Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Strategi Nasional Indonesia merupakan bangsa yang berdaulat dan merdeka. Bangsa yang merdeka mengatur urusan dalam negerinya sendiri. Sejak peristiwa proklamasi di tahun 1945, terjadi perubahan yang sangat mendasar dari negara Indonesia, terutama tentang kedaulatan dan sistem pemerintahan serta politik. Diawal masa kemerdekaan, kondisi politik Indonesia belum sepenuhnya baik masih morat-marit dan tidak stabil. Namun, setelah beberapa tahun berlalu kondisi internal Indonesia sudah mulai teratur dan membaik. Selangkah demi selangkah Indonesia mulai membenahi dan mengatur sistem pemerintahannya sendiri. Pada saat terjadi perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, banyak negara yang terpengaruh oleh kedigdayaan kedua negara tersebut. Tetapi, bangsa Indonesia tidak terpengaruh oleh keadaan yang terjadi. Indonesia dan beberapa negara lainnya berkoordinasi dan membentuk sebuah organisasi yang tidak memihak salah satu dari kedua blok tersebut yang dikenal dengan gerakan negara-negara non-blok. Pada saat itu Indonesia menganut politik bebas aktif, aktif yang berarti tidak terikat dengan salah satu kelompok yang ada pada saat itu, dan aktif yang berarti aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mengembangkan kerja sama antar negaranegara di dunia di segala bidang. Selain itu Indonesia juga menetapkan strategi nasional untuk mengembangkan negara dan menjaga keutuhan negara. Namun sekarang ini banyak kawula muda Indonesia yang tidak mengerti akan makna politik bebas aktif yang di anut oleh Indonesia, dan tidak sedikit di antara mereka yang salah mengartikan makna politik bebas aktif tersebut. Melihat hal tersebut dipandang sangat penting untuk membahas tentang Implementasi Politik dan Strategi Bangsa Indonesia. Kami akan coba untuk membahas hal tersebut dalam makalah kami yang kami beri judul Politik Dan Strategi Nasional. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang kami ambil dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana implementasi politik dan strategi nasional di bidang sosial budaya? 2. Bagaimana implementasi politik dan strategi nasional di bidang pertahanan dan keamanan? 3. Bagaimana kaidah pelaksanaannya?

4. Bagaimana keberhasilan politik dan strategi nasional Indonesia? C. Tujuan Pembuatan Makalah 1. Untuk mengetahui implementasi politik dan strategi nasional di bidang sosial budaya; 2. Untuk mengetahui implementasi politik dan strategi nasional di bidang pertahanan dan keamanan; 3. Untuk mengetahui bagaimana kaidah pelaksanaan politik dan strategi nasional; 4. Untuk mengetahui bagaimana keberhasilan politik dan strategi nasional Indonesia. D. Kegunaan Pembuatan Makalah 1. Agar dapat digunakan sebagai bahan bacaan oleh para mahasiswa untuk menambah pengetahuan mereka tentang politik dan strategi nasional; 2. Para pembaca dapat mengetahui politik dan strategi nasional Indonesia serta kaidahkaidah pelaksanaannya. BAB PEMBAHASAN A.

II

Implementasi di Bidang Sosial dan Budaya Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial

1. Meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dan memprioritaskan upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penumbuhan, pemulihan, dan rehabilitasi sejak bayi dalam kandungan sampai usia lanjut. 2. Meningkatkan dan memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan dan sarana serta prasarana dalam bidang medis yang mencakup ketersediaan obat yang dapat dijangkau oleh masyarakat. 3. Mengembangkan sistem jaminan sosial tenaga kerja bagi seluruh tenaga kerja untuk medapatkan perlindungan, keamanan, dan keselamatan kerja yang memadai. Pengelolaannya melibatkan pemerintah, perusahaan, dan pekerja. 4. Membangun ketahanan sosial yang mampu memberi bantuan penyelamatan dan pemberdayaan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial dan korban bencana serta mencegah timbulnya gizi buruk dan turunnya kualitas generasi muda. 5. Membangun apresiasi terhadap penduduk lanjut usia dan veteran untuk menjaga harkat dan martabatnya serta memanfaatkan pengalamannya. 6. Meningkatkan kepedulian terhadap penyandang cacat, fakir miskin, anak-anak terlantar serta kelompok rentan sosial melalui penyediaan lapangan kerja yang seluas-luasnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 7. Meningkatkan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran, penurunan angka kematian, dan peningkatan kualitas program keluarga berencana.

8. Memberantas secara sistematis perdagangan dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang dengan memberikan sanksi yang seberat-beratnya kepada produsen, pengedar, dan pemakai. 9. Memberikan akses fisik dan nonfisik guna menciptakan perspektif penyandang cacat dalam segala pengambilan keputusan.

Kebudayaan, Kesenian, dan Pariwisata.

