Anda di halaman 1dari 37

pesanmenteri

Terobosan untuk Menyiapkan

Generasi Emas 2045

Tidak terasa, tahun 2014 ini adalah tahun terakhir kami menjalankan amanah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai bagian dari bentuk pertanggungjawaban, diakhir tahun 2013 lalu, telah diterbitkan buku Terobosan Kemdikbud 2010-2013.

kami beri nama Terobosan, karena isinya memang didominasi dari kebijakan-kebijakan baru yang belum pernah dilakukan atau penyempurnaan kebijakan lama untuk lebih berjalan baik, tertib dan tepat sasaran. Terobosan yang dilakukan tidak akan pernah lepas pada dua hal besar, yakni; akses dan kualitas. Dua hal inilah yang menjadi titik perhatian dalam menyusun kebijakan di lingkungan Kemdikbud. Pada akses, ada dua hal yang menyertainya, yaitu: ketersediaan dan keterjangkauan. Sedang pada kualitas didalamnya terkait dengan delapan standar pendidikan (SNP). Tentu praktiknya tidak sesederhana itu. Sebagaimana bisa dibaca tentang akses, terobosan yang dilakukan antara lain bagaimana membuat kebijakan warga negara yang

uku ini adalah jejakjejak kebijakan yang telah kami lakukan dalam kurun waktu 2010-2013. Sengaja

tidak mampu mengakses jenjang pendidikan bisa menikmatinya. Sebut saja, program Bidikmisi yang memberi kesempatan bagi peserta didik dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, namun memiliki kecerdasan untuk bisa kuliah di perguruan tinggi tanpa biaya alias gratis. Bukan hanya itu, tiap tahun mereka pun diberikan uang saku atau biaya hidup. Awalnya, program Bidikmisi hanya sebuah kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen), kemudian ditingkatkan menjadi peraturan pemerintah, dan kini sudah masuk dalam UndangUndang (UU) Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

untuk mengubah UU jauh lebih sulit ketimbang menghapus Permen atau PP. Semua terobosan dikemas dalam gol besar, menyiapkan generasi emas 2045. Tahun dimana bangsa kita memasuki usia kemerdekaan 100 tahun atau satu abad. Termasuk didalamnya Kurikulum 2013 dan implementasinya, merujuk pada bagaimana ke depan bangsa ini makin maju dan masyarakatnya makin sejahtera melalui pendidikan. Pendidikan dapat menjadi elevator sosial, untuk meningkatkan harkat dan martabat seseorang. Kita harus meyakini terhadap

Apa maknanya? Kami tidak ingin, program yang baik dan begitu diharapkan masyarakat, karena hanya dalam bentuk Permen atau Peraturan Pemerintah (PP), bisa hilang begitu menteri atau pemerintahnya berganti. Melalui UU, tanggungjawabnya kini bukan lagi individual, bukan juga pemerintahan, tapi menjadi tanggungjawab negara. Karena

ini semua, karena bangsa di luar sana dan para pengamat, sebagai mana ramalan dari The McKinsey Global Institute bahwa pada tahun 2030, Indonesia akan menempati posisi ke-7 ekonomi terbesar dunia. Ramalan ini tidak untuk meninakbobokan kita, tapi mendorong semangat untuk bisa membuktikan ramalan tersebut. Semoga. (***)
No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 1

daftarisi
Majalah DIKBUD - Edisi 01 Tahun V Januari 2014

Hal. 1 PESAN MENTERI Hal. 2 DAFTAR ISI Hal. 3 DARI REDAKSI

Terobosan Kemdikbud: Mendidik Sejak Dini, Sekolah Setinggi Mungkin, Menjangkau Lebih Luas Hadiah untuk Indonesia Hal. 4 PAUDisasi: Kepastian Mendapatkan Layanan PAUD Hal. 14 Afirmasi Pendidikan: Pintu Masuk Gapai Kesetaraan Layanan Pendidikan Hal. 17 Penerima Bidikmisi: Perluas Spektrum Akses Pendidikan Tinggi Hal. 20 Kebudayaan: Membangun Bangsa dengan Perkuat Akar Kebudayaan Hal. 25 Galeri Nasional: Andil Galeri Nasional Indonesia dalam Lestarikan Seni Rupa Dunia Hal. 28
2 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014
(Foto: Istimewa)

FOTO: ISTIMEWA

dariredaksi
Pelindung: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, Wakil Menteri Bidang Pendidikan, Musliar Kasim, Wakil Menteri Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti Penasihat: Sekretaris Jenderal, Ainun Naim Pengarah: Sukemi Penanggung Jawab: Ibnu Hamad Pemimpin Redaksi: Dian Srinursih Dewan Redaksi: Hawignyo Redaktur Pelaksana: Emi Salpiati Staf Redaksi: Arifah, Ratih Anbarini, Aline Rogeleonick, Desliana Maulipaksi, Seno Hartono Desain & Tata Letak: Susilo Widji P. Fotografer: Yus Pajarudin, Singgih Harimurti Sekretaris Redaksi: Dina Ayu Mirta, Tri Susilawati, Hulumudin, Hermawan Redaktur Eksekutif: Priyoko Alamat Redaksi: Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gedung C Lantai 4, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270 Telp.: (021) 5711144 Pes. 2413, (021) 5701088 Laman: www.kemdikbud.go.id

Tantangan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

endidikan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Sedangkan kebudayaan tanpa ada pendidikan

merupakan keterbelakangan. Membicarakan tantangan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan seolah tidak akan ada habisnya. Kompleksitas tantangan ini tidak hanya berasal dari kondisi masing-masing bidang, seperti banyaknya jumlah peserta didik atau masih banyak cagar budaya yang belum teregistrasi, melainkan juga tantangan disparitas sosial, ekonomi, dan kewilayahan Indonesia yang sangat luas dan heterogen. Tantangan tersebut harus dijawab dengan pembuktian berupa prestasi, baik dalam skala lokal maupun internasional. Dalam skala lokal, kita di antaranya telah berhasil mengurangi angka putus sekolah pada satu sisi dan pada sisi lain menaikkan angka partisipasi kasar di semua jenjang pendidikan, terutama pendidikan dasar. Sedangkan dalam skala internasional, di bidang kebudayaan misalnya, Indonesia telah membuktikan keberhasilan sebagai pemrakarsa sekaligus World Culture Forum (WCF) atau Forum Kebudayaan Dunia (FKD) pada 24-27 November 2013 di Bali. Forum ini diharapkan dapat menjadi landasan inklusif dan strategis untuk membahas, berdebat, memahami, dan mempromosikan kekuatan budaya dalam pembangunan berkelanjutan. Acara dihadiri sekitar 800 peserta dari 65 negara dan menelurkan Bali Promise atau Janji Bali yang bersejarah itu.

Pembaca budiman, Dikbud pada edisi ini membahas seputar tantangan pendidikan dan kebudayaan. Tentu saja kami akan menyajikan secara komprehensif setiap topik bahasan agar pembaca memperoleh informasi secara lengkap. Selamat membaca. Salam. (*)
Desain Sampul:
- Susilo Widji P.

Foto:

- Gede Arista Suadyana (Tema: Tawa Ceria, Lomba Foto Pendidikan 2012, Kategori Pelajar/Mahasiswa)

Redaksi
No. 01 Tahun V Februari 2014

Majalah DIKBUD

Edisi No. 01 Tahun V - Februari 2014

DikbuD 3

KURIKULUM Mendidik 2013 Sejak Dini, UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN Sekolah MENENGAH Setinggi UNIVERSAL Mungkin, BANTUAN Menjangkau OPERASIONAL Lebih Luas SEKOLAH BIDIKMISI BANTUAN SISWA MISKIN

Terobosan Mempersiapkan Generasi Emas

FO

TO

Ilu

str

as

i: P

IH

,K

em

dik

bu

4 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Hadiah untuk Indonesia


embicarakan tantangan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan seolah tidak akan ada habisnya. Kompleksitas tantangan ini tidak hanya berasal dari kondisi masing-masing bidang, seperti besarnya jumlah peserta didik atau masih banyak cagar budaya yang belum teregistrasi, melainkan juga tantangan disparitas sosial, ekonomi,

dan kewilayahan Indonesia yang sangat luas dan heterogen. Tidak hanya itu, Indonesia hingga 2035 mendapat berkah dikarunia lebih dari total seluruh penduduk Indonesia yang berada pada usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibanding jumlah penduduk muda (<15 tahun) dan lanjut usia (>64 tahun). Hal itu, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, merupakan bonus demografi yang harus diberi perhatian, khususnya layanan pendidikan yang memadai. Jika tidak, jumlah besar ini niscaya akan menjadi bencana kependudukan. Dalam bidang ekonomi pun, berdasarkan survei The McKinsey Global Institute, Indonesia diprediksi pada 2030 akan menempati peringkat ke-7 ekonomi dunia, sesudah China, Amerika Serikat, India, Jepang, Brazil, dan Rusia. Pada saat itu, perekonomian Indonesia akan ditopang oleh empat sektor utama: bidang jasa, pertanian, perikanan, serta energi. Namun, untuk mewujudkan prediksi itu, bangsa Indonesia harus mulai mempersiapkan sejak sekarang karena kebutuhan tenaga terampil akan meningkat dari 50 juta menjadi 113 juta orang pada periode tersebut. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berupaya melakukan terobosan-terobosan bidang pendidikan dan kebudayaan untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Setidaknya ada tiga hal yang integratif dalam satu ikatan untuk menyiapkan program-program Kemdikbud, yaitu start earlier, longer, and reach wider. Atau dalam pemaknaan bebasnya adalah mendidik sejak dini, sekolah setinggi mungkin, dan menjangkau lebih luas. Tentu terobosan tersebut sesuai amanat rencana strategis Kemdikbud dan peraturan perundang-undangan. Bentuk terobosan dapat berupa inovasi (benarbenar baru, belum pernah dilakukan pada periode sebelumnya), intensifikasi (meningkatkan program yang sudah berjalan), ekstensifikasi (memperluas sasaran program), dan juga peningkatan partisipasi publik.

