harus disuapi beragam materi oleh guru. Se mentara itu, karena posisi siswa sebagai objek pendidikan, maka penilaian guru sebatas mengukur kompetensi pengetahuan (kognitif) semata. Padahal, dua kompetensi lainnya, yakni kompetensi sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) tetap penting digunakan dalam me nen tukan standar penilaian. Berpikir Kreatif Alih-alih mengukur kompe ten si sikap dan keterampilan, justru para guru umumnya meng abai kan dua hal tersebut. Dalam pembelajaran bermain drama di kelas XI SMA/MA, misalnya, para siswa tidak diajak untuk betul-betul bermain drama di tempat yang

representatif. Biasanya, para guru bahasa Indonesia di kelas XI SMA/MA melompati ma teri bermain drama dengan alasan tidak piawai atau tidak punya bakat bermain drama. Melalui artikel ini, penulis ingin mengajukan beberapa usul an agar Kurikulum 2013 dapat menumbuhkan kreativitas guru dan siswa. Pertama, pihak pim pinan sekolah/madrasah per lu mendorong para gurunya un tuk berpikir dan bertindak kreatif, terutama yang terkait dengan pro ses pembelajaran di kelas. Mi salnya, adanya kewajiban pa ra guru melaksanakan penelitian tindakan kelas per semester, dan pemberian insentif bagi para guru yang melaksanakannya. Kedua, keberhasilan (atau ke gagalan) implementasi Kuri ku lum 2013 juga didukung oleh pe ran aktif dan kreatif siswa, baik da lam kegiatan kokurikuler, intra ku rikuler, maupun ekstra ku ri kuler. Harapannya, peran aktif dan kreatif siswa (yang didukung oleh orang tua) dapat mengarahkan mereka dalam memiliki kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara mum puni. Jika itu terwujud, kelak harapan Mendikbud di atas bukan mimpi di siang bolong. (24)

Sudaryanto MPd, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD Yogya kar ta; penulis buku Guru Bukan Tukang Mengajar (2012). http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/05/11/224367

15 Desember 2011 LENTERA Memaknai Pendidikan Berkarakter

Oleh Ahmad Ahid Mudayana

PENDIDIKAN merupakan pilar penting dalam pembangunan bangsa. Tidak mengherankan apabila semua negara memberikan prioritas utama, termasuk Indonesia untuk kemajuan pendidikan. Indonesia menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan dengan harapan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Meskipun realisasi tersebut masih jauh dari harapan, karena 20% anggaran tidak murni untuk peningkatan kualitas pendidikan, sehingga tidak mengherankan kalau kita masih mendengar berita terkait bangunan sekolah yang rusak atau roboh. Kualitas pendidikan juga diukur dari proses pembentukan karakter dalam sistem pendidikan yang juga masih jauh dari kata memuaskan. Pendidikan karakter selalu menjadi topik utama didalam setiap diskusi pendidikan ataupun rencana perubahan kurikulum. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada formula yang tepat untuk merumuskan pendidikan berkarakter. Padahal, sudah banyak tokoh bangsa ini yang mencontohkan sistem pendidikan untuk membangun karakter siswa didik, seperti yang dilakukan KH Ahmad Dahlan dan HOS Cokro Aminoto. Perlu ada pelurusan tentang makna pendidikan berkarakter secara bersama-sama, agar tidak ada kesalahan dalam menafsirkan pendidikan karakter. Pendidikan berkarakter tidak hanya mengedepankan status sekolah atau perguruan tinggi, sehingga tidak memunculkan strata dalam pendidikan. Pendidikan berkarakter juga tidak hanya tentang memasukkan muatan lokal dalam kurikulum pendidikan, tetapi tentang bagaimana muatan lokal menjadi fondasi dasar dalam menjalankan sistem pendidikan, karena muatan-muatan lokal dalam kurikulum pendidikan memiliki filosofi kearifan budaya bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, sehingga mampu menumbuhkan karakter bagi peserta didik. Sistem pendidikan berkarakter seharusnya mampu menciptakan setiap peserta didik menjadi ing ngarso sing tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Allah SWT dalam

firman-Nya menyebutkan bahwa akan meninggikan derajat setiap umat-Nya yang memiliki dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. (37)

-- Ahmad Ahid Mudayana SKM MPH, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2011/12/15/170039

