Anda di halaman 1dari 10

TITRASI ASAM BASA (KELAS XI) Tujuan : 1.

Menentukan konsentrasi NaOH dengan cara menetrasikan larutan HCl yang volume dan konsentrasinya tertentu dengan larutan NaOH yang akan ditentukan konsentrasinya. 2. Membuat kurva titrasi. Alat dan Bahan : 1. Buret dan statif 2. Labu elmeyer 3.Gelas ukur 4. Gelas kimia

5. Corong 6. Larutan HCl 0,1 M 7. Larutan NaOH x M 8. Indikator PP

Cara Kerja : 1. Mengambil HCl 0,1 M sebanyak 20 ml lalu tuangkan ke dalam labu elmeyer dan beri 2-3 tetes indikator PP. 2. Mengambil NaOH secukupnya dengan gelas kimia lalu tuangkan menggunakan corong ke dalam buret setelah ditutup krannya sampai angka nol (0). 3. Membuka kran sedikit demi sedikit sehingga NaOH menetes ke labu elmeyer yang berisi HCl sambil diguncang-guncangkan. Menghentikan tetesan NaOH sampai warna larutan di labu elmeyer tepat akan merah. Pengamatan : No. Volume HCl 0,1 M Volume NaOH x M 1. 20 ml 17,5 ml 2. 20 ml 17 ml 3. 20 ml 17,5 ml Rata-rata 52/3 = 17,3 ml Warna larutan tepat akan merah TAT (Titik Akhir Titrasi) HCl penetralan (H2O) V1.M1 = V2.M2 20.0,1 = 17,3.M2 M2 = 0,12 M 20 ml NaOH + 20 ml HCl NaCl + H2O M : 2,4 2 B: 2 2 2 2 S : 0,4 0 2 2 [NaOH] = 0,4/40 = 0,01 [OH-] = 10-2 pOH = 2 pH = 12

Kurva : Volume NaOH 0,1 M 0 ml 5 ml 10 ml 15 ml 20 ml 25 ml 30 ml 35 ml 40 ml 45 ml 50 ml

Volume HCl 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml 20 ml

pH Campuran 1 2 log 56 2 3 log 5 12 12 + log 2 11 + log 32 12 + log 4 12 +log 46 11 + log 52 11 + log 57

Kesimpulan : Titrasi asam basa adalah titrasi yang berdasarkan reaksi penetralan asam dan basa. Titik akhir adalah pH saat indicator berubah warna (tepat akan merah). Kurva titrasi adalah grafik. Titrasi dibagi menjadi 3, yaitu: Titrasi asam kuat dengan basa kuat. Titrasi asam lemah dengan basa kuat. Titrasi basa lemah dengan asam. Jika pH pada asam ditetesi basa maka pH larutan akan naik, dan sebaliknya jika basa ditetesi asam maka pH larutan akan turun. Daftar Pustaka Purba, Michael. 2006. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

HIDROLISIS BEBERAPA JENIS GARAM (KELAS XI) Tujuan : Menyelidiki beberapa jenis garam dalam air. Alat dan Bahan : 1. Plat 2. Pipet tetes 3. Kertas lakmus merah 4. Kertas lakmus biru 5. Kertas lakmus universal 6. Tabel pH

7. Larutan NH4Cl 1 M 8. Larutan KCl 1 M 9. Larutan Na2CO3 1 M 10. Larutan Na3PO4 1 M 11. Larutan CH3COONa 1 M

Cara Kerja : 1. Menetesi masing-masing kertas lakmus merah dan biru berturut-turut dengan larutan KCl, NH4Cl, CH3COONa, Na2CO3, dan Na3PO4. Mencatat perubahan warna yang terjadi. 2. Menetesi masing-masing kertas indicator universal dengan berturut-turut dengan larutan KCl, NH4Cl, CH3COONa, Na2CO3, dan Na3PO4. Mencatat perubahan warna yang terjadi dan pH yang sesuai dengan warna tersebut. Pengamatan : Perubahan Warna Indikator Larutan 1 M Lakmus Lakmus Indikator Merah Biru Universal
KCl NH4Cl CH3COONa Na2CO3 Na3PO4 Merah Merah Biru Biru biru Biru Merah Biru Biru biru Kuning Jingga Hijau Hijau hijau