Dari segi jumlah penduduk dan ketersediaan sumber daya alam (SDA), Indonesia adalah negara besar. Bahkan ada yang menyebut Indonesia dapat menjadi negara adi daya. Hanya saja, seluruh SDA tersebut harus dikelola dengan benar oleh sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar mumpuni. Untuk membentuk SDM demikian, pendidikan menjadi penentu utamanya.

Pendidikan sebagai Elevator Sosial


Di bidang pendidikan, dalam hal pemerataan akses, nampaknya bantuan operasional sekolah (BOS), pendidikan menengah universal (PMU), dan Bidikmisi menjadi terobosan besar dalam menyikapi bonus demografi. Ketiga program

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 5

yang melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah dan sekitar 150.000 siswa beralasan tidak mampu untuk membayar biaya pendidikan. Karenanya, tidak tanggung-tanggung, pemerintah menargetkan angka partisipasi kasar (APK) 97 persen pada 2020. Langkah yang dilakukan Kemdikbud dalam pelaksanaan PMU di antaranya intervensi sasaran-sasaran strategis, mulai dari meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana satuan pendidikan, pembinaan
FOTO: Dok. PIH

tenaga kependidikan, pembinaan


BOS meringankan biaya operasi sekolah sehingga dapat meningkatkan akses dan pemerataan pendidikan.

ini pada intinya bertujuan untuk meningkatkan daya jangkau masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan, yang tentu akan diikuti oleh peningkatan kualitas pendidikan. BOS yang digulirkan sejak 2005 bertujuan untuk membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/ SDLB negeri dan SMP/SMPLB/SMP Terbuka terhadap biasa operasi sekolah. BOS juga mengamanatkan harus membebaskan pungutan siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta, termasuk harus mampu meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta. Sejalan dengan BOS, PMU memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap warga negara untuk menempuh pendidikan menengah yang bermutu, mencakup SMA, MA, dan SMK. Penyelenggaraannya meliputi jalur pendidikan formal dan nonformal. Sangat disayangkan pada 2011, dari 4,2 juta lulusan SMP dan sederajat, hanya sekitar 1,2 juta

peserta didik, hingga pengembangan sistem pembelajaran. Program pendukung utama lainnya adalah penyedian BOS sekolah menengah (BOS SM) sebesar Rp 1 juta per siswa per tahun mulai awal tahun ajaran 2013/2014. Sejalan dengan pelayanan pendidikan kepada peserta didik, Kemdikbud juga mengiringinya dengan Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, yaitu diantaranya dengan mengirim para sarjana pendidikan untuk mengabdi selama 1 tahun melalui Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (SM3T). Diharapkan program ini dapat memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di daerah sasaran sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut. Tidak hanya itu, untuk meningkatkan akses bekesinambungan ke jenjang pendidikan tinggi, Kemdikbud sejak 2010 meluncur program Bidikmisi, dengan memberikan bantuan seluruh biaya pendidikan dan biaya hidup selama kuliah kepada lulusan SMA

BOS yang digulirkan sejak 2005 bertujuan untuk membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/SDLB negeri dan SMP/SMPLB/ SMP Terbuka terhadap biaya operasi sekolah.

6 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

sederajat dari keluarga tidak mampu tetapi memiliki nilai akademi memadai. Targetnya, hingga tahun akademik 2013/2014, ada lebih dari 150.000 mahasiswa yang menerima program ini. Hasil yang menakjubkan ternyata 20 persen dari angkatan pertama peserta Bidikmisi meraih Indeks Prestasi Sementara (IPS) diatas 2,75, bahkan beberapa di antaranya mampu mencapai IPS 4. Masih pada ranah pemerataan akses, program bantuan siswa miskin (BSM) secara khusus menargetkan anak usia sekolah dari keluarga miskin untuk tidak putus sekolah. Meskipun BOS telah membebaskan mereka dari biasa operasi sekolah, namun ternyata putus sekolah juga disebabkan dari kesulitan keluarga memenuhi kebutuhan personal

siswa, seperti seragam, buku tulis, sepatu, bahkan transportasi. BSM ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Harapannya agar semakin banyak siswa dari keluarga ekonomi lemah dapat menyelesaikan pendidikan di semua jenjang pendidikan. Pada akhirnya, kelak para siswa ini dapat memutus rantai kemiskinan yang kini dialami keluarganya. Melangkah lebih jauh, Kemdikbud juga terus berupaya memperluas akses pendidikan tinggi ke daerahdaerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) diantaranya dengan pendirian perguruan tinggi baru, penegerian perguruan tinggi, pendirian Akademi Komunitas, Community Learning Centre, Institut Seni dan Budaya

Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, yaitu diantaranya dengan mengirim para sarjana pendidikan untuk mengabdi selama 1 tahun melalui SM3T.

FOTO: Dok. PIH

Seorang sarjana pendidikan sedang mengajar di daerah 3T, mereka mengabdi selama 1 tahun melalui program SM3T.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 7

Akademi Komunitas

AK di Pondok Pesantren

Indonesia, Rumah Belajar, terus melakukan rehab sekolah, afirmasi pendidikan untuk tingkat menengah dan perguruan tinggi, termasuk pemberian kesempatan beasiswa untuk jenjang S1, S2, maupun S3 di dalam dan di luar negeri. Saat ini, beasiswa yang paling menggema yaitu Beasiswa Bidikmisi dan Beasiswa Unggulan yang telah menelurkan puluhan ribu lulusan berprestasi tingkat perguruan tinggi.

Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan


FOTO: Dok. PIH

Berbagai upaya Kemdikbud untuk pemerataan pendidikan haruslah seiring sejalan dengan upaya meningkatkan Akademi komunitas (AK) kini ada juga di pondok pesantren (ponpes). AK pertama yang berada di lingkungan pendidikan para santri itu berada di Pondok Pesantren Roudlatul Mubtadiin di Balekambang, Jepara, Jawa Tengah. AK tersebut diresmikan oleh Mendikbud Mohammad Nuh, Rabu (1/1/2014). Ini kegiatan pertama di awal tahun, dan mungkin ini akademi komunitas pertama di dunia yang ada di lingkungan pondok pesantren, kata Mendikbud dalam sambutannya, di hadapan para ustaz dan santri Ponpes Roudlatul Mubtadiin, serta pejabat pemerintahan setempat. Pada kesempatan itu, Mendikbud didampingi Bupati Jepara dan pemangku Ponpes Roudlatul Mubtadiin, menandatangani prasasti peresmian AK. Kenapa Mendikbud memilih pondok pesantren sebagai salah satu tempat untuk mendirikan akademi komunitas? Semua tahu, basis pondok pesantren adalah kemandirian. Bekal kemandirian ini akan menjadi lengkap ketika di lingkungan pondok pesantren dibekali pengetahuan-pengetahuan vokasional sebagaimana misi dan visi dalam pendirian akademi komunitas, katanya. Ia berharap, melalui pendirian AK di lingkungan pondok pesantren, maka ke depan para alumni pondok pesantren tidak hanya memiliki bekal pengetahuan agama semata tapi juga punya bekal pengetahuan terhadap keterampilan vokasional. Tidak hanya di pesantren, AK juga dapat mencakup komunitas dari kumpulan masyarakat berbasis pekerjaan, profesi, wilayah geografis tertentu, ataupun berbasis struktur sosial seperti organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). kualitas, relevansi, dan daya saing. Salah satu terobosan yang diunggulkan diantaranya Kurikulum 2013, sebagai antisipasi terhadap perubahan zaman yang semakin kompleks. Kebutuhan sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan memadai di bidangnya, melainkan juga berkarakter kuat, berbudaya, dan beradab. Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan melalui sejumlah pertimbangan hasil riset dunia. Proses pembelajaran tidak cukup hanya menambah pengetahuan, melainkan peserta didik harus mempunyai kemampuan kreatif-kritis dan berkarakter kuat, mampu bertanggung jawab, memiliki jiwa sosial, toleran, produktif, adaptif, serta kemampuan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Inilah yang kemudian melandasi Kurikulum 2013 melalui pendekatan keilmuan yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation-based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta

8 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

didik. Disamping itu, dibiasakan pula peserta didik untuk belajar dalam jejaring melalui collaborative learning. Selain Kurikulum, keberhasilan pendidikan juga tidak terlepas dari peran guru sebagai pendidik. Kemdikbud terus melakukan berbagai upaya memperkuat peran guru, baik sebagai profesi yang dituntut memiliki profesionalitas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, juga sebagai agen pembelajaran di garis terdepan keberhasilan pendidikan di Indonesia.

Kebudayaan: Tonggak Karakter Bangsa


Ibarat pohon, budaya adalah akar. Ibarat tubuh, budaya adalah jiwa. Tidaklah salah jika suatu bangsa tidak melestarikan budayanya, maka hilanglah roh kebangsaannya. Hilanglah kebesaran bangsa itu. Tahun 2011 adalah momen resmi bidang kebudayaan kembali bergabung dengan pendidikan. Juga sebagai momentum penguatan pendidikan karakter untuk menyiapkan generasi penerus bangsa. Beberapa terobosan yang dilakukan

Agar peran tersebut terlaksana dengan baik, dilakukanlah uji kompetensi awal, uji kompetensi guru, dan sertifikasi guru. Hal itu, sekali lagi, untuk memastikan guru yang mengajar para peserta didik adalah guru yang benarbenar berkualitas. Pembinaan dan pengembangan guru dilakukan dengan menyeimbangkan antara kesejahteraan dan kinerja tenaga pendidik.

