Anda di halaman 1dari 30

6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan membahas teori-teori yang berhubungan dengan
permasalahan yang ingin diteliti, yaitu mengenai teori down syndrome, stres dari
orangtua yang memiliki anak penyandang down syndrome, dan juga bagaimana
coping terhadap stres tersebut. Hal-hal yang dibahas pada bab ini digunakan
sebagai acuan dalam merencanakan prosedur dan melaksanakan penelitian.

2.1 Down Syndrome
Down syndrome pada awalnya sudah diketahui sejak tahun 1866 oleh Dr.
Longdon Down yang berasal dari Inggris, kemudian pada tahun 1959 seorang
ahli genetika Perancis J erome Lejeune dan para koleganya mengidentifikasi
basis genetiknya. Manusia pada umumnya secara normal memiliki 46 kromosom,
sejumlah 23 diturunkan oleh ayah dan lainnya diturunkan oleh ibu. Para individu
yang mengalami down syndrome hampir selalu memiliki 47 kromosom bukan 46
kromosom. Ketika terjadi pematangan telur, dua kromosom pada pasangan
kromosom 21, yaitu kromosom terkecil, gagal membelah diri. J ika telur bertemu
dengan sperma, akan terdapat 3 kromosom 21 yang disebut trisomi 21 (Gerald
dkk, 2006).
Nama gangguan ini pada awalnya dikenal dengan sebutan Mongoloid atau
Mongolism karena penyandangnya memiliki gejala klinik yang khas, yaitu mereka
memiliki wajah seperti bangsa Mongol dengan karakteristik yang sama. Bangsa
Mongol memiliki mata yang sipit membujur ke atas. Namun, setelah gangguan ini
belakangan diketahui terdapat pada seluruh bangsa di dunia dan kemudian
munculah tuntutan dari pemerintahan Negara Mongolia yang berpendapat dan
7

menganggap pemberian nama Mongoloid atau Mongolism kurang etis, maka


dianjurkan untuk mengganti nama tersebut dengan down syndrome. Kata
syndrome itu sendiri mengartikan kumpulan dari gejala-gejala klinik. J adi,
pengertian dari down syndrome adalah kelainan yang merupakan kumpulan
gejala klinik tertentu yang ditemukan oleh Dr. Longdon Down (Fadhli, 2010).
Down syndrome dapat dikatakan termasuk sebagai penyakit genetik
karena kelainannya terdapat pada materi genetik tetapi bukan kelainan yang
diturunkan. Penyebab dari terjadinya down syndrome adalah karena adanya
penyimpangan jumlah kromosom yang membentuk sel-sel janin. Pada umumnya
penyandang down syndrome mempunyai jumlah kromosom 47, karena adanya
penambahan kromosom pada pasangan kromosom ke 21 sehingga kromosom
tersebut berjumlah 3 (Selikowitz, 2001).
2.1.1 Definisi Down Syndrome
Down Syndrome merupakan gangguan pada perkembangan yang dibawa
sejak lahir. Penyandang down syndrome sendiri dapat dengan mudah dikenali
karena mereka memiliki ciri fisik dan karakteristik yang khas atau menonjol.
Selain itu juga, penyandang down syndrome ini mengalami sejumlah
keterbatasan baik secara fisik maupun mental (Selikowitz, 2001).
2.1.2 Penyebab Down Syndrome
Penyebab kelainannya berawal dari terbentuknya manusia dari satu sel
yang terjadi akibat pertemuan sperma (mani) dan sebuah sel telur, setelah
terjadinya proses pembuahan. Tubuh kita sendiri terdiri dari sel-sel yang
mengandung kromosom-kromosom yang pada setiap sel terdapat 46
kromosom. Kromosom ini bukan saja menentukan penampilan diri kita, tetapi
juga menentukan ciri-ciri dan sifat manusia. Kromosom ini juga menentukan
bagaimana bentuk wajah kita, karakter, sifat, bakat, karena di dalam
8

kromosom ini terdapat unsur-unsur keturunan yang sebagian berasal dari ibu
dan separuhnya lagi berasal dari ayah. J adi dalam setiap sel kita ada 23
kromosom ibu dan 23 kromosom ayah.
Seorang anak dengan down syndrome ini tidak memiliki 46 kromosom
sebagaimana seharusnya melainkan 47 kromosom. Kelebihan satu pada
jumlah kromosom ini selalu terdapat pada saudara kembar kromosom nomor
21. Hal tersebut menyebabkan anak dengan down syndrome memiliki tiga
kromosom 21, bukan dua kromosom 21. Kelebihan kromosom 21 ini biasanya
terjadi karena terdapat kesalahan pada waktu pembagian sel. Tanpa
disengaja masuklah dua kromosom 21 ke dalam anak sel, sehingga sel yang
lainnya tidak memiliki kromosom nomor 21 ini, akibatnya ia musnah,
sedangkan sel dengan kelebihan kromosom tumbuh dan terus hidup.
Pembagian yang salah ini dapat terjadi baik dalam sperma laki-laki maupun
pada sel telur wanita sebelum terjadi pembuahan. Tetapi hal ini juga dapat
juga terjadi kesalahan pembagian selama proses pemecahan yang telah
dibuahi berlangsung (Mangunsong, 2009).
Fadhli (2010) mengatakan angka kejadian down syndrome rata-rata di
seluruh dunia adalah 1 dari setiap 700 kelahiran. Kejadian ini akan bertambah
dikarenakan semakin tua usia ibu hamil. Biasanya calon-calon bayi dengan
down syndrome 60% cenderung gugur dan 20% akan lahir mati. Selain
pengaruh usia ibu pada anak down syndrome, menurut Soetjiningsih (1995)
usia ayah juga dapat membawa pengaruh pada anak down syndrome.
Orangtua dari anak dengan down syndrome mendapatkan bahwa 20-30%
kasus ekstra kromosom 21 bersumber dari ayahnya, tetapi korelasinya tidak
setinggi dengan usia ibu.
9