pH Perkiraan pH
4-6 3 8 9 10 6 3 8 9 10

Sifat Larutan Garam


Netral Asam Basa lemah Basa Basa

Pemakaian lakmus pH > 7 : CH3COONa, Na2CO3, dan Na3PO4. Pemakaian lakmus pH < 7 : KCl dan NH4Cl. Pembahasan : 1. Larutan-larutan garam tergolong : Netral : KCl Asam : NH4Cl Basa : Na2CO3, Na3PO4, dan CH3COONa 1. Rumus asam dan garam dan termasuk ke dalam golongan : Garam Basa Pembentuk Pembentuk Asam Rumus Jenis Rumus Jenis KCl KOH Basa kuat HCl Asam kuat NH4Cl NH4OH Basa lemah HCl Asam kuat CH3COONa NaOH Basa kuat CH3COOH Asam lemah Na2CO3 NaOH Basa kuat H2CO3 Asam lemah Na3PO4 NaOH Basa kuat H3PO4 Asam lemah 1. Sifat larutan garam Amonium asetat (CH3COONH4) Reaksi : CH3COONH4 CH3COO- + NH4+ CH3COO- + NH4+ + H2O CH3COOH + NH4OH Sifat garam Amonium asetat tergantung oleh harga Ka atau Kb karena terhidrolisis total yang tidak menghasilkan ion H+ atau OH-. Kesimpulan : Garam dalam air akan terurai membentuk kation dan anion seperti dari asam basa semulanya. Asam merupakan basa yang lemah akan terhidrolisis. Jika terjadi hidrolisis sempurna, sifat tergantung pada harga Kb atau Ka. pH kurang dari 7 mempunyai sifat asam. pH lebih dari 7 mempunyai sifat basa. Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah mengalami hidrolisis parsial.

Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat mengalami hidrolisis parsial. Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis total. Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat tidak terhidrolisis. Garam bersifat basa karena dalam reaksi menghasilkan ion OH-. Garam bersifat asam karena dalam reaksi menghasilkan ion H+.

TITIK BEKU LARUTAN (KELAS XII) Tujuan : Untuk mengetahui titik beku beberapa larutan. Alat dan Bahan : 1. Neraca 2. Tabung reaksi 3. Sendok 4. Pengaduk 5. Gelas kimia

6. Air 7. Es batu 8. Urea 1 M dan 2 M 9. Garam 10. NaCl 1 M dan 2 M

Cara Kerja : 1. Masukkan butiran-butiran es batu dalam gelas kimia plastic sampai kira-kira nya. Tambahkan 4 sendok makan garam dapur. Aduk campuran ini dengan pengaduk. Campuran ini ada campuran pendingan. 2. Isi tabung reaksi dengan air suling sebanyak 5 ml. Masukkan tabung ke dalam gelas kimia berisi campuran pendingin sambil mengaduk campuran pendingin sampai air membeku seluruhnya. 3. Keluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin. Dengan hati-hati aduklah campuran dari tabung itu dengan menggunakan termometer secara naik turun. Bacalah termometer dan catat suhu campuran es dan air. Ulangi cara kerja 2 dan 3 dengan menggunakan larutan urea 1 M dan 2 M, larutan NaCl 1 M dan 2 M sebagai pengganti air suling. Pengamatan : Zat Tf C Tf C 2 0 Air 0 2 Urea 1 M -2 4 Urea 2 M -2 4 NaCl 1 M -5 7 NaCl 2 M Tf = Tfp Tfl Dasar Teori : Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 C karena pada suhu itu tekanan uap air sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku ( Tf = freezing point depression). Pada percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu, penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.

Pengamatan dan Perhitungan : No. Zat Terlarut Titik Beku Perbedaan Titik Beku Rumus Massa Mol Kemolaran Air Larutan CO (NH2)2 180 3 1 0 0 2 1. CO (NH2)2 180 3 2 0 -2 4 2. NaCl 117 2 1 0 -2 4 3. NaCl 117 2 2 0 -5 7 4. Kesimpulan : 1. Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi peristiwa perubahan wujud zat cair ke padat. 2. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku ( Tf = Tfp Tfl). 3. Penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentarsi partikel dalam larutan. 4. Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif. 5. Larutan elektrolit memiliki titik beku lebih rendah dibanding larutan nonelektrolit. Daftar Pustaka Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga. ELEKTROLISIS (KELAS XII) Tujuan : Untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada elektrolisis larutan garam Natrium sulfat dan Kalium yodida. Alat dan Bahan : Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah 2 Tabung U 2/2 Elektroda karbon dan kabel 0,5 m 1,5 V 4/1 Baterai/catudaya 4 Jepit buaya 1/1 Statif dan klem 4/1 Tabung reaksi dan rak 1 Pipet tetes 3 100 cm 3 Gelas kimia 0,5 M 50 cm3 Larutan Natrium sulfat 0,5 M 50 cm3 Larutan Kalium yodida Sebotol Fenoftalein Indikator universal Larutan kanji/amilum Cara Kerja : 1. Pasang alat elektrolisis. 2. Elektrolisis larutan Na2SO4. Tambahkan 10 tetes indikator universal ke dalam 50 cm3 larutan Na2SO4 dalam gelas kimia. Tuangkan larutan ini ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan elektroda karbon ke dalam masing-masing tabung U, dihubungkan kedua elektroda dengan sumber arus searah 6 V selama beberapa menit. Catat perubahan warna yang terjadi dalam kedua kaki tabung U itu.

