Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia. Fungsi tanah juga untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk

mengembangkan media teknik seperti pembangunan jalanraya dan rumah. Tanah yang memiliki banyak kegunaan ini juga memiliki banyak karakteristik. Setiap daerah dengan karakteristik morfologi yang berbeda juga memiliki perbedaan karakteristik tanah. Kerakteristik tanah secara fisik dapat dilihat dari teksturnya, warnanya, ukuran butirannya dan banyak karakteristik yang lainnya. Faktor factor alam sangat menentukan keadaan tanah suatu wilayah. Faktor alam yang juga berpengaruh penting dalam karakteristik tanah adalah sifat kimia dan biologi tanah. Dalam makalah ini penyusun menjabarkan sifat-sifatkimiadanbiologipada tanah. Dengan penjabaran dalam makalah ini penyusun ingin mengetahui sifatsifat kimia dan biologi.

1.2 RumusanMasalah 1. Bagaimana sifat kimia tanah? 2. Apa saja macam-macam mineral liat? 3. Bagaimana kejenuhan basa berpengaruh terhadap sifat tanah? 4. Bagaimana pengaruh pH terhadap sifat tanah? 5. Bagaimana sifat biologi tanah?
1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui sifat kimia tanah? 2. Untuk mengetahui saja macam-macam mineral liat? 3. Untuk mengetahui pengaruh kejenuhan basa terhadap sifat tanah? 4. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap sifat tanah? 5. Untuk mengetahui sifat biologi tanah?

1.4 Manfaat 1. Mengetahui sifat kimia tanah? 2. Mengetahui saja macam-macam mineral liat? 3. Mengetahui pengaruh kejenuhan basa terhadap sifat tanah? 4. Mengetahui pengaruh pH terhadap sifat tanah? 5. Mengetahui sifat biologi tanah?

BAB II PEMBAHASAN

A. Sifat Kimia Tanah 1. Koloid Tanah Kolid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per satuan berat (massa). Koloid tanah yang berperan yaitu koloid anorganik (Koloid liat atau mineral) dan koloid organik (humus). Kedua koloid ini mempunyai sifat dan ciri yang jauh berbeda. Bagian yang paling aktif dalam tanah adalah bagian yang berada dalam keadaan koloid, yaitu liat dan bahan organik yang berada dakam keadaan tercampur satu sama lain. Hal ini perlu diketahui karena merupakan sebab terjadinya perubahan dan reaksi fisika-kimia tanah. Ukuran partikel yang disebut koloid adalah partikel berukuran <0.001 mm atau 1 mikron. Partikel-partikel koloid yang sangat halus yang disebut

micelle (microcell), umumnya bermuatan negatif, karena itu ion-ion bermuatan positif (kation) tertarik pada koloid tersebut sehingga terbentuk lapisan ganda ion. Bagian dalam dari lapisan ganda ion ini terdiri dari partikel koloid yang bermuatan negatif (anion) sedang bagian luar merupakan kerumunan kation yang tertarik oleh partikel-partikel koloid tersebut

a. Koloid Mineral atau Liat Macam-macam Mineral Liat Sebenarnya terdapat berbagai macam mineral liat yang terjadi di dalam tanah, namun demikian di dalam urutan berikut ini hanya disajikan beberapa macam mineral liat yang penting dan hamper selalu dijumpai pada tanah-tanah tropika di Indonesia. 1). Kaolinit dan Haloisit Kaolinit dan Haloisit adalah mineral liat tipe 1:1, struktur kedua mineral tersebut sama. Satu-satunya perbedaan yang ada adalah

bahwa haloisit mempunyai lapisan air di antara kedua lapisan penyusunnya.

2). Montmorilonit Montmorilonit adalah kelompok mineral liat tipe 2:1. Pada mineral tipe 2:1 kali terjadi substitusi isomorfik (pergantian tanpa merubah bentuk) yang menyebabkan perbedaan susunan kimia pada berbagai mineral liat tipe 2:1. Substitusi yang paling sering terjadi adalah substitusi Fe dan Mg terhadap Al, meskipun kadang-kadang terjadi pula substitusi Al terhadap Si. Muatan negatif yang dihasilkan akibat substitusi ini sebagian diimbangi oleh kation hidrasi antar lapisan yang mengikat lapisan-lapisan di dekatnya. Karena adanya ion negative yang dihasilkan akibat substitusi tersebut, pada mineral tipe 2:1 ini sering terjadi pertukaran kation dengan air. Mineral ini mengembang bila ditambahkan air, tetapi menkerut bila kering.

3). Illit Illit termasuk kelompok mineral liat tipe 2:1. Meskipun struktur dasarnya sama dengan montmorilionit, substitusi yang pertama terjadi adalah substitusi Al, terhadap Si. Kation yang mengikat antar lapisan K, karena ion K tidak dekat dengan Si yang bermuatan negative maka ikatan yang terbentuk biasanya kuat dan tidak terjadi proses mengembang dan mengkerut seperti halnya pada

montmirilonit.