1. Mengembangkan dan membina kebudayaan nasional bangsa Indonesia yang bersumber dari warisan budaya leluhur bangsa, budaya nasional yang mengandung nilai-nilai universal termasuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka mendukung terpeliharanya kerukunan hidup bermasyarakat, dan membangun peradaban bangsa. 2. Merumuskan nilai-nilai kebudayaan Indonesia, untuk memberikan rujukan sistem nilai bagi totalitas perilaku kehidupan ekonomi, polirik, hukum dan kegiatan kebudayaan dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional dan peningkatan kualitas berbudaya masyarakat. 3. Mengembangkan sikap kritis terhadap nilai-nilai budaya dalam rangka memilah-milah nilai budaya yang kondusif dan serasi untuk menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa depan. 4. Mengembangkan kebebasan berkreasi dalam berkesenian untuk memberi inspirasi bagi kepekaan terhadap totalitas kehidupan dengan tetap mengacu pada etika, moral, estetika dan agama, serta memberikan perlindungan dan penghargaan terhadap hak cipta dan royalti bagi pelaku seni dan budaya. 5. Mengembangkan dunia perfilman Indonesia secara sehat sebagai media massa kreatif untuk meningkatkan moralitas agama serta kecerdasan bangsa, pembentukan opini publik yang positif, dan nilai tambah secara ekonomi. 6. Melestarikan apresiasi kesenian dan kebudayaan tradisional serta menggalakkan dan memberdayakan sentra-sentra kesenian untuk merangsang berkembangnya kesenian nasional yang lebih kreatif dan inovatif sehingga menumbuhkan kebanggaan nasional. 7. Menjadikan kesenian dan kebudayaan tradisional Indonesia sebagai wahana bagi pengembangan pariwisata nasional dan mempromosikannya keluar negeri secara konsisten sehingga dapat menjadi wahana persahabatan antarbangsa. 8. Mengembangkan pariwisata melalui pendekatan sistem yang utuh, terpadu, interdisipliner, dan partisipatoris dengan menggunakan kritena ekonomis, teknis,

ergonomis, sosial budaya, hemat energi, melestarikan alam, dan tidak merusak

lingkungan.

Kedudukan dan Peranan Perempuan

1. Meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan, keadilan gender. 2. Meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan kaum perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Pemuda dan Olahraga

1. Menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang perlu memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup. Upaya ini harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olahraga di sekolah dan masyarakat. 2. Meningkatkan usaha pembibitan dan pembinaan olahraga prestasi harus dilakukan secara sisternatis dan komprehenshif melalui lembaga-lembaga pendidikan sebagai pusat pembinaan di bawah koordinasi masing-masing organisasi olahraga, termasuk organisasi olahraga penyandang cacat, demi tercapainya prestasi yang membanggakan di tingkat internasional. 3. Mengembangkan iklim yang kondusif bagi generasi muda dalam mengaktualisasikan segenap potensi, bakat, dan minat mereka dengan memberikan kesempatan dan kebebasan mengorganisasikan diri secara bebas dan merdeka sebagai wahana pendewasaan untuk menjadi pemimpin bangsa yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, patriotis, demokratis, mandiri, dan tanggap terhadap aspirasi rakyat. 4. Mengembangkan minat dan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda yang berdaya saing, unggul, dan mandiri.

5. Melindungi segenap generasi muda dari bahaya destruktif terutama penyalahgunaan narkotika, obat-obat terlarang, dan zatadiktif lainnya (narkoba) melalui gerakan pemberantasan dan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyalahgunaan narkoba.

Pembangunan Daerah Secara umum Pembangunan Daerah adalah sebagai berikut:

1.

Mengembangkan otonomi daerah secara luas, nyata, dan bertanggung jawab dalam rangka pembcrdayaan masyarakat, lembaga ekonomi, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga keagamaan, lembaga adat, lembaga swadaya masyarakat serta seluruh potensi masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melakukan pengkajian tentang berlakunya otonomi daerah bagi daerah propinsi, daerah kabupaten, daerah kota, dan desa. Mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial, sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah. Mempercepat pembangunan perdesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat terutama petani dan nelayan melalui penyediaan prasarana, pembangunan sistem agribisnis, industri kecil, dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembagaan penguasaan teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam. Mewujudkan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah secara adil dengan mengutamakan kepentingan daerah yang lebih luas melalui desentralisasi perizinan, investasi, serta pengelolaan sumber daya. Memberdayakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah guna memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah sesuai dengan potensi dan kepentingan daerah melaiui penyediaan anggaran pendidikan yang memadai. Meningkatkan pembangunan di seluruh daerah terutama di kawasan timur Indonesia, daerah perbatasan, dan wilayah tertinggal lainnya dengan berlandaskan prinsip desentralisasi dan otonomi daerah.