Kemdikbud di antaranya dalam hal paling mendasar, yaitu melakukan registrasi budaya guna menghindari klaim dari pihak luar atas budaya asli Indonesia. Selain itu, program ini juga bertujuan mendokumentasikan seluruh unsur budaya, mempertahankan nilai, sekaligus makna dari unsur budaya tersebut untuk generasi selanjutnya. Registrasi budaya mencakup registrasi

Konsekuensinya, guru diharapkan dapat menjadi tenaga profesional, memiliki kualifikasi akademik, menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dengan kualifikasi guru yang demikian, niscaya peserta didik --yang akan ambil bagian dalam pembangunan bangsa pada tahun 2045-- menjadi generasi emas yang mampu membawa Indonesia mandiri dan berdiri sejajar dengan negara-negara maju. Bukan hanya terampil dalam keahliannya, generasi emas tersebut juga mencintai Tanah Air, berakhlak mulia, dan mencintai ilmu pengetahuan.

cagar budaya dan registrasi warisan budaya takbenda. Proses registrasi dilakukan melalui tahapan pendaftaran, pengkajian, penetapan, pencatatan, pemeringkatan, dan penghapusan. Registrasi dari tiap daerah akan bermuara ke registrasi budaya nasional. Saat ini tercatat lebih dari 2.600 warisan budaya yang berhasil didata. Diharapkan selanjutnya ada langkah pengembangan budaya yang akan berujung pada meningkatnya kesejahteraan para pelaku budaya, pekerja seni, hingga ada pengakuan dunia atas unsur-unsur budaya Indonesia. Tidak hanya itu, Indonesia pun turut hadir di mancanegara melalui program Rumah Budaya Indonesia (RBI) dan diplomasi budaya. Konsepnya adalah sebagai ruang publik untuk

Ibarat pohon, budaya adalah akar. Ibarat tubuh, budaya adalah jiwa. Tidaklah salah jika suatu bangsa tidak melestarikan budayanya, maka hilanglah roh kebangsaannya. Hilanglah kebesaran bangsa itu.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 9

memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia, memperkuat ikatan budaya, dan kesepahaman antar bangsa untuk membangun peradaban yang lebih baik, serta meningkatkan citra dan apresiasi internasional kepada Indonesia. Terobosan ini telah diimplementasikan di Amerika Serikat,

berkelanjutan, bukan hanya sebagai pelengkap. Bali Promise inilah kemudian diakui PBB untuk dijadikan agenda Post Millenium Development Goals 2015. Suatu bentuk justifikasi penting bagi Indonesia sebagai negara super power di bidang kebudayaan. Pembicaraan positif tingkat dunia pun terus bergulir berdasarkan banyaknya umpan balik positif dari para peserta, bahkan Jepang dengan sangat antusiasnya menawarkan diri menjadi co-host pada FKD 2015. Tidak hanya itu, FKD 2015 akan menambahkan dua komponen konsep untuk melengkapi pelaksanaan sebelumnya, yaitu: Art Residency dengan mengundang seniman dari beberapa negara untuk berkolaborasi menampilkan kesenian bersama dan Culture Youth Forum. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi suatu bangsa selain bisa mempersiapkan generasi yang mampu mengelola bangsa dan negara pada zamannya. Berbagai dukungan terus akan dilakukan untuk memersiapkan generasi yang memiliki daya saing global, berkarakter kuat, bangga dan cinta Tanah Air. (Disarikan oleh Arifah dari buku Terobosan Kemdikbud 2010-2013 Menyiapkan Generasi Emas 2045)

Indonesia memprakarsai World Culture Forum (WCF) atau Forum Kebudayaan Dunia (FKD) dan diharapkan forum ini dapat menjadi landasan inklusif dan strategis untuk membahas, berdebat, memahami, dan mempromosikan kekuatan budaya dalam pembangunan berkelanjutan.

Belanda, Jerman, Perancis, Turki, Jepang, Timor Leste, Australia, dan Singapura. Untuk semakin memperkuat pentingnya arti kebudayaan, Indonesia memprakarsai World Culture Forum (WCF) atau Forum Kebudayaan Dunia (FKD) pada 24-27 November 2013 di Bali. Forum ini diharapkan dapat menjadi landasan inklusif dan strategis untuk membahas, berdebat, memahami, dan mempromosikan kekuatan budaya dalam pembangunan berkelanjutan. Dihadiri sekitar 800 peserta dari 65 negara, FKD menelurkan Bali Promise atau Janji Bali yang menyebutkan, kebudayaan membawa sifat unik tersendiri. Keunikan sifat lintas batas pun menjadi kekuatan budaya. Karenanya, kekuatan budaya perlu diwujudkan dalam pengarusutamaan dengan menempatkan budaya dalam arus utama pembangunan

10 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

FOTO: Dok. PIH

Sesi foto bersama perwakilan peserta dari manca negara.

PAUDisasi

Menuju Satu Desa Satu PAUD


perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Aspek-aspek yang dikembangkan dalam kurikulum PAUD di antaranya moral dan agama, fisik-motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Penilaian perkembangan anak dilakukan dengan proses pengamatan, pencatatan, dan pendokumentasian perkembangan kemampuan dan karya anak sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan yang bermanfaat bagi anak. Program PAUD sangat penting karena usia dini merupakan masa emas perkembangan. Banyak pengalaman yang diperoleh anak melalui panca indra akan membuat jaringan otaknya berkembang subur. Kualitas otak anak dipengaruhi faktor kesehatan, gizi, dan stimulasi/rangsangan yang diterima anak setiap harinya. Rangsangan yang diterima selama anak mengikuti kegiatan di PAUD membuat anak berkembang secara baik dan siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Untuk itulah, pemerintah terus berupaya memberi fasilitas bagi penyelenggaraan PAUD. Berbagai program pun diluncurkan agar setiap anak mampu mengakses pendidikan dini tersebut. Salah satu programnya adalah Satu Desa Satu PAUD. Dalam program tersebut diharapkan dapat memperluas akses PAUD hingga menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk mendukung pendirian lembaga PAUD baru di desa-desa yang belum memiliki PAUD. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sudah menuai hasil. Hingga akhir tahun 2013, dari total 77.559 desa se-Indonesia, tercatat sebanyak 53.832 desa sudah terlayani PAUD. Tingkat ketuntasan nasional program Satu Desa Satu PAUD telah mencapai 69,4 persen, sebut Direktur Jenderal PAUDNI, Lydia Freyani Hawadi, Kamis (23/1/2014), di Jakarta. Berdasarkan Pendataan Daring Direktorat Jenderal PAUDNI Tahun 2013, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi teratas dalam program Satu Desa Satu PAUD. Seluruh desa di provinsi tersebut telah memiliki PAUD, atau tercapai 100 persen. Posisi kedua diikuti oleh Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang mencapai 99,6 persen.

endidikan anak usia dini (PAUD) menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap, perilaku, dan agama), bahasa maupun komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap

Pemerintah terus mendorong kesadaran masyarakat, betapa penting memulai pendidikan sejak dini bagi anakanak. PAUD diharapkan menjadi pilihan bagi orangtua untuk memperkenalkan pendidikan tahap awal bagi putra-putrinya.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 11

Sebanyak 27 provinsi telah memiliki tingkat ketuntasan PAUD di atas 50 persen. Artinya, lebih dari separuh jumlah desa di provinsi tersebut telah memiliki PAUD. Sedangkan provinsi yang tingkat ketuntasannya masih di bawah 50 persen yaitu Maluku Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Papua, dan Papua Barat. Kondisi geografis menjadi salah satu kendala penuntasan program PAUD di provinsi-provinsi tersebut. Untuk memacu program Satu Desa Satu PAUD di provinsi yang tingkat ketuntasannya masih minim, Direktorat Jenderal PAUDNI memiliki sejumlah strategi, satu di antaranya adalah merangkul sejumlah organisasi mitra yang memiliki daya jangkau hingga ke daerah terpencil. Pada tahun 2013, kami bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat, dan TNI Angkatan laut untuk membantu membangun PAUD di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal, ucapnya.

Sedangkan pada tahun 2008, APK PAUD naik menjadi 28,75 persen, dan pada tahun 2009 naik menjadi 29,52 persen, kemudian naik lagi menjadi 31,03 persen pada tahun 2010, dan 34,54 persen pada tahun 2011. Capaian APK PAUD terus menunjukkan peningkatkan, data terakhir dari Direktorat PAUD pada 2013 sudah mencapai 67 persen dari target 75 persen pada 2015. Capaian tersebut tidak hanya hasil kerja keras Kemdikbud, melainkan seluruh pemangku kepentingan. Oleh karena itu, ia memberikan apreasiasi kepada seluruh pihak yang peduli terhadap PAUD. Ini berkat bantuan dan partisipasi masyarakat, imbuhnya. Peningkatan APK PAUD tercermin dari jumlah lembaga PAUD yang terus bertambah setiap tahun. Hingga bulan Desember 2013, jumlah lembaga PAUD mencapai 174.367 lembaga se-Indonesia. Dari jumlah tersebut, Taman Kanak-

Untuk memacu program Satu Desa Satu PAUD di provinsi yang tingkat ketuntasannya masih minim, Direktorat Jenderal PAUDNI memiliki sejumlah strategi, satu di antaranya adalah merangkul sejumlah organisasi mitra yang memiliki daya jangkau hingga ke daerah terpencil.

Selain itu, Direktorat Jenderal PAUDNI juga akan memberdayakan rumah ibadah sebagai lokasi pengembangan program PAUD. Program PAUD ini tidak bisa dilaksanakan seorang diri oleh pemerintah pusat. Kami butuh peran serta masyarakat, swasta, organisasi agama, termasuk peran media massa, ucap Direktur Jenderal.

kanak (TK) menempati posisi teratas, atau sebanyak 74.487 TK, lalu diikuti Kelompok Bermain sebanyak 70.477. Sedangkan Satuan PAUD sejenis mencapai 26.269 lembaga. Hingga akhir tahun 2014 tercatat ada 3.134 Taman Penitipan Anak, sebut Lydia. Direktorat Jenderal PAUDNI akan memprioritaskan program PAUD. Sebab di tahun 2045, atau pada 100 tahun usia kemerdekaan, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Pada periode tersebut, Indonesia akan memiliki banyak pemuda-pemudi yang penuh potensi. Calon-calon pemimpin di tahun 2045 adalah anak-anak PAUD saat ini. Oleh karena itu, PAUD adalah investasi yang harus kita pupuk sejak saat ini, ucap Direktur Jenderal.

APK PAUD
Direktur Jenderal PAUDNI juga memaparkan bahwa angka partisipasi kasar (APK) PAUD pun naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, APK PAUD masih 24,75 persen, meningkat menjadi 25,60 persen pada tahun berikutnya. Pada tahun 2006 mencapai 26,35 persen, meningkat lagi menjadi 27,81 persen pada tahun 2007.

