Anda di halaman 1dari 10

2.1.

Kependudukan Penduduk Indonesia adalah Semua orang yang berdomisili di wilayah

geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau orang yang berdomisili kurang dari 6 bulan dengan bertujuan menetap. Pengertian lain dari penduduk yang dikemukakan oleh Srijanti dan A. Rahman dimana penduduk adalah orang yang mendiami suatu tempat dalam wilayah tertentu tanpa melihat status kewarganegaraan yang dianut oleh orang tersebut. Demografi atau yang sering disebut kependudukan mempelajari jumlah, struktur, komposisi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada penduduk pada suatu wilayah. Demografi mempelajari aspek kependudukan yang statis dan dinamis yang dimana saling mempengaruhi. Aspek statis berisi tentang komposisi dan distribusi penduduk beserta perubahan tiap tahunnya dari hasil sensus (cacah jiwa). Sementara itu, untuk aspek dinamis merupakan hal-hal yang mempengaruhi perubahan kependudukan yang terdiri dari kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan migrasi penduduk. Kependudukan bersifat analitis matematis, yang berarti analisis demografi didasarkan atas analisa kuantitatif. Pengetahuan mengenai demografi sangat bermanfaat untuk lembagalembaga swasta maupun pemerintah baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Perencanaan-perencanaan dibidang pendidikan, kesejahteraan sosial dan pembangunan infrastruktur, serta pengembangan daerah akan lebih tepat jika mempertimbangkan aspek kependudukan. A. Komposisi Penduduk Komposisi penduduk adalah penggolongan penduduk berdasarkan kriteriakriteria tertentu. Pengertian lain dari komposisi penduduk adalah penggambaran susunan penduduk menurut karakteristik-karakteristik yang sama (Said Rusli, 1983 dalam Mantra, 2000). Kriteria penduduk dapat digolongkan berdasarkan, 1. Jenis kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dibedakan menjadi

perempuan dan laki-laki. Biasanya komposisi penduduk ini dijadikan perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan di suatu daerah atau negara. 2. Kelompok umur

Komposisi penduduk menurut umur biasanya dikelompokkan dengan jejang 5 tahun hingga 10 tahunan. Penduduk usia 15 tahun kebawah digolongkan menjadi penduduk belum produktif, sedangkan penduduk produktif pada usia 15-64 tahun dan penduduk non produktif umur 65+. 3. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan merupakan salah satu ukuran untuk kualitas penduduk. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan semakin baik kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut. Tamat sekolah didefinisikan sebagai jenjang pendidikan yang telah berhasil diselesaikan oleh seseorang dengan dibuktikan adanya ijazah atau surat tanda tamat belajar. 4. Mata pencaharian Komposisi penduduk ini berdasarkan pekerjaan masing-masing penduduk yaitu seperti PNS, TNI, guru dan lain-lain. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat digunakan untuk melihat

kesejahteraan penduduk suatu wilayah. 5. Agama atau Keyakinan Dalam komposisi penduduk menurut agama penduduk dibagi sesuai dengan agama yang dianut. Seperti di Indonesia agama yang diakui pemerintah yaitu agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Budha. B. Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung. Angka pertumbuhan penduduk adalah tingkat pertambahan penduduk suatu wilayah atau negara dalam suatu jangka waktu tertentu, dinyatakan dalam persentase Nilai pertumbuhan penduduk (NPP). Faktor-faktor pertambahan penduduk Pertambahan penduduk pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor demografi yaitu, Kelahiran (Fertilitas), Kematian (Mortalitas), dan Migrasi (Mobilitas). Rumus pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun
P1= P0 + (B-D) + (I-O)

Keterangan :

P1 P0 B D I O

= Jumlah penduduk pada akhir tahun = Jumlah penduduk pada awal tahun = Jumlah kelahiran dalam tahun tersebut = Jumlah kematian dalam 1 tahun = Jumlah migrant masuk dalam tahun tersebut = Jumlah migrant masuk dalam tahun tersebut

(B-D) = Pertumbuhan penduduk alamiah (I-O) = Jumlah migran netto Rumus pertumbuhan penduduk secara alami
Pertumbuhan Penduduk Alami = CBR-CDR

Keterangan : CBR = Angka Kelahiran Kasar ( Crude Birth Rate)

CDR = Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate)

Rumus rasio pertambahan penduduk : r=

1.