Pengembangan otonomi daerah di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk menyesuaikan secara adil dan menyeluruh permasalahan di daerah yang memerlukan penanganan yang khusus dan bersungguh-sungguh. Untuk itu langkah-langkah berikut perlu ditempuh:

Daerah Istimewa Aceh 1. Mempertahankan integrasi bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh dan melalui penetapan Daerah Istimewa Aceh sebagai daerah otonomi khusus yang diatur oleh undang-undang. 2. Menyelesaikan kasus Aceh secara adil dan bermartabat melalui pengusutan dan pengadilan yang jujur bagi pelanggar hak asasi manusia, baik selama

pemberlakuan Daerah Operasi Militer maupun pasca pemberlakuan Daerah OperasiMiliter. Irian JayaMaluku. 1. Mempertahankan integrasi bangsa di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tetap menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Irian Jaya melalui penetapan daerah otonomi khusus yang diatur oleh undang-undang. 2. Menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia di Irian Jaya melalui proses pengadilan yang jujur dan bermartabat. Menugaskan Pemerintah untuk segera menyelesaikan konflik sosial yang berkepanjangan secara adil, nyata, dan menyeluruh serta mendorong masyarakat yang bertikai agar proaktif dalam melakukan rekonsiliasi untuk mempertahankan dan memantapkan integrasi nasional. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

1. Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat darigenerasi ke generasi. 2. Meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan melakukan konservasi, rehabilitasi, dan penghematan serta menerapkan teknologi ramah lingkungan. 3. Mendelegasikan secara bertahap wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam hal pengelolaan sumber daya alam secara selektif dan pemeliharaan lingkungan hidup, yang diatur oleh undang-undang, sehingga kualitas ekosisrem tetap terjaga. 4. Mendayagunakan sumber daya alam unuik sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian rungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serra penataan ruang, yang pengusahaannya diatur oleh undang-undang. 5. Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelesiarian kemampuan keterbaruan sumber daya alam untuk mencegah kerusakan permanen.

Implementasi di Bidang Pertahanan dan Keamanan

1. Menata kembali Tentara Nasional Indonesia sesuai paradigma baru secara konsisten melalui reposisi, redifinisi, dan reakrualisasi peran Tentara Nasional Indonesia sebagai alar ncgara untuk melindungi, memelihara, dan mempertahankankeutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia rerhadap ancaman dari luar dan dalam negeri dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan memberikan darma baktinya dalam membanru menyelenggarakan pembangungan. 2. Mengembangkan kemampuan sistem pertahanan keamanan rakyat semesta yang bertumpu pada kekuatan rakyat dengan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai kekuatan utama. Kekuatan utama ini didukung oleh komponen lainnya dari kekuatan pertahanan dan keamanan negara dengan meningkatkan kesadaran bela negara melalui wajib latih, membangun kondisi juang, dan mewujudkan kebersamaan Tentara Nasional Indonesia, KepolisianNegara Republik Indonesia, dan rakyat.

3. Meningkatkan kualitas profesionalisme Tentara Nasional Indonesia, meningkatkan rasio kekuatan komponen utama, dan mengembangkan kekuatan pertahanan keamanan negara ke wilayah yang didukung oleh sarana, prasarana, dan anggaran yang memadai. 4. Memperluas dan meningkatkan kualitas kerja sama bilateral bidang pertahanan dan keamanan dalam rangka memelihara stabilitas keamanan regional dan berpartisipasi dalam upaya pemeliharaan perdamaian dunia. 5. Menuntaskan upaya memandirikan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka pemisahan dari Tentara Nasional Indonesia secara bertahap dan berlanjut dengan meningkatkan profesionalisme sebagai alat negara penegak hukum, pengayom, dan pelindung masyarakat. B. Kaidah Pelaksanaan Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004 yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat 1999 harus menjadi arah penyelenggaraan negara bagi lembaga-lembaga tinggi negara dan segenap rakyat Indonesia. Karena itu, perlu ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut:

1. Presiden selaku kepala pemerintahan negara menjalankan tugas penyelenggaraan pemerintahan negara dan berkewajiban untuk mengerahkan semua potensi dan kekuatan pemerintahan dalam melaksanakan dan mengendalikan pembangunan nasional. 2. Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Dewan Pertimbangan Agung berkewajiban melaksanakan GBHN sesuai dengan fungsi, tugas, dan wewenangnya berdasarkan UUD 1945. 3. Semua lembaga tinggi negara berkewajiban menyampaikan laporan pelaksanaan Garisgaris Besar Haluan Negara dalam sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat, sesuai dengan fungsi, tugas, dan wewenangnya berdasarkan UUD 1945. 4. Garis-garis Besar Haluan Negara dituangkan dalam Program Pembangunan Nasional lima tahun (PROPENAS) yang memuat uraian kebijakan secara terperinci dan terukur yang ditetapkan oleh Presiden bersama Dewan Perwakilan Rakyat.