Kemendikbud: Kurikulum 2013 Dorong Siswa Lebih Kreatif


Sabtu, 23 Februari 2013 | 22:41 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kini sedang gencar melakukan sosialiasi kurikulum 2013 yang dinilai memiliki muatan pembelajaran yang mampu mendorong siswa lebih kreatif. "Untuk kurikulum sebelumnya, sisi kreativitas siswa ini kurang disentuh. Karenanya, dalam kurikulum 2013 yang akan diterapkan mulai tahun ajaran 2013/2014 akan lebih mendorong siswa untuk kreatif," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu Pendidik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Syamsul Gultom, usai memberikan sosialisasi di Kota Yogyakarta, Sabtu (23/2/2013). Menurut dia, kreativitas tersebut adalah modal yang harus dimiliki setiap siswa agar mampu mengikuti perkembangan zaman serta mencari solusi atas masalah yang dihadapinya. Berdasarkan penelitian, lanjut dia, kreativitas tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dan hanya ada sedikit pengaruh dari gen yang dimiliki. "Dua per tiga kreativitas ditentukan oleh pendidikan, dan hanya satu per tiga ditentukan oleh gen. Karenanya, pendidikan pun harus bisa ditujukan untuk mendorong siswa lebih kreatif," lanjutnya. Syamsul menambahkan, dalam kurikulum 2013 tersebut proses pembelajaran akan dilakukan secara holistik disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa sesuai jenjang sekolah. Perubahan yang cukup besar terjadi di jenjang sekolah dasar karena tidak akan menerapkan sistem mata pelajaran namun akan menerapkan program pembelajaran secara tematik. "Dalam metode pembelajaran tematik tersebut sudah mencakup berbagai mata pelajaran. Siswa diajak untuk mengenal ilmu dasarnya dulu," katanya. Pada tahun ajaran 2013/2014, metode pembelajaran tematik ini hanya akan dilakukan untuk siswa kelas 1 dan 4, sedang siswa kelas 2,3,5, dan 6 masih menggunakan kurikulum lama. Buku tematik pembelajaran untuk siswa SD sudah siap namun sedang dalam proses peninjauan oleh tim ahli. "Siswa SD yang lulus pada 2015 adalah siswa yang sudah menikmati kurikulum 2013 dengan sistem ujian kompetensi dasar. Ini yang diperlukan untuk siswa SD adalah penguasaan pada kompetensi dasar, tidak hanya pada hasil keluaran tetapi juga proses," katanya. Sementara itu, pemberlakuan kurikulum 2013 untuk jenjang SMP dan SMA/SMK akan dimulai untuk siswa kelas 1. "Metode pembelajaran untuk SMP dan SMA/SMK masih sama yaitu berdasarkan pada mata pelajaran," katanya.

Oleh karena itu, Syawal berharap guru dan sekolah tidak perlu khawatir untuk menerapkan kurikulum 2013 karena masih akan diberikan pendampingan baik dari kepala sekolah, pengawas dan guru inti. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Edy Heri Suasana mengatakan, sosialisasi kurikulum 2013 diikuti 504 peserta dai kepala SD, SMP, SMA dan SMK negeri dan swasta serta pengawas sekolah di Kota Yogyyakarta. "Dengan sosialisasi ini, guru dan sekolah diharapkan memiliki persiapan untuk menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru nanti," katanya. Selain kurikulum 2013, sekolah di Kota Yogyakarta juga akan mulai menerapkan kurikulum muatan lokal pada tahun ajaran mendatang.

Editor : Benny N Joewono

http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/23/22411819/Kemendikbud.Kurikulum.2013.Dorong.Sis wa.Lebih.Kreatif

SMK Ditantang Tingkatkan Mutu


Rabu, 23 November 2011 | 11:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kegiatan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK ke-19 tahun 2011 merupakan bagian dari upaya untuk terus meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan menengah kejuruan (SMK). Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang mampu merebut kesempatan memasuki dunia kerja atau dunia wirausaha. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengatakan, kesempatan memasuki dunia kerja atau berwirausaha sangat dipengaruhi oleh perubahan yang ditawarkan oleh perkembangan ekonomi yang saat ini didominasi oleh ekonomi yang berbasis pengetahuan, yaitu era ekonomi kreatif. Pada akhirnya akan menciptakan industri kreatif yang mengandalkan keunggulan budaya, seni, dan inovasi teknologi. Dunia pendidikan menengah kejuruan ditantang untuk dapat meningkatkan mutu dan relevansinya, agar dapat menghasilkan lulusan dengan profil ketenagakerjaan yang selaras dengan perkembangan era ekonomi kreatif," kata Hamid, dalam pembukaan LKS SMK ke-19 tingkat nasional, di Areal Parkir Timur Senayan, Jakarta, Selasa, (22/11/2011). Untuk itu, kata dia, pemerintah menetapkan tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan menengah kejuruan dalam konteks ekonomi. Caranya, dengan mempersiapkan siswa memeroleh penghasilan yang layak untuk kesejahteraan kehidupannya. Menurutnya, tamatan SMK harus memiliki kemampuan untuk ikut menggerakkan ekonomi kreatif, atau industri kreatif. Sehingga, siswa SMK harus dibekali dengan berbagai kecakapan, seperti inovasi, kreatifitas, kapabilitas teknologi, serta seni dan budaya. "Inilah karakter para siswa SMK yang harus kita tanamkan betul dan dibentuk, seiring dengan penanaman nilai-nilai kerja keras, menyukai tantangan dan kompetensi yang sehat, mandiri, bertanggungjawab, santun, dan cinta tanah air," ujarnya. Oleh karena itu, ia berharap LKS SMK dapat dijadikan sarana untuk berkompetisi, sarana untuk memajukan SMK, dan sarana untuk menanamkan karakter. Kita juga berharap LKS SMK ini dapat memacu dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran sebagai pengejawantahan dari program strategis peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan SMK sebagai penggerak ekonomi kreatif bangsa, kata Hamid.

