Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN PSIKIATRI

JANUARI 2014

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT

: ANOREKSIA NERVOSA (F50.1)

LAPORAN KASUS : SKIZOFRENIA PARANOID (20.0)

OLEH:
MENTARI NURUL MUTMAINNAH
C111 10 808
PEMBIMBING RESIDEN:
dr. ANDI YUSWARDANI

PEMBIMBING SUPERVISOR:
Dr. dr. SONNY TEDDY LISAL, SpKJ (K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITRAAN KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASNUDDIN
MAKASSAR
2014

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda-tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama

: MENTARI NURUL MUTMAINNAH

NIM

: C 111 10 808

Judul Refarat : ANOREKSIA NERVOSA


Judul Kasus

: SKIZOFRENIA PARANOID

telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Januari 2014

Supervisor

Dr. dr. Sonny Teddy Lisal, SpKJ (K)

Pembimbing

dr. Andi Yuswardani

DAFTAR ISI
Halaman Judul ..................................................................................1
Halaman pengesahan ......................................................................2
Daftar isi ...........................................................................................3
Laporan Kasus Skizofrenia Paranoid (F20.1) ..................................4
Identitas Pasien............................................................................4
Riwayat psikiatri ..........................................................................4
Pemeriksaan status mental .........................................................9
Pemeriksaan diagnostik lebih lanjut............................................11
Ikhtisiar penemuan bermakna .....................................................11
Evaluasi multiaksial .....................................................................12
Daftar Problem.............................................................................12
Prognosis ....................................................................................13
Rencana Terapi ...........................................................................13
Follow Up ....................................................................................14
Pembahasan ...............................................................................13
Refarat Anoreksia Nervosa ..............................................................14
Pendahuluan.....................................................................................14
Pembahasan.....................................................................................15
Kesimpulan .......................................................................................20
Daftar pustaka ..................................................................................21
Lampiran ...........................................................................................22

LAPORAN KASUS PSIKOTIK


Skizofrenia Paranoid (F20.1)

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 34 tahun

Agama

: Kristen

Suku Bangsa

: Toraja

Warga Negara

: Indonesia

Status

: Sudah menikah

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Pitung Penanian Toraja Utara

Tanggal MRS

: 21 Januari 2014

LAPORAN PSIKIATRI
I.

Riwayat Penyakit
A. Keluhan Utama: Mengamuk
B. Riwayat gangguan sekarang
Keluhan dan gejala
Pasien dibawa ke RS karena mengamuk dirumah selama
2 minggu, kejadian tersebut hilang timbul. Jika pasien
mengamuk, pasien membakar barang-barang yang ada,
pasien ingin mencelakai orang sekitarnya. Pasien selalu
membawa parang dan tombak ketika keluar dari rumah.
4

Dua tahun yang lalu pasien pernah ke daerah Pare-pare


selama beberapa bulan tetapi keluarga tidak mengetahui
tujuannya kesana. Ketika di Pare-pare pasien pernah
dituduh pencuri, dan setelah 1 bulan pulang dari Parepare pasien langsung mengalami keanehan seperti
berbicara sendiri, tertawa sendiri dan pasien mengatakan
ingin menjadi seorang pendeta. Keluarga mengatakan
bahwa pasien juga sering berceramah dan mengajak
orang orang disekitarnya untuk berbuat kebaikan.
Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien tidak
menyukai keponakannya namun tidak diketahui
penyebabnya. Pasien dahulu adalah yang mudah
bergaul dan memilki banyak teman.
Hendaya / Disfungsi
Hendaya social (+)
Hendaya pekerjaan (+)
Hendaya waktu senggang (+)
Faktor stressor psikososial
Pasien pernah dituduh mencuri dan ada hubungan
kurang baik dengan keponakannya.
Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat
penyakit/gangguan sebelumnya
Infeksi (-)
Trauma (-)
Kejang (-)
Alkohol (-)

