Anda di halaman 1dari 16

1

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM: PANDANGAN GEOGRAFI LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA

Makalah Geografi Budaya & Politik

Disusun Oleh KELOMPOK I

Oswald Sitanggang

NIM: 3113331025

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2014

BAB I PENDAHULUAN

Manusia hidup dalam lingkungan dan melakukan interaksi dengan komponen komponen yang ada di lingkungannya. Interaksi tersebut dapat terjadi dengan komponen biotik maupun abiotik serta sosial budaya. Pada awalnya interaksi antara manusia dengan lingkungannya berjalan secara serasi, selaras, dan seimbang. Namun, belakangan ini hubungan tersebut berjalan secara tidak seimbang. Manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologinya lebih bersifat eksploitatif terhadap alam, sehingga muncul berbagai masalah lingkungan. Interaksi atau hubungan antara manusia dengan alam sudah terjalin sejak ribuan tahun yang lalu. Pada awalnya peradaban manusia bertahan dengan pengumpul-berburu, kemudian dilanjutkan dengan perladangan-perkebunan, seterusnya dengan peternakan. Setelah itu berkembang pertanian intensif, dan strategi yang terakhir adalah dengan cara kehidupan industri. Strategi perladangan-pekebunan sering dianggap sebagai awal dari peradaban, karena manusia mulai menandai wilayah yang dipakai dan dimiliki bagi kelangsungan hidupnya. Manusia tidak merubah bentang alam (lingkungan) di tahap berburumeramu, namun mulai merubah dalam skala kecil di tahap perladangan, serta peternakan. Pada bentuk strategi adaptasi kedua perubahan bentang alam sedikit terjadi dan ada keterbatasan oleh musim

BAB II HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM

Hubungan manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk hidup tentu untuk mempertahankan hidupnya pastilah membutuhkan alam semesta sebagai tempat untuk hidup. Akan tetapi disamping itu alam semesta akan dapat terjamin kelangsungan dan kelestariannya sangat tergantung pada manusia. Dalam konteks ilmu alam inilah yang disebut dengan simbiosis mutualisme bahwa antara manusia dan alam semesta memiliki ketergantungan satu sama lain. Pada dasarnya manusia dengan seluruh potensi yang dimilikinya sangat memahami bahwa dirinya adalah satu-satunya makhluk yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam semesta. Jika mencoba menelusuri secara lebih jauh, maka pada dasarnya hubungan manusia dengan alam semesta dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu hubungan historis dan hubungan fungsional.

Hubungan Historis Manusia dan Alam Semesta Pembicaraan tentang hubungan historis Manusia dan alam semesta tentu dapat dimulai dari penelusuran terhadap asal muasal manusia sebagai bagian dari alam semesta ini. Asal usul manusia dikaitkan dengan keberadaan alam semesta merupakan topik menarik. Kapankah manusia pertama hadir dimuka bumi ini? Makhluk apakah yang menjadi nenek moyang manusia dan bagaimana proses penurunan dan perubahan-perubahannya?

Ilmu Pengetahuan manusia sudah mencoba untuk memberikan jawaban ilmiah tentang asal usul manusia itu yang diawali dengan teori evolusi Darwin yang meskipun pada akhirnya temuan ini dianggap sebagai kesimpulan yang serampangan dan mengaburkan fakta. Seperti temuan Ramapithecus yang berusia 15 juta tahun dan Oreopithecus yang berusia 12 juta tahun, Australopithecus yang hidup kira-kira pada 4 juta sampai 600.000 tahun yang lalu, Pithecanthropus Erectus yang hidup sekitar 500.000 tahun yang lalu, Nanderthal yang hidup sekitar 1.000.000-500.000 tahun yang lalu. Akan tetapi temuan ini masih memunculkan tanda tanya para ahli apakah manusia yang di kenal sebagai manusia modern seperti sekarang ini merupakan akibat dari proses evolusi. Kesenjangan bukti-bukti ilmiah telah melemahkan hipotesis bahwa manusia adalah perkembangan lebih lanjut dari keluarga pritama. Juka pun ada pada suatau hari mungkin ditemukan bukti pormula yang menghubungkan manusia dengan nenek moyang hewan, maka hal itu adalah merupakan lompatan yang luar biasa pada pertambahan informasi genetic. Hanya dengan lompatan tersebut terbentuk suatu keturunan dengan ciri-ciri manusiawi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan evolusi meneju bentuk homo sapiens. Akan tetapi sesungguhnya dari hasil tersebut dapat dimaknai bahwa sepanjang sejarah manusia sampai sekarang keterkaitan dengan lingkungan alam semesta sangat tinggi.

