Anda di halaman 1dari 7

KELOMPOK 4

Oleh:

Made Wirananda Adi Kusuma I Gusti Ngurah Gede Rudangga ( 1206205182) I.B.Weda Sihnuaba .P Riska Andika Putra Suardana Kusuma

Universitas Udayana 2012/2013

A.FALSAFAH HIDUP BANGSA INDONESIA


Pengertian falsafah sebagai ilmu dan falsafah sebagai pendangan hidup, disamping juga dikenal pengertian falsafah dalam arti teoritis dan falsafah dalam arti praktis. Bahwa falsafah Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam hal sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia di manapun mereka berada. Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya bangsa Indonesia. Prinsip-prinsip yang terdapt dalam Pancasila bersumber pada budaya dan pengalaman bangsa Indonesia yang berkembang akibat dari upaya bangsa dalam mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang esensial, yang meliputi antara lain : a.Alam semesta, seperti bagaimana alam semesta ini terbentuk, bagaimana hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam alam semesta. b.Manusia dan kehidupannya; siapa sebenarnya manusia itu, darimana asalnya dan kemana kembalinya, bagaimana hubungan manusia dengan manusia lain, dengan masyarakat dan dengan pencipta manusia dan sebagainya. c.Nilai-nilai yang kemudian diangkat menjadi norma-norma yang mengatur kehidupan, seperti nilai-nilai tentang baik dan buruk, benar dan salah, berguna dan tidak berguna dan sebagainya. Pancasila yang merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia mengandung nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai dasar dimaksud ialah nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan sosial, atau bagi bangsa Indonesia rumusan setepatnya daripada nilai-nilai dasar tersebut dimuat dalam alinea keempat dari pembukaan UUD 1945. Bagi bangsa Indonesia, nilai-nilai Pancasila ini merupakan saru kesatuan yang bulat dan utuh, yang tersusun secara sistematis, hirarkis. Dalam rangka memahami hakikat nilai-nilai dasar Pancasila pengupasan sila demi sila tidak dilarang, asalkan senantiasa berpijak pada adanya hubungan korelasi tersebut secara utuh, tanpa bermaksud menghapuskan ataupun mengubah susunan tempat, status daripada sila-sila yang ditetapkan. Pancasila yang sarat dengan nilai-nilai ini tidak sekedar untuk mengetahui, melainkan dimaksudkan untuk dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi, maupun dalam rangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan tujuan praktis daripada suatu filsafat. Nilai yang dalam bahasa Inggris disebut value adalah termasuk pengertian filsafat. Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa pada hakikatnya nilai adalah sesuatu yang diinginkan (positif) atau sesuatu yang tidak diinginkan (negatif). Menilai mengandung arti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu, dan selanjutnya mengambil keputusan. Dalam memberikan penilaian, subyek dapat menggunakan segala kelengkapan analisis yang ada padanya. 1.Indera yang dimilikinya menghasilkan nilai nikmat dan sebaliknya nilai kesengsaraan. 2.Rasio menghasilkan nilai benar dan salah. 3.Rasa menghasilkan nilai baik dan buruk atau adil dan tidak adil. 4.Rasa estetis menghasilkan nilai indah dan tidak indah. 5.Iman menghasilkan nilai suci dan tidak suci, halal dan haram. Sesuatu keputusan dapat mengtakan baik atau salah, religius atau tidak religius. Maka sesuatu dapat dikatakan mempunyai nilai, yaitu apabila sesuatu itu berguna / bermanfaat, benar (nilai

