Anda di halaman 1dari 35

SEJARAH KARET SEJARAH KARET

1.

POHON KARET ALAM

Karet alam berasal dari pohon Para (Hevea brasiliensis). Struktur botani tanaman karet ialah tersusun sebagai berikut : * * * * * * * Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Hevea : Hevea brasiasiliensis

Pada dasarnya karet tidak hanya dapat diperoleh dari pohon Para (Hevea brasiliensis) namun oleh karena pohon Para merupakan tanaman yang paling banyak ditanam khususnya ditanam di kawasan Asia Tenggara yang notabene merupakan kawasan penghasil karet alam terbesar dunia maka pohon Para identik dengan Pohon Karet. Selain pohon Para , ada juga pohon pohon jenis lainya yang dapat menghasilkan lateks. Berikut Nama - nama spesies pohon dan daerah penyebaran :

Tabel Nama Jenis Pohon Penghasil Karet Nama Spesies Nama Panggilan Area Distribusi Castilloa elastica Sess Dan Solidago Pohon Karet Panama (Panama Rubber tree) AMERICA (Mexico; Central America; Western South America)

Tumbuh di daerah Tropis. Ficus vogelii (Miq.) Miq. Pohon Karet Afrika Baret (West Africa rubber tree) AFRICA (Macaronesia; Northeast Tropical Africa; East Tropical Africa; West-Central Tropical Africa; West Tropical Africa; South Tropical Africa; South Africa; Western Indian Ocean) Funtumia africana (Benth.) Stapf Pohon Karet Lagos silk (Logos silk rubber tree) AFRICA (East Tropical Africa; West-Central Tropical Africa; West Tropical Africa; South Tropical Africa) Hevea brasiliensis (Willd. ex Adr. Juss.) Muell. Arg. Pohon Karet/ Pohon Para (Rubber tree) SOUTHERN AMERICA (Brazil; Bolivia; Colombia ; Peru) SOUTHEAST ASIA

(Thailand,Indonesia,Malaysia,Vietnam,Laos,Combodia,Philipine) INDIA, CHINA Holarrhena floribunda (G. Don) Durand & Schinz Pohon karet False (False rubber tree) AFRICA (West-Central Tropical Africa; West Tropical Africa) Funtumia elastica dan Landolphia kirkii AFRICA (Northeast Tropical Africa; East Tropical Africa; West-Central Tropical Africa; West Tropical Africa) juga ditanami di daerah lain. Ficus elastica Tanaman Karet India (Indian rubber plant ) ASIA-TROPICAL(India; China; Malaysia,Coastal Sothern California) widely cultivated elsewhere Parthenium argentatum Guayule NORTHERN AMERICA (South-Central U.S.A.; Mexico) Palaquium gutta dan

Palaquium oblongifolia Gutta-Percha Malaysia, South Pacific and South America Taraxacum koksahgyz and Taraxacum officinale Russian dandelion ASIA-TEMPERATE Former Soviet Union; China Source: UNCTAD secretariat (Links: USDA, NRCS. 2005. The PLANTS Database, Version 3.5. Data compiled from various sources by Mark W. Skinner. National Plant Data Center, Baton Rouge, LA 708744490 USA). Selain tanaman diatas ada beberapa tanaman lain yang juga dapat menghasilkan lateks seperti : 1. Latex Gutta-Percha sangat resisten terhadap air dan sering digunakan sebagai bahan baku untuk

membuat isolasi kabel dan alat-alat listrik dibawah laut dan juga digunakan untuk pembuatan bola golf dan permen karet. Selain nama-nama spesies diatas , 2. Lateks juga dapat dihasilkan oleh pohon Chicle (achras sapata) atau pohon sawo sebagai bahan

baku Permen karet. 3. 4. Pohon Jelutung (Dyera costulata ) , sebagai bahan baku Permen karet. Pohon pinus berdaun panjang di Amerika (Pinus palustris) untuk menghasilkan lateks sebagai

bahan baku Permen karet. 5. Tanaman Accacia Senegal berasal dari pantai Barat Afrika, dinamakan karet Arabia / Arabia gomu

menghasilkan lateks yang mudah larut dalam air karena mengandung hidrokarbon, digunakan untuk pembuatan perekat perangko dan tinta. 6. Pohon Poppy (Papaver somniferum) juga dapat menghasilkan lateks yang digunakan sebagai bahan

baku Opium , Morfin atau Heroin. 7. 8. Tanaman Urceola Elastica termasuk tanaman merambat yang terdapat di Malaysia dan Sumatera. Tanaman Manihot glaziovili , termasuk tanaman tingkat rendah dari Brazil, karet yang diambil dari

tanaman ini disebut karet ceala dan kualitas lateksnya lebih rendah dibanding lateks Hevea Brasiliensis. Tanaman ini tidak dikembangkan. 9. Tanaman Mimusops balata , berasal dari Amerika selatan, getahnya berwarna merah. Biasanya

digunakan untuk kulit luar bola golf karena tahan air. 10. Tanaman Astragalus gumifer , berasal dari Yunani, dinamakan Torogonta gomu. Mirip karet Arabia.

2. PENEMUAN ,PENELITIAN DAN PERKEMBANGAN AWAL KARET ALAM

Karet alam adalah bahan yang unik di alam. Orang asli Amerika atau orang Indian yang berasal dari daerah tropis Amerika Selatan di daerah Amazon telah mengenal karet sebelum kedatangan

penjelajahan yang kedua kali Christopher Columbus pada tahun 1496 yang membawa karet ke Eropa. Orang Indian ini membuat bola karet dengan mengasapkan lateks yang berasal dari pohon jenis Hevea Brasiliensis. Navigator Spanyol dan sejarahwan Gonzalo Fernandez de Oviedo y Valdes (1478 -1557) merupakan orang Eropa pertama yang menggambarkan bola karet ini ke orang Eropa. Pada tahun 1615, seorang penulis dari Spanyol menjelaskan penggunaan karet. Dia melaporkan bahwa orang Indian membuat pakaian mereka yang tidak tembus air dengan menggosokkan latek ke permukaan jas dan membuat sepatu tahan air dengan melapisi telapaknya dengan cetakan latex. Pada tahun 1735 seorang Matematikawan dan Penjelajah Charles Marie de La Condamine (1701-1774) tertarik terhadap zat yang unik yang keluar dari pohon ini dan kemudian memberi nama latex yang dalam bahasa Amerika Latin berarti fluid / cairan. Ia kemudian mengirim beberapa gulungan karet mentah beserta penjelasan produk yang dibuat oleh orang Amerika Selatan ini ke Negaranya Perancis. Francois Fresneau menjelaskan bahwa susu yang didapat dari pohon dilakukan dengan mengiris kulit kayu dengan gancu dan menggunakan cetakan tanah liat untuk membentuk bentuk yang diinginkan. Meskipun telah diketahui bahwa bahan ini dapat membuat sepatu tahan air, pakaian tahan air , akan tetapi bahan ini masih tetap menimbulkan keingintahuan. Pada tahun1763 Fresneau menemukan bahwa karet dapat dilarutkan dengan terpentin. Giovanni Fabronni, seorang Italia yang bekerja di Inggris pada tahun 1779 menemukan bahwa minyak tanah atau naphta efektif juga dapat digunakan untuk melarutkan karet.

Awal Mula Penggunaan Karet Karet, kadang kadang disebut gum elastis, diketahui oleh orang Indian yang pada waktu itu karet diberi nama Caoutchouc ( dari kata cao, kayu dan o-chu, mengalir atau mengucur). Pada tahun 1770 seorang Kimiawan kebangsaan Inggris dan penemu oxygen Joseph Priestley (1733-1804) menyelidiki unsur karet dan kemudian mengusulkan bahan ini diberi nama Rubber karena bahan ini dapat digunakan untuk menghapus pensil pada kertas. Pada tahun 1791 karet pertama digunakan secara komersial oleh Pengusaha Inggris Samuel Peal yang mempatenkan metode untuk membuat pakaian tahan air dengan melarutkan karet pada Turpentine.

Pada tahun 1820 , industri karet modern pertama didirikan oleh Thomas Hancock (1786-1865) . Dia merupakan orang yang pertama kali mencampur karet dengan bahan lain untuk membentuk bentuk cetakan (Compound). Meskipun minyak tanah dapat digunakan untuk melarutkan karet, tetapi pada saat itu masih sangat mahal sehingga tidak sesuai untuk skala industri. Pada tahun 1818, James Syme- mahasiswa medis dari Universitas Edinburg meneliti pelarut karet yang disebut coal tar naphta. Pada tahun 1823, Seorang Peneliti dan Kimiawan asal Skotlandia Charles Macintosh (1766-1843) dari universitas Glasgow mengembangkan hasil penelitian James Syme dan menemukan coal tar naphta merupakan pelarut yang sangat baik. Machintos kemudian memulai memproduksi pakaian anti air atau jas hujan yang terbuat dari dua lapisan serat dimana di ditengahnya dilapisi karet yang disebut mackintoshes raincoat. Pada tahun 1820 Thomas Hancock menemukan alat yang disebut pickle (sekarang bernama masticator machine) untuk melunakkan karet sebelum dicampur dengan bahan kimia lain pada proses mixing. Alat ini dapat membantu proses produksi mackintoshes. Pada saat itu juga Thomas Hancock (1786-1865) mendirikan industri karet modern. Dia merupakan orang yang pertama kali mencampur karet dengan bahan lain untuk membentuk bentuk cetakan (Compound). E.M.Chaffee dari Roxburg Rubber Company dari Amerika Serikat mempatenkan proses calendaring pada tahun 1836. Proses calendaring ini dapat membuat karet yang memiliki ketebalan seragam. H.Bewley mempatentkan mesin extruder pada tahun 1845 yang kemudian kedua proses ini diadopsi di industri karet.

