Anda di halaman 1dari 8

PT.

PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________

8. PENGOPERASIAN TURBIN
8.1. Persiapan
8.1.1. Pemeriksaan Sebelum melakukan pengoperasian turbin uap operator yang bertugas harus mematuhi persyaratan keselamatan kerja. Operator harus melengkapi diri dengan alat pelindung diri sesuai dengan lingkungan tempatnya bekerja yang meliputi. Sepatu pengaman (safety shoes) Pakaian kerja Helmet Penutup telinga Kacamata Sarung Tangan Masker (bila perlu)

Sedangkan lingkungan kerja yang harus diperhatikan adalah : - Kondisi peralatan dalam keadaan tidak sedang dalam perbaikan atau pemeliharaan - Kepastian dari pihak pemeliharaan mekanik, listrik dan instrumen dengan melihat kondisi fisik alat dalam keadaan tidak tertagging. - Komunikasi antara ruang kotrol dengan lokal selalu berlangsung Pemeriksaan terhadap kesiapan peralatan ataupun sistem meliputi status alat apakah dalam kondisi siap atau dalam pekerjaan (pemeliharaan). Hal ini dapat dilihat pada buku laporan log book atau kartu Tag yang digantung pada alat tersebut. Demikian juga pada sistem-sistem yang terkait dengan pengoperasian yang mungkin memerlukan konfirmasi dari pihak pemeliharaan. Pemeriksaan pendahuluan akan lebih mudah dilakukan bila dilaksanakan dengan bantuan check list .

8.1.2. Persiapan Sistem Alat Identifikasi peralatan dan alat ukur yang terpasang sesuai dengan SOP Lakukan pemeriksaan terhadap posisi katup, fluida kerja (air), pasok listrik, pasok pneumatik (kontrol) sesuai SOP/check list. Bawa diagram PID sistem pendingin dan telusuri sesuai dengan aliran fluida kerjanya. Sebelum sistem pendingin dioperasikan, maka harus dilakukan pemeriksaan dan persiapan peralatan terlebih dahulu Pemeriksaan mencakup kondisi alat apakah dalam pemeliharaan (di tagging) atau kondisi stand by. Untuk memudahkan pelaksanaan dan menghindari butir butir persiapan tersebut biasanya di buat dalam bentuk check list. Prosedur start antara turbin yang satu dengan turbin yang lain sedikit berbeda tergantung pada buku petunjuk pabriknya. Namun secara umum mempunyai tahapan persiapan yang sama, seperti diuraikan dibawah ini.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________ a) Kondensor Operasikan sistem air pendingin kondensor utama sesuai dengan prosedur yang benar dan keluarkan udara dari sistem melalui vent atau pompa venting. Minyak Pelumas Jalankan pompa minyak tekanan rendah atau pompa minyak bantu dan lihat melalui kaca aliran bahwa minyak mengalir ke semua bantalan dengan tekanan yang tepat. Turning Gear Bila dilengkapi, angkat poros dengan pompa jacking atau pompa tekanan tinggi dan gandeng dengan turning gear. Bila tidak, jalankan turning gear untuk memutar poros. Saluran Uap Utama Lakukan pemanasan saluran uap utama hingga katup penutup turbin (turbin stop valve) bila tekanan uap telah mencapai sekitar 30 bar jangan lupa buka semua pembuangan (drain) yang tersedia. Peralatan Trip Darurat ( Emergency Trip ) Bila perlu, kerja peralatan trip darurat yang mengatur pasok uap ke turbin agar di uji pada saat ini, dengan cara tutup katup penutup uap turbin dan by-pass nya, buka penuh katup penutup darurat dan lihat bahwa peralatan trip akan bekerja dengan sempurna. Reset kembali katup darurat untuk membuka penuh dan lanjutkan pemanasan pada saluran-saluran uap utama Pompa Kondensat Jalankan satu pompa, resirkulasikan ke kondensor.

b)

c)

d)

e)

f)

