Anda di halaman 1dari 150

PERPUSTAKAAN NASIONAL/katalog Dalam Terbitan

THERMODINAMIKA TEKNIK
EFFENDY ARIF
2013 /11
Penerbit
MEMBUMI publishing
jl. Haji Bau No. 10 B, Makassar
Telp. 0411-855742

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang


Dilarang menggandakan seluruh/sebagian isi buku ini
tanpa seizin/sepengetahuan penerbit
Percetakan
Bumi Bulat Bundar
Isi diluar tanggung jawab percetakan

ISBN : 978-602-19613-1-5

THERMODINAMIKA
TEKNIK
EDISI PERTAMA

EFFENDY ARIF

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

BAB 1 PENGANTAR

1.1 DEFINISI
1.2 SISTEM SATUAN
1.3 HUKUM THERMODINAMIKA KE 0
BAB 2
2.1
2.2
2.3
2.4
BAB 3
3.1
3.2
3.3
BAB 4
4.1
4.2
BAB 5
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8
BAB 6

SIFAT-SIFAT THERMODINAMIKA ZAT MURNI


PEROBAHAN FASE CAIR KE UAP DAN SEBALIKNYA
PENGGUNAAN TABEL UAP
PERSAMAAN KEADAAN GAS IDEAL
PERSAMAAN KEADAAN GAS NYATA

1
4
5
6
6
9
21
23

HUKUM THERMODINAMIKA

28

KERJA DAN KALOR


HUKUM THERMODINAMIKA PERTAMA
HUKUM THERMODINAMIKA KEDUA

28
33
39

PROSES POLITROPIK UNTUK GAS IDEAL

46

GAS IDEAL
PROSES POLITROPIK

46
47

SIKLUS DAYA UDARA STANDAR

52

SIKLUS
SIKLUS
SIKLUS
SIKLUS
SIKLUS
SIKLUS
SIKLUS
SIKLUS

53
55
58
61
63
67
69
69

CARNOT
OTTO
DIESEL
GABUNGAN
BRAYTON
JET PROPULSI
STIRLING
ERICSSON

SIKLUS UAP

73

6.1 SIKLUS RANKINE


6.2 SIKLUS REFIJERASI KOMPRESSI UAP

iii

73
97

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
A TABEL UAP
B
TABEL SIFAT-SIFAT THERMODINAMIKA MERCURI
C TABEL KONSTANTA KRITIS
D TABEL SIFAT-SIFAT BERBAGAI GAS IDEAL
E
TABEL PANAS JENIS TEKANAN KONSTAN GAS IDEAL

iv

103
104
138
140
141
142

KATA PENGANTAR
Penulis ingin menghaturkan puji dan syukur kehadirat Tuhan YMK
karena atas berkah, petunjuk, dan rahmatNYa maka penulis masih mendapat
kesempatan untuk menulis dan menyelesaikan buku ini.
Buku ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar mata kuliah
thermodinamika bagi mahasiswa teknik khususnya mahasiswa teknik mesin.
Buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk mengisi kekosongan
buku-buku teknik berbahasa Indonesia yang masih sangat diperlukan oleh
mahasiswa yang pada umumnya masih mengalami kendala bahasa Inggris.
Penulis menulis buku ini berdasarkan pengalaman mengajar pada kurung waktu
yang cukup lama pada berbagai perguruan tinggi di tanah air.
Materi pada buku ini disusun berdasarkan pendekatan makroskopik
dengan penekanan pada dasar-dasar thermodinamika berupa besaran/sifat
thermodinamika, hukum thermodinamika dan aplikasi thermodinamika dalam
hal ini berbagai siklus dan konversi energi. Empat bab yang pertama merupakan
penunjang dan dasar untuk aplikasi pada kedua bab berikutnya. Dengan materi
seperti ini, yang tidak berisi banyak teori, maka buku ini diharapkan dapat
digunakan pada program studi teknik mesin strata satu maupun diploma tiga dan
empat. Disarankan agar buku ini dipakai sebagai referensi atau bahan ajar untuk
mata kuliah thermodinamika teknik dengan dua mata kuliah masing-masing
dengan beban dua SKS atau satu mata kuliah dengan beban tiga SKS.
Berdasarkan

pengalaman

penulis,

pada

umumnya

mahasiswa

mengalami kesulitan menggunakan tabel uap untuk mendapatkan nilai


besaran/sifat thermodinamika sebagai awal dari suatu analisis, perhitungan atau
disain selanjutnya . Itulah sebabnya pada buku ini, tidak seperti halnya pada
buku-buku thermodinamika lain, cara penggunaan dan pemanfaatan tabel uap
dibahas secara terperinci dan sistematis. Setiap bab pada buku ini dilengkapi
dengan sejumlah contoh soal dan soal-soal diakhir bab. Contoh soal biasanya
diberikan pada akhir setiap sub-bab bertujuan untuk membantu pembaca agar

dapat dengan cepat memahami materi berkaitan per bagian atau per sub-bab.
Sedangkan soal-soal diakhir bab dapat diberikan dan dikerjakan oleh mahasiswa
sebagai tugas atau pekerjaan rumah. Contoh soal dan soal-soal ini kemungkinan
belum memadai jumlah dan kualitasnya, untuk itu disarankan kepada yang
berkenan memakai buku ini (mahasiwa dan dosen) agar dapat berinovasi untuk
menambah dan memperkaya baik jumlah maupun kualitas dan tingkat kesukaran
contoh soal dan soal-soal tersebut.
Penulis sangat menghargai dan berterima kasih kepada berbagai pihak,
khususnya kepada mahasiswa diberbagai institusi, yang telah memberikan
masukan dan kritik terhadap bahan kuliah yang diajarkan penulis selama ini dan
kemudian menjadi bagian besar dari isi buku ini. Masukan dan krirtikan tersebut
diharapkan dapat membuat buku ini menjadi lebih baik. Terima kasih khusus
disampaikan juga kepada saudara La Baride, sebagai sahabat dan sekaligus
sebagai mantan mahasiswa penulis di Program Studi S2 Teknik Mesin
Universitas Hasanuddin , yang telah banyak membantu, tak kenal lelah dan tak
kenal waktu dalam penyusunan buku ini khususnya penyiapan gambar-gambar
dan lay-out.
Sangat disadari oleh penulis bahwa buku ini masih jauh dari sempurna,
terdapat keterbatasan materi , dan kemungkinan besar masih ada kesalahan dan
atau kekurangan dalam berbagai bentuk, untuk itu penulis dengan rendah hati
memohon maaf yang sebesar-besarnya sambil mengharapkan saran-saran dan
kritik membangun dari pembaca. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi banyak
pihak, khususnya bagi para mahasiswa sekarang dan pada waktunya nanti setelah
terjaun dan berbakti di masyarakat bagi kemanjuan dan kejayaan bangsa.
Semoga Tuhan YMK memberkati kita semua.

Effendy Arif

vi

BAB 1
PENGANTAR
Pada bab ini pembahasan dimulai dengan berbagai definisi dasar yang
berkaitan dengan ilmu thermodinamika dan disusul kemudian dengan
pembahasan mengenai sistem satuan SI yang digunakan pada buku ini. Bab ini
diakhiri dengan pembahasan singkat mengenai Hukum Thermodinamika ke 0.
1.1 DEFINISI
a. Thermodinamika ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara panas (kalor)
dan energi dalam bentuk lain, misalnya kerja. Ilmu ini berdasarkan atas Hukum
Thermodinamika

dan

II.

Sebagai

tambahan

dikenal

juga

Hukum

Thermodinamika 0 dan III. Konsep dan prinsip Thermodinamika banyak


digunakan pada berbagai mesin dan peralatan, sebagai contoh: mesin
pembakaran dalam, pembangkit tenaga uap, pembangkit tenaga matahari,
pembangkit tenaga nuklir, mesin-mesin pendingin, dan lain-lain. Maka sudah
wajar jika matakuliah Thermodinamika selalu mendapatkan tempat pada
kurikulum berbagai strata pendidikan Teknik Mesin dengan penekanan/bobot
yang berbeda sesuai tingkatan stratanya.
b. Sistim Thermodinamika ialah daerah atau sejumlah zat yang dipelajari/dikaji
secara

thermodinamika. Sistim ini dipisahkan dari sekelilingnya oleh suatu

permukaan tertutup (boundaries), baik yang bersifat tetap maupun yang dapat
berubah (lihat Gambar 1.1). Sistem Thermodinamika dapat diklasifikasikan
berdasarkan massa, kalor, dan kerja yang melintasi boundaries dari sistem,
sebagai berikut:
i.

Sistem terbuka: massa, kalor, dan kerja dapat masuk/keluar sistem

ii.

Sistem tertutup: kalor dan kerja dapat masuk/keluar sistem

iii.

Sistem terisolasi: hanya massa yang dapat masuk/keluar sistem

Dari definisi thermodinamika diatas maka jelas bahwa sistem yang erat
kaitannya dengan thermodinamika adalah sistem terbuka dan sistem tertutup
sedangkan sistem terisolasi tidak demikian halnya.

boundaries

sistem

sistem

sekeliling

Gambar 1.1 Sistem Thermodinamika dan sekelilingnya


c. Keadaan dari suatu sistem dapat diketahui/diidentifikasi dari besaran
thermodinamikanya (properties). Besaran ini ada yang dapat diukur langsung dan
ada juga yang tidak dapat diukur langsung, sebagai contoh:
T : temperatur

P : tekanan

V : volume

U : energi dalam

H : entalpi

S : entropi

Besaran T, P, V merupakan besaran yang dapat diukur langsung


sedangkan U, H, dan S adalah besaran yang tidak dapat diukur langsung.
Selanjutnya besaran thermodinamika dapat dibagi atas:
i.

Besaran Ekstensif: besaran yang bergantung kepada massa, contoh: V,


U, H, dan S

ii.

Besaran Intensif: besaran yang tidak bergantung kepada massa, contoh:


T, P, v, u, h, dan s
2

Ada sejumlah besaran intensif yang dapat diperoleh dari besaran


ekstensif yaitu dengan membaginya dengan massa, misalnya:
i. Volume spesifik, v = V/m
ii. Energi dalam spesifik, u = U/m
iii. Entalpi spesifik, h = H/m
iv. Entropi spesifik, s = S/m
d. Proses:

merupakan lintasan yang dilalui oleh perubahan keadaan suatu

sistem yang disebabkan oleh terjadinya perubahan dari satu atau lebih besaran.
Beberapa proses dapat terjadi dengan salah satu besarannya tetap konstan, yaitu:
i.

Proses Isobarik adalah proses dengan tekanan tetap konstan

ii.

Proses Isochorik adalah proses dengan volume tetap konstan

iii.

Proses Isothermal adalah proses dengan temperatur tetap konstan

iv.

Proses Isentropik adalah proses dengan entropi tetap konstan


P

T
i

iii

ii

iv

Gambar 1.2 Proses dengan salah satu besaran tetap konstan


e. Siklus: terdiri atas sekumpulan proses yang dialami oleh suatu sistem dimulai
dari suatu keadaan awal dan berakhir kembali pada keadaan awal tersebut.
Sebagai contoh: Siklus Otto untuk motor bensin sebagaimana terlihat pada
Gambar 1.3.

4
2

Gambar 1.3. Siklus Otto


1.2 SISTEM SATUAN
Sistem satuan yang digunakan adalah SI Units (standard international)
dengan satuan dasar sebagai berikut:
Besaran

Simbol

Satuan

Massa

kg

Panjang

Waktu

Temperatur

Satuan dasar merupakan satuan yang sangat penting pada setiap sistem
satuan karena satuan dari besaran lainnya dapat diturunkan dari satuan dasar
tersebut, misalnya:
a. Gaya (Hukum Newton kedua):
F = m a = [kg] [m/s2] = [Newton] = [N]
b. Tekanan:
P = F/A = [N/m2] = [Pascal] = [Pa]
c. Volume: V = [m3]
d. Volume spesifik:
v = V/m = [m3/kg]

m = massa [kg]
4

e. Volume spesifik molal:


v* = V/n = [m3/kmole]

n = jumlah mole [kmole]

a. Rapat massa:
= m/V = [kg/m3]
g. Rapat massa molal:
* = n/V = [kmole/m3]
Perlu juga diperhatikan Sistem prefix SI yang berlaku umum untuk
semua besaran sebagai berikut:
Faktor

Prefix

1012

tera

10

10

103

giga

Simbol

Faktor

Prefix

Simbol

10-3

milli

10

-6

mikro

-9

nano

pico

mega

10

kilo

10-12

1.3 HUKUM THERMODINAMIKA KE 0


Hukum ini menyatakan bahwa bila dua buah benda mempunyai
temperatur yang sama dengan sebuah benda yang ketiga maka kedua benda yang
pertama juga mempunyai temperatur yang sama sebagaimana yang diperlihatkan
pada Gambar 1.4. Hukum ini kelihatannya tidak istimewa dari sudut pandang
matematika namun sangat berarti pada pembuatan dan peneraan thermometer.
I

TA

II

TB

III

TC

Bila TA = TC dan TB = TC maka TA = TB

Gambar 4. Kesamaan temperatur


5

BAB 2
SIFAT-SIFAT THERMODINAMIKA ZAT MURNI
Pada bab ini akan dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan sifat-sifat
atau besaran-besaran thermodinamika zat murni, dimulai dengan perobahan fase
zat murni khususnya dari fase cair ke uap dan sebaliknya. Perubahan fase cair ke
uap dan sebaliknya sangat penting untuk diketahui khususnya bagi mereka yang
berkecimpung di bidang teknik mesin. Hal ini disebabkan oleh karena banyaknya
mesin-mesin yang menggunakan dan memanfaatkan perubahan fase, antara lain:
mesin pembangkit tenaga uap dan mesin pendingin. Bahasan berikutnya masih
berkaitan erat dengan perubahan fase cair ke uap yaitu penggunaan tabel uap
yang tidak terbatas pada uap air saja tetapi juga untuk zat-zat murni lainnya. Bab
ini diakhiri dengan membahas persamaan keadaan gas ideal dan gas nyata.
2. 1 PERUBAHAN FASE CAIR KE UAP DAN SEBALIKNYA

Perhatikan sebuah sistem yang terdiri atas 1 (satu) kg air didalam sebuah
silinder yang dilengkapi dengan piston dan pemberat. Tekanan awal Pa =
0.1 MPa , temperatur awal Ta = 30 0C, dan volume awal Va. Anggap piston
dan pemberat dapat menjaga tekanan tetap konstan selama proses
pemanasan (lihat Gambar. 2.1a)

Ketika sistem dipanaskan maka

temperatur dan volume bertambah

sementara tekanan tetap konstan. Bila temperatur telah mencapai 99.6 0C,
penguapan mulai terjadi (lihat Gambar 2.1b).

Pemanasan lebih jauh akan melanjutkan penguapan dengan volume terus


bertambah tetapi tekanan dan temperatur tetap konstan, ini disebabkan
karena kalor yang ditambahkan dipakai untuk merobah fase. Pada akhirnya
semua cairan akan berobah menjadi uap (lihat Gambar 2.1c).

Pemanasan selanjutnya akan membuat temperatur dan volume betambah


terus (lihat Gambar 2.1d).

Proses pemanasan dan penguapan diatas dapat juga diperlihatkan pada


diagram T- V sebagai garis A-B-C-D dengan isobarik 0.1 MPa (lihat
Gambar 2.2)
silinder

beban
piston
(b)

(a)
Pa = 0.1 MPa
Ta = 30 oC
Va
Cair

Pb = Pa
Tb = 99.6 oC
Vb > Va
Penguapan

(c)

(d)

Pc = Pa
Tc = Tb
Vc > Vb
Uap

Pd = Pa
Td > Tc
Vd > Vc
Uap

Gambar 2.1. Perobahan fase air dari cair ke uap pada


tekanan konstan
T
O

P =10 MPa

M
311,1
179,9

99,6
A

F
B

P =1 MPa

H
G

P =0.1 MPa
D

VA VB

VC

VD

Gambar 2.2 Diagram temperature-volume perobahan fase cair ke uap


7

Dari uraian dan gambar diatas dapat didefinisikan beberapa hal sebagai
berikut:

Untuk P = 0.1 MPa, temperatur Tb = 99.6

C disebut temperatur jenuh.

Untuk tekanan tertentu ada temperatur jenuh tertentu dan untuk temperatur
tertentu ada tekanan jenuh tertentu.
Contoh: P = 0.1 MPa Tsat = 99.6 oC
T = 99.6 oC Psat = 0.1 MPa
P = 1 MPa Tsat = 179.9 o C
T = 179.9 oC Psat = 1 MPa

Untuk P = 0.1 MPa :


Titik B (dimana penguapan dimulai) disebut (atau dalam kondisi) cairan
jenuh (saturated liquid).
Titik C (dimana semua cairan telah berobah menjadi uap) disebut (atau
dalam kondisi) uap jenuh (saturated steam/vapor).
Titik D dan semua titik diatas C (dimana temperaturnya lebih tinggi dari
temperatur jenuh) disebut (atau dalam kondisi) uap dipanaskan lanjut atau
uap kering (superheated vapor/steam).
Titik A dan semua titik dibawah B (dimana temperaturnya lebih rendah
dari temperatur jenuh) disebut (atau dalam kondisi) cairan tertekan
(compressed liquid)
Antara titik B dan C, contoh titik Z disebut (atau dalam kondisi) campuran
cairan dan uap (mixture of liquid and vapor/steam). Untuk campuran, ada
parameter penting yang dinamakan kandungan uap atau kualitas uap, x,
didefinisikan sebagai:
x = Massa uap/Massa campuran
Kualitas uap pada titik B xB = 0 (penguapan baru mulai terjadi)
Kualitas uap pada titik C xC = 1 (semuanya sudah menjadi uap)
Kualitas uap pada titik Z 0 < xZ < 1

Perhatikan kembali diagram T-v, garis serupa dengan garis A-B-C-D dapat
juga dibuat untuk tekanan lain. Sebagai contoh garis I-J-K-L untuk tekanan
10 MPa dengan temperatur jenuh 311.10C, dan garis E-F-G-H pada tekanan
1 MPa dengan temperatur jenuh 179.90C.

Pada tekanan 22.09 MPa, dinyatakan dengan garis M-N-O , tidak terlihat
adanya garis penguapan dengan temperatur konstan seperti halnya garis BC untuk 0.1 MPa dan garis J-K untuk 10 MPa. Nyatanya titik N adalah
titik belok dengan slope nol. Titik ini disebut titik kritis. Data titik kritis
untuk air dan beberapa zat lainnnya dapat dilihat pada Lampiran C.

Bila garis-garis penguapan untuk tekanan lainnya telah digambarkan, maka


titik-titik cairan jenuh dan uap jenuh dapat dihubungkan untuk membentuk
sebuah kurva berbentuk kubah. Bagian kiri dari kurva disebut garis cairan
jenuh dan bagian kanannya disebut garis uap jenuh.

Uraian diatas adalah untuk air, zat-zat lainnya mempunyai kecenderungan


serupa.

2.2 PENGGUNAAN TABEL UAP


Tabel

uap

yang

dikenal

juga

sebagai

Tabel

Sifat-Sifat

Thermodinamika berisi informasi sifat-sifat thermodinamika untuk berbagai zat


pada berbagai kondisi. Sifat-sifat yang dimaksud adalah: Temperatur, T [K];
tekanan, P [kPa atau MPa]; Volume spesifik, v [m3/kg]; Energi dalam spesifik, u
[kJ/kg]; Entalpi spesifik, h [kJ/kg]; dan Entropi spesifik, s [kJ/kg-K]. Zat murni
yang dimaksud adalah berbagai zat yang lazim dipakai sebagai fluida kerja dan
yang sudah tersedia tabelnya dan terlampir, antara lain: Air (H 2O), Ammonia
(NH3), Freon 12, Oksigen (O2), dan Nitrogen (N2).
Sedangkan kondisi yang dimaksud adalah kondisi atau keadaan zat
pada berbagai tahap pemanasan/penguapan maupun pendinginan/pengembunan,
yaitu: cairan tertekan (compressed liquid), cairan jenuh (saturated liquid)

campuran cairan dan uap, uap jenuh (saturated steam/vapor) , dan uap
dipanaskan lanjut atau uap kering (superheated steam/vapor).
Manfaat penggunaan tabel uap adalah untuk mendapatkan nilai
besaran/sifat-sifat thermodinamika yang selanjutnya dapat digunakan untuk
berbagai keperluan analisis, perhitungan dan perencanaan/rekayasa. Diperlukan
satu atau dua besaran/sifat yang diketahui untuk mendapatkan besaran/sifat-sifat
yang lain dari tabel. Dengan demikan kemampuan untuk menggunakan tabel
uap untuk mendapatkan nilai besaran/sifat thermodinamika merupakan suatu hal
yang sangat perlu untuk dimiliki oleh mahasiswa/sarjana teknik mesin maupun
para praktisi di lapangan. Bagi mahasiswa yang kurang/tidak memiliki
kemampuan ini kemungkinan besar akan mengalami kesulitan dalam
mempelajari materi lanjutan maupun matakuliah berkaitan lainnya. Untuk itu
penjelasan cara penggunaan tabel ini pada buku ini diberikan lebih rinci dan
disertai contoh-contoh yang memadai jumlahnya.
Namun perlu juga diketahui bahwa tabel uap bukanlah satu-satunya
sumber untuk mendapatkan nilai besaran/sifat thermodinamika. Sumber lain
yang tersedia, misalnya: Diagram Molier, Persamaan Clayperon, dan yang lebih
canggih adalah software komputer antara lain CATT (Computer aided
thermodynamics tables).
Adapun tabel uap yang tersedia dilampiran buku ini disusun dengan
sistematika sebagai berikut:
Tabel A1 untuk Air ( H2O), terdiri atas:
A1.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid, tabel temperatur)
A1.2 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid, tabel tekanan)
A1.3 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
A1.4 Cairan tertekan (compressed liquid)
Tabel A2 untuk Ammonia (NH3), terdiri atas:
A2.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A2.2 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
10

Tabel A3 untuk Freon 12, terdiri atas:


A3.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A3.2 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
Tabel A4 untuk Oxigen, terdiri atas:
A4.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A4.2 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
Tabel A5 untuk Nitrogen, terdiri atas:
A5.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A5.2 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
Untuk selanjutnya cara-cara penggunaan tabel uap untuk mendapatkan
nilai besaran/sifat thermodinamika lebih difokuskan pada zat murni H 2O (air)
karena untuk zat lainnya dapat dikatakan hampir sama saja caranya.
2.2.1 Uap/Cairan Jenuh (Air)
Untuk uap/cairan jenuh hanya perlu diketahui satu sifat/besaran
(ditambah info uap atau cairan) untuk mendapatkan sifat/besaran lainnya dari
tabel. Sebenarnya ada dua tabel yang dapat digunakan untuk uap/cairan jenuh
yaitu Tabel A1.1 dan Tabel A1.2.

Kedua tabel ini mempunyai banyak

persamaan kecuali perbedaan pada kolom paling sebelah kiri dari kedua tabel.
Pada Tabel A1.1 kolom paling sebelah kiri adalah kolom temperatur sehingga
tabel ini sebaiknya digunakan bila temperatur yang diketahui atau diberikan.
Sedangkan pada Tabel A1.2 kolom paling sebelah kirinya adalah kolom tekanan,
sehingga sebaiknya menggunakan tabel ini bila tekanan yang diketahui. Gunakan
Tabel A1.1 atau A1.2 bila yang dketahui bukan temperatur atau tekanan. Arti
subscript pada tabel adalah: subscript g untuk uap jenuh (saturated vapor),
subscript f untuk cairan jenuh (saturated liquid), dan fg adalah g-f. Dengan
demikian vf diartikan sebagai simbol volume spesifik cairan jenuh, vg adalah
volume spesifik uap jenuh, dan hfg adalah selisi antara hg hf. Tentunya simbolsimbol lainnya sudah dapat diartikan dengan baik dan benar.

11

Berikut

akan

diberikan

beberapa

contoh

untuk

mendapatkan

besaran/sifat yang belum diketahui dari tabel bila diketahui/diberikan salah satu
besaran:
Contoh soal 2.1:
Diketahui P = 1 MPa (uap jenuh), tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Karena tekanan yang diketahui maka sifat-sifat lainnya dapat langsung
diperoleh dari Tabel A1.2 sebagai:
T = 179.91 0C

vg = 0.19444 m3/kg

hg = 2778.1 kJ/kg

ug = 2583.6 kJ/kg

sg = 6.5865 kJ/kg-K

Contoh soal 2.2:


Diketahui T = 120 0C (cairan jenuh), tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban:

Karena temperatur yang diketahui, maka sifat-sifat lainnya dapat

langsung diperoleh dari Tabel A1.1 sebagai:


P = 0.19853 MPa

vf = 0.001060 m3/kg

hf = 503.71 kJ/kg

sf = 1.5276 kJ/kg-K

uf = 503.50 kJ/kg

Contoh soal 2.3:


Diketahui vf = 0.00101 m3/kg (jelas ini adalah cairan jenuh), tentukan besaran
lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Karena bukan temperatur atau tekanan yang diketahui maka sifat-sifat
lainnya dapat dicari dari Tabel A1.1 atau Tabel A1.2. Kenyataannya, dapat
diperoleh pada Tabel A1.2 sebagai:
P = 10 kPa

T = 45.81 0C uf = 191.82 kJ/kg

hf = 191.83/kg

sf = 0.6493 kJ/kg-K

Contoh soal 2.4:


Diketahui uap jenuh dengan entropi spesifik 6.5079 kJ/kg-K, tentukan besaran
lainnya dari tabel uap.

12

Jawaban: Karena bukan temperatur atau tekanan yang diketahui maka sifat-sifat
lainnya dicari pada Tabel A1.1 atau A1.2. Kenyataannya, dapat diperoleh pada
Tabel A1.1 sebagai:
T = 190 0C

P = 1.2544 MPa vg = 0.15654 m3/kg

ug = 2590.0 kJ/kg

hg = 2786.4 kJ/kg

Contoh soal 2.5:


Diketahui P = 1.02 MPa (uap jenuh), tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Gunakan Tabel A1.2 (karena tekanan yang diketahui). Tekanan 1.02
MPa ternyata tidak terdapat pada tabel maka data terdekat perlu diinterpolasi
linier untuk mendapatkan besaran lainnya. Prosedur interpolasi adalah sebagai
berikut:
a. Tuliskan data terdekat yang lebih kecil dan lebih besar dari 1.02 MPa sebagai
berikut:
P

vg

ug

hg

sg

1.00

179.91

0.19444

2583.6

2778.1

6.5865

1.02

Tx

vgx

1.10

184.09

0.17753

ugx
2586.4

hgx

sgx

2781.7

6.5536

b. Untuk mendapatkan Tx (contoh), gunakan metode perbandingan:


T1
T2

P1
P2

(Tx 179.91)
(184.09 179.91)

(1.02 1.00)
(1.10 1.00)

Tx = 180.75 0C
c. Dengan cara yang sama dapat diperoleh: vgx = 0.191058 m3/kg,
2584.2 kJ/kg ,

ugx =

hgx = 2778.8 kJ/kg , dan sgx = 6.5792 kJ/kg K.

2.2.2 Campuran (Cairan dan Uap)


Untuk campuran (cairan dan uap) perlu diketahui dua besaran/sifat
untuk mendapatkan yang lainnya dari tabel. Pasangan besaran yang perlu
diketahui adalah:
13

P & x

T & x

P & v

T & v

P & u

T & u

P & h

T & h

P & s

T & s

Disini dapat digunakan Tabel A1.1 atau A1.2 ditambah dengan salah
satu rumus untuk mendapatkan volume spesifik campuran, v (misalnya), sebagai
berikut:
a. v = vf + x vfg

; vfg = vg - vf

atau
b. v = (1 x) vf + x vg
atau
c. v = vg (1 x) vfg
Sedangkan untuk u, h, dan s (campuran) dapat digunakan rumus yang
identik dengan rumus-rumus diatas.
Berikut

akan

diberikan

beberapa

contoh

untuk

mendapatkan

besaran/sifat campuran yang belum diketahui dari tabel bila diketahui/diberikan


dua besaran:
Contoh soal 2.6:
Diketahui P = 2 MPa dan x = 0.7, tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Dari Tabel A1.2 dan rumus campuran dapat diperoleh:
T = 212.42 0C
v = vf + x vfg = 0.001177 + 0.7 (0.09963 0.001177)
= 0.07009 m3/kg
u = uf + x ufg = 906.44 + 0.7 (1693.8) = 2092.1 kJ/kg
h = hf + x hfg = 908.79 + 0.7 (1890.7) = 2232.28 kJ/kg
s = sf + x sfg = 2.4474 + 0.7 (3.8935) = 5.1729 kJ/kg-K

14

Contoh soal 2.7:


Diketahui: T = 200 0C dan x = 0.4, tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Dari Tabel A1.1 dan rumus dapat diperoleh:
P = 1.5538 MPa
v = vf + x vfg = 0.001157 + 0.4 (0.12736 0.001157)
= 0.05164 m3/kg
u = uf + x ufg = 850.65 + 0.4 (1744.7) = 1548.53 kJ/kg
h = hf + x hfg = 852.45 + 0.4 (1940.7) = 1628.73 kJ/kg
s = sf + x sfg = 2.3309 + 0.4 (4.1014) = 3.9715 kJ/kg-K
Contoh soal 2.8:
Diketahui: P = 20 kPa dan s = 5.0 kJ/kg-K , tentukan besaran lainnya dari tabel
uap.
Jawaban: Dari Tabel A1.2 dan rumus dapat diperoleh:
T = 60.06 0C
s = sf + x sfg 5.0 = 0.8320 + x (7.0766) x = 0.5890
v = vf + x vfg = 0.001017 + 0.5890 (7.649 0.001017) = 4.5057 m3/kg
u = uf + x ufg = 251.38 + 0.5890 (2205.4) = 1550.36 kJ/kg
h = hf + x hfg = 251.40 + 0.5890 (2609.7) = 1788.51 kJ/kg
Catatan: bila diperlukan interpolasi dapat/harus dilakukan.
2.2.3

Uap Dipanaskankan Lanjut


Untuk uap dipanaskan lanjut perlu diketahui dua besaran/sifat untuk

mendapatkan yang lainnya dari tabel. Pasangan besaran yang perlu diketahui
adalah:
P & T

T & v

P & v

T & u

P & u

T & h

P & h

T & s

P & s
15

Gunakan Table A1.3 dan perhatikan hal-hal berikut:

Perhatikan tekanan tertentu, misalnya 0.010 MPa atau 10 kPa

Angka dalam tanda kurung dibelakang tekanan tersebut (45.81)


menyatakan temperatur jenuh (TSat) untuk tekanan tersebut.

Uap dipanaskan lanjut terjadi bila temperaturnya lebih tinggi dari


temperatur jenuhnya. Itulah sebabnya kenapa untuk tekanan 0.010 MPa
data yang tersedia dimulai pada temperatur 50 0C dan untuk tekanan 0.050
MPa datanya dimulai pada 100 0C
Berikut akan diberikan beberapa contoh untuk mendapatkan besaran/sifat

yang belum diketahui dari tabel bila diketahui/diberikan dua besaran:


Contoh soal 2.9:
Diketahui: P = 0.4 MPa dan T = 200 0C, tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Dengan menggunakan Tabel A1.3 dapat langsung diperoleh:
v = 0.5342 m3/kg

u = 2646.8 kJ/kg

h = 2860.5 kJ/kg

s = 7.1706 kJ/kg-K

Contoh soal 2.10:


Diketahui: P = 3 MPa

dan

s = 7.0 kJ/kg-K, tentukan besaran lainnya dari

tabel uap.
Jawaban: Karena untuk tekanan P = 3 MPa tidak tersedia data untuk s = 7.0
kJ/kg-K maka perlu diinterpolasi dari data terdekat berikut (Table A1.3):
T

400

0.09936

2932.8

3230.9

6.9212

Tx

vx

ux

hx

7.0

450

0.10787

3020.4

3344.0

7.0834

16

Dengan menggunakan metode perbandingan standar untuk interpolasi linear,


diperoleh: Tx = 424.29 0C vx = 0.1035 m3/kg ux = 2975.4 kJ/kg hx = 3285.84
kJ/kg
Contoh soal 2.11:
Diketahui: T = 400 0C dan h = 3170 kJ/kg, tentukan besaran lainnya dari
tabel uap.
Jawaban: Karena untuk T = 400 0C tidak tersedia data untuk h = 3170 kJ/kg
maka perlu diinterpolasi dari data berikut (Table A1.3)
P

0.04739

2892.9

3177.2

6.5408

Px

vx

ux

3170

sx

0.03993

2878.6

3158.1

6.4478

Dengan menggunakan metode perbandingan standar untuk interpolasi linier,


diperoleh: Px = 6.3770 MPa vx

0.04458 m3/kg

ux =

2887.5 kJ/kg

sx = 6.5057 kJ/kg-K
Contoh soal 2.12:
Diketahui: P = 4.2 MPa dan u = 3100 kJ/kg, tentukan besaran lainnya dari
tabel uap.
Jawaban: Karena kedua data yang diketahui (P and u) tidak tersedia pada Tabel
A1.3 maka interpolasi linear perlu dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu:
a.

Interpolasi terhadap tekanan yang diketahui (dua kali masing-masing


untuk yang terdekat dengan nilai u yang diketahui)

b.

Interpolasi terhadap energi dalam spesifik, u.


Penyelesaian lebih lanjut diserahkan kepada mahasiwa/pembaca.

2.2.4 Cairan Tertekan


Untuk cairan tertekan perlu diketahui dua besaran/sifat untuk
mendapatkan yang lainnya dari tabel. Pasangan besaran yang perlu diketahui
adalah:
17

P & T

T & v

P & v

T & u

P & u

T & h

P & h

T & s

P & s

Gunakan Table A1.4 dan perhatikan hal-hal berikut:

Perhatikan tekanan tertentu, misalnya 5 MPa

Angka dalam tanda kurung dibelakang tekanan tersebut (263.99)


menyatakan temperatur jenuh (T Sat) untuk tekanan tersebut.

Cairan tertekan terjadi bila temperaturnya lebih rendah dari temperatur


jenuhnya. Itulah sebabnya kenapa untuk tekanan 5 MPa data yang
tersedia berakhir pada temperatur 260 0C dan untuk tekanan 10 MPa
datanya berakhir pada 300 0C
Berikut akan diberikan beberapa contoh untuk mendapatkan besaran/sifat

yang belum diketahui dari tabel bila diketahui/diberikan dua besaran:


Contoh 2.13:
Diketahui: P = 10 MPa dan T = 200 0C, tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Dengan menggunakan Tabel A1.4 dapat langsung diperoleh:
v = 0.001148 m3/kg

u = 844.5 kJ/kg

h = 856.0 kJ/kg

s = 2.3178 kJ/kgK

Contoh soal 2.14:


Diketahui P = 22 MPa dan h = 450 kJ/kg, tentukan besaran lainnya dari tabel
uap.
Jawaban: Karena kedua data yang diketahui (P dan h) tidak tersedia pada Tabel
A1.4 maka interpolasi perlu dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu:
18

a.

Interpolasi terhadap tekanan yang diketahui (dua kali masing-masing untuk


yang terdekat dengan nilai h yang diketahui).

b.

Interpolasi tehadap entalpi, h.

