Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA

Disusun Oleh : RISKY ERVINA STYOWATI (11.0601.0035) RIZKY BIMA YUDHA CARAKA (11.0601.0038) WINDA PRADIPTA(11.0601.0044) INTAN PUSPITA DHEWI(11.0601.0045) IVA KURNIA WATI(11.0601.0046) PRAYOGO(11.0601.0049)

Prodi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang -2011/2012Hak Asasi Manusia

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb Alhamdulillah , segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, hidayah dan karunianya yang tiada ternilai kepada penyusun, shalawat serta salam semoga tercurah pada Rasululloh Muhammad SAW, keluarga dan segenap sahabat sahabatnya, hingga akhir jaman, Amin. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan doa, semoga Allah membalas amal baik yang telah dilakukan umat-Nya atas sesama.Amin Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca makalah ini sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan makalah ini, karena penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Akhirnya hanya kepada-Nyalah kita memohon semoga Allah SWT menjadikan berbagai amalan kita ikhlas karena-Nya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Magelang, September 2011

Penyusun

Hak Asasi Manusia

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Persoalan hak asasin manusia sesungguhnya merupakan persoalan universal yang mencakup seluruh umat manusia di dunia. Ini karena setiap manusia memiliki martabat kemanusiaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya sejak lahir. Pada setiap hak asasi manusia, terkandung martabat kemanusiaan, yaitu hal-hal yang harus dipenuhi agar harga diri dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dapat terjaga dengan baik. Munculnya hak asasi manusia sesungguhnya merupakan akibat tidak langsung dari penjajahan, perbudakan, ketidakadilan, dan kelalinan (tirani) yang banyak terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia. Dari pengalaman sejarah , perjuangan Hak Asasi Manusia sebenarnya sudah mulai sejak zaman Nabi Musa . berbagai bentuk perjuangan tersebut terbentang dari perjuangan untuk merdeka dari penjajahan dan perbudakan hingga perjuangan untuk mengembangkan nilai-nilai sosial modern . Berbagai tindak kekerasan yang mengancam jiwa dan martabat manusia serta kehendak untuk memajukan kehidupan dan peradaban manusia telah mendorong para pejuang kemanusiaan untuk menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia . Hingga sekarang persoalan Hak Asasi Manusia menjadi sorotan utama seiring dengan berkembangnya gagasan demokrasi yang semakin mendunia . Persoalan ini tidak saja menjadi sorotan masyarakat dan organisasi internasional seperti PBB atau Human Right Watch , tetapi juga pemerintahan yang peduli terhadap upaya pemajuan , penghormatan , dan penegakan HAM . Kepedulian yang sama ditunjukkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat , media elektronik dan media cetak. Dengan demikian , kita harus menyadari bahwa masalah hak asasi manusia adalah masalah bersama yang menuntut

Hak Asasi Manusia

partisipasi aktif untuk menghargai dan melindunginya demi kelangsungan kehidupan manusia yang beradab .

B. RUMUSAN MASALAH
Pengertian Hak dan Kewajiban Asasi Manusia . Sejarah Hak Asasi Manusia . Perkembangan Hak Asasi Manusia . Macam dan jenis Hak Asasi Manusia . Contoh-contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia .

Hak Asasi Manusia

BAB II HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA

1. PENGERTIAN HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA


Hak adalah kekuasaan seseorang untuk melakukan sesuatu yang telah ditentukan oleh undang-undang. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dikerjakan. Pengertian Hak Asasi Manusia menurut para ahli : HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya (Kaelan: 2002). Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. (Mansyur Effendi, 1994). Pengertian Hak Asasi Manusia menurut Undang-Undang : Dalam pasal 1ayat 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM

disebutkan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Dalam pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa setiap perbuatan seseoarang atau kelompok orang termasuk
Hak Asasi Manusia

aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang, dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku .

2. SEJARAH HAK ASASI MANUSIA


Hak Asasi Manusia di Indonesia bersumber dan bermuara pada pancasila. Yang artinya Hak Asasi Manusia mendapat jaminan kuat dari falsafah bangsa, yakni Pancasila. Bermuara pada Pancasila dimaksudkan bahwa pelaksanaan hak asasi manusia tersebut harus memperhatikan garis-garis yang telah ditentukan dalam ketentuan falsafah Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, melaksanakan hak asasi manusia bukan berarti melaksanakan dengan sebebas-bebasnya, melainkan harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Hal ini disebabkan pada dasarnya memang tidak ada hak yang dapat dilaksanakan secara multak tanpa memperhatikan hak orang lain. Setiap hak akan dibatasi oleh hak orang lain. Jika dalam melaksanakan hak, kita tidak memperhatikan hak orang lain,maka yang terjadi adalah benturan hak atau kepentingan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat dan tidak terpisah dari manusia yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusisan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan. Berbagai instrumen hak asasi manusia yang dimiliki Negara Republik Indonesia,yakni: Undang Undang Dasar 1945 Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Di Indonesia secara garis besar disimpulkan, hak-hak asasi manusia itu dapat dibedabedakan menjadi sebagai berikut :

Hak Asasi Manusia

Hak hak asasi pribadi (personal rights) yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, dan kebebasan bergerak. Hak hak asasi ekonomi (property rights) yang meliputi hak untuk memiliki sesuatu, hak untuk membeli dan menjual serta memanfaatkannya. Hak hak asasi politik (political rights) yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih (dipilih dan memilih dalam pemilu) dan hak untuk mendirikan partai politik.

Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan ( rights of legal equality). Hak hak asasi sosial dan kebudayaan ( social and culture rights). Misalnya hak untuk memilih pendidikan dan hak untukmengembangkan kebudayaan. Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights). Misalnya peraturan dalam hal penahanan, penangkapan, penggeledahan, dan peradilan.

Secara konkret untuk pertama kali Hak Asasi Manusia dituangkan dalam Piagam Hak Asasi Manusia sebagai lampiran Ketetapan Permusyawarahan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998.

3. PERKEMBANGAN DAN HAMBATAN PENEGAKAN HAM DI INDONESIA


A. Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia
Pasca proklamasi Kemerdekaan 1945, bangsa Indonesia banyak yang disibukkan

oleh perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda yang ingin merebut kembali kemerdekaan Indonesia, meskipun akhirnya kedaulatan

Indonesia diikuti pada tahun 1949. Selanjutnya, antara 1950-1955 kita dirongrong kembali oleh berbagai pemberontakan, upaya disintegrasi dan liberalisasi parati politik yang cenderung mementingkan kelompoknya. Kondisi dan situasi demikian jelas sangat tidak kondusif bagi pemerintah untuk memikirkan dan memberi perlindungan terhap masalah hak hak asasi manusia.
Hak Asasi Manusia

Pada era orde lama (1955-1965), situasi negara Indonesia diwarnai oleh berbagai macam kemelut di tingkat elite pemerintah sendiri. Situasi kacau dan persaingan di antara elite politik dan militer akhirnya memuncak pada peristiwa pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira tinggi pada 1 Oktober 1965 yang kemudian diikuti dengan krisis politik dan kekacauan sosial. Pada masa ini persoalan hak asasi manusia tidak memperoleh perhatian berarti, bahkan cenderung semakin jauh dari harapan. Era orde baru (1966-1998) di bawah kepemimpinan Jenderal soeharto yang menyatakan diri hendak melakukan koreksi secara menyeluruh terhadap penyimpangan Pancasila dan UUD 1945, juga tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Walaupun menyatakan diri sebagai orde konstitusional dan pembangunan, rezim ini kurang konsisten tergadap konstitusi dan melakukan pelkanggaran HAM atas nama pembangunan. Begitu pula rancangan Piagam Hak-Hak Asasi Manusia dan Hak-Hak serta Kewajiban Warga negara yang disusun oleh MPRS pada 1966 tidak kunjung muncul dalam bentuk ketetapan MPR hingga berakhirnya kekuasaan Orde Baru (1998). Tetapi patut dicatat bahwa era keterbukaan dan meluasnya opini internasional tentang pentingnya mengembangkan demikratisasi dan perlindunagn terhadap HAM telah memberi tekanan terhadap pemerrintahan Orde Baru (Soeharto) untuk melakukan beberapa perubahan. Pembentukan Komisi Nasional hak Asasi Manusia (Komnas HAM) adalah contohnya. Meski demikian, dalam sejarah panjang kekuasaan rezim Orde Baru terdapat praktik penyalahgunaan kekuasaan politik dan kehakiman, penutupan beberapa media masa, dan penghilangan paksa rterhadap para aktivis prodemokrasi. Pacsa-pemerintahan Orde Baru (era Reformasi), era ketika persoalan demikratisasi dan hak asasi manusia menjadi topik utama, banyak produk peraturan perundangan tentang hak asasi manusia yang dikeluarkan, di antaranya : a. Ketetapan MPR No. XVll MPR 1998 tentang Hak Asasi Manusia. b. UU No.5 Tahun 1998 tentang pengesahan Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or degrading Treatment or Punishment (konvensi Menentang

