Anda di halaman 1dari 88

PERCERAIAN DAN AKIBATNYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK

(Studi Kasus: Pada Keluarga etnis Batak toba di Kota Medan) SKRIPSI Diajukan Oleh WIDYA KRISTINA MARBUN 090901033

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK MEDAN 2013

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

Abstraksi
Perkawinan bertujuan untuk mengumumkan dan memberikan status baru pada pasangan suami istri tersebut kepada orang lain sehingga pasangan ini diterima dan diakui statusnya sebagai pasangan yang sah menurut hukum, baik agama, negara maupun adat dengan sederetan hak dan kewajiban untuk dijalankan oleh keduanya, sehingga pria itu bertindak sebagai suami sedangkan wanita bertindak sebagai istri. Kondisi keluarga yang bahagia merupakan keluarga ideal yang dicita-citakan dan didambakan oleh setiap pasangan suami isteri. Namun karena ada pertikaian yang disebabkan oleh faktor eksternal dan internal keluarga, terjadilah perceraian. Perceraian Orang tua yang sangat berdampak bagi anakanaknya dan juga berpengaruh pada pendidikan anak terutama pendidikan informal anak baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Perceraian bagi anak adalah tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus dan menggunakan teknik snowball. Dengan mengambil data dari informan kunci yaitu 10 orang anak atau remaja korban dari perceraian dan 4 informan biasa dimana 2 informan yang telah resmi bercerai dan 2 informan lainnya sebagai masyarakat biasa. Penelitian ini dilakukan kepada suku atau etnis Batak Toba yang berada di Kota Medan. Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa keputusan orang tua untuk bercerai yang berakibat pada pendidikan aanak-anak mereka. Dari hasil penelitian ditemukan perceraian pada orang tua memiliki akibat yang besar pada anak-anak mereka sebagai korban perceraian. Akibat tersebut sangat tampak pada pendidikan anak mereka. Pendidikan anak dari korban perceraian tidak berjalan dengan baik lagi disebabkan oleh faktor kurangnya perhatian ataupun motivasi orang tua kepada anakanaknya dalam pendidikan, sehingga si anak merasa tidak bersemangat untuk bersekolah karena menurutnya bersekolah tidak ada manfaatnya karena kurangnya motivasi dari orangtuanya tersebut. Kurangnya motivasi dari orang tua yang sudah bercerai tersebut diakibatkan karena kesibukan orang tua yang sudah menjadi orang tua tunggal di dalam keluarganya yang harus bekerja keras membiayai kebutuhan keluarganya. Dan Faktor lain yang menyebabkan anak korban perceraian putus sekolah ialah karena faktor ekonomi keluarga tersebut, dimana orang tua tunggal yang memang benar-benar memiliki keterbatasan dalam ekonominya yang menyebabkan orang tua tunggal (bapak atau ibu) dalam keluarga tersebut tidak mampu lagi membiayai kebutuhan sekolah anaknya karena kebutuhan seharisehari mereka saja sudah pas-pasan.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR. Dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab kasihNya begitu besar pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul PERCERAIAN DAN AKIBATNYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK Dalam penulisan skripsi ini banyak hikmad yang penulis terima, terutama dalam hal ketekunan, kesabaran dan penyerahan diri kepada Tuhan. Disiplin dan kesabaran untuk menghadapi orang lain, kemampuan berpikir dan daya nalar khususnya dalam penyelesaian skripsi ini, ini semua merupakan pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan. Selama penulis menulis skripsi ini dan melaksanakan penelitian yang mendukung dalam penyusunan skripsi, penulis banyak memperoleh bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik 2. Ibu Dra. Lina Sudarwati M.Si selaku Ketua Jurusan 3. Bapak Drs. T.Ilham Saladin M.SP selaku Sekretaris Jurusan 4. Ibu Dra. Rosmiani,MA Selaku dosen pembimbing saya yang telah banyak

membimbing, memberikan waktu, tenaga, pengarahan dan sumbangan pemikiran dan memberikan saran dan kritik serta mnegevaluasi sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik dalam penyusunan skripsi ini. 5. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, M.SP selaku dosen penguji seminar proposal yang telah banyak memberikan saran-sarannya untuk perbaikan proposal.

Universitas Sumatera Utara

6. Staf Pengajar Khususnya Dosen-dosen sosiologi dan pegawai fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Khususnya Kak Beti dan Kak Feni dan juga yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang turut andil besar dalam studi penulis. 7. Bang Robin, petugas bagian Hukum Perdata Pengadilan Negeri medan yang telah banyak membantu penulis dalam memperoleh data tentang perceraian. 8. Ayahanda B. Marbun dan Ibunda tercinta S.P. Siagian yang telah memberikan cinta kasih, pengertian, dorongan yang tak henti-hentinya kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dan pengorbanan yang tidak ternilai selama ini kepada penulis. Semoga Tuhan selalu memberkati dan memberikan Limpahan RahmatNya dan berkatNya kepada orang tua penulis. 9. Abang saya Bernardus Marbun dan Kakak saya Laura Yosephine, S.Pd dan adik saya Sahala Fransiskus Marbun, yang memberikan banyak dorongan kepada penulis dan penulis banyak mengucapkan terimakasih atas doa-doa dan dukungannya. 10. Sahabat-sahabat seperjuangan saya Dina Mariana, Suartri Welly K Harefa, Onkaruna Nainggolan dan Lely Martha L. Toruan, terimakasih untuk dukungan kalian, dan semangat juga buat Dina Mariana, Onkaruna Nainggolan dan Lely Martha L. Toruan, kalian dalam penyelesaian skripsi kalian.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI Hal ABSTRAKSI i KATA PENGANTAR .ii DAFTAR ISI ...vi DAFTAR TABEL .viii BAB I PENDAHULUAN ...1 1.1. Latar Belakang Masalah ...1 1.2. Perumusan Masalah ....12 1.3. Tujuan Penelitian ....12 1.4. Manfaat Penelitian ......12 1.5. Definisi Konsep ..13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17 BAB III METODE PENELITIAN 30 3.1. Jenis Penelitian.....30 3.2. Lokasi Penelitian .....30 3.3. Unit Analisis Dan Informan .31 3.4. Teknik Pengumpulan Data ..31 3.5. Teknik Analisis Data ...33 BAB IV INTERPRETASI DATA......34 4.1. Setting Lokasi ......35 4.1.1. Sejarah Asal-Usul Kota Medan ....35 4.2. Gambaran Etnik Batak Toba Di Kota Medan .44 4.3. Profil Informan ....52 4.3.1. Informan Kunci 52 4.3.2. Informan biasa ..65 4.4. Hasil Intepretasi Data ..69 4.4.1. Makna Lembaga Perkawinan Masyarakat Batak Toba.69 4.4.2. Pandangan Masyarakat Batak Toba Terhadap Perceraian ...72 4.4.3. Pendididkan Bagi Masyarakat Batak Toba...74 4.4.4 Faktor yang Menyebabkan terjadinya Putus Sekolah pada Anak Korban Perceraian 77 4.4.5 Prinsip pada Masyarakat Batak Toba (Hamoraon, hagabeon, Hasangapon) dalam pelaksanaannya pada pendidikan bagi masyarakat Batak Toba 80 4.4.6. Disfungsional Keluarga ...83 4.4.7. Konsep Daliha Na Tolu di dalam Pendidikan pada Masyarakat batak toba....86 4.4.8. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Perceraian di kalangan Masyarakat Batak Toba.89 BAB V PENUTUP .....91 5.1. Kesimpulan ..91 5.2. Saran ........95

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA 96 LAMPIRAN ..97 DAFTAR TABEL TABEL 1.1 .5

Universitas Sumatera Utara

Abstraksi
Perkawinan bertujuan untuk mengumumkan dan memberikan status baru pada pasangan suami istri tersebut kepada orang lain sehingga pasangan ini diterima dan diakui statusnya sebagai pasangan yang sah menurut hukum, baik agama, negara maupun adat dengan sederetan hak dan kewajiban untuk dijalankan oleh keduanya, sehingga pria itu bertindak sebagai suami sedangkan wanita bertindak sebagai istri. Kondisi keluarga yang bahagia merupakan keluarga ideal yang dicita-citakan dan didambakan oleh setiap pasangan suami isteri. Namun karena ada pertikaian yang disebabkan oleh faktor eksternal dan internal keluarga, terjadilah perceraian. Perceraian Orang tua yang sangat berdampak bagi anakanaknya dan juga berpengaruh pada pendidikan anak terutama pendidikan informal anak baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Perceraian bagi anak adalah tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus dan menggunakan teknik snowball. Dengan mengambil data dari informan kunci yaitu 10 orang anak atau remaja korban dari perceraian dan 4 informan biasa dimana 2 informan yang telah resmi bercerai dan 2 informan lainnya sebagai masyarakat biasa. Penelitian ini dilakukan kepada suku atau etnis Batak Toba yang berada di Kota Medan. Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa keputusan orang tua untuk bercerai yang berakibat pada pendidikan aanak-anak mereka. Dari hasil penelitian ditemukan perceraian pada orang tua memiliki akibat yang besar pada anak-anak mereka sebagai korban perceraian. Akibat tersebut sangat tampak pada pendidikan anak mereka. Pendidikan anak dari korban perceraian tidak berjalan dengan baik lagi disebabkan oleh faktor kurangnya perhatian ataupun motivasi orang tua kepada anakanaknya dalam pendidikan, sehingga si anak merasa tidak bersemangat untuk bersekolah karena menurutnya bersekolah tidak ada manfaatnya karena kurangnya motivasi dari orangtuanya tersebut. Kurangnya motivasi dari orang tua yang sudah bercerai tersebut diakibatkan karena kesibukan orang tua yang sudah menjadi orang tua tunggal di dalam keluarganya yang harus bekerja keras membiayai kebutuhan keluarganya. Dan Faktor lain yang menyebabkan anak korban perceraian putus sekolah ialah karena faktor ekonomi keluarga tersebut, dimana orang tua tunggal yang memang benar-benar memiliki keterbatasan dalam ekonominya yang menyebabkan orang tua tunggal (bapak atau ibu) dalam keluarga tersebut tidak mampu lagi membiayai kebutuhan sekolah anaknya karena kebutuhan seharisehari mereka saja sudah pas-pasan.

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Perkawinan pada hakikatnya secara sederhana merupakan bentuk kerjasama kehidupan antara pria dan wanita di dalam masyarakat. Perkawinan bertujuan untuk mengumumkan dan memberikan status baru pada pasangan suami istri tersebut kepada orang lain sehingga pasangan ini diterima dan diakui statusnya sebagai pasangan yang sah menurut hukum, baik agama, negara maupun adat dengan sederetan hak dan kewajiban untuk dijalankan oleh keduanya, sehingga pria itu bertindak sebagai suami sedangkan wanita bertindak sebagai istri. Perkawinan adalah gabungan antara dua manusia yang awalnya mungkin mempunyai tujuan dan mimpi yang sama, atau yang merasa dapat menjalankan walau dengan perbedaan yang ada dan pemahaman yang tidak sama dan untuk keberhasilan perkawinan itu

diperlukan keinginan, tekad dan usaha dari keduanya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Perceraian , tanggal 10 Agustus 2012, 11:18 WIB) Perkawinan bukanlah sekedar ritus untuk mengabsahkan hubungan seksual antara dua jenis manusia, tetapi hubungan yang masing-masing mempunyai peranan penting untuk menjaga keutuhan lembaga tersebut. Setiap perkawinan mempunyai tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal selama-lamanya. Perayaan dan upacara agama perkawinan adalah salah satu cara untuk mengumumkan status baru tersebut. Adanya perkawinan tersebut maka bukan hanya suami istri saja yang terlibat dalam perkawinan tetapi melibatkan hubungan antara keluarga istri dan keluarga suami serta orang lain yang ikut melibatkan diri di dalamnya. Perkawinan itu tidak hanya semata-mata menjadi urusan kedua mempelai saja, tetapi perkawinan merupakan sesuatu yang diberkati tuhan sebagai suatu ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita.

Universitas Sumatera Utara

Dari hasil perkawinan maka akan terbentuk keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam hubungan masyarakat, karena itu perlu adanya peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga, terutama peran dan fungsi suami dan isteri dan juga anggota keluarga lainnya. Keluarga terdiri dari beberapa orang individu dan akan terjadi interaksi. Interaksi dalam keluarga juga akan menentukan dan berpengaruh terhadap keharmonisan hubungan atau sebaliknya tidak bahagia (disharmonis) yang disebut dengan keluarga adalah hubungan yang didasarkan pada pertalian perkawinan atau kehidupan suami isteri yang disebut dengan keluarga inti ( conjugal Family ). Kondisi keluarga yang bahagia merupakan keluarga ideal yang dicita-citakan dan didambakan oleh setiap pasangan suami isteri. Gunarsa (2004) mengatakan keluarga yang bahagia atau keluarga yang ideal adalah keluarga yang seluruh anggotanya merasa bahagia yang ditandai oleh berkurangnya ketegangan, kekacauan dan merasa puas terhadap seluruh keadaan dan keberadaan dirinya ( eksistensi dan aktualisasi diri) yang meliputi aspek fisik, mental, emosi, dan sosial. Sistem keluarga ideal menurut Sanderson (1995:481), yaitu menyangkut hubungan suami dan isteri, orang tua dan anak-anaknya, serta keluatga dan semua kerabat, dan hubungan ini telah banyak mengalami perubahan saat ini, karena pada awalnya hubungan tersebut lebih diwarnai oleh kepentingan ekonomis belaka ( walau tidak semua). Keluarga ideal juga tidak terlepas dari sejauh mana ia mampu menjalankan fungsi keluarga dengan baik di dalam keluarga, karena fungsi keluarga tidak dapat dipisahkan dari keluarga ideal. Adapun fungsi keluarga itu adalh fungsi pengaturan seksual, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi, fungsi afeksi, fungsi penentuan status, fungsi perlindungan dan fungsi ekonomi. Di dalam sistem Patriarkhat yang dianut sebagian keluarga Indonesia seorang ayah masa kini tetap menjadi pusat otoritas dalam keluarga. Mekanisme dalam pengambilan keputusan. Menjelaskan betapa kuatnya paternalisasi dan pengkulturan figure atau peran laki-

Universitas Sumatera Utara

laki. Ayah adalah satu-satunya yang berhak memutuskan atas anak perempuannya, demikian pula seorang suami atas isterinya. Kekacauan Keluarga ditafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga, terputusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota gagal menjalankan kewajiban peran mereka. Perceraian menunjukkan adanya derajat pertentangan yang tinggi antara suami isteri dan memutuskan ikatan perkawinan. Tentu saja sebagai akibat dari perceraian ini akan mempunyai pengaruh terhadap janda bekas isteri dan terhadap anak-anak yang mungkin telah dilahirkan dalam perkawinan itu. Banyak tekanan pada keluarga yang dapat melemahkan , dan di beberapa kejadian meruntuhkan kehidupan keluarga. Akan tetapi dalam suatu keluarga terutama suami dan isteri sebagai orang tua tidak selamanya mampu menjalankan peran fungsi-fungsi keluarga. Suku Batak merupakan salah satu dari ratusan suku yang ada di Indonesia. Suku Batak berasal dari Pulau Sumatera. Suku Batak itu sendiri terbagi dalam enam suku yaitu suku Batak Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Angkola, dan Suku Batak Mandailing. Pengertian Batak menurut J. Warneck, Batak berarti penunggang kuda yang lincah akan tetapi menurut H.N. Van der Tuuk, Batak berarti kafir, sehingga sampai detik ini pengertian Batak sampai sekarang belum dapat dijelaskan secara pasti dan memuaskan. Suku Batak memiliki adat istiadat, Bahasa, nyanyian dan Filsafat. Ada satu kutipan yang bertuliskan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati Pahlawannya, Suku yang besar adalah suku yang menghargai adat dan budayanya ( Togar Nainggolan, 2006). Dalam suku Batak toba agama yang dianut adalah pada umumnya Kristen. Agama dan budaya itu dalam Batak Toba hampir tidak dapat dipisahkan. Sepertinya halnya dengan adat perkawinan, setelah adanya pemberkatan dari Gereja ada lagi acara yang meriah berupa pesta adat. Dalam perkawinan ini semua ikatan keluarga baik dari pihak laki-laki, permpuan, tulang, semua keluarga memberikan berupa nasihat agar kelak nantinya keluarga itu keluarga

Universitas Sumatera Utara

yang rukun dan keluarga yang gabe lahir anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam adat Batak toba perceraian itu jarang terjadi, dimana dalam adat Batak Toba ada istilah apapun akan dilakukan agar perceraian itu tidak terjadi ikatan budaya itu masih kuat. Banyak ditemukan sekarang ini keluarga Batak toba sudah melakukan cerai secra hokum di pengadilan. Tiap tahun semakin bertambah orang Batak toba yang melakukan perceraian di pengadilan. Tabel 1.1 data Tingkat Perceraian di pengadilan Negeri Medan Tahun Jumlah Orang yang bercerai Jumlah Orang yang bercerai (Etnis Batak toba) 2010 2011 230 276 120 65

Dari jumlah perceraian tahun 2010 bahwa untuk Batak Toba yang melakukan perceraian adalah sebanyak 120 orang. Dan pada tahun 2011 perceraian itu semakin meningkat hingga 65 orang Batak toba yang melakukan perceraian di pengadilan negeri Medan. ( sumber data Pengadilan Negeri Medan, 2009). Dengan adanya adat yang mengikat atau mengendalikan kehidupan masyarakat akan mempersempit kesempatan orang untuk bercerai. Adat dalam Batak toba itu sangat di junjung tinggi sehingga perceraian itu sangat rendah. Dalam adat batak toba, terdapat upacara adat yang dilakasanakan setelah upacara perkawinan. Upacara adat yang sebagaimana kebiasaan pada masyarakat Batak Toba yang tujuannya untuk mensyahkan perkawinan itu secara hokum adat. Dengan dilaksanakannya adat tersebut, maka perkawinan tersebut telah sah dan kedua mempelai telah mempunyai kedudukan dalam masyarakat adat. Dalam upacara tersebut dilakukan untuk manggarar utang (membayar utang) kepada kerabat yang bersangkutan sesuai dengan adat Batak Toba.