5. Program Pembangunan Nasiona lima tahun (PROPENAS) dirinci dalam Rencana Pembangunan Tahunan (REPETA) yang memuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan ditetapkan oleh Presiden bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004 merupakan produk politik nasional yang ditetapkan oleh MPR hasil pemihhan umum 1998. GBHN tersebut berlaku sejak tanggal ia ditetapkan sampal ditetapkannya Garis-Garis Besar Haluan Negara oleh Sidang Umum Majehs Permusyawaratan Rakyat hasil pemilihan umum pada tahun 2004. Pada tahun pertama pelaksanaan Garis-Garis Besar Haluan Negara 1999-2004, Presiden diberi kesempatan untuk melakukan langkah-langkahpersiapan dan penyesuaian guna menyusun program pembangunan nasional serta rencana pembangunan tahunan yang memuat anggaran pendapatan dan belanja negara dengan tetap memelihara kelancaran penyelenggaraan pemerintahan negara. Selama rencana pembangunan tahunan berdasarkan GBHN tahun 19992004 belum ditetapkan, pemerintah dapat menggunakan rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang telah ditetapkan sebelumnya. Berhasilnya pelaksanaan penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita bangsa tergantung pada peran aktif masyarakat serta pada mental, tekad, semangat, ketaatan, dan disiplin para penyelenggara negara. Sehubungan dengan hal itu, semua kekuatan sosial politik, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga kemasyarakatan lainnya perlu menyusun program menurut fungsi dan kemampuan masing-masing dalam melaksanakan GBHN. Dalam rangka melaksanakan tanggung jawab bersama dan memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, perlu dikembangkan peran aktif masyarakat dalam rangka menyiapkan GBHN yang akan datang. Hasil pembangunan harus dapat dinikmati secara lebih merata dan adil oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada akhirnya pembangunan nasional yang merupakan wujud nyata politik dan strategi nasional akan memperkuat jati diri dan kepribadian manusia, masyarakat, dan bangsa Indonesia dalam suasana yang demokratis, tentram, aman, dan damai. C. Keberhasilan Politik dan Strategi Nasional Politik dan strategi nasional dalam aturan ketatanegara selama ini dituangkan dalam bentuk GBHN yang ditetapkan oleh MPR. Ketetapan MPR tentang GBHN menjadi landasan hokum bagi Presiden untuk dijabarkan dalam bentuk Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Rencana pembangunan nasional dituangkan dalam Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, yang ditetapkan tanggal 19 Januari 2005. Adapun (RPJMN) 2004-2009 adalah sebagai berikut :

Visi pembangunan Nasional tahun 2004-2009

1. Terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara yang aman, bersatu, rukun dan damai,

2. Terwujudnya masyarakat bangsa dan Negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan, dan hak asasi manusia, serta 3. Terwujudnya perekonomian Indonesia yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak, serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Misi pembangunan Nasional tahun2004-2009

1. Mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. 2. Mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. 3. Mewujudkan Indonesia yang sejahtera Rumusan visi dan misi tersebut bertitik tolak dari berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa dan Negara. Permasalahan-permasalahan dimaksud adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi Kualitas SDM Indonesia masih rendah Tidak menyatunya kegiatan perlindungan fungsi pemanfaatan SDA dengan lingkungan Kesenjangan pembangunan antar daerah masih lebar Pembangunan infrastruktur mendatang dihadapkan dengan terbatasnya kemampuan pemerintah untuk menyediakan 6. Belum tuntasnya penanganan secara menyeluruh terhadap aksi sparatisme di NAD dan Papu bagi terjaminnya integritas NKRI serta masih adanya potensi konflik horizontal diberbagai wilayah di Indonesia 7. Masih tingginya kejahatan konvensional dan transnasional 8. Kurangnya kemampuan jumlah dan personil TNI serta permasalahan alutsista yang jauh dari mencukupi 9. Masih banyakny peraturan perundangan-undangan yang belum mencerminkan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia 10. Rendahnya kualitas pelayanan umum kepada masyarakat 11. Belum menguatnya pelembagaan politik penyelengara Negara dan lembaga kemasyarakatan Pemerintahan harus bersih dan berwibawa, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) guna mencapai cita-cita dan tujuan nasional. Dengan demikian penyelenggaraan pemerintah dan setiap warganegara Indonesia harus memiliki: 1. Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 2. Semangat kekeluargaan yang berisi kebersamaan, kegotong-royongan, persatuan, dan kesatuan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat guna kepentihgan nasional. 3. Kepercayaan diri akan kemampuan dan kekuatan sendiri yang bersendikan kepribadian bangsa sehingga mampu meraih masa depan yang lebih baik. 4. Kesadaran, kepatuhan dan ketaatan pada hukum. Karena itu, pemerintah diwajibkan menegakkan dan menjamin kepastian hukum.

5. Pengendalian diri sehingga terjadi keseimbangan, keserasian, dan keselarasan dalam berbagai kepentingan. 6. Mental, jiwa, tekad, dan semangat dari pengabdian disiplin, dan etos kerja yang tinggi yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan/atau golongan, sehingga tercipta kesadaran untuk cinta tanah air dalam rangka Bela Negara melalui Perjuangan Non Fisik. 7. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, sehingga memiliki daya saing (kompetitif) dan dapat berbicara dalam percaturan global.

