Anda di halaman 1dari 43

1 I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Wilayah Barelang dengan letak geografis yang strategis terletak dipintu gerbang utama Indonesia bagian barat yang merupakan zona perdagangan bebas. Luas laut Barelang 1.647,83 km2 dan terdiri dari 362 pulau. Keadaan ini memberi peluang yang cukup besar untuk usaha perikanan budidaya. Balai Budidaya Laut Batam berada pada daerah berbukit dengan tanah yang berbatu-batuan. Perairan lautnya jernih dengan substrat pasir berlumpur dan terdapat ekosistem terumbu karang, rumput laut, lamun, vegetasi hutan mangrove dikawasan pesisir pantainya. Keadaan ini sangat mendukung untuk pelaksanaan kegiatan budidaya karena lokasi ini juga masih relatif jauh dari sumber-sumber pencemaran yang ditimbulakn oleh aktivitas masyarakat ataupun kegiatan industri. Balai Budi daya Laut Batam terletak di Jalan Raya Barelang Jembatan III, Pulau Setoko, Kecamatan Bulang, Kota Batam. Lokasi ini berjarak sekitar 10 km dari kota Batam dan bersebelahan dengan Pulau Akar. Luas lahan yang dimiliki Balai Budi daya Laut Batam sekitar 6,5 Ha yang digunakan untuk sarana perkantoran, perpustakaan, mesjid, perumahan pegawai, laboratorium, hatchery, kultur pakan alami, KJA, dan sisanya sebagai tempat budidaya ikan. Balai Budi daya Laut Batam telah memproduksi berbagai macam komoditas perikanan seperti kakap putih, kerapu (macan dan bebek), bawal bintang dan kakap mata kucing serta kajian pendahuluan mengenai ikan kurau, kerapu kertang, gonggong, abalon, rumput laut dan udang-udangan. Produksi dan teknologi yang dihasilkan Balai Budi daya Laut Batam telah didistribusikan ke

2 berbagai wilayah seperti Sumatera Utara, Jakarta, Bangka Belitung, kalimantan Barat dan berbagai wilayah provinsi Riau. Kebutuhan konsumsi ikan laut untuk negara-negara Asia (Hongkong, China, Taiwan, Singapura dan Jepang) adalah dalam bentuk ikan hidup. Keberhasilan suatu usaha perikanan sangat ditentukan oleh permintaan pasar. Posisi geografis Batam yang sangat dekat dengan pusat pasar ikan hidup menyebabkan sebagian besar pasokan kebutuhan di atas berasal dari Batam. Balai Budidaya Laut Batam merupakan suatu institusi yang melakukan perekayasaan dan kaji terap akan berbagai informasi ilmu pengetahuan teknologi yang berhubungan dengan teknologi Budidaya laut yang baru dan

menyempurnakan teknologi yang sudah ada sehingga dapat diterapkan oleh masyarakat.

1.2. Tujuan dan Manfaat Untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan yang berada di BBL Batam serta cara menangani penyakit yang ditimbulkan pada ikan. Untuk mengetahui budidaya ikan air laut yang berada di BBL Batam. Untuk mengetahui jenis jenis ikan yang bersifat katadromous di BBL Batam. Untuk mengetahui tata letak suatu usaha budidaya yang dilakukan di laut di BBL Batam. Manfaat dari Pratek Lapangan ini adalah menambah wawasan dalam usaha membudidayakan ikan ikan yang ada di BBL Batam dan memberikan informasi bagi para pembaca.

3 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Taksonomi dan Morfologi Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) Ikan bawal bintang dapat diklasifikasikan ke dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Actinopterygii, Order Perciformes, Family Carangidae, Genus Trachinotus, Spesies Trachinotus blochii.

Gambar 1. Morfologi Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii) Bawal Bintang banyak hidup di daerah laut, sedikit di daerah pantai, terutama Atlantik dan India. Tubuhnya secara umum compressed, dengan bentuk badan lebar dan cenderung pipih. Habitat Bawal Bintang pada masa juvenile yaitu di dasar perairan berpasir yang dangkal atau perairan dekat mulut sungai yang berlumpur. Pada saat dewasa akan bergerak ke arah terumbu karang. Cara hidupnya yaitu bergerombol saat juvenile dan soliter saat dewasa (Iskandar, 2010). Kualitas pakan akan tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan baku pakan (feedstuffs) yang bermutu yang dapat berasal dari berbagai sumber. Pemilihan bahan baku tersebut tergantung pada kandungan bahan gizinya, kecernaannya

4 (digestibility) dan daya serap (biovailability) ikan, tidak mengandung anti nutrisi dan zat racun, tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah. (Adelina. Boer I. dan Suharman I. , 2012).

2.2. Taksonomi dan Morfologi Ikan Kerapu Macan

Menurut Saanin (1986), kerapu macan merupakan bagian Famili serranidae. Kerapu macan dikenal dengan nama flower cod grouper, carpet cod grouper atau brown-marbled grouper. Menurut Suyonto (1994), karena habitat ikan ini adalah daerah karang maka ia juga dijuluki ikan kerapu karang.

Gambar 2. Morfologi Ikan Kerapu Macan Menurut Randall (1987) dalam Subyakto dan Cahyaningsih (2003) taksonomi kerapu macan adalah Phylum Chordata, Sub Phylum Vertebrata, Class Osteichtyes, Sub Class Actinopterigi, Ordo Percomorphy, Sub Ordo Percoidea, Family Serranidae, Genus Epinephelus dan Spesies Epinephelus fuscoguttatus. Menurut Heemstra dan Randall (1987) dalam Natsir (2008) ikan kerapu memiliki bentuk tubuh badan memanjang gepeng atau agak membulat, mulut lebar serong ke atas dengan bibir bawah menonjol ke atas rahang atas dan bawah dilengkapi dengan gigi yang lancip dan kuat. Pada bagian sirip ekor berbentuk

5 bundar, sirip punggung tunggal dan memanjang dimana bagian yang berjari- jari keras lebih sama dengan yang berjari- jari lunak.

2.3. Klasifikasi, Biologi, dan Ekologi Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)

Gambar 3. Morfologi Ikan Kakap Putih

Pada beberapa daerah di Indonesia ikan Kakap Putih dikenal dengan beberapa nama seperti: Pelak, Petakan, Cabek, Cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Dubit Tekong (Madura), Talungtar, Pica-pica, Kaca-kaca (Sulawesi). Ikan Kakap Putih termasuk dalam famili Centroponidae, secara lengkap taksonominya adalah sbb: Phillum : Chordata, Sub phillum : Vertebrata, Klas : Pisces, Subclas : Teleostei, Ordo : Percomorphi, Famili : Centroponidae, Genus : Lates, Species : Lates calcarifer (Bloch,1790) Ikan Kakap Putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar.

6 III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 16 Mei, bertempat di Balai Budidaya Laut Batam yang terletak di Jl.Raya Barelang Jembatan III P.Setoko PO.BOX 60 Sekupang, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. 3.2. Bahan dan Alat Adapun bahan dan alat yang digunakan selama praktikum adalah alat tulis dan kamera untuk dokumentasi kegiatan yang dilakukan. 3.3. Metode Praktikum Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pengamatan praktek langsung dan wawancara dengan pegawai Balai Budidaya Laut Batam. Data sekunder diperoleh dari Balai Budidya Laut Batam, Provinsi Kepulauan Riau serta ditambah dengan literatur-literatur yang mendukung kelengkapan dan kejelasan mengenai data yang didapatkan tersebut.

