Anda di halaman 1dari 31

Renvoi

Depok, 6 Juli 2009 Yu Un Oppusunggu Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Istilah-istilah (1)

Renvoi, Renvoi au premier degr Partial or Single Renvoi Rckverweisung Remission, Remitting, Reference back, Remittal Rinvio indrieto Terugwijzing, Terugverwijzing Penunjukan kembali

Yu Un Oppusunggu

Istilah-istilah (2)
Renvoi au second degr Transmission, Forward Reference, Reference to a Third Law Weiterverweisung Verderverwijzing Penunjukan lebih jauh

Yu Un Oppusunggu

Titik Awal: Kembali ke Definisi

Gautama: Keseluruhan peraturan dan keputusan-hukum yang menunjukkan stelselhukum manakah yang berlaku atau apakah yang merupakan hukum, jika hubunganhubungan dan peristiwa-peristiwa antara warga(-warga) negara pada satu waktu tertentu memperlihatkan titik-titik pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah hukum dari dua atau lebih negara, yang berbeda dalam lingkungan-lingkungan-kuasa-tempat, (pribadi-) dan soal-soal.
Yu Un Oppusunggu 4

The Function of Private International Law

Private International Law contains rules of competence which determines which specific national law is to be applied and which leads to its application.

Zweigert & Ktz p.7.-

Yu Un Oppusunggu

Perbedaan Prinsip

Persoalan Renvoi mempunyai hubungan erat dengan masalah prinsip nasionalitas dan prinsip domisili sebagai penentuan dari status personal seseorang. Masalah Renvoi timbul karena adanya aneka warna sistem HPI. Salah satu persoalan penting berkenaan dengan status personil ialah apakah status personil itu ditentukan menurut prinsip nasionalitas atau prinsip domisili.
6

Yu Un Oppusunggu

Ada hubungan yang erat antara teori Renvoi dan persoalan apakah HPI bersifat supranasional atau nasional. Menurut pandangan mereka yang menganggap HPI bersifat supranasional, maka Renvoi tidak dapat diterima. Menurut pandangan ini, kaidah-kaidah HPI mempunyai kekuatan hukum dengan tidak menghiraukan apakah pembuatan undangundang nasional mengopernya atau menolaknya. Kaidah-kaidah HPI ini, karena berasal dari tata tertib hukum yang lebih tinggi daripada tata tertib pembuat undang-undang nasional, selalu adalah yang berlaku. Dalam jalan pikiran demikian, Renvoi tidak dapat diterima. Hal ini adalah karena menurut pendapat tersebut tidaklah mungkin bahwa untuk satu peristiwa tertentu akan dapat berlaku dua macam kaidah HPI yang bertentangan satu dengan yang lain. Hanya salah satu dari kaidah-kaidah HPI ini yang dapat dipandang benar adanya, dan hanya kaidah inilah yang harus diberlakukan. (Buku III, pp. 16-17) Renvoi hanya boleh diterima bila pandangan HPI sebagai hukum supranasional telah dilepaskan.

Yu Un Oppusunggu

Hukum Intern & Kaidah HPI

Kollisionsnormen
Kaidah-kaidah

HPI dari suatu negara.

Sachnormen
Hukum

Intern (minus kaidah HPI).

Hukum Negara X dalam keseluruhannya adalah Kollisionsnormen + Sachnormen


Yu Un Oppusunggu 8

Sachnormverweisung & Gesamtverweisung

Jika hanya Sachnormen suatu negara yang hendak diberlakukan, maka penunjukan semacam ini dinamakan:
Sachnormverweisung

Jika hukum suatu negara dalam keseluruhannya (+HPI) yang ditunjuk, maka penunjukan macam ini dinamakan:
Gesamtverweisung

Jika penunjukan pada hukum asing dianggap termasuk penunjukan pada kaidah-2 HPI-nya, mungkin terjadi renvoi.
9

