Anda di halaman 1dari 31

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PRODUKSI DAN MENJUAL BIBIT F1, F2, BAGLOG DAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

DAN MENJUAL BIBIT F1, F2, BAGLOG DAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM Jamur Tiram-Po. Madju Bogor Mushroom Alamat

Jamur Tiram-Po. Madju Bogor Mushroom

Alamat :

Perum Bukit Asri Ciomas Indah Jl. Cendana 1, Blok B, Kp. Laladon Ciomas, Bogor – 16610

Contact Person:

Eko Suswanto P / 08170734547

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

1.1. Latar Belakang

Deskripsi

Sektor pertanian merupakan sektor penting untuk ditangani secara sungguh-sungguh untuk

memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi yang cukup besar untuk mengembangkan produk-produk pertanian mencakup usahatani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan untuk mewujudkan swasembada ketahanan pangan. Peningkatan kebutuhan produk hortikultura menuntut adanya suatu cara yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi holtikultura. Sistem pertanian konvensional dengan penggunaan input-input anorganik dan bahan bahan kimia dalam proses budidaya ternyata membawa dampak negatif, akibatnya terjadi masalah baru pada komoditas hortikultura seperti pencemaran lingkungan oleh penggunaan bahan kimia berlebih, ketergantungan terhadap bahan kimia, serta gangguan kesehatan yang diakibatkan adanya residu zat kimia berlebih yang terkandung pada komoditas sayuran.

Penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida terbukti dapat meningkatkan hasil produksi pangan dan hortikultura, tetapi dalam jangka panjang akan memberikan dampak negatif seperti menurunkan tingkat kesuburan tanah dan merusak kelestarian ekosistem. Salah satu komoditas pangan holtikultura yang sedikit mengandung bahan kimia adalah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang telah dibudidayakan secara meluas di Indonesia, khususnya di daerah dataran tinggi karena jamur tiram putih tingkat pertumbuhannya lebih tinggi pada daerah beriklim dingin dan kelembaban yang tinggi. Jamur merupakan salah satu jenis produk hortikultura yang dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat memperbaiki keadaan gizi masyarakat. Jamur tiram merupakan makanan yang aman untuk dikonsumsi karena penggunaan pestisida dan bahan-bahan kimia relatif sedikit. Jamur tiram putih merupakan salah satu jenis jamur yang memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan tanaman lain karena dapat tumbuh pada media berupa limbah lignoselulosa, penggunaannya dalam proses fermentasi tidak membutuhkan input yang mahal dan merupakan sumber protein nabati yang tidak mengandung kolesterol sehingga aman untuk dikonsumsi setiap orang.

Peluang pasar domestik jamur tiram putih masih potensial, ditinjau dari populasi penduduk Indonesia yang demikian besar dan tersebar di beberapa provinsi disertai dengan berkembangnya industri pengolahan, pariwisata, terkait di dalamnya industri perhotelan, restoran dan rumah makan, maka peluang pemasaran produk jamur tiram putih di dalam negeri dan ekspor memberikan prospek yang cerah, Berdasarkan uraian diatas, maka sangat perlu dikaji berapa tingkat pendapatan usahatani jamur tiram putih.

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah :

Berapa tingkat pendapatan usahatani jamur tiram putih di daerah penelitian?

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini adalah :

Menganalisis pendapatan usahatani jamur tiram putih di daerah penelitian.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan diharapkan dapat memberi manfaat :

1. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi petani dalam usahatani jamur tiram putih yang efesien

dan dapat memberikan keuntungan maksimum.

2. Sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Jamur

Jamur termasuk ke dalam kerajaan (kingdom) fungi, jamur merupakan organisme eukariota karena inti selnya

mempunyai inti sejati, dinding sel jamur terdiri dari zat khitin, tubuh atau soma jamur terdiri dari hifa yang berasal dari spora, jamur digolongkan sebagai tumbuhan heterotrofik karena jamur tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri secara fotosintesis, oleh karena itu jamur mengambil zat-zat makanan dengan menyerap hasil penguraian materi organik. Menurut Tapa Darma, jamur mengalami fase vegetataif dan generatif dalam perkembangbiakannya. Menurut sub kelasnya jamur dibedakan menjadi dua, yakni Ascomycetes danBasidiomycetes. Jamur dari subkelas Basidiomycetes lebih mudah diamati karena ukuran tubuh buahnya cukup besar, sedangkan Ascomycetes berukuran sngat kecil (mikroskopis).

2.2 Deskripsi Jamur Tiram Putih

disebut jamur tiram (Pleurotus ostreatus [Jacq. Ex. Fr] Kummer) karena bentuk tudung membulat, lonjong, dan

agak melengkung seperti cangkang tiram. Ciri fisik jamur tiram yaitu tudungnya yang menyerupai cangkang tiram dengan diameter 5-15 cm, permukaannya licin dan agak berminyak ketika lembab, bagian tepinya agak bergelombang, letak tangkai lateral agak disamping tudung dan daging buah berwarna putih Pleurotus spp. Dapat tumbuh di kayu-kayu lunak dan dapat tumbuh pada ketinggian 600 meter dpl, dengan suhu

15º-30ºCelcius, berkembang pada pH 5,5- 7 dan kelembaban 80 persen – 90 persen. Spesies ini tidak memerlukan intensitas cahaya tinggi karena akan merusak miselia jamur dan tubuh buah jamur. Jamur ini bermanfaat sebagai sumber protein nabati dan berkhasiat mencegah penyakit hipertensi dan jantung Klasifikasi lengkap pleurotus spp. adalah sebagai berikut :

Kingdom : Mycetea Divisio : Amastigomycotae Phylum : Basidiomycotae Kelas : Hymenomycetes Ordo : Agaricales Family : Pleurotaceae

Genus

Spesies : Pleurotus ostreatus

: Pleurotus

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih, beberapa tahap berikut perlu diperhatikan, seperti :

2.3.1 Sarana Produksi Jamur Tiram Putih

sarana produksi yang diperlukan sebaiknya dipersiapkan dahulu sebelum melakukan kegiatan produksi. Sarana produksi itu antara lain bangunan, peralatan dan bahan-bahan induk.

Perletakan kumbung menentukan banyaknya hasil panen jamur

Sebelum membuat kumbung ada baiknya kita melakukan berbagai survey untuk memperhatikan bagaimana kondisi lokasi yang kita pilih untuk dibangun kumbung/rumah jamur tiram. Yang perlu diperhatikan adalah :

Arah sirkulasi udara. Misal angin lebih banyak datang dari arah mana

Ada tidaknya pencemaran udara di sekitar lokasi. Misal lokasi dekat dengan tempat yang menghasilkan

banyak asap CO2. Hal ini penting karena jamur sangat rentan terhadap CO2. Jika banyak, maka jamur akan sulit

untuk tumbuh.

Apakah banyak bangunan yang mengapit lokasi? Ini juga berkaitan dengan sirkulasi udara.

Kondisi suhu dan kelembaban. Suhu hendaknya tidak melebihi 30 derajat C. Walau jamur masih mampu

untuk tumbuh, namun biasanya lebih tipis. Jadi kelembaban harus diusahakan tetap pada angka yang baik untuk

kondisi pertumbuhan jamur.

Sebaiknya di sekitar kumbung banyak terdapat pohon, atau tanaman yang rimbun. Karena oksigen yang

dihasilkan oleh tumbuhan itu juga memicu pertumbuhan jamur

Bangunan Kumbung

Budidaya jamur secara komersial memerlukan beberapa bangunan yang diperlukan dalam kegiatan usahanya. Bangunan yang diperlukan terdiri dari ruang persiapan, ruang inokulasi, ruang inkubasi, ruang penanaman dan ruang pembibitan.

a. Ruang Persiapan

Ruang persiapan digunakan untuk persiapan pembuatan media tanam. Kegiatan yang dilakukan pada ruang persiapan antara lain kegiatan pengayakan, pencampuran media tanam, pewadahan dan sterilisasi. Ruang persiapan dapat digunakan pula sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan seperti bekatul dan kapur apabila skala produksi usaha itu tidak terlalu besar, namun bila skala produksi dalam jumlah besar maka bahan-bahan itu sebaiknya ditempatkan dalam ruang terpisah atau gudang.

b. Ruang Inokulasi

Ruang inokulasi adalah ruang untuk menanam bibit pada media tanam jamur. Ruang inokulasi harus mudah dibersihkan dan disterikan untuk menghindari terjadinya kontaminasi oleh mikroba lain. Pada ruang inokulasi diusahakan tidak banyak terdapat ventilasi yang terbuka lebar dan sebaiknya ventilasi udara dipasang filter atau saringan dari kawat kassa atau kassa plastik, hal ini untuk meminimalisasi tingkat kontaminan. Pada perusahaan dalam skala besar biasanya ruang inokulasi dilengkapi dengan alat pendingin udara (air conditioning).

