Anda di halaman 1dari 8

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) A.

Konsep dasar dari pendekatan REBT Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah teori kognitif pertama dan kini berkembang menjadi pendekatan cognitive behavioral yang utama. Terapi yang dikembangkan oleh Albert Ellis ini berorientasi pada kognisi dan perilaku dan juga menekankan pada thinking, judging, deciding, analyzing, and doing. Asumsi dasar dari REBT adalah individu berkontribusi pada masalah psikologis mereka melalui cara mereka menginterpretasi kejadian dan situasi. REBT juga didasarkan pada asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan yang reciprocal-causeand effect. Walaupun REBT kini menjadi pendekatan kognitif behavioral yang utama, namun ia berangkat dari pemikiran-pemikiran sebelumnya. Ellis terinspirasi dari filusuf Yunani Kuno, Epictetus people are disturbed not by events, but by the views which they take of them. Hipotesis dasar dari REBT adalah emosi individu berasal dari keyakinan, evaluasi, interpretasi, dan reaksi terhadap situasi kehidupan. Melalui proses terapi, klien belajar keahlian yang dapat memberi mereka alat untuk mengidentifikasi dan mencegah irrational beliefs yang bisa saja muncul. Klien belajar untuk mengganti cara berpikir yang tidak efektif menjadi kognisi yang efektif dan rasional. Proses terapi memungkinkan klien menerapkan prinsip REBT tidak hanya pada masalah tertentu yang muncul, namun juga pada masalah lain dalam kehidupan atau masalah yang akan datang yang mungkin saja akan klien hadapi.

Aspek-aspek Umum dalam Konseling Kognitif Karakteristik klien yang berhasil dalam konseling: Intelijensi rata-rata hingga diatas rata-rata Functional distress sedang hingga berat Mampu mengindentifikasi pikiran dan perasaan Tidak psikotik atau mampu dengan masalah yang ada Mampu dan mau untuk menyelesaikan tugas sistematis Melakukan kemapuan dan respon perilaku berulang-ulang Memproses informasi pada tingkat visual dan auditori

Pendekatan kognitif biasanya digunakan pada klien yang fungsi mentalnya terhambat, seperti depresi. Tetapi juga biasa digunakan pada klien yang tidak terlihat terhambat tetapi mengalami disfungsiautomatic thoughts (konten spesifik dari suatu kujadian) dan schemata (aturan umum tentang diri sendiri atau dunia yang berhubungan dengan kejadian). Untuk mengubahnya, teori konseling kognitif menekankan pada pikiran seseorang yang dapat dikategorisasikan menjadi cold, warm, hot cognition. Cold cognition pada dasarnya deskriptif dan tidak evaluatif, seperti aku kehilangan pekerjaan. Warm cognition menekankan pada pilihan, seperti aku

kehilangan pekerjaan dan aku tidak ingin mencari pekerjaan lain. Sedangkan hot cognition memuat pernyataan permintaan secara emosional dan memiliki bentuk beragam seperti terlalu menggeneralisasi, katastrope, pembesaran, dan berpikir menyeluruh atau tidak (all-or-none thinking), seperti aku harus mendapat pekerjaan seperti aku kehilangan pekerjaan. Kadang seseorang dapat meningkat dengan mengekspresikan pikiran mereka dengan menulis, hal ini disebut scriptotherapy. Tetapi resolusi alami seperti itu tidak biasa. Sehingga rencana sistematislah yang terbaik. Terdapat dua proses, pertama relasi harus dibangun antara konselor dan klien. Kedua mengimplemenasikan strategi mengubah kognitif. Berikut ini yang sering masuk dalam strategi merubah: 1. Menggunakan pedoman standar untuk memahami sikap konkret terhadap situasi dalam kehidupan 2. Mereka atau merefleksikan pikiran seseorang mengenai situasi dengan jelas secara tepat 3. Menemukan tanda untuk mengidentifikasi dan menghadapi pikiran yang terdistorsi 4. Mengimplenentasi cara baru berpikir yang realistis dan produktif Becks Cognitive Therapy Aaron T. Beck mengembangkan pendekatan kognitif untuk gangguan mental. Ia menekankan pada pentingnya kognitif berpikir dalam teorinya, terutama pikiran disfungsional (pikiran yang tidak produktif dan tidak relistis). Beck menemukan bahwa terapi kognitif efektif pada treatmen jangka pendek, terutama depresi dan kecemasan. Dalam kasus ini, terdapat interpretasi dan harapan yang mengarah pada efek menyakitkan dari kesedihan dan kecemasan, menjadi aviodance dan inhibition. Konselor yang berorientasi kognitif yang dilatih dalam metode Beck mencoba untuk membantu klien menjadi lebih realistis dalam interpretasi mereka dengan mengurangi generalisasi dalam kasus depresi dan mengurangi proyeksi dalam kasus kecemasan. Secara keseluruhan beck menekankan pada poin berikut: pertama, ia tidak menyangkal kepercayaan tetapi membiarkan kliennya memeriksa fungsi kepercayannya. Kedua, pendekatannya menggunakan profil khusus dan rencana treatment untuk gangguan seperti depresi, bunuh diri, kecemasan. Model Beck merupakan eksploratori dan kolaboratif dalam hal bekerja dengan klien. Maka, membutuhkan pengujian empiris pada bagian klien sebagai peneliti kehidupan mereka sehingga mereka mengerti bahwa kepercayaan mereka tidak fungsional. Kesimpulannya Beck fokus pada pentingnya memodifikasi pikiran dalam treatmen gangguan mental.