Yu Un Oppusunggu

Alasan Pro Renvoi

Memberi keuntungan praktis. Kepastian hukum pemakaian Lex Fori Jangan lebih raja dari seorang raja. Plus royaliste que le roi Membawa harmoni keputusan-keputusan. Akibat adanya 2 sistem hukum yang berbeda

Yu Un Oppusunggu

10

Alasan Kontra Renvoi: (1) Tidak Logis (1)

Tidak logis karena dengan menerimanya akan terjadi suatu penunjukan kembali secara ad infinitum. Viceuze cirkel, vicious circle, internationales pingpong, logical cabinet of mirrors, a game of legal battledore and shuttlecock, an endless chain, a merry-go-round, ein internationales perpetuum mobile, ein juristisches Ebbeund Flut-speil. Beale: shall be inexticably involved in a circle and can never decide the case, since each party will constantl refuse to apply its own law and insist upon the law of the other party. This of course is an impossible conditions.

Yu Un Oppusunggu

11

Alasan Kontra Renvoi: (1) Tidak Logis (2)

Dalam hubungan ini kiranya perlu diperhatikan bahwa mereka yang antirenvoi memandang tiap penunjukan sebagai Sachnormverweisung, hingga dengan demikian mereka tidak sampai pada penunjukan kembali. Akan tetapi, sebaliknya, mereka kini tidak bersedia menerima bahwa penunjukan kembali sebagai akibat dari suatu Gesamtverweisung ini adalah suatu Sachnormverweisung.

Yu Un Oppusunggu

12

Alasan Kontra Renvoi: (2) Penyerahan Kedaulatan Legislatif

Cheshire: repugnant to nature and purpose of rules for the choice of law. Beale: the vice in the decisions (adopting a partial renvoi approach) results from the assumption that the foreign law has legal force in a decision of the case; whereas as has been pointed out, the only Conflict-of-Laws rule that can possibly be applied is the law of the forum and the foreign law is called in simply for furnishing a factual rule for the succession to the estate. The rule of the foreign law adopted by the law forum is the rule of succession,not the Conflict-of-Laws rule.
Yu Un Oppusunggu 13

Renvoi & Kualifikasi

Renvoi dapat dianggap sebagai semacam kualifikasi, yakni kualifikasi dari istilah hukum, khususnya hukum asing. Apa yang diartikan oleh suatu istilah, bagaimana suatu istilah harus dikualifikasikan, didefinisikan, diklasifikasikan, merupakan pokok persoalan teori tentang kualifikasi di bidang HPI.

Yu Un Oppusunggu

14

Lanjutan - Hal yang harus diperhatikan:

Jika menurut pandangan hakim negara X harus diperlakukan hukum negara Y, dalam arti kata seluruh hukum negara Y (termasuk HPI-nya), maka kemungkinan yang terjadi: = HPI negara Y akan menunjuk kembali kepada hukum negara X -----> penunjukan kembali; atau = HPI negara Y akan menunjuk lebih jauh kepada hukum negara Z ----> penunjukan lebih jauh
Yu Un Oppusunggu 15

Contoh penggunaan Renvoi:

Menentukan status personal seorang Warganegara Inggris, yang berdomisili di Indonesia. HPI Indonesia menunjuk kepada Hk Inggris (prinsip nasionalitas - analogis pasal 16 AB). Hk. Inggris berdasarkan kaidah HPI-nya (prinsip domisili) menunjuk kepada Hukum 1 1 Indonesia.
2 1

Yu Un Oppusunggu

16

Renvoi di Indonesia

Peraturan tertulis tentang Renvoi tidak atau belum ada. Praktek administratif merefleksikan penerimaan Renvoi. Yurisprudensi di Indonesia menerima Renvoi.

Pendirian Prof. Gautama : 1. Renvoi sebaiknya diterima karena alasan praktis

Hukum intern Indonesia berlaku.

2.

Pemakaian hukum intern bukan karena alasan chauvinisme juridisch. Pemakaian hukum sendiri terjadi setelah memberi tempat pula pada hukum asing & memperhatikan pertimbangan-pertimbangan dalam hukum asing itu sendiri.
Yu Un Oppusunggu 17

Batas-batas Bidang Renvoi

Renvoi tidak berlaku untuk seluruh bidang hukum perdata.