Down syndrome terjadi pada setiap 800 atau 1000, tetapi akan semakin
kecil kemungkinan ibu melahirkan anak down syndrome jika ibu tersebut
melahirkan pada usia muda, akan tetapi semakin tua usia ibu (lebih dari 40
tahun) maka akan semakin besar peluang melahirkan anak down syndrome
(Rosidah, 2010). Ibu dengan usia diatas 35 tahun harus waspada dengan
adanya kemungkinan seperti ini, karena sel telur wanita telah dibuat pada saat
wanita tersebut masih dalam kandungan yang akan dimatangkan satu per
satu setiap bulan pada saat wanita tersebut akil balik. Oleh karena itu pada
saat wanita menjadi tua, kondisi sel telur tersebut kadang-kadang menjadi
kurang baik dan pada waktu dibuahi oleh sel telur laki-laki, sel benih ini
mengalami pembelahan yang kurang sempurna (Fadhli, 2010).
2.1.3 Jenis-jenis Down Syndrome
Terdapat 3 variasi genetik yang menjadi penyebab down syndrome
(Selikowitz, 2001), yaitu :
1. Trisomi 21
Keadaan ini disebabkan oleh adanya ekstra kromosom 21 dalam
semua sel individu. Hal seperti itu terjadi karena salah satu dari
orangtua memberikan dua kromosom 21 baik melalui sel telur
maupun melalui sperma, bukannya satu seperti biasanya. Ini
merupakan bentuk yang paling banyak terjadi (95%) pada anak-anak
down syndrome yang lahir dari ibu dengan bermacam-macam usia.
2. Translokasi
Pada tipe ini, sebagian dari kromosom lain tersangkut pada
kromosom 21. Hal itu terjadi ketika bagian atas yang kecil dari
kromosom 21 dan sebuah kromosom lain pecah, lalu kedua bagian
yang tersisa saling melekat satu sama lain pada bagian ujungnya.
10

Proses saling melekat tersebut dinamakan translokasi. Kromosom


yang terlibat hanya tertentu saja, yaitu kromosom yang memiliki
ujung-ujung kecil yang secara genetik tidak aktif, yang dapat putus
dan hilang tanpa menimbulkan efek buruk seperti kromosom 13, 14,
15, 22 atau kromosom 21 lainnya. Kasus seperti ini terjadi hanya 3-
4% pada anak-anak penyandang down syndrom.
J enis Translokasi ini bisa terjadi apabila salah satu orangtua
merupakan pembawa. Yang dimaksud dengan pembawa adalah
orang yang normal yang memiliki 23 pasang kromosom namun salah
salah satu dari kromosom 21 melekat dengan kromosom lainnya.
Maka masalah yang akan timbul adalah pada saat memproduksi
sperma atau sel telur adalah sulitnya untuk membagi jumlah
kromosom dengan merata, karena kedua kromosom tersebut sudah
saling melekat satu sama lain.
3. Mosaik
Pada keadaan ini, hanya sebagian sel yang mengandung ekstra
kromosom sedangkan sel yang lain normal. Individu-individu ini
dikatakan menunjukkan gambaran mosaik karena sel-sel tubuh
mereka seperti mosaik yang tersusun dari potongan-potongan yang
berbeda, sebagian normal dan sebagian dengan kromosom
tambahan. Kasus ini adalah kasus yang paling jarang terjadi pada
anak down syndrome, jumlahnya hanya 1% saja.
Penyandang jenis ini seringkali memiliki ciri-ciri fisik down syndrome
yang kurang menonjol dan berkembang lebih mendekati normal.
Meskipun sangat jarang terjadi, penyandang dengan bentuk seperti
ini dapat memiliki intelektualitas yang normal.
11

2.1.4 Karakteristik Down Syndrome


Beberapa ciri-ciri penyandang down syndrome meliputi karakteristik fisik,
kognitif, dan kepribadian.
a. Karakteristik Fisik
Anak down syndrome memiliki ciri-ciri fisik yang khas dan
menonjol sehingga mudah bagi mereka untuk dikenali. Hal tersebut
yang kemudian membedakan mereka dengan anak-anak yang normal.
Selikowitz (2001) menyebutkan ciri-ciri yang penting dalam mengenali
kelainan down syndrome, yaitu :
a. Wajah
Ketika mereka dilihat dari depan, anak penyandang down syndrome
biasanya mempunyai karakteristik wajah yang bulat. Dari samping,
bentuk wajah mereka cenderung datar.
b. Kepala
Sebagian besar penyandang down syndrome memiliki bagian
belakang kepala yang sedikit rata. Ini dikenal dengan istilah
brachycephaly.
c. Mata
Hampir semua penyandang down syndrome memiliki mata yang
sedikit miring ke atas. Selain itu, seringkali ada lipatan kecil pada
kulit secara vertikal antara sudut dalam mata dan jembatan hidung.
Lipatan tersebut dikenal dengan lipatan epicanthic atau epicanthus.
Hal tersebut memberikan kesan mata terlihat juling. Mata
mempunyai bintik putih atau kuning terang di sekitar pinggir selaput
pelangi (bagian berwarna dari mata). Bintik itu disebut dengan
12

brushfield, yang dinamai sesuai dengan nama penemunya yaitu


Thomas Brushfield.
d. Rambut
Penyandang down syndrome biasanya memiliki rambut yang lemas
dan lurus.
e. Leher
Bayi-bayi yang baru lahir dengan mengidap down syndrome
memiliki kulit berlebih pada bagian belakang leher namun hal ini
biasanya berkurang seraya usia mereka bertambah. Anak-anak
yang lebih besar dan dewasa cenderung memiliki leher yang
pendek dan lebar.
f. Mulut
Rongga mulut sedikit lebih kecil dan lidah sedikit lebih besar dari
ukuran anak pada umumnya. Kombinasi ini membuat sebagian
anak mempunyai kebiasaan menjulurkan lidahnya.
g. Tangan
Kedua tangan cenderung lebar dengan jari-jari yang pendek. J ari
kelingking kadang-kadang hanya memiliki satu sendi, bukan dua
seperti biasanya. J ari kelingking mungkin juga sedikit melengkung
ke arah jari-jari lain. Keadaan ini disebut dengan istilah klinodaktili.
Telapak tangan hanya memiliki satu alur yang melintang dan
apabila ada dua garis, keduanya memanjang melintasi tangan.
h. Kaki
Bentuk jari kaki cenderung pendek dan gemuk dengan jarak yang
lebar antara ibu jari dengan telunjuk. Hal itu disertai dengan suatu
13