2.2.5 Penentuan Kondisi Zat


Pada pokok bahasan sebelumnya tentang penggunaan tabel uap pada
berbagai kondisi, kondisinya sudah tertentu atau sudah diketahui. Pada
kebanyakan

kasus dua besaran diketahui atau diberikan tetapi kondisi zat

tidak/belum diketahui, dengan demikian tabel yang akan digunakan juga belum
diketahui, lalu bagaimana menentukan besaran lainnya dari tabel ?
Jawaban dari pertanyaan diatas adalah sebagai berikut:

Pertama, tentukan kondisinya kemudian

Gunakan tabel yang cocok dengan kondisi yang telah ditentukan


Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana

cara menentukan kondisi

(berdasarkan besaran yang diketahui) ?.


a. Bila P & T diketahui

Berdasarkan P yang diketahui dapatkan T sat (temperatur jenuhnya)

Bandingkan T terhadap Tsat

Kriteria: Bila T < Tsat Cairan tertekan


Bila T = Tsat Cairan jenuh, atau
Campuran, atau
Uap jenuh
Bila T > Tsat Uap dipanaskan lanjut

Contoh soal 2.15


Diketahui P = 1.2 MPa dan T = 300 0C, tentukan besaran lainnya dari tabel uap.
Jawaban: Berdasarkan P yang diketahui, T sat = 187.99 0C (dari Tabel A1.2)
Karena T > Tsat maka kondisinya uap dipanaskan lanjut.
Maka dari Table A1.3, diperoleh v = 0.2138 m3/kg , u = 2789.2 kJ/kg ,
h = 3045.8 kJ/kg , s = 7.0317 kJ/kg-K

19

b. Bila P & v diketahui

Berdasarkan P yang diketahui, dapatkan vf dan vg

Bandingkan v terhadap vf dan vg

Kriteria: Bila v < vf Cairan tertekan


Bila v = vf Cairan jenuh
Bila vf < v < vg Campuran
Bila v = vg Uap jenuh
Bila v > vg Uap dikalorkan lanjut

Contoh soal 2.16:


Diketahui P = 0. 4 MPa dan v = 0.35 m3/kg, tentukan besaran lainnya dari tabel
uap.
Jawaban: Berdasarkan P yang diketahui,

dari Tabel A1.2 diperoleh:

vf = 0.001084 m3/kg and vg = 0.4625 m3/kg


Karena vf < v < vg maka kondisinya adalah campuran
Gunakan Tabel A1.2 dan rumus campuran untuk mendapatkan T, u, h, and s
c. Bila P & u (atau P & h atau P & s) yang diketahui
Serupa dengan b
d. Bila T & v yang diketahui

Berdasarkan T yang diketahui, dapatkan vf dan vg

Bandingkan v terhadap vf dan vg

Kriteria: Bila v < vf Cairan tertekan


Bila v = vf Cairan jenuh
Bila vf < v < vg Campuran
Bila v = vg Uap jenuh
Bila v > vg Uap dikalorkan lanjut

Contoh soal 2.17:


Diketahui T = 210 0C and v = 0.0235 m3/kg, tentukan besaran lainnya dari
tabel uap.
20

Jawaban:

Berdasarkan T yang diketahui dan Tabel A1.1 diperoleh:

vf =

0.001173 m3/kg dan vg= 0.10441m3/kg. Karena vf < v < vg maka kondisinya
adalah campuran
Gunakan Table A1.1 dan rumus campuran untuk mendapatkan P, u, h, and s.
e. Bila T & u (atau T & h atau T & s) yang diketahui
Serupa dengan d

2.3

PERSAMAAN KEADAAN GAS IDEAL


Persamaan keadaan adalah suatu persamaan yang memberikan hubungan

antara besaran thermodinamika intensif, khususnya antara P (tekanan),V


(volume), dan T (temperatur). Atau, representasi analisis dari kelakuan P v
T.
Gas ideal adalah

gas yang mempunyai atau mendekati persamaan keadaan

sebagai berikut:
P v* = R* T
Dimana:
P : tekanan, [kPa]
v*: volume spesific molal, [m3/kmole]
R*: konstante gas umum yang nilainya sama untuk semua gas
= 8.31434 kJ/kmole-K
T : temperature, [K]
Bagi persamaan diatas dengan M, berat molekuler gas tertentu,
persamaan keadaan menjadi:
P v*/M = (R* T)/M

atau

Pv = RT
Dimana:
v = v*/M : volume spesifik
R = R*/M : konstanta gas tertentu, [kJ/kg-K]

21

maka

Sebagai contoh, udara dengan M = 28.97 kg/kmole dan ammonia (NH3)


dengan M= 17.03 kg/kmole-K, maka Rudara = 8.31434/28.97 = 0.287 kJ/kg-K
dan Rammonia = 0.4882 kJ/kg-K.
Kedua persamaan diatas dapat dituliskan dalam bentuk volume total yang
diperoleh dengan mengalikan persamaan pertama dengan jumlah molekul, n:
P V = n R* T
dan dengan mengalikan persamaan kedua dengan massa, m:
PV = mRT
Keempat persamaan diatas dapat digunakan untuk menentukan besaran
ketiga bila dua besaran lainnya sudah diketahui atau diberikan (n dan atau m juga
harus sudah diketahui). Persamaan mana yang digunakan bergantung kepada
besaran apa yang ingin ditentukan dan besaran apa yang sudah diketahui.
Persamaan keadaan diatas sangat sederhana sehingga sangat sering
digunakan baik yang sudah sesuai (memang zatnya adalah gas ideal) maupun
yang tidak sesuai. Untuk menghindari kesalahan penggunaan maka perlu
diketahui kapan suatu gas dapat dianggap sebagai gas ideal. Kriteria gas ideal
adalah sebagai berikut:

Faktor kompressibilitas, Z = P v/R T = 1 maka gas adalah gas ideal,


dan bila Z 1 maka kelakuan gas tersebut mendekati gas ideal.

Bila densitas dari gas amat kecil, yang terjadi bila:


-

Tekanan sangat kecil, atau

Temperatur sangat besar, atau

Tekanan sangat kecil dan temperatur sangat besar.

Berikut ini adalah contoh penggunaan persamaan keadaan gas ideal:


Contoh soal 2.18:

Berapakah massa udara yang berada didalam sebuah tangki

berbentuk silinder dengan diameter 0.5 m dan tinggi 1.2 m, bila tekanan 300 kPa
dan temperatur 270C ? Anggap udara sebagai gas ideal.
Jawaban: Volume tangki, V = D2/4 x L = (0.5)2/4 x 1.2 = 0.2355 m3
Temperatur, T = 27 + 273 = 300 K
22

Dengan menggunakan persamaan keempat ,


Massa, m = P V/ R T = (300 x 0.2355) /( 0.287 x 300)
= 0.8206 kg
Contoh soal 2.19: Sebuah tangki mempunyai volume 0.5 m3 dan berisi 20 kg
gas ideal gas dengan

berat molekul 24. Tekanannya 4 MPa.

Berapakah

temperatur gas didalam tangki ?


Jawaban: Konstante gas ditentukan terlebih dahulu dengan

R = R* / M

R = 8.31434 / 24 = 0.34643 kJ/kg-K.


Dapatkan temperatur dengan menggunakan persamaan keempat :
T = P V / m R = (4000 x 0.5 ) / (20 x 0.34643) = 288.66 K
Catatan: Bila suatu gas tak dapat dianggap sebagai gas ideal, maka gunakan
persamaan keadaan gas nyata.
2.4

PERSAMAAN KEADAAN GAS NYATA


Beberapa bentuk persamaan telah dikembangkan, antara lain:

Persamaan keadaan Van der Waals (1873)

Persamaan keadaan Beattie-Bridgeman (1928)

Persamaan keadaan Redlich dan Kwong (1949)

2.4.1 Persamaan Keadaan Van der Waals

a *

*
P *2 (v b) R T
v

dimana:
P : tekanan, [kPa]
R* : konstante gas umum = 8.31434 kJ/kmole-K
T : temperature, [K]

v* : volume spesifik molal

a dan b adalah konstante persamaan yang ditentukan secara eksperimen dan


untuk beberapa gas dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.

23

Tabel 2.1 Konstante persaman Van der Waals


Zc = Pcvc/R*Tc

Gas

Udara

135.8

0.0365

0.284

O2

138.0

0.0318

0.29

N2

136.7

0.0386

0.291

H2O

51.7

0.0304

0.23

CH4

28.6

0.0427

0.29

CO

47.9

0.0393

0.293

CO2

65.6

0.0428

0.276

NH3

24.9

.0373

0.242

H2

4.8

0.0266

0.304

He

3.42

.0235

0.30

Untuk gas yang tidak tercantum diatas dapat digunakan suatu cara
konvensional untuk menentukan konstante persamaan berdasarkan kelakuan gas
tersebut pada titik kritisnya masing-masing sebagai berikut:
a = 0.4219 R*2Tc2/ Pc

dan

b = 0.333 vc* = R* Tc/8Pc

Data kritis untuk berbagai gas/zat dapat dilihat pada Lampiran C.


2.4.2 Persamaan Keadaan Beattie Bridgeman:
*

T 1
*2

A
*2

dimana:
P : tekanan, [kPa]
R* : konstante gas umum = 8.31434 kJ/kmole-K
T : temperature, [K]
v* : volume spesifik molal
A = Ao (1 - a/v*)
24

B = Bo (1 - b/v*)
= c / v* T3
Konstante Ao, a, Bo, b, dan c ditentukan secara empiris dan untuk berbagai gas
dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2 Konstante persamaan Beattie-Bridgeman
Gas
Helium

Ao

Bo

10 -4 c

2.1886

0.05984

0.01400

0.0

0.0040

130.7802

0.02328

0.03931

0.0

5.99

Hidrogen

20.0117

-0.00506

0.02096

-0.04359

0.0504

Nitrogen

136.2315

0.02617

0.05046

-0.00691

4.20

Oxigen

151.0857

0.02562

0.04624

0.004208

4.80

Udara

131.8447

0.01931

0.04611

-0.001101

4.34

CO2

507.2836

0.07132

0.10476

0.07235

66.00

CH4

230.8

0.0185

0.0559

-0.0158

12.82

NH3

242.4

0.1704

0.0341

0.1912

476.98

CO

136.2

0.0262

0.1048

0.0724

65.99

C3H8

120.7

0.0732

0.181

0.0429

120.02

C4H10

180.2

0.1216

0.2462

0.0943

350.05

Argon

Soal-Soal Bab 2
2.1

Untuk zat H2O (air) tentukan besaran lainnya dari tabel uap bila diketahui:
a) T = 1200C (cairan jenuh)
b) T = 2000C (uap jenuh)
c) P = 50 kPa (uap jenuh)
d) P = 2.5 MPa (cairan jenuh )
e) T = 870C (uap jenuh)
f) P = 0.33 MPa (uap jenuh)
g) vg = 0.53 m3/kg
h) uf = 620 kJ/kg
i) hg = 2600 kJ/kg
j) sf = 0.7 kJ/kg K.

2.2

Untuk kondisi campuran H2O tentukan besaran lainnya dari tabel uap bila
diketahui:
a) T = 2200C dan x = 0.8
b) P = 0.5 MPa dan x = 0.25
c) T = 620C dan x = 0.75
d) P = 1.23 MPa dan x = 0.35
e) T = 900C dan v = 1.2 m3/kg
f) T = 250 0C dan h = 2150 kJ/kg
g) P = 30 kPa dan u = 1820 kJ/k h) P = 2.25 MPa dan s = 3.2 kJ/kg-K.
25

2.3 Untuk kondisi uap panaskan lanjut (H2O)


tabel bila diketahui:
a) P = 0.6 MPa dan T = 2310C
b) P =
c) P = 4 MPa dan h = 3320 kJ/kg d) T =
e) T = 2750C dan h = 2850 kJ/kg f) T =
2.4

tentukan besaran lainnya dari


0.4 MPa dan v = 0.55 m3/kg
3000C dan u = 2720 kJ/kg
1500C dan s = 7.15 kJ/kg-K.

Untuk kondisi cairan tertekan (H2O) tentukan besaran lainnya dari tabel
bila diketahui:
a) P = 10 MPa dan T = 1310C
b) P = 15 MPa dan v = 0.0018 m3/kg
c) P = 5 MPa dan h = 520 kJ/kg
d) T = 2200C dan u = 920 kJ/kg
0
e) T = 160 C dan h = 665 kJ/kg
f) T = 800C dan s = 1.05 kJ/kg-K.

2.5 Dengan terlebih dahulu menentukan kondisinya dapatkan dari tabel uap
besaran-besaran lainnya (untuk H2O), bila diketahui:
a) T = 1000C dan v = 1.4 m3/kg
b) T = 250 0C dan h = 2850 kJ/kg
c) P = 40 kPa dan u = 2520 kJ/k
d) P = 2.5 MPa dan s = 6.2 kJ/kg K.
e) P = 5 MPa dan T = 2000C
f) P = 0.3 MPa dan v = 0.85 m3/kg
g) P = 3 MPa dan h = 3320 kJ/kg
h) T = 3000C dan u= 1300 kJ/kg
0
i) T = 275 C dan h = 2650 kJ/kg j) T = 1500C dan s = 7.15 kJ/kg-K.
2.6

Suatu tangki mempunyai volume 0.5 m3 dan berisi 2.5 kg campuran cairan
dan uap jenuh dalam keadaan kesetimbangan pada tekanan 0.6 MPa.
Tentukan: a) massa dan volume uap; b) massa dan volume cairan

2.7 Sebuah tangki kaku berisi uap ammonia jenuh pada 10 0C. Kalor
dimasukkan kedalam sistem sehingga temperaturnya mencapai 30 0C.
Berapa tekanan akhirnya?
2.8 Tiga kilogram oksigen berada didalam sebuah tangki dengan volume 0.2
m3. Temperaturnya 250 K. Tentukan tekanannya, dengan menggunakan:
a. Tabel uap
b. Persamaan keadaan gas ideal
c. Persamaa keadaan Van der Waals
d. Persamaan keadaan Beattie-Bridgeman
Bandingkan dan diskusikan hasil yang diperoleh
2.9 Lima kilogram nitrogen ditempatkan didalam tangki dengan volume 0.3 m 3.
Tekanannya 1.5 MPa. Tentukan temperaturnya, dengan menggunakan:
a. Tabel uap
b. Persamaan keadaan gas ideal
c. Persamaan keadaan Van der Waals
d. Persamaan keadaan Beattie-Bridgeman
Bandingkan dan diskusikan hasil yang diperoleh
26

2.10 Tiga kilogram nitrogen berada didalam sebuah tangki dengan volume 0.2
m3. Temperaturnya 250 K. Tentukan tekanannya, dengan menggunakan:
a. Tabel uap
b. Persamaan keadaan gas ideal
c. Persamaa keadaan Van der Waals
d. Persamaan keadaan Beattie-Bridgeman
Bandingkan dan diskusikan hasil yang diperoleh
2.11 Lima kilogram oksigen ditempatkan didalam tangki dengan volume 0.3 m3.
Tekanannya 1.5 MPa. Tentukan temperaturnya, dengan menggunakan:
a. Tabel uap
b. Persamaan keadaan gas ideal
c. Persamaan keadaan Van der Waals
d. Persamaan keadaan Beattie-Bridgeman
Bandingkan dan diskusikan hasil yang diperoleh

27

BAB 3
HUKUM THERMODINAMIKA
Pada bab ini akan dibahas Hukum Thermodinamika Pertama dan Kedua
namun karena kaitannya yang erat maka akan terlebih dahulu dikemukakan
konsep kerja kompressibel (thermodinamika) dan kalor.
3.1 KERJA DAN KALOR
3.1.1 Kerja Kompressibel (thermodinamika)
Pada mekanika, kerja didefinisikan sebagai suatu gaya F yang bekerja
melalui pemindahan x, dimana pemindahan tersebut searah dengan gaya
tersebut. Maka dapat dituliskan:
1W2

2 F(x) dx

Dimana: F(x) : gaya, [N] atau [kN]


dx
1W 2

: elemen jarak, [m]


:

kerja, [J] atau [kJ]

Pada sistem kompresibel (thermodinamika), kerja didefinisikan sebagai


pengangkatan sebuah beban. Sebagai illustrasi perhatikan sebuah sistem gas
yang berada didalam silinder dan piston ( Gambar 3.1).
Bila piston bergerak kebawah sejarak dL, maka kerja,
1W2

= 12 F dL

tetapi F = P A
P : tekanan, [kPa]
A: luas, [m2]
maka

1W2

= 12 P A dL

atau

1W2

= 12 P dV yang merupakan rumus umum kerja.

dV: elemen volume

28

piston

1
Sistem
P

dL

2
silinder

A
Gambar 3.1. Contoh kerja pada suatu sistem thermodinamika
Catatan:
a. P adalah fungsi dari V, atau

P = P (V)

b. Untuk mengintegralkan rumus diatas, hubungan antara P dan V harus


diketahui
c. Kerja dapat dinyatakan sebagai luas pada diagram P- V (lihat Gambar
3.2)
d. Kerja adalah fungsi dari kondisi awal dan akhir dan juga fungsi dari
proses.
Bentuk differensialnya, W dan 12 W = 1W2
e. Kerja yang dilakukan pada sistem (kompressible) adalah negatif (-)
Kerja yang dilakukan oleh sistem (ekspansi) adalah positif (+)
f.

1W2

= 12 P dV , satuannya [J] atau [kJ]

1w2

= 12 P dv , satuannya [J/kg] atau [kJ/kg]

29

V
Gambar 3.2 Kerja sebagai luas pada diagram P V
Contoh soal 3.1:
Perhatikan sebuah sistem berupa gas didalam silinder, seperti pada
Gambar 3.3, yang dilengkapi dengan sebuah piston dan sejumlah beban kecil
diatasnya. Tekanan awal 200 kPa dan volume awal gas 0.04 m3.

silinder
beban
piston
sistem

Gambar 3.3 Sistem gas didalam silinder


30

a. Silinder dan gas dipanaskan sampai volume akhir 0.1 m3 sementara


tekanan tetap konstan. Tentukan kerja yang dilakukan oleh sistem selama
proses.
Jawaban : Karena tekanan tetap konstan,
1W2

= P 12 dV = P V|12
= P (V2 V1) = 200 (0.1 - 0.04) = 12.0 kJ

b. Perhatikan suatu sistem, pemanasan, dan kondisi awal yang sama, tetapi
beban dipindahkan secara beraturan dari piston sehingga tercapai hubungan
antara tekanan dan volume sebagai PV = konstan. Untuk volume akhir 0.1 m3,
tentukan kerja yang dilakukan.
Jawaban: Karena P V = konstan = P1 V1 = P2 V2 , maka P = P1 V1 / V
dan
1W2

= P1 V1 12 1/V dV = P1V1 ln (V2/V1)


= 200 x 0.04 ln (0.1/0.04) = 7.33 kJ

c. Perhatikan sistem, pemanasan, dan kondisi awal yang sama, tetapi beban
dipindahkan secara beraturan dari piston sehingga tercapai hubungan antara
tekanan dan volume sebagai PV1.3 = konstan. Untuk volume akhir 0.1 m3,
tentukan kerja yang dilakukan.
Jawaban: Anggap n = 1.3 (dilakukan agar rumus yang diperoleh nantinya dapat
digunakan secara umum untuk berbagai nilai n)
Karena P Vn = konstan = P1 V1n = P2 V2n = C ( n = 1.3) ,
maka P2 = P1 (V1 / V2)n = 200 (0.04/0.1)1.3 = 60.77 kPa
dan P = C/Vn
maka 1W2 = C 12 1/Vn dV = C [V1-n /(1-n)]12 = C[V21-n - V11-n]/(1-n)
= (P2 V2 - P1V1)/(1-n) = (60.77 x 0.1 - 200x 0.04)/(1 - 1.3)
= 6.41 kJ
d. Perhatikan sebuah sistem dan kondisi awal yang sama, tetapi piston
ditahan tetap ditempat sehingga volume tetap konstan. Selanjutnya, kalor

31

ditransfer dari sistem sehingga tekanannya turun sampai 100 kPa.


Tentukan kerja .
Jawaban: W = P dV , karena volume konstan maka dV = 0 dan

1W2 =

Dengan demikian perlu selalu diingat bahwa pada proses volume konstan,
kerja kompressibel selalu sama dengan nol.
Selanjutnya masing-masing proses dari keempat kasus diatas dapat
diperlihatkan pada diagram P - V pada Gambar 3.4.
P

2a

200

2b
100

2d

2c
V

0.0 4

0.1

Gambar 3.4 Diagram P V untuk kerja dengan berbagai proses.


3.1.2 Kalor
Pada thermodinamika, panas atau kalor didefinisikan sebagai bentuk energi
yang dapat ditransfer melalui perbatasan (boundary) dari suatu sistem pada
temperatur tertentu ke sistem lain (atau sekeliling) pada temperatur yang lebih
rendah (perpindahan karena adanya perbedaan temperatur).
Simbol yang digunakan adalah Q dengan satuan [J] atau [kJ]. Kalor,
seperti halnya dengan kerja, adalah fungsi dari lintasan/proses (dan kondisi
32

awal dan akhir),

karena itu differensialnya ditulis sebagai Q

dan bila

diintegralkan,
1

Q = 1Q2

adalah kalor yang dipindahkan selama proses dari 1 ke 2 dan satuannya adalah
[J ] atau [kJ]
Laju perpindahan kalor dari dan atau ke suatu sistem dinyatakan dengan
Q = Q/dt [W] atau [kW]
Kalor yang dipndahkan persatuan massa , q = Q/m [J/kg] atau [kJ/kg]
Konvensi tanda untuk Kerja dan Kalor:
Kalor yang ditransfer ke sistem adalah positif (+)
Kalor yang ditransfer dari sistem adalah negatif (-)
Kerja yang dilakukan pada sistem adalah negatif (-)
Kerja yang dilakukan oleh sistem adalah positif (+)

Q (-)
W(-)
Sistem

W (+)
Q(+)

Gambar 3.5 Konvensi tanda pada kerja dan kalor


3.2

HUKUM THERMODINAMIKA PERTAMA


Dikenal juga sebagai hukum kekekalan energi bahwasanya energi tak

dapat diciptakan atau dimusnahkan tetapi hanya dapat dialihkan dari satu bentuk
ke bentuk yang lainnya.
33

Ada tiga bentuk pernyataan hukum pertama, yaitu:

3.2.1

a.

Untuk sistem yang mengalami siklus

b.

Untuk sistem yang mengalami perobahan keadaan (proses)

c.

Untuk sistem terbuka (volume kontrol)

Hukum Thermodinamika Pertama untuk Sistem yang Mengalami


Siklus
Hukum ini menyatakan bahwa pada suatu sistem yang mengalami siklus

maka integral siklus dari kalor berbanding lurus dengan integral siklus dari kerja.
Atau dengan kata lain netto pemindahan kalor didalam suatu siklus sama dengan
netto kerjanya. Dalam bentuk matematikanya:
Je Q = W
dimana Je adalah faktor konversi satuan kalor ke satuan kerja, yaitu:
Je = 1 untuk sistem SI , atau 1 J = 1 N m
Je = 778 untuk sistem British, atau 1 Btu = 778 lbf ft
3.2.2

Hukum Thermodinamika Pertama untuk Sistem yang Mengalami


Proses
Perhatikan sistem yang mengalami proses dari keadaan 1 ke 2 (Gambar

3.6).
P

1
V
Gambar 3.6 Suatu sistem yang mengalami proses dari keadaan 1 ke 2
34

Maka Hukum Pertama dapat dituliskan sebagai berikut:


Q = dE + W , [J] atau [kJ]
Dimana: E : adalah energi dari sistem = U + KE + PE
U : energi dalam
KE : energi kinetik = m2
: kecepatan, [m/s]
PE : energi potensial = mgz
z

: ketinggian, [m]

Integralkan persamaan diatas

dari keadaan 1 ke keadaan 2, akan

menghasilkan:
1Q2

= E 2 - E1 +

1W2 ,

atau

1Q2

= U2 - U1 + m (22 - 12) + mg (z2 - z1) +

1W2

, [J] atau [kJ]

Dalam bentuk per unit massa :


= u2 - u1 + (22 - 12) + g (z2 - z1) + 1w2 , [J/kg] atau [kJ/kg]

1q 2

Umumnya, KE dan PE sangat kecil bila dibandingkan dengan


suku lainnya pada persamaan diatas, oleh karena itu dapat diabaikan sehingga
diperoleh:
1Q 2

= U2 - U1 + 1W2

dan
1q2

= u2 - u1 +

1w2

Contoh soal 3.2:


Sebuah tangki berisi fluida yang diaduk-aduk dengan sebuah pengaduk
roda. Kerja input dari pengaduk 6000 kJ. Kalor yang dipindahkan dari tangki
2000 kJ. Anggap tangki dan fluida sebagai sistem, tentukan perobahan energi
dalam.
35

W = - 6000 kJ

Q = - 2000 kJ
Fluida

Gambar 3.6. Fluida yang diaduk didalam tangki sebagai sistem


Jawaban: Hukum thermodinamika untuk sistem yang mengalami proses:
1Q2

= U2 - U1 + 1W2

- 2000 = U2 - U1 - 6000
Maka beda energi dalam, U2 - U1 = 4000 kJ
Contoh soal 3.3:
Sebuah tangki mempunyai volume 5 m3 dan berisi 0.05 m3 cairan dan 4.95
m3 uap air pada 0.1 MPa. Tangki dan isinya dipanaskan sampai seluruh isi
tangki berubah menjadi uap jenuh. Tentukan banyaknya kalor yang masuk pada
proses ini.

Uap.
jenuh

Uap.
jenuh

cairan
Sumber
Kalor

Gambar 3.7 Pemanasan sebuah tangki


36

Jawaban: Anggap massa total didalam tangki sebagai sistem, maka hukum
thermodinamika pertama dengan mengabaikan KE dan PE adalah:
1Q2

= U2 - U1 + 1W2

Karena tidak ada kerja maka

1Q2

= U 2 - U1

Energi dalam pada kondisi awal (campuran cairan dan uap)


U1 = mg1 ug1 + mf1 uf1
Dengan menggunakan Tabel uap dapat diperoleh:
massa uap pada keadaan awal, mg1 = Vg1 /vg1 = 4.95/1.6940 = 2.92 kg
massa cairan pada keadaan awal, mf1 = Vf1 /vf1 = 0.05/0.001043 = 47.94 kg
dan massa total, m1 = mg1 + mf1 = 50.86 kg
Sehingga energi dalam awal,
U1 = 2.92 (2506.1) + 47.94 (417.36) = 27326 kJ
Karena tidak ada perobahan volume total dan massa, maka volume spesifik
akhir diperoleh sebagai, v2 = V2/m2 = 5/50.86 = 0.09831 m3/kg
Karena dalam kondisi uap jenuh maka v2 = vg2 dan dengan menginterpolasi
Table A1.2 untuk vg2 = 0.09831 m3/kg, energi dalam spesifik kondisi akhir
dapat diperoleh sebagai

ug2 = u2 = 2600.5 kJ/kg. Selanjutnya energi dalam

kondisi akhir diperoleh sebagai, U2 = m2 u2 = 50.86 (2600.5) = 132261 kJ/kg


Dengan demikian kalor yang masuk adalah,
1Q 2

3.2.3

= 132261 - 27326 = 104935 kJ

Hukum Thermodinamika Pertama untuk Sistem Terbuka

Untuk sistem terbuka sebagaimana terlihat pada Gambar 3.8, rumus hukum
Thermodinamika pertama secara umum dapat dituliskan sebagai:
Q + mi (hi + i2/2 + gzi) = dE/dt + me (he + e2/2 + gze) + W , [kW]
Tanda penjumlahan ( ) dimaksudkan untuk mengakomodir

penjumlahan

energi yang dibawa oleh massa yang masuk maupun yang keluar karena massa
yang masuk maupun yang keluar masing-masing dapat lebih dari satu.

37

mi
i
Ti
Pi
zi

me
e
Te
Pe
ze

Sistem

Q
Gambar 3.8 Sistem Terbuka
a.

Kondisi stedi

dE/dt = 0

b. Kondisi stedi dengan satu aliran masuk dan satu aliran keluar, maka
mi = me = m dan rumusnya menjadi:
Q + m (hi + i2/2 + gzi) = m (he + e2/2 + gze) + W
c.

, [kW]

Dalam bentuk per unit massa


q + hi + i2/2 + gzi = he + e2/2 + gze + w , [kJ/kg]

Contoh soal 3.4:


Perhatikan sebuah turbin uap sebagai sistem terbuka dengan dua aliran
masuk dan satu aliran keluar (disertai data) pada Gambar 3.9. Untuk kondisi
stedi dan kalor yang keluar dari turbin sebesar 50 kW, tentukan daya output
turbin uap.
i1

i2

m , kg/s

1.2

0.3

1.5

P, MPa

0.4

T, C

400

300

Sat

, m/s

50

100

200

z, m

38

i2

i1

Turbin
uap
W
Q

Gambar 3.9. Turbin uap sebagai sistem terbuka


Jawaban: Hukum pertama dapat dituliskan sebagai:
Q + mi1(hi1 + i12 /2 + gzi1) + mi2(hi2 + i22/2 + gzi2) = me(he + e2/2 + gze) + W
Nilai hi1, hi2, dan he diperoleh dari tabel uap berdasarkan data tekanan dan
temperatur, sehingga dieproleh:
-50+1.2[3213.6+502/2000+9.8(4)/1000]+0.3 [3023.5+100 2/2000+9.8(6)/1000] =
1.5 [2738.6 + 2002/2000 + 9.8(2)/1000] + W
Dan daya output turbin diperoleh sebagai: W = 578.5 kW
Catatan:
a.

Angka pembagi 2000 dan 1000 pada energi kinetik dan energi potensial
adalah faktor konversi satuan energi untuk membuat semua suku sama
dalam satuan [kW].

b.

Sebenarnya, nilai energi kinetik dan energi potensial sangat kecil bila
dibandingkan dengan suku yang lainnya. Dalam banyak hal mereka
dapat diabaikan.

3.3 HUKUM THERMODINAMIKA KEDUA


Dari pembahasan Hukum Thermodinamika Pertama pada sub-bab
sebelumnya ada beberapa yang perlu diperhatikan sebelum melakukan
pembahasan Hukum Thermodinamika Kedua, yaitu:
39

a.

Integral siklus dari kalor/panas sama dengan integral siklus dari kerja

b.

Tidak/belum ada pembatasan arah aliran kalor dan kerja

c.

Pembatasan akan muncul sebagai akibat dari Hukum Thermodinamika


Kedua

d.

Suatu siklus dapat/akan terjadi bila kedua Hukum Thermodinamika


dipenuhi.

Hukum Thermodinamika Kedua tidak terdapat dalam bentuk matematika


namun dapat dinyatakan dengan

dua pernyataan klasik, yaitu:

pernyataan

Kelvin-Planck dan pernyataan Clausius


3.3.1

Pernyataan Kelvin-Planck
Tidak mungkin untuk membuat suatu alat/mesin yang beroperasi

dengan suatu siklus tertentu dan tidak menghasilkan efek selain dari
pengangkatan sebuah beban dan pertukaran kalor dengan sebuah sumber
kalor.
Implikasi dari pernyataan ini pada mesin kalor seperti pada Gambar 3.10.

Sumber kalor, TH

QH

MK

MK : mesin kalor
TH > TL
Kesetimbangan energi
QH = W + Q L
QL ada (QL > 0) maka W < QH
Prestasi dinyatakan dengan
efisiensi thermal sebagai:
th = W/QH = (QH QL)/QH
th = (1 QL/QH) < 1

QL
Sumber kalor, TL
Gambar 3.10 Sketsa mesin kalor.

40

3.3.2

Pernyataan Clausius
Tidak mungkin untuk membuat suatu alat/mesin yang beroperasi

dengan suatu siklus tertentu dan menghasilkan efek selain dari pemindahan
kalor dari suatu benda yang bertemperatur lebih rendah ke benda lain yang
bertemperatur lebih tinggi.
Implikasi dari pernyataan ini pada mesin pendingin (refrijerasi) seperti
pada Gambar 3.11.

Sumber kalor, TH
QH
MP

MP : mesin pendingin

TH > TL

Kesetimbangan energi:
W + Q L = QH

W > 0 (untuk memindahkan


kalor dari TL ke TH)

Prestasi dinyatakan dengan


koefisien prestasi

QL

COP= = QL/W= QL/(QH - QL)


COP = = 1/ (QH/QL - 1)

Sumber kalor, TL
Gambar 3.11 Sketsa mesin pendingin
Pada mesin kalor efisiensi thermal selalu lebih kecil dari satu, tetapi
pada mesin pendingin COPnya dapat lebih kecil dari satu, dapat sama dengan
satu, dan dapat lebih besar dari satu bergantung kepada nilai QH/QL.
Yang pasti nilai QH/QL > 1 dan
bila QH/QL < 2 COP = > 1
bila QH/QL = 2 COP = = 1
bila QH/QL > 2 COP = < 1
Mesin yang baik/efisien tentu yang mempunyai COP () > 1(setinggi mungkin).
41

3.3.3

Efisiensi Thermal Maksimum dan COP Maksimum


Dari uraian sebelumnya nilai th < 1 dan nilai COP dapat > 1, pertanyaan

yang muncul: berapakah nilai maksimum masing-masing efisiensi (mesin kalor)


dan COP (mesin pendingin) pada pasangan TH dan TL tertentu?. Jawabannya
adalah Siklus Carnot yang dapat menghasilkan nilai maximum efisiensi dan
COP pada pasangan TH dan TL tertentu. Nilai maksimum masing-masing dapat
ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
a. Mesin kalor
Umumnya, th = W/QH = 1 - QL/QH
Untuk siklus Carnot , max = 1 - TL/TH
b.

Mesin Pendingin
Umumnya, COP = = QL/W = 1/(QH/QL - 1)
Untuk siklus Carnot, COPmax = max = 1/(TH/TL - 1)

Catatan:
a.

Temperatur TH dan TL dinyatakan dalam [K]

b.

QH , QL , dan W [kJ] pada rumus diatas dapat digantikan dengan


QH , QL , dan W [kW] atau qH , qL, dan w

[kJ/kg]

Contoh soal 3.5:


Seorang penemu mengaku telah membuat suatu mesin kalor yang
beroperasi pada temperatur 400 0C dan 40 0C. Mesin mengggunakan bahan
bakar dengan nilai kalor pembakaran 44000 kJ/kg.

Bila komsumsi bahan

bakarnya 0.25 kg/s, tentukan daya output maksimum dari mesin. Petunjuk:
anggap mesin beroperasi sebagai Siklus Carnot.
Jawaban:
Daya output maksimum dapat dicapai bila efisiensinya maksimum, yaitu
max = W max /QH = 1 - TL/TH
= 1 - (40 + 273)/(400+273)
= 0.5349 = Wmax /Q H
42

QH = mbb . Hv = 0.25 (44000) = 11000 kW


Wmax = 0.5349 QH = 0.5349 . 11000 = 5883.9 kW
Contoh soal 3.6:
Seorang penemu mengaku telah membuat suatu mesin pendingin yang
beroperasi pada temperatur -15 0C and 45 0C. Daya yang dibutuhkan oleh
kompressor mesin 200 kW. Tentukan efek refrijerasi maksimum dari mesin.
Petunjuk: anggap mesin beroperai sebagai siklus Carnot.
Jawaban:
Efek refrijerasi maksimum dapat dicapai bila koefisien prestasinya maksimum,
yaitu
COPmax = max = QLmax /W = 1/(TH/TL - 1)
= 1/[(45 + 273)/(-15 + 273) - 1] = 4.3
Efek refrijerasi maksimum
QLmax

4.3 . W = 4.3 . 200 = 860 kW

Soal-Soal Bab 3
3.1

Sejumlah gas ideal dengan berat molekul 26 mengalami suatu proses dari
keadaan awal dengan tekanan 0.1 MPa dan temperatur 28 0C ke keadaan
akhir 0.35 MPa. Selama proses hubungan antara tekanan dan volume
sebagai Pv = konstan. Diminta: a) volume awal; b) volume akhir dan
temperatur akhir; c) kerja yang dilakukan per kg gas.

3.2

Sejumlah gas ideal dengan berat molekul 23 mengalami suatu proses dari
keadaan awal
dengan tekanan 0.15 MPa dan temperatur 23 0C ke
keadaan akhir 0.45 MPa. Selama proses hubungan antara tekanan dan
volume sebagai Pv1.25 = konstan. Diminta a) volume awal; b) volume
akhir dan temperatur akhir; c) kerja yang dilakukan per kg gas.