7 IV. PEMBAHASAN

Balai Budidaya Laut Batam memiliki sarana dan prasarana untuk operasional kegiatan budidaya, mulai dari pemilihan induk, pemijahan, pemeliharaan larva, pendederan dan pembesaran. Secara garis besar fasilitas yang dimiliki Balai Budidaya Laut Batam dapat dilihat Tabel 1. Tabel 1. Sarana dan Prasarana Fisik yang Dimiliki Balai Budidaya Laut Batam No FASILITAS 1 Keramba Jaring Apung (3x3x3m) 2 Bak Induk Beton (255 ton) 3 Bak Beton (8 - 10 Ton) 4 7 8 9 10 14 15 16 17 18 19 21 22 23 24 25 Bak Fiberglass (1-8 Ton) Indoor hatchery Outdoor hatchery Laboratorium penyakit Laboratorium plankton Sistem Filter Tandon air laut (100 ton) Tandon air tawar (125 ton) Pompa Mess operator Kantor Kendaraan Operasional Genset Asrama Ruang pelatihan Komputer Jumlah 6 unit 5 unit 20 unit 64 unit 2 unit 2 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 6 unit 4 unit 2 unit 2 unit 3 unit 20 unit 2 unit 5 unit FUNGSI Pemeliharaan induk dan pembesaran Pemeliharaan Induk Pendederan dan penyediaan pakan alami Pemeliharaan larva, pendederan dan pakan alami Lokasi pemeliharaan larva Lokasi pendederan Identifikasi mengenai penyakit ikan Perekayasaan dan penyediaan pakan alami Menyaring air Stock air laut Stock air Tawar Pengisi air Tempat tinggal karyawan Kelancaran kegiatan administrasi dan program proyek Kelancaran operasional pegawai dan produksi Sumber energi Penginapan peserta diklat Pendidikan dan latihan Sarana dan penunjang kegiatan administrasi dan perekayasaan

8 FUNGSI Fasilitas penerangan dan operasional 27 Rumah pompa 2 unit Penyedia air laut 28 Pos jaga 1 buah Keamanan 29 Perpustakaan 1 unit Pengadaan buku-buku perikanan Sumber : Laporan Tahunan Balai Budidaya Laut Batam 2010 Berdasarkan data dari Tabel 1 . Balai Budidaya Laut Batam memiliki sarana dan prasarana yang baik serta lengkap untuk menunjang operasional suatu kegiatan Budidaya. Air laut yang akan memasuki daerah produksi terlebih dahulu ditampung di tandon-tandon yang ada. Air laut tersebut melewati 3 buah tandon dan masingmasing tandon memiliki daya tampung dan treatment yang berbeda. Setiap melewati tandon, air laut mendapat treatment yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas air dan menjaga sterilisasi dari berbagai jenis organisme, sampah-sampah, kotoran, lumpur dan padatan tersuspensi lainnya yang dapat merugikan usaha budidaya. Berikut adalah skema penyediaan air laut : No FASILITAS 26 Rumah Genset Jumlah 2 unit

AIR LAUT

ELEKTROMOTOR PUMP

TANDON 3

TANDON 2

TANDON 1

BAK-BAK PEMELIHARAAN

BAK-BAK PEMELIHARAAN

BAK-BAK PEMELIHARAAN

Gambar 4. Skema Penyediaan Air Laut Air laut yang akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan produksi di ambil langsung dari perairan yang berada disekitar Balai Budidaya Laut batam. Air laut

9 tersebut diambil dengan menggunakan mesin pompa berjenis elektromotor pump yang berkapasitas 50 Hz, 5,5 KW (Gambar 12). Mesin pompa air laut yang ada di Balai Budidaya Laut Batam berjumlah 5 buah yang diseting secara otomatis untuk memompa air laut ke tandon hingga penuh dan akan berhenti dengan sendirinya.

Dalam Rangka memenuhi kebutuhan pasar ikan hidup di atas tentunya diperlukan usaha budi daya dalam skala yang besar dan terus-menerus. Dengan makin berkembangnya usaha budi daya, terutama budi daya di keramba jaring apung, guna memenuhi kebutuhan ikan hidup, tentunya akan membutuhkan pasokan benih yang berkualitas dan cukup dalam jumlahnya. Kebutuhan benih di wilayah kerja balai Budi daya Laut Batam diperkirakan mencapai 8.650.000 ekor benih ukuran 5-7 cm, kebutuhan benih ini sebagian besar adalah kakap putih, kerapu macan, dan bawal bintang. 4.1. Manajemen Aquakultur Laut Daerah perairan Indonesia yang cukup luas dengan panjang pantai lebih 81.000 km merupakan wilayah pantai yang subur dan dapat dimanfaatkan bagi kepentingan perikanan. Industri perikanan di Indonesia yang awalnya didominasi oleh perikanan tangkap yaitu hanya mengandalkan hasil tangkapan di laut dikhawatirkan akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak seimbang. Apalagi pada beberapa tahun terakhir telah terjadi over fishing sehingga kelestarian sumber daya perikanan akan terus menurun.

Pada Juni 2002 Loka Budidaya Laut Batam menempati lokasi baru di Pulau Setoko, Kecamatan Bulang, Kota Batam dan pada tahun 2006 melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.10/MEN/2006, tanggal 12

10 Januari 2006 resmi menjadi Balai Budidaya Laut Batam dan seluruh kegiatan dipusatkan di lokasi dengan luas 6,5 Ha tersebut.

Komoditi Ikan yang dibudidayakan di BBL Batam adalah Ikan Kerapu Macan, Kerapu Kertang ( hasil hibridisasi), Kerapu Bebek, Bawal Bintang, Kakap Putih, Kakap Merah, dan Abalone. Namun Komoditi unggulan yang berada di BBL Batam adalah Ikan Bawal bintang, kerapu macan dan Kakap putih, Sedangkan Kerang Abalon adalah komoditas yang sedang dikembangkan. 1. Ikan Kakap Untuk menetukan jantan dan betina, terdapat beberapa tanda yang digunakan untuk membedakan jenis kelaminnya yaitu : Pada usia yang sama , ukuran jantan lebih kecil dari betina. Moncong ikan jantan lebih bengkok sedangkan ikan betina lebih lurus. Ikan jantan memiliki bentuk tubuh lebih langsing, sedangkan ikan betina lebih besar. Bagian tengkuk ikan jantan lebih tinggi dari pada ikan betina. Ikan betina memiliki tiga lubang di belakang sirip dubur ( anus, urin, dan kelamin ). Ikan jantan memiliki dua lubang di belakang sirip dubur ( anus, kelamin/urin). Sisik sisik dekat lubang pembuangan ( kloaka ) pada ikan jantan lebih tebal dari ikan betina selama musim pemijahan.

Pada musim pemijahan, bagian perut ikan betina relatif lebih besar ( kembung ) dari pada ikan jantan.

