Anda di halaman 1dari 5

DAMPAK HIV AIDS Globalisasi merupakan suatu proses munculnya suatu gagasan yang selanjutnya ditawarkan untuk diikuti

dan akhirnya sampai menjadi panutan. Globalisasi memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan suatu negara serta dalam kehidupan para remaja sebagai generasi muda. Globalisai tidak hanya memberikan pengaruh positif namun juga memberikan pengaruh negatif khususnya terhadap perkembangan remaja yang masih labil. Indonesia merupakan Negara Timur yang memiliki adat istiadat dan menjunjung tinggi nilai kesopanan. Namun, dengan adanya globalisasi dari Negara Barat yang menawarkan gaya hidup yang liberalis (bebas) dan bertolak belakang dengan karakteristik Indonersia sebagai Negara Timur banyak remaja yang sudah meninggalkan budaya dan lebih bangga dengan budaya luar. Budaya luar ( Negara Barat ) yang cenderung bebas dalam pergaulan. Hal ini mengubah remaja dari segala aspek seperti gaya berpakaian, berperilaku, dan bergaul. Pengaruh globalisasi terhadap gaya berpakaian semakin jauh dari nilai kesopanan. Lunturnya nilai kesopanan dalam berpakaian menyebabkan banyak remaja yang menggunakan pakaian senonoh (tidak sopan) sehingga memicu terjadinya pelecehan seksual dan tindakan kejahatan lainnya. Globalisasi telah menawarkan segala hal kepada remaja untuk dijadikan panutan, salah satunya adalah dalam berperilaku. Film, sinetron, berita dan infotainment menyajikan contoh panutan dalam berperilaku bebas dengan mengadaptasi perilaku bangsa luar yang tidak sesuai dengan karakter Indonesia. Hal ini menyebabkan pola perilaku remaja Indonesia sudah tidak didasarkan atas adat istiadat dan kesopanan yang seharusnya. Perilaku inilah yang membawa remaja kearah yang tidak terkendali dan cenderung liberal (bebas). Pergaulan remaja juga dipengaruhi oleh arus globalisasi dari luar yang membawa remaja kearah pergaulan bebas dan penggunaan napza (narkotika). Hal ini terjadi karena proses adaptasi para remaja terhadap apa yang disajikan dalam media elektronik serta media sosial yang mayoritas menyajikan kehidupan percintaan dan pergaulan bebas. Semua hal tersebut menyebabkan timbulnya stereotipe yang negatif seperti timbulnya istilah cabe-cabean dan terong-terongan. Cabe-cabean merupakan sebutan yang dibuat oleh masyarakat untuk remaja putri yang tidak sopan dalam berpakaian, berperilaku serta bergaul. Terong-terongan merupakan sebutan yang dibuat oleh masyarakat untuk remaja putra yang juga tidak sopan dalam berpakaian, berperilaku serta bergaul.

Perubahan gaya hidup yang cenderung bebas membuat remaja lebih mudah terpengaruh hal-hal negatif seperti penggunaan napza. Penyalahgunaan obat-obatan (napza) merupakan hal yang dilarang oleh pemerintah karena dapat merusak akal sehat generasi muda. Penggunaan napza dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya ada menggunakan alat suntik untuk bergantian dengan teman pengguna napza yang lain. Pertukaran darah yang terinfeksi HIV lewat jarum suntik merupakan cara penularan HIV antara pengguna napza suntik. AIDS merupakan penyakit yang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya dan belum ada vaksin untuk mencegahnya. Dampak yang timbul dapat berupa :

Dilema transfusi darah, artinya orang yang menerima donor darah menjadi turut terinfeksi HIV, padahal disatu sisi dia sangat memerlukan tambahan darah

Menstruasi terganggu, tingkat kesuburan menurun Meningkatnya angka kesakitan dan kematian Ibu, laju infeksi, hamil di luar rahim, bayi lahir mati, komplikasi masa hamil

Risiko tinggi kanker leher rahim Meningkatnya penyakit oportunistik Globalisasi yang merujuk pada pergaulan bebas menjadi sumber penularan HIV

karena penularan HIV tidak hanya melalui pertukaran darah pada alat suntik, namun juga dapat terjadi melalui hubungan seksual. Hubungan seksual sesama jenis (homoseksual) atau berbeda jenis (heteroseksual) ketika pasangannya telah terinfeksi HIV menjadi penyebab tersebarnya HIV dikalangan antar remaja. Pada remaja yang terserang HIV AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) akan terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV sehingga meningkatkan angka kematian pada remaja. Dampak pada penderita HIV AIDS tidak hanya pada aspek kesehatan, namun juga menyangkut aspek sosial, psikologis, ekonomi dan masa depan penderita. Dampak sosial pada penderita HIV AIDS akan sangat luas dalam hubungan sosial dengan keluarga, hubungan dengan teman-teman serta masyarakat akan berubah baik kuantitas maupun kualitas. Hal ini karena penyakit HIV AIDS merupakan suatu penyakit yang diidentikkan dengan peringatan terhadap pesan moral yang berhubungan dengan perilaku seks, penyalahgunaan napza, dosa dan penyakit sehingga membuat penderita khususnya remaja akan merasa malu dan terpukul. Permasalahan yang paling mendasar adalah pemahaman orang terhadap penyakit HIV AIDS sangat kurang, keadaannya sangat tertutup karena

