Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini, makin banyak ditemukan zat-zat yang mampu memberikan manfaat bagi manusia.

Pengetahuan yang semakin berkembang dan diimbangi oleh majunya teknologi, membuat banyak sekali inovasi yang berhubungan dengan kehidupan kita, salah satunya bidang kesehatan. Kita banyak menemukan obat ataupun zat yang dapat membantu kita menjaga kesehatan, hingga menyembuhkan gejala penyakit yang menyerang tubuh. Sudah berbagai macam jenis zat yang telah ditemukan dan dikembangkan, baik dari alami ataupun sintetis. Penggunaannya pun mulai dipermudah dengan berbagai inovasi. Akan tetapi, nyatanya penggunaan zat-zat yang awalnya demi pengobatan saat ini bisa disalahgunakan. Penyalahgunaan obat merupakan perilaku maladaptif. Penyalahgunaan obat (substance abuse) adalah pola maladptif penggunaan ibat yang terjadi dalam periode 12 bulan yang mengarah pada kemunduran signifikan atau bukti- bukti distres yang diikuti oleh satu atau lebih hal berikut ini : 1) Kegagalan dalam melakukan tugas atau tanggung jawab, 2) Menggunakan zat dalam situasi fisik yang berbahaya, 3) Masalah-masalah hukum, 4) Masalah-masalah interpersonal Berdasarkan DSM-IV-TR, seseorang dapat dikategorikan substance abuse atau penyalahgunaan bahan, jika dia menunjukkan salah satu dari karakteristik berikut ini: 1. Sering melanggar peraturan atau melalaikan kewajiban (contoh: bolos sekolah, melantarkan anak). 2. Sering menggunakan obat-obatan pada saat situasi berbahaya (contoh: menyetir mobil sambil mabuk).

3.

Obat-obatan

yang

berhubung

dengan

masalah

legal

(contoh:

penangkapan karena perilaku buruk). 4. Terus-menerus menggunakan obat, meskipun ada masalah pribadi atau masalah sosial yang diakibatkan oleh obat (contoh: pertengkaran rumah tangga) (Vanyukov, 2002). Ketergantungan obat (substance dependence) adalah pola maladaptif dari penggunaan zat yang dimanifestasikan dengan gejala-gejala kognitif, perilaku, dan piskologis selama periode 12 bulan dan disebabkan oleh penggunaan zat tersebut secara terus-menerus. Hal ini akan berawal dari substance intoxication yaitu perilaku maladaptif yang terjadi sementara atau perubahan psikologis karena akumulasi suatu zat tertentu di dalam tubuh. Kondisi tersebut terjadi sampai dengan periode ketika zat tersebut secara biologis berpengaruh dalam tubuh. Perilaku orang yang intoksikasi menjadi maladaptif yang berarti bahwa seseorang mengalami kemunduran signifikan dalam performansinya. Setelah itu, orang akan mempunyai toleransi terhadap zat tersebut. Toleransi terjadi saat seorang individu membutuhkan zat dalam jumlah yang terus bertambah besar untuk memenuhi hasrat atau ketika seseorang kurang mendapat pengaruh zat dalam jumlah kadar yang sama. toleransi dapat disebabkan oleh metabolisme tubuh pada penggunaan obat; hal lain, yaitu obat akan memengaruhi sistem saraf.