alur pendek pada telapak kaki yang berawal dari celah antar jari lalu
ke belakang sepanjang beberapa sentimeter.
i. Tonus
Tungkai dan leher penyandang down syndrome yang masih kecil
seringkali terkulai. Lembeknya otot (Hipotonia) berarti mempunyai
tonus rendah. Tonus adalah tahanan yang diberikan oleh otot
terhadap tekanan pada waktu otot dalam relaksasi. Tonus ini selalu
paling rendah pada tahun-tahun awal dan kembali secara spontan
sewaktu anak tersebut bertambah besar. Tonus berbeda dengan
kekuatan otot yang membutuhkan kontraksi otot yang aktif.
Kekuatan otot-otot biasanya normal. Otot-otot mereka mungkin
lembek, namun mereka tidak lemah.
j. Ukuran tubuh
Berat badan penyandang down syndrome biasanya kurang
daripada berat rata-rata. Panjang tubuhnya sewaktu lahir juga lebih
pendek. Semasa kanak-kanak, mereka tumbuh dengan lancar
tetapi lambat. Sebagai orang dewasa umumnya mereka lebih
pendek dari anggota keluarga yang lainnya. Tinggi mereka berkisar
sekitar dibawah tinggi rata-rata orang normal.
b. Karakteristik Kognitif
Ciri lain dari penyandang down syndrome yang merupakan
keluhan utama pada orangtua adalah retardasi mental atau
keterbelakangan mental. Mangunsong (2009) menyebutkan bahwa
kaum profesional mengklasifikasikan anak down syndrome berdasarkan
tingkat keparahan masalahnya. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tingkat
kecerdasan atau skor IQ, yaitu :
14

1. Mild mental retardation (ringan) (IQ 55-70)


Pada tingkatan ini dalam segi pendidikan termasuk yang bisa dididik,
mereka masih bisa dididik di sekolah umum, meskipun hasilnya lebih
rendah daripada anak-anak normal pada umumnya karena rentang
perhatian mereka pendek sehingga sulit berkonsentrasi dalam
jangka waktu yang lama. Mereka juga tidak memperlihatkan kelainan
fisik yang mencolok sekalipun perkembangan fisiknya lebih lambat
dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Tinggi dan
berat badannya tidak berbeda dengan anak-anak normal pada
umumnya namun berdasarkan hasil observasi mereka kurang dalam
hal kekuatan, kecepatan, dan koordinasi, serta sering memiliki
masalah kesehatan. Terkadang sering merasa frustasi saat diminta
berfungsi secara sosial atau akademis yang sesuai dengan usia
mereka sehingga tingkah laku mereka menjadi tidak baik, misalnya
ketika diminta untuk acting out atau menolak untuk melakukan tugas
didalam kelas. Sikap yang ditunjukkan adalah malu dan diam.
Namun hal-hal tersebut dapat berubah bila mereka banyak
dilibatkan untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya.
Di luar pendidikan, mereka dapat melakukan beberapa ketrampilan
sendiri seperti makan, mandi, berpakaian, dan sebagainya. Pada
mereka yang IQ-nya lebih tinggi mampu menikah dan berkeluarga.
2. Moderate mental retardation (IQ 40-55)
Pada tingkatan ini dapat dilatih untuk beberapa ketrampilan tertentu.
Meski sering berespon lama terhadap pendidikan dan pelatihan, jika
diberikan kesempatan pendidikan yang sesuai maka mereka dapat
dididik untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan-
15

kemampuan tertentu. Mereka dapat dilatih untuk mengurus dirinya


sendiri dan dilatih untuk membaca dan menulis sederhana. Mereka
memiliki kekurangan dalam kemampuan mengingat bahasa,
konseptual, perseptual, dan kreativitas, sehingga perlu diberikan
tugas yang lebih simpel, singkat, relevan, berurutan.
Mereka menampakkan kelainan fisik yang merupakan gejala
bawaan, namun gejala fisik itu tidak seberat yang dialami anak-anak
pada kategori severe dan profound. Mereka memiliki koordinasi fisik
yang buruk dan mengalami masalah di banyak situasi sosial. Selain
itu mereka juga menampakkan adanya gangguan pada fungsi bicara
mereka.
3. Severe mental retardation (IQ 25-40)
Pada tingkatan ini memperlihatkan banyak masalah dan kesulitan
meskipun mereka sudah disekolahkan pada sekolah khusus. Oleh
karena itu mereka membutuhkan perlindungan hidup dan
pengawasan yang lebih teliti, pelayanan dan pemeliharaan yang
terus menerus karena mereka tidak dapat mengurus diri mereka
sendiri tanpa bantuan dari orang lain meskipun menghadapi tugas-
tugas yang sederhana. Mereka jarang sekali dipekerjakan dan
sedikit sekali dalam berinteraksi sosial.
Mereka juga mengalami gangguan bicara, mereka hanya bisa
berkomunikasi secara vokal setelah pelatihan intensif. Tanda-tanda
kelainan fisik lainnya ialah lidah yang seringkali terjulur keluar
bersamaan dengan keluarnya air liur, ukuran kepala lebih besar dari
biasanya. Kondisi fisik mereka lemah sehingga mereka hanya bisa
16

dilatih ketrampilan khusus selama kondisi fisik mereka


memungkinkan.
4. Profound mental retardation (IQ di bawah 25).
Pada tingkatan ini mereka mempunyai problem yang serius, baik itu
menyangkut fisik, inteligensi serta program pendidikan yang tepat
bagi mereka. Pada umumnya mereka memperlihatkan kerusakan
pada otak serta kelainan fisik yang nyata, seperti hydrocephalus,
mongolism, dan sebagainya. Mereka dapat makan dan berjalan
sendiri namun, kemampuan berbicara dan berbahasa mereka
sangat rendah begitupun dengan interaksi sosial mereka sangat
terbatas. Kelainan fisik lain yang dimiliki mereka dilihat dari kepala
yang lebih besar dan sering bergoyang-goyang. Mereka juga sangat
kurang dalam hal penyesuaian diri sendiri seperti sewaktu mereka
berdiri, mereka tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang
lain dan mereka membutuhkan bantuan pelayanan medis yang baik
dan intensif (Mangunsong, 2009).
Meskipun demikian, Mangunsong (2009) menyatakan bahwa biasanya
anak down syndrome memiliki IQ yang berkisar antara mild dan
moderate mental retardation.
Keterbelakangan mental ini menyebabkan penyandang down
syndrome mengalami defisiensi dalam berbagai ketrampilan adaptif
seperti ketrampilan komunikasi dan bahasa, sosial, akademik, merawat
diri, dan hidup berumah tangga, mengatur atau mengarahkan diri, serta
ketrampilan bekerja (Davidson dan Neale, 1998). Keterbatasan tersebut
menjadi keluhan utama bagi orangtua karena dengan keterbatasan
intelektual, anak menjadi tidak dapat mandiri sepenuhnya dan akan
17

