Anda di halaman 1dari 35

PENUGASAN TATSQIF 1434H IBNU KHALDUN RESUME DAKWAH SHAHABIYAH, KISAH NABI YAQUB, KISAH NABI ISHAQ, URGENSI

RUMAH TANGGA ISLAM, UMAR TILMISANI, DAN KAMAL AS-SANANIRI

HARIS ASTA PRADANA TEKNIK SIPIL/ MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI POLITEKNIK NEGERI MALANG

1. DAKWAH SHAHABIYAH 1.1.UMMU SULAIM BINTI MALHAN Nama lengkapnya adalah Rumaisha Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Naja al-Anshaiyah alKhazrajiyah. Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dihiasi pula dirinya dengan ketabahan, kebijaksanaan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berpikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena, beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama malik bin Nadhar untuk segera menikahinya yang akhirnya melahirkan Anas bin Malik. Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid mulai muncul, orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Ummu Sulaim termasuk golongan petama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di dalam masyarakat jahiliyah penyembah behala yang beliau buang tanpa ragu. Adapun kalangan petama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik, suaminya, yang barru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, Apakah engkau murtad dari agamamu? Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab, Tidak, bahkan aku telah beriman. Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu. (Lihat an-Nasai VI/144). Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cedas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya? Tanpa terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah. Kemudian beliau pun dinikahkan Islam sebagai mahar. Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis darri Anas: Aku belum penah mendengar seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam. (Sunan Nasai VI/114). Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thahah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan. Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami istri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan orang daiyah. Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama, yakni Ummu Sulaim. sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim. Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin malik yang menceitakan kepada kita bagaimana pelakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmenya tehadap Alquran sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempuna), sebelu kamu menafkahkan sebagian hata yang kamu cintai. (Ali Imran: 92). Seketika Abu Thalhah bediri menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata, Sesungguhnya Allah telah berfiman di dalam kitabnya (yang artinya), Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan sesungguhnya harta yang paling aku suk ai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah degan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesukamu ya Rasulullah. Bagus bagus itulah harta yang menguntungkan itulah harta yang mnguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu. Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada anak kerabatnya dan Bani dari pamanya. Allah memuliakan kedua orang suami istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan dengan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama

Abu Umair. Suatu ketika anak tersebut bemain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tesebut untuk meghibur dan bermain dengannya, Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu? (Al-Bukhari VII/109). Allah berkehendak untuk menguji keduanya denga seorang anak yang cakap dan dicintai. Suatu ketika Abu umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahya apabila kembali dari pasar, petama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenag sebelum melihat anaknya. Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka Ibu mukminah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridha dan baik. Sang ibu membaringkannya di temp[at tidur sambil senantiasa mengulangi, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya, Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya. Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan semangat menyambut suaminya dan menjawab seperti biasanya, Apa yang dilakukan oleh anakku? Beliau menjawab, Dia dalam keadaan tenang. Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena kahawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulim mendekati beliau dan memperssiapkan makan malam baginya, lalu beliau makan dan minum, sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangiwangian, kemudian keduanya pun berbuat sebagaimana layaknya suami istri. Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, maka beliau memuji Allah karena abeliau tidak membuat risau suaminya dana beliau bioarkan suaminya terlelap dalam tidurnya. Tatkala di akhir malam beliau berkata kepada suaminya, Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut menolaknya? Abu Thalhah menjawab, Tentu saja tidak boleh.

Kemudian Ummu Sulim berkata lagi, Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya? Abu Thalhah berkata, Berarti mereka tidak adil. Ummu Sulaim berkata, Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambil, maka tabahkanlah hatimua dengan meninggalnya anakmu. Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah, Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku? Beliau mengulangi kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur angsur jiwanya menjadi tenang. Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasullah Shallallahu alaihi wassalam dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua. Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, selanjutnya Anas berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata, Berikanlah nama bayi ya Rasulullah! beliau bersabda, Namanya Abdullah. Ubadah, salah seorang rijal sanad berkata, Aku melihat dia memiliki tujuh orang anak yang kesemuanya hafal Alquran.

Di antara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka aberdua yang manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata, Telah datang seorang laki-laki kepada Rasullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata, Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada di rumahnya, namun beiau menjawab, Demi yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya sama. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya. Maka berdirilah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah

seraya berkata, Saya, ya Rasulullah. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim), Apakah kamu memiliki makanan? Istrinya menjawab, Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak. Abu Thalhah berkata, Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk, maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah aberada di tangan, maka berdirilah dan matikanlah lampu. Hal itu dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut, sementara kedua istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah. Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian. Di akhir hadis disebutkan, maka turunlah ayat: Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). (Al-Hasyr: 9). Abu Thalhah tak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan kabar gembira itu kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dlam Alquran yang senantiasa dibaca. Selain berdakwah di lingkungannya, Ummu Sulaim juga turut andil dalam berjihad bersama pasukan kaum muslimin. Anas berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka. Begitulah, Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim, bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli jannah. Sumber: kitab Nisaa Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

1.2. KHAULAH BINTI TSALABAH Nama lengkapnya adalah Khaulah binti tsalabah bin Ashram bin Farah bin Tsalabah Ghanam bin Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit Radhiallahu anhu, yang senantiasa menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh peperangan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Dengan Aus inilah Khaulah melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi Suatu ketika Khaulah binti Tsalabah mendapati suaminya, Aus bin Shamit dalam suatu masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku. Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orangorang untuk beberapa lama. Selanjutnya Aus kembali ke Khaulah dan menginginkannya. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak Aus, sampai jelas hukum Allah Subhanahu wa Taala terhadap kejadian diatas. Khaulah berkata, Tidak jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan -Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita. Selanjutnya Khaulah menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, lalu dia mencerita- kan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan Nabi Shalallahu alaihi wasallam tentang urusan tersebut. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya. Wanita mukminah ini mengulangi perkataannya dan menjelaskan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tentang apa yang menimpa dirinya dan anaknya, jika dia harus bercerai dengan suaminya, namun Rasulullah Shalalahu alaihi wasallam tetap menjawab, Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya. Sesudah peristiwa tersebut wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Kedua matanya meneteskan air mata dan perasaan menyesal. Kemudian beliau berdoa, ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku.

Alangkah bagusnya apa yang dilakukan oleh Sahabiyah Khaulah Radhiallahu anha, beliau berdiri di hadapan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam kemudian berdialog untuk meminta fatwa. Setelah turunnya fatwa, yang memberatkannya beliaupun melakukan istighatsah (memohon pertolongan) dan mengadu hanya kepada Allah Taala. Ini menandakan kejernihan iman dan tauhid yang telah dipelajarinya dari Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Tiada henti-hentinya wanita ini berdoa sehingga suatu ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pingsan (sebagaimana biasanya beliau pingsan ketika menerima wahyu). Kemudian setelah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sadar kembali, beliau bersabda, Wahai Khaulah, sungguh Allah Subhanahu wa Taala telah menurunkan ayat Al-Quran tentang dirimu dan suamimu, kemudian beliau membaca firman QS. Al-Mujadalah: 1-4, yang artinya: Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, sampai firman Allah: dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih. Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar: Nabi: Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan seorang budak! Khaulah: Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan. Nabi: Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut. Khaulah: Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum. Nabi: Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin. Khaulah: Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya. Nabi: Aku bantu dengan separuhnya. Khaulah: Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah. Nabi: Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik. Maka Khaulahpun melaksanakannya.

Demikianlah sebuah kisah tentang sahabiyah yang mengajukan suatu perkara yang terjadi di rumah tangganya kepada Rasululllah, yang perkara Khaulah dan suaminya ini

merupakan permasalahan yang pertama kali terjadi di Umat Islam. Didalamnya terkandung banyak pelajaran. Selanjutnya sahabiyah ini semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, pernah menghentikan Umar bin Khaththab pada saat berjalan. Beliau kemudian memberikan nasehat-nasehat kepada Umar. Khaulah berkata, Wahai Umar, aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau menggembala kambing dengan tongkatmu. Kemudian berlalulah hari demi hari, sehingga Engkau memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu. Ketahuilah barangsiapa takut kepada maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan dan barangsiapa yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap adzab Allah. Beliau katakan hal itu sementara Umar bin Khaththab berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya. Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan atas hal ini, kemudian berkata kepada Khaulah, Engkau telah berbicara banyak (keterlaluan) kepada Amirul Mukminin wahai wanita.! Mendengar hal ini Umar balas menegur al-Jarud, Biarkan dia tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku sampai malam hari, maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau menyelesaikan hal yang dikehendakinya, kecuali jika telah datang waktu shalat, maka aku akan mengerjakan shalat, kemudian kembali mendengarkannya sampai selesai keperluannya. Sumber: kitab Nisaa Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi 1.3. UMMU IMARAH Nama lengkapnya adalah Nusaibah binti Kaab bin Amru bin Auf bin Mabdzul alAnshaiyah. Ia adalah seorang wanita dari Bani Mazin an-Najar. Beliau wanita yang bersegera masul Islam, salah seorang dari dua wanita yang bersama para utusan Anshar yang datang ke Mekah untuk melakukan baiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Disamping memiliki sisi keuatmaan dan kebaikan, ia juga suka berjihad, pemberani, ksatia, dan tidak takut mati di jalan Allah.