BAB II ISI I. Pengertian Nikotin

Nikotin (-pyridil--N-methyl pyrrolidine) merupakan senyawa organik spesifik yang terkandung dalam daun tembakau. Nikotin dengan rumus molekul C10H14N2, merupakan komponen aktif farmakologis yang utama dari tembakau, Nikotiana tabacum. Ditemukan juga dalam jumlah banyak pada spesies lain dalam famili solanaceae seperti tomat, kentang, aubergin dan lada hijau (Sarker, 2007). Berdasarkan letak atom N termasuk true alkaloid. Apabila diisap senyawa ini akan menimbulkan rangsangan psikologis bagi perokok dan membuatnya menjadi ketagihan. Dalam asap, nikotin berpengaruh terhadap beratnya rasa isap. Semakin tinggi kadar nikotin rasa isapnya semakin berat, sebaliknya tembakau yang berkadar nikotin rendah rasanya enteng (hambar). Menurut Dewi Susanna (2003) Nikotin dihasilkan dari daun tembakau (kadar nikotin tertinggi), yang dapat berupa cairan alkaloid alami tak berwarna, dengan Ph > 7 (bersifat alkalis, mempunyai ukuran molekul yang sangat kecil tetapi larut dalam air dan lemak sehingga nikotin diabsorpsi secara cepat masuk ke dalam darah. Nikotin juga bersifat poten karena 5-10 kali lebih kuat menimbulkan efek psikoaktif pada manusia daripada kokain dan morfin. Penghantaran nikotin ke dalam darah dan jaringan tubuh melalui paru-paru dan atau dinding mulut dan tenggorokan, atau darah. Penghantaran nikotin melalui beberapa macam yaitu: Penghantaran nikotin melalui asap.

Ketika rokok dibakar, nikotin tersebar ke udara dalam bentuk butiranbutiran kecil tar bersama komponen-komponen asap tembakau lainnya. Setelah dihisap, nikotin memadat dengan cepat di alveoli masuk ke dalam vena pulmonalis kemudian ke ventrikel kiri dan dipompa ke arteriarteri seluruh tubuh hingga ke otak dll .

Penghantaran Nikotin Melalui Tembakau Tanpa Asap tanpa asap (seperti tembakau kunyah atau snuff)

Tembakau

menghantarkan nikotin ke dalam tubuh melalui dinding mulut dan tenggorokan, atau hidung kemudian nikotin akan menembus membran biologis dan masuk ke aliran darah untuk didistribusikan ke berbagai jaringan tubuh Cara Penghantaran Nikotin Non-Tembakau

Nikotin juga dihantarkan melalui produk non tembakau seperti terapi sulih nikotin (nicotine replacement therapy / NRT), biasanya digunakan oleh perokok yang sedang berusaha untuk berhenti merokok. Absorpsi nikotin lebih lambat dan kadar nikotin dalam darah yang lebih rendah kecuali bila menggunakan dosis yang sangat tinggi sehingga NRT memiliki tingkat keberhasilan yang rendah pada terapi berhenti merokok.

II.

PRINSIP KERJA DAN TOLERANSI OBAT

Absorpsi nikotin melalui membran sel bergantung pH. Nikotin tidak dapat menembus membran pada lingkungan asam karena pada lingkungan tersebut nikotin akan terionisasi. Nikotin dapat cepat menembus membran pada pH darah fisiologis karena pada pH tersebut 31% nikotin tidak terionisasi. Nikotin paling mudah diabsorpsi pada lingkungan basa terutama melalui membran mukosa oral dan nasal karena epitel daerah tersebut tipis dan kaya suplai darah. Nikotin juga mudah diserap melalui kulit. Melalui tiga jalur absorpsi tersebut, kadar nikotin darah akan meningkat bermakna karena nikotin tidak melewati metabolisme di hati. Nikotin yang ditelan diabsorpsi melalui usus halus, melalui sirkulasi vena portal mengalami metabolisme presistemik oleh hati. Keadaan ini menyebabkan bioavailabilitas nikotin per oral sekitar 30-40%. Nikotin didistribusikan cepat dan ekstensif ke seluruh jaringan tubuh. Konsentrasi nikotin darah arteri dan otak akan meningkat tajam setelah pajanan, turun setelah 20-30 menit karena nikotin terdistribusi ke jaringan lain. Kadar