3.3

Sejumlah gas ideal dengan berat molekul 28 mengalami suatu proses dari
keadaan awal dengan tekanan 0.40 MPa dan temperatur 133 0C ke
keadaan akhir 0.12 MPa. Selama proses hubungan antara tekanan dan
volume sebagai Pv1.35 = konstan. Diminta: a) volume awal; b) volume
akhir dan temperatur akhir; c) kerja yang dilakukan per kg gas.
Sejumlah gas ideal dengan berat molekul 32 mengalami suatu proses dari
keadaan awal dengan tekanan 0.1 MPa dan volume 1.3 m3/kg ke keadaan
akhir 0.5 m3/kg. Selama proses hubungan antara tekanan dan volume

3.4

43

sebagai Pv1.45 = konstan. Diminta: a) temperatur awal; b) tekanan akhir


dan temperatur akhir; c) kerja yang dilakukan per kg gas.
3.5

Sejumlah gas ideal dengan berat molekul 21 mengalami suatu proses dari
keadaan awal dengan temperatur 28 0C dan volume 0.28 m3/kg ke
keadaan akhir 0.35 MPa. Selama proses hubungan antara tekanan dan
volume sebagai Pv = konstan. Diminta: a) tekanan awal; b) volume akhir
dan temperatur akhir; c) kerja yang dilakukan per kg gas.

3.6

Uap air dengan massa 0.7 kg ditempatkan di dalam sebuah silinder yang
dilengkapi dengan piston bebas gesekan. Volume awal 0.1 m3 dan
tekanan awal 0.5 MPa. Silinder dan isinya kemudian dipanaskan sampai
temperatur 3000C sementara tekanan tetap konstan. Diminta: a) Kerja; b)
beda energi dalam dan beda entalpi; c) kalor yang masuk.

3.7

Uap air dengan massa 0.6 kg ditempatkan di dalam sebuah silinder yang
dilengkapi dengan piston bebas gesekan. Volume awal 0.05 m3 dan
tekanan awal 0.5 MPa. Silinder dan isinya kemudian dipanaskan dengan
volume tetap konstan sampai uap menjadi jenuh. Diminta: a) tekanan
dan temperatur akhir b) Kerja; c) beda energi dalam dan beda entalpi; d)
kalor yang masuk.

3.8

Sebuah tangki kaku berisi 7 kg uap jenuh oxigen pada temperature 130 K.
Tangki dan isinya kemudian didinginkan sampai 80 K. Diminta: a)
Tekanan dan volume pada awal dan akhir proses; b) Kalor yang keluar
selama pendinginan.

3.9

Sebuah silinder yang dilengkapi dengan piston bebas gesekan mempunyai


volume awal
0.15 m3, berisi udara pada 0.2 MPa dan 300C. Piston
kemudian bergerak menekan udara didalam silinder sampai 1.2 MPa dan
2000C. Selama proses kompressi, silinder serta isinya dipanaskan dan
kerja pada piston/udara sebesar 25 kJ. Tentukan kalor yang masuk.

3.10

Tuliskan formulasi Hukum Thermodinamika pertama untuk sistem


terbuka dengan kondisi stedi, untuk: a) satu aliran massa masuk dan dua
aliran massa keluar; b) dua aliran massa masuk dan dua aliran mass
keluar.

3.11

Pada sebuah turbin uap yang dianggap sebagai sistem terbuka, uap masuk
pada 4 MPa dan 5000C dengan laju aliran massa 2.2 kg/s, kecepatan 60
m/s, dan ketinggian 8 m. Uap keluar dua kali: pertama pada 2 MPa dan
300 0C dengan laju aliran massa 0.8 kg/s, kecepatan 120 m/s, dan
ketinggian 5 m; kedua sisa uap keluar pada 0.15 MPa dalam keadaan
jenuh, kecepatan 250 m/s, dan ketinggian 3 m. Untuk kondisi stedi
44

dengan kalor yang keluar dari turbin 35 kW, diminta tentukan daya output
turbin.
3.12

Pada sebuah turbin uap yang dianggap sebagai sistem terbuka, uap masuk
dua kali: pertama pada 5MPa dan 500 0C dengan laju aliran massa 2.0
kg/s, kecepatan 60 m/s, dan ketinggian 8 m. Pemasukan kedua pada 3
MPa dan 400 0C dengan laju aliran massa 0.8 kg/s, kecepatan 80 m/s, dan
ketinggian 10 m. Uap juga keluar dua kali: pertama pada 2 MPa dan 250
0
C dengan laju aliran massa 0.9 kg/s, kecepatan 130 m/s, dan ketinggian 5
m; kedua sisa uap keluar pada 0.20 MPa dalam keadaan jenuh, kecepatan
250 m/s, dan ketinggian 3 m. Untuk kondisi stedi dengan kalor yang
keluar dari turbin 55 kW, diminta daya output turbin.

3.13

Suatu mesin kalor beroperasi pada temperatur 350 0C dan 35 0C


menghasilkan daya maksimum sebesar 500 kW. Bahan bakar yang
digunakan mempunyai nilai kalor pembakaran sebesar 43000 kJ/kg.
Tentukan komsumsi bahan bakar minimum dari mesin ini. Anggap mesin
ini bekerja dengan siklus Carnot.

3.14

Suatu mesin pendingin yang dianggap bekerja menurut siklus Carnot


beroperasi pada temperatur 40 0C dan -15 0C serta membutuhkan daya
listrik sebesar 75 kW. Tentukan efek refrigerasi dan kalor yang dibuang
ke kondensor.

3.15

Suatu mesin pendingin beroperasi pada temperature -25 0C dan 42 0C .


Kebutuhan daya mesin pendingin ini disediakan oleh sebuah mesin kalor
yang beroperasi pada temperatur 45 0C dan 300 0C serta menggunakan
bahan bakar dengan nilai kalor pembakaran 43000 kJ/kg. Bila konsumsi
bahan bakar yang dibutuhkan mesin kalor sebesar 0.27 kg/s, tentukan efek
pendinginan maksimum dan kalor yang dibuang kekondensor (untuk
mesin pendingin).

3.16

Suatu mesin pendingin beroperasi pada temperature -20 0C dan 40 0C .


Kebutuhan daya mesin pendingin ini disediakan oleh sebuah mesin kalor
yang beroperasi pada temperatur 40 0C dan 350 0C serta menggunakan
bahan bakar dengan nilai kalor pembakaran 43500 kJ/kg. Bila daya
kompressor yang yang dibutuhkan mesin pendingin sebesar 320 kWs,
tentukan konsumsi bahan bakar minimum yang dibutuhkan oleh mesin
kalor.

45

BAB 4
PROSES POLITROPIK UNTUK GAS IDEAL
Karena proses politropik yang akan dibahas pada bab ini khusus untuk
gas ideal maka terlebih dahulu akan dikemukakan sejumlah informasi tambahan
mengenai gas ideal sebagai tambahan dari apa yang terdapat pada bab
sebelumnya.

Kemudian akan diikuti dengan pembahasan mengenai proses

politropik.
4.1

GAS IDEAL

4.1.1 Persamaan Keadaan Gas Ideal


Persamaan keadaan Gas Ideal mempunyai empat bentuk, yaitu
P v* = R* T
Pv

= RT

P V = n R* T
PV = mRT
4.1.2

Panas Jenis
Pada umumnya panas jenis suatu zat merupakan fungsi dari berbagai

besaran/sifat thermodinamika. Panas jenis terdiri atas dua, yaitu :


Panas jenis pada volume konstan, cv = (u/T)v dan
Panas jenis pada tekanan konstan, cP = (h/T)P
Dengan pengertian bahwa energi dalam spesifik u dan entalpi spesifik h
adalah fungsi dari tekanan, temperatur, volume spesifik, dan entropi spesifik,
atau:
u = u (P, T, v, s) dan h = h (P, T, v, s)
Khususnya untuk gas ideal dan berdasarkan teori kinetik gas, energi
dalam u hanya merupakan fungsi dari T saja, atau u = u (T). Dari definisi
entalpi,
h = u + Pv = u (T) + R T = h (T) , maka entalpi juga adalah fungsi dari
temperatur saja.
46

Dengan demikian definisi dari panas jenis khususnya untuk gas ideal
berobah menjadi:
cv = du/dT

dan

cP = dh/dT

atau du = cv dT dan bila diintegralkan u2 - u1 = cv (T2 - T1)


juga
4.1.3

dh = cP dT

dan bila diintegralkan h2 - h1 = cP (T2 - T1)

Hubungan Antara cv , cP , dan R untuk Gas Ideal


Dari definisi entalpi, h = u + Pv = u + R T dan bila didifferensialkan

akan menghasilkan dh = du + R dT.


Karena dh = cP dT dan du = cvdT
Maka cP dT = cv dT + R dT
cP = c v + R

atau

atau

R = cp - cv yang berlaku hanya untuk gas ideal.


Sebagai contoh, udara: cp = 1.0035 kJ/kg-K
cv = 0.7165 kJ/kg-K
R = 0.287

kJ/kg-K

k = cP/cv = 1.4
4.2 PROSES POLITROPIK
Proses politropik untuk gas ideal didefinisikan sebagai:
PVn = konstan
dimana n adalah konstante (eksponen politropik) dan nilainya bergantung kepada
jenis prosesnya.
4.2.1 Penentuan Nilai Eksponen Politropik
a. Proses isobarik, nilai n diperoleh dari definisi proses politropik: Bila P =
konstan, maka Vn = konstan = 1, hanya terjadi bila n = 0. Maka nilai eksponen
politropik untuk proses isobarik adalah n = 0.
b. Proses isochorik, nilai n diperoleh dari definisi proses politropik: Bila V =
konstan, maka P-1/n = V = konstan, hanya terjadi bila -1/n = 0 atau n = .
Maka nilai eksponen politropik untuk proses isochorik adalah n = .
47

c. Proses isothermal, nilai n diperoleh dari persamaan keadaan gas ideal (Pv =
RT) dan definisi proses politropik: Bila T
membandingkan kedua persamaan ternyata

=
=

konstan dan dengan


1. Maka nilai eksponen

politropik untuk proses isothermal adalah n = 1.


d. Proses isentropik, nilai n = k = cP/cv.
4.2.2 Kerja Pada Proses Politropik
Definisi umum kerja kompressibel (thermodinamika) adalah sebagai
berikut:
1W2

= 12 P dV

Untuk proses politropik PVn = C atau P = C V-n


Maka 1W2 = 12 P dV = 12 C V -n dV
1W2
1W2

= (P2 V2 - P1 V1)/(1 - n) , dan untuk gas ideal


= m R (T2 - T1)/(1 - n)

(hubungan diatas berlaku umum untuk semua harga n kecuali untuk n = 1)


Khusus untuk n = 1 (proses isothermal) P V = C P = C V -1,
dan

1W 2

= 12 P dV = 12 C V-1 dV

1W 2

= P1V1 ln (V2/V1) (hanya khusus berlaku untuk n = 1)

Ingat: P1V1 = P2V2 = m R T1 = m R T2 dan V2/V1 = P1/P2


4.2.3

Perobahan Energi Dalam Pada Proses Politropik


u2 u1 = cv (T2 - T1) atau
U2 - U1 = m cv (T2 - T1)

4.2.4

Kalor yang dipindahkan pada proses politropik


Berdasarkan Hukum Thermodinamika pertama untuk sistem yang

mengalami proses dan dengan mengabaikan energi kinetik dan energi potensial
diperoleh:
1Q2

= 1W2 + U2 - U1
48

Isentropik

Isothermal

Isochorik

Isobarik

k = cp/cv

= mR (T2 - T1) / (1 k)

(P2V2 -P1V1) (1-k)

P1V1 ln (V2/V1)

m cv (T2 - T1)

m cv (T2 - T1)

U2 - U1 [kJ]

m cv (T2 - T1)

[kJ]

P2V2 - P1V1 = m R (T2 - T1)

1W2

P1V1 ln (V2/V1)

m cv (T2 - T1)

= H2 - H1

T1 / P1 (k-1)/k = T2 / P2 (k-1)/k

T/P (k-1)/k = C

T1V1k-1 = T2V2k-1

TVk-1 = C

PVk = C P1V1k = P2V2k

m R T 1 = m R T2

PV = C P1V1 = P2V2 =

T = C T 1 = T2

= C T1/P1= T2/P2

V = C V1 = V2 T/P

T/V = C T1/V1 = T2/V2

= m cP (T2 - T1)

P V T

Hubungan

P = C P 1 = P2

[kJ]

m (R + cv) (T2 - T1)

1Q2

Tabulasi Kerja, Perobahan Energi Dalam, dan Pemindahan Kalor pada Proses Politropik

Proses

4.2.5

49

Contoh soal 4.1:


Lima kilogram udara dikompresi di dalam suatu silinder dari keadaan awal
0.1 MPa dan 40 0C ke keadaan akhir 0.3 MPa. Bila proses kompressi secara
isentropik, tentukan:
a.

Volume awal

b.

Volume dan temperatur akhir

c.

Kerja yang dilakukan, perobahan energi dalam, dan kalor yang dipindahkan
selama proses
Jawaban:

a. Anggap udara sebagai gas ideal, maka volume awal,


V1 = m R T1/P1 = 5 x 0.287 x (40+273)/100 = 4.492 m3.
b. Untuk proses isentropik, P1V1k = P2V2k, maka volume akhir,
V2 = V1(P1/P2)1/k = 4.492(0.1/0.3)1/1.4 = 2.049 m3. dan temperatur akhir,
T2 = P2 V2/m R = 300 x 2.049/(5 x 0.287) = 428.37 K
c. Kerja yang dilakukan:
1W 2

= m R (T2 - T1)/(1 k)
= 5 x 0.287 x (428.37 313)/(1 1.4) = - 413.89 kJ

Perobahan energi dalam:


U2 - U1 = m cv (T2 - T1) = 5 x 0.7165 x (428.37 313) = 413.31 kJ
Kalor yang dipindahkan:
1Q2

= 1W2 + U2 - U1 = - 413.89 + 413.31 0.

Contoh soal 4.2:


Tujuh kilogram udara berekspansi dalam silinder dari keadaan awal 0.35
MPa dan 140 0C ke keadaan akhir 0.15 MPa. Bila proses ekspansi secara
isothermal, tentukan:
a.

Volume awal

b.

Volume dan temperatur akhir

c.

Kerja yang dilakukan, perobahan energi dalam, dan kalor yang


dipindahkan selama proses
50

Jawaban:
a. Anggap udara sebagai gas ideal, maka volume awal,
V1 = m R T1/P1 = 7 x 0.287 x (140+273)/350 = 2.371 m3
b. Untuk proses isothermal, P1V1 = P2V2, maka volume akhir,
V2 = V1(P1/P2) = 2.371(0.35/0.15) = 5.531 m3 dan temperatur akhir,
T2 = T1 = 140 0C
c. Kerja yang dilakukan:
1W2

= P1V1 ln V2/V1 = 350 x 2.371 ln (5.531/2.371) = 704. 74 kJ.

Perobahan energi dalam:


U2 - U1 = m cv (T2 - T1) = 0
Kalor yang dipindahkan:
1Q2

= 1W2 + U2 - U1 = 1W2 = 704.74 kJ

Soal-Soal Bab 4
4.1

Empat kilogram udara berekspansi secara isentropik di dalam silinder


dari keadaan awal 0.55 MPa dan 120 0C ke keadaan akhir 40 0C.
Tentukan: a) volume awal; b) volume dan tekanan akhir; c) kerja yang
dilakukan, perobahan energi dalam, dan panas yang dipindahkan selama
proses.

4.2

Tiga kilogram udara dikompressi secara isothermal di dalam silinder dari


keadaan awal 0.15 MPa dan 40 0C ke keadaan akhir 0.9 m3. Tentukan:
a) volume awal; b) tekanan akhir; c) kerja yang dilakukan, perobahan
energi dalam, dan panas yang dipindahkan selama proses.

4.3

Sejumlah udara didalam silinder dipanaskan dengan tekanan tetap konstan


dari keadaan awal 30 0C dan 1.2 m3/kg ke keadaan akhir 85 0C.
Tentukan: a) tekanan awal; b) volume akhir per kg udara; c) kerja yang
dilakukan, perobahan energi dalam, dan panas yang dipindahkan per kg
udara.

4.4

Sejumlah udara didalam silinder didinginkan dengan volume tetap


konstan dari keadaan awal 125 0C dan 1.2 MPa ke keadaan akhir 55 0C.
Tentukan: a) volume awal; b) temperatur akhir per kg udara; c) kerja
yang dilakukan, perobahan energi dalam, dan panas yang dipindahkan per
kg udara.

51

BAB 5
SIKLUS DAYA UDARA STANDAR
Berbagai mesin pembakaran dalam seperti motor bensin, motor diesel,
dan turbin gas dikenal menggunakan fluida kerja berupa gas. Gas ini merupakan
hasil pembakaran bahan bakar dengan oxigen yang berasal dari udara.
Sebenarnya fluida kerja mesin ini tidak sepenuhnya homogen sebagai gas,
karena adanya penggunaan bahan bakar cair, namun karena komposisi udara
yang jauh lebih besar dan untuk kemudahan dalam analisis thermodinamika
maka pada umumnya fluida kerja pada siklus mesin pembakaran dalam dianggap
sebagai udara dan lebih jauh siklusnya disebut sebagai Siklus Daya Udara
Standar (Air Standard Power Cycles). Lebih lengkapnya berikut ini adalah
asumsi-asumsi yang diperlukan sebelum melakukan analisis thermodinamika
terhadap siklus daya udara standar:
a.

Sejumlah massa udara yang konstan dianggap sebagai fluida kerja pada
keseluruhan siklus, selanjutnya udara dianggap sebagai gas ideal

b.

Proses pembakaran digantikan oleh proses pemindahan kalor dari suatu


sumber luar.

c.

Siklus dilengkapi dengan pemindahan kalor ke sekeliling (sebagai


pengganti proses pembuangan dan pemasukan pada mesin aktual)

d.

Semua proses dianggapa reversible internal.

e.

Udara dianggap mempunyai panas jenis yang konstan

Berikut ini beberapa siklus daya udara stndar yang akan dibahas pada bab
ini:
a.

Siklus Carnot

b.

Siklus Otto (motor bensin)

c.

Siklus Diesel (mesin diesel)

d.

Siklus Gabungan (mesin diesel)

e.

Siklus Stirling
52

5.1

f.

Silkus Ericsson

g.

Siklus Brayton (Turbin Gas)

h.

Siklus Jet propulsi

SIKLUS CARNOT
Siklus Carnot

merupakan siklus ideal murni dalam arti kata

tidak/belum ada mesin aktual dilapangan yang beroperasi dengan menggunakan


siklus ini. Mesikipun demikian Siklus Carnot sangat penting untuk diketahui dan
dimengerti karena keistimewaannya sebagaimana yang sudah dikemukakan pada
bab sebelumnya, yaitu merupakan siklus/mesin kalor yang mempunyai efisiensi
thermal tertinggi untuk nilai pasangan temperatur operasi (TH dan TL) tertentu.
Dengan demikan Siklus Carnot dapat dipakai sebagai referensi bagi siklus dan
atau mesin-mesin lainnya.
Siklus Carnot terdir atas empat proses, yaitu:
a. Proses 1 2: ekspansi isothermal (kalor masuk, qm)
b. Proses 2 3: ekspansi isentropik
c. Proses 3 4: kompressi isothermal (kalor dibuang/keluar, qk)
d. Proses 4 1: kompressi isentropik
Untuk lebih jelasnya Siklus Carnot dengan keempat prosesnya diperlihatkan
pada diagram P-v dan T-s, seperti pada Gambar 5.1.
Efisiensi thermal Siklus Carnot sebagaimana halnya siklus mesin kalor
lainnya ditentukan sebagai:
th = 1 - qk/qm , atau
= 1 - TL/TH
TL (= T3 = T4) dan TH (= T1 = T2) adalah temperatur dalam [K] dimana
kalor dibuang dari siklus dan kalor dimasukkan pada siklus.
Efisiensi ini dapat juga dinyatakan dengan rasio tekanan isentropik (rps)
maupun rasio kompressi isentropik (rvs) yang dapat didefinisikan sebagai berikut:
Rasio tekanan isentropik:
rps = P1/P4 = P2/P3 = (T3/T2)k/(1 - k) = (TL/TH)k/(1 - k)
53

qm

T
1

qm

TH

1
2

2
TL

4
qk

qk

3
s

v
Gambar 5.1 Siklus Carnot
Rasio kompressi isentropik:
rvs = v4/v1 = v3/v2 = (T3/T2)1/(1-k) = (TL/TH)1/(1-k)
Dengan demikian : th = 1 - rps(1-k)/k = 1 - rvs1-k
Contoh soal 5.1:

Pada suatu Siklus Carnot kalor masuk ke fluida kerja pada 1100 K
sebesar 120 kJ/kg dan kalor dibuang/dikeluarkan pada 320 K. Tekanan minimum
pada siklus 0.1 MPa. Tentukan tekanan pada setiap titik proses, efisiensi dan
tekanan efektif rata-rata siklus.
Jawaban:
P3 = 0.1 MPa

T3 = T4 = 320 K

T1 = T2 = 1120 K

Karena proses 2-3 adalah isentropik maka berlaku :


T2/T3 = 1120/320 = 3.5 = (P2/P3)(k-1)/k = (P2/P3)0.286

dan diperoleh

P2/P3 = 80.21 dan P2 = 0.1 (80.21) = 8.021 MPa.


Perhatikan proses 1-2 adalah proses isothermal sehingga berlaku:
1q2 =

qm = 120 kJ/kg = RT ln V2/V1 = RT ln P1/P2


= 0.287(1120) ln P1/P2
54

Maka diperoleh P1/P2 = 1.4525 dan P1 = 11.651 MPa.


Karena P2/P3 = P1/P4 = 80.21 maka P4 = 11.651/80.21
= 0.14526 MPa
Efisiensi thermal, th = 1 - TL/TH = 1 320/1120
= 0.7143 = 71.43 %
Tekanan efektif rata-rata, mep = wnet/volume langkah = wnet/(v3 v1)
wnet = th x qm = 0.7143 x 120 = 85.716 kJ/kg
Dari persamaan keadaan gas ideal:
v3 = RT3/P3 = 0.287 x 320/100 = 0.9184 m3/kg
v1 = RT1/P1 = 0.287 x 1120/11651 = 0.02759 m3/kg
Maka diperoleh, mep = 85.716/(0.9184 0.02759) = 96.22 kPa.
5.2

SIKLUS OTTO
Siklus Otto merupakan siklus ideal dari motor bensin atau mesin

pembakaran dalam dengan sistem penyalaan bunga api ( spark-ignition internal


combustion engines). Mesin semacam ini banyak digunakan sebagai mesin
kendaraan sepeda motor, mobil penumpang, dan mesin-mesin kecil lainnya.
Siklus ini diperlihatkan pada diagram P - v and T s, seperti pada
Gambar 5.2 yang terdiri atas empat proses.
Keempat proses tersebut adalah:
a. Proses 1 2: kompressi isentropik
b. Proses 2 3: pemasukan kalor pada volume konstan (isochorik), qm
c. Proses 3 4: ekspansi isentropik
d. Proses 4 1: pembuangan kalor pada volume konstan (isochorik), qk
Sebagai tambahan perlu juga dikemukakan definisi dari perbandingan
kompressi,
rv = v1/v2 = v4/v3

55

qm

qm

1
TDC

BDC

qk

4
1

qk

Gambar 5.2 Siklus Otto


Efisiensi thermal Siklus Otto dari definisi mesin kalor adalah:
th = wnet/qm = (qm - qk)/qm = 1 - qk/qm
Karena qk dan qm berlangsung pada proses isochoric maka efisiensi thermal
menjadi:
th 1 c v (T 4 T 1 ) = 1 - T 1 ( T 4 / T 1 1 )
c v (T 3 T 2 )
T 2 (T 3 / T 2 1)
Karena proses 1 2 adalah isentropik, maka berlaku Tvk-1 = konstan dan
T1v1k-1 = T2v2k-1 atau T2/T1 = (v1/v2)k-1 = rvk-1
Proses 3 - 4 juga isentropik, maka berlaku juga T3/T4 = rvk-1 dan akibatnya
T2/T1 = T3/T4 atau T4/T1 = T3/T2
Sehingga diperoleh,
th = 1 - T1/T2 = 1 - 1 / r v

k-1

56

Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa efisiensi thermal Siklus Otto
adalah hanya fungsi dari perbandingan kompressi, rv, sebagaimana yang terlihat
pada Gambar 5.3 .

th

0.6
0.4

th

0.2
1

11

16

rv

Gambar 5.3. Efisiensi vs. perbandingan kompressi pada


Siklus Otto
Mean effective pressure (tekanan efektif rata-rata),
mep = wnet/vL = wnet/(v1 v2)
Contoh soal 5.2:
Sebuah siklus Otto mempunyai perbandingan kompressi 9, dan pada awal
langkah kompressi tekanannya 0.1 MPa dan temperaturnya 25 oC. Bila kalor
masuk ke fluida kerja persiklus 1200 kJ/kg, tentukan:
a. Tekanan, temperatur, dan volume pada setiap titik pada siklus
b. Efisiensi thermal dan tekanan efektif rata-rata.
Jawaban:
a. Dari data soal dan Gambar 5.2 Siklus Otto, diperoleh untuk:
Titik 1, P1 = 100 kPa

T1 = 25 +273 = 298 K
57

v1 = R T1/P1 = 0.287 x 298/100 = 0.855 m3/kg


Titik 2, rv = v1/v2 = 9
v2 = v1/9 = 0.855/9 = 0.095 m3/kg
Proses 1 2 adalah isentropik, maka berlaku Tvk-1 = konstan
atau T2/T1 = (v1/v2)k-1 = rvk-1 T2 = 298 x 90.4 = 717.65 K
dan P2/P1 = (v1/v2)k = rvk

P2 = 100 x 91.4 = 2167.40 kPa

Titik 3, v3 = v2 = 0.095 m3/kg


qm = cv (T3 - T2) 1200 = 0.7165 (T3 - 717.65)
T3 = 2392.46 K
P3 = R T3 /v3 = 0.287 x 2392.46/0.095 = 7227.75 kPa
Titik 4, proses 3 4 adalah isentropik, maka berlaku Tvk-1 = konstan
T3/T4 = (v4/v3)k-1 = rvk-1 = 90.4 = 2.408
T4 = T3/2.408 = 2392.46/2.408 = 993.55 K
b. qk = cv (T4 - T1) = 0.7165 (993.55 - 298)
= 498.36 kJ/kg
wnet = qm - qk = 1200 - 498.36 = 701.64 kJ/kg
Efisiensi thermal, th = wnet/qm = 701.64/1200 = 0.5847 = 58.47 %
th = 1 1/rvk-1 = 1 1/90.4 = 0.5848 = 58.48 %
th = 1 T1/T2 = 1 298/717.65 = 0.5848 = 58.48 %
Telah diperoleh hasil efisiensi yang sama dengan menggunakan tiga rumus yang
berbeda.
Tekanan efektif rata-rata mep = wnet/(v1 - v2)
= 701.64/(0.855 - 0.095) = 923.21 kPa
5.3

SIKLUS DIESEL
Siklus Diesel merupakan siklus ideal dari motor diesel yang dikenal

juga dengan nama mesin penyalaan kompressi atau compression-ignition engine.


Mesin diesel banyak digunakan sebagai mesin pembangkit tenaga listrik dan
mesin penggerak alat-alat berat serta kendaraan untuk transportasi barang.
58

Ditinjau dari pandangan thermodinamika Siklus Diesel berbeda dengan Siklus


Otto hanya dalam proses pemasukan kalor. Pada Siklus Otto pemasukan kalor
terjadi pada proses volume tetap (isochorik) sedangkan pada Siklus Diesel terjadi
pada proses tekanan tetap (isobarik). Siklus Diesel dengan keempat prosesnya
diperlihatkan melalui diagram P - v dan T s pada Gambar 5.4 .
P

qm
2

qm

3
4

2
4

qk

qk
v

Gambar 5.4 Siklus Diesel


Keempat proses yang membentuk Siklus Diesel adalah:
a. Proses 1 2: kompressi isentropik
b. Proses 2 - 3 : pemasukan kalor pada tekanan konstan (isobarik), qm
c. Proses 3 4: Ekspansi isentropik
d. Proses 4 1: pembuangan kalor pada volumen konstan (isochorik), qk
Perbandingan kompressi pada Siklus Diesel didefinisikan sebagai,
rv = v1/v2 ( tidak sama dengan v3/v4)
Efisiensi thermal Siklus Diesel dari definisi mesin kalor adalah:
th = wnet/qm = (qm - qk)/qm = 1 - qk/qm
Karena qk berlangsung pada proses isochoric dan qm pada proses isobarik maka
efisiensi thermal menjadi:

59

th = 1 - c v ( T 4 T 1 )

c p (T 3 T 2 )

= 1-

( T4 - T 1 )
k ( T 3- T 2)

k = cp/cv = 1.4 (untuk udara)


Mean effective pressure (tekanan efektif rata-rata),
mep = wnet/vL = wnet/(v1 v2)
Contoh soal 5.3:
Sebuah Siklus Diesel mempunyai perbandingan kompressi 15, dan pada
awal langkah kompressi tekanannya 0.1 MPa dan temperaturnya 27 0C. Bila
temperatur maksimum pada siklus 2400 K, tentukan:
a.

Tekanan, temperatur, dan volume pada setiap titik pada siklus

b.

Efisiensi thermal dan tekanan efektif rata-rata.


Jawaban

a. Dari Gambar 5.4 Silklus Diesel, diperoleh untuk:


Titik 1, P1 = 100 kPa

T1 = 27 +273 = 300 K

v1 = R T1/P1 = 0.287 x 300/100 = 0.861 m3/kg


Titik 2, rv = v1/v2 = 15
v2 = v1/15 = 0.861/15 = 0.0574 m3/kg
Proses 1 2 isentropik, Tvk-1 = konstan dan Pvk = konstan
T2/T1 = (v1/v2)k-1 = rvk-1 T2 = 300 x 150.4 = 886.25 K
P2/P1 = (v1/v2)k = rvk

P2 = 100 x 151.4

= 4431.27 kPa
Titik 3, P3 = P2 = 4431.27 kPa , Tmaks = T3 = 2400 K
qm = cp (T3 - T2) qm = 1.0035 (2400 - 886.25)
qm = 1519.05 kJ/kg
v3 = R T3 /P3 = 0.287 x 2400/4431.27 = 0.1554 m3/kg
Titik 4, karena proses 3 4 adalah isentropik, maka Tvk-1 = konstan dan
T3/T4 = (v4/v3)k-1 = (0.861/0.1554)0.4 = 1.983
T4 = T3/1.983 = 2400/1.983 = 1210.28 K
b.

qk = cv (T4 - T1) = 0.7165 (1210.28 - 300) = 652.22 kJ/kg


60

wnet = qm - qk = 1519.05 - 652.22 = 866.83 kJ/kg


Efisiensi thermal,
th = wnet/qm = 866.83/1519.05 = 0.5706 = 57.06 %
Tekanan efektif rata-rata,
mep = wnet/(v1 - v2) = 866.83/(0.861 - 0.0574) = 1078.68 kPa
5.4

SIKLUS GABUNGAN
Siklus Gabungan atau Combine/Mix Cycle juga merupakan siklus ideal

dari motor diesel dengan lima proses. Dinamakan siklus gabungan karena
pemasukan kalornya merupakan gabungan dari pemasukan kalor pada volume
tetap (seperti pada Siklus Otto) dan pemasukan kalor pada tekanan tetap (seperti
pada Siklus Diesel). Siklus Gabungan diperlihatkan pada diagram P-v dan T-s
pada Gambar 5.5 .

Diagram P v and T - s:
P

qm2
3

qm2
3

qm1
2

qm1

5
1

2
qk

5
qk

Gambar 5.5 Siklus Gabungan


Kelima proses yang membentuk Siklus Gabungan adalah:
a. Proses 1 2: kompressi isentropik
b. Proses 2 - 3 : pemasukan kalor pada volume konstan (isochorik), qm1
c. Proses 3 4: pemasukan kalor pada tekanan konstan (isobarik), qm2
61

d. Proses 4 5: ekspansi isentropik


e. Proses 5 1: pembuangan kalor pada volume konstan (isochorik), qk
Perbandingan kompressi pada Siklus Gabungan didefinisikan sebagai,
rv = v1/v2 ( tidak sama dengan v5/v4)
Efisiensi thermal Siklus Diesel dari definisi mesin kalor adalah:
th = wnet/qm = (qm - qk)/qm = 1 - qk/qm
qm = qm1 + qm2
Karena qm1 dan qk berlangsung pada proses volume konstan dan qm2 pada
proses tekanan konstan, maka efisiensi thermal Siklus Gabungan menjadi:
th = 1 = 1 -

c v (T 5 T 1 )
c v (T 3 T 2 ) c P (T 4 T 3 ) v
(T 5 T 1 )
(T 3 T 2 ) k (T 4 T 3 )

k = cP/cv = 1.4 (untuk udara)


Tekanan efektif rata-rata, mep = wnet/vL = wnet/(v1 v2)
Contoh soal 5.4
Sebuah siklus gabungan mempunyai perbandingan kompressi 9, dan pada
awal proses kompressi udara pada tekanan 0.1 MPa dan temperatur 27 0C. Bila
tekanan maksimumnya 5.4 MPa dan temperatur maksimumnya 4800 K,
tentukan:
a. Tekanan, temperatur, dan volume pada setiap titik pada siklus
b. Efisiensi thermal dan tekanan efektif rata-rata.
Jawaban:
a. Dari data soal dan Gambar 5.5, diperoleh untuk:
Titik 1, P1 = 100 kPa

T1 = 27 +273 = 300 K

v1 = R T1/P1 = 0.287 x 300/100 = 0.861 m3/kg


Titik 2, rv = v1/v2 = 9
v2 = v1/9 = 0.861/9 = 0.0957 m3/kg
Proses 1 2 adalah isentropik maka berlaku Tvk-1 = konstan, atau
62

T2/T1 = (v1/v2)k-1 = rvk-1 T2 = 300 x 90.4 = 722.47 K


P2/P1 = (v1/v2)k = rvk

P2 = 100 x 91.4 = 2167.4 kPa

Titik 3, Pmax = P3 = 5400 kPa


v3 = v2 = 0.0957 m3/kg
T3 = P3 v3/R = 5400 x 0.0957/0.287 = 1800.63 K
Titik 4, P4 = P3 = 5400 kPa
T4 = Tmax = 4800 K
v4 = R T4/P4 = 0.287 x 4800/5400 = 0.2551 m3/kg
Titik 5, v5 = v1 = 0.861 m3/kg
Proses 4 5 adalah isentropik maka berlaku Tvk-1 = konstan, atau
T5/T4 = (v4/v5)k-1 T5 = 4800(0.2551/0.861)0.4 = 2950.69 K
P5 = R T5/v5 = 0.287 x 2950.69/0.861 = 983.56 kPa
b. qm = qm1 + qm2
= cv (T3 T2) + cP (T4 T3)
= 0.7165(1800.63 722.47)+1.0035(4800 1800.63)
= 3782.37 kJ/kg
qk = cv (T5 - T1) = 0.7165 (2950.69 - 300)
= 1899.22 kJ/kg
wnet = qm - qk = 3782.37 - 1899.22 = 1883.15 kJ/kg
Efisiensi thermal,
th = wnet/qm = 1883.15/3782.37 = 0.4979 = 49.79 %
Tekanan efektif rata-rata,
mep = wnet/(v1 - v2) = 1883.15/(0.861 0.0957) = 2460.67 kPa.