4). Vermikulit Vermikulit juga termasuk dalam kelopok mineral liat tipe 2:1, mineral liat sering kali tersusun oleh tetrahidra dan oktahidra. Substitusi terjadi juga pada antar lapisan, seperti hallya illit. Hal ini menyebabkan kuatnya ikatan dan tidak terjadi pengembangan pada lapisan.

5). Klorit Klorit adalah mineral tipe 2:1:1 tersusun dari lapisan yang diselubungi dengan lapisan oktahedra dan substitusi terjadi umumnya Al terhadap Si dalam lembar tetrahedral menghasilkan muatan negatif.

b.

Koloid Organik atau Humus Yang dimaksud dengan koloid organic di dalam tanah adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organik dengan koloid anorganik (liat) adalah bahwa koloid organik (humus) tersusun oleh C, H ,O sedang liat terutama tersusun oleh Al, Si dan O. humus bersifat amorf, mempunyai nilai kapasitas tukar kation yang tinggi daripada mineral liat, dan lebih mudah dihancurkan jika dibandingkan dengan liat. Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Dalam keadaan masam H+ dipegang kuat dalam gugusan karboksil dan phenol, tetapi ikatan tersebut menjadi kurang kekuatan bila pH menjadi lebih tinggi. Akibatnya, disosiasi H+ meningkat dengan meningkatnya pH, sedang muatan negative dalam koloid humus yang dihasilkan juga meningkat. Tanah mengandung sejumlah besar senyawa organik dalam berbagai tahap penguraian. Humus adalah istilah yang dipakai untuk menyebutkan bahan organik yang telah mengalami penguraian secara menyeluruh dan resisten terhadap perubahan selanjutnya.

2. Kapasitas Tukar Kation a. Pengertian Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah.

a. Perbedaan KTK Tanah Berdasarkan Sumber Muatan Negatif

1). KTK Muatan Permanen KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme substitusi isomorf. Substitusi isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar kation dengan ukuran atau diameter kation hampir sama tetapi muatan berbeda. Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi dengan kation bervalensi rendah di dalam struktur lempeng liat, baik lempeng liat Si-tetrahedron maupun Al-oktahedron. 2). KTK Muatan Tidak Permanen KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif liat bukan berasal dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari mekanisme patahan atau sembulan di permukaan koloid liat, sehingga tergantung pada kadar H+ dan OH- dari larutan tanah.

C. Kejenuhan Basa Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebutdapat dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation asam, termasukkation basa adalah : a. Ca ++ b. Mg ++ c. K+ d. Na++ Sedangkan Kation Asam adalah : a. H+ b. Al+++. Kejenuhan basa menunjukkan perbandingan antara jumlah kationkationbasa dengan semua kation (kation basa dan kation asam) yangterdapat dalam kompleks

jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yangdapat dijerap tanah menunjukkan besarnya nilai kapasitas tukar kation tanahtersebut.

Kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukantanaman serta kation basa ini mudah tercuci, sehingga bila tanah kejenuhanbasanya tinggi unsur tanah tersebut belum mengalami pencucian yangintensif dan merupakan tanah yang subur.Kejenuhan basa juga berhubungan erat dengan pH tanah, biasanyatanah dengan : a. pH rendah umumnya mempunyai kejenuhan basa rendah b. pH tinggi maka kejenuhan basanya juga tinggi.

B. pH Tanah Tanah dapat bereaksi masam, netral atau alkalis yang dinyatakan dengan pH tanah. Reaksi tanah dikatakan netral jika larutan tanah mengandung H+ dan OH sama banyaknya. Jika ke dalam tanah diberikan Ca(OH)2 maka didalam larutan tanah ion OH lebih banyak daripada ion H+, sehingga reaksi tanah berubah menjadi alkalis, sebaliknya jika ke dalam tanah diberikan HCl, maka ion H+> ion OH dan reaksi tanah berubah menjadi masam. Jadi pH berarti logaritme negatif konsentrasi ion H yang dinyatakan dalam g/l larutan, biasa ditulis : 1 pH = log [ H+ ] pH pH = log 1 log [ H+ ] = -log [ H+ ] = -log [ H+ ] = -log 10-7 = 7 log 10 = 7

Pada kondisi netral konsentrasi ion H = 0,0000001 g/l larutan = 10-7 g/l larutan. maka pH

