Anda di halaman 1dari 20

SKENARIO 4 Seorang anak perempuan 15 tahun datang atas rujukan poli syaraf dengan riwayat epilepsi.

Pasien mengeluh gusinya semakin lama semakin membesar sejak 6 bulan yang lalu. Pada anamnesis didapatkan pasien sering mengalami kejang selama kira-kira 1 menit dan mengkonsumsi Phenytoin selama 2 tahun. Pada pemeriksaan intra oral tampak gingiva membesar hampir semua regio, tidak sakit, berwarna coral pink dan konsistensi keras. Terdapat sisa akar 46, karies media pada gigi 36, region anterior atas bawah berdesakan. Dokter gigi merencanakan beberapa perawatan untuk memperbaiki kondisi rongga mulutnya.

1 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

STEP 1 KLARIFIKASI ISTILAH 1) Epilepsi : penyakit syaraf yang menimbulkan serangan mendadak dan berulang, bisa karena gangguan fungsi otak yang disebabkan muatan listrik abnormal. 2) Phenytoin : antikonvulsan atau antiepileptik untuk menstabilkan sinyal-sinyal listrik di otak dengan cara memblokade kanal-kanal Na+ pada syaraf.

STEP 2 PERMASALAHAN 1) Bagaimana patofisiologi dan etiologi epilepsi? 2) Apa hubungan epilepsi dengan kondisi rongga mulut pasien? 3) Bagaimana hubungan konsumsi phenytoin terhadap rongga mulut pasien? 4) Bagaimana penatalaksanaan penyakit epilepsi di kedokteran gigi?

STEP 3 ANALISIS MASALAH 1. Etiologi Epilepsi Berdasarkan penyebabnya: : penyebabnya tidak diketahui dimungkinkan terdapat

a. Idiopatik

faktor predisposisi yaitu genetik. b. Kriptogenik : dicurigai ada faktor penyebab tapi tidak ditemukan dan

ditemukan lesi pada Sistem Syaraf Pusatnya. c. Symtomatik : ditemukan adanya penyebab kelainan pada otak, kelainan

kongenital, tumor otak, toxic (obat dan alkohol), infeksi SSP, cedera kepala, dan adanya jaringan parut di otak. Berdasarkan klasifikasi epilepsi:

a. Primer, meliputi idiopatik.


2 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

b. Sekunder, meliputi toxic, trauma, infeksi, kelainan kongenital, dan sebagainya. Patofisiologi Epilepsi Tiap neuron mempunyai muatan listrik yang disebut potensial membran. Muatan listrik tergantung permeabilitas selektif membran neutron, yaitu membran dapat ditembus dengan mudah oleh Na+ dan sedikit sekali oleh Na+. Keadaan tersebut mengakibatkan konsentrasi K+ dalam sel menjadi meningkat, sedangkan konsentrasi Na+ tetap rendah. Potensial membran ditentukan oleh perbedaan muatan ion di dalam dan di luar sel. Normal : Membran sel berada dalam polarisasi yang dipertahankan oleh suatu proses metabolik aktif, dimana dapat mengeluarkan Na+ dari dalam sel, sehingga konsentrasi Na+ di dalam dan di luar sel tidak berubah. Ion Na, Ca, dan Cl berada dalam ekstrasel. Abnormal : Karena ada gangguan metabolisme neuron menyebabkan gangguan dalam lalu lintas K+ dan Na+ antara ruang ekstraseluler dan intraselulernya. Sehingga konsentrasi K+ dalam sel menurun dan konsentrasi Na+ meningkat. Begitu pula refleks Ca2+ meningkat sehingga letupan listrik berlebihan di neuronnya. Jadi pada keadaan patologik gangguan metabolisme neuron menurunkan ambang lepas muatan listrik sehingga neuron-neuron dapat dengan mudah secara spontan dan berlebihan melepaskan muatan listriknya. Lepas muatan tersebut berakibat meningkatnya konsentrasi K+ di ruang ekstraseluler sehingga neuron-neuron sekitarnya juga melepaskan muatan listriknya. Kemudian terjadi penyebaran lepas muatan listrik setempat. Setelah pelepasan muatan listrik, otak kehilangan muatan listrik sehingga sementara tidak dapat dirangsang. Tapi lambat laun nantinya neuronneuron akan kembali normal. Terjadinya epilepsi juga dipengaruhi oleh jenis neurotransmiternya baik itu peningkatan eksitasi contohnya asetilkolin dan penurunan inhibisi contohnya GABA dan glisin. Ketika aktivitas glutamat meningkat ,
3 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