Strategi Pokok Pembangunan Nasional

Dalam rangka menghadapi berbagai masalah sebagaimana dikemukakan diatas, ditetapkanlah strategi pokok pembangunan nasional sebagai berikut : 1. Strategi penataan kembali Indonesia. Strategi ini diarahkan untuk menyelamatkan system ketatanegaraan RI berdasarkan semangat, jiwa, nilai, dan sensus dasar yang melandasi berdirinya Negara kebangsaan RI, yang meliputi pancasila, Undang-undang Dasar 1945, tetap tegaknya NKRI, dan tetap berkembangnya pluralism dan keberagaman dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. 2. Strategi pembangunan Indonesia. Strategi ini diarahkan untuk membangun Indonesia disegala bidang yang merupakan perwujudan dari amanat yang tertera jelas dalam pembukaan UUD 1945, terutama dalam pemenuhan hak dasar rakyat dan penciptaan landasan pembangunan yang kokoh

Agenda Pembangunan Nasional 2004-2009

Berdasarkan visi, misi, dan strategi pembangunan nasional diatas, maka disusunlah agenda pembangunan Nasional tahun2004-2009 yaitu :

Menciptakan Indonesia yang aman dan damai, dengan sasaran pokoknya :

1. Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antara kelompok masyarakat 2. Pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur 3. Peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas Untuk mencapai sasaran tersebut prioritas pembangunan nasional diletakan pada: pencegahan dan penanggulangan sparatisme; pencegahan dan penaggulangan gerakan terorisme; peningkatan kemampuan pertahanan Negara.

Mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis, dengan sasaran pokoknya :

1. Terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan perempuan dalam berbagai bidang pembangunan 2. Meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat

3. Meningkatnya keadilan dan penegakan hokum yang tercemin dari terciptanya sistem hokum yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan nasional diletakan pada: pembenahan sistem hokum; penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk; revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah.

Meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia,dengan sasaran pokoknya:

1. Menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2 % tahun 2009 serta tercapainya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 % pada tahun 2009 2. Meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh tercermin dari membaiknya indeks pembangunan manusia (IPM) 3. Membaiknya infra struktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kualitas dan kuantitas berbagai sarana penunjang pembangunan. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan nasional diletakan pada: peningkatan pengelolaan BUMN; peningkatan kemampuan iptek; perbaikan iklim ketenagakerjaan. Apabila penyelenggara pemerintah/negara dan setiap warganegara Indonesia memiliki ketujuh unsur yang mendasar di atas, keberhasilan politik dan strategi nasional dalam rangka mencapai cica-cita dan tujuan nasionaJ melalui Perjuangan Non Fisik sesuai tugas dan profesi masingmasing akan terwujud. Dengan demikian kesadaran Bela Negara diperlukan untuk mempertahankan keutuhan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. BAB PENUTUP III

A. Kesimpulan Dari pembahasan di bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa politik dan strategi nasional Indonesia haruslah dilaksanakan di segala bidang untuk memajukan seluruh aspek kehidupan di Indonesia. Kemudian, GBHN yang ditetapkan oleh MPR dalam Sidang Umum MPR harus menjadi arah penyelenggaraan negara bagi lembaga-lembaga tinggi negara dan segenap rakyat Indonesia. Selain itu pelaksanaan politik dan strategi nasional di Indonesia di tentukan oleh tujuh unsur pokok yang telah tertulis dalam pembahasan Bab II. B. Adapun saran yang dapat kami berikan adalah: Saran

1. Pemerintah sebaiknya meningkatkan sistem politik dan strategi nasional Indonesia agar bangsa ini dapat menjadi lebih baik lagi;

2. Sebaiknya pemerintah melakukan tindakan tegas kepada para pelaku KKN agar politik dan strategi nasional Indonesia dapat berjalan dengan baik, karena pemerintahan harus bersih dari KKN agar dapat mencapai tujuan nasional; 3. Pemerintah sebaiknya meningkatkan perhatian di sektor kesehatan dan kesejahteraan sosial karena sampai saat ini banyak penduduk Indonesia yang tidak sejahtera hidupnya; 4. Pemerintah sebaiknya memeratakan pembangunan daerah agar pembangunan yang merata dapat terwujud.

Politik & Strategi Nasional

4
Tujuan Instruksional Umum : Mahasiswa dapat mengerti, memahami, mendalami, menghayati politik dan strategi nasional dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Tujuan Instruksional Khusus : 1. Mahasiswa dapat mem ahami dan menjelas kan peng ertian politik, negara, kekuasaan, pengambil keputusan, kebija kan umum, distribusi kekuasaan. 2. Mahasiswa dapat mem ahami dan menjelas kan peng ertian politik, negara, strategi, pengertian politik dan strategi nasional. 3. Mahasiswa dapat me mahami dan m enjelaskan dasar pemikiran penyusunan Polstranas PENGE RTIAN POLIT I K, STRATEGI DAN POLITIK STRAT E GI NASIONAL (POLSTRANAS). Pengertian Politik . Kata politik secara etimologi s berasal dari bahasa Yunani yaitu "Politeai". "Politeai" berasal dari kata "p olis" yang berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara dan "teai" yang berarti urusan.