Kesepakatan Renvoi berlaku untuk soal status personal.

Tidak terdapat kesepakatan di bidang hukum kontrak.

Ada yang berpendapat tidak berlaku, karena yang menentukan adalah Pilihan Hukum (partij autonomie).
Yu Un Oppusunggu 18

Dua Macam Renvoi


1.

Single Renvoi (Remission)

Penunjukan kembali terjadi satu kali.

2.

Double Renvoi (Transmission) Foreign Court Theory

Penunjukan lebih lanjut atau penunjukan lebih jauh


Yu Un Oppusunggu 19

1. Single Renvoi
RI 1 UK

Penunjukan kembali terjadi satu kali Misalnya Perceraian WN Inggris yang berdomisili di Indonesia

Apakah Hukum Inggris atau Hukum Indonesia yang berlaku? Diajukan di hadapan Pengadilan Indonesia, perlu diperhatikan Kaidah HPI Indonesia. Kaidah HPI Indonesia (X) berlaku prinsip nasionalitas. Hukum Inggris berlaku untuk status personal WN Inggris ini. Kaidah HPI Inggris menganut prinsip domisili, jadi hukum domisili, i.e. Hukum Indonesia berlaku

Yu Un Oppusunggu

20

Cause Clbre: Forgo Cour de Cassation,1878 (1)

Forgo, seorang WN Bavaria (Beieren), bertempat tinggal di Perancis s/d meninggal dunia. Forgo tidak dapat memiliki domisili di Perancis, karena tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Pasal 13 CC Perancis (dicabut 1927)

The foreigner who shall have been permitted by the government to establish his domicile in France, shall enjoy in that country all civil rights so long as he shall continue to reside there.

Oleh karena itu, Forgo masih dipandang tetap mempunyai domisili asalnya (Herkunfts-domizil, domicile of origin). Sebelum meninggal Forgo tidak membuat testamen, oleh karena itu pewarisannya akan jatuh kepada ahli waris tanpa testamen. Harta peninggalannya telah diklaim oleh saudara-saudara alamiahnya (natuurlijke bloedverwanten), sedangkan Pemerintah Perancis juga mengklaim berhak atas warisan.
Yu Un Oppusunggu 21

Cause Clbre: Forgo Cour de Cassation,1878 (2)

Pihak saudara mendasarkan tuntutan pada ketentuan dalam hukum Bavaria yang mengenal hak warisan dari anak-anak luar nikah. Pemerintah Perancis mendasarkan tuntutan pada kaidah-kaidah hukum intern Perancis, yakni tidak dikenal warisan dari anak-anak luar nikah, sehingga warisan harus jatus ke tangan fiscus Perancis.

Yu Un Oppusunggu

22

Cause Clbre: Forgo Cour de Cassation,1878 (3)

Menurut HPI Perancis, untuk warisan dari benda-benda bergerak diberlakukan hukum Herkunfstsdomizil, i.c. Hukum Bavaria. HPI Bavaria mengenal ketentuan bahwa berkenaan dengan warisan dari benda-benda bergerak, berlakulah hukum dari tempat tinggal sebenarnya dari Pewaris, i.c. Perancis. Oleh Cour de Cassation, telah diterima dengan baik penunjukan kembali kepada hukum Perancis. Dalam hal ini, diberlakukan hukum warisan intern Perancis.

Yu Un Oppusunggu

23

Penunjukan lebih jauh


Kasus Patino v Patino Perceraian suami-isteri WN Bolivia Pernikahan di Madrid, Spanyol. Perceraian diajukan di pengadilan Perancis. Kaidah HPI Perancis -- Hukum Bolivia (hukum nasional) gesamtverweisung Kaidah HPI Bolivia Hukum Spanyol (lex loci celebrationis) Jadi Kaidah HPI Bolivia tidak menunjuk kembali kepada hukum Perancis (lex domicili), tapi ke arah sistem hukum negara ketiga, i.e. hukum Spanyol.