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Ruang inkubasi adalah ruang yang digunakan untuk menumbuhkan miselium jamur tiram putih pada media tanam yang sudah diinokulasi. Ruang inkubasi biasanya disebut dengan ruang spawning. Ruang ini dilengkapi dengan rak-rak inkubasi untuk mendapatkan media tanam yang sudah diinokulasi.

d. Ruang Pemeliharaan

Ruang pemeliharaan atau sering disebut growing digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruang

ini dilengkapi dengan rak-rak tempat baglog penumbuhan tubuh buah jamur dan alat penyemprot untuk menjaga kelembaban dan kadar air dalam pemeliharaan tubuh buah jamur

e. Ruang Pembibitan

Ruang pembibitan adalah ruang yang khusus digunakan dalam pembuatan media bibit jamur. Ruang ini diperlukan bila skala produksi sudah besar, dalam skala produsi kecil bibit dapat dibeli dari produsen bibit sehingga ruang pembibitan tidak diperlukan lagi.

Peralatan Budidaya jamur tiram secara sederhana dapat dilakukan dengan alat-alat yang mudah diperoleh seperti cangkul, sekop, botol, kayu, alat pensteril, lampu spritus. Untuk produksi dalam kapasitas besar diperlukan peralatan yang cukup besar sepaerti ayakan, mixer, filler, boiler dan chamber sterilizer.Mixer digunakan sebagai alat pencampur media tanam jamur ; filler digunakan sebagai alat pengisi media kedalam kantong plastik dalam jumlah tertentu ; boiler digunakan sebagai sumber pemanas (uap) ; chamber sterilizer digunakan sebagai alat untuk sterilisasi dalam jumlah yang besar. Bahan – Bahan

Bahan-bahan untuk budidaya jamur tiram yang perlu dipersiapkan terdiri dari bahan baku dan bahan

pelengkap.

a. Bahan baku

Jamur tiram putih merupakan tumbuhan sapprofit dimana tumbuh dan berkembang pada kayu atau pohon dan mengambil sari makanan dari inangnya. Dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih media tanam utama yang digunakan adalah serbuk kayu atau serbuk gergaji supaya media hidup jamur dalam kegiatan budidaya sama dengan di alam. Serbuk kayu yang umum digunakan dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih adalah dari pohon sengon (Parasientes falcataria) karena kandungan getah yang terdapat pada pohon ini relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis pohon yang lain, karena kandungan getah pada pohon dapat menghambat pertumbuhan miselia jamur tiram putih. Serbuk gergaji dapat diperoleh dari pabrik pengrajin kayu. Pemilihan serbuk gergaji sebagai bahan baku media penanaman jamur perlu memperhatikan tingkat kebersihan dan kadar getah pada kayu untuk mengurangi kontaminan dalam pelaksanaan budidaya jamur tiram putih.

b. Bahan tambahan

Bahan-bahan lain yang digunakan dalam budidaya jamur tiram putih pada media plastik terdiri dari beberapa macam yaitu bekatul (dedak), kapur (CaCO3), dan dapat pula ditambahkan mineral-mineral lain :

1. Bekatul/Dedak Pakan Ayam atau Ikan

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Bekatul ditambahkan untuk meningkatkan nutrisi media tanam sebagai sumber karbohidrat, sumber carbon (C), dan nitrogen (N2). Bekatul yang digunakan dapat berasal dari berbagai jenis padi dari hasil penggilingan di pabrik. Bekatul sebaiknya dipilih yang masih baru, belum tengik dan tidak rusak

2. Kapur (CaCO3)

Kapur ditambahkan pada media tanam sebagai sumber kalsium (Ca) dan untuk menstabilkan tingkat keasaman (pH) pada media tanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kalsium karbonat (CaCO3). Unsur kalsium dan karbon digunakan untuk meningkatkan mineral yang dibutuhkan jamur bagi pertumbuhannya.

3. Kantong Plastik

Penggunaan kantong plastik bertujuan untuk mempermudah pengaturan kondisi dan penanganan media selama pertumbuhan. Kantong plastik yang digunakan adalah plastik yang kuat dan tahan panas sampai suhu 100ºC, jenis plastik biasanya dipilih dari jenis polipropilen (PP). Ukuran dan ketebalan plastic terdiri dari berbagai macam ukuran. Dalam usaha budidaya jamur tiram biasanya yang digunakan adalah ukuran 20 x 30 cm, 17 x 35 cm, 14 x 25cm dan ketebalan 0,3 – 0 7 mm.

2.3.2 Bibit Jamur Tiram Putih

Budidaya jamur yang berhasil dengan baik dipengaruhi beberapa factor yang perlu mendapatkan perhatian secara seksama, diantaranya adalah bibit jamur. Meskipun semua faktor dalam budidaya jamur telah dipenuhi dengan baik tetapi bibit jamur yang digunakan berkualitas kurang baik maka produksi jamur yang diharapkan akan kurang memuaskan atau tidak akan menghasilkan sama sekali, Bibit yang dipakai sebaiknya berasal dari turunan pertama (F1) karena dengan menggunakan turunan F2, F3 dapat menyebabkan lemahnya pertumbuhan miselium dan dapat mengurangi produktifitas. Ada beberapa indikasi bibit yang baik adalah sebagai berikut :

a. Bibit berasal dari varietas unggul

b. Bibit tidak terlalu tua atau sudah terlalu lama disimpan

c. Bibit tidak terkontaminasi

2.3.3 Budidaya Jamur Tiram Putih

langkah-langkah dalam melakukan budidaya jamur tiram putih dengan menggunakan serbuk kayu adalah sebagai berikut :

1. Persiapan

Serbuk gergaji, bekatul, gips dan kapur disiapkan sesuai dengan komposisi perbandingannya. Perbandingan komposisi kebutuhan bahan-bahan dapt dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Bahan-Bahan dalam Budidaya Jamur Tiram

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Pada Tabel 1 terdapat berbagai formulasi media untuk pertumbuhan jamur tiram. Hal tersebut berdasarkan pengalaman masing-masing pengusaha yang dilakukan di tempat yang berbeda yang lebih menguntungkan. Berdasarkan Tabel 1 dapat dipilih salah satu formulasi yang sesuai dengan kondisi tempat budidaya.

2. Pengayakan

Serbuk gergaji yang diperoleh dari pengrajin mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik karena di dalamnya biasa terdapat potonganpotongan yang cukup besar dan tajam yang dapat merusak plastik sebagai media tempat tanam yang berpotensi menyebabkan pertumbuhan miselia jamur tidak merata. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan pengayakan serbuk gergaji.

3. Perendaman

Perendaman serbuk gergaji perlu dilakukan untuk menghilangkan getah yang terdapat pada serbuk gergaji. Disamping itu perendaman juga berfungsi untuk melunakkan serbuk gergaji agar mudah diuraikan oleh jamur. Perendaman dilakukan selama 6-12 jam, kemudian serbuk gergaji ditiriskan.

4. Pencampuran

Bahan-bahan tambahan yang telah ditimbang sesuai dengan komposisi yang dibutuhkan di campur dengan serbuk gergaji. Pencampuran harus dilakukan secara merata. Didalam proses pencampuran diusahakan tidak terdapat gumpalan, terutama serbuk gergaji dan kapur, karena dapat mengakibatkan penggumpalan dan komposisi media yang diperoleh tidak merata.

5. Pengomposan

Proses pengomposan dimaksudkan untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks dalam bahan- bahan bantuan mikroba sehingga diperoleh senyawa senyawa yang lebih sederhana. Senyawa yang lebih sederhana akan lebih mudah diserap oleh jamur sehingga memungkinkan pertumbuhan jamur akan lebih baik. Pengomposan dilakukan dengan cara membunbun campuran media kemudian menutupnya secara rapat dengan menggunakan plastik selama 1-2 hari. Proses pengomposan yang baik ditandai dengan peningkatan suhu sekitar 50ºC. Kadar air dalam pengomposan harus diatur pada kondisi 50-65 persen dengan tingkat keasaman (pH) 6-7. Adonan yang baik adalah bila adonan itu dikepal membentuk gumpalan, tetapi mudah dihancurkan.

6. Pewadahan (log Jamur)

Setelah dilakukan pengomposan maka media tanam tersebut dimasukkan kedalam plastic polipropilen karena plastik ini relatif tahan panas dalam proses sterilisasi. Media yang kurang padat akan menyebabkan hasil panen yang tidak optimal karena media cepat busuk sehingga produktifitas akan rendah, untuk menghindari hal tersebut dalam proses pewadahan adonan dalam plastic dipadatkan dengan menggunakan botol atau alat yang lain. Media tanam yang dimasukkan ke dalam plastik polipropilen tersebut yang dinamakan log jamur atau media tempat tumbuh jamur tiram putih.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Sterilisasi merupakan proses yang dilakukan untuk menginaktifkan mikroba baik bakteri, kapang maupun khamir yang dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80º-90ºC selama 6- 8 jam.