Fertilitas (Kelahiran) Kelahiran merupakan peristiwa terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita

dengan memilki tanda-tanda kehidupan. Ada dua macam kemungkinan untuk melaksanakan pengukuran fertilitas, yaitu pengukuran fertilitas tahunan dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas kumulatif yaitu mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan hingga batas akhir usia subur. Pengukuran fertilitas kumulatif terdiri dari pengukuran tingkat fertilitas total, gross reproduction rates, dan net reproduction rates. Sedangkan pengukuran tingkat kelahiran tahunan adalah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut. a. Pengukuran fertilitas tahunan 1) Tingkat fertilisas kasar (Crude Birth Rate)

Tingkat fertilitas kasar adalah banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. Dalam ukuran CBR, jumlah kelahiran dikaitkan langsung dengan penduduk secara keseluruhan. CBR = Keterangan : CBR = Crude Birth Rate atau tingkat kelahiran kasar Pm K B = penduduk pertengahan tahun = bilangan konstan yang biasanya 1000 = jumlah kelahiran pada tahun tertentu

2) Tingkat fertilitas umum (General Fertility Rate) Tingkat fertilitas umum didefinisikan sebagai jumlah kelahiran (lahir hidup) per 1.000 wanita usia produktif (15-49 tahun) pada tahun tertentu. Pada tingkat fertilitas umum ini pada penyebutnya sudah tidak menggunakan jumlah penduduk pada pertengahan tahun, tetapi jumlah penduduk wanita pertengahan tahun umur 15-49 tahun. GFR = Keterangan: GFR B = tingkat fertilitas umum = jumlah kelahiran

Pf (15-49) = penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada tengah tahun k = bilangan konstan yang biasanya 1000 3) Tingkat fertilitas menurut umur (Age Specific Fertility) Diantara kelompok wanita reproduksi (15-49 tahun) terdapat variasi kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas wanita pada tiap-tiap kelompok umur. Dengan mengetahui angka-angka ini dapat pula dilakukan perbandingan fertilitas antar penduduk dari daerah yang berbeda. ASFRi = Keterangan: Bi = jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i

Pfi k

= jumlah perempuan kelompok umur i pada pertengahan tahun = bilangan konstan yang biasanya 1000

4) Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran (Birth Order Specific Fertility Rates) Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran sangat penting untuk mengukur tinggi rendahnya fertilitas suatu negara. Kemungkinan seorang istri menambah kelahiran tergantung pada jumlah anak yang telah

dilahirkannya. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. BOSFR = Keterangan: BOSFR = Birth Order Specific Fertility Rate Boi b. = jumlah kelahiran urutan ke i

Pf (15-49) = jumlah perempuan umur 15-49 tahun pada tengah tahun Pengukuran fertilitas kumulatif 1) Tingkat fertilitas total (Total Fertility Rates) Total Fertility Rate/ TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita sampai akhir masa reproduksinya. TFR = 5i ASFRi Keterangan: TFR
i

= Total Fertility Rates = penjumlahan tingkat fertilitas menurut umur = tingkat fertilitas menurut umur ke i dari kelompok berjenjang 5 tahunan

ASFRi

2) Gross Reproduction Rates Angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita selama masa hidupnya, dengan mengikuti pola fertilitas dan mortalitas yang sama seperti ibunya. Dalam reit reproduksi kasar (GRR) tidak memperhitungkan unsur kematian. GRR = 5i ASFRfi

Keterangan: GRR

= Gross Reproduction Rates = penjumlahan tingkat fertilitas menurut umur = tingkat fertilitas menurut umur ke i dari kelompok berjenjang 5 tahunan

ASFRfi 3) Net Reproduction Rates

Angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita selama hidupnya dan akan tetap hidup sampai dapat menggantikan kedudukan ibunya, dengan mengikuti pola fertilitas dan mortalitas yang sama seperti ibunya. Ukuran reproduksi neto memperhitungkan pula unsur kematian. NRR = 5i ASFRfi 2. Mortalitas (Kematian) Kematian merupakan peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen pada seseorang yang dapat terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Kematian tidak mungkin terjadi jika belum ada kehidupan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kematian, seperti faktor sosial, ekonomi, dan faktor kesehatan. Terdapat beberapa cara untuk mengukur tingkat kematian, seperti pengukuran tingkat kematian kasar, menurut umur dan jenis kelamin, kematian bayi, kematian anak, dan kematian anak di bawah lima tahun. Pengukuran tingkat kematian relatif lebih mudah dilakukan, karena hanya melibatkan satu orang saja pada prosesnya. Tinggi rendahnya tingkat kematian penduduk di suatu daerah, tidak hanya memepngaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi juga menjadi barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat di daerah tersebut (Mantra, 2000). a. Pengukuran data kematian penduduk 1) Tingkat kematian kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk yang dimana penduduk tua mempunyai

risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang muda. Angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah. CDR = Keterangan: D Pm k = jumlah kematian pada tahun tertentu = jumlah penduduk pada pertengahan tahun = bilangan konstan yang biasanya bernilai 1000

2) Tingkat kematian menurut umur dan jenis kelamin ASDRi = Keterangan: Di k = jumlah kematian pada kelompok umur i

Pmi = jumlah penduduk tengah tahun pada kelompok umur i = bilangan konstan yang biasanya bernilai 1000

3) Tingkat kematian bayi (Infant Mortality Rate) IMR = Keterangan: Do B k 3. = jumlah kematian bayi pada tahun tertentu = jumlah lahir hidup pada tahun tertentu = bilangan konstan yang biasanya bernilai 1000