Produk karet Pada Awal Mula Cerita Thomas Hancock diatas menjelaskan bahwa produk karet telah banyak diproduksi dan digunakan sebelum ditemukannya proses Vulkanisasi. Tiga pendiri Michelin Company mengawali periode ini. Michelin Company didirikan Barbier et Daubree pada tahun 1832 atas saran Mme Daubree kemenakan perempuan Charles Macintosh. Pabrik ini berlokasi di Clermont Ferrand dan menjadi milik cucu Barbier, Edouard Michelin and Andre Michelin.

Awal mula perkebunan karet Pada tahun 1830, perkebunan karet Castilloa dibangun di Cuba dimana bibit karetnya berasal dari Guatemala. Komposisi dan Struktur

Karet mentah merupakan hydrocarbon. Pada tahun1826 seorang Ilmuwan Inggris bernama Michael Faraday (1791-1867) menganalisa karet alam dan menemukan rumus empiris karet alam yaitu C5H8, dan mengandung 2% sampai 4 % protein dan 1% sampai 4 % material terlarut aseton (resin, asam lemak, dan sterol). Pada tahun 1860 seorang Kimiawan Inggris Charles Hanson Greville Williams (18291910) menegaskan kembali hasil analisis Faraday dan pada tahun 1862 menyuling karet alam untuk memperoleh monomer nya yang disebut isoprene. Dia menentukan kadar uap isoprene dan rumus molekulnya, dan dia juga menunjukkan bahwa itu yang mempolymerisasi produk karet. Pengamatan yang mengarahkan bahwa karet merupakan polimer linear dari isoprene diungkapkan oleh seorang Kimiawan asal Inggris Shrowder Pickles (1878-1962) pada tahun 1910. Komposisi Lateks (Latex Composition) Rubber 30 40% Proteins 2-2.7% Resins 1.5-3.5% Sugars 1-2% Ash 0.4-0.7% Sterol glucosides 0.07-0.47% Water 55-65% Source: K.F. Heinisch, Dictionary of Rubber, 1974

Sifat-Sifat Karet Alam (Properties of Natural Rubber) Name Natural Rubber (NR) Natural polyisoprene

Molecular behaviour Glass transition temperature ( C) -70 Melting temperature ( C) 25 Hardness range (Shore A) 30-100 Maximum tensile strength (at 70 F, psi) 4000 Maximum elongation (at 70 F, %) 750 Advantages Physical resistance Excellent resilience Exc. tear strength Exc. abrasion resistance Exc. impact strength Exc. cut growth resistance Good compression set Environmental resistance Exc. water resistance Good-exc. low temperature flexibility Fair-good oxidation resistance Chemical resistance Good resistance to alcohols and oxygenated solvents Fair-good resistance to acids Limits Environmental resistance Poor ozone resistance Poor sunlight resistance Very little flame retardance Chemical resistance

Poor oil and gasoline resistance Poor resistance to (aliphatic and aromatic) hydrocarbon solvents Source: UNCTAD secretariat (adapted from H. Long, Engineering Properties of Elastomers, The Roofing Industry Educational Institute) Berat molekul karet berkisar antara 50,000 sampai 3,000,000. 60% molekul karet memiliki berat yang lebih besar dari 1,300,000. Unit berulang yang terdapat pada karet alam memiliki konfigurasi cis yang bermanfaat untuk elastisitasnya. Jika konfigurasinya adalah trans , polymer nya keras .

Vulkanisasi Karena hanya ada sedikit rantai yang bersilangan pada molekul karet, karet alam termasuk thermoplastic, dimana, ia menjadi lembek dan lengket pada musim panas dan mengeras pada musim dingin. Selain itu juga dapat terlarut pada pelarut. Unsur kekurangan yang tidak diinginkan pada karet alam ini diatasi pada tahun 1839, dimana seorang penemu asal Amerika bernama Charles Goodyear (1800-1860) di Woburn Massachusetts, pada akhir eksperimen secara kebetulan mencampurkan belerang dan timbal (Pb) pada kompor yang berisi karet alam . Hal ini menyebabkan molekul karet dapat bersilangan dengan kuat, sehingga tidak dapat dilarutkan, dan menjadi polymer thermoset . William Brockendon, seorang teman dari Hancocks, memberi nama hasil eksperimen Goodyear sebagai vulcanization ( berasal dari kata Dewa Api dan Logam Romawi ) . Goodyear kemudian menggunakan istilah ini.

Pada prakteknya, proses vulkanisasi sangat sederhana sehingga banyak orang yang menggunakan proses ini tanpa membayar royalty, dan Goodyear banyak menghabiskan waktunya untuk memenangkan hak patennya yang dilanggar. Dia meninggal pada kondisi miskin dan meninggalkan banyak hutang antara $200,000 dan $600,000. Namanya hidup di Goodyear tire dan Goodyear blimps. Namun demikian, tidak ada anggota keluarga atau keturunan Goodyear yang terlibat di perusahaan Goodyear Tire and Rubber Company, dimana perusahaan ini didirikan oleh Frank A. Seiberling yang menamakan Goodyear untuk mengenang nama harum penemu ini. Pada tahun 1851 . Saudara Laki-Laki Goodyear menggunakan belerang untuk mengkonversi karet alam menjadi ebonite, thermoplastic pertama.

Industri Karet Modern

Penemuan Vulkanisasi dari Goodyear menandakan kelahiran industri karet modern, dan meskipun kemudian ditemukan beberapa modifikasi atas prosedur asli Goodyear, sampai sekarang proses nya pada intinya sama dengan yang ditemukan pada tahun 1839. Vulkanisasi merupakan reaksi belerang dan karet yang belum dipahami secara sempurna. Proses ini menyebabkan rantai linear molekul karet saling bersilangan sehingga material ini tetap elastis . Suhu 140 180 oC (184-356 oF) digunakan untuk proses vulkanisasi modern, dan tambahan bahan kimia selain belerang sering digunakan yang disebut Akselerator. Akselerator dapat menyebabkan reaksi yang lebih cepat dan dengan temperature yang lebih rendah, dan antioksidan memperpanjang umur produk karet karena dapat mengurangi pengaruh buruk akibat oxygen atmosfir yang dapat memutus rantai dan menurunkan berat molekul karet. Bahan penguat seperti carbon black dapat meningkatkan kekerasan, kekuatan tensil, dan tahan terhadap abrasi. Bahan pewarna dan kadang kala juga ditambahkan.

Supply karet alam gagal untuk memenuhi permintaan karet Peningkatan permintaan karet pada waktu itu tidak diiringi dengan pengumpulan karet dari pepohonan liar Hevea brasiliensis di lembah Amazon dan Funtumia elastica di Congo. Pada saat itu tidak ada pengendalian terhadap bahan baku yang dikumpulkan dan diproses dengan cara primitive. Hal ini menyebabkan adanya pemikiran dari para industrialis seperti Thomas Hancock dan Clements Markam untuk mencari cara agar ketersediaan bahan baku dapat memadai . Sir Clements Markham dan Sir Henry Wicham

Karena Sir Clements Markham merupakan pegawai pemerintah atau seorang birokrat maka ia dapat mengatur ekspedisi ke lembah Amazon untuk mengumpulkan bibit-bibit karet untuk di bawa ke Asia Selatan (sekarang Asia Tenggara). Pada saat itu tahun 1876 Sir Henry Wickham bersama temannya Collins dan Cross menuju ke Amazon untuk mengumpulkan bibit bibit karet. Sir Henry Wicham berhasil mengumpulkan 70.000 bibit karet jenis Hevea Brasiliensis dari Amazon dan membawanya ke Inggris ke kebun raya Kew . Dari 70.000 bibit tersebut hanya 2.000 bibit yang dapat berhasil tumbuh. Kemudian bibit dibawa ke Ceylon (Sri lanka), Singapore dan Peninsular Malaysia pada tahun 1877 dengan kapal dan sebagian ke Indonesia. Perpindahan bibit ini dengan kendaraan kapal uap dan kereta api uap merupakan prestasi yang luar biasa.

Sir Henry Wickham Industri Perkebunan Karet Pada tahun 1880, perkebunan karet dari pohon Hevea Brasiliensis dibangun di Kuala Kangsar (Malaysia) dan perkebunan karet dari pohon Ficus elastica didirikan di Indonesia pada tahun 1861. Investasi pada perkebunan karet ini harus menunggu meningkatnya permintaan ban pneumatic dan motor. Henry Nicholas Ridley (Director of The Singapore Botanic Garden pada tahun 1888) yang mengembangkan metodologi penyadapan karet, dan ia juga medorong pembangunan perkebunan karet. Pada saat itu ia selalu membawa bibit karet dikantongnya kemanapun ia pergi untuk menyalurkannya ke petani yang potensial di Malaya. Pada tahun 1890 di Afrika Barat juga dibangun perkebunan karet ukuran kecil.

Henry Nicholas Ridley Penemuan Ban Pneumatic Pada tahun 1888 seorang veteran Skotlandia bernama John Boyd Dunlop menemukan ban pneumatic. Penemuan ini menyebabkan meningkatnya permintaan karet sejalan dengan penemuan motor pada tahun 1890 an. Michelin bersaudara (Edouard dan Andre Michelin) merupakan pengusaha utama yang mendorong penggunaan ban pneumatic pada racing kendaraan pada tahun 1895 dari Paris ke Bordeaux.

Industrialis baru

Frank W.Seiberling mendirikan Goodyear Tire & Rubber Co di Akron pada tahun 1898, dan pada tahun 1899 Harvey Firestone mendirikan Firestone Tire & Rubber Co (yang kemudian diakuisisi oleh perusahaan Jepang Bridgestone). The United States Rubber Co didirikan pada tahun 1892 ( sekarang merupakan bagian dari perusahaan Continental). Pada tahun 1872 B.F.Goodrich dirikan yang

merupakan perusahaan ban terkemuka, tetapi sekarang perusahaan ini telah beralih sebagai pensuply karet sintetis dan bahan kimia lainnya.