Nusaibah ikut pegi berperang dalam Perang Uhud besama suaminya (Ghaziyah bin Amru) dan bersama kedua anaknya dari suami yang prtama (Zaid bin Ashim bin Amru), kedua anaknya bernama Abdullah dan Hubaib. Di siang harri beliau membeikan minuman kepada yang terluka, namun tatkala kaum muslimin porang-poranda beliau segera mendekati Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan membawa pedang (untuk menjaga keselamatan Rasulullah) dan menyerang musuh dengan anak panah. Beliau beperang dengan dahsyat. Beliau menggunakan ikat pinggang pada peutnya hingga teluka sebanyak tiga belas tempat. Yang paling parah adalah luka pada pundaknya yang tekena senjara dai musuh Allah yang bernama Ibnu Qamiah yang akhirnya luka tersebut diobati selama satu tahun penuh hingga sembuh. Nusaimah sempat mengganggap ringan lukanyayang berbahaya ketika penyeu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berseru agar kaum muslimin menuju Hamraul Asad, maka Nusaibah mengikat lukanya dengan bajunya, akan tetapi tidak mampu untuk menghentikan cucuran daahnya. Ummu Umarah menutukan kejadian Perang Uhud demikian kisahnya, Aku melihat orang-oang sudah menjauhi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam hingga tinggal sekelompok kecil yang tidak sampai bilangan sepuluh orang. Saya, kedua anakku, dan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya, sementara orang-orang koca-kacir. Beliau melihatku tidak memiliki perisai, dan beliau melihat pula ada seorang laki-laki yang mundu sambil membawa perisai. Beliau besabda, Beikanlah peisaimu kepada yang sedang berperang! Lantas ia melempakannya, kemudian saya mengambil dan saya pegunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu yang menyerang kami adalah pasukan bekuda, seandainya mereka berrjalan kaki sebagaimana kami, maka dengan mudah dapat kami kalahkan insya Allah. Maka tatkala ada seorang laki-laki yang berkuda mendekat kemudian memukulku dan aku tangkis dengan pisaiku sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa degan pedangnya dan akhirnya dia hendak mundu, maka aku pukul urat kaki kudanya hingga jatuh teguling. Kemudian ketika itu Nabi berseu, Wahai putra Ummu imarah, bantulah ibumu bantulah ibumu. Selanjutnya putraku membantuku untuk mengalahkan musuh hingga aku berhasil membunuhnya. (Lihat Thabaqat Ibnu Saad VIII/412). Putra beliau yang bernama Abdullah bin Zaid bekata, Aku teluka. Pada saat itu dengan luka yang parah dan darah tidak berhenti mengalir, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Balutlah lukamu! Sementara ketika itu Ummu Imarh sedang menghadapi musuh, tatkala mendenga seuan Nabi, ibu menghampiriku dengan membawa

pembalut dari ikat pinggangnya. Lantas dibalutlah lukaku sedangkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdiri, ketika itu ibu bekata kepadaku, Bangkitlah besamaku dan tejanglah musuh!Hal itu membuat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Siapakah yang mampu berbuat dengan apa yang engkau pebuat ini wahai Ummu Imarah? Kemudian datanglah orang yang tadi melukaiku, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Inilah yang memukul anamu whai Ummu Imarah! Ummu Imarah becerita, Kemudian aku datangi orang tersebut kemudian aku pukul betisnya hingga roboh. Ummu Imarah melihat ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tersenyum karena apa yang telah diperbuat olehnya hingga kelihata gigi geraham beliau, beliau bersabda, Engkau telah menghukumnya wahai Ummu Imarah. Kemudian mereka pukul lagi dengan senjata hingga dia mati. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu dan meyejukkan pandanganmu dengan kelelahan musuh-musuhmu dan dapat membalas musuhmu di depan matamu. (Lihat Thabaqat Ibnu Saad VIII/413 414). Selain pada Perang Uhud, Ummu Imarah juga ikut pada dalam baiatur ridwan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam Perang Hudaibiyah, dengan demikian beliau ikut serta dalam Perang Hunain. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat, ada bebeapa kabilah yang mutad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab, selanjutnya khalifah Abu Bakar ash-Shidiq mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang murtad tesebut. Maka, bersegeralah Ummu Imarah mendatangi Abu Bakar dan meminta ijin kepada beliau untuk begabung bersama pasukan yang akan memerangi orang-orang yang mutad dai Islam. Abu Bakar ash-Shidiq bekata kepadanya, Sungguh aku telah mengakui pranmu di dalam perang Islam, maka berangkatlah dengan nama Allah. Maka, beliau berangkat bersama putranya yang bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim. Di dalam perang ini, Ummu Imarah mendapatkan ujian yang berat. Pada perang tesebut putranya tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan ia disiksa dengan bebagai macam siksaan agarr mau mengakui kenabian Musailamah al-Kadzab. Akan tetapi, bagi putra Ummu imarah yang telah tebiasa dididik untuk besabar tatkala beperang dan telah dididik agar cinta kepada kematian syahid, ia tidak kenal kompomi sekalipun diancam. Tejadilah dialog antaraya dengan Musailamah: Musailamah: Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? Hubaib: Ya

Musailamah: Engkau besaksi bahwa aku adalah Rasulullah? Hubaib: Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu. Kemudian Musailamah al-Kadzab memotong-motong tubuh Hubaib hingga tewas. Suatu ketika Ummu Imarah ikut serta dalam perang Yamamah besama putranya yang lain, yaitu Abdullah. Beliau bertekad untuk dapat membunuh Musailamah dengan tangannya sebagai balasan bagi Musailamah yang telah membunuh Hubaib, akan tetapi takdir Allah menghendaki lain, yaitu bahwa yang mampu membunuh adalah putra beliau yang satunya, yaitu Abdullah. Ia membalas Musailamah yang telah membunuh saudara kandungnya.

Tatkala membunuh Musailamah, Abdullah bekeja sama dengan Wahsyi bin Harb, tatkala ummu imarah mengetahui kematian si Thaghut al-Kadzab, maka beliau bersujud syukur kepada Allah. Ummu Imarah pulang dari peperangan dengan membawa dua belas luka pada tubuhnya setelah kehilangan satu tangannya dan kehilangan anaknya yang terakhir, yaitu Abdullah. Sungguh, kaum muslimin pada masanya mengetahui kedudukan beliau. Abu Bakar ash-Shidiq penah mendatangi beliau untuk menanyakan kondisinya dan menenangkan beliau. Khalid si pedang Islam membantu atas penghomatannya, dan seharusnyalah kaum muslimin di zaman kita juga mengetahui haknya pula. Beliau sungguh telah mengukir sejarahnya dengan tinta emas. Sumber: kitab Nisaa Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

1.4.UMMU SYURAIK Namanya adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim. Beliau seorang wanita dari Quraisy, wanita dari Bani Amir bin Luai dan ia pernah menjadi istri Abu al-Akr ad-Dausi. Beliau merasa simpati hatinya dengan Islam sejak masih di Mekah, hingga menjadi mantaplah iman di hatinya dan beliau memahami kewajiban dirinya terhadap din yang lurus sehingga beliau mempersembahkan hidupnya untuk menyebarkan dakwah tauhid, meninggikan kalimat Allah dan mengibarkan panji laa ilaha illallahu muhammadur rasulullahi. Mulailah Ummu Syuraik bergerak untuk berdakwah dan mengajak wanita-wanita Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Beliau berdakwah kepada mereka, memberikan dorongan-dorongan agar mereka masuk Islam tanpa kenal lelah dan jemu. Beliau

menyadari resiko yang akan menimpa dirinya, baik pengorbanan maupun penderitaan, serta resiko yang telah menghadangnya, berupa gangguan dan siksaan terhadap jiwa dan harta. Akan tetapi, iman bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan oleh lisan, melainkan iman pada hakikatnya memiliki konsekuensi dan amanah yang mengandung beban dan iman berarti jihad yang membutuhkan kesabaran. Takdir Allah menghendaki setelah masa berlalu beberapa lama, mulailah hari-hari ujian, hari-hari menghadapi cobaan yang mana aktivitas Ummu Syuraik ra telah diketahui penduduk Mekah. Akhirnya, mereka menangkap beliau dan berkata, Kalaulah bukan karena kaum kamu, kami akan tangani sendiri. Akan tetapi, kami akan menyerahkan kamu kepada mereka. Ummu Syuraik berkata, Maka datanglah keluarga Abu al-Akr (yakni kelurga suaminya) kepadaku kemudian berkata, Jangan-jangan engkau telah masuk kepada agamanya (Muhammad)? Beliau berkata, Demi Allah, aku telah masuk agama Muhammad. Mereka berkata, Demi Allah, aku akan menyiksamu dengan siksaan yang berat. Kemudian, mereka membawaku dari rumah kami, kami berada di Dzul Khalashah (terletak di Shana), mereka ingin membawaku ke sebuah tempat dengan mengendarai seekor onta lemah, yakni kendaraan mereka yang paling jelek dan kasar. Mereka memberiku makan dan madu, akan tetapi tidak memberikan setetes air pun kepadaku. Hingga manakala tengah hari dan matahari telah terasa panas, mereka menurunkan aku dan memukuliku, kemudian mereka meninggalkanku di tengah teriknya matahari hingga hampir-hampir hilang akalku, pendengaranku dan penglihatanku. Mereka melakukan hal itu selama tiga hari. Tatkala hari ketiga, mereka berkata kepadaku, Tinggalkanlah agama yang telah kau pegang! Ummu Syuraik berkata, Aku sudah tidak lagi dapat mendengar perkataan mereka, kecuali satu kata demi satu kata dan akau hanya mmeberikan isyarat dengan telunjukku ke langit sebagai isyarat tauhid. Ummu Syuraik melanjutkan, Demi Allah, tatkala aku dalam keadaan seperti itu, ketika sudah berat aku rasakan, tiba-tiba aku mendapatkan dinginnya ember yang berisi air di atas dadaku (beliau dalam keadaan berbaring), maka aku segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk. Kemudian, ember tersebut terangkat dan aku melihat ternyata ember tersebut menggantung antara langit dan bumi dan aku tidak mampu mengambilnya. Kemudian, ember tersebut menjulur kepadaku untuk yang kedua kalinya, maka aku minum darinya kemudian terangkat lagi. Aku melihat ember tersebut berada antara langit dan bumi. Kemudian, ember tersebut menjulur kepadaku untuk yang ketiga kalinya, maka aku minum darinya hingga aku kenyang dan aku guyurkan ke kepala,