Hubungan Fungsional Manusia dan Alam Semesta Bagaimanapun proses penciptaan manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Teori Cosmozoa yang menyatakan bahwa manusia berasal dari luar angkasa, kenyataannya kurang mendapat tempat tempat dikalangan ilmuan. Bukti-bukti ilmiah yang memperkuat hal itu pun cukup kuat. Sebaliknya pembahasan semakin mengarahkan bahwa bahan baku manusia berasal dari bumi tempat manusia itu sendiri berpijak. Dalam sistem kosmos manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena memiliki keunggulan dalam sistem kesadaran maka alam semesta merupakan sebuah objek yang sangat penting dalam kehidupan manusia tinjauan manusia tentang alam mendekatkan manusia kepada tata laku penciptaannya dan dengan demikian mempertajam persepsi batin manusia untuk mendapatkan suatu penglihatan yang lebih dalam mengenai itu. Pengetahuan mengenai alam akan menambah kekuatan manusia mengatasi alam dan memberinya pandangan total tak berhingga yang telah dicari oleh filsafat tetapi tak didapat. Penglihatan terhadap hakikat tanpa kekuatan untuk melakukannya akan dapat memberikan peningkatan moral tetapi tidak akan dapat memberikan peningkatan kebudayaan yang abadi. Sebaliknya, kekuatan tanpa pengelihatan cenderung untuk menjadi destruktif dan dan tak berperikemanusiaan. Keduanya harus digabungkan agar supaya perluasan rohaniah kemanusiaan dapat terlaksana.

Kemajuan pengetahuan terhadap alam dalam posisi sebagai sumber kehidupan yang tiada batasnya. Maka wajarlah jika semakin dalam pengetahuan semakin terasa hubuna saling ketergantungan antara manusia dan alam semesta ini. Manusia tunduk dalam hukum-hukum alam fisik dan tak mampu menubahnya, akan tetapi mampu mengatasinya. Ia dapat mengambil jarak sekaligus menjadi bagian dari alam. Namun keharmonisan tidak senantiasa menghiasi hubungan antara manusia dengan alam semesta. Pada suatu saat, tatkala kehidupannya masih sangat sederhana, insting-insting manusia berjalan bersesuaian dengan sifat-sifat hukum alam. Manusia hidup digua-gua, berburu dengan kapak dan panah batu serta memakan makanan yang alamiah. Tetapi perkembangan pengetahuan manusia dalam merespons berbagai kesulitan yang terkait dengan penyesuaian diri dengan alam pada akhirnya membuahkan kreasi-kreasi mengungguli sifat-sifat alam. Eksploitasi terhadap alam merusak keseimbangan hubungan yang telah berlangsung bermilyar-milyar tahun. Krisis global lingkungan mengganggu hubungan antara manusia dan alam pada saat ini. Dalam kaitannya dengan hubungan manusia dengan alam, terdapat beberapa paham yang menjelaskan hakekat dari hubungan tersebut, yaitu: 1. Paham Determinisme Paham ini mengemukakan bahwa semua kehidupan dan aktivitas manusia dipengaruhi dan tergantung pada pemberian alam di sekitarnya. Manusia cenderung pasif dalam menghadapi tantangan alam, respon terhadap alam hanya berupa respon menerima apa adanya. Dengan kata lain manusia tidak dapat menentukan hidupnya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari mata

pencaharian, tingkah laku, kebiasaan, serta kebudayaan manusia pada lingkungan tertentu. Berikut ini beberapa pendukung fisis determinisme: a. Charles Darwin (1809 1882) Charles Darwin adalah seorang naturalis dari Inggris yang teori-teorinya sangat kontroversial di bidang ilmu pengetahuan dengan Teori Evolusi Darwin-nya. Teorinya mengatakan bahwa semua makhluk hidup darai waktu ke waktu secara berkesinambungan akan mengalami

perkembangan. Setiap perubahan yang terjadi pada mofologi, fisiologi, dan perilaku makhluk hidup sebagai respon dari perubahan alam lingkungannya. Perjuangan hidup (struggle for life) pada makhluk hidup merupakan bagian yang penting juga dalam menanggapi perubahan alam lingkungannya. Hanya individu yang kuatlah yang mampu bertahan hidup dari keganasan alam lingkungan. Dominasi lingkungan pada makhluk hidup terlihat sangat jelas dan sepertinya makhluk hidup tidak bisa lepas dari pengarauh alam tersebut.