8. Inokulasi (pemberian bibit)

Inokulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan taburan dan tusukan. Inokulasi secara taburan adalah dengan menaburkan bibit kedalam media tanam secara langsung. Sementara denagan tusukan dilakukan dengan cara membuat lubang dibagian tengah media melalui cincin sedalam tiga per empat dari tinggi media tanam, selanjutnya dengan lubang tersebut diisi bibit yang telah dihancurkan.

9. Inkubasi

Inkubasi merupakan proses penumbuhan miselium jamur sampai memenuhi seluruh media tanam. Suhu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan miselia jamur adalah 22º-28ºC. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media akan tampak putih merata. Biasanya media akan tampak putih merata antara 40-60 hari sejak dilakukan inokulasi. Keberhasilan pertumbuhan miselia jamur dapat diketahui sejak dua minggu setelah inkubasi.

10. Penumbuhan

Media tumbuh jamur yang sudah putih oleh miselia jamur sudah siap untuk dilakukan penumbuhan tubuh buah jamur dengan cara membuka plastic media tumbuh yang sudah penuh miselia. Satu sampai dua minggu setelah media dibuka akan tumbuh bakal buah. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut akan tumbuh optimal selama 2-3 hari. Kondisi suhu optimal dalam proses pertumbuhan

tubuh buah adalah pada suhu 16º-22ºC dengan kelembaban 80-90 persen.

11. Pemanenan

Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat optimal, yaitu cukup besar tetapi belum mekar penuh. Pemanena dilakukan lima hari setelah bakal buah tumbuh. Ukuran jamur yang sudah siap dipanen adalah dengan diameter 5-10 cm. Pemanenan dilakukan sebaiknya pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya. Jamur yang sudah dipanen tidak perlu dipotong hingga menjadi bagian per bagian tudung, tetapi hanya perlu dibersihkan kotoran yang menempel pada bagian akarnya saja supaya daya simpan jamur dapat lebih lama.

PERAWATAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Pemilihan Bibit

Bibit adalah faktor utama yang menunjang dan mendukung pertumbuhan budidaya jamur tiram. Hasil yang diinginkan pada saat pemanenan ditentukan oleh bibit yang baik, Umumnya, baglog yang ada menggunakan plastik ukuran diameter 18cm panjang 30 cm. Berat rata-rata baglog dengan ukuran ini berkisar 1,3kg – 1,6kg dan memiliki tingkat kepadatan yang cukup. Bibit yang baik dapat dilihat pada tingkat pertumbuhan misselium yang sempurna, putih dan menyebar keseluruh area baglog yang ada.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Perawatan Baglog pada Masa Inkubasi

Baglog yang baru dibeli biasanya memiliki tingkat pertumbuhan misselium antara 10 s/d 20% dari isi baglog. Dimana pada kondisi ini baglog belum layak untuk diletakkan pada rak yang ada didalam kumbung. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik maka baglog yang baru dibeli tersebut masih harus dimasukkan keruang inkubasi lanjutan, yaitu ruang gelap agar pertumbuhan misselium mencapai tingkat kesempurnaan minimal memenuhi baglog sampai 90%. Jika ruang gelap tidak ada maka inkubasi dapat dilakukan dengan menggunakan plastik terpal berwarna hitam, fungsinya adalah untuk menciptakan kondisi ruang yang gelap. Lama waktu yang dibutuhkan untuk inkubasi lanjutan adalah sampai dengan 3(tiga) minggu dari tanggal pembelian. Pastikan ruang untuk inkubasi bersih dari hama, ditutup rapi agar cahaya tidak ada yang masuk kedalamnya. Selama masa inkubasi lanjutan tidak perlu dilakukan penyiraman.

Panduan Cara Merawat Baglog Jamur

Bila baglog yang ada di ruang inkubasi sdh memutih 100 % atau sudah diselimuti miselium sampai ke dasar baglog , maka baglog siap untuk di pindahkan ke rumah atau ruangan pertumbuhan jamur atau disebut kumbung jamur.

Tahapan kerja sebelum kumbung di isi baglog adalah :

Bersihkan seluruh ruangan dari segala kotoran baik berbentuk sampah maupun sarang binatang (misalkan sarang laba-laba).

Siram seluruh ruangan dengan air baik dinding, lantai maupun rak – rak penyimpanan baglog.

Bila memungkinkan steril area ruangan mempergunakan cairan formalin atau sejenisnya. Dengan cara disemprot atau dispray. Tujuannya agar ruangan benar – benar steril (bersih dari segala penyakit yang akan timbul pada pertumbuhan jamur).

Diamkan 1 x 24 jam atau 2 x 24 jam sampai bau formalin atau bau obat hilang.

Proses pemindahan baglog dari ruang Inkubasi ke ruang pertumbuhan jamur (kumbung) Tata penempatan baglog sedemikian rupa di rak – rak yang sudah disediakan dengan tujuan agar rapih, mudah memeriksa baglog dan mudah pada waktu pemanenan jamur. Pada fase ini, mulailah pekerjaan pembesetan atau pembukaan bagian atas baglog dengan cara dilepas karet yang mengikat , sehingga akan terlihat permukaan baglog.

Tiap hari lakukkan spray permukaan baglog , sehari 2 x (pagi dan sore), lihat kondisi cuaca bila suhunya panas bisa 3 x sehari. Lantai ruangan dan dinding siram pakai air agar suhu ruang menjadi dingin dan lembab.

Dalam hitungan paling lama 2 minggu pinhead akan bermunculan dipermukaan baglog.

Pinhead mulai tampak dipermukaan baglog Bila batang dan daun jamur sudah membesar, pada waktu spray usahakan jangan sampai kena air karena akan menambah kadar air pada jamur yang mengakibatkan warna menjadi kekuning- kuningan dan kwalitas jamur akan menurun (cepat busuk). Bila kondisi sdh seperti ini, rawat dan jaga suhu ruang agar tetap dingin dan lembab dengan cara lantai ruang selalu disiram dengan air agar tetap basah termasuk dinding-dindingnya.

Tips menjaga kwalitas Jamur Tiram

Pada saat daun jamur mulai tumbuh perhatikan kelebarannya, jika daun sudah membesar maka pisahkan baglog dari baglog yang daunnya masih kecil dan jangan dilakukan penyiraman sampai masa

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

pengutipan tiba, hal ini dilakukan agar warna jamur tetap putih segar. Untuk ukuran sejenis satukan dan kelompokkan dalam rak tertentu sehingga lokasi pemanenan dirak dapat diatur sedemikian rupa.

Ciri – ciri jamur yang siap panen adalah ujung daun jamur sudah tidak melengkung kebawah tetapi sudah mendekati ke datar. Segera petik jamur tsb dan habiskan seluruh jamur yang ada di permukaan baglog, jangan sampai ada yang tersisa termasuk akar-akar jamur (benar-benar bersih). Jamur akan tumbuh lagi dari baglog sekitar 20 hari setelah dipetik. Jumlah pertumbuhan jamur dalam 1 baglog bisa sampai 4 kali dan hasil jamur akan mencapai 0,60 kg dalam satu kali periode.

Perawatan Baglog Pasca Panen

Untuk mengoptimalkan hasil panen perawatan baglog mutlak diperlukan agar kandungan nutrisi yang ada didalam masing-masing baglog dapat terus terjaga. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah pada saat setelah pemanenan, baglog yang telah dipanen agar dibersihkan dengan cara mengorek bagian permukaan baglog bekas akar jamur yang dipanen dengan menggunakan tangkai sendok atau garpu. Kemudian celupkan permukaan baglog kedalam air bersih selama setengah menit kemudian tunggingkan permukaan baglog kebawah agar air rendaman menetes kebawah, biarkan selama tiga(3) hari kemudian balikkan kembali baglog ke posisi semula. Hal ini bertujuan agar misselium jamur kembali tumbuh normal.

Perawatan yang tepat menghasilkan panen jamur tiram yang optimal

Beberapa rekan seringkali mengeluhkan hasil panen jamurnya yang kurang optimal. Kisaran hasilnya hanya mencapai 300an gram per log. Di lain tempat ada rekan yang mampu menghasilkan hingga 500 gram per log.

Dalam perawatan baglog pada masa produksi yang perlu diperhatikan dengan baik adalah :

Sirkulasi udara. Pastikan suhu kumbung antara 16 s/d 24 derajat.

Pencahayaan (jamur tidak butuh cahaya yang banyak) tetapi kumbung juga tidak terlalu gelap

Kelembaban. Untuk pertumbuhan jamur yang baik kelembaban adalah sekitar 85%.

Bersih dari kontaminasi asap dan C02.

Menjaga selalu kebersihan kumbung

Pengawasan terhadap hama

Intinya adalah, jamur membutuhkan suasana yang lembab namun nyaman dari segi sirkulasi udara. Indikator sederhananya, bila suasana di dalam kumbung cukup nyaman bagi anda untuk bernafas, maka jamur dalam lingkungan yang baik untuk tumbuh. Kumbung yang kurang baik hasil panennya biasanya memiliki sirkulasi udara yang buruk. Beberapa dikarenakan jumlah log di dalam kumbung terlalu banyak sehingga terkesan sesak.