wajah dan bajuku. Kemudian, mereka keluar dan melihatku seraya berkata, Dari mana engkau dapatkan air itu wahai musuh Allah. Beliau menjawab, Sesungguhnya musuh Allah adalah selain diriku yang menyimpang dari agama-Nya. Adapun pertanyaan kalian dari mana air itu, maka itu adalah dari sisi Allah yang dianugerahkan kepadaku. Mereka bersegera menengok ember mereka dan mereka dapatkan ember tersebut masih tertutup rapat belum terbuka. Lalu, mereka berkata, Kami bersaksi bahwa Rabbmu adalah Rabb kami dan kami bersaksi bahwa yang telah memberikan rizki kepadamu di tempat ini setelah kami menyiksamu adalah Dia Yang Mensyariatkan Islam. Akhirnya, masuklah mereka semuanya ke dalam agama Islam dan semuanya berhijrah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan mereka mengetahui keutamaanku atas mereka dan apa yang telah dilakukan Allah terhadapku. Semoga Allah merahmati Ummu Syuraik, yang telah mengukir sebaik-baik contoh dalam berdakwah ke jalan Allah, dalam hal keteguhan dalam memperjuangkan iman dan akidahnya dan dalam bersabar di saat menghadapi cobaan serta berpegang kepada tali Allah. Marabahaya tidak menjadikan beliau kendor ataupun lemah yang

mengakibatkan beliau bergeser walaupun sedikit untuk menyelamatkan jiwanya dari kematian dan kebinasaan. Akan tetapi, hasil dari ketegaran beliau, Allah memuliakan beliau dan menjadikan indah pandangan matanya dengan masuknya kaumnya ke dalam agama Islam. Inilah target dari apa yang dicita-citakan oleh seorang muslim dalam berjihad. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda yang artinya, Sungguh, seandainya Allah memberikan hidayah kepada satu orang karena dakwahmu, maka itu lebih baik dari onta yang merah (harta kekayaan yang paling berharga). 1.5.Aisyah binti Abu Bakar ashidiq (shahabiyah) Aisyah adalah belahan jiwa Rasulullah saw di dunia dan di akhirat. Beliau, adalah sosok ahli fiqih yang taat pada Rabbnya. Pada saat Rasulullah saw meninggal dunia, usia Aisyah baru menginjak 19 tahun setelah sembilan tahun hidup bersama Rasulullah saw. Namun demikian, Aisyah telah memenuhi seluruh penjuru dunia dengan ilmu. Dalam hal periwayatan hadits, beliau adalah tokoh yang sulit di cari bandingannya. Ia lebih memahami hadits, dibanding istri-istri Rasul yang lain. Dalam masalah jumlah hadits yang diriwayatkannya, tidak ada yang menandingi, selain Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar.Ad-Dhahabi berkomentar dalam kitab as Sair jilid II, halaman 240, Saya tidak pernah melihat pada umat Muhammad saw, bahkan wanita secara keseluruhan, ada seorang wanita yang lebih alim dari Aisyah RA. Dalam

beberapa kasus, Aisyah mengoreksi pemahaman para sahabat dan menjadi rujukan dalam memahami praktek Rasulullah saw. Di dalam al Mustadrak, az-Zuhri berkomentar: seandainya ilmu semua manusia dan ilmu istri-istri nabi digabungkan, niscaya ilmu Aisyah lebih luas dari ilmu mereka. Menurut Adz-Dzahabi, musnah Aisyah mencapai 2210 hadits. Imam Bukhari dan Imam Muslim sepakat atas riwayat Aisyah sebanyak 140 hadits. Secara individu Bukhari meriwayatkan 54 hadits Aisyah, dan Muslim meriwayatkan 69 hadits. Hakim Abu abdillah berkata: Aisyah RA, membawa syariah Islam. Urwah Ibnu Zubair berkata: Saya tidak melihat seorang pun yang lebih pandai dalam masalah ilmu fiqih, kedokteran, dan sastra selain Aisyah RA. Demikianlah keluasan ilmu Aisyah RA. Para wanita mukminah di masa sekarang ini, khususnya para aktivis dakwah sudah semestinya meneladani beliau RA dalam hal keluasan ilmunya. Ya Alim, rabbi zidni ilmaa. Sumber: tabiiyahhttp://www.dakwatuna.com/2012/04/20/19941/teladan-dari-shahabiyah-dan-

2. Kisah Nabi Ishaq Saat beberapa malaikat itu mendatangi Nabi Ibrahim, tentunya Nabi Ibrahim menyambut para malaikat itu dengan sangat baik serta mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu, lalu ia pun segera menyiapkan jamuan makan untuk para malaikat itu. Nabi Ibrahim merupakan hamba Allah yang selalu memuliakan tamu, selain itu ia juga merupakan orang yang dermawan. Beberapa saat kemudian, suami istri sarah ini datang daging anak saping gemuk yang telah dipanggang lalu menghidangkan kepada tamunya tersebut. Meski telah dihidangkan makanan dan minuman yang lezat, namun mereka tidak makan dan minum jamuan yang telah disajikan oleh Nabi Ibrahim. Tentunya hal itu membuat Nabi Ibrahim takut terhadap tamu tamunya itu, kemudian para malaikat itu menenangkan dan member tahu siapa mereka dan menyampaikan kabar gembira bahwa akan lahir seorang anak yang alim. Cerita Nabi Ishaq- Pada saat yang bersamaan, istri Nabi Ibrahim mendengar pembicaraan antara malaikat dengan Nabi Ibrahim. Ia pun datang menghampiri mereka dengan keheranan terhadap kabar yang mereka bawa. Ia bingung bagaimana mungkin ia akan melahirkan, padahal ia merupakan wanita yang telah tua dan juga mandul, saat itu usianya telah mencapai 90 tahun. Sementara itu suaminya juga telah

berusia lanjut. Hal tersebut juga tertulis dalam Al Qur an yang berbunyi sebagai berikut Istri berkata : Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh (Qs. 11 : 72) Maka malaikat pun berkata ; mereka berkata Demikianlah Tuhanmu memfirmankan, sesungguhnya Dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui (QS 51 : 30) Mendengar berita itu, Nabi Ibrahim as pun menjadi tenang dan berbahagia, mereka sangat bersyukur kepada Allah SWT atas adanya kabar tersebut. Sebagaimana yang telah difirmankan dalam Al Qur an dan ingatlah hamba-hamba kami : Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub yang mempunyai perbuatan perbuatan yang besar dan ilmu ilmu yang tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan (menganugrahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi kami benar-benar termasuk orang-orang pilihanyang paling baik (QS : 38 : 45 47) Dan yang dinanti-nantinya ternyata akan tiba. Selang beberapa waktu, maka datanglah apa yang dinantikan itu, yaitu siti sarah melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq oleh Nabi Ibrahim as. Saat itu, usia Nabi Ibrahim as telah 100 tahun. Nabi Ishaq as lahir empat belas tahun setelah kelahiran Nabi ismail as Al Quranul karim tidak menyebuatkan secara panjang lebar kisah Nabi isaq as, demikin pula tentang kaum yang kepada mereka diutus Nabi Ishaq. Namuun Allah memuji Nabi Ishaq as di beberapa tempat dalam al qur an, antara lain sebagai berikut : dan ingatlah hamba-hamba kami : Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub yang mempunyai perbuatan perbuatan yang besar dan ilmu ilmu yang tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan (menganugrahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi kami benar-benar termasuk orang-orang pilihanyang paling baik (QS : 38 : 45 47)

Sementara itu dalam sabdanya, Nabi Muhammad saw juga memuji Nabi Ishaq as. : yang mulia putera yang mulia, putera yang mulia dan putera yang mulia adalah Yusuf putera Yaqub, putera Ishaq, putera Ibrahim (Hr. Bukhari dan muslim)

Ahli kitab menyebutkan bahwa Nabi Ishaq as ketika menikah dengan Rafqah binti batuil saat ayahnya yaitu ibraim as masih hidup, saat itu usianya telah mencapai 40 tahun. Dan istrinya juga sempat menjadi mandul seperti ibunya, maka Nabi Ishaq as pun berdoa memohon kepada Allah untuknya, sehingga istrinya pun hamil dan melahirkan putera kembar yang pertama bernama Iishuu. Orang-orang arab menyebutnya Ish; ia merupakan nenek moyang dari bangsa romawi. Yang kedua bernama Yaqub. Disebut Yaqub kare ia terlahir dalam keadaan memegang tumit saudaranya. Putra Ishaq yang bernama Yaqub inilah yang nantinya menjadi Nabi dan rasul Allah dan Nabi Yaqub akan mendapat keturunan yang banyak, di antaranya Nabi yusuf as yang menjadi menjadi Nabi dan rasul. Dan dari Nabi Ishaq as inilah menurunkan Nabi-Nabi dari bani israil yang kemudian sampai pada Isa as. Setelah Nabi isa as, kemudian diakhiri dengan Nabi muhammad dari keturunan Nabi Ismai as.