selalu membutuhkan dukungan yang berkepanjangan dan terus


menerus dari keluarga dan institusi-institusi tertentu (Hoffnung, 1997).
Namun demikian, melalui pendidikan yang tepat, penyandang down
syndrome dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal
(Selikowitz, 2001). Hall dan Hill (1996) menyebutkan bahwa faktor
lingkungan sangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak penyandang
down syndrome.
c. Karakteristik Kepribadian
Dari aspek kepribadian, stereotipe dari anak down syndrome
adalah bersahabat, suka bergaul, dan terbuka. Hal itu memaksudkan
bahwa mereka bisa bersosialisasi dengan lingkungan secara baik
meskipun keterbelakangan mental membatasi ketrampilan sosialnya.
Hasil dari penelitian lain menunjukkan adanya variasi pada stereotipe
kepribadian dari anak-anak penyandang down syndrome sehubungan
dengan adanya perbedaan pada usia dan jenis kelamin (Wenar, 1994).
Seperti halnya dengan perilaku dan emosinya yang juga bervariasi
sangat luas, seorang anak penyandang down syndrome dapat lemah
dan tidak aktif, sedangkan yang lainnya agresif dan hiperaktif. Sehingga
gambaran stereotipe dimasa lalu tentang anak down syndrome yang
pendek, gemuk, tak menarik dengan mulut yang selalu terbuka dan lidah
yang terjulur keluar, serta retardasi mental yang berat adalah deskripsi
yang tidak sepenuhnya benar (Soetjiningsih, 1995).
2.1.5 Masalah kesehatan
Kebanyakan dari anak dengan down syndrome mempunyai kesehatan
yang baik. Bila mereka sakit, biasanya penyakit yang disandang adalah
penyakit anak-anak normal pada umumnya yang tidak ada hubungannya
18

sama sekali dengan down syndrome sehingga tidak perlu ditangani dengan
berbeda (Selikowitz, 2001). Namun demikian, Selikowitz (2001) menyebutkan
beberapa keadaan yang lebih sering terjadi pada anak down syndrome adalah
seperti gangguan pernapasan, gangguan pendengaran, gangguan
penglihatan, gangguan pencernaan, disfungsi pada tiroid, gangguan pada
gigi, penyakit kulit, leukimia, dan kelainan jantung. Hoffnung (1997)
menyebutkan bahwa sebagian besar anak-anak dengan down syndrome
hanya dapat bertahan hidup hingga dewasa muda (middle Adulthood) tetapi
sekitar 14% meninggal pada usia satu tahun dan 21% meninggal pada usia
sepuluh tahun.
Pada awal abad ke 20, individu dengan down syndrome ditakdirkan
hidup di lembaga-lembaga perawatan dan jarang yang dapat bertahan hidup
hingga melewati usia 9 tahun. Namun belakangan peningkatan dalam
intervensi terapeutik dan pendidikan, seperti treatmen medis yang lebih baik
dan penyatuan anak-anak ke sekolah dan komunitas, telah berkontribusi
meningkatkan harapan hidup mereka. Saat ini sebagian besar individu
dengan down syndrome dapat hidup hingga usia sekitar 50 tahun. Akan tetapi
kesehatan mereka yang hidup hingga usia tersebut biasanya buruk, dan
hampir semuanya mengalami perubahan otak hampir sama dengan penderita
Alzheimer (Halgin & Krauss, 2011).
2.1.6 Masalah Perilaku
Ada dua pendapat yang bertolak belakang mengenai perilaku anak-anak
dan otang dewasa penyandang down syndrome. Yang pertama adalah bahwa
mereka adalah individu-individu yang tenang dan mudah diatur. Pendapat
lainnya adalah bahwa mereka merupakan orang-orang yang keras kepala dan
sulit dikontrol. Hal tersebut mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya
19

bahwa perilaku penyandang down syndrome adalah bervariasi (Selikowitz,


2001).
Menurut Selikowitz (2001), tidak ada masalah perilaku yang unik pada
anak-anak down syndrome. J ikapun ada masalah yang muncul, pada
umumnya masalah ini serupa dengan yang ditemukan pada anak-anak
normal yang berusia lebih muda. Hal tersebut dikarenakan anak-anak dengan
down syndrome lebih lambat dalam pencapaian tingkatan perkembangan
daripada anak-anak normal pada umumnya, sehingga mereka secara fisik
terlihat lebih tua dan lebih besar daripada anak-anak normal ketika mereka
berada pada tingkatan usia yang sama. Seperti contohnya tantrum yang
biasanya pada anak-anak normal muncul di usia dua tahun, sedangkan pada
anak down syndrome mungkin baru akan muncul pada usia empat tahun.
Pada saat itu kelakuannya mungkin akan lebih menggangu karena anak lebih
besar.
Beberapa perilaku spesifik yang seringkali muncul pada anak-anak
down syndrome (Selikowitz, 2001), adalah :
1. Menjulurkan lidah, hal ini disebabkan oleh kombinasi lidah yang
berukuran lebih besar daripada ukuran rata-rata dan mulut yang
berukuran lebih kecil.
2. Mencucurkan air liur, karena tonus pada anak-anak down syndrome
rendah sehingga cendrerung membiarkan mulutnya terbuka dan
mencucurkan air liur selama masa kanak-kanak dini.
3. Hiperaktif, kesulitan dalam menyalurkan perhatian kepada satu
aktivitas untuk satu periode.
20

4. Menghilang secara diam-diam, hal ini dikarenakan sulit bagi anak-


anak dengan down syndrome untuk tetap berada disamping orang
dewasa.
5. Tantrum, biasanya muncul pada saat anak sedang frustasi atau
keinginannya dihalangi.
6. Memukul serta menggigit anak-anak lainnya, hal ini seringkali
dimulai sebagai suatu usaha dari seorang anak dengan ketrampilan
bahasa yang lemah untuk berkomunikasi dengan anak yang lain.
7. Perilaku destruktif, biasanya pada mainan dan benda-benda lainnya.
Perilaku-perilaku di atas dapat diperbaiki dengan metode yang
sederhana serta bisa melalui modifikasi perilaku.
Dari karakteristik-karakteristik diatas dari mulai fisik, kognitif, dan
kepribadian, keterbatasan yang dimiliki oleh anak down syndrome disesuaikan
dengan ibu, serta bila kita amati dan lihat dari masalah-masalah yang muncul
pada mereka, maka hal tersebut dapat berpotensi stres pada orang tua (ibu)
dari anak penyandang down syndrome.

