Anda di halaman 1dari 9

REFERAT GANGGUAN SOMATOFORM

Oleh: Devi Haryati NPM. 09310056

Pembimbing: dr. Kartidjo, Sp. KJ

DEPARTEMEN SMF ILMU JIWA RSUD KOTA TASIKMALAYA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Gangguan Somotoform Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contoh nyeri, mual, dan pusing) dimana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.

B. Epidemiologi Prevalensi seumur hidup menderita gangguan pada populasi umum diperkirakan adalah 0,1 sampai 0,2 persen, walaupun beberapa kelompok penelitian percaya bahwa angka sesungguhnya mungkin mendekati 0,5 persen. Wanita dengan gangguan somatisasi melebihi jumlah laki-laki sebesar 5 sampai 20 kali, walaupun perkiraan tertinggi mungkin karena kecenderungan awal yang tidak mendiagnosis gangguan somatisasi pada laki-laki. Namun demikian, dengan rasio wanita berbanding laki-laki adalah 5 banding 1, prevalensi seumur hidup gangguan somatisasi pada wanita di populasi umum adalah 1 atau 2 persen; gangguan ini bukan gangguan yang jarang ditemukan. Diantara pasien yang datang ke tempat praktek dokter umum dan dokter keluarga, sebanyak 5 sampai 10 persen dokter mungkin memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan somatisasi. Gangguan ini berbanding terbalik dengan posisi sosial, dan terjadi paling sering pada pasien yang memiliki sedikit edukasi dan tingkat pendapatan yang rendah. Gangguan somatisasi didefinisikan sebagai dimulai sebelum usia 30 tahun dan paling sering dimulai selama masa remaja seseorang. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa gangguan somatisasi sering kali bersama-sama dengan gangguan mental lainnya. Kira-kira dua pertiga dari semua pasien dengan gangguan somatisasi memiliki gejala psikiatrik yang dapat diidentifikasi, dan sebanyak separuh pasien dengan gangguan somatisasi memiliki gangguan mental lainnya. Sifat kepribadian atau gangguan

kepribadian yang sering menyertai adalah yang ditandai oleh ciri penghindaran, paranoid, mengalahkan diri sendiri, dan obsesif-kompulsif. Dua gangguan yang tidak lebih sering ditemukan pada pasien dengan gangguan somatisasi dibandingkan dengan populasi umum adalah gangguan bipolar dan penyalahgunaan zat psikotropik.

C. Etiologi Faktor psikososial Penyebab gangguan somatisasi adalah tidak diketahui. Rumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai suatu tipe komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban (sebagai contoh, mengerjakan ke pekerjaan yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (sebagai contoh, kemarahan kepada pasangan), atau untuk mensimbolisasikan suatu perasaan atau keyakinan (sebagai contoh, nyeri pada usus seseorang). Interpretasi psikoanalitik yang ketat tentang gejala terletak pada hipotesis bahwa gejala-gejala tersebut menggantikan impuls berdasarkan insting yang ditekan. Pandangan perilaku pada gangguan somatisasi menekankan bahwa pengajaran orang tua, contoh dari orang tua, dan adat istiadat dapat mengajari beberapa anak untuk lebih melakukan somatisasi daripada orang lain. Di samping itu, beberapa pasien dengan gangguan somatisasi berasal dari keluarga yang tidak stabil dan telah mengalami penyiksaan fisik. Faktor sosial, kultural, dan etnik mungkin juga terlibat di dalam perkembangan gejala gangguan somatisasi. Faktor biologis dan genetik Beberapa penelitian mengarah pada dasar neuropsikologis untuk gangguan somatisasi. Penelitian tersebut mengajukan bahwa pasien memiliki gangguan perhatian yang khas dan hendaya kognitif karakteristik yang dapat menyebabkan persepsi dan penilaian yang salah terhadap masukan (input) somatosensorik. Hendaya ini mencakup distractibility (perhatian mudah teralih) yang berlebihan, ketidakmampuan menghabituasi stimulus yang