Skala pH adalah antara 1 14. 1 l aquadest mengandung 0,0000001 g/l , berarti pH = 7 (netral). 1 l HCl 1 N berisi 1 g H/l, berarti pH = 0. Akan tetapi pH tanah berkisar antara 4-10. Tanah-tanah di daerah humid pada umumnya masam, memilik pH dibawah 7. Tanah yang berkembang dari endapan kapur, reaksinya alkalis memiliki pH di atas 7,5 dan dengan adanya CaCO3 dalam kadar yang tinggi pH tanah akan naik sampai 8,5. Jika pH melebihi 8,5 berarti terdapat kdar Na yang cukup tinggi. Tanah hutan yang berupa humus masam dapat mencapai pH dibawah 3,5. Klasifikasi pH tanah adalah sebagai berikut :
Kons. (g/l) pH (CaCl) Luar biasa 3 Sangat kuat Masam Daerah Netral Netral Alkali 4 Kuat 5 Sedang 6 Lemah 7 Lemah 8 Kuat 9 Luar biasa H+ 10-3 10-4 10-5 10-6 10-7 10-8 10-9

Pada umumnya kemasaman tanah menimbulkan permasalahan yang lebih besar daripada kebasaannya. Ada dua macam pH tanah yaitu : pH tanah aktual yang menyatakan konsentrasi ion H dalam larutan tanah. pH potensial yang dinyatakan dalam me/100 g H dan Al yang dapat dipertukarkan dari kompleks jerapan. Ion H ini menjadi sumber H+ dalam larutan tanah, sedang ion Al akan menghasilkan ion H. Al3+ + 3H2O ---->Al(OH)3 + 3H+ . pH aktual ditentukan dengan H2O, dan pH potensial dengan CaCl2. Sebab-sebab terjadinya kemasaman tanah : Kemasan tanah disebabkan oleh hasilnya H+ yang diserta dengan terlindinya kation-kation basa dari kompleks adsorpsi tanah. Pada mulanya : pH tanah ditentukan oleh kadar basa dari bahan induk. Kemudian basa basa dibebaskan oleh adanya pelapukan dan proses pertukaran kation. Kompleks jerapan menjadi jenuh oleh berbagai basa. Dalam kondisi seperti ini pH tanah adalah basis. Selanjutnya oleh pengaruh iklim (terutama curah hujan) juga pengaruh umur tanah dsb., maka

kation-kation basa terlindi dan kedudukannya diganti oleh ion H (H2O === H+ + OH), sehingga faktor iklim dan umur tanah dapat menurunkan pH tanah. Pengaruh bahan induk terhadap pH tanah. pH tanah yang berasal dari : batuan beku : basalt > diorite > granit batuan sedimen : batu kapur > batu lempung > batuan pasir. Kehilangan kation kation basa Ion H+ membebaskan kation basa dari kompleks jerapan tetapi penurunan pH hanya kecil saja apabila pembebasan kation kation itu dsebabkan oleh : a. Leaching (pelindian) oleh air perlokasi lewat tubuh tanah kehilangan kation akan lebih tinggi pada tanah yang permeabilitasnya tinggi didaerah curah hujan yang tinggi pula. b. Penyerapan unsur-unsur hanya oleh tanaman yang menyerap unsur-unsur hara kation basa yang dipertukarkan oleh ion H dan akar tanaman. Dalam keadaan alamiah penurunan pH ini adalah sedikit saja karena kation kation dikembalikan lagi kedalam tanah berupa sisa-sisa tanaman. Tetapi kehilangan kation akan menjadi gawat pada tanah pertanian yang dikelola secara intensif, tetapi unsur hara yang diserap tanaman tidak dikembalikan lagi sebagai pupuk alam, pupuk buatan dan pengapuran. Perubahan pH tanah menurut kedalaman tanah Pada tanah lapisan atas yang kadar humusnya lebih tinggi dan mudah ditembus oleh akar, maka ion H banyak dihasilkan sedang kation lebih banyak yang hilang. Akibatnya pH tanah pada lapisan atas lebih rendah daripada lapisan bawah. Dengan perkataan lain semakin ke bawah, pH tanah semakin meningkat pada daerah yang curah hujannya tinggi. Akan tetapi di daerah iklim kering hal ini tidak terjadi karena ada pengangkatan kation kation oleh evaporasi yang ditinggalkan di lapisan permukaan. Pada daerah curah hujan tinggi misalnya pada tanah Latosol Cokelat pH tanah rata rata 5,6 pada tanah Podsol pH tanah berkisar antara 3,8 4,3. Makna pH tanah pH tanah mempengaruhi proses fisik, kimia, biologi didalam tanah. 1. Pada bidang pedologis pH tanah mempengaruhi proses-proses

pembentukan dan perkembangan tanah.

2. Dibidang ekologis pH tanah berpengaruh sangat penting terhadap ekonomi unsur hara atau terhadap ketersediaan unsur hara yang optimum bagi tanaman adalah pada kisaran pH 5,0 7,5, tetapi tiap-tiap tanaman memiliki kisaran pH tertentu. Jika pH tanah berada di atas atau di bawah kisaran tersebut maka jumlah unsur hara akan tidak seimbang, ada yang terlalu banyak sehingga meracuni tanaman, tetapi ada yang terlalu sedikit yang menyebabkan kekahatan (defficiency) unsur hara pada tanaman. Hubungan antara pH tanah dengan derajat kejenuhan basa dapat digunakan untuk merubah pH tanah baik menaikan maupun menurunkan pH. Semakin tinggi pH tanah semakin tinggi pula % kejenuhan basa.

c.