Setelah Nabi Ishaq as menyeleseaikan tugasnya sebagai Nabi dan rasul utusan Allah, ia meninggal dunia pada usia 180 tahun dan dimakamkan di Jirun, yang saat ini menjadi kota yang bernama Madinah. 3. Kisah Nabi Yaqub Nabi Yaqub adl putera dari Nabi Ishaq bin Ibrahim sedang ibunya adl anak saudara dari Nabi Ibrahim bernama Rifqah binti Azar. Ia adl saudara kembar dari putera Ishaq yg kedua bernama Ishu. Antara kedua saudara kembar ini tidak terdapat suasana rukun dan damai serta tidak ada menaruh kasih-sayang satu terhadap yg lain bahkan Ishu mendendam dengki dan iri hati terhadap Yaqub saudara kembarnya yg memang dimanjakan dan lbh disayangi serta dicintai oleh ibunya. Hubungan mereka yg renggang dan tidak akrab itu makin buruk dan tegang setelah diketahui oleh Ishu bahwa Yaqublah yg diajukan oleh ibunya ketika ayahnya minta kedatangan anak-anaknya utk diberkahi dan didoakan sedangkan dia tidak diberitahu dan karenanya tidak mendapat kesempatan seperti Yaqub memperoleh berkah dan doa ayahnya Nabi Ishaq. Melihat sikap saudaranya yg bersikap kaku dan dingin dan mendengar kata-kata sindirannya yg timbul dari rasa dengki dan irihati bahkan ia selalu diancam maka datanglah Yaqub kepada ayahnya mengadukan sikap permusuhan itu. Ia berkata mengeluh : Wahai ayahku! Tolonglah berikan fikiran kepadaku bagaimana harus aku menghadapi saudaraku Ishu yg membenciku mendendam dengki kepadaku dan selalu

menyindirku dgn kata-kata yg menyakitkan hatiku sehinggakan menjadihubungan persaudaraan kami ber dua renggang dan tegang tidak ada saling cinta mencintai saling sayang-menyayangi. Dia marah krn ayah memberkahi dan mendoakan aku agar aku memperolehi keturunan soleh rezeki yg mudah dan kehidupan yg makmur serta kemewahan . Dia menyombongkan diri dgn kedua orang isterinya dari suku Kanaan dan mengancam bahwa anak-anaknya dari kedua isteri itu akan menjadi saingan berat bagi anak-anakku kelak didalam pencarian dan penghidupan dan macam-macam ancaman lain yg mencemas dan menyesakkan hatiku. Tolonglah ayah berikan aku fikiran bagaimana aku dapat mengatasi masalah ini serta mengatasinya dgn cara kekeluargaan.

Berkata si ayah Nabi Ishaq yg memang sudah merasa kesal hati melihat hubungan kedua puteranya yg makin hari makin meruncing: Wahai anakku krn usiaku yg sudah lanjut aku tidak dapat menengahi kamu berdua ubanku sudah menutupi seluruh kepalaku badanku sudah membongkok raut mukaku sudah kisut berkerut dan aku sudak berada di ambang pintu perpisahan dari kamu dan meninggalkan dunia yg fana ini. Aku khuatir bila aku sudah menutup usia gangguan saudaramu Ishu kepadamu akan makin meningkat dan ia secara terbuka akan memusuhimu berusaha mencari kecelakaan mu dan kebinasaanmu. Ia dalam usahanya memusuhimu akan mendapat sokongan dan pertolongan dan saudarasaudara iparnya yg berpengaruh dan berwibawa di negeri ini. Maka jalan yg terbaik bagimu menurut fikiranku engkau harus pergi meninggalkan negeri ini dan berhijrah engkau ke Fadan Araam di daerah Irak di mana bermukin bapa saudaramu saudara ibumu Laban bin Batu;il. Engkau dapat mengharap dikahwinkan kepada salah seorang puterinya dan dgn demikian menjadi kuatlah kedudukan sosialmu disegani dan dihormati orang krn karena kedudukan mertuamu yg menonjol di mata masyarkat. Pergilah engkau ke sana dgn iringan doa drpku semoga Allah memberkahi perjalananmu memberi rezeki murah dan mudah serta kehidupan yg tenang dan tenteram. Nasihat dan anjuran si ayah mendapat tempat dalam hati si anak. Yaqub melihat dalam anjuran ayahnya jalan keluar yg dikehendaki dari krisis hubungan persaudaraan antaranya dan Ishu apalagi dgn mengikuti saranan itu ia akan dapat bertemu dgn bapa saudaranya dan anggota-anggota keluarganya dari pihak ibunya .Ia segera berkemaskemas membungkus barang-barang yg diperlukan dalam perjalanan dan dgn hati yg terharu serta air mata yg tergenang di matanya ia meminta kepada ayahnya dan ibunya ketika akan meninggalkan rumah.

Nabi Yaqub Tiba di Irak Dengan melalui jalan pasir dan Sahara yg luas dgn panas mataharinya yg terik dan angi samumnya yg membakar kulit Yaqub meneruskan perjalanan seorang diri menuju ke Fadan Aram dimana bapa saudaranya Laban tinggal. Dalam perjalanan yg jauh itu ia sesekali berhenti beristirehat bila merasa letih dan lesu .Dan dalam salah satu tempat perhentiannya ia berhenti krn sudah sgt letihnya tertidur dibawah teduhan sebuah batu karang yg besar .Dalam tidurnya yg nyenyak ia mendapat mimpi bahwa ia dikurniakan rezeki luas penghidupan yg aman damai keluarga dan anak cucuc yg soleh dan bakti serta kerajaan yg besar dan makmur. Terbangunlah Yaqub dari tidurnya mengusapkan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri dan sedarlah ia bahawa apa yg dilihatnya hanyalah sebuah mimpi namun ia percaya bahwa mimpinya itu akan menjadi kenyataan di kemudian hari sesuia dgn doa ayahnya yg masih tetap mendengung di telinganya. Dengan diperoleh mimpi itu ia merasa segala letih yg ditimbulkan oleh perjalanannya menjadi hilang seolah-olah ia memperolehi tanaga baru dan bertambahlah semangatnya utk secepat mungkin tiba di tempat yg di tuju dan menemui sanak-saudaranya dari pihak ibunya. Tiba pada akhirnya Yaqub di depan pintu gerbang kota Fadan Aram setelah berharihari siang dan malam menempuh perjalanan yg membosankan tiada yg dilihat selain dari langit di atas dan pasir di bawah. Alangkah lega hatinya ketika ia mulai melihat binatangbinatang peliharaan berkeliaran di atas ladang-ladang rumput burung-burung

berterbangan di udara yg cerah dan para penduduk kota berhilir mundir mencari nafkah dan keperluan hidup masing-masing. Sesampainya disalah satu persimpangan jalan ia berhenti sebentar bertanya salah seorang penduduk di mana letaknya rumah saudara ibunya Laban barada. Laban seorang kaya-raya yg kenamaan pemilik dari suatu perusahaan perternakan yg terbesar di kota itu tidak sukar bagi seseorang utk menemukan alamatnya. Penduduk yg ditanyanya itu segera menunjuk ke arah seorang gadis cantik yg sedang menggembala kambing seraya berkata kepada Yaqub:Kebetulan sekali itulah dia puterinya Laban yg akan dapat membawamu ke rumah ayahnya ia bernama Rahil. Dengan ahti yg berdebar pergilah Yaqub menghampiri yg ayu itu dan cantik itu lalu dgn suara yg terputus-putus seakan-akan ada sesuatu yg mengikat lidahnya ia mengenalkan diri bahwa ia adl saudara sepupunya sendiri. Ibunya yg bernama Rifqah adl saudara kandung dair ayah si gadis itu. Selanjutnya ia menerangkan kepada gadis itu bahwa ia datang ke Fadam Araam dari Kanaan dgn tujuan hendak menemui Laban