Permintaan karet meningkat pesat Penggunaan motor sebagai alat transport meningkat tajam di Amerika Serikat. Pada awalnya ban memiliki masa pakai yang pendek. Permintaan karet tumbuh pesat sehingga harga meningkat tajam. Hal ini mendorong tumbuhnya perkebunan karet di Ceylon, Malaya dan Hindia Baru (Indonesia). Pada saat itu harga motor sangat mahal dan hanya untuk kalangan elite. Dengan didirikannya pabrik kendaraan oleh Henry Ford yang memproduksi kendaraan secara masal maka menyebabkan harga kendaraan lebih murah . Pada awalnya harga ban berkisar antara $100 dan hanya dapat digunakan untuk jarak 750 km, tetapi sejalan dengan pengembangan ban, pada tahun 1920 harga ban berkisar $30 dan dapat digunakan untuk 20.000 km. Ban pneumatic secara terus menerus dibuat untuk keperluan kendaraan bus dan truk.

Kemajuan di proses Compound Teknik compound mengalami kemajuan selama masa 1905-1939. Akselerator dan Antioksidan mudah didapat. W Ostwald mempatenkan penggunaan Aniline sebagai Antioksidan pada tahun 1908. Aniline merupakan pelembut yang baik tetapi beracun. Bayer dari Leverkusen mempatenkan Akselerator dari bahan organic pada tahun 1911. Pada tahun 1915 Ostromyslenski mempatenkan non-nitrogenous (xanthate) accelerator. Pada akhirnya ditemukanlah diphenyl guanidine dan mercaptobenzthiazole sebagai Akselerator.

Carbon black Pada tahun 1904 S.C. Mote dari Gutta Percha India yang bekerja di London, Silvertown menemukan manfaat karbon black yang berasal dari pembakaran gas alam yang tidak sempurna. Dia menunjukkan bahwa bahan ini dapat meningkatkan kekuatan mekanis karet. Pada tahun 1910, carbon black digunakan secara luas khususnya untuk ban.

Pencampuran / MIXING Mesin mixer Banbury dikembangkan pada tahun 1916 an, nama mesin ini berasal dari nama penemunya yaitu Fernley H.Banbury (18811963) . Mesin ini memungkinkan karet dapat di compound dalam jumlah yang banyak dan dilakukan pada saat yang relative singkat khususnya berguna untuk industri ban .

Kemajuan teknik perkebunan Teknik perkebunan yang telah disempurnakan (khususnya pembibitan pohon karet) dikembangkan oleh perusahaan perkebunan besar. Pusat penelitian baru didirikan di Ceylon, Malaya, Perancis, Indochina dan Hindia Belanda (Indonesia) . Penelitian mencakup pemilihan bibit unggul agar dapat meningkatkan hasil latex.

Perang Dunia Pertama Perang dunia pertama menyebabkan meningkatkan permintaan kendaraan khususnya motor dan truk. Pemblokiran pasokan karet oleh Inggris dan sekutunya terhadap Jerman menyebabkan

dikembangkannya industri karet sintetis yang mana pada waktu itu kualitasnya masih sangat rendah. Setelah Perang Dunia pertama berakhir, harga karet alam anjlok. Pemerintah colonial Inggris membuat suatu skema bernama The Stevenson Scheme terhadap Negara koloninya Malaya dan Ceylon untuk membatasi produksi karet alam agar harga karet alam dapat naik kembali. Skema Stevenson ini berakhir pada tahun 1928.

Peraturan Karet Internasional Greate Depression menyebabkan harga karet turun tajam sehingga pada tahun 1934 negara Inggris,India,Belanda,Perancis dan Thailand membuat suatu persetujuan peraturan karet internasional (International Rubber Regulation Agreement). Peraturan ini memberi kuota produksi karet untuk perkebunan yang telah ada dan melarang penanaman perkebunan baru. Persetujuan ini mengarah ke pembentukan International Rubber Study Group (IRSG) yang memulai meriset konsumsi karet alam, termasuk pembentukan Badan Penelitian Karet Internasional ( International Rubber Research Board

(IRRB). Persetujuan ini dapat menghentikan penurunan harga karet, akan tetapi karena persetujuan ini kurang melibatkan konsumen karet alam besar seperti Amerika Serikat , dan juga mengabaikan sektor perkebunan rakyat sehingga pada tahun 1970 perlu dibuat kembali ukuran stabilisisasi harga.

Respon Amerika Selama Masa Perang Terhadap Pasokan Karet Pabrik ban dan otomotif Amerika sangat tidak senang dengan perlakuan ini dan menganggap bahwa dominasi kekuatan colonial (Perancis, Inggris dan Belanda) terhadap pasokan karet alam dengan membuat Skema Stevenson menyebabkan mereka untuk membangun industri karet di tempat lain. Hal ini juga mempengaruhi pengembangan karet sintetis di Amerika.

Ford/Edison/Florida/ Firestone Liberia Tanggapan dari Perusahaan Ford dan perusahaan ban utama yaitu dengan menyelidiki daerah di Amerika dan Tetangganya untuk menguji coba pembuatan perkebunan contoh di Florida. Pada waktu ini Edison berusaha untuk memekanisasi proses pemanenan di perkebunan di Florida. Kemudian, Ford menginvestasikan perkebunan di Brazil tetapi usaha ini gagal. Goodyear membuat perkebunan di Filipina dan Costa Rica dan Firestone membuat perkebunan di Liberia.

IRSG & IRRDB dan penelitian territory konsumsi Persetujuan stabilisasi harga mengarah ke pengumpulan statistic harga sehingga mengarah ke pembentukan International Rubber Study Group dan untuk koordinasi penelitian dan pengembangan karet mengarah ke pembentukan International Rubber Research Development Board (IRRDB). Selain itu juga mengarah ke pembentukan pusat penelitian karet di Perancis, Belanda, dan Inggris.

Konsentrat Latex Konsentrat Latex dipasarkan dalam skala besar selama tahun 1920 an dan hal ini mengarahkan kepada pembangunan industri baru yang memproduksi sarung tangan operasi, kondom, benang karet (untuk pakaian renang), karet sponge dan karet foam (untuk furniture dan bantal atau matras).

3. PERKEMBANGAN KARET SINTETIS

Seperti yang disebutkan diatas, karet alam merupakan polymer yang terdiri dari isoprene. Ilmuwan pada awalnya mencari bahan kimia yang hampir sama. Tetapi mereka berhasil menemukan pengganti karet alam bukan dengan mensintesis isoprene, butadiene atau hydrocarbon , melainkan dengan mensintesis polymer asli yang memiliki sifat fisik yang sama dengan karet alam. Pengembangan karet sintesis merupakan proses yang lambat, karena hampir tidak mungkin mensintesis produk yang secara ekonomis murah untuk menyaingi karet alam karena penggunaan karet sintetis tidak sebaik karet alam. Pada saat perang dimana kebutuhan karet meningkat itulah yang menyebabkan ilmuwan berusaha keras meneliti karet sintetis.

CARL Speed Marvel (1894-1988) Selama masa Perang Dunia kedua, Amerika Serikat diblokade musuh-musuhnya untuk tidak mengirim karet alam kesana. Carl Marvel menjadi bagian dari usaha sukses memenuhi permintaan karet sintetis. Bersama dengan yang lainnya, dia bekerja meningkatkan efisiensi dan produksi karet sintetis yang ada.

- Valerie Borek Selama masa Perang Dunia I, seorang kimiawan Jerman ( dimana negaranya pada waktu itu diblokade oleh Inggris untuk tidak mengirim karet alam ke Jerman) mempolimerisasi 3-methylisoprene (2,3dimethyl-1,3-butadiene) units, (CH2=C(CH3)C(CH3)=CH2) yang berhasil dari Acetone, untuk membentuk methyl rubber. Pada akhir perang, Jerman memproduksi 15 tons karet ini per bulan. Unisoviet (USSR) mebangun pabrik pertama di Leningrad (sekarang St.Petersburg) pada tahun 1930 dan 3 pabrik lainnya pada tahun 1932 dan 1933, merupakan Negara pertama yang memproduksi karet sintetis berskala besar.

Dua penemuan yang tidak disengaja Selama masa Perang Dunia II , Amerika Serikat diblokade pengiriman karetnya oleh India, Ceylon/Srilanka, Malaysia , Malaysia dan Hindia Timur ( yang merupakan Negara-negara pemasok karet alam utama menggantikan Amerika Selatan), mengembangkan beberapa karet sintetis superior.

Industri karet sintetis Amerika Serikat berasal dari dua penemuan yang tidak disengaja, dimana penemu tersebut sedang meneliti barang lain.

Pada tahun 1922 seorang penemu dan fisikawan Josep C.Patrick ( 1892-1965) berusaha untuk membuat ethylene glycol (HOCH2CH2OH) untuk digunakan sebagai antibeku. Namun yang ditemukan malah

Thiokol, bahan kondensasi polysufide karet dari ethylene dichloride dan sodium tetrasulfide. Produk awal ini masih digunakan untuk gasket, Seal, selang dll karena tahan terhadap oli dan pelarut organic. Pada tahun 1931 Arnold Collins, seorang kimiawan dari Dupont group (1896-1937) , penemu nylon, meneliti neoprene secara tidak sengaja pada saat sedang mempelajari divinlacetylene (H2C=CH-C=CH). Ada beberapa jenis neoprene. Mereka memiliki kekuatan tensil yang tinggi, daya pegas yang tinggi, dan tahan terhadap pengaruh oxygen, ozone, oli dan bahan kimia lainnya. Juga tahan terhadap panas, dan anti robek. Bahan ini baik merupakan karet berbagai produk, tetapi bahan ini terbatas penggunaannya karena mahal harganya.