Beberapa kondisi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :

Baglog berhasil menumbuhkan miselium, tetapi tidak langsung memproduksi jamur, jika ya, hanya sedikit dan lambat.

Penyebabnya 1 : Kondisi pertumbuhan tubuh buah kurang baik dalam kumbung. Atasi dengan memeriksa temperatur dan kelembaban serta sirkulasi oksigen dalam kumbung. Buka atau tutup pintu/ jendela kumbung dan atur hingga kondisinya sesuai.

Penyebab 2 : adanya kontaminasi bakteri, ulat, semacam lintah, atau hama. Atasi dengan memeriksa kebersihan dan higinitas baglog dan kumbung. Atur kondisi kelembaban, sirkulasi udara, penerangan,

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

dan ventilasi. Periksa dengan benar kebersihan dan baglog yang terkontaminasi. Segera buang jika terdapat log kontaminasi .

Penyebab 3 : kemungkinan terdapat kontaminasi udara, asap, racun (dari obat-obatan sayuran misalnya), gas chlorine. Atasi segera dengan memindahkan asap, racun tersebut. Buatkan blower berupa exhaust fan dalam kumbung untuk mengeluarkan gas tersebut.

Jamur berhasil terbentuk (dengan adanya pin head) tetapi pembentukan tubuh buah terlalu lama. Bahkan tudung jamur gagal terbentuk (terlalu kecil) Penyebabnya 1 : kemungkinan kurangnya cahaya (kondisi terlalu gelap tanpa cahaya sama sekali). Atasi dengan mengatur penambahan cahaya dengan jumlah yang tepat (kondisi tidak terlalu gelap). Yang penting jamur tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Penyebab 2 : kemungkinan terlalu banyak karbondioksida. Pada saat produksi jamur, log mengeluarkan semacam gas yang mengandung karbondioksida. Karena pertumbuhan tubuh buah memerlukan oksigen (kondisi aerob), atur pergantian udara dalam kumbung dengan membuka atau menutup pintu dan jendela kumbung.

Penyebab 3 : waktu inkubasi yang terlalu lama. Sebaiknya pada saat miselium mencapai panjang 85 – 90% baglog, tutup baglog sudah mulai dibuka. Adakalanya jika menunggu 100%, pertumbuhan tubuh buah malah akan terlambat.

Beberapa tips tadi semoga berguna bagi para pelaku pebudidaya jamur tiram. Memang masih banyak lagi tips yang mampu menambah hasil panen yaitu dengan menambahkan zat-zat nutrisi untuk pertumbuhan. Namun intinya untuk memperoleh hasil yang optimal, memang diperlukan perawatan yang baik.

2.4 Konsep Usahatani

Definisi usahatani adalah seluruh organisasi dari alam, tenaga kerja, modal dan manajemen yang ditujukan kepada produksi dilapangan pertanian. Ketatalaksanaan organisasi itu sendiri diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang, baik yang terkait secara genealogis, politis maupun teritorial. Dalam hal ini usahatani mencakup pengertian mulai dari bentuk sederhana yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada bentuk yang paling modern yaitu mencari keuntungan. Menurut kami usahatani adalah sistem organisasi produksi dilapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang mewakili alam, unsure tenaga kerja yang mampu bertumpu pada anggota keluarga tani. Terdapat unsure modal yang beranekaragam jenisnya salah satunya adalah unsur pengelolaan atau menajemen yang peranannya dibawakan oleh seseorang yang disebut petani. Tipe unsur mempunyai kedudukan yang sama penting dalam usaha tani dan tak dapat dipisahkan satu sama lain.

2.5 Pendapatan Usahatani

Berhasil atau tidaknya usahatani dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh petani dalam mengelola usahatani. Pendapatan dapat didefinisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan yang diharapkan adalah pendapatan yang bernilai positif. Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Penerimaan ini mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, yang digunakan kembali untuk bibit atau yang disimpan digudang.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Pengeluaran atau biaya usahatani merupakan nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dibebankan pada produk yang bersangkutan. Selain biaya tunai yang harus dikeluarkan, ada juga biaya yang diperhitungkan yaitu nilai pemakaian barang dan jasa yang dihasilkan dan berasal dari usahatani itu sendiri.

Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani kalau modal dan nilai kinerja diperhitungkan. Pendapatan usahatani yang diterima seseorang petani dalam satu tahun berbeda dengan pendapatan yang diterima petani lainnya. Perbedaan pendapatan petani ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya masih dapat diubah dalam batas-batas kemampuan petani, misalnya luas lahan usahatani, efisiensi kerja dan efisiensi produksi. Tetapi ada pula faktor-faktor yang tak dapat diubah seperti iklim dan jenis lahan.

Berkaitan dengan ukuran pendapatan dan keuntungan, ada beberapa defenisi yaitu :

a. Penerimaan tunai usahatani (farm receipt) : nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani.

Penerimaan tunai usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani.

b. Pengeluaran tunai (farm payment) : jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi

usahatani, dan tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pokok.

c. Pendapatan tunai usahatani (farm net cash flow): selisih antara penerimaan tunai usahatani dengan

pengeluaran tunai usaha tani.

d. Penerimaan total usahatani (total farm revenue): penerimaan dari semua sumber usahatani yang meliputi

jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil dan nilai penggunaan untuk konsumsi keluarga.

e. Pengeluaran total usahatani (total farm expensive): semua biaya-biaya operasional dengan tanpa menghitung bunga dari modal usahatani dan nilai kerja dari pengelolaan usahatani. Pengeluaran ini meliputi pengeluaran tunai, penyusutan benda fisik, pengurangan nilai inventaris dan nilai tenaga kerja yang tidak dibayar atau tenaga kerja keluarga.

f. Pendapatan total usahatani (total farm income): merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total.

2.6 Analisis Pendapatan Usahatani. Analisis pendapatan mempunyai tujuan dan kegunaan bagi petani maupun bagi pemilik factor produksi. Ada dua tujuan utama dari analisis pendapatan, yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usahatani dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Bagi seorang petani analisis pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak.kami menyatakan bahwa pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak juga dianalisa nilai efisiensinya. Salah satu ukuran efisien adalah penerimaan untuk setiap rupiah yang dikeluarkan R/C rasio (Revenue cost ratio). Dalam analisis R/C rasio akan diuji seberapa jauh nilai rupiah yang dipakai dalam

kegiatan usahatani bersangkutan dapat memberikan sejumlah nilai penerimaan sebagai manfaatnya. Dengan kata lain analisis rasio penerimaan atas biaya produksi dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif kegiatan usahatani, artinya dari angka rasio penerimaan atas biaya tersebut dapat diketahui apakah suatu usahatani menguntungkan atau tidak. Selanjutnya kami menjelaskan bahwa usahatani dikatakan menguntungkan apabila nilai R/C rasio lebih besar dari 1 dan sebaliknya suatu usahatani dikatakan belum menguntungkan apabila nilai R/C rasio kurang dari 1.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di suatu daerah Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di suatu daerah merupakan daerah yang paling banyak terdapat petani pembudidaya Jamur Tiram.

Pengumpulan data dilaksanakan pada Bulan November sampai Bulan Desember 2010. Waktu ini digunakan untuk memperoleh data dan keterangan dari pemimpin petani dan semua pihak yang terkait dalam penelitian ini.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung kepada petani jamur tiram putih dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pertanyaan yang diajukan kepada petani antara lain karakteristik petani seperti nama, umur, pendidikan dan sebagainya. Hal ini digunakan untuk melihat gambaran umum petani didaerah penelitian. Untuk menganalisis pendapatan yang diperoleh dari usahatani jamur tiram putih diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti kapasitas produksi, penggunaan tenaga kerja dan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.

Data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah yang terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas pertanian dan Tanaman Pangan di suatu daerah, buku, internet dan studi literatur yang terkait dengan penelitian.

4.3 Metode Pengambilan Responden

Pemilihan responden petani jamur tiram putih dilakukan dengan menggunakan metode sensus dikarenakan jumlah petani responden dalam penelitian ini hanya berjumlah tujuh orang, jadi semua petani jamur tiram putih dilokasi penelitian dijadikan sebagai responden dan untuk pengambilan responden

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif tabulasi dan statistik sederhana dengan bantuan kalkulator dan komputer. Analisis yang dilakukan adalah analisis pendapatan usahatani.

4.4.1 Analisis Pendapatan Usahatani

Analisis usahatani yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan dan analisis rasio penerimaan dan biaya (R/C). Perhitungan pendapatan dibagi menjadi dua yaitu pendapatan atas biaya dan pendapatan atas biaya total. Secara umum, perhitungan pendapatan atas biaya tunai dapat dinyatakan dalam persamaan matematika sebagai berikut :

Dimana:

Y = Pendapatan tunai (Rp)

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

NP = Nilai produksi, yang merupakan hasil jumlah fisik produk dengan harga (Rp)

Bt

= Biaya tunai (Rp)

Sedangkan perhitungan untuk pendapatan atas biaya total adalah :

Dimana:

Y = Pendapatan total (Rp)

NP = Nilai produksi (Rp)

BT = Biaya tunai (Rp)

BD = Biaya diperhitungkan (Rp)

Analisis selanjutnya adalah analisis efisiensi usahatani dengan menggunakan analisis rasio penerimaan dan

biaya (R/C). Rasio penerimaan atas biaya menunjukkan berapa besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usahatani jamur tiram putih. Dalam hal ini jika semakin tinggi nilai R/C, maka semakin menguntungkan usahatani tersebut. Analisis R/C dapat dirumuskan sebagai

berikut:

Dimana :

Q

= Total Produksi (Kg)

P

= Harga Jual Produk (Rp)

Bt = Biaya tunai (Rp)

BD = Biaya Diperhitungkan (Rp)

Tabel 2. Analisis Pendapatan Usahatani

Usahatani dikatakan efesien apabila nilai R/C rasio lebih besar dari satu, semakin besar nilai R/C rasio maka menunjukkan semakin tinggi keuntungan usahatani tersebut. Suatu metode dapat dikatakan lebih efisien dari metode lainnya, apabila mampu menghasilkan output yang lebih tinggi nilainya untuk biaya yang sama atau menghasilkan keuntungan yang sama dengan biaya yang lebih kecil.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengguaan Input Produksi Budidaya Jamur Tiram Putih

Proses budidaya jamur tiram putih dimulai dari penyediaan input usahatani yang terdiri dari bibit jamur tiram putih, media tanam seperti serbuk kayu, dedak, kapur, gips, tepung kanji. Sarana pendukung dalam kegiatan usahatani jamur tiram adalah minyak tanah, spritus, plastik, karet, kapas, alkohol, cincin paralon, gula dan bahan bakar. Input tenaga kerja diperoleh dari dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Berikut ini adalah Tabel tentang rata-rata penggunaan input produksi usahatani jamur tiram putih yang ada di suatu

daerah

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Tabel 3. Penggunaan Input Produksi Usahatani Jamur Tiram Putih di suatu daerah Selama Satu Periode (3 bulan)

Berdasarkan Tabel 3. penggunaan input usahatani jamur tiram putih berbeda-beda tergantung dari jumlah log dan formulasi media. Semakin besar jumlah log yang digunakan untuk budidaya jamur tiram, maka penggunaan jumlah inputnya akan lebih banyak lebih banyak. Hal ini dapat dilihat pada penggunaan bibit jamur, media tanam dan sarana pendukung yang berbeda-beda jumlahnya pada setiap skala penggunaan log tanam jamur tiram putih. Perbedaan dalam penggunaan input disebabkan juga oleh formulasi media yang dipakai oleh masing-masing petani, contoh pada media tanam ada yang menambahkan tamabahan tepung kanji pada pencampuran media tanamnya. Pemakaian formulasi media ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masing- masing petani. Kegiatan Budidaya Jamur tiram putih yang dilakukan di daerah penelitian meliputi persiapan bibit, persiapan media tanam, pembibitan, pemeliharaan, panen dan pasca panen.

4.2 Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Putih

4.2.1 Penerimaan Usahatani

Penerimaan merupakan hasil kali dari jumlah produksi total dan harga jual persatuan. Produksi rata- rata jamur tiram putih yang dihasilkan oleh petani responden adalah sebesar 4.645 kg dengan jumlah penggunaan log rata-rata 12.571 log. Harga rata-rata jamur tiram putih yang dijual jamur tiram putih yang dijual adalah Rp. 8.000 per kg, sehingga rata-rata penerimaan yang diperoleh oleh petani responden di daerah penelitian selama satu periode (tiga bulan) adalah sebesar Rp 37.162.286 (Tabel 4).

Jika dilihat produktifitasnya (jumlah produksi per log) diperoleh bahwa produktifitas rata-rata jamur tiram putih adalah sebesar 0,41 kg per log. Produk yang dihasilkan dari usahatani jamur tiram putih yang ada di suatu daerah adalah merupakan jmaur tiram putih segar.

Tabel 4. Penerimaan Petani Jamur Tiram Putih di suatu daerah Satu Periode (tiga bulan)

4.2.2 Biaya Usahatani

Biaya Usahatani dapat berbentuk biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan (biaya tidak tunai). Biaya tunai adalah biaya yang langsung dikeluarkan petani dalam bentuk Rupiah yang harus dimiliki petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya seperti biaya pembelian bibit, pembelian bahan baku dan pendukung serta upah tenaga kerja. Biaya yang diperhitungkan (biaya tidak tunai) digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani, modal, dan menilai kerja keluarga. Tenaga kerja keluarga dinilai berdasarkan upah yang berlaku. Biaya penyusutan peralatan, bangunan dan sewa lahan milik sendiri juga dapat dimasukkan kedalam biaya yang diperhitungkan.

Tabel 5. Analisis Biaya Rata-rata Usahatani Jamur Tiram Putih di di suatu daerah Satu Periode (3 Bulan)

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa total biaya yang dikeluarkan oleh petani responden dalam melakukan budidaya jamur tiram putih adalah sebesar Rp 23.656.185 dengan jumlah penggunaan log rata-rata sebesar 12.571 log. Penggunaan biaya tunai lebih besar terhadap penggunaan biaya yang diperhitungkan yaitu sebesar Rp 20.180.914 (85,31 persen) untuk biaya tunai dan Rp 3.475.270 (14,69 persen) untuk biaya yang diperhitungkan. Persentase terbesar terhadap total biaya adalah dalam pengguanaan minyak tanah yaitu sebesar Rp. 5.028.571 (21,26 persen) dengan jumlah penggunaan rata- rata sebesar 1.006 liter. Hal tersebut disebabkan karena minyak tanah mengalami peningkatan harga yang cukup tinggi sehingga pengeluaran biaya usahatani meningkat.

Biaya Tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja luar keluarga (TKLK) yang termasuk dalam biaya tunai sedangkan biaya kerja dalam keluarga (TKDK) termasuk dalam biaya yang diperhitungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk TKLK terhadap biaya biaya total (upah per HOK Rp 15.000) adalah sebesar Rp 3.600.000 (15,22 persen), dimana lebih besar dibandingkan biaya TKDK sebesar Rp 3.294.643 (13,93 persen) terhadap biaya total, hal ini disebabkan karena jumlah tenaga kerja luar keluarga lebih banyak yang dipekerjakan dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja dalam keluarga. Biaya yang diperhitungkan yang digunakan oleh petani responden sebesar Rp 3.475.270 (14,69 persen) yang terdiri dari : biaya penyusutan peralatan, penyusutan bangunan dan upah tenaga kerja dalam keluarga. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa persentase penyusutan bangunan terhadap total biaya adalah sebesar 0,50 persen dan biaya penyusutan alat terhadap total biaya adalah 0,26 persen.

Jenis peralatan yang diberikan oleh petani responden dalam melakukan kegiatan usahatani jamur tiram putih dilokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 6. Metode yang dapat digunakan dalam menghitung nialai penyusutan peralatan adalah metode garis lurus dengan asumsi bahwa peralatan tidak dapat digunakan lagi setelah melewati umur teknis. Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa rata-rata nilai penyusutan peralatan pada usahatani jamur tiram putih sebesar Rp 62.324 per tiga bulan, yaitu sebesar 0,24 persen dari total biaya, dengan nilai penyusutan peralatan terbesar adalah handsprayer dengan nilai Rp 55.000 per tahun (Rp 13.750 per tiga bulan).

Tabel 17. Rata-rata Nilai Penyusutan Peralatan Usahatani Jamur tiram putih per Satu Periode (3 Bulan)

4.3 Analisis Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Putih

Dalam Penelitian ini dapat dilihat pendapatan rata-rata yang diterima oleh petani jamur Di Suatu Daerah dan tingkat efisiensi usahataninya dengan menghitung R/C rasio. (Tabel 7). Pendapatan atas total biaya untuk penggunaan log rata-rata 12.571 log dengan rata-rata produksi 4.645 kg adalah sebesar Rp 13.506.101 sedangkan pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar Rp 16.981.372 dari Rp 23.656.185 total biaya yang digunakan. Berdasarkan nilai penerimaaan dan biaya tersebut maka diperoleh nilai imbangan dan biaya ( R/C rasio) total sebesar 1,57 yang artinya untuk setiap rupiah biaya total yang digunakan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,57. Sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai adalah sebesar 1,84 artinya untuk setiap rupiah biaya tunai yang digunakan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp

1,84.

Tabel 18. Rata-rata Pendapatan dan R/C Rasio Usahatani Jamur Tiram Putih di suatu daerah Selama Satu Periode (Tiga Bulan).