kemudian glutamat yang berikatan dengan reseptornya akan memicu pembukaan kanal Na+ sehingga ion Na banyak masuk di intraselnya dan terjadilah depolarisasi. Aktivitas neuron yang meningkat tersebut yang secara spontan dan berlebihan melepaskan muatan listriknya

menunjukkan ketidaknormalan, maka terjadilah epilepsi. Demikian juga dengan menurunnya aktivitas GABA menyebabkan kerja berlebih dari neuron sehingga epilepsi bisa terjadi. Dan dengan menurunnya asetilkolin mempermudah muatan listrik mengalami pelepasan secara berlebih yang pada akhirnya memicu epilepsi. 2. Hubungan Epilepsi dengan Kondisi Rongga Mulut Pasien Hiperplasia ginggiva bisa terjadi karena diinduksi oleh obat-obatan. Phenytoin dapat dapat menstimulasi proliferasi sel seperti fibroblast. Pembesaran gusi pada pengkonsumsi phenytoin dapat terjadi secara hipertrofi, hyperplasia, atau kombinasi keduanya. Pada pasien dengan hyperplasia gingiva akibat sel-selnya di induksi oleh phenytoin untuk berproliferasi, akan terjadi control plak yang susah sehingga juga berpotensi terjadinya hipertrofi gingiva. Hal ini akan membuat gusi lebih mudah berdarah apabila terdapat rangsangan. Hubungannya dengan terjadinya karies yaitu ketika seseorang mengalami epilepsi secara tidak sadar giginya dikerat, dari situ bisa berdampak abrasi pada gigi. Keadaan abrasi pada gigi tersebut memicu terjadinya karies. Kemungkinan juga karies berhubungan dengan fenitoin dan banyaknya plak yang menumpuk. Tanpa pengaruh obat epilepsi juga ada pengaruhnya di rongga mulut. Seperti jenis epilepsi tonik-klonik / grandmal dimana pasien epilepsi tersebut mengigit lidahnya secara tidak sadar. Epilepsi yang terjadi secara berulang tersebut pada akhirnya lidah yang sering digigit bisa mengakibatkan ulser.

4 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

3.

Hubungan Konsumsi Phenytoin terhadap Rongga Mulut Pasien Epilepsi Konsumsi phenytoin berakibat terjadinya hiperplasia gingiva. Phenytoin mekanisme kerjanya yaitu memblokir kanal kalsium. Jika terdapat pemblokiran kanal kalsium maka ekspresi IL-6 mengalami kenaikan oleh sel yang berada dalam jaringan ikat gingiva. IL-6 tersebut menjadikan sel jaringan ikat fibroblas sehingga meningkatkan proliferasi dan memberikan regulasi positif pada sintesis kolagen dan glikosaminoglikan.

Meningkatnya sitokin yang berakibat terjadinya hiperplasia gingiva. Pembesaran gingiva itu bisa terjadi secara inflamotorik maupun noninflamotorik. Jalur inflamotorik yaitu dari obat toksik pada CGF dan plak menginduksi makrofag seperti TGF yang bertanggungjawab dalam lipatan fibrous bagi pertumbuhanvertikal gingiva. Sedangkan jalur noninflamotorik yaitu dari konsumsi fenitoin berpengaruh menurunnya ion Ca karena mengalami pemblokiran. Begitu juga asam folat

mengalami penurunan maka dari itu produksi kolagenase terbatas. 4. Penatalaksanaan Penyakit Epilepsi di Kedokteran Gigi Anamnesa dengan menanyakan riwayat penyakit pasien dan obat yang terakhir dikonsumsi. Jika terdapat epilepsi sementara jangan lakukan perawatan. Jika ditemukan adanya keabnormalan pada rongga mulutnya akibat ketidakcocokan mengkonsumsi obat antiepilepsi sebaiknya konsultasi dengan dokter sebelumnya yang menangani epilepsi. Jika selama perawatan di dokter gigi epilepsi terjadi dan lebih dari 5 menit maka harus dibawa ke UGD. Sebaiknya pasien epilepsi tidak menggunakan gigi tiruan lepasan karena ditakutkan mengganggu jalannya pernapasan jika tertelan. Pasien epilepsi ada yang sensitif terhadap cahaya lampu dental chair maka sebaiknya digunakan kaca mata pelindung terhadap pasien epilepsi.