Bahasa Indonesia menerjemahkan dua k a ta Bahasa Inggris yan g berbeda yaitu "politics" dan "policy" menjadi satu kata yang sama yaitu politik. Politics adalah s uatu rangkaian asas (prins ip), keadaan, cara dan alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan atau cita-cita tertentu. Policy diartikan k ebijakan, adala h penggunaan pertimbanganper timbangan yang dianggap dapat lebih m enjamin tercapainya suatu usaha, cita-cita atau keinginan atau tujuan yang dikehendaki. Politik sec a ra umum adalah bermacammacam kegiatan d a lam suatu sistem politik
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 1 dari 9

(negara) yang menyangkut proses m enentukan tujuan-tujuan dari sistem tersebut dan melak s anakan t u juan-tujuan tersebut, meliputi Pengam bilan Keputusan (decision making) , mengenai apakah yang menjad i tujuan dari sistem politik itu menyangk ut seleksi antar a beberapa alternatif dan penyusuna n skala prioritas dari tujuan-tujuan yang t e lah di pilih. Untuk melaksanakan tujuan-tujuan

itu perlu ditentukan Kebi jaksanaan-kebijaks anaan Umum (public policies) y a ng menyangk ut pengaturan dan pe mbagian dari sumber-s umber dan resources yang a da. Untuk melaksanakan kebijaksa naan-kebij a ksanaan itu perlu m e milik i kekuasaan (power) dan wewenang (autho rity), yang digunakan untuk membina kerjasama dan untuk menyelesaikan konflik yang timbul dalam proses ini. Hal itu dilak u kan baik dengan cara meyakink an (per suasif) maupun paks aan (coercion). Tanpa adanya uns ur paksaan maka kebijaks anaan hanya merupakan perumusan keinginan (state ment of intent) belaka. Dari uraian tersebut di atas, politik membicarakan hal-hal yang ber kaitan dengan : - Negara -K e kuasaan - Pengambilan Keputus an - Kebijakan Distribusi dan alokas i sumber daya 1. Negara Negara ad alah suatu organisasi dalam su

atu wilay a h yang memiliki kek u asaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakya tnya. Boleh dikatakan negara merupakan bentuk masyarakat yang paling utama dan negara merupakan o r ganisasi politik yang paling utama dalam suatu wilaya h yang berdaulat. 2. Kekuasaan Kekuasaan adalah kemampuan seseorang at au kelompok untuk mempengaruhi tingkah lak u seseorang atau kelompok la in s e suai dengan keinginnannya. Dalam politik perlu diperhatikan bagaimana keku asaan itu diperoleh, dilaksanak an dan dipertahankan.
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 2 dari 9

3. Pengambilan Keputus an Pengambilan Keputusan seb agai aspek utama dari politik, dan dlam pengambilan keputus an perlu diperhatikan siapa pengam bil keputusan itu dan untuk siapa keputusan itu dibuat. Jadi politik adalah pengambilan keputu s an melalui sar ana umum . Keputusan yang diam bil meny angkut sek t or publik dari suatu negara. 4. Kebijakan Umum Kebijakan (policy) merupakan suatu kumpulan keputus

an yang diambil seseorang atau kelompok politik dal am rangka memilih tu juan dan cara mencapai tujuan itu. Dasar pemikir annya adalah b ahwa masyarakat memilik i beberapa tujuan bersama yang ingin dicapai secara bersama pula oleh karena itu diperlukan rencana yang mengikat yang dirumuskan dalam kebij a kankebijakan oleh pihak yang berwenang. 5. Distribusi Distribusi adalah pembagi an dan penjatahan nilai-nilai (Values) dalam masyarakat. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan, atau yang penti ng dengan demikian nila i harus dibagi secara adil. Jadi po litik itu membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian nilai-nilai sec a ra mengikat. Pengertian Strategi Kata strategi berasal dari kata "strat egia" berasal dari ba has a Yunani yang berarti "the art of general" atau seni seorang panglim a yang biasa digunak an dalam peperangan. Karl Von Clausewitz (1780-1831) ber pendapat bahwa startegi adalah pengetahuan tentang peng gunaan pertempuran unt uk memenangkan peperangan. Sedangk an perang itu sendiri me rupakan kelanjutan dari politik. Dalam abad modern sekarang ini penggunaan kata s t rategi tidak lagi terbatas pada kons

ep atau seni seor ang panglima dalam peperangan s a ja, akan tetapi
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 3 dari 9

sudah digunakan sec a ra luas termasuk dalam ilmu ekonomi maupun di bidang olah raga. Arti strategi dalam pengertian um um adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau tercapainy a suat u tujuan termasuk politik. Dengan demikian k a ta strategi tidak hanya menjadi monopo li para jenderal atau bidang militer saja, tetapi telah mel uas ke segala bidang kehidupan. Strategi pada das arnya merupakan seni dan ilmu yang menggunakan dan mengembangkan kek uatan-keku atan (ideologi, politik, ekonomi, sos bud dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumny a . Pengertian Politik Dan Strategi Nasional (Polstranas) Pengertian Politik Nasional Politik Nas i onal adalah asas, haluan, usaha serta kebijaksanaan negara tentang pembinaan (perencanaan, pengembangan, peme liharaan dan pengendalian) serta penggunaan secara kekuatan nasional untuk mencapai tujuan nasional. Dalam melaksanak an politik nasional maka disus unlah strategi nasional. Misalnya strategi jangka penedek, jangka menengah dan jangka panjang. Strategi Nasional adalah cara melaks

anakan politik nasio nal dalam mencapai sasaran-sasaran dan tujuan yang di tetapkan oleh politik nasional. Dasar Pemikiran Pen y usunan Po litik Dan Strategi Nasional Dasar pemikirannya adalah pok ok-pokok pikiran yang terkandung dalam sistem manajemen nasiona l yang b e rlandaska n ideologi Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Landasan pemikiran dalam sistem manaj emen nasional ini penting artinya karenadidalamnya terkandung dasar negara, cita-cita nasional dan kon s ep strategis bangsa Indonesia.
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 4 dari 9