5.5

SIKLUS BRAYTON
Siklus Brayton merupakan siklus ideal untuk pembangkit turbin gas

sederhana. Skema instalasi sistem pembangkit turbin gas tertutup sederhana


diperlihatkan pada Gambar 5.6, sedangkan Siklus Brayton diperlihatkan pada
Gambar 5.7 dalam bentuk diagram P-v dan T-s.
63

qm

Penukar kalor
3

Kompressor

Turbin
WT

WC
1

Penukar kalor

qk

Gambar 5.6 Skema instalasi pembangkit turbin gas

qm
2

qm

3
2
1

qk

qk

Gambar 5.7 Siklus Brayton


Siklus Brayton terdiri atas empat proses, yaitu:
Proses 1 2 : kompressi isentropik pada kompressor (wC)
Proses 2 3 : pemasukan kalor pada tekanan konstan di penukar kalor (qm)
64

Proses 3 4 : kompressi isentropik pada turbine (wT)


Proses 4 1 : pembuangan kalor pada tekanan konstan di penukar kalor (qk)
Rasio tekanan pada siklus didefinisikan sebagai:
rP = P2/P1 = P3/P4
Efisiensi thermal :
th = wnet/qm , dimana wnet = qm qk = wT - wC
= (qm qk)/qm = 1 - qk/qm
Karena qm dan qk berlangsung pada tekanan konstan, maka efisiensi menjadi:
th = 1

c P (T 4 T 1 )
T (T / T 1 1)
1 4
c P (T 3 T 2 )
T 2 (T 3 / T 2 1)

Proses 1 2 adalah isentropik maka berlaku

atau

P1

1
( k 1 ) / k

P2

2
( k 1 ) / k

T
P

( k 1) / k

konstan.

T 2 (P /P )(k-1)/k = r (k-1)/k
P
2 1
T1

Proses 3 4 juga adalah isentropik, maka

T3
(P3/P4)(k-1)/k = rP(k-1)/k
T4
Sehingga

T
T
T2
T
3 4 3
T1 T 4
T1 T 2

dan th = 1 -

T1
1
1 1 1/ rP(k-1)/k
T2
T2 / T1

Contoh soal 5.5:


Sebuah siklus Brayton mempunyai rasio tekanan 5, dan udara masuk
kompressor pada 0.1 MPa, 25 0C. Temperatur maksimum pada siklus 900 0C ,
tentukan:
a. Tekanan, temperatur, dan volume setiap titik pada siklus.
b. Kerja kompressor, kerja turbine, kalor masuk, panas dibuang, dan efisiensi
siklus
65

Jawaban:
a. Dari gambar siklus pada Gambar 5.7, diperoleh:
Titik 1, P1 = 100 kPa

T1 = 25 + 273 = 298 K

v1 = R T1/P1 = 0.287 x 298/100 = 0.855 m3/kg


Titik 2, rP = P2/P1 = 5
P2 = 5 P1 = 5 x 0.1 MPa = 0.5 MPa
Proses 1 2 adalah isentropik maka berlaku

T
P

( k 1 ) / k

konst . atau

T2/T1 = (P2/P1)(k-1)/k = rP(k-1)/k


T2 = 298 (0.5/0.1)0.286 = 472.2 K
v2 = R T2/P2 = 0.287 x 472.2/500 = 0.272 m3/kg
Titik 3, P3 = P2 = 0.5 MPa
T3 = Tmax = 900 oC =1173 K
v3 = R T3/P3 = 0.287 x 1203/500 = 0.673 m3/kg
Titik 4, P4 = P1 = 100 kPa
Proses 3 4 adalah isentropik maka berlaku

T
P

( k 1 ) / k

konst . atau

T3/T4 = (P3/P4)(k-1)/k = rP(k-1)/k


T4 = 1203/(5)0.286 = 759.2 K
v4 = R T4/P4 = 0.287 x759.2/100 = 2.178 m3/kg
b. wT = cP (T3 T4) = 1.0035(1203 759.2) = 445.35 kJ/kg
wC = cP (T2 - T1) = 1.0035(472.2 298)

= 174.81 kJ/kg

qm = cP (T3 - T2) = 1.0035(1203 472.2) = 733.35 kJ/kg


qk = cP (T4 - T1) = 1.0035(759.2 - 2988)

= 462.81 kJ/kg

wnet = qm - qk = 733.35 - 462.81 = 270.54 kJ/kg


= wT - wC = 445.35 - 174.81 = 270.54 kJ/kg
Efisiensi siklus,
th = wnet/qm = 270.54/733.35 = 0.3689 = 36.89 %

66

5.6 SIKLUS JET PROPULSI


Siklus Jet Propulsi merupakan siklus ideal untuk penggerak pesawat jet
yang merupakan modifikasi dari Siklus Brayton. Modifikasi yang dilakukan
berupa penambahan sebuah nossel isentropik pada seksi keluar turbin. Gas
berekspansi didalam turbin secukupnya sehingga kerja yang dihasilkan oleh
turbin sama dengan kerja yang dibutuhkan untuk menggerakkan kompressor (wT
= wC).
Fungsi nossel yang ditambahkan adalah untuk menaikkan kecepatan
keluar nossel yang akan dimanfaatkan sebagai pancaran jet ( azas aksi = reaksi).
Gas yang keluar dengan kecepatan tinggi mengakibatkan terjadinya perobahan
momentum dan menghasilkan gaya dorong pesawat (thrust).
Skema instalasi dan diagram T s Siklus Jet Propulsi diperlihatkan
pada Gambar 5.8 . Sedangkan kelima proses yang membentuk siklus ini adalah:
Proses 1 - 2 : kompressi isentropik pada kompressor (wC)
Proses 2 - 3 : pemasukan kalor pada tekanan tetap di burner (ruang bakar)
Proses 3 - 4 : ekspansi isentropik pada turbin (wT)
Proses 4 - 5: ekspansi isentropik pada nossel
Proses 5 - 1: pembuangan kalor pada tekanan tetap (di atmosfir)

Gambar 5.8 Siklus Jet Propulsi

67

Analisis unjuk kerja berdasarkan

kerja turbin yang besarnya sama

dengan kerja kompressor atau Cp (T3 T4)= Cp (T2 T1)

sehingga dapat

diperoleh temperatur keluar turbin sebesar T4 = T3 - T2 + T1 dan tekanan keluar


turbin/masuk nossel (P4) ditentukan dari hubungan proses isentropik sebagai
berikut:

T3/T4 = (P3/P4)(k-1)/ k

Kecepatan fluida kerja keluar nossel, C5 = [2000 Cp (T4 T5)] (m/s)


Gaya dorong (thrust), F = m C5 (Newton)
Dimana m = laju aliran massa gas (kg/s)
Contoh soal 5.6:
Sebuah siklus Jet Propulsi mempunyai rasio tekanan 5, dan udara
masuk kompresor pada 0.1 MPa, 25 0C. Temperature maksimum pada siklus 930
0

C, tentukan : kecepatan gas keluar nosel dan gaya dorong bila laju aliran

massanya 200 kg/s.


Jawaban:
Karena data soal ini sama dengan data contoh soal siklus Brayton
sebelumnya maka hasil perhitungan dapat digunakan kembali sebagai berikut:
T1 = 298 K, T2 = 477.2 K, T3 = 1203 K, T5 = 759.2 K (sama dengan T4 pada
contoh soal 5.5)
Diketahui juga bahwa P1 = P5 = 0.1 MPa dan P2 = P3 = 0.5 MPa
Temperatur keluar turbin,
T4 = T3 - T2 + T1 = 1203 477.2 + 298 = 1023.8 K
Tekanan keluar turbin P4 diperoleh dari T3/T4 = (P3/P4)(k-1)/k
Atau 1203/1023.8 = ( 0.5 /P4)0.286 dan P4 = 0.2843 MPa
Kecepatan keluar nossel, C5 = [2000 Cp (T4 T5)]
= [2000 x 1.0035 x (1023.8 759.2)]
= 728.73 m/s.
Gaya dorong (thrust), F = m C5 = 200 x 728.73 = 145746 N
= 145.746 kN
68

Tabel A3 untuk Freon 12, terdiri atas:


A3.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A3.2 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
Tabel A4 untuk Oxigen, terdiri atas:
A4.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A4.2 Uap dipanaskan lanjut (superheated vapor)
Tabel A5 untuk Nitrogen, terdiri atas:
A5.1 Uap/cairan jenuh (saturated vapor/liquid)
A5.2 Uap dipanas lanjut (superheated vapor)
Untuk selanjutnya cara-cara penggunaan tabel uap untuk mendapatkan
nilai besaran/sifat thermodinamika lebih difokuskan pada zat murni H 2O (air)
karena untuk zat lainnya dapat dikatakan hampir sama saja caranya.
2.2.1 Uap/Cairan Jenuh (Air)
Untuk uap/cairan jenuh hanya perlu diketahui satu sifat/besaran
(ditambah info uap atau cairan) untuk mendapatkan sifat/besaran lainnya dari
tabel. Sebenarnya ada dua tabel yang dapat digunakan untuk uap/cairan jenuh
yaitu Tabel A1.1 dan Tabel A1.2.

Kedua tabel ini mempunyai banyak

persamaan kecuali perbedaan pada kolom paling sebelah kiri dari kedua tabel.
Pada Tabel A1.1 kolom paling sebelah kiri adalah kolom temperatur sehingga
tabel ini sebaiknya digunakan bila temperatur yang diketahui atau diberikan.
Sedangkan pada Tabel A1.2 kolom paling sebelah kirinya adalah kolom tekanan,
sehingga sebaiknya menggunakan tabel ini bila tekanan yang diketahui. Gunakan
Tabel A1.1 atau A1.2 bila yang dketahui bukan temperatur atau tekanan. Arti
subscript pada tabel adalah: subscript g untuk uap jenuh (saturated vapor),
subscript f untuk cairan jenuh (saturated liquid), dan fg adalah g-f. Dengan
demikian vf diartikan sebagai simbol volume spesifik cairan jenuh, vg adalah
volume spesifik uap jenuh, dan hfg adalah selisi antara hg hf. Tentunya simbolsimbol lainnya sudah dapat diartikan dengan baik dan benar.

11

Proses 1 - 2 : kompressi isothermal (kalor dibuang, qk2)


Proses 2 - 3 : pemasukan kalor pada tekanan konstan (qm1)
Proses 3 - 4 : ekspansi isothermal (kalor masuk, qm2)
Proses 4 - 1 : pembuangan kalor pada tekanan konstan (qk1)

Gambar 5.10 Siklus Ericsson


Efisiensi thermal :
th = 1 - qk/qm = 1 - (qk1 + qk2)/(qm1 + qm2)
th = 1 - [CP(T4 T1) + RTL ln (v1/v2)]/[CP(T3 T2) + RTH ln (v4/v3)]
Soal Soal Bab 5
5.1

Perbandingan kompresi pada suatu Siklus Otto adalah 8.5 dan pada awal
langkah kompressi udara berada pada 0.1 MPa dan 27 0C. Kalor yang
dibuang persiklus 820 kJ/kg. Tentukan: a) temperatur, tekanan, dan
volume pada setiap titik keadaan; b) efisiensi thermal dan tekanan efektif
rata-rata.

5.2

Suatu Siklus Diesel mempunyai perbandingan kompressi 17 dan pada


awal langkah kompressi udara berada pada 0.1 MPa dan 25 0C. Kalor
yang dibuang persiklus 850 kJ/kg. Tentukan: a) temperatur, tekanan, dan
volume pada setiap titik keadaan; b) efisiensi thermal dan tekanan efektif
rata-rata.

70

5.3

Perbandingan kompresi pada suatu Siklus Gabungan adalah 10 dan pada


awal langkah kompressi udara berada pada 0.1 MPa dan 24 0C. Kalor
yang masuk per siklus pada volume konstan sama dengan yang masuk
pada tekanan konstan yaitu masing-masing sebesar 1100 kJ/kg. Tentukan:
a) temperatur, tekanan, dan volume pada setiap titik keadaan; b) efisiensi
thermal dan tekanan efektif rata-rata.

5.4

Perhatikan sebuah siklus daya udara standar yang terdiri atas tiga proses.
Proses 1-2 adalah kompressi isothermal, proses 2-3 adalah pemasukan
kalor pada tekanan konstan , dan proses 3-1 adalah ekspansi isentropik.
Bila P1 = 0.1 MPa dan T1 = 280C serta P2 = 0.58 MPa, diminta: a)
Gambar diagram P-v dan T-s ; b) efisiensi thermal siklus.

5.5

Perhatikan sebuah siklus daya udara standar yang terdiri atas tiga proses.
Proses 1-2 adalah kompressi isentropik, proses 2-3 adalah pemasukan
kalor pada tekanan konstan , dan proses 3-1 adalah pembuangan kalor
pada voume konstan. Bila P1 = 0.1 MPa dan T1 = 330C serta P2 = 0.75
MPa, diminta: a) Gambar diagram P-v dan T-s ; b) efisiensi thermal
siklus.

5.6

Rasio tekanan pada sebuah Siklus Brayton sebesar 4.5 . Udara masuk
kompressor pada 0.1 MPa dan 300C. Temperatur maksimum pada siklus
9200C, diminta: a) temperatur, tekanan, dan volume pada setiap titik
keadaan; b) kalor masuk, kalor dibuang, kerja kompressor, kerja turbin,
dan kerja netto; c) efisiensi thermal

5.7

Rasio tekanan pada sebuah Siklus Brayton sebesar 4.2 . Udara masuk
kompressor pada 0.1 MPa dan 250C. Kalor masuk persiklus 450 kJ/kg,
diminta: a) temperatur, tekanan, dan volume pada setiap titik keadaan; b)
kalor dibuang, kerja kompressor, kerja turbin, dan kerja netto; c) efisiensi
thermal

5.8

Sebuah Siklus Brayton menghasilkan daya 16000 kW. Beroperasi dengan


temperatur maksimum 1150 K, temperatur minimum 305 K, tekanan
maksimum 400 kPa, dan tekanan minimum 95 kPa. Diminta: a) laju aliran
massa udara; b) Daya output turbin dan daya kompressor.

5.9

Sebuah turbin gas beroperasi sebagai siklus Brayton. Udara masuk


kompressor pada 100 kPa dan 3100C sedangkan rasio tekanan pada
kompressor 5:1 serta temperatur maksimum pada siklus 11700C .
Diminta: a) kerja output turbin;
b) bila mesin ini dipakai sebagai
penggerak pesawat jet, tentukan tekanan udara keluar turbin; c) bila udara
berekspansi sampai 100 kPa di nossel isentropik, tentukan kecepatan
udara keluar nossel.
71

5.10 Pada suatu siklus jet propulsi, udara masuk kompressor pada 100 kPa dan
300K. Rasio tekananan yang melalui kompressor adalah 5.5 : 1 dan
temperatur pada seksi masuk turbin 1320 K. Setelah meninggalkan turbin,
udara masuk ke nossel dan berekspasnsi sampai 100 kPa. Tentukan: a)
temperatur dan tekanan udara saat keluar turbin-masuk nossel; b)
kecepatan udara keluar nossel; c) gaya dorong (thrust) bila laju aliran
massa udara 180 kg/s

72

BAB 6
SIKLUS UAP
Siklus

uap

yang

dimaksud

disini

adalah

siklus-siklus

yang

menggunakan uap, campuran uap, dan cairan sebagai fluida kerja, termasuk juga
kalau terjadi penguapan dan pengembunan. Secara garis besar bab ini terdiri atas
dua bagian. Bagian pertama mengenai siklus pembangkit tenaga uap atau yang
dikenal dengan nama Siklus Rankine dan bagian kedua mengenai siklus
refrijerasi kompressi uap.
6.1 SIKLUS RANKINE
6.1.1 Siklus Rankine Sederhana
Siklus Rankine sederhana merupakan siklus ideal pembangkit turbin
uap dengan skema instalasi yang diperlihatkan pada Gambar 6.1 , sedangkan
diagram T-s nya diperlihatkan pada Gambar 6.2.
Ketel

Turbin

qm

wT

Media Pendingin

wP
P

Pompa

qk

Kondensor

1
Gambar 6.1 Skema instalasi Siklus Rankine

Pada Siklus Rankine sederhana biasanya kondisi titik 1 adalah cairan


jenuh, titik 2 adalah cairan tertekan, titik 3 adalah uap jenuh atau uap dipanaskan
lanjut, dan titik 4 adalah campuran, uap jenuh , atau uap dipanaskan lanjut.
73

2
1

Gambar 6.2 Diagram T s Siklus Rankine


Siklus ini dibentuk oleh empat buah proses yaitu:
Proses 1 2: Pemompaan isentropik pada pompa (input kerja wP)
Proses 2 3: Pemasukan kalor pada tekanan konstan di ketel (qm)
Proses 3 4: Ekspansi isentropik di turbine (kerja output wT)
Proses 4 1: Pembuangan kalor pada tekanan konstan di kondensor
(qk)
.
Prestasi Siklus Rankine sebagaimana halnya sebagai sebuah mesin kalor
dapat dinyatakan dengan efisiensi thermal.
th = wnet/qm

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
Secara metode analisis grafik, panas yang dipindahkan dinyatakan
dengan luasan pada diagram T- s, dengan demikian:.
Kalor masuk, qm , dinyatakan oleh luas [a 2 3 b a]
Kalor dibuang ,qk, dinyatakan oleh luas [a 1 4 b a]
Dan netto kerja, wnet, dinyatakan oleh luas [1 2 3 4 1] .
74

Maka, th =
Dengan

luas [1 2 3 4 1 ]
luas [ a 2 3 b a ]

metode analisis kuantitatif, besaran kalor masuk, kalor

dibuang, kerja turbin, dan kerja pompa dinyatakan oleh perobahan entalpi
(berdasarkan hukum Thermodinamika pertama dengan mengabaikan perobahan
energi kinetik dan energi potensial), sebagai:
qm = h3 h2

qk = h4 h1

wT = h3 h4

wP = h2 h1 v1(P2 P1)

Nilai-nilai entalpi dapat diperoleh dari tabel uap (berdasarkan data


besaran yang diketahui)
Contoh soal 6.1:
Sebuah Siklus Rankine menggunakan uap air sebagai fluida kerja.
Tekanan kondensor 10 kPa. Uap masuk turbin pada 4 MPa dan 400 oC .
Tentukan:
a.

Entalpi pada setiap titik keadaan

b.

qm, qk, wT, dan wP

c.

Efisiensi thermal

Jawaban:
a. Entalpi pada titik keadaan
Titik 1 (cairan jenuh)
P1 = 10 kPa , dengan menggunakan Table A1.2 diperoleh
h1 = hf1 = 191.83 kJ/kg dan
v1 = vf1 = 0.00101 m3/kg
Titik 2 (cairan tertekan)
P2 = 4 MPa, h2 h1 + v1(P2 P1) = 191.83 + 0.00101(4000 10)
195.86 kJ/kg
Titik 3

P3 = 4 MPa dan T3 = 400 oC

75

Setelah di check ternyata kondisinya adalah uap dipanaskan lanjut,


dengan

menggunakan Tabel A1.3 diperoleh h3 = 3213.6 kJ/kg dan


s3 = 6.7690 kJ/kg-K.

Titik 4 P4 = 10 kPa dan s4 = s3 = 6.7690 kJ/kg-K (karena proses isentropik)


Setelah di check ternyata kondisinya adalah campuran. Kualitas uap x4
diperoleh dari hubungan /rumus
s4 = sf + x4 sfg atau 6.7690 = 0.6493 + x4(7.5009)
x4 = 0.816 dan
h4 = hf + x4 hfg = 191.83 + 0.816 (2392.8) = 2144.02 kJ/kg
b. qm = 3213.6 - 195.86 = 3017.74 kJ/kg
qk = 2144.02 191.83 = 1952.19 kJ/kg
wT = 3213.6 - 2144.02 = 1069.58 kJ/kg
wP = 195.86 - 191.83 = 4.03 kJ/kg
wnet = qm - qk = 1065.55 kJ/kg
= wT - wP = 1065.55 kJ/kg (check ok )

c. Efisiensi thermal, th = 1065.55/ 3017.74 = 0.3531 = 35.31 %


6.1.2 Pengaruh Beberapa Parameter Terhadap Prestasi Siklus Rankine
Dari contoh soal diatas terlihat bahwa prestasi Siklus Rankine
ditentukan dan sekaligus dipengaruhi oleh parameter: tekanan dan temperatur
kondensor, keadaan uap masuk turbin (apakah kondisi uap dipanaskan lanjut
atau uap jenuh dan tinggi temperaturnya), dan tekanan ketel. Pengaruh dari
parameter tersebut dianalisis secara qualitatif dengan menggunakan metode
grafis berdasarkan teori bahwa bila perubahan energi kinetik dan energi potensial
diabaikan maka panas yang dipindahkan dapat dinyatakan sebagai luasan pada
diagram T s (atau dQ = T ds)
a.

Pengaruh tekanan (dan temperatur) kondensor


Dalam hal ini tekanan kondensor adalah Pkon = P1 = P4

76

Hasil analisis menunjukkan (detail tidak dikemukakan disini) bahwa


bila Pkon diturunkan akan mengakibatkan peningkatan efisiensi thermal dan
penurunan kualitas uap keluar turbin, x4. Kenaikan efisiensi tentu merupakan
efek positif yang diharapkan sedangkan penurunan kualitas uap merupakan efek
negatif yang harus diatasi.

Pkon

2
1

Gambar 6.3 Penurunan tekanan kondensor

Persyaratan kualitas uap yang baik adalah minimal 90 %. Kualitas uap


yang lebih rendah dapat mengakibatkan

kerusakan pada (sudu-sudu) turbin

karena terjadinya korosi dan tumbukan dari titik-titik air. Disamping itu
penurunan tekanan kondensor (dan temperatur kondensor) juga dibatasi oleh
temperatur lingkungan sebagai temperatur media pendingin.
b. Pengaruh keadaan uap (kondisi dan temperatur) masuk turbin
Dalam hal ini kondisi uap masuk turbin dinyatakan oleh titik 3 (uap dipanaskan
lanjut) atau titik 3(uap jenuh). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan
uap dipanaskan lanjut (dibandingkan dengan uap jenuh) akan menghasilkan
efisiensi thermal dan kualitas uap yang lebih tinggi. Pengaruh yang sama juga
akan terjadi bila temperatur masuk turbin (T3) dinaikkan. Meskipun demikian

77

kenaikan temperatur dibatasi oleh kemampuan material instalasi ketel dan turbin
untuk menahan temperatur tinggi.

2
1

s
Gambar 6.4 Kondisi dan temperatur uap masuk turbin
Hal ini juga terlihat dalam kenyataan praktis dilapangan bahwa
pembangkit turbin uap umumnya menggunakan uap dipanaskan lanjut.
c. Pengaruh tekanan ketel

T
Pket
Tmax = T3
3
2
1

s
Gambar 6.5 Pengaruh tekanan ketel dengan Tmaks tetap konstan
78

Dalam hal ini tekanan ketel, Pket = P2 = P3


Menaikkan tekanan ketel dengan menjaga temperatur maksimum (T3)
tetap konstan akan mengakibatkan peningkatan efisiensi thermal (efek positif)
dan penurunan kualitas uap keluar turbin (efek negatif). Kenaikan tekanan ketel
juga dibatasi oleh kekuatan konstruksi pada intalasi ketel dan turbin.
Pengaruh dari ketiga parameter diatas terhadap prestasi Siklus Rankine
lebih jauh dapat diverifikasi melalui penyelesaian soal-soal yang tersedia diakhir
dari bab ini.
6.1.3 Siklus Rankine Dengan Pemanasan Ulang (Reheat)
Pembahasan

pada sub-bab sebelumnya menunjukkan bahwa bila

tekanan kondensor dan/atau tekanan ketel dinaikkan akan mengakibatkan


peningkatan efisiensi thermal (efek positif) namun sekaligus menurunkan
kualitas uap keluar turbin (efek negatif). Salah satu cara untuk mengatasi efek
negatif penururunan kualitas uap adalah dengan menambahkan pemanasan ulang
(reheat) pada Siklus Rankine. Untuk penambahan satu pemanasan ulang, maka
dalam hal ini turbin dianggap terdiri atas dua bagian yaitu: turbin tekanan tinggi
(TTT) dan turbin tekanan rendah (TTR). Uap yang masuk kedalam turbin,
setelah berekspansi sampai pada akhir turbin tekanan tinggi, seluruhnya akan
dikeluarkan dan dimasukkan kembali ke dalam ketel untuk mengalami
pemanasan ulang. Uap yang telah mengalami pemanasan ulang didalam ketel
akan masuk kembali ke turbin tekanan rendah untuk berekspansi sampai
akhirnya keluar ke kondensor. Idealnya pemanasan ulang dianggap berlangsung
pada tekanan konstan dan temperatur hasil pemanasan ulang besarnya sama
dengan temperatur uap keluar ketel. Untuk lebih jelasnya skema instalasi dan
diagram T-s nya dapat dilihat pada Gambar 6.6 dan 6.7 .
Dari gambar terlihat bahwa P1 = P6 adalah tekanan kondensor, P2 = P3
adalah tekanan ketel dan P4 = P5 adalah tekanan pemanasan ulang. Sedangkan

79

temperatur hasil pemanasan ulang (T5) sama dengan temperatur uap keluar ketel
(T3).
3
TTT

TTR
wT

qm

Media Pendingin

qk
2

wP

Gambar 6.6 Skema instalasi Siklus Rankine dengan satu pemanasan


ulang

T
5

2
1

s
Gambar 6.7 Diagram T-s Siklus Rankine dengan satu pemanasan ulang
Prestasi siklus ini dinyatakan dengan efisiensi thermal yang
didefinisikan sebagai:

th = wnet/qm
80

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
qm = (h3 h2) + (h5 h4) ; qk = h6 h1
wT = (h3 h4) + (h5 h6) ;

wP = h2 h1 v1(P2 P1)

Contoh soal 6.2:


Sebuah Siklus Rankine dengan satu pemanasan ulang menggunakan uap
air sebagai fluida kerja. Uap keluar ketel dan masuk ke turbin pada 4.0 MPa dan
400 0C. Tekanan kondensor 10 kPa dan tekanan pemanasan ulang 0.5 MPa.
Diminta
a.

Entalpi pada setiap titik keadaan

b.

qm, qk, wT, wP, wnet

c.

Efisiensi thermal

Jawaban:
a. Entalpi pada titik keadaan
Titik 1 (cairan jenuh)
P1 = 10 kPa , dengan menggunakan Table A1.2 diperoleh
h1 = hf1 = 191.83 kJ/kg dan
v1 = vf1 = 0.00101 m3/kg.
Titik 2 (cairan tertekan)
P2 = 4 MPa, h2 h1 + v1(P2 P1) = 191.83 + 0.00101(4000 10)
195.86 kJ/kg.
Titik 3 P3 = 4 MPa dan T3 = 400 0C
Setelah di check ternyata kondisinya adalah uap dipanaskan lanjut,
dengan

menggunakan Tabel A1.3 diperoleh h3 = 3213.6 kJ/kg dan s3 =

6.7690 kJ/kg-K.
Titik 4

P4 = 0.5 MPa dan s4 = s3 = 6.7690 kJ/kg-K (karena proses

isentropik).
Setelah di check ternyata kondisinya adalah campuran. Kualitas uap x4
diperoleh dari hubungan /rumus:
81

s4 = sf + x4 sfg atau 6.7690 = 1.8607 + x4(4.9606)


x4 = 0.989 dan
h4 = hf + x4 hfg = 640.23 + 0.989 (2108.5) = 2726.50 kJ/kg.
Titik 5 P5 = 0.5 MPa dan T5 = 400 0C, tanpa perlu di check tentu saja
kondisinya adalah uap dipanaskan lanjut, (mengapa ?) dengan

menggunakan

Tabel A1.3 diperoleh h5 = 3271.9 kJ/kg dan s5 = 7.7938 kJ/kg-K.


Titik 6 P6 = 10 kPa dan s6 = s5 = 7.7938 kJ/kg-K (karena proses isentropik)
Setelah di check ternyata kondisinya adalah campuran. Kualitas uap x6 diperoleh
dari hubungan /rumus:
s6 = sf + x6 sfg atau 7.7938 = 0.6493 + x6(7.5009)
x6 = 0.952 dan
h6 = hf + x6 hfg = 191.83 + 0.952 (2392.8) = 2470.94 kJ/kg
b,

qm = (h3 h2) + (h5 h4) = (3213.6 195.86) + (3271.9 2726.50)


= 3563.14 kJ/kg
qk = h6 h1 = 2470.94 191.83 = 2279.11 kJ/kg
wT = (h3 h4) + (h5 h6) = (3213.6 2726.50) + (3271.9 2470.94)
= 1288.06 kJ/kg
wP = h2 h1 = 195.86 191.83 = 4.03 kJ/kg
wnet = qm - qk = 3563.14 2279.11 = 1284.03 kJ/kg
= wT - wP = 1288.06 4.03 = 1284.03 kJ/kg (check ok)

c.

th = wnet/qm = 1284.03/3563.14 = 0.3604 = 36.04 %.

Catatan: bila dibandingkan contoh soal 6.1 ternyata pada contoh soal 6.2 telah
terjadi peningkatan kualitas uap keluar turbin yang cukup signifikan yaitu dari
0.816 menjadi 0.952. Sedangkan efisiensi walaupun turut meningkat namun
tidak signifikan karena memang pada dasarnya penambahan pemanasan ulang
hanya bermanfaat untuk meningkatkan kualitas uap keluar turbin.
Selanjutnya akan dibahas Siklus Rankine yang dilengkapi dengan dua
pemanasan ulang. Dalam hal ini turbin dianggap terdiri atas tiga bagian yaitu:
turbin tekanan tinggi (TTT), turbin tekanan menengah (TTM),
82

dan turbin

tekanan rendah (TTR). Uap yang masuk kedalam turbin, setelah berekspansi
sampai pada akhir TTT, seluruhnya akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam
ketel untuk mengalami pemanasan ulang. Setelah mengalami pemanasan ulang,
uap masuk kembali ke TTM dan berekspansi sampai akhir TTM. Uap dikelurkan
lagi dari TTM untuk mengalami pemanasan ulang yang kedua kalinya didalam
ketel. Selesai pemanasan ulang, uap masuk kembali ke TTR untuk berekpansi
dan akhirnya keluar ke kondensor. Idealnya kedua pemanasan ulang dianggap
berlangsung pada tekanan konstan dan temperatur hasil pemanasan ulang
besarnya sama dengan temperatur uap keluar ketel. Untuk lebih jelasnya skema
instalasi dan diagram T-s nya dapat dilihat pada Gambar 6.8 dan 6.9 .
Dari gambar terlihat bahwa P1 = P8 adalah tekanan kondensor, P2 = P3
adalah tekanan ketel, P4 = P5 adalah tekanan pemanasan ulang pertama, dan P6
= P7 adalah tekanan pemanasan ulang kedua. Sedangkan temperatur hasil
pemanasan ulang (T5 dan T7) sama dengan temperatur uap keluar ketel (T3).
3
TTT

WT

5
qm

TTM TTR

Media Pendingin

qk
2

WP

Gambar 6.8 Skema instalasi Siklus Rankine dengan dua pemanasan ulang
Prestasi siklus ini dinyatakan dengan efisiensi thermal yang
didefinisikan sebagai:

th = wnet/qm

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
83

qm = (h3 h2) + (h5 h4) + (h7 h6) ; qk = h8 - h1


wT = (h3 h4) + (h5 h6) + (h7 h8) ; wP = h2 h1 v1(P2 P1)

T
3

4
2

6
1

s
Gambar 6.9 Diagram T-s Siklus Rankine dengan dua pemanasan ulang
6.1.4

Siklus Rankine Dengan Regenerasi


Pada sub-bab ini akan dibahas Siklus Rankine yang dilengkapi dengan

regenerator. Regenerator yang dimaksud disini adalah suatu penukar kalor tipe
campur/terbuka (mix/open type) yang berfungsi untuk memanaskan air pengisi
ketel. Sebagai fluida panas adalah uap ekstraksi. Sejumlah uap diekstraksi (m)
pada tekanan tertentu dan masuk kedalam regenerator untuk bercampur dengan
fluida dingin (air pengisi ketel) kemudian keluar bersama-sama menuju ke ketel
melalui pompa. Manfaat penambahan regenerator pada suatu Siklus Rankine
adalah untuk meningkatkan prestasi/efisiensi thermal.
Skema instalasi Siklus Rankine yang dilengkapi dengan satu
regenerator beserta diagram T-s nya dapat dilihat pada Gambar 6.10 dan 6. 11.
Dari gambar terlihat bahwa P7 = P1 adalah tekanan kondensor, P2 = P3 = P6
adalah tekanan regenerator, dan P4 = P5 adalah tekanan ketel. Angka dan/atau
huruf yang berada didalam tanda kurung yang mengikuti nomor-nomor titik

84

keadaan adalah representasi dari massa yang mengalir yang tidak homogen pada
keseluruhan siklus.
(1-m)

5(1)
6
qm

WT
(m)

4 (1)

7 (1-m)
Media Pendingin

Regenerator

3(1)

qk

WP2
2
(1-m)

1 (1-m)
WP1
Gambar 6.10 Skema instalsi Siklus Rankine dengan regenerator
Massa yang tidak homogen ini membuat analisis prestasi menjadi lebih
kompleks karena harus memperhitungkan nilai massa yang berbeda pada setiap
komponen/proses. Besar massa uap ekstraksi, m, diatur sedemikian rupa
sehingga hanya secukupnya untuk membuat fluida kerja yang keluar regenerator
berada dalam kondisi cairan jenuh.
T
5
(1)

(1)
(1)

3
1

(m)
(1-m)

(1-m)

7
s

Gambar 6.11 Diagram T-s Siklus Rankine dengan regenerator


85

Penentuan

besar

massa

uap

ekstraksi

dilakukan

berdasarkan

kesetimbangan massa dan energi pada regenerator sebagaimana yang terlihat


pada Gambar 6.12 , yaitu:
h6 (m) + h2 (1 m) = h3 (1)
6 (m)

3 (1)
2 (1-m)

Gambar 6.12 Kesetimbangan massa dan energi pada regenerator


Prestasi atau efisiensi themal ditentukan dengan:
th = wnet/qm

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
qm = (h5 h4) (1) ; qk = (h7 - h1) (1 m)
wT = (h5 h6) (1) + (h6 h7) (1 m )
wP = wP1 + wP2 = (h2 h1) (1-m) + (h4 h3) (1)
v1(P2 P1) (1-m) + v3(P4 P3) (1)
Selanjutnya akan dibahas Siklus Rankine yang dilengkapi dengan dua
regenerator. Disini uap diekstraksi dua kali untuk dipakai sebagai fluida panas
pada dua buah regenerator untuk memanaskan air pengisi ketel. Skema instalasi
Siklus Rankine yang dilengkapi dengan dua regenerator beserta diagram T-s nya
dapat dilihat pada Gambar 6.13 dan 6. 14.
P1 = P10 adalah tekanan kondensor, P2 = P3 = P9 adalah tekanan
regenerator II, P4 = P5 = P8 adalah tekanan regenerator I, dan P6 = P7 adalah
tekanan ketel.
Besar massa uap ekstraksi, m1 dan m2 , diatur sedemikian rupa
sehingga hanya secukupnya untuk membuat fluida kerja yang keluar regenerator
86

I dan II berada dalam kondisi cairan jenuh. Penentuan besar massa uap ekstraksi
dilakukan berdasarkan kesetimbangan massa dan energi pada regenerator I dan II
sebagaimana yang telah dilakukan pada Siklus Rankine dengan satu regenerator.
(1-m1)

7(1)

qm

10 (1-m1-m2)

(m1)
6 (1)

Media Pendingin

(m2)

5(1)

WP3

Reg.
II

Reg.
I

4
(1-m1)
WP2

WT

(1-m 1 )

qk

WP1

1 (1-m1-m2)

Gambar 6.13 Skema instalasi Siklus Rankine dnegan dua regenerator


T
7

(1)
6

(m1)