5 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Selama melakukan perawatan hindari stress karena ditakutkan epilepsi terjadi saat dilakukan perawatan. Untuk meminimalizir terjadinya stress sebaiknya diberikan obat sedatif. Perawatan bisa dilakukan scaling. Pada pertemuan pertama jika gingiva bengkak scaling dilakukan di supragingivanya. Petemuan selanjutnya jika gingiva kondisinya lebih baik dari sebelumnya (tidak bengkak) maka scaling subgingiva dapat dilakukan. Jika hiperplasia gingiva setelah scaling tidak ada hasilnya maka bisa dilakukan gingivektomi atau jika kondisinya parah sekali dengan menggunakan bedah flap modifikasi. Menggunakan obat kumur clorheksidin 2% Pemberian asam folat Ketika dalam perawatan misal epilepsi terjadi pasien dibiarkan di dental chair dan untuk rongga mulutnya dibaluti dengan stik yang tidak terlalu keras untuk mengurangi resiko kerusakan pada giginya. Pemberian vitamin C agar luka cepat sembuh dan juga vitamin C berfungsi sebagai vitamin untuk syaraf. Pada epilepsi OH buruk karena malnutrisi atau kebiasaannya maka dari itu perhatikan gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan menjaga kebersihan rongga mulutnya.

6 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

STEP 4 MAPPING
EPILEPSI

OBAT ANTIEPILEPSI

Efek Samping pada Rongga Mulut Inflamasi Penurunan Asam folat

Hiperplasia Gingiva

PENATALAKSANAAN

STEP 5 LEARNING OBJECTIVE 1. 2. 3. Memahami tentang epilepsi ( etiologi, patofisiologi, klasifikasi). Memahami efek obat antiepilepsi terhadap rongga mulut. Memahami penatalaksanaan penyakit epilepsi terhadap rongga mulut.

7 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

STEP 7 PEMBAHASAN DARI LEARNING OBJECTIVE 1. Etiologi Epilepsi Etiologi epilepsi bervariasi sesuai dengan tipe kejangnya, baik yang dimulai secara parsial maupun general. 1. Penyebab partial seizures Penyebabnya adalah karena adanya injuri atau malfungsi dari satu atau lebih dari bagian otak. Jika ada cedera atau injuri otak yang kemudian langsung menyebabkan kejang maka ini belum tentu disebut epilepsi, tapi jika kejang berulang lebih dari 1 minggu setelah injuri maka dapat disebut epilepsi. Onset kejang setelah adanya injuri otak sering terjadi setelah bertahuntahun berikutnya atau kejangnya mengalami penundaan. Berbagai penelitian mengatakan, delay ini terjadi karena reorganisasi hubungan saraf pada area injuri sehingga otak berusaha memperbaiki injuri dengan memunculkan koneksi-koneksi atau hubungan-hubungan saraf yang baru tetapi hasilnya justru tidak stabil dan menimbulkan hipereksitasi. Beberapa penyebab partial seizure antara lain a. Trauma kepala Misalnya jatuh saat masih kecil. b. Stroke Selama stroke, sel-sel otak mati atau terinjuri oleh pemblokiran aliran darah ke otak. c. Infeksi Organisme yang dapat menyebabkan antara lain bakteri, virus, jamur , parasit. d. Vascular Malformation :

8 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Misalnya Arteriovenous Malformation (AVM) yang mengalami keabnormalan pembuluh darah sehingga menyebabkan asupan darah ke otak yang membawa oksigen berkurang dan sel-sel otak dapat mengalami iritasi yang akan memicu respon iritasi dan menyebabkan kejang. e. Tumor ( Neoplasma) Tumor otak yang tumbuh dan menekan otak dapat menimbulkan iritasi dan memicu seizures. f. Displasia 2. Etiologi Generalized Seizures a. Metabolic Misalnya kondisi hipoglikemia, hipoksia, low blood sodium, hipoklasemia, gagal hati dan gagal ginjal. b. Reaksi medikasi Obat-obat dapat memicu kejang pada orang yang beresiko tinggi. Contohnya antihistamin, ciprfloxaxin, metronidazol. c. Genetik d. Idiopatik Menurut sumber lain terjadinya epilepsi dipengaruhi oleh : a. NPF (Non specific Predisposing Factor)yang membedakan seseorang pekatidaknya terhadap serangan epilepsi dibanding orang lain. Setiap orang sebenarnya dapat dimunculkan bangkitan epilepsi hanya dengan dosis rangsangan berbeda-beda. b. SED (Specific Epileptic Disturbances) merupakan faktor yang