Karet Sintetis lainnya Pada thun 1937 Robert McKee Thomas (1908-1986) dan William Joseph Sparks (1904-1976) di perusahaan Standard Oil Development Company (sekarang Exxon mobile) mensintetis butyl rubber melalui copolimerisasi (polimerisasi dari campuran monomer) dari isobutylene (2-methylpropene (CH3)2C=CH2) dengan sejumlah kecil isoprene. Pada tahun 1929 Walter Bock dan Eduard Tschunkur dari perusahaan konglomerasi Jerman I.G . Farben mengembangkan serangkaian karet sintetis yang sama dengan yang diproduksi Unisoviet (USSR). Karet sintetis ini diberinama Buna rubber (Bu untuk butadiene, salah satu copolymer, dan na untuk sodium, Catalyst polimerisasi). Karet yang ditemukan mencakup yang tahan oli disebut Buna S (S untuk Styrene) dan Buna N (N untuk Nitrate). Buna S , styrene butadiene rubber sekarang disebut SBR, dan diproduksi dua kali volumenya dari karet alam, sehingga merupakan karet sintetis yang paling banyak digunakan. Buna N , acrylonitrile-butadiene rubber, sekarang disebut NBR. Selama masa Perang Dunia ke 2, Amerika serikat memproduksi karet ini untuk kebutuhan perang. Usaha untuk memproduksi karet sintetis dari isoprene tidak berhasil sampai dengan tahun 1955 seorang Kimiawan Amerika bernama Samuel Emmett Horne Jr. menyiapkan 98 persen cis-1,4-polyisoprene melalui stereospecific polymerisasi isoprene. Produk yang dihasilkan oleh Horne hanya berbeda dengan karet alam dalam kandungannya terhadap sejumlah kecil cis-1,2-polyisoprene, tetapi sama dalam unsur fisik. Diproduksi pada tahun 1961, BR (butadiene rubber) dapat dicampur dengan karet alam maupun karet sintetis SBR yang digunakan untuk membuat lapisan luar ban. Polyurethane (PU) pertama kali disintesa pada tahun 1930 oleh kimiawan Jerman Otto Bayer (19021982), yang mencoba membuat nylon seperti serat. PU merupakan polimer serbaguna yang dapat digunakan untuk produk yang kaku maupun fleksibel, serat dan bagian otomotif, seperti bamper mobil. Sintetik lain digunakan pada produk ini seperti serat yang dapat ditarik.

Setelah akhir Perang Dunia II, industri sintetis Amerika merosot tajam. Namun demikian, pada awal tahun1950, industri karet sintetis kembali gemilang. Pada tahun 1960 an produksi karet sintetis sama dengan karet alam, dan terus meningkat sejak itu.

4.

SIFAT-SIFAT KARET ALAM

Karet Alam maupun Karet sintetis sering juga disebut dengan Elastomer . Elastomer adalah zat yang apabila ditarik/diberi tegangan akan dengan cepat kembali ke bentuk semula bila tarikan atau tegangan dilepaskan / dibebaskan. Karet alam merupakan salah satu jenis Elastomer yang terdapat di alam. Elastomer merupakan salah satu jenis dari Polymer yang terdiri dari monomer-monomer. Monomermonomer ini disebut dengan isoprene. Karet alam merupakan linear polymer atau cis-1,4-polyisoprene dari hidrokarbon tidak jenuh yang disebut (2-methyl-1,3butadiene) seperti yang digambarkan dibawah ini:

Ada sekitar 11.000 sampai 20.000 unit isoprene yang terdapat pada rantai polymer karet alam , rantai pajang ini disebut polyisoprene polymer. Berat molekul berbeda-beda tergantung dari klon biji karet Hevea brasiliensis yaitu antara 100.000 s/d 1.000.000 .

Karet alam memiliki sifat-sifat unggul dan sifat-sifat yang lemah sbb : 1. Karet alam bersifat keras dan elastis, tetapi akan melunak dan lengket bila berada pada suhu

yang tinggi dan mengeras dan padat pada suhu rendah. 2. 3. 4. 5. 6. tanah. 7. Bila karet alam divulkanisasi akan memiliki sifat-sifat sbb : Spesifik gravity nya 0.915. Memiliki daya elastisitas tinggi. Memiliki ketahanan terhadap daya gesek dan kekuatan tensil rendah. Tidak dapat larut dalam air, acetone, alkali. Larut dalam larutan ether, carbon disulphide, carbon tetrachloride, turpentine dan minyak

Karet Alam Karet Alam Yang telah Di Vulkanisasi Lunak dan lengket pada suhu tinggi Keras dan tidak lengket pada suhu tinggi Kekuatan tensil rendah dan tidak kuat Kekuatan tensil tinggi dan kuat Daya pegas rendah Daya pegas tinggi Hanya dapat digunakan pada temperatur 10 to 60 derajat celcius. Dapat digunakan pada temperature dari (minus) -40 sampai 100 derajat Celcius Resisten terhadap Abrasi Rendah Resisten Terhadap Abrasi Tinggi Menyerap Banyak Air Menyerap Sedikit Air Dapat cair di larutan ether, carbon disuphide, carbon tetrachlo ride, petrol dan turpentine Tidak dapat dilarutkan pada larutan biasa

8.

Vulkanisasi karet alam dilakukan dengan memanaskan karet alam dan dicampur dengan (5%-8%

belerang), zinc oxide (5%) dan accelerator (0.5%-1%) pada suhu 400-440 Kelvin sekitar setengah jam. Semakin banyak belerang / sulfur ditambahkan maka karet akan semakin keras. Rantai molekul karet digambarkan dibawah ini.

sulphur gives ebonite

a.Rantai molekul karet alam asli. b.Rantai molekul karet setelah divulkanisasi. c.Rantai molekul karet setelah divulkanisasi dan ditarik.

5.

JENIS-JENIS KARET

Karet tidak jenuh yang dapat diperbaiki oleh belerang (proses vulkanisasi): 1. Karet Alam (Natural Rubber / NR) Bentuk Cair : Latex Concentrate, dan Jenis Khusus (cairan). Bentuk Padat / Kering : Karet Sheet,Karet Crepe, Karet TSR ( Technically Specified Rubber ) dan

Jenis Khusus (padat). 2. Karet Sintetis (Synthetic Rubber / SR) Styrene-butadiene Rubber (copolymer of polystyrene and polybutadiene, SBR). Merupakan karet

sintetis dominan untuk pembuatan ban . Selain itu juga dapat digunakan untuk membuat barang-barang lain seperti sol sepatu, matras karet, rem, van belt, gasket, mainan anak2, kabel, jaket, barang2 farmasi dll. Nitrile Rubber (copolymer of polybutadiene and acrylonitrile, NBR), also called Buna N rubbers .

Memiliki resisten tinggi terhadap minyak, gemuk, dan bahan bahan kimia lainnya dan dapat tahan terhadap temperatur -40oC s/d 120oC. . Dapat digunakan untuk mobil, matras, dll. Polybutadiene (BR) , merupakan karet sintetis yang kuat untuk pembuatan side wall dan thread sepatu, lem, seal, sponge, sabuk

pada ban, umumnya dicampur dengan karet alam atau karet SBR untuk membentuk compound pembuatan thread ban. Synthetic Polyisoprene (IR) , memiliki kekuatan yang lemah dibanding BR dan SBR, baik digunakan

untuk proses pencampuran, ekstrusi, pencetakan, dan calendering. Umumnya digunakan untuk membuat alat-alat olahraga, gasket, shock motor, hoses, sepatu dan dot baby. Butyl rubber (copolymer of isobutylene and isoprene, IIR), merupakan karet sintetis yang tahan

terhadap ozon, panas, bahan kimia, dan anti tembus udara ataupun gas dan cairan. Sangat baik digunakan untuk pembuatan ban khususnya untuk inner liner ban , ban conveyor,lem, alat-alat industri lainnya.

Chloroprene Rubber (CR), polychloroprene, Neoprene, Baypren etc. Merupakan elastomer yang

dapat digunakan untuk segala tujuan karena memiliki sifat anti ozon, anti matahari dan oksidasi, tahan air dan bahan kimia dan memiliki sifat kekuatan tensil yanginggi. Halogenated butyl rubbers (Chloro Butyl Rubber: CIIR; Bromo Butyl Rubber: BIIR) Hydrogenated Nitrile Rubbers (HNBR) Therban and Zetpol .

Karet Synthetic Rubber yang jenuh yang tidak dapat divulkanisasi adalah sbb: EPM (ethylene propylene rubber, a copolymer of ethylene and propylene) and EPDM rubber

(ethylene propylene diene rubber, a terpolymer of ethylene, propylene and a diene-component). Merupakan karet sintetis multi fungsi untuk pembuatan tabung, hose, tali pinggang, kabel, dll. Epichlorohydrin rubber (ECO) Polysulphide Rubber (T), diperkenalkan pada tahun 1931 sebagai karet tahan minyak dan pelumas, selang untuk spray. Dapat juga

sehingga baik digunakan untuk pembuatan selang karet (hose) digunakan sebagai segel tangki bahan bakar pesawat.