(1-m1)

4
2

(1)

(m2)
3

(1-m1-m2)

(1-m1-m2)

10

s
Gambar 6.14 Diagram T-s Siklus Rankine dengan dua regenerator
87

Prestasi atau efisiensi themal ditentukan dengan:


th = wnet/qm

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
qm = (h7 h6) (1) ; qk = (h10 - h1) (1 m1 m2)
wT = (h7 - h8)(1) + (h8 h9)(1 m1) + (h9 h10) (1-m1 m2)
wP = wP1 + wP2 + wP3
= (h2 h1) (1-m1-m2) + (h4 h3) (1- m1) + (h6 h5) (1)
v1(P2 P1) (1-m1-m2)+ v3(P4 P3) (1-m1) + v5(P6 P5) (1)
6.1.5

Kombinasi Reheat Dan Regenerasi Pada Siklus Rankine


Pada pembahasan sebelumnya telah diketahui bahwa penambahan

pemanasan ulang pada Siklus Rankine akan meningkatkan kualitas uap keluar
turbin sedangkan penambahan regenerator dapat meningkatkan efisiensi thermal.
Bila diinginkan peningkatan kualitas uap dan efisiensi secara bersamaan maka
salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengkombinasikan
penambahan pemanasan ulang dan regenerator pada Siklus Rankine. Sebagai
suatu illustrator pertimbangkan sebuah Siklus Rankine dengan penambahan satu
regenerator dan dua pemanasan ulang sebagaimana yang terlihat pada Gambar
6.15 yang disusul dengan diagram T-s nya pada Gambar 6.16.
Dari gambar terlihat:
P6 = P7 adalah tekanan ketel
P8 = P9 adalah tekanan pemanasan ulang
P4 = P5 = P8 adalah tekanan regenerator I
P2 = P3 = P10 adalah tekanan regenerator II
P1 = P11 adalah tekanan kondensor
T7 (temperatur uap keluar ketel) = T9 (temperatur hasil pemanasan
ulang)
Massa uap ekstraksi (m1 dan m2) diatur secukupnya sehingga fluida
kerja keluar masing-masing regenerator (Titik 3 dan 5) dalam keadaan cairan
jenuh.
88

7(1)
TTR

TTT
(1-m1)

qm

10
WT

11 (1-m1-m2)
9

Reg.
II

Reg.
I

5(1)

WP3

6 (1)

(m2)

(m1)

Media Pendingin

(1-m1)
qk

WP2

1(1-m1-m2)

WP1

Gambar 6.15 Siklus Rankine dengan kombinasi reheat dan regenerasi


Prestasi atau efisiensi themal ditentukan dengan:
th = wnet/qm

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
T

(1)
6

(1-m1)

(m1)
5

(m2)

8
10

(1-m1-m2)

(1-m1-m2)

11
s

Gambar 6.16 Diagram T-s Siklus Rankine dengan kombinasi reheat dan
regenerasi
89

qm = (h7 h6) (1) + (h9 h8) (1 m1)


qk = (h11 - h1) (1 m1 m2)
wT = (h7 - h8)(1) + (h9 h10)(1 m1) + (h10 h11) (1-m1 m2)
wP = wP1 + wP2 + wP3
= (h2 h1) (1-m1-m2) + (h4 h3) (1- m1) + (h6 h5) (1)
v1(P2 P1) (1-m1-m2)+ v3(P4 P3) (1-m1) + v5(P6 P5) (1)
Penentuan besar massa uap ekstraksi dilakukan berdasarkan
kesetimbangan massa dan energi pada regenerator I dan II sebagai berikut:
h8 (m1) + h4 (1 m1) = h5 (1) untuk regenerator I dan
h10 (m2) + h2 (1 m1 m2) = h3 (1 m1) untuk regenerator II
Sebagai illustrasi kedua dari kombinasi reheat dan regenerasi pada
Siklus Rankine dilakukan modifikasi minor terhadap illustrasi pertama diatas.
Pada illustrasi pertama, uap ekstraksi yang masuk ke regenerator I (m1) tidak
melalui pemanasan ulang sehingga uap yang mengalami pemanasan ulang
besarnya adalah (1 m1) unit. Pada illustrasi kedua, uap ekstraksi yang masuk
regenerator I terlebih dahulu telah mengalami pemanasan ulang.
Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 6.17 untuk illustrasi kedua beserta
diagram T-s nya pada Gambar 6.18 dan sebaiknya dibandingkan secara saksama
dengan Gambar 6.15 dan Gambar 6.16.
Dari Gambar 6.17 dan 6.18 diperoleh:
P6 = P7 adalah tekanan ketel
P8 = P9 adalah tekanan pemanasan ulang
P4 = P5 = P9 adalah tekanan regenerator I
P2 = P3 = P10 adalah tekanan regenerator II
P1 = P11 adalah tekanan kondensor
T7 (temperatur uap keluar ketel) = T9 (temperatur hasil pemanasan
ulang)
Massa uap ekstraksi (m1 dan m2) diatur secukupnya sehingga fluida kerja
keluar masing-masing regenerator (Titik 3 dan 5) dalam keadaan cairan jenuh.
90

7(1)
TTR

TTT
(1)

10
WT

qm

(1-m1)
9
(m1)

6 (1)

WP3

Reg.
II

Reg.
I

5(1)

11 (1-m1-m2)

(m2)

(1-m1)

Media Pendingin

qk

WP2

WP1
(1-m1-m2)

Gambar 6.17 Siklus Rankine dengan kombinasi reheat dan regenerasi


(illustrasi kedua)

T
(m1)
7

(1)

9
(1)

6
5

4
2

(m1)

(1-m1)

(m2)

10

(1-m1-m2)

(1-m1-m2)
11

s
Gambar 6.18 Diagram T-s Siklus Rankine dengan kombinasi reheat dan
regenerasi (illustrasi kedua)
91

Prestasi atau efisiensi themal ditentukan dengan:


th = wnet/qm

dan

wnet = qm - qk = wT - wP
qm = (h7 h6) (1) + (h9 h8) (1) *
qk = (h11 - h1) (1 m1 m2)
wT = (h7 - h8)(1) + (h9 h10)(1 m1) + (h10 h11) (1-m1 m2)
wP = wP1 + wP2 + wP3
= (h2 h1) (1-m1-m2) + (h4 h3) (1- m1) + (h6 h5) (1)
v1(P2 P1) (1-m1-m2)+ v3(P4 P3) (1-m1) + v5(P6 P5) (1)
Penentuan besar massa uap ekstraksi dilakukan berdasarkan
kesetimbangan massa dan energi pada regenerator I dan II sebagai berikut:
h9 (m1) + h4 (1 m1) = h5 (1) * untuk regenerator I dan
h10 (m2) + h2 (1 m1 m2) = h3 (1 m1) untuk regenerator II
Catatan: yang mengalami perubahan hanya yang diberi tanda *, namun
demikian karena m1 berubah maka m2 dan parameter lainnya juga ikut berubah.
Bila diberikan data yang serupa untuk kedua illustrasi maka akan sangat
menarik untuk diketahui illustrasi mana yang menghasilkan prestasi yang lebih
baik.
6.1.6 Penyimpangan Dari Keadaan Ideal Siklus Rankine
Sejauh ini pembahasan mengenai Siklus Rankine dilakukan dengan
anggapan ideal bahwa antara lain: tidak ada kehilangan (gesek dan kalor) pada
berbagai komponen dan proses ekspansi/kompressi pada pompa/kompressor
adalah isentropik. Pada siklus yang sebenarnya (aktual) tidak demikian halnya.
Penyimpangan atau perbedaan dari keadaan ideal tersebut akan dibahas pada
sub-bab ini.
a. Kehilangan pada pipa-pipa
Kehilangan pada pipa-pipa terutama karena dua hal . Pertama karena
adanya gesekan yang menyebabkan penurunan tekanan. Selain itu kehilangan
kalor ke sekeliling akan mengakibatkan penurunan temperatur.
92

Contoh pertama adalah kehilangan pada pipa antara ketel dan turbin
(lihat Gambar 6.19). Keadaan uap keluar ketel dinyatakan oleh titik a, kemudian
mengalami penurunan tekanan ke titik b dan penurunan temperatur ke titik c
(keadaan uap masuk turbin).

s
Gambar 6.19 Kehilangan pada pipa antara ketel dan turbin
Contoh

kedua

adalah

kehilangan

pada

pipa-pipa

ketel

yang

mengharuskan tekanan uap masuk ketel yang lebih besar dari tekanan keluar
ketel Pa > Pb (lihat Gambar 6.20). Kerugian yang terjadi adalah kebutuhan daya
(energi) pompa yang lebih besar.

a
Gambar 6.20 Kehilangan pada pipa-pipa ketel
b. Kehilangan pada turbin
Terutama akibat terjadinya kehilangan gesek sewaktu uap mengalir di
sela-sela sudu turbin. Kehilangan lain yang lebih kecil adalah kehilangan kalor
kesekeliling karena adanya perbedaan temperatur.

Kedua kehilangan ini

mengakibatkan ekspansi uap di turbin tidak lagi isentropik seperti yang


diperlihatkan pada Gambar 6.21.
93

T
3

4s 4

s
Gambar 6. 21 Kehilangan pada turbin
Detail/komponen kehilangan dan

perhitungannya bukan merupakan

obyek pembahasan disini. Yang lebih penting adalah menyatakan kehilangan


total di turbin melalui definisi, efisiensi turbin,
T = kerja aktual/ kerja ideal (isentropik)
= wT aktual /wT ideal/isentropik = (h3 h4)/(h3 h4s) dan
h4 = h3 T(h3 h4s)
c. Kehilangan pada pompa
Kejadiannya hampir serupa dengan kehilangan pada turbin yang
mengakibatkan pemompaan tidak lagi isentropik seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 6.22 .

T
3
2s

2
1

s
Gambar 6.22 Kehilangan pada pompa
Detail/komponen kehilangan pompa dan

perhitungannya bukan

merupakan obyek pembahasan disini (masuk kepembahasan mesin fluida). Yang


lebih penting adalah menyatakan kehilangan total di pompa melalui definisi,
94

efisiensi pompa,
P = kerja pompa ideal (isentropik)/kerja pompa aktual
= wPideal(isentropik)/wPaktual = (h2s - h1)/(h2 h1)

dan

h2 = h1 + (h2s h1)/P = h1 + v1(P2 P1)/P


d. Kehilangan pada kondensor
Kehilangan pada kondensor relatif kecil bila dibandingkan dengan
kerugian diatas lainnya. Kehilangan ini adalah akibat pendinginan sampai
dibawah temperatur jenuh sehingga kehilangan yang terjadi sebenarnya adalah
kerugian untuk menaikkan temperatur cairan ke temperatur jenuh (lihat Gambar
6.23). Kondisi fluida kerja keluar kondensor idealnya pada titik 1 (cairan jenuh)
tetapi yang aktual terjadi pada titi 1(cairan tertekan).

s
Gambar 6.23 Kehilangan di kondensor
Contoh soal 6.3:
Sebuah Siklus Rankine aktual beroperasi dengan temperatur, tekanan,
dan efisiensi turbin/pompa seperti yang terlihat pada Gambar 6.24.
Tentukan:
a.

Entalpi pada setiap titik keadaan

b.

qm, qk, wT, wP, wnet

c.

Efisiensi thermal

95

Jawaban:
a.

Enthalpi pada titik keadaan

Disini memerlukan sedikit kerja ekstra untuk mendapatkan nilai-nilai entalpi


melalui cara interpolasi, ekstrapolasi, dan lan-lain.

5
4

4.5 MP
400oC

4 MPa
380oC

WT

qm
3

4,8 MPa
40oC

T = 0,85
P = 0,82
qk

10 kPa

1 42oC

wp

2 {5MPa

Gambar 6.24 Contoh Siklus Rankine aktual


Titik 1: P1 = 10 kPa dan T1 = 420C (cairan tertekan)
Untuk tekanan rendah tidak tersedia data pada Tabel A1.4 sehingga
diperlukan cara pendekatan lain dengan menggunakan Tabel A1.2, yaitu:
h1 = hf1 pada 42 C = 175.9 kJ/kg (hasil interpolasi) dan
v1 = vf1 pada 42 C = 0.001009 m3/kg (hasil interpolasi).
Titik 2: P2 = 5 MPa (cairan tertekan) dan efisiensi pompa 0.82
h2 = h1 + (h2s h1)/P = h1 + v1(P2 P1)/P
= 175.9 + 0.001009(5000 10)/0.82 = 182.04 kJ/kg.
Titik 3: P3 = 4.8 MPa dan T3 = 40 0C (cairan tertekan)
Dengan mengekstrapolasi Tabel A1.4 diperoleh h3 = 171.8 kJ/kg.
Titik 4: P4 = 4.5 MPa dan T4 = 4000C (uap dipanaskan lanjut)

96

Dengan mengggunakan Tabel A1.3 dapat langsung diperoleh h4 =


3204.7 kJ/kg.
Titik 5: P5 = 4 MPa dan T5 = 3800C (uap dipanaskan lanjut)
Dengan menginterpolasi Tabel A1.3 dapat diperoleh h5 = 3165.16
kJ/kg dan s5 = 6.6942 kJ/kg K.
Titik 6: P6 = 10 kPa dan s6s = s5 = 6.6942 kJ/kg K
Melalui pengecekan diperoleh kondisinya adalah campuran. Dengan
terlebih dahulu menentukan kualitas uap x6s maka h6s dan h6 dapat ditentukan
sebagai berikut:
s6s = sf + x6s (sfg) 6.6942 = 0.6493 + x6s (7.5009)
x6s = 0.8059 dan
h6s = hf + x6s (hfg) = 191.83 + 0.8059(2392.8) = 2120.19 kJ/kg.
h6 = h5 - T (h5 - h6s)
= 3165.16 0.85 (3165.16 2120.19) = 2276.94 kJ/kg.
b.

qm = h4 h3 = 3204.7 171.8 = 3032.9 kJ/kg


qk = h6 - h1 = 2276.94 175.9 = 2101.04 kJ/kg
wT = h5 - h6 = 3165.16 2276.94 = 888.22 kJ/kg
wP = h2 h1 = 182.04 175.9 = 6.14 kJ/kg
wnet = wT wP = 888.22 6.14 = 882.08 kJ/kg

c.

th = wnet/qm = 882.08/3158.5 = 0.2793 = 27.93 %.

6.2 SILKUS REFRIJERASI KOMPRESSI UAP


Siklus Refrijerasi kompressi uap merupakan siklus ideal mesin-mesin
pendingin seperti: AC, kulkas, frezer, cold storage, dan lain-lain. Skema instalasi
dari siklus ini dapat dilihat pada Gambar 6.25 sedangkan diagram T-s nya pada
Gambar 6.26.
97

qH

2
Kompresor

Kondensor

3
Katup
Expansi

Evaporator

wC
1

qL
Gambar 6.25 Skema instalasi siklus refrijerasi kompressi uap.

T
2
qH
3

4
qL

s
Gambar 6. 26 Diagram T-s siklus refrijerasi kompressi uap
Siklus ini terdiri atas empat proses yaitu:
Proses 1 2: kompressi isentropik pada kompressor (kerja input wc)
Proses 2 3: pembuangan kalor pada tekanan konstan di kondensor (qH)
Proses 3 4: throttling pada katup ekspansi (h3 = h4)
Proses 4 1: penyerapan kalor pada tekanan konstan di evaporator (qL)
Pada siklus ini titik 1 biasanya dalam keadaan uap jenuh, titik 2 uap
dipanaskan lanjut, titik 3 cairan jenuh, dan titik 4 campuran.
98

Fluida kerja atau refrijeran yang digunakan pada siklus ini sangat
banyak jenisnya antara lain: R-12, R-22, R-134a, NH3, dan campuran HC.
Pemilihan penggunaan suatu refrijeran tertentu untuk suatu mesin (siklus)
tertentu berdasarkan atas berbagai pertimbangan antara lain: kondisi operasi,
keselamatan kerja, kelestarian lingkungan, skala produksi, dan lain-lain.
Prestasi siklus refrijerasi dinyatakan dengan Koefisien Prestasi
(Coefficient of performance, COP atau ) yang didefinisikan sebagai:
COP = = qL/wc = (h1 h4)/(h2 h1)
Perlu juga diperhatikan kesetimbangan energi: qH = qL + wc = h2 - h3
Contoh soal 6.4:
Perhatikan sebuah siklus refrijerasi yang menggunakan Freon 12
sebagai fluida kerja. Temperatur refrijeran pada evaporator -20 0C dan pada
kondensor

45 0C. Refrijerant bersirkulasi dengan laju 0.06 kg/s. Tentukan

koefisien prestasi dan kapasitas pendinginan.


Jawaban:
Titik 1 (uap jenuh)
T1 = -20 0C , gunakan Tabel A3.1 h1 = hg1= 178.61 kJ/kg
dan s1 = sg1 = 0.7082 kJ/kg-K.
Titik 2 (uap dipanaskan lanjut)
P2 sama dengan tekanan jenuh pada temperature T3 = 45 0C, sehingga
dari Tabel A3.1 diperoleh P2 = 1.0843 MPa sementara s2 = s1 =
0.7082 kJ/kg-K
Interpolasi Tabel A3.2 untuk mendapatkan h2 = 213.40 0C.
Titik 3 (cairan jenuh)
T3 = 45 0C , gunakan Tabel A3.1 untuk mendapatkan h3 = hf3 =
79.65 kJ/kg.
Titik 4 (campuran)

99

Karena Proses 3 4 adalah proses throttling maka h4 = h3 = 79.65


kJ/kg.
COP = = qL/wc = (h1 - h4)/(h2 - h1)
= (178.61 79.65)/(213.40 178.61)
= 2.84
Kapasitas pendinginan QL = mref qL
= 0.06(178.61 79.65) = 5.94 kW

Soal-Soal Bab 6
6.1

Ingin diketahui pengaruh tekanan kondensor terhadap prestasi Siklus


Rankine . Uap keluar ketel dan masuk turbin pada 4 MPa dan 400 0C.
Tentukan kualitas uap keluar turbin dan efisiensi thermal untuk tekanan
kondensor 5 kPa, 10 kPa, 50 kPa, dan 100kPa. Buat juga grafik kualitas
uap keluar turbin dan efisiensi thermal versus tekanan kondensor.

6.2

Ingin diketahui pengaruh temperatur masuk turbin terhadap prestasi Siklus


Rankine. Uap keluar ketel dan masuk turbin pada 4 MPa dan keluar turbin
pada 10 kPa. Tentukan kualitas uap keluar turbin dan efisiensi thermal
untuk temperatur masuk turbin berupa uap jenuh, 400 0C, 600 0C, dan 800
0
C. Buat juga grafik kualitas uap keluar turbin dan efisiensi thermal versus
temperatur uap masuk turbin.

6.3

Ingin diketahui pengaruh tekanan uap masuk turbin terhadap prestasi


Siklus Rankine. Uap keluar ketel dan masuk turbin pada 400 0C keluar
pada 10 kPa. Tentukan kualitas uap keluar turbin dan efisiensi thermal
untuk tekanan uap masuk turbin pada 1 MPa, 4 MPa, 6 MPa, dan 10 MPa.
Buat juga grafik kualitas uap keluar turbin dan efisiensi thermal versus
tekanan uap masuk turbin.

6.4

Sebuah Siklus Rankine dengan satu pemanasan ulang menggunakan uap


air sebagai fluida kerja. Uap keluar ketel dan masuk ke turbin pada 4.0
MPa dan 500 0C. Tekanan kondensor 10 kPa dan tekanan pemanasan
ulang 0.8 MPa. Diminta: a). Entalpi pada setiap titik keadaan; b). qm, qk,
wT, wP, wnet ; c). efisiensi thermal.

6.5

Kerjakan kembali soal 6.4 diatas tetapi dengan dua pemanasan ulang pada
tekanan 1.2 MPa dan 0.6 MPa.
100

6.6

Kerjakan kembali soal 6.4 diatas tetapi dengan tiga pemanasan ulang pada
tekanan 1.5 MPa, 1.0 MPa, dan 0.5 MPa. (Terlebih dahulu gambarkan
skema instalasi dan diagram T-s nya serta turunkan rumus perhitungan
efisiensi thermal).

6.7

Pada suatu Siklus Rankine yang dilengkapi dengan sebuah regenerator,


uap air masuk turbin pada 4 MPa dan 500 0C. Tekanan regenerator 0.8
MPa dan tekanan kondensor 10 kPa.
Diminta: a). Entalpi pada setiap
titik keadaan; b). qm, qk, wT, wP, wnet ; c). efisiensi thermal.

6.8

Kerjakan kembali soal 6.7 diatas tetapi dengan dua buah regenerator pada
tekanan 1.2 MPa dan 0.6 MPa.

6.9

Kerjakan kembali soal 6.7 diatas tetapi dengan tiga buah regenerator pada
tekanan 1.5 MPa, 1.0 MPa, dan 0.5 MPa. (Terlebih dahulu gambarkan
skema instalasi dan diagram T-s nya serta turunkan rumus perhitungan
efisiensi thermal).

6.10 Pada suatu Siklus Rankine dengan kombinasi reheat dan regenerasi, uap
air masuk turbin tekanan tinggi pada 4 MPa dan 500 0C, kemudian
diekstraksi untuk keperluan pemanasan air pengisi ketel pada 1 MPa. Sisa
uap ekstraksi dipanaskan ulang pada tekanan ini sampai 500 0C dan
dimasukkan kembali ke turbin tekanan rendah. Uap diekstraksi untuk
kedua kalinya pada 0.4 MPa untuk pemanasan air pengisi ketel. Bila
tekanan kondensor 10 kPa tentukan efisiensi thermal siklus ini.
6.11 Pada suatu Siklus Rankine dengan kombinasi reheat dan regenerasi, uap
air masuk turbin tekanan tinggi pada 4 MPa dan 500 0C. Seluruh uap
kemudian dikeluarkan pada tekanan 1 MPa untuk dipanaskan ulang
sampai 500 0C. Sejumlah uap hasil pemanasan ulang diekstraksi pada
tekanan ini untuk keperluan pemanasan air pengisi ketel dan sisanya
dimasukkan kembali ke turbin tekanan rendah. Uap diekstraksi untuk
kedua kalinya pada 0.4 MPa untuk pemanasan air pengisi ketel. Bila
tekanan kondensor 10 kPa tentukan efisiensi thermal siklus ini.
6.12 Pada suatu Siklus Rankine, uap keluar ketel pada 5 MPa dan 500 0C dan
masuk turbin pada 4.5 MPa dan 450 0C. Tekanan keluar turbin 15 kPa.
Kondensat keluar kondensor dan masuk pompa pada 15 kPa dan 50 0C.
Tekanan air keluar pompa 6 MPa. Air pengisi ketel masuk ketel pada 5.5
MPa dan 40 0C. Efisiensi pompa dan turbin masing-masing 79 % dan 84
%. Tentukan efisiensi thermal siklus ini.
6.13 Perhatikan sebuah Siklus Rankine dengan pemanasan ulang, uap masuk
turbin tekanan tinggi pada 3.5 MPa dan 350 0C dan berekspansi sampai
101

0.5 MPa kemudian dipanaskan ulang sampai 350 0C. Uap kemudian
berekspansi pada turbin tekanan rendah sampai 7.5 kPa. Cairan
meninggalkan kondensor pada 30 0C dan dipompa sampai 3.5 MPa untuk
memasuki ketel. Masing-masing turbin mempunyai efisiensi 85 %
sedangkan pompa mempunyai efisiensi 80 %. Bila daya output total
turbin 800 kW, tentukan: a) laju aliran massa uap; b) daya pompa, kalor
masuk ketel, kalor dibuang di kondensor; c) efisiensi thermal siklus.
6.14 Pada suatu siklus refrijerasi kompressi uap , temperatur refrijeran pada
kondensor 44 0C dan pada evaporator 14 0C. Tentukan koefisien prestasi
siklus bila menggunakan refrijeran ammoniak dan Freon 12.
6.15 Ingin diketahui pengaruh beda temperatur refrijeran di kondensor dan
temperatur lingkungan terhadap kebutuhan daya kompressor suatu siklus
refrijerasi. Freon 12 digunakan sebagai refrijeran dengan temperatur
evaporator -15 0C dan temperatur lingkungan 40 0C. Buat grafik daya
input per kw refrijerasi versus beda temperatur kondensor dan lingkungan
untuk 0 sampai 50 0C (tiap 5 0C).
6.16 Ingin diketahui pengaruh beda temperatur cold box dan temperatur
refrijeran di evaporator terhadap kebutuhan daya kompressor suatu siklus
refrijerasi. Freon 12 digunakan sebagai refrijeran dengan temperatur cold
box -15 0C dan temperatur refrijeran di kondensor 70 0C. Buat grafik daya
input per kw refrijerasi versus beda temperatur cold box dan evaporator
sebesar 0 sampai 30 0C (tiap 5 0C).

102

DAFTAR PUSTAKA
1. Abbott, M. M., and Van Ness, H. C., Seri Buku
Schaum,Termodinamika (diterjemahkan oleh Kusno, K. et al),
Edisi kedua, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1994.
2. Burghart, M. D., Engineering Thermodynamics with
Applications. New York: Harper & Row, 1978
3. Callen, H. B., Thermodynamics. New York: Wiley, 1963.
4. Holman, J. P., Thermodynamics. New York: McGraw Hill, 1980.
5. Knuth, E. L., Introduction to Statistical Thermodynamics. New
York: McGraw Hill, 1966.
6. Nainggolan, W. S., Thermodinamika.Bandung: Armico, 1976.
7. Saad, M. A., Thermodynamics, 1stEdition. New Jersey: Prentice
Hall, 1997.
8. Smith, J. M. and Van Ness, H. C., Introduction to Chemical
Engineering Thermodynamics. New York: McGraw Hill , 1987.
9. Wood, B. D., Application of Thermodynamics. Reading: Addison
Wesley, 1969.
10. Van Wylen, G. J. and Sonntag, R. E., Fundamental of Classical
Thermodynamics. 2nd Edition, SI Version. New York: Wiley,
1978.

103

LAMPIRAN A

104

Tabel A.1
Sifat-sifat Thermodinamika dari Uap Air
Tabel A.1.1 Uap /Cairan Jenuh : Tabel Temperatur
Specific Volume
Internal Energy
Temp.
Press.
Sat..
Sat..
Sat.
C
kPa
Evap.
Liquid
Vapor
Liquid
T
P
ufg
vf
vg
uf
0,01
0,6113
0,001000
206,14
,00
2375,3
5
0,8721
0,001000
147,12
20,97
2361,3
10
1,2276
0,001000
106,38
42,00
2347,2
15
1,7051
0,001001
77,93
62,99
2333,1
20
2,339
0,001002
57,79
83,95
2319,0
25
3,169
0,001003
43,36
104,88
2304,9
30
4,246
0,001004
32,89
125,78
2290,8
35
5,628
0,001006
25,22
146,67
2276,7
40
7,384
0,001008
19,52
167,56
2262,6
45
9,593
0,001010
15,26
188,44
2248,4
50
12,349
0,001012
12,03
209,32
2234,2
55
15,758
0,001015
9,568
230,21
2219,9
60
19,940
0,001017
7,671
251,11
2205,5
65
25,03
0,001020
6,197
272,02
2191,1
70
31,19
0,001023
5,042
292,95
2176,6
75
38,58
0,001026
4,131
313,90
2162,0
80
47,39
0,001029
3,407
334,86
2147,4
85
57,83
0,001033
2,828
355,84
2132,6
90
70,14
0,001036
2,361
376,85
2117,7
95
84,55
0,001040
1,982
397,88
2102,7
100
101,35
0,001044
1,6729
418,94
2087,6
105
120,82
0,001048
1,4194
440,02
2072,3

Enthalpy
Sat.
Vapor
ug
2375,3
2382,3
2389,2
2396,1
2402,9
2409,8
2416,6
2423,4
2430,1
2436,8
2443,5
2450,1
2456,6
2463,1
2469,6
2475,9
2482,2
2488,4
2494,5
2500,6
2506,5
2512,4

Sat.
Liquid
hf
,01
20,98
42,01
62,99
83,96
104,89
125,79
146,68
167,57
188,45
209,33
230,23
251,13
272,06
292,98
313,93
334,91
355,90
376,92
397,96
419,04
440,15

Evap.
hfg
2501,3
2489,6
2477,7
2465,9
2454,1
2442,3
2430,5
2418,6
2406,7
2394,8
2382,7
2370,7
2358,5
2346,2
2333,8
2321,4
2308,8
2296,0
2283,2
2270,2
2257,0
2243,7

Entropy
Sat.
Vapor
hg
2501,4
2510,6
2519,8
2528,9
2538,1
2547,2
2556,3
2565,3
2574,3
2583,2
2592,1
2600,9
2609,6
2618,3
2626,8
2635,3
2643,7
2651,9
2660,1
2668,1
2676,1
2683,8

Sat.
Liquid
sf
,0000
,0761
,1510
,2245
,2966
,3674
,4369
,5053
,5725
,6387
,7038
,7679
,8312
,8935
,9549
1,0155
1,0753
1,1343
1,1925
1,2500
1,3069
1,3630

"Diadopsi dari Joseph H. Keenan, Frederick G. Keyes, Philip G. Hill, and Joan G. Moore, Steam Tables, (New York: John Wiley & Sons, Inc., 1969).

Evap.
sfg
9,1562
8,9496
8,7498
8,5569
8,3706
8,1905
8,0164
7,8478
7,6845
7,5261
7,3725
7,2234
7,0784
6,9375
6,8004
6,6669
6,5369
6,4102
6,2866
6,1659
6,0480
5,9328

Sat.
Vapor
sg
9,1562
9,0257
8,9008
8,7814
8,6672
8,5580
8,4533
8,3531
8,2570
8,1648
8,0763
7,9913
7,9096
7,8310
7,7553
7,6824
7,6122
7,5445
7,4791
7,4159
7,3549
7,2958

Tabel A.1.1 ( lanjutan )


Uap /Cairan Jenuh : Tabel Temperatur

105

Temp.
C
T

Press.
MPa
P

110
115
120
125
130
135
140
145
150
155
160
165
170
175
180
185
190
195
200
205
210
215
220
225

0,14327
0,16906
0,19853
0,2321
0,2701
0,3130
0,3613
0,4154
0,4758
0,5431
0,6178
0,7005
0,7917
0,8920
1,0021
1,1227
1,2544
1,3978
1,5538
1,7230
1,9062
2,104
2,318
2,548

Specific Volume
Sat..
Sat..
Liquid
Vapor
vf
vg
0,001052
1,2102
0,001065
1,0366
0,001060
0,8919
0,001065
0,7706
0,001070
0,6685
0,001075
0,5822
0,001080
0,5089
0,001085
0,4463
0,001091
0,3928
0,001096
0,3468
0,001102
0,3071
0,001108
0,2727
0,001114
0,2428
0,001121
0,2168
0,001127
0,19405
0,001134
0,17409
0,001141
0,15654
0,001149
0,14105
0,001157
0,12736
0,001164
0,11521
0,001173
0,10441
0,001181
0,09479
0,001190
0,08619
0,001199
0,07849

Internal Energy
Sat.
Liquid
uf
461,14
482,30
503,50
524,74
546,02
567,35
588,74
610,18
631,68
653,24
674,87
696,56
718,33
740,17
762,09
784,10
806,19
828,37
850,65
873,04
895,53
918,14
940,87
963,73

Evap.
ufg
2057,0
2041,4
2025,8
2009,9
1993,9
1977,7
1961,3
1944,7
1927,9
1910,8
1893,5
1876,0
1858,1
1840,0
1821,6
1802,9
1783,8
1764,4
1744,7
1724,5
1703,9
1682,9
1661,5
1639,6

Enthalpy
Sat.
Vapor
ug
2518,1
2523,7
2529,3
2534,6
2539,9
2545,0
2550,0
2554,9
2559,5
2564,1
2568,4
2572,5
2576,5
2580,2
2583,7
2587,0
2590,0
2592,8
2595,3
2597,5
2599,5
2601,1
2602,4
2603,3

Sat.
Liquid
hf
461,30
482,48
503,71
524,99
546,31
567,69
589,13
610,63
632,20
653,84
675,55
697,34
719,21
741,17
763,22
785,37
807,62
829,98
852,45
875,04
897,76
920,62
943,62
966,78

Evap.
hfg
2230,2
2216,5
2202,6
2188,5
2174,2
2159,6
2144,7
2129,6
2114,3
2098,6
2082,6
2066,2
2049,5
2032,4
2015,0
1997,1
1978,8
1960,0
1940,7
1921,0
1900,7
1879,9
1858,5
1836,5

Entropy
Sat.
Vapor
hg
2691,5
2699,0
2706,3
2713,5
2720,5
2127,3
2733,9
2740,3
2746,5
2752,4
2758,1
2763,5
2768,7
2773,6
2778,2
2782,4
2786,4
2790,0
2793,2
2796,0
2798,5
2800,5
2802,1
2803,3

Sat.
Liquid
sf
1,4185
1,4734
1,5276
1,5813
1,6344
1,6870
1,7391
1,7907
1,8418
1,8925
1,9427
1,9925
2,0419
2,0909
2,1396
2,1879
2,2359
2,2835
2,3309
2,3780
2,4248
2,4714
2,5178
2.5,639

Evap.
sfg
5,8202
5,7100
5,6020
5,4962
5,3925
5,2907
5,1908
5,0926
4,9960
4,9010
4,8075
4,7153
4,6244
4,5347
4,4461
4,3586
4,2720
4,1863
4,1014
4,0172
3,9337
3,8507
3,7683
3,6863

Sat.
Vapor
sg
7,2387
7,1833
7,1296
7,0775
7,0269
6,9777
6,9299
6,8833
6,8379
6,7935
6,7502
6,7078
6,6663
6,6256
6,5857
6,5465
6,5079
6,4698
6,4323
6,3952
6,3585
6,3221
6,2861
6,2503

106

Tabel A.1.1 ( lanjutan )


Uap /Cairan Jenuh : Tabel Temperatur
Specific Volume
Temp.
Press.
Sat..
Sat..
C
MPa
Liquid
Vapor
T
P
vf
vg
230
2,795
0,001209
0,07158
235
3,060
0,001219
0,06537
240
3,344
0,001229
0,05976
245
3,648
0,001240
0,05471
250
3,973
0,001251
0,05013
255
4,319
0,001263
0,04598
260
4,688
0,001276
0,04221
265
5,081
0,001289
0,03877
270
5,499
0,001302
0,03564
275
5,942
0,001317
0,03279
280
6,412
0,001332
0,03017
285
6,909
0,001348
0,02777
290
7,436
0,001366
0,02557
295
7,993
0,001384
0,02354
300
8,581
0,001404
0,02167
305
9,202
0,001425
0,019948
310
9,856
0,001447
0,018350
315
10,547
0,001472
0,016867
320
11,274
0,001499
0,015488
330
12,845
0,001561
0,012996
340
14,586
0,001638
0,010797
350
16,513
0,001740
0,008813
360
18,651
0,001893
0,006945
370
21,03
0,002213
0,004925
374,14
22,09
0,003155
0,003155

Internal Energy
Sat.
Evap.
Liquid
ufg
uf
986,74
1697,2
1009,89
1594,2
1033,21
1570,8
1056,71
1546,7
1080,39
1522,0
1104,28
1496,7
1128,39
1470,6
1152,74
1443,9
1177,36
1416,3
1202,25
1387,9
1227,46
1358,7
1253,00
1328,4
1278,92
1297,1
1305,2
1264,7
1332,0
1231,0
1359,3
1195,9
1387,1
1159,4
1415,5
1121,1
1444,6
1080,9
1505,3
993,7
1570,3
894,3
1641,9
776,6
1725,2
626,3
1844,0
384,5
2029,6
0