Hak Asasi Manusia

Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman lain yang Kejam, tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat manusia). c. Keppres No.181 Tahun 1998 tentang Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan. d. Keppres No.129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak-hak Asasi Manusia Indonesia. e. Inpres No.26 Tahun 1998 tentang menghentikan penggunaan istilah pribumi dan non pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggraan kebijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintah. f. UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. g. UU No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. h. Amandemen kedua UUD 1945 (2000) Bab X A Pasal 28A-28J mengatur secara eksplisit Pengakuan dan Jaminan Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia. Walaupun telah terdapat berbagai produk peraturan perundangan yang secara terang mengatur perlindungan terhadap HAM, tetapi hingga akhir tahun 2003 Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai bahwa upaya penegakan HAM di Indonesia belum ada perubahan. Kendati demikian, di era reformasi dapat kita catat bahwa pemerintah dan lembaga legislatif telah bekerja sama menyusun perangkat perundangan yang menunjukkan upaya nyata untuk mengedepankan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia. Tetapi, kondusifnya iklim demokratisasi saat ini bukan berarti upaya penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia tidak mengalami hambatan sama sekali. Kita dapat mencermati bahwa di lingkungan sosial kita terdapat beberapa hambatan baik yang bersifat struktural (berkenaan dengan kekuasaan negara) maupun bersifat kultural (berkenaan dengan budaya masuarakat). Walau demikian hambatan tersebut sepatutnya tidak membuat semangat kita untuk menegakkan Hak Asasi Manusia menjadi surut.

Hak Asasi Manusia

B. Hambatan Penegakan HAM


Tentang berbagai hambatan dalam pelaksanaan dan penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia, secara umum dapat diidentifikasi sebagai berikut : 1. Faktor kondisi sosial budaya Stratifikasi dan status sosial; yaitu tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, keturunan, dan ekonomi masyarakat Indonesia yang multikompleks (heterogen). Norma adat atau budaya lokal kadang bertentangan dengan HAM, terutama jika sudah bersinggungan dengan kedudukan seseorang, upacara-upacara sakral, pergaulan, dan sebagainya. Masih adanya konflik horizontal di kalangan masyarakat yang hanya disebabkan oleh hal-hal sepele. 2. Faktor komunikasi dan informasi Letak geografis Indonesia yang luas dengan laut, sungai, hutan, dan gunung yang membatasi komunikasi antar daerah. Sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang belum terbangun yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sistem informasi untuk kepentingan sosialisasi yang masih sangat terbatas baik sumber daya manusianya maupun perangkat (software dan hadrware) yang diperlukan.

3. Faktor kebijakan pemerintah Tidak semua penguasa memiliki kebijakan yang sama tentang pentingnya jaminan hak asasi manusia. Ada kalanya demi kepentingan stabilitas nasional, persoalan hak asasi manusia sering diabaikan. Peran pengawasan legislatif dan kontrol sosial oleh masyarakat terhadap pemerintah sering diartikan oleh penguasa sebagai tindakan pembangkangan. 4. Faktor perangkat perundangan Pemerintah tidak segera meratifikasikan hasil-hasil konvensi internasional tentang hak asasi manusia.