1. Elektrolisis larutan KI. 2. Masukkan larutan KI ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan kedua elektroda karbon ke dalam masing-masing kaki tabung U dan hubungkan elektroda itu dengan sumber arus searah 6 V selama 5 menit. Catat perubahan yang terjadi pada tiap-tiap elektroda. 3. Keluarkan dengan hati-hati kedua elektroda, cium baunya dan catat. 4. Pipet 2 cm3 larutan dari ruang katoda ke dalam 2 tabung reaksi tambahkan setetes penoftalein pada tabung 1 dan beberapa tetes larutan Amilum pada tabung 2. 5. Ulangi cara kerja ini dengan larutan dari ruang anoda. Amati dan catat yang terjadi. 1. Elektrolisis larutan Na2SO4. Hasil larutan + indicator universal 1. Sebelum dielektrolisis? 2. Sesudah dielektrolisis Pada ruang katoda? Pada ruang anoda? Pembahasan : 1. Na2SO4 2 Na+ + SO42- + 10 tetes indikator universal A (+) : 2 H2O 4 H+ + O2 + 4 e K (-) : 2 H2O + 2 e 2 OH- + H2 Na2SO4 + 6 H2O 2 Na+ + SO42- + 4 H+ + 4 OH- + O2 + 2 H2 Katoda : NaOH + gas H2 Anoda : H2SO4 + gas O2 2. KI K+ + IA (+) : 2 I- I2 + 2 e K (-) : 2 H2O + 2 e 2 OH- + H2 2 KI + 2 H2O 2 K+ + I2 + 2 OH- + H2 2 KI + 2 H2O 2 KOH + I2 + H2 Katoda : KOH + gas H2 Dasar Teori : Sel elektrolisis merupakan kebalikan dari sel volta. Dalam sel elektrolisis, listrik digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan. Sel elektrolisis terdiri dari sebuah electrode, elektrolit, dan sumber arus searah. Electron memasuki sel elektrolisis melelui kutub negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan menyerap electron dari katoda dan mengalami reduksi. Sedangkan spesi lain melepas electron di anoda dan mengalami oksidasi. Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda, yaitu reduksi, dan reaksi anoda, yaitu oksidasi. Spesi yang terlibat dalam reaksi katoda dan anoda bergantung pada potensial elektroda dari spesi tersebut. Ketentuannya sebagai berikut. Spesi yang mengalami reduksi di katoda adalah spesi yang potensial reduksinya terbesar. Spesi yang mengalami oksidasi di anoda adalah spesi yang potensial oksidasinya terbesar. Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu: 1. Elektrolisis larutan elektrolit. 2. Elektrolisis larutan non elektrolit. Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu: 1. Elektroda inert/tidak aktif (elektroda karbon, platina, dan emas) 2. Elektroda selain inert/aktif.