11 Ikan Kakap mengalami pemijahan pada bulan terang dan awal bulan terang tanggal 16 -18 penanggalan jawa. Dengan mempertahankan kualitas pakan yang diberikan, siklus ini dapat berlangsung teratur 1 bulan sekali. Rasio antara induk jantan dan betina yang dipijahkan yaitu 3 : 2. Sistem reproduksi ikan

Kakap Putih dapat mengalami perubahan kelamin dari jantan ke betina atau disebut Protandry hermaprodite. Namun demikian, tidak semua induk betina berasal dari induk jantan dewasa yang mengalami perubahan kelamin (secondary female) tetapi dari awal tetap betina (primary female). Persiapan 2 hari sebelum pemijahan adalah pemasangan screen net (150 200 m) pada dinding-dinding kolam pemijahan yang berbentuk lingkaran. Pemijahan Kakap Putih secara alami yaitu tanpa rangsangan hormonal. Pada malam hari berkisar jam 20.00 21.00 terjadi pembuahan antara sel sperma dan sel telur di Keramba Jaring Apung. Telur yang telah dipanen dan berkualitas baik dan dibuahi sempurna akan melayang dipermukaan dan sangat transparan . Telur yang tidak dibuahi akan berwarna keruh dan mengendap pada dasar bak. Pemanenan telur dengan cara sirkulasi air, dimana air di dalam bak dikeluarkan melalui lobang pemanenan yang berada di sisi atas bak. Selanjutnya telur yang dibawa aliran air di tampung dalam kotak panen ( Screen net mesh size 150 200 mikron ). Bak larva dan seluruh perlengkapan pemeliharaan sebelum digunakan harus bersih, bebas penyakit, dan parasit. Sterilisasi ini dilakukan dengan cara menyikat permukaan bak dan dilakukan perendaman dengan larutan desinfektan selama 2 jam. Sebelum digunakan bak terlebih dahulu dibilas guna menghilangkan bau desinfektan.

12 Air laut yang digunakan untuk pemeliharaan adalah air laut hasil penyaringan, tujuannya agar air laut yang digunakan bersih, jernih, dan tidak membawa banyak material di dalamnya. Bak pemeliharan larva yang digunakan di Balai Budidaya Laut Batam adalah bak berbentuk bulat ( fiberglass) dan bak yang digunakan adalah 10 20 ton. Penggunaan bak yang besar untuk mengurangi fluktuasi suhu, khususnya pada waktu dikeringkan dan dibilas atau direndam dengan kaporit. Salinitas media pemeliharaan adalah 30 33 ppt. Sirkulasi air ( air masuk dan air keluar ) harus lancar, Aerasi sedang, jumlah telur 300 butir/liter. Menebar larva pagi jam 07.00 08.00. Padat tebar berkaitan erat dengan pertumbuhan dan angka kelulushidupan. Apabila kepadatan terlalu tinggi pertumbuhannya lambat akibat adanya persaingan ruang, oksigen, dan pakan. Seiring dengan bertambahnya ukuran dan berat ikan, maka padat penebaran harus dikurani secara bertahap. Penebaran dilakukan setelah larva menetas pada bak inkubasi dengan kepadatan disesuaikan dengan jenis ikan laut yang dipelihara. Penetasan telur dilakukan pada bak inkubasi maupun langsung pada bak pemeliharaan larva. Pakan awal larva adalah alga ( Nannochloropsis sp.) diberikan sebelum pemberian pakan rotifera (D2/D3). Pemberian alga bertujuan untuk menjaga warna air, mengatur intensitas cahaya yang masuk ke dalam bak, menjaga mutu air dan sebagai pakan rotifera yang ada di dalam bak pemeliharaan. Algae diberikan sampai dengan pemberian rotifer barakhir dengan kepadatan 5 x 103 sel/ml. Pakan selanjutnya diberikan rotifera ( Branchionus plicatilis) diberikan pada saat kuning telur pada larva akan habis, yaitu pada hari ketiga (D3). Sedangkan dosis pemberian rotifera disesuaikan dengan umur larva, kepadatan

13 larva, dan jenis larva. Pada umumnya kepadatan rotifera yang diberikan adalah 5 10 ind/liter. Frekuensi pemberiannya adalah empat kali sehari. Pakan alami selanjutnya adalah naupli artemia (Artemia salina) yang diberikan pada larva saat berumur 8 20 hari sampai dengan larva dapat mengkonsumsi pakan buatan dengan sempurna. Dosis pemberiannya adalah 0,5 1 ind/ml,dengan frekuensi pemberiannya adalah 2 kali sehari. Selanjutnya pakan buatan ( pellet ) diberikan mulai umur 10 hari. Pakan pellet awal berukuran 250 300 m. Ukuran pellet selanjutnya disesuaikan dengan bukaan mulut larva dengan dosis diberikan sampai kenyang (adlibitum). Pemberian pellet lebih dini akan membantu ketergantungan pakan terhadap rotifera dan artemia, sehingga akan menguntungkan secara finansial dan lebih baik bagi kualitas benih, mengingat pakan buatan mempunyai kualitas dan kuantitas yang terjaga. Frekuensi pemberian pellet adalah empat kali sehari ataupun dapat menggunakan tempat pakan otomatis ( authomatic feeder) yang dapat diatur frekuensinya 2. Ikan Bawal Bintang Bawal Bintang (Trachinotus blochii) merupakan ikan hasil introduksi dari Taiwan. Ikan ini dikenal dengan merek dagang Silver Pompano, mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Di pasar internasional kondisinya tak jauh beda. Meskipun harga Bawal Bintang segar sekitar $4 masih kalah jauh jika dibandingkan dengan harga Kerapu segar yang berkisar antara $ 16 sampai $ 18, tetapi permintaan Bawal Bintang terus meningkat (Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2012). Beberapa negara konsumen utama Bawal Bintang selama ini antara lain Jepang, Taiwan, Hongkong, China dan Kanada. Sementara produsen Bawal

14 Bintang hanya Taiwan. Komoditas laut ini di sana sudah mulai berkembang baik mulai dari pembenihan sampai budidayanya (Rahmat, 2009). Ikan pelagis ini tergolong sangat aktif dengan berenang berputarputar di permukaan perairan. Ikan Bawal Bintang tergolong ikan perenang aktif dan mampu hidup dengan tingkat kepadatan sangat tinggi, pada ukuran 3-4 cm sudah bisa dipelihara pada keramba jaring apung (KJA) dank arena ikan bawal bintang sangat aktif sehingga ikan bawal bintang ini sangat sulit untuk parasit menempel pada tubuhnya (kadari, et al 2005). Induk ikan Bawal bintang (Trachinotus blochii) berasal dari hasil budidaya di Balai Budidaya Laut Batam sendiri dan induk dibesarkan dengan pemberian pelet mix dan penambahan vitamin selama pembesaran. Induk yang dalam kondisi sakit diberi obat, apabila induk tersebut terkena parasit segera diberi vaksin. Setelah itu diseleksi induk-induk yang dibesarkan yang akan menjadi calon induk yang akan digunakan. Induk ikan bawal bintang dipelihara di dalam keramba jaring apung (KJA) dengan ukuran 3m x 3m x 3 m yang dilengkapi dengan jaring yang berukuran mesh size jaring 1-2 inci. Jaring yang digunakan berbahan dasar polyethylene.dengan kedalaman 3-4 m dan Induk bawal bintang dipelihara di KJA dengan kepadatan 4kg/m3. Untuk memastikan apakah induk bawal bintang yang dipelihara sudah memasuki tahap untuk siap dipijahkan, maka dilakukan pengecekan terhadap kelamin induk kakap putih dengan cara stripping dan kanulasi, yaitu sebagai berikut :