Merokok (+) > 1 bungkus/hari


Obat-obatan (-)
C. Riwayat gangguan sebelumnya:
Tidak ada
D. Riwayat kehidupan pribadi
1. Riwayat pre-natal dan natal
Pasien lahir normal, cukup bulan, dirumah, dibantu
oleh dukun.
2. Riwayat masa kanak awal (1-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pasien sama
dengan anak lainnya.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (4-11 tahun)
Pasien masuk sekolah negeri di kampunganya,
pertumbuhan dan perkembangan sama dengan anak
seusianya.
4. Riwayat masa kanak dan remaja (12-18 tahun)
Pasien tidak melanjutkan sekolahnya ketingkat SMP
setelah tamat SD karena orang-orang disekitarnya
juga demikian.
5. Riwayat dewasa (18 tahun-sekarang)
Pasien telah menikah dan memiliki 3 orang anak
(,, )
E. Riwayat kehidupan keluarga
Pasien anak ke 4 dari 6 bersaudara. (,, , , , )
Hubungan dengan keluarga baik
Hubungan dengan saudara baik
Tidak ada riwayat menderita penyakit yang sama dalam
6

keluarga.
G. Situasisekarang
Pasien tinggal di rumah bersama isteri dan ke 3 anaknya.
Hubungan pasien dengan lingkungan baik.
H. Persepsi pasien tentang diri sendiri dan keluraganya
Pasien merasa dirinya baik-baik saja, dan ada salah satu
anggota keluarganya yang ingin meracuninya.

II.

AUTOANAMNESA
Autoanamnesa
( DM: DokterMuda P: Pasien )
DM

: Selamat sore pak

: Iye

DM

: Perkenalkan pak, nama saya Tari saya dokter muda yang


bertugas

disini. Siapa namanya bapak?

:S

DM

: Pak umurnya berapa?

: 34 tapi tidak tahu mi

DM

: Maksudnya bapak tidak tahu saat ini?

: Saya tidak tahu karena saya suka keliling-keliling

DM

: Bapak suka keliling-keliling dimana?

: Di Toraja

DM

: Apa pekerjaan bapak saat ini?

: Saya pengembala, saya suka binatang

DM

: Binatang apa kita suka?

: Saya suka anjing

DM

: Dimana tempat kerjanya pak?

: Saya kerja di Toraja, saya mau kerja dia punya

DM

: Kerja dia punya maksudnya bagaimana itu pak?

: Saya mau kerja dia orang baik, punya tambang di Palopo

DM

: Siapa itu pak?

: Saya punya teman di Palopo orang baik

DM

: Kapan bapak masuk ke sini?

: Saya tidak ingat, saya tidak sakit

DM

: Siapa yang membawa bapak kesini?

: Saya tidak tahu, saya dibawa pake mobil terbang, semua


pake baju putih dan pakai seperti ini ( pasien menujukkan
benang yang dililitkan pada salah satu jari tangannya )

DM

: Siapa itu pak yang bapak liat membawa bapak kesini?

: Saya tidak ingat

DM

: Bapak masih ingat alasan kenapa dibawah kesini?

: Karena ada kakak saya sarina muna dia racuni suaminya


sendiri

DM

: Kenapa dia racuni suaminya sendiri?

: Saya tidak tau

DM

: Apakah bapak pernah mendengar bisikan atau melihat


sesuatu yang aneh?

: Saya ada dengar dan liat burung merpati

DM

: Bapak pernah merasa ada yang mengikuti?

: Saya tau orangnnya, orang yang punya ilmu hitam.


Kemanakan sendiri sama bapaknya yang racuni saya, dia
racuni bapak dan ibu saya ( sambil tersenyum )

DM

: Apakah bapak merasa memiliki kelebihan?

: Saya bisa merubah semuanya menjadi seperti yang saya


mau, kalau saya rubah itu (sambil menujuk kearah langit), itu
bisa jadi putih

DM

: Bagaimana perasaan bapak sekarang?

: Baik-baik

DM

: Apakah bapak sekarang punya beban pikiran?

: Tidak

DM

: Apakah bapak sudah berkeluarga?

: Iya sudah ada isteri dan anak, dulu masih sama tapi
sekarang tidak tahu dimana

DM

: Apakah bapak ingat sekarang berada dimana?

: Di rumah sakit

DM

: Bapak tau kalau 100-7 berapa?

: 93

DM

: Bapak tahu arti panjang tangan?

: Pencuri

DM

: Baik pak, terimakasih atas kerjasama dan informasinya.


Selamat istirahat, cepat sembuh pak

III.

: Iya

STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum:
1. Penampilan:
Tampak seoranglaki-laki wajah sesuai umur, memakai baju
kemeja berwarna hitam dan celana pendek
hitam.Perawakan sedang. Perawatan diri kurang.
2. Kesadaran:
Berubah
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor:
Gelisah
4. Pembicaraan:
Spontan, lancar, intonasi biasa
5. Sikap terhadap pemeriksa:
Kooperatif
B. Keadaan Afektif:
1. Mood

: Sulit dinilai

2. Afek

: Inapropriate

3. Keserasian

: Tidak serasi

10

4. Empati

: Tidak dapat dirasakan

C. Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan, pengetahuan, dan kecerdasan: Sesuai
2. Daya konsentrasi: cukup
3. Orientasi:
- Waktu

: baik

- Tampat

: baik

- Orang

: baik

4. Daya ingat:
- Jangka panjang

: baik

- Jangka sedang

: baik

- Jangka pendek

: baik

5. Pikiran Abstrak: baik


6. Kemampuan menolong diri sendiri: mampu menolong diri
sendiri
D. GangguanPersepsi
1. Halusinasi

: Auditorik (+) Pasien mendengar suara

burung
Visual (+) Pasien melihat ada burung
merpati
2. Ilusi

: tidak ada

3. Depersonalisasi

: tidak ada

4. Derelisasi

: tidak ada

E. Proses Berfikir

11

1. Arus berfikir
Produktivitas

: cukup baik

Kontinuitas

: asosiasi longgar

Hendaya berbahasa

: tidak ada

2. Isi pikiran
Preokupasi

: tidak ada

Gangguan isi pikir : waham kebesaran (pasien meyakini


dapat merubah segalanya sesuai keinginannya), waham
curiga ( pasien meyakini keluarganya diracuni)

F. Pengendalian Impuls : terganggu


G. Daya Nilai
1. Norma sosial

: terganggu

2. Uji daya nilai

: terganggu

3. Penilaian realitas

: terganggu

H. Tilikan( insight )

: Pasien tidak menyadari dirinya sakit


( tilikan I )

I. Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya

III.

PemeriksaanDiagnostikLebihLanjut
PemeriksaanFisik:

12

Status internus: T= 120/80 mmHg, N= 80 x/menit, P= 20


x/menit, S= 36,5 C

IV.

Ikhtisiar penemuan bermakna:


Pasien dibawa ke RS karena mengamuk dirumah selama 2
minggu, kejadian tersebut hilang timbul. Jika pasien mengamuk,
pasien membakar barang-barang yang ada, pasien ingin
mencelakai orang sekitarnya. Pasien selalu membawa parang dan
tombak ketika keluar dari rumah. Dua tahun yang lalu pasien
pernah ke daerah Pare-pare selama beberapa bulan tetapi
keluarga tidak mengetahui tujuannya kesana. Ketika di Pare-pare
pasien pernah dituduh pencuri, dan setelah 1 bulan pulang dari
Pare-pare pasien langsung mengalami keanehan seperti berbicara
sendiri, tertawa sendiri dan pasien mengatakan ingin menjadi
seorang pendeta. Keluarga mengatakan bahwa pasien juga sering
berceramah dan mengajak orang orang disekitarnya untuk berbuat
kebaikan. Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien tidak
menyukai keponakannya namun tidak diketahui penyebabnya.
Pasien dahulu adalah orang yang mudah bergaul dan memilki
banyak teman.
Dari status mental ditemukan kesadaraan cukup, perilaku dan
aktivitas psikomotor pasien gelisah. Pembicaraan spontan, lancar,
intonasi biasa. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Keadaan
afektif, mood sulit dinilai, afek Inapropriate, keserasian tidak serasi,
empati tidak dapat dirasakan. Tarafpendidikan, pengetahuan,
dankecerdasan sesuai, daya konsentrasi dan dayaingat terganggu,
pikiran abstrak baik, kemampuan menolong diri sendiri mampu.
Gangguan persepsi berupa auditorik dan visual. Pengendalian
impuls dan daya nilai terganggu. Tilikan i pasien merasa dirinya
tidak sakit. Tarap dapat dipercaya, dapat dipercaya.

13

V.

Evaluasi Multiaksial:

Aksis I

: berdasarkan alloanamnesa dan

autoanamnesa ditemukan gejala klinis yang bermakna


seperti gelisah 2 minggu yang lalu sehingga menyebabkan
distress dan disability maka pasien bisa digolongkan sebagai
gangguan jiwa. Pada pemeriksaan fisik dan neurologis tidak
ditemukan kelainan, sehingga gangguan kausa organik
dapat disingkirkan. Dari status mental, didapatkan bahwa
pasien mengalami hendaya dalam menilai realita berupa
halusinasi auditorik, visual dan waham, sehingga
digolongkan sebagai gangguan jiwa psikotik. Adanya
halusinasi auditorik dan waham perihal kemampuan diatas
manusia biasa pada pasien sehingga memenuhi kategori
skizofrenia. Pada pasien ini yang menonjol adalah waham.
Maka berdasarkan PPDGJ III, pasien didiagnosa sebagai
Skizofrenia Paranoid.

Aksis II

: Sebelumnya pasien adalah seorang

yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Namun


sejak pergi ke Pare-pare dan kembali ke kampungnya
pasien mulai berbicara sendiri.

Aksis III

: tidak ada diagnosis penyakit fisik/kondisi

medis umum

AksisI V

: pasien dituduh pencuri dan ada hubungan

kurang baik dengan keponakannya

VI.

AksisV

: GAF 50-41

Daftar Problem
Organobiologik

: tidak ditemukan adanya kelainan

organobiologi, namun diduga ada ketidakseimbangan sehingga


memerlukan farmakoterapi

14

Psikologik

: ditemukan adanya hendaya dalam menilai

realita berupa halusinasi auditorik dan visual serta waham berupa


waham kebesaran dan waham curiga, sehingga pasien ini
memerlukan farmako terapi dan psikoterapi.
Sosiologik

: adanya hendaya dalam bidang sosial,

pekerjaan, dan pengguanaan waktu senggang, sehingga


membutuhkan sosio terapi

VII.

Prognosis
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prognosis pasien:
Faktor pendukung:
Dukungan keluarga baik
Tidak terdapat kelainan organobiologik
Gejala yang menonjol adalah gejala positif
Onset penyakit yang akut
Riwayat premorbid baik
Faktor penghambat:
Pasien tidak merasa dirinya sakit
Keterlambatan mendapatkan pengobatan
Usia tua
Faktor-faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa prognisisnya
adalah dubia

VIII.

Pembahasan / Tinjauan Pustaka


Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik yang paling lazim, yang
ditandai dengan hilangnya respon emosional cenderung menarik
diri dari hubungan antara pribadi. Skizofrenia ditandai dengan

15

kelainan realitas, delusi, dan halusinasi, khayalan pikiran abnormal


yang akan mengganggu kerja dan fungsi sosial.
Skizofrenia ditegakkan jika ada sedikitnya 1 gejala yang amat jelas
yaitu thought echo, thought insertion, thought withdrawl, thought
broadcasting, delution of control, delution of passivity, delution of
influence, delution of perception, halusinasi auditorik, waham, atau
yang paling sedikit 2 gejala halusinasi yang menetap, arus pikiran
yang terputus, atau gejala negatif.
Berdasarkan PPGDJ III, gejala yang dialami pasien ini sesuai
dengan diagnosis Skizofrenia Paranoid, yaitu:
Memenuhi kriteria skizofrenia, ditemukan adanya halusinasi
auditorik dan visual disertai adanya waham.
IX.

RencanaTerapi
Farmakoterapi

: Pasien diberikan obat Resperidone 2mg 2x1.

Psikoterapi:
Ventilasi: memberi pasien kesempatan untuk
mengungkapkan perasaan dengan keinginan serta
masalahnya sehingga pasien merasa lega.
Konseling: memberi sugesti dan pengertian sehingga dapat
membantu pasien memahami penyakitnya.
Sosioterapi: memeberi penjelasan pada keluarga dan orangorang disekitarnya sehingga membantu proses
penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala
X.

Follow Up
Memantau keadaan dan perkembangan penyakitnya dan menilai
efektivitas terapi serta kemungkinan terjadinya efek samping dari
farmakoterapi
16

ANOREKSIA NERVOSA

I.

PENDAHULUAN

17

Gangguan makan merupakan penyakit kompleks yang mengenai


anak dan remaja. Berdasarkan DSM IV ada tiga bentuk gangguan
makan yaitu: anoreksia nervosa (AN), bulimia nervosa (BN) dan
gangguan makan yang tidak tergolongkan. Gangguan tersebut dapat
menyebabkan morbiditas biologik, psikologik dan sosial, serta
kematian
Anoreksia nervosa adalah gangguan perilaku yang berkaitan
dengan penolakan makan. Anoreksia nervosa dapat merupakan
penyerta gangguan neurotik atau psikotik ataupun sindrom tersendiri
yang disebut dengan istilah anoreksia idiopatik atau anoreksia
esensial
Seseorang dengan gangguan makan mungkin mulai dengan hanya
makan
jumlah yang lebih kecil dari biasanya, tetapi pada beberapa titik,
keinginan untuk makan lebih sedikit di luar kendali. Gangguan makan
sangat kompleks dan meskipun banyak penelitian ilmiah mengenai
hal tersebut, penyakit ini tetap sulit dipahami
Penyebab gangguan makan belum diketahui dengan jelas,
namun diduga terkait dengan berbagai faktor biologik, genetik dan
psikososial. Mengingat kompleksnya
kelainan

ini

maka

diperlukan

tim

aspekaspek biopsikososial
yang

profesional

dalam

penanganannya, yang melibatkan dokter, perawat, ahli gizi dan


kesehatan jiwa. BN memiliki prognosis yang lebih baik dari pada AN

18

II.

PEMBAHASAN
Anoreksi adalah keluhan nafsu makan menurun dapat ditemukan
pada semua penyakit, termasuk juga penyakit saluran makanan.
Selain dari pada itu juga dapat ditemukan pada penderita dengan
kelainan jiwa, atau jiwanya yang labil dan ini disebutkan anoreksia
nervosa
Anoreksia nervosa adalah contoh yang amat khas dari gangguan
somatik yang penyebabnya berasal dari faktor psikik. Anoreksia
nervosa adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan penolakan
makan. Anoreksia nervosa dapat merupakan penyerta gangguan
neurotik atau psikotik ataupun sindrom tersendiri yang disebut dengan
istilah anoreksia idiopatik atau anoreksia esensial

Penyebabnya

tampaknya multifaktorial, dengan determinan termasuk pengaruh


genetik, kepribadian perfeksionisme dan compulsiveness, riwayat
gangguan kecemasan, keluarga, depresi, obesitas, rekan, tekanan
budaya sekitar mengenai penampilan
Anorexia nervosa merupakan gangguan makan yang biasanya
dimulai pada masa remaja dan ditandai oleh diet yang tekun, sering
19

disertai dengan dorongan untuk berolahraga sehingga berat badan


rendah berkelanjutan. Fitur lain termasuk body image terganggu,
bertambahnya keinginan untuk menurunkan berat badan, dan
ketakutan kegemukan

III.

SEJARAH PERKEMBANGAN
Tulisan pertama mengenai anorexia nervosa dipublikasikan pada
abad XVI oleh porta, dokter dari Napoli yang berjudul Reflection of the
prominent phylosoper Simone Porta of naples on the case of the
young daughter della magna who lioved two years without eating or
drinking

Pada tahun 1689 Richard Morton menjelaskan mengenai: atrofi


atau konsumsi dalam tegang, hilangnya jaringan tubuh yang terjadi
tanpa demam,sering batuk, dan selalu disertai hilangnya nafsu makan
dan gangguan yang jelas mengenai saluran pencernaan, seperti akilia
dan dispepsia

IV.

ETIOLOGI
Etiologi yang tepat tidak diketahui. Namun diduga terkait dengan
berbagai faktor biologik, genetik dan psikososial. Selain jenis kelamin
perempuan, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi. Kekhawatiran
yang berlebihan tentang berat badan atau riwayat diet muncul, yang
menunjukkan peningkatan risiko, dan beberapa faktor predisposisi
genetik mungkin ada. Keluarga dan sosial faktor mungkin memainkan
peran pula

20

Berikut adalah sejumlah faktor yang dianggap berperan terhadap


kelainan ini, faktor-faktor tersebut adalah :
1.

Faktor

psikososial

berupa

perkembangan

individu,

dinamika keluarga, tekanan sosial untuk berpenampilan


kurus serta perjuangan untuk mendapatkan identitas diri.
2. Faktor genetik adanya bukti bahwa AN banyak didapat
pada penderita dengan riwayat keluarga gangguan depresi
dan kecemasan, serta lebih banyak pada kembar monozigot

V.

DIAGNOSIS DAN GAMBARAN KLINIS


Menurut PPDGJ-III ciri khas gangguan adalah mengurangi berat
badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh
penderita.
Untuk suatu diagnosis yang pasti dibutuhkan semua hal-hal seperti
dibawah ini:
a. Berat badan tetap dipertahakan 15% dibawah yang seharusnya

(baik yang berkurang maupun yang tak pernah dicapai), atau


Quetelet body-mass index adalah 17,5 atau kurang (Quetelets
body mass index = beart
pubertas bisa

saja

/ tinggi

gagal

). Pada penderita pra-

mencapai

berat badan

yang

diharapkan selama periode pertumbuhan.


b. Berkurangnya

berat

badan

dilakukan

sendiri

dengan

menghindarkan makanan yang mengandung lemak dan salah


satu atau lebih dari hal-hal yang berikut ini:
-

Merangsang muntah oleh diri sendiri

21

Menggunakan pencahar (urus-urus)

Olah raga berlebihan

Memakai obat penekan nafsu makan dan / atau diuretika

c. Terdapat distorsi body-image dalam bentuk psikopatologi yang


spesifik dimana ketakutan gemuk terus menerus menyerang
penderita penilaian yang berlebihan terhadap berat badan yang
rendah.
d. Adanya

gangguan

endokrin

yang

meluas,

melibatkan

hypolhalamic-pituitary-gonadal axis, dengan manifestasi pada


wanita sebagai amenore dan pada pria sebagai kehilangan
minat

dan

potensi

seksual.

(Suatu

kekecualian

adalah

pendarahan vagina yang menetap pada wanita yang anoreksia


yang menerima terapi hormon, umumnya dalam bentuk pil
kontrasepsi). Juga dapat terjadi kenaikan hormon pertumbuhan,
naiknya kadar kortisol, perubahan metabolisme periferal dari
hormon tiroid, dan sekresi insulin abnormal.
e. Jika onset terjadinya pada masa pra-pubertas, perkembangan

pubertas tertunda, atau dapat juga tertahan (pertumbuhan


berhenti,

pada

anak

perempuan

buah

dadanya

tidak

berkembang dan terdapat amenore primer; pada anak laki-laki


genitalnya tetap kecil). Pada penyembuhan, pubertas kembali
normal, tetapi menarche terlambat

VI.

DIAGNOSIS BANDING
Pada tahap pertama dalam menghadapi penyakit ini kita harus
yakin bahwa tidak ada suatu penyebab organik. Selanjutnya harus

22

pula kita perhatikan penyakit kronik, seperti tuberkulosis paru, tumor


ganas, dll yang mungkin menjadi penyebab keluhan penyakit
anoreksia nervosa
Beberapa diangosis banding anoreksia nervosa adalah:

VII.

Kehilangan nafsu makan organik (R63.0)

Kehilangan nafsu makan psikogenik (F50.8)

PROGNOSIS
Tanpa pengobatan, angka kematian mendekati 10%. Dengan
pengobatan, setengah dari pasien mendapatkan kembali sebagian
atau semua berat badan. Sekitar seperempat memiliki hasil
intermediate dan dapat kambuh. Selain itu memiliki hasil yang buruk,
termasuk kambuh dan komplikasi fisik dan mental terus-menerus

VIII.

TERAPI
Mengingat implikasi medis dan psikologi yang rumit dari anoreksia
nervosa, rencana perawatan yang komprehensif, termasuk rumah
sakit bila perlu dan terapi individu dan keluarga, dianjurkan.
Pendekatan perilaku, interpersonal, dan kognitif dan, dalam beberapa
kasus, obat-obatan harus dipertimbangkan

Secara umum terapi

utamanya adalah psikoterapi ditambah dengan terapi simtomatik


untuk gangguan sekunder yang timbul serta pemberian diet tertentu.
Terapi hormonal kadang-kadang juga dibutuhkan

Mungkin diperlukan pengobatan intervensi jangka pendek untuk


mengembalikan berat badan pada penderita anoreksia nervosa .

23

Ketika berat badan telah parah atau cepat turun di bawah 75 % dari
ideal, pemulihan dengan cepat sangat penting , dan rawat inap harus
dipertimbangkan

Rawat inap di rumah sakit dianjurkan pada pasien-pasien dengan


gangguan fisik berat atau pada mereka yang gagal dengan
pengobatan rawat jalan. Namun dengan rawat inap pasien sering
kehilangan berat badan kembali setelah keluar dari rumah sakit.
Keputusan

untuk

rawat

inap

harus

berdasarkan

beberapa

pertimbangan sebagai berikut:


1. Keinginan pasien dan keluarganya.
2. Anjuran ahli.
3. Derajat beratnya penyakit
Pendekatan terapi yang dapat dilakukan untuk pasien anoreksia
nervosa dapat berupa konseling dimana konseling merupakan proses
membantu

seseorang

untuk

belajar

menyelesaikan

masalah

interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu. Fokusnya


pada

masalah

percakapan

dua

klien atau
arah.

pasien.

Bertujuan

Percakapannya
untukmembantu

merupakan
klien

untuk

mengenal dirinya, memahami permasalahannya, melihat peluang dan


mencari alternatif penyelesiannya

Parental counseling merupakan

salah satu contoh konseling yang dapt dilakukan, pendekatan ini


untuk mengajarkan hal-hal praktis seperti perencanaan makanan,
pendidikan dan mengembalikan aktivitas sehari-hari pada penderita
orangtua

Terapi keluarga dan konseling pernikahan dilakukan bilak

eadaan keluarga atau pernikahan itu sendiri yang menjadi sumber

24

atau penyebab gangguan, dan akan sangat bermanfaat bila


komunikasi dalam keluarga jelek
Psikoterapi yang dapat diberikan pada penderita anoreksia nervosa
adalah psikoterapi perilaku atau behavioral dan psikoterapi kognitif.
Terapi perilaku telah ditemukan efektif untuk mendorong kenaikan
berat badan meski tidak besar. Pemantauan merupakan komponen
penting dari psikoterapi kognitif dan perilaku. Pasien diajarkan untuk
memantau asupan makanan, perasaan dan emosi mereka, perilaku
mereka, dan masalah mereka dalam hubungan interpersonal. Pasien
diajarkan menrestruktur dan mengidentifikasi keyakinan inti mereka.
Pemecahan masalah merupakan metode khusus dimana pasien
belajar

bagaimana

memikirkan

dan

menyusun

strategi

untuk

mengatasi masalah yang terkait makanan dan interpersonal mereka.


Kerentanan pasien untuk bergantung pada perilaku anorectic dapat
diatasi jika mereka dapat belajar untuk menggunakan teknik ini
dengan efektif

25

IX.

KESIMPULAN
Anoreksia nervosa adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan
penolakan makan. Ciri khas gangguan adalah mengurangi berat
badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh
penderita.
Anorexia nervosa terjadi terutama pada anak perempuan dan wanita
muda. Onset biasanya selama masa remaja.
Etiologi yang tepat tidak diketahui. Dapat berupa pengaruh genetik,
gangguan kecemasan, keluarga, depresi, obesitas, rekan sekitar,
tekanan dan budaya sekeliling terhadap penampilan.
Secara umum terapi utamanya adalah psikoterapi ditambah dengan
terapi simtomatik untuk gangguan sekunder yang timbul serta
pemberian diet tertentu.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. S. Lisal, Johan. 2006. Gangguan Makan Pada Anak Dan Remaja.

http://med.unhas.ac.id/DataJurnal/tahun2006vol2007/ARTIKEL
%20MASUK%202006%20ok/GANGGUAN%20%20MAKAN
%20%20PADA%20%20ANAK%20%20DAN%20%20REMAJA.pdf.
2. National

Institutes

of

Health.

2007.Eating

Disorder.US:

DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES


3. Hadi, Sujono. 2002. Gastroenterologi.Bandung: P.T. Alumni
4. Yager, Joel., dan E. Andersen, Arnold. 2005. Anoreksia Nervosa.
The New England Journal of Medicine
5. E. Bernstein, Bettina. 2012. Pediatric Anorexia Nervosa. California:
medscape,

Available

from

URL:

http://emedicine.medscape.com/article/912187overview#aw2aab6b2b3aa
6. Slamet, Suryono. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI
7. J. Stunkard, Albert., dan G. Terence, Wilson. 2008. Anorexia

Nervosa. USA: The Merck Manuals., Available from URL:


http://www.merckmanuals.com/professional/psychiatric_disorders/e
ating_disorders/anorexia_nervosa.html

27

8. Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa


PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika
Atmajaya
9. Sadock, Benjamin James dan Sadock, Virginia Alcott. 2007. Kaplan
& Sadock's Synopsis of Psychiatry. New York: Lippincott Williams &
Wilkins
10. Maramis, Willy F dan Maramis, Albert A. 2009. Catatan Ilmu
Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press
11. Elvira, Sylvia D dan Hadisukanto, Gitayanti. 2010. Buku Ajar
Psikiatri. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

28