Anda di halaman 1dari 4

BAB VI

ASPEK HUKUM DAN ETIKA BISNIS E-COMMERCE

6.1.HUKUM

Perlu diketahui atau dimengerti dan digaris bawahi bahwa kita berdiri
dinegara hukum dan kita tidak mungkin terlepas dari hukum yang ada toh
tujuannyapun sebenarnya demi kebaikan bersama. Maka dari itu seyogyanya kita
bisa berfikir dan bersikap positif mengenai hal ini.

Dengan makin pesatnya perkembangan aktivitas bisnis Cyber (online) tentu


memerlukan suatu hukum yang mengaturnya. Dengan adanya hukum yang jelas,
kita mengharapkan setiap pihak dapat menjalankan peranannya dengan tenang dan
teratur.

Hukum Dalam bisnis online (hukum Cyber/ Cyber Law) pada dasarnya
memiliki keterkaitan erat dengan beberapa perundang-undangan nasional dinegara
kita. Perundangan yang memiliki hubungan erat dengan bisnis online (Cyber) antara
lain:

1. UU pelayanan Konsumen
2. UU hukum Pidana
3. UU No.36 tahun 1999 tentang telekomunikasi
4. Hukum Perdata Materil dan Formil
5. UU No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran
6. UU No. 15 tahun 2001 tentang merek
7. UU tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Kemajuan teknologi informasi telah mengubah pandangan manusia tentang


berbagai kegiatan yang selama ini hanya dimonopoli oleh aktivitas yang bersifat fisik
belaka. Teknologi informasi (information technology) memegang peran yang
penting, baik di masa kini maupun masa yang akan datang. Dengan semakin
meningkatnya teknologi dan informasi di Indonesia, maka transaksi jual beli barang
pun yang pada awalnya bersifat konvensional perlahan-lahan beralih menjadi
transaksi jual beli barang secara elaktronik yang menggunakan media internet yang
dikenal dengan e-commerce.
E-commerce dapat dipahami sebagai kegiatan transaksi perdagangan baik
barang dan jasa melalui media elektronik yang memberikan kemudahan didalam

57
kegiatan bertransaksi konsumen di internet. Berdasarkan permasalahan tersebut,
penulis akan mengkaji lebih lanjut dengan permasalahannya sebagai berikut, yaitu
bagaimana kekuatan hukum transaksi jual beli barang melalui internet, kendala-
kendala yang mungkin muncul didalam pelaksanaan transaksi jual beli barang
melalui internet antara konsumen dan pelaku usaha, dan tindakan hukum yang
dapat dilakukan apabila terjadi pelanggaran atas kesepakatan transaksi jual beli
barang melalui internet.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa suatu perjanjian akan sah menurut
undang-undang apabila telah memenuhi syarat-syarat yang ditegaskan sebagai
berikut. Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat :
1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. suatu hal tertentu;
4. suatu sebab yang halal.
Tindakan hukum yang dapat dilakukan atas pelanggaran kesepakatan antara
konsumen dan pelaku usaha dalam transaksi jual beli barang melalui internet
setelah perjanjian (kontrak) jual beli disepakati dan ditandatangani oleh pihak pihak
terkait adalah bahwa, mereka berkewajiban untuk melaksanakan butir- butir kontrak
yang telah disepakati. Upaya perlindungan konsumen yang dapat dilakukan di
dalam transaksi jual beli barang melalui internet adalah konsumen dapat dilindungi
oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dan
apabila terjadi pelanggaran maka pelaku usaha harus memberikan ganti rugi
kepada pelaku usaha sesuai dengan Pasal 9 UUPK.
Melihat keterkaitan UU diatas, seorang pebisnis internet seharusnya
memperhatikan dan melaksanakannya dalam praktek kesehariaannya.

Sebagian suatu bagian dari kekayaan, HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual)
mendapatkan sorotan khusus didunia bisnis khususnya bisnis internet. Dalam bisnis
internet, kita pasti sering melihat kata seperti Copy Right, All Right reserved, dan
kata sejenis lainnya. Mengapa kata tersebut harus ada? Ya Memang begitulaah
adanya didunia bisnis, termasuk bisnis internet. Kita bisa ambil positifnya karena Ini
adalah Sebuah pemikiran, penemuan, kreativitas, maupun hasil kerja, baik
kelompok maupun individu yang seyogyanya patut kita hargai dan memiliki pula
suatu nilai ‘kekayaan’ yang perlu dilindungi dari sifat ketidakbaikan seperti pencurian
maupun pembajakan Kekayaan inilah yang dinamakan kekayaan intelektual.