Peny usunan Politik Dan Strategi Nasional Politik dan strategi nasional yang te lah berlangsung selama ini disusun berdasarka n sistem kenegaraan menur ut UUD 1 945 . Sejak tahun 1985 telah berkembang pendapat dimana jajaran pem erintah dan lembaga-lembaga yang tersebut dalam UUD 1945 disebut sebagai "Suprast r uktur Politik", yaitu MPR, DPR, Presiden, BPK dan MA. Sedangkan badan-badan yang ada dalam masyarakat disebut sebagai "Infrastrukt ur Politik", yang mencakup pranatapranata politik y ang ada dalam masyarakat, seperti partai politik, organisas

i kemasyarakatan, media massa, kelom pok kepentin gan (interest group) dan kelompok penenkan (pressure group). Anta ra suprastruktur dan infrastruktur politik harus dapat bekerja sama dan me miliki kekuatan yang seimbang. Mekanisme pen y u s unan p o litik dan strategi nasional ditingkat suprastruktur politik diatur ol eh Pr esiden ( m andataris MPR). Da lam melaksanakan tugas nya ini presiden di bantu oleh lembag a-lembaga tinggi negara lainnya serta dewandewan yang merupakan badan koordinasi seperti Dewan Stabilitas Eko nomi Nasional, Dewan Pert ahanan Keam anan Nasional, Dewan Tenaga Atom, Dewan Penerbangan dan antariksa Nasional RI, Dewan Maritim, Dewan Otonomi Daerah dan dewan Stabitas Politik dan Keamanan. Sedangkan proses penyusunan politik dan strategi nas ional di tingkat suprastruktur politik dilakuk an s e tel ah Presiden menerima GBHN, selanjutnya Presiden m enyusun pr ogram kabinetnya dan memilih menteri-menteri yang akan melaksanakan program kabinet tersebut. Program kabinet dapat dipandang sebagai dokumen resmi yang memuat politik nasional y

a ng di gariskan oleh presiden. Jika politik nasional ditetapkan Presiden (mandataris MPR) maka strategi nasional dilaksan akan oleh para menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non departemen sesuai dengan bidangnya atas petunjuk dar i presiden.Apa yang dilaksanakan presiden s e sungguhnya mer upakan politik dan
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 5 dari 9

strategi nasional yang bersifat pelaks anaan, maka di dalamnya s udah tercantum program-program y a ng lebih konkrit untuk dicapai ,y a ng disebut sebagai Sasaran Nasional. Proses politik dan strategi nasional di infrastruktur politik merupakan sasaran yang akan dicapai oleh rakyat Indonesia dalam rangka pelaks a naan strateg i nasional yang meliputi bidang ideo logi, politik, ekonomi, sos bud dan hankam.Sesuai dengan kebi jakan politik nasional mak a penyelenggara negara harus mengambil langkah-langk ah untuk melakukan pembinaan t e rhadap semua lapis an masyarakat dengan mencantumkan sebagai sasaran sektoralnya. Melalui pranata-pranat

a politik m a syarakat ikut ber partisipas i dalam kehidupan politik nasional. Dalam era reformasi saat ini peranan mas y arakat dalam mengontrol jalannya politik dan strategi nasional ya ng telah ditetapkan MPR maupun y ang dilaks anakna oleh presiden sangat besar sekali. Panda n gan masyarakat terhadap kehidupan politik, ek onomi, sos bud maupun hank am akan selalu berkembang hal ini dik a renakan oleh: Semakin tingginy a kesadaran be rmasyarakat berbangsa dan bernegara. Semakin terbukanya akal dan pik i ran untuk memperjuangkan hak nya. - Semakin meningkat nya kemam puan untuk menentuk an pilihan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Semakin meningkat nya kemampuan un tuk mengatasi pers oalan seiring dengan semakin tingginya tingk at pend idik an yan g ditunjang ke majuan ilm u pengetahuan dan teknologi. Semakin kritis dan terbukanya

masyarakat terhadap ide-ide baru. Stratifikasi Politik Nasional Berdasarkan stratifikasi dari politik nasional dalam negar a RI, seb agai berikut:
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 6 dari 9