Polyacrylic rubber (ACM, ABR) , merupakan karet khusus pertama yang tahan terhadap minyak

panas dan pelumas agresif. Kegunaan utamanya adalam untuk industri otomotof membuat O-ring, oil seal dan gasket. Selain itu juga untuk pelapis bahan tekstil, finishing pembuatan kertas dan kulit. Silicone rubber (SI, Q, VMQ) , karet silikon berbedan dengan elastomer sintetik lainnya terutama

karena karet ini tidak mengandung unsur karbon organik melainkan terdiri dari molekul atom silikon dan oksigen. Sifat fisiknya adalah kurang baik pada suhu ruangan, namun lebih tahan suhu dibanding dengan karet hydrocarbonlainnya. Memiliki sifat elektrik yang baik, tahan terhadap cuaca,dan ozon dan konsisten terhadap warna. Digunakan untuk industri pesawat terbang dan industri canggih lainnya karena ia dapat tahan pada suhu -100oC s/d 200oC lebih, selain itu juga digunakan untuk pembuatan conveyor makanana, dan farmasi, serta barang-barang operasi dan tabung transfusi darah, klep jantung buatan, mesin pencuci ginjal dan pelapis kabel serta seal. Fluorosilicone Rubber (CFM) , merupakan elastomer yang paling mahal dipasaran. Fungsinya

adalah untuk membuat oil seal dan selang karet (hose) yang tahan terhadap pelumas dan cairan hidrolik pada temperatur tinggi diatas 200 oC sehingga banyak digunakan untuk industri pesawat terbang. Memiliki karakteristik elektrik yang baik dan tidakmenyerap air. Fluoroelastomers (FKM, and FEPM) Viton, Tecnoflon, Fluorel, Aflas and Dai-El Perfluoroelastomers (FFKM) Tecnoflon PFR, Kalrez, Chemraz, Perlast Polyether Block Amides (PEBA)

Chlorosulfonated Polyethylene (CSM), (Hypalon), memiliki sifat khusus yaitu tahan terhadap

oksidasi, sinar ultra violet, cuaca, ozon, zat asam dan bahan kimia lainnya. Umumnya digunakan untuk melapisi selang karet dan bahan-bahan pelapis elastik dan anti korosif untuk penerapan di luar ruangan. Ethylene-vinyl Acetate (EVA) , merupakan copolymer antara ethylene dan vinyl acetate, yang dapat

disilangkan dengan peroxide. Bahan ini resisten terhadap cuaca, oksige, ozon, panas dan digunakan terutama untuk pembuatan pembungkus kabel antipanas, oil seal dan bahan tekstil.

6. ANCAMAN UTAMA KARET ALAM

Pengembangan industri karet sintetis merupakan ancaman bagi industri karet alam, tetapi dengan kegiatan R&D karet alam yang dihasilkanlah Technically Classified Rubber pada tahun 1951 dan Technically Specified Rubber pada tahun 1965 agar dapat bersaing dengan karet sintetis. Pada awalnya karet alam dijual berdasarkan penampilan fisiknya dan kebersihannya berupa Ribbed Smoked Sheet (RSS) : RSS 1 merupakan karet paling baik dan bersih dan RSS 5 merupakan karet paling murah dan bermutu kurang. Pada tahun 1949 Technically Classified Rubber (TCR) diperkenalkan dimana karet diklasifikasikan berdasarkan karakteristik pengasapannya . Pada tahun 1965 Malaysia memperkenalkan Standard Malaysian Rubber yang membuat pembeli karet dapat mengukur karet yang diproduksi berdasarkan spesifikasi teknis dan mutunya dapat dikontrol dengan mengetes parameter tententu seperti volatile matter dan dirt content. Sebelumnya bale juga memiliki ukuran yang beragam: Sekarang bale memiliki ukuran yang telah distandarkan dan pembungkus bale dari plastic bersih. Negara penghasil karet alam yang lain seperti Indonesia dan Thailand juga membuat skema produksi yang sama pada waktu itu. Sejalan dengan pengembangan ini, metode baru dikembangkan untuk memproduksi karet alam : seperti peremahan karet dan pengovenan karet remah, dan press bale. Salah satu proses ini dikembangkan oleh Tan Sri Dr.B.C. Sekhar dari Lembaga Penelitian Karet Malaysia.

Karet alam yang lebih kompetitif Pengembangan ini, dan pengenalan pengapalan dengan container menyebabkan karet alam dapat berkompetisi dengan karet sintetis generasi baru. Pada tahun 1973 1974 dan tahun 1979 terjadi krisis energi dimana produsen minyak utama dunia membatasi produksi minyak dunia sehingga harga minyak meningkat tajam. Hal ini menyebabkan karet alam dalam posisi yang lebih kompetitif karena harga karet sintetis meningkat tajam dan mendorong harga karet alam meningkat tajam.

Pada tahun 1979 United Nations Commissions for Trade and Development (UNCTAD) membuat suatu Perjanjian Karet Alam International (The International Natural Rubber Agreement). Tujuan utamanya adalah untuk stabilisasi harga karet alam danuntuk mencapai pertumbuhan pendapatan Karet Alam. Persetujuan ini mendorong terbentuknya International Natural Rubber Organization (INRO) pada tahun 1980 , persetujuan ini juga melibatkan konsumen utama karet alam. Pada Oktober tahun 1998 Malaysia mengancam akan menarik diri dari anggota INRO untuk menanggapi harga karet yang terlalu rendah yang diikuti oleh Thailand yang berencana menarik diri dari anggota INRO pada bulan Febuary 1999. Sehingga pada bulan September tahun 1999 Persetujuan ini dihentikan. Sekarang Indonesia, Malaysia dan Thailand merupakan produsen karet alam utama dunia . Selain itu Malaysia juga merupakan konsumen karet alam utama mencapai 300.000 ton per tahun (urutan ke-5 konsumen karet alam dunia).

7. SEJARAH KARET ALAM DI INDONESIA Di Indonesia sendiri, Pada bulan November tahun 1876 tanaman karet jenis Hevea Brasiliensis mulai dikembangkan di Jakarta. Kemudianpada tahun 1906 dimulai budidaya tanaman karet ini di Sumatera bagian timur dan selang 4 tahun kemudian yaitu tahun 1906 , karet mulai dibudi dayakan di pulau Jawa. Sejarah karet di Indonesia mencapai puncaknya pada periode sebelum Perang Dunia II hingga tahun 1956. Karet yang diproduksi adalah jenis karet konvensional jenis RSS (Ribbed Smoke Sheet) dan Brown Crepe. Pada masa itu Indonesia menjadi negara penghasil karet alam terbesar di dunia. Namun sejak tahun 1957 kedudukan Indonesia sebagai produsen karet nomor satu digeser oleh Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya mutu produksi karet alam di Indonesia. Rendahnya mutu membuat harga jual di pasaran luar negeri menjadi rendah. Sejalan dengan berkembangnya zaman dimana Negara Malaysia memperkenalkan Standard Malaysia Rubber sebagai karet alam yang memiliki spesifikasi Teknis (Technical Specified Rubber) yang diyakini lebih cocok sebagai bahan baku pembuatan ban. Sehingga pada tahun 1969 Pemerintah Indonesia melalui Menteri Perdagangan mengeluarkan larangan ekspor karet mutu rendah Bark Crepe , karena jenis mutu karet ini dapat diolah lebih lanjut menjadi karet spesifikasi teknis yang memiliki nilai jual yang lebih baik. Pemerintah Indonesia pada saat itu mendorong industri karet yang memproduksi konvensional untuk beralih memproduksi karet spesifikasi teknis karena dianggap tepat , meningkatkan nilai jual.Dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No.85 tahun 1971 yang pelaksanaannya ditunjuk Menteri Perdagangan Bapak Prof.Dr.Soemitro Djojohadikusumo untuk mendorong peralihan industri

karet konvensional beralih menjadi industri Crumb Rubber yang memproduksi karet spesifikasi teknis proses ini ditandai dengan mendirikan pabrik percontohan karet spesifikasi teknis sebagai konversi pabrik-pabrik remilling dengan menggunakan unit-unit mesin promosi yang berasal dari Perancis dan Inggris. Selang waktu dua tahun, yaitu pada tahun 1971 dimulailah konversi secara luas pabrik remilling di Indonesia menjadi pabrik Crumb Rubber. Pengkonversian pabrik remilling ke pabrik crumb rubber membutuhkan tambahan modal dan asset yang tidak sedikit yang diantaranya adalah penambahan mesin Dryer, mesin Shredder, mesin Press , Laboratorium TSR, dll. Karet spesifikasi teknis Indonesia dinamakan Standard Indonesian Rubber atau sering disingkat SIR. SEJARAH DAN PROSPEK PENGEMBANGAN KARET Oleh : Akhmad Rouf (Kelti Agronomi)

Karet pertama kali dikenal di Eropa, yaitu sejak ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Columbus pada tahun 1476. Orang Eropa yang pertama kali menemukan ialah Pietro Martyre dAnghiera. Penemuan tersebut dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul De Orbe Novo (Edisi 1530). Pada tahun 1730-an, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan (karet) tersebut. Istilah rubber pada tanaman karet mulai dikenal setelah seorang ahli kimia dari Inggris (tahun 1770) melaporkan bahwa, karet dapat digunakan untuk menghapus tulisan dari pensil. Kemudian masyarakat Inggris mengenalnya dengan istilah Rubber (dari kata to rub, yang berarti menghapus). Pada dasarnya, nama ilmiah yang diberikan untuk benda yang elastis (termasuk karet) ialah elastomer, tetapi istilah rubber-lah yang lebih populer di kalangan masyarakat pada waktu itu. Pada awal abad ke-19, seorang ilmuwan bernama Charles Macintosh dari Skotlandia, dan Thomas Hancock mencoba untuk mengolah karet menggunakan bahan cairan pelarut berupa terpentin (turpentine). Hasilnya karet menjadi kaku di musin dingin dan lengket di musim panas. Hingga akhirnya Charles Goodyear pada tahun 1838 menemukan bahwa dengan dicampurkannya belerang kemudian dipanaskan maka keret tersebut menjadi elastis dan tidak terpengaruh lagi oleh cuaca. Sebagian besar