nikotin tertinggi dalam organ hati, ginjal, limpa, dan paru; dan paling rendah dalam jaringan lemak. Dalam beberapa menit setelah absorpsi, kadar nikotin lebih tinggi di arteri daripada vena. Konsentrasi nikotin dalam vena akan menurun lebih perlahan. Hal ini menggambarkan redistribusi dari jaringan tubuh dan kecepatan eliminasi. Rasio konsentrasi nikotin di otak terhadap konsentrasi dalam vena tertinggi selama dan pada akhir periode pajanan dan akan menurun secara perlahan karena memasuki fase eliminasi. Absorpsi melalui oral, nasal atau transder- mal menghasilkan peningkatan konsen- trasi nikotin dalam otak secara bertahap dengan rasio terhadap dalam vena relatif rendah dengan disekuilibrium arterio- venosa yang kecil. Sebagian besar nikotin dimetabolisme di hati dan sebagian kecil dimetabolisme di paru dan ginjal. Metabolit utamanya adalah kotinin (70%) dan nikotin-N-oksida (4%). Kotinin dibentuk di hati dalam dua tahap yang melibatkan sitokrom P450 dan enzim aldehid oksidase. Sitokrom P450 yang terutama berperan adalah CYP2A6. Isoen- zim lain yang juga memetabolisme nikotin adalah CYP2B6, CYP2D6, dan CYP2E1. Waktu paruh kotinin yang panjang (16 jam) menyebabkan metabolit ini dapat dijadikan penanda biokimia penggunaan nikotin. Se- bagian kecil nikotin diekskresikan melalui urin, yaitu sekitar 5-10% dari eliminasi total. Waktu paruh eliminasi nikotin rata-rata 2 jam. Pada seseorang yang merokok secara regular, kadar nikotin dalam darah akan meningkat dalam 6-8 jam. Kadar nikotin dalam darah yang diambil pada siang hari (dalam keadaan kadar mantap) berkisar antara 10- 50 ng/mL. Tiap batang rokok akan meng- hasilkan konsentrasi nikotin dalam darah sekitar 5-30 ng/mL, tergantung cara rokok dihisap. Pada malam hari kadar nikotin akan menurun dan hanya tersisa sedikit di dalam darah ketika bangun pada pagi harinya. Efek nikotin yang dapat menimbulkan kecanduan adalah efeknya pada reseptor kolinergik nikotinik di otak. Nikotin diserap dari asap rokok ke sirkulasi dalam paru, lalu melalui arteri karotis internal akan mencapai otak. Di dalam otak, nikotin akan bekerja pada reseptor kolinergik nikotinik dalam waktu 10-15 detik setelah menghisap rokok. Ikatan antara nikotin dengan reseptor nikotiniknya di area tegmental ventral otak menyebabkan pelepasan dopamin di nukleus

akumbens, yang akan menimbulkan perasaan nyaman (pleasure). Timbulnya rasa nyaman akibat nikotin dalam hitungan detik inilah yang menyebabkan ketergantungan pada rokok. Selain itu, nikotin juga menyebabkan pelepasan neurotransmiter lain seperti norepinefrin, endorfin, asetilkolin dan serotonin yang akan meningkatkan kemampuan kognitif, kewaspadaan dan memori serta menurunkan ketegangan dan kecemasan. Penggunaan nikotin, baik akut maupun kronik, dapat menimbulkan toleransi. Toleransi akut terjadi akibat desensitisasi reseptor. Ketika nikotin berikatan dengan reseptor nikotinik, akan terjadi perubahan alosterik dan reseptor menjadi tidak sensitif terhadap nikotin untuk beberapa waktu. Penggunaan kronik akan meningkatkan jumlah reseptor nikotinik hingga 50% yang mungkin merupakan akibat dari desensiti- sasi reseptor. Pada keadaan tersebut jika nikotin tidak tersedia, maka pelepasan dopamin dan neurotransmiter lainnya akan menurun di bawah kadar normal, sehingga akan menimbulkan efek putus zat. Beberapa gejala yang akan timbul pada putus nikotin adalah rasa cemas, iritabilitas, sulit berkonsentrasi, sulit beristirahat, peningkatan nafsu makan, gangguan tidur dan depresi.

III.