Universitas Sumatera Utara

Dalam hal ini peran dari Dalihan Na Tolu sangat dibutuhkan. Perkawinan orang Batak haruslah diresmikan secara adat berdasarkan adat Dalihan Na Tolu yaitu Somba Marhula-hula/semba/hormat kepada keluarga pihak Istri, Elek Marboru (sikap

membujuk/mengayomi wanita), Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga, dan upacara agama serta catatan sipil. Artinya segala perkawinan yang telah dilaksanakan, selanjutnya dilakukan pencatatan di kantor sipil untuk mendapat kelengkapan Administrasi Negara.

Masyarakat Batak Toba menganut sistem kekerabatan patrilineal atau garis kebapakan atau mempertahankan garis keturunan laki-laki yang melakukan perkawinan dalam bentuk perkawinan jujur (sinamot), dimana isteri setelah kawin masuk dalam kekerabatan suami dan termasuk anak-anak berada di bawah kekuasaan suami/bapak. Setiap perkawinan yang dilaksanakan seperti yang telah dijelaskan diatas, mengharapkan hubungan perkawinan itu kekal sampai selama-lamanya. Akan tetapi tidak lah mudah untuk menjalaninya. Diperlukan usaha dan kerja sama yang baik antara pihak suami dan pihak isteri. Setiap orang pasti menginginkan keluarganya tetap harmmonis sampai beranak cucu, tidak jarang dalam kehidupan nyata banyak keluarga yang gagal di tengah jalan. Dengan berbagai alas an yang diyakini bisa menjadi syarat untuk melakukan perceraian. Dalam hal putusnya perkawinan atau perceraian, suami dan isteri tidak leluasa penuh untuk menentukan sendiri syarat-syarat untuk memutuskan hubungan perkawinan tersebut, melainkan terikat juga pada peraturan hukum dan adat yang berlaku. Menurut pasal 38 Undang-Undang No.1 Tahun 1974, dikatakan bahwa perkawinan putus karena kematian, perceraian dan atas keputudsan pengadilan pasal 39 mengatakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami dan isteri tidak akan hidup rukun sebagai suami isteri.

Universitas Sumatera Utara

Dalam masyarakat Batak Toba terjadinya perceraian sama halnya dengan perkawinan. Dimana dalam upacara perkawinan agar kedua mempelai tersebut sah menjadi keluarga dan kekerabatan dalam adat Batak Toba maka disyahkan dengan cara adat yang berlaku dalam Batak Toba, apabila terjadi perceraian, maka akan diselesaikan terlebih dahulu secara adat. Maka terlebih dahulu dikumpulkan pengetua-pengetua adat dan juga kekerabatan dari Dalihan Na tolu untuk membicarakan hal-hal yang terjadi diantara kedua belah pihak. Disini Dalihan Na Tolu menanyakan kedua belah pihak yang berperkara dan berusaha untuk mendamaikannya, akan tetapi apabila tidak dapat lagi didamaikan dan kedua belah pihak berkeras untuk bercerai. Perceraian secara hokum adat tetap dianggap sah sepanjang hukum adat tersebut masih berlaku pada masyarakat setempat. Namun jika terjadi konflik dalam Keluarga atau terjadi perceraian maka akan berdampak bagi pendidikan anak, baik pendidikan formal maupun pendidikan informal bagi anak dalam keluarga itu. Hal yang sangat berpengaruh bagi anak anak setelah perceraian orang tua ialah pendidikan informal yang diterima anak di dalam keluarga, dimana setelah perceraian anak sudah sedikit mendapat pendidikan ini bahkan tidak sama sekali. Hal ini disebabkan karena keadaan keluarga yang sudah tidak harmonis lagi dan juga kelompok yang sudah tidak terintegrasi lagi. Anak tidak lagi mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya secara utuh karena terjadinya perceraian itu. Bagi masyarakat etnis Batak toba sangat menanamkan nilai pendidikan bagi anak-anak mereka, bahkan setiap orang tua berjuang keras mencari nafkah guna membiayai pendidikan anak-anaknya. Pendidikan bagi etnis batak sangat lah penting, karena dengan pendidikan yang tinggi dapat menaikkan harkat dan martabat bagi orang batak toba. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku (Dalihan natolu) tersebut adalah Somba Marhula-hula/semba/hormat kepada keluarga pihak

Universitas Sumatera Utara

Istri, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita), Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga). Hagabeon, Hamoraon dohot Hasangapon dapat diartikan : Hagabeon (Ada keturunan laki-laki dan Perempuan), Hasangapon (terpadang dalam masyarakat), Hamoraon (Harta kekayaan). Ketiga Filsafat Batak Toba " Hagabeon, Hamoraon dohot Hasangapon" bila digabungkan dengan Dalihan natolu memiliki arti sebagai berikut: Bila ingin "hasangapon" maka kita harus "Manat Mardongan Tubu". Sebelum kita ingin terpadang di masyarakat, hal pertama yang harus kita lakukan adalah Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga), Bila kita ingin "Hagabeon" maka kita harus Somba/hormat marhulahula, Bila ingin "Hamoraon" maka kita harus Elek Marboru. Salah satu usaha untuk mencapai tujuan pembangunan nasional adalah dengan cara memperluas dan meningkatkan kualitas penduduk bagi seluruh warga Negara, seperti apa yang dikemukakan oleh Semiawan (2002:4) bahwa kondisi masyarakat yang dipersyaratkan dalam lingkungan persaingan global dalam kaitannya dengan kemampuan individual yang di persyaratkan, maka individu tersebut harus ditempa oleh pendidikan formal (sekolah) dan informal (keluarga). Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang sistematis dan terprogram yang memberikan bimbingan dan pendidikan bagi siswa-siswi melalui pelajaran-pelajaran, rangsangan, juga ilmu pengetahuan hasil generasi ke generasi. Sedemikian luasnya tugas sekolah sehingga tak dapat mencakup seluruh isi pengetahuan dalam waktu relative singkat. Mengingat tugas sekolah yang terlalu berat maka Gunarsa (2003:71) juga berpendapat bahwa Keluargalah yang harus memegang peran aktif, khususnya dalam mengarahkan anak, mengarahkan anak dalam arti memanfaatkan segala kemampuan, kesanggupan, sifat, minat yang ada pada anak.

Universitas Sumatera Utara

Proses pendidikan dapat berlangsung dalam keluarga, di sekolah dan di masyarakat, sehingga pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama, antara keluarga dan masyarakat dan Negara. Manusia yang tumbuh kembang dalam keluarga unit terkecil dalam kehidupan masyarakat merupakan sumber daya manusia yang paling essensial bagi pembangunan bangsa. Bahkan pembangunan bangsa itu bersumber dari dalam keluarga. Salah satu lembaga yang terpenting dan berpengaruh dengan pendidikaan dan perkembangan anak adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama di dalam menjalankan peranannya dalam dunia pendidikan juga dalam menentukan perkembangan belajar anak. Tentu saja faktor tersebut menjadi utama dalam mengembangkan minat belajar anak. Hal tersebut diperkuat oleh Gunarsa (2001:27) yang menyatakan bahwa Keluarga adalah tempat yang penting bagi anak untuk memperoleh dasar dalam membentuk agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat. Keluarga mempunyai fungsi yang tidak terbatas selaku penurunan saja akan tetapi keluarga merupakan sumber pendidikan utama, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia pertama dari orang tua dan anggota keluarga lainnya. Pendidikan sangat dibutuhkan anak dalam keluarga, karena proses pendidikan yang didapatkan seorang anak pertama kali ialah di dalam keluarganya, dimana hasil pendidikan yang di dapat di dalam keluarga itu yang akan dibawa atau dipraktekkan di luar rumahnya untuk berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya. Untuk itu baik buruknya cara seorang anak berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya di luar rumah tercermin dari pendidikan yang ia dapat dari keluarganya. Di dalam pendidikan terdapat peranan penting dari keluarga yang merupakan lembaga pertama dalam kehidupan seorang anak, tempat belajar segala sesuatu dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya, anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar pembentukkan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan

Universitas Sumatera Utara

remaja ( Kartono, 1995:25). Orangtua adalah lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan seorang remaja. Dimana hal ini akan menjadi dasar perkembangan remaja berikutnya. Sosialisasi juga cara yang pertama dilakukan orangtua dalam mendidik remaja untuk menghasilkan karakter, kepribadian dan akhlak yang menggunakan cara sosialisasi yang baik. Karena sosialisasi merupakan proses belajar kebudayaan didalam suatu sistem sosial tertentu. Sistem sosial berisikan berbagai kedudukan dan peranan yang terkait dengan suatu masyarakat dengan kebudayaannya. Dalam tingkat sistem sosial sosialisasi merupakan proses belajar mengenai nilai dan aturan untuk bertindak dan berinteraksi seorang individu dengan berbagai individu disekitarnya dari masa kanak-kanak hingga masa tuanya. Sosialisasi dilihat juga sebagai proses pewarisan pengetahuan kebudayaan yang berisi nilainilai, norma-norma dan aturan untuk berinteraksi antar satu individu dengan individu lain, antara satu individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Peran

orangtua terhadap anak yaitu mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak, supaya anak tersebut memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik, melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya. Sebagai contoh hubungan antara perceraian orang tua dan pendidikan anak yaitu banayak kasus dimana setelah perceraian orang tua, anak-anak mereka mengalami kenakalan remaja, kenakalan remaja tersebut disebabkan karena sudah berkurangnya perhatian dan bimbingan dari orang tua yang sudah berpisah,dimana awal mula kenakalan remaja tersebut di sebakan pendidikan anak yang mulai tidak dikoordinir oleh orang tua yang sudah berpisah, baik dikoordinir dari segi perhatian pada pendidikan anak tersebut maupun biaya dalam pendidikan tersebut. Hal ini lah yang membuat peneliti tertarik untuk membahasnya, sehingga mengangkat judul skripsi yaitu: Perceraian Orang Tua dan Akibatnya Terhadap Pendidikan Anak (Studi Kasus pada Keluarga Etnis Batak Toba di Kota Medan)

Universitas Sumatera Utara

1.2. Perumusan Masalah Dalam suatu penelitian, yang sangat signifikan untuk dapat memulai penelitian adalah adanya masalah yang akan diteliti. Menurut Arikunto, agar dapat dilaksanakan penelitian dengan sebaik-baiknya maka peneliti harus merumuskan masalah dengan jelas, sehingga akan jelas darimana harus dimulai, ke mana harus pergi dan dengan apa (Arikunto, 1996:19). Berdasarkan uraian tersebut dan berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Perceraian orang tua dan bagaimana akibatnya terhadap pendidikan anak.

1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas yang menjadi tujuan yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui perceraian orang tua dan bagaimana akibatnya terhadap pendidikan anak pada etnis Batak Toba di Medan.

1.4. Manfaat Penelitian Setelah mengadakan penelitian ini, diharapkan manfaat penelitian ini berupa:

a. Manfaat Teoritis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan maupun wawasan ilmiah kepada penulis dan juga pembaca mengenai fungsi dan disfungsi perceraian orang tua dan akibatnya terhadap pendidikan anak sehingga dapat memberikan sumbangan bagi

Universitas Sumatera Utara

pengembangan teori ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi. Selain itu diharapkan juga dapat memberikan kontribusi kepada pihak yang memerlukannya. b. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti berupa faktafakta temuan di lapangan dalam meningkatkan daya, kritis dan analisis penelitian sehingga memperoleh pengetahuan tambahan dari penelitian tersebut. Dan khususnya penelitian ini dapat menjadi referensi penunjang yang diharapkan dapat berguna bagi peneliti berikutnya.

1.6. Definisi konsep Konsep adalah istilah yang terdiri dari satu kata atau lebih yang menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide maupun gagasan (Hasan, 2002:17). Untuk menjelaskan maksud dan pengertian konsep-konsep yang terdapat di dalam penelitian ini, maka akan dibuat batasan-batasan konsep yang dipakai adalah sebagai berikut.

1. Perkawinan Perkawinan adalah gabungan antara dua manusia yang awalnya mungkin mempunyai tujuan dan mimpi yang sama, atau yang merasa dapat menjalankan walau dengan perbedaan yang ada dan pemahaman yang tidak sama dan untuk keberhasilan diperlukan keinginan, tekad dan usaha dari keduanya 2. Perceraian Orang tua perkawinan itu

Perceraian adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masing-masing. Dalam hal ini perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku. Perceraian juga merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk

Universitas Sumatera Utara

saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri. (http://www.dishidros.go.id/buletin/221.html).

Perceraian Orang tua yang sangat berdampak bagi anak-anaknya dan juga berpengaruh pada pendidikan anak terutama pendidikan informal anak baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Perceraian bagi anak adalah tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya lagi.

3. Pendidikan

Pendidikan adalah semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya dan keterampilannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Pendidikan juga memberikan suatu nilainilai tertentu bagi manusia, terutama dalam menerima hal yang baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Pendidikan juga dapat memberikan efek kepada seseorang untuk dapat menerima faktor pendorong akibat perubahan yang ditimbulkannya.

4. Pendidikan formal Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, bertingkat/berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya; termasuk kedalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program

spesialisasi, dan latihan professional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. 5. Pendidikan informal

Universitas Sumatera Utara

Pendidikan Informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia sehingga sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan termasuk di dalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa.

6. Anak

Anak yang melakukan pola interaksi masih secara terbatas di dalamnya harus mendapatkan peran orang-orang terdekat dengannya, karena warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.

Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Menurut H.R. Otje Salman Soemadingrat (2002:173) perkawinan adalah

implementasi perintah Tuhan yang melembaga dalam masyarakat untuk membentuk rumah tangga dalam ikatan-ikatan kekeluargaan, sama konsepnya dengan pasal 1 ayat (1) Undangundang perkawinan No.1 tahun 1974 mengatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. Emile Durkheim mengatakan bahwa ikatan kekeluargaan (perkawinan) dengan suasana tradisi dan adat-istiadat oleh karena adanya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat akan bergeser ke arah kontrak berdasarkan pengaturan oleh Negara (Doyle,1990). (1) Goncangnya lembaga perkawinan akibat dari poligami (permaduan). (2) Melunturnya Cinta Suami Isteri. (3) Faktor penghambat luar keluarga yaitu keadaan ekonomi yang tidak menguntungkan, hukum perundang-undangan yang mentolerir perceraian, ledakan penduduk, keadaan sosio-psikologis yaitu perubahan fungsi ayah dari struktur patriarkhat kepada nuclear family, pandangan tentang perceraian cenderung pasif, pandangan dan praktek seks sebagai konsumsi, komersialisasi seks (BKKBN, 2004). Pendidikan bagi sebagian orang, berarti berusaha membimbing anak untuk menyerupai orang dewasa, sebaliknya pendidikan sebagai penghubung dua sisi, disatu sisi individu yang sedang tumbuh dan disisi lain nilai sosial, intelektual dan moral yang menjadi tanggung

Universitas Sumatera Utara

jawab pendidik untuk mendorong individu tersebut. Kegiatan pendidik merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan dirinya. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Pendidikan sebagai usaha pewarisan dari generasi ke generasi. Menurut ahli sosiologi, pendidikan adalah sesuatu yang terjadi di masyarakat yang disebabkan tiga hal tentang umat manusia. Pertama, mempelajari semua yang meliputi cara hidup suatu masyarakat atau kelompok orang. Tidak ada yang diwariskan secara biologis. Kedua, manusia sangat peka terhadap pengalaman. Maksudnya, ia mampu mengembangkan rentangan kepercayaan tentang dunia sekitarnya keterampilan dalam memanipulasinya. Ketiga, bayi yang baru lahir dan dalam waktu yang cukup lama selalu tergantung pada orang lain. Ia idak mampu mengembangkan kepribadiannya tanpa banyak pertolongan orang lain, baik secara kebetulan maupun dengan sengaja. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak Keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama mempunyai peranan penting dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak secara mendasar. Menurut Hasan Langgulung ada empat bidang pendidikan yang dapat dikembangkan oleh orang tua dalam rangka pendidikan keluarga yaitu:

1.

Pendidikan jasmani dan kesehatan

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan fungsi fisiknya. Serta untuk menciptakan kesehatannya. Fungsi dari jasmani adalah memperoleh pengetahuan, konsep-konsep, keterampilan, kebiasaan, dan sikap yang

Universitas Sumatera Utara

harus dimiliki oleh anak. Peranan keluarga dalam menjaga kesehatan anak-anaknya dapat dilaksanakan sebelum bayi lahir (pre-natal), yaitu pemeliharaan terhadap kesehatan ibu dan memberinya makanan yang baik dan sehat selama mengandung. 2. Pendidikan akal (intelektual)

Walaupun pendidikan akal telah diperoleh oleh institusi khusus, tetapi peranan keluarga masih tetap penting, terutama orang tua mempunyai tanggungjawab sebelum anak masuk sekolah. Tugas keluarga dalam pendidikan intelektual adalah untuk menolong anakanaknya, menentukan, membuka, dan menumbuhkan kesediaan-kesediaan, bakat-bakat, minat, dan kemampuan anaknya. Tugas yang lain adalah memperoleh kebiasaan-kebiasaan dan intelektual yang sehat dan melatih indera kemampuan-kemampuan akal tersebut. 3. Pendidikan agama dan spiritual

Pendidikan agama tumbuh dan berkembang dari keluarga, sehingga peran orang tua sangat penting. Pendidikan agama dan spiritual berarti membangkitkan kekuatan dan kesediaan spiritual yang bersifat naluri pada diri anak yang disertai kegiatan upacara keagamaan. Begitu juga memberi bekal anak-anak dengan pengetahuan agama dan sejarah, disertai dengan cara-cara pengalaman keagamaan. 4. Pendidikan sosial anak

Pendidikan sosial anak melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi dan politik dalam rangka meningkatkan iman, memberi kasih sayang dan selalu mementingkan dan mendahulukan orang lain.

Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan keberadaan sekolah agar tetap lebih lama (survive), diharapkan peranan orang tua cukup peka terhadap finansial, dalam arti mengembangkan semangat solidaritas. Semangat solidaritas yang harus dibangun adalah yang berkemampuan diharuskan membantu yang kekurangan, jangan sampai peserta didik

Universitas Sumatera Utara

yang gagal sekolah disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua membiayai sekolah anaknya. Begitu juga terhadap infrastruktur yang lain, sungguh sangat ideal jika kesadaran orang tua dan masyarakat mempunyai solidaritas sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing untuk terus-menerus menghidupi sekolah dalam banyak aspek, sehingga sekolah tersebut akan terus eksis. Keluarga diharapkan menyediakan lingkungan yang kondusif dan sekaligus sebagai sarana yang efektif untuk terjadinya proses pembelajaran. Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian sebagaimana dinyatakan Subino Hadi Subroto yaitu, bahwa keluarga hendaknya menjadi tempat tinggal yang membetahkan, menjadi tempat berbagi rasa, dan pikiran, menjadi tempat mencurahkan suka dan duka, tidak menjadi tempat bergantung bagi anak-anak akan tetapi sebagai tempat berlatih mandiri, tidak menjadi tempat menuntut hak, menjadikan tempat menumbuhkan kehidupan religius dan akhirnya menjadi tempat yang aman karena aturan main antar anggota ditegakkan. Pendidikan dalam keluarga atau di rumah tangga termasuk pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan. Pendidikan sekolah yang tidak dilembagakan yaitu proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, pada umumnya tidak teratur atau tidak sistematis sejak seseorang lahir sampai mati. Biasanya anak-anak yang berasal dari keluarga tingkat menengah menharapkan agar anak-anak mereka dapat menyelesaikan sekolah setinggi mungkin, sebab mereka mengetahui faedah pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu materi yang diajarkan dalam keluarga biasanya sesuai dengan yang diajarkan disekolah. Sebaliknya anak-anak yang berasal dari keluarga tingkat sosial rendah banyak mengalami kesulitan dalam bertingkah laku disekolah sebab nilai-nilai, tingkah laku, dan biasanya yang diajarkan dalam keluarga berbeda dengan yang diajarkan disekolah. Disamping itu orang tua mereka masih ragu-ragu tentang kegunaan atau faedah pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.

Universitas Sumatera Utara

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga dikatakan sebagai lingkungan pendidikan pertama karena setiap anak dilahirkan ditengahtengah keluarga dan mendapat pendidikan yang pertama didalam keluarga. Dikatakan utama karena pendidikan yang terjadi dan berlangsung dalam keluarga ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pendidikan anak selanjutnya. Para ahli sependapat bahwa betapa pentingnya pendidikan keluarga ini. Mereka mengatakan bahwa apa yang terjadi dalam pendidikan keluarga, membawa pengaruh terhadap lingkungan pendidikan selanjutnya, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Tujuan dalam pendidikan keluarga atau rumah tangga ialah agar anak mampu berkembang secara maksimal yang meliputi seluruh aspek perkembangan yaitu jasmani, akal, dan rohani. Yang bertindak sebagai pendidik dalam rumah tangga ialah ayah dan ibu si anak. Dalam arti yang luas, pendidikan merupakan proses yang menghasilkan ketiga hal ini. Pendidikan adalah cara seseorang memperoleh kemampuan fisik, moral dan sosial yang dituntut daripadanya oleh kelompok tempat ia dilahirkan dan harus berfungsi. Ahli sosiologi menyebut hal ini sebagai sosialisasi. Istilah ini berlaku karena dua hal. Pertama, istilah ini menekankan bahwa proses ini bersifat sosial; prose situ terjadi pada konteks sosial, dan dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan kelompok. Kedua, segi kemanusiaan pola perilaku dan nilai yang member arti kepadanya, merupakan dua pusat perhatian utama sosiologi. Pendidikan merupakan pelantikan pendatang baru dalam masyarakat. Pendidikan itu berjalan terus sebagai tanggapan terhadap nilai-nilai tentang bagaimana anggotanya harus bertindak dan ide-ide tentang apa yang harus mereka pelajari. Sehubungan dengan hal ini Coombs (1973) membedakan pengertian ketiga jenis pendidikan itu sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

a) Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, bertingkat/berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya; termasuk kedalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum,

program spesialisasi, dan latihan professional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. b) Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia sehingga sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan termasuk di dalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga,

lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa. c) Pendidikan nonformal ialah setiap kegiatan teroganisasi dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan tertentu yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik di dalam mancapai tujuan belajarnya.

(http://zandradw.blogspot.com/2011/11/perbedaan-pendidikan-formal-informal.html diakses tgl 19 sept 2012, 07:39)

II.1. Motivasi Berprestasi

Universitas Sumatera Utara

McClelland (dalam Sukadji etd, 2001) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai motivasi yang mendorong seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan suatu ukuran keunggulan (standard of excellence). Menurut Murray (dalam Beck, 1998), motivasi berprestasi adalah suatu keinginan atau kecenderungan untuk mengatasi hambatan, melatih kekuatan, dan untuk berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin. Sementara itu Atkinson (dalam Petri, 2001) menyatakan bahwa motivasi berprestasi individu didasarkan atas dua hal, yaitu tendensi untuk meraih sukses dan tendensi untuk menghindari kegagalan. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi berarti ia memiliki motivasi untuk meraih sukses yang lebih kuat daripada motivasi untuk menghindari kegagalan, begitu pula sebaliknya. Dari uraian mengenai motivasi berprestasi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi adalah usaha yang dilakukan individu untuk mempertahankan kemampuan pribadi setinggi mungkin, untuk mengatasi rintangan-rintangan, dan bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi dalam suatu ukuran keunggulan. Ukuran keunggulan dapat berupa prestasi sendiri sebelumnya atau dapat pula prestasi orang lain.

2.2. Anak dalam Aspek Sosiologis Dalam aspek sosiologis, anak senantiasa berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Menurut kodratnya, anak manusia adalah anak makhluk sosial, dapat dibuktikan dimana ketidakberdayaannya terutama pada masa bayi dan kanak-kanak yang menuntut adanya perlindungan dan bantuan dari orang tua. Anak selalu membutuhkan tuntunan dan pertolongan orang lain untuk menjadi manusia yang bulat dan paripurna. Dalam pandangan Kartini Kartono, anak manusia tidak dapat hidup tanpa masyarakat atau tanpa lingkungan sosial tertentu. Anak dilahirkan, dirawat, dididik, tumbuh, berkembang, dan bertingkah laku sesuai dengan martabat manusia di dalam lingkungan cultural sekelompok manusia. Anak tidak akan terlepas dari lingkungan tertentu, karena anak sebagai individu tidak mungkin bisa berkembang tanpa bantuan

Universitas Sumatera Utara

orang lain. Kehidupan anak bisa berlangsung apabila ia ada bersama orang lain. Anak manusia bisa memasuki dunia manusia jika dibawa atau dimasukkan ke dalam lingkungan manusia sehingga memperoleh pemahaman akan pendidikan. 2.3. Sosialisasi Sosialisasi adalah sebuah proses pengajaran atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari suatu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Hal ini disebabkan dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. 2.3.1. Jenis Sosialisasi Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Sosiolog, E. Goffman berpendapat bahwa kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total. Yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal (M. Poloma, 2000:238). 1. Sosialisasi Primer Peter L. berger dan Luckman mendefinisikan sosialisai primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan oranglain di sekitar keluarganya.

Universitas Sumatera Utara

Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebag seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan keluarga terdekatnya. 2. Sosialisasi sekunder Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama. 2.4 Proses Sosialisasi menurut George Herbert Mead George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut (G. Ritzer 2007:282). 1. Tahap Persiapan ( Preparatory Stage) Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata makan yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan mam. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya. 2. Tahap Meniru (Play Stage) Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak meniru peranperan yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak

Universitas Sumatera Utara

mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak.

Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentu. Sebagian dari orang tersebut merupakan orangorang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orangorang yang amat berarti (Significant other).

3.

Tahap Siap Bertindak (Game stage) Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang

secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturanperaturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

4.

Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage / Generalized other) Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan

dirinya pada posisi masyarakat secra luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa

Universitas Sumatera Utara

tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Manusia dengan perkembangn diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Jenis penelitian Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus atau case study. Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah agar lebih dapat memahami masalah yang akan di teliti. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini dapat diartikan sebagai segala sesuatu

Universitas Sumatera Utara

yang diamati dan digambarkan serta dijelaskan dengan maksud mengetahui hasil dari masalah yang diteliti. Dalam masalah ini yang dijelaskan adalah perceraian orang tua dan hubungannya terhadap pendidikan anak pada keluarga etnis Batak toba di Kota Medan. Pendekatan studi kasus adalah penelitian mendalam mengenai unit sosial tertentu yang hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisasi baik mengenai unit tersebut. Tujuan dari penelitian kasus adalah untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial baik individu, kelompok, lembaga atau masyarakat.

3.2. Lokasi penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di lingkup daerah kota Medan, dimana tempat tinggal para informan berada.

3.3. Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek dari penelitian. Adapun yang menjadi unit analisis ataupun objek kajian dalam penelitian ini adalah orang tua yang bercerai sebanyak 65 orang yang berdasarkan data dari pengadilan Negeri Medan dan masing-masing satu anak dari satu keluarga yang bercerai. 3.3.2 Informan Dalam menentukan informan peneliti menggunakan teknik Snowball sampling. Yang menjadi informan pada penelitian ini sebanyak 65 orang tua yang bercerai dan dalam penelitian ini saya mengambil sampel 1 orang anak dalam 1 keluarga yang bercerai, dimana

Universitas Sumatera Utara

data informan ini saya dapatkan dari Pengadilan Negeri Medan, dan 4 orang informan biasa yang terdiri dari orang tua yang bercerai dan masyarakat sekitar. 3.4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mengunakan snowball sampling. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi yang jelas keberadaaan anggotanya dan tidak pasti jumlahnya dengan cara menemukan satu sampel, untuk kemudian dari sampel tersebut dicari (digali) keterangan mengenai keberadaan sampel (sampel-sampel) lain, terus demikian secara berantai. Begitu seterusnya, sampai sampel dirasa cukup untuk memperoleh data yang diperlukan, atau sampai mentog sudah tidak terkorek lagi keterangan sampel lainnya siapa dan di mana, atau sampai data yang diperoleh dipandang sudah cukup memadai untuk menjawab permasalahan penelitian. 3.4.1 Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian. Langkah-langkah pengumpulan data primer adalah dengan cara : A. Dokumentasi Pengamatan dan pengambilan gambar yang dilakukan atau diambil secara langsung dari lapangan penelitian. B. Metode wawancara Metode wawancara biasa disebut juga metode interview. Metode wawancara proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka, antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Salah satu bentuk wawancara yang dipakai ini adalah wawancara mendalam (indept interview). Wawancara mendalam (indept interview) bertujuan untuk memperoleh keterangan, pendapat secara lisan dari seseorang dengan berbicara langsung ataupun Tanya jawab dengan responden, Wawancara ini dilakukan pedoman wawancara. Wawancara ini dilakukan untuk

Universitas Sumatera Utara

memperoleh data secara mendetail tentang bagaimana perceraian orang tua dan hubungannya terhadap pendidikan anak. C. Metode Observasi Observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian. Data penelitian tersebut dapat diamati oleh peneliti. Observasi merupakan pengamatan langsung terhadap berbagai gejala yang tampak pada penelitian. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan data yang mendukung hasil wawancara. D. Data Sekunder Data yang diperoleh dari data kedua atau sumber-sumber yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebelum menuju tahap berikutnya. Data sekunder diperoleh dengan cara studi kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, majalah, jurnal, artikel dan dari internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.

3.5. Teknik Analisis Data dan Interpretasi Data Dalam penelitian kualitatif peneliti dapat mengumpulkan banyak data baik dari hasil wawancara, observasi maupun dokumentasi. Dalam penelitian ini, peneliti sudah melakukan wawancara kepada beberapa informan dan mendapat jawaban yang sama dari setiap informannya maka penelitian berhenti pada 14 orang informan yang terdiri dari 10 orang anak atau remaja dari korban perceraian orang tua dan 2 orang tua yang sudah resmi bercerai dan 2 orang masyarakat sekitar. Data tersebut semua umumnya masih dalam bentuk catatan lapangan, oleh karena itu perlu diseleksi dan di buat kategori-kategori. Dan yang telah diperoleh dari studi kepustakaan juga terlebih dahulu di evaluasi untuk memastikan relevansinya dengan permasalahan penelitian. Setelah itu data dikelompokkan menjadi satuan yang dapat di kelola, kemudian

Universitas Sumatera Utara

dapat dilakukan interpretasi data mengacu pada tinjauan pustaka. Sedangkan hasil observasi dinarasikan sebagai perlengkapan data penelitian, Akhir dari semua proses ini adalah penggambaran dan penuturan dalam bentuk kalimat-kalimat tentang apa yang diteliti sebagai dasar dalam pengambilan kesimpulan (Faisl,2007:257)

BAB IV Interpretasi Data


4.1 Setting Lokasi 4.1.1 Sejarah asal usul kota Medan Kota Medan dahulu merupakan kampung kecil yang berada di salah satu tanah datar atau Medan yang pada waktu itu kita kenal sebagai Kampung Medan Putri, letaknya tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Selama kurang lebih 80 Tahun, Medan telah berkembang menjadi kota Medan seperti saat ini. Menurut Tengku Lukman Sinar, SH dalam bukunya yang berjudul Riwayat Hamparan Perak tahun 1971, Medan didirikan oleh guru Patimpus sekitar tahun 1590-an. Guru Patimpus adalah seorang putra Karo bermarga Sembiring Pelawi dan beristrikan seorang Encik Pulo Brayan. Guru Patimpus juga merupakan nenek moyang Datuk Hamparan Perak (Dua Belas Duta) dan Datuk Suka Piring,

Universitas Sumatera Utara

yaitu dua dari tempat Kepala suku Kesultanan Deli. Dalam bahas karo, kata Guru berarti Dukun ataupun orang pintar kemudian kata Pa merupakan sebutan untuk seorang bapak berdasarkan sifat atau keadaan seseorang. Sedangkan kata Timpus berarti Bundelan, bungkus atau balut. Dengan demikian Guru Patimpus dapat diartikan sebagai seorang dukun yang memiliki kebiasan membungkus sesuatu dalam kain yang diselempangkan dibadan untuk membawa barang bawaannya. Hal ini dapat diperhatikan pada Monumen Guru Patimpus yang didirikan disekitar Balai Kota Medan. Kampung Medan juga sering dikenal sebagai Medan-Deli. Lokasi asli Kampung Medan adalah sebuah tempat dimana Sungai Deli bertemu dengan sungai Babura. Terdapat berbagai kerancuan dari berbagai sumber literature mengenai asal-usul kata Medan itu sendiri. Dari catatan penulis-penulis portugis yang berasal dari nama Medina, sedangkan dari sumber lainnya menyatakan bahwa Medan berasal dari bahasa India Meiden, yang lebih kacau lagi bahwa ada sebagian masyarakat yang menyatakan bahwa disebutkannya kata Medan karena kota ini merupakan tempat atau area bertemunya berbagai suku sehingga disebut sebagai Medan pertemuan. Medan pertama kali ditempati oleh orang-orang suku Karo, hanya setelah penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda mengirimkan panglimanya, Gocah Pahlawan bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk menjadi wakil Kerajaan Aceh di Tanah Deli, barulah kerajaan Deli mulai berkembang. Perkembangan ini ikut mendorong pertumbuhan dari segi penduduk maupun kebudayaan Medan. Dimasa pemerintahan Sultan Deli kedua tuanku Panglima Parunggit (memerintah dari 1669-1698), terjadi sebuah perang Kavaleri di Medan. Sejak saat itu Medan membayar upeti kepada Sultan Deli. Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa disamping

Universitas Sumatera Utara

jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (Sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkualitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei. Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam. Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan disana sini terutama di muara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara. ( Kota Medan Dalam Angka 2012, BPS kota Meda, hal xxxvi) Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli perkebunan. Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru dan ulama.