ilmuwan sepakat untuk menetapkan Charles Goodyear sebagai penemu proses vulkanisasi. Penemuan besar proses vulkanisasi ini akhirnya disebut sebagai awal dari perkembangan industri karet. Menidaklanjuti apa yang disampaikan Charles Marie de la Condamine dan Francois Fresneau dari Perancis bahwa ada beberapa jenis tanaman yang dapat menghasilkan lateks atau karet, kemudian Sir Clement R. Markham bersama Sir Joseph Dalton Hooker berusaha membudidayakan beberapa jenis pohon karet tesebut. Hevea brasiliensis merupakan jenis pohon karet yang memiliki prospek bagus untuk dikembangkan dibanding jenis karet yang lainnya. Pada saat Perang Dunia II berlangsung, ketersediaan karet alam mengalami penurunan yang cukup drastis. Kemudian pemerintah Amerika mendorong penelitian dan produksi untuk menghasilkan karet sintetik guna memenuhi kebutuhan yang mendesak. Usaha besar ini lambat laun mengakibatkan permintaan terhadap karet sintetis meningkat pesat sehingga mengurangi permintaan karet alam. Dalam jangka waktu 3 tahun sesudah berakhirnya Perang Dunia II, sepertiga karet yang dikonsumsi oleh dunia adalah karet sintetik. Pada tahun 1983, hampir 4 juta ton karet alam dikonsumsi oleh dunia, sebaliknya, karet sintetik yang digunakan sudah melebihi 8 juta ton dan terus bertambah hingga sekarang. Hasil studi dari Task Force Rubber Eco Project (REP) yang dibentuk oleh International Rubber Study Group (IRSG) pada tahun 2004 menyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 31,3 juta, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam. Di Indonesia sendiri, tanaman karet pertama kali diperkenalkan oleh Hofland pada tahun 1864. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah. Sejarah karet di Indonesia mencapai puncaknya pada periode sebelum Perang Dunia II hingga tahun 1956. Pada masa itu Indonesia menjadi negara penghasil karet alam terbesar di dunia. Namun sejak tahun 1957 kedudukan Indonesia sebagai produsen karet nomor satu digeser oleh Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya mutu produksi karet alam di Indonesia. Rendahnya mutu membuat harga jual di pasaran luar negeri menjadi rendah. Meskipun demikian komoditas karet masih berpengaruh besar terhadap perekonomian negara. Karet mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa negara. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995, dan 1,9 juta ton pada tahun 2004. Sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan produksi mencapai 3,5 juta ton, dan tahun 2035 mencapai 5,1 juta ton. Sumber :

Anwar, C. 2006. Manajemen dan teknologi budidaya karet. Makalah pelatihan Tekno Ekonomi Agribisnis Karet . 18 Mei 2006. Jakarta. Tim Penulis PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya. Jakarta. Spillane, J.J. 1989. Komoditi Karet. Kanisius. Yogyakarta. Woodruff, W. 1970. Rubber. Encyclopedia Britannica. 1970. Vol : 19. About these ads

SEJARAH PERKEMBANGAN POHON KARET

A. Mengenal Tanaman Karet

Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer. Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut: Divisi Sub Kelas Keluarga Genus Spesies : Hevea brasiliensis Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia. Karet merupakan produk dari proses penggumpalan getah tanaman karet (lateks). Pohon karet normal disadap pada tahun ke-5. Produk dari penggumpalan lateks selanjutnya diolah untuk menghasilkan lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan divisi : : : : : Spermatophyta Angiospermae Dicotyledonae Euphorbiaceae Hevea

baku industri karet. Ekspor karet dari Indonesia dalam berbagai bentuk, yaitu dalam bentuk bahan baku industri (sheet, crumb rubber, SIR) dan produk turunannya seperti ban, komponen, dan sebagainya. Hasil karet biasa dimanfaatkan atau diolah menjadi beberapa produk antara lain adalah : RSS I, RSS II, RSS III, Crumb Rubber, Lump, dan Lateks. Hasil utama dari pohon karet adalah lateks yang dapat dijual atau diperdagangkan di masyarakat berupa lateks segar, slab/koagulasi, ataupun sit asap/sit angin. Selanjutnya produk-produk tersebut akan digunakan sebagai bahan baku pabrik Crumb Rubber/Karet Remah, yang

menghasilkan berbagai bahan baku untuk berbagai industri hilir seperti ban, bola, sepatu, karet, sarung tangan, baju renang, karet gelang, mainan dari karet, dan berbagai produk hilir lainnya.

B. SEJARAH POHON KARET DI DUNIA

Sejarah karet bermula ketika Christopher Columbus menemukan benua Amerika pada 1476. saat itu, Columbus tercengang melihat orang-orang Indian bermain bola dengan menggunakan suatu bahan yang dapat melantun bila dijatuhkan ketanah. Bola tersebut terbuat dari campuran akar, kayu, dan rumput yang dicampur dengan suatu bahan (lateks) kemudian dipanaskan diatas unggun dan dibulatkan seperti bola.

Pada 1731, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan tersebut. seorang ahli dari Perancis bernama Fresnau melaporkan bahwa banyak tanaman yang dapat menghasilkan lateks atau karet, diantaranya dari jenis Havea brasilienss yang tumbuh di hutan Amazon di Brazil. Saat ini tanaman tersebut menjadi tanaman penghasil karet utama, dan sudah dibudidayakan di Asia Tenggara yang menjadi penghasil karet utama di dunia saat ini.

Menidaklanjuti apa yang disampaikan Charles Marie de la Condamine dan Francois Fresneau dari Perancis bahwa ada beberapa jenis tanaman yang dapat menghasilkan lateks atau karet, kemudian Sir Clement R. Markham bersama Sir Joseph Dalton Hooker berusaha membudidayakan beberapa jenis pohon karet tesebut. Pada tahun 1835, Hancock mendekati Direktur Botanical Garden Kew London, Sir William Hooker dan menasehatinya untuk turut membantu mengenalkan dan mulai menanam pohon karet Hevea di wilayah kolonial Inggris yang berada Asia. Namun ide ini kurang direspon oleh Sir William Hooker.

Beberapa tahun kemudian kesadaran untuk mulai membudidayakan pohon karet, diawali oleh Sir Clements Markham, pegawai pemerintahan Inggris di India. Beliau kemudian meminta James Collin yang telah terlebih dahulu mempelajari karet untuk mengerjakan proyek penanaman tersebut. Hasil studi Collin dipublikasikan tahun 1872 dan menjadi perhatian Direktur Kew Botanic Garden yang baru, Sir Joseph Hooker, putra dari Sir William Hooker. Selanjutnya Joseph Hooker berkerja sama dengan James Collin dalam usaha membudidayakan karet. Joseph Hooker membeli sekitar 2000 biji karet dari Farris atas permintaan Collin. Biji karet tersebut dicoba dikecambahkan namun pada akhirnya hanya 12 biji yang berhasil tumbuh hingga menjadi tanaman karet baru.

Ketertarikan untuk membudidayakan karet muncul dari bangsawan Inggris lainnya, Sir Henry Wickman yang menjelajahi hutan Amazon untuk mengumpulkan biji karet dan pada akhirnya berhasil membawa sekitar 70.000 biji karet ke Inggris tahun 1876. Biji karet Wickman kemudian dikecambahkan di Kew Botanical Garden namun hanya sekitar 2000 biji saja yang mampu berkecambah. Usaha budidaya karet juga terus dilakukan oleh Sir Clements Markham, beliau mengutus Robert Cross ke Amazon untuk mengumpulkan biji karet seperti yang dilakukan oleh Sir Wickman. Cross kembali ke Inggris dan berhasil membawa 1080 biji namun hanya 3% saja yang mampu bertahan selama perjalanan dari Brazil ke Inggris tanpa menjadi busuk.

Seratus buah biji karet Wickman yang berhasil tumbuh menjadi bibit perkecambahan kemudian dikirim ke Ceylon (sekarang Sri Langka) dari Kew Botanical Garden pada bulan September 1876. Selanjutnya di bulan Juni 1877, Kew Botanical Garden kembali mendistribusikan 22 tanaman karet dengan tujuan Singapore Botanical Garden. Tanaman karet tersebut diterima oleh Henry Ridley selaku Direktur Singapore Botanical Garden yang selanjutnya dijuluki mad Ridley karena kegigihannya dalam membudidayakan tanaman karet di tanah Malaya. Henry Ridley menanam 75% dari tanaman itu di Residency Garden di Kuala Kangsar kemudian di tahun 1884, Frank Swettenham menanam 400 biji di Perak dimana biji ini merupakan hasil pohon karet yang ditanam di kuala kangsar dan selanjutnya antara tahun 1883 1885 ditanam di Selangor oleh T. H. Hill. Ridley juga mengenalkan teknik eksploitasi getah karet dengan penyadapan tanpa menebang pohon karetnya.

C. SEJARAH PERKEMBANGAN KARET DI INDONESIA

Tanaman karet mulai dikenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Tanaman karet yang paling tua diketemukan di Subang Jawa Barat yang ditanam pada tahun 1862. Pada tahun l864 tanaman karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk dikoleksi. Selanjutnya, karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah. Perkebunan karet dibuka oleh Hofland pada tahun 1864 di daerah Pamanukan dan Ciasem, Jawa Barat. Pertama kali jenis yang ditanam adalah karet rambung atau Ficus elastica. Tanaman karet (Hevea brasiliensis) ditanam di daerah Sumatera Timur pada tahun 1902, kemudian dibawa oleh perusahaan perkebunan asing ditanam di Sumatera Selatan. Pada waktu itu petani membuka hutan untuk menanam padi selama 2 tahun lalu ladang ditinggalkan ,sebelum meninggalkan ladang biasanya menanam tanaman keras seperti karet dan buahbuahan. Petani akan datang kembali setelah 10 - 12 tahun kemudian untuk menyadap kebun karetnya.