dapatdiwariskan maupun didapat dan inilah yang bertanggung jawab atas timbulnyaepileptiform activity di otak. c. PF (Presipitating Factor) merupakan faktor pencetus terjadinya bangkitan epilepsi. Faktor ini dapat berupa faktor sensoris, faktor sistemik dan faktor mental.

9 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Penyebab epilepsi pada berbagai kelompok usia : a. Kelompok usia 0-6 bulan Kelainan Intra-uterin yang dapat disebabkan karena gangguan diferensiasi sel neuron; kelainan kongenital dapat disebabkan karena keab-normalan kromosom, obat teratogenik, dsb; gangguan metabolik seperti hipoglikemia; infeksi susunan saraf pusat seperti meningitis. b. Kelompok 6 bulan 3 tahun Selain penyebab yang sama seperti kelompok di atas, pada usia ini dapat juga disebabkan oleh kejang demam yang biasanya dimulai pada usia 6 bulan, terutama kejang demam komplikasi. Cedera kepala juga menjadi faktor penyebab lainnya, dan walaupun kejadiannya lebih ringan kemungkinan terjadi epilepsi lebih tinggi daripada dewasa. Gangguan metabolisme sama dengan kelompok sebelumnya. c. Kelompok anak-anak sampai remaja Dapat disebabkan karena infeksi virus, bakteri, parasit dan abses otak yang frekuensinya sampai 32%, yang meningkat setelah tindakan operasi. d. Kelompok usia muda Cedera kepala merupakan penyebab tersering, disusul dengan tumor otak dan infeksi. e. Kelompok usia lanjut Gangguan pembuluh darah otak merupakan penyebab tersering pada usia di atas 50 tahun mencapai 50%, yang diikuti oleh trauma, tumor, dan degenerasi serebral. Klasifikasi Epilepsi Ada 2 skema klasifikasi yang sekarang diterima, International Classification of Epileptic Seizures (ICES) dan International Classification of Epilepsies and Epileptic Syndromes (ICEES).

10 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Tinjauan ICES 1. Kejang parsial mulai di daerah korteks fokal/korteks yang terbatas Gejala klinis kejang parsial : a. Gerakan wajah / menyeringai b. Sentakan yang dimulai di salah satu bagian tubuh, yang dapat menyebar c. Kesemutan d. Perubahan tingkat kesadaran Kejang parsial meliputi: a. Kejang parsial sederhana : kesadaran tidak terganggu b. Kejang parsial kompleks : kesadaran terganggu. c. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum sekunder. 2. Kejang umum mulai dengan aktivitas epileptiform diseluruh korteks Gejala klinis kejang general : a. Ketidaksadaran, disertai jatuh, kecuali pada anak-anak tidak ada kejang b. Refleks pada lengan dan tungkai yang tidak terkontrol c. Salivasi dan mulut berbusa d. Menggigit lidah e. Prodroma, perasaan/gejala tertentu yang dapat mendahului kejang selama beberapa hari/jam f. Aura, sensasi sensorik tertentu yang sering/selalu timbul sesaat menjelang kejang Kejang umum meliputi : a. b. c. d. e. Kejang Absence Kejang Mioklonik Kejang Tonik Kejang Tonik Klonik Kejang Atonik