2.2 Stres, Coping, dan STAI
2.2.1 Definisi Stres
Stres bukanlah suatu yang mudah didefinisikan. Pada awalnya, istilah
stress diambil begitu saja dalam ilmu fisika. Pada saat itu manusia
diumpamakan serupa dengan logam yang mampu menahan kekuatan dari
luar namun pada satu titik akan kehilangan kekuatannya bila dihadapkan pada
satu tekanan yang lebih besar (Santrock, 1996).
Menurut Selye (dalam Santrock, 1996) stres sebenarnya adalah
kerusakan yang dialami tubuh akibat berbagai tuntutan yang ditempatkan
21

padanya. Berapapun kejadian dari lingkungan atau stimulus akan


menghasilkan respon stres yang sama pada tubuh. Menurut Spielberger
(dalam Irving dan Edward, 2010) menyebutkan bahwa stres adalah tuntutan-
tuntutan yang mengenai seseorang, misalnya objek-objek dalam lingkungan
atau suatu stimulus yang secara obyektif adalah berbahaya. Stres juga biasa
diartikan sebagai tekanan, ketegangan, atau gangguan yang tidak
menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.
Berdasarkan definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa stres adalah
respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stresor),
yang mengancam dan menggangu kemampuan seseorang untuk
menanganinya (coping) (Santrock,1996).
2.2.2 Sumber Stres
Sarafino (1998) mengatakan bahwa sumber stres terdiri dari 3 macam,
yaitu :
a. Stres dari dalam diri sendiri (Sources within the person)
Tingkat stres tergantung seberapa besar suatu aktifitas memerlukan
kekuatan fisik, sumber stres lain berasal dari dalam diri adalah
adanya konflik yang timbul pada diri seseorang karena adanya
kepentingan yang berlawanan. Misalnya: kelemahan atau
ketidaksiapan secara fisik.
b. Stres dari dalam keluarga (Sources in the family)
Keluarga Merupakan salah satu sumber stres. Kecemasan
terhadap keadaan keluarga dirumah dan rasa rindu pada keluarga
bisa menimbulkan stres. Misalnya : perasaan kangen terhadap
keluarga yang berada dikampung halaman.
c. Stres dari lingkungan dan pekerjaan (Sources in the community
22

and society)
Stres yang berhubungan dengan lingkungan dan pekerjaan yang
dialami oleh orang dewasa. Pada faktor lingkungan yang
melibatkan tuntutan tugas dan tanggung jawab terhadap
kehidupan menyangkut keselamatan seseorang.
J adi stresor dapat disimpulkan sebagai kondisi fisik dan lingkungan
sebagai mengancam merusak, membahayakan yang menghasilkan perasaan
tertekan (Sarafino, 1998).
2.2.3 Gejala Stres
Menurut Wijoyo (2011) ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya
terkena stres padahal sebenarnya tidak. Sebaliknya para penderita stress
justru tidak menyadari keadaannya. Menurut Donald (dalam Wijoyo, 2011)
menunjukkan bahwa gejala seseorang mengalami stres pada dasarnya dapat
dibagi dalam tiga kategori yaitu berdasarkan fisik, psikologis, dan perilaku.
1. Gejala stres pada fisik
a. Mudah lelah, sesak napas, napas terengah-engah, nyeri
kepala, nyeri rahang, pandangan tertekan, berkeringat
meskipun suhu normal, mulut kering, rambut kusut, wajah
pucat.
b. Otot tegang di leher, bahu, pundak, lengan, dan kaki.
Tangan terasa atau teraba dingin.
c. J antung berdebar, detak tak teratur. Rasa sesak atau
kencang di dada dan didaerah jantung. Tangan gemetar
(Tremor). Tekanan darah tinggi, gula darah dan zat
pembeku darah naik.
23

d. Nyeri perut, mual atau muntah, perut kembung dan banyak


gas, gangguan pencernaan, mencret, dan sering buang air
besar berlendir atau sebaliknya sembelit, sering buang air
kecil lebih banyak dari biasanya, asam lambung bertambah
(nyeri, sakit atau pana pada bagian ulu hati).
e. Tubuh mudah diserang berbagai penyakit seperti alergi
dan infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh.
f. Nyeri pinggang, sakit punggung bawah, nyeri atau radang
sendi.
g. Pada wanita, siklus haid akan terganggu.
2. Gejala stres pada jiwa
a. Sedih, menangis, merasa seperti tidak berdaya.
b. Perasaan yang berubah-ubah
c. Sulit berkonsentrasi, proses berpikir dan ingatan
terganggu.
d. Kehilangan selera humor, minat dan tidak tertarik pada
orang lain dan pada penampilannya sendiri. Kehilangan
selera terhadap kesenangan dan seks.
e. Menarik diri dari pergaulan dan orang lain.
f. Merasa negatif pada diri sendiri, segala sesuatunya tidak
berguna, merasa terjepit, dan menyalahkan diri sendiri.
3. Gejala stres pada perilaku
a. Aktivitas berkurang, tidak ada tenaga, atau aktivitas
berlebih dan tidak bisa istirahat.
b. Banyak minum alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan
terlarang seperti narkoba.
24