Perusahaan Harrison and Crossfield Company adalah perusahaan asing pertama yang mulai menanam karet di Sumatera Selatan dalam suatu perkebunan yang dikelola secara komersial, kemudian Perusahaan Sociente Financiere des Caoutchoues dari Belgia pada tahun 1909 dan diikuti perusahaan Amerika yang bernama Hollands Amerikaanse Plantage Maatschappij (HAPM) pada tahun 1910-1991. Perluasan perkebunan karet di Sumatera berlangsung mulus berkat tersedianya sarana transportasi yang memadai. Umumnya sarana transportasi ini merupakan warisan dari usaha perkebunan tembakau yang telah dirombak. Harga karet yang membumbung pada tahun 1910 dan 1911 menambah semangat para pengusaha perkebunan untuk mengembangkan usahanya. Walaupun demikian, pada tahun 19201921 terjadi depresi perekonomian dunia yang membuat harga karet merosot. Namun pada tahun 1922 dan 1926 terjadi ledakan harga lagi karena kurangnya produksi karet dunia sementara industri mobil di Amerika meningkatkan jumlah permintaan karet.

Perkebunan karet rakyat di Indonesia juga berkembang seiring naiknya permintaan karet dunia dan ledakan harga. Hal-hal lain yang ikut menunjang dibukanya perkebunan karet rakyat di beberapa daerah antara lain karena pemeliharaan tanaman karet relatif mudah dan rakyat mempunyai kepercayaan terhadap cerahnya masa depan perkebunan karet. Beberapa jemaah haji dari Indonesia pada waktu pulang dari Mekkah yang berhenti di Singapura atau Malaysia membawa biji karet untuk ditanam di Indonesia. Disamping itu dengan lancarnya perdagangan antara Sumatera dan Malaysia juga membantu berkembangnya usaha karet rakyat. Ledakan tingginya harga karet terutama setelah terjadi pada tahun 1922 dan 1926 menjadikan rakyat berlomba-lomba membuka kebun karet sendiri. Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu memang tidak membuat peraturan tentang pembukaan dan pengusahaan

perkebunan karet oleh rakyat. Akibat nya, lahan karet di Indonesia meluas secara tak terkendali sehingga kapasitas produksi karet menjadi berlebihan. Harga karet pun menjadi semakin sulit dipertahankan pada angka yang wajar. Kecenderungan yang terjadi adalah semakin menurunnya harga karet di pasaran.

Beberapa kali pemerintah Hindia Belanda merencanakan untuk melakukan pembatasan atau restriksi terhadap karet rakyat. Pada tanggal 7 Mei 1934 diadakan persetujuan antara Pemerintah Prancis, Britania Raya, Irlandia Utara, British Indie, Belanda dan Siam mengada-kan pembatasan dalam memproduksi karet dan ekspornya. Persetujuan ini diumumkan dalam Stbl. 1934 No. 51 yang selanjutnya diadakan perubahan dengan Stbl. 1936 No. 472 dan 1937 No. 432. Pada kenyataannya Pemerintah Hindia Belanda tidak berhasil melakukan restriksi karet di luar Jawa, maka Pemerintah Hindia Belanda melakukan pembatasan ekspor karet dengan pajak ekspor. Pajak ekspor ini mengakibatkan produksi menjadi turun dan menurunkan harga yang diterima ditingkat petani.

Kemudian pada tahun 1937-1942 diberlakukanlah kupon karet yang berfungsi sebagai surat izin ekspor karet diberikan kepada petani pemilik karet dan bukan kepada eksportir. Dengan sistem kupon ini petani karet dapat menjual karetnya ke luar negeri misalnya ke Singapura. Apabila petani karet tersebut tidak berkeinginan menjual karetnya langsung ke luar negeri maka ia dapat menjual kuponnya kepada petani lain atau kepada pedagang atau eksportir. Sistem kupon tersebut merupakan jaminan sosial bagi pemilik karet karena walaupun pohon karetnya tidak disadap, tetapi pemilik karet tetap menerima kupon yang bisa dijual atau diuangkan. Sistem kupon ini dimaksudkan pula untuk membatasi produksi (rubber restric-tion) karena bagi petani pemilik yang terpenting terpenuhinya kebutuhan ekonomi rumah tangganya dari hasil penjualan kupon yang diterimanya walaupun pohon karetnya tidak disadap.

Pada tahun 1944 Pemerintah Jepang yang berkuasa waktu itu membuat peraturan larangan perluasan kebun karet rakyat. Produksi karet rakyat yang akan diekspor dikenai pajak yang tinggi yaitu sebesar 50 % dari nilai keseluruhan. Kebijaksanaan tersebut berdampak menekan pada perkebunan karet rakyat. Pukulan yang menyakitkan ini tidak mematikan perkembangan perkebunan karet rakyat karena perkebunan karet rakyat masih tetap berjalan dan para petani karet masih percaya akan masa depan usahatani karetnya. Pedagang perantara yang banyak menyediakan barang-barang kebutuhan pokok dan menjadi penyalur produksi karet rakyat dengan jalan membeli hasil produksinya merupakan mata rantai yang tetap mempertahankan kelangsungan usahatani ini. Usahatani karet mereka tidak terlalu berpatokan pada peningkatan produksi dan keuntungan yang berlimpah. Apabila kebutuhan sehari-hari

untuk seluruh keluarga petani tercukupi maka petani akan terus mempertahankan usahatani kebun karetnya.

Setelah Perang Dunia II berakhir dan pengaruhnya agak reda di berbagai belahan dunia yang terlibat, maka permintaan akan karet menunjukkan peningkatan kembali. Indonesia pun agak merasa lega karena Jepang tidak lagi berkuasa. Sejak tahun 1945 perkebunan-perkebunan karet yang dulu diambil secara paksa oleh pihak Jepang dapat dilanjutkan kembali pengelolaannya oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah mengelola kembali perkebunan karet negara dan mengiatkan perkebunan karet rakyat yang diikuti oleh perkebunan karet swasta sehingga Indonesia menguasai pasaran karet alam internasional, tetapi perluasan areal karet dan peremajaan tanaman karet tua kurang perhatian akibatnya terjadi penurunan produksi karet alam Indonesia.

Pembangunan perkaretan di Indonesia pada Pembangunan Jangka Panjang Tahap I Tahun 1969 1994 diarahkan mendorong perkembangan ekonomi pedesaan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada tahun 1968 luas areal karet rakyat sekitar 1,7 juta ha meningkat menjadi 2,6 juta ha pada tahun 1993, terutama perluasan areal proyek bantuan pemerintah, namun luas tanaman karet tua dan rusak cukup luas sekitar 401 ribu ha. Petani lebih memilih penanaman karet baru secara tradisional dengan membuka lahan baru (blukar/hutan) dari pada meremajakan karet tuanya karena kebun karet tua dianggap masih merupakan asset yang sewaktu-waktu dapat dikelola (Forum Pengkajian Perkaretan, 1994).

Penanaman karet secara teknologi tradisional dilakukan sampai tahun 1980 di beberapa wilayah di Sumatera Selatan terutama di wilayah desa belum maju yang dicirikan oleh ketersediaan lahan yang masih cukup luas, belum ada proyek pengembangan karet dan keterbatasan pengetahuan petani. Pesatnya perkembangan penanaman kelapa sawit yang dilakukan perkebunan besar swasta dan negara sejak tahun 1990-an, disinyalir ada sebagian kebun petani yang dikonversi dengan kelapa sawit, karena lahan petani diikutsertakan sebagai kebun plasma atau diganti rugi oleh perusahaan. Namun perkembangan luas areal karet terus meningkat (Forum Bersama Pembangunan Perkebunan Sumatera Selatan, 2004).

Pada tahun 1977/1978 pengembangan perkebunan karet di Indonesia dilakukan pemerintah melalui empat pola yaitu (1) Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR), (2) Pola Unit Pelaksanaan Proyek (UPP), (3) Pola Bantuan Parsial, dan (4) Pola Pengembangan Perkebunan Besar (PPB).

a. Pola Perusahaan Inti Rakyat (Pola PIR) merupakan pengembangan perkebunan melalui pemanfaatan kelebihan kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan perkebunan besar untuk membantu pengembangan perkebunan rakyat di sekitarnya. Perusahaan besar ber-tindak sebagai inti dan perkebunan rakyat sebagai plasma. Selanjutnya setelah kebun plasma menghasilkan perusahaan inti turut mengolah dan memasarkan hasilnya. PIR berusaha menciptakan petani mandiri di wilayah bukaan baru dan ditujukan untuk kelompok masyarakat lokal maupun pendatang yang berminat menjadi petani karet. Seluruh biaya pembangunan kebun merupakan komponen kredit petani, sebelum karet produktif petani sebagai pekerja buruh plasma yang di upah.

Pemerintah membangun perkebunan karet melalui Pola PIR karet yaitu PIR Berbantuan, PIR Swadana dan PIR Transmigrasi di Indonesia sampai dengan tahun 1991 seluas 255.000 ha sedangkan di Sumatera Selatan seluas 159.261 ha dengan jumlah petani sebanyak 79.631 kepala keluarga (Forum Pengkajian Perkaretan, 1994). Melihat kondisi petani PIR mengalami masalah ketidak mampuan untuk melunasi kreditnya, penjualan bahan olah karet (bokar) keluar inti, mutu bokar yang rendah dan beragam serta eksploitasi tanaman karet yang berlebihan, maka sejak tahun 1991 pemerintah tidak lagi mengembangkan perkebunan karet melalui Pola PIR.

b. Pola Unit Pelaksanaan Proyek (Pola UPP) merupakan pengembangan perkebunan yang dilaksanakan di wilayah usahatani karet rakyat yang telah ada (existing) tetapi petani tidak mempunyai modal untuk membangun kebun. Pemerintah pusat telah mengembangkan perkebunan karet di Indonesia sampai dengan tahun 1991 melalui Pola UPP seluas 441.736 ha yaitu melalui proyek UPP Proyek Rehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE) sebanyak 69 %, dan Smallholder Rubber Development Project (SRDP) sebanyak 31 % sedangkan di Sumatera Selatan seluas 98.741 ha dengan jumlah petani sebanyak 98.741 kepala keluarga (Forum Pengkajian Perkebunan, 1994).