perlakuan orang terhadap penderita HIV AIDS atau lazim disebut ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) masih sangat tidak manusiawi. Mereka mendapatkan isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, menjadi korban diskriminasi, korban kekerasan dikeluarga dan dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya. Mereka sering menjadi sasaran pelecehan dan penghinan masyarakat.

Perlakuan buruk terhadap penderita menyebabkan dampak baru yaitu gangguan psikologis pada remaja penderita HIV dan AIDS. Kehawatiran yang paling menonjol yang dialami oleh remaja penderita HIV AIDS terutama persepsi bahwa HIV AIDS semacam vonis mati bagi penderitanya karena sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan dan obat yang ada hanya dapat memperpanjang hidup penderita sampai batas tertentu. Kehawatiran lain seperti isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, menjadi korban diskriminasi, korban kekerasan dikeluarga dan dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya membuat penderita HIV AIDS merasa ketakutan, depresi, hilang kepercayaan diri dan kesepian. Penderita HIV AIDS akan merasakan depresi berat jika keluarga atau lingkungan sekitar tidak mendukung atau justru menterlantarkan. Individu yang terinfeksi AIDS, biasanya mengalami shock. Penderita mengalami depresi berat, sehingga menyebabkan penyakit makin lama makin berat, timbul infeksi lain dan makin tersiksa. Mahalnya biaya pengobatan dan obat yang harus dikonsumsi bertambah banyak dengan berbagai efek samping dapat memperparah keadaan penderita. Keyakinan diri yang rendah pada penderita HIV AIDS akan menyebabkan penderita

mengalami hypochondria. Dimana penderita seringkali memikirkan mengenai kehilangan, kesepian dan perasaan berdosa di atas segala apa yang telah dilakukan sehingga

menyebabkan mereka kurang menitik beratkan langkah-langkah penjagaan kesehatan dan kerohanian mereka. Seorang yang telah didiagnosis HIV positif dan mengetahuinya, kondisi mental penderita akan mengalami fase yang sering disingkat SABDA (Shock, Anger, Bargain, Depressed, Acceptance).

HIV dan AIDS yang penularannya sangat cepat dan mematikan, menimbulkan ancaman sekaligus dampak yang sangat serius, khususnya pada sektor pendidikan. Mengapa demikian, oleh karena data menunjukkan bahwa penaykit tersebut menyerang usia produktif, bahkan 65 % diantaranya remaja dan pemuda (15-30 tahun) dan masa usia tersebut merupakan masa usia sekolah. Ancaman bagi para remaja dan pemuda patut diwaspadai oleh karena masa remaja biasanya bersifat ingin tahu dan berkeinginan untuk mencoba-coba serta berpetualang dalam hal hubungan seksual, alkohol, serta pornografi yang akhirnya dapat menyebabkan korban HIV dan AIDS. Beberapa dampak HIV AIDS terhadap sektor pendidikan, antara lain:

Menurunnya semangat/produktivitas belajar Menurunnya jumlah peserta pendidikan, pelajar/mahasiswa Menurunnya mutu pendidikan Menurunnya SDM secara kualitatif dan kuantitatif.

Hal-hal yang tersebut di atas dapat menyebabkan masa depan generasi muda menjadi suram dan segala hal yang di cita-citakan akan hilang begitu saja.

Dampak HIV dan AIDS di bidang ekonomi dapat dilihat dari 2 sisi yaitu dampak secara langsung dan secara tidak langsung. Dampak ini dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negara dan mungkin dunia.

Dampak Ekonomi secara Langsung Penyakit HIV AIDS akan menimbulkan biaya tinggi, baik pada pihak penderita maupun pihak rumah sakit. Hal ini dikarenakan obat penyembuh yang belum ditemukan. Sehingga biaya harus terus dikeluarkan hanya untuk perawatan dan memperpanjang usia penderita. Di lain pihak, penelitian harus terus menerus dilakukan dan biaya lainnya sangat dibutuhkan seperti biaya untuk upaya-upaya pencegahan misalnya untuk program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi anak, pemberantasan penyakit menular, penyuluhan kesehatan, imunisasi, sanitasi lingkungan, dan lain-lain.

Dampak Ekonomi secara tidak Langsung Sumber daya alam yang besar menjadi kurang mampu dikelola oleh sumber daya manusia baik sebagai tenaga kerja maupun sebagai konsumen potensial akibat terganggunya kesehatan mereka. Hal ini tentu akan mengakibatkan menurunnya produksi dari berbagai investasi.