c. Sulit berkonsentrasi, cepat tersinggung, dan marah-marah,


berbicara tanpa sadar dengan nada yang tinggi.
d. Mudah kecewa, resah, gelisah, cemas, panik, dan menjadi
pelupa.
e. Sulit tidur atau insomnia tidur terlalu sedikit karena selalu
memikirkan masalah yang ada. Tidur tidak tenang dan
mudah terganggu.
2.2.4 Konflik Utama Stres
Berbagai stimulus bukan hanya menjadi beban yang berat, namun bisa
juga menjadi sumber konflik. Konflik ini sering terjadi ketika individu tersebut
harus mengambil keputusan dari dua atau lebih stimulus yang tidak cocok.
Tiga konflik utama tersebut menurut Santrock (1996) adalah:
1. Konflik mendekat-mendekat (Approach-approach conflict)
Hal ini terjadi apabila individu harus memilih antara dua stimulus
atau dua keadaan yang sama-sama menarik. Konflik mendekat-
mendekat ini adalah konflik yang tingkat stresnya paling rendah
dibandingkan dua tipe konflik lainnya karena dua pilihannya
memberikan hasil yang positif.
2. Konflik menghindar-menghindar (Avoidance-avoidance conflict)
Hal ini terjadi ketika individu harus memilih antara dua stimulus
yang sama-sama tidak menarik yang sebenarnya individu tersebut
ingin menghindari keduanya, namun pada kenyataannya mereka
harus menentukan atau membuat pilihan salah satu dari
keduanya. Konflik ini lebih menyebabkan stres daripada memiliki
keleluasaan memilih dua situasi yang menyenangkan seperti pada
konflik yang sudah dibahas sebelumnya yaitu konflik mendekat-
25

mendekat. Pada akhirnya banyak yang memilih untuk menunda


mengambil keputusan dalam konflik menghindar-mengindar
sampai saat terakhir.
3. Konflik mendekat-menghindar (Approach-avoidance conflict)
Hal ini terjadi bila hanya ada satu stimulus atau keadaan namun
memiliki karakteristik yang positif juga negatif. Konflik ini juga
dapat menyebabkan stres. Dalam posisi seperti ini individu
tersebut seringkali merasa bimbang sebelum mengambil
keputusan. Ketika waktunya untuk mengambil keputusan yang
semakin dekat, kecendrungan menghindar biasanya semakin
mendominasi (Miller dalam Santrock, 1996).
2.2.5 Primary Appraisal dan Secondary Appraisal
Lazarus (1984) mengatakan dalam menilai sesuatu sebagai stres, terjadi
proses dalam diri individu meliputi Primary Appraisal dan Secondary
Appraisal. Dalam melakukan penilaian tersebut ada dua tahap yang harus
dilalui, yaitu :
1. Primary appraisal
Primary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu
peristiwa yang dialami individu. Peristiwa tersebut dapat
dipersepsikan positif, netral, atau negatif oleh individu. Peristiwa
yang dinilai negatif kemudian dicari kemungkinan adanya harm,
threat, atau challenge. Harm adalah penilaian mengenai bahaya
yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Threat adalah penilaian
mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang didapat dari
peristiwa yang terjadi. Challenge merupakan tantangan akan
26

kesanggupan untuk mengatasi dan mendapatkan keuntungan dari


peristiwa yang terjadi.
Primary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:
1. Goal relevance; yaitu penilaian yang mengacu pada tujuan yang
dimiliki seseorang, yaitu bagaimana hubungan peristiwa yang
terjadi dengan tujuan personalnya.
2. Goal congruence or incongruenc; yaitu penilaian yang mengacu
pada apakah hubungan antara peristiwa di lingkungan dan
individu tersebut konsisten dengan keinginan individu atau tidak,
dan apakah hal tersebut menghalangi atau memfasilitasi tujuan
personalnya. J ika hal tersebut menghalanginya, maka disebut
sebagai goal incongruence, dan sebaliknya jika hal tersebut
memfasilitasinya, maka disebut sebagai goal congruence.
3. Type of ego involvement; yaitu penilaian yang mengacu pada
berbagai macam aspek dari identitas ego atau komitmen
seseorang.
2. Secondary appraisal
Secondary appraisal merupakan penilaian mengenai kemampuan
individu melakukan coping, beserta sumber daya yang dimilikinya,
dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat, dan
challenge dalam peristiwa yang terjadi.
Secondary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:
1. Blame and credit: penilaian mengenai siapa yang bertanggung
jawab atas situasi menekan yang terjadi atas diri individu.
27

2. Coping-potential: penilaian mengenai bagaimana individu dapat


mengatasi situasi menekan atau mengaktualisasi komitmen
pribadinya.
3. Future expectancy: penilaian mengenai apakah untuk alasan
tertentu individu mungkin berubah secara psikologis untuk menjadi
lebih baik atau buruk.
Pengalaman subjektif akan stres merupakan keseimbangan antara
primary dan secondary appraisal. Ketika harm dan threat yang ada cukup
besar, sedangkan kemampuan untuk melakukan coping tidak memadai, stres
yang besar akan dirasakan oleh individu. Sebaliknya, ketika kemampuan
coping besar, stres dapat diminimalkan (Lazarus, 1984).
2.2.6 Definisi Coping
Menurut Wong (2002) Coping adalah tahapan khusus dari reaksi individu
terhadap stresor, khususnya terhadap stresor yang menghapus, mengurangi,
atau menggantikan status emosi yang diklasifikasikan sebagai penuh stres.
Menurut Lazarus dan Folkman (1984) Pengelolaan stres yang disebut
dengan istilah coping adalah proses mengelola tuntutan (internal ataupun
eksternal) yang ditaksir sebagai beban karena diluar kemampuan individu.
Definisi pengelolaan stres yang dikemukakan oleh Lazarus lebih menekankan
pada proses, karena berhubungan dengan sesuatu yang secara aktual dipikirkan
atau dilakukan individu dalam situasi khusus, disertai perubahan pikiran dan
tindakan terhadap suatu peristiwa.
Coping terdiri atas upaya-upaya yang berorientasi pada kegiatan untuk
mengelola seperti menuntaskan, ketabahan, mengurangi, atau meminimalkan
tuntutan internal dan eksternal serta konflik diantaranya.
28

Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpukan bahwa coping stres atau
pengelolaan stres merupakan suatu upaya mengelola tuntutan internal ataupun
eksternal yang menjadi ancaman beban perasaan diluar kemampuan diri individu
sebagai penyebab munculnya stres.
2.2.7 Fungsi dan strategi Coping
Lazarus (1984) menyatakan bahwa fungsi dari strategi pengelolaam stres
atau strategi coping dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Strategi pengelolaan yang berpusat pada masalah (Problem
Focused Forms of Coping)
Strategi pengelolaan yang berpusat pada masalah sama dengan
strategi yang ditunjukkan untuk memecahkan masalah. Strategi
diarahkan untuk mengatur atau mengatasi masalah penyebab
stres melalui perubahan reaksi yang menyulitkan dengan
lingkungan. Pengelolaan yang berpusat pada masalah biasanya
dilakukan dengan melakukan tindakan langsung untuk
memecahkan masalah. Oleh karena itu, cara ini sering diarahkan
pada mendefinisikan masalah (defining the problem),
menghasilkan solusi alternatif (generating alternative solutions),
pembobotan alternatif dalam hal cost dan manfaat, memilih antara
cost dan manfaat, dan bertindak (acting). Namun fokus cara ini
lebih luas mencakup strategi yang berorientasi pada masalah,
daripada memecahkan masalahnya sendiri.
Strategi yang berpusat pada masalah bukan hanya sekedar
pemecahan masalah yang menganalisa secara objektif yang
difokuskan pada lingkungan, akan tetapi strategi ini merupakan
29

proses analisa objektif yang difokuskan pada masalah dan


diarahkan kedalam diri individu sendiri.
2. Strategi pengelolaan yang berpusat pada emosi (Emotion
Focused forms of Coping)
Strategi pengelolaan yang berpusat pada emosi berfungsi untuk
mengatur respon emosional terhadap masalah, yang terdiri atas
proses kognitif yang ditujukan untuk mengurangi tekanan emosi
negatif yang ditimbulkan oleh situasi yang tidak menyenangkan.
Seperti menghindari (avoidance), meminimalisasi (minimization),
memberi jarak (distancing), selective attention, perbandingan
positif (positive comparisons), dan mengambil nilai positif dari
suatu kejadian negatif. Banyak dari strategi ini berasal dari teori
dan penelitian mengenai proses defensif dan digunakan dalam
hampir setiap menghadapi stres. Dalam penelitian pada kelompok
yang lebih kecil dari strategi kognitif, justru diarahkan untuk
meningkatkan tekanan emosional. Beberapa individu perlu merasa
buruk sebelum mereka dapat merasa lebih baik; dalam rangka
untuk dapat meringankan mereka pertama kali harus mengalami
penderitaan yang akut dan dalam menyalahkan diri sendiri atau
bentuk lain dari menghukum diri sendiri. Dalam kasus lain, individu
sengaja meningkatkan tekanan emosional mereka untuk
memobilitasi diri untuk bertindak. Strategi yang berpusat pada
emosi ini hampir sama dengan penilaian kembali (reappraisal),
namun tidak semua penilaian kembali dimaksudkan untuk
mengatur emosi.

30

2.2.8 Definisi STAI (State-Trait Anxiety Inventory)


State-Trait Anxiety Inventory (STAI) adalah instrumen untuk mengukur
kecemasan definitif pada orang dewasa. STAI dengan jelas membedakan
antara kondisi sementara "state anxiety" dan kualitas yang lebih umum dan
lama dari "trait anxiety." Hal yang dievaluasi oleh skala STAIS-Anxiety adalah
perasaan ketakutan, gugup ketegangan, dan perasaan khawatir. Skor pada
skala STAIS-Anxiety adalah melihat peningkatan respon terhadap bahaya fisik
dan stres psikologis, dan penurunan sebagai hasil dari training relaksasi.
Pada skala STAIT-Anxiety, konsisten dengan konstruk trait anxiety pasien
sakit jiwa dan depresi pada umumnya memiliki nilai yang tinggi (Mindgarden,
2010).
2.2.9 Pengukuran STAI (State-Trait Anxiety Inventory)
Kecemasan didefinisikan oleh Freud sebagai "sesuatu yang dirasakan,"
sebuah keadaan emosi yang mencakup perasaan ketakutan, gugup
ketegangan, dan khawatir disertai dengan gairah fisiologis. Konsisten dengan
perspektif evolusi Darwin, Freud mengamati bahwa kecemasan adalah adaptif
dalam memotivasi perilaku yang membantu individu mengatasi situasi yang
mengancam dan kecemasan intens itu lazim di sebagian besar gangguan
kejiwaan Spielberger (dalam Irving dan Edward, 2010).
State-Trait Anxiety Inventory (STAI) dikembangkan untuk membuktikan
sesuatu yang dapat dipercaya, relatif singkat, skala laporan diri untuk menilai
tingkatan (state) dan trait anxiety dalam praktek penelitian dan klinis
Spielberger (dalam Irving dan Edward, 2010). Tes STAI terdiri dari dua 20
item skala untuk mengukur intensitas kecemasan sebagai keadaan emosional
(S-Anxiety) dan perbedaan individu dalam wilayah yang rawan kecemasan
sebagai ciri kepribadian (T-Anxiety). Dalam menanggapi item S-Anxiety,
31

subjek melaporkan perasaan intensitas kecemasan mereka "sekarang atau


saat ini" dengan memberikan penilaian pada diri sendiri berdasarkan skala 4
poin berikut: (1) Tidak sama sekali, (2) Agak, (3) cukup atau sedang, (4) amat.
Dalam menanggapi item T-Anxiety dibutuhkan subyek untuk menunjukkan
bagaimana perasaan mereka pada umumnya dengan melaporkan seberapa
sering mereka telah mengalami kecemasan yang berhubungan dengan
perasaan dan kognisi pada skala 4 poin: (1) Hampir tidak pernah, (2) Kadang-
kadang, (3) Sering , dan (4) Hampir selalu.
Item yang dipilih untuk STAI (Formulir X) atas dasar korelasi yang sangat
signifikan dengan langkah yang paling banyak digunakan dari kecemasan
Spielberger (dalam Irving dan Edward, 2010). Dalam penelitian berikutnya,
korelasi kuat dari skala STAI dengan langkah-langkah depresi memberikan
kontribusi untuk mengenali bahwa isi dari beberapa item diadaptasi dari
tindakan kecemasan lain lebih terkait erat dengan depresi daripada
kecemasan (misalnya, "Aku menangis dengan mudah"; "Saya merasa sedih"
). Dalam mengembangkan STAI direvisi (Formulir Y), definisi konseptual state
dan kecemasan yang lebih diperjelas, dan item dengan konten depresif
diganti (Spielberger dalam Irving dan Edward, 2010). Lebih dari 10.000 remaja
dan orang dewasa diuji dalam pembangunan dan validasi dari STAI (Y
Formulir), termasuk sekolah menengah dan mahasiswa, orang dewasa yang
bekerja, personil militer, dan psikiatris, medis, dan pasien gigi Spielberger
(dalam Irving dan Edward, 2010). STAI yang memiliki sifat psikometri sangat
baik untuk sekolah menengah dan mahasiswa, orang dewasa yang bekerja,
dan orang tua. Data normatif luas dilaporkan di manual tes. Bukti kuat dari
validitas konstruk tercermin dalam skor tinggi pasien neuropsikiatri untuk
32