MEKANISME OTAK

Nikotin bekerja pada reseptor kolinergik nikotinik di otak,ganglia autonom, medula adrenal dan sambungan neuromuskuler. Reseptor kolinergik nikotinik memiliki dua subunit yaitu subunit dan subunit . Nikotin akan berikatan dengan reseptor nikotinik yang terdapat di badan sel, pada terminal saraf dan akson. Respons terhadap stimulasi reseptor nikotinik melibatkan sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Efek simpatis terutama dimediasi oleh stimulasi reseptor nikotinik di medula adrenal yang menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin. Efek simpatis dominan pada sistem kardiovaskuler yaitu hipertensi, takikardi dan vasokontriksi perifer. Efek parasimpatis terutama pada sistem saluran cerna dan saluran kemih yaitu menimbulkan gejala mual, muntah, diare

dan pening- katan pembentukan urin. Efek muntah juga dapat disebabkan oleh stimulasi chemoreceptor trigger zone di area postrema medula oblongata.

IV.

PENDEKATAN BIOPSIKOLOGIS

Saat ini, masyarakat sudah semakin sadar akan bahayanya nikotin yang biasanya terdapat pada rokok. Banyak cara yang bisa digunakan untuk perlahan mengurangi ketergantungan rokok, dalam hal ini nikotin. Ada beberapa pendekatan, yaitu pendekatan biologis,famakologis dan psikologis. A. Pendekatan farmakologis Mengurangi ketagihan terhadap nikotin melalui pemberian nikotin dengan cara berbeda merupakan salah satu penanganan secara biologis. Nikotin dapat tersedia dalam permen karet, plester atau alat penghirup. Tujuannya adalah membuat para perokok dapat mempertahankan putus zat nikotin yang menyertai usaha berhenti merokok. Permen Karet Nikotin Nikotin yang dikemas dalam permen karet diserap jauh lebih lambat dan lebih stabil bila dibandingkan dengan tembakau. Permen karet nikotin mengandung nikotin yang terikat pada kompleks resin. Nikotin permen karet tersedia dalam dua dosis yaitu 2 mg dan 4 mg. Bagi orang yang merokok lebih dari 20 batang per hari dapat menggunakan sediaan 4 mg dan bagi orang yang merokok kurang dari 20 batang per hari dapat menggunakan sediaan 2 mg. Pengguna sediaan ini diinstruksikan untuk menggunakan permen karet tiap 1-2 jam pada 6 minggu pertama, lalu dikurangi tiap 2-4 jam selama 3 minggu, dan tiap 4-8 jam selama 3 minggu. Tujuan jangka panjangnya adalah agar dapat mengurangi penggunaan permen karet tersebut, dan akhirnya menghilangkan ketergantungan terhadap nikotin. Tablet Hisap Nikotin

Tablet hisap nikotin tersedia dalam formulasi 1 mg, 2 mg dan 4 mg. Bagi perokok yang merokok lebih dari 20 batang sehari dapat menggunakan sediaan 4

mg dan bagi yang merokok kurang dari 20 batang per hari dapat menggunakan sediaan 2 mg.11 Beberapa ahli menetapkan formulasi yang akan digunakan berdasarkan pada seberapa cepat setelah bangun tidur di pagi hari seseorang merokok. Waktu pertama kali merokok di pagi hari merupakan indeks yang kuat untuk menentu- kan ketergantungan terhadap nikotin dan merupakan cara yang dapat digunakan untuk mengukur kebutuhan nikotin tiap perokok. Bagi perokok yang mulai merokok dalam waktu 30 menit disarankan menggunakan sediaan 4 mg dan bagi perokok yang mulai merokok dalam waktu lebih dari 30 menit disarankan menggunakan sediaan 2 mg. Sediaan tablet hisap dapat digunakan tiap 1-2 jam. Nikotin tablet hisap diabsorpsi secara perlahan (dalam waktu 30 menit) melalui mukosa bukal. Tablet ini tidak boleh dikunyah. Jumlah nikotin yang diserap dari sediaan tablet hisap lebih besar daripada permen karet. Pada suatu studi dosis tunggal, diperoleh kadar maksimum sediaan tablet hisap 8-10% lebih tinggi daripada bentuk permen karet. Dari studi lain didapatkan bahwa potensi nikotin tablet hisap 1 mg sama dengan permen karet nikotin 2 mg. Selain itu, jika dibandingkan dengan permen karet, nikotin tablet hisap memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat digunakan walaupun terdapat keterbatasan kesehatan mulut, penerimaan sosial yang lebih baik, dan tidak perlu dikunyah seperti permen karet. Sediaan tablet hisap dapat memenuhi kebutuhan dosis akut jika pasien tiba-tiba ingin sekali merokok. Inhaler nikotin Inhaler atau alat hirup nikotin ini terdiri dari mouthpiece dan cartridge plastik berisi nikotin. Ketika in- haler disemprotkan, nikotin akan melalui mouthpiece masuk ke dalam mulut. Tiap cartridge inhaler mengandung nikotin 10 mg. Dari 10 mg tersebut, 4 mg akan masuk ke dalam mulut dan 2 mg akan diabsorpsi.Sediaan ini bukan inhaler sebenarnya karena nikotin yang disemprotkan tidak masuk ke dalam bronkus atau paru, tapi terdeposit dan diabsorpsi melalui mulut. Sebagian besar nikotin akan masuk ke dalam kavitas oral (36%), esofagus dan lambung (36%), serta sebagian kecil (4%) mencapai paru.1Jumlah nikotin yang diabsorpsi dari inhaler bergantung pada suhu-suhu lingkungan yang