Enthalpy
Sat.
Vapor
ug
2603,9
2604,1
2604,0
2603,4
2602,4
2600,9
2599,0
2596,6
2593,7
2590,2
2586,1
2581,4
2576,0
2569,9
2563,0
2555,2
2546,4
2536,6
2525,5
2498,9
2464,6
2418,4
2351,5
2228,5
2029,6

Sat.
Liquid
hf
990,12
1013,62
1037,32
1061,23
1085,36
1109,73
1134,37
1159,28
1184,51
1210,07
1235,99
1262,31
1289,07
1316,3
1344,0
1372,4
1401,3
1431,0
1461,5
1525,3
1594,2
1670,6
1760,5
1890,5
2099,3

Evap.
hfg
1813,8
1790,5
1766,5
1741,7
1716,2
1689,8
1662,5
1634,4
1605,2
1574,9
1543,6
1511,0
1477,1
1441,8
1404,9
1366,4
1326,0
1283,5
1238,6
1140,6
1027,9
893,4
720,5
441,6
0

Entropy
Sat.
Vapor
hg
2804,0
2804,2
2803,8
2803,0
2801,5
2799,5
2796,9
2793,6
2789,7
2785,0
2779,6
2773,3
2766,2
2758,1
2749,0
2738,7
2727,3
2714,5
2700,1
2665,9
2622,0
2563,9
2481,0
2332,1
2099,3

Sat.
Liquid
sf
2,6099
2,6558
2,7015
2,7472
2,7927
2,8383
2,8838
2,9294
2,9751
3,0208
3,0668
3,1130
3,1594
3,2062
3,2534
3,3010
3,3493
3,3982
3,4480
3,5507
3,6594
3,7777
3,9147
4,1106
4,4298

Evap.
sfg
3,6047
3,5233
3,4422
3,3612
3,2802
3,1992
3,1181
3,0368
2,9551
2,8730
2,7903
2,7070
2,6227
2,5375
2,4511
2,3633
2,2737
2,1821
2,0882
1,8909
1,6763
1,4335
1,1379
0,6865
0

Sat.
Vapor
sg
6,2146
6,1791
6,1437
6,1083
6,0730
6,0375
6,0019
5,9662
5,9301
5,8938
5,8571
5,8199
5,7821
5,7437
5,7045
5,6643
5,6230
5,5804
5,5362
5,4417
5,3357
5,2112
5,0526
4,7971
4,4298

Tabel A.1.2
Uap /Cairan Jenuh : Tabel Tekanan

107

0,01
6,98
13,03
17,50
21,08
24,08
28,96
32,88
40,29
45,81
53,97
60,06
64,97
69,10
75,87
81,33
91,78

Specific Volume
Sat..
Sat..
Liquid
Vapor
vf
vg
0,001000
206,14
0,001000
129,21
0,001001
87,98
0,001001
67,00
0,001002
54,25
0,001003
45,67
0,001004
34,80
0,001005
28,19
0,001008
19,24
0,001010
14,67
0,001014
10,02
0,001017
7,649
0,001020
6,204
0,001022
5,229
0,001027
3,993
0,001030
3,240
0,001037
2,217

Sat.
Liquid
uf
,00
29,30
54,71
73,48
88,48
101,04
121,45
137,81
168,78
191,82
225,92
251,38
271,90
289,20
317,53
340,44
384,31

99,63
105,99
111,37
116,06
120,23
124,00
127,44

0,001043
0,001048
0,001053
0,001057
0,001061
0.00 I064
0,001067

417,36
444,19
466,94
486,80
504,49
5120,5
535,10

Press.
kPa
P

Temp.
C
T

0,6113
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
4,0
5,0
7,5
10
15
20
25
30
40
50
75
MPa
0,100
0,125
0,150
0,175
0,200
0,225
0,250

1,6940
1,3749
1,1593
1,0036
0,8857
0,7033
0,7187

Internal Energy

Enthalpy

Evap.
ufg
2375,3
2355,7
2338,6
2326,0
2315,9
2307,5
2293,7
2282,7
2261,7
2246,1
2222,8
2205,4
2191,2
2179,2
2159,5
2143,4
2112,4

Sat.
Vapor
ug
2375,3
2385,0
2393,3
2399,5
2404,4
2408,5
2415,2
2420,5
2430,5
2437,9
2448,7
2456,7
2463,1
2468,4
2477,0
2483,9
2496,7

Sat.
Liquid
hf
,01
29,30
54,71
73,48
88,49
101,05
121,46
137,82
168,79
191,83
225,94
251,40
271,93
289,23
317,58
340,49
384,39

2088,7
2069,3
2052,7
2038,1
2025,0
2013,1
2002,1

2506,1
2513,5
2519,7
2524,9
2529,5
2533,0
2537,2

417,46
444,32
467,11
486,99
504,70
520,72
535,37

Entropy

Evap.
hfg
2501,3
2484,9
2470,6
2460,0
2451,6
2444,5
2432,9
2423,7
2406.0,
2392,8
2373,1
2358,3
2346,3
2336,1
2319,2
2305,4
2278,6

Sat.
Vapor
hg
2501,4
2514,2
2525,3
2533,5
2540,0
2545,5
2554,4
2561,5
2574,8
2584,7
2599,1
2609,7
2618,2
2625,3
2636,8
26415,9
2663,0

Sat.
Liquid
sf
,00000
,10590
,19570
,26070
,31200
,35450
,42260
,47640
,57640
,64930
,75490
,83200
,89310
,94390
1,0259
1,0910
1,2130

Evap.
sfg
9,1562
8,8697
8,6322
8,4629
8,3311
8,2231
8,0520
7,9187
7,6750
7,5009
7,2336
7,0766
6,9383
6,8247
6,6441
6,5029
6,2434

Sat.
Vapor
sg
9,1562
8,9756
8,8279
8,7237
8,6432
8,5776
8,4746
8,3951
8,2515
8,1502
8,0085
7,9085
7,8314
7,7686
7,6700
7,5939
7,4564

2258,0
2241,0
2226,5
2213,6
2201,9
2191,3
2181,5

2675,5
2685,4
2693,6
2700,6
2706,7
2712,1
2716,9

1,3026
1,3740
1,4336
1,4849
1,5301
1,5700
1,6072

6,0568
5,9104
5,7897
5,6868
5,5970
5,5173
5,4455

7,3594
7,2844
7,2233
7,1717
7,1271
7,0878
7,0527

108

0,275
0,300
0,325
0,350
0,375
0,40
0,45
0,50
0,55
0,60
0,65
0,70
0,75
0,80
0,85
0,90
0,95
1,00
1,10
1,20
1,30
1,40
1,50
1,75
2,00
2,25
2,5
3,0

130,60
133,55
136,30
138,88
141,32
143,63
147,93
151,86
155,48
158,85
162,01
164,97
167,78
170,43
172:96
175,38
177,69
179,91
184,09
187,99
191,64
195,07
198,32
205,76
212,42
218,45
223,99
233,90

0,001070
0,001073
0,001076
0,001079
0,001081
0,001084
0,001088
0,001093
0,001097
0,001101
0,001104
0.001108
0,001112
0,001115
0,001118
0,001121
0,001124
0,001127
0,001133
0,001139
0,001144
0,001149
0,001154
0,001166
0,001177
0,001187
0,001197
0,001217

0,6573
0,6058
0,5620
0,5243
0,4914
0,4625
0,4140
0,3749
0,3427
0,3157
0,2927
0,2729
0,2556
0,2404
0,2270
0,2150
0,2042
0,19444
0,17753
0,16333
0,15125
0,14084
0,13177
0,11349
0,09963
0,08875
0,07998
0,06668

548,59
561,15
572,90
583,95
594,40
604,31
622,77
639,68
655,32
669,90
683,56
696,44
708,64
720,22
731,27
741,83
751,95
761,68
780,09
797,29
813,44
828,70
843,16
876,46
906,44
933,83
959,11
1004,78

1991,9
1982,4
1973,5
1965,0
1956,9
1949,3
1934,9
1921,6
1909,2
1897,5
1886,5
1876,1
1866,1
1856,6
1847,4
1838,6
1830,2
1822,0
1806,3
1791,5
1777,5
1764,1
1751,3
1721,4
1693,8
1668,2
1644,0
1599,3

2540,5
2543,6
2546,4
2548,9
2551,3
2553,6
2557,6
2561,2
2564,5
2567,4
2570,1
2572,5
2574,7
2576,8
2578,7
2580,5
2582,1
2583,6
2586,4
2588,8
2591,0
2592,8
2594,5
2597,8
2600,3
2602,0
2603,1
2604,1

548,89
561,47
573,25
584,33
594,81
604,74
623,25
640,23
655,93
670,56
684,28
697,22
709,47
721,11
732,22
742,83
753,02
762,81
781,34
798,65
814,93
830,30
844,89
878,50
908,79
936,49
962,11
1008,42

2172,4
2163,8
2155,8
2148,1
2140,8
2133,8
2120,7
2108,5
2097,0
2086,3
2076,0
2066,3
2057,0
2048,0
2039,4
2031,1
2023,1
2015,3
2000,4
1986,2
1972,7
1959,7
1947,3
1917,9
1890,7
1865,2
1841,0
1795,7

2721,3
2725,3
2729,0
2732,4
2735,6
2738,6
2743,9
2748,7
2753,0
2756,8
2760,3
2763,5
2766,4
2769,1
2771,6
2773,9
2776,1
2778,1
2781,7
2784,8
2787,6
2790,0
2792,2
2796,4
2799,5
2801,7
2803,1
2804,2

1,6408
1,6718
I.7006
1,7275
1,7528
1,7766
1,8207
1,8607
1,8973
1,9312
1,9627
1,9922
2,0200
2,0462
2,0710
2,0946
2,1172
2,1387
2,1792
2,2166
2,2515
2,2842
2,3150
2,3851
2,4474
2,5035
2,5547
2,6457

5,3801
5,3201
5,2646
5,2130
5,1647
5,1193
5,0359
4,9606
4,8920
4,8288
4,7703
4,7158
4,6647
4,6166
4,5711
4,5280
4,4869
4,4478
4,3744
4,3067
4,2438
4,1850
4,1298
4,0044
3,8935
3,7937
3,7028
3,5412

7,0209
6,9919
6,9652
6,9405
6,9175
6,8959
6,8565
6,8213
6,7893
6,7600
67.331
6,7080
6,6847
6,6628
6,6421
6,6226
6,6041
6,5865
6,5536
6,5233
6,4953
6,4693
6,4448
6,3896
6,3409
6,2972
6,2575
6,1869

109

Tabel A.1.2 (lanjutan )


Uap /Cairan Jenuh : Tabel Tekanan
Specific Volume
Press.
Temp.
Sat..
Sat..
MPa
C
Liquid
Vapor
P
T
vf
vg
3,5
242,60
0,001235
0,05707
4
250,40
0,001252
0,04978
5
263,99
0,001286
0,03944
6
275,64
0,001319
0,03244
7
285,88
0,001351
0,02737
8
295,06
0,001384
0,02352
9
303,40
0,001418
0,02480
10
311,06
0,001452
0,01826
11
318,15
0,001489
0,015987
12
324,75
0,001527
0,014263
13
330,93
0,001567
0,012780
14
336,75
0,001611
0,011485
15
342,24
0,001658
0,013370
16
347,44
0,001711
0,009306
17
352,37
0,001770
0,008364
18
357,06
0,001840
0,007489
19
361,54
0,001924
0,006657
20
365,81
0,002036
0,005834
21
369,89
0,002207
0,004952
22
373,80
0,002742
0,003568
22,09
374,14
0,003155
0,003155

Internal Energy
Sat.
Liquid
Evap.
uf
ufg
1045,43
1558,3
1082,31
1520,0
1147,81
1449,3
1205,44
1384,3
1257,55
1323,0
1305,57
1264,2
1350,51
1207,3
1393,04
1151,4
1433,7
1096,0
1473,0
1040,7
1511,1
985,0
1548,6
928,2
1585,6
869,8
1622,7
809,0
1660,2
744,8
1698,9
675,4
1739,9
598,1
1785,6
507,5
1842,1
388,5
1961,9
125,2
2029,6
0

Enthalpy
Sat.
Vapor
ug
2603,7
2602,3
2597,1
2589,7
2580,5
2569,8
2557,8
2544,4
2529,8
2513,7
2496,1
2476,8
2455,5
2431,7
2405,0
2374,3
2338,1
2293,0
2230,6
2087,1
2029,6

Sat.
Liquid
hf
1049,75
1087,31
1154,23
1213,35
1267,00
1316,64
1363,26
1407,56
1450,1
1491,3
1531,5
1571,1
1610,5
1650,1
1690,3
1732,0
1776,5
1826,3
1888,4
2022,2
2099,3

Evap.
hfg
1753,7
1714,1
1640,1
1571,0
1505,1
1441,3
1378,9
1317,1
1255,5
1193,6
1130,7
1066,5
1000,0
930,6
856,9
777,1
688,0
583,4
446,2
143,4
0

Entropy
Sat.
Vapor
hg
2803,4
2801,4
2794,3
2784,3
2772,1
2758,0
2742,1
2724,7
2705,6
2684,9
2662,2
2637,6
2610,5
2580,6
2547,2
2509,1
2464,5
2409,7
2334,6
2165,6
2099,3

Sat.
Liquid
sf
2,7253
2,7964
2,9202
3,0267
3,1211
3,2068
3,2858
3,3596
3,4295
3,4962
3,5606
3,6232
3,6848
3,7461
3,8079
3,8715
3,9388
4,0139
4,1075
4,3110
4,4298

Evap.
sfg
3,4000
3,2737
3,0532
2,8625
2,6922
2,5364
2,3915
2,2544
2,1233
1,9962
1,8718
1,7485
1,6249
1,4994
1,3698
1,2329
1,0839
,9130
,6938
,2216
0

Sat.
Vapor
sg
6,1253
6,0701
5,9734
5,8892
5,8133
5,7432
5,6772
5,6141
5,5527
5,4924
5,4323
5,3717
5,3098
5,2455
5,1777
5,1044
5,0228
4,9269
4,8013
4,5327
4,4298

Tabel A.1.3
Uap Dipanaskan Lanjut
T

110

Sat.
50
100
150
200
250
300
400
500
600
700
800
900
1000
1100
1200
1300

v
14,674
14,869
17,196
19,512
21,825
24,136
26,445
31,063
35,679
40,295
44,911
49,526
54,141
58,757
63,372
67,987
72,602

Sat.
150
200
250
300
400

,8857
,9596
1,0803
1,1988
1,3162
1,5493

P = ,010 MPa (45,81)


u
h
s
2437,9
2584,7
8,1502
2443,9
2592,6
8,1749
2515,5
2687,5
8,4479
2587,9
2783,0
8,6882
2661,3
2879,5
8,9038
2736,0
2977,3
9,1002
2812,1
3076,5
9,2813
2968,9
3279,6
9,6077
3132,3
3489,1
9,8978
3302,5
3705,4
10,1608
3479,6
3928,7
10,4028
3663,8
4159,0
10,6281
3855,0
4396,4
10,8396
4053,0
4640,6
11,0393
4257,5
4891,2
11,2287
4467,9
5147,8
11,4091
4683,7
5409,7
11,5811
P = ,20 MPa (120,23)
2529,5
2706,7
7,1272
2576,9
2768,8
7,2795
2654,4
2870,5
7,5066
2731,2
2971,0
7,7086
2808,6
3071,8
7,8926
2966,7
3276,6
8,2218

v
3,240
3,418
3,889
4,356
4,820
5,284
6,209
7,134
8,057
8,981
9,904
10,828
11,751
12,674
13,597
14,521
,6058
,6339
,7163
,7964
,8753
1,0315

P = ,050 MPa (81,33)


u
h
s
2483,9
2645,9
7,5939
2511,6
2682,5
7,6947
2585,6
2780,1
7,9401
2659,9
2877,7
8,1580
2735,0
2976,0
8,3556
2811,3
3075,5
8,5373
2968,5
3278,9
8,8642
3132,0
3488,7
9,1546
3302,2
3705,1
9,4178
3479,4
3928,5
9,6599
3663,6
4158,9
9,8852
3854,9
4396,3
10,0967
4052,9
4640,5
10,2964
4257,4
4891,1
10,4859
4467,8
5147,7
10,6662
4683,6
5409,6
10,8382
P = ,30 MPa (133,55)
2543,6
2725,3
6,9919
2570,8
2761,0
7,0778
2650,7
2865,6
7,3115
2728,7
2967,6
7,5166
2806,7
3069,3
7,7022
2965,6
3275,0
8,0330

v
1,6940
1,6958
1,9364
2,172
2,406
2,639
3,103
3,565
4,028
4,490
4,952
5,414
5,875
6,337
6,799
7,260
,4625
,4708
,5342
,5951
,6548
,7726

P = ,10 MPa (99,63)


u
h
2506,1
2675,5

S
7,3594

2506,7
2676,2
7,3614
2582,8
2776,4
7,6134
2658,1
2875,3
7,8343
2733,7
2974,3
8,0333
2810,4
3074,3
8,2158
2967,9
3278,2
8,5435
3131,6
3488,1
8,8342
3301,9
3704,7
9,0976
3479,2
3928,2
9,3398
3663,5
4158,6
9,5652
3854,8
4396,1
9,7767
4052,8
4640,3
9,9764
4257,3
4891,0
10,1659
4467,7
5147,6
10,3463
4683,5
5409,5
10,5183
P = ,40 MPa (143,63)
2553,6
2738,6
6,8959
2564,5
2752,8
6,9299
2646,8
2860,5
7,1706
2726,1
2964,2
7,3789
2804,8
3066,8
7,5662
2964,4
3273,4
7,8985

111

Tabel A.1.3 (lanjutan)


Uap Dipanaskan Lanjut
T
v
u
h
P = ,20 MPa (120,23)
500
1,7814
3130,8
3487,1
600
2,013
3301,4
3704,0
700
2,244
3478,8
3927,6
800
2,475
3663,1
4158,2
900
2,706
3854,5
4395,8
1000
2,937
4052,5
4640,0
1100
3,168
4257,0
4890,7
1200
3,399
4467,5
5147,3
1300
3,630
4683,2
5409,3
P = ,50 MPa (151,86)
Sat.
,3749
2561,2
2748,7
200
,4249
2642,9
2855,4
250
,4744
2723,5
2960,7
300
,5226
2802,9
3064,2
350
,5701
2882,6
3167,7
400
,6173
9963,2
3271,9
500
,7109
3128,4
3483,9
600
,8041
3299,6
3701,7
700
,8969
3477,5
3925,9
800
,9896
3662,1
4156,9
900
1,0822
3853,6
4394,7
1000
1,1747
4051,8
4639,1
1100
1,2672
4256,3
4889,9
1200
1,3596
4466,8
5146,6
1300
1,4521
4682,5
5408,6

8,5133
8,7770
9,0194
9,2449
9,4566
9,6563
9,8458
10,0262
10,1982

1,1867
1,3414
1,4957
1,6499
1,8041
1,9581
2,1121
9,9661
2,4201

6,8213
7,0592
7,2709
7,4599
7,6329
7,7938
8,0873
7,3522
8,5952
8,8211
9,0329
9,2328
9,4224
9,6029
9,7749

,3157
,3520
,3938
,4344
,4742
,5137
,5920
,6697
,7472
,8245
,9017
,9788
1,0559
1,1330
1,2101

u
h
P = ,30 MPa (133,55)
3130,0
3486,0
3300,8
3703,2
3478,4
3927,1
3662,9
4157,8
3854,2
4395,4
4052,3
4639,7
4256,8
4890,4
4467,2
5147,1
4683,0
5409,0
P = ,60 MPa (158,85)
2567,4
2756,8
2638,9
2850,1
2720,9
2957,2
2801,0
3061,6
2881,2
3165,7
2962,1
3270,3
3127,6
3482,8
3299,1
3700,9
3477,0
3925,3
3661,8
4156,5
3853,4
4394,4
4051,5
4638,8
4256,1
4889,6
4466,5
5146,3
4682,3
5408,3

8,3251
8,5892
8,8319
9,0576
9,2692
9,4690
9,6585
9,8389
10,0110

,8893
1,0055
1,1215
1,2372
1,3529
1,4685
1,5840
1,6996
1,8151

6,7600
6,9665
7,1816
7,3724
7,5464
7,7079
8,0021
8,2674
8,5107
8,7367
8,9486
9,1485
9,3381
9,5185
9,6906

,2404
,2608
,2931
,3241
,3544
,3843
,4433
,5018
,5601
,6181
,6761
,7340
,7919
,8497
,9076

u
h
P = ,40 MPa (143,63)
3129,2
3484,9
3300,2
3702,4
3477,9
3926,5
3662,4
4157,3
3853,9
4395,1
4052,0
4639,4
4256,5
4890,2
4467,0
5146,8
4682,8
5408,8
P = ,80 MPa (170,43)
2576,8
2769,1
2630,6
2839,3
2715,5
2950,0
2797,2
3056,5
2878,2
3161,7
2959,7
3267,1
3126,0
3480,6
3297,9
3699,4
3476,2
3924,2
3661,1
4155,6
3852,8
4393,7
4051,0
4638,2
4255,6
4889,1
4466,1
5145,9
4681,8
5407,9

s
8,1913
8,4558
8,6987
8,9244
9,1362
9,3360
9,5256
9,7060
9,8780
6,6628
6,8158
7,0384
7,2328
7,4089
7,5716
7,8673
8,1333
8,3770
8,6033
8,8153
9,0153
9,2050
9,3855
9,5575

112

Sat.
200
250
300
350
400
500
600
700
800
900
1000
1100
1200
1300

,19444
,2060
,2327
,2579
,2825
,3066
,3541
,4011
,4478
,4943
,5407
,5871
,6335
,6798
,7261

Sat.
225
250
300
350
400
500
600
700

,123800
,132870
,141840
,158620
,174560
,190050
,2203
,2500
,2794

P = 1,00 MPa (179,91)


2583,6
2778,1
6,5865
2621,9
2827,9
6,6940
2709,9
2942,6
6,9247
2793,2
3051,2
7,1229
2875,2
3157,7
7,3011
2957,3
3263,9
7,4651
3124,4
3478,5
7,7622
3296,8
3697,9
8,0290
3475,3
3923,1
8,2731
3660,4
4154,7
8,4996
3852,2
4392,9
8,7118
4050,5
4637,6
8,9119
4255,1
4888,6
9,1017
4465,6
5145,4
9,2822
4681,3
5407,4
9,4543
P = 1,60 MPa (201,41)
2596,0
2794,0
6,4218
2644,7
2857,3
6,5518
2692,3
2919,2
6,6732
2781,1
3034,8
6,8844
2866,1
3145,4
7,0694
2950,1
3254,2
7,2374
3119,5
3472,0
7,5390
3293,3
3693,2
7,8080
3472,7
3919,7
8,0535

,16333
,16930
,19234
,2138
,2345
,2548
,2946
,3339
,3729
,4118
,4505
,4892
,5278
,5665
,6051

2588,8
2612,8
2704,2
2789,2
2872,2
2954,9
3122,8
3295,6
3474,4
3659,7
3851,6
4050,0
4254,6
4465,1
4680,9

,11042
,11673
,12497
,14021
,15457
,16847
,19550
,2220
,2482

2598,4
2636,6
2686,0
2776,9
2863,0
2947,7
3117,9
3292,1
3471,8

P = 1,20 MPa (187,99)


2784,8
6,5233
2815,9
6,5898
2935,0
6,8294
3045,8
7,0317
3153,6
7,2121
3260,7
7,3774
3476,3
7,6759
3696,3
7,9435
3922,0
8,1881
4153,8
8,4148
4392,2
8,6272
4637,0
8,8274
4888,0
9,0172
5144,9
9,1977
5407,0
9,3698
P = 1,80 MPa (207,15)
2797,1
6,3794
2846,7
6,4808
2911,0
6,6066
3029,2
6,3226
3141,2
7,0100
3250,9
7,1794
3469,8
7,4825
3691,7
7,7523
3918,5
7,9983

,14084
,14302
,16350
,18228
,2003
,2178
,2521
,2860
,3195
,3528
,3861
,4192
,4524
,4855
,5186
,09963
,10377
,11144
,12547
,13857
,15120
,17568
,19960
,2232

P = 1,40 MPa (195,07)


2592,8
2790,0
6,4693
2603,1
2803,3
6,4975
2698,3
2927,2
6,7467
2785,2
3040,4
6,9534
2869,2
3149,5
7,1360
2952,5
3257,5
7,3026
3121,1
3474,1
7,6027
3294,4
3694,8
7,8710
3473,6
3920,8
8,1160
3659,0
4153,0
8,3431
3851,1
4391,5
8,5556
4049,5
4636,4
8,7559
4254,1
4887,5
8,9457
4464,7
5144,4
9,1262
4680,4
5406,5
9,2984
P = 2,00 MPa (212,42)
2600,3
2799,5
6,3409
2628,3
2835,8
6,4147
2679,6
2902,5
6,5453
2772,6
3023,5
6,7664
2859,8
3137,0
6.95-63
29452
3247,6
7,1271
3116,2
3467,6
7,4317
3290,9
3690,1
7,7024
3470,9
3917,4
7,9487

113

Tabel A.1.3 (lanjutan)


Uap Dipanaskan Lanjut
T
v
u
h
P = 1,60 MPa (201,41)
800
,3086
3658,3
4152,1
900
,3377
3850,5
4390,8
1000
,3668
4049,0
4635,8
1100
,3958
4253,7
4887,0
1200
,4248
4464,2
5143,9
1300
,4538
4679,9
5406,0
P = 2,50 MPa (223,99)
Sat.
,07998
2603,1
2803,1
225
,08027
2605,6
2806,3
250
,08700
2662,6
2880,1
300
,09890
2761,6
3008,8
350
,10976
2851,9
3126,3
400
,12010
2939,1
3239,3
450
,13014
3025,5
3350,8
500
,13998
3112,1
3462,1
600
,15930
3288,0
3686,3
700
,17832
3468,7
3914,5
800
,19716
3655,3
4148,2
900
,21590
3847,9
4387,6
1000
,2346
4046,7
4633,1
1100
,2532
4251,5
4884,6
1200
,2718
4462,1
5141,7
1300
,2905
4677,8
5404,0

8,2808
8,4935
8,6938
8,8837
9,0643
9,2364

,2742
,3001
,3260
,3518
,3776
,4034

6,2575
6,2639
6,4085
6,6438
6,8403
7,0148
7,1746
7,3234
7,5960
7,8435
8,0720
8,2853
8,4861
8,6762
8,8569
9,0291

,06668
,07058
,08114
,09053
,09936
,10787
,11619
,13243
,14838
,16414
,17980
,19541
,21098
,22652
,24206

u
h
P = 1,80 MPa (207,15)
3657,6
4151,2
3849,9
4390,1
4048,5
4635,2
4253,2
4886,4
4463,7
5143,4
4679,5
5405,6
P = 3,00 MPa (233,90)
2604,1
2804,2
2644,0
2750,1
2843,7
2932,8
3020,4
3108,0
3285,0
3466,5
3653,5
3846,5
4045,4
4250,3
4460,9
4676,6

2855,8
2993,5
3115,3
3230,9
3344,0
3456,5
3682,3
3911,7
4145,9
4385,9
4631,6
4883,3
5140,5
5402,8

8,2258
8,4386
8,6391
8,8290
9,0096
9,1818

,2467
,2700
,2933
,3166
,3398
,3631

6,1869

,05707

6,2872
6,5390
6,7428
6,9212
7,0834
7,2338
7,5085
7,7571
7,9862
8,1999
8,4009
8,5912
8,7720
8,9442

,05872
,06842
,07678
,08453
,09196
,09918
,11324
,12699
,14056
,15402
,16743
,18080
,19415
,20749

u
h
P = 2,00 MPa (212,42)
3657,0
4150,3
3849,3
4389,4
4048,0
4634,6
4252,7
4885,9
4463,3
5142,9
4679,0
5405,1
P = 3,50 MPa (242,60)
2603,7
2803,4
2623,7
2738,0
2835,3
2926,4
3015,3
3103,0
3282,1
3464,3
3651,8
3845,0
4044,1
4249,2
4459,8
4675,5

2829,2
2977,5
3104,0
3222,3
3337,2
3450,9
3678,4
3908,8
4143,7
4384,1
4630,1
4881,9
5139,3
5401,4

s
8,1765
8,3895
8,5901
8,7800
8,9607
9,1329
6,1253
6,1749
6,4461
6,6579
6,8405
7,0052
7,1572
7,4339
7,6837
7,9134
8,1276
8,3288
8,5192
8,7000
8,8723

114

Sat.
275
300
350
400
450
500
600
700
800
900
1000
1100
1200
1300

,04978
,05457
,05884
,06645
,07341
,08002
,08643
,09885
,11095
,12287
,13469
,14645
,15817
,16987
,18156

Sat.
300
350
400
450
500
550
600
700
800
900
1000
1100

,03244
,03616
,04223
,04739
,05214
,05665
,06101
,06525
,07352
,08160
,08958
,09749
,10536

P = 4,0 MPa (250,40)


2602,3
2801,4
2667,9
2886,2
2725,3
2960,7
2826,7
3092,5
2919,9
3213,6
3010,2
3330,3
3099,5
3445,3
3279,1
3674,4
3462,1
3905,9
3650,0
4141,5
3843,6
4382,3
4042,9
4628,7
4248,0
4880,6
4458,6
5138,1
4674,3
5400,5
P = 6,0 MPa (275,64)
2589,7
2784,3
2667,2
2884,2
2789,6
3043,0
2892,9
3177,2
2988,9
3301,8
3082,2
3422,2
3174,6
3540.6,
3266,9
3658.4,
3453,1
3894,2
3643,1
4132,7
3837,8
4375,3
4037,8
4622,7
4243,3
4875,4

6,0701
6,2285
6,3615
6,5821
6,7690
6,9363
7,0901
7,3688
7,6198
7,8502
8,0647
8,2662
8,4567
8,6376
8,8100

,04406
,04730
,05135
,05840
,06475
,07074
,07651
,08765
,09847
,10911
,11965
,13013
,14056
,15098
,16139

5,8892
6,0674
6,3335
6,5408
6,7193
6,8803
7,0288
7,1677
7,4234
7,6566
7,8727
8,0751
8,2661

,02737
,02947
,03524
,03993
,04416
,04814
,05195
,05565
,06283
,06981
,07669
,08350
,09027

P = 4,5 MPa (257,49)


2600,1
2798,3
2650,3
2863,2
2712,0
2943,1
2817,8
3080,6
2913,3
3204,7
3005,0
3323,3
3095,3
3439,6
3276,0
3670,5
3459,9
3903,0
3648,3
4139,3
3842,2
4380,6
4041,6
4627,2
4246,8
4879,3
4457,5
5136,9
4673,1
5399,4
P = 7,0 MPa (285,88)
2580,5
2772,1
2632,2
2838,4
2769,4
3016,0
2878,6
3158,1
2978,0
3287,1
3073,4
3410,3
3167,2
3530,9
3260,7
3650,3
3448,5
3888,3
3639,5
4128,2
3835,0
4371,8
4035,3
4619,8
4240,9
4872,8

6,0198
6,1401
6,2828
6,5131
6,7047
6,8746
7,0301
7,3110
7,5631
7,7942
8,0091
8,2108
8,4015
8,5825
8,7549

,03944
,04141
,04532
,05194
,05781
,06330
,06857
,07869
,08849
,09811
,10762
,11707
,12648
,13587
,14526

5,8133
5,9305
6,2283
6,4478
6,6327
6,7975
6,9486
7,0894
7,3476
7,5822
7,7991
8,0020
8,1933

,02352
,02426
,02995
,03432
,03817
,04175
,04516
,04845
,05481
,06097
,06702
,07301
,07896

P = 5,0 MPa (263,99)


2597,1
2794,3
2631,3
2838,3
2698,0
2924,5
2808,7
3068,4
2906,6
3195,7
2999,7
3316,2
3091,0
3433,8
3273,0
3666,5
3457,6
3900,1
3646,6
4137,1
3840,7
4378,8
4040,4
4625,7
4245,6
4878,0
4456,3
5135,7
4672,0
5398,2
P = 8,0 MPa (295,06)
2569,8
2758,0
2590,9
2785,0
2747,7
2987,3
2863,8
3138,3
2966,7
3272,0
3064,3
3398,3
3159,8
3521,0
3254,4
3642,0
3443,9
3882,4
3636,0
4123,8
3832,1
4368,3
4032,8
4616,9
4238,6
4870,3

5,9734
6,0544
6,2084
6,4493
6,6459
6,8186
6,9759
7,2589
7,5122
7,7440
7,9593
8,1612
8,3520
8,5331
8,7055
5,7432
5,7906
6,1301
6,3634
6,5551
6,7240
6,8778
7,0206
7,2812
7,5173
7,7351
7,9384
8,1300

115

1200
1300

,11321
,12106

Sat.
325
350
400
450
500
550
600
650
700
800
900
1000
1100
1200
1300

,02048
,02327
,02580
,02993
,03350
,03677
,03987
,04285
,04574
,04857
,05409
,05950
,06485
,07016
,07544
,08072

u
h
P = 6,0 MPa (275,64)
4454,0
5133,3
4669,6
5396,0
P = 9.0 MPa (303.40)
2557,8
2742,1
2646,6
2856,0
2724,4
2956,6
2848,4
3117,8
2955,2
3256,6
3055,2
3386,1
3152,2
3511,0
3248,1
3633,7
3343,6
3755,3
3439,3
3876,5
3632,5
4119,3
3829,2
4364,8
4030,3
4614,0
4236,3
4867,7
4447,2
5126,2
4662,7
5389,2

8,4474
8,6199

,09703
,10377

5,6772
5,8712
6,0361
6,2854
6,4844
6,6576
6,8142
6,9589
7,0943
7,2221
7,4596
7,6783
7,8821
8,0740
8,2556
8,4284

,018026
,019861
,02242
,26410
,29750
,03279
,03564
,38370
,04101
,43580
,04859
,05349
,58320
,06312
,06789
,72650

u
h
P = 7,0 MPa (285,88)
4451,7
5130,9
4667,3
5393,7
P = 10.0 MPa (311,06)
2544,4
2724,7
2610,4
2809,1
2699,2
2923,4
2832,4
3096,5
2943,4
3240,9
3045,8
3373,7
3144,6
3500,9
3241,7
3625,3
3338,2
3748,2
3434,7
3870,5
3628,9
4114,8
3826,3
4361,2
4027,8
4611,0
4234,0
4865,1
4444,9
5123,8
4460,5
5387,0

8,3747
8,5473

,08489
,09080

5,6141
5,7568
5,9443
6,2120
6,4190
6,5966
6,7561
6,9029
7,0398
7,1687
7,4077
7,6272
7,8315
8,0237
8,2055
8,3783

,013495
,016126
,02000
,02299
,02560
,02801
,03029
,03248
,03460
,03869
,04267
,04658
,05045
,05430
,05813

u
h
P = 8,0 MPa (295,06)
4449,5
5128,5
4665,0
5391,5
P = 12,5 MPa (327.89)
2505,1
2673,8
2624,6
2789,3
2912,5
3021,7
3125,0
3225,4
3324,4
3422,9
3620,0
3819,1
4021,6
4228,2
4439,3
4654,8

2826,2
3039,3
3199,8
3341,8
3475,2
3604,0
3730,4
3855,3
4103,6
4352,5
4603,8
4858,8
5118,0
5381,4

s
8,3115
8,4842
5,4624
5,7118
6,0417
6,2719
6,4618
6,6290
6,7810
6,9218
7,0536
7,2965
7,5182
7,7237
7,9165
8,0987
8,2717

Sat.
350
400
450
500
550
600
650
700
800
900
1000
1100
1200
1300

116

375
400
425
450
500
550
600
650
700
800
900
1000
1100

P = 15,0 MPa (342,24)