15 a. Induk bawal bintang dimasukkan ke dalam air laut yang telah diberi anestetik seperti Ethylineglicol monophenilether atau bisa juga menggunakan minyak cengkeh dengan dosis 200 ppm. b. Setelah kondisi induk bawal bintang lemas/pingsan, tubuh ikan dibalikkan sehingga bagian perutnya berada di atas. c. Dilakukan pengurutan secara perlahan mulai dari arah kepala sampai ke lubang genital. Apabila keluar cairan berwarna putih berarti induk jantan. d. Apabila tidak keluar cairan berwarna putih, maka dilakukan kanulasi dengan cara memasukkan selang kanula plastik diameter 1,2 mm pada lubang kelamin sedalam 5-10 cm. e. Setelah selang masuk ke lubang kelamin, sedot melalui kanula tersebut dan dilihat hasilnya. Apabila terdapat cairan putih berarti sperma dan apabila ada telur berarti betina. f. Kemudian lihat apabila warna sperma putih kental (putih susu) ikan jantan sudah matang gonad dan siap untuk dipijahkan begitu juga untuk yang betina apabila bentuk telurnya sudah sempurna dan apabila dikasi air sedikit, maka akan memisah. Pakan yang diberikan berupa pakan buatan (pellet) yang di formulasikan di Balai Budidaya Laut Batam dan pakan ikan segar (rucah). Jenis pakan ini diberikan secara terpisah. Jumlah pakan yang diberikan berkisar antara 3-5 % dari total bobot tubuh induk bawal bintang dengan frekwensi pemberian 2 kali dalam sehari yang diberikan pada pagi jam 08.00 wib dan sore hari 16.30 wib. Sedangkan untuk metoda pemberian pakan ialah dengan menebar langsung pakan tersebut ke perairan secara ad satiation (hingga kenyang).

16 3. Ikan Kerapu Macan Ikan kerapu merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomis di pasar Asia terutama Singapura dan Hongkong. Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang terbesar ikan karang hidup selain Philipina dan Thailand. Produksi ikan kerapu saat ini sebagian besar berasal dari penangkapan dari alam. Melihat prospek yang masih meningkat sejalan dengan bangsa pasar yang memberikan peluang cukup besar dan tentunya menempati posisi yang strategis serta ekonomis. Menurut Heemstra dalam Evalawati et al. (2001), Ikan Kerapu Macan tersebar luas dari wilayah Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih dikenal berasal dari Persia, Hawaii atau Polynesia, terdapat pula hampir di semua

perairan pulau tropis Hindia dan Samudra Pasifik Barat pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Ikan kerapu macan ini dilaporkan banyak juga ditemukan di Madagaskar, India, Thailand, Indonesia, pantai tropis Australia, Jepang, Philipina dan Papua Nugini. Effendi (2002) mengatakan bahwa ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu mengalami perubahan kelamin dari betina ke jantan dan proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktifitas pemijahan, umur, indeks, kelamin dan ukuran ikan ((Anonim, dalam Turangan 2000), (Subyakto dan Cahyaningsih, 2003). Induk ikan dipelihara dengan menggunakan bak fiberglass. Bak yang digunakan pada induk kerapu macan yaitu berbentuk bulat yang dasarnya

17 berbentuk kerucut dimana kemiringannya 15-30 o dengan kedalaman tidak kurang dari 2 meter, yang dilengkapi dengan aerator, air mengalir 24 jam dan saluran pembuangan, kapasitas 10 m3 dengan kepadatan 1- 3 ekor/m3 dan pergantian air sebanyak 30- 40 % per hari. Pembersihan wadah atau pencucian bak induk dilakukan setelah pemijahan selesai . Induk ikan berasal dari alam dan hasil penangkapan nelayan di alam yang dibudidayakan nelayan di perairan Batam. Kemudian didomestikasi

(pemeliharaan secara terkontrol) biasanya berlangsung selama 1 -2 bulan tergantung kondisi induk, kemudian dibesarkan dengan pemberian pelet mix dan penambahan vitamin selama pembesaran. Induk yang dalam kondisi sakit diberi obat, apabila induk tersebut terkena parasit segera diberi vaksin. Setelah itu diseleksi induk-induk yang dibesarkan yang akan menjadi calon induk yang akan digunakan. Pemeliharaan dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA) dengan ukuran 333 meter dengan kepadatan 3 pasang per jaring. Didalam pemijahan yang dilakukan pada induk kerapu macan yaitu dengan menggunakan metode manipulasi lingkungan. Dimana pemijahan yang dilakukan secara alami melalui manipulasi lingkungan. Manipulasi lingkungan dilakukan pada jam 07.00 wib dengan menurunkan air. Pada bagian outletnya dibuka hingga volume air menjadi 2.000 liter/m3, selang waktu 6 jam. Pada jam 13.30 wib air kembali dinaikkan seperti biasa dengan volume airnya. Jika induk kerapu macan terserang penyakit, induk ikan dibawa ke bak karantina dan diberi obat serta diberi pakan yang yang dicampur dengan vitamin. Pemijahan yang dilakukan secara alami yaitu dengan memanipulasi lingkungan sesuai dengan habitat asli ikan kerapu macan, dimana suhu yang

18 sesuai dengan dengan memijah yaitu berkisar antara 28 - 29 0C, salinitas yang sesuai yaitu 31- 32 ppt serta pH dalam kondisi normal 7 - 8. Kenaikan dan penurunan air dilakukan bertujuan untuk menaikan suhu. Pengkontrolan air harus selalu dilakukan, karena sangat berpengaruh terhadap induk kerapu macan yang ada dalam bak pemijahan. Menurut Balai Budidaya Laut Batam (2006) bahwa pengamatan kematangan gonad pada ikan dilakukan setiap awal bulan baru (new moon) yang secara morfologi dan secara histologi. Dalam kegiatan ini untuk mengetahui tingkat kematangan gonad pada ikan dilakukan secara morfologi dimana diperoleh ciri-ciri ikan yang sudah matang gonad yaitu : Pada ikan jantan diperoleh ciri-ciri yaitu : Gerakannya lebih aktif, warnanya lebih cerah, overculumnya memutih dan tubuhnya lebih ramping dari betina. Kebiasaan induk jantan sudah matang gonad memiliki beratnya 7 -9 Kg. Pada ikan betina diperoleh ciri-ciri yaitu : overculumnya memutih, gerakannya pasif, lubang genitalnya memerah, perutnya membuncit, warnya agak lebih gelap. Kebiasaan induk betina dalam kondisi matang gonad memiliki berat 4-6 Kg. 4.2. Manajemen Tata Lingkungan Letak geografis wilayah Barelang yang sangat strategis karena merupakan zona perdagangan bebas. Luas laut Barelang 1.647,83 km2 dan terdiri dari 362 pulau. Keadaan ini memberi peluang yang cukup besar untuk usaha perikanan budidaya. Balai Budidaya Laut Batam berada pada daerah berbukit dengan tanah yang berbatu-batuan. Perairan lautnya jernih dengan substrat pasir berlumpur dan terdapat ekosistem terumbu karang, rumput laut, lamun, vegetasi hutan mangrove