ayahnya utk menyampaikan pesanan Ishaq ayah Yaqub kepada gadis itu. Maka dgn senang hati sikap yg ramah muka yg manis disilakan yaqub mengikutinya berjalan menuju rumah Laban bapa saudaranya. berpeluk-pelukanlah dgn mesranya si bapa saudara dgn anak saudara menandakan kegembiraan masing-masing dgn pertemuan yg tidak disangka-sangka itu dan mengalirlah pada pipi masing-masing air mata yg dicucurkan oleh rasa terharu dan sukcita. Maka disapkanlah oleh Laban bin Batuil tempat dan bilik khas utk anak saudaranya Yaqub yg tidak berbeda dgn tempat-tempat anak kandungnya sendiri di mana ia dapat tinggal sesuka hatinya seperti di rumahnya sendiri. Setelah selang beberapa waktu tinggal di rumah Laban bapa saudaranya sebagai anggota keluarga disampaikan oleh Yaqub kdp bapa saudranya pesanan Ishaq ayahnya agar mereka berdua berbesan dgn mengahwinkannya kepada salah seorang dari puteriputerinya. Pesanan tersebut di terima oleh Laban dan setuju akan mengahwinkan Laban dgn salah seorang puterinya dgn syarat sebagai maskahwin ia harus memberikan tenaga kerjanya di dalam perusahaan penternakan bakal mentuanya selama tujuh tahun. Yaqub menyetujuinya syarat-syarat yg dikemukakan oleh bapa saudaranya dan bekerjalah ia sebagai seorang pengurus perusahaan penternakan terbesar di kota Fadan Araam itu. Setelah mas tujuh tahun dilampaui oleh Yaqub sebagai pekerja dalam perusahaan penternakan Laban ia menagih janji bapa saudaranya yg akan mengambilnya sebagai anak menantunya. Laban menawarkan kepada yaqub agar menyunting puterinya yg bernama Laiya sebagai isteri namun anak saudaranya menghendaki Rahil adik dari Laiya kerana lbh cantik dan lbh ayu dari Laiya yg ditawarkannya itu.Keinginan mana diutarakannya secara terus terang oleh Yaqub kepada bapa saudaranya yg juga dari pihak bapa saudaranya memahami dan mengerti isi hati anak saudaranya itu. Akan tetapi adat istiadat yg berlaku pada waktu itu tidak mengizinkan seorang adik melangkahi kakaknya kahwin lbh dahulu. karenanya sebagi jalan tengah agak tidak mengecewakan Yaqub dan tidak pula melanggar peraturan yg berlaku Laban menyarankan agar anak saudaranya Yaqub menerima Laiya sebagai isteri pertama dan Rahil sebagai isteri kedua yg akan di sunting kelak setelah ia menjalani mas kerja tujuh tahun di dalam perusahaan penternakannya. Yaqub yg sangat hormat kepada bapa saudaranya dan merasa berhutang budi kepadanya yg telah menerimanya di rumah sebagai keluarga melayannya dgn baik dan tidakdibeda-bedakan seolah-olah anak kandungnya sendiri tidak dapat berbuat apa-apa

selain menerima cadangan bapa saudaranya itu . Perkahwinan dilaksanakan dan kontrak utk masa tujuh tahun kedua ditanda-tangani. Begitu masa tujuh tahun kedua berakhir dikahwinkanlah Yaqub dgn Rahil gadis yg sangat dicintainya dan selalu dikenang sejak pertemuan pertamanya tatkala ia masuk kota Fadan Araam. Dengan demikian Nabi Yaqub beristerikan dua wanita bersaudara kakak dan adik hal mana menurut syariat dan peraturan yg berlaku pada waktu tidak terlarang akan tetapi oleh syariat Muhammad s.a.w. hal semacam itu diharamkan. Laban memberi hadiah kepada kedua puterinya iaitu kedua isteri yaqub seorang hamba sahaya utk menjadi pembantu rumahtangga mereka. Dan dari kedua isterinya serta kedua hamba sahayanya itu Yaqub dikurniai dua belas anak di antaraya Yusuf dan Binyamin dari ibu Rahil sedang yg lain dari Laiya. Kisah Nabi Yaqub Di Dalam Al-Quran Kisah Nabi Yaqub tidak terdapat dalam Al-Quran secara tersendiri namun disebutsebut nama Yaqub dalam hubungannya dgn Ibrahim Yusuf dan lain-lain nabi. Bahan kisah ini adl bersumberkan dari kitab-kitab tafsir dan buku-buku sejarah.

4. URGENSI RUMAH TANGGA ISLAM Islam agama yang diturunkan Allah swt. kepada manusia untuk menata seluruh dimensi kehidupan mereka. Setiap ajaran yang digariskan agama ini tidak ada yang berseberangan dengan fitrah manusia. Unsur hati, akal, dan jasad yang terdapat dalam diri manusia senantiasa mendapatkan khithab ilahi (arahan Allah) secara proporsional. Oleh karenanya, Islam melarang umatnya hidup membujang laiknya para pendeta. Hidup hanya untuk memuaskan dimensi jiwa saja dan meninggalkan proyek berkeluarga dengan anggapan bahwa berkeluarga akan menjadi penghalang dalam mencapai kepuasan batin. Hal ini merupakan bentuk penyimpangan fitrah manusia yang berkaitan dengan unsur biologis. Berkeluarga dalam Islam merupakan sunnatullah yang berlaku untuk semua makhluk (kecuali malaikat), baik manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Bahkan ditekankan dalam ajaran Islam bahwa nikah adalah sunnah Rasulullah saw. yang harus diikuti oleh umat ini. Nikah dalam Islam menjadi sarana penyaluran insting dan libido yang dibenarkan dalam bingkai ilahi. Agar kita termasuk dalam barisan umat ini dan menjadi manusia yang memenuhi hak kemanusiaan, maka tidak ada kata lain kecuali harus mengikuti Sunnah Rasul, yaitu nikah secara syari. Meskipun ada sebagian Ulama yang

sampai wafatnya tidak sempat berkeluarga. Dan ini bukan merupakan dalih untuk melegalkan membujang seumur hidup. Adapun hukumnya sendiri menurut ulama bertingkat sesuai faktor yang menyertainya. Coba perhatikan beberapa nash di bawah ini: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu. (An-Nisa: 1) Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Ar-Rum: 21) . . . 745 2/7 . .

Saidbin Abu Maryam menceritakan kepada kami, Muhammad bin Jafar mengabarkan kepada kami, Humaid bin Abu Humaid At-Thawil bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik r.a. berkata: Ada tiga orang yang mendatangi rumah-rumah istri Nabi saw. menanyakan ibadah Nabi saw. Maka tatkala diberitahu, mereka merasa seakan-akan tidak berarti (sangat sedikit). Mereka berkata: Di mana posisi kami dari Nabi saw., padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang. Salah satu mereka berkata: Saya akan qiyamul lail selama-lamanya. Yang lain berkata: Akan akan puasa selamanya. Dan yang lain berkata: Aku akan menghindari wanita, aku tidak akan pernah menikah. Lalu datanglah Rasulullah saw. seraya bersabda: Kalian yang bicara ini dan itu, demi Allah, sungguh aku yang paling takut dan yang paling takwa kepada Allah. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat, aku tidur, dan aku juga menikah. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku. (Al-Bukhari)

Ada beberapa faktor yang mendasari urgensinya pembentukan keluarga dalam Islam sebagaimana berikut: 1. Perintah Allah swt. Membentuk dan membangun mahligai keluarga merupakan perintah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. dalam beberapa firman-Nya. Agar teralisasi kesinambungan hidup dalam kehidupan dan agar manusia berjalan selaras dengan fitrahnya. Kata keluarga banyak kita temukan dalam Al-Quran seperti yang terdapat dalam beberapa ayat berikut ini;

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6)

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syuara:


214)

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu


dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Thaha: 132) 2. Membangun Masuliah Dalam Diri Seorang Muslim. Sebelum seorang berkeluarga, seluruh aktivitasnya hidupnya hanya fokus kepada perbaikan dirinya. Masuliah (tanggung jawab) terbesar terpusat pada ucapan, perbuatan, dan tindakan yang terkait dengan dirinya sendiri. Dan setelah membangun mahligai keluarga, ia tidak hanya bertanggungjawab terhadap dirinya saja. Akan tetapi ia juga harus bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bagaimana mendidik dan memperbaiki istrinya agar menjadi wanita yang shalehah. Wanita yang memahami dan melaksanakan hak serta kewajiban rumah tangganya. Bagaimana mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi rabbani nan qurani. Coba kita perhatikan beberapa hadits berikut ini: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya Allah Taala akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap


pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya.

(Hadits gharib dalam Hilayatul Auliya, 9/235, diriwayatkan oleh An-Nasai dalam Isyratun Nisaa, hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami, no.1775; As-Silsilah Ash-Shahihah no.1636). . Dari Aisyah r.a., berkata: Nabi saw. bersabda: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada kelurganya dan aku paling baik bagi keluargaku. (Imam Al-Baihaqi) : )) : (( - - :

Dari Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah saw. bersabda: Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya. (Imam At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits hasan shahih. 3. Langkah Penting Membangun Masyarakat Muslim Keluarga muslim merupakan bata atau institusi terkecil dari masyarakat muslim. Seorang muslim yang membangun dan membentuk keluarga, berarti ia telah mengawali langkah penting untuk berpartisipasi membangun masyarakat muslim. Berkeluarga merupakan usaha untuk menjaga kesinambungan kehidupan masyarakat dan sekaligus memperbanyak anggota baru masyarakat.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6) : . :{ } .

Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami dengan ba-ah (mencari persiapan nikah) dan melarang membunjang dengan larangan yang sesungguhnya seraya bersabda: Nikaihi wanita yang banyak anak dan yang banyak kasih sayang. Karena aku akan berlomba dengan jumlah kamu terhadap para nabi pada hari kiamat. (Imam Ahmad, dishahihkan Ibnu Hibban. Memiliki syahid pada riwayat Abu Dawud, An-Nasaai dan Ibnu Hibban dari hadits Maqil bin Yasaar)

4. Mewujudkan Keseimbangan Hidup Orang yang membujang masih belum menyempurnakan sisi lain keimanannya. Ia hanya memiliki setengah keimanan. Bila ia terus membujang, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya, kegersangan jiwa, dan keliaran hati. Untuk menciptakan keseimbangan dalam hidupnya, Islam memberikan terapi dengan melaksanakan salah satu sunnah Rasul, yaitu membangun keluarga yang sesuai dengan rambu-rambu ilahi. Rasulullah saw. bersabda: . Dari Anas bin Malik r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang menikah maka ia telah menyempurnakan setengah agama. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengahnya. (Imam Al-Baihaqi) Menikah juga bisa menjaga keseimbangan emosi, ketenangan pikiran, dan kenyamanan hati. Rasulullah saw. bersabda: - - . : :

Dari Abdullah berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian yang memiliki kemampuan, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya menikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara farji (kemaluan). Barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu merupakan benteng baginya. (Imam Muslim) Sumber: tangga-islam/ http://www.dakwatuna.com/2008/06/16/736/kewajiban-membentuk-rumah-

5. UMAR TILMISANI Syaikh Umar Tilmisani adalah salah seorang daripada tokoh-tokoh dai dan murabi. Nama Lengkapnya ialah Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Mushthafa Tilmisani. Beliau pernah menjawat jawatan sebagai Mursyidul Am Ikhwanul Muslimin setelah wafatnya Mursyidul Am kedua, Hasan Al-Hudhaibi,pada bulan November 1973. a. Tempat, Tanggal Lahir dan Masa Kecil Syaikh Umar Tilmisani Garis keturunan Syaikh Umar Tilmisani berasal dari Tilmisan, Al-Jazair. Ia lahir di kota Kairo, tahun 1322 H/1904 M, tepatnya di Jalan Hausy Qadam, AlGhauriyah. Ayah dan kakeknya pedagang kain dan batu permata.

Kakek Syaikh Umar Tilmisani seorang salafi yang banyak mencetak bukubuku karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Karena itu, ia tumbuh dan besar di lingkungan yang jauh dari bidah. Syaikh Umar Tilmisani mengikuti Sekolah Dasar di sekolah yang dikelola yayasan sosial tingkat menengah dan atas di Madrasah Ilhamiyah, kemudian masuk Fakultas Hukum. Tahun 1933, Syaikh Umar Tilmisani tamat dari Fakultas Hukum, kemudian mendirikan kantor pengacara di Syibin Al-Qanathir dan bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin. Syaikh Umar Tilmisani pengacara pertama yang bergabung dengan Ikhwan, mewakafkan pemikiran, dan potensi untuk membelanya. Ia ternasuk orang dekat Imam Asy-Syahid Hasan Al- Banna. Ia sering menyertai Al-Banna dibeberapa lawatan, baik di dalam maupun di luar Mesir. Bahkan, Al-Banna sering meminta bantuannya dalam menyelesaikan beberapa masalahnya. Syaikh Umar Tilmisani menikah saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Istrinya wafat bulan Agustus 1979, setelah menyertainya selama setengah abad lebih. Dari pernikahan ini beliau di karuniai empat orang anak; Abid, Abdul Fattah, dan dua putri. Kesibukan Syaikh Umar Tilmisani sebagai pengacara tidak membuatnya lupa memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Ia banyak menelaah beragam ilmu, seperti tafsir, hadits, fiqh, sirah, tarikh, dan biografi para tokoh. Syaikh Umar Tilmisani selalu mengikuti perkembangan berbagai konspirasi musuh Islam, baik di dalam maupun di luar negri. Beliau rajin mewaspadai, mengkaji menentukan sikap, menentang konspirasi dengan bijaksana dan nasihat yang baik, membantah tuduhan-tuduhan, mementahkan ungkapan-ungkapan, dan mengikis syubhat-syubhat yang di buatnya, dengan kepercayaan diri orang mukmin yang tahu ketinggian nilai agamanya. Sebab, tiada penolong setelah Allah taala dan tiada agama yang diridhai Allah selain Islam. Saya (Syekh Abdullah Aqil) mengenal Syaikh Umar Tilmisani tahun 1949, ketika saya pertama kali masuk Mesir, untuk meneruskan studi di perguruan tinggi. Ketika itu ada pertemuan yang di hadiri para tokoh Ikhwan, setelah syahidnya Imam Syaukh Hasan Al-Banna dan sebelum terpilihnya Mursyid Am kedua, Hasan AlHudhaibi. Saat itu kami mendengarkan kajian dan nasihat mereka. Dari situ, kami tahu kehalusan budi bahasa [sopan-santun], tawadhu, murah senyum, serta kasih

sayangnya kepada para anggota Ikhwan, terutama generasi muda yang sangat ambisius memetik buah sebelum panen dan membalas perlakuan musuh sebanding dengan perlakuannya terhadap jamaah. Ustadz Umar Tilmisani memberi nasihat kepada kami agar bersabar, teguh, santun, tidak tergesa-gesa dan mengharapkan imbalan dari sisi Allah taala. b. Komitmen Diri Syaikh Umar Tilmisani Syaikh Umar Tilmisani membekaskan kesan positif pada orang-orang yang mengenal atau berhubungan dengannya. Beliau di karuniai kejernihan hati, kebersihan jiwa, kehalusan ucapan, keluwesan ungkapan yang keluar dari lisan, keindahan pemaparan, teknik berdebat, dan berdialog dengan baik. Kekerasan dan ambisi untuk mengalahkan orang lain tidak pernah menemukan jalan untuk masuk ke dalam akhlakku. kata Syaikh Umar Tilmisani menceritakan komitmen dirinya, Karena itu, tegas beliau Saya tidak bermusuhan dengan siapa pun, kecuali dalam rangka membela kebenaran, atau mengajak menerapkan Kitab Allah Taala. Kalaupun ada permusuhan, maka itu berasal dari pihak mereka, bukan dariku. Saya menyumpah diriku untuk tidak menyakiti seorang pun dengan kata-kata kasar, meski saya tidak setuju dengan kebijakannya, atau bahkan ia menyakitiku. Karena itu, tidak pernah terjadi permusuhan antara diriku dengan seseorang karena masalah pribadi. Tidak berlebihan kalau saya simpulkan bahwa siapa pun yang keluar dari majelisnya, pasti mengaguminya, menghormati, dan mencintai dai unik yang menjadi murid Imam Hasan Al- Banna ini, lulus dari madrasahnya, dan bergabung dengan jamaahnya sebagai dai yang tulus dan ikhlas. c. Akhlak dan Sifat Syaikh Umar Tilmisani Syaikh Umar Tilmisani sangat pemalu, seperti diketahui orang-orang yang melihatnya dari dekat. Orang yang sering duduk dan berdialog dengan Syaikh Umar Tilmisani merasakan bahwa keras dan lamanya ujian yang beliau alami di penjara, malah mensterilkan dirinya, hingga tiada tempat di dalam dirinya selain kebenaran. Beliau mendekam di balik jeruji besi selama hampir dua puluh tahun. Beliau masuk penjara pertama kali tahun 1948. Masuk lagi tahun 1954. Penguasa Mesir memenjarakan beliau untuk ketiga kalinya tahun 1981. Namun, ujian-ujian itu tidak mempengaruhi diri beliau, dan justru menambah ketegasan dan ketegarannya. Di wawancara dengan majalah Al-Yamamah Arab Saudi, edisi tanggal 14 januari 1982, Syaikh Umar Tilmisani berkata, Tabiat yang membesarkanku

