Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, bahasa Inggris Cataract, dan bahasa Latin Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa dan denaturasi protein lensa atau akibat kedua-duanya yang disebabkan oleh berbagai keadaan. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang

memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Bila kekeruhan tebal, maka penglihatan akan terganggu, kadang kadang sampai menimbulkan kebutaan. Di Indonesia, jumlah kebutaan akibat katarak selalu bertambah 210.000 orang per tahun, 16 % diantaranya diderita penduduk usia produktif. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang dapat menyebabkan katarak dan cara pencegahannya. Faktor pemicu katarak itu sendiri bisa disebabkan oleh pantulan sinar ultraviolet, kekurangan riboflavin (vitamin B2) dan usia lebih panjang.

Untuk mengurangi angka kebutaan di Indonesia akibat katarak, pemerintah sudah lama melakukan program penyuluhan tentang katarak di setiap puskesmas. Operasi katarak juga sudah digalakkan di seluruh Indonesia dengan cara mendatangi daerah-daerah yang penderitanya dari kalangan kurang mampu. Namun, meskipun upaya ini sudah dilakukan, nampaknya penderita katarak tetap saja tinggi karena factor dana dan keterbatasan tenaga medis yang ada. Tetapi, pemerintah juga sudah mencanangkan program Vision 2020 untuk menanggulangi kebutaan di Indonesia, program Vision tersebut meliputi lima upaya pengembangan mekanisme yang meliputi pemantapan advokasi, koordinasi yang mampu menjamin

kesinambungan kegiatan, penguatan SDM, penguatan infra struktur dan pengembangan iptek, serta pemantapan kemitraan. Dahulu memang katarak masih belum diketahui secara jelas, karena kurangnya pengetahuan. Kadang-kadang masih terdapat pula keraguan mengenai letak katarak tersebut. Oleh karena itu, sebagai petugas kesehatan, sebaiknya kita memberikan informasi mengenai katarak kepada para lansia yang utama. Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang katarak secara rinci dan asuhan keperawatan yang mungkin dilakukan untuk pasien katarak.

1.2 RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah pada makalah ini meliputi : 1. 2. 3. 4. Apakah pengertian dari katarak ? Apa saja ethiologi dari katarak ? Apa klasifikasi dari katarak ? Bagaimana WOC dari katarak ?

5. 6. 7. ? 8. 9.

Bagaimana patofisiologi dari katarak ? Bagaimana manifestasi klinis dari katarak ? Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk penyakit katarak

Bagaimana penatalaksanaan untuk penyakit katarak ? Apa komplikasi dari katarak ?

10. Bagaimana asuhan keperawatan teori dari katarak ?

1.3 TUJUAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Untuk mengetahui pengertian dari katarak Untuk mengetahui ethiologi dari katarak Untuk mengetahui klasifikasi dari katarak Untuk mengetahui WOC dari katarak Untuk mengetahui patofisiologi dari katarak Untuk mengetahui manifestasi klinis dari katarak Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic yang dilakukan untuk

penyakit katarak 8. 9. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk penyakit katarak Untuk mengetahui komplikasi dari katarak.

10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori dari katarak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DEFINISI Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer, 2000;62) Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduaduanya yang disebabkan oleh berbagai keadaan. (Sidarta Ilyas, dkk, 2008) Katarak adalah opasitas lensa kristalina atau lensa yang berkabut (opak) yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan, tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak congenital). (Brunner & Suddarth: 2002) Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air terjun. 2.2 ETIOLOGI 1. Degeneratif ( ketuaan), biasanya dijumpai pada katarak senilis dikarenakan proses degenerasi atau kemunduran serat lensa karena proses penuaan dan kemungkinan besar menjadi menurun penglihatanya. 2. Trauma, contohnya terjadi pada katarak traumatika, seperti trauma tembus pada mata yang disebabkan oleh benda tajam/ tumpul, radiasi( terpapar oleh sinar X, sinar UV yang berlebihan atau benda-benda radioaktif). Berat atau ringannya penyakit yang ditimbulkan tergantung dari panjang radiasi UV

yang ditimbulkan bila terjadi kenaikan CFC. Katarak mata yang ditimbulkan dari radiasi UV-B dapat menimbulkan kebutaan. 3. Penyakit mata lain, seperti uveitis. 4. Penyakit sistemik(diabetes militus), contohnya terjadi pada katarak diabetika dikarenakan gangguan metabolisme tubuh secara umum dan retina sehingga mengakibatkan kelainan retina dan pembuluh-pembuluh darahnya. Diabetes akan mengakibatkan kelainan dan kerusakan pada retina. 5. Defek kongenital, salah satu kelainan heriditer sebagai akibat infeksi virus prenatal)dan katarak developmental terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan sebagai akibat dari defek kongenital. Kedua bentuk ini mungkin disebabkan oleh faktor herediter, toksis, nutrisional, atau proses peradangan. Diagnosis infeksi CMV kongenital dilakukan dengan mendeteksi partikel virus dalam cairan tubuh. Hal ini dapat dari urin, dimana jumlah partikel virus paling banyak ditemukan. Dapat pula ditemukan pada air liur atau darah. Jika partikel virus terdeteksi dalam waktu 2-3 minggu setelah lahir, diagnosis infeksi CMV kongenital terjamin. Seiring dengan diagnostik, aspek prognostik adalah persoalan lebih lanjut. Penilaian risiko untuk penilaian sekuel onset lambat merupakan hal yang penting 2.3 KLASIFIKASI Katarak berdasarkan usia dapat diklasifikasikan menjadi : a. Katarak Kongenital Katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saat pembentukan lensa. Kekeruhan sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubella, diabetes mellitus, toksoplasmosis, hipoparatiroidisme, dan galaktosemia.

b. Katarak Senile Katarak senile ini adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed 3). Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Katarak senile ini jenis katarak yang sering ditemukan dengan gejala pada umumnya berupa distorsi penglihatan yang semakin kabur pada stadium insipiens

pembentukkan katarak, disertai penglihatan jauh makin kabur. Penglihatan dekat mungkin sedikit membaik, sehingga pasien dapat membaca lebih baik tanpa kaca mata (second sight). c. Katarak Juvenile Kekeruhan lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft carahast. Mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. d. Katarak Komplikata Katarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagai komplikasi dari penyakit lain. Penyebab katarak jenis ini adalah gangguan okuler, penyakit sistemik dan trauma. 2. 4 MANIFESTASI KLINIS Manifestasi Klinis 1. Penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan. 2. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop

3. Pandangan menjadi kabur atau redup 4. Pupil tampak abu-abu atau putih 5. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek 6. Peka terhadap sinar atau cahaya 7. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia) 8. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca 9. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu 10. Kesulitan melihat pada malam hari 11. Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata 12. Penurunan ketajaman penglihatan (bahkan pada siang hari) 2.5 PATOFISIOLOGI Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan . Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna seperti kristal salju. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang

memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke dalam

lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak. Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama.

2.6 PENYIMPANGAN KDM


Kapsul lensa robek Degenerasi lensa Kekeliruan lensa

katarak

Tindakan operasi Berfungsi secara optimal post op

2. 7 PEMERIKSAAN FISIK Tehnik yang biasanya dipergunakan dalam pemeriksaan oftalmologis adalah inspeksi dan palpasi. Inspeksi visual dilakukan dengan instrumen oftalmik khusus dan sumber cahaya. Palpasi bisa dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata dan deformitas dan untuk mengeluarkan cairan dari puncta. Palpasi juga dilakukan untuk mendeteksi secara kasar(jelas terlihat ) tingkat tekanan intraokuler. Seperti pada semua pemeriksaan fisik, perawat menggunakan pendekatan sitematis, biasanya dari luar ke dalam. Struktur eksternal mata dan bola mata di evaluasi lebih dahulu, kemudian diperiksa struktur internal. Struktur eksternal mata diperiksa terutama dengan inspeksi. Struktur ini meliputi alis, kelopak mata, bulu mata, aparatus maksilaris, konjungtiva, kornea, kamera anterior, iris, dan pupil. Ketika melakukan pemeriksaan dari luar ke dalam, perawat : 1. Melakukan obsevasi keadaan umum mata dari jauh. 2. Alis diobsevasi mengenai kuantitas dan penyebaran rambutnya. Kelopak mata diinspeksi warna,keadaan kulit, dan ada tidaknya serta arahnya tumbuhnya bulu mata. 3. Catat adanya jaringan parut, pembengkakan, lepuh, laserasi, cedera lain dan adanya benda asing. 2. 8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Kartu mata snellen/mesin telebinokular (test ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan atau

kornea,lensa, akueus atau vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.

2. Lapang penglihatan

: penurunan mungkin disebabkan oleh CSV,

massa tumor pada hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. 3. Pengukuran tonografi 25 mm Hg). 4. Pengukuran gonioskopi atau sudut tertutup glaukoma. 5. Test provokatif : digunakan dalam menentukan adanya/tipe : membantu membedakan sudut terbuka : mengkaji intraorkuler (TIO)(NORMAL 12-

glaukoma bila TIO normal atau hanya meningkat ringan. 6. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnosa katarak. 7. Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukan anemia sistemik/ infeksi. 8. EKG, kolestrol serum, dan pemeriksaan lipid memastikan arterosklerosis, PAK. 9. Test toleransi glaukosa/ FBS diabetes. 2. 9 PENATALAKSANAAN 1. Pencegahan Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit. C ,vit. B2, vit. A dan vit. E. Selain itu, untuk mengurangi pajanan sinar matahari (sinar UV) secara berlebih, lebih baik menggunakan kacamata hitam dan topi saat keluar pada siang hari. 2. Penatalaksanaan medis Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif. : menentukan adanya/kontrol : dilakukan untuk

Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit retina atau saraf optikus, seperti diabetes dan glaukoma. Ada dua macam teknik yang tersedia untuk pengangkatan katarak : 1. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan. Prosedur ini meliputi pengambilan kapsul anterior, menekan keluar nucleus lentis, dan mengisap sisa fragmen kortikal lunak menggunakan irigasi dan alat hisap dengan meninggalkan kapsula posterior dan zonula lentis tetap utuh. Selain itu ada penemuan terbaru pada ekstrasi ekstrakapsuler, yaitu fakoemulsifikasi. Cara ini

memungkinkan pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecil dengan menggunakan alat ultrason frekwensi tinggi untuk memecah nucleus dan korteks lensa menjadi partikel yang kecil yang kemudian di aspirasi melalui alat yang sama yang juga memberikan irigasi kontinus. 2. Ekstraksi katarak intrakapsuler Pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonula dipisahkan lensa diangkat dengan cryoprobe, yang diletakkan secara langsung pada kapsula lentis. Ketika cryoprobe diletakkan secara langsung pada kapsula lentis, kapsul akan melekat pada probe. Lensa kemudian

diangkat secara lembut. Namun, saat ini pembedahan intrakapsuler sudah jarang dilakukan. Pengangkatan lensa memerlukan koreksi optikal karena lensa kristalina bertanggung jawab terhadap sepertiga kekuatan fokus mata. Koreksi optikal yang dapat dilakukan diantaranya: 1. Kaca Mata Apikal Kaca mata ini mampu memberikan pandangan sentral yang baik, namun pembesaran 25 % - 30 % menyebabkan penurunan dan distorsi pandangan perifer yang menyebabkan kesulitan dalam memahami relasi spasial, membuat benda-benda nampak jauh lebih dekat dan mengubah garis lurus menjadi lengkung. memerlukan waktu penyesuaian yang lama sampai pasien dapat mengkoordinasikan gerakan, memperkirakan jarak, dan berfungsi aman dengan medan pandang yang terbatas. 2. Lensa Kontak Lensa kontak jauh lebih nyaman dari pada kaca mata apakia. Lensa ini memberikan rehabilitasi visual yang hampir sempurna bagi mereka yang mampu menguasai cara memasang, melepaskan, dan merawat lensa kontak. Namun bagi lansia, perawatan lensa kontak menjadi sulit, karena kebanyakan lansia mengalami kemunduran ketrampilan, sehingga pasien memerlukan kunjungan berkala untuk pelepasan dan pembersihan lensa. 3. Implan Lensa Intraokuler ( IOL ) IOL adalah lensa permanen plastic yang secara bedah diimplantasi ke dalam mata. Mampu menghasilkan bayangan dengan bentuk dan ukuran normal, karena IOL mampu menghilangkan efek optikal lensa apakia. Sekitar 95 % IOL di pasang di kamera posterior, sisanya di kamera anterior. Lensa kamera anterior di pasang pada pasien yang menjalani ekstrasi intrakapsuler atau yang kapsul posteriornya rupture tanpa sengaja selama prosedur ekstrakapsuler.

2. 10 KOMPLIKASI 1. Glaucoma 2. Uveitis 3. Kerusakan endotel kornea 4. Sumbatan pupil 5. Edema macula sistosoid 6. Endoftalmitis 7. Fistula luka operasi 8. Pelepasan koroid 9. Bleeding

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 PENGKAJIAN 1. Identitas Berisi nama, usia, jenis kelamin, alamat, dan keterangan lain mengenai identitas pasien. Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun, sedangakan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia < 40 tahun, pasien dengan katarak presenil terjadi pada usia sesudah 30-40 tahun, dan pasien dengan katark senilis terjadi pada usia > 40 tahun. 2. Riwayat penyakit sekarang Merupakan penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi pada pasien dengan katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan. 3. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM, hipertensi, pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak. 4. Aktifitas istirahat Gejala yang terjadi pada aktifitas istirahat yakni perubahan aktifitas biasanya atau hobi yang berhubungan dengan gangguan penglihatan. 5. Neurosensori Gejala yamg terjadi pada neurosensori adalah gamgguam penglihatan kabur / tidak jelas, sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat atau merasa di runag gelap.

Penglihatan berawan / kabur, tampak lingkaran cahaya / pelangi di sekitar sinar, perubahan kaca mata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan, fotophobia (glukoma akut). Gejala tersebut ditandai dengan mata tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak), pupil menyempit dan merah atau mata keras dan kornea berawan (glukoma berat dan peningkatan air mata). 6. Nyeri / kenyamanan Gejalanya yaitu ketidaknyamanan ringan / atau mata berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap atau tekanan pada atau sekitar mata, dan sakit kepala. 7. Pembelajaran / pengajaran Pada pengkajian klien dengan gangguan mata ( katarak ) kaji riwayat keluarga apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress, alergi, gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin. 3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN Pre-operatif 1. Gangguan persepsi sensori penglihatan b.d distorsi penglihatan 2. Resti cidera b.d peningkatan TIO 3. Gangguan interpretasi terhadap warna b.d perubahan warna nucleus 4. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan 5. Potensial terhadap kurang perawatan diri b.d kerusakan penglihatan Post-operatif 1. Resiko tinggi terhadap cedera b.d perdarahan intraokuler 2. Resiko tinggi infeksi b.d perawatan tidak aseptik 3. Nyeri b.d trauma pembedahan, peningkatan TIO, dan proses inflamasi

3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN A. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan distorsi penglihatan. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan terjadi peningkatan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. Kriteria Hasil : Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan. Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

Intervensi : a) Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat R/ : untuk menentukan intervensi selanjutnya b) Dorong dalam mengekspresikan penurunan ketajaman R/ : agar penurunan penglihatan lanjut dapat dicegah c) Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan, misalnya dengan mendekatkan kebutuhan pasien R/ : memungkinkan pasien melihat objek lebih dekat d) Orientasikan pasien terhadap lingkungan dan orang lain di sekitarnya e) R/ : memberikan peningkatan kenyamanan B. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien menunjukkan pemahaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan.

Kriteria Hasil : Menunjukkan pemahaman tentang penyakit Dapat melakukan pengobatan secara teratur

Intervensi : a) Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur, lensa R/ : meningkatkan pemahaman pasien b) Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas. R/ : dapat bereaksi silang pada obat yang diberikan c) Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antar obat mata dan masalah medis klien. R/ : meningkatkan pehamaman pasien d) Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi, membongkok pada panggul, dll. R/ : dapat meningkatkan TIO e) Anjurkan klien tidur terlentang, mengatur intensitas lampu dan menggunakan kaca mata gelap saat keluar R/ : mencegah cidera kecelakaan pada mata f) Identifikasi tanda/gejala memerlukan upaya evaluasi medis, misal : nyeri tiba-tiba. R/ : intervensi dini dapat mencegah terjadinya komplikasi. C. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan peningkatan TIO Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami cidera dan faham terhadap factor yang menyebabkan cidera. Kriteria hasil :

Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor

resiko dan untuk melindungi diri dari cedera. Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.

Intervensi : 1. Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata. R/ : membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerjasama dalam pembatasan yang diperlukan 2. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak

sakit sesuai keinginan. R/ : menurunkan tekanan pada mata yang sakit 3. Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata,

membongkok. R/ : menurunkan TIO 4. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.

R/ : digunakan untuk melindungi dari cidera kecelakaan dan menurunkan gerakan mata 5. Observasi pembengkakan lika, bilik anterior kempes, pupil berbentuk

buah pir. R/ : menunjukkan prolaps iris atau rupture luka disebabkan oleh kerusakan jahitan atau tekanan mata 6. Kolaborasi dengan memberikan obat sesuai indikasi.

R/ : untuk mengurangi gejala peningkatan TIO D. Resiko tinggi infeksi b.d perawatan tidak aseptik Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko infeksi tidak terjadi Kriteria hasil : Penyembuhan luka tepat waktu Bebas drainase purulen

Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi ( tumor, rubor, dolor, kalor, fungsiolesa ) Intervensi 1. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebalum mengobati mata

R/ : menurunkan jumlah bakteri pada tangan 2. Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata

R/ : teknik aseptic menurunkan resiko penyebaran bakteri 3. Tekankan pentingnya tidak menggaruk mata yang dioperasi

R/ : mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi 4. Observasi tanda infeksi, misalnya kelopak mata bengkak, kemerahan.

R/ : untuk menentukan intervensi yang tepat 5. Berikan obat sesuai indikasi, misalnya antibiotic

R/ : untuk mencegah infeksi