19 dikawasan pesisir pantai. Keadaan ini sangat mendukung untuk pelaksanaan kegiatan budidaya. Menejemen tata lingkungan menyangkut dengan letak keramba jaring apung ukuran keramba,kemudian letak kolam beton, bentuk kolam beton. Untuk ukuran KJA di BBL Batam (3x3x3m), 6 unit untuk pemeliharaan induk dan pembesaran. Bak Beton (8 - 10 Ton), Pemeliharaan larva dan penyediaan pakan alami. Bak Fiberglass (1-8 Ton), Pemeliharaan larva, pendederan dan pakan alami. System penyediaan air di lokasi BBL Batam. Balai Budi daya Laut Batam memiliki sarana dan prasarana untuk operasional kegiatan budi daya, mulai dari pemilihan induk, pemijahan, pemeliharaan larva, pendederan dan pembesaran. Secara garis besar fasilitas yang dimiliki Balai Budi daya Laut Batam Sarana prasarana fisik yang dimiliki Balai Budi daya Laut Batam adalah keramba jaring apung, bak induk beton, bak beton, bak fiberglass, indoor hatchery, outdoor hatchery, laboratorium penyakit, laboratorium plankton, sistem filter, tandon air laut, tandon air tawar, pompa, mess operator, kantor, kendaraan operasional, genset, asrama, ruang pelatihan, komputer, rumah genset, rumah jaga, rumah pompa, pos jaga dan perpustakaan. Dari data tersebut maka Balai Budi daya Laut Batam sudah memenuhi kriteria sebagai tempat untuk melakukan seluruh kegiatan budi daya karena sarana dan prasarana yang sudah lengkap. Air laut untuk kegiatan pembenihan diambil atau dipompa dari laut melalui pipa paralon (PVC) dengan memakai pompa. Selanjutnya air masuk kedalam bak penampungan (Gambar 4) untuk ditampung sementara waktu, setelah itu

20 dimasukkan ke dalam unit penyaringan kemudian disuplai ke bak-bak pembenihan.

Bak Penampungan Air Laut Air tawar berfungsi untuk menurunkan salinitas juga dimanfaatkan untuk pembersihan peralatan penunjang kegiatan operasional sehari-hari. Air tawar diambil dari sumber artesis dan selanjutnya di alirkan ke lokasi pembenihan.

Pompa artesis Air laut sebelum dialirkan ke bak hatchery harus dilakukan penyaringan air agar pasir-pasir atau kotoran air yang berasal dari laut tidak menggaggu aktivitas dan kegiatan budidaya. Alat yang digunakan untuk menyaring air laut dinamakan sand filter. Setelah masuk ke sand filter air akan dialirkan ke dalam bak hatchery tetapi pada bak hatchery tersebut dilakukan filterisasi lagi untuk menghasilkan kualitas air yang baik.

21 Menejemen tata lingkungan yang berada di BBL Batam merupakan konstuksi yang baik karna sudah memperhatikan tata letak yang baik, kemudian tata keramba jarring apung yang baik serta pembangunan setiap hatchery sudah sesuai dengan standar operasional. Untuk pengambilan air dari laut, di BBL Batam di lakukan perlakuan sebelum di alirkan kesetiap bak. Air yang sudah dipakai dalam budidaya, air terlebih dahulu di di beri perlakuan setelah itu baru dibuang di laut. Petimbangan dalam budidaya perairan di BBL Batam yaitu pemilihan lokasi harus tepat dan sesuai dengan konsep budidaya. Sarana dan prasarana dan kegiatan budidaya harus sesuai, kemudian menjaga kelestarian di disekitar lokasi budidaya seperti mangrove. Fungsi mangrove salah satunya menjaga garis pantai, mencegah terjadinya abrasi, serta menjadi rumah untuk jenis crustacean dan lain sebagainya. Keramba jarring apung di perhatikan contohnya biasanya KJA yang berada di dekat laut dikosongkan fungsinya yang pertama untuk menghadang arus yang dating kemudian apabila ikan lompat maka fungsi keramba akan menampung ikan yang lepas. 4.3. Manejemen Rawa Payau Pada umumnya tambak di Indonesia masih sederhana, misalnya petak peneneran dan penggelondongan terletak di tengah tengah petak pembesaran, pintu tambak ukuranya terlalu kecil dan terbuat dari bahan yang kurang baik sehingga mudah rusak. Pematang yang rendah dan sempit serta belum rapi penyusunan kadang kadang mudah bocor atau bobol. Bahkan di beberapa daerah, di tengah tambak masih terdapat pulau pulau maupun sisa sisa tanaman

22 bakau. Hal tersebut dapat mempersulit dalam pengelolaan dan biaya produksi lainya ( Eko prianto,2005). Dalam budidaya rawa payau pengelolaan kolam membutuhkan persiapan persiapan yang matang, adapun persiapannya adalah sebagai berikut: Pengeringan kolam Pengapuran Pemupukan Jenis dan padat tebar Pencegahan hama dan penyakit Habitat dan penyebaran ikan Kakap Putih mempunyai habitat yang sangat luas mulai dari laut, payau, dan tawar. Di sekitar muara sungai yang salinitasnya sedang ikan Kakap Putih hidup mencari makan dengan baik, kadang kadang mendekati sungai yang salinitasnya 0 ppt. Pada waktu ikan masih berumur 2 tahun lebih banyak menghabiskan waktunya di perairan tawar sedangkan disaat matang gonad lebih menyukai perairan payau disekitar muara sungai, benih ikan Kakap Putih yang pandai berenang berupaya ke sungai atau perairan tawar untuk hidup dan mencari makan di daerah tersebut (Gufran, 1997). Di Balai Budidaya Laut Batam, Salah satu ikan yang bisa dibudidayakan pada air payau adalah adalah ikan kakap putih, Ikan Kakap Putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifatsifat inilah yang menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar. Adapun parameter kualitas air yang diukur untuk ikan kakap :

23 Tabel 2. Parameter Kualitas Air No Parameter 1. 2. 3. 4. 5. 6. pH Suhu Salinitas DO Nitrat (NO3) Nitrit
o

Satuan

Bak inkubasi 7,93

Bak induk 8,02 28 31

28 31

Ppt Ppm Mg/l Mg/l

0 0,01

0 0,02

Sumber : Laboratorium Penguji Balai Budidaya Laut Batam Dari Table 2 ini dapat diketahui perbedaan antara kisaran kualitas air yang normal yang baik dan cocok untuk pertumbuhan ikan Kakap dan kisaran kualitas air pada tempat pemeliharaan sehingga dapat diambil pengaruhnya terhadap timbulnya penyakit. Ikan Kakap mengalami pemijahan pada bulan terang dan awal bulan terang tanggal 16 -18 penanggalan jawa. Dengan mempertahankan kualitas pakan yang diberikan, siklus ini dapat berlangsung teratur 1 bulan sekali. Rasio antara induk jantan dan betina yang dipijahkan yaitu 3 : 2. Sistem reproduksi ikan