Kesimpulan : 1. Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda (reduksi) dan reaksi anoda (oksidasi). 2. Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektrolisis larutan elektrolit dan elektrolisis leburan elektrolit. 3. Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektroda inert dan elektroda selain inert. Daftar Pustaka Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga. HALOGEN (KELAS XII) Tujuan : Mempelajari daya oksidasi halogen terhadap Fe2+ dan daya reduksi ion halide terhadap Fe3+. Alat dan Bahan : Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah Tabung reaksi 8 Rak tabung reaksi 1 Pipet tetes 9 Larutan Klorin 1 ml Larutan Bromin 1 ml Larutan Iodin 1 ml Larutan Besi (II) sulfat 0,1 M 2 ml Larutan Besi (III) sulfat 0,1 M 2 ml Larutan Natrium klorida 0,1 M 1 ml Larutan Natrium bromide 0,1 M 1 ml Larutan Kalium Iodida 0,1 M 1 ml Larutan Kalium tiosianat 0,1 M 2 ml (KSCN) Cara Kerja : 1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+. Ambil dua tabung reaksi, masukkan 10 tetes larutan FeSO4 0,1 M ke dalam tabung pertama dan masukkan 10 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung kedua. Tambahkan 5 tetes larutan KSCN 0,1 M pada masing-masing tabung, guncangkan tabung, amati, dan catat pengamatan Anda. 1. Daya oksidasi halogen. 2. Siapkan tiga tabung reaksi bersih dan masukkan ke dalam tabung reaksi berturut-turut 10 tetes larutan Klorin pada tabung pertama, 10 tetes larutan Bromin pada tabung kedua, 10 tetes larutan Iodin pada tabung ketiga, dan amati warna tabung masing-masing larutan. Kemudian tambahkan pada masing-masing tabung reaksi 10 tetes larutan FeSO4 0,1 M. 3. Apakah pada ketiga tabung di atas terjadi oksidasi ion Fe2+ ujilah dengan larutan KSCN 0,1 M masing-masing 3 tetes. Catat warna setelah ditambah dengan larutan KSCN 0,1 M. untuk mengetahui banyak sedikitnya ion Fe3+ yang ada dalam tabung dapat dilakukan dengan menambah aquades pada tabung reaksi yang berisi ion Fe3+ hingga penuh. 1. Daya reduksi halida. Ambil tiga tabung reaksi dan masukkan 10 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam masingmasing tabung reaksi, kemudian 10 tetes larutan NaCl 0,1 M ke dalam tabung 1, 10 tetes larutan

NaBr 0,1 M ke dalam tabung 2, 10 tetes larutan KI 0,1 M ke dalam tabung 3, bandingkan warna. Cermati dan catat mana yang terjadi reduksi ion Fe3+. Hasil Pengamatan : 1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+ Perubahan Warna setelah Penambahan Larutan Senyawa Besi Larutan KSCN 2+ FeSO4 atau Fe Pekat Fe2(SO4)3 atau Fe3+ Lebih pekat 1. Daya pengoksidasi halogen Perubahan Warna setelah Penambahan Larutan Halogen Larutan FeSO4 Larutan Fe2(SO4)3 Cl2 Bening Coklat kemerahan Br2 Bening Coklat oranye I2 Coklat Coklat pekat 1. Daya reduksi halide Warna Larutan Fe2(SO4)3 Ditambah Larutan Perubahan yang Terjadi Bening NaCl Kuning muda Bening NaBr Kuning oranye Bening KI oranye Dasar Teori : Halogen berasl dari bahasa Yunani yang berarti pembentuk garam. Dinamai demikian karena unsure-unsur tersebut bereaksi dengan logam membentuk garam. Unsure-unsur halogen mempunyai 7 elektron valensi pada subkulit ns2 np5. Konfigurasi elektron yang demikian membuat unsur-unsur halogen bersifat sangat reaktif. Halogen cenderung menyerap 1 elektron membentuk ion bermuatan negatif satu. Dalam bentuk unsur, halogen (X) terdapat sebagai molekul diatomik (X2). Molekul X2 mengalami disosiasi menjadi atom-atomnya. X2(g) 2 X(g). Pada suhu kamar, fluorin dan klorin berupa gas, bromin berupa zat cair yang mudah menguap, sedangkan iodin berupa zat padat yang mudah menyublim. Halogen mempunyai warna dan aroma tertentu. Fluorin berwarna kuning muda, Klorin berwarna hijau muda, Bromin berwarna merah tua, Iodin padat berwarna hitam, sedangkan uap Iodin berwarna ungu. Semua halogen berbau rangsang dan menusuk, serta bersifat racun. Kata Klorin, Iodin, dan Bromin berasal dari bahasa Yunani yang artinya berturutturut adalah hijau, violet (ungu), dan bau pesing (amis). Larutan halogen juga berwarna. Larutan Klorin berwarna hijau muda, larutan Bromin berwarna coklat merah, dan larutan Iodin berwarna coklat. Dalam pelarut tak beroksigen, seperti Tetraklorida (CCl4) atau Kloroform, Iodin berwarna ungu. 1) Reaksi halogen dengan logam. X2 + L I A LX II A LX2 III A LX3 2) Reaksi halogen dengan hidrogen. H2 + X2 2 HX 3) Reaksi halogen dengan nonlogam dan metalloid tertentu. Reaksi dengan Fosfarus, Arsen, dan Antimon menghasilkan trihalida jika halogennya terbatas, atau pentahalida jika halogennya berlebihan.