Universitas Sumatera Utara

Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha pada tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan, kota Medan telah bertambah luas hampir delapan belas kali lipat. Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian Barat dan sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Orangutan di Bukit Lawang dan Danau Toba. Di samping itu, Kota Medan juga sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka. Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Kota Medan telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kota_Medan, 29 November 2012). Kehadiran Kota Medan sebagai suatu bentuk kota memiliki proses perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan daerah yang disebut dengan Kota Medan yang menuju pada bentuk kota metropolitan. Sebagai hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1909 , sampai saat sekarang ini usia Kota Medan telah tercapai 419 tahun. Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Kota Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan suku bangsaTionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan suku bangsa Tionghoa, karena sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan suku bangsa Jawa sebagai kuli perkebunan. Suku bangsa Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan suku bangsa Minangkabau, Mandailing, dan Aceh. Mereka datang ke Kota Medan bukan

Universitas Sumatera Utara

untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru, dan ulama (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kota_Medan, 29 November 2012). Keanekaragaman suku bangsa di Kota Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja, kuil dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh daerah. Penduduk Kota Medan sekarang ialah suku bangsa Jawa, dan suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing, Karo). Di Kota Medan banyak pula suku bangsa keturunan India dan Tionghoa. Kota Medan salah satu kota di Indonesia yang memiliki populasi suku bangsa Tionghoa cukup banyak. Secara historis, pada tahun 1918 tercatat bahwa Kota Medan dihuni 43.826 jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang berketurunan Eropa, 35.009 berketurunan Indonesia, 8.269 berketurunan Tionghoa, dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya. Berdasarkan keputusan Gubernur Propinsi Sumatera Utara Nomor 66/III/PSU, terhitung mulai tanggal 21 September 1951, daerah kota Medan diperluas tiga kali lipat. Keputusan tersebut disusul oleh Maklumat Walikota Nomor 21 tanggal 29 September 1951 yang merupakan luas kota Medan menjadi 5.130 Ha dan meliputi 4 kecamatan, yaitu: 1. Kecamatan Medan 2. Kecamatan Medan Timur 3. Kecamatan Medan Barat 4. Kecamatan Medan Baru dengan keseluruhan 59 kepenghuluan Melalui UU Darurat No.7 dan 8 tahun 1056 dibentuk propinsi Sumatera Utara Daerah Tingkat II antara lain, Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan khususnya memerlukan perluasan daerah untuk mampu menampung laju perkembangan penduduk. Oleh karena itu, dikeluarkan Perintah No.22 tahun 1973, dengan masuknya beberapa Kabupaten Deli Serdang ke dalan kota Medan, sehingga belakangan ini wilayah kota Medan menjadi 116 Kelurahan. Kemudian dengan surat ini persetujuan Mendagri No.140/22/1/PVOP tanggal 30 Mei 1986,

Universitas Sumatera Utara

jumlah kelurahan di Kota Medan menjadi 144 Kelurahan yang kemudian pada tahun 1997 menjadi 151 Kelurahan. Kemudian melalui peraturan Pemerintah RI No.35 tahun 1992 tentang pembentukan beberapa kecamatan termasuk kecamatan di Sumatera Utara termasuk dua kecamatan pemekaran di Kota Daerah Tingkat II Medan, sehingga sebelumnya terdiri dari 19 kecamatan dimekarkan menjadi 21 kecamatan. ( Kota Medan dalam Angka 2009, BPS Kota Medan,hal 26). Kota Medan merupakan salah satu dari 17 daerah tingkat II di daerah Sumatera Utara, yang terletak di bagian Timur Propinsi Sumatera Utara dan berada di antara 3 27-98-3 47
LU

dan 98 35-98 44BT. Permukaan tanahnya cenderung miring ke Utara dan berada pada

ketinggian 2,5-37,5 m di atas permukaan laut. Luas kota Medan saat ini adalah 265.10 km2. Sebelumnya hingga 1972 Medan hanya mempunyai luas sebesar 52,32 km2, namun kemudian diedarkan Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 1973 yang memperluas wilayah Kota Medan dengan mengintegrasikan sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli. Kota Medan merupakan pusat pemerintahan tingkat I Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk sekitar 2.083.156 jiwa. Secara geografis Kota Medan berbatasan dengan: Sebelah Utara berbatasan dengan Selat malaka Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan percut Sei Tuan dan tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Pemerintahan

Universitas Sumatera Utara

Administrasi pemerintahan kota Medan yang dipimpin oleh seorang Walikota pada saat ini terdiri atas 21 kecamatan dengan 151 kelurahan yang terbagi dalam 2001 lingkungan. Penduduk Pembangunan kependudukan di Medan dilaksanakan denga mengindahkan

kelestarian sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan persebaran penduduk tercapai optimal. Mobilitas dan persebaran penduduk yang optimal, berdasarkan pada adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tamping lingkungan. Persebaran penduduk yang tidak didukung oleh lingkungan dan pembangunan akan menimbulkan masalah sosial yang kompleks, dimana penduduk menjadi beban bagi lingkungan maupun sebaliknya. Pada tahun 2011, penduduk Kota Medan mencapai 2.227.224 jiwa. Dibanding hasil Sensus Penduduk 2010, terjadi pertambahan penduduk sebesar 19.614 jiwa (0,94 %). Dengan luas wilayah 265,10 km2, kepadatan penduduk mencapai 7.987 jiwa/km2. Laju pertumbuhan penduduk adalah perubahan penduduk yang terjadi jika dibandingkan dengan sebelumnya dan dinyatakan dengan presentase.Komposisi penduduk Kota Medan berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan kota, baik sebagai subjek maupun objek pembangunan. Keterkaitan komposisi penduduk dengan upaya-upaya pembangunan kota dilaksanakan, didasarkan pada kebutuhan pelayanan yang harus disediakan kepada masing-masing kelompok usia penduduk. Proporsisi penduduk berdasarkan usia, dapat dilihat bahwa penduduk paling banyak adalah yang berada pada usia 20-24 dengan perincian penduduk laki-laki 116.164 jiwa, 11,23% sedangkan perempuan 121.385 jiwa, 11,58%. Dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk pada tahun 2012 yang paling banyak adalah perempuan dengan total keseluruhan 1.071.596 jiwa sedangkan lakilaki hanya 1.034.696 jiwa. ( Sumber: Medan Dalam Angka 2012) Ketenagakerjaan

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan, sebanyak 120 pencari kerja pada tahun 2011 menyampaikan permohonan izin untuk menjadi tenaga kerja asing. Lapangan usaha jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan merupakan yang paling diminati karena 50 persen dari pencari kerja tenaga kerja asing. Jumlah pencai kerja secara keseluruhan sebesar 4742 orang dengan status sudah dipenuhi sebesar 1986 orang. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh para pencari kerja di Kota Medan paling banyak hanya tamatan SLTA. Human Development Report (Laporan Pembangunan Manusia) yang pertama, pada tahun 1990, mendefinisikan pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk membuat manusia mampu memiliki lebih banyak pilihan. Pembangunan manusia lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak anti terhadap pertumbuhan. Dalam perspektif pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi bukanlah tujua akhir. Pertumbuhan ekonomi adalah alat untuk mencapai tujuan akhir, yaitu memperluas pilihan-pilihan bagi manusia. Kalaupun demikian, tidak ada hubungan yang otomatis antara pertumbuhan ekonomi dengan kemajuan pembangunan manusia. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Medan menunjukkan gambaran yang menggembirakan. Pada tahun 2011, IPM Kota Medan mencapai 77,68 dibandingkan dengan 30 Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan menempati urutan 2 setelah Kota Pematang Siantar. Meningkatnya nilai IPM Kota Medan tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Medan. Dengan motto Bekerja sama dan sama-sama bekerja demi kemajuan dan kemakmuran Medan Kota Metropolitan, Pemerintah Kota Medan menggandeng berbagai pihak untuk member sumbangsih nyata bagi pembangunan kota. Hal ini, antara lain terlihat dari besarnya peranan pihak swasta di dalam penyediaan fasilitas pendidikan dasar (SD sebesar 434 unit dari 816 unit), pendididkan menengah

Universitas Sumatera Utara

pertama (303 unit dari 348 unit) dan pendidikan menengah atas ( 310 unit dari 344 unit). (Sumber: Medan Dalam Angka 2012). 4.2 Gambaran Etnik Batak Toba di Kota Medan Hubungan kekerabatan dalam masyarakat kota Medan masih sangat baik, dimana dari hasil pengamatan juga bahwa setiap etnis-etnis/ suku-suku, marga masih mempunyai berupa persekutuan atau kumpulan yang dapat meningkatkan kekerabatan dan juga dapat meningkatkan kekerabatan keluarga tersebut. Perkumpulan marga juga dapat mendorong meningkatkan kekerabatan dan juga dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Seperti halnya dengan Dalihan Na Tolu bagi suku Batak Toba yang berfungsi member keseimbangan dalam kekerabatan. Dalihan Na Tolu ini juga mempunya beberapa fungsi bagi masyarakat Batak Toba. Pertama, Dalihan Na Tolu berfungsi sebagai suatu pengimbang sosial dalam Masyarakat batak Toba ialah Kepatuhan penerima isteri kepada pemberi isteri adalah kepatuhan religious, yang tentu saja mempunyai pengaruh untuk kehidupan mereka seharihari. Pihak pertama isteri member hormat (somba) kepada pemberi isteri. Sebaliknya pihak pemberi isteri menyayangi (elek) kepada pihak penerima isteri. Tetapi status dan prestasi pribadi tidak berfungsi dalam ritus. Kedudukan sebagai pegawai atau kekayaan tidak mengubah posisi seseorang dari pemberi isteri menjadi penerima isteri atau sebaliknya. Pemberian dan pihak pemberi isteri kepada pihak penerimaan isteri dan sebaliknya bukan hanya materi ulos dan piso sendiri. Ulos ini bisa berarti sebidang tanah, yang disebut ulos na so ra buruk, ulos yang tidak pernah using, Dan piso pada waktu sekarang ini tidak diberi lagi sebagai pisau material tetapi dalam bentuk barang berharga seperti emas, uang atau beras. Karena itu tidak salah apabila Ossenbruggen mengatakan bahwa apa saja yang diberikan pemberi isteri kepada penerima isteri adalah ulos. Dan segala pemberian penerima isteri kepada pemberi isteri adalah piso. Dengan demikian jelas juga unsur magis-ekonomis dari kekerabatan orang Batak toba. Moral ekonomi affinitas dalihan na tolu ialah kewajiban

Universitas Sumatera Utara

untuk saling menolong, take and give, antara hulahula dan boru, dan juga antara dongan sabutuha, teman semarga. Selain fungsi keturunan dan ekonomi, dalihan na tolu mempunyai fungsi sosial politik. Pada bagian marga sudah dikatakan bahwa marga dan tanah adalah satu. Marga raja adalah pemilik tanah sebab merekalah yang pertama membuka daerah itu. Hal ini tidak berarti bahwa hanya marga tersebutlah yang tinggal berdiam di sana. Ada kalanya bahwa marga tersebut tinggal bersama dengan penerima isteri marga tersebut di dalam satu daerah. Dalam sistem pemerintahan Batak toba, marga raja bersama dengan pihak pemberi isteri dari marga raja tersebut bersama-sama membentuk pemerintahan dalihan na tolu, yang disebut panungganei (kaum tua-tua). Panungganei ini adalah badan legislatif dan yudikatif. Panungganei membuat aturan dan memutuskan kebijaksanaan dalam hidup bermasyarakat di huta. Kemudian badan eksekutif ialah dari marga raja, yang dipimpin oleh raja huta ( kepala dalam huta). Raja huta melaksanakan aturan bersama, yaitu mengatur ketertiban huta. Raja huta dibantu oleh raja adat, yaitu orang yang pandai dalam adat. Raja adat ini perlu untuk memberi nasehat kepada marga raja sebab raja adatlah yang lebih tahu tentang penyesuaian adat dengan perkembangan jaman. Raja adat boleh dari marga raja atau dari marga lain. Orang pendatang yang tidak termasuk anggota dalihan na tolu, yang disebut paisolat (penumpang) boleh memberi suara pada rapat paripurna ( rapot godang). Religi Batak Toba juga merupakan ekspresi simbolis dari dalihan na tolu, organisasi sosial. Dalam setiap ritus, susunan agnatis dan affinitas diungkapkan dalam banyak rangkaian symbol; dalam cara berbicara (mandok hata), lamanya bicara, tempat duduk, luasnya ruang fisik yang diduduki, siapa yang member dan menerima ulos atau piso, bagaimana urutan member dan menerima ulos atau piso tersebut. Di luar ritus, susunan genealogis menentukan juga berapa luas lading yang diwarisi seseorang; siapa yang menjadi raja huta dan siapa yang menjalankan politik pemerintahan dalam huta, horja dan bius.

Universitas Sumatera Utara

Dalam pelaksanaaan ritus, orang yang mempunyai kuasa lebih besar mempunyai peranan lebih penting dan mengambil waktu dalam ritus lebih banyak. Dalam ritus orang Batak Toba tersebut jelas diungkapkan teori pemahaman dari Durkheim dan Levi Strauss tentang religiositas organisasi sosialnya. Aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat Etnis Batak Toba di kota Medan mulai aktif dari subuh. Kegiatan ekonomi yang banyak dilakukan oleh masyrakat Batak toba di kota Medan adalah berjualan di pasar pagi. Banyak kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakan Batak Toba demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Salah satunya ialah berjualan di pasar pagi. Kebanyak yang menekuni kegiatan ekonomi di pasar ini adalah para ibu-ibu atau disebut para inang-inang parengge-rengge. Mereka mulai melakukan aktivitas keluar rumah pukul 2 pagi, kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah berbelanja barang-barang yangnantinya akan mereka jual di pasar, lalu setelah berbelanja barang-barang tersebut mereka menyiapkan lapak atau tempat mereka berjualan di pasar pagi tersebut. Para ibu-ibu ini berjualan sampai sekitar pukul 11 pagi. Ada juga sebagian dari mereka berjualan sampai sore hari, Karena masih banyak barang dagangannya yang belum habis terjual. Tidak jauh beda dengan bapak-bapak yang bekerja sebagai supir angkot. Di Medan, kebanyakan bapak-bapak yang berprofesi sebagai supir angkot adalah berasal dari etnis batak toba. Para bapak-bapak ini juga melakukan aktifitasnya dari pagi hari sekitar pukul 4 pagi keluar dari rumah untuk mencari sewa. Aktifitas seperti ini setiap hari mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dan di pagi hari sewa atau penumpang mereka adalah para inang-inang parengge-rengge yang berjualan di pasar pagi, sedangkan untuk siang harinya mereka membawa penumpang anak-anak yang pergi ke sekolah dan orangorang yang berangkat ke kantor. Selain itu, para bapak-bapak ini juga mencari sewa ke arah terminal amplas, dan juga kea rah pajak-pajak. Tidak kalah juga dengan para bapak-bapak

Universitas Sumatera Utara

tukang becak, sebagian bapak-bapak ini hampir 24 jam standby menunggu sewa. Mereka siap sedia mengantarkan sewa kapan dan kemanapun. Kehidupan sosial masyarakat kota Medan juga dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang tinggal di pinggiran rel atau di kolong jembatan atau juga di pinggiranpinggiran sungai. Banyak juga yang mengais rejeki dengan mencari barang-barang bekas, dalam mencari barang-barang bekas mereka tidak memandang umur, baik itu anak, ibu, bapak mereka bersama-sama mencari barang-barang bekas. Merek sudah mulai sejak subuh ke tempat sampah, dan pada siang hari sebagian dari mereka mengamen di persimpangan lampu merah. Dari hasil pengamatan penulis, di Kota Medan sangat banyak orang yang mengamen. Mereka terdiri dari ayah, ibu atau anak-anak mereka. Yang khas untuk kota Medan ialah bahwa kota ini mempunyai kultural plural tanpa kultur dominan. Kelompok suku-suku besar yang tinggal di sini adalah orang Melayu, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Toba, Batak Mandailing, Jawa, Minangkabau dan Cina. Pembatas sosial utama di Medan adalah etnis. Setiap orang berbicara dalam bahasa kelompok etnisnya. Setiap kelompok etnis memperkuat identitas mereka dengan mempertahankan tradisi sendiri. Orang Batak Toba, misalnya membuatnya dengan menarik diri sebanyak mungkin dari kegiatan bukan-Batak Toba, dan berpartisipasi penuh dalam kelompok sendiri dengan saling tolong- menolong dengan baik diantara tetangga Batak toba maupun perkumpulan marga Batak Toba di seluruh kota. Mereka aktif dalam kegiatan Gereja etnis Batak Toba di Medan, dan menghadiri sebanyak mungkin ritus adat Batak Toba dimana menurut aturan adat mereka berhak berpartisipasi karena hubungan kekeluargaan. Bentuk kehidupan masyarakat yang demikian menciptakan situasi kota yang kompetitif. Relasi diantara anggota kelompok etnis yang berbeda cenderung menjadi tegang, tidak saling percaya, dan relasi berdasarkan

Universitas Sumatera Utara

stereotip etnis. Kompetisi seperti ini terjadi misalnya dalam bisnis kolega sekantor yang bersaing untuk promosi. Menurut Bruner (1961,1973). Orang Batak Toba di medan tidak berasimilasi dengan kultur dan masyarakat kota tetapi tetap memelihara hubungan yang sangat erat dengan family mereka di kampong. Dia memberi beberapa alasan untuk itu. Pertama, dilihat dari segi struktural, komunitas-komunitas Batak Toba di kampong dan kota adalah bagian dari satu sistem sosial dan seremonial. Batak kampong dan urban dihubungkan melalui suatu network komunikasi yang kompleks dimana barang-barang dan pengetahuan baru mengalir dari kota ke kampung, sementara dukungan moral adat mengalir dari arah sebaliknya. Akar dari Batak toba urban ditemukan dalam masyarakat kampung. Ketika seorang Batak Urban melaksanakan suatu ritus peralihan (rite de passage) penting, entah dia kembali ke kampung atau anggota family datang ke Medan. Kelompok yang sama dari family dekat akan menghadiri seremoni itu di mana pun hal itu dilaksanakan. Ritus adat di kota tidak boleh terlalu banyak berbeda dengan yang dilaksanakan di dataran tinggi. Sebelum seremoni, orang dewasa laki-laki dari garis keturunan mengadakan pertemuan untuk memutuskan tentang rincian prosedur yang harus diikuti. Jika anggota keturunan urban mengusulkan terlalu banyak pemotongan, family dari kampung akan berteriak dan mengancam dengan menghentakkan kaki hingga memenuhi apa yang ditentukan oleh adat. Dalam konteks interaksi antara orang kampung dan urban, pertimbangan kekayaan dan posisi sosial kurang penting dibandingkan dengan kelahiran dan tingkat generasi. Pada seremoni adat, Batak kota yang terpelajar akan memperlihatkan hormat yang besar kepada family dari kampung yang mempunyai posisi adat lebih tinggi dalam struktur kekeluargaan. Kedua, jarak antara Medan dengan pedalaman Batak tidak terlalu jauh. Orang kampung yang merayakan ritus adat di kota pulang kembali ke kampung halamannya pada hari yang sama. Lancarnya hubungan kampung-kota mengakibatkan semakin banyak orang