Rational Emotive Behavior Therapy (Abert Ellis) Abert Ellis merupakan penemu rational emotive behavior therapy yang lahir pada 1913 di Pittsburgh, Pennsylvinia dalam keluarga yahudi. Pada usia 5 tahun Ellis hampir meninggal karena radang tenggorokan, kemudian menderita radang ginjal akut dan diabetes. Mimpinya saat remaja adalah menjadi seorang penulis, tetapi literaturnya tidak membuatnya sukses sehingga ia memutuskan untuk mempelajari psikologi. Ellis ingin menjadi psikolog psikoanalisis klinis tetapi institusi yang menyediakan hanya menerima profesi medis. Hingga akhirnya ia mendapatkan analisis dari kelompok Karen Horney dan mempraktekkan psikoanalisis klasik. Tidak puas dengan pendekatan tersebut ia memulai praktek teorinya sendiri pada tahun 1955.

REBT berasumsi bahwa manusia pada dasarnya rasional dan irrasional, berakal sehat dan tidak. Menurut Ellis dualitas tersebut secara biologis tidak terpisahkan dan tetap ada kecuali ada cara berpikir baru yang dipelajari. Irrational thinking atau menurut Ellis irrational beliefs (IBs), kemungkinan membantu merusak dan mengganggu pikiran. Ellis menempatkan irrational beliefs dibawah tiga judul utama. Kekeliruan ini yang mana telah digunakan dalam pembuatan bermacam-macam tes, yang telah dikorelasikan dengan bermacam-macam gangguan emosional. 1. Aku harus mengerjakan tugas penting dengan baik dan diterima oleh orang lain, jika tidak maka aku tidak memadai, orang yang tidak bernilai! Hasil: perasaan cemas, depresi dan demoralisasi yang parah, sering mengarah pada inhibisi parah. 2. Orang lain terutama teman dan keluargaku harus memperlakukanku dengan baik dan adil jika tidak maka mereka orang yang buruk dan terkutuk! Hasil: perasaan yang parah atas marah, murka, gusar, sering mengarah pada perkelahian, kekerasan anak, penyerangan, perkosaan, pembunuhan, dan genocide. 3. Kondisi dimana aku hidup harus nyaman, tidak rumit, dan menyenangkan, jika tidak makamengerikan, aku tidak tahan, dan hidupku tidak bernilai! Hasil: perasaan yang parah akan toleransi frustasi yang rendah, sering mengarah pada kompulsi, kecanduan, penghindaran, inhibisi dan reaksi publik. Walaupun Ellis tidak berhubungan dengan masa pekembangan individu, ia berpikir bahwa anak lebih rentan terhadap pengaruh luar dan berpikir irasional daripada orang dewasa. Secara alami ia percaya bahwa manusia mudah ditipu dan mudah disugesti dan mudah terganggu. Secara keseluruhan, seseorang memiliki kemampuan mereka sendiri untuk mengontrol pikiran, persaan, dan tindakan mereka, tetapi pertama mereka harus sadar apa yang mereka katakan pada diri mereka sendiri (self-talk) untuk menambah perintah dalam kehidupan mereka. hal ini merupakan peroalan personal, sadar akan kesadaran. Pikiran bawah sadar tidak masuk dalam konsep sifat manusia menurut Ellis. Ellis percaya bahwa suatu kesalahan bila seseorang menilai dirinya diluar ide dimana semua orang merupakan makhluk yang dapat berbuat keliru.