membuatku benci kekerasan, apapun bentuk-nya. tegas beliau, Ini bukan hanya sikap politik, tapi sikap pribadi yang terkait langsung dengan struktur keberadaanku. Bahkan, andai dizalimi, saya tidak akan menggunakan kekerasan. Mungkin saya menggunakan kekuatan untuk mengadakan perubahan, tapi tidak untuk kekerasan. d. Surat Untuk Presiden Di surat terbuka untuk Presiden Mesir yang dimuat surat kabar Asy-Syab AlQahiriyahn , edisi 14 Maret 1986, Syaikh Umar Tilmisani berkata, Wahai yang mulia Presiden, yang terpenting bagi kami, kaum muslimin Mesir, adalah menjadi bangsa yang aman, stabil, dan tanang di bawah naungan syariat Allah Taala. Sebab kemaslahatan umat ini terletak pada penerapan syariatNya. Tidak berlebihan bila saya katakan, bahwa penerapan syariat Allah Taala. Di Mesir akan menjadi pembuka kebaikan bagi seluruh wilayahnya. Dengan itulah, penguasa dan seluruh rakyat menda-patkan ketenangan dan kebahagiaan. e. Nasihat-Nasihat Syaikh Umar Tilmisani Di untaian nasihat yang disampaikan di depan generasi muda, dai Ikhwan, dan lainnya, Syaikh Umar Tilmisani berkata, Tantangan yang menghadang dai saat ini, sangat berat dan sulit. Kekuatan materi berada di tangan rival Islam yang bersatu untuk memerangi umat Islam, meskipun mereka memiliki kepentingan berbeda. Jamaah Ikhwanul Muslimin sekarang menjadi sasaran tembak mereka. Menurut perhitungan manusia, pasukan Thalut yang beriman tidak mampu melawan Jalut dan tentaranya. Tapi, ketika pasukan kaum mukmin yakin kemenangan itu dari Allah Taala, bukan hanya tergantung pada jumlah personil dan kelengkapan persenjataan, maka mereka dapat mengalahkan pasukan Jalut dengan seizin Allah Taala. Saya tidak meremehkan kekuatan personil. Juga tidak meminta dai selalu bungkam, berdzikir dengan menggerakkan leher ke kanan dan ke kiri, memukulkan telapak tangan, dan berpangku tangan. Sebab, itu semua bencana yang membahayakan dan mematikan. Sesungguhnya yang saya inginkan ialah berpegang teguh dengan wahyu Allah Taala, berjihad dengan kalimat yang benar, tidak menghiraukan gangguan, menjadikan diri sebagai teladan dalam kepahlawanan, bersikap ksatria, tegar, dan yakin bahwa Allah Taala pasti menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, agar dapat diketahui siapa yang tulus dan

siapa yang munafik. Aspek-aspek inilah yang merupakan faktor-faktor penyebab kemenangan. Kisah-kisah Al-Quran ialah argumen paling baik dalam masalah ini. Semangat pemuda yang diiringi pemahaman mendalam tidak memerlukan banyak eksperimen. Tapi, sangat membutuhkan kesabaran, kekuatan komitmen pada aturan-aturan Al-Quranul Karim, dan telaah sirah generasi terdahulu yang telah menerapkannya di setiap aktivitas mereka. Itu penting, agar Allah Taala mengaruniakan kemenangan, kemuliaan, dan kekuasaan yang hampir di-anggap mustahil. f. Ketegaran dan Keberanian Syaikh Umar Tilmisani Ustadz Umar Tilmisani dikenal tegas di dalam maupun di luar penjara. Beliau tidak pernah tunduk pada ancaman atau intimidasi. Beliau juga dikenal zuhud, iffah [menjaga kehormatan], hanya takut kepada Allah Taala, dan mengharapkan keridhaan-Nya. Syaikh Umar Tilmisani berkata, Saya tidak pernah takut kepada siapa pun selama hidupku, kecuali kepada Allah Taala. Tidak ada yang dapat menghalangiku mengucapkan kebenaran yang saya yakini, meski orang lain merasa berat dan saya mendapat kesusahan karenanya. Saya katakan apa yang kuyakini dengan tenang, mantap, dan sopan, agar tidak menyakiti pendengar atau melukai perasaannya. Saya juga berusaha menjauhi kata-kata yang mungkin tidak disukai lawan bicaraku. Dengan cara seperti itu, saya mendapatkan ketenangan jiwa. Andai cara ini tidak bisa merekrut banyak kawan, maka minimal menjagaku dari kejahatan lawan. Sikap tulus, ucapan apa adanya, kerja serius, berani menghadapi persoalan, tegar, dan teguh menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar adalah ciri khas Ustadz Umar Tilmisani. g. Gaya Hidup Syaikh Umar Tilmisani Gaya menawan saat dialog yang mewarnai setiap tindakan Syaikh Umar Tilmisani bukanlah tindakan yang dibuat-buat. Itulah ciri khas yang melekat pada ucapan, perilaku, akhlak, dan interaksinya; baik dengan individu, jamaah, pemimpin, penguasa, dan masyarakat luas, tanpa membeda-bedakan orang kecil atau orang besar, orang miskin atau orang kaya. Syaikh Umar Tilmisani sangat meyakini prinsip Ikhwanul Muslimin yang diambil dari Al-Quran, As-Sunnah, dan konsensus ulama salaf.

h. Jamaah Syaikh Umar Tilmisani Syaikh Umar Tilmisani berpendapat, Jamaah Ikhwanul Muslimin adalah gerakan yang tulus dan murni. Syaikh Umar Tilmisani berkata, Orang yang mencermati langkah -langkah Ikhwanul Muslimin, semenjak tahun 1347 H/1928 sampai hari ini, tidak menemukan kecuali serangkaian pengorbanan berkesinambungan untuk menegakkan aqidah, potensi optimal yang produktif di semua sektor kegiatan sosial, upaya pengokohan ikatan persaudaraan antar berbagai bangsa muslim, dan usaha menyebarkan perdamaian di seluruh dunia. Ikhwanul Muslimin diperangi berbagai aliran; baik lokal maupun

internasional. Meski demikian, Ikhwanul Muslimin tidak pernah sekalipun berusaha menyebarkan fitnah, memecah belah persatuan, menghancurkan lembaga-lembaga lain, berdemo secara anarkis, atau meneriakkan yel-yel untuk menjatuhkan seseorang. Ciri khas lain Syaikh Umar Tilmisani ialah menyejukkan, aktivitasnya membangun, dan dasar interaksinya kesetiaan, meski terhadap orang yang tidak pernah mau sepakat, bahkan memerangi Ikhwanul Muslimin. Syaikh Umar Tilmisani berwasiat, Muslim tidak mengenal istilah agama milik Allah Taala dan tanah air milik semua orang. Setiap muslim meyakini segala yang ada di alam ini milik Allah Taala semata. Siapa yang berusaha mengubah makna ini, ia menipu yang ingin mencabut sumber kekuatan negara, agar mudah dicaplok. Orang muslim tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara. Ia yakin sepenuhnya pemerintah tidak punya hak bersama Allah Taala, sebab bila diyakini pemerintah punya hak bersa-ma Allah Taala, maka pemerintah menjadi sekutu bagiNya. Sedang muslim tidak mengakui kemusy-rikan dalam bentuk apa pun. i. Sifat Zuhud, Tawadhu, dan Sederhana Syaikh Umar Tilmisani Ustadz Umar Tilmisani adalah dai, murabi, dan pemimpin yang hidup secara tulus dengan Allah Taala, berjuang untuk menegakkan agamaNya. Beliau aktif di dunia dakwah, bersabar, selalu meningkatkan kesabaran, berjaga, berjihad, berpegang teguh pada tali agama Allah Taala yang kokoh, dan bekerja sama dengan mujahid yang tulus, baik saat menjadi prajurit atau pemimpin, di penjara atau di luar penjara. Beliau tidak pernah mengubah sikap, plin-plan, menyimpang, tamak terhadap keindahan dunia dan gemerlap jabatan. Beliau meninggalkan kehidupan yang penuh dengan bunga-bunga dunia, untuk menghadap Allah Taala.

Beliau tinggal di apartemen sangat sederhana dan hidup apa adanya, tanpa memaksakan diri. Saya trenyuh saat mengunjunginya, hingga air mataku ingin keluar membasahi pipi, tapi saya berusaha menahannya karena khawatir beliau ketahui. Apalah artinya kita bila dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibebaskan imannya dari penyakit cinta dunia, dan mengorbankan apa saja untuk

memperjuangkan agama! Apartemen Syaikh Umar Tilmisani berada di gang sempit komplek Al-Mulaiji Asy-Syabiyah Al-Qadimah, wilayah Ath-Thahir Kairo. Tangga menuju kediamannya sudah tua dan usang, dan perabotannya sangat sederhana. Padahal beliau berasal dari keluarga kaya-raya dan berstatus sosial tinggi. Ini semua mencerminkan kezuhudan, kesederhanaan, dan ketawadhuannya. Syaikh Umar Tilmisani dicintai pemuka masyarakat Mesir di semua lapisan. Orang-orang Qibthi juga mencintai dan menghormatinya. Bahkan pejabat negara pun segan kepadanya dan mengakui sifat-sifat mulianya. Seluruh anggota Ikhwanul Muslimin menganggap beliau sebagai figur teladan, berlomba untuk menimba ilmunya, dan berebut untuk melaksanakan intruksinya. Sebab cinta karena Allah Taala landasan interaksi mereka, penerapan syariat -Nya target mereka, dan keridhaanNya tujuan mereka. Kunjungan Syaikh Umar Tilmisani ke berbagai negara Islam; baik Arab maupun non Arab, dan kaum muslimin di tempat pengasingan, adalah pelipur lara luka-luka umat, sekaligus bimbingan untuk kaum muslimin dalam melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk agama, umat, dan tanah air mereka. Seluruh kajian, ceramah, dialog, nasihat, bimbingan, dan ucapan Syaikh Umar Tilmisani memberi motivasi kepada umat, terutama para pemuda, intelektual, dan kader ulama, agar memikul tanggung jawab dan menunaikan peran dalam mengembalikan kejayaan Islam, sesuai posisi dan bak-at masing-masing. Inilah tugas dai di setiap masa dan tempat, sebab inilah risalah yang diemban pa-ra rasul yang di wariskan kepada ulama, aktivis, pergerakan, dai yang tulus, dan kaum mukminin yang ikhlas.