Universitas Sumatera Utara

kampung bepergian ke Medan. Orang Batak urban lebih banyak berhubungan dengan familinya di kampung daripada non-Batak di Medan. Ketiga, komunitas urban makin besar karena arus migrant dari kampung semakin banyak. Mereka datang ke kota secara individu atau kelompok untuk tinggal tetap, melanjutkan sekolah, atau hanya berkunjung. Mereka selalu disambut dan tinggal bersama family urban mereka, Adalah suatu standar prosedur untuk seorang anak laki-laki dari kampung yang sedang mencari pekerjaan di Medan pergi langsung kepada keluarga atau teman semarga untuk mendapat bantuan. Banyak family Urban menolong gadis kampung, seiring saudara atau saudarinya, menampung di rumah mereka dan bekerja untuk mebantu urusan rumah tangga. Famili urban, sebaliknya, membayar untuk pendidikannya di suatu sekolah kota dan memberi uang untuk membeli pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lain. Keempat, mereka yang sudah tinggal selama dua atau tiga generasi di Medan tetap mempertahankan hak kepemilikannya akan sawah mereka dikampung. Mereka biasanya menyewakan sawah itu kepada salah seorang anggota family di kampung dan kembali untuk mengambil hasil bagi-sewa pada waktu panen, umumnya seperlima dari hasil panen. Pada saat ini dan kesempatan lain, orang Batak kampung dan kota berdiskusi bersama tentang harta atau urusan lain keluarga. Karena keanggotaan dari keturunan ditentukan oleh garis keturunan dan bukan tempat tinggal maka Batak urban tidak pernah kehilangan kesatuan garis keturunan dan kampung mereka, dan mereka tidak melepaskan hak milik mereka ( Bruner 1961:516). Kelima, perkawinan antara Batak toba kampung dengan kota sering terjadi, sebagai konsekuensi dari seringnya interaksi di antara mereka. Jarang terjadi bahwa laki-laki buta huruf kampung menikah dengan wanita terpelajar dari kota, tetapi sekarang - dan bahkan sering terjadi di masa lalu seorang laki-laki kota akan menikah dengan wanita kampung di bawah tingkat pendidikannya. Seringnya perkawinan antara orang kota dengan kampung

Universitas Sumatera Utara

menciptakan ikatan perkawinan yang baru dan cenderung mengaburkan perbedaan diantara komunitas Batak urban dan kampung yang masing-masing mempunyai ciri-ciri sosial yang berbeda.

4.3 Profil Informan 4.3.1 Informan Kunci ( Anak (Remaja) korban perceraian orang tua) Dalam penelitian ini terdapat informan untuk mengetahui banyak hal yang ingin diungkapkan dalam penelitian ini. Para informan ini mempunyai pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam memberi penjelasan tentang perceraian orang tua dan akibatnya terhadap pendidikan anak. Nama Umur Suku Alamat : Anggiat Saut Hutabarat : 17 Tahun : Batak Toba : Jalan Marindal 2 no 23 A

Pendidikan Terakhir : SMP

Anggiat adalah seorang anak berumur 17 tahun yang sudah tidak bersekolah lagi. Dia putus sekolah sejak duduk di bangku SMP. Hal ini disebabkan karena kedua orang tuanya yang bercerai sewaktu ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Ayahnya menikah laki dengan perempuan lain. Sedangkan ia yang tinggal bersama ibunya yang hanya bekerja sebagai

Universitas Sumatera Utara

tukang sapu jalan. Sebagai perempuan batak awalnya ibu anggiat sangat optimis untuk menyekolahkan Anggiat paling tidak sampai Tamat SMA, tapi ternyata pencaharian sebagai tukang sapu jalan tidak lah mencukupi biaya untuk sekolah anggiat. Jangankan untuk biaya sekolah anggiat, biaya untuk kehidupan sehari-hari saja sudah sangat terbatas dengan membiayai juga 3 adik anggiat. Ayah Anggiat sudah tidak peduli dengan keluarga yang ditinggalkannya terasuk juga membiayai pendidikan Anggiat dan 3 adiknya. Untuk itu mau tidak mau Anggiat hanya bisa menyelesaikan pendidikan nya sampai di tingkat SMP saja. Karena anggiat kasihan melihat ibunya yang bekerja sendiran untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, Anggiat mempunyai inisiatif untuk bekerja di luar rumah. Dia bekerja sebagai pengantar Galon minuman dari ke rumah. Penghasilannya sekitar Rp 30.000 per harinya. Hal ini diutarakan dalam wawancara berikut : Awalnya aku cuma main-main aja dengan teman-teman di depan tempat penjualan air mineral dimana teman saya juga bekerja di situ, kebetulan sekali pemilik usaha air minum tersebut sedang mencari anggota untuk mengantarkan air, dengan tidak banyak pikir saya langsung menerima pekerjaan itu karena terlintas dipikiran saya ibu saya yang bekerja dengan susah payah tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga kami,untuk itu semoga dengan pekerjaan ini saya bisa membantu sedikit beban ibu saya. Sebenarnya aku mau kali melanjutkan sekolah lagi kak, apalagi waktu aku lihat pagipagi itu kawan-kawan ku pergi sekolah, sedih sebenarnya lihat nya kak, cemburu, itulah yang ada di dalam hati ku waktu lihat anak SMA kak. Tapi apa lagi mau dibilang, lebih baik lah sekarang aku kerja untuk membatu ibu ku untuk membiayai kebutuhan hidup kami. (Hasil wawancara dengan informan Anggiat Saut Hutabarat, 2012)

Nama

: Imelda Oktavia Siringo-ringo

Universitas Sumatera Utara

Usia Suku Alamat Pendidikan

: 14 Tahun : Batak Toba : Jln Jermal 4 no.23. Medan : SMP

Imelda adalah seorang remaja yang duduk di bangku SMP. Melda nama panggilannya, tinggal bersama Ibu dan seorang adiknya yang duduk di bangku SD. Melda termasuk seorang anak yang beruntung diantara teman lainnya. Mengapa beruntung, karena melda hidup di dalam keluarga yang sebenarnya tidak utuh lagi karena kedua orang tuanya sudah berpisah atau bercerai sejak ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Ayahnya pergi meninggalkan mereka dan menikah lagi dengan perempuan lain. Melda beruntung punya seorang ibu berdarah batak yang mau tetap memperjuangkan anak-anaknya dan bekerja keras demi menyekolahkan Melda dan adiknya. Ibu Melda berjualan sayur-sayuran di pasar pagi sambu, dengan hasil jualannya itu lah sang Ibu membiayai kebutuhan sehari-hari mereka dan biaya sekolah Melda dan adiknya. Berikut Hasil wawancara: Aku beruntung punya Ibu yang sangat menyayangi kami kak, berjuang keras untuk membiayai kebutuhan kami. Walaupun gak ada sosok bapak di keluarga kami, tapi kami tetap bahagia karna kami masih punya ibu di tengah-tengah kami, tapi terkadang rindu juga sama bapak kak, iri juga sama teman-teman yang bisa tinggal sama bapaknya, bisa bermanja-manjsa sama bapaknya, ada bapaknya yang nyuruh dia belajar. ( hasil wawancara informan pada Desember 2012)

Nama Usia Alamat

: Ernaliza Sinaga : 18 Tahun : Jln Palem II no 20, Perumnas Helvetia

Pendidikan Terakhir : Kelas 5 SD

Universitas Sumatera Utara

Ernaliza Sinaga adalah warga Perumnas Helvetia di jalan Palem. Erna berumur 18 Tahun yang sudah putus sekolah sejak kelas 5 SD. Erna putus sekolah karna dia merasa sudah kurang mendapatkan motivasi di dalam dirinya untuk bersekolah, hal itu disebabkan karena Kedua orang tuanya yang bercerai sejak ia masih duduk dibangku sekolah dasar. Perhatian kepadanya pun sudah mulai berkurang, karena itulah ia kurang termotivasi untuk bersekolah lagi. Selain karena kurangnya motivasi bersekolah dalam dirinya, Faktor ekonomi keluarganya juga memaksa Erna untuk putus sekolah. Ibu Erna yang bekerja hanya sebagai buruh cuci ke rumah-rumah tetangga dengan penghasilan 20 ribu perharinya jelas tidak bisa lagi membiayai sekolah Erna, walaupun dia seorang anak tunggaal.. Belum lagi ibunya harus menyisihkan biaya sewa rumah mereka setiap tahunnya. Berikut hasil wawancara: Sebenarnya masih mau nya aku sekolah kak, tapi lama-kelamaan setelah mamak dan bapak pisah, jadi gak ada lagi semngat ku belajar, perhatian mereka pun jadi berkurang dengan ku, lain lagi karena bapak yang udah ninggalin kami, tapi biar lah kak, dengan gak sekolah lagi aku, jadi ngurangi beban mamak aku,biar bisa juga aku bantu2 mamak kerja,bantu-bantu nyuci kain tetangga. (hasil wawancara Desember 2012)

Nama Usia Suku Alamat Pendidikan

: Evi Matusiskha Sitompul : 14 Tahun : Batak Toba : Jalan Williem Iskandar/ Pancing No.219 A Medan : SMP

Evi adalah seorang remaja yang tinggal di jalan Pancing. Sampai sekarang ia masih bersekolah di salah satu SMP Negeri di Medan. Evi hidup di tengah keluarga yang broken

Universitas Sumatera Utara

home. Ia tinggal bersama 1 orang kakak laki-laki nya dan 1 orang adik perempuannya. Ayah dan ibu evi sudah lama bercerai dan Ibu mereka meninggalkan mereka sewaktu Evi berumur 10 Tahun. Mereka hanya merasakan kasih sayang seorang ayah tanpa meraskan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu, padahal sosok seorang ibu lah yang dibutuhkan Evi semasa pertumbuhan nya sebagai anak perempuan. Dia sering merindukan sosok seorang Ibu di samping nya, bahkan Ibunya juga menjadi motivasi belajar untuknya, karena ayahnya yang bekerja sebagai Supir angkot yang sampai malam hari baru pulang ke rumah sehingga perhatian untuk Evi dan saudara-saudaranya sangat terbatas, terutama perhatian di dalam pendidikan mereka. Berikut hasil wawancara: Kadang kurang semangat belajar di sekolah kak, kadang terlintas dipikran ku kak, gak ada gunanya aku sekolah, karena perhatian untuk sekolah ku pun gak ada dari bapak apalagi dari ibu yang udah ninggalin kami. Bapak pulang kerja udah capek dan pasti langsung tidur. Kami memang benar-benar anak yang kurang perhatian kak. Aku pun sebenarnya udah gak mau sekolah lagi kak, tapi aku mikirkan adek yang di bawah ku,kalau dia lihat aku gak sekolah, aku takut dia niru aku kak, padahal bapak udah susah payah mencari nafkah untuk biaya makan dan biaya sekolah kami.

Nama Usia Suku Alamat

: Todo Naek Panggabean : 18 tahun : Batak Toba : Jl. Jamin Ginting Simpang Kuala Medan

Pendidikan Terakhir : 3 SMP

Universitas Sumatera Utara

Todo adalah seorang remaja yang tinggal di jalan Jamin Ginting Simpang Kuala Medan. Todo merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Ayah dan Ibu Todo bercerai sejak setahun ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Ayah nya pergi meninggalkan mereka dan menikah dengan perempuan lain, dan ia tinggal bersama ibu nya yang bekerja di pasar pagi Sambu dan ketiga adiknya yang duduk di bangku SMP dan SD. Todo sempat bersekolah sampai setahun setelah perceraian orang tuanya. Ibunya sudah tidak sanggup lagi membiayai uang sekolah Todo karena untuk membiayai kebutuhan hidup mereka sehari-hari saja juga pas-pas an. Untuk itu Todo kasihan melihat Ibu nya yang bekerja sendiri untuk memenuhi nafkah keluarga mereka, dan ia bertanggung jawab sebagai anak laki-laki paling besar di keluarganya, dia harus bertanggung jawab juga dengan keluarganya. Karena itu Todo memutuskan untuk bekerja membantu ibunya berjualan di pasar. Itu juga dilakukan Todo supaya ketiga adiknya bisa bersekolah supaya tidak sama dengan dirinya yang tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya. Berikut hasil wawancara : Aku gak sekolah lagi sejak setahun setelah mamak dan bapak bercerai kak, mamak udah gak sanggup lagi membiayai uang sekolah ku. Udah lah aku pun pasrah lah untuk gak sekolah lagi. Sejak itu lah mulai aku bantu-bantu mamak berjualan di pasar biar bisa juga adek-adek ku ini sekolah kak, biar gak malu orang itu sama teman-temannya nanti. Biar lah Cuma aku yang gak sekolah dikeluarga kami ini. Selain itu biar bisa juga ku bantu mamak untuk membiayai kebutuhan hidup kami kak, karna kasihan aku lihat mamak jualan sendiri setiap hari gak ada yang batu. Malu juga sih kadang aku kak sama teman-teman ku yang sekolah, tapi apa lagi mau ku bilang udah ini nasib yang datang sama ku. Nama Usia Suku : Penus Pasaribu : 16 Tahun : Batak Toba

Universitas Sumatera Utara

Alamat Pendidikan

: Jalan Garuda 3 Mandala : SMA

Penus Pasaribu adalah seorang remaja yang tinggal di Jalan Garuda 3 Mandala. Ia tinggal bersama ibu nya, karena orang tuanya yang sudah bercerai sejak ia duduk di bangku SMP. Ayah nya meinggalkan mereka begitu saja. Penus merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ia bersekolah di SMA swasta yang tidak jauh dari rumahnya. Ia mengaku tidak betah inggal di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar dengan temantemannya. Hal ini ia lakukan karena kurang nya perhatian dari ibu kepadanya. Ibu Penus bekerja sebagai Wiraswasta, yang kebanyakan bekerja dan menghabiskan waktu di luar rumah. Penus mengaku sangat bosan dengan kegiatan dan rutinitasnya di sekolah, karena sama sekali tidak ada dukungan dari Ibunya untuk memberikan semangat untuk belajar kepada Penus. Berikut Hasil wawancara: Kayak nya gak ada gunanya aku sekolah kak, sekolah pun aku gak pernah ada di Tanyatanya nilai ku, dimana aku di sekolah,apa ada masalah atau gak, sama sekali gak peduli, yang mamak peduli apakah aku udah bayar uang sekolah ku atau belum, seolah-olah hanya itu aja kewajibannya yang harus dia penuhi. Padahal bukan itu aja yang kubutuhkan kak, pengen kali sebenarnya aku diperhatikan sama mamak ku kayak teman-teman ku yang lain, di Tanya bagaimana aku di sekolah tadi, gimana nilai-nilai ku, jadi kayak asal sekolah aja lah aku jadinya kak. Makanya itu pulang sekolah lebih enak rasanya aku ngumpul-ngumpul sama teman-teman ku buang suntuk dari pada di rumah. Profil Informan

Nama Usia Suku

: Hotman Sianipar : 17 Tahun : Batak Toba

Universitas Sumatera Utara

Alamat

: Jalan Gunung Martimbang No10 Gelugur darat Kota Medan

Pendidikan Terakhir : SD

Hotman adalah seorang remaja yang tinggal di jalan Gunung Martimbang, Gelugur. Dia dan satu orang adiknya tinggal bersama ibunya saja. Ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak Hotman duduk di bangku SD karena bercerai dengan ibunya. Ibu Hotman bekerja di rumah saja, yaitu membuka warung kecil di samping rumahnya. Kebutuhan hidup mereka hanya tergantung dari hasil penjualan di kedai itu. Oleh karena itu sebagai orang tua tunggal ibu Hotman tidak dapat lagi membiayai pendidikan Hotman, oleh sebab itu Hotman tidak bisa melanjut ke SMP, dia hanya bersekolah samapai tingkat SD saja. Berikut hasil wawancara: Aku Cuma bisa sekolah sampe SD aja kak, itu pun udah syukur ku rasa kak, mamak Cuma sendiri cari uang itu pun hanya dari hasil penjualan kede kami ini. Karna itu kak gak mau aku menyusahkan mamak lagi, biarlah aku Cuma tamatan SD dan sekarang aku bantu mamak di rumah jaga kede kami ini kak manatau dari sini nanti adekku bisa sekolah biar dia gak kayak aku lagi.

Nama Usia Suku Alamat

: Roganda Sidabutar : 18 Tahun : Batak Toba : Jalan Negara no 6.Wahidin, Medan.

Pendidikan Terakhir : SMP

Roganda adalah seorang remaja yang tinggal di jalan Negara, Wahidin. Roganda tinggal bersama Ayahnya saja karena Ayah dan Ibu nya sudah bercerai. Ibunya pergi

Universitas Sumatera Utara

meninggalkan mereka dengan membawa seorang adiknya. Ayah Roganda sakit-sakitan dan hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Roganda hanya bisa menikmati dunia pendidikan sampai SMP saja, Ayah Roganda sudah mulai tidak aktif bekerja karena sakit oleh sebab itulah Roganda tidak bisa melanjutkan sekola nya lagi karena tidak ayahnya tidak mampu lagi membiayai sekolah Roganda. Selain itu setelah bercerai dari ibunya, Ayah Hotman kurang memperhatikan lagi pendidikan Roganda, bagaimana Roganda di sekolah, perkembangan nilai-nilai Roganda di sekolah. Karena itulah ia berinisiatif sendiri untuk tidak bersekolah lagi dan mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Tujuannya ialah supaya ia dapat membantu ayahnya untuk memenuhi kehidupan mereka. Sampai sekarang Roganda bekerja sebagai pekerja di toko yang ada di Aksara tidak jauh dari rumahnya. Roganda bekerja sebagai mengangkat barang-barang dari mobil ke toko tersebut.