Mobilitas (Migrasi) Mobiltas penduduk merupakan proses gerak penduduk (migrasi) dari suatu

wilayah menuju ke wilayah lain dalam jangka waktu tertentu. Mobilitas penduduk dibedakan atas migrasi masuk dan migrasi keluar, dimana untuk migrasi masuk merupakan pergerakan penduduk masuk ke dalam suatu wilayah, dan sebaliknya pada migrasi keluar. a. Angka Migrasi Masuk Angka migrasi masuk dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan: AMM = Angka migrasi masuk I Pm k b. = banyaknya penduduk yang melakukan migrasi masuk = Penduduk pertengahan tahun = bilangan konstan

Angka Migrasi Keluar Angka migrasi keluar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan: AMK = Angka Migrasi Keluar E Pm k c. = Jumlah Penduduk yang migrasi keluar = jumlah penduduk pertengahan tahun = bilangan konstan

Angka Migrasi Netto Angka Migrasi Netto dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan: AMN = Angka Migrasi Netto AMM = Angka Migrasi Masuk AMK = Angka Migrasi Keluar C. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Proyeksi penduduk adalah perhitungan jumlah penduduk masa yang akan datang berdasarkan jumlah penduduk sekarang. Proyeksi penduduk bukan merupakan ramalan jumlah penduduk tetapi suatu perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi dari komponen-komponen laju pertumbuhan penduduk. Proyeksi penduduk pada suatu wilayah dapat dilakukan dengan metode regresi linear, exponensial, dan cohort survival. 1. Regresi Linear Proyeksi penduduk dengan metode aritmatik mengasumsikan bahwa jumlah penduduk pada masa depan akan bertambah dengan jumlah yang sama setiap tahun. Formula yang digunakan pada metode proyeksi aritmatik adalah: Pn= Po(1+an)

Keterangan: Pn Po n a = penduduk tahun ke n = penduduk tahun awal = jumlah tahun (periode) = Pertambahan penduduk rata-rata

Proyeksi aritmatik ini menggunakan nilai pertambahan penduduk rata-rata untuk dimasukkan dalam formula perhitungan. Untuk proyeksi jangka pendek metode ini masih dapat dibenarkan sedangkan untuk proyeksi jangka panjang metode ini kurang akurat untuk digunakan. 2. Exponensial Proyeksi penduduk dengan metode geometrik menggunakan asumsi bahwa jumlah penduduk akan bertambah secara Laju pertumbuhan penduduk (rate of growth) dianggap sama untuk setiap tahun. Berikut formula yang digunakan pada metode geometrik: Rumus : Pn = Po (1+r )n Keterangan: Pn Po n r = penduduk tahun ke n = penduduk tahun awal = jumlah tahun (periode) = rasio rata-rata pertambahan penduduK Metode ini merupakan model pertumbuhan penduduk paling maksimal. Asumsi bahwa jumlah penduduk akan berganda dengan sendirinya. Kelemahan dari metode ini adalah tidak mempertimbangkan kenyataan empiris bahwa sesudah kurun waktu tertentu derajat pertumbuhan penduduk akan menurun. 3. Cohort Survival Metode proyeksi ini menggunakan perubahan-perubahan komponen penduduk seperti komponen fertilitas, mortalitas dan migrasi untuk menghasilkan proyeksi populasi penduduk dengan mempertimbangkan karakteristik tertentu, salah satunya yaitu kelompok usia dan jenis kelamin sehingga total populasi yang diperoleh juga dengan mempertimbangkan kelompok-kelompok tersebut. Berikut ini merupakan konsep dasar model Cohort: P = P0 + (B-D) + (Mi-Mo)

Keterangan: P P0 B-D = jumlah penduduk = jumlah penduduk tahun awal = pertumbuhan alamiah (kelahiran kematian)

Mi-Mo =migrasi netto (migrasi masuk migrasi keluar)

D. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk adalah perbandingan antara jumlah penduduk dan luas daerah yang didiami. Kepadatan penduduk sangat erat kaitannya dengan kemampuan wilayah dalam mendukung kehidupan penduduknya. Untuk menghitung kepadatan penduduk suatu daerah digunakan rumus sebagai berikut: Kepadatan Penduduk = E. Ambang Batas Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ambang batas adalah tingkatan batas yang masih dapat diterima dengan baik. Segala sesuatu memiliki batas kemampuan untuk itu ambang batas ini dapat diartikan juga sebagai batas kemampuan untuk menampung sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Ambang batas dalam lingkup wilayah dan kependudukan berarti bahwa kemampuan suatu lahan atau wilayah untuk menanpung jumlah penduduk sehingga masih dalam batas nyaman. Artinya bahwa dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah dan lahan atau wilayah yang tidak bertambah luas maka pada suatu ketika lahan tersebut mencapai batas kemampuan untuk menampung jumlah penduduk yang terus bertambah apabila laha atau wilayah telah mencapai ambang batasnya dan terus saja terjadi penambahan penduduk maka wilayah tersebut tidak dapat kondusif dan memberi hal positif bagi penduduk yang tinggal didalamnya.