Daya Sangga Tanah Daya sangga tanah adalah kemampuan tanah untuk menahan perubahan pH.

Faktor faktor yang mempengaruhi daya sehingga tanah adalah : 1. Jumlah dan macam lempung dalam tanah. 2. Jumlah bahan organik dalam tanah. Tanah yang kadar lempungnya tinggi dan kadar bahan organik tinggi memiliki daya sangga yang tinggi pula. Mineral lempung yang kisi-kisinya dapat mengembung (montnorillonite) memiliki daya sangga yang lebih besar daripada mineral lempung kaolinit. Daya sangga tanah adalah penting karena pH tanah tidak berubah secara mendadak dari netral ke sangat masam atau ke sangat basis. Jika pH berubah secara mendadak akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara. Tanaman sangat peka terhadap perubahan ketersediaan unsur hara. Selain itu pH tanah berpengaruh langsung terhadap kehidupan tanaman. Tanah Salin dan Tanah Alkali. Pada kondisi drainase jelek dengan evaporasi yang tinggi cenderung akan terjadi timbunan garam di lapisan permukaan. Kondisi semacam ini terdapat di lembah-lembah sungai daerah cekungan pada iklim arid (kering) dan semi arid, di danau-danau tua didaerah arid dan disepanjang pantai dimana evaporasi lebih besar daripada curah hujan.

Akumulasi garam ini dapat mengakibatkan terbentuk dan berkembangnya tanah alkali dan kadar garam yang tinggi ini menghambat pertumbuhan tanaman. Tanah terbentuk pada daerah yang kelebihan garam umumnya diklasifikasikan sebagai tanah Salin atau Alkali. Tanah Salin (Salin Soils) memiliki kadar yang tinggi dari garam-garam netral (CaCO2, KCl, MgCl dan memiliki pH diatas 7,3, tetapi dibawah 8,5). Tanah tersebut sering disebut tanah alkali putih (white alkali) karena cenderung untuk membentuk kerak garam yang berwarna putih dipermukaan tanah. Kadar garam yang berlebihan sering mencapai di atas 0,2 % dan garamnya terdiri atas campuran garam klorida, sulfat, karbohidrat dan bikarbonat dari Na, Ca, K, Mg. Pada tanah salin % kejenuhan Na tertukar mulanya kurang dari 15% (ESP) (Exchangeable Sodium Percentage). Untuk pengolahan yang baik diperlukan jaringan drainase yang baik dari pengairan dengan air tawar untuk melindi garam-garamnya. Tanah alkali adalah tanah garaman yang mengandung kelebihan garan yang cukup, terutama Na2Co3, NaHCO3 sehingga mengakibatkan pH tanah meningkat di atas 8,5. Selanjutnya % kejenuhn basa Na melebihi dari 155 atau ESP (Exchangeable Sodium Percentage) melebihi 15%. Tanah alkali sering

disebut tanah alkali hitam karena adanya bahan organik yang larut dan terdispersi pada seluruh bagian tanah sehingga memberikan warna gelap. Tanah alkali memiliki struktur jelek, drainase jelek, mudah tererosi karena pada saat jenuh air butir-butir tanah terdispersi, sedang pada waktu kering strukturnya mampat. Hal ini disebabkan kadar Na yang tinggi. Masalah lain adalah dengan pH tanah yang tinggi berkaitan dengan rendahnya kelarutan Fe, Mn, Cu dan Zn, larutan kadar garamnya yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Tanah alkali sering juga disebut Tanah Sodik (Sodic Soil) berasal dari kadar sodiumnya yang tinggi. Perbaikan tanah alkali

1. Langkah pertama yang penting adalah merubah penyebab yang membahayakan. Penyebab yang membahayakan pada tanah alkali umumnya karena permukaan air tanah yang tinggi, dekat dengan permukaan tanah. Maka dari itu langkah pertama adala perbaikan drainase. 2. Langkah kedua merubah Na2CO3 menjadi Na2SO4, karena tanaman lebih suka pada tanah yang mengandung Na2SO4 dari pada Na2CO3. Untuk itu diperlukan pemberian sulfur. Oksidasi belerang ini menghasilkan H2SO4 yang bukan saja merubah Na Karbonat menjadi Na Sulfat, tetapi juga menurunkan pH tanah. Reaksinya : Na2CO3 + Na2SO4= CO2 + H2O + Na2SO4 (mudah terlindi) Na -------------: lempung : + Na2SO4=== Na -------------(mudah terlindi) H -------------: lempung : + Na2SO4 H -------------