Penulis : Indra Akuntono

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

http://travel.kompas.com/read/2011/11/23/1104260/SMK.Ditantang.Tingkatkan.Mutu?search=tant angan+lulusan+smk+ditahun+2014

Guru Diharapkan Lebih Inovatif dalam Mengajar


Rabu, 21 Maret 2012 | 12:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Marsudi Suud mengatakan, upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional terancam gagal. Pasalnya banyak tenaga pendidik yang enggan melakukan inovasi pada metode pembelajaran dan menguasai teknologi pendidikan. "Banyak guru yang kurang memahami cara berinovasi, itulah mengapa rencana pemerintah meningkatkan mutu pendidikan terancam gagal," kata Marsudi Suud dalam diskusi pendidikan bertajuk "Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Inovasi Teknologi Pendidikan, di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (21/3/2012). Ia menjelaskan, rendahnya pemahaman guru akan pentingnya inovasi pendidikan akhirnya melahirkan metode pembelajaran yang konvensional. Metode pembelajaran itu, dinilainya terlalu monoton, tidak kreatif dan tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Salah satu contohnya, kata dia, dapat terlihat dari pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Sejumlah daerah, khususnya daerah marjinal belum mampu menghasilkan nilai UN yang baik dan kredibel. "Kalau cara belajar mengajarnya monoton, siswa jadi ngantuk. Guru juga ikut-kutan ngantuk," ujarnya. Padahal, dia melanjutkan, sejarah telah mencatat jika metode pembelajaran seperti story telling (bercerita), penggunaan alat peraga dan metode pelajaran lain yang sejenis dapat memberikan hasil yang jauh lebih efektif. Termasuk dalam meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri. "Dalam sejarah, Rasul sebagai living legend of education itu banyak menjelaskan tentang bagaimana menciptakan pembelajaran yang baik. Guru harus bisa bercerita. Jika diperlukan, maka alat peraga menjadi wajib," pungkasnya.

Penulis : Indra Akuntono Editor : Lusia Kus Anna

http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/21/12313075/Guru.Diharapkan.Lebih.Inovatif.dalam.Me ngajar

Reformasi Pendidikan Harus Inovatif


Selasa, 11 Mei 2010 | 11:51 WIB

Dalam sambutannya pada puncak peringatan Hardiknas 2010 dihadiri oleh para guru dan siswa berprestasi nasional, Presiden juga mengingatkan agar pendidikan mampu melahirkan manusia berkarakter dan berpengetahuan. JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, reformasi bidang pendidikan harus terus ditindaklanjuti dengan menggunakan dua perspektif, yaitu mengembalikan pendidikan pada hakikatnya serta mengembangkan inovasi. Demikian diungkapkan Presiden di acara puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/5/2010. Presiden mengatakan, untuk mengembalikan pendidikan pada nilai-nilai dasarnya harus ditinjau kembali kurikulum, metodologi, serta sistem evaluasi, sedangkan untuk mengembangkan inovasi masa depan, anak didik harus dipacu mengembangkan keingintahuan intelektual dengan kebebasan berimaji konstruktif sebebas-bebasnya agar kreativitas dapat tumbuh dalam pikiran mereka. "Jangan guru berkata, murid mendengar. Harus diubah sehingga murid semakin aktif, diberi pekerjaan rumah untuk membangun imajinasi mereka. Biarkan mereka kreatif mencari-cari, mengarang-ngarang, tapi yang sifatnya konstruktif," ujar Presiden. Guna mempercepat perkembangan inovasi, Kepala Negara berharap Komite Inovasi Nasional akan dibentuk pada 20 Mei 2010 dapat segera bertugas bersama dengan masyarakat luas untuk mempercepat pertumbuhan inovasi di Indonesia. Dalam sambutannya pada puncak peringatan Hardiknas 2010 dihadiri oleh para guru dan siswa berprestasi nasional, Presiden juga mengingatkan agar pendidikan mampu melahirkan manusia berkarakter dan berpengetahuan. Menghadapi dunia global yang cepat sekali berubah, Kepala Negara mengingatkan agar modal sumber daya manusia harus terus ditingkatkan sehingga memiliki daya saing. "Kita bisa menyimpulkan mereka yang bisa survive dan menang, sukses, adalah mereka yang berpengetahuan dan berketerampilan di berbagai cabang profesi. Yang kedua adalah mereka yang berkarakter kuat," tutur Presiden. Manusia yang berkarakter, lanjut dia, juga harus memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme. Presiden dalam pidatonya mengingatkan semangat kebangsaan serta cinta tanah air yang mulai ditinggalkan untuk ditanamkan kepada para peserta didik. Presiden mengingatkan agar pendidikan juga dapat menghasilkan para siswa yang dapat mengerti bagaimana caranya menjadi warga negara yang baik.

Penulis :

LTF
Editor :

latief

http://female.kompas.com/read/2010/05/11/11512699/Reformasi.Pendidikan.Harus.Inovatif