12 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Siaran pers Ditjen PAUDNI menyatakan, survei nasional BPS pada tahun 2010 menyebutkan, anak usia 0-9 tahun telah mencapai 45,93 juta jiwa. Pada tahun 2045, anak-anak tersebut akan berusia 35-44 tahun. Oleh karena itu program PAUDisasi sangat penting untuk menyiapkan anak-anak menjadi calon pemimpin di masa mendatang.
FOTO: Dok. PIH

Bunda PAUD
Gerakan PAUDisasi merupakan tantangan besar Pemerintah yang membutuhkan dukungan semua rakyat. Salah satunya melalui peran Bunda PAUD, mulai dari tingkat nasional hingga ke tingkat desa/kelurahan sebagai motor gerakan nasional PAUD. Selain itu, kedepannya diharapkan tiap daerah juga dapat proaktif mengembangkan PAUD melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, perusahaan swasta, BUMN, ataupun organisasi mitra. Bunda PAUD adalah predikat yang diberikan kepada istri kepala pemerintahan (presiden, gubernur, bupati/walikota, camat, kepala desa/lurah) atas perannya dalam mengembangkan program PAUD di wilayahnya, atau yang mewakili jika kepala pemerintahan adalah pria. Bunda PAUD berperan untuk memastikan ketersediaan layanan PAUD, keterjangkauan layanan PAUD, kualitas/mutu dan relevansi layanan PAUD, kesetaraan dalam memperoleh pendidikan, dan kepastian memperoleh layanan PAUD. Peran Bunda PAUD ini sangat penting, karena Bunda PAUD merupakan tokoh sentral dalam Gerakan Nasional PAUD di wilayahnya, dengan memberikan sumbangan pemikiran, sosialisasi, dan penggerakan pelaksanaan PAUD. Selain itu, Bunda PAUD merupakan Aspek-aspek yang dikembangkan dalam kurikulum PAUD di antaranya moral dan agama, fisik-motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Penilaian perkembangan anak dilakukan dengan proses pengamatan, pencatatan, dan pendokumentasian perkembangan kemampuan dan karya anak sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan yang bermanfaat bagi anak. (Ditulis ulang oleh Arifah dari wawancara di Jakarta, 23 Januari 2014, buku saku & Siaran Pers Ditjen PAUDNI) PAUD menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap, perilaku, dan agama), bahasa maupun komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. pendorong visi dan misi pembinaan PAUD di setiap wilayah yang menyangkut ketersediaan, keterjangkauan, kualitas/mutu, kesetaraan, dan kepastian pemerolehan layanan PAUD, serta pelindung atau pengayom dalam penyelenggaraan PAUD di wilayahnya.

Aspekaspek yang dikembangkan dalam kurikulum PAUD di antaranya moral dan agama, fisikmotorik, kognitif, bahasa, dan sosialemosional.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 13

PAUDisasi

Kepastian Mendapatkan Layanan PAUD


Guna menyiapkan generasi 2045, Kemdikbud tidak hanya berfokus pada jenjang pendidikan dasar, menengah, ataupun tinggi tetapi juga kepada pendidikan anak usia dini (PAUD). Anak yang pada usia 0-6 tahun saat ini, 31 tahun mendatang diproyeksikan menjadi pelaku utama dalam pembangunan bangsa Indonesia. Inilah yang melatarbelakangi pentingnya gerakan PAUDisasi yang sedang gencar-gencarnya dilakukan Pemerintah untuk Indonesia yang lebih baik.

Erman Syamsuddin

Berikut wawancara Dikbud dengan Direktur Pembinaan PAUD, Erman Syamsuddin, di Jakarta pada 17 Januari 2014.

Apa sebenarnya hakikat atau roh dari gerakan PAUDisasi?


Intinya dari gerakan PAUDisasi adalah bagaimana Pemerintah membuat sebuah gerakan masif, termasuk mengembangkan pelembangaan PAUD dengan benar. Dalam hal ini bukan artian kaku, tetapi bagaimana agar anak usia 0-6 tahun terlayani semua.

Apa yang melatarbelakangi gerakan PAUDisasi ini?


Awalnya, konferensi Dakkar pada tahun 2000 mengamanatkan negara-negara berkembang temasuk Indonesia mencapai target 75 persen tingkat partisipasi anak usia 0-6 tahun terlayani pendidikan anak usia dini hingga 2015. Setelah dievaluasi tahun 2010, ternyata agak berat, karena sasaran kita kirakira 32 juta anak usia 0-6 tahun dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia. Karena itu kita harus mempunyai strategi percepatan layanan anak usia dini yaitu melalui gerakan PAUDisasi. Gerakan ini dimulai pada saat reformasi birokrasi di Kementerian, ketika bergabungnya PAUD formal dan non formal dalam satu kebijakan, dan fokus pada anak usia 3-6 tahun. Sementara 0-3 tahun lebih kepada peran Kementerian Kesehatan.

14 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Langkah apa yang kemudian dilakukan untuk mendukung gerakan tersebut?


Ya, selanjutnya kita harus juga bisa melihat simpul-simpul siapa saja yang bisa diajak untuk bermitra dalam untuk mendukung gerakan PAUDisasi. Kemudian kita menyimpulkan bahwa strategi yang mencapai grass root adalah dengan merangkul ketua Tim Pembina Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) di semua level di seluruh Indonesia. Mengapa demikian? Karena PKK dan Tim Pembina PKK inilah yang organisasinya mencapai lingkup desa dan kelurahan. Yang menarik lagi adalah ternyata ketua PKK adalah istri dari tiap-tiap kepala daerah. Karena itulah kemudian kita menyebutnya sebagai Bunda PAUD. Namun demikian, kita tidak hanya merangkul PKK semata, tetapi juga ada 22 organisasi mitra lainnya yang kita rangkul.

Terkait dengan Bunda PAUD, apa peran pentingnya sehingga digadang-gadang dalam gerakan ini?
Pada tahun 2011, kita mengukuhkan ibu negara, ibu Ani Yudhoyono, sebagai Bunda PAUD Indonesia. Kemudian pada tahun 2012 kita merangkul istri kepala daerah tingkat provinsi untuk menjadi Bunda PAUD. Sampai pada 2013, diikuti oleh seluruh kabupaten/kota sudah mempunyai Bunda PAUD. Ini adalah gerakan yang luar biasa. Bunda PAUD berperan sebagai sentral dalam Gerakan Nasional PAUD di wilayahnya, dengan memberikan sumbangan pemikiran, sosialisasi, dan penggerakan pelaksanaan PAUD. Bunda PAUD juga sebagai motivator pendorong visi dan misi pembinaan PAUD di setiap wilayah yang menyangkut ketersediaan, keterjangkauan, kualitas/mutu, kesetaraan, dan kepastian pemerolehan layanan PAUD. Selain itu, peran strategisnya yaitu dapat dengan mudah dan fleksibel mengoordinasikan kerja sama dengan pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat.

FOTO: Dok. PIH

Bunda PAUD berperan sebagai sentral dalam Gerakan Nasional PAUD di wilayahnya, dengan memberikan sumbangan pemikiran, sosialisasi, dan penggerakan pelaksanaan PAUD.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 15

Apa saja upaya yang mendukung gerakan PAUDisasi ini selain merangkul Bunda dan organisasi mitra?
Tentunya gerakan ini diikuti dengan berbagai program Kementerian. Pertama, pemberian Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) kepada lebih dari 45 ribu lembaga PAUD di seluruh Indonesia. Ini hanya seperempat dari sekitar 174 ribu lembaga yang ada, karena penting untuk saling bekerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi mitra.

Ini hanya seperempat dari sekitar 174 ribu lembaga yang ada, karena penting untuk saling bekerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi mitra.

Kedua, penguatan lembaga PAUD yang sudah tumbuh di masyarakat melalui pembinaan terhadap empat hal: pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, kelembagaan, dan sarana prasarana. Ketiga, kita bantu mendirikan PAUD baru di desa-desa yang belum ada PAUD melalui program Satu Desa Satu PAUD. Keempat, kita juga memberikan dukungan alat permainan edukatif (APE) untuk memenuhi sarana dan prasarana pembelajaran. Kemudian, secara kualitatif kita terus melakukan pembinaan gugus atau kelompok guru PAUD untuk meningkatkan kreatifitas guru PAUD, termasuk dalam menerapkan kurikulum PAUD yang lebih maju. Selanjutnya kita bantu organisasi mitra PAUD untuk mendorong lembaga-lembaga PAUD yang ada agar lebih kreatif.

Apa harapan Bapak untuk keberhasilan gerakan ini?


Secara keseluruhan, saya berharap kita dapat bahu-membahu untuk memberikan layanan kepada anak-anak usia dini di Indonesia. Ukuran keberhasilan tentu saja dengan meningkatnya angka partisipasi, tercapainya Satu Desa Satu PAUD, dan banyaknya jumlah lembaga PAUD yang tumbuh seiring dengan kerja sama tersebut. (Arifah)

16 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

FOTO: Dok. PIH

Afirmasi Pendidikan

Pintu Masuk Gapai Kesetaraan Layanan Pendidikan

Sejak tujuh bulan silam, mereka belajar di di SMKN 1 Bekasi, Jawa Barat, mengambil jurusan Teknik Komputer Jaringan, Otomotif, dan Akuntasi. Mereka akan menempuh pendidikan selama tiga tahun atau sampai lulus. Saat ditemui di sekolahnya, Kamis (6/2/2014) lalu, mereka terlihat sangat antusias menceritakan perasaan bahagianya mendapat kesempatan ini. Nikanus mengisahkan kekagetannya melihat gedung-gedung tinggi karena ini kali pertamanya dia menginjakkan kaki di Jawa. Lain halnya dengan Marthinus yang pandai menari ini, ingin mengajarkan tari asli Papua kepada teman-temannya di sekolah. Sementara itu Ramses masih merasa harus mengasah kemampuan berbahasa Indonesia, sehingga bisa lebih baik dalam menyerap pelajaran. Korano atau akrab dipanggil Rano bahkan bertekad melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi untuk mengejar cita-citanya menjadi mekanik pesawat.

ikanus Halerehon, Marthinus Yakob Sirami, Yusup Ramses Anderson Yaas, dan Korano Alferos Mambrisauw, adalah empat dari 500 peserta didik asal Papua dan Papua Barat yang mendapat kesempatan mengikuti program Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Afirmasi pendidikan menengah (ADEM) dan afirmasi pendidikan tinggi (ADIK) menjadi solusi jitu bagi peserta didik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang berkeinginan meneruskan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 17

Rencana Program ADik 2014


- ADik Papua - ADik 3T 1. ADik 3T Kalimantan Barat (Angkatan ke-2) 2. ADik 3T Aceh 3. ADik 3T Nusa Tenggara Timur 4. ADik 3T Jawa Barat TOTAL PESERTA = 50 = 150 = 100 = 100 = 900 Mhs ADik Papua 2014 (Angkatan ke-3) = 500

Kepala sekolah, I Made Supriatna, mengatakan, sekolah mendapatkan manfaat positif dari keberadaan mereka. Pertama, perhatian Dinas Pendidikan dan Kemdibud terhadap SMKN 1 Bekasi semakin bertambah, baik dari segi bantuan fisik ataupun dalam bentuk beasiswa.