Selain S dapat juga digunakan : Gips (CaSO4 .2 H2O) Na2CO3 + CaSO4 . 2 H2O ------- Na2CO3 + 2 H2O + Na2SO4 (mudah terlindi) --------- : Na --- : ------Jika tanahnya juga banyak mengandung garam garam chlorida maka oksida NaCl akan menghasilkan HCl dan Ca(OH)2 yang dapat menurunkan pH tanah. NaCL + CaSO4 .2 H2O== CaCl + Na2SO4 + 2 H2O (mudah terlindi) CaCl2 + H2O === Ca (OH)2 + HCL (mudah terlindi) + Na2SO4 . 2 H2O ----------- Ca + Na2SO4 + 2 H2O

Pemberian bahan kimia tersebut diatas dilakukan pada kondisi kapasitas lapangan kemudian didiamkan agar terjadi aerasi selanjutnnya dilakukan pemberian air tawar untuk melindi Na2SO4.
C. Sifat Biologi Tanah

Secara ekologis tanah tersusun oleh 3 kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiontik berupa bahan organik, dan faktor abiotik berupa pasir debu dan liat. 5% dari penyusun tanah merupakan bahan organik, mesikpun hanya 5%, bahan organic berperan sangat penting karena tidak saja berperan sebagai koloidal tanah, di samping koloidal liat, yang menentukan sifat-sifat kimiawi tanah seperti dalam proses pertukaran kation dan anion, dan sifat-sifat fisik tanah seperti struktur dan eradibilitas tanah, juga berperan penting sebagai sumber-sumber unsur hara tanah yang tersedia setelah bahan organic mengalami perombakan menjadi senyawa-senyawa sederhana (dekomposisi). Bahan organic tanah bersal dari sisa-sisa tanaman dan hewan yang mengalami proses perombakan, selam proses ini barbagai jasad hayati tanah, baik yang menggunakan tanah sebagai liangnya maupun yang hidup dan beraktivitas di dalam tanah, memainkan peran penting dalam perubahan bahan organic dari bentuk segar (termasuk juga sel-sel jasad mikro yang mati) hingga terurai menjadi senyawa-senyawa sederhana dan tersedia bagi tanaman. Peranan organisme tanah pada perubahan-perubahan biokimia yang terjadi di dalam tanah sangat penting. Humus seperti halnya dengan liat merupakan proses penghancuran dan pembangunan, yang berperan dalam hal ini adalah jasad hidup penghuni tanah. Sejumlah besar organisme hidup di dalam tanah. Bagian terbesar organisme terdiri dari kehidupan tumbuhan. Jasad tanah baik tumbuha maupun binatang yang berukuran sangat kecil dan jasad yang berukuran besar, semuanya mempunyai peranan sangat nyata dalam proses biologi yangberlagsung dalam tanah. Umumnya pengaruh mikroflora bersifat kimia, sedangkan fauna bersifat kimia dan fisika. Binatang-binatang itu menginjak bagian-bagian tanaman dan memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain di atas tanah dan seringkali mengangkutnya ke dalam tanah. Binatang seperti tikus menggali lubang di dalam

tanah dan tanah di aduk-aduk dan di granulasi. Tungau dan cacing tertentu, memasuki tanah melalui retakan dan celah-celah yang terdapat di dalam tanah. Jasad yang dikelompokan dalam dunia tumbuhan dari beberapa segi lebih penting peranannya daripada binatang. Hal ini terutama ditinjau dari segi tingkat terakhir pelapukan bahan organik, pembentukan humus dan produksi senyawa organic sederhana yang dapat digunakan oleh tanaman. Mikroflora (tumbuhan tanah) dan fauna tertentu yang menghuni tanah bergantung dai tiga faktor utama, yaitu: 1. Cuaca, teruama acurah hujan dan kelembapan. 2. Kondisi atau sifat tanah, terutama kemasaman, kelembaban, suhu, dan ketersediaan hara; dan 3. Tipe vegetasi penutup lahan, misalnya hutan, belukar dan padang rumput.

A. Fauna Tanah Fauna tanah dibedakan menjadi 2 tipe yaitu fauna makro dan fauna mikro. Fauna makro terdiri dari herbivore (pemakan tanman) dan karnivora (pemangsa hewan-hewan kecil), dan fauna mikro berupa pemangsa parasit, meliputi nematoda, protozoa dan rotifera. a. Fauna Makro Tanah 1. Cacing Tanah Di antara fauna tanah di daerah humid sedang, cacing tanah merupakan penyumbang bahan organik tanah terbesar, yaitu kira-kira 100 kg/ha (0,005%) dengan populasi 7.000 ekor hingga 1.000 kg/ha dengan populasi 1 juta ekor (Foth, 1984). Populasi cacing tanah bervariasi antar tanah, optimum jika kondisinya lembab, banyak bahan organik dan kalsium tersedia, serta bertekstur halus. Pada tanah bertekstur pasir, renadah bahan organic dan bereaksi asam, populasi dan aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu populasi cacing jauh lebih banyak di bawah vegetasi padang rumput ketimbang di bawah vegetasi hutan maupun lahan pertanian. Cacing tanah tidak menyukai kondisi jenuh air dan peka radiasi ultra violet, sehingga usai hujan lebat pada tengah hari, cacing-cacing tanah di permukaan tanah menjadi mati.