tinggi akan meningkatkan absorpsi, sedangkan suhu rendah akan menurunkan absorpsi. Efek terbaik diperoleh jika digunakan selama 20 menit. Penggunaan bentuk ini direkomendasikan selama 3 bulan, setelah itu dosis dapat diturunkan secara bertahap selama 6-12 minggu.10 Jumlah nikotin yang diperoleh melalui sediaan ini paling kecil dibandingkan sediaan lainnya. Bentuk ini terutama

berguna untuk perokok dengan tingkat ketergantungan rendah, sebagai terapi tambahan pada nikotin transdermal untuk menangani keinginan merokok tiba-tiba atau dalam kombinasi dengan bupropion.

B. Pendekatan psikologis Pendekatan psikologis biasanya dilakukan dengan merokok dengan menggunakan jadwal, bertujuan mengurangi jatah konsumsi nikotin secara

bertahap, misal bila sehari bisa sampai 50 mg, maka dikurangi dalam minggu pertama maksimal mengkonsumsi 45mg, lalu minggu kedua 40 mg, dan seterusnya, sesuai dengan anjuran dokter. Selain itu, mengajari pengguna untuk mengembangkan dan menggunakan berbagai keterampilan coping, seperti relaksasi dan monolog positif, juga sedikit membantu, bila dilihat alasan-alasan orang menggunakan nikotin (biasanya lewat rokok) adalah kurangnya keterampilan coping. Pengguna tidak hanya mampu melakukan terapi secara individu, namun bisa juga dilakukan secara berkelompok. Terapi keluarga, ataupun bergabung dengan grup sesama pengguna, diharapkan menstabilkan kondisi psikologis pengguna.

BAB III PENUTUP

I.

KESIMPULAN Ketergantungan obat (substance dependence) adalah pola

maladaptif dari penggunaan zat yang dimanifestasikan dengan gejalagejala kognitif, perilaku, dan piskologis selama periode 12 bulan dan disebabkan oleh penggunaan zat tersebut secara terus-menerus. Nikotin (-pyridil--N-methyl pyrrolidine) merupakan senyawa organik spesifik yang terkandung dalam daun tembakau. Nikotin dihasilkan dari daun tembakau (kadar nikotin tertinggi), yang dapat berupa cairan alkaloid alami tak berwarna, dengan Ph > 7 (bersifat alkalis, mempunyai ukuran molekul yang sangat kecil tetapi larut dalam air dan lemak sehingga nikotin diabsorpsi secara cepat masuk ke dalam darah. Nikotin juga bersifat poten karena 5-10 kali lebih kuat menimbulkan efek psikoaktif pada manusia daripada kokain dan morfin. Penghantaran nikotin ke dalam darah dan jaringan tubuh melalui paruparu dan atau dinding mulut dan tenggorokan, atau darah. Penghantaran nikotin melalui asap. Ketika rokok dibakar, nikotin tersebar ke udara dalam bentuk butiran-butiran kecil tar bersama komponen-komponen asap tembakau lainnya. Setelah dihisap, nikotin memadat dengan cepat di alveoli masuk ke dalam vena pulmonalis kemudian ke ventrikel kiri dan dipompa ke arteri-arteri seluruh tubuh hingga ke otak dll . cara nikotin masuk ke tubuh : Penghantaran Nikotin Melalui Tembakau Tanpa Asap Cara Penghantaran Nikotin Non-Tembakau