Tidak hanya itu, para calon generasi penerus bangsa ini juga ditanamkan pendidikan karakter sesuai amanat Kurikulum 2013, termasuk nilai-nilai nasionalisme melalui kegiatan upacara dan ekstrakurikuler Pramuka sebagai bekal membangun bangsa kelak. Supriatna berharap program ini

Kedua, terdapat bentuk nyata kebhinnekaan, sehingga menambah keragaman sosial budaya, antara Papua dengan budaya Jawa Barat. Ketiga,

dapat terus dilakukan, tidak hanya afirmasi bagi siswanya saja tetapi juga diberlakukan bagi para pendidiknya. Kalau bisa afirmasi ini juga diberlakukan untuk gurunya dalam bentuk magang untuk mempelajari proses pembelajaran dan manajemen sekolah, ujarnya.

Para calon generasi penerus bangsa ini juga ditanamkan pendidikan karakter sesuai amanat Kurikulum 2013 termasuk nilai-nilai nasionalisme melalui kegiatan upacara dan ekstrakurikuler Pramuka sebagai bekal membangun bangsa kelak.

menambah tim sepak bola dan futsal karena mereka jago sekali bermain bola. Ini berarti mereka berkontribusi juga kepada prestasi sekolah, ujarnya semringah. Dalam pelaksanaan program afirmasi ini, Supriatna menunjuk wakil kepala sekolah untuk menjadi orang tua asuh yang mengontrol aktivitas keseharian dan memberikan pendampingan untuk berkonsultasi masalah non akademis. Sekolah juga memberikan tambahan jam belajar setelah sekolah ataupun pada saat libur. Awalnya mereka agak sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah, lalu kami berikan tugas atau modul, atau langsung dibimbing guru sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa, kisahnya.

Langkah Strategis
Pada awalnya, program ADEM dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) ini hanya menyasar peserta didik di Provinsi Papua dan Papua Barat karena kedua provinsi ini memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah. Kemudian dengan berjalannya waktu, kegiatan serupa juga dilakukan di provinsi-provinsi lainnya dengan tujuan yang sama, yaitu untuk memberikan pemerataan dan pelayanan pendidikan yang layak. Secara khusus, ADEM bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM sedini

18 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

mungkin dalam proses akulturasi budaya dan semangat kebangsaan di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T) seperti Provinsi Papua, Papua Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, ADIK memberikan kesempatan kepada para lulusan SMA/sederajat yang memiliki potensi akademik dari daerah khusus untuk melanjutkan studi ke program sarjana. Pada 2013, melalui ADEM, sebanyak 500 peserta didik lulusan SMP/MTs dari Papua dan Papua Barat menempuh pendidikan di 178 SMA/SMK terbaik di Provinsi Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa tengah, Jawa Timur, dan Bali. Kemdikbud menyediakan beasiswa pendidikan dan biaya hidup Rp 1 juta per bulan selama menempuh tiga tahun proses pendidikan. Tahun 2014, sasaran ADEM diperluas tidak hanya dari kedua provinsi tersebut tetapi juga di daerah 3T melalui SMA Terbuka. Demikian pula program ADIK yang menyasar 600 peserta

didik lulusan SMA/sederajat yang memiliki potensi akademik dari daerah khusus untuk melanjutkan studi ke32 perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia. Para peserta diberikan program pendampingan, seperti pembinaan kultur akademik agar lebih siap menjalankan kehidupan sebagai mahasiswa. Selain mendapat layanan pendidikan gratis, para mahasiswa ADIK mendapat Beasiswa Rp 1 juta per bulan untuk biaya hidup. Tahun 2014, sasaran peserta ditambah 200 dengan fokus dari daerah 3T. Khusus untuk provinsi Papua dan Papua Barat, perluasan program afirmasi juga termasuk program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T), Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT), Bidikmisi, dan pemberantasan buta aksara. Nota Kesepahaman antara Pemerintah Pusat dan Daerah tersebut telah ditandatangani di Jakarta (20/1/2014) sebagai bentuk komitmen pelaksanaan kebijakan afirmasi pendidikan. (Arifah)

Khusus untuk provinsi Papua dan Papua Barat, perluasan program afirmasi juga termasuk program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T), Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT), Bidikmisi, dan pemberantasan buta aksara.

KERJASAMA AFIRMASI PENDIDIKAN MENENGAH


Memorandum of Understanding (MoU)

Memorandum of Agreement (MoA)

Memorandum of Agreement (MoA)

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 19

Akademi Komunitas

Perluas Spektrum Akses Pendidikan Tinggi


Oleh Hermawan Kresno Dipojo Direktur Kelembagaan dan Kerjasama, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

pendidikan vokasi sesuai dengan potensi, kebutuhan dan keunggulan lokal. Hanya dengan menempuh pendidikan 1 hingga 2 tahun, lulusan AK memperoleh ijazah diploma satu dan/atau diploma dua dan sudah siap bekerja untuk memenuhi kebutuhan lokal. Jadi manfaatnya dapat segera dirasakan langsung oleh peserta didik dan jugasegera mendorong pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Pemenuhan kebutuhan lokal terhadap tenaga terampil dan kompeten adalah kunci dan prasyarat utama dari keberadaan AK. Di samping itu, faktor-faktor fleksibilitas seperti perubahan serta perkembangan kebutuhan lokal, keterbukaan untuk meneruskan ke jenjang pendidikan vokasi yang lebih tinggi, dan pembelajaran sepanjang hayat juga menjadi pertimbangan bagi keberadaan AK. Baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun perorangan, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau badan usaha berbadan hukum dapat mendirikan AK dengan memperhatikan dan memenuhi persyaratan minimal sarana prasarana, sumber daya manusia, dan pendanaan.

enyikapi kebutuhan sumber daya manusia terampil dan kompeten, Akademi Komunitas (AK) hadir untuk

memberikan kesempatan seluasluasnya kepada anak bangsa untuk melanjutkan studi dengan kualifikasi pendidikan tinggi. Hal ini mengingat tidak semua masyarakat berorientasi untuk meneruskan ke pendidikan tinggi pada jenjang akademik. Seusai menempuh pendidikan menengah, ada juga yang berorientasi pada keinginan cepat bekerja setelah memperoleh tambahan keterampilan dan kompetensi dengan kualifikasi pendidikan tinggi, maksimal dengan tambahan pendidikan dua tahun. AK merupakan suatu terobosan dalam layanan pendidikan tinggi kepada masyarakat. Oleh karena itu, adanya AK ini merupakan perluasan spektrum pendidikan tinggi melalui

Kerja Sama Sektor Swasta


Dalam dua tahun terakhir ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mengeluarkan izin pendirian 62 AK Negeri di seluruh Indonesia. Inisiator pendirian itu adalah pemerintah daerah dan pemerintah pusat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas. AK Negeri rintisan tersebut diharapkan dapat menjadi model bagi pendirian AK oleh sektor swasta. Walaupun persyaratan amat berat namun animo swasta untuk mendirikan perguruan tinggi di Indonesia hingga saat ini masih sangat besar. Pada saat ini

20 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

FOTO: Dok. PIH

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingin sejumlah menteri, menandatangani prasasti sekaligus meresmikan Akademi Komunitas Negeri (AKN) Pacitan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, 16 Oktober 2013.

tercatat lebih dari 1000 permohonan ijin untuk mendirikan perguruan tinggi yang masih diproses oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemdikbud. Sedemikian besarnya animo tersebut sehingga untuk sementara ini terpaksa dilakukan moratorium agar proses dapat diselesaikan dengan baik dan cermat. Pendirian AK mendapat pengecualian dari moratorium tersebut. Lebih dari itu persyaratan untuk mendirikan AK jauh lebih ringan dibanding mendirikan perguruan tinggi lainnya. Ini merupakan insentif dari pemerintah kepada sektor swasta yang berminat untuk mendirikan AK pada saat ini. Sektor industri bekerja sama dengan masyarakat lokal di sekitarnya merupakan kombinasi ideal untuk bersama-sama mendirikan AK swasta. Sektor industri sangat memerlukan sumber daya manusia yang mampu meningkatkan produktivitas mereka. Namun fakta lain juga menunjukkan bahwa tenaga kerja sebagian besar industri tidak berasal dari wilayah di sekitar industri itu berada. Akibatnya, warga sekitar industri hanya dapat menjadi penonton, tidak dapat menikmati keberadaan industri dan

sebagai akibatnya terjadi kesenjangan kesejahteraan yang makin lebar antara warga asli sekitar industri dengan pekerja industri yang merupakan pendatang. Industri besar pada umumnya menyadari potensi konflik sosial yang dapat terjadi setiap saat akibat adanya kesenjangan itu. Kesadaran yang tinggi terhadap permasalahan sosial dari dunia swasta atau sektor industri nampak dari kesediaannya untuk mengalokasikan dana dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). Disinilah manfaat keberadaan AK di sekitar dan didukung oleh industri yaitu menyediakan sumber daya manusia yang berasal dari sekitar wilayah dan sesuai dengan kebutuhan industri. Karenanya, Kemdikbud terus mengajak sektor swasta ini untuk terlibat dan lebih dalam pada pendidikan tinggi, baik dalam bentuk CSR ataupun terlibat langsung untuk pendirian dan pengembangan AK. Untuk proses pendiriannya pun relatif mudah. Sedemikian mudahnya pendirian itu sehingga AK bahkan dapat dimulai dari sebuah pusat