Berikut hasil wawancara: Beginilah keadaan yang aku dapat kak, mama sama bapak bercerai, dan aku ditinggalkan sama bapak. Bapak gak bisa lagi memenuhi kebutuhan kami dan biaya sekolah ku, udah gitu gak perduli lagi bapak sama sekolah ku, jadi kurasa kayaknya gak penting lagi aku sekolah, udah gak ada lagi motivasi ku yang sekolah itu kak. Lebih baik langsung kerja ajalah aku biar bisa bantu bapak memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari, karena bapak pun udah sakit-sakitan sekarang. Aku kerja di toko di jalan aksara ininya kak, ngangkat-ngangkat barang-barang yang masuk dari mobil ke toko itu. Lumayan berat-berat lah barang-barang yang ku angkat itu, tapi memang itulah pekerjaaan yang sesuai untukku yang cumata tamat SMP ini kak .

Nama

: Kartini Sihombing

Universitas Sumatera Utara

Usia Suku Alamat

: 16 Tahun : Batak Toba : Jalan Menteng Raya no 2, Medan

Pendidikan Terakhir : SMP Kartini Sihombing adalah remaja yang tinggal di jalan Menteng raya. Ia tinggal hanya bersama Ibunya. Ayah dan Ibunya sudah bercerai. Ibunya berjualan di pasar pagi Sambu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tini yang biasa nama panggilannya di rumah mulai tidak bersekolah lagi sejak tamat SMP. Ia mulai tidak bersekolah karena ia merasa kurangnya motivasi dan dukungan dari ibunya untuk sekolahnya. Untuk itu Tini memutuskan untuk tidak sekolah dan ikut membantu ibunya berjualan di pasar. Berikut hasil wawancara: Aku lebih baik berjualan dengan mamak kayaknya kak, karena sekolah pun aku gak pernahnya ada perhatian mamamk ke sekolah ku, kayak mana sekolah ku, nilai-nilai ku. Aku pun sadarnya kak, kayak gitu mamak karena mama sibuk jualan di pasar untuk memenuhi kebutuhan kami. Tapi sekarang kurasa gak ada lagi gunanya sekolah kak, lebih baik bantu mamak jualan dan dapat uang.

Nama Usia Suku Alamat

: Desmawaty Natalya Sihotang : 16 Tahun : Batak Toba : Jalan Marelan 3 no 24, Medan Marelan

Pendidikan Terakhir : SD Desma adalah seorang remaja yang tinggal di jalan Marelan. Desma tinggal bersama neneknya. Ayah dan Ibu nya sudah bercerai dan masing-masing sudah menikah kembali dan meninggalkan Desma di rumah nenek dari Ibunya ini. Desma tidak bersekolah lagi sejak dia

Universitas Sumatera Utara

SD karena dia merasa sekolah itu tidak penting lagi karena kurangnya motivasi dari orangorang sekitarnyadan juga karena melihat keadaan neneknya yang sudah tidak mampu lagi bekerja untuk memenuhi kebuthan hidup mereka. Sejak kecil desma sudah bekerja sebagai pesuruh di salah satu rumah makan, ia bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan tersebut. Dan sekarang Desma bekerja sebagai SPG di Ramayana Aksara. Berikut hasil wawancara: Aku bekerja dari kecil itu juga karena opung kak, aku kasihan lihat opung kak, udah tua tapi harus menanggung aku lagi. Karena itu lah aku lebih baik kerja aja daripada sekolah. Nyesal juga sih sebenarnya kak gak sekolah ini kalau aku lihat kawan-kawan seumuran ku dijalan yang pake seragam sekolah sedangkan aku udah harus kerja. Tapi mau kek mana lagi kak, pentingnya sekolah pun aku gak tau kak, gak ada yang kasih motivasi sama ku pentingnya sekolah itu. Opung pun gak pernah kasih motivasi tentang sekolah dulu, tapi aku maklum aja lah kak, karena opung sudah tua, jadi udah gak kepikiran lagi soal itu.

4.3.2 Profil Informan Biasa (Orang tua Remaja dan Masyarakat sekitar) Nama Usia Status Suku Alamat Pekerjaan : Rotua br. Nababan : 52 tahun : Janda : Batak Toba : Jln Palem II no 20, Perumnas Helvetia : Buruh cuci

Ibu Rotua adalah ibu dari Ernaliza yang bertempat tinggal di Jalan Palem II no. 20, Perumnas Helvetia. Ibu Rotua bekerja sebagai buruh cuci yang hajinya dibayar 20 ribu per

Universitas Sumatera Utara

harinya. Ibu Rotua membiayai kehidupan keluarganya seorang diri saja karena Ibu Rotua sudah bercerai dari suami nya sejak Erna masih kecil, ia harus menanggung semua beban biaya di dalam keluarganya,belum lagi ia harus membayar uang sewa rumah setiap tahunnya. Perceraian terjadi di rumah tangga Ibu Rotua ialah karena Ayah Erna yang tidak bekerja tapi kerjanya hanya mabuk-mabukan saja di kedai tuak, karena itu lah Ibu Rotua tidak bisa bertahan hidup dengan suaminya yang seperti itu, yang tidak bertanggung jawab denga keluarganya. Ibu Rotua sebenarnya tidak mengingikan kalau Erna menjadi putus sekolah akibat dari perceraiannya dengan suaminya, selain itu keadaan ekonomi juga memaksa Erna untuk tidak bisa bersekolah lagi, walaupun Ibu Rotua berjuang untuk menyekolahkan Erna, tetapi tetap saja gajinya yang hanya 20 ribu perharinya tidak mencukupi untuk membiayai sekolah Erna. Untuk itu Erna diminta Ibu Rotua untuk membantunya bekerja sebagai buruh cuci. Menurut Ibu Rotua, pendidikan memang sangat penting apalagi di kalangan Batak toba, dan dia sebenarnya ingin sekali menyekolahkan Erna seperti teman-temannya yang lain, tetapi keinginan itu harus tertutup rapat-rapat karena faktor ekonomi yang tidak mencukupi. Namun walupun seperti itu interaksi Erna dan Ibu Rotua masih cukup baik, itu juga karena mereka sering bertemu dalam 1 pekerjaan dan Ibu Rotua juga sering menasehati Putri sematawayang nya itu. Ibu Rotua tidak lepas juga dari sindiran orang-orang karena anaknya yang tidak bersekolah lagi, tetapi Ibu Rotua tidak memperdulikan itu semua karena masih banya juga anak-anak di daerah Palem tersebut yang tidak bersekolah lagi akibat keterbatasan ekonomi akibat adanya perceraian orang tua mereka.

Universitas Sumatera Utara

Nama Usia Status Suku Alamat Pekerjaan

: Heny Tambunan : 55 tahun : Janda : Batak Toba : Jalan Garuda 3 Mandala : Wiraswasta

Ibu Heny Tambunan adalah Ibu dari Penus Pasaribu yang bekerja sebagai Wiraswasta yang tinggal di daerah Garuda 3, mandala. Ibu heny bekerja banting tulang sendiri karena suami nya yang pergi meinggalkan dia dan anak-anaknya setelah perceraian. Perceraian yang diakibatkan karena kurangnya komunikasi diantara mereka menyebabkan kurangnya perhatian kepada tiga orang anaknya, terutama perhatian pada pendidikan anak-anaknya. Sebagai perempuan Batak, Ibu Heny memandang perlunya pendidikan untuk anak-anak nya dan Ibu ini berusaha untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan anak-anaknya terutama biaya pendidikannya. Tapi Ibu heny mengaku kalau perhatiannya sudah sangat berkurang pada anak-anaknya, terutama motivasi pada anak-anaknya dalam pendidikan, terutama dalam belajar di rumah ataupun di sekolah karena tersitanya waktu Ibu Heny untuk bekerja seharian di luar rumah. Hal ini berimbas pada anak keduanya yaitu Penus Pasaribu yang duduk dibangku SMA kelas dua. Sikap Penus yang menjadi sosok anak yang melawan orang tuanya diakibatkan pergaulannya dengan teman-teman sebayanya di luar rumah yang pendidikannya tidak jelas. Oleh karena itu interaksi anatara Penus dan ibunya sangat kurang baik diakibatkan kesibukan Ibu Heny dan sikap cuek penus dengan keluarga karena kurangnya perhatian Ibunya kepadanya. Ibunya sering mendapat sindiran dari masyarakat lain karena kelakuan

Universitas Sumatera Utara

Penus di luar rmah seperti anak Berandalan, tapi Ibu heny tetap saja tidak perduli dengan cibiran masyarakat tersebut, karena dia beranggapan dia sudah berusaha untuk keluarga dan anak-anaknya dengan membiayai kebutuhan hidup dan sekolahnya tanpa peduli dengan perhatiannya yang kurang kepada anak-anaknya tersebut.

Nama Usia Status Suku Alamat Pekerjaan

: Pak Dohardo Marudut Harianja : 50 tahun : Duda : Batak Toba : Jalan Selam II no.21 A : Tukang Becak

Pak Dohardo Marudut Harianja adalah seorang Bapak yang tinggal bersama kedua anaknya karena dia dan anak-anaknya ditinggal oleh isterinya Ibu Kartini Sihombing yang bekerja sebagai guru, tetapi ia meninggalkan keluarganya dan menikah lagi dengan laki-laki lain karena Pak Dohardo yang dianggap tidak mampu mencukupi biaya hidupnya. Pak Dohardo memiliki anak yang mengalami putus sekolah akibat tidak adanya biaya untuk pendidikannya. Setelah ditinggal pergi oleh isterinya, Pak Dohardo hanya bekerja sebagai tukang becak, untuk itu puteri dari Pak Dohardo memutuskan untuk putus sekolah dan kini bekerja sebagai SPG di salah satu mall di Medan karena ingin membantu ayahnya dan supaya bisa menyekolahkan adiknya supaya tidak sama dengan dia.

Nama Usia Status Suku

: Pak D. Manullang : 48 tahun : Sudah menikah : Batak Toba

Universitas Sumatera Utara

Alamat Pekerjaan

: Jalan Selam II no.21 A : Guru

Pak D. Manullang adalah seorang warga yang tinggal di Jalan Selam yang berprofesi sebagai guru. Menurut Pak Darwin pendidikan sangat lah penting bagi anak-anak apalagi sebagai tunas bangsa yang nantinya sebagai penerus bangsa ini. Sangat disayangkan apabila anak itu putus sekolah akibat perceraian yang terjadi pada kedua orang tuanya yang kemudian merembes pada faktor ekonomi yang meyebabkan tidak mampu lagi membiayi sekolah anak tersebut dan faktor kurangnya perhatian pada si anak yang menyebabkan anak tidak lagi termotivasi untuk sekolah.

4.4 Hasil Intepretasi Data 4.4.1 Makna Lembaga Perkawinan Masyarakat batak Toba Perkawinan adalah merupakan implementasi perintah Tuhan yang melembaga dalam masyarakat untuk membentu rumah tangga dalam ikatan kekeluargaan, sama konsepnya dengan pasal 1 ayat (1) undang-undnag perkawinan No.1 tahun 1974, mengatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa Perkawinan tidak saja menimbulkan hubungan hukum antara suami dan isteri akan tetapi juga menimbulkan hubungan hukum terhadap anak-anak dan harta kekayaan dalam perkawinan, karena itu keharmonisan dalam suatu keluarga harus benar-benar dipertahankan sehingga tujuan untuk membentuk keluarga yang kekal dan bahagia dapat terwujud. Perkawinan yang mengandalkan kekuatan cinta tanpa disertai oleh persiapan yang matang untuk melanjutkan proses penelusuran kehidupan akan banyak mengalami kelemahan. Jadi,

Universitas Sumatera Utara

untuk memasuki suatu perkawinan bukan hanya cinta sejati yang dibutuhkan melainkan pemikiran rasional dan dapat meletakkan dasar-dasar lebih kokoh dari suatu perkawinan, sedangkan perkawinan itu sendiri merupakan suatu proses awal dari perwujudan bentukbentuk kehidupan manusia. Perkawinan pada masyarakat Batak Toba disertai dengan berbgai ritual adat dan upacara pernikahan seperti di Gereja. Pengertian upacara adat ialah upacara yang dihadiri oleh ketiga undur Dalihan Na Tolu, yaitu dongan sabutuha, hula-hula, dan boru yang berpartisipasi dalam upacara itu. Tesis ini bertujuan mendeskripsikan tindak tutur yang digunakan pihak hulahula (pihak pemberi istri), dongan sabutula (kerabat semarga), boru (pihak penerima istri) pada saat upacara perkawinan dalam masyarakat Batak Toba, menentukan tindak tutur apa yang dominan digunakan pada saat upacara perkawinan dalam masyarakat Batak Toba, menguraikan cara tindak tutur apakah yang digunakan pada saat upacara perkawinan dalam masyarakat Batak Toba, dan menjelaskan jenis dan fungsi tindak tutur yang digunakan pada saat upacara perkawinan dalam masyarakat Batak Toba. Perkawinan bukanlah sekedar ritus untuk mengabsahkan hubungan seksual antara dua jenis manusia, tetapi hubungan yang masing-masing mempunyai peranan penting untuk menjaga keutuhan lembaga tersebut. Setiap perkawinan mempunyai tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Kebahagiaan lahir dan bathin menjadi dambaan setiap manusia. Perkawinan pada hakikatnya membentuk kerjasama kehidupan antara pria dan wanita di dalam suatu masyarakat yang di bawah suatu peraturan khusus yang diperhatikan baik oleh agama, negara maupun adat. Artinya bahwa dari peraturan tersebut bertujuan untuk mengumumkan status baru kepada orang lain sehingga suatu pasangan suami isteri dapat diterima dan diakui statusnya sebagai pasangan yang sah menurut hukum, baik agama, Negara dan adat.

Universitas Sumatera Utara

Berikut adalah hasil pernyataan informan yang ditemukan di lapangan mengenai pandangan masyarakat tentang perkawinan sebagaimana dikemukakan oleh informan D. manullang ( Lk, 48 tahun) Perkawinan menurut saya adalah suatu ikatan hubungan yang sakral atau suci yang dilakuakan antara laki-laki dan perempuan yang bertujuan untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia dan dengan tujuan untuk meneruskan keturunan Informan H. Tambunan(Pr, 55 tahun) mengemukakan juga tentang perkawinan adalah: Ikatan yang sah antara suami dan isteri dimana membentuk suatu keluarga yang harmonis dan bahagia diaman Suami bekerja memenuhi nafkah untuk keluarga dan seorang isteri berbakti kepada suami dan melaksanakan fungsi dan perannya sebagai seorang isteri dan seorang Ibu di dalam rumah tangga Secara umum dalam masyarakat dapat ditemukan beberapa pengertian perkawinan yaitu: - Perkawinan adalah ikatan lahit bathin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri. - Ikatan lahir bathin ditujukan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia, kekal dan sejahtera. - Dasar ikatan lahir bathin dan tujuan bahagia yang kekal itu berdasarkan pada KeTuhanan Yang Maha Esa. 4.4.2 Pandangan masyarakat Batak Toba terhadap Perceraian. Semakin banyaknya keluarga yang bercerai di kalangan suku Batak toba menjadikan adat dan budaya tradisional itu sudah semakin memudar. Perceraian yang pada zaman dahulu merupakan hal yang dianggap aib bagi orang Batak, sekarang sudah terjadi perubahan bahwa perceraian itu merupakan sudah hal yang biasa yang dapat dilakukan tanpa melihat adat, agama dan budaya. Seiring dengan perkembangan zaman yang dapat mempengaruhi pola hidup manusia dengan media informasi yang selau memberitakan banyak perceraian.

Universitas Sumatera Utara

Perceraian dikalangan banyak artis atau keluarga-keluarga yang diberitakan di media membawa pengaruh besar kepada masyarakat Batak toba yang menganggap perceraian itu sangat mudah untuk dilakukan. Perceraian yang dilakukan di pengadilan merupakan alternative dari sebuah keluarga dalam melakukan perceraian. Dalam suku Batak toba bahwa apabila dia mau bercerai, kalau perempuan yang minta cerai maka dia akan membayar jujur (sinamot) berlipat-lipat dari sinamot pada awalnya. Hal itu jugalah yang membuat orang bercerai di pengadilan, karena apabila bercerai secara adat akan sangat rumit dalam proses perceraiannya. Pandangan masyarakat terhadap keputusan yang diambil oleh suami atau isteri untuk bercerai adalah hal yang terlalu cepat mengambil keputusan. Apalagi perceraian dilakukan di pengadilan sebagian masyarakat tidak menerimanya. Berikut hasil wawancara saya dengan D.M. Harianja (Lk,50 Tahun) mengatakan: Menurut saya perceraian dalam masyarakat batak toba itu sangat tidak dibetulkan sebenarnya dan itu jarang sekali terjadi. Saya sama sekali tidak mendukung perceraian dalam keluarga Batak Toba, karena Perceraian itu tidak harus terjadi karena masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan Hal yang sama juga dikatakan oleh R.Nababan (Pr,52 tahun) dengan terjadinya perceraian sama saja secara tidak langsung mulai menghapus fungsi-fungsi dalihan Na Tolu di dalam masyarakat batak toba. Dan sudah semakin memudar. Karena Banyak sekali dampak-dampak yang timbul akibat perceraian, baik bagi dir sendiri maupun pada anak yang dilahirkan Perceraian sangat tidak diinginkan bagi semua kalangan masyarakat, terutama di kalangan masyarakat Batak Toba sangat jarang terjadi dan sangat berdampak bagi anak, khususnya perhatian pada anak dan pendidikan bagi masa depan anak mereka.