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa usahatani jamur tiram putih di Suatu Daerah Danau efisien karena kedua nilai R/C rasio lebih besar dari satu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usahatani jamur tiram putih tersebut menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan proses budidaya yang dilakukan petani responden, dalam proses produksi yang dilakukan masih menggunakan teknologi drum atau tidak menggunakan teknologi autoklaf, dengan penggunaan log rata-rata 12.571 log. Berdasarkan analisis pendapatan, maka diperoleh imbangan dan biaya (R/C rasio) total sebesar 1,57 yang artinya untuk setiap biaya total yang dikeluarkan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,57. sedangkan R/C rasio untuk biaya tunai adalah sebesar 1,84 yang artinya untuk setiap biaya total yang dikeluarkan petani akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,84. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa usahatani jamur tiram tersebut menguntungkan karena R/C rasio lebih dari satu dan layak untuk dikembangkan.

5.2. Saran

1. Dalam kegiatan usahatani jamur tiram putih yang menguntungkan, disarankan untuk bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait seperti koperasi dan kelompok tani, untuk pengembangan kegiatan usahatani dan mempermudah petani dalam memasarkan jamur tiram putih.

2. Untuk penelitian lebih lanjut disarankan untuk melakukan penelitian disuatu daerah untuk membandingkan sebaran petani responden dan kapasitas produksi log jamur tiram putih.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PETUNJUK SEDERHANA PEMBUATAN BAGLOG JAMUR TIRAM

1. AYAK/SARING SERBUK GERGAJI
1. AYAK/SARING SERBUK GERGAJI
2. SETELAH DIAYAK/SARING, SERBUK TSB DI SEBAR AGAR MEMUDAHKAN PENGADUKAN
2. SETELAH DIAYAK/SARING, SERBUK TSB DI SEBAR AGAR MEMUDAHKAN PENGADUKAN
3. MASUKAN/TABURKAN KOMPOSISI DEDAK, BERAS JAGUNG, KAPUR YG TERLEBIH DAHULU TELAH DI ADUK
3. MASUKAN/TABURKAN KOMPOSISI DEDAK, BERAS JAGUNG, KAPUR YG TERLEBIH DAHULU TELAH DI ADUK

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM 4. AMBIL SEDIKIT DEMI SEDIKIT UNTUK MEMUDAHKAN PROSES PENGADUKAN 5.SETELAH ITU ADUK

4. AMBIL SEDIKIT DEMI SEDIKIT UNTUK MEMUDAHKAN PROSES PENGADUKAN

5.SETELAH ITU ADUK SAMPAI RATA DAN DI TAMBAHKAN AIR (BILA PERLU/KANDUNGAN AIR DI SERBUK KURANG)
5.SETELAH ITU ADUK SAMPAI RATA DAN DI TAMBAHKAN AIR (BILA PERLU/KANDUNGAN AIR DI SERBUK KURANG)
6.KEPAL SERBUK YG TELAH DIADUK, TEKSTUR SERBUK TIDAK BERUBAH
6.KEPAL SERBUK YG TELAH DIADUK, TEKSTUR SERBUK TIDAK BERUBAH
7. SERBUK YG TELAH DI KEPAL DILEMPAR LE UBIN DENGAN PERLAHAN HANCUR DAN TDK MENGUMPAL
7. SERBUK YG TELAH DI KEPAL DILEMPAR LE UBIN DENGAN PERLAHAN HANCUR DAN TDK MENGUMPAL

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM 8. SETELAH SELESAI PENGADUKAN PISAHKAN MEDIA YG TELAH DIBUAT 9. SETELAH ITU

8. SETELAH SELESAI PENGADUKAN PISAHKAN MEDIA YG TELAH DIBUAT

9. SETELAH ITU BIARKAN SEHARI SEMALAM, DITUTUP DENGAN TERPAL AGAR ADA PROSES PENGOMPOSAN
9. SETELAH ITU BIARKAN SEHARI SEMALAM, DITUTUP DENGAN TERPAL AGAR ADA PROSES PENGOMPOSAN
10.MULAI PROSES PEMBUATAN BAGLOG, USAHAKAN SEPADAT MUNGKIN, GUNAKAN PIPA 4 INCH SEBAGAI CETAKAN DAN PIPA
10.MULAI PROSES PEMBUATAN BAGLOG, USAHAKAN SEPADAT MUNGKIN, GUNAKAN PIPA 4 INCH SEBAGAI CETAKAN DAN PIPA ½ ATAU 1
INCH SEBAGAI PENUMBUK BAGLOG.
11.UKUR DENGAN MENGGUNAKAN TIMBANGAN AGAR UKURAN DAN BERATNYA SAMA 1.2 KG
11.UKUR DENGAN MENGGUNAKAN TIMBANGAN AGAR UKURAN DAN BERATNYA SAMA 1.2 KG

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

12. SETELAH SELESAI DISUSUN DENGAN RAPIH DENGAN POSISI TERBALIK, BAGIAAN ATAS DI BAWAH YG SEBELUMNYA
12. SETELAH SELESAI DISUSUN DENGAN RAPIH DENGAN POSISI TERBALIK, BAGIAAN ATAS DI BAWAH YG SEBELUMNYA PLASTIK BAGIAN
ATAS TELAH DI LIPAT
AIR 10 CM 1 5 C M 13. PERSIAPKAN DRUM BERSIH DAN PENGUKUS YGTERBUAT DARI
AIR 10 CM
1
5
C
M
13. PERSIAPKAN DRUM BERSIH DAN PENGUKUS YGTERBUAT DARI BAMBU, RANGKA BAMBU TER SEBUT TINGGINYA 15 CM \ LEBARNYA DI
SESUAIKAN DENGAN LEBAR MULUT DRUM DAN PERMUKAAN AIR KUKUSAN SETINGGI 10 CM
14. SUSUN DENGAN POSISI BERDIRI SEPERTI PADA GAMBAR
14. SUSUN DENGAN POSISI BERDIRI SEPERTI PADA GAMBAR
15. SETELAH PENUH TUTUP DENGAN PLASTIK COR SEUKURAN DENGAN TINGGI DRUM TSB, LALU BAGIAN ATAS
15. SETELAH PENUH TUTUP DENGAN PLASTIK COR SEUKURAN DENGAN TINGGI DRUM TSB, LALU BAGIAN ATAS PLASTIK DIBERI VENTILASI
UAP PANAS/DENGAN PIPA 1 INCH YG TELAH DI SUMBAT DENGAN KAPAS, SETEALAH ITU MULAI PENGUKUSAN SELAMA KURANG LEBIH 10-
12 JAM, ATAU DENGAN PATOKAN 1 TABUNG GAS 3 KG HABIS.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM 16. SETELAH PROSES PENGUKUSAN SELESAI BAWA BAGLOG YG TELAH SELESAI KERUANGAN TERTUTUP/INOKULASI,
PO. MADJU BOGOR MUSHROOM 16. SETELAH PROSES PENGUKUSAN SELESAI BAWA BAGLOG YG TELAH SELESAI KERUANGAN TERTUTUP/INOKULASI,

16. SETELAH PROSES PENGUKUSAN SELESAI BAWA BAGLOG YG TELAH SELESAI KERUANGAN TERTUTUP/INOKULASI, TUNGGU SAMPAI

BAGLOG MENJADI DINGIN UNTUK MEMULAI PROSES PEMBIBITAN

17. BERSIHKAN TANGAN DAN SPATULA DENGAN MENGGUNAKAN ALKOHOL
17. BERSIHKAN TANGAN DAN SPATULA DENGAN MENGGUNAKAN ALKOHOL
18 ADUK DAN HANCURKAN BIBIT F2 YG BERADA DI DALAM BOTOL DENGAN SPATULA
18 ADUK DAN HANCURKAN BIBIT F2 YG BERADA DI DALAM BOTOL DENGAN SPATULA
TANGAN DAN SPATULA DENGAN MENGGUNAKAN ALKOHOL 18 ADUK DAN HANCURKAN BIBIT F2 YG BERADA DI DALAM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

19. MASUKAN SEDIKIT DEMI SEDIKIT (MENYEBAR) BIBIT F2 KEDALAM BAGLOG

KARET GELANG(2X)IKAT 20. IKAT BAGLOG YG TELAH DIBERI BIBIT F2 DENGAN KARET GELANG (2X IKAT)
KARET GELANG(2X)IKAT
20. IKAT BAGLOG YG TELAH DIBERI BIBIT F2 DENGAN KARET GELANG (2X IKAT) YG SEBELUMNYA TELAH DI CUCI/SEMPROT DENGAN
ALKOHOL
BERDIRI 21. SETELAH PROSES PEMBIBITAN SELESAI BAWA BAGLOG KERUANG INKUBASI YG SEBELUMNYA RAK2 TELAH DISEMPROT
BERDIRI
21. SETELAH PROSES PEMBIBITAN SELESAI BAWA BAGLOG KERUANG INKUBASI YG SEBELUMNYA RAK2 TELAH DISEMPROT DENGAN
ALKOHOL/FORMALIN PENYUSUNAN LOG TERSEBUT HARUS BERDIRI, TUNGGU MASA INKUBASI SELAMA 4-5 MINGGU, AGAR
MISSELIUMNYA MERAMBAT DENGAN RATA/PUTIH 100 %
TERTIDUR 22. SETELAH PROSES INKUBASI(KURANG LEBIH 1 BULAN) SELESAI BAWA KE RUANG BUDIDAYA, DAN LETAKAN
TERTIDUR
22. SETELAH PROSES INKUBASI(KURANG LEBIH 1 BULAN) SELESAI BAWA KE RUANG BUDIDAYA, DAN LETAKAN BAGLOG TSB DENGAN POSISI
TERTIDUR.
OK OK 23. CONTOH BAGLOG YG MISSELIUMNYA TELAH 100%
OK
OK
23. CONTOH BAGLOG YG MISSELIUMNYA TELAH 100%