Kemdikbud terus mengajak sektor swasta untuk terlibat dan lebih dalam pada pendidikan tinggi, baik dalam bentuk CSR ataupun terlibat langsung untuk pendirian dan pengembangan AK.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 21

latihan (training center) milik industri yang semula digunakan sebatas untuk melatih para karyawannya agar produktivitas mereka meningkat. Dengan memformalkan pusat latihan menjadi AK maka para pesertanya dapat diwisuda dengan memperoleh diploma yang diakui resmi oleh negara. Program studinya dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan lokal sehingga peserta didik dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap siap masuk atau bahkan menciptakan lapangan kerja lokal. Pembelajarannya melalui interaksi antara peserta didik/ mahasiswa dengan dosen, instruktur,

itu amat luas tersedia. Walaupun cakupan itu amat fleksibel, namun Kemdikbud, dalam hal ini Ditjen Dikti memberikan panduan dalam hal penyusunan kurikulum dan pelaksanaan proses belajar mengajarnya agar mutu lulusannya dapat terjamin dengan baik. Inilah kemudian yang menjadi nilai tambah AK sehingga diharapkan semakin banyak anggota masyarakat yang bersedia menempuh alternatif jalur pendidikan ini. Tidak tanggungtanggung, Pemerintah juga memberikan insentif berupa kemudahan proses kepada masyarakat yang akan mendirikan AK terutama di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) sebagai bentuk dukungan untuk perluasan akses pendidikan tinggi. Selain itu, peserta didiknya juga mempunyai kesempatan besar untuk mendapatkan beasiswa Kemdikbud untuk tingkat pendidikan tinggi, seperti Bidikmisi dan beasiswa lainnya. Harapannya, pada 2015 jumlah AK di seluruh Indonesia mencapai sekitar 260-an lembaga. Setelah melihat 62 model AK yang sudah berdiri, baik negeri maupun swasta, diharapkan sektor industri maupun masyarakat luas mulai tertarik untuk berpartisipasi mendirikan AK sesuai dengan kebutuhannya. Sosialisasi konsep AK pun terus dilakukan untuk merangkul swasta. Semakin banyak anak muda yang memiliki keterampilan yang berdaya guna, semakin tinggi produktifitas, sehingga diharapkan semakin meningkat pula kesejahteraan masyarakat dan secara tidak langsung meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. Inilah yang diartikan sebagai memperluas spektrum pendidikan tinggi dalam hal akses, mutu dan relevansi. (Ditulis ulang oleh Arifah dan Seno dari wawancara di Jakarta, 20 Januari 2014)

Jika seseorang yang ahli dalam suatu bidang tetapi tidak mempunyai ijazah dari pendidikan formal, maka mereka dapat mengajar di AK dengan klasifikasi sebagai instruktur.

dan sumber belajar pada lingkungan belajar. Prosedur pendiriannya diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2013 tentang Pendirian, Perubahan, dan Pencabutan Izin AK. Terkait kebutuhan SDM bagi para pendidiknya, dikarenakan AK termasuk pada pendidikan tinggi, maka dosen pengampu matakuliah harus memiliki pendidikan minimal S2. Jika seseorang yang ahli dalam suatu bidang tetapi tidak mempunyai ijazah dari pendidikan formal, maka mereka dapat mengajar di AK dengan klasifikasi sebagai instruktur. Di samping itu, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) memungkinkan seorang ahli atau empu untuk mendapatkan pengakuan formal dengan kualifikasi setara dengan S2 atau bahkan S3 sehingga merekapun dapat menjadi dosen dengan hak dan kewajiban penuh. Wilayah atau cakupan keahlian yang dapat ditawarkan oleh AK sangat luas. AK dapat saja menawarkan pendidikan untuk calon koki masakan Padang, ahli perias pengantin, dalang wayang kulit, ahli las dalam air dan sebagainya. Lapangan kerja di sektor-sektor seperti

22 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Penerima Bidikmisi

Kami Harus Bisa Ubah Keadaan dan Kemiskinan

B
Mahasiswa Jurusan FISIP Universitas Negeri Jakarta Beasiswa Bidikmisi diharapkan menjadi elevator sosial yang kelak akan memutus mata rantai kemiskinan yang memasung masyarakat dalam keterbelakangan. Banyak mahasiswa penerimanya memiliki prestasi akademik, salah satunya adalah Gugum Gumilar.

erbekal tekad melanjutkan kuliah, saya mendaftar ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mendadak dan nekad, kata Gugum Gumilar, penerima Bidikmisi tahun 2011, mengawali kisahnya. Ia adalah satu dari ratusan penerima beasiswa Bidikmisi di UNJ. Semula, ia mencoba tes SNMPTN jalur undangan melalui sekolah. Hasilnya nol alias gagal. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Kemudian mendaftar SNMPTN tertulis. Ketika itu saya mendadak memutuskan ikut SNMPTN tertulis. Masih ragu-ragu antara ikut atau tidak. Mungkin memang jalannya, jadi memutuskan ikut, ujarnya. Alhasil, nasib baik berpihak kepadanya, sehingga dirinya lulus di program studi Pendidikan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNJ. Diterima sebagai mahasiswa umum, tentu saja ia harus mengeluarkan biaya sendiri. Apa boleh buat, sang ayah terpaksa meminjam uang Rp 5 juta di bank untuk biaya awal kuliah. Bagi keluarganya, pinjaman sebesar itu tergolong besar karena penghasilan ayahnya, sebagai pedagang sembako kecil-kecilan, tidak menentu dan pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi dua adiknya masih duduk di bangku SMP dan SMA, yang juga membutuhkan biaya. Kemudian saya ke rektorat, mencari beasiswa seperti kakak saya. Awalnya tidak tahu ada Bidikmisi, dan Alhamdulillah saya malah dipanggil untuk menerima beasiswa ini, kisahnya. Kakaknya, yang juga alumni UNJ, memang menjadi penerima beasiswa PPA dan BBM hingga lulus. Kini, kakaknya menjadi guru SD di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Semula Gugum sama sekali tidak mendapat informasi mengenai Bidikmisi, baik dari sekolahnya maupun teman-temannya. Hal ini boleh jadi karena sebelumnya tidak ada satu alumni pun yang pernah menerima Bidikmisi. Biayai Pendidikan Adik Bagi Gugum, biaya hidup yang diberikan oleh Kemdikbud lebih dari cukup. Maka, uang bulanan yang diterimanya disisihkannya untuk keperluan pendidikan kedua adiknya. Beasiswa Bidikmisi juga mencakup biaya tempat tinggal, sehingga ia merasa cukup dengan setengah dari uang bulanannya.

Gugum Gumilar

22

Tidak hanya memiliki potensi akademik dengan IPK 3,89, mahasiswa yang telah duduk di semester 6 ini juga memiliki segudang potensi non akademik. Sebut saja sebagai peserta ASEAN Student Exchange and Sunburst Youth Camp 2009, Juara II Simulasi Asean 2009 Majalengka, the 8th biggest of Debating Contest 2010 Cirebon, dan juga peserta Forum Bidikmisi Nasional, Senayan Jakarta 2012. Di kampusnya, ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Himpunan Mahasiswa Islam. Sosok kelahiran Majalengka 16 Maret 1993 ini juga mengisahkan tentang dukungan pihak universitas melalui program Kampung Bidikmisi pada semester awal perkuliahan. Program ini adalah insiatif UNJ untuk mengakomodasi mahasiswa baru, khususnya penerima Bidikmisi, dengan tujuan untuk melatih beradaptasi dengan lingkungan baru. Salah satu kegiatan Kampung Bidikmisi adalah kemah tiga hari di Cibubur untuk menjalin kekeluargaan, kebesamaan, hubungan persaudaraan, saling mengenal satu sama lain, melatih kemandirian, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Di Kampung Bidikmisi kami juga diberi motivasi, bahwa orang yang tidak mampu bisa menjadi

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 23

orang sukses. Moto dari Bidikmisi memutus mata rantai kemiskinan. Kami harus bisa mengubah keadaan dan kemiskinan, harus mandiri, bisa berwirausaha, dan bertahan hidup, ungkapnya. Sebagai seorang yang memang bercita-cita menjadi seorang guru, ia tidak segan-segan berencana mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) seusai menyelesaikan pendidikan di UNJ. Ia berharap, rencana ini menjadi bagian dari pembekalan diri untuk mengabdi di desanya di Majalengka kelak. Mengakhiri kisahnya, ia berpesan kepada masyarakat untuk tidak pesimis memandang kuliah itu mahal. Menurut saya sebenarnya kuliah itu tidak mahal. Kalau kita ada usaha, niat, keinginan untuk melanjutkan kuliah, di situlah pasti ada jalan, ujarnya optimis. (Arifah)

Birul Qodriyah Membuat Presiden SBY Terharu

N
Mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada Memiliki cita-cita untuk meneruskan pendidikan hingga bangku kuliah, Birul Qodriyah sadar kalau cita-citanya itu akan sulit ia capai. Dengan orangtua yang bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp5.000 hingga Rp 10.000 per hari, sangat sulit baginya untuk menyandang status mahasiswa.