3. Kejang epilepsy tidak terklasifikasi


11 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Tinjauan ICEES 1. Idiopatik : paling sering terjadi ; tidak ada penyebab jelas yang mendasari 2. Simtomatik : terjadi akibat gangguan serebral yang sudah diketahui 3. Kriptogenik : diperkirakan simtomatik, meskipun tidak ada bukti jelas mengenai penyebab yang mendasari Patofisiologi Epilepsi Misal ketika cedera di otak, mengakibatkan terjadinya eksotosisitas dari glutamat. Hal tersebut menyebabkan peningkatan aktivitas NMDA reseptor (Nmethyl D-aspartat reseptor) pada post sinaps. Sebagai akibat glutamat yang terus menerus berada di celah sinaps, eksitabilitas pun meningkat. Sehingga ion natrium dan kalsium influks terus menerus. Akibatnya terjadi potensial aksi yang terus menerus karena adanya perbedaan yang potensial ion yang sangat besar di dalam sel dan luar sel, sehingga terjadilah bangkitan epilepsi. Salah satu faktor predisposisi dari epilepsi adalah faktor genetik yang dikaitkan dengan adanya anomali pada kromosom 12. Anomali ini meningkatkan resiko epilepsi pada anak-anak dari wanita yang menderita epilepsi. Pada otak terdapat sel neuron, inti sel neuron mengalami perubahan karena adanya cedera di neuronnya. Perubahan yang terjadi tersebut terkait adanya gangguan genetik pada gen yang mengkode protein pada kanal ion. Genetik yang terkait yaitu adanya anomali pada kromosom 12. Adanya mutasi gen SCN 1B, SCN 1A, SCN 2A terkait dengan kanal Na menyebabkan terjadinya general epilepsi. Pada kanal K yaitu KCNQ2 dan KCNQ3, kanal Ca yaitu CACN B4 berakibat episotik atoksia tipe 2, dan kanal Cl yaitu ClCN2 bisa terjadi sindrom juvenil epilepsi. 2. Efek Obat Antiepilepsi terhadap Rongga Mulut Efek samping yang paling sering terjadi karena terapi obat-obatan enti epilepsi adalah timbulnya rasa kantuk, pusing, ataxia, dan gangguan gastrointestinal. Antikonvulsan juga dapat menyebabkan perubahan patologis
12 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

pada mulut. Pasien dapat memiliki beberapa gejala seperti mulut kering atau xerostomia, iritasi dan sakit pada lidah dan mulut yang disertai kemerahan, perdarahan gingiva, pembengkakan wajah, bibir, atau lidah. Efek samping lain yang mungkin terjadi juga adalah bone loss yang dapat memulai terjadinya osteoporosis bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Berikut efek samping dari beberapa contoh obat antiepilepsi: Carbamazepine Penggunaan carbamazepine sebagai anti konvulsi untuk penderita epilepsi memiliki manifestasi berupa eritema multiformis mayor di mukosa rongga mulut. Gejala awal dari eritema multiformis mayor berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri dada dan astralgia setelah 1-3 minggu mengkonsumsi obat. Carbamazepin juga terbukti menurunkan kadar vitamin D. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan kerapuhan tulang akibat hipokalsemia,hipofosfatemia dan hiperparatiroidisme sekunder.obat-obat anti epilepsi akan menyebabkan teraktivasinya pregnan x reseptor (PXR) yang kemudian menginduksi enzim 24-hidroksilase. Enzim ini akan mengubah metabolisme vitamin D3 aktif menjadi bentuk inaktif (asam kalsitroat). Efek ini selanjutnya menyebabkan konsentrasi vitamin D seluler menurun akibatnya terjadi hipokalsemia, hiperparatiroidisme

sekunder dan aktivitas pergantian tulang meningkat yang memicu penurunan densitas mineral tulang dan kerapuhan tulang. Fenitoin Fenitoin diketahui dapat menyebabkan gingivitis dan disgeusia. Selain itu fenitoin juga dapat menyebabkan gangguan atau defisiensi vitamin D yang kemungkinan jika dihubungkan dengan kondisi rongga mulut akan dapat berpengaruh pada kondisi tulang alveolarnya yaitu densitas tulang yang berkurang, dan lebih beresiko memicu adanya resorbsi tulang alveolar.

13 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Fenitoin juga diketahui mampu mempengaruhi metabolisme kalsium. Sedangkan jika dihubungkan dengan kondisi rongga mulut , kalsium berpengaruh dengan kemunculan karies. Gambaran radiografi

Gambaran radiografi orthopantomograf dari pasien dengan hiperplasi gingiva yang diinduksi oleh phenytoin menunjukkan: 1. Resorbi tulang alveolar pada gigi-gigi posterior rahang bawah 2. Hilangnya alveolar crest 3. Hilangnya lamina dura 4. Resorbi tulang mencapai setengah dari panjang korona sampai apeks gigi Ada hubungannya hiperplasia gingiva dengan fenitoin.