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

N G
N
G
N G
N
G

24.CONTOH BAGLOG YANG BURUK, ATAU MISELIUMNYA TIDAK BERKEMBANG SAMA SEKALI ATAU TIDAK RATA LEBIH BAIK DI MUSNAHKAN, TERLEBIH BILA WARNA BAGLOG MENJADI BERWARNA HIJAU,

25. CONTOH BAGLOG YG TERLALU BANYAK KANDUNGAN AIRNYA
25. CONTOH BAGLOG YG TERLALU BANYAK KANDUNGAN AIRNYA

Baglog ukuran sedang (diameter 17cm panjang 35cm berat 1,2kg)

Banyak pebisnis jamur tiram putih yang menyatakan mengundurkan diri dari bisnis ini. Rekan-rekan kami sendiri yang tidak melanjutkan bisnis jamur tiram sejauh ini sudah 3 orang.

Mengapa ini bisa terjadi ?

Pada umumnya rekan-rekan kami itu mengatakan rugi, atau keuntungan yang di dapat tidak sesuai dengan harapan. Rata-rata diakibatkan hasil panen yang kurang optimal dan ditambah lagi dengan harga jual jamur rendah. Itu masih diperparah dengan biaya pembelian baglog yang terlalu tinggi.

Untuk itu, memang perlu diperhatikan sekali margin harga jual jamur tiram di wilayah Anda, dengan harga jual baglognya. Ini saling terkait agar keuntungan yang didapatkan juga bisa lebih optimal.

Berikut contohnya :

Jika harga jual jamur tiram di tingkatan petani (Bogor) adalah Rp.8000/kg, berapa harga pembelian baglog yang baik ?

Jika ditargetkan jamur hanya menghasilkan 375gram/baglog, maka harga keekonomian gross atau kotor dari

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

baglog adalah 0,375 x Rp.8000 = Rp.3000,-.

Jadi, jika harga jual baglog adalah Rp.1800/baglog, +Ongkos kirim +penataan = Rp.2000 baglog. Berarti masih ada keuntungan kotor Rp.1000 /baglog atau untung 50%.

Keuntungan ini didapat dalam waktu 4 bulan. Berarti per bulan ada keuntungan 12.5%. Nilai keuntungan tersebut masih dikurangi biaya operasional, pembuatan kumbung, pembayaran gaji pegawai, dsb.

Nilai keuntungan tersebut bisa disimulasikan untuk skala bisnis jamur yang akan dilakukan.

Contohnya :

Jika ingin berbisnis 5000 baglog, berarti, simulasi keuntungan kotornya adalah Rp.1000 x 5000 baglog atau Rp. 5.000.000,- selama 4 bulan.

Pembayaran gaji pegawai + operasional = Rp.600.000 /bulan

Mencicil pembuatan kumbung = Rp.250.000 /bulan.

TOTAL Biaya selama 4 bulan = Rp. 3.400.000,-

Keuntungan bersih = Rp. 1.600.000,-.

InsyaALLAH keuntungan tentunya bisa bertambah jika hasil panen lebih.

Yang perlu diperhatikan tentunya harga baglog. Jika memang harga baglog masih 25% dari harga jamur tiram, InsyaALLAH masih menguntungkan walaupun tipis.

Semakin kecil harga baglog dibandingkan harga jual jamur tiram, maka keuntungan di petani akan semakin besar.

Simulasi perbandingan harga baglog dibanding harga jual jamur yang masih memberikan keuntungan optimal.

Harga baglog = Rp.2000 ; Harga jamur minimal Rp.8500,- /kg

Harga baglog = Rp.3000 ; Harga jamur minimal Rp.12.000,- /kg

Harga baglog = Rp.4000 ; Harga jamur minimal Rp.16.000,- /kg

Harga baglog = Rp.5000 ; Harga jamur minimal Rp.20.000,- /kg

Dan seterusnya

, tingkatan petani. Dengan begitu, Anda InsyaALLAH masih menerima keuntungan, bukannya malah rugi

Jadi, jika ada yang menawarkan baglog ke Anda

cek dengan benar harga jual jamur tiram di wilayah anda di

catatan:

Ukuran baglog menentukan harga baglog, yang menjadi acuan pada artikel di atas adalah ukuran baglog yang umum untuk wilayah kami yaitu 17x35cm dengan berat rata-rata 1,2kg. Ukuran baglog ini InsyaALLAH

menghasilkan jamur di kisaran 300 gram hingga 350 gram per baglognya. Referensi yang kami ambil adalah di

hasil terendah, agar pebisnis bisa "bermain" di hitungan aman. Jika hasil lebih banyak

, ya Alhamdulillah

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Pembibitan F0 atau PDA jamur tiram

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM Pembibitan F0 atau PDA jamur tiram PDA umur 10 hari setelah inokulasi

PDA umur 10 hari setelah inokulasi indukan jamur tampak miselium sudah 90% menyebar

kami akan menjelaskan sedikit sepanjang pengalaman dan pengetahuan kami mengenai pembuatan bibit jamur tiram.

Bibit utama F0 yang langsung diturunkan atau diambil dari spora jamur langsung sering disebut dengan PDA.

Dari satu botol PDA ini bisa menghasilkan sekitar 30 botol F1 Dari satu botol F1 bisa menghasilkan sekitar 50-70 botol F2 Dari satu botol F2 bisa menghasilkan 40 bagog jamur tiram putih Kalau diurut, jika kita berhasil membuat satu saja botol bibit PDA jamur tiram putih

menghasilkan 30 botol F1 untuk menjadi 1500 botol F2 yang bisa menghasilkan 60.000 baglog

kita bisa

,

jamur tiram putih

Subhanallah

Jadi memang, jangan takut gagal dalam membuat PDA

,

jika dalam membuat 20 botol PDA ada

yang berhasil cuma 1 saja

maka kita sudah bisa membuat pabrik jamur yang menghasilkan 60.000

baglog jamur tiram putih

, luar biasa bukan

???????

Ok

Sekarang apa aja yang perlu disiapkan

??

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Bahan:

1. Kentang dalam kondisi baik

yang paling bagus. Dibutuhkan 200 gram saja.

2. Dextrosa sebanyak 20gram. Dextrosa ini dapat dibeli di apotek, atau di toko

laboratorium. Harganya di Bogor sekitar Rp.45.000 per kg.

mulus, tidak ada bintik banyak, tidak ada noda busuk

per kg. mulus, tidak ada bintik banyak, tidak ada noda busuk pokoknya Contoh gambar dextrosa ukuran

pokoknya

Contoh gambar dextrosa ukuran 1kg beli di toko laboratorium

3. Agar powder

4. Air sebanyak 1 liter. Gunakan air steril, air destilasi. Bisa dengan membeli air mineral kemasan

yang kualitas baik.

5. Kapas steril dan plastik tutup secukupnya.

pilih yang bening. Dibutuhkan sebanyak 20 gram saja.

Langkah membuat cairan PDA :

1. Kupas dengan baik kentang, lalu potong berbentuk kubus kecil2 dengan ukuran sekitar 1cm3.

Timbang sehingga didapat sekitar 200 gram.

2. Cucilah kentang hingga bersih, lalu rebuslah kentang menggunakan air tadi sebanyak 1 liter air

selama kurang lebih 20 menit.

3. Ambillah air rebusan tadi dan saring sebersih mungkin masukkan ke gelas ukur, dan tambah

dengan air steril sehingga jumlah air menjadi pas 1 liter kembali.

4. Campurlah dalam cairan tadi 20 gram dextrosa dan 20 gram agar powder lalu aduk dengan

merata dengan kecepatan normal sehingga benar-benar larut dengan baik.

5. Campuran tadi adalah cairan PDA. Masukkan cairan PDA ini di botol pipih setinggi 50-100 mm

saja Lalu tutup dengan menggunakan kapas steril dan kemudian tutup dengan plastik dan diberi karet hingga benar-benar rapat.