amun Tuhan mendengar doanya. Melalui beasiswa Bidikmisi, Birul berhasil meneruskan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat ini ia tengah menjalani pendidikan profesi, dengan biaya yang juga ditanggung Bidikmisi. Gadis berjilbab asal Bantul, Yogyakarta ini terpilih untuk memberikan testimoni secara langsung di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Mendikbud Mohammad Nuh, serta 1.000 mahasiswa Bidikmisi yang hadir dalam Silaturahim Nasional Bidikmisi di Jakarta, (27/2/2014). Dengan suara tercekat dan penuh haru, Birul menceritakan sekilas kisah hidupnya. Ia bertutur, ayahnya yang sudah berusia 68 tahun, berusaha keras mewujudkan cita-cita Birul yang ingin berkuliah. Usai Birul mengutarakan niatnya kepada sang ayah dan ibu, keesokan harinya sang ayah bersepeda ke Klaten saat fajar menjelang, demi mencari beasiswa untuk kuliah Birul. Mendengar kenyataan itu, Birul sangat terharu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berusaha menjadi siswa terbaik saat itu. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk berstatus sebagai mahasiswa melalui Bidikmisi, tuturnya dengan suara lirih saat memberikan testimoni. Di hadapan ribuan orang dalam Silaturahim Nasional Bidikmisi itu, Birul mewakili mahasiswa Bidikmisi lainnya berjanji akan menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Janji Birul setidaknya telah terbukti, mengingat prestasi-prestasi yang berhasil diraihnya selama menjadi mahasiswa. Ia mengatakan, ia berhasil terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi UGM, Mahasiswa Terinspiratif tingkat Nasional, dan Duta Keperawatan Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih kepada presiden dan rakyat Indonesia, karena kami bisa meneruskan mimpi kami, yang sebelumnya hanya bisa kami tempel di dinding kamar, ucapnya. Presiden SBY yang duduk di depan Birul pun terlihat haru. Beberapa kali ia tampak mengusap matanya mendengarkan testimoni dari Birul. (Desliana Maulipaksi)

Birul Qodriyah

24 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Budaya

Membangun Bangsa dengan Perkuat Akar Kebudayaan


Pondasi kuat menjadikan bangunan yang berdiri di atasnya juga kuat. Bangunan itu tidak gampang goyah dalam situasi ekstrem sekalipun. Kaidah demikian pula yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdibud) dalam membangun kebudayaan di Indonesia. Tidak semata menyelenggarakan program terobosan, Kemdikbud memulainya dengan menancapkan pondasi kuat sebagai akar pembangunan kebudayaan.

24

tersebut, seperti Pembangunan Karakter dan Jati Diri, Sejarah dan Warisan Budaya, Diplomasi Budaya, Industri Budaya, dan Sarana
FO

embangunan kebudayaan Indonesia berlandaskan empat pondasi dasar, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat ini, ada lima pilar pembangunan kebudayaan yang berdiri di atas pondasi

dan Prasarana Budaya baik fisik maupun nonfisik.


TO : Do k. PI H

Pilar apapun yang akan didirikan di atasnya, pondasinya tidak akan berubah, ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan (Wamenbud), Wiendu Nuryanti, mengawali percakapan dengan tim Dikbud di ruang kerjanya di Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta, Jumat (24/1/2014). Kita membangun kebudayaan dengan dasar, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya sekali keragamannya dan juga sejarahnya, tambahnya.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 25

Ada juga program Rumah Nusantara melalui pembangunan desa-desa adat di seluruh Indonesia. Pembangunannya tidak hanya pembangunan fisik tetapi juga non fisik seperti ritual upacaraupacara adat setempat, perangkat sosia, ekspresi budaya yang berbedabeda satu sama lain. Selain itu, konsep rumah budaya dalam arti luas juga mencakup pengembangan komunitas-komunitas yang sudah memiliki embrio kegiatan kesenian. Kita besarkan embrio ini, jadi membangun semacam pusat komunitas budaya, seperti ada padepokan tari, padepokan seni, bentuknya bermacamContoh Rumah budaya Indonesia di mancanegara sebagai instrumen diplomasi budaya menghadirkan dan mengembangkan eksistensi karya dan nilai-nilai budaya indonesia serta perannya dalam membangun ikatan budaya antar bangsa di lingkungan internasional.

Oleh karena itulah, membangun kebudayaan seperti membangun rumah budaya. Ada pondasi, ada pula pilarnya. Program-program unggulan diturunkan dari kelima pilar tersebut. Sebut saja pilar diplomasi budaya, program turunannya pendirian Rumah Budaya Indonesia di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, pelaksanaannya seperti pusat kebudayaan asing di Indonesia seperti Erasmus Huis, Centre Culturel Franais de Jakarta, Goethe Institut, dan lain sebagainya. Sementara di luar negeri, Rumah Budaya Indonesia telah didirikan di negara-negara strategis seperti di Jepang, China, Rusia, Amerika, Perancis, Australia, dan negara-negara ASEAN. Kegiatan yang diselenggarakan di Rumah Budaya Indonesia sangat beranekaragam dan menarik untuk diikuti. Misalnya diselenggarakan kursus-kursus, seperti bahasa Indonesia, pencak silat, tari, gamelan, bahkan fasilitas perpustakaan yang dipenuhi dengan koleksi buku-buku tentang budaya Indonesia dalam bahasa setempat.

macam komunitas, ujar Wiendu.

Warisan Melimpah
Tidaklah berlebihan jika Indonesia menyatakan dirinya sebagai super power di bidang kebudayaan dengan adanya puluhan ribu cagar budaya benda dan takbenda yang tersebar di seluruh Indonesia. Fakta inilah yang menempatkan pelestarian cagar budaya benda dan takbenda menjadi salah satu pilar pembangunan kebudayaan. Tecatat lebih dari 65.000 cagar budaya benda di Indonesia seperti candi, bangunan-bangunan lama, museum, keraton, monumen, artefak dan sebagainya. Terdapat juga lebih dari 2.200 warisan takbenda yang terdaftar dalam registrasi dalam jaringan (online), seperti taria, ritual, upacaraupacara adat, dan lain sebagainya dengan nilai-nilai budaya didalamnya. Registrasi ini dapat dilakukan perorangan maupun melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) kebudayaan melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB).

26 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Tidak lanjut dari registrasi warisan budaya ini, jelas Wiendu, akan diteruskan menjadi registrasi tingkat nasional. Tahun 2013, Kemdikbud sudah menetapkan 77 warisan takbenda dan 12 kawasan situs cagar budaya nasional. Diharapkan dengan penetapan seperti ini itu ada aturan yang jelas dari pemerintah. Bagaimana persisnya mengatur kawasan-kawasan yang sudah di tetapkan, kemudian implikasinya kepada masyarakat.

Galeri Nasional sebagai ikon berlevel nasional kebangsaan. Konsep yang diusung harus unik, tidak ketinggalan zaman, modern, dan dapat menjadi tempat kepala negara menerima tamutamu kenegaraan, ungkap Wiendu.

Pendidikan Karakter
Ia menekankan, dalam pembangunan kebudayaan sangat penting untuk menggali nilai-nilai budaya untuk dimasukkan dalam sistem pendidikan di sekolah melalui kurikulum. Nilai penting yang perlu diinternalisasikan seperti budi pekerti, budaya antre, budaya bersih, menghormati kebhinekaan, menghormati orang tua, dan lain sebagainya. Ada elemen-elemen dari nilai-nilai tersebut yang berubah oleh karena bergulirnya waktu sesuai dengan konteks yang ada, seperti nilai-nilai budaya timur. Ada ada juga yang tidak berubah karena waktu seperti nilai universal untuk menghormati orang tua. Internalisasi nilai-nilai ini dituangkan dalam pendidikan karakter yang mengiringi esensi dari Kurikulum. Bagi Wiendu, Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang kontekstual, tidak tercabut dari akarnya. Menutup pembicaraan, Wiendu menyampaikan harapannya untuk terus optimis dalam membangun kebudayaan di Indonesia meskipun terdapat banyak tantangan. Untuk itu, dalam membangun kebudayaan tidak hanya harus menguasai isu-isu strategis eksternal supaya kebudayaan Indonesia tidak tertinggal, tetapi juga harus memperkuat akarnya. Bagaikan pohon yang perlu dipupuk terus agar dapat berbuah dan tumbuh kuat supaya tidak tumbang jika ada angin kencang. (Ditulis ulang oleh Arifah dan Seno dari wawancara di Jakarta, 24 Januari 2014)

Fasilitas Seni dan Budaya


Mengingat sasaran pembangunan kebudayaan sangatlah luas, meliputi sekolah, keluarga, dan lingkungan, maka hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menyediakan fasilitas yang mendukung pengembangan budaya. Untuk komunitas seni di luar sekolah, Kemdikbud terus melakukan pendampingan kepada sanggar-sanggar seni, menyediakan alat-alat kesenian, seragam tari, hingga panggung seni. Kebudayaan itu bersifat lentur, cair, dan tidak terstruktur, fasilitasnya juga perlu disesuaikan dengan konteks masyarakat setempat, jelas Wiendu. Selain itu, bantuan sosial juga disediakan dengan sasaran sekolah, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Program unggulan lainnya adalah revitalisasi museum. Revitalisasi museum bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat mengunjungi museum. Saat ini terdapat 329 museum di seluruh Indonesia, namun belum semuanya memiliki kualitas yang baik. Dalam revitalisasi museum, Kemdikbud juga memberikan bimbingan teknis kepada museum-museum dalam hal pengelolaan SDM, tata koleksi museum, dengan mengajak serta para ahli. Ke depannya, Kemdikbud juga bertekad menjadikan Museum Nasional dan

Konsep yang diusung harus unik, tidak ketinggalan zaman, modern, dan dapat menjadi tempat kepala negara menerima tamu-tamu kenegaraan, ungkap Wamenbud.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 27

Galeri Nasional Indonesia

Andil Galeri Nasional Indonesia dalam Lestarikan Seni Rupa Dunia


Siapa yang tidak mengenal Raden Saleh dengan kemasyuran lukisan Kapal Dilanda Badai (1837) yang mendunia itu? Melalui sentuhan kuasnya, Raden Saleh mampu mengungkapkan perjuangan dua kapal dalam hempasan badan dahsyat di tengah lautan. Sementara itu, suasana dramatis ditegaskan dari sudut atas terpancar secercah sinar matahari, layaknya aliran Romantisisme dalam gejolak penghayatan antara dunia ideal (imajinasi) dengan dunia nyata. Dunia pun mengakui kebesaran lukisan ini sebagai tanda periode perintisan seni lukis modern Indonesia (pioneering of Indonesian modern art period).
ini, lukisan nan agung tersebut dapat dinikmati di Galeri Nasional Indonesia (GNI) yang berlokasi tepat di seberang Stasiun Gambir, Jakarta. Tidak hanya itu, GNI juga mengoleksi lebih dari 1.800 karya maestro seni rupa Indonesia lainnya, seperti Affandi, Basoeki Abdullah, S. Sudjojono hingka karya maestro dunia seperti Wassily

Kandinsky (Rusia), Hans Hartung (Jerman), Victor Vassarely (Hongaria), Sonia Delauney (Ukraina), Piere Soulages (Perancis), maupun Zao Wou Ki (China). Karya-karya seni rupa tersebut di antaranya berupa lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, fotografi, seni kriya, dan seni instalasi, termasuk new media art seperti video art, dan flash image.