Yu Un Oppusunggu

24

2 Double Renvoi Foreign Court Theory

Yu Un Oppusunggu

25

Foreign Court Theory adalah konsep renvoi yang dikembangkan dalam sistem HPI Inggris. Berdasarkan teori ini, Hakim Inggeris dalam mengadili suatu perkara HPI akan bertindak seorlah-oleh diduk dikursi Hakim dari negara lain (consider himself sitting in foreign court). Ada 2 Kemungkinan:
3

1.

1 2

Y menerima renvoi - berlaku hukum intern Y

2.

Y
26

Y menolak renvoi - berlaku hukum intern X


Yu Un Oppusunggu

In re Annesley (1)

Ny Annesley (WN Inggris), domisili Perancis. Meninggal dunia di Perancis tahun 1924. Membuat testamen menurut hukum Inggris pada tahun 1919.

Akibatnya anak laki-lakinya kehilangan hak waris.

Menurut hukum Perancis anak mempunyai legitieme portie. Persoalan: Hukum intern Inggris atau hukum intern Perancis yg berlaku terhadap testamen?

Yu Un Oppusunggu

27

Lanjutan In re Annesley

Domisili meninggal di Perancis. Menurut HPI Inggris digunakan hukum Perancis. Sesuai FCT hakim Inggris memperhatikan bgmana keputusan hakim Perancis. Jik hakim Perancis harus mengadili perkara ini, hakim Perancis akan menentukan hukum nasional yg berlaku i.e. hukum Inggris yang kemudian akan tunjuk Lgi hukum intern Perancis. Sejak perkara Forgo, Renvoi dianggap diterima di Perancis. Oleh hakim Inggris (Russel) diputuskan hukum intern Perancis berlaku. Jadi legitieme portie dari anak tidak dapat dikesampingkan. 28 Yu Un Oppusunggu

In re Ross v Waterfield (1)

Ny Janet Ann Ross (WN Inggris), domisili menurut hukum Inggris adalah Italai. Sejak tahun 1888 sampai dengan suaminya meninggal dunia pada tahun 1902 mereka tinggal di Florence (Italia). Meninggal dunia di Italia tahun 1927. Menurut testamen yang dibuat oleh Ny. Ross semua harta kekayaannya diwariskan kepada Ny Caroline L. Waterfield.

Akibatnya anak laki-laki satu-satunya tidak mewarisi.

Sang anak menggugat keabsahan testamen tersebut, dengan dalil bahwa ia berhak mewaris atas dasar legitieme portie menurut hukum Italia.
Yu Un Oppusunggu 29

In re Ross v Waterfield (2)

Persoalan: Hukum intern Inggris atau hukum intern Italia yg berlaku untuk suatu testamen. Domisili meninggal di Perancis. Menurut HPI Inggris digunakan hukum Perancis. HPI Inggris menunjuk hukum domisili Pewaris, i.e. hukum Italia (khusus barang bergerak). Sesuai dgn FCT hakim Inggris memperhatikan bagaimana keputusan hakim Italia. Jik hakim Italia harus mengadili perkara ini, hakim Italia akan menentukan hak nasional Pewaris yg berlaku i.e. hukum Inggris. Penunjukan bersifat Sachnormverweisung, sehingga hukum intern Inggris berlaku. Renvoi ditolak di Italia. Jadi gugatan tidak diterima. Surat wasiat adalah sah.

Yu Un Oppusunggu

30

Renvoi & Kualifikasi

Renvoi dapat dianggap sebagai semacam kualifikasi, yakni kualifikasi dari istilah hukum, khususnya hukum asing.
Apa yang diartikan oleh suatu istilah, bagaimana suatu istilah harus dikualifikasikan, didefinisikan, diklasifikasikan, merupakan pokok persoalan teori tentang kualifikasi di bidang HPI.
Yu Un Oppusunggu 31