Efek nikotin yang dapat menimbulkan kecanduan adalah efeknya pada reseptor kolinergik nikotinik di otak. Nikotin diserap dari asap rokok ke sirkulasi dalam paru, lalu melalui arteri karotis internal akan mencapai otak. Di dalam otak, nikotin akan bekerja pada reseptor kolinergik nikotinik dalam waktu 10-15 detik setelah menghisap rokok. Ikatan antara nikotin dengan reseptor nikotiniknya di area tegmental ventral otak menyebabkan pelepasan dopamin di nukleus akumbens, yang akan menimbulkan perasaan nyaman (pleasure). Timbulnya rasa nyaman akibat nikotin dalam hitungan detik inilah yang menyebabkan ketergantungan pada rokok. Selain itu, nikotin juga menyebabkan pelepasan neurotransmiter lain seperti norepinefrin, endorfin, asetilkolin dan serotonin yang akan meningkatkan kemampuan kognitif, kewaspadaan dan memori serta menurunkan ketegangan dan kecemasan. Penggunaan nikotin, baik akut maupun kronik, dapat menimbulkan toleransi. Toleransi akut terjadi akibat desensitisasi reseptor. Ketika nikotin berikatan dengan reseptor nikotinik, akan terjadi perubahan alosterik dan reseptor menjadi tidak sensitif terhadap nikotin untuk beberapa waktu. Penggunaan kronik akan meningkatkan jumlah reseptor nikotinik hingga 50% yang mungkin merupakan akibat dari desensiti- sasi reseptor. Pada keadaan tersebut jika nikotin tidak tersedia, maka pelepasan dopamin dan neurotransmiter lainnya akan menurun di bawah kadar normal, sehingga akan menimbulkan efek putus zat. Beberapa gejala yang akan timbul pada putus nikotin adalah rasa cemas, iritabilitas, sulit berkonsentrasi, sulit beristirahat, peningkatan nafsu makan, gangguan tidur dan depresi. Pendekatan biopsikologi yang dapat dilakukan adalah dengan

farmakologis dan psikologis. Pendekatan farmakologis yaitu dengan mengurangi kadar nikotin secara perlahan dengan metode lain, misal permen karet nikotin,alat hirup,permen dan sebagainya. Pendekatan psikologis adalah dengan mengurangi intensitas penggunaan nikotin secara terjadwal, terapi keluarga, dan terapi kelompok.

II.

SARA N Perlu adanya kerjasama dari tiap elemen masyarakat untuk membantu

mengurangi ketergantungan nikotin yang biasanya melalui rokok. Tidak hanya pemerintah saja, namun dari inidivdu sendiri perlu menyadari bahayanya kadar nikotin berlebihan di dalam tubuh. Saran bagi penulis selanjutnya ialah lebih mencari dan meneliti tentang nikotin, lengkap dengan pendekatan biopsikologis yang lebih dikaji secara mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

Davidson, Gerald C.; Neale, John M.; Kring,Ann M.(2010). Psikologi Abnormal. Edisi ke-9. Jakarta : Rajawali Pers. Halgin, Richard P; Whitbourne,Susan Krauss.(2010). Psikologi

Abnormal : Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis Edisi ke-6. Jakarta : Salemba Humanika.

http://abdulmalik99.files.wordpress.com/2011/05/abd-malik-ms-alknikotin.pdf http://farmasi.ugm.ac.id/tinymcpuk/gambar/File/2_Nikotin%20farmakolo gi.pdf http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/images/pdf/vol2133.pdf


http://www.kalbemed.com/Portals/6/09_189Nicotine%20Replacement%2 0Therapy.pdf