kebenaran) indah (nilai estetis), baik (nilai moral/ethis), religius (nilai agama). Louis O Kattosoff membedakan nilai dalam 2 macam : 1.Nilai Instrinsik 2.Nilai Ekstrinsik Menurut Notonegoro, nilai dapat dibedakan ke dalam 3 macam : 1.Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia. 2.Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. 3.Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Selanjutnya nilai kerohanian ini dapat dibedakan lagi atas 4 (empat) macam : a.Nilai kebenaran / kenyataan, yang bersumber pada unsur akal manusia (ratio, budi, cipta). b.Nilai keindahan, yang bersumber pada unsur rasa manusia (gevoel. Perasaan, aesthetis). c.Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak / kemaauan manusia (will, karsa, ethic). Nilai ini bersumber pada kepercayaan / keyakinan manusia. Dalam kaitan ini, maka Pancasila tergolong sebagai nilai kerohanian, yakni yang di dalamnya terkandung nilai-nilai secara lengkap dan harmnis, baik nilai material, nilai vital, nilai kebenaran / kenyataan., nilai aesthetis, nilai ethis/moral maupun nilai regius. Mengingat banyaknya klasifikasi tentang nilai yang diberikan, maka Darji Darmodihardjo, cs mengadakan klasifikasi nilai secara berpasangan sebagai berikut: a.Nilai Obyektif dan nilai subyektif Nilai obyektif ialah nilai yang dilihat berdasarkan kondisi senyatanya dari obyek tersebut. Nilai subyektif ialah nilai yang diberikan oleh subyek. b.Nilai Positif dan Nilai Negatif. Nilai Positif ialah nilai yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, baik ditinjau dari sudut kepentingan lahiriah maupun batiniah. c.Nilai Intrinsik dan nilai Ekstrinsik Nilai intrinsil ialah nilai yang berdiri sendiri, yang mengandung kualitas tertentu. Misalnya : suatu tindakan dikatakan sebagai tindakan bernilai susila adalah semata-mata karena tindakan itu memang baik. Nilai Ekstrinsik ialah nilai yang bergantung pada nilai intrinsik dari akibat-akibatnya. d.Nilai Transeden dan nilai Imanen. Nilai Transeden ialah nilai melampaui batas-batas pengalaman dan pengetahuan manusia. Misalnya: nilai Ketuhanan. Nilai Imanen ialah nilai yang terikat dengan pengalaman dan pengetahuan manusia. Misalnya melalui pengetahuan inderawi dan rasio manusia diperoleh rasa asin. e.Nilai Dasar dan Nilai Instrumental. Nilai dasar ialah nilai yang bersifat tetap, yang dipilih sebagai landasan bagi nilai instrumental untuk akhirnya diwujudkan sebagai kenyataan (praktis). Nilai yang dipilih ini umumnya berhubungan dengan nilai-nilai obyektif, instrinsik dan transeden.

PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA


Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia serta merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa kita, yang telah dapat mengatasi percobaan dan ujian sejarah, sehingga kita meyakini sedalam-dalamnya akan keampuhan dan kesaktiannya. Guna melestarikan keampuhan dan kesaktian Pancasila itu perlu diusahakan secara nyata dan terusmenerus penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara, serta setiap lembaga kenegaraan dan kemasyarakatan, baik di pusat maupun daerah. Dan lebih dari itu, kita yakin bahwa Pancasila itulah yang dapat memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbing kita semua dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Untuk itu Pancasila harus kita amalkan dalam kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Pancasila menempatkan manusia dalam keluhuran harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila harus manusiawi, artinya merupakan pedoman yang memang mungkin dilaksanakan oleh manusia biasa. Agar Pancasila dapat diamalkan secara manusiawi, maka pedoman pengamalannya juga harusa bertolak dari kodrat manusia, khususnya dari arti dan kedudukan manusia dengan manusia lainnya. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dinamakan Ekaprasetia Pancakarsa. Ekaprasetia Pancakarsa berasal dari bahasa Sansekerta. Secara harfiah eka berarti satu/tunggal, prasetia berarti janji/tekad, panca berarti lima dan karsa berarti kehendak yang kuat. Dengan demikian Ekaprasetia Pancakarsa berarti tekad yang tunggal untuk melaksanakan lima kehendak dalam kelima Sila Pancasila. Dikatakan tekad yang tunggal karena tekad itu sangat kuat dan tidak tergoyahkan lagi. Ekaprasetia Pancakarsa memberi petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengamalan kelima Sila dari Pancasila sebagai berikut : A. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa 1) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 2) Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.

3) Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 4) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepad orang lain. B. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab 1) Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama manusia. 2) Saling mencintai sesama manusia. 3) Mengembangkan sikap tenggang rasa. 4) Tidak sewenang-wenang terhadap orang lain. 5) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. 6) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. 7) Berani membela kebenaran dan keadilan. 8) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain. C. Sila Persatuan Indonesia 1) Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. 2) Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. 3) Cinta tanah air dan bangsa. 4) Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia. 5) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika. D. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 1) Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat. 2) Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. 3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. 4) Musayawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. 5) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. 6) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. 7) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan YME, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

E. Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia 1) Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yan mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. 2) Bersikap adil. 3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 4) Menghormatsi hak-hak orang lain. 5) Suka memberi pertolongan terhadap orang lain. 6) Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.. 7) Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum. 8) Suka bekerja keras. 9) Menghargai hasil karya orang lain. 10) Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Kasus Yang Bertentangan Dengan Pancasila Sila Ke Empat


Pendidikan Sebagai Wahana Pembudayaan Pancasila kasus hasil survai Readers Digest, mengapa nilai-nilai kesantunan dan kepedulian yang terkandung dalam Pancasila belum dihayati dengan baik oleh masyarakat Jakarta, sehingga saat disurvai berada di peringkat 14. Dalam kasus berlalu lintas, mengapa nilai-nilai luhur tepo sliro, mementingkan kepentingan umum belum kita hayati sehingga kita cenderung egois dalam berlalu lintas. Dalam kasus korupsi, mengapa kita tega mengambil sesuatu yang bukan hak kita, yang seringkali menjadikan orang lain men Pancasila III di Universitas Airlangga Surabaya, Tanggal 31 Mei 2001. Bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai sistem nilai luhur yang dimiliki Bangsa Indonesia rasanya tidak perlu dibahas apalagi diperdebatkan. Bahwa Pancasila sebagai dasar negara harus dijadikan sumber nilai sekaligus tolok ukur bagi penyelenggaraan Negara juga tidak perlu diperdebatkan. Bahwa nilai-nilai luhur Pancasila merupakan acuan bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa juga tidak perlu di permasalahkan sila Pancasila. Ketuhanan seharusnya dilaksanakan

dengan prinsip yang lapang, toleran serta berkebudayaan, dan bukan yang saling menyerang. Internasionalisme yang dijiwai gotong royong seharusnya dilaksanakan dengan perikemanusiaan serta perikeadilan dan bukan yang menjajah dan eksploitatif. Kebangsaan yang dijiwai gotong royong seharusnya diterapkan dengan menumbuhkan kebinekaan dalam persatuan dan bukan yang meniadaan perbedaan apalagi meniadakan persatuan. Demokrasi yang dijiwai gotong royong ...tempati kita kepada orang lain yang sedang mendapat kesulitan terasa sangat sedikit. Kita menyaksikan ketika ada kecelakaan di jalan, kebanyakan pengguna jalan yang lain menonton dan hanya sedikit yang menolong. Jika korupsi dianggap sesuatu perbuatan yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan, tampaknya sampai saat ini kita belum mampu keluar dari jeratan perilaku koruptif. Ada pernyataan menarik dari seorang pengamat, orang-orang yang dulunya suka berteriak lantang tentang korupsi, setelah mendapatkan Pokokpokok Pikiran Disampaikan pada Konggres Pancasila III di Universitas Airlangga Surabaya, Tanggal 31 Mei 2001.Bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai sistem nilai luhur yang dimiliki Bangsa Indonesia rasanya tidak perlu dibahas apalagi diperdebatkan. Bahwa Pancasila sebagai dasar negara harus dijadikan sumber nilai sekaligus tolok ukur bagi penyelenggaraan negara juga tidak perlu diperdebatkan. Bahwa nilai-nilai luhur Pancasila merupakan acuan bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa juga tidak perlu diperdebatkan. Bahwa Pancasila merupakan ruh kehidupan seluruh bangsa Indonesia, sehingga setiap langkah seharusnya diwarnai nilai-nilai luhur Pancasila, juga tidak perlu lagi dibahas. Yang perlu direnungkan adalah mengapa fenomena kehidupan kita dalam bermasyarakat dan berbangsa terasa masih jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila.Status Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai sistem nilai Bangsa Indonesia sebagaimana disebutkan di atas, telah kita sepakati sejak Indonesia merdeka. Namun setelah kita merdeka selama 65 tahun, perilaku keseharian kita dalam bermasyarakat dan berbangsa tampaknya masih jauh dari nilai-nilai Pancasila. Jika Bung Karno menyatakan bahwa Pancasila dapat diperas menjadi satu perkataan yaitu gotong royong, kita dapat bertanya dimana gotong royong itu terimplemtasikan saat ini. Yudi Latif (Kompas, 13 Mei 2011) menguraikan secara gamblang bagaimana seharusnya gotong royong menjiwai seluruh sila Pancasila. Ketuhanan seharusnya dilaksanakan dengan prinsip yang lapang, toleran serta berkebudayaan