Kakap Putih dapat mengalami perubahan kelamin dari jantan ke betina atau disebut Protandry hermaprodite. Namun demikian, tidak semua induk betina berasal dari induk jantan dewasa yang mengalami perubahan kelamin (secondary female) tetapi dari awal tetap betina (primary female). Persiapan 2 hari sebelum pemijahan adalah pemasangan screen net (150 200 m) pada dinding-dinding kolam pemijahan yang berbentuk lingkaran. Pemijahan Kakap Putih secara alami yaitu tanpa rangsangan hormonal. Pada

24 malam hari berkisar jam 20.00 21.00 terjadi pembuahan antara sel sperma dan sel telur di Keramba Jaring Apung. Musim berpijah (spawning season) pada masing masing perairan atau daerah berbeda beda. Di Thailand, berlangsung pada bulan April September, dan benihnya mulai banyak tertangkap pada bulan Mei Agustus. Di Malaysia Kakap Putih berpijah berlangsung pada bulan Februari Mei, tepatnya tujuh hari setelah bulan purnama atau bulan baru. Di india bermula dari bulan Januari dan berakhir pada bulan Agustus. Di Australia, Kakap yang sudah tampak bertelur bergerak untuk berpijah pada saat musim semi sebelum musim penghujan. Sedangkan di Indonesia , masa memijah berlangsung pada pertengahan bulan Oktober sampai pertengahan bulan April setiap tahunnya. Jumlah telur atau volume sperma ikan Kakap Putih dewasa meningkat dengan bertambahnya ukuran. Pada ikan berukuran 5,5 kg, jumlah telur (fekunditas) adalah 3,1 juta butir, sedangkan volume sperma pada ikan berukuran 2 3 kg kurang lebih 3 5 ml ( Mayunar dan Genisa, 2002).

Telur yang telah dipanen dan berkualitas baik dan dibuahi sempurna akan melayang dipermukaan dan sangat transparan . Telur yang tidak dibuahi akan berwarna keruh dan mengendap pada dasar bak. Pemanenan telur dengan cara sirkulasi air, dimana air di dalam bak dikeluarkan melalui lobang pemanenan yang berada di sisi atas bak. Selanjutnya telur yang dibawa aliran air di tampung dalam kotak panen ( Screen net mesh size 150 200 mikron ). Telur yang baru dipanen diseleksi dan direndam dalam air laut yang diberi acriflavin 5 ppm selama kurang lebih 1 menit (bersifat desinfektan), baru

kemudian dipindahkan ke dalam bak bak penetasan sekaligus pemeliharaan

25 larva dengan kepadatan telur 60 100 butir/liter. Masa inkubasi berlangsung antara 17 21 jam dan telur akan menetas 14 jam setelah pembuahan pada suhu 26 29 oC dan salinitas 30 33 ppt. Bak larva dan seluruh perlengkapan pemeliharaan sebelum digunakan harus bersih, bebas penyakit, dan parasit. Sterilisasi ini dilakukan dengan cara menyikat permukaan bak dan dilakukan perendaman dengan larutan desinfektan selama 2 jam. Sebelum digunakan bak terlebih dahulu dibilas guna menghilangkan bau desinfektan. Pengelolaan air pemeliharaan mutlak diperlukan guna tetap menjaga kualitas air yang digunakan. Pengelolaan yang dilakukan adalah dengan mengganti air pemeliharaan pada umur 5 hari sampai 10 hari sebanyak 25 % tiap harinya. Saat umur larva 10 20 hari penggantian air adalah sebanyak 50 % tiap hari dan larva umur 20 30 % hari dilakukan pergantian air sebanyak 75 % perharinya. Untuk menjaga agar kadar amoniak dalam bak pemeliharaan tetap pada syarat yang ditentukan, perlu ditambahkan Chlorella 5 x 105 sel/ml. selain itu juga berfungsi sebagai pakan rotifer dalam bak pemeliharaan. Pembersihan dasar bak pemeliharaan akibat dari sisa telur yang tidak menetas, pakan alami yang mati ataupun endapan dari air laut dilakukan dengan cara menyiphon secara periodic. Penyiphonan pertama dilakukan pada D2 untuk membuang sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur hasil tetasan. Setelah itu penyiponan dilakukan 2 hari sekali sampai umur D20. Untuk umur larva selanjutnya penyiphonan dilakukan tiap hari. Rotifera adalah salah satu jenis zooplankton yang paling banyak digunakan sebagai pakan alami ikan laut ekonomis penting di Indonesia, karena selain memiliki kandungan gizi yang baik,

26 juga dapat meningkatkan laju pertumbuhan larva ikan, mudah dicerna, dan mudah didapatkan di Indonesia. Fulks and Main (1991) menyatakan bahwa rotifera merupakan makanan utama dalam kultur larva ikan serta kultur organisme lainnya dari beberapa kelompok takson, karena dapat menyediakan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan larva, disebabkan karena kandungan gizinya yang tinggi. Pakan alami selanjutnya adalah naupli artemia (Artemia salina) yang diberikan pada larva saat berumur 8 20 hari sampai dengan larva dapat mengkonsumsi pakan buatan dengan sempurna. Dosis pemberiannya adalah 0,5 1 ind/ml,dengan frekuensi pemberiannya adalah 2 kali sehari. Selanjutnya pakan buatan ( pellet ) diberikan mulai umur 10 hari. Pakan pellet awal berukuran 250 300 m. Ukuran pellet selanjutnya disesuaikan dengan bukaan mulut larva dengan dosis diberikan sampai kenyang (adlibitum). Pemberian pellet lebih dini akan membantu ketergantungan pakan terhadap rotifera dan artemia, sehingga akan menguntungkan secara finansial dan lebih baik bagi kualitas benih, mengingat pakan buatan mempunyai kualitas dan kuantitas yang terjaga. Frekuensi pemberian pellet adalah empat kali sehari ataupun dapat menggunakan tempat pakan otomatis ( authomatic feeder) yang dapat diatur frekuensinya.

Panen dilakukan jika ada pesanan, maka ikan Kakap Putih dijual dengan tujuan Indo Marine di Kecamatan Moro Kabupaten Karimun. Larva berumur D18 ukuran 1,1 cm dengan harga Rp 70,- per ekor dan 2,8 3 cm dengan harga Rp 1.100,- per ekor dengan kondisi yang sehat tanpa cacat. Total panen larva adalah 430.000 ekor.