Hak Asasi Manusia

Kalaupun

ada,

peraturan

perundang-undangan

masih

sulit

untuk

diimplementasikan. 5. Faktor aparat dan penindakannya (Law Enforcemen) Masih adanya oknum aparat yang secara institusi atau pribadi mengabaikan prosedur kerja yang sesuai dengan hak asasi manusia. Tingkat pendidikan dan kesejahteraan sebagain aparat yang dinilai masih belum layak sering membuka peluang jalan pintas untuk memperkaya diri. Pelaksanaan tindakan pelanggaran oleh oknum aparat masih diskriminatif, tidak konsekuen, dan tindakan penyimpangan berupa KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

4. MACAM MACAM HAK ASASI MANUSIA


Hak asasi yang kita kenal kini mencakup berbagai aspek kehidupan yang sangat penting bagi manusia. Walaupun demikian, hak hak asasi tersebut tidak dengan serta merta dirumuskan secara lengkap sebagaimana tercantum dalam dokumen dokumen perlindungan terhadap HAM. Sesungguhnya pandangan tentang hak asasi manusia sangat beragam dan bersifat dinamis. Dalam hal ini faktor faktor seperti sejarah dan pandangan politik juga berpengaruh terhadap keragaman tersebut. Hal ini antara lain dapat kita lihat kembali pada Magna Charta (1215), Bill of Right (1689), Declaration of Independence (1776)(, dan pernyataan pernyataan lain tantang hak asasi manusia. Kelahiran dokumen dokumen semacam itu biasanya diawali oleh adanya kesadaran bahwa penindasan manusia atas manusia lain merupakan sebuah tindakan penistaan nilai kemanusiaan. Kesadaran semacam itu bisa mendorong timbulnya pemberontakan atau berkembannya pemikiran atau kebebasan yang akhirnya tertuang dalam dokumen pengakuan dan perlingdungan terhadap hak asasi manusia. Declaration of Independence, misalnya merupakan pernyataan Konstitusi Amerika serikat yang merdekan dari penjajahan. Sementara delcaration des Droit de Lhomme et du Citoyen adalah pengakuan terhadap hak asasi setelah terjadinya Revolusi perancis.
Hak Asasi Manusia

Perkembangan pengakuan dan perlindunagn terhadap hak asasi manusia sebenarnya dapat kita telusurimelalui berbagai dokumen semacam itu. Selain dokumen dokumen yang secara jelas menyatakan perlindungan seperti itu, terhadap pula berbagai pemikiran para filsuf atau pemikir politik yang menyatakan hal serupa. Berbagai pemikiran tersebut jika dirangkum menghasilkan berbagai macam hak asasi manusia yang mencerminkan martabat kemnusiaan. Beberapa pengertian mengenai hak asasi manusia yang dikemukakan oleh para pemikir hingga abad ke-19 masih sangat mendasar, yaitu menyangkut kemerdekaan untuk menyampaikan pendapat atau bebas dari rasa takut. Pemaknaan terhadap hak asasi manusia kemudian berkembang seiring dengan tingkat kemajuan pedaraban, dan karenanya dewasa ini hak hak asasi manusia mencakup beberapa bidang berikut : a. Hak hak asasi pribadi (personal right), yaitu meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak, dan sebagainya. b. Hak hak asasi ekonomi (property right), yaitu hak untuk memiliki, membeli, dan menjual, serta memanfaatkan sesuatu. c. Hak hak asasi politik (political right), yaitu hak ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih (dipilih dan memilih dalam suatu pemilu), hak untuk mendirikan parpol. d. Hak hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (right of legal equality). e. Hak hak asasi sosial dan kebudayaan (social and cultural right), yaitu meliputi hak untuk memilih pendidikan, hak untuk mengembangkan kebudayaan, dan sebagainya. f. Hak hak asasi manusia untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural right). Misalnya, peraturan dalam hal penahanan, pengkapan, penggeledahan, peradilan, dan sebagainya.

Hak Asasi Manusia

5. PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA


Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang berlaku (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM). Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis dan kelompok agama. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin, pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serikat. Kata ini diambil dari bahasa Yunani genos (ras, bangsa atau rakyat) dan bahasa Latin caedere (pembunuhan). Contoh kejahatan genosida :

Pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi pada milenium pertama sebelum Masehi.

Pembantaian bangsa Helvetia oleh Julius Caesar pada abad ke-1 SM. Pembantaian suku bangsa Keltik oleh bangsa Anglo-Saxon di Britania dan Irlandia sejak abad ke-7.

Pembantaian bangsa-bangsa Indian di benua Amerika oleh para penjajah Eropa semenjak tahun 1492.

Pembantaian bangsa Aborijin Australia oleh Britania Raya semenjak tahun 1788. Pembantaian Bangsa Armenia oleh beberapa kelompok Turki pada akhir Perang Dunia I. Pembantaian Orang Yahudi, orang Gipsi (Sinti dan Roma) dan suku bangsa Slavia oleh kaum Nazi Jerman pada Perang Dunia II.

Pembantaian suku bangsa Jerman di Eropa Timur pada akhir Perang Dunia II oleh sukusuku bangsa Ceko, Polandia dan Uni Soviet di sebelah timur garis perbatasan OderNeisse.
Hak Asasi Manusia

Pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat oleh rezim Khmer Merah pada akhir tahun 1970-an.

Pembantaian bangsa Kurdi oleh rezim Saddam Hussein Irak pada tahun 1980-an. Efran Rios Montt, diktator Guatemala dari 1982 sampai 1983 telah membunuh 75.000 Indian Maya.

Pembantaian suku Hutu dan Tutsi di Rwanda pada tahun 1994 oleh terutama kaum Hutu. Pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di Yugoslavia oleh Serbia antara 1991 1996. Salah satunya adalah Pembantaian Srebrenica, kasus pertama di Eropa yang dinyatakan genosida oleh suatu keputusan hukum.

Pembantaian kaum berkulit hitam di Darfur oleh milisi Janjaweed di Sudan pada 2004. Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagian

dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil . Contoh kejahatan kemanusiaan : Setelah rezim militer pimpinan Suharto yang didukung oleh kepentingan asing dalam rangka Perang Dingin, pada tahun 1965 merampas kekuasaan di Indonesia, dilakukan olehnya tindakan-tindakan kekerasan berat terhadap suatu bagian tertentu dari penduduk sipil. Tindakan-tindakan tersebut termasuk pembunuhan sekitar 3 juta manusia, laki dan perempuan, dewasa dan remaja yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia atau organisasi-organisasi massa-nya bahkan juga orang-orang yang tidak berdosa . Untuk memperkuat kekuasaannya, rezim Suharto selanjutnya juga menahan beratus ribu orang tanpa proses hukum, tanpa tuduhan yang jelas, tanpa batas waktu. Pada tahun 1967 Jaksa Agung mengaku bahwa lebih kurang 200.000 orang telah dimasukkan dalam kamp-kamp konsentrasi. Selama lebih dari 30 tahun pemerintah militer jenderal Suharto masalah kejahatan pembunuhan massal, pembantaian, penahanan dan penghilangan-penghilangan manusia tersebut tabu untuk diungkapkan (dibicarakan) di Indonesia.Begitupun tindakan yang dilakukan pihak rezim militer jenderal Suharto itu merupakan salah satu pelanggaran HAM terbesar selama abad ke 20, pengaruhnya terhadap suatu bagian yang penting dari masyarakat Indonesia hingga kini belum terselesaikan dengan baik .

Hak Asasi Manusia

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN
1. Hak Asasi Manusia dalam pengertian umum merupakan hak-hak dasar yang dimiliki setiap manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir yang mencakup : hak hidup, hak kemerdekaan / kebebasan, dan hak memiliki sesuatu. 2. Macam-macam hak asasi dapat dikelompokkan : hak-hak asasi pribadi, hak-hak asasi ekonomi, hak-hak asasi politik, hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum, hak asasi sosial dan kebudayaan, serta hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan. 3. Beberapa hambatan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam upaya pemajuan, penghormatan, dan penegakan hak asasi manusia antara lain : faktor kondisi sosial budaya, komunikasi dan informasi, kebijakan pemerintah, perangkat perundangan, dan penegakan hukum. Sedangkan tantangannya antara lain : adanya prinsip universilitas, pembangunan nasional, dan sebagainya. 4. Tantangan terberat terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia berdasarkan UU No.26 Tahun 2000, yaitu harus ditegakkannya Pengadilan Hak Asasi Manusia yang mencakup Kejahatan Genosida dan Kejahatan Kemanusiaan.

Hak Asasi Manusia

DAFTAR PUSTAKA
http://daniiskandarmanajemen.blogspot.com/2011/03/pengertian-hak-dan-kewajiban.html http://korandemokrasiindonesia.wordpress.com/2009/11/28/pelanggaran-hak-asasi-manusiagenosida/ http://gurupkn.wordpress.com/2008/02/22/pengertian-pengertian-hak-asasi-manusia/ Budiyanto,Drs. MM.,Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas X,Jakarta,Erlangga:2007

Hak Asasi Manusia