B. Peran konselor menurut pendekatan REBT Dalam pendekatan REBT, konselor bersifat aktif dan mengarahkan. Mereka adalah instruktur yang mengajar dan mengoreksi kognisi dari klien. Pemusatan secara dalam pada kepercayaan yang mendarah daging diharapkan lebih dari logika. Ini menghendaki perulangan yang konsisten. (Krumb oltz,1992). Oleh karena itu, konselor harus mendengarkan dengan hati-hati atas ketidaklogikaan atau pernyataan yang salah dari klien dan menantang kepercayaan seperti aku tidak akan pernah menjadi lebih baik. dalam proses, mereka menunjukkan keinginan dan perhatian untuk klien dengan mengikuti perilaku mereka, dengan senantiasa menjawab pertanyaan untuk mengklarifikasi, dengan merecall kondisi detail personal mengenai klien dan problemnya, dengan menggunakan humor yang gentle, dan dengan usaha yang aktif untuk membantu klien menyelesaikan persoalan yang sulit. (Vernon,1996,p.122). Ellis (1980) dan Wllien, DiGuiseppe dan Dyden (1992) berhasil mengidentifikasi beberapa karakteristik yang diperlukan untuk menjadi seorang konselor REBT. Untuk menjadi konselor yang baik, seorang konselor seharusnya cerdas, berpengetahuan luas, empatik, respect, ikhlas, konkret, gigih, ilmiah, punya

keinginan untuk membantu orang lain dan bisa menggunakan REBT sendiri. Pokok dari alat asesmen konselor adalah evaluasi dari pemikiran klien. Beberapa tes formal mungkin bekerja untuk mengukur pikiran rasional dan irasional, tetapi proses evalusi awalnya diselesaikan pada sesi konselor-klien. Sebagai peraturan, praktisi REBT tidak mengandalkan dengan sangat pada kategori diagnostik dalam DSM-IV.

C. Tujuan konseling menurut pendekatan REBT Tujuan utama dari REBT adalah fokus untuk membantu orang-orang untuk mewujudkan bahwa mereka bisa hidup lebih rasional dan produktif. Rational-Emotive Therapy merupakan sebuah usaha untuk membenarkan kesalahan-kesalahan pada alasan-alasan yang dikemukakan klien sebagai cara untuk mengeliminasi emosi-emosi yang tidak diinginkan (Cohen, 1987, p.37) REBT sangat dipengaruhi oleh filosofi stoic, Ellis mengemukakan sebuah quote dari Epictetus, yang menulis : Men feel disturbed not by things, but by the views which they take of them. (Seseorang merasa terganggu bukan karena sesuatu, tapi karena pandangan-pandangan yang mereka dapatkan dari sesuatu tersebut). Kebanyakan individu mengganggu diri mereka sendiri dengan merubah harapan-harapan dan keinginan-keinginan pada tuntutan. Ellis menunjukkan bahwa ketika seorang individu menggunakan kata-kata, seperti must, should, ought, have to, dan need, individu itu membuat tuntutan dari segala harapannya ddan berpikir secara irasional. Individu biasanya berpikir bahwa ketika harapanharapan must dan should muncul dan jika harapan tidak terpenuhi, maka hasilnya adalahcatastrophe. REBT membantu klien berhenti membuat beberapa tuntutan dan kemudian membalikkannya melalui catastrophizing. Klien pada REBT mungkin mengekspresikan beberapa perasaan negatif, tapi tujuan utamanya adalah membantu mereka mencegah adanya respon emosi yang lebih daripada membenarkannya. Ellis pula secara teratur menggunakan sindiran dan cara-cara humoris lainnya untuk membantu kliennya melihat bagaimana berpikir irasional berkembang dan bagaimana berpikir konsekuensi dari hal-hal yang bodoh. Maka kemudian, ia mengarang beberapa lagu yang rasional untuk membantu mengingatkan dirinya sendiri berpikir secara rasional. Bernyanyi sebuah lagu secara kognitif dapat mendistorsi pemikiran-pemikiran yang dialamatkan pada cara yang humoris dan terapeutik. Tujuan lain dari REBT adalah membantu individu mengubah kebiasaan self-defeating (penyalahan terhadap diri sendiri) dari pemikiran serta perilaku yang ada. Satu cara yang bisa dilakukan ialah memakai metode ABC, yakni A adalah antecedent, yakni segenap peristiwa luar yang dialami oleh individu. B adalah representasi dari bagaimana individu berpikir tentang pengalaman yang dialaminya, kemudian C adalah reaksi emosional dari B. Banyak klien yang percaya bahwa pengalaman, secara langsung menyebabkan adanya suatu feeling konsep ini disebut cognitive bypass. Konseptualisasi ini adalah sebuah proses pemikiran yang mengarah pada perkembangan emosi. Contohnya, individu yang baru saja kehilangan pekerjaan atau kesempatan dan dinyatakan bahwa pengalaman tersebut menyebabkan depresi. REBT membantu beberapa individu belajar bagaimana mengenali emotional anatomy jadi, belajar bagaimana feeling (perasaan) dianggap seperti thought (pemikiran) Berpikir tentang pengalaman bisa dikarakteristikkan menjadi 4 macam, yakni :

1.

Positif : Pemikiran positif mengarah pada perasaan positif, contohnya : saat seorang host pada sebuah pesta mengingatkan seorang lelaki bahwa dia sudah terlalu banyak minum, lelaki itu mungkin berpikir tentang kepedulian si host dan memiliki emosi positif. 2. Negatif : Pemikiran negatif mengarah pada perasaan negative, contohnya sama seperti yang diatas, namun lelaki tersebut menganggap si host sangat kritis dengannya dan tidak seharusnya dia berkomentar seperti itu. 3. Netral : arti secara sederhananya mencatat aksi-aksi yang dilakukan host dan berpindah padathought (pemikiran) yang lain. 4. Campuran : mengalami pengalaman positif dan negatif pada satu waktu, hasilnya adalah ambivalensi REBT mengajak kliennya untuk menjadi lebih toleran pada diri mereka sendiri dan lainnya, serta mencapai tujuan personalnya. Tujuan-tujuan itu dilakukan dengan mengajarkan individu berpikir secara rasional untuk mengubah tingkah laku self-defeating dan membantu mereka belajar berperilaku yang baru. Ellis juga merancang beberapa tugas, seperti shame attack exercises, untuk membantu klien belajar berperilaku secara berbeda. Latihan-latihan ini biasanya termasuk aktivitas yang tidak berbahaya, tapi menyeramkan, seperti memperkenalkan diri sendiri pada orang lain atau meminta segelas air di restoran tanpa memesan yang lain. Dengan melakukan hal ini, klien berarti sudah menjalankan terapi ABC pada level personal dan secara penuh akan terwujud saat kesalahan dibuat atau harapan-harapan tidak terpenuhi. Klien juga diajarkan bahwa tidak ada orang yang sempurna. Akhirnya, klien belajar bahwa tujuan-tujuan itu harus tercapai tanpa adanya ketakutan (awfulizing atau terriblizing) pada situasi personal, seperti yang ia alami sebelumnya.

D. Teknik konseling dalam pendekatan REBT REBT meliputi sejumlah tehnik yang beragam. Dua tehnik utama adalah teaching dan disputing. Sebelum perubahan dapat dilakukan, klien harus mempelajari dasar ide REBT dan memahami bagaimana pikiran berkaitan dengan emosi dan perilaku, Sebagai proses, REBT adalah sangat didaktik dan sangat direktif sifatnya. Pada beberapa sesi awal terapi, konselor mengajari klien mereka anatomy of an emotion: bahwa perasaan merupakan hasil dari pikiran, bukan dari kejadian, dan self-talkmempengaruhi emosi. Prosedur ini dikenal dengan sebutan rational-emotive education (REE). Disputing pemikiran dan kepercayaan memiliki tiga bentuk: kognitif, imaginal, dan behavioral.Cognitive disputation meliputi penggunaan pertanyaan langsung, penalaran logis, dan persuasi. Pertanyaan langsung akan menantang klien untuk membuktikan bahwa respon mereka logis. Terkadanginquiry meliputi penggunakan kata why atau mengapa, yang mana jarang digunakan dalam konseling karena kata tanya tersebut membuat kebanyakan orang menjadi defensif dan menghalangi eksplorasi. Contohnya meliputi Mengapa harus anda? dan Mengapa harus seperti itu? Selama inquiry ini, klien belajar untuk membedakan antara pemikiran rasional dan irasional. Mereka juga belajar superioritas pemikiran rasional. Bentuk lain dari cognitive disputation adalah penggunaan syllogisms, sebuah bentuk deduktif penalaran yang terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan (Cohen, 1987; dalam Gladding, 1996).

Silogisme membantu klien dan konselor secara lebih menyeluruh memahami falasi induktif dan deduktif yang mendasari emosi. Contohnya dalam pemikiran Aku tidak suka, proses nya seperti ini: Premis Mayor: Tidak ada orang yang suka dibohongi. Premis Minor: Aku dibohongi. Kesimpulan: Aku tidak suka dibohongi. Imaginal Disputation tergantung pada kemampuan klien untuk membayangkan dan menggunakan sebuah tehnik yang dikenal sebagai rational-emotive imagery (REI) (Maultsby, 1984; dalam Gladding, 1996). REI digunakan dalam satu dari dua cara. Pertama, klien diminta untuk membayangkan situasi dimana mereka cenderung menjadi kecewa. Klien memeriksa self-talk mereka selama situasi yang dibayangkan tersebut. Lalu konselor meminta klien untuk membayangkan situasi yang sama namun kali ini menjadi lebih moderate dalam self-talk mereka. Kedua, konselor meminta klien untuk membayangkan situasi dimana klien merasa atau berperilaku berbeda dari beberapa contoh nyata. Klien lalu diinstruksikan untuk memeriksa self-talk yang digunakan pada situasi yang dibayangkan ini. REI membutuhkan latihan. Ini akan bekerja dengan klien yang memiliki imajinasi yang jelas dan, setelah beberapa latihan, dengan orang-orang yang tidak memilikinya. Emotional Control Card (ECC) adalah alat yang membantu klien mereinforce dan memperluas latihan REI (Sklare, Taylor, & Hyland, 1985; dalam Gladding, 1996). Empat kategori emosi yang melemahkan (marah, self-criticism, kecemasan, dan depresi) di-list pada ECC yang berukuran dompet. Dibawah masing-masing kategori adalah daftar perasaan yang tidak benar atau self-destructive dan sebuah daftar paralel perasaan yang benar. Dalam sebuah situasi yang secara potensial mengganggu, klien dapat merujuk ke kartu dan mengubah kualitas perasaan tentang situasi tersebut. Pada sesi berikutnya dengan konselor, klien mendiskusikan penggunaan kartu dalam pembangunan pikiran secara kognitif untuk membuat mereka rasional. Behavioral disputation meliputi berperilaku dengan cara yang merupakan kebalikan dari cara biasanya klien. Terkadang behavioral disputation berbentuk bibliotherapy, yang mana klien membaca sebuah selp-help book. Pada waktu lainnya, behavioral disputation meliputi kegiatan role play dan menyelesaikan tugas pekerjaan rumah yang mana klien benar-benar melakukan aktivitas yang sebelumnya dianggap tidak mungkin untuk dilakukan. Klien membawa tugasnya yang sudah selesai kepada konselor REBT pada sesi konseling berikutnya dan mengevaluasinya dengan bantuan konselor. Jika disputasi kepercayaan irasional (disputation of irrational beliefs/iBs) berhasil, Filosofi Efektif (Effective Philosophy) baru akan muncul (Ellis, 1996a; dalam Gladding, 1996). Filosofi ini akan meliputi Efek Kognitif (cognitive Effect / cE) baru yang mana merupakan sebuah pernyataan kembali Kepercayaan rasional (rational Beliefs/rBs) yang asli. Contohnya, Ini tidak buruk, ha nya merepotkan, bahwa aku ditolak oleh orang-orang tertentu. Dua teknik REBT lainnya adalah confrontation dan encouragement. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, konselor REBT secara eksplisit mendorong klien untuk mengabaikan proses berpikir yang tidak bekerja dan mencoba REBT. Terkadang, konselor akan menantang klien yang menganggap berpikiran secara rasional padahal sebenarnya tidak. Pada waktu yang lainnya, konselor mendorong klien untuk lanjut bekerja dari dasar REBT bahkan ketika tidak didorong. Konfrontasi tidak perlu dilakukan seperti cara yang dilakukan Ellis: mengkonfrontasi dengan penuh semangat dan menyerang kepercayaan