27 4.4. Manejemen Kesehatan Ikan Manajemen kesehatan ikan sangat diperlukan untuk budidaya ikan di BBL Batam, karna merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha budidaya ikan. Di BBL Batam melakukan beberapa treatmen agar usaha budidaya ikan dapat memperkecil kemungkinan terjadinya penyakit pada ikan tersebut. Pengelolaan kualitas air berpengaruh terhadap kesehatan ikan, maka untuk melakukan kegiatan budidaya sebelum itu air yang digunakan di filter fungsinya agar parasit atau sesuatu yang menimbulkan datangnya penyakit terhindar. Setelah dilakukan perlakuan pada air selanjutnya air dialirkan ke tiap-tiap bak, selnjutnya dilakukan pembersihan keramba jaring apung. Fungsi untuk pembersihan adalah agar ikan ikan yang dibudidayakan tidak terganggu oleh Organisme atau hal hal yang menyebabkan kerugian seperti penyakit pada ikan budidaya di Keramba Jaring Apung. Ikan biasanya dilakukan pengecekan fungsinya untuk mengontrol kesehatan ikan yang berada di keramba dan di hatchery. Biasanya ikan yang yang terjangkit penyakit langsung di beri perlakuan yaitu pengobatan. Jenis penyakit atau parasit yang biasa terdapat di BBL Batam adalah Binegenia sp, cacing lintah,Diplectanum sp. Berikut adalah jenis jenis ikan dan penyakit yang sering di jumpai pada ikan yang dibudidayakan di BBL Batam: Ikan Kerapu Macan Jenis penyakit Yang Menyerang Induk Ikan Kerapu Macan di Balai Budidaya Laut Batam adalah cacing lintah. Pengecekan selalu dilakukan untuk menghindari timbulnya parasit yang dapat menyerang induk kerapu macan.

28 Pembersihan wadah pemijahan secara rutin dilakukan setelah induk kerapu macan memijah serta penjagaan kualitas air maupun sirkulasi air yang ada dibak pemijahan induk kerapu macan. Ikan kerapu macan yang habis memijah sering mengalami luka-luka disebabkan karena gesekan dengan ikan lawan jenisnya, induk yang mengalami luka luka biasanya diberi iodin dengan dosis 2 ppm/ ton. Apabila tidak diobati langsung dapat diduga akan timbul penyakit lain, untuk itu induk yang dalam kondisi sakit dibawa ke bak karantina untuk diberi pengobatan. Penyakit yang sering ditemukan pada bak pemijahan yang menyerang induk ikan kerapu macan yaitu sejenis cacing lintah yang banyak menempel pada bagian badan, sirip dada, sirip perut dan sirip ekor. Kebiasaannya cacing ini tumbuh disebabkan oleh kualitas air pada bak pemijahan tidak bagus, bayak sisa- sisa pakan berada didasar bak serta tumbuhnya lumut pada dinding bak pemijahan. Cara pengobatan yang dilakukan dengan merendam formalin 150 - 200 ppm/ ton air, waktu perendamannya 10 menit. Ikan Kakap Putih

Penyakit adalah suatu kondisi tidak normal yang terjadi akibat serangan parasit, bakteri, atau jamur maupun kondisi lingkungan yang tidak normal. Pada dasarnya, penyakit yang terjadi pada ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara 3 faktor yaitu lingkungan ( kualitas air ), kondisi inang dan jasad pathogen. Interaksi ketiga unsure tersebut biasanya terjadi pada usaha ikan. Apabila terjadi perubahan pada factor lingkungan akan memicu timbulnya pathogen di dalam perairan. Kondisi lingkungan yang tidak nyaman akan mengakibatkan ikan menjadi stress sehingga rentan terhadap serangan

29 pathogen. Namun, kehadiran agen penyebab penyakit ini dapat hadir ke lingkungan hidup ikan mellui sumber air, induk, pakan alami, maupun pakan buatan, bahkan bisa juga melalui pekerja dan peralatan yang digunakan ( Syawal dkk. 2004).

Menurut Zafran, Roza, Koesharyani, Johny dan Yuasa ( 1998 ), sumber penyakit biasanya dibawa induk ikan yang tertangkap di alam. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tubuh induk baru secara teliti terhadap kemungkinan penyakit yang dibawa sebelum dimasukkan ke dalam bak pemijahan. Induk ikan yang terserang penyakit umumnya tidak mempunyai nafsu makan, sebaiknya segera dilakukan tindakan pengendalian. Cara penanggulangan biasanya dengan memisahkan ikan yang sakit dengan ikan yang sehat dan merendam ikan ke dalam air laut yang dosisnya telah ditentukan.

Ikan Bawal Bintang

Salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari budidaya yaitu masalah kesehatan ikan. Langkah- langkah antisifatif yang efektif perlu pengetahuan akan berbagai penyakit yang biasa menyerang induk bawal bintang. Dengan demikian penyebab penyakit dapat ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian dan kematian pada induk ikan bawal bintang. Untuk dapat mendeteksi terjadinya penyakit perlu diketahui gejala penyakit yang umum terjadi pada ikan yaitu: Hilangnya nafsu makan Perubahan warna tubuh diakibatkan ikan dalam kondisi stress Berenang lambat

30 Anatominya abnormal ditandai dengan mata menonjol, siripnya bengkok, dan timbul luka- luka pada bagian badan. Pertumbuhan lamban

Tabel 3. Jenis Penyakit Yang Menyerang Induk Ikan Bawal Bintang di Balai Budidaya Laut Batam.
No Jenis Penyakit Jenis Obat Dosis Cara Penanggulangan 1 Binegenia Air tawar Direndam selama 10-15 menit

Pengecekan selalu dilakukan untuk menghindari timbulnya parasit yang dapat menyerang induk bawal bintang. Pembersihan media pemeliharaan secara rutin dilakukan 1 bulan sekali. Ikan bawal bintang sangat banyak mempunyai kelebihan salah satunya yaitu pergerakkannya sangat aktif, jadi sangat sulit parasit untuk menempel ditubuhnya. Penyakit yang sering ditemukan pada media pemeliharaan yang menyerang induk ikan bawal bintang yaitu bedenia yang bayak menempel pada bagian badan, sirip dada, sirip perut dan sirip ekor. Kebiasaannya parasit ini tumbuh disebabkan oleh kualitas air pada media pemeliharaan tidak bagus, bayak sisa- sisa pakan berada didasar bak serta tumbuhnya lumut pada dinding media pemeliharaan. Cara pengobatan yang dilakukan dengan merendam dengan air tawar selama 10-15 menit. Menurut Suhendra (2006), kualitas perairan yang buruk dapat

mengakibatkan ikan stress. Ikan stress merupakan kondisi yang sesuai dalam meningkatkan perkembangbiakan parasit. Peningkatan kemampuan berkembang

31 biak parasit akan meningkatkan derajat infeksi parasit pada tubuh hospes. Selain itu, stress lingkungan kemungkinan dapat menambah penurunan resistensi inang pada patogen. Penyakit ikan biasanya timbul karena adanya interaksi antara tiga faktor yaitu lingkungan, inang dan adanya jasad penyebab penyakit. Penyakit ikan dapat disebabkan karena faktor mikroorganisme seperti jamur, virus dan protozoa. Penyakit ikan biasanya timbul berkaitan dengan lemahnya kondisi ikan yang diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu antara lain penanganan ikan, faktor pakan yang diberikan, dan keadaan lingkungan yang kurang mendukung. Pada padat penebaran ikan yang tinggi jika faktor lingkungan kurang menguntungkan

misalnya kandungan zat asam dalam air rendah, pakan yang diberikan kurang tepat baik jumlah maupun mutunya, penanganan ikan kurang sempurna, maka ikan akan menderita stress. Dalam keadaan demikian ikan akan mudah terserang oleh penyakit (Aryani et al., 2004). Penyakit pada ikan yang sering menyerang dapat diklasifikasikan sebagai berikut 1) Penyakit menular yaitu penyakit yang disebabkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan protozoa, 2) Penyakit tidak menular yaitu penyakit yang disebabkan bukan oleh mikroorganisme melainkan hal lain seperti kekurangan pakan, keracunan, konsentrasi oksigen dalam air rendah atau penyakit gelembung udara. Tanda-tanda ikan sakit adalah sebagai berikut: 1) Kematian, 2) Stagnasi atau tidak adanya perubahan, 3) Pertumbuhan yang lambat, 4) Bergerak pasif (Andre, 2010).