28 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

FOTO: Dok. Galeri Nasional

Perjalanan panjang mengiringi pengumpulan koleksi di unit pelaksana tehnis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ini. Mulai dari mekanisme pembelian, hibah, titipan, hadiah lembaga kebudayaan Kolonial Belanda (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenchappen) pada 1778, lembaga swasta, maupun kepedulian para seniman. Kepala GNI, Tubagus Andre Sukmana, menyatakan bahwa lembaga yang beroperasi sejak 8 Mei 1999 ini memegang peran penting dalam melestarikan, melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan karya seni rupa yang menjadi koleksi negara (koleksi museum) maupun karya seni rupa modern dan kontemporer lainnya yang bersifat edukatif kultural dan rekreatif. Bukan hanya itu, GNI juga berperan dalam diplomasi budaya dengan pendekatan soft power. Kita melakukan pameran-pameran di luar negeri dan aktif di forum-forum internasional, melalui konvensi, pertemuan-pertemuan para direktur galeri nasional se-Asia, dan juga terlibat di Internasional Komite Museum Sedunia, jelas Andre. Pada kesempatan terpisah, Wakil Mendikbud bidang Kebudayaan
Lukisan Kapal Dilanda Badai tahun 1837, karya Raden Saleh dan menjadi perintis seni lukis modern Indonesia (atas kiri), Salah satu koleksi dari Galeri Nasional Lukisan Pengelana tahun 1976, Cat Minyak di atas Kanvas, karya Barli Sasmitawinata (atas kanan), Pengunjung Galeri Nasional yang datang tidak hanya dari masyarakat di Indonesia tetapi banyak juga dari mancanegara (bawah).

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 29

(Wamenbud), Wiendu Nuryanti,


FOTO: Dok. Galeri Nasional

menekankan bahwa GNI termasuk ikon bangsa sebagaimana Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, Gedung Parlemen, Istana Negara, dan lembaga berlabel nasional lainnya. Galeri Nasional bisa menjadi alternatif tempat presiden menerima tamu-tamu negara, ucapnya ketika ditemui di ruang kerjanya di Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta, Jumat (24/1/2014). Selain itu, GNI memiliki peran penting untuk mewadahi potensi, reputasi, dan kreativitas para seniman (perupa) serta meningkatkan daya apresiasi masyarakat di bidang seni rupa. Hal ini sesuai dengan visi yang diemban: Terwujudnya Pelestarian dan Penyajian Karya Seni Rupa untuk Menumbuhkan Masyarakat yang Kreatif, Apresiatif, dan Mencintai Karya Budaya Bangsa. Program-program unggulan GNI tahun 2014, antara lain: Pameran Besar Seni Rupa Indonesia: MANIFESTO #4; Pameran Seni Patung Kontemporer Indonesia; Pameran Seni Rupa Guru Seni Budaya Indonesia; The 3rd Jakarta International Photo Summit; Pameran Karya Maestro Seni Rupa Indonesia; Lomba Lukis Kolektif Pelajar Nasional; dan program-program menarik lainnya.

Salah satu bentuk penataan pameran di ruang pameran temporer GNI (atas), Laboratorium Konservasi-Restorasi Koleksi (bawah).

Masyarakat dapat menikmati berbagai koleksi karya seni rupa di GNi tanpa dipungut biaya masuk. GNI buka pada Selasa hingga Minggu, pukul 10.00 sampai dengan 15.00 WIB. Sementara hari Senin dan hari libur nasional tutup. Selamat mengunjungi dan menikmati koleksi masterpiece seni rupa. (Arifah, dari wawancara dengan Wamenbud, Kepala Galeri Nasional Indonesia dan informasi laman www.galeri-nasional.or.id)

Galeri Nasional bisa menjadi alternatif tempat presiden menerima tamu-tamu negara.

30 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014

Galeri Nasional Indonesia

Merintis Galeri Nasional Indonesia Menjadi Ikon Bangsa

Adalah Galeri Nasional Indonesia (GNI) tempat menyimpan dan memamerkan hasil karya maestro Indonesia yang mendunia tersebut. Masyarakat dapat datang melihat langsung ataupun mengikuti lokakarya seni rupa yang diselenggarakan GNI, sehingga dapat menumbuhkan pemahaman yang pada akhirnya dapat mengapresiasi suatu karya seni. Demikian pula dengan adanya pameran-pameran seni rupa yang dapat menjadi media untuk mengapresiasi. Inilah bagian dari proses pendidikan. Jadi, apresiasi itu sejalan dengan proses pendidikan. Sebagai unit pelaksana tehnis (UPT) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), secara umum setidaknya ada tiga tugas dan fungsi yang dilakukan GNI, yaitu kegiatan pelestarian, pemanfaatan, dan perlindungan karya seni. Terkait fungsi pelestarian, penerjemahan dari Undang-Undang Cagar Budaya disepakati bahwa pelestarian tidak hanya pada perlindungan tetapi juga pengembangan dan pemanfaatan. Artinya, tidak hanya berhenti pada pelestarian fisik semata, tetapi bagaimana mentransformasikan, mempromosikan, dan melakukan edukasi kepada masyarakat. Untuk pemanfaatan, secara umum ada manfaat pendidikan dan ekonomi. Manfaat pendidikan, sebagaimana layaknya sosial pendidikan, karya tersebut dapat bermanfaat sebagai media pembelajaran siswa, juga dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap karya seni. Untuk fungsi ekonomi, sudah tentu karya tersebut memiliki nilai jual yang nantinya berdampak pada kesejahteraan senimannya. Jika karya seni sudah pernah dipamerkan di GNI, maka secara pencitraan karya tersebut sudah diakui memiliki kelas yang tinggi dan secara tidak langsung senimannya bereputasi tinggi. Ada prosedur dengan seleksi ketat untuk memamerkan karya di GNI, mulai dari pengajuan proposal, penilaian portofolio, perjalanan pameran yang pernah dilakukan, penghargaan yang pernah didapat, dan lain sebagainya. Selain itu, karya

Oleh Tubagus Andre Sukmana Kepala Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

alam buku teks pelajaran telah diperkenalkan seniman-seniman seni rupa Indonesia yang sangat terkenal, seperti Affandi dan Raden Saleh. Namun demikian, tidak akan lengkap jika karya tersebut tidak dapat dinikmati langsung oleh peserta didik ataupun masyarakat yang memiliki kepenasaran yang tinggi.

Selain berfungsi sebagai tempat pamer karya seni berbobot internasional, GNI juga dapat dimanfaatkan seniman pemula atau daerah untuk membangun citra. Kini, terdapat citacita besar yang sedang diupayakan terwujud, yaitu menjadikan GNI sebagai ikon bangsa.

No. 01 Tahun V Februari 2014

DikbuD 31

juga dinilai oleh para kurator yang berasal dari perguruan tinggi dan independen. Karya yang lulus seleksi dapat dipamerkan di GNI dalam durasi paling lama satu bulan. Untuk fungsi perlindungan, di dalamnya ada kajian, pendokumentasian, perawatan, pameran, publikasi dan kemitraan. Secara konten, GNI memiliki koleksi karya seni rupa, mulai dari lukisan, patung, keramik, fotografi, desain grafis, media art, video art, dan pengembangan karya seni rupa
FOTO: Dok. Galeri Nasional

seniman daerah untuk memamerkan hasil karyanya. Ini adalah aspek yang luar biasa dimana karya seniman lokal disandingkan dengan koleksi negara, sehingga dapat menimbulkan rasa bangga dan membangkitkan semangat mereka untuk terus berkarya. Tahun 2013, pameran keliling dilaksanakan di Pontianak dan Riau, sedangkan tahun ini pameran akan dilakukan di Banten dan Kupang. Menariknya, ada daerah yang tidak mempunyai ruang khusus pameran seni rupa, sehingga pihak GNI memodifikasi ruangan menjadi seperti galeri dengan standar pameran, diantaranya standar pengamanan, standar apresiasi, standar pencahayaan, dan sebagainya. Di GNI, komunitas dapat manfaatkan fasilitas audio visual untuk screening video art dan flash image. Bagi seniman grafis, GNI mempunyai mesin cetak yang dapat digunakan berkarya. Ada juga ruang untuk seni mural berupa dua dinding khusus. Masyarakat juga dapat menggunakan ruang diskusi. Biasanya pameran dibarengi dengan diskusi dimana kurator atau senimannya memberikan penjelasan atas gagasan yang ditampilkannya. Saat ini pengembangan infrastruktur GNI sedang dirintis sehingga layak disebut sebagai ikon bangsa. Demikian pula saya berharap ada pengembangan organisasi dan ruang lingkup program. Tidak menutup kemungkinan lembaga ini berkembang bekelanjutan, sehingga memiliki galeri-galeri di daerah untuk mewadahi kreativitas seni rupa di daerah. Nantinya juga diharapkan GNI dapat menjadi tujuan wisata sebagaimana Museum Nasional dan Monumen Nasional. (Ditulis ulang oleh Arifah dan Seno dari wawancara di Jakarta, 30 Januari 2014)

lainnya. Inilah

Acara yang diadakan oleh Galeri Nasional selalu membuat antusiasme para pengunjung.

yang kemudian digarap GNI dalam memainkan perannya dalam melindungi dan mengembangkan karya seni rupa. Selain itu ada juga fungsi pengumpulan atau akuisisi, mengingat GNI harus menambah koleksinya setiap tahun sesuai kebutuhan.

Jemput Bola
Upaya jemput bola kepada masyarakat pun kerap dilakukan oleh GNI, salah satunya dengan melakukan pameran keliling dan menyediakan ruang bagi komunitas seni untuk berkarya atau memamerkan karyanya. Pameran keliling perlu diselenggarakan, karena tidak semua masyarakat di daerah memiliki kesempatan ke Jakarta untuk berkunjung ke GNI. Selain dapat mengedukasi masyarakat, program ini juga memberikan kesempatan kepada

32 DikbuD No. 01 Tahun V Februari 2014