58
HaKI (Hak Intelektual)

Seperti halnya kekayaan lain, kekayaan intelektual pun memiliki nilai hukum.
Artinya, setiap pelanggaran hukum terhadap hal ini dapat dikenakan sanksi. Dalam
bisnis dunia maya/ Cyber, kekayaan intelektual sering mendapat perhatian khusus
karena mudahnya penduplikatannya. Teknologi digital bahkan memungkinkan
pembuatan duplikasi yang sempurna. Misalnya pembajakan sebuah e-book,
software, dan web sangat mudah dilakukan.

Pihak yang memiliki kekayaan intelektual disini memiliki suatu hak yang kita kenal
HaKI (Hak atas kekayaan Intelektual) atau Intellectual Property Right (IPR). HaKI
akan melindungi seseorang dari pembajakan dan pencurian produk-produk virtual
seperti e-book maupun software. Dalam bisnis perlindungan, HaKI dilakukan
dengan tujuan memberikan insentif kepada penemunya. Walaupun demikian, ada
pula pihak perorangan maupun perusahaan yang mengizinkan produknya
disebarluaskan, umumnya berupa e-book yang memuat link-link promosi
perusahaannya dengan ketentuan penggunyanya tidak melakukan perubahan.
Lebih lanjut , didalam dunia bisnis software kita pun telah melihat betapa
berkembangnya freeware.

Hak Cipta

Menurut UU RI No. 19 tahun 2002 tentang hak cipta,hak cipta adalah hak eksklisif
bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak
ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yangberlaku.

Apa saja yang termasuk hak cipta? Dalam pasal 12 ayat 1 UU RI No. 9 Tahun 2002
tentang hak cipta yang berbunyi :

(1) Dalam undang-undang ini ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang
ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup :
1. Buku, program computer, pamflet, perwajahan (Lay Out), karya tulis yang
diterbitkan dan semua hasil karya tulis lain;
2. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan alain yang sejenis dengan itu;
3. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu
pengetahuan;
4. Lagu atau music dengan atau tanpa teks.
5. Drama atau drama musical, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomime
6. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni
kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
7. Arsitektur;
8. Peta;
9. Seni batik;

57
10. Fotografi;
11. Sinematografi;
12. Terjemahan, tafsiran, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari
hasil pengalihwujudan.

6.1.ETIKA BISNIS
Sama halnya dengan etika bisnis lainnya, bisnis internet pun memiliki etika yang
harus dipahami dan dipatuhi oleh pebisnis internet. Etika adalah cabang filosofi yang
berhubungan dengan apa yang dianggap benar dan salah. Walaupun persepsi tentang
benar dan salah bisa berbeda-beda, akan tetapi pada etika, pandangan yang
digunakan adalah pandangan umum (Obyektif), sehingga bersifat universal.
Seiring dengan perkembangan internet, terutama e-commerce, makin komplek
pula masalah yang dihadapi, dengan semakin berkembangnya internet dan
digunakannya teknologi baru terciptalah beberapa contoh kode etika yang baru. Kode
etika digolongkan menjadi beberapa komponen : Privasi, akurasi, kepemilikian dan
aksesbilitas.
Sebagai salah satu contoh , spamming adalah suatu hal yang rawan terjadi
dalam bisnis internet dan merupakan pelanggaran etika. Privasi dan memegang
kerahasiaan data konsumen merupakan etika penting yang perlu dipegang oleh
pebisnis, walaupun tidak begitu ditunjukan, etika diatas merupakan penilaian terpenting
baik klien/partner maupun konsumen terhadap profesionalitas kita. Oleh karena itu,
kekuatan dalam menjaganya sudah layak diprioritaskan.
Sekarang, saya yakin bahwa kita akan menjadi pebisnis yang professional, yaitu
yang mematuhi hukum dan menjunjung nilai etika, karena semua adalah modal dasar
agar bisnis internet makin berkembang dan dipercaya seluruh lapisan masyarakat.

57