Cacing tanah merupakan pemakan tanah dan bahan organic segar di permukaan tanah, masuk (sambil menyeret sisa-sisa tanaman) ke liangnya, kemudian mengeluarkan kotorannya permukaan tanah. Aktivitas naik-turunnya (bunga tanah) di ini berperan

cacing

pentingdalm pendistribusian dan pencampuran bahan organic dalam solum tanah, yang kemudian berpengaruh positif terhadap kesuburan tanah baik secara fisik, kimiawi, maupun biologis. 2. Arthropoda Springtail merupakan serangga primitif (biasanya tampa mata dan pigmen) berukuran panjang< 1mm, konsumen sisa tanaman/hewan, kotoran, humus, dan miselia jamur, hidup dalam pori-pori makro lapisan tanah bawah. Kutu (Arachnida), sebagian besar memakan serat organik mati, seperti hipa jamur dan benih, ada yang memakan predator dan cacing, serangga, telur, dan springtail. Aktivitas kutu meliputi penghancuran dan perombakan bahan organic kemudian translokasinya ke lapisan tanah bawah dan dalam memelihara pori-pori tanah. Lipan dan kelabang (Myriapoda) membuat sarang berupa timbunan dari hancuran batu atau kayu. Lipan merupakan pemakan jaringan organik mati (saprophagous) dan dapat bersarang pada miselia jamur. Kelabang merupkan pemakan daging (karnivora). Tempayak atau larva, makanan utamanya adalah rumput, tetapi juga berbagai tanaman pertanian sehingga menjadi hama. Semut memiliki aktifitas yang mirip dengan cacing tanah, yaitu mengangkut bahan-bahan tanah lapisan bawah ke permukaan untuk membuat sarang berupa bukit-bukit semut. Rayap merupakan pemakan kayu, sampah organic dan jamur. Dalam memakan kayu, rayap di bantu oleh protozoa dalam sitem pencernaannya.

Adanya aktifitas pembuatan lorong-lorong/sarang oleh rayap, juga semut dan cacing merupakan faktor kunci dalam translokasi hara atau bahan dari lapisan bawah ke lapisan atas tanah, yang cukup berpengaruh terhadap kesuburan tanah di kawasan aktivitas ketiga jenis fauna tersebut. 3. Vertebrata Vertebrata mempengaruhi tanah mirip dengan rayap dan semut, yaitu lewat aktifitas pembuatan sarang dan translokasi jaringan organik makanannya ke dalam sarang. Vertebrata terutama tikus tanah membuat sarang atau lorong di bawah tanah, sehingga pengaruhnya terhadap kesuburan tanah mirip dengan pengaruh rayap dan cacing.

b. Fauna Mikro Tanah Diantara binatang mikro tanah yang penting peranannya ialah nematode dan protozoa. Protozoa merupakan bentuk binatang yang paling sederhana. Walaupun hanya terdiri dari satu sel, mereka lebih besar dari bakteri dan susunan tubuhnya lebih sempurna. Flagellata merupakan protozoa yang banyak dijumpai dalam tanah, kemudian menyusul amoeba dan siliata. Jumlah protozoa dalam tanah sangat tergantung dari keadaan sekitarnya. Aerasi dan tersedianya hara merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap jumlah dan macam protozoa. Oleh karena itu mereka terbatas pada lapisan tanah. Peranan protozoa secara tidak langsung mempercepat tersedianya unsur hara bagi tumbuhan dengan memakan bakteri dan mikroflora yang lainya. Nematoda dijumpai hampir di semua macam tanah dan jumlah mereka cukup banyak. Bianatang ini bulat seperti cacing tanah, hanya ukurannya sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Terdapat tiga golongan nematode di dalam tanah yaitu (1) yang hidup dari bahan organic yang sedang membusuk, (2) predator, (3) parasit, yang menyerang akar tanaman dan melampaui massa hidupnya dalam jaringan tumbuhan. Dua golongan yang pertama merupakan nematode yang terbanyak dijumpai dalam tanah.

Rotifera memainkan peranan penting dalam peredaran bahan organic, terutama di daerah berawa berbahan organic tinggi maupun tanah mineral.

Jasad Mikro Tumbuhan 1. Algae tanah Alga menunjukkan keanekaragaman yang besar dalam bentuk dan ukurannya. Meskipun alga merupakan tumbuhan paling penting yang hidup di air, alga hanya menduduki kepentingan minor di dalam tanah. Alga tanah yang paling umum berupa sel tunggal atau berupa filamenfilamen kecil. Alga tersebar di seluruh dunia pada lapisan tanah permukaan dengan kelembaban dan cahaya yang menguntungkan. Beberapa alga terdapat di bawah permukaan tanah tanpa cahaya dan berfungsi secara heterotrof.