8.2. Prosedur Start Up Jenis start yang akan dilaksanakan ditentukan oleh kondisi awal temperatur metal turbin. Ketentuan mengenai ini biasanya diberikan oleh pabrik pembuatnya. Sebagai gambaran secara umum, ketentuannya adalah sebagai berikut :

Temperatur Metal 120 oC > 120 oC 350 oC > 350 oC

Jenis Start Start dingin ( cold start ) Start hangat ( warm start ) Start panas ( hot start )

Start dalam keadaan dingin memerlukan perlakuan yang berbeda dengan start dalam keadaan hangat atau panas. Temperatur uap masuk stop valve turbin harus diketahui pada saat start turbin. Faktor yang menentukan adalah temperatur metal sisi masuk turbin tekanan tinggi (turbin TT).

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________

8.2.1. Tahap Pembuatan Vakum Kondensor ( Vacuum Up )


Tahap ini dilakukan ketika tekanan uap dari ketel telah mencukupi. Kegiatan ini meliputi pengoperasian sistem uap perapat poros turbin (gland steam) dan pengoperasian unit penghisap udara (ejector). Gunakan starting (hogging) ejector untuk membuat vakum kondensor atau pompa vakum. Bersamaan dengan ini dapat dilakukan proses pengisian dan pemanasan (charging & warning) terhadap pipa uap utama (main steam line). Amati bahwa kenaikan vakum normal dan pastikan katup vakum breaker telah tertutup. Perhatikan sisi turbin tekanan rendah (LP), temperaturnya tidak naik secara berlebihan.

8.2.2.

Tahap Memutar Turbin ( Rolling-Up )

Pada tahap ini parameter-parameter operasional turbin harus diperhatikan dengan serius. Jangan sampai ada yang melebihi batas yang ditetapkan. Kenaikan putaran turbin dilakukan secara bertahap dengan laju kenaikan (acceleration) tertentu. Dalam menaikkan putaran turbin, harus berpedoman pada grafik kenaikan putaran dan selang waktu untuk memutar turbin kepada jenis start yang dilakukan. Pada start dingin, ada periode dimana turbin harus ditahan pada putaran tertentu untuk tujuan pemerataan pemanasan (heat shock). Untuk turbin-turbin yang startnya masih dilakukan secara manual, operator yang menjalankan harus mengetahui harga putaran kritis turbin yang bersangkutan. Ketika putaran turbin hampir mencapai harga putaran kritisnya, akselerasi harus ditingkatkan sehingga turbin tidak terlalu lama beroperasi pada putaran kritisnya. Turbin yang beroperasi tepat pada putaran kritis akan menimbulkan getaran yang berlebihan dan ini harus dihindari. Untuk turbin-turbin yang startnya dilakukan dengan Stop Valve, ketika putaran turbin mencapai 95% putaran nominal akan terjadi Valve Transfer. Pada saat ini temperatur dan tekanan uap harus diperhatikan terhadap kondensasi uap di steam chest. Setelah putaran turbin mencapai putaran normal, kadangkala perlu dilakukan pengujian terhadap peralatan proteksi turbin (turbine protective device).

8.2.3.

Tahap sinkronisasi dan Pembebanan.

Pada fase ini sistem eksitasi dioperasikan untuk membangkitkan tegangan dan arus eksitasi. Setelah semua normal kemudian dilanjutkan dengan sinkronisasikan generator ke sistem jaringan. Segera setelah sinkronisasi berhasil, bebani generator sebesar 5% beban, dimana diperkirakan aliran uap cukup untuk mendinginkan sudu LP turbin.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________

Gambar 72 kurva start up turbin (dingin)

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________

8.3. Pemantauan Operasional Turbin 8.3.1. Parameter Utama Turbin terdiri dari dua macam komponen utama yaitu komponen yang berputar (rotor) dan komponen yang stationer (casing). Keduanya akan bersentuhan dengan uap yang bertemperatur tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya kerusakan pada komponen turbin oleh pengoperasian yang melebihi batas. Parameter-parameter operasional ini perlu mendapat perhatian lebih serius ketika melakukan start turbin. Parameter-parameter tersebut antara lain, - perbedaan pemuaian, - thermal stress, - vibrasi - putaran - tekanan dan temperatur uap masuk MSV