Pola UPP PRPTE dilaksanakan dengan prinsip petani mengelola sendiri sedangkan pihak UPP melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pembinaan. Kurang berjalannya UPP PRPTE disebabkan masih rendahnya minat dan pengetahuan petani akan bibit unggul, sarana transportasi terlantar dan pendanaan kurang berkesinambungan. Pola UPP SRDP dilaksanakan dengan prinsip petani mengelola sendiri mulai dari pembangunan kebun sedangkan pihak UPP memberikan bimbingan dan penyuluhan secara berkelompok dengan hamparan 20 ha dan paket kredit saprodi termasuk upah tenaga kerja.

Pola Sector Crops Develompment Project (SCDP) dilaksanakan dengan prinsip yang tidak berbeda dengan SRDP, hanya lokasinya diarahkan di daerah transmigrasi umum yang potensial karet. Selanjutnya pengembangan karet dibiayai dari proyek Tree Crops Smallholder Develompment Project (TCSDP) dalam mengembangkan kebun karet rakyat dilakukan merger konsentrasi yang dibiayai oleh Bank Dunia yaitu penggabungan mana-jemen yang berkaitan dengan teknologi, proses produksi dan pemasaran. Pembaharuan terhadap lembaga konversi dengan ketentuan biaya pada tahun pertama bersifat hibah dan tahun selanjutnya merupakan kredit komersial pengembangan penanaman karet baru pada tahun 1994 - 1998 seluas 65.000 ha. Proyek Tree Crops Smallholder Sector Project (TCSSP) mengembangkan kebun karet rakyat yang dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia seluas 73.000 ha.

c. Pola Bantuan Parsial merupakan kegiatan pembangunan perkebunan melalui pemberian bantuan parsial kepada petani secara gratis. Pola ini dilaksanakan pada wilayah yang berada di luar PIR dan UPP. Pola Bantuan Parsial terdiri dari Proyek Peningkatan Produksi Perkebunan Unit Pengelohan Hasil (P4UPH) dan Proyek Penanganan Wilayah Khusus (P2WK). P4UPH merupakan kegiatan untuk meningkatkan mutu bokar. Pada tahun 1992/ 1993 melalui proyek P4UPH telah dibantu 880 unit pengolahan karet berupa unit hand mangel. Proyek P2WK merupakan kegiatan pengembangan tanaman perkebunan dalam suatu skala ekonomis melalui bantuan gratis paket saprodi tanaman karet dan tanaman sela pada tahun pertama dan tahun berikutnya swadaya petani. Pola swadaya/berbantuan tersebut telah dilaksanakan di Sumatera Selatan pada tahun 1992/1993 seluas 32.106 ha dengan jumlah petani sebanyak 32.106 kepala keluarga.

Bentuk Pola Bantuan Parsial lainnya yaitu sistem usaha rayonisasi dimana adanya hubungan kerjasama usaha antara kelembagaan petani karet dengan perusahaan pengolah/eksportir berdasarkan prinsip saling membutuhkan, menguntungkan, kesetiaan dan penerapan etika bisnis yang baik.

d. Pola Pengembangan Perkebunan Besar (Pola PPB) merupakan sistem pengembangan perkebunan untuk para pengusaha baik dalam membangun kebun sendiri maupun sebagai inti dari pengembangan PIR. Pengembangan perkebunan besar melalui fasilitas Kredit Likuidasi Bank Indonesia (KLBI), Paket Deregulasi Januari 1990 (Pakjan 1990) dengan kredit bunga komersial dan Paket Juli 1992, melalui investasi joint venture dengan perusahaan asing.

Dana Sumbangan Wajib Eksportir (Kepres RI No. 301 tahun 1968) ditujukan untuk penelitian dan pengembangan komoditi karet, kemudian pada tahun 1979 terdapat Dana Tanaman Ekspor (DTE) ditujukan untuk overhead pembangunan sektor perkebunan dan setelah DTE ditiadakan maka dilanjutkan dengan pendanaan Kredit Investasi Kecil (KIK) yang sangat terbatas dan tidak diberi subsidi. Perkembangan peremajaan karet sejak diberlakukan paket deregulasi Januari 1990 dengan kredit bunga komersial disalurkan melalui dana kredit investasi kecil (KIK) yang sangat terbatas dan tidak diberikan subsidi. Oleh karena itu pengembangan peremajaan kebun karet sejak saat itu pada umumnya dilakukan secara swadaya petani baik secara bertahap maupun sekaligus.

Selanjutnya Pola Pengembangan Perusahaan Perkebunan melalui berbagai pola yaitu (1) Pola Usaha Koperasi Perkebunan, (2) Pola Patungan Koperasi Investor, (3) Pola Patungan Investor Koperasi, (4) Pola Build, Operate dan Transfer (BOT), dan (5) Pola BTN (investor bangun kebun dan atau pabrik kemudian dialihkan kepada koperasi). Perizinan usaha perkebunan diatur dengan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 107/Kpts.II/1995 kemudian direvisi dengan Keputusan Menteri Pertanian No: 357/Kpts Hk-350/5/2002 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan.

D. SEJARAH PERKEMBANGAN KARET DI RIAU

Tanaman karet merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Riau. Dalam bahasa lokal karet di sebut getah, sama dengan nama yang digunakan di semenanjung Malaya. Bagi saya, menarik untuk mengenal sejarah perkebunan karet di Riau. Perkembangan Perkebunan Karet tak dapat dipisahkan dari adanya krisis tembakau dan kopi yang menjadi komoditas andalan pemerintah kolonial Hindia Belanda, mendorong pemerintahan Hindia Belanda untuk membangun perkebunan karet. Pada tahun 1864, Perkebunan Karet mulai diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia, dengan pertama kali dibuka di daerah Pamanukan dan Ciasem (Jawa Barat) oleh Hofland perusahaan Belanda. Jenis tanaman karet yang ditanam di waktu itu adalah karet rambung (Ficus elastica). Dan karet jenis Hevea brasiliensis baru ditanam di Sumatera Timur, tahun 1902. Perkebunan Karet di Indonesia lebih berkembang setelah Netherlands Indiesmembuka pintu bagi para investor asing, terutama dari Inggris, Belanda dan Belgia serta Amerika. Seiring dengan itu,

pemerintah Hindia Belanda untuk pertama kalinya memperkenalkan sistem perkebunan besar (modern) yang dibuka di daerah Indragiri pada 1893. Selanjutnya disusul oleh perkebunan perkebunan lainnya. Sehingga pada 1915, di seluruh Kepulauan Riau, Indragiri dan Kuantan terdapat 12 onderneming. Tanah-tanah erfpachtyang luas di Japura, Kelawat, Sungai Lala, Sungai Parit, Gading, Air Molek dan Sungai Sagu, kemudian dimanfaatkan untuk ditanami pohon karet. Seiring dengan perkembangan permintaan karet-alam Dunia, terutama setelah adanya pengaruh boom harga karet-alam setelah PD II. Perkebunan karet yang dikelola oleh rakyat (perkebunan rakyat) sudah terlebih dahulu di kenal masyarakat Riau, bahkan jauh sebelum diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Petani mendapatkan benih atau bibit tanaman karet dari para jemaah haji yang singgah di Malaysia atau Singapura. Perantau Kuantan di Semenanjung Malaya juga dipercaya sebagai pembawa bibit karet. Sejarah mencatat orang Kuantan - Riau ramai yang merantau ke Semenanjung Malaya terutama akhir abad XIX dan awal abad XX, yang dikenal sebagai poi ke Kolang. Di semenanjung Malaya, sebagian perantau Kuantan ada yang berkebun Karet. Selain itu pedagang-pedagang Cina/ tauke (Malaysia dan Singapura) yang membeli produksi karet-rakyat, juga sering membawakan benih-benih karet untuk ditanam. Karena itu tanaman karet sudah merupakan bagian dari budaya kehidupan para petani di Riau. Selain didukung oleh kondisi alam, juga sistem pertanian-kebun bagi masyarakat Riau merupakan suatu bentuk adaptasi di bidang pertanian, karena cengkraman iklim dan kesuburan tanah di Riau yang tidak sebaik di Jawa yang sarat dengan intensifikasi tanaman pangan, maka subsektor perkebunan di Propinsi Riau melaju lebih cepat dibanding dengan sektor pertanian tanaman pangan. Jadi budaya pertani-kebun yang mendasari kehidupan penduduk di Riau adalah kehidupan pertanian yang berpusat pada lahan kering. Sehingga tanaman-tanaman utama yang telah lama menjadi kesukaan dan setting budaya mereka adalah tanaman karet dan kelapa. Sejarah perkembangan perkebunan karet Inderagiri didominasi oleh perusahaan perkebunan milik pemerintah kolonial ataupun swasta. Perkebunan Karet ini menjadi salah satu daya tarik perantau Jawa untuk migrasi ke Inderagiri dan bekerja di Perkebunan Karet (selain pertambangan minyak). Tidak heran daerah perkebunan Karet di Inderagiri terutama Airmolek dan sekitarnya bertumbuh menjadi daerah yang multietnik, dengan proporsi penduduk dari suku Jawa cukup besar, jauh sebelum pemerintah menyelenggarakan program transmigrasi. Jejak kejayaan Perkebunan Karet di daerah Airmolek pada masa lalu di antaranya adalah Rumah Sakit Plantagen, milik salah satu Perusahaan Karet pada masa itu. Terakhir saya melihat Rumah Sakit yang sudah menjadi bangunan kosong tak terawat

pada tahun 2002. Mudah-mudahan bangunan RS itu masih eksis dan alangkah baiknya bila dikonservasi dan dijadikan benda cagar budaya. Sementara itu di Kuantan, perkembangan Perkebunan Karet didominasi oleh Perkebunan Rakyat, dengan latar belakang sejarah seperti diuraikan di atas. Baru kemudian pada era 1990an perkebunan rakyat tersebut mendapat perhatian serius pengembangannya oleh pemerintah melalui program Small Holder Rubber Development Project (SRDP).