Sebagian besar dari algae tanah mempunyai klorofil sehingga mereka harus hidup dekat permukaan tanah. Namun beberapa diantaranya dapat hidup dengan memperoleh bahan organic dan dapat hidup di lapisan tanah yang agak dalam. Beberapa algae hidup seperti tumbuhan, sedangkan lainnya disebabkan karena kebiasaan memperoleh bahan makan berfungsi seperti jasad mikro tanah lainnya. Algae golongan tumbuhan berada dilapisan teratas, dijumpai dilapisan dalam berada sebagai spora yang beristirahat atau cyst atau bentuk vegetative yang tidak tergantung dari klorofil. Padang rumput merupakan habitat baik bagi algae hijau-biru, sedangkan kebun tua cocok untuk diatom. Pertumbuhan algae sangat dipengaruhi oleh penambahan pupuk.

Bentuk/jenis alga yang umumnya menghuni tanah adalah (1) biruhijau, (2) hijau, dan (3)diatom. Alga biru-hijau merupakan yang paling melimpah dalam tanah, dan sampai batas penambatan karbon, alga ini menyumbangkan kandungan bahan organik tanah. Kemampuan

fotosintesis alga tersebut menentukan pertumbuhannya pada berbagai

permukaan yang terbuka, yang mencakup batuan dan tanah. Beberapa alga tumbuh dalam hubungan yang dekat dengan fungi dalam bentuk yang dikenal sebagai lumut kerak. Pada pelapukan awal batuan dan pembentukan tanah dari bahan induk yang baru terbuka, lumut kerak memainkan peran penting dalam pengumpulan bahan organik awal. Di samping itu, kemampuan beberapa alga biru-hijau menambatkan nitrogen atmosfer dan juga membantu komunitas tumbuhan menjadi mapan pada batuan yang baru terbuka dan pada bahan induk. Nitrogen yang ditambat alga yang hidup di dalam air sawah sangat berperan penting bagi produksi tanaman padi. 2. Fungi Tanah Fungi merupakan makhluk heterotrof yang memiliki aneka ukuran dan struktur, mulai dari khamir bersel tunggal sampai cendawan dan juga jamur. Fungi secara khas tumbuh dari spora dengan struktur seperti benang yang mempunyai dinding melintang maupun tidak. Masing-masing benang adalah hifa dan massa benang yang meluas disebut miselium. Miselium adalah struktur kerja yang menyerap hara, melanjutkan pertumbuhan, dan akhirnya menghasilkan hifa khusus yang kemudian menghasilkan spora reproduksi. Diameter rata-rata hifa sekitar 5 mikron atau sekitar 5 samapai 10 kali diameter bakteri pada umumnya. Fungi mempunyai kelebihan dari bakteri dalam hal bahwa fungi dapat menyerbu dan menembus bahan organik. Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak berklorofil sehingga mereka menggantungkan kebutuhan akan energi dan karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam tiga golongan yaitu ragi, kapang, dan jamur. Fungi berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik untuk semua jenis tanah. Fungi toleran pada kondisi tanah yang asam, yang membuatnya penting pada tanah-tanah hutan masam. Sisa-sisa pohon di hutan merupakan sumber bahan makanan yang berlimpah bagi fungi tertentu mempunyai peran dalam perombakan lignin. Kapang merupakan fungi yang berfilamen banyak dan berukuran

mikroskopis. Di dalam tanah kapang memainkan peranan yang lebih penting dari jamur, bahkan bisa melebihi peranan bakteri. Kapang sangat peka terhadap aerasi, aerasi yang buruk akan menekan perkembangan kapang. Kapang berkembang biak dalam suasana masam dimana persaingan bakteri dan aktinomisetes terbatas. Bila bukan karena fungi maka pelapukan bahan organic dalam suasana asam tidak akan terjadi. Kapang dijumpai disetiap horizon tanah. Terbanyak dijumpai pada lapisan olah yang banyak mengandung bahan organic dan aerasi tanah yang baik. Fungi dapat menghancurkan selulosa, zat pati, lignin dan senyawa organic mudah lapuk seperti protein dan gula.