8.3.2. Logsheet dan Logbook


Setelah unit (turbin generator) sinkron dengan sistem dan berbeban minimum, kegiatan berikutnya adalah pembebanan (melayani kebutuhan daya). Sebagaimana pada proses start-up (rolling), laju pembebanan juga harus mengikuti kurva pembebanan yang dibuat oleh pabrik pembuat turbin. Untuk melakukan perubahan beban selain harus melihat batasan laju perubahan beban yang dikeluarkan pabrik, juga harus memperhatikan kondisi operasi boiler. Pada saat kondisi operasi sudah steady pengamatan terhadap trend parameter utama tetap harus dilakukan. Adanya kecenderungan penyimpangan parameter operasi harus segera diambil tindakan dan kelangsungan operasi yang aman serta efisien harus dijaga. Untuk memastikan pemeriksaan telah dilakukan biasanya manajemen pengoperasian menyediakan logsheet untuk mencatat parameter penting dan kritis. Logsheet juga berguna untuk pembanding bila terjadi penyimpangan dikemudian hari. Selain logsheet operator juga dilengkapi dengan logbook untuk mencatat semua kegiatan yang menjadi wilayah tugasnya. Logbook juga berfungsi sebagai media komunikasi antar regu operator.

8.4. Prosedur Stop (Shut Down)


Turunkan beban perlahan-lahan / normal, setelah beban berada pada sedikit lebih besar daripada 10 %, lakukan pemindahan pemakaian sendiri dengan memasukkan PMT pasok listrik dari luar dan kemudian melepas PMT unit untuk pemakaian sendiri. Selanjutnya setelah menurunkan beban sampai sedikit diatas beban minimum generator, pemutus tenaga generator (generator breaker) boleh dilepas. Kemudian lepas generator field breaker (sebelumnya melihat bahwa balance meter menunjuk nol dulu baru kemudian generator field breaker dilepas).

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________ Trip turbin - AOP start - pengamatan. Setelah generator lepas dari sistem, berarti turbin berputar penuh tanpa beban (full speed on load). Pada saat ini bila diperlukan dapat dilakukan ujicoba over-speed (actual overspeed), bila pengujian ini telah lama sekali tidak dilaksanakan. Keadaan ini adalah saat dimana turbin berputar (FSNL) dan masih cukup panas karena baru saja di stop. Sehingga kemungkinan vibrasi tinggi tidak ada dibandingkan dengan melakukan pengujian pada saat start. Setelah selesai, kemudian lakukan trip turbin, tutup turbin stop valve. Pada keadaan ini sudah tidak ada uap lagi yang masuk ke turbin, dan permukaan air kondensat dalam hotwell tidak bertambah, bila diperlukan untuk mengisi tangki air pengisi, maka perhatikan permukaan dalam hotwell. Untuk menjaga permukaan tetap normal selama pengisian tangki air tersebut, tambah dengan air. Putaran turbin turun terus, pada putaran sedikit dibawah putaran nominalnya ( < 3000 rpm ) start pompa minyak pelumasan pembantu ( Auxiliary Oil Pump )

Vacuum Stop
Pada saat putaran sudah turun < 500 rpm, matikan alat pembuat vacuum ( air ejector ), buka vacuum breaker, biarkan vacuum turun terus sampai nol.

Gland Steam Stop Setelah vacuum nol, stop pasok uap perapat turbin ( gland seal steam ). Turning Gear Motor ON
Buka semua drain turbin, bila putaran turbin sudah nol rpm, start pemutar poros turbin (turning gear), biarkan turbin diputar turing gear terus sampai turbin cukup dingin.

Stop Auxilliaries Tutup katup air pendingin ke pendingin minyak ( Oil Cooler ) agar minyak pelumas tetap hangat bila diperlukan untuk start selanjutnya.
Stop Condensat Pump bila sudah tidak diperlukan lagi untuk mengisi Deaerator Tank (permukaan air di Condensator Hotwell sudah cukup), serta sudah cukup dingin pada Gland Steam Condensor dan Ejector.