Penggunaan fenitoin sebagai obat antikonvulsi dapat menyebabkan kekurangan asam folat secara sistemik maupun local. Penggunaan obat tersebut dapat menyebabkan perubahan Ca dan pertukaran ion sodium. Karena perubahan itu, mempengaruhi penyerapan Asam Folat ke dalam sel. Akibatnya, kolagenase menjadi terbatas dan kolagen menjadi meningkat. Dan terjadi hiperplasi gingival. Fenitoin bersifat teratogenik. Kemungkinan melahirkan bayi dengan cacat kongenital meningkat 3 kali, bila ibunya mendapatkan terapi fenitoin selama trimester pertama kehamilan. Cacat kongenital yang sering
14 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

terjadi adalah sumbing bibir (cleft lip) dan sumbing palatum (cleft plate), penyakit jantung bawaan serta mikrosefali. Dalam bentuk ringan bisa terjadi retardasi mental dengan IQ rata-rata 71 yang dikenal sebagai sindroma Fetal Alcohol atau Sindroma Fetal Hidantoin. Pada kehamilan lanjut, fenitoin menyebabkan abnormalitas tulang pada neonatus. Phenobarbital Osteopenia dan osteomalacia disebabkan juga oleh penggunaan obat phenobarbital dan carbazepin. Hal ini dikarenakan obat-obatan ini dapat mempengaruhi metabolisme dan menghilangkan kerja dari vitamin D sehingga menyebabkan tulang kropos yang akhirnya mudah fraktur. Selain itu pasien juga memiliki resiko menjadi edentulous lebih dini.

3.

Penatalaksanaan Penyakit Epilepsi terhadap Rongga Mulut Penggunaan fenitoin sebagai antiepilepsi sebenarnya bisa dikombinasikan

dengan obat lainnya untuk mengurangi efek samping yang terjadi. Misalnya fenitoin dikombinasikan dengan asam folat karena asam folat bisa meningkatkan metabolisme fenitoin, sehingga menurunkan kadar fenitoin dalam serum. Atau dikombinasikan dengan etilalkohol (etanol) dimana etilalkohol tersebut

menginduksi enzim mikrosomal hati sehingga dapat menyebabkan metabolisme fenitoin naik. Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien epilepsi dalam perwatan rongga mulutnya, jika kejang terjadi saat pasien berada di dental chair, yaitu: 1. Bersihkan semua instrument dan jauhkan dari pasien. 2. Tempatkan dental chair dengan posisi supine sedekat mungkin dengan lantai 3. Miringkan tubuh pasien. 4. Jangan mengekang pasien. 5. Jangan meletakan jari pada mulut pasien. Sebaiknya beri bantalan gigit pada rongga mulutnya dengan bahan yang tidak terlalu keras misalnya
15 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

dari bahan kayu atau plastik. Hal itu dimaksudkan agar tidak menggigit lidah atau bibir serta mengerat giginya yang bisa berakibat abrasi pada gigi. Contoh gambaran bantalan gigit seperti gambar di bawah.

6. Hitung waktu kejang (durasi kejadian mungkin terlihat lebih lama dari waku sebenarnya). 7. Hubungi telefon gawat darurat jika kejang lebih dari 3 menit. 8. Hubungi kegawatdaruratan jika terjadi sianosis. 9. Berikan oksigen 6-8 L/menit. 10. 10Jika kejang terjadi lebih dari 1 menit atau kejang berulang, berikan 10 mg dosis diazepam secara intramuscular (IM) atau intravena(IV), atau 2mg ativan IV atau IM, atau 5mg midazolam secara IV atau IM . 11. Berhati-hati terhadap adanya gangguan jalan pernapasan dan kejang tidak terkontrol. Ketika selesai kejang: 1. Jangan melakukan perawatan lebih lanjut pada hari yang sama. 2. Mencoba untuk berkomunikasi dengan pasien untuk mengetahui apakah kesadarannya sudah pulih. 3. Jangan mencoba untuk mengekang karena akan menyebabkan pasien kebingungan. 4. Jangan memperbolehkan pasien meninggalkan klinik sebelum

kesadarannya benar-benar pulih. 5. Hubungi keluarga pasien jika ia datang sendirian.