2455,5
2610,5
2520,4
2692,4
2740,7
2975,5
2879,5
3156,2
2996,6
3308,6
3104,7
3448,6
3208,6
3582,3
3310,3
3712,3
3410,9
3840,1
3610,9
4092,4
3811,9
4343,8
4015,4
4596,6
4222,6
4852,6
4433,8
5112,3
4649,1
5376,0
P = 25,0 MPa
,0019731
1798,7
1848,0
,006004
2430,1
2580,2
,007881
2609,2
2806,3
,009162
2720,7
2949,7
,011123
2884,3
3162,4
,012724
3017,5
3335,6
,014137
3137,9
3491,4
,015433
3251,6
3637,4
,016646
3361,3
3777,5
,018912
3574,3
4047,1
,021045
3783,0
4309,1
,02310
3990,9
4568,5
,02512
4200,2
4828,2
,010337
,011470
,015649
,018445
,02080
,02293
,02491
,02680
,02861
,03210
,03546
,03875
,04200
,04523
,04845

5,3098
5,4421
5,8811
6,1404
6,3443
6,5199
6,6776
6,8224
6,9572
7,2040
7,4279
7,6348
7,8283
8,0108
8,1840

,007920

4,0320
5,1418
5,4723
5,6744
5,9592
6,1765
6,3602
6,5229
6,6707
6,9345
7,1680
7,3802
7,5765

,0017892
,002790
,005303
,006735
,008678
,010168
,011446
,012596
,013661
,015623
,017448
,019196
,020903

,012447
,015174
,017358
,019288
,02106
,02274
,02434
,02738
,03031
,03316
,03597
,03876
,04154

P = 17,5 MPa (354,75)


2390,2
2528,8
2685,0
2902,9
2844,2
3109,7
2970,3
3274,1
3083,9
3421,4
3191,5
3560,1
3296,0
3693,9
3398,7
3824,6
3601,8
4081,1
3804,7
4335,1
4009,3
4589,5
4216,9
4846,4
4428,3
5106,6
4643,5
5370,5
P = 30,0 MPa
1737,8
1791,5
2067,4
2151,1
2455,1
2614,2
2619,3
2821,4
2820,7
3081,1
2970,3
3275,4
3100,5
3443,9
3221,0
3598,9
3335,8
3745,6
3555,5
4024,2
3768,5
4291,9
3978,8
4554,7
4189,2
4816,3

5,1419

,005834

5,7213
6,0184
6,2383
6,4230
6,5866
6,7357
6,8736
7,1244
7,3507
7,5589
7,7531
7,9360
8,1093

,009942
,012695
,014768
,016555
,018178
,019693
,02113
,02385
,02645
,02897
,03145
,03391
,03636

3,9305
4,4728
5,1504
5,4424
5,7905
6,0342
6,2331
6,4058
6,5606
6,8332
7,0718
7,2867
7,4845

,0017003
,002100
,003428
,004961
,006927
,008345
,009527
,010575
,011533
,013278
,014883
,016410
,017895

P = 20,0 MPa (365,81)


2293,0
2409,7
2619,3
2818,1
2806,2
3060,1
2942,9
3238,2
3062,4
3393,5
3174,0
3537,6
3281,4
3675,3
3386,4
3809,0
3592,7
4069,7
3797,5
4326,4
4003,1
4582,5
4211,3
4840,2
4422,8
5101,0
4638,0
4638,0
P = 35,0 MPa
1702,9
1762,4
1914,1
1987,6
2253,4
2373,4
2498,7
2672,4
2751,9
2994,4
2921,0
3213,0
3062,0
3395,5
3189,8
3559,9
3309,8
3713,5
3536,7
4001,5
3754,0
4274,9
3966,7
4541,1
4178,3
4804,6

4,9269
5,5540
5,9017
6,1401
6,3348
6,5048
6,6582
6,7993
7,0544
7,2830
7,4925
7,6874
7,8707
8,0442
3,8722
4,2126
4,7747
5,1962
5,6282
5,9026
6,1179
6,3010
6,4631
6,7450
6,9886
7,2064
7,4057

117

Tabel A.1.3 (lanjutan)


Uap Dipanaskan Lanjut
T
v
u
h
P= 25,0 MPa
1200
,02711
4412,0
5089,9
1300
,02910
4626,9
5354,4
P = 40,0 MPa
375
,0026407
1677,1
1742,8
400
,0019077
1854,6
1930,9
425
,002532
2096,9
2198,1
450
,003693
2365,1
2512,8
500
,005622
2678,4
2903,3
550
,006984
2869,7
3149,1
600
,008094
3022,6
3346,4
650
,009063
3158,0
3520,6
700
,009941
3283,6
3681,2
800
,011523
3517,8
3978,7
900
,012962
3739,4
4257,9
1000
,014324
3954,6
4527,6
1100
,015642
4167,4
4793,1
1200
,016940
4380,1
5057,7
1300
,018229
4594,3
5323,5

,022589
,024266

u
h
P = 30,0 MPa
4401,3
5079,0
4616,0
5344,0

7,7605
7,9342
3,8290
4,1135
4,5029
4,9459
5,4700
5,7785
6,0114
6,2054
6,3750
6,6662
6,9150
7,1356
7,3364
7,5224
7,6969

,019360
,020815

u
h
P 35,0 MPa
4390,7
5068,3
4605,1
5333,6

7,6692
7,8432

,0015594
,0017309
,002007
,002486
,003892
,005118
,006112
,006966
,007727
,009076
,012830
,011411
,012496
,013561
,014616

P = 50,0 MPa
1638,6
1716,6
1788,1
1874,6
1959,7
2060,0
2159,6
2284,0
2525,5
2720,1
2763,6
3019,5
2942,0
3247,6
3093,5
3441,8
3230,5
3616,8
3479,8
3933,6
3710,3
4224,4
3930,5
4501,1
4145,7
4770,5
4359,1
5037,2
4572,8
5303,6

3,7639
4,0031
4,2734
4,5884
5,1726
5,5485
5,8178
6,0342
6,2189
6,5290
6,7882
7,0146
7,2184
7,4058
7,5808

s
7,5910
7,7653

,0015028
,0016335
,0018165
,002085
,002956
,003956
,004834
,005595
,006272
,007459
,008508
,009480
,010409
,011317
,012215

P = 60,0 MPa
1609,4
1699,5
1745,4
1843,4
1892,7
2001,7
2053,9
2179,0
2390,6
2567,9
2658,8
2896,2
2861,1
3151,2
3028,8
3364,5
3177,2
3553,5
3441,5
3889,1
3681,0
4191,5
3906,4
4475,2
4124,1
4748,6
4338,2
5017,2
4551,4
5284,3

3,7141
3,9318
4,1626
4,4121
4,9321
5,3441
5,6452
5,8829
6,0824
6,4109
6,6805
6,9127
7,1195
7,3083
7,4837

Tabel A.1.4
Cairan Tertekan

118

T
Sat.
0
20
40
60
80
100
120
I40
160
180
200
220
240
260
280
300
320
340

v
,0012859
,0009977
,0009995
,0010056
,0010149
,0010268
,0010410
,0010576
,0010768
,0010988
,0011240
,0011530
,0011866
,0012264
,0012749

P = 5 MPa (263,99)
u
h
1147,8
1154,2
,04
5,04
83,65
88,65
166,95
171,97
250,23
255,30
333,72
338,85
417,52
422,72
501,80
507,09
586,76
592,15
672,62
678,12
759,63
765,25
848,1
853,9
938,4
944,4
1031,4
1037,5
1127,9
1134,3

s
2,9202
,0001
,2956
,5705
,8285
1,0720
1,3030
1,5233
1,7343
1,9375
2,1341
2,3255
2,5128
2,6979
2,8830

v
,0014524
,0009952
,0009972
,0010034
,0010127
,0010245
,0010385
,0010549
,0010737
,0010953
,0011199
,0011480
,0011805
,0012187
,0012645
,0013216
,0013972

P = 10 MPa (311,06)
u
h
1393,0
1407,6
,09
10,04
83,36
93,33
166,35
176,38
249,36
259,49
332,59
342,83
416,12
426,50
500,08
510,64
584,68
595,42
670,13
681,08
756,65
767,84
844,5
856,0
934,1
945,9
1026,0
1038,1
1121,1
1133,7
1220,9
1234,1
1328,4
1342,3

s
3,3596
,0002
,2945
,5686
,8258
1,0688
1,2992
1,5189
1,7292
1,9317
2,1275
2,3178
2,5039
2,6872
2,8699
3,0548
3,2469

v
,0016581
,0009928
,0009950
,0010013
,0010105
,0010222
,0010361
,0010522
,0010707
,0010918
,0011159
,0011433
,0011748
,0012114
,0012550
,0013084
,0013770
,0014724
,0016311

P = 15 MPa (342,24)
u
h
1585,6
1610,5
0,15
83,06
165,76
248,51
331,48
414,74
498,40
582,66
667,71
753,76
841,0
929,9
1020,8
1114,6
1212,5
1316,6
1431,1
1567,5

15,05
97,99
180,78
263,67
346,81
430,28
514,19
598,72
684,09
770,50
858,2
947,5
1039,0
1133,4
1232,1
1337,3
1453,2
1591,9

s
3,6848
,0004
,2934
,5666
,8232
1,0656
1,2955
1,5145
1,7242
1,9260
2,1210
2,3104
2,4953
2,6771
2,8576
3,0393
3,2260
3,4247
3,6546

Table A.1.4 (lanjutan)


Cairan Tertekan
P = 20 MPa (365,81)
T
v
u
h

119

Sat.
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
220
240
260
280
300
320
340
360
380

,002036
,0009904
,0009928
,0009992
,0010084
,0010199
,0010337
,0010496
,0010678
,0010885
,0011120
,0011388
,0011693
,0012046
,0012462
,0012965
,0013596
,0014437
,0015684
,0018226

1785,6
0,19
82,77
165,17
247,68
330,40
413,39
496,76
580,69
665,35
750,95
837,7
925,9
1016,0
1108,6
1204,7
1306,1
1415,7
1539,7
1702,8

1826,3
20,01
102,62
185,16
267,85
350,80
434,06
517,76
602,04
687,12
773,20
860,5
949,3
1040,0
1133,5
1230,6
1333,3
1444,6
1571,0
1739,3

P = 30 MPa
s
4,0139
0,0004
0,2923
0,5646
0,8206
1,0624
1,2917
1,5102
1,7193
1,9204
2,1147
2,3031
2,4870
2,6674
2,8459
3,0248
3,2071
3,3979
3,6075
3,8772

P = 50 MPa

,0009856
,0009886
,0009951
,0010042
,0010156
,0010290
,0010445
,0010621
,0010821
,0011047
,0011302
,0011590
,0011920
,0012303
,0012755
,0013304
,0013997
,0014920
,0016265
,0018691

0,25
82,17
164,04
246,06
328,30
410,78
493,59
576,88
660,82
745,59
831,4
918,3
1006,9
1097,4
1190,7
1287,9
1390,7
1501,7
1626,6
1781,4

29,82
111,84
193,89
276,19
358,77
441,66
524,93
608,75
693,28
778,73
865,3
953,1
1042,6
1134,3
1229,0
1327,8
1432,7
1546,5
1675,4
1837,5

0,0001
0,2899
0,5607
0,8154
1,0561
1,2844
1,5018
1,7098
1,9096
2,1024
2,2893
2,4711
2,6490
2,8243
2,9986
3,1741
3,3539
3,5426
3,7494
4,0012

,0009766
,0009804
,0009872
,0009962
,0010073
,0010201
,0010348
,0010515
,0010703
,0010912
,0011146
,0011408
,0011702
,0012034
,0012415
,0012860
,0013388
,0014032
,0014838
,0015884

,20
81,00
161,86
242,98
324,34
405,88
487,65
569,77
652,41
735,69
819,7
904,7
990,7
1078,1
1167,2
1258,7
1353,3
1452,0
1556,0
1667,2

49,03
130,02
211,21
292,79
374,70
456,89
539,39
622,35
705,92
790,25
875,5
961,7
1049,2
1138,2
1229,3
1323,0
1420,2
1522,1
1630,2
1746,6

-0,0014
0,2848
0,5527
0,8052
1,0440
1,2703
1,4857
1,6915
1,8891
2,0794
2,2634
2,4419
2,6158
2,7860
2,9537
3,1200
3,2868
3,4557
3,6291
3,8101

120

Tabel A.1.5
Air Jenuh Padat Uap
Specific Volume
Temp.
Press.
Sat.
Sat.
o
C
kPa
Solid
Vapor
T
P
vi x 103
vg
,01
,6113
1,0908
206,1
0
,6108
1,0908
206,3
-2
,5176
1,0904
241,7
-4
,4375
1,0901
283,8
-6
,3689
1,0898
334,2
-8
,3102
1,0894
394,4
-10
,2602
1,0891
466,7
-12
,2176
1,0888
553,7
-14
,1815
1,0884
658,8
-16
,1510
1,0881
786,0
-18
,1252
1,0878
940,5
-20
,1035
1,0874
1128,6
-22
,0853
1,0871
1358,4
-24
,0701
1,0868
1640,1
-26
,0574
1,0864
1986,4
-28
,0469
1,0861
2413,7
-30
,0381
1,0858
2943
-32
,0309
1,0854
3600
-34
,0250
1,0851
4419
-36
,0201
1,0848
5444
-38
,0161
1,0844
6731
-40
,0129
1,0841
8354

Internal Energy
Sat.
Solid
ui
-333,40
-333,43
-337,62
-341,78
-345,91
-350,02
-354,09
-358,14
-362,15
-366,14
-370,10
-374,03
-377,93
-381,80
-385,64
-389,45
-393,23
-396,98
-400,71
-404,40
-408,06
-411,70

Subl.
uig
2708,7
2708,8
2710,2
2711,6
2712,9
2714,2
2715,5
2716,8
2718,0
2719,2
2720,4
2721,6
2722,7
2723,7
2724,8
2725,8
2726,8
2727,8
2728,7
2729,6
2730,5
2731,3

Enthalpy
Sat.
Vapor
ug
2375,3
2375,3
2372,6
2369,8
2367,0
2364,2
2361,4
2358,7
2355,9
2353,1
2350,3
2347,5
2344,7
2342,0
2339,2
2336,4
2333,6
2330,8
2328,0
2325,2
2322,4
2319,6

Sat.
Solid
hi
-333,40
-333,43
-337,62
-341,78
-345,91
-350,02
-354,09
-358,14
-362,15
-366,14
-370,10
-374,03
-377,93
-381,80
-385,64
-389,45
-393,23
-396,98
-400,71
-404,40
-408,06
-411,70

Subl.
hig
2834,8
2834,8
2835,3
2835,7
2836,2
2836,6
2837,0
2837,3
2837,6
2837,9
2838,2
2838,4
2838,6
2838,7
2838,9
2839,0
2839,0
2839,1
2839,1
2839,1
2839,0
2838,9

Entropy
Sat.
Vapor
hg
2501,4
2501,3
2497,7
2494,0
2490,3
2486,6
2482,9
2479,2
2475,5
2471,8
2468,1
2464,3
2460,6
2456,9
2453,2
2449,5
2445,8
2442,1
2438,4
2434,7
2430,9
2427,2

Sat.
Solid
si
-1,221
-1,221
-1,237
-1,253
-1,268
-1,284
-1,299
-1,315
-1,331
-1,346
-1,362
-1,377
-1,393
-1,408
-1,424
-1,439
-1,455
-1,471
-1,486
-1,501
-1,517
-1,532

Subl.
sig
10,378
10,378
10,456
10,536
10,616
10,698
10,781
10,865
10,950
11,036
11,123
11,212
11,302
11,394
11,486
11,580
11,676
11,773
11,872
11,972
12,073
12,176

Sat.
Vapor
sg
9,156
9,157
9,219
9,283
9,348
9,414
9,481
9,550
9,619
9,690
9,762
9,835
9,909
9,985
10,062
10,141
10,221
10,303
10,386
10,470
10,556
10,644

Tabel A.2
Sifat Sifat Thermodinamika Amoniaa
Tabel A.2.1
Uap/Cairan Jenuh

121

Temp.
oC

Abs.
Press.
kPa
P

-50
-48
-46
-44
-42
-40
-38
-36
-34
-32
-30
-28
-26
-24
-22
-20
-18
-16
-14
-12
-10
-8
-6
-4
-2

40,88
45,96
51,55
57,69
64,42
71,77
79,80
88,54
98,05
108,37
119,55
131,64
144,70
158,78
173,93
190,22
207,71
226,45
246,51
267,95
290,85
315,25
341,25
368,90
398,27

Specific Volume
m3/kg
Sat..
Liquid
vf
0,001424
0,001429
0,001434
0,001439
0,001444
0,001449
0,001454
0,001460
0,001465
0,001470
0,001476
0,001481
0,001487
0,001492
0,001498
0,001504
0,001510
0,001515
0,001521
0,001528
0,001534
0,001540
0,001546
0,001553
0,001559

Evap.
vfg
2,6239
2,3518
2,1126
1,9018
1,7155
1,5506
1,4043
1,2742
1,1582
1,0547
0,9621
0,8790
0,8044
0,7373
0,6768
0,6222
0,5728
0,5280
0,4874
0,4505
0,4169
0,3863
0,3583
0,3328
0,3094

Enthalpy
kJ/kg
Sat..
Vapor
vg
2,6254
2,3533
2,1140
1,9032
1,7170
1,5521
1,4058
1,2757
1,1597
1,0562
0,9635
0,8805
0,8059
0,7388
0,6783
0,6237
0,5743
0,5296
0,4889
0,4520
0,4185
0,3878
0,3599
0,3343
0,3109

Sat.
Liquid
hf
-44,3
-35,5
-26,6
-17,8
-8,9
0,0
8,9
17,8
26,8
35,7
44,7
53,6
62,6
71,6
80,7
89,7
98,8
107,8
116,9
126,0
135,2
144,3
153,5
162,7
171,9

Evap.
hfg
1416,7
1411,3
1405,8
1400,3
1394,7
1389,0
1383,3
1377,6
1371,8
1365,9
1360,0
1354,0
1347,9
1341,8
1335,6
1329,3
1322,9
1316,5
1310,0
1303,5
1296,8
1290,1
1283,3
1276,4
1269,4

Entropy
Sat.
Vapor
hg
1372,4
1375,8
1379,2
1382,5
1385,8
1389,0
1392,2
1395,4
1398,5
1401,6
1404,6
1407,6
1410,5
1413,4
1416,2
1419,0
1421,7
1424,4
1427,0
1429,5
1432,0
1434,4
1436,8
1439,1
1441,3

Sat.
Liquid
sf
-0,1942
-0,1547
-0,1156
-0,0768
-0,0382
0,0000
0,0380
0,0757
0,1132
0,1504
0,1873
0,2240
0,2605
0,2967
0,3327
0,3684
0,4040
0,4393
0,4744
0,5093
0,5440
0,5785
0,6128
0,6469
0,6808

kJ/kg K
Evap.
sfg
6,3502
6,2696
6,1902
6,1120
6,0349
5,9589
5,8840
5,8101
5,7372
5,6652
5,5942
5,5241
5,4548
5,3864
5,3188
5,2520
5,1860
5,1207
5,0561
4,9922
4,9290
4,8664
4,8045
4,7432
4,6825

Sat.
Vapor
sg
6,1561
6,1149
6,0746
6,0352
5,9967
5,9589
5,9220
5,8858
5,8504
5,8156
5,7815
5,7481
5,7153
5,6831
5,6515
5,6205
5,5900
5,5600
5,5305
5,5015
5,4730
5,4449
5,4173
5,3901
5,3633

122

0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30
32
34
36
38
40
42
44
46
48
50

429,44
462,49
497,49
534,51
573,64
614,95
658,52
704,44
752,79
803,66
857,12
913,27
972,19
1033,97
1098,71
1166,49
1237,41
1311,55
1389,03
1469,92
1554,33
1642,35
1734,09
1829,65
1929,13
2032,62

0,001566
0,001573
0,001580
0,001587
0,001594
0,001601
0,001608
0,001616
0,001623
0,001631
0,001639
0,001647
0,001655
0,001663
0,001671
0,001680
0,001689
0,001698
0,001707
0,001716
0,001726
0,001735
0,001745
0,001756
0,001766
0,001777

0,2879
0,2683
0,2502
0,2335
0,2182
0,2040
0,1910
0,1789
0,1677
0,1574
0,1477
0,1388
0,1305
0,1228
0,1156
0,1089
0,1027
0,0969
0,0914
0,0863
0,0815
0,0771
0,0728
0,0689
0,0652
0,0617

0,2895
0,2698
0,2517
0,2351
0,2198
0,2056
0,1926
0,1805
0,1693
0,1590
0,1494
0,1405
0,1322
0,1245
0,1173
0,1106
0,1044
0,0986
0,0931
0,0880
0,0833
0,0788
0,0746
0,0707
0,0669
0,0635

181,1
190,4
199,6
208,9
218,3
227,6
237,0
246,4
255,9
265,4
274,9
284,4
294,0
303,6
313,2
322,9
332,6
342,3
352,4
361,9
371,7
381,6
391,5
401,5
411,5
421,7

1262,4
1255,2
1248,0
1240,6
1233,2
1225,7
1218,1
1210,4
1202,6
1194,7
1186,7
1178,5
1170,3
1162,0
1153,6
1145,0
1136,4
1127,6
1118,7
1109,7
1100,5
1091,2
1081,7
1072,0
1062,2
1052,0

1443,5
1445,6
1447,6
1449,6
1451,5
1453,3
1455,1
1456,8
1458,5
1460,0
1461,5
1462,9
1464,3
1465,6
1466,8
1467,9
1469,0
1469,9
1470,8
1471,5
1472,2
1472,8
1473,2
1413,5
1473,7
1473,7

"Diadopsi dari National Bureau of Standards Circular No. 142, Tables of Thermodynamic Properties of Ammonia.

0,7145
0,7481
0,7815
0,8148
0,8479
0,8808
0,9136
0,9463
0,9788
1,0112
1,0434
1,0755
1,1075
1,1394
1,1711
1,2028
1,2343
1,2656
1,2969
1,3281
1,3591
1,3901
1,4209
1,4518
1,4826
1,5135

4,6223
4,5627
4,5037
4,4451
4,3871
4,3295
4,2725
4,2159
4,1597
4,1039
4,0486
3,9937
3,9392
3,8850
3,8312
3,7777
3,7246
3,6718
3,6192
3,5669
3,5148
3,4630
3,4112
3,3595
3,3079
3,2561

5,3369
5,3108
5,2852
5,2599
5,2350
5,2104
5,1861
5,1621
5,1385
5,1151
5,0920
5,0692
5,0467
5,0244
5,0023
4,9805
4,9589
4,9374
4,9161
4,8950
4,8740
4,8530
4,8322
4,8113
4,7905
4,7696

123

Tabel A.2.2
Uap Dipanaskan Lanjut ( Amonia)
Abs. Press.
k Pa
(Sat. Temp.)
-20
-10
C
v 2,4474
2,5481
50
h 1435,8
1457,0
(-46.54)
s 6,3256
6,4077
v 1,6233
1,6915
75
h 1433,0
1454,7
(-39.18)
s 6,1190
6,2028
v 1,2110
1,2631
100
h 1430,1
1452,2
(-33.61)
s 5,9695
6,0552
v 0,9635
1,0059
125
h 1427,2
1449,8
(-29.08)
s 5,8512
5,9389
v 0,7984
0,8344
150
h 1424,1
1447,3
(-25.23)
s 5,7526
5,8424
v
0,6199
200
h
1442,0
(-18.86)
s
5,6863
v
0,4910
250
h
1436,6
(-13.67)
s
5,5609
v
300
h
(-9.23)
s
v
350
h
(-5,35)
s

Temperature, C
0

10

20

30

40

50

60

70

80

100

2,6482
1478,1
6,4865
1,7591
1476,1
6,2828
1,3145
1474,1
6,1366
1,0476
1472,0
6,0217
0,8697
1469,8
5,9266
0,6471
1465,5
5,7737
0,5135
1461,0
5,6517
0,4243
1456,3
5,5493
0,3605
1451,5
5,4600

2,7479
1499,2
6,5625
1,8263
1497,5
6,3597
1,3654
1495,7
6,2144
1,0889
1493,9
6,1006
0,9045
1492,1
6,0066
0,6738
1488,4
5,8559
0,5354
1484,5
5,7365
0,4430
1480,6
5,6366
0,3770
1476,5
5,5502

2,8473
1520,4
6,6360
1,8932
1518,9
6,4339
1,4160
1517,3
6,2894
1,1297
1515,7
6,1763
0,9388
1514,1
6,0831
0,7001
1510,9
5,9342
0,5568
1507,6
5,8165
0,4613
1504,2
5,7186
0,3929
1500,7
5,6342

2,9464
1541,7
6,7073
1,9597
1540,3
6,5058
1,4664
1538,9
6,3618
1,1703
1537,5
6,2494
0,9729
1536,1
6,1568
0,7261
1533,2
6,0091
0,5780
1530,3
5,8928
0,4792
1527,4
5,7963
0,4086
1524,4
5,7135

3,0453
1563,0
6,7766
2,0261
1561,8
6,5756
1,5165
1560,5
6,4321
1,2107
1559,3
6,3201
1,0068
1558,0
6,2280
0,7519
1555,5
6,0813
0,5989
1552,9
5,9661
0,4968
1550,3
5,8707
0,4239
1547,6
5,7890

3,1441
1584,5
6,8441
2,0923
1583,4
6,6434
1,5664
1582,2
6,5003
1,2509
1581,1
6,3887
1,0405
1580,0
6,2970
0,7774
1577,7
6,1512
0,6196
1575,4
6,0368
0,5143
1573,0
5,9423
0,4391
1570,7
5,8615

3,2427
1606,1
6,9099
2,1584
1605,1
6,7096
1,6163
1604,1
6,5668
1,2909
1603,0
6,4555
1,0740
1602,0
6,3641
0,8029
1599,9
6,2189
0,6401
1597,8
6,1052
0,5316
1595,7
6,0114
0,4541
1593,6
5,9314

3,3413
1627,8
6,9743
2,2244
1626,9
6,7742
1,6659
1626,0
6,6316
1,3309
1625,0
6,5206
1,1074
1624,1
6,4295
0,8282
1622,2
6,2849
0,6605
1620,3
6,1717
0,5488
1618,4
6,0785
0,4689
1616,5
5,9990

3,4397
1649,7
7,0372
2,2903
1648,9
6,8373
1,7155
1648,0
6,6950
1,3707
1647,2
6,5842
1,1408
1646,3
6,4933
0,8533
1644,6
6,3491
0,6809
1642,8
6,2365
0,5658
1641,1
6,1437
0,4837
1639,3
6,0647

1,8145
1692,6
6,8177
1,4501
1691,8
6,7072
1,2072
1691,1
6,6167
0,9035
1689,6
6,4732
0,7212
1688,2
6,3613
0,5997
1686,7
6,2693
0,5129
1685,2
6,1910

400
(-1,89)
450
(1,26)

500
(4,14)
600
(9,29)
700
(13,81)

124

800
(17,86)
900
(21,54)
1000
(24,91)
1200
(30,96)

v
h
s
v
h
s
v
h
s
v
h
s
v
h
s
v
h
s
v
h
s
v
h
s
v
h
s

20
0,2698
1489,9
5,4314
0,2217
1482,4
5,3222
0,1874
1474,5
5,2259
0,1615
1466,3
5,1387

30
0,2813
1515,0
5,5157
0,2317
1508,6
5,4102
0,1963
1501,9
5,3179
0,1696
1495,0
5,2351
0,1488
1488,0
5,1593
0,1321
1480,6
5,0889

0,3125
1446,5
5,3803
0,2752
1441,3
5,3078
40
0,2926
1539,5
5,5950
0,2414
1533,8
5,4923
0,2048
1528,1
5,4029
0,1773
1522,2
5,3232
0,1559
1516,2
5,2508
0.1388
1510,0
5,1840
0,1129
1497,1
5,0629

0,3274
1472,4
5,4735
0,2887
1468,1
5,4042
50
0,3036
1563,4
5,6704
0,2508
1558,5
5,5697
0,2131
1553,4
5,4826
0,1848
1548,3
5,4053
0,1627
1543,0
5,3354
0,1450
1537,7
5,2713
0,1185
1526,6
5,1560

0,3417
1497,2
5,5597
0,3017
1493,6
5,4926
60
0,3144
1587,1
5,7425
0,2600
1582,7
5,6436
0,2212
1578,2
5,5582
0,1920
1573,7
5,4827
0,1693
1569,1
5,4147
0,1511
1564,4
5,3525
0,1238
1554,7
5,2416

0,3556
1521,3
5,6405
0,3143
1518,2
5,5752
70
0,3251
1610,6
5,8120
0,2691
1606,6
5,7144
0,2291
1602,6
5,6303
0,1991
1598,6
5,5562
0,1757
1594,4
5,4897
0,1570
1590,3
5,4292
0,1289
1581,7
5,3215

0,3692
1544,9
5,7173
0,3266
1542,2
5,6532
80
0,3357
1634,0
5,8793
0,2781
1630,4
5,7826
0,2369
1626,8
5,6997
0,2060
1623,1
5,6268
0,1820
1619,4
5,5614
0,1627
1615,6
5,5021
0,1338
1608,0
5,3970

0,3826
1568,3
5,7907
0,3387
1565,9
5,7275
100
0,3565
1680,7
6,0079
0,2957
1677,7
5,9129
0,2522
1674,6
5,8316
0,2196
1671,6
5,7603
0,1942
1668,5
5,6968
0,1739
1665,4
5,6392
0,1434
1659,2
5,5379

0,3959
1591,5
5,8613
0,3506
1589,3
5,7989
120
0,3771
1727,5
6,1301
0,3130
1724,9
6,0363
0,2672
1722,4
5,9562
0,2329
1719,8
5,8861
0,2061
1717,1
5,8237
0,1847
1714,5
5,7674
0,1526
1709,2
5,6687

0,4090
1614,5
5,9296
0,3624
1612,6
5,8678
140
0,3975
1774,7
6,2472
0,3302
1772,4
6,1541
0,2821
1770,2
6,0749
0,2459
1768,0
6,0057
0,2178
1765,7
5,9442
0,1954
1763,4
5,8888
0,1616
1758,9
5,7919

0,4220
1637,6
5,9957
0,3740
1635,8
5,9345
160

0,4478
1683,7
6,1228
0,3971
1682,2
6,0623
180

0,2589
1816,4
6,1202
0,2294
1814,4
6,0594
0,2058
1812,4
6,0047
0,1705
1808,5
5,9091

0,2162
1861,7
6,1159
0,1792
1858,2
6,0214

Tabel A.2.2 (lanjutan)


Uap Dipanaskan Lanjut ( Amonia)
Abs. Press.
kPa
(Sat.Temp.)
2
30
C
0

Temperatur, C
40

50

60

70

80

100

120

140

160

180

0,0944

0,0995

0,1042

0,1088

0,1132

0,1216

0,1297

0,1376

0,1452

0,1528

1400

1483,4

1515,1

1544,7

1573,0

1600,2

1652,8

1703,9

1754,3

1804,5

1854,7

(36,28)

4,9534

125

5,0530

5,1434

5,2270

5,3053

5,4501

5,5836

5,7087

5,8273

5,9406

0,0851

0,0895

0,0937

0,0977

0,1053

0,1125

0,1195

0,1263

0,1330

1600

1502,9

1534,4

1564,0

1592,3

1646,4

1698,5

1749,7

1800,5

1851,2

(41,05)

4,9584

5,0543

5,1419

5,2232

5,3722

5,5084

5,6355

5,7555

5,8699

0,0739

0,0781

0,0820

0,0856

0,0926

0,0992

0,1055

0,1116

0,1177

1800

1490,0

1523,5

1554,6

1584,1

1639,8

1693,1

1745,1

1796,5

1847,7

(45,39)

4,8693

4,9715

5,0635

5,1482

5,3018

5,4409

5,5699

5,6914

5,8069

0,0648

0,0688

0,0725

0,0760

0,0824

0,0885

0,0943

0,0999

0,1054

2000

1476,1

1512,0

1544,9

1575,6

1633,2

1687,6

1740,4

1792,4

1844,1

(49,38)

4,7834

4,8930

4,9902

5,0786

5,2371

5,3793

5,5104

5,6333

5,7499

126

Tabel A.3
Sifat-Sifat Thermodinamika dari Freon-12 (Dichlorodifluoromethane)a
Tabel A.3.1
Uap/Cairan Jenuh
Specific Volume
Abs.
m3/kg
Temp.
Press.
Sat..
Sat..
oC
MPa
Evap.
Liquid
Vapor
P
vfg
vf
vg
-90
0,0028
0,000608
4,414937
4,415545
-85
0,0042
0,000612
3,036704
3,037316
-80
0,0062
0,000617
2,137728
2,138345
-75
0,0088
0,000622
1,537030
1,537651
-70
0,0123
0,000627
1,126654
1,127280
-65
0,0168
0,000632
0,840534
0,841166
-60
0,0226
0,000637
0,637274
0,637910
-55
0,0300
0,000642
0,490358
0,491000
-50
0,0391
0,000648
0,382457
0,383105
-45
0,0504
0,000654
0,302029
0,302682
-40
0,0642
0,000659
0,241251
0,241910
-35
0,0807
0,000666
0,194732
0,195398
-30
0,1004
0,000672
0,158703
0,159375
-25
0,1237
0,000679
0,130487
0,131166
-20
0,1509
0,000685
0,108162
0,108847
-15
0,1826
0,000693
0,090326
0,091018
-10
0,2191
0,000700
0,075946
0,076646
-5
0,2610
0,000708
0,064255
0,064963
0
0,3086
0,000716
0,054673
0,055389
5
0,3626
0,000724
0,046761
0,047485

Enthalpy
kJ/kg
Sat.
Liquid
hf
-43,243
-38,968
-34,688
-30,401
-26,103
-21,793
-17,469
-13,129
-8,772
-4,396
-0,000
4,416
8,854
13,315
17,800
22,312
26,851
31,420
36,022
40,659

Evap.
hfg
189,618
187,608
185,612
183,625
181,640
179,651
177,653
175,641
173,611
171,558
169,479
167,368
165,222
163,037
160,810
158,534
156,207
153,823
151,376
148,859

Entropy

kJ/kg
K

Sat.
Vapor
hg
146,375
148,640
150,924
153,224
155,536
157,857
160,184
162,512
164,840
167,163
169,479
171,784
174,076
176,352
178,610
180,846
183,058
185,243
187,397
189,518

Sat.
Liquid sf

Evap.
sfg

Sat.
Vapor sg

-0,2084
-0,1854
--0,1630
-0,1411
-0,1197
-0,0987
-0,0782
-0,0581
-0,0384
--0,0190
-0,0000
0,0187
0,0371
0,0552
0,0730
0,0906
0,1079
0,1250
0,1418
0,1585

1,0352
0,9970
0,9609
0,9266
0,8940
0,8630
0,8334
0,8051
0,7779
0,7519
0,7269
0,7027
0,6795
0,6570
0,6352
0,6141
0,5936
0,5736
0,5542
0,5351

0,8268
0,8116
0,7979
0,7855
0,7744
0,7643
0,7552
0,7470
0,7396
0,7329
0,7269
0,7214
0,7165
0,7121
0,7082
0,7046
0,7014
0,6986
0,6960
0,6937

Tabel A.3.1 (lanjutan)


Uap/Cairan Jenuh

127

Temp.
oC

Abs.
Press.
MPa
P

10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90
95
100
105
110
112

0,4233
0,4914
0,5673
0,6516
0,7449
0,8477
0,9607
1,0843
1,2193
1,3663
1,5259
1,6988
1,8858
2,0874
2,3046
2,5380
2,7885
3,0569
3,3440
3,6509
3,9784
4,1155

Specific Volume
Sat..
Liquid
vf
0,000733
0,000743
0,000752
0,000763
0,000774
0,000786
0,000798
0,000811
0,000826
0,000841
0,000858
0,000877
0,000897
0,000920
0,000946
0,000976
0,001012
0,001056
0,001113
0,001197
0,001364
0,001792

Enthalpy
kJ/kg

m3/kg
Evap.
vfg
0,040180
0,034671
0,030028
0,026091
0,022734
0,019855
0,017373
0,015220
0,013344
0,011701
0,010253
0,008971
0,007828
0,006802
0,005875
0,005029
0,004246
0,003508
0,002790
0,002045
0,001098
0,000005

Sat..
Vapor
vg
0,040914
0,035413
0,030780
0,026854
0,023508
0,020641
0,018171
0,016032
0,014170
0,012542
0,011111
0,009847
0,008725
0,007723
0,006821
0,006005
0,005258
0,004563
0,003903
0,003242
0,002462
0,001797

Sat.
Liquid
hf
45,337
50,058
54,828
59,653
64,539
69,494
74,527
79,647
84,868
90,201
95,665
101,279
107,067
113,058
119,291
125,818
132,708
140,068
148,076
157,085
168,059
174,920

Evap.
hfg
146,265
143,586
140,812
137,933
134,936
131,805
128,525
125,074
121,430
117,565
113,443
109,024
104,255
99,068
93,373
87,047
79,907
71,658
61,768
49,014
28,425
0,151

Entropy
kJ/kg K
Sat.
Vapor
hg
191,602
193,644
195,641
197,586
199,475
201,299
203,051
204,722
206,298
207,766
209,109
210,303
211,321
212,126
212,665
212,865
212,614
211,726
209,843
206,099
196,484
175,071

Sat.
Liquid
sf
0,1750
0,1914
0,2076
0,2237
0,2397
0,2557
0,2716
0,2875
0,3034
0,3194
0,3355
0,3518
0,3683
0,3851
0,4023
0,4201
0,4385
0,4579
0,4788
0,5023
0,5322
0,5651

Copyright 1955 and 1956, E. I. du Pont de Nemours & Company, Inc. Reprinted by permission. Adapted from English units.