Catatan : botol yang dipilih adalah botol pipih seperti bekas botol madu/ atau botol whiski ukuran kecil. sebelumnya botol dibersihkan dan disteril dengan merebus botol dengan air mendidih selama kurang lebih 10 menit. Memang dalam membuat bibit PDA, kebersihan, sterilisasi tempat, alat dan bahan adalah syarat utama dalam menunjang keberhasilannya.

6. Setelah itu langkah selanjutnya adalah kita mensteril cairan PDA dalam botol tadi menggunakan

Autoclave/Steamer selama kurang lebih 30menit-45menit dalam suhu 120 derajat C. Bagi kita yang mungkin kebanyakan tidak memiliki autoclave, bisa menggunakana panci presto bertekanan. Lama sterilisasi media dalam panci presto adalah setelah air dalam presto mendidih dan menghasilkan uap bertekanan yang ditandai panci berbunyi, pertahankan kondisi ini selama kurang lebih 45menit-60menit hingga yakin benar kondisi sudah steril betul

7. Setelah itu, jangan langsung dibuka, biarkan mendingin hingga kurang lebih 37 derajat C.

Keluarkan botol-botol tadi dan letakkan dalam posisi miring/tidur agar cairan bisa melebar dengan tujuan memperbanyak area media. Catatan, pokoknya dalam meletakkan tidur ini, jangan sampai cairan mencapai mulut botol.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Jika cairan PDA agar tadi sudah mengeras, barulah siap untuk di Inokulasikan bibit yang didapat dari jamur langsung.

Langkah Inokulasi PDA :

Yang perlu disiapkan adalah :

1. Ruang inokulasi berupa tempat tertutup dan steril, kami membuatnya dengan kotak dari kayu

ukuran 0,7mx2mx0,5m, atasnya diberi kaca. Kondisi dalam dilapisi dengan tripleks melamin putih

agar bersih dan steril.

2. Jarum/gagang dari stainlesssteel

3. Bunsen atau kompor spirtus

4. Kapas steril

5. Pemantik api

6. Alkohol

7. gelas steril

Langkahnya adalah :

1. Semprot ruang inokulasi dengan alkohol hingga steril

2. Masukkan semua alat ke dalamnya.

3. Siapkan dan masukkan botol-botol PDA

4. Siapkan pula jamurnya

tunggal yang besar dan keras. kondisi yang putih bersih.

5. Nyalakan bunzen, lalu ambil jarum/ganggang stainless tadi dan panaskan ujung ganggang tadi

di api bunzen hingga panas dan berwarna merah. Ini gunanya untuk mensterilkan dan membunuh

kuman

6. Dinginkan ganggang dan letakkan pada gelas yang bersih dan steril.

7. Ambil jamur (o ia, sebelum inokulasi, semprot tangan dengan alkohol dengan merata hingga

benar2 steril juga) sobeklah jamur menurut arah panjangnya, letak spora yang banyak kira-kira di dekat gagang tapi masih di tudungnya.

8. Menggunakan jarum/gagang tadi, ambil potongan kecil dari jamur seukuran kira-kira 2-3mm2.

Pastikan mengambilnya menggunakan ujung jarum yang sudah benar2 steril tadi dan tidak menyentuh bagian luar dari jarum.

9. Ambil botol PDA dan dekatkan dengan api bunzen, perlahan bukalah kapas (semua proses harus

dekat dengan api agar pasti kondisi free dari kuman dan bakteri), lalu masukkan cuilan jamur tadi ke dalam botol PDA lalu segera tutup dengan kapas steril tadi dan juga dengan plastik dan diberi karet 10. Sekali lagi karena penting!! SEmua proses harus dekat dengan api bunzen.

Pilih jamur yang baik, kondisi yang muda, tidak basah, memiliki batang

biarkan selama kurang lebih 20 menit.

Letakkan botol PDA yang sudah diinokulasi dengan jamur tadi di ruang yang steril, bersih. Periksa terus terhadap kontaminasi

Jika berhasil, maka bisa dilihat dalam waktu 3-4 hari saja yang diindikasikan dengan menyebarnya miselium putih di permukaan agar PDA. Jika miselium sudah merata seluruhnya selama kurang lebih 7 hari-10 hari, maka PDA sudah siap untuk diinokulasikan/diturunkan ke botol Bibit F1.

Memperbanyak /Menurunkan indukan bibit(PDA/F0) ke F1

PDA sudah siap untuk diinokulasikan/diturunkan ke botol Bibit F1. Memperbanyak /Menurunkan indukan bibit(PDA/F0) ke F1

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM Bibit F1 jamur dari biji-bijian jagung Jika indukan F0/PDA berhasil dibuat, langkah

Bibit F1 jamur dari biji-bijian jagung

Jika indukan F0/PDA berhasil dibuat, langkah selanjutnya adalah menurunkan bibit tersebut ke F1. Tujuannya adalah untuk memperbanyak biakan bibit. Bahan utama yang akan digunakan adalah biji-bijian/ dalam hal ini jagung.

Syarat biji jagung yang bisa digunakan adalah sebagai berikut :

- masih baru (baru dipanen) bukan yang berumur lamaaa

- Bagus kondisinya, hanya mengandung sedikit biji inti yang rusak

- Tidak ada atau hanya sedikit kontaminasi

- tidak ada jamur dan tidak ada hama

- Tidak lebih dari 12% kelembaban

Cara membuat media F1 dengan jagung adalah sebagai berikut:

1 Rendam jagung selama satu malam dengan takaran 2 liter air per 1kg jagung. setelah itu cuci dan saring jagung, buang semua airnya.

2 Kukus jagung selama kurang lebih 30-45 menit untuk melunakkan. Lalu

keringkan air dan tebar jagung sehingga mendingin dan mengurangi airnya

3 Lalu masukkan jagung ke dalam botol, isi cukup 3/4 nya saja

4 Tutup botol dengan kapas, lalu juga dengan plastik juga. Tutup yang rapat

5 Setelah itu masukkan media-media dalam botol tersebut ke dalam autoclave dan steam dengan tekanan 15 lb/in2 atau sekitar 1Bar (suhu kurang lebih 121 derajat C) selama 30-45menit.

6 Dinginkan dan letakkan di tempat yang steril dan bersih. Media sudah siap untuk di inokulasikan

Bersihkan kotak tempat inokulasi, dan sterilkan dengan menyemprotkan alkohol. lalu masukkan media F1 dan F0 untuk menyuntikkan bibit. Bersihkan tangan dengan menyemprotkan alkohol. Nyalakan bunzen api, lalu ambil botol F0, semua proses harus dekat dengan api untuk menjamin sterilisasi.

Panaskan stik stainlessteel yang akan digunakan untuk mengambil bibit dengan api bunzen sehingga memerah. Lalu setelah agak mendingin, masukkan ke botol Fo dan ambil cuilan/potongan bibit F0, tutup segera botol F0 lalu buka tutup media F1. Masukkan potongan bibit F0 tadi ke dalam media F1. Tutup segera.

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

Contoh Steamer sederhana dan khusus. Ingat!!!, seluruh proses harus dekat dengan api bunzen. Potongan bibit
Contoh Steamer sederhana dan khusus. Ingat!!!, seluruh proses harus dekat dengan api bunzen. Potongan bibit

Contoh Steamer sederhana dan khusus.

Ingat!!!, seluruh proses harus dekat dengan api bunzen.

Potongan bibit F0 tadi tidak boleh menyentuh apapun sebelum dimasukkan

ke media F1. Tutup botol F1 dengan segera dengan kapas, lalu tutup juga dengan koran diberi karet.

O ya

keadaan steril

Lupa

Koran yang digunakan untuk penutup botol juga harus dalam Dengan kata lain, juga diikutkan waktu proses sterilisasi

steam tadi.

Beri label

Untuk menandai waktu pemberian bibit

Miselium akan menyebar penuh dalam waktu 10-15 hari Botol harus disimpan di tempat yang bersih. Bisa juga disimpan di lemari pendingin

Sebagai catatan :

Indukan F1 ini bisa diturunkan ke F2 yang medianya memiliki takaran yang sama dengan Bibit F1 (JAGUNG MURNI)dan selanjutnya dilakukan proses sterilisasi menggunakan autoclave/Steamer Pan

Untuk indukan F1 dan F2 yang telah jadi ditandai telah menyebarnya miselium, bisa digunakan sebagai bibit yang akan diinokulasikan ke baglog dalam budidaya jamur tiram putih

digunakan sebagai bibit yang akan diinokulasikan ke baglog dalam budidaya jamur tiram putih Contoh Bibit F2
digunakan sebagai bibit yang akan diinokulasikan ke baglog dalam budidaya jamur tiram putih Contoh Bibit F2
digunakan sebagai bibit yang akan diinokulasikan ke baglog dalam budidaya jamur tiram putih Contoh Bibit F2

Contoh Bibit F2 Jagung Murni

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM

PO. MADJU BOGOR MUSHROOM Jamur Tiram-Po. Madju Bogor Mushroom

Jamur Tiram-Po. Madju Bogor Mushroom