b. Ellsworth Huntington Ellsworth Huntington merupakan geograf dari Amerika Serikat dan merupakan salah seorang dari determinisme iklim. Dalam

bukunya principle of Human Geography, dia mengatakan bahwa iklim sangat mempengaruhi pola kebudayaan masyarakat. Iklim di dunia ini memiliki variasi yang banyak, sehingga variasi kebudayaan yang didukung oleh manusia juga sangat beraneka ragam. Bentuk bangunan, seni, agama, pemerintahan sangat ditentukan oleh iklim. Sebagai contoh

orang Eskimo akan membangun igloyang terbuat dari es yang dikeraskan. Atap rumah yang dibangun oleh orang gurun pasir akan cenderung dibuat rata, dan ini berbeda dengan atap rumah yang dibangun oleh orang-orang Eropa dibuat seruncing mungkin.

c. Friederich Ratzel (1844 1904) Friederich Ratzel merupakan geograf Jerman dengan teori

Anthropogeographie-nya. Dalam teorinya disebutkan bahwa meskipun manusia merupakan makhluk yang dinamis, namun pola-pola pergerakan dan mobilitasnya tetap dibatasi oleh alam. Manusia sebagai pendukung kebudayaan berkecenderungan membentuk unsur-unsurnya sebagai respon dari apa yang telah diberikan oleh alam lingkungannya. Alam dalam mempengaruhi manusia dapat dilihat dari dua segi, yaitu: Secara Postif: Contoh: Banyaknya pepohonan yag ada di dunia ini sangat berguna bagi manusia. Karena pohon berguna untuk memfotosintesis CO2 menjadi O2, sehingga manusia dapat bernafas dan bertahan hidup, karena manusia memerlukan O2 untuk proses oksidasi dalam tubuh.

Secara Negatif: Contoh dari pengaruh alam secara negatif adalah terjadinya bencana alam yang dapat menelan korban, seperti contoh gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan lainnya. Bencana alam seperti itu merupakan hal yang tidak bisa kita duga. Akibat dari bencana alam ini dapat menyebabkan kerugian bagi manusia, bahkan dapat menimbulkan korban jiwa

2. Paham Fisis Posibilisme Paham ini mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal. Dengan kemampuan akalnya itu manusia mampu merespon apa yang diberikan oleh alam. Pada paham ini juga disebutkan bahwa alam tidak selamanya mampu mendikte setiap kehidupan dan aktivitas manusia, namun alam memberikan berbagai alternatif (pilihan) dan manusia menanggapi setiap pilihan yang diberikan oleh alam tersebut. Beberapa pengikut paham ini adalah: a. EC Sample EC Sample awalnya merupakan pengikut dan pendukung faham fisis determinisme. Dia merupakan anak buah dan muridnya dari Ratzel. Menurut pandangannya, alam bukan merupakan faktor penentu, namun hanyalah sebagai faktor pengontriol bagi aktivitas manusia. Alam memberikan banyak peluang dan kemungkinan-kemungkinan yang direspon manusia untuk menentukan unsur-unsur kebudayannya.