kecemasan adalah gejala utama dan untuk pasien medis dengan komplikasi
kejiwaan.
Penelitian dengan STAI telah sangat berkontribusi dalam pentingnya
membedakan antara intensitas kecemasan sebagai keadaan emosional fana
dan perbedaan individu dalam kecemasan sebagai ciri kepribadian yang relatif
stabil. Sejak pertama kali diperkenalkan lebih dari 40 tahun lalu, STAI telah
diterjemahkan dan diadaptasi ke 70 bahasa dan dialek, dan digunakan secara
ekstensif dalam penelitian seperti yang ditunjukkan oleh kutipan di lebih dari
16.000 publikasi arsip Spielberger (dalam Irving dan Edward, 2010).

2.3 Rentang Usia Ibu
2.3.1 Dewasa Muda
Dewasa muda merupakan salah satu tahapan dalam perkembangan
kehidupan manusia. Ketika memasuki usia dewasa muda biasanya individu
telah mencapai penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
matang. J ika dilihat dari sudut pandang psikologi, definisi dewasa muda
adalah mereka yang telah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri atau telah
menentukan pilihan karirnya, telah membentuk significant relationship atau
sudah membentuk suatu keluarga (Papalia et.al., 2005).
2.3.1.1 Rentang Usia Dewasa Muda (20-40 tahun)
Tahap perkembangan psikososial Erikson mengenai dewasa muda
mengatakan bahwa individu yang berada pada tahap ini mulai dari usia dua
puluh tahun hingga empat puluh tahun. Menurut Erikson, krisis yang
dihadapi pada dewasa muda adalah intimacy and solidarity versus isolation.
Dalam menjalin hubungan intim, individu akan membentuk ikatan yang kuat
33

dalam persahabatan yang ada, yang bersifat saling menguntungkan,


berempati dan adanya hubungan timbal balik (Papalia et.al., 2005).
Pada umumnya, individu dewasa muda akan membentuk hubungan
kedekatan dengan solidaritas dengan orang lain, bila mereka merasa takut
akan kehilangan identitas dirinya bila berada dalam suatu kebersamaan
artinya mereka tidak dapat melebur identitasnya dengan orang lain. Oleh
karena itu, jika usaha intimasi mereka gagal maka mereka akan melakukan
isolasi dari hubungan sosialnya.
2.3.2 Dewasa Madya
Tahap perkembangan psikososial Erikson mengenai dewasa madya
mengatakan bahwa individu yang berada pada tahap ini mulai dari usia empat
puluh sampai umur enam puluh tahun. Menurut Erikson, krisis yang dihadapi
pada dewasa madya adalah generativity vs stagnation. Pada tahapan ini
individu dalam kehidupannya mulai berfokus pada dirinya sendiri dalam
menghadapi usia tua (Papalia et.al., 2005).
Pada umumnya, individu dewasa madya memikirkan keberlanjutan suatu
hal yang sudah dicapai pada masa mudanya, misalnya seperti suasana dalam
keluarga, pekerjaan, lingkungan sosial, dan hubungan dengan pasangan.
Apabila hal tersebut tidak berlanjut, maka individu tersebut akan mengalami
suatu tahapan yang disebut dengan tahap stagnation.

2.3.2.1 Rentang Usia Dewasa Madya (40-60 tahun)
Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain
(Papalia et.al., 2005):
a) Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari
seluruh kehidupan manusia.
34

b) Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan


wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya
dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri
jasmani dan perilaku yang baru.
c) Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson,
selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau
sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
d) Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar
dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat
dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi
dan sosial.

2.4 Kerangka Berfikir
Adapun kerangka berfikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut :








Gambar 2.1 Kerangka berpikir penelitian stres dan coping pada ibu yang memiliki anak
penyandang down syndrome
Ibu yang mempunyai anak penyandang down syndrome dalam
menghadapi anak mereka mengalami stres. Down syndrome sendiri memiliki
empat karakteristik kognisi yang terdiri dari mild mental retardation (ringan)
Ibu yang
memiliki anak
penyandang
Down syndrome
Anak down
syndrome
Mild Moderate Severe Profound
Stres Coping
Problem Focused
Coping
Emotions
Focused Coping
35

dengan IQ 55-70, moderate mental retardation dengan IQ 40-55, severe


mental retardation dengan IQ 25-40, dan profound mental retardation dengan
IQ dibawah 25. Dari keempat karakteristik kognisi tersebut akan melihat
perbedaan tingkat stres-nya.
Dikarenakan ibu tersebut telah mengalami stres maka penulis juga akan
melihat gambaran strategi coping yang digunakan oleh ibu tersebut, apakah
ibu itu menggunakan problem focused coping atau Emotions focused coping.
Problem focused coping yaitu strategi pengelolaan yang berpusat pada
masalah sama dengan strategi yang ditunjukkan untuk memecahkan
masalah. Strategi diarahkan untuk mengatur atau mengatasi masalah
penyebab stres melalui perubahan reaksi yang menyulitkan dengan
lingkungan. Strategi pengelolaan yang berpusat pada masalah biasanya
dilakukan terhadap situasi yang dinilai dapat berubah, dapat berupa tindakan-
tindakan yang merumuskan masalah, membuat alternatif-alternatif jalan
keluar, mempertimbangkan segala kemungkinan yang berhubungan dengan
alternatif yang akan diambil, membuat alternatif yang terbaik sehingga
akhirnya mengambil keputusan untuk bertindak.
Emotions focused coping strategi pengelolaan yang berpusat pada
emosi berfungsi untuk mengatur respon emosional terhadap masalah, yang
terdiri atas proses kognitif yang ditujukan untuk mengurangi tekanan
emosional dan termasuk strategi-strategi seperti penghindaran, pengurangan
aktivitas, membuat jarak, perhatian yang selektif, perbandingan yang positif.
Pada akhirnya tidak menyelesaikan masalah yang dihadapinya (Lazarus,
1984).