32 V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Budidaya ikan air laut merupakan suatu kegiatan yang sangat menjanjikan karna dengan harga yang cukup tinggi serta lokasi untuk budidaya masih cukup luas. Komoditi yang berada di BBL Batam dalam melakukan setiap manejemen untuk membudidayakan cukup bagus, karna dapat di lihat dari lokasi budidaya, menejemen pakan serta selalu memperhatikan kesehatan ikan. Hal ini dapat dilihat dari kondisi alat-alat yang digunakan sudah cukup canggih dalam melakukan pemeriksaan serta alat-alat untuk selalu menjaga kualitas air. 5.2 Saran Adanya praktek lapangan membuat penulis, maupun mahasiswa budidaya mendapatkan ilmu yang sangat berharga, pengalaman yang luar biasa sehingga saran saya terus dilakukannya praktek lapangan ini, sehingga nantinya mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori di kampus tapi juga dapat melihat langsung di lapangan.

33 DAFTAR PUSTAKA

Adelina. Boer, I. Suharman, I. 2012. Pakan Ikan Budidaya dan Analisis Formulasi. UNRI Press. Pekanbaru. 102 hal. Andre. 2010. Ciri-ciri Ikan Sehat dan Ikan sakit. http://andre-scabra.blogspot.com. Di akses tanggal 28 Desember 2010. Aryani, N., Henny, S,. Iesje, L,. Morina, R,. 2004. Parasit dan Penyakit Ikan. Penerbit UNRI PRESS. Pekanbaru. Balai Budidaya Laut Batam, 2006. Pembenihan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus). Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.Depertemen Kelautan Dan Perikanan. Batam. 35-40 hal. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2012. http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=766. Diakses Tanggal 12 Desember 2012. Efendi. M.I, 2002. Metodologi Biologi Perikanan. Cetakan ke IV. Yayasan Dewi Sri, Bogor. 112 pp. Gufran.M.2010. Budidaya Kerapu Batik. Akademia. Jakarta. Hal 30-37 Haemstra, PC and J.E. Randal. 1993. FAO Spesies Catalogue. Grau per of the Word Family Sarranidae, Sub Family Ephimephelinae, An annoted and Illustrated Catalogue of the Grouper. Food and Agriculture Organization of the United Nations., Rome. Vol 19. 76 - 78 hal. Iskandar. 2010. Budiaya Ikan Bawal Air Tawar dan Bawal Air Laut. http// Iskandar. Blogspot.com. Diakses pada tanggal 12 Januari 2011. Kadari M., A. Darmono, Fernando JS., dan Akbar S.2005. pengembangan Usaha Budidaya Bawal Bintang (Trachinotus blochii) di Keramba Jaring Apung Melalui Pemberian Pakan Buatan. Loka Budidaya Laut Batam Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan. Batam. Mayunar, 1993. Perkembangan Pembenihan Ikan Kerapu Macan Di Indonesia. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai Bojonegara-Serang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan,Volume XVIII No. 3 : 95 - 108 Rahmat, Dede. 2009. Ketika Bawal Bintang Susah Memijah. http:// dede. Blogspot. Com. Diakses pada tanggal 12 Januari 2011. Randal . A.S, 1987. Kumpulan Tulisan Pembenihan Ikan Kerapu. Balai Budidaya Laut. Bandar Lampung.44 - 45 hal.

34 Saanin,H.1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Banatjipta. Bandung Subyakto, S. dan S. Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala RumahTangga. PT Agromedia Pustaka, Depok. 6 - 12 hal. Suyanto, 1994. Budidaya Ikan Kerapu Macan . dalam Primadona, Edisi Februari , Jakarta : 14 - 19.

35

LAMPIRAN

36 Lampiran Foto Kegiatan Praktek Lapangan

37

38

39 MAKALAH LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN PRAKTEK LAPANGAN DI LOKASI BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM

Nama Kelompok 2: JUANDI RIKI UMBARA SIAGIAN SISKA WULAN SARI ETRI NOPILITA AGUS SUPARMAN FAUZI AHMAD LUBIS BERNADI SIMAMORA IRMA APRI NANDA

BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2013

40 KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Salawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Sallallahualaihiwasallam, karena atas hidayah-Nyalah makalah ini dapat diselesaikan. makalah ini penulis sampaikan kepada pembina mata manajemen kesehatan ikan, manejemen aquakultur laut, manajemen rawa payau, manajemen tata lingkungan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa Penulis ucapkan terima kasih kepada ibu/bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar tentang manajemen kesehatan ikan. Penulis memohon kepada ibu/bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca apabila menemukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi isi, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya pembuatan paper yang akan datang.

Pekanbaru, 2 Juni 2013

Penulis

41 DAFTAR ISI Isi Halaman i ii iii iv 1 1 2 3 6 6 6 6 7 9 18 21 27 32 32 32

KATA PENGANTAR ............................................................................... DAFTAR ISI .............................................................................................. DAFTAR GAMBAR ................................................................................. DAFTER TABEL ...................................................................................... I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1.1. Latar Belakang ............................................................................. 1.2. Tujuan .......................................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... III. METODE PRAKTIKUM .................................................................. 3.1. Waktu dan Tempat ........................................................................ 3.2. Bahan dan Alat .............................................................................. 3.3. Metode Praktikum ......................................................................... IV. PEMBAHASAN .................................................................................. 4.1. Manajemen Aquakultur Laut ......................................................... 4.2. Manajemen Tata Lingkungan ........................................................ 4.3. Manajemen Rawa Payau ................................................................ 4.4. Manejemen Kesehatan Ikan ........................................................... V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 4.1. Kesimpulan ................................................................................... 4.2. Saran .............................................................................................

42 DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman 3 4 5 8

1. Ikan Bawal Bintang ................................................................................. 2. Ikan Kerapu Macan ................................................................................. 3. Ikan Kakap Putih ..................................................................................... 4. Skema Penyediaan Air Laut ....................................................................

43 DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman 7 23 30

1. Sarana dan Prasarana BBL Batam .......................................................... 2. Parameter Kualitas Air ............................................................................ 3. Jenis Penyakit Yang Menyerang Induk Ikan Bawal Bintang..................