10

Para ahli geografi terkadang menyebut faham ini dengan istilah lain yaitu faham fisis probabilisme.

b. Paul Vidal de la Blache (1845 1919) Paul Vidal de la Blache merupakan geograf dari Perancis. Menurutnya alam tidak lagi menentukan, melainkan proses produksi (genre de vie) yang dipilih manusia sebagai pilihan dari alternatif-alternatif yang diberikan oleh alam berupa tanah, iklim, dan ruang di suatu wilayah. Sebagai contoh bahwa aktivitas manusia di sekitar lingkungan pantai, menurut faham determinisme, dipastikan sebagai nelayan. Namun bagi faham posibilisme disebutkan bahwa bentukan pantai dapat berupa bentukan pantai yang landai, agak curam, dan sangat curam (cliff), berawa, dan yang memiliki continental shelf yang panjang. Respon mata pencaharian manusia terhadap bentukan lingkungan pantai akan beragam, misalnya menjadi nelayan, petambak udang atau garam, petambak rumput laut, bahkan bersawah pada wilayah pesisir atau muara sungai. Kemampuan manusia dalam menanggapi alam tidak terlepas dari pengunaan teknologi yang digunakannya. Dengan kemampuan

penciptaan teknologi oleh manusia, menjadikan hidup manusia semakin mudah dan ringan. Keberhasilan manusia dalam menerapan teknologi, menjadikan bahwa teknologi menjadi tumpuan bahkan keyakinan sebagai tumpuan untuk pememnuhan kebutuhan hidup.

11

Contoh manusia mempengaruhi alam dari sisi positifnya adalah manusia membuat sengkedan di daerah pegunungan agar tidak terjadi longsor. manusia melakukan reboisasi atau penghijauan kembali di jalan - jalan untuk menggantikan pohon - phon yang telah di tebang. Sedangkan pengaruh manusia kepada alam dari sisi negatifnya dapat dilihat dari kebiasaan sehari - hari yang dilakukan manusia seperti manusia dapat melakukan penebangan hutan yang dapat menyebabkan kebanjiran, kebiasaan manusia menghisap asap rokok serta asap dari kendaraan yang berpengaruh kepada lingkungan sekitar. contoh lain adalah kebiasaan manusia membuang sampah plastik di sembarang tempat, hal itu dapat menyebabkan kebanjiran dan menyebabkan polusi terhadap tanah.

A. Pandangan Geografi Geografi Sosial mempunyai objek studi aktifitas manusia sebagai bagian geosfer meliputi perbedaan dan persamaan aktifitas manusia dengan lingkungannya yakni lingkungan alam dan lingkungan sosial (Hasil Seminar Lokakarya Geografi di Semarang, 1988). Geografi sebagai ilmu spesifik tentang geosfer tentu saja kajian geografi sosial lebih menekankan kegiatan manusia sebagai aspek pokoknya tidak dapat dilepaskan dari aspek lingkungan alam. Konsep tersebut sesuai dengan geografi yang menekankan antropocentris (Sumaatmaja, 1988).

12

Pandangan fisis determinsm alam menentukan perilaku manusia melalui konsep to study the earth as the dwelling place of man dominan pada awal ideografis (Milton, 1977). Kant dengan konsepnya geografi sebagai ikhtisar keadaan alam merupakan dasar dari sejarah muncul konsep survival of the fittest dan natural selection merupakan dasar pemikiran berkembangnya fisis determinism. Pemikiran tentang perubahan dari waktu ke waktu, organisasi, perjuangan dan seleksi acak. Ratzel memelopori aliran deterministik alam menentukan kehidupan manusia dengan pahamantropogeographie dipengaruhi konsep teori evolusionisme Darwin dan Huntington. Brunhess menolak deterministik geografi yang meletakkan manusia sebagai faktor utama karena alam menawarkan kemungkinan probabilisme mengandung unsur hubungan timbal balik antara alam dan manusia dalam struktur, pola dan proses di muka bumi menurut tempat dan waktu (Johnston, 1983; Harvey dan Holly, 1981; Jensen, 1984; Bintarto dan Surastopo, 1984; Sumaatmadja, 1984; Daldjoeni, 1996; Peet, 1998). Perkembangan dengan fokus kajian human emancipation, geografi bersifat antropocentries. Manusia merupakan pusat kajian dan alam merupakan tempat manusia melakukan aktivitasnya (Peet, 1998; Kitchin dan Tate, 2000). Aliran posibilis dipelopori Schulter tentang kultur geografi yang mendudukkan faktor manusia dalam kebudayaan sebagai obyek geografi dikenal konsep landschaft

13

Vidal de La Blache bahwa faktor yang menentukan kehidupan manusia adalah genre de vie aktifitas manusia dapat terjadi karena diberikan kemungkinan oleh kondisi alam sebagai posibilism geografi. Geografi berkembang dari faham determinisme, posibilisme ke probabilisme, alam sebagai penentu kegiatan manusia kemudian berkembangnya kemampuan manusia mensiasati alam kemudian memunculkan paham adanya hubungan timbal balik antara manusia dengan alam (Johnston, 1983).

