Anda di halaman 1dari 14

Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Medan Deli Tahun 2014

Oleh: Muhammad Abzil

Karakteristik Responden
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2013 (n=34)
No
1.

Data Demografi
Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan Umur Menurut Bulan 17 18 - 22 23 - 27 28 - 32 33 - 37 38 - 42 43 Berat Badan / Kg 9,7 9,8 - 12,8 12,9 - 15,9 16,0 - 19,0 19,1 - 22,1 22,2

Frekuensi (n)
12 22 5 8 7 7 5 1 1 14 13 4 2 0 1

Persentase (%)
35,3 64,7 14,7 23,5 20,6 20.6 14,8 2,9 2,9 41,2 38,2 11,8 5,9 0,0 2,9

2.

3.

Berdasarkan data demografi responden dilihat dari jenis kelamin, mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 22 orang (64,7%) dan minoritas berjenis kelamin laki - laki sebanyak 12 orang (35,3%). Berdasarkan umur menurut bulan mayoritas berusia 18 - 22 bulan sebanyak 8 orang (23,5%) dan minoritas berusia 43 - 47 bulan sebanyak 1 orang (3%). Berdasarkan berat badan (kg) mayoritas berat badan 6,7 - 9,7 kg sebanyak 14 orang (41,2%) dan minoritas berat badan 22,2 -25,2 sebanyak 1 orang (2,9%).

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Status Gizi pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2013 (n=34) No 1. 2. Status Gizi Status Gizi Baik Status Gizi Tidak Baik Jumlah Frekuensi (n) 16 18 34 Persentase (%) 47,1 52,9 100,0

Berdasarkan tabel diatas didapat mayoritas balita yang memiliki status gizi tidak baik sebanyak 18 orang (52,9%), dan minoritas memiliki status gizi baik sebanyak 16 orang (47,1%).

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2013 (n=34) No Status Gizi Frekuensi (n) 22 12 34 Persentase (%) 64,7 35,3 100,0

1. ISPA 2. Tidak ISPA Jumlah

Berdasarkan tabel diatas didapat mayoritas balita yang menderita ISPA sebanyak 22 orang (64,7%), dan minoritas balita tidak ISPA sebanyak 12 orang (35,3%).

Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita


Tabel 5.4 Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Deli Tahun 2013 (n=34)

Status Gizi * Kejadian ISPA Crosstabulation Kejadian ISPA Tidak ISPA ISPA 6 10 16 2 P Total 16 18 0,002 0.075 RP

Status Gizi

Gizi Baik Gizi tidak Baik

Total

22

12

34

Berdasarkan tabel hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Medan Deli tahun 2014 diperoleh status gizi baik yang menderita ISPA sebanyak 6 orang dan yang tidak ISPA sebanyak 10 orang. Status gizi tidak baik yang menderita ISPA sebanyak 16 orang, dan tidak ISPA sebanyak 2 orang.

Berdasarkan hasil Uji statistik dengan menggunakan Chi- Square ( p- value) sebesar 0,002 < 0.05 artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja puskesmas medan deli tahun 2014

Dari hasil penelitian ini dijelaskan bahwa anak yang mempunyai masalah dengan status gizi akan baresiko terkena ISPA sebesar 0,075 dari pada anak yang tidak mempunyai masalah dengan status gizi.

Karakteristik Responden Menurut Asmidayanti, Susi (2012), menyatakan anak balita pada umumnya merupakan kelompok umur yang paling sering menderita penyakit akibat kekurangan gizi. Hal ini disebabkan anak balita dalam periode transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa, yang belum mampu mengurus dirinya sendiri dan sering pengurusannya diserahkan kepada orang lain yang juga rendah akan pengetahuan tentang perkembangan anak balita, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap status gizinya

Menurut Depkes RI (2005), gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara langsung dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu; anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, anak tidak mendapat asuhan gizi yang memadai dan anak mungkin menderita penyakit infeksi. Terjadi hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi buruk. Anak yang menderita gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga anak rentan terhadap penyakit infeksi.

Pada probabilitasnya (signifikansi), dari penelitian ini didapat bahwa Asymp Sig adalah 0,002 atau probabilitasnya (p) dibawah 0,05 (0,002 < 0,05), maka Ho ditolak artinya ada hubungan status gizi dengan kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Medan Deli tahun 2014.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Mairuhu, dkk (2012) yang berjudul Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita di Pulau Barrang Lompo Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar menunjukkan bahwa hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA yaitu terdapat 47,4% balita bergizi baik yang tidak menderita ISPA sedangkan sebesar 94,1% balita yang gizi kurang menderita ISPA. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,000 berarti (p < 0,05), dengan demikian maka Ho ditolak atau dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA.

KESIMPULAN
Ada hubungan status gizi dengan kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Medan Deli tahun 2014.