Universitas Sumatera Utara

4.4.3 Pendidikan bagi masyarakat Batak Toba Berkembangnya dunia pendidikan di kalangan orang Batak Toba tidak terlepas dari keberhasilan zending Jerman dan pemerintahan Belanda dalam mengembangkan dunia pendidikan. Tidak lama setelah kedatangan zending Jerman (1860), sekolah-sekolah didirikan. Baik zending Jerman maupun pemerintah Belanda membutuhkan tenaga-tenaga terdidik untuk keperluan birokrasi gereja dan jabatan-jabatan pada birokrasi pemerintah dan perusahaan-perusahaan komersial, dengan gaji dan status yang tinggi. Status sebagai pegawai sangat dihargai dalam masyarakat Batak Toba. Pendidikan adalah cangkul emas, sarana untuk keluar dari pekerjaan membosankan di sawah dan kehidupan monoton kampung. Mereka berusaha menyelesaikan sekolah dasar di kampung, kemudian melanjut ke sekolah menengah dan kalau mungkin terus ke perguruan tinggi di Kota. Karena itu ratusan ribu Batak Toba, yang Kristen dan terpelajar, keluar dari daerah asalnya dengan pemikiran bahwa di luar daerahnya mereka akan memperoleh masa depan yang paling baik. Mereka terpancar ke kampung-kampung dan kota-kota di seluruh Indonesia sebagai Pegawai. Berikut hasil wawancara saya dengan D. Manullang (Lk, 48 tahun) mengatakan : .. menurut saya pendidikan sangatlah penting bagi anak-anak kita, karena mereka lah nanti yang menjadi tunas Bangsa penerus Bangsa kita ini, apalagi bagi kalangan etnis Batak toba, mereka sebagai orang tua sangat menginginkan anak mereka lebih berhasil dari mereka, untuk itu mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah anak mereka Hal yang sama juga dikemukakan oleh H. Tambunan (Pr, 55 tahun) Pendidikan memang sangat penting bagi anak-anak, karena dengan ilmu lah mereka bisa bertahan hidup. Dan dengan ilmu yang mereka dapat dari dunia pendidikan juga dapat menaikkan derajat mereka sebagai manusia yang hidup di dunia

Universitas Sumatera Utara

Selain faktor kebutuhan zending Jerman dan pemerintahan Belanda, kemajuan pendidikan yang cukup pesat pada orang Batak toba juga didorong oleh keinginan kuat mereka untuk maju. Mereka menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk melomba ketertinggalan mereka dari orang Jawa. Ide kemajuan (Hamajuon) menjadi suatu kata kunci bagi pers Batak toba pada tahun 1920-an dan 1930 an, yang membangkitkan semangat mereka meraih masa depan yang lebih baik. Khas untuk orang batak toba ialah bahwa pendidikan bukan hanya urusan pribadi tetapi klen. Dana dikumpulkan oleh klen untuk membiayai pendididkan anak-anak yang pitar. Semua anggota klen akan bangga kalau satu dari mereka menjadi doctor atau ahli hokum atau pegawai pemerintah yang menuntut pendidikan yang baik. Dengan kata lain, pendididkan dari anggotanya menjadi bagian identitas klen. Pada awalnya pendidikan hanya untuk anak laki-laki, terutama penguasa lokal ( anak ni raja). Kemudian sekolah ini semakin meluas dan terbuka untuk umum. Namun yang masuk sekolah pada umumnya hanya laki-laki saja. Halangan utama anak perempuan untuk masuk sekolah ialah ideology gender Batak Toba. Anak perempuan harus membantu ibunya. Mereka harus menjaga adik-adiknya, memasak, mengumpulkan kayu bakar, mengambil air dan membantu di sawah. Ibu merasa sangat rugi kalau anak perempuannya pergi ke sekolah. Dan anak perempuan sudah menikah tidak lagi anggota marga. Karena itu baru pada tahun 1920-an sekolah untuk anak perempuan menjadi suatu hal yang biasa. Alasan-alasan lain mengapa anak-anak perempuan terpelajar dibutuhkan ialah pertama, pemuda-pemuda Batak Toba yang sudah terpelajar dan menjadi pegawai menginginkan isteri yang juga terpelajar. Kedua, misi Jerman membutuhkan guru agama (bibelfrau), guru sekolah dan perawat. Ketiga, pelan-pelan misionaris melihat pentingnya pendidikan untuk anak perempuan demi kemajuan dan mengangkat martabat mereka.

Universitas Sumatera Utara

Hingga hari ini keyakinan bahwa pendidikan merupakam suatu faktor penting untuk maju (upward social mobility) sangat kuat pada masyarakat Batak toba. Untuk mereka, pendidikan menjanjikan masa depan yang baik: menjadi pegawai dan terhormat dalam masyarakat. Karena itu mereka berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya.

4.4.4 Faktor yang Menyebab terjadinya Putus Sekolah pada anak korban Perceraian Orang tua
Fenomena perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Batak Toba sekarang ini tidak telepas dari perkembangan zaman yang mengarah ke masyarakat postmo, masyarakat sudah tidak lagi menjadi perkembangan yang dapat mempertahankan kebudayaannya, seperti nilainilai agama, adat dan budaya. Tetapi masyarakat sudah menjadi pengikut perkembangan zaman yang membuat memudarnya budaya tersebut. Perceraian merupakan suatu keputusan yang terlau cepat diambil dalam keluarga. Karena masyarakat Batak Toba pada masa sekarang ini sudah banyak yang mengikuti trend para selebritis yang mereka saksikan melalui media massa, yaitu banyaknya kasus perceraian yang di jumpai dikalangan artis, untuk itu mereka tidak mau tahu lagi dampak atau pengaruh dari keputusan yang mereka ambil tersebut. Menurut Penelitian saya berdasarkan hasil wawancara yang saya lakukan dengan beberapa informan saya, mereka menegaskan bahwa kurangnya motivasi mereka untuk belajar yaitu karena kurangnya perhatian yang mereka dapatkan dari orang tua mereka setelah bercerai sehingga kurangnya juga motivasi tentang pentingnya pendidikan dari orang tua kepada mereka. Hal inilah yang memicu terjadi nya anak putus sekolah di dalam keluarga yang orang tuanya bercerai.

Universitas Sumatera Utara

Berikut hasil wawancara saya dengan Penus Pasaribu ( Lk, 16 Tahun ) tentang faktor kurangnya perhatian dan motivasi belajar dari orang tua yang bercerai yang menyebabkan anak putus sekolah. aku sedih kali memang kak waktu pertama kali dengar mama dan bapak bercerai. Gak semangat lagi mau ngapa-ngapain. Apalagi setelah mereka berpisah, tidak tinggal satu rumah lagi, kebetulan aku lebih memilih tinggal dengan mama, karena aku kasihan lihat mama kalau sendiri nanti. Yang kurasakan setelah perceraian itu kurang kali perhatian mama dengan ku, gak pernah lagi diperhatikan aku belajar atau gak, apalagi bapak, sama sekali tidak perduli lagi dengan kami. Sejak itu, untuk belajar aja udah malas aku kak, apalagi mau pergi ke sekolah, kayaknya gak ada pengaruhnya aku sekolah atau gak untuk ibu. Karena itu lah aku memutuskan gak sekolah lagi biar bisa bantu mama aja bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ernaliza Sinaga (Pr, 18 Tahun) : .. Gak ada lagi perhatian yang kudapat dari rumah kak, khususnya dari Ibu, mau main satu harian di luar rumah pun bebas, gak ada larangan lagi. Apalagi untuk nyuruh belajar, gak ada lagi lah. Beda kali lah memang keadaannya dulu sebelum bapak dengan ibu bercerai Selain karena faktor kurangnya perhatian dan motivasi orang tua yang sudah bercerai terhadap pendidikan anak adalah faktor Ekonomi Orang tua. Walaupun dalam adat Batak Toba pendidikan itu sangat penting dan kebanyakan diantara nya orang tua memperjuagkan anaknya agar tetap sekolah walaupun bekerja dengan keras untuk memenuhi biaya tersebut namun ada juga faktor yang tidak menginginkan anak untuk melanjutkan sekolahnya yaitu keterbatasan orang tua dalam ekonomi. Orang tua yang

Universitas Sumatera Utara

memang sudah berusaha untuk mencari biaya tersebut, namun karena keterbatasannya juga dalam pekerjaan sehingga tidak bisa menghasilkan biaya untuk pendidikan anak-anaknya. Hal inilah yang juga menjadi faktor terjadinya putus sekolah pada anka setelah orang tua mereka bercerai. Berikut hasil wawancara saya dengan informan Ernaliza Sinaga (Pr, 18 Tahun) : Aku mulai gak sekolah lagi sejak setahun setelah mama dan bapak bercerai kak, itu semua karena gaji mama yang hanya bekerja sebagai buruh cuci tidak mencukupi biaya ku untuk bersekolah. Karena itu lah aku sadar diri kak, lebih baik aku gak sekolah aja dan mau bantu mama aja bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarga kami dan membantu mama membiayai pendidikan adik-adik ku supaya mereka gak sama dengan ku Hal yang sama juga dikatakan oleh Todo Naek Panggabean (Lk, 18 tahun) : Sebenarnya masih mau nya aku sekolah kak, iri kali rasnya lihat teman-teman sebayaku yang lain bisa sekolah. Tapi mau gimana lagi,mama ku udah gak bisa lagi membiayai sekolah ku terpaksalah aku putus sekolah kak, dan sekarang bantu-bantu mama lah aku berjualan di pasar biar ada untuk makan kami kak

4.4.5 Prinsip pada masyarakat Batak Toba (Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon) dalam pelaksanaannya pada pendidikan bagi masyarakat Batak toba.
Tujuan hidup tertinggi bagi orang Batak Toba ialah menjadi orang yang disebut na martua (yang bertuah). Orang demikian ialah orang yang hidupnya disertai hamoraon, hagabeon, dan hasangapon (kaya, punya keturunan laki-laki, dan perempuan serta mulia). Agar tujuan hidup demikian tercapai hubungan seseorang dengan unsur-unsur Dalihan Na Tolu harus serasi.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan pernyataan diatas, dalam kultur masyarakat Batak Toba, pencapaian manusia terdiri dari 3 tingkatan 3H, yaitu hamoraon (kekayaan), hagabeon (kebahagiaan, sebenarnya terjemahan hagabeon menjadi kebahagiaan adalah kurang pas) dan hasangapon (kehormatan, agak kurang pas juga kalau hasangapon diterjemahkan sebagai kehormatan). Bagi manusia Batak, pencapaian 3 H merupakan ukuran keberhasilan pencapaian dan kesuksesan seseorang. Berbagai usaha dilakukan untuk mencapai 3H tersebut, Hamoraon yaitu bekerja keras menuntut ilmu agar bisa mamora (kaya). Maka manusia Batak menjadi petarung, berjuang keras untuk mencapai hamoraon, dan menjadi kaya secara finansial dan material. Manusia Batak tidak akan segan-segan mangaranto, pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari kekayaan material. Berjuang dengan segala usaha dan modal di pangarantoan, perantauan, untuk bisa mendapatkan kekayaan. Kalau perlu merantau ke seluruh penjuru dunia. Bagi orang tua pendidikan untuk anak-anak mereka sangat lah penting. Pekerjaan apa pun mereka lakukan supaya bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari mereka. Namun tetap saja, walaupun prinsip masyarakat batak toba yang harus berjuang habis-habisan untuk pendidikan anak-anaknya, namun ada saja orang tua yang sudah benar-benar tidak mampu lagi membiayai pendidikan anaknya walaupun sudah berjuang sekuat tenaganya. Hal itu diakibatkan karena keterbatasan skill yang dimilikinya dan status ibu atau bapak tersebut dalam keluarganya, misalnya seorang ibu yang marus mencari nafkah seorang diri karena sudah bercerai dari suaminya. Sedangkan ia harus menafkahi 4 orang anaknya. Hal itulah yang menyebabkan orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya lagi. Ukuran umum hagabeon dalam bangso Batak adalah bila mempunyai keturunan baoa (laki) dan boru (perempuan) yang juga kemudian mempunyai keturunan lagi. Jadi bila seseorang dalam hidupnya sudah mempunyai cucu dari anak laki-laki, cucu dari anak

Universitas Sumatera Utara

perempuan, serta semua anaknya baik laki dan perempuan sudah berumah tangga dan mempunyai keturunan, maka ia disebut gabe. Hagabeon nya menjadi sempurna ketika masih hidup ia masih bisa melihat cicit (apalagi kalau dari cucu perempuan dan cucu laki-laki). Itulah puncak sempurna hagabeon orang Batak. Adapun hasangapon, Secara harfiah, sangap bisa diartikan sebagai terpuji, atau tauladan, terhormat, nyaris tanpa cela. Seseorang yang dianggap sangap,berarti ia menjadi pribadi sempurna, manusia yang mencapai status tinggi dalam kehidupan, dan tidak ada cemoohan dari orang lain. Biasanya seseorang menjadi sangap, bila dalam tingkat tertentu ia juga mempunyai hamoraon dan mempunyai hagabeon. Yang artinya seseorang bisa dikatakan sukses apabila ia memiliki keturunan yang lengkap dan banyak yaitu memiliki anak perempuan dan anak laki-laki dimana anak-anaknya tersebut juga sudah mengenyam pendidikan yang tinggi. Karena itu, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan seseorang sudah mencapai hasangapon sekarang ini. Filosofi 3 H tersebut sebenarnya sah-sah saja, dan sepanjang itu digunakan secara positif. Seseorang berusaha dalam hidupnya untuk mencapai 3H secara utuh dan tanpa cacat. Tapi bila hal itu dilakukan dengan cara-cara yang kurang terpuji, maka masyarakat tentu akan menilai apa sesungguhnya yang bisa dicapai dalam 3 H. Dan sesungguhnya ia tidak mencapai hasangapon. Prinsip 3 H ini kurang lebih mempunyai persamaan dengan Teori Kebutuhan dari Maslow. Menurut Maslow pencapaian tertinggi seseorang dalam memenuhi kebutuhannya ketika ia bisa mencapai jati diri yang self esteem, bijaksana dan welas asih, penuh kasih sayang. Barangkali tingkatannya sejajar dengan hasangapon. Seperti hasil wawancara saya dengan Pak D. manullang (Lk, 48 tahun) : Menurut saya, bagi orang Batak toba, ada prinsip Hamoraon, hagabeon dan hasangapon, dimana bila ketiga prinsip itu disatukan memiliki arti dimana orang

Universitas Sumatera Utara

Batak Toba itu dikatakan sukses apabila dia memiliki harta secara material dan memiliki keturunan yang banyak dan lengkap (secara adat diharapkan memiliki 17 laki-laki dan 16 perempuan = 33 anak) , dan walaupun jumlahnya tidak banyak, namun mempunyai ilmu dan keterampilan hidup . Untuk itu lah Hasangapon bagi masyarakat Batak Toba bisa ia dapatkan dengan status dari anak-anaknya yang sudah sukses atau berpendidikan Sama halnya yang dikatakan oleh Ibu Heny Tambunan (Pr, 55 tahun) : Orang Batak itu sangat memegang teguh prinsip orang batak, yaitu hamoraon, Hagabeon dan hasangapon, dimana untuk orang Batak, anak-anak itu sangat diperjuangkan apalagi pendidikannya. Ada bagi sebagian orang tua, gak perlu lah dia pake perhiasan yang penting anaknya bisa sekolah. Ada juga itu dalam syair lagu kan Anakko hi do Hamoraon di ahu. Itulah yang artinya anak lah segalanya bagi orang tuanya, apa pun dilakukan untuk kesuksesan anaknya.

4.4.6 Disfungsional keluarga


Perubahan-perubahan besar pada sistem keluarga, karena membawa nilai-nilai baru, biasanya berarti penambahan dalam kegagalan peran. Karena ada orang-orang yang dapat menerima cara-cara baru dan ada yang tidak, ada ketidak sepahaman mengenai apa kewajiban peran itu sebenarnya. Ini, tentu mengakibatkan adanya banyak orang yang dinilai gagal dalam kewajiban peran mereka, berdasarkan standar baru atau lama. Perceraian dapat dipandang sebagai suatu kesialan bagi seorang atauu kedua orang pasangan di masyarakat manapun, tetapi harus juga dipandang sebagai suatu penemuan sosial, suatu macam pengaman bagi ketegangan yang ditimbulkan oleh perkawinan itu sendiri. Perceraian itu bukan saja diperkenankan pada semua masyarakat dunia, tetapi pada banyak masyarakat primitive angka perceraian itu lebih tinggi.