3. Aktinomisetes Aktinomisetes menduduki posisi antara bakteri dan fungi dari pandangan morfologi. Organisme ini sering dibicarakan sebagai fungi berkas atau bakteri benang. Aktinomisetes menyerupai bakteri dalam hal struktur sel yang sama dan jika dilihat dalam sayatan yang melintang, diperkirakan juga memilki ukuran sel yang sama. Organisme ini menyerupai fungi filamen dalam hal membentuk jaringan filamen bercabang. Banyak dari organisme ini yang berkembang biak dengan spora, dan spora-spora ini kelihatannya sangat menyerupai sel-sel bakteri. Aktinomisetes merupakan jasad mikro yang banyak dijumpai dalam tanah setelah bakteri. Jasad ini banyak dijumpai dalam tanah yang berkadar humus tinggi, seperti padang rumput. Penambahan pupuk kandang merangsang perkembangan aktinomisetes terutama bila

kemasaman tanah tersebut sedang. Aktinomisetes sangat berperan dalam pelapukan bahan organik dan pembebasan unsur hara. Juga dapat menyerang lignin dan mengubahnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Bakteri Tanah Bakteri tanah secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan sumber karbonnya, yaitu: (1.) heterotrof, dan (2.) autotrof. Pada kelompok autotrof terdapat organisme seperti: pembentuk nitrit, pembentuk nitrat,

bakteri pengoksidasi belerang, pengoksidasi besi, serta organisme yang menggunakan hidrogen dan senyawanya. Kebanyakan bakteri tanah memerlukan oksigen dari udara tanah dan diklasifikasikan sebagai aerob. Beberapa bakteri aerob dapat beradaptasi untuk hidup dengan atau tanpa oksigen, yang disebut bakteri fakultatif. Bakteri lain tidak dapat hidup dengan oksigen dan merupakan anaerob. Bakteri tanah juga cukup berbeda dalam gizi dan dalam tanggapan terhadap kedaan lingkungan. Akibatnya, macam dan kelimpahan bakteri tergantung pada tersedianya hara yang ada pada keadaan/kondisi lingkungan tanah. Beberapa bakteri membentuk spora jika keadaan menjadi tidak menguntungkan. Kebanyakan bakteri cukup resisten terhadap tanah kering udara selama beberapa tahun. Bakteri dan juga fungi merupakan organisme pengurai utama di dalam tanah. Bakteri merupakkan jasad bersel satu, sederhana dan terkecil. Bakteri sangat berperan dalam tanah karena : 1. Bakteri turut serta dalam semua perubahan bahan organik 2. Bakteri memegang monopoli dalam reaksi enzimatik yaitu : a. Nitrifikasi : proses di mana amonia (NH3) diubah menjadi nitrit (NO2) dan kemudian menjadi nitrat (NO3-). b. Oksidasi bakteri 3. Fiksasi nitrogen adalah proses dimana nitrogen diambil dari bentuk molekul relatif inert nya (N2) di atmosfer dan diubah menjadi senyawa nitrogen berguna untuk proses kimia lainnya (seperti, terutama, amonia, nitrat, dan nitrogen dioksida). Karena nitrogen atmosfer (N2) tidak bereaksi dengan senyawa lain, fiksasi nitrogen diperlukan, karena merupakan nutrisi penting untuk semua makhluk hidup, termasuk berperan sebagai bagian dari asam nukleat dan asam amino.sehingga bila ini terganggu maka kehidupan seluruh tumbuhan akan terganggu

Bakteri, fungi, dan actinomycetes membantu pembentukan struktur tanah yang mantap karena tumbuhan mikro ini dapat mengeluarkan (sekresi) zat perekat yang tidak mudah larut dalam air. Dalam hal pembentukan struktur

tanah ini, fungi dan actinomycetes jauh lebih efisien (lebih 17 kali lebih efisien) daripada bakteri, tetapi bakteri mempunyai fungsi lain yang lebih penting. Bakteri autotroph bermanfaat bagi manusia mempengaruhi sifatsifat tanah sehubungan dengan cara bakteri tersebut untuk mendapatkan energy. Bakteri autotroph dalam tanah terpenting adalah bakteri nitrifikasi yang dapat mengoksidasi ammonia menjadi nitrit (oleh nitrosomonas) dan nitrit menjadi nitrat (oleh nitrobacter).

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Tanah merupakan salah satu factor penting dalam kehidupan manusia. Fungsi tanah juga untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk mengembangkan media teknik seperti pembangunan jalanraya dan rumah. Tanah yang memiliki banyak kegunaan ini juga memiliki banyak karakteristik. Setiap daerah dengan karakteristik morfologi yang berbeda juga memiliki perbedaan karakteristik tanah. Kolid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per satuan berat (massa). Koloid tanah yang berperan yaitu koloid anorganik (Koloid liat atau mineral) dan koloid organik (humus). Kedua koloid ini mempunyai sifat dan ciri yang jauh berbeda. Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif Hubungan antara pH tanah dengan derajat kejenuhan basa dapat digunakan untuk merubah pH tanah baik menaikan maupun menurunkan pH. Semakin tinggi pH tanah semakin tinggi pula % kejenuhan basa. Secara ekologis tanah tersusun oleh 3 kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiontik berupa bahan organik, dan faktor abiotik berupa pasir debu dan liat. 5% dari penyusun tanah merupakan bahan organik, mesikpun hanya 5%, bahan organic berperan sangat penting karena tidak saja berperan sebagai koloidal tanah