Evap.
sfg
0,5165
0,4983
0,4803
0,4626
0,4451
0,4277
0,4104
0,3931
0,3758
0,3582
0,3405
0,3224
0,3038
0,2845
0,2644
0,2430
0,2200
0,1946
0,1655
0,1296
0,0742
0,0004

Sat.
Vapor sg
0,6916
0,6897
0,6879
0,6863
0,6848
0,6834
0,6820
0,6806
0,6792
0,6777
0,6760
0,6742
0,6721
0,6697
0,6667
0,6631
0,6585
0,6526
0,6444
0,6319
0,6064
0,5655

128

Tabel A.3.2
Uap Dipanaskan Lanjut ( Freon-12)
Temp.
v
h
C
m3/kg
kJ/kg
0,05 MPa
--20,0
0,341857
181,042
--10,0
0,356227
186,757
0,0
0,375080
192,567
10,0
0,384716
198,471
20,0
0,398863
204,469
30,0
0,412959
210,557
40,0
0,427012
216,733
50,0
0,441030
222,997
60,0
0,455017
229,344
70,0
0,468978
235,774
80,0
0,482917
242,282
90,0
0,496838
248,868
0,20 MPa
0,0
0,088608
189,669
10,0
0,092550
195,878
20,0
0,096418
202,135
30,0
0,122800
208,446
40,0
0,103989
214,814
50,0
0,107710
221,243
60,0
0,111397
227,735
70,0
0,115055
234,291
80,0
0,118690
240,910
90,0
0,122304
247,593
100,0
0,125901
254,339
110,0
0,129483
261,147

s
kJ/kg K

v
m3/kg

0,7912
0,8133
0,8350
0,8562
0,8770
0,8974
0,9175
0,9372
0,9565
0,9755
0,9942
1,0126

0,167701
0,175222
0,182647
0,189994
0,197277
0,204506
0,211691
0,218839
0,225955
0,233044
0,240111
0,247159

0,7320
0,7543
0,7760
0,7972
0,8178
0,8381
0,8578
0,8772
0,8962
0,9149
0,9332
0,9512

0,069752
0,073024
0,076218
0,079350
0,082431
0,085470
0,088474
0,091449
0,094398
0,097327
0,123800
0,103134

h
kJ/kg
0,10 MPa
179,861
185,707
191,628
197,628
203,707
209,866
216,104
222,421
228,815
235,285
241,829
248,446
0,25 MPa
188,644
194,969
201,322
207,715
214,153
220,642
227,185
233,785
240,443
247,160
253,936
260,770

s
kJ/kg K

v
m3/kg

0,7401
0,7628
0,7849
0,8064
0,8275
0,8482
0,8684
0,8883
0,9078
0,9269
0,9457
0,9642

0,114716
0,119866
0,124923
0,129930
0,134873
0,139768
0,144625
0,149450
0,154247
0,159020
0,163774

0,7139
0,7366
0,7587
0,7801
0,8010
0,8214
0,8413
0,8608
0,8800
0,8987
0,9171
0,9352

0,057150
0,059984
0,062734
0,065418
0,068049
0,076350
0,073185
0,075705
0,078200
0,086730
0,083127
0,085566

h
kJ/kg
0,15 MPa
184,619
190,660
196,762
202,927
209,160
215,463
221,835
228,277
234,789
241,371
248,020
0,30 MPa
187,583
194,034
200,490
206,969
213,480
220,030
226,627
233,273
239,971
246,723
253,530
260,391

s
kJ/kg K

0,7318
0,7543
0,7763
0,7977
0,8186
0,8390
0,8591
0,8787
0,8980
0,9169
0,9354
0,6984
0,7216
0,7440
0,7658
0,7869
0,8075
0,8276
0,8473
0,8665
0,8853
0,9038
0,9220

0,40 MPa

129

20,0
30,0
40,0
50,0
60,0
70,0
80,0
90,0
100,0
110,0
120,0
130,0

0,045836
0,047971
0,050460
0,052072
0,054059
0,056014
0,057941
0,059846
0,061731
0,063600
0,065455
0,067298

40,0
50,0
60,0
70,0
80,0
90,0
100,0
110,0
120,0
130,0
140,0
150,0

0,026761
0,028100
0,029387
0,030632
0,031843
0,033027
0,034189
0,035332
0,036458
0,037572
0,038673
0,039764

198,762
205,428
212,095
218,779
225,488
232,230
239,012
245,837
252,707
259,624
266,590
273,605
0,70 MPa
207,580
214,745
221,854
228,931
235,997
243,066
250,146
257,247
264,374
271,531
278,720
285,946

0,50 MPa
0,7199
0,7423
0,7639
0,7849
0,8054
0,8253
0,8448
0,8638
0,8825
0,9008
0,9187
0,9364

0,035646
0,037464
0,039214
0,040911
0,042565
0,044184
0,045774
0,047340
0,048886
0,050415
0,051929
0,053430

0,7148
0,7373
0,7590
0,7799
0,8002
0,8199
0,8392
0,8579
0,8763
0,8943
0,9119
0,9292

0,022830
0,024068
0,025247
0,026380
0,027477
0,028545
0,029588
0,036120
0,031619
0,032612
0,033592
0,034563

196,935
203,814
210,656
217,484
224,315
231,161
238,031
244,932
251,869
258,845
265,862
272,923
0,80 MPa
205,924
213,290
220,558
227,766
234,941
242,101
249,260
256,428
263,613
270,820
278,055
285,320

0,60 MPa
0,6999
0,7230
0,7452
0,7667
0,7875
0,8077
0,8275
0,8467
0,8656
0,8840
0,9021
0,9198

0,030422
0,031966
0,033450
0,034887
0,036285
0,037653
0,038995
0,040316
0,041619
0,042907
0,044181

0,7016
0,7248
0,7469
0,7682
0,7888
0,8088
0,8283
0,8472
0,8657
0,8838
0,9016
0,9189

0,019744
0,020912
0,022012
0,023062
0,024072
0,025051
0,026005
0,026937
0,027851
0,028751
0,029639
0,030515

202,116
209,154
216,141
223,104
230,062
237,027
244,009
251,016
258,053
265,124
272,231
0,90 MPa
204,170
211,765
219,212
226,564
233,856
241,113
248,355
255,593
262,839
270,100
277,381
284,687

0,7063
0,7291
0,7511
0.7723
0,7929
0,8129
0,8324
0,8514
0,8700
0,8882
0,9061
0,6982
0,7131
0,7358
0,7575
0,7785
0,7987
0,8184
0,8376
0,8562
0,8745
0,8923
0,9098

130

Tabel A.3.2 (lanjutan)


Uap Dipanaskan Lanjut ( Freon-12)
Temp.
v
h
o
C
m3/kg
kJ/kg
1,00 MPa
50,0
0,018366
210,162
60,0
0,019410
217,810
70,0
0,020397
225,319
80,0
0,021341
232,739
90,0
0,022251
240,101
100,0
0,023133
247,430
110,0
0,023993
254,743
120,0
0,024835
262,053
130,0
0,025661
269,369
140,0
0,026474
276,699
150,0
0,027275
284,047
160,0
0,028068
291,419
1,60 MPa
70,0
0,011208
216,650
80,0
0,011984
225,177
90,0
0,012698
233,390
100,0
0,013366
241,397
110,0
0,014000
249,264
120,0
0,014608
257,035
130,0
0,015195
264,742
140,0
0,015765
272,406
150,0
0,016320
280,044
160,0
0,016864
287,669
170,9
0,017398
295,290
180,0
0,017923
302,914

s
kJ/kg K

v
m3/kg

0,7021
0,7254
0,7476
0,7689
0,7895
0,8094
0,8287
0,8475
0,8659
0,8839
0,9015
0,9187

0,014483
0,015463
0,016368
0,017221
0,018032
0,018812
0,019567
0,020301
0,021018
0,021721
0,022412
0,023093

0,6959
0,7204
0,7433
0,7651
0,7859
0,8059
0,8253
0,8440
0,8623
0,8801
0,8975
0,9145

0,009406
0,010187
0,010884
0,011526
0,012126
0,012697
0,013244
0,013772
0,014284
0,014784
0,015272
0,015752

h
kJ/kg
1,20 MPa
206,661
214,805
222,687
230,398
237,995
245,518
252,993
260,441
267,875
275,307
282,745
290,195
1,80 MPa
213,049
222,198
230,835
239,155
247,264
255,228
263,094
270,891
278,642
286,364
294,069
301,767

s
kJ/kg K

v
m3/kg

h
kJ/kg
1,40 MPa

s
kJ/kg K

0,6812
0,7060
0,7293
0,7514
0,7727
0,7931
0,8129
0,8320
0,8507
0,8689
0,8867
0,9041

0,012579
0,013448
0,014247
0,014997
0,015710
0,016393
0,017053
0,017695
0,018321
0,018934
0,019535

211,457
219,822
227,891
235,766
243,512
251,170
258,770
266,334
273,877
281,411
288,946
2,00 MPa

0,6876
0,7123
0,7355
0,7575
0,7785
0,7988
0,8183
0,8373
0,8558
0,8738
0,8914

0,6794
0,7057
0,7298
0,7524
0,7739
0,7944
0,8141
0,8332
0,8518
0,8698
0,8874
0,9046

0,008704
0,009406
0,010035
0,010615
0,011159
0,011676
0,012172
0,012651
0,013116
0,013570
0,014013

218,859
228,056
236,760
245,154
253,341
261,384
269,327
277,201
285,027
292,822
300,598

0,6909
0,7166
0,7402
0,7624
0,7835
0,8037
0,8232
0,8420
0,8603
0,8781
0,8955

131

90,0
100,0
110,0
120,0
130,0
140,0
150,0
160,0
170,0
180,0
190,0
200,0

0,006595
0,007264
0,007837
0,008351
0,008827
0,009273
0,009697
0,010104
0,010497
0,010879
0,011250
0,011614

120,0
130,0
140,0
150,0
160,0
170,0
180,0
190,0
200,0
210,0
220,0
230,0

0,003736
0,004325
0,004781
0,005172
0,005522
0,005845
0,006147
0,006434
0,006708
0,006972
0,007228
0,007477

2,50 MPa
219,562
229,852
239,271
248,192
256,794
265,180
273,414
281,540
289,589
297,583
305,540
313,472
4,00 MPa
224,863
238,443
249,703
259,904
269,492
278,684
287,602
296,326
304,906
313,380
321,774
330,108

3,00 MPa
0,6823
0,7103
0,7352
0,7582
0,7798
0,8003
0,8200
0,8390
0,8574
0,8752
0,8926
0,9095
0,6771
0,7111
0,7386
0,7630
0,7854
0,8063
0,8262
0,8453
0,8636
0,8813
0,8985
0,9152

0,005231
0,005886
0,006419
0,006887
0,007313
0,007709
0,008083
0,008439
0,008782
0,009114
0,009436

220,529
232,068
242,208
251,632
260,620
269,319
277,817
286,171
294,422
302,597
310,718

3,50 MPa
0,6770
0,7075
0,7336
0,7573
0,7793
0,8001
0,8200
0,8391
0,8575
0,8753
0,8927

0,004324
0,004959
0,005456
0,005884
0,006270
0,006626
0,006961
0,007279
0,007584
0,007878

222,121
234,875
245,661
255,524
264,846
273,817
282,545
291,100
299,528
307,864

0,6750
0,7078
0,7349
0,7591
0,7814
0,8023
0,8222
0,8413
0,8597
0,8775

Tabel A.4
Sifat-Sifat Thermodinamika dari Oxygen
Tabel A.4.1
Uap/Cairan Jenuh
Temp.
K
T

Press.
MPa
P

Specific Volume
m3/kg

Enthalpy
kJ/kg

132

Sat..
Sat..
Sat.
Liquid
Evap.
Vapor
Liquid
Evap.
vf
vfg
vg
hf
hfg
54,3507
0,00015
0,000765
92,9658
92,9666
-193,432
242,553
60
0,00073
0,000780
21,3461
21,3469
-184,029
238,265
70
0,00623
0,000808
2,9085
2,9093
-167,372
230,527
80
0,03006
0,000840
0,68104
0,68188
-150,646
222,289
90
0,09943
0,000876
0,22649
0,22736
-133,758
213,070
100
0,25425
0,000917
0,094645
0,095562
-116,557
202,291
110
0,54339
0,000966
0,045855
0,046821
-98,829
189,320
120
1,0215
0,001027
0,024336
0,025363
-80,219
173,310
130
1,7478
0,001108
0,013488
0,014596
-60,093
152,887
140
2,7866
0,001230
0,007339
0,008569
-37,045
125,051
150
4,2190
0,001480
0,003180
0,004660
-7,038
79,459
0,002293
32,257
0,000
154,576
5,0427
0,002293
0,000000
a
Diadopsi dari L. A. Weber, Journal of Research of the National Bureau of Standards, 74A: 93 (1970).

Entropy
kJ/kg K
Sat.
Vapor
hg
49,121
54,236
63,155
71,643
79,312
85,734
90,491
93,091
92,794
88,006
72,421
32,257

Sat.
Liquid
sf
2,0938
2,2585
2,5151
2,7382
2,9364
3,1161
3,2823
3,4401
3,5948
3,7567
3,9498
4,1977

Evap.
sfg
4,4514
3,9686
3,2936
2,7779
2,3663
2,0222
1,7210
1,4445
1,1766
0,8935
0,5301
0,0000

Sat.
Vapor sg
6,5452
6,2271
5,8087
5,5161
5,3027
5,1383
5,0033
4,8846
4,7714
4,6502
4,4799
4,1977

133

Tabel A.4.2
Uap Dipanaskan Lanjut (Oksigen)
Temp.
v
h
K
m3/kg
kJ/kg
0,10 MPa
100
0,253503
88,828
125
0,327170
112,214
150
0,386914
135,301
175
0,452645
158,255
200
0,518127
181,145
225
0,583465
204,007
250
0,648711
226,869
275
0,713895
249,769
300
0,779036
272,720
1,00 MPa
125
0,027869
99,653
150
0,035976
127,112
175
0,043341
152,269
200
0,053940
176,508
225
0,057282
200,280
250
0,064068
223,795
275
0,077900
247,185
300
0,077467
270,516

s
kJ/kg K

v
m3/kg

5,4016
5,6107
5,7787
5,9202
6,0427
6,1502
6,2468
6,3369
6,4140

0,123394
0,158268
0,192016
0,225276
0,258282
0,291140
0,323906
0,356610
0,389271

4,9431
5,1433
5,2986
5,4283
5,5401
5,6394
5,7314
5,8098

0,016270
0,025440
0,024395
0,028051
0,031597
0,035073
0,038502

h
kJ/kg
0,20 MPa
86,864
110,988
134,440
157,609
180,638
203,596
226,529
249,483
272,475
2,00 MPa
116,476
145,112
171,150
196,052
220,348
244,309
268,076

s
kJ/kg K

v
m3/kg

h
kJ/kg
0,50 MPa

s
kJ/kg K

5,2083
5,4241
5,5947
5,7376
5,8609
5,9688
6,0657
6,1560
6,2332

0,066740
0,075039
0,088842
0,102371
0,115746
0,129025
0,142242
0,155415

107,093
131,788
155,643
179,105
202,359
225,506
248,621
271,740
4,00 MPa

5,1650
5,3448
5,4919
5,6175
5,7268
5,8246
5,9156
5,9932

4,9130
5,0899
5,2293
5,3464
5,4491
5,5433
5,6263

0,005526
0,009029
0,011376
0,013444
0,015378
0,017233
0,019039

81,481
128,618
159,715
187,333
213,374
238,560
263,234

4,5475
4,8414
5,0080
5,1380
5,2480
5,3469
5,4300

Tabel A.4.2 (lanjutan)


Uap Dipanaskan Lanjut (Oksigen)
Temp.
K

v
3

m /kg

s
kJ/kg

kJ/kg K

v
3

m /kg

6,00 MPa

s
kJ/kg

kJ/kg K

v
3

m /kg

8,00 MPa

s
kJ/kg

kJ/kg K

10,00 MPa

175

0,005051

107,496

4,6431

0,003002

79,513

4,4384

0,002020

52,661

4,2573

200

0,007027

147,232

4,8565

0,004864

133,760

4,7308

0,003603

119,767

4,6189

225

0,008589

178,304

5,0029

0,006181

169,069

4,8973

0,004757

159,686

4,8072

250

0,009991

206,340

5,1214

0,007316

199,317

5,0251

0,005730

192,401

4,9455

275,

0,011306

232,848

5,2253

0,008360

227,219

5,1344

0,006606

221,685

5,0572

300

0,012570

258,464

5,3116

0,009351

253,797

5,2240

0,007432

249,262

5,1533

134

20,00 MPa
175

0,001343

24,551

4,0086

200

0,001727

75,318

4,2798

225

0,002236

122,595

4,5024

250

0,002755

163,109

4,6739

275

0,003241

198,021

4,8069

300

0,003700

229,655

4,9174

Tabel A.5
Sifat-Sifat Thermodinamika dari Nitrogena
Tabel A.5.1
Uap/Cairan Jenuh
Temp.
K
T

Press.
MPa
P

63,143
65

Specific Volume
m3/kg

Enthalpy
kJ/kg

Entropy

135

0,01253

Sat..
Liquid
vf
0,001152

Evap.
vfg
1,480060

Sat..
Vapor
vg
1,481212

Sat.
Liquid
hf
-150,348

Evap.
hfg
215,188

Sat.
Vapor
hg
64,840

0,01742

0,001162

1,093173

1,094335

-146,691

213,291

66,600

70

0,03858

0,001189

0,525785

0,526974

-136,569

207,727

71,158

75

0,07612

0,001221

0,280970

0,282191

-126,287

201,662

77,347

0,101325

0,001237

0,215504

0,216741

-121,433

80

0,1370

0,001256

0,162794

0,164050

85

0,2291

0,001296

0,100434

90

0,3608

0,001340

95

0,5411

100

kJ/kg

2,4310

Evap.
sfg
3,4076

Sat.
Vapor
sg
5,8386

2,4845

3,2849

5,7694

2,6345

2,9703

5,6048

75,375

2,7755

2,6915

5,4670

198,645

77,212

2,8390

2,5706

5,4096

-115,926

195,089

79,163

2,9083

2,4409

5,3492

0,101730

-105,461

187,892

82,431

3,0339

2,2122

5,2461

0,064950

0,066290

-94,817

179,894

85,077

3,1535

2,0001

5,1536

0,001392

0,043504

0,044896

-83,895

170,877

86,982

3,2688

1,7995

5,0683

0,7790

0,001452

0,029861

0,031313

-72,571

160,562

87,991

3,3816

1,6060

4,9876

105

1,0843

0,001524

0,020745

0,022269

-60,691

148,573

87,882

3,4930

1,4150

4,9080

110

1,4673

0,001613

0,014402

0,016015

-48,027

134,319

86,292

3,6054

1,2209

4,8263

115

1,9395

0,001797

0,009696

0,011493

-34,157

116,701

82,544

3,7214

1,0145

4,7359

120

2,5135

0,001904

0,006130

0,008034

-18,017

93,092

75,075

3,8450

0,7803

4,6253

125

3,2079

0,002323

0,002568

0,004891

+6.202

50,114

56,316

4,0356

0,3989

4,4345

126,1

3,4000

0,003184

0,000000

0,003184

+30.791

0,000

30,791

4,2269

0,0000

4,2269

Sat.
Liquid sf

Tabel A.5.2
Uap Dipanaskan Lanjut (Nitrogen)
v
h
Temp.
m3/kg
kJ/kg
K
0,1 MPa

s
kJ/kg K

v
m3/kg

h
kJ/kg
0,2 MPa

s
kJ/kg K

v
m3/kg

h
kJ/kg
0,5 MPa

s
kJ/kg K

136

100

0,290978

101,965

5,6944

0,142475

100,209

5,4767

0,056520

94,345

5,1706

125

0,367217

128,505

5,9313

0,181711

127,371

5,7194

0,073422

123,824

5,4343

150

0,442619

154,779

6,1228

0,220014

153,962

5,9132

0,092150

151,470

5,6361

175

0,517576

180,935

6,2841

0,257890

180,314

6,0760

0,106394

178,434

5,8025

200

0,592288

207,029

6,4234

0,295531

206,537

6,2160

0,122394

205,063

5,9447

225

0,666552

233,085

6,5460

0,332841

232,690

6,3388

0,138173

231,459

6,0690

250

0,741375

259,122

6,6561

0,370418

258,796

6,4491

0,154006

257,828

6,1801

275

0,815563

285,144

6,7550

0,407619

284,876

6,5485

0,176420

284,076

6,2800

300

0,890205

311,158

6,8457

0,445047

310,937

6,6393

0,185346

310,273

6,3715

1,0 MPa

2,0 MPa

4,0 MPa

125

0,033065

117,499

5,1872

0,014021

101,489

4,8878

150

0,041884

147,176

5,4042

0,019546

137,916

5,1547

0,008234

115,716

4,8384

175

0,050125

175,255

5,5779

0,024155

168,709

5,3449

0,011186

154,851

5,0804

200

0,058096

202,596

5,7237

0,028436

197,609

5,4992

0,013648

187,521

5,2553

225

0,065875

229,526

5,8502

0,035697

225,578

5,6309

0,015894

217,757

5,3976

250

0,073634

256,220

5,9632

0,036557

253,032

5,7469

0,018060

246,793

5,5202

275

0,081260

282,720

6,0639

0,040485

280,132

5,8501

0,021330

275,056

5,6277

300

0,088899

309,173

6,1563

0,044398

307,014

5,9436

0,022178

302,848

5,7248

6,0 MPa

8,0 MPa

10,0 MPa

150

0,004413

87,090

4,5667

0,002917

61,903

4,3518

0,002388

48,687

4,2287

175

0,006913

140,183

4,8966

0,004863

125,536

4,7470

0,003750

112,489

4,6239

200

0,008772

177,447

5,0961

0,006390

167,680

4,9726

0,005016

158,578

4,8709

225

0,010396

210,139

5,2410

0,007691

202,867

5,1384

0,006104

196,079

5,0474

250

0,011934

240,806

5,3796

0,008903

235,141

5,2750

0,007112

229,861

5,1900

275

0,013383

270,222

5,4917

0,010034

265,676

5,3910

0,008046

261,450

5,3103

300

0,014800

298,907

5,5916

0,011133

295,219

5,4942

0,008950

291,800

5,4163

15,0 MPa

20,0 MPa

137

150

0,001956

36,922

4,0798

0,001781

33,637

3,9956

175

0,002603

92,284

4,4213

0,002186

83,453

4,3029

200

0,003369

140,886

4,6813

0,002685

130,291

4,5535

225

0,004106

182,034

4,8752

0,003208

172,307

4,7511

250

0,004808

218,710

5,0303

0,003728

210,456

4,9127

275

0,005461

252,465

5,1845

0,004223

245,640

5,0467

300

0,006091

284,523

5,2707

0,004704

278,942

5,1629

LAMPIRAN B
Sifat-Sifat Thermodinamika dari Mercury Jenuh
Enthalpy, kJ/kg
Press.,
Temp.
Sat.
Sat.
MPa
C
Evap.
Liquid
Vapor

Sat.
Liquid

Evap.

Sat.
Vapor

0,00006
0,00007
0,00008
0,00009
0,00010
0,0002
0,0004
0,0006
0,0008
0,0010
0,002
0,004
0,006
0,008
0,010
0,02
0,04
0,06
0,08
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1,0
1,2
1,4
1,6
1,8
2,0
2,2
2,4
2,6
2,8
3,0
3,5

0,0466
0,0477
0,0487
0,0496
0,0503
0,0556
0,0610
0,0643
0,0666
0,0685
0,0744
0,0806
0,0843
0,0870
0,0892
0,0961
0,1034
0,1078
0,1110
0,1136
0,1218
0,1268
0,1305
0,1334
0,1359
0,1380
0,1398
0,1415
0,1429
0,1455
0,1478
0,1498
0,1515
0,1531
0,1546
0,1559
0,1571
0,1583
0,1594
0,1619

0,7774
0,7709
0,7654
0,7604
0,7560
0,7271
0,6981
0,6811
0,6690
0,6596
0,6305
0,6013
0,5842
0,5721
0,5627
0,5334
0,5039
0,4869
0,4745
0,4649
0,4353
0,4179
0,4056
0,3960
0,3881
0,3815
0,3757
0,3706
0,3660
0,3581
0,3514
0,3456
0,3405
0,3359
0,3318
0,3280
0,3245
0,3212
0,3182
0,3115

0,8240
0,8186
0,8141
0,8100
0,8063
0,7827
0,7591
0,7454
0,7356
0,7281
0,7049
0,6819
0,6685
0,6591
0,6519
0,6295
0,6073
0,5947
0,5855
0,5785
0,5571
0,5447
0,5361
0,5294
0,5240
0,5195
0,5155
0,5121
0,5089
0,5036
0,4992
0,4954
0,4920
0,4890
0,4864
0,4839
0,4816
0,4795
0,4776
0,4734

109,2
112,3
115,0
117,5
119,7
134,9
151,5
161,8
169,4
175,5
195,6
217,7
231,6
242,0
250,3
278,1
309,1
329,0
343,9
356,1
397,1
423,8
444,1
460,7
474,9
487,3
498,4
508,5
517,8
534,4
549,0
562,0
574,0
584,9
595,1
604,6
613,5
622,0
630,0
648,5

15,13
15,55
15,93
16,27
16,58
18,67
20,93
22,33
23,37
24,21
26,94
29,92
31,81
33,21
34,33
38,05
42,21
44,85
46,84
48,45
53,87
57,38
60,03
62,20
64,06
65,66
67,11
68,42
69,61
71,75
73,63
75,37
76,83
78,23
79,54
80,75
81,89
82,96
83,97
86,33

297,20
297,14
297,09
297,04
297,00
296,71
296,40
296,21
296,06
295,95
295,57
295,15
294,89
294,70
294,54
294,02
293,43
293,06
292,78
292,55
291,77
291,27
290,89
290,58
290,31
290,08
289,87
289,68
289,50
289,19
288,92
288,67
288,45
288,24
288,05
287,87
287,70
287,54
287,39
287,04

312,33
312,69
313,02
313,31
313,58
315,38
317,33
318,54
319,43
320,16
322,51
325,07
326,70
327,91
328,87
332,07
335,64
337,91
339,62
341,00
345,64
348,65
350,92
352,78
354,37
355,74
356,98
358,10
359,11
360,94
362,55
364,04
365,28
366,47
367,59
368,62
369,59
370,50
371,36
373,37

138

Entropy, kJ/kg K

Specific
Volume
Sat. Vapor,
m3/kg
259,6
224,3
197,7
176,8
160,1
83,18
43,29
29,57
22,57
18,31
9,570
5,013
3,438
2,632
2,140
1,128
0,5942
0,4113
0,3163
0,2581
0,1377
0,09551
0,07378
0,06044
0,05137
0,04479
0,03978
0,03584
0,03266
0,02781
0,02429
0,02161
0,01949
0,01778
0,01637
0,01518
0,01416
0,01329
0,01252
0,01096

LAMPIRAN B
Sifat-Sifat Thermodinamika dari Mercury Jenuh (lanjutan)
Press.,
MPa
4,0
4,5
5,0
5,5
6,0
6,5
7,0
7,5

Temp.
C
665,1
680,3
694,4
707,4
719,7
731,3
742,3
752,7

Enthalpy, kJ/kg
88,43
90,35
92,11
93,76
95,30
96,75
98,12
99,42

286,73
286,44
286,18
285,93
285,70
285,48
285,28
285,08

Entropy, kJ/kg K

375,16
376,79
378,29
379,69
381,00
382,23
383,40
384,50

0,1641
0,1660
0,1678
0,1694
0,1709
0,1723
0,1736
0,1748

Diadopsi dari Thermodynamic Properties of Mercury Vapor, by


Lucian A. Sheldon. ASME, 49A, 30 (1949).

139

0,3056
0,3004
0,2958
0,2916
0,2878
0,2842
0,2809
0,2779

0,4697
0,4664
0,4636
0,4610
0,4587
0,4565
0,4545
0,4527

Specific
Volume
Sat. Vapor,
m3/kg
0,00978
0,00885
0,00809
0,00746
0,00693
0,00648
0,00609
0,00575

LAMPIRAN C
Konstanta Kritis
Substance
Ammonia
Argon
Bromine
Carbon Dioxide
Carbon Monoxide
Chlorine
Deuterium (Normal)
Helium
3
Helium
Hydrogen (Normal)
Krypton
Neon
Nitrogen
Nitrous Oxide
Oxygen
Sulfur Dioxide
Water
Xenon
Benzene
n-Butane
Carbon Tetrachloride
Chloroform
Dichlorodifluoromethane
Dichlorofluoromethane
Ethane
Ethyl Alcohol
Ethylene
n-Hexane
Methane
Methyl Alcohol
Methyl Chloride
Propane
Propene
Propyne
Trichlorofluoromethane
a

Formula

Molecular
Weight

Temp.
K

Pressure
MPa

Volume
3
m /kmol

17,03
39,948
159,808
44,01
28,011
70,906
4,00
4,003
3,00
2,016
83,80
20,183
28,013
44,013
31,999
64,063
18,015
131,30
78,115
58,124
153,82
119,38
120,91
102,92
30,070
46,07
28,054
86,178
16,043
32,042
50,488
44,097
42,081
40,065
137,37

405,5
151
584
304,2
133
417
38,4
5,3
3,3
33,3
209,4
44,5
126,2
309,7
154,8
430,7
647,3
289,8
562
425,2
556,4
536,6
384,7
451,7
305,5
516
282,4
507,9
191,1
513,2
416,3
370
365
401
471,2

11,28
4,86
10,34
7,39
3,50
7,71
1,66
0,23
0,12
1,30
5,50
2,73
3,39
7,27
5,08
7,88
22,09
5,88
4,92
3,80
4,56
5,47
4,01
5,17
4,88
6,38
5,12
3,03
4,64
7,95
6,68
4,26
4,62
5,35
4,38

,0724
,0749
,1355
,0943
,0930
,1242
,0578
,0649
,0924
,0417
,0899
,0961
,0780
,1217
,0568
,1186
,2603
,2547
,2759
,2403
,2179
,1973
,1480
,1673
,1242
,3677
,0993
,1180
,1430
,1998
,1810
,2478

NH3
Ar
Br2
CO2
CO
CI2
D2
He
He
H2
Kr
Ne
N2
N2O
O2
SO2
H2O
Xe
C6H6
C4H10
CCI4
CHCl3
CCl2F2
CHCl2F
C2H6
C2H5OH
C2H4
C6H14
CH4
CH3OH
CH3CI
C3H8
C3H6
C3H4
CCl3F

K. A. Kobe and R. E. Lynn, Jr., Chem. Rev., 52: 117-236 (1953).

140

LAMPIRAN D
Sifat-Sifat berbagai Gas Ideal
Chemical
Formula

Gas
Air

Argon
Butane
Carbon Dioxide

Ar
C4H10
CO2

Carbon Monoxide

Molecular
Weight

R (kJ/kg K)

Cpo (kJ/kg K) Cvo (kJ/ kg K)

28,97

0,28700

1,0035

0,7165

1,400

39,948
58,124
44,01

0,20813
0,14304
0,18892

0,5203
1,7164
0,8418

0,3122
1,5734

1,667
1,091

28,01

0,29683

1,0413

0,6529
0,7445

1,289

CO

Ethane

C2H6

30,07

0,27650

1,7662

1,4897

1,186

Ethylene

C2H4

28,054

0,29637

1,5482

1,2518

1,237

Helium
Hydrogen

He
H2

4,003
2,016

2,07703
4,12418

5,1926
14,2091

3,1156
10,0849

1,667
1,409

Methane

CH4

16,04

0,51835

2,2537

1,7354

1,299

Neon

Ne

20,183

0,41195

1,0299

0,6179

1,667

Nitrogen

N2

28,013

0,29680

1,0416

0,7448

1,400

Octane

C8H18

114,23

0,07279

1,7113

1,6385

1,044

Oxygen
Propane

O2
C3H8

Steam

H2O

31,999
44,097
18,015

0,25983
0,18855
0,46152

0,9216
1,6794
1,8723

0,6618
1,4909
1,4108

1,393
1,126
1,327

(Cpo, Cvo, and k are at 300 K).

141

1,400

LAMPIRAN E
Panas Spesifik Tekanan Konstanta berbagai Gas Ideal
po

= kJ/kmol K

= T(Kelvin)/100
Range K

Gas
N2

po = 39,060 512,79 -1,5 + 1072,7 -2 820,40 -3

O2

po= 37,432 + 0,020102 1,5 + 178,57 -1,5 + 236,88 -2

H2
CO

-0,75

-1

-1,5

po = 56,505 702,740
+ 1165,0 560,70
po=69,145 0,704630 0,75 200,77 -0,5 + 176,76 -0,75
0,25

+ 17,329

0,75

4,2660

300-3500

Max.
Error
0,43

300-3500

0,30

300-3500

0,60

300-3500

0,42

OH

po =81,546 59,350

300-3500

0,43

NO

po=59,283 1,7096 0,5 70,613 -0,5 + 74,889 -1,5

300-3500

0,34

H2O

po=143,05 183,54 0,25 + 82,751 0,5 3,6989

300-3500

0,43

CO2

po = -3,7357 + 30,529 0,5 4,1034 + 0,024198 2

300-3500

0,19

NO2

300-3500

0,26

CH4

po = 46,045 + 216,10 -0,5 363,66 -0,75 + 232,55 -2


po= - 672,87 + 439,74 0,25 24,875 0,75 + 323,88 -0,5

300-2000

0,15

C2H4

po = - 95,395 + 123,15 0,5 35,641 0,75 + 182,77 -3

300-2000

0,07

C2H6

po = 6,895 + 17,26 0,6402 2 + 0,00728 3

300-1500

0,83

C3H8

po = - 4,042 + 30,46 1,571 2 + 0,03171 3

300-1500

0,40

C4H10

po = 3,954 + 37,12 1,883 2 + 0,03498 3

300-1500

0,54

142