1. Tingkat Penentu Keb ijakan Puncak. a. Tingkat k ebijakan puncak meliputi kebijakan tertinggi yang lingkupny a menyeluruh secara nasional yang mencak up : penent uan UUD, penggaris a n masalah makro politik bangsa dan negara untuk merumuskan tujuan nasion al (national goals) berdasark an Pancasila dan UUD 1945. Kebijakan pun c a k ini dilakukan oleh MPR den g an h asil rumusann y a dalam berbagai GBHN dengan Ketetapan MPR. b. Dalam halhal dan keadaan ters ebut yang menyangkut kekuas aan kepala negara se perti tercantum dalam pasal 10 s/d 15 UUD 19 45 , maka dalam penentu tingkat kebijakan puncak ini termasuk pula ke w e nangan Presiden sebagai Kepala Neg

a ra. Bentuk hukum dari kebijak an nasional yang ditentukan oleh Kepala negara it u dapat dik e luarkan ber upa: Dekrit , Peraturan atau Piagam Kepala Negara. 2. Tingkat Kebijakan Umum. a. Tingkat kebijakan umum merupakan tingkat kebij a kan di bawah tingkat kebijakan puncak, yang lingkupnya j uga menyeluruh nasional dan berupa penggaris an mengenai masalah-masalah makro strategis gun a mencapai tujuan nasional dalam situas i dan kondisi tertentu. Hasil-hasilnya dapat berbentuk : Undang-Undang yang kek uasaan pembuatannya terlet ak ditangan Presiden dengan persetujuan DPR (UUD 1945 pasal 5 (1))atau Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang ( P erpu) da lam hal ihwal k egentingan yang memaksa. Peraturan Pemerintah untuk m engatur pelaksanaan U ndang-Undang yang wewenang penerbitannya bera da di tangan Presiden (UUD 1945 pas al 5 (2)). Keputusan atau Instruksi Presiden y ang ber is i kebijakan-kebijakan penyelenggaraan pemerint ahan yang wewenang pen

geluaranny a berada di tangan Presiden dalam rangka pela ksanaan kebijakan nasional dan perundangundang an yang berla ku (UUD 1945 pasal 4 (1)).
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 7 dari 9

Dalam keadaan tertentu dapat pula di keluark an Maklumat Presiden. 3. Tingkat Penentu Keb ijakan Khusus. Kebijakan khusus merupakan penggarisan t e rhadap suatu bidang utama (major area) pemerintah sebaga i penjabaran terhadap kebijakan umum guna merumuskan strategi, administrasi, si stem dan pros edur dalam bidang utama tersebut. Wew e nang kebijakan khusus terletak pada Menteri, berdasarkan dan ses u a i dengan k e bijakan pada tingkat diatasnya. Hasiln ya d i rumuskan dalam bentuk Peratuan Menteri atau Instruksi Menteri dalam bidang pemerintahan yang dipertanggungjawabk an kepadanya. Dalam keadaan tertentu dapat dikeluarkan pula Surat Edaran Menteri. 4. Tingkat Penentu Keb ijakan Teknis. Kebijakan teknis meliputi penggarisan dalam suatu sektor dibidang utama tersebut diatas dalam bentuk prosedur da

n teknis untuk mengimplementasikan rencana, program dan kegiatan. Wewenang pengeluaran kebijak an teknis terletak ditangan Pimpinan Es elon Pertama Departemen Pemerintahan dan Pimpinan Lembaga-Lembaga Non Departemen. Hasil penentuan kebijakan dirumuskan da lam bentuk Peraturan, Keputusan atau Instruksi Pimpinan Lem abaga Non Departem en atau Direk torat Jenderaldalam masing-masing sektor atau segi administrasi yang dipertanggungjawabk an kepadanya. Didalam tata laksana pemerintahan, Se kretaris Jenderal (Sekjen) sebag ai pembantu utama Menteri ber tugas untuk mempersiapkan dan merumuskan kebijakan k husus Menteri dan Pimpinan Ru mah Tangga Departemen. Selain itu Inspektur Jenderal dalam suatu Depar temen berkedudukan sebagai Pembantu Utama Menteri dalam peny elenggaraan pengendalian ke dalam Departemen. Ia mempunyai wewenang pula untuk memper siapkan kebijakan khusus Menteri.
Pend. Kewa rganegaraan ATA 07/08 Halaman 8 dari 9

5. Kekuasaan Membuat Aturan Di Daerah. Kekuasaan membuat aturan di daerah dikenal dua macam: a. Penentuan kebijakan mengenai pelaksa naan Pemerint ahan Pusat di daerah yang wewenang pengeluarannya terl etak pada Gubernur, dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerint ahan Pusat Di Daerah y u ridiksinya masing-masing, bagi daerah tingkat I pada Gubernur dan bagi daerah tingkat II pada Bupati atau Wali Kota. Perumusan hasil kebijakan tersebut

dikeluarkan dalam keputusan dan inst ruksi Gubernur untuk propinsi dan instruksi Bupati atau Wali Kota untuk kabupaten atau kota madya. b. Penentuan kebijakan pemerint ah daer ah (otonom) yang wewenang pengeluarannya terlet ak pada Kepal a Da erah dengan persetujuan DPRD. Perumusan hasil kebijakan tersebut di terbitkan sebagai kebijak a n daerah dalam bentuk Peraturan Daerah Tingk at I atau II, keputusan dan instruksi Kepala Daerah Tingk at I atau II. Menurut kebijakan y ang berlak u se karang, maka jabatan Gubernur dan Bupati atau Wali Kota dan Kepala Daerah Tingkat I atau II disatukan dalam satu jabatan yang dis ebut Guber nur/Kepal a Daerah Tingkat I, Bupati/Kepa la Daerah Tingkat II atau Wali Kota/Kepala Daerah Tingk at II.