klien (Johnson, 1980; dalam Gladding, 1996). Tapi konselor bisa berempati dan mendesak pada waktu yang sama. Satu variasi menarik pada REBT adalah rational behavior therapy (RBT), yang diformulasikan oleh Maxie Maultsby (1971, 1973, 1975, 1984; dalam Gladding, 1996). RBT menekankan pada perubahan kognitif dalam cara lebih behavioral daripada yang sebelumnya Ellie konseptualisasikan. Ini meliputi mengecek kejadian yang mengaktivasi seolah-oleh seseorang memiliki kamera untuk menjadi yakin dengan objektivitas. Dalam RBT, klien secara teratur menyelesaikan tugas pekerjaan rumah dalam rational selfanalysis (RSA), dimana mereka menuliskan kejadian-kejadian signifikan dalam hidup mereka dan pikiran mereka dan perasaan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian tersebut. Kepercayaan orang tersebut kemudian dievaluasi tingkat rasionalitas mereka dan dirubah sesuai dengan peraturab perilaku rasional. Metode meng-assess pemikiran klien ini berguna dalam membangun catatan kemajuan terapi. E. Evaluasi terhadap pendekatan REBT REBT memiliki beberapa keunikan dan penekanan yang spesial yaitu : 1. Merupakan pendekatan yang jelas, mudah dipelajari, dan efektif. Kebanyakan klien memiliki sedikit permasalahan dalam memahami prinsip/terminology. Roush (1984) mengatakan bahwa REBT efektif dengan banyak perbedaan individu, termasuk remaja. Seligman (1997) mencatat bahwa REBT cocok digunakan untuk treatment pada gangguan afektif,gangguan kecemasan dan gangguan penyesuain diri. 2. Pendekatan ini mudah dikombinasikan dengan tehnik perilaku untuk membatu klien lebih mampu mempelajari pengalaman mereka. 3. Pendekatan ini relative lebih singkat, biasanya dilakukan 10-50 sesi. Klien mungkin melanjutkan pendekatan ini sebagai dasar self-help. 4. Pendekatan ini telah dihasilkan banyak literature dan penelitian untuk klien dan konselor. 5. Pendekatan ini terus berkembang selama bertahun-tahun sebagai teknik telah disempurnakan.

Keterbatasan REBT itu sedikit namun cukup signifikan, yaitu 1. Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang memiliki gangguan mental/keterbatasan mental seperti schizophrenia dan gangguan mental lainnya. 2. Pendekatan mungkin terlalu erat terkait dengan pendirinya, Albert Ellis. Banyak individu mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keesentrisikan Ellis. Meskipun Johnson (1980) mendorong konselor untuk mengadaptasi teori dan teknik untuk kepribadian mereka sendiri dan gaya konseling, beberapa konselor masih menolak pendekatan ini karena berhubungan erat dengan Ellis. 3. Pendekatan ini dapat terbatas jika praktisi tidak dapat menghubungkan dasar kognitif dengan beberapa perilaku dan teknik emosi. 4. Pendekatan langsung dan potensi konselor yang berlebihan menjadi bersemangat dan tidak seterapeutik seperti idealnya adalah kemungkinan yang nyata.

5. Perubahan proses berfikir mungkin bukan hanya cara untuk membantu klien mengubah emosi mereka

DAFTAR PUSTAKA Gladding TS. 2000. Counseling: A Comprehensive Profession. New Jersey: Prentice Hall, Inc.