P4 + 6 Cl2 4 PCl3 P4 + 10 Cl2 4 PCl5 4) Reaksi halogen dengan air. X2 + H2O HX + O2 5) Reaksi halogen dengan basa Klorin, Bromin, dan Iodin mengalami reaksi disproporsional dalam basa. 6) Reaksi antarhalogen. X2 + n Y2 2 XYn Hasil Pengamatan : 1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+ Larutan Senyawa Besi Perubahan Warna + Larutan KSCN 2+ FeSO4 atau Fe Merah coklat 3+ Fe2(SO4)3 atau Fe Merah coklat (lebih tua) 1. Daya oksidasi halogen Perubahan Warna setelah Penambahan Larutan Halogen Larutan FeSO4 Larutan Fe2(SO4)3 Cl2 Putih bening Lebih tua Br2 Kuning jernih Agak muda I2 Merah betadine Lebih muda 1. Daya reduksi halide Warna Larutan Fe2(SO4)3 Ditambah Larutan Perubahan Warna yang Terjadi Bening NaCl Lebih tua dibanding Cl2 Bening NaBr Lebih tua dibanding Br2 Bening KI Lebih muda dibanding I2 Kesimpulan : 1. Daya reduksi halogen dari Cl ke I makin bertambah terlihat dari warna larutan yang semakin tua sehingga mendekati larutan Fe2(SO4)3 padahal warna yang diharapkan menuju FeSO4. 2. Daya oksidasi halogen dari Cl ke I makin berkurang terlihat dari warna larutan yang semakin muda sehingga mendekati larutan FeSO4 padahal warna yang diharapkan menuju Fe2(SO4)3 Daftar Pustaka Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga. UJI PROTEIN (KELAS XII) Tujuan : 1. Mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein dengan tes biuret. 2. Mengetahui adanya inti benzena dengan uji Xanthoproteat. 3. Mengetahui adanya ikatan belerang (S) dengan uji Timbal asetat. Alat dan Bahan : Alat dan Bahan Gelas kimia Agar-agar Pipet tetes Gelatin Tabung reaksi Kapas Penjepit tabung Larutan Tembaga (II) asetat 1% (CuSO4)

Kaki 3 dan kasa Larutan Natrium hidroksida 6 M (NaOH) Spatula kaca Larutan Natrium hidroksida 3 M (NaOH) Gelas Ukur Larutan Timbal (II) asetat {Pb (CH3COO)2} Susu Larutan CH3COOH 3 M Cara Kerja : 1. Uji biuret Jika positif (+) akan berwarna ungu. Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2-3 tetes CuSO4. Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan yang terjadi. Ulangi cara kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. Bila ada yang tidak larut setelah ditambahkan NaOH, panaskan dahulu beberapa menit hingga semua larut, lalu dinginkan. 1. Tes Xanthoproteat Untuk mendeteksi ada tidaknya inti benzena. Jika positif (+) berwarna kuning jingga. Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes HNO3 pekat, panaskan selama 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah dingin masukkan NaOH 6 M tetes demi tetes hingga berlebih. Amati perubahan yang terjadi. Ulangi cara kerja tersebut dengan menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. 1. Uji Timbal asetat Untuk menguji ada tidaknya ikatan belerang (S). Jika positif (+) akan berwarna kehitaman. Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M dan panaskan 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah itu masukkan 2 ml CH3COOH 3 M. tutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan Pb(CH3COO)2. Panaskan 2 menit. Amati perubahan yang terjadi. Ulangi langkah kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. Hasil Pengamatanm : Bahan Uji Biuret Uji Xanthoproteat Uji Timbal asetat Ungu (+) Oranye (+) Tidak hitam (-) Putih telur Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+) Susu Ungu (+) Kuning (+) Hitam (+) Gelatin Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+) Agar-agar Biru (-) Putih bening (-) Hitam (+) Kapas Kesimpulan : 1. Ikatan peptida bereaksi dengan larutan biuret akan berwarna ungu. Sedangkan yang tidak berwarna ungu berarti mengandung glikosida. 2. Inti benzena bereaksi dengan larutan Xanthoproteat akan berwarna kuning jingga. 3. Ikatan S bereaksi dengan larutan Timbal asetat akan berwarna hitam pada kertas saring.