6. Muhammad Kamal As-Sananiri a. Latarbelakang beliau Muhammad Kamaluddin bin Muhammad Ali as-Sananiri telah dilahirkan di Kaherah pada 28 Jamadil Awwal 1336H bersamaan 11 Mac 1918. Beliau membesar

dalam keluarga yang senang Beliau mendapat pendidikan awal di sekolah awam sehingga memperolehi sijil rendah dan menengah.Beliau tidak menyambung pelajaran ke pengajian tinggi di universiti sebaliknya memilih bekerja di sektor kerajaan. Beliau telah menyertai kementerian kesihatan (unit membasmi malaria) pada 1353H bersamaan 1934M. Selepas 4 tahun bekerja (1938M), berhenti dan bersiap untuk ke Amerika Syarikat untuk belajar di dalam jurusan farmasi. Beliau bercadang bekerja di farmasi milik bapanya sekembalinya dari sana tetapi beliau telah membatalkan hasratnya selepas dinasihatkan oleh seorang ulama agar tidak ke Amerika Syarikat.. b. Penglibatan di dalam Dakwah Ketika zaman beliau dakwah Ikhwan Muslimin menerima sambutan ramai. Beliau menyertainya pada 1360H bersamaan 1941M dan telah berjuang dengan dedikasi, ikhlas dan sedar. Beliau juga telah mendapat tarbiah dari As-Syahid Imam Hasan AlBanna dan Sering mengulang-ulang kata-kata beliau : Ketidahfahaman rakyat pada hakikat Islam akan menjadi ujian bagi kalian. Ulama rasmi pemerintah akan menjadi musuh kepada kalian. Setiap pemerintah berusaha membatasi amal kalian dan memasang halangan di jalan yang kalian tempuh. Mereka akan meminta bantuan dari mereka-mereka yang berjiwa lemah dan berhati sakit. Sebaliknya akan berlaku kasar kepada kalian. Kerana itu kalian akan

dipanjara,disiksa,diusir,rumah-rumah kalian digeledah,harta kalian dirampas, dan tuduhan keji dilontarkan pada kalian dengan harapan dpt mengurangkan wibawa kalian. Kemungkinan ujian ini akan berlangsung dgn lama. Sedarilah, saat itu kalian baru mula menapakkan kaki dijalan yang telah ditempuh oleh para mujahid Semasa bersama ikhwan beliau telah diserahkan untuk melaksanakan pelbagai tugas dakwah dan organisasi.Namun kerja dakwahnya tidak menyebabkan beliau mengabaikan tanggungjawab keluarga.Bapanya meninggal dunia meninggalkan 3 saudara lelaki dan 3 saudara wanita.Beliau mengambil tanggungjawab bapa memelihara keluarganya walaupun beliau bukan anak yang sulung. Kamaludin juga turut memperjuang Mesir, Palestin, isu Arab dan Islam. Aktiviti dan tugas yang banyak telah menyebabkan beliau tidak berfikir untuk membeli rumah akibat sentiasa musafir dan bergerak. Apabila ingin berehat, beliau pergi ke rumah kakaknya untuk berehat dan makan seketika. c. Tragedi 1954M / 1374H Dasar regim kerajaan yang diktator dan enggan melaksana syariah menyebabkan berlaku pertembungan dengan Ikhwan Muslimin. Akibat pertembungan itu kerajaan

telah mengumumkan pembubaran Ikhwan Muslimin dan menangkap ramai anggotanya. Tindakan ini menyebabkan demontrasi raksasa dan Kamalaluddin adalah antara salah seorang koordinator. Demontrasi ini memaksa kerajaan membebaskan tahanan dan menjanjikan pemulihan pemerintahan. Kerajaan kemudian mengatur rancangan membasmi Ikhwan Muslimin dengan mengadakan peristiwa Mansyiyyah. Anggota Ikhwan Muslimin ditangkap semula termasuk Kamaluddin pada Oktober 1954M. Beliau telah dihukum penjara selama 20 tahun sehingga keluar pada 1394H bersamaan Januari 1973M d. Kehidupan dalam penjara Semasa proses perbicaraan mahkamah, beliau menerima siksaan yang dahsyat dalam tahanan sehingga semasa sesi pertama perbicaraan, ibunya sendiri tidak mengenalinya. Badannya kurus, rahangnya patah, percakapannya berubah. Telinga kirinya pula tuli. Siksaan dahsyat yang diterimanya menyebabkan adik iparnya (daripada isteri pertama) yang ditahan bersamanya hilang akal dan dimasukkan hospital sakit jiwa. Semasa di penjara beliau hanya memakai baju yang kasar dan enggan memakai baju dalam yang boleh dibeli daripada penjara.Beliau enggan menerima apa jua yang dianggap kurniaan warder penjara kepada tahanan untuk memujuk mereka atau boleh disekat untuk menakutkan mereka.Beliau mahu jiwanya bebas daripada segala ikatan dunia Beliau telah mengisi jiwanya dengan zuhud dan amal soleh, melakukan qiamullail dan berpuasa di siang hari. e. Bujukan keluarga Dalam tahanan, regim menekan isteri pertama dan ibunya untuk membujuk untuk menulis sokongan kpd Abdul Nasir. Bersama linangan air mata ibunya yang berumur 70an membujuknya menulis surat rayuan. Namun dia berkata : Bagaimana keadaan saya ketika berdiri di hadapan Allah jika saya mengutus surat ini kemudian saya mati. Adakah kamu rela wahai ibu, saya mati dalam keadaan syirik? Kamaluddin memberi pilihan kepada isterinya untuk kekal sebagai isteri atau untuk dicerai dan isterinya memilih untuk kekal sebagai isteri. Namun beliau terpaksa

mencerai isterinya itu setelah keluarga isterinya mendesak hasil tekanan regim pemerintah. f. Perkawinan dalam penjara Selepas lima tahun penjara, Kamaluddin telah dimasukkan ke hospital penjara. Beliau bertemu Syed Qutb yang menerima rawatan di situ dan meminang Aminah daripada Syed Qutb. Aminah menyetujui lamaran tersebut sekalipun tempoh untuk kahwin mungkin berlarutan 15 hingga 20 tahun. Diakad nikah dengan Aminah Qutb semasa dalam penjara.Kerana kasihankan isterinya, Kamaluddin meminta pandangan isterinya sama ada mahu meneruskan tali perkahwinan atau tidak. Beliau tidak mendapat jawapan sehinggalah datang surat daripada isterinya:

Saya memilih harapan yang saya tunggu-tunggu; jalan jihad dan syurga, keteguhan dan pengorbanan, tegar dengan janji yang kita ikrarkan dengan aqidah yang kukuh dan keyakinan tanpa ragu-ragu atau menyesal. Mereka hanya disatukan hanya selepas keluar daripada penjara dan tidak memperolehi cahaya mata. g. Selepas dibebaskan Selepas dibebaskan, beliau kembali aktif dalam dakwahnya. Penderitaan panjang yang dialaminya tidak menyebabkannya berehat dan luntur. Bahkan beliau bagaikan permata yang digilap. Bertambah memancar kilauannya.. Peranannya yang paling menonjol ialah dalam jihad Afghanistan. Beliau menghabiskan masa dan tenaganya membantu mujahidin Afghanistan, mendamai dan menyelesaikan perselisihan antara pimpinan mereka.Mujahidin Afghanistan mengetahui keikhlasan dan keprihatinannya terhadap kesatuan saf. Mereka mematuhi dan menghormatinya. Mereka hampir-hampir tidak membantahnya semasa beliau bersama mereka. h. Penangkapan dan pembunuhan Sekembali dari Afghanistan, beliau ditangkap bersama anggota gerakan Islam dan pimpinan nasionalis Mesir yang lain. Pada Zulkaedah 1401H bersamaan September 1981, Presiden Sadat telah mengeluar arahan berjaga-jaga ke atas para pembangkangnya. Mereka disumbatkan ke pusat-pusat tahanan selepas bangkangan hebat terhadap perdamaian dengan Yahudi.

Kamaluddin disiksa teruk untuk mendapat maklumat tentang organisasi antarabangsa Ikhwan Muslimin dan peranannya di Afghanistan dalam umur melebihi 60 tahun. Akibat dari siksaan tersebut beliau menghembuskan nafas terakhir pada 10 Muharram 1402H bersamaan 8 November 1981M. Warder penjara mewarwarkan bahawa beliau membunuh diri. Tetapi tiada yang dapat menerima tuduhan tersebut walau kanak-kanak kecil. Bagaiman lelaki yang telah tetap teguh selama 20 tahun bersama keimanan dan perjuangannya, tiba-tiba hilang pertimbangan hanya kerana ditangkap seketika sehingga boleh bertindak sedemikian rupa?. Wallahualam