berulang, pengelompokkan konstruksi kognitif atas dasar impresionistik, asosiasi parsial dan sirkumstansial, dan tidak adanya selektivitas, seperti yang dinyatakan oleh beberapa penelitian potensial bangkitan. Sejumlah terbatas penelitian pencitraan otak telah melaporkan penurunan metabolisme di lobus frontalis dan pada hemisfer non dominan. Data genetika menyatakan bahwa, sekurangnya pada beberapa keluarga, transmisi gangguan somatisasi memiliki suatu komponen genetika. Data menyatakan bahwa gangguan somatisasi cenderung berjalan di dalam keluarga, terjadi pada 10 sampai 20 persen sanak saudara wanita derajat pertama dari pasien dengan gangguan somatisasi. Di dalam keluarga tersebut, sanak saudara laki-laki derajat pertama adalah rentan terhadap penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian anti-sosial. Satu penelitian juga melaporkan angka kesesuaian pada 29 persen kembar dizigotik, jadi menyatakan suatu efek genetika. Satu bidang baru riset neuroilmiah dasar yang mungkin relevan dengan gangguan somatisasi dan gangguan somatifom lainnya mempermasalahkan sitokin (cytokines). Sitokin adalah molekul pembawa pesan (messenger molecules) yang digunakan oleh sistem kekebalan untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berkomunikasi dengan sistem saraf, termasuk otak. Contoh sitokin adalah interleukin, faktor nekrosis tumor, dan interferon. Beberapa percobaan awal menyatakan bahwa sitokin dapat membantumenyebabkan suatu gejala non spesifik dari penyakit, khususnya infeksi, seperti hipersomnia, anoreksia, kelelahan, dan depresi. Walaupun data belum mendukung hipotesis, regulasi abnormal sistem sitokin mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatoform.

D. Gambaran Klinis Pasien dengan gangguan somatisasi mungkin memiliki banyak keluahan somatik dan riwayat medis yang rumit dan panjang. Mual dan muntah (selain selama kehamilan), kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, nafas pendek yang tidak berhubungan dengan aktivitas, amnesia, dan komplikasi

kehamilan dan menstruasi adalah gejala yang paling lazim ditemui. Pasien sering meyakinan bahwa mereka telah sakit selama sebagian besar hidup mereka. Gejala pseudoneurologis mengesankan, tetapi tidak patognomonik, untuk adanya gangguan neurologis. Menurut DSM-IV-TR, gejala

pseudoneurologis mencakup gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan lokal, kesulitan menelan atau benjolan di tenggorok, afonia, retensio urine, halusinasi, hilangnya sensasi raba atau nyeri, penglihatn ganda, buta, tuli, kejang, atau hilang kesadaran selain pingsan. Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal menonjol pada gangguan ini, kecemasan dan depresi adalah kondisi psikiatrik paling sering menonjol. Ancaman bunuh diri lazim ditemukan, tetapi bunuh diri yang sesungguhnya adalah jarang terjadi. Jika bunuh diri memang terjadi, maka sering kali disertai dengan penyalahgunaan zat. Riwayat medis pasien sering kali sepintas, samar-samar, tidak jelas, tidak konsisten, dan tidak tersusun. Pasien secara klasik, tetapi tidak selalu menggambarkan keluhannya dalam cara dramatik, emosional, dan berlebih-lebihan, dengan bahasa yang jelas dan bermacam-macam. Mereka dapat bingung dengan urutan waktu dan tidak dapat membedakan dengan jelas gejala sekarang dengan gejala lampau. Pasien wanita dengan gangguan somatisasi dapat berpakaian dengan cara yang eksibisionistik. Pasien dapat dianggap sebagai seseorang yang tidak mandiri, terpusat diri sendiri, haus akan pujian atau sanjungan, dan manipulatif. Gangguan somatisasi sering kali disertai oleh gangguan mental lainnya, termasuk gangguan depresif berat, gangguan kepribadian, gangguan

berhubungan zat, gangguan kecemasan umum, dan fobia. Kombinasi gangguan-gangguan tersebut dan gejala kronis menyebabkan peningkatan insidensi masalah perkawinan, pekerjaan, dan sosial.