Universitas Sumatera Utara

Kekacauan dalam keluarga merupakan bahan pergunjingan umum karena semua orng mungkin saja terkena salah satu dari berbagai jenisnya, dan karena pengalaman itu biasanya dramatis, menyangkut pilihan moral dan penyesuaian-penyesuaian pribadi yang dilematis. Kekacauan keluarga dapat ditafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga, terputusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota gagal menjalankan kewajiban peran mereka secukupnya yang sering disebut juga disfungsional keluarga. Keluarga disfungsional adalah keluarga yang tidak berfungsi sebagaimana keluarga yang sehat seharusnya. Setiap anggota keluarga memiliki perannya masing-masing di dalam keluarga itu sendiri. Di dalam keluarga disfungsional peran ini tidak dijalankan dengan semestinya, seperti misalnya, orang tua menjadi anak, anak menjadi orang tua, ibu menjadi ayah, ayah menjadi ibu, kakak menjadi adik, dll. Orang tua menjadi anak karena kurangnya kedewasaan dan ketidaksiapan untuk membentuk sebuah keluarga. Ibu menjadi ayah atau ayah menjadi ibu, bisa terjadi karena perpisahan, perceraian atau kematian salah satunya. Kakak menjadi adik dapat terjadi karena si kakak terlalu dimanja, misalnya karena sakit-sakitan waktu kecil atau ia adalah anak lelaki/perempuan satu-satunya. Berdasarkan penelitian ini, keluarga-keluarga yang mengalami perceraian otomatis mengalami disfungsional dimana orang tua yang bercerai tidak lagi menjalankan perannya sebagai orang tua sebagaimana mestinya, yaitu seperti tidak mampu lagi lebih khusus memberikan dorongan, motivasi kepada anak-anaknya di dalam pendidikan anaknya. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi yang menyebabkan kurangnya perhatian seorang ayah atau Ibu kepada anaknya setelah bercerai. Faktor ekonomi pada konteks ini ialah kesibukan orang tua tunggal dalam keluarga untuk mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan seharihari dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Oleh karena kesibukan itu lah tidak sedikit

Universitas Sumatera Utara

orang tua yang sudah tidak perduli lagi dengan keadaan anaknya di dalam rumah maupun di luar rumah. Disfungsional keluarga di dalam penelitian ini juga dapat dilihat dari sebuah keluarga yang kekurang dalam faktor ekonomi sehingga anak seorang anak dalam keluarga tersebut tidak lagi dapat menjalankan hak dan kewajiban dalam mengemban dunia pendidikan. Hal ini terdapat pada masyarakat miskin, terutama pada informan yang saya dapati, dimana ketidakmampuan orang tua tunggal di dalam keluarga untuk mencari biaya unuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anaknya yang menyebabkan seringkali anak dari golongan bawah dalam lapisan masyarakat dimana mereka yang merupakan korban perceraian orang tua mereka, tidak dapat lagi menikamati bangku pendidikan sebagaimana mestinya. Sebuah keluarga disebut disfungsional didalam penelitian ini ialah bilamana; 1. Suatu kondisi mengganggu fungsi suatu keluarga yang sehat, seperti timbulnya perceraian di dalam keluarga. 2. Dalam setiap keluarga akan terdapat suatu periode waktu dimana fungsi keluarga akan terganggu karena adanya tekanan dari luar. 3. Salah satu perilaku negatif orang tua terhadap anak adalah mendominasi kehidupan anaknya. 4. Ketidakmampuan orang tua dalam membiayai kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anaknya.

4.4.7 Konsep Dalihan Natolu di dalam Pendidikan pada Masyarakat Batak Toba.
Secara umum, suku Batak memiliki falsafah adat Dalihan Na Tolu (secara harfiah berarti Tungku yang Tiga) yakni Somba Marhula-hula (hormat pada pihak keluarga ibu) Elek Marboru (ramah pada keluarga saudara perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak

Universitas Sumatera Utara

dalam hubungan semarga). Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan orang Batak. Dalihan Na Tolu adalah merupakan kerangka dasar kekerabatan. Tetapi lebih dalam dari itu, Dalihan Na Tolu juga merupakan suatu pandangan hidup untuk orang Batak, karena susunan ketiga unsur Dalihan Na Tolu adalah merupakan refleksi dari tiga benua yang dikenal dalam kepercayaan masyarakat Batak (menurut kepercayaan asli orang Batak dunia ini terdiri dari 3 unsur yaitu banua ginjang (dunia atas), banua tonga (dunia tengah), banua toru (dunia bawa). Pencipta segala yang ada termasuk seluruh alam dan isinya adalah Debata Mulajadi Na Bolon (dewata besar mula segala yang ada).

Tujuan hidup tertinggi bagi orang Batak ialah menjadi orang yang disebut na martua (yang bertuah). Orang demikian ialah orang yang hidupnya disertai hamoraon, hagabeon, dan hasangapon (kaya, punya keturunan laki-laki, dan perempuan serta mulia). Agar tujuan hidup demikian tercapai hubungan seseorang dengan unsur-unsur Dalihan Na Tolu harus serasi. Keserasian itu ialah hormat kepada hula-hula, teliti, adil, cermat dan seirama dengan dongan tubu, dan bersifat mengambil hati atau membujuk kepada boru. Orang Batak sangat cinta dengan hidup dan kehidupan ini walaupun hidup itu penuh kesusahan. Ini terbukti dari peribahasa yang berbunyi : lapa-lapa pe di toru ni sobuon, malap das alap pe taho asal di hangoluan (gabah kosong pun dibawah sekam, biarpun susah asal hidup). Ini menggambarkan suatu opotimisme biarpun hidup ini susah pada suatu saat pasti akan mendapat kesenangan asal tekun berusaha. Orang Batak selalu merasa bersatu dengan negerinya yaitu tanah Batak yang disebut dengan istilah bona pasogit atau bona ni pinasa. Mengenai sistem nilai yang merupakan warisan para leluhur sangat dijunjung tinggi. Adat adalah pusaka yang tidak kunjung usang. Adat haruslah selalu dilestarikan dan dijunjung tinggi ini terlukis dari ungkapan atau pepatah

Universitas Sumatera Utara

berikut : raja na di jolo, martungkot siala gundi, adat pinungka ni na parjolo, siihut honon ni parpudi artinya : raja yang di depan bertongkat siala gundi (sejenis tumbuhan semak yang kayunya keras, lurus, dan dahannya jarang) adat yang diciptakan orang dahulu harus diikuti orang yang kemudian. Selain itu adat merupakan norma hukum yang didukung rasa kemanusiaan yantg tinggi. Adat harus ditegakkan dan dijunjung tinggi seperti dalam peribahasa : jongjong hau na so sitabaun, peak na so sigulingon artinya berdiri kayu jangan ditebang tumbang pun jangn diguling. Kuatnya sistem kekerabatan di dalam masyarakat Batak Toba terutama dalan konsep dalihan Na Tolu yang dipegang oleh masyarakat batak Toba, namun berdasarkan hasil wawancara saya di lapangan dengan beberapa informan, mereka mengaku bahwa kebanyakan saudara-saudara mereka seperti tulang atau saudara laki-laki dari ibu dan namboru atau saudara perempuan dari ayah atau saudar-saudara mereka lainnya tetap saja memberikan dukungan yang terbaik kepada mereka walaupun ayah dan ibu mereka sudah berpisah. Namun ada keluarga yang selalu mendukung mereka ketika mereka (anak korban perceraian) diketahui sudah tidak bersekolah lagi. Namun itu semua hanyalah sekedar dukungan dari keluarga baik dari pihak ayah ataupun pihak ibu. Untuk biaya pendidikan anak tersebut tidak banyak keluarga-keluarga dari pihak ayah maupun pihak Ibu tersebut mau membantu biaya pendidikan anak yang putus sekolah tadi akibat perceraian dimana orang tua tunggal yang tidak mampu sepenuhnya membiayai kebutuhan pendidikan anaknya. Berikut hasil wawan cara saya dengan Ernaliza Sinaga (Pr, 18 tahun) Senang memang masih punya namboru, tulang yang masih bisa member nasehatnasehat dengan kami kak, seperti Tulang yang sering sekali membei nasehat dengan ku supaya baik-baik di rumah, selalu membantu mamak. Tapi tetap aja kak untuk membiaya kebutuhan sekolah ku tetap gak bisa kami andalkan orang itu kak, karena orang itu udah punya keluarga masing-masing. Karena itu lah aku terima

Universitas Sumatera Utara

keadaan ku yang tidak sekolah karena biaya ekonomi keluarga kami ini kak. Tapi kayak gitu pun tetap aku bersyukur masih ada keluarga dari tulang dan namboru yang masih mau memberikan perhatiannya kepada kami walaupun berupa nasehatnasehat meskipun mamak dan bapak udah pisah Pendidikan bagi orang Batak Toba sangat lah penting dan dijunjung tinggi, hal ini juga terdapat dalam prinsip orang Batak Toba yaitu dalam Dalihan Na Tolu dan prinsip Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon. Namun ada beberapa faktor dimana pendidikan tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik.

4.4.8 Faktor yang mempengaruhi terjadinya perceraian di kalangan masyarakat Batak Toba
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar keluarga itu sendiri yang dapat mempengaruhi sebuah rumah tangga untuk tidak bertahan. Faktor eksternal itu seperti : perkembangan zaman dimana masuknya budaya barat dan telah diadopsi oleh banyak masyarakat Batak Toba, kekuatan hukum yang semakin tegas dalam menangani permaslahan keluarga. Memudarnya nilai adat-istiadat dan norma-norma. Faktor ini memberi peluang kepada masyarakat Batak Toba dalam memutuskan tali perkawinannya dengan perceraian. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari rumah tanggal itu sendiri. Seperti hal nya dengan timbulnya masalah-masalah rumah tangga yang memicu konflik dalam sebuah keluarga seperti perselingkuhan yang terjadi, kehadiran pihak ketiga seperti mertua dalam sebuah keluarga, tidak mau di madu dan salah satu pergi meninggalkan keluarganya. Dari hasil penelitian lapangan yang saya dapati ialah beberapa fakta perceraian orang tua dan akibatnya terhadap pendidikan anak nya 1. Adanya perceraian orang tua yang mengakibatkan ketidakseimbangan ekonomi di dalam keluarga dimana orang tua tunggal yang tidak mampu membiaya kebutuhan sehari-hari

Universitas Sumatera Utara

dan membiayai pendidikan anaknya tersebut sehingga menyebabkan anaknya tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi. 2. Karena kurangnya dorongan motivasi, dukungan, dan perhatian kepada anak dari orang tua yang sudah bercerai, sehingga anak merasa tidak memiliki dukungan dari orang tuanya yang mengkibatkan sekolah anak tersebut terganggu dan sama sekali menjadi putus sekolah.

Universitas Sumatera Utara

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Perkawinan tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar dan tenang, sebab di dalam perkawinan berbagai masalah bisa saja muncul, baik dari masalah yang kecil sampai pada masalah yang besar. 2. Perselisihan dalam hubungan suami isteri yang menjadi pemicu konflik rumah tangga menjadikan hubungan suami isteri tidak harmonis lagi, permasalahan dalam rumah tangga yang tidak dapat lagi diselesaikan secara musyawarah oleh suami isteri menjadi suatu kendala dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Konflik yang sudah tidak dapat diselesaikan lagi akhirnya diputuskan dengan perceraian. 3. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perceraian di kalangan Batak toba ialah Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar keluarga itu sendiri yang dapat mempengaruhi sebuah rumah tangga untuk tidak bertahan. Faktor eksternal itu seperti : perkembangan zaman dimana masuknya budaya barat dan telah diadopsi oleh banyak masyarakat Batak Toba, kekuatan hukum yang semakin tegas dalam menangani permaslahan keluarga. Memudarnya nilai adat-istiadat dan norma-norma. Faktor ini memberi peluang kepada masyarakat Batak toba dalam memutuskan tali perkawinannya dengan perceraian. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari rumah tanggal itu sendiri. Seperti hal nya dengan timbulnya masalah-masalah rumah tangga yang memicu konflik dalam sebuah keluarga seperti perselingkuhan yang terjadi, kehadiran pihak ketiga seperti mertua dalam sebuah keluarga, tidak mau di madu dan salah satu pergi meninggalkan keluarganya.

Universitas Sumatera Utara

Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia secara keseluruhan, setiap manusia berhak mendapatkan atau memperoleh pendidikan, baik secara formal, informal, maupun nonformal, sehingga pada gilirannya ia akan memiliki mental, akhlak, moral, dan fisik yang kuat serta menjadi manusia yang berbudaya tinggi dalam melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggungjawabnya didalam masyarakat.

5.

Di dalam pendidikan terdapat peranan penting dari keluarga yang merupakan lembaga pertama dalam kehidupan seorang anak, tempat belajar segala sesuatu dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya, anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar ppembentukkan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan remaja. Orang tua adalah lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan seorang remaja. Dimana hal ini akan menjadi dasar perkembangan remaja untuk menghasilkan karakter, kepribadian dan akhlak yang menggunakan cara sosialisasi yang baik. Karena sosialisasi merupakan proses belajar kebudayaan didalam suatu sistem sosial tertentu. Sistem sosial berisikan berbagai kedudukan dan peranan yang terkait dengan suatu masyarakat dengan

kebudayaannya. 6. Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya mendapat pendidikan yang lebih tinggi dari dirinya, namun banyak faktor dari perceraian pada masyarakat Batak Toba yang mengakibatkan anak-anak pada etnis Batak Toba putus sekolah yaitu: 1. Faktor Perceraian Dimana perceraian orang tua yang berimbas pada pendidikan anak-anaknya. Setelah terjadi perceraian, anak tinggal bersama salah satu orang tuanya (bapak atau ibunya) dengan begitu secara otomatis anak-anak menjadi kurangmendapat perhatian dari salh satu orang tuanya, terutama perhatian di dalam pendidikan, baik itu pendidikan di

Universitas Sumatera Utara

rumah maupun di sekolah. Selain itu terjadi ketidakseimbangan komunikasi antara anak dan orang tua. Karena kurangnya komunikasi dan interaksi antara anak dan orang tua yang sudah tinggal terpisah tersebut, si anak menjadi kurang termotivasi dalam pendidikannya, karena dia merasa sekolah itu tidak penting Karena dia sama sekali tidak mendapat perhatian ataupun pengawasan dari orang tuanya. Itulah faktor pertama yang menyebabkan pendidikan anak menjadi terlantar akibat perceraian orang tua. 2. Sedangkan faktor yang Kedua ialah Ekonomi Keluarga setelah terjadinya perceraian. Memang pada masyarakat etnis Batak Toba pendidikan sangatlah penting. Mereka berusaha bekerja keras untuk memenuhi biaya sekolah anak-anaknya. Namun ada situasi yang tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Hal tersebut didasarkan pada terbatasnya kondisi ekonomi orang tua yang tinggal bersamanya bahkan bekerja keras dengan cara apa pun tetap tidak dapat membiayai pendidikan anak-anaknya. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja masih serba kekurangan. Karena kondisi ekonmi itu lah yang memaksa anak dari korban perceraian orang tuanya menjadi anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak pada umumnya.

5.2. Saran Dari hasil penelitian yang dianalisis dengan pengamatan yang objektif dan rasional penelitian mengemukakan beberapa saran yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang dianggap sebagai pembuat kebijakan dan pengambilan keputusan. Saran tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Keluarga itu lebih memperhatikan anggota keluarganya sendiri. Agar fungsi dari keluarga itu sebagai agen sosialisasi berfungsi dengan baik.

Universitas Sumatera Utara

2. Sebaiknya keluarga lebih mengutamakan mengambil keputusan yang bijak dalam keluarga, agar nantinya keputusan tersebut tidak merugikan anggota keluarga lainnya. 3. Diharapkan adanya kesadaran Orang tua yang sudah bercerai untu tetap memperhatikan dan memberi perhatian kepada anak-anaknya, terkhusus perhataian di dalam pendidikan. Karena pendidikan merupakan modal utama bagi anak-anak untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan guna menaikkan martabat mereka sebagai manusia.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

BPS Kota Medan.2012. Medan Dalam Angka 2012. Medan: BPS Kota Medan

Bungin, Burgin.2005. Metodologi penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana

Bungaran, Antonius.2006.Struktu sosial dan Sistem Politik Batah Toba Hingga 1945. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Djaren Saragih dan Djisman Samosir.1980 Hukum Perkawinan adat batak, Bandung: Tarsito

Damsar, Dr,2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan, Jakarta: kencana

Doyle,1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Faisal, Sanafiah. 2007 . Format-format penelitian sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Goode, William J 1983. Sosiologi keluarga. Jakarta:Bina Akasara

Gunarsa, Singgih D.2004. Psikologi Prakstis:anak, remaja dan keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Universitas Sumatera Utara

Kamanto, Sunarto 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: LPE-UI

Nainggolan Togar,Dr.2006. Batak toba Di Jakarta. Medan: Bina Media

Prasetyo, bambang, dan Lina Miftaful jannah. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Ritzer George.2008. Teori Sosiologi Modern. Jakrta: Kencana Prenada Group. Cetakan ke enam

Sanderson, Stephen K.1995. Sosiologi makro: sebuah pendekatan terhadap realitas sosial. Jakarta: raja Grafindo Persada.

Situs Internet: http://id.wikipedia.org/wiki/Perceraian , diakses pada tanggal tanggal 10 Agustus 2012 pukul 11:18 Wib http://id.wikipedia.org/wiki/Perceraian diakses pada tanggal 10 Agustus 2012 pukul 11:18 http://zandradw.blogspot.com/2011/11/perbedaan-pendidikan-formal-informal.html diakses pada tanggal 19 september 2012,pukul 07:39Wib

http://pgtk--darunnajah.blogspot.com/2012/06/peranan-keluarga-dalam-mendidikanak.html#ixzz26s7A1ud6 diakses pada tanggal 19 September 2012 pukul

Universitas Sumatera Utara

07:42Wib

masyarakat-Batak-Toba/ diakses tanggal 20 September 2012 pukul 21:03Wib diakses pada tanggal 22 september pukul 08:36 Wib

http://galerysabar.blogspot.com/2012/04/contoh-hipotesis-dan-ruang-lingkup.html diakses pada tanggal 22 september 2012 pukul 09:30 Wib

http://www.anneahira.com/konsep-penelitian.htm diakses pada tanggal 22 September 2012 pukul 09:45 Wib http://togadebataraja.blogspot.com/2010/02/filsafat-ni-hagabeon-hasangapon.html diakses pada tanggal 2 Februari 2013 pukul 08:10 Wib http://pimansu-pimansu.blogspot.com/2010/04/keluarga-disfungsional.html 8 feb ( 22:56)

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai