Anda di halaman 1dari 45

Kode Modul: 01.BIO-SMK-T.

2005
MODUL DIKLAT BERJENJANG
Jenjang Sekolah : SMK
Bidang Studi : Biologi
Jenjang Diklat : Tinggi
REKAYASA GENETIKA
Penyusun : Dra. Sumastri, M.Si
Penyunting : Drs. Asep Suhendi Arifin
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PENATARAN GURU ILMU PENGETAHUAN ALAM
(SCIENCE EDUCATION DEVELOPMENT CENTRE)
i
KATA PENGANTAR
Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam (PPPG
IPA) sebagai lembaga diklat memiliki tugas pokok dan fungsi antara lain
mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan sains untuk tingkat
SD, SMP, SMA, SMK , dan SLB. Sebagai lembaga pengembang, PPPG IPA
selalu berupaya meningkatkan peran dan fungsinya dengan mengembangkan
standardisasi kompetensi tenaga kependidikan, menerapkan standar pelayanan
nasional, serta mengkaji dan mengembangkan bahan diklat yang inovativ,
aktual, dan sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Modul adalah salah satu bahan diklat yang disusun untuk
mengembangkan model-model pembelajaran sains untuk dikaji, dipahami, dan
diimplementasikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran, agar guru dan
siswa lebih memahami bagaimana proses pemahaman sains. Oleh karena itu,
pada proses belajar mengajar sains, guru harus berorientasi pada tiga hal
pokok, sebagai berikut.
1. Proses sains, siswa belajar dan memahami sains melalui pengamatan,
pengukuran, percobaan, menarik kesimpulan, dan lainnya.
2. Struktur konsep sains yaitu: Fisika, Biologi, Kimia, dan IPBA.
3. Kecakapan hidup siswa (life skills).
Berdasarkan tiga aspek tersebut, cara yang ditempuh adalah dengan
lebih mengenalkan konsep-konsep sains dengan cara menggunakan model
keterampilan proses sains dan bahan diklat yang sesuai.
Diharapkan modul ini dapat dimanfaatkan oleh guru-guru di sekolah,
sehingga dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran sains.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai kita dalam
meningkatkan mutu pendidikan khususnya sains di Indonesia
.
Bandung, November 2005
Plh. Kepala PPPG IPA,
D
Drs. Suryadi, M.M
NIP. 131 070 737
ii
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar...... i
Daftar Isi.. ii
Daftar Gambar iii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Standar Kompetensi...... 1
B. Indikator.................. 1
C. Deskripsi Materi ..... 1
BAB II. PENGERTIAN REKAYASA GENETIKA. 2
BAB III. PRINSIP UTAMA DALAM REKAYASA GENETIKA. 5
A. Peranan Enzim dalam Rekayasa Genetika .. 5
B. Kloning DNA ... 9
C. Plasmid Merupakan vektor untuk Kloning DNA 9
D. Prosedur Kloning Gen............................................................. 12
BAB IV. DAMPAK NEGATIF DARI PENERAPAN REKAYASA
GENETIKA.. 34
BAB V. RANGKUMAN 37
BAB VI. EVALUASI .. 38
BAB VII. DAFTAR ISTILAH.. 40
DAFTAR PUSTAKA ..... 41
iii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Plasmid bakteri....... 10
Gambar 2. Pemasukan DNA asing ke dalam gen resisten ampisilin dan
tetrasiklin... 12
Gambar 3. Pembuatan Insulin dengan menggunakan plasmid... 15
Gambar 4. Penggunaan plasmid Ti untuk mendapat tanaman yang
tahan terhadap virus 20
Gambar 5. Proses rekayasa tanaman yang tahan terhadap serangga.. 21
Gambar 6. Proses pembuatan antibodi monoklonal.. 28
Gambar 7. Proses kloning pada Domba Dolly 31
Gambar 8. Proses terapi gen pada manusia.. 33
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Standar Kompentesi
Setelah mempelajari modul ini, guru dapat mengembangkan
keterampilan siswa dalam menjelaskan bioteknologi, prinsip, peran
dan implikasinya bagi lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
B. Indikator
Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta dapat :
1. menjelaskan pengertian rekayasa genetika;
2. menjelaskan peran bioteknologi (rekayasa genetika) bagi sains,
lingkungan, teknologi dan masyarakat;
3. menjelaskan implikasi rekayasa genetika bagi sains dan
lingkungan;
4. menjelaskan bahaya yang akan timbul dari rekayasa genetika.
C. Deskripsi Materi
Materi yang dibahas dalam modul ini adalah sebagai berikut.
1. Pengertian rekayasa genetika
2. Peranan enzim dalam rekayasa genetika
3. Kloning DNA dan prosedur kloning gen
4. Plasmid merupakan vektor dalam kloning DNA
5. Tenik hibridoma untuk pembuatan antibodi monoklonal
6. Kloning gen dengan menggunakan plasmid Ti pada tanaman
7. Pembuatan vaksin dengan plasmid ragi
8. Kloning organisme
2
BAB II
PENGERTIAN REKAYASA GENETIKA
Rekayasa genetika secara umum adalah memanipulasi (mengubah
susunan) gen untuk mendapatkan galur baru. Memanipulasi ini termasuk
mutasi dan seleksi mutan dengan mengganti gennya. Termasuk juga
memindahkan material genetik ke organisme lain di laboratorium.
Prosedur pertukaran material genetik ini harus dalam kondisi terkontrol.
Pemanipulasian materi genetik ini berkembang karena para ahli telah
menemukan urutan basa nukleotida atau DNA (Deoxy Ribose Nucleic
Acid).
Rekayasa genetika disebut juga rekombinasi DNA. Perekayasaan
genetik terhadap satu sel dapat dilakukan dengan hanya menghilangkan,
menyisipkan, atau menukarkan satu atau beberapa pasang basa
nukleotida penyusun molekul DNA. DNA ini merupakan unit terkecil yang
membawa sifat keturunan (gen). Dalam penyisipan gen diperlukan
mikroorganisme biasanya bakteri, beberapa jenis ragi, atau virus. Bakteri
yang biasanya digunakan adalah Escherichia coli, yang berfungsi sebagai
pembawa gen (vektor). Sifat bakteri atau ragi yang mengandung gen
titipan itu dikendalikan oleh gen asing tadi. Jadi gen asing ini tetap
melakukan fungsi seperti sel asalnya, walaupun berada dalam sel bakteri.
Penelitian dalam bidang biologi molekuler dan biologi kedokteran
mengalami kamajuan yang pesat dengan adanya perkembangan
manipulasi gen. Manipulasi gen didefinisikan sebagai pembentukan baru
materi genetik yang dapat diturunkan dengan cara menyisipkan molekul-
molekul asam nukleat ke virus atau plasmid bakteri atau organisme
pembawa lainnya yang memungkinkan terjadi penggabungan ke dalam
organisme dan mampu mengadakan penggandaan lagi. Pemanipulasian
gen secara invitro dilakukan pada awal tahun 1970 dengan adanya
perkembangan teknik transformasi pada bakteri Eschericahia coli,
3
pemotongan dan penggabungan molekul-molekul DNA, dan pemantauan
reaksi-reaksi pemotongan dan penggabungan.
Jika pragmen DNA tidak direplikasikan, cara yang paling baik adalah
melekatkannya ke replikon yang cocok. Replikon ini disebut juga vektor
atau tempat pengklonan. Virus yang menyerang bakteri (bakteriofag) atau
plasmid merupakan vektor yang tepat karena merupakan replikon mereka
sendiri, tidak perlu pemeliharaan khusus dan DNA nya dapat dipisahkan
dalam bentuk utuh. Pada mulanya plasmid dan fag yang tepat sebagai
vektor hanya dijumpai pada bakteri Escherichia coli .
Molekul majemuk yang mengandung DNAasing untuk disisipkan ke
molekul vektor disebut juga kimera DNA. Penyusunan molekul majemuk
atau molekul rekombinan buatan seperti itu disebut juga rekayasa
genetika. Proses ini disebut juga pengklonan gen karena dihasilkan
sejumlah organisme yang secara genetis identik, mengandung molekul
majemuk, dapat ditumbuhkan dalam jumlah yang banyak, dan setiap
produk gen yang disintesis diatur oleh molekul tersebut.
Dalam melakukan pengklonan suatu bagian DNA asing atau DNA
penumpang atau DNA sasaran harus dipenuhi hal-hal sebagai berikut.
DNA vektor harus dimurnikan dan dipotong sehingga terbuka. DNA yang
diinginkan disisipkan ke molekul vektor untuk membentuk rekombinan
buatan.
Menurut Djajanegara manfaat teknologi rekayasa genetika adalah
sebagai berikut.
1. Meningkatkan produktivitas dan kualitas produk-produk pertanian
secara nyata (James, 1998).
2. Memberikan terobosan baru pada pemulian tanaman dimana
teknik-teknik konvensional mengalami hambatan (Suwonto,
2000).
3. Memecahkan masalah-masalah di bidang kesehatan dengan
menyediakan vaksin-vaksin baru dan hormon-hormon penting
melalui teknik DNA rekombinan (Koesnandar, 2000).
4
4. Membantu pelestarian keanekaragaman hayati melalui rekayasa
genetik, misal jamur Cryphonectaria parasitica menjadi berkurang
keganasannya dalam menyerang tanaman Chesnut (Chen &
Nuss, 1999).
5
BAB III
PRINSIP UTAMA DALAM REKAYASA GENETIKA
A. Peranan Enzim dalam Rekayasa Genetika
Setelah tahun 1970 ditemukan metode yang dapat digunakan
untuk memotong molekul DNA rangkap menjadi fragmen-fragmen.
Dengan ditemukan enzim restriksi pada Escherichia coli dapat
memecahkan masalah yang berhubungan dengan pemotongan
(restriksi) dan modifikasi DNA. Akan tetapi ternyata enzim restriksi
endonuklease ini bukan merupakan pilihan yang tepat karena
tersembunyi dalam kekomplekan tingkah lakunya dan gagal memotong
DNA sel Hemophilus influenzae yang telah diekstrak. Pada tahun 1970
Hamilton Smith menemukan enzim pada Haemophilus influenzae yang
sifatnya lebih sederhana.
Enzim dari E. Coli ini membutuhkan ion magnesium dan kofaktor
ATP, serta S-adenosil-metionin, di samping itu enzim ini hanya dapat
memotong satu sisi untai DNA secara acak. Oleh sebab itu diperlukan
enzim yang kedua untuk melengkapi pemotongan untaian ganda.
Enzim dengan sifat seperti ini dikenal sebagai restriksi endonuklease
tipe 1, walaupun enzim ini mengenal urutan nukleotid tertentu.
Sifat-sifat yang aneh dari enzim restriksi ini mulai diungkapkan
dengan ditemukan enzim restriksi nuklease dari H. Influenzae Rd (Kelly
dan Smith1970, Smith dan Wilcok, 1970) yang menjadi prototipe dari
sejumlah enzim restriksi endonuklease, yang pada saat ini dikenal
sebagai enzim tipe II dan pada dasarnya penting dalam pemanipulasian
DNA. Enzim tipe II mengenal urutan sasaran khusus molekul DNA
ganda dan memotong rantai polinukletida di dalam, sehingga
menghasilkan potongan DNA yang teratur dengan panjang dan urutan
tertentu.
6
Sampai saat ini banyak sekali enzim restriksi endonuklease tipe II
yang berhasil dipisahkan dari berbagai jenis bakteri. Beberapa ratus
jenis enzim restriksi telah diidentifikasi dan sebagian besar telah
diketahui sifat-sifatnya (Kessler et al, 1985) dan jumlah enzim ini makin
bertambah karena makin banyaknya spesies bakteri yang telah diteliti
dan diduga memiliki enzim restriksi endonuklease ini.
Penemuan sejumlah enzim restriksi memerlukan penamaan yang
seragam. Sistem penamaan yang berdasarkan usulan Smith dan
Nathans (1973) yang sebagian besar telah diikuti adalah sebagai
berikut. Nama spesies organisme inang penghasil enzim restriksi
ditunjukkan oleh huruf pertama nama genus dan dua huruf pertama
spesiesnya membentuk singkatan tiga huruf yang ditulis miring,
misanya Escherichia coli = Eco dan Hemophilus influenzae = Hind. Tipe
diidentifikasi dengan penulisan huruf di bawah garis, misalnya Eco
k
.
Dalam hal sistem restriksi dan modifikasinya secara genetis ditentukan
oleh suatu virus atau plasmid, nama singkatan spesies inang yang
dituliskan dan unsur ekstra kromosomnya diidentifikasi sebagai tulisan
di bawah garis yaitu Eco
pv
. Jika galur inang tertentu mempunyai
beberapa sistem enzim restriksi dan mempunyai modifikasi yang
berbeda akan diidentifikasi dengan angka romawi, misalnya sistem dari
H. Influenzae galur Rd akan menjadi Hind
d
I
dan Hind
d
Ii
. Angka Romawi
tidak dikacaukan dengan enzim restriksi tipe I. Tabel 2. merupakan
daftar beberapa enzim restriksi endonuklease yang umum digunakan.
Sebagian besar enzim restriksi endonuklease tipe II mengenal
dan memutuskan DNA dalam urutan tertentu dari tetra-, penta-, heksa-,
atau hepta- nukleotida yang memiliki suatu sumbu simetri rotasional,
misalnya Eco RI yang memutuskan DNA pada posisi yang ditunjukkan
oleh anak panah yang menghasilkan suatu ujung yang membawa
gugus 5-fosfat dan 3 hidrosil.
7
Sumbu Simetri
5 ______ G AA T T C
3 _______ C T T A A G
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa tidak semua enzim tipe II
memotong sisi sasarannya (target) seperti Eco RI. Beberapa enzim
misalnya Pst I menghasilkan potongan-potongan yang memiliki ujung 3
yang kohesif, sedangkan enzim yang lain (Hae III) membuat potongan
potongan genap yang menghasilkan fragmen yang berujung tumpul
tanpa satupun yang kohesif. Beberapa enzim mengenal urutan
tetranukleotida, yang lain mengenali urutan basa yang lebih panjang.
Hal ini akan menentukan rata-rata panjang potongan yang dihasilkan.
Beberapa enzim, misalnya Sau 3AI mengenali suatu urutan
tetranukleotida yang dikenali oleh enzim yang lain yaitu oleh Bam HI.
Ujung kohesif yang dihasilkan oleh enzim ini sedemikian rupa sehingga
potongan yang dihasilkan oleh enzim enzim SAU 3 AI akan cocok satu
sama lain dengan potongan yang dihasikan oleh Bam HI. Jika potongan
itu digabungkan secara kovalen, potongan yang dihasilkan akan peka
terhadap Sau 3 AI.
Tabel 1. Beberapa enzim restriksi dan urutan pemotongannya (Kessler,
1985)
Mikroorganisme Singkatan nama
enzim
Rangkaian Pemotongan
5 3
3 5
Anabaena variabilitis Ava1 G (T) CG (G) G
G A G C C C
Bacillus
amyloliquifaciens H
Bam HI G G A T C C
C C T A G G
Bacillus globigii Bgl II A G A T C T
T C T A G A
Escherichia coli RY
13
Eco RI G A A T T C
8
Mikroorganisme Singkatan nama
enzim
Rangkaian Pemotongan
5 3
3 5
C T T A A G
Escherichia coli R
245
Eco RII C C T G G
GGT A C C
Haemophlius
aegybtius
Hae III Pu G C G C Py
Py C G C G Pu
Haemophlius
gallinarum
Hga I C G A C GC
G C T G C G
Haemophlius
haemolyticus
Hha I G C G C
C G C G
Haemophlius
influenzae Rd
Hind I
Hind III
G T (T) (G) A C
C A (A) (C) T G
A A G C T T
T T C G A A
Haemophlius
parainflunzae
Hpa I G T T A A C
C A A T T G
Klebsiella
pnewmoniae
Kpn III G G T A C C
C C A T G G
Moraxella bovis Mbo I G A T C
C T A G
Providencia stuartii Pst I C T G C A G
G A C G T C
Serratia marcescens Sma I C C C G G G
G G G C C C
Streptomyces
stanford
Sst I G A G C T C
C T C G A G
Xanthomonas
malvacearum
Xma C C C G G G
G G G C C C
9
B. Kloning DNA
Kloning DNA adalah memasukkan DNA asing ke dalam plasmid
suatu sel bakteri, DNA yang dimasukkan ini akan bereplikasi
(memperbanyak diri) dan diturunkan pada sel anak pada waktu sel
tersebut membelah. Jadi gen asing ini tetap melakukan fungsi seperti
sel asalnya, walaupun berada dalam sel bakteri. Pembentukan DNA
rekombinan ini disebut juga rekayasa genetika. Pereka-yasaan
genetika terhadap satu sel dapat dilakukan dengan hanya menghi-
langkan, menyisipkan atau menularkan satu atau beberapa pasang
basa nukleotida penyusun molekul DNA tersebut. Untuk kloning ini
diperlukan plasmid dan enzim untuk memotong DNA, serta enzim untuk
menyam-bungkan gen yang disisipkan itu ke plasmid.
C. Plasmid Merupakan vektor untuk Kloning DNA
Beberapa jenis bakteri mempunyai sejumlah molekul DNA
melingkar yang ukurannya kecil sekali, hanya mengandung beberapa
ribu pasang basa, selain mempunyai kromosom utama dengan 4 juta
pasang basa. Kromosom mini ini dinamakan juga plasmid. Plasmid
dapat bereplikasi secara otonom. Plasmid ini merupakan elemen
genetis yang tidak berhubungan dengan kromosom utama dan
mengandung gen-gen yang resisten terhadap antibiotik, antara lain yaitu
antibiotik tetrasiklin dan ampisilin (lihat Gambar 1). Keresistenan
terhadap antibiotik memerlukan sejumlah enzim yang secara kimiawi
dapat menetralisir antibiotik tersebut.
10
Gambar 1. Plasmid bakteri
Dengan menempatkan gen pada plasmid, masing-masing gen
ada dalam salinan (copy) sejumlah plasmid tertentu yang dinamakan
episom. Plasmid ini mampu bergerak mendekati dan menjauhi elemen
kromosom utama. Hal ini menunjukkan bahwa plasmid memiliki
elemen-elemen genetis yang bergerak, yang dilakukan melalui fusi
secara bebas dari dua unit DNA replikasi (replikon). Plasmid dapat
diintegrasikan (dimasukkan) ke dalam kromosom bakteri dan dapat
dipindahkan dari satu sel bakteri ke bakteri yang lain melalui
transformasi, jika kromosom sel-sel tersebut merupakan pasangannya.
Transformasi adalah pemindahan satu sifat mikroba melalui bagian
DNA tertentu dari mikroba.
Oleh karena DNA plasmid sangat kecil daripada fragmen DNA
kro-mosom, maka dapat dengan mudah dipisahkan dan dimurnikan. Di
dalam laboratorium, jika plasmid dicampurkan dengan bakteri, dengan
adanya ion Ca
++
, DNA plasmid tersedot ke dalam sel bakteri, sehingga
bakteri mengandung plasmid yang tersedot tersebut. Umumnya dengan
alasan yang tidak jelas, sel bakteri mempunyai satu bentuk plasmid.
Kenyataannya bahwa enzim Eco Ri menghasilkan potongan
ujung khusus yang kohesif yang selanjutnya merupakan metode praktis
untuk kloning fragmen DNA. Cara yang penting adalah memasukkan
11
suatu frag-men DNA yang telah dipotong dengan enzim restriksi Eco Ri
ke dalam plas-mid hibrid yang dapat digunakan untuk mempengaruhi
bakteri. Masing-masing sel bakteri memperoleh satu sel plasmid
rekombinan yang me-ngandung fragmen DNA asing yang dimasukkan.
Mengapa menggunakan plasmid yang resisten terhadap
antibiotik? Penggunaan antibiotik secara ekstensif dan penyalahgunaan
antibiotik dalam pengobatan manusia dan hewan ternak menyebabkan
strain bakteri alami menjadi resisten terhadap kebanyakan antibiotik
yang bersifat umum. Biasanya keresistenan ini tergantung pada respon
(tanggapan) plasmid bakteri yang mempunyai enzim khusus yang
dapat menguraikan antibiotik. Jika digunakan plasmid yang resisten
antibiotik bersama-sama dengan sel bakteri yang plasmidnya sensitif
terhadap antibiotik, dengan memasukkan plasmid resisten terhadap
antibiotik yang mengandung gen rekombinan, plasmid ini dapat
dideteksi dengan mudah. Plasmid pbR 322 adalah salah satu contoh
plasmid yang mengandung gen resisten terhadap dua jenis antibiotik
yaitu ampisilin dan tetrasiklin.
Selain itu tempat untuk enzim restriksi bekerja berada di antara
gen-gen yang resisten terhadap antibiotik tersebut (lihat Gambar 2).
Dengan demikian, jika sepotong DNA asing dikombinasikan ke dalam
satu atau lebih gen resisten antibiotik, gen tersebut tidak akan aktif. Hal
ini berarti bahwa keberhasilan pemotongan DNA asing ke dalam satu
gen resisten antibiotik dengan mudah dideteksi. Potensi genetis untuk
resisten tersebut dieleminir. Jika plasmid dimasukkan ke dalam sel
bakteri (hos), bakteri akan memperoleh keresistenan khusus yang
kedua karena gen tersebut masih utuh.
12
Gambar 2. Pemasukan DNA asing ke dalam gen resisten ampisilin dan
tetrasiklin.
Plasmid yang membawa gen resisten antibiotik itu tersebar luas
di alam dan plasmid tersebut dimutasikan agar tidak dapat bergerak
secara spontan dari satu sel ke sel yang lain. Dengan menggunakan
strain bakteri tertentu, percobaan dengan menggunakan plasmid yang
resisten obat sangat berguna tanpa menimbulkan resiko yang berarti.
Plasmid yang pertama kali dipakai sebagai vektor untuk rekombinan
DNA adalah plasmid dari sel bakteri Escherichia coli. Plasmid ragi
Saccharomyces cerevisiae, dan plasmid bakteri Bacillus subtilis dan
virus saat ini juga digunakan sebagai vektor untuk rekombinan DNA.
D. Prosedur Kloning Gen
1. Kloning Gen dengan Menggunakan Plasmid
Dalam melakukan pengklonan suatu DNA asing atau DNA
yang diinginkan atau DNA sasaran harus memenuhi hal-hal sebagai
berikut. DNA plasmid vektor harus dimurnikan dan dipotong
dengan enzim yang sesuai sehingga terbuka. DNA yang akan
disisipkan ke molekul vektor untuk membentuk rekombinan buatan
harus dipotong dengan enzim yang sama. Reaksi pemotongan dan
13
penggabungan harus dipantau dengan menggunakan elektroforesis
gel. Rekombinan buatan harus ditransformasikan ke E. coli atau ke
vektor lainnya.
Rekayasa genetik dengan menggunakan plasmid bakteri E.
coli dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Menentukan gen yang diinginkan untuk disisipkan, misalnya gen
pengkode hormone insulin dari sel-sel pankreas manusia atau
gen pengkode hormon pertumbuhan dari kelenjar pituitari.
Kromosom sel-sel pankreas dikeluarkan dengan memecah
membran plasma. Membran plasma ini dipecah dengan diberi
kejutan listrik atau dengan pemberian zat kimia yaitu polietilen
glikol atau kalsium klorida (CaCl
2
), sehingga kromosom dapat
keluar dari sel pankreas.
2. Kromosom yang diinginkan tadi dipotong dengan menggunakan
enzim restriksi endonuklease untuk melepaskan bagian DNA
yang diinginkan, kemudian memurnikan DNA tersebut.
Elektroforesis dapat juga digunakan untuk persiapan
memurnikan fragmen DNA tertentu, selain digunakan untuk
menganalisis.
3. Mengektraksi plasmid dari sel bakteri. Plasmid dipisahkan dari
sel dengan cara memecah dinding sel bakteri. Hal ini dapat
dilakukan dengan menggunakan deterjen atau dengan enzim
lisozim, kemudian dilisis dengan natrium hidroksida (NaOH) dan
larutan dedosil sulfat. DNA kromosom akan menggumpal dan
dinetralisir dengan natrium asetat. DNA plasmid ini akan
menggumpal membentuk jaring-jaring dan dengan mudah
mengendap. Untuk memisahkan DNA ini dilakukan sentrifugasi.
4. Cairan yang mengandung plasmid ini dijenuhkan dengan
pengendapan etanol. DNA plasmid yang dimurnikan dengan
filtrasi gel. Plasmid yang berbentuk lingkaran itu dipotong
dengan enzim restriksi endonuklease yaitu enzim yang sama
14
digunakan untuk memotong DNA pankreas. Enzim ini memecah
ikatan fosfodiester pada molekul DNA. Endonuklease memecah
asam nukleat pada posisi internal, sedangkan enzim
eksonuklase memecah molekul DNA dari ujung molekulnya.
5. Kemudian pemasangan gen pengkode yang diinginkan tadi ke
dalam plasmid dengan menggunakan enzim ligase yang
fungsinya menggabungkan ikatan fosfodiester antara fragmen
ujung-ujung yang terpotong tadi. Proses penyambungan
tersebut disebut ligasi. Karena enzim yang digunakan untuk
memotong DNA sel pankreas dan plasmid sama jenisnya, akan
menghasilkan ujung-ujung yang lengket yang sama strukturnya,
sehingga penyambungannya akan menyatu sempurna. Suhu
optimum untuk ligasi adalah 37
0
C, tetapi ikatannya tidak stabil.
Ligasi akan berhasil jika dilakukan pada suhu 4-150
0
C.
6. Plasmid yang telah disisipi gen pengkode yang diinginkan itu
dimasukkan ke dalam sel bakteri coli dengan cara tranformasi.
Transformasi dilakukan dengan memasukkan bakteri E. coli ke
dalam larutan CaCl
2
sehingga terbentuk lubang-lubang
sementara, sehingga plasmid dapat masuk ke dalam sel bakteri.
Diharapkan bakteri yang telah disisipi gen tersebut mewarisi
sifat gen baru, sehingga bakteri yang telah disisipi dengan gen
pengkode insulin dapat memproduksi insulin. (Lihar gambar 3
berikut).
7. Langkah selanjutnya adalah mengembangbiakkan bakteri hasil
rekayasa dalam tabung fermentasi yang berisi medium untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri E. coli untuk
memproduksi insulin dalam jumlah yang banyak. Insulin yang
terbentuk kemudian dipisahkan dari senyawa yang lain.
15
Langkah pembuatan insulin dengan menggunakan plasmid
bakteri yang dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Pembuatan Insulin dengan menggunakan plasmid.
Dengan menggunakan plasmid bakteri dapat dihasilkan
hormon pertumbuhan (somatotropin) untuk manusia dan hormon
pertumbuhan untuk sapi. Prosedur pembuatannya sama dengan
pembuatan hormon insulin, tetapi gen yang disisipkan berasal dari
sel-sel pituitari dari sapi atau manusia.
16
Interferon dan interleukin dapat juga dihasilkan dengan
rekayasa genetika melalui plasmid E. coli yaitu dengan menyisipkan
gen dari sel yang diserang oleh virus. Interferon adalah molekul
protein yang dihasilkan oleh sel-sel mamalia yang diserang oleh
virus. Interferon ini dibentuk segera setelah terjadi infeksi dan
prosesnya lebih cepat daripada pembentukan antibodi. Interferon itu
tidak spesifik, tetapi efektif untuk melawan infeksi virus,
meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengobati penyakit kanker
kulit, kerusakan pada sistem kekebalan, dan mengobati beberapa
bentuk leukemia. Fungsi interleukin adalah mengaktifkan sel-sel T
(limposit), oleh karena itu interleukin dapat digunakan untuk
mengobati penyakit kanker dan kerusakan pada sistem kekebalan
tubuh.
Di samping itu, plasmid dapat juga digunakan untuk
memproduksi enzim-enzim tertentu dengan menyisipkan gen
pengkode enzim yang diinginkan. Enzim dapat dihasilkan oleh
bakteri dengan cepat karena bakteri berkembangbiak dengan
cepat yaitu umumnya dalam waktu 20 menit membelah dari satu
sel menjadi dua sel.
3. Kloning gen dengan Menggunakan Plasmid Ti pada Tumbuhan
Tumbuhan dapat dimanipulasi secara genetik karena jaringan
tumbuhan dapat tumbuh dalam medium kultur. Pada medium kultur
jaringan yang cocok, setiap sel atau jaringan dapat dirangsang
untuk tumbuh menjadi tumbuhan yang lengkap (ada akar, batang,
dan daun).
Untuk mendapatkan tumbuhan yang diinginkan perlu
dilakukan penyi-sipan gen. Untuk hal ini, biasanya digunakan bakteri
Agrobacterium tumefaciens. Bakteri ini bersifat patogen dan
menyebabkan tumor pada batang tumbuhan. Molekul dasar dari
pertumbuhan tumor ini dipindahkan dari bakteri ke genom sel
17
tumbuhan yang terinfeksi dari suatu pemberi tanda urutan DNA yaitu
DNA transfer (DNAt) dari suatu plasmid penginduksi tumor atau
disebut juga plasmid Ti. Bakteri Agrobacterium ini mempunyai
plasmid Ti yang ukurannya agak besar. DNAt mengandung gen
bakteri yang secara normal aktif pada sel-sel tanaman, gen
pengkode protein terlibat dalam biosintesis hormon. Ekspresi gen ini
menyebabkan pembelahan sel dengan cepat dan menyebabkan
pertumbuhan yang tidak terkontrol yaitu pertumbuhan tumor pada
sel-sel yang yang diinfeksi. DNA t juga mengandung gen pengkode
enzim yang bertanggung jawab terhadap sintesis asam amino baru
dan derivat gula yang secara umum dikenal sebagai opine. Jenis
opine yang dihasilkan oleh sel-sel tumor, contohnya adalah
nopaulin, oktopin atau agrosinopin. Zat yang dihasilkan ini
tergantung pada strain bakteri dan plasmid Ti yang bertanggung
jawab terhadap terjadinya infeksi. Plasmid Ti juga mengandung gen
pengkode enzim yang diperlukan untuk katabolisme sintesis opine
khususnya oleh sel-sel yang terkena infeksi.
Proses alami tranfer DNAt dari bakteri ke sel tumbuhan yang
cocok adalah sebagai berikut.
1. Diperlukan kontak secara langsung antara bakteri Agrobacterium
dan sel tumbuhan yang terluka untuk terjadinya transfer.
2. Batas-batas DNA t ditentukan dengan imferfek 25 basa 2 yang
terulang, kiri dan kanan batas untai dan ini diperlukan untuk
tranfer.
3. Pengkode gen secara normal oleh DNA t tidak terlibat dalam
tranfer DNA ke sel tumbuhan dan tidak terintegrasi ke genom.
4. Diperlukan enzim dari sel-sel yang terluka dan proses
tranformasi dikode oleh bagian yang kena penyakit (virulen) atau
virulen dari plasmid Ti yang dipisahkan dari DNA-T.
18
Tranformasi vektor ke tumbuhan yang telah dikembangkan
oleh para ahli adalah menggunakan bakteri Agrobacterium dengan
menggabungkan dua vektor. Vektor yang terintegrasi merupakan
derivat plasmid Ti dari DNA-T pada batas untaian yang telah diganti
dengan untaian DNA yang lain. DNA ditranfer ke gen tanaman yang
telah direkayasa melalui plasmid intermediet yang juga
mengandung sekuen yang umum dengan ujung sekuen dari vektor
yang terintegrasi. Vektor intermediet dapat direplikasikan dalam
Escherichia coli yang dimanipulasi dengan metode teknik
rekombinan DNA standar, tetapi plasmid tidak dapat mereplikasi
dalam bakteri Agrobacterium. Vektor intermediet ini dimasukkan ke
dalam bakteri Agrobacterium yang mengandung vektor gabungan
dengan cara transformasi. Untuk pembentukan DNA rekombinan
diperlukan pemilihan plasmid yang resisten terhadap antibiotik yang
dibawa oleh vektor intermediet dalam bakteri Agrobacterium.
Dua vektor yang mengandung gen yang resisten terhadap
antibiotik dan sekuen yang sesuai pada batas kiri dan kanan dari
DNA-T. DNA-T ditransfer ke genom tumbuhan yang dapat
dikloning. Pada waktu rekayasa, gen yang diperlukan dimasukkan
ke plasmid gabungan, kemudian ditransfer ke hos yaitu bakteri
Agrobacterium yang mengandung palsmid T penolong. Plasmid Ti
penolong mengandung suatu bagian yang virulen (vir) dan gen
yang resisten terhadap antibiotik yang berbeda dengan yang ada
dalam plasmid. Keberadaan plasmid gabungan dan plasmid
penolong dalam hos Agrobacterium dapat diketahui dengan
pertumbuhannya pada medium yang mengandung antibiotik yang
cocok. Plasmid rekombinan ini sangat stabil dalam hos bakteri
Agrobacterium.
Tranformasi melalui perantara Agrobacterium telah berhasil
diaplikasikan ke beberapa varietas tanaman, khususnya tanaman
dikotil. Akhir-akhir ini juga telah berhasil ditransformasikan pada
19
tanaman monokotil. Transformasi melibatkan kultur jaringan dengan
tujuan Agrobacterium kontak langsung dengan sel-sel tumbuhan
yang luka sehingga transformasi dapat berlangsung dan terjadi
regenerasi dari sel-sel transgenik. Protoplasma kokultivasi
melibatkan penginkubasian protoplasma. Setelah diinkubasikan
biasanya 48 jam, bakteri dipisahkan dengan sentrifugasi dan
protoplasma dikulturkan dalam medium nutrien yang mengandung
antibiotik, protoplasma tersebut akan membentuk kalus.
Penggunaan antibiotik tidak hanya untuk menyeleksi sel-sel
transgenik yang tumbuh, juga diperlukan untuk mencegah
pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan. Inokulasi jaringan
eksplan (bagian jaringan tumbuhan) juga melibatkan inkubasi
eksplan, contohnya potongan daun atau hipokotil atau potongan
akar ditempatkan bersama-sama dengan bakteri Agrobacterium
dalam medium akan terjadi pembentukan kalus.
Dengan menggunakan metode seperti di atas telah
dikembangkan tumbuhan yang tahan terhadap infeksi virus, tahan
terhadap serangan serangga, tahan terhadap herbisida, dan
tanaman unggul lainnya. Virus tanaman merupakan masalah yang
serius untuk tanaman yang dibudidayakan. Infeksi dapat
menurunkan tingkat pertumbuhan, hasil panen, dan kualitas
tanaman. Infeksi tanaman oleh strain virus tertentu menghasilkan
usaha perlindungan pada tanaman untuk melawan infeksi virus lain
yang lebih merusak. Yang bertanggung jawab terhadap usaha
perlindungan tersebut adalah bagian virus yang mengkode protein.
Percobaan pertama dilakukan terhadap tanaman tembakau. Virus
mozaik tembakau (TMV) adalah RNA virus yang ukurannya 6,5 kb
dan telah ditentukan bahwa gen mengkode 4 polipeptida,
mereplikasi dua subunit, satu protein selubung, dan satu protein
penting untuk pergerakan dari sel ke sel. Dengan mengkloning DNA
c (selubung) virus, akan dihasilkan selubung protein. Tanaman
20
transgenik meng-ekspresikan protein selubung yang dihasilkan oleh
gen yang ditransfer melalui Agrobacterium (lihat gambar 4).
Tanaman yang telah disisipi gen protein selubung akan tahan
terhadap serangan virus tersebut.
Rekayasa genetik untuk tanaman yang tahan terhadap virus
dengan menggunakan plasmid Ti dapat dilihat pada Gambar 4
berikut.
Gambar 4 Penggunaan plasmid Ti untuk mendapat tanaman yang
tahan terhadap virus
Juga telah dikembangkan tanaman yang tahan terhadap
serangga. Inseksida alami dihasilkan oleh bakteri Bacillus
thuringiensis (Bt). Pada waktu menghasilkan spora bakteri Bacillus
21
menghasilkan suatu kristal protein yang bersifat racun terhadap
larva beberapa jenis serangga dan tidak membahayakan serangga
yang tidak rentan dan juga tidak berpengaruh terhadap vertebrata.
Saat ini telah dikembangkan tanaman yang mengekspresikan gen
toksin Bt dalam sel-sel tanaman tersebut. Kristal protein secara
normal diekspresikan protoksin inaktif kira-kira 1200 rangkaian
asam amino panjangnya. Gen pengkode kristal protein ini diklon
pada DNA-T vektor gabungan antara pembatas kiri dan kanan.
Vektor gabungan yang telah diinduksi gen pengkode protein
ditransfer ke dalam bakteri Agrobacterium kemudian diinfeksikan ke
kecambah (hipokotil) tanaman kapas. (lihat Gambar 5).
Gambar 5 Proses rekayasa tanaman yang tahan terhadap serangga
22
Peneliti dari Balai Penelitian Biologi (Balitbio) telah
menemukan padi yang tahan terhadap serangga penggerek batang
pada tahun 2000 dengan memasukkan gen pengkode kristal protein
yang bersifat racun yang dapat mematikan serangga (gen Bt). Gen
Bt ini ditransferkan ke sel tanaman dan sel tanaman padi tersebut
ditumbuhkan dalam medium kultur jaringan, padi yang telah tumbuh
ini akan tahan terhadap serangan serangga. Juga P3 B LIPI telah
menghasilkan tanaman padi yang tahan terhadap serangga
penggerek batang dan hama wereng coklat dengan menyisipkan
gen Bt dan gen GNA ke sel tanaman padi.
Balitbio dan ICI Seed Co. juga telah menghasilkan jagung
yang tahan terhadap hama penggerek batang dengan ditransfer
dengan gen Bt. Balitbio telah menginduksi dengan gen Pin II yang
menghasilkan tanaman jagung tahan terhadap hama penggerek
batang.
Kacang kedelai telah ditransfer dengan gen Pin II, sehingga
kacang tersebut tahan terhadap serangga penggerek polong.
Begitu juga kacang tanah telah ditransfer dengan gen pengkode
selubung virus (Cp), sehingga kacang tersebut tahan terhadap
serangan virus. Juga telah dihasilkan kentang yang tahan terhadap
serangga karena ditransfer dengan gen Bt. Ubi jalar ditransfer
dengan gen Pin II yang tahan terhadap hama boleng dan ditransfer
dengan gen CP akan tahan terhadap virus. Telah dihasilkan tebu
yang tahan terhadap penggerek batang karena ditransfer dengan
gen Bt.
Di bidang pertanian para peneliti telah berhasil
mengekspresikan 2 gen pembentuk provitamin A di dalam biji padi.
Gen pengkode phytoene synthase berasal dari tumbuhan daffodil
(Narcissus pseudonarcissus) dan gen pengkode phytoene
denaturase dari bakteri Erwinia uredovora. Pada ujung 5 kedua gen
tersebut disisipi dengan sekuen peptida transit dari subunit Robisco
23
yang berasal dari kacang buncis, sehingga dapat ditransformasikan
ke dalam kloroplas sel-sel endosperma. Hasil kontruksi ini
disisipkan ke plasmid vektor dan ditransfer ke embrio padi melalui
Agrobacterium tumefaciens. Biji padi hasil rekayasa ini ditanam,
setelah menghasilkan buah bijinya mengandung provitamin A. Padi
yang mengandung provitamin A ini warnanya kuning. Dengan
mengkonsumsi beras yang mengandung provitamin A ini
diharapkan dapat mengatasi masalah kekurangan vitamin A.
Tumbuhan yang direkayasa secara genetik telah
menguntungkan petani. Pada tahun 1994 telah dipasarkan tomat
hasil rekayasa (transgenik) di supermaket di AS. Tomat tersebut
tidak cepat lunak dan busuk karena gen spesifik yang bertanggung
jawab untuk pelunakan diblokir. Enzim poligalakturonidase
merupakan enzim yang memecah dinding sel pada pematangan
buah tomat dan menyebabkan tomat berwarna jingga kemerahan.
Untuk memperoleh tomat yang tahan dilakukan pengisolasian gen,
pengklonan, dan mereserve gen yang bertanggung jawab untuk
memproduksi enzim poligalakturonidase yang menyebabkan tomat
menjadi lunak dan busuk. Gen yang membuat antisen untuk mRNA
poliga lakturonidase disisipkan ke dalam plasmid bakteri dan bakteri
itu ditumbuhkan dalam medium yang sesuai bersama potongan
daun tomat. Daun tomat akan menyerap plasmid bakteri tersebut,
sehingga gen tersebut menjadi bagian genetik daun tomat dan
kemudian ditumbuhkan dalam medium kultur jaringan akan tumbuh
menjadi individu yang akan menghasilkan buat tomat yang tidak
cepat lunak dan busuk.
4. Pembuatan vaksin dengan Menggunakan plasmid bakteri
Dengan ditemukannya teknik DNA rekombinan para ahli telah
berhasil memproduksi vaksin subunit yang terdiri hanya protein
permukaan virus yang bertanggung jawab terhadap sistem
24
imunitas. Dengan menggunakan jenis vaksin jenis ini tidak ada
resiko terjadinya infeksi terhadap penderita.
Vaksin sub unit yang pertama diproduksi adalah untuk virus
hepatitis B (VHB) yang menginfeksi hati manusia dan hewan
mamalia. Partikel virus ini diselubungi oleh suatu antigen
permukaan (HbsAg). Antigen permukaan ini ditemukan dalam darah
pasien yang terinfeksi. Percobaan sebelumnya menunjukkan bahwa
antigen permukaan ini merupakan vaksin yang potensial. Dengan
mengkloning gen VHB dari sub unit dapat dilakukan untuk
memperbanyak antigen permukaan tersebut. Usaha pertama untuk
menghasilkan protein HbsAg dalam bakteri Escherichia coli gagal,
akhirnya para ahli beralih ke sel ragi (Saccharomyces cerevisiae).
Gen pengkode HbsAg tersebut dimasukkan ke dalam plasmid ragi.
Metode transformasinya sama dengan transformasi ke plasmid E.
coli. Sel ragi yang telah ditransformasi dengan plasmid ini akan
menghasilkan sejumlah protein virus ( 1-2 % dari total protein
ragi).
Dengan menumbuhkan ragi dalam medium perbenihan ragi
dalam fermentor akan dihasilkan 50-100 g protein virus perliter
kultur. Protein hasil rekombinan ini sama dengan selubung virus
alami, bahkan bahan-bahan imunologi yang lain juga sama dengan
yang ditemukan pada pasien yang terinfeksi virus.
5. Antibodi Monoklonal, Pembuatan dan Kegunaannya
Antibodi dibuat oleh tubuh kita untuk merespon serangan
bakteri atau virus. Antibodi ini melindungi tubuh terhadap serangan
infeksi. Antibodi ini melakukan hal ini dengan pengenalan yang
sangat teliti pada permukaan bakteri atau mikroba. Antibodi
dihasilkan oleh sel-sel limfosit dan dapat juga dihasilkan dengan
menumbuhkan sel-sel ini dalam Laboratorium. Sel-sel tersebut
25
kemungkinan menghasilkan sejumlah besar antibodi yang sejenis,
ini dikenal dengan antibodi monoklonal.
Jika dihasilkan sejumlah besar sel-sel yang identik, sel-sel ini
dinamakan juga klon. Jika banyak sekali antibodi yang sejenis
dihasilkan, antibodi ini dinamakan monoklonal. Ilmuwan tertarik
untuk mempelajari antibodi yang dihasilkan oleh satu jenis limfosit,
untuk melakukan hal ini mereka harus merangsang limfosit untuk
bereproduksi di luar tubuh kita. Limfosit ini kemudian menghasilkan
antibodi yang sejenis untuk dipelajari.
Bagaimana antibodi monoklonal dihasilkan di Laboratorium ?
Dua ahli IPA Cambridge, Cesar Milstein dan George Kohler,
adalah ahli yang pertama menghasilkan antibodi monoklonal di
laboratorium pada tahun 1975. Pada tahun 1984 mereka menerima
hadiah Nobel untuk penelitian ini. Masalah besar yang harus
mereka atasi adalah limfosit cepat mati jika berada di luar tubuh.
Milstein dan Kohler harus merangsang limfosit untuk dapat hidup di
luar tubuh makhluk hidup dan berkembangbiak dalam tabung
reaksi. Untuk melakukan hal ini mereka menggunakan sel-sel
tumor. Sel tumor ini disebut juga sel mieloma. Sel-sel mieloma
kehilangan kontrol untuk berkembangbiak secara tidak terkendali
dan menghasilkan satu jenis antibodi, oleh sebab itu tumor dalam
tubuh dapat menjadi masalah yang serius dan beberapa jenis tumor
dapat menyebabkan kanker. Mieloma dihasilkan oleh sumsum
tulang yang terinfeksi oleh penyakit. Sel-sel tumor dapat masuk ke
dalam tubuh dan dapat juga berkembangbiak di luar tubuh makhluk
hidup.
Ahli IPA menggunakan sel-sel tumor untuk menghasilkan
sel-sel hibridoma. Hibridoma merupakan gabungan antara sel-
sel mieloma dan B-limfosit. Sel-sel hibridoma dapat menghasilkan
26
antibodi seperti limfosit, tetapi hibridoma dapat hidup di luar tubuh
seperti sel-sel tumor.
Pada Gambar 6 dapat dilihat bahwa tikus biasanya
menghasilkan beberapa jenis antigen. Limfosit B di dalam limfa
hewan yang disuntik dengan beberapa jenis antigen menghasilkan
beberapa jenis antibodi yang berbeda untuk menyerang antigen-
antigen yang masuk. Beberapa jenis antibodi yang berbeda ini
disebut juga antibodi poliklonal. Antibodi poliklonal ini dapat
diperoleh secara langsung dari hewan dan serum ini mengandung
ribuan jenis antibodi.
Untuk menghasilkan antibodi monoklonal diambil sel-sel
limfosit dari tubuh (limfa hewan) dan mencampurkan dengan sel-sel
mieloma dalam tabung reaksi. Untuk menurunkan tegangan
permukaan sel-sel, ditambahkan suatu bahan kimia (polietilen
glikol) dan kemudian campuran dikocok perlahan-lahan atau dapat
juga dengan menggunakan kejutan listrik. Tegangan permukaan
yang rendah menyebabkan sel-sel berfusi (bergabung). Beberapa
limfosit bergabung dengan sel tumor dan sel sel yang tidak
bergabung akan mati. Hibrid dari limfosit dan sel-sel tumor disebut
juga sel hibrid mieloma yang dapat berkembang biak dan hidup di
luar tubuh yaitu di dalam kultur medium yang cocok. Hibrid sel-sel
limfosit tumor kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan
antibodi monoklonal.
Hasil Hibridoma ditanamkan dalam medium yang selektif
sehingga yang akan tumbuh hanya sel-sel hibridoma saja. Setelah
10-30 hari hibridoma dipilih (diskrin) untuk menghasilkan antibodi
monoklonal khusus yang diperlukan dari campuran. Hibridoma
penghasil antibodi yang diinginkan dipisahkan dari campuran yang
lainnya dan dibiakkan dalam skala besar dalam tabung fermentasi.
27
Mengapa metode ini penting?
Milstein dan Kohler yang pertama kali mengembangkan
pembuatan antibodi monoklonal untuk percobaan ilmiah. Tetapi hal
itu segera menjadi jelas karena antibodi ini penggunaannya penting
dalam pengobatan. Antibodi bekerja dengan mengenal suatu
protein pada bagian permukaan sel-sel tertentu dan menempel
pada sel sel itu. Ini artinya suatu sel khusus dijadikan target oleh
antibodi. Antibodi akan menempel pada sel-sel itu dan sel yang lain
tidak.
28
Urutan langkah-langkah pembuatan antibodi monoklonal
ditunjukkan seperti diperlihatkan pada Gambar 6.
Gambar 6 Proses pembuatan antibodi monoklonal
29
Kegunaan Antibodi monoklonal adalah sebagai berikut.
a. Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk menyalurkan obat-
obatan ke bagian yang sakit.
b. Dapat digunakan untuk mengambil sunstansi-substansi yang
berguna dari campuran.
c. KITS yang mengandung antibodi monoklonal dapat digunakan
untuk mendeteksi penyakit dengan cepat dan akurat.
d. Antibodi dapat digunakan untuk mendeteksi kehamilan.
e. Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk mengobati penyakit
kanker.
f. Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk mengobati haemofili
dengan memberikan faktor VIII.
6. Kloning Organisme
Kloning merupakan suatu teknik yang menghasilkan
beberapa salinan gen tunggal atau kromosom, atau individu. Klon
berasal dari bahasa Greek yang artinya ranting. Jaringan yang
bukan jaringan reproduksi digunakan untuk kloning individu.
Kloning pada wortel dilaksanakan oleh Fred Steward pada akhir
tahun 1950 an. Ia menggunakan sel-sel yang berdifferensiasi
secara penuh dari jaringan pembuluh tumbuhan, sehingga dapat
menghasilkan organisme baru yang biasanya tidak dapat
menghasilkan organisme baru. Dengan memanipulasi tempat
tumbuh tumbuhan itu kelompok Steward dengan penuh harapan
mengkondisikan sel-sel matang ini dalam keadaan embrionik,
sehingga tumbuhan tersebut dapat menghasilkan semua bagian
tumbuhan wortel yang baru.
Pada hewan vertebrata, kloning yang pertama kali dilakukan
adalah pada katak. Proses kloning tersebut adalah dengan cara
menempatkan inti sel yang matang (dari sel-sel epitel intestin) ke
sel telur matang yang telah dibuang intinya. Sel telur ini kemudian
30
ditumbuhkan dalam medium. Klon akan berkembang menjadi katak
yang semua ciri-cirinya sama dengan inti yang ditransplantasikan.
Dalam hal ini sitoplasma hanya berfungsi sebagai penyedia
lingkungan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan sel.
Mamalia belum berhasil dikloning seperti katak, walaupun ternyata
bahwa telah dibuat kloning pada tikus yang belum dibuktikan
kebenarannya.
Pada mamalia yang pernah dilakukan yaitu pada domba
Dolly pada tahun 1997, kloning dihasilkan tidak hanya dengan
menempatkan suatu inti dari sel somatik yang matang (berasal dari
sel kelenjar susu) ke sel telur matang yang telah dibuang intinya,
sel hasil rekayasa ini harus ditempatkan dalam uterus betina untuk
menjamin suksesnya perkembangan sel telur tersebut menjadi
organisme baru. Kloning terhadap manusia saat tidak
diperbolehkan dan melanggar undang- undang.
31
Kloning pada domba dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.
Gambar 7. Proses kloning pada Domba Dolly
32
7. Terapi Gen untuk Pengobatan Penyakit
Terapi gen adalah melakukan perubahan genetik dengan
cara menyisipkan gen yang normal pada tubuh pasien, sehingga
pasien menjadi lebih baik. Dalam hal ini, ada dua pendekatan yaitu
terapi sel benih dan terapi gen somatis. Perubahan pada sifat sel-
sel benih (sel sperma dan ovum) mempunyai efek permanen pada
individu yang turunannya dilakukan terapi sel-sel somatis,
contohnya adalah sel-sel otot, sel-sel tulang, dan sel-sel saraf. Jika
dilakukan perubahan pada sel-sel ini akan ber-pengaruh terhadap
sel-sel benih, dan juga berpengaruh pada orang-orang yang sel-
selnya direkayasa.
Terapi gen terhadap sel-sel benih dinamakan teknologi
transgenik. Terapi gen sel-sel manusia dipertimbangkan unik dan
belum dicobakan secara legal. Terapi gen terhadap sel somatis
dapat bertujuan memperbaiki genetik atau pengaruh non genetik.
Sasaran pengobatan mutakhir termasuk ke dalam dua kategori ini.
Terapi gen somatis yang relatif murah dilakukan adalah terapi sum-
sum tulang karena relatif mudah diambil, diganti dan dimasukkan
kembali ke dalam tubuh. Sel-sel batang yang direkayasa dapat
menghasilkan sel-sel itu sendiri dalam sumsum tulang. Juga dapat
dilakukan pembuatan sel-sel darah secara rekayasa genetik.
Sasaran untuk terapi sumsum tulang yang pernah dillakukan
adalah pada penderita immuno defisiensi (tidak mempunyai sistem
kekebalan tubuh), penyakit genetik yang jarang terjadi ini
disebabkan karena kekurangan enzim adenosin deaminase (ADA).
Sel-sel T dan B limfosit penderita dalam sistem kekebalan tubuh
tidak berfungsi karena kekurangan enzim ADA ini. W. French
Anderson dan Michael Blaese melakukan pengobatan terapi gen
pada anak usia 4 tahun pada akhir tahun 1991 dengan hasil
sukses. Pada proses terapi gen, sel-sel batang diambil dari darah
dan dinfeksikan dengan RNA retrovirus yang telah mengandung
33
gen yang normal. Kemudian sel-sel batang tersebut dikembalikan
ke tubuh pasien (lihat Gambar 8).
Gambar 8. Proses terapi gen pada manusia
Sasaran lain termasuk pengobatan kanker kulit (melanoma)
dengan memasukkan sel-sel limfosit penginfiltrasi kanker (Tils)
yang telah direkayasa untuk menghasilkan faktor nekrosis tumor
(TNF) atau interleukin (IL 4) pada pasien kanker kulit. Diharapkan
interleukin yang terbentuk ini dapat membantu dalam
menghancurkan sel-sel kanker kulit.
34
BAB IV
DAMPAK NEGATIF DARI
PENERAPAN REKAYASA GENETIKA
Di samping rekayasa genetika sangat bermanfaat di bidang
kehidupan manusia, seperti di bidang kedokteran, farmasi, peternakan,
pertanian, dan perindustrian, ternyata dampak negatifnya juga ada.
Menurut Kepala Centre for Alternatif Development Initiatives Filipina,
Nicator Perlas, ditemukan fenomena dampak negatif dari bioteknologi ini.
L-triptofan hasil rekayasa genetika yang digunakan untuk mengatasi
orang yang sulit tidur (insomnia) dan depresi, ketika dilepas ke pasaran,
belasan orang meninggal dan menderita sakit parah karena
menggunakan produk ini. Insulin adalah produk pertama hasil rekayasa
genetika, beberapa konsumen yang menggunakan hormon ini di Inggris
pingsan setelah menggunakan produk ini.
Di Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu, ribuan anak yang
diberi hormon pertumbuhan yang dihasilkan melalui rekayasa genetika
mengalami gangguan kesehatan yang serius. Hormon pertumbuhan ini
tidak hanya mahal dan tidak efektif, tetapi mengakibatkan anak-anak
mudah jatuh sakit. Penggunaan obat turunan hormon pertumbuhan hasil
rekayasa genetika ini ternyata berkaitan erat dengan penyakit leukemia
dan melanoma (kanker kulit).
Hormon pertumbuhan sapi yang dihasilkan dengan rekayasa
genetika dapat meningkatkan susu sapi 5-20%, para pengambil
keputusan mengkhawatirkan penggunaan hormon pertumbuhan sapi ini
dalam skala besar akan menyingkirkan peternak kecil. Penggunaan
hormon pertumbuhan sapi ini ternyata menimbulkan penyakit pada sapi.
Senyawa endotoksin (BT) yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus thuri-
engensis yang dapat mematikan ulat-ulat yang merupakan serangga
hama. Gen-gen endotoksin Bt ini ditranfer ke tanaman jagung, kedele atau
35
tanaman lain, supaya tanaman ini tahan terhadap serangan serangga,
sehingga mengurangi ketergantungan petani pada pestisida. Akan tetapi
vektor (Clavabacter xyli) menyebabkan kekerdilan pada tanaman jagung
dan tanaman penting lainnya.
Para ilmuwan yang melakukan rekayasa genetika terhadap bakteri
yang bertanggung jawab terhadap kerusakan tanaman akibat suhu rendah
(penyakit beku), ilmuwan itu berharap bakteri yang telah direkayasa
tersebut mampu menjadikan tanaman kentang dan strawberi tumbuh pada
suhu rendah. Ternyata bakteri ini lebih menyukai hidup pada gulma
(tanaman pengganggu) daripada hidup pada kentang dan strawberi,
sehingga gulma tumbuh secara tidak terkendali pada suhu rendah.
Para ilmuwan AS telah merekayasa gen-gen pertumbuhan manusia
ke dalam susunan gen babi secara permanen untuk menciptakan babi
yang lebih besar daripada babi biasa. Ternyata babi-babi itu bukan
bertambah besar, tatpi lahir dengan penyakit artritis, kaki bengkok, dan
mata juling.
Perusahaan Unilever di Malaysia mengklon ribuan tanaman kelapa
sawit untuk perkebunan. Selama enam tahun pertumbuhan, kelapa sawait
tersebut memerlukan pestisida enam kali lebih banyak dari tanaman
kelapa sawit biasa. Proyek Unilever ini gagal dan menyusul kegagalan
pembuangan sejumlah tanaman kelapa sawit transgenik ini.
Berbagai jenis ikan, seperti ikan mas, lele, trout, dan salmon
direkayasa dengan gen manusia, sapi, tikus untuk meningkatkan pertum-
buhan dan produksi ikan-ikan tersebut. Ikan-ikan transgenik tersebut jika
dilepas ke lingkungan dapat kawin dengan jenis-jenis alami, sehingga
akan mencemari gen-gen spesies asli dan sifatnya menetap.
Vaksin hepatitis hasil rekayasa genetika ada yang dapat
menimbulkan berbagai penyakit pada hewan dan menginfeksi petugas
yang terlibat dalam percobaan tersebut di Argentina. Sehingga ujicoba
vaksin tersebut dihentikan.
36
Kita sebagai anggota masyarakat juga harus berhati-hati terhadap
produk-produk rekayasa genetik ini, misalnya penggunaan hormon insulin,
dan hormon pertumbuhan, serta tanaman dan hewan transgenik. Jika
ingin menggunakan produk ini atau ingin mengembangbiakan tanaman
atau hewan transgenik harus yakin betul produk atau hewan dan
tumbuhan transgenik tersebut tidak berbahaya.
37
BAB V
RANGKUMAN
Rekayasa genetika secara umum adalah memanipulasi (mengubah
susunan) gen untuk mendapatkan galur baru. Proses ini berlawanan
dengan proses perkawinan secara konvensional. Rekayasa genetika
disebut juga rekombinasi DNA
Dengan menggunakan biokimia dan peralatan mekanik untuk
teknologi DNA, ilmuwan dapat membuat DNA rekombinan secara invitro.
Kemudian DNA dimasukkan ke dalam kultur sel, sel mereplikasikan DNA
tersebut, dan mengekspresikan DNA tersebut, sehingga dihasilkan produk
yang berman-faat, seperti hormon insulin, hormon pertumbuhan, dan
tanaman transgenik. Bakteri Escherichia Coli sering digunakan sebagai
vektor (pembawa) da lam DNA rekombinan karena bakteri tersebut
mudah dikembangbiakkan dan biokimianya telah diketahui. Selain bakteri
E. coli juga digunakan bakteri Bacillus subtilis dan ragi Saccharomyces
cerevisiae sebagai vektor untuk rekayasa genetika.
Vaksin hepatitis B telah dibuat dengan mengkloning selubung
permukaan virus (HbsAg) dalam plasmid ragi. Dengan menumbuhkan ragi
dalam medium perbenihan ragi dalam fermentor akan dihasilkan 50-100 g
protein selubung virus per liter kultur.
Kloning organisme yang pernah dilakukan adalah pada katak,
domba Dolly dengan cara menempatkan inti sel matang (sel-sel epitel
kelenjar susu) ke sel telur matang yang telah dibuang intinya. Klon akan
berkembang menjadi katak yang semua ciri-cirinya sama dengan katak
yang intinya ditransplantasikan. Pada mamalia, misalnya domba Dolly,
kloning dihasilkan tidak hanya menempatkan inti sel somatis ke sel telur
matang yang telah dibuang intinya, sel ini harus ditempatkan dalam uterus
domba untuk menjamin keberhasilan sel telur berkembang menjadi
organisme baru.
38
BAB VI
EVALUASI
A. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan pengertian rekayasa genetika!
2. Jelaskan langkah-langkah pembuatan insulin melalui rekombinan
DNA!
3. Jelaskan prosedur kloning gen!
4. Bagaimana cara memperoleh antibodi monoklonal dengan teknik
hibridoma?
5. Bagaimana cara memperoleh tanaman yang tahan terhadap
serangga dengan DNA rekombinan?
6. Jelaskan keuntungan dan kerugian rekayasa genetika!
7. Jelaskan dampak negatif dari rekayasa genetika!
B. Pilahlah satu jawaban yang tepat
1. Berikut ini merupakan bahan-bahan yang diperlukan untuk rekayasa
genetika, kecuali ....
a. Plasmid;
b. Hormon;
c. sel bakteri;
d. enzim restriksi;
e. enzim ligase.
2. Salah satu pemanfaatan rekayasa genetika di bidang kedokteran
adalah ....
a. antibodi poliklonal yang dihasilkan klon sel-sel hibridoma;
b. interferon yang dihasilkan oleh sel-sel kanker
c. insulin dihasilkan dengan cara ekstraksi pankreas hewan;
d. antibodi monoklonal yang dihasilkan oleh sel-sel hibridoma;
e. vaksin yang berasal dari bibit penyakit yang dihilangkan sifat
virusnya.
39
3. Manakah bakteri berikut ini yang sering digunakan dalam rekayasa
genetika?
a. Pseudomonas aeruginosa;
b. Escherichia coli;
c. Steptococcus lactis
d. Bacillus anthraxis
e. Staphylococcus lactis
4. Terapi gen telah digunakan untuk pengobatan penyakit berikut,
kecuali ...
a. kistis fibrosis;
b. hiperkolesterolemia
c. talasemia
d. siklemia
e. anemia
40
BAB VII
DAFTAR ISTILAH
1. Enzim ligase adalah enzim yang digunakan untuk menyambungkan
po-tongan DNA yang digunting dari kromosom dengan potongan DNA
yang digunting dari plasmid.
2. Enzim restriksi endonuklease adalah enzim yang berfungsi untuk
memotong dan mengenali tempat-tempat khusus di sepanjang
untaian DNA.
3. Kalus adalah masa sel-sel tanaman yang belum berdiferensiasi pada
kultur jaringan.
4. Hewan transgenik adalah hewan hasil rekayasa genetika
5. Hibridoma adalah penyatuan dua sel dari jaringan yang sama atau sel
dari dua organisme yang berbeda.
6. Interleukin adalah senyawa yang berfungsi mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh.
7. Interferon adalah sitokinin yang dibuat oleh sel-sel tertentu dari sistem
kekebalan dan untuk mencegah terjadinya infeksi oleh virus.
8. Organisme transgenik adalah organisme yang menerima gen-gen dari
spesies lain.
9. Plasmid adalah molekul DNA melingkar kecil yang terdapat dalam
ekstra kromosom bakteri
41
DAFTAR PUSTAKA
Association for science Education 1990. Science and Technology in
Society. 16-19 (SATIS 16-19). Hartfiel: ASE. These units extend
the original SATIS Project into the sixth form. In the first file of 25
unit there is theme no.609. Hitting Target.
Dorain Paulin M. 1989. Direction in Modern Biotechnology. Sydney:
Hawker Brownnlow Education
Fried G.H. 1995. Biology. The Study of Living Organisms. New York St.
Louis San Fransisco Aukland Bogota Caracas Lisbon: Mc Graw
Hill, Inc.
Old R.W and Primrose S.B. 1989. Prinsip-prinsip Manipulasi gen.
Pengantar Rekayasa Genetika .Terjemahan. Edisi ke empat.
Oxford London : Black Well Scientific Publication.
Trevan M.D. S. Boffey, K.H. Goulding, and P. Stanbury 1987.
Biotechnology: The Biological Principles. New York Philadelphia:
Open Unversity Press.
Watson J.D. et all. 1992. Recombinant DNA. Second Edition. New York:
Scientific American Books. Distributed by W.H Freeman and
Company.