8.5. Gangguan dan Pelaporan 8.5.1. Identifikasi Gangguan Peringatan terhadap adanya gangguan secara umum ditampilkan oleh munculnya alarm di panel. Namun apabila gangguan tersebut disebabkan oleh sistem kelistrikan, maka selain timbulnya alarm juga oleh bekerjanya relay proteksi. Identifikasi terhadap gangguan meliputi :
- Waktu terjadinya gangguan - Lokasi gangguan - Jenis gangguan (penyimpangan dari batas normal, kebocoran dsb.)

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________ - Data operasi meliputi : a. Tekanan b. Suhu c. Getaran d. Suara e. Bau

8.5.2. Jenis Gangguan a. Tekanan minyak pelumas rendah Sistem minyak pelumas turbin umumnya memiliki dua fungsi, yaitu sebagai fluida penggerak katup-katup (munyak hidrolik) dan sebagai pelumas bantalan. Keduanya dipasok dari sumber yang sama. Oleh karena itu kehilangan tekanan minyak pelumas juga akan menyebabkan kehilangan minyak hidrolik dan katup uap akan tertutup. Selama penurunan putaran, bantalan turbin akan dipasok dari pompa minyak bantu yang digerakkan motor listrik. Faktor yang dapat menyebabkan tekanan minyak pelumas turun antara lain adalah : - saringan kotor (tersumbat) - saluran (pipa) tersumbat - impeller pompa aus - pipa bocor - level (volume) minyak sangat kurang b. Vakum kondensor rendah
Bila tekanan dalam kondensor naik, maka temperatur uap bekas juga mengalami kenaikan sehingga akan mengakibatkan overheating pada baris akhir sudu-sudu turbin. Aliran uap masuk kondensor terhambat karena mendapat tekanan lawan (back pressure) sehingga kemampuan turbin berkurang.

Banyak faktor yang dapat mengakibatkan penurunan vakum kondensor, baik dari sisi uap, sisi penghisap udara/gas maupun sisi air pendingin/kondensor. Kemungkinan penyebab vakum kondensor turun dari sisi uap antara lain adalah aliran uap terlalu rendah (ejector) adanya kebocoran uap masuk kondensor laluan uap terhambat (ejector)

dari sisi air pendingin/kondensor kemungkinannyaadalah : - aliran air pendingin berkurang - pipa kondensor kotor - temperatur air pendingin naik

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian Turbin ______________________________________________________________________________________ 8.5.3. Pembuatan Laporan Didalam setiap bertugas operator harus membuat laporan. Laporan pengoperasian berisi kondisi kinerja alat (performance) dan penyimpangan atau kerusakan yang terjadi. Selain itu laporan juga mencakup antara lain : - Pemakaian bahan bakar yaitu jumlah bahan bakar yang digunakan selama bertugas. - Produksi energi listrik (jumlah kwh) yaitu jumlah kwh yang dibangkitkan dikurangi kwh untuk pemakaian sendiri - Pemakaian air yaitu jumlah air yang digunakan untuk penambah. - Laporan kerusakan laporan untuk permintaan perbaikan atau pemeliharaan terhadap gangguan atau penyimpangan kerja peralatan. Laporan ini ditulis atau diinformasikan ke atasan untuk ditulis dalam format sistem laporan kerusakan. Untuk memudahkan dalam melakukan perbaikan, maka laporan kerusakan agar dilengkapi dengan data yang lengkap termasuk waktu kejadian dan nomor tag bila perlu. Sistem laporan tersebut sangat penting untuk mengetahui kondisi peralatan atau sistem dari waktu ke waktu sehingga dapat juga digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan pengoperasian yang akan datang. Data yang dilaporkan harus sesuai dengan hasil penunjukkan dilapangan.

Berbagi dan Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Serta Nilai-Nilai Perusahaan

Beri Nilai