B. Lingkungan Hidup Manusia Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, alam menjadi salah satu sumber yang bisa membuat manusia melakukan hal tersebut dengan lebih mudah. Lingkungan adalah sebuah media yang berperan penting dalam hal ini. Pembagian lingkungan menurut kualitasnya bisa dibedakan menjadi tiga macam yaitu lingkungan biofisik, lingkungan sosial ekonomi dan juga lingkungan budaya. Ketiganya memiliki definisinya masing-masing dan manusia harus menjaga dan melestarikan lingkungan-lingkungan tersebut. Saat ini telah banyak aktivitas manusia yang merugikan ekosistem disekitarnya; bahkan beberapa ekosistem dikabarkan telah punah bukan karena seleksi alam, melainkan akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dan serakah dalam mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

14

1. Lingkungan Biofisik Lingkungan biofisik merupakan sebuah lingkungan yang terdiri dari komponen hidup yang bersifat alamiah. Ada abiotik dan juga biotik yang saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini biotik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makhluk yang hidup sementara abiotik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makhluk yang tidak hidup. Sebagai makhluk biotik, manusia bisa memanfaatkan kekayaan abiotik yang ada di sekitarnya untuk membuat kehidupannya lebih baik. Salah satu contoh kekayaan abiotik misalnya barang tambang dan juga minyak bumi. Barang tambang adalah benda mati, namun bisa dimanfaatkan sebagai hiasan atau aksesoris, contohnya adalah emas, dan perak.

2. Lingkungan Sosial Ekonomi Adalah sebuah lingkungan yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan sesamanya. Ini mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mereka miliki. Pemenuhan kebutuhan hidup antara satu mahluk dengan mahluk lainnya bisa dilihat dari bagaimana manusia melestarikan lingkungan yang ada di sekitarnya dan apa yang alam berikan untuk mereka karena kebiasaan positif yang dilakukan oleh manusia tersebut. Misalnya sebuah masyarakat yang tinggal dalam daerah tertentu selalu menggalangkan reboisasi dan merawat pohon yang ada di sekitarnya, maka hadiah yang akan diberikan oleh alam adalah kesejukan untuk wilayah tersebut dan pastinya akan bebas dari yang namanya polusi.

15

3. Lingkungan Budaya Lingkungan budaya adalah sebuah kondisi, baik itu berupa materi atau non materi yang bisa dihasilkan karena adanya budi daya oleh manusia. Untuk lebih lengkapnya mengenai mutu lingkungan hidup, bisa merujuk ke UU. No.23 tahun 1997. Maksud dari lingkungan budaya adalah pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam yang ada di sekitarnya sehingga menciptakan sebuah budaya yang indah. Biasanya manusia melakukannya secara turun temurun, adat yang telah dilakukan sejak zaman dahulu tersebut terus dilakukan manusia sampai sekarang. Tentunya adat yang dilakukan tersebut juga melibatkan materi (benda) yang ada di sekitarnya misalnya batu, dan lain sebaginya. Itulah tiga jenis lingkungan yang perlu kita ketahui berdasarkan kualitas lingkungannya. Tentu saja manusia sebagi mahluk yang tinggal dalam lingkungan tersebut bisa melakukan beberapa cara agar kualitas lingkungan yang ada di sekitar mereka senantiasa terjaga dan asri. Disamping itu manusia juga akan mendapatkan manfaat berupa tercukupi kebutuhannya sehari-hari jika mereka mau dan mampu menjaga lingkungan yang mereka tempati saat ini.

16

DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.uny.ac.id/9913/2/BAB%202%20-%2005210144030.pdf http://ekasetiyowati.blogspot.com/2011/05/determinisme-geografis-danposibilisme.html http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Hastuti,%20M.Si.%20Dr.%20/G eografi%20Sosial%20Dalam%20Perspektif%20Global.pdf

Anda mungkin juga menyukai