E. Diagnosis DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition) menyederhanakan kriteria diagnostik yang diajukan di dalam DSMIII. Untuk diagnosis gangguan somatoform, DSM-IV mengharuskan onset usia

sebelum usia 30 tahun. Selama perjalanan penyakit, pasien harus telah mengeluhkan sekurangnya empat gejala nyeri, dua gejala gastrointestinal, satu gejala seksual, dan satu gejala neurologis semu, yang semuanya tidak ada yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium. Kriteria diagnostik untuk gejala somatoform, yaitu : A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan menyebabkan terapi yang dicari atau gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan, yaitu: 1. Empat gejala nyeri : Riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan, misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi. 2. Dua gejala gastrointestinal : Riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain dari nyeri, misalnya mial, kembung, muntah selain dari kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan. 3. Satu gejala seksual : Riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri, misalnya indiferensi seksual, disfungsi ereksi atau ejakulasi, menstruasi yang tidak teratur, perdarahan menstruasi yang berlebihan, dan muntah sepanjang kehamilan. 4. Satu gela pseudoneurologis : Riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti, gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensio urine, halusinasi, hilangnya sensasi sentuh atau nyeri, pandangan ganda,

kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti, amnesia, atau hilangnya kesadaran selain pingsan. C. Salah satu (1) atau (2) : 1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dari suatu zat (misalnya, efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol). 2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dari rieayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium. D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada ganggguan buatan atau pura-pura).

F. Terapi Pasien dengan gangguan somatisasi paling baik diobati jika mereka memiliki seorang dokter tunggal sebagai perawat kesehatan utamanya. Jika terlibat lebih dari satu klinisi, pasien memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan keluhan somatik. Klinisi primer harus memeriksa pasien selama kunjungan terjadwal yang teratur, biasanya dengan interval satu bulan. Kunjungan harus relatif singkat, walaupun pemeriksaan fisik sebagian harus dilakukan sebagai respons terhadap masing-masing keluhan somatik yang baru, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik tambahan biasanya harus dihindari. Jika gangguan somatisasi telah didiagnosis, dokter yang mengobati pasien harus mendengarkan keluhan somatik sebagai ekspresi emosional, bukannya sebagai keluhan medis. Tetapi, pasien dengan keluhan somatisasi juga dapat memiliki penyakit fisik, dengan demikian dokter harus selalu menggunakan pertimbangannya mengenai gejala mana yang perlu diperiksa dan sampai sejauh mana. Strategi yang luas baik bagi dokter perawatan primer adalah meningkatkan kesadaran pasien tentang kemungkinan bahwa faktor psikologis

terlibat di dalam gejala sampai pasien mau mengunjungi klinisi kesehatan mental, kemungkinan dokter psikiatrik, secara teratur. Psikoterapi, baik individual dan kelompok, menurunkan biaya perawatan kesehatan penderita gangguan somatisasi sebesar 50 persen, sebagian besar karena penurunan jumlah perawata di rumah sakit. Dalam lingkungan psikoterapeutik, pasien dibantu untuk mengatasi gejalanya, untuk

mengekspresikan emosi yang mendasari, dan untuk menggembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka. Memberikan obat psikotropik ketika gangguan somatisasi timbul bersamaan dengan gangguan mood atau gangguan ansietas selalu memiliki resiko, tetapi juga diindikasikan terapi psikofarmakologis dan terapi psikoterapeutik, pada gangguan yang timbul bersamaan. Obat harus diawasi karena pasien dengan gangguan somatisasi cenderung menggunakan obatnya dengan tidak teratur dan tidak dapat dipercaya. Pada pasien tanpa gangguan jiwa lain, sedikit data yang tersedia menyatakan bahwa terapi farmakologis efektif bagi mereka.