16 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

6. Lakukan pemeriksaan singkat pada rongga mulutnya untuk memastikan adanya trauma. 7. Terkait dengan keadaan pasien, ijinkan pasien pulang dengan seseorang yang bisa dipertanggungjawabkan, kepada dokter keluarganya, atau ke UGD untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut

Perawatan yang dapat dilakukan di klinik kedokteran gigi, yaitu: Protesa yang dianjurkan adalah protesa yang tetap atau dianjurkan untuk implant gigi. Hal ini untuk mencegah protesa terlepas saat kejang terjadi yang dapat berkomplikasi menyumbat jalan napas. Bahan yang sering diguanakan untuk protesa tetap adalah komposit nikel-krom. Jika ingin digunakan gigi tiruan cekat sebaiknya menghindari yang terbuat dari bahan keramik/porselen. Hal ini dikarenakan porselen mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya fraktur. Penatalaksanaan di bidang periodonsia dapat dilakukan perawatan periodontal dan perawatan bedah untuk mengatasi hiperplasia gingiva. Restorasi yang dapat dilakukan pada pasien epilepsi adalah mahkota sementara berbahan logam atau implan dengan pendukung jembatan. Bahan restorasi yang digunakan untuk merestorasi gigi insisivus adalah bajan komposit. Untuk restorasi oklusal hindari penggunaan inlay keramik, tetapi gunakan mahkota lengkap berbahan logam-keramik. Bidang Orthodontik Pasien epilepsi yang mengalami hiperplasia gingiva akibat konsumsi fenitoin sebaiknya ttidak dirawat ortho, karena tekanan mekanik dari alat orthodontik tersebut dapat mengakibatkan hiperplasia gingiva, bahkan memperparah kondisi tersebut. Maka untuk penatalaksanaan dari gigi berdesakan pasien, sebaiknya dilakukan perawatan terlebih dahulu pada gingiva yang mengalami hiperplasia serta menghentikan terapi dengan fenitoin. Kemudian jika gingiva sudah mulai membaik, perawatan ortho boleh dilakukan.

17 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Penatalaksanaan di bidang oral medicine jika lidah tergigit bisa diberikan obat kumur corsodyl atau obat Iglu, sejenis obat topikal bentuknya jelly untuk menghilangkan rasa sakit dan sebagai antiseptik dalam mengobati lukanya.

18 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

DAFTAR PUSTAKA

Adrian, Taufik. 2009. Carbamazepine (Anti Konvulsi) dalam Terapi Epilepsi sebagai Penyebab Eritema Multiformis Mayor. USU Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. EGC : Jakarta. Hal 242. Girbiz, Taskin. 2010. Epilepsy and Oral Health. Departement of Pedodontics, Faculty of Dentistry, Ataturk Univesity, Erzurum, Turkey. Harsono. 1996. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Harvey, Richard A. dan Pamela. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta: Widya Medika Jacobsen, Peter L. Epilepsy and the Dental Management of the Epileptic Patient : the Journal of Contemporary Dental Practice, Volume 9, No. 1, January 1, 2008. Kelompok studi epilepsi. Pedoman tatalaksana epilepsi. Edisi kedua cetakan kedua. Jakarta : Perdossi,2007 Mehmet Yaltirik et al. 2011. Management of Epileptic Patients in Dentistry dalam Surgical Science, 2012, 3, Hal 47-52. Parwani,Rajkumar.2013. Management of phenytoin-induced gingival Enla Use of older anti-epileptic drugs may worsen osteoporosis. Neurology 2004;62 :2051-7 Price dan Wilson. Buku patofisiologi vol 2 edisi 6. Raharjo, Tri Budi. 2007. Faktor Faktor Risiko epilepsi pada Anak di Bawah Usia 6 Tahun. Ilmu Penyakit Saraf Universitas Diponegoro rgement : Case Report .The Academy of General dentistry America.

19 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut

Syarif, Amir dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapetik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Shorvon S. 2011. Definition and Clasification of epilepsy. In : Handbookof epilepsy treatment. Oxford :Blackwell science Ltd.

20 Penyakit Sistemik dan Kelainan Rongga Mulut