Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah kultur ikan hias dan untuk menambah

wawasan kita dibidang budidaya khususnya budidaya ikan mas koi. Dalam penulisan makalah kali ini, saya dihadapkan pada beberapa kesulitan diantaranya adalah pencarian sumber informasi dari internet yang kurang efisien sehingga diperlukan untuk mencari sumber informasi lainnya dari berbagai referensi yang ada. Dalam pembuatan makalah ini, tidak lepas dari bantuan beberapa pihak, oleh sebab itu saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan saya kesempatan dan waktu untuk bisa menyelesaikan makalah ini, dan juga kepada teman-teman yang turut membantu dalam memberikan motivasi dan dukungan. Semoga dengan penulisan makalah ini memberikan manfaat bagi pembaca sekalian serta sedikit pengetahuan baru. Saya mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca sekalian, agar dikemudian hari tidak terjadi kesalahan yang sama.

Makassar,27 Desember 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang perairan yang mempunyai berbagai macam jenis ikan yang beranekaragam, beberapa diantaranya mempunyai nilai jual yang cukup tinggi. Salah satunya adalah ikan koi (Cyprinus carpio) merupakan salah satu ikan hias potensial yang dibudidayakan di Indonesia. Ikan koi memiliki ciri khas warna yang menarik serta variasi jenis yang beranekaragam. Secara garis besar ikan koi diklasifikasikan dalam 13 kategori yaitu Kohaku, Sanke, Showa, Bekko, Utsurimono, Asagi, Shusui, Tancho, Hikari, Koromo, Ogon, Kinginrin, dan Kawarimono. Ikan koi termasuk jenis ikan hias air tawar bernilai ekonomis tinggi, baik di pasaran nasional maupun internasional, sehingga banyak para penggemar ikan di Indonesia yang tertarik untuk memelihara ikan ini. Melihat prospek pasar yang cukup tinggi dan menjanjikan maka usaha ikan koi tampaknya akan mendapatkan keuntungan yang cukup tinggi. Namun untuk menghasilkan keuntungan yang cukup tinggi ini dibutuhkan bibit ikan yang unggul. Oleh karena itu diperlukan adanya pengetahuan, keterampilan, softskill dan wawasan yang tinggi tentang pemeliharaan dan pembiakan ikan koi. berasal dari ikan mas. Ikan ini adalah ikan nasional Negara Jepang. Di Negara Jepang sendiri,koi diangap sebagai ikan dewa. Di Negara tersebut koi disebut kai yang artinya ikan berwarna. Banyak versi yang berkembang mengenai asal usul koi. Salah satunya berasal dari Persia, lalu dibawa ke Jepang oleh orang Cina melalui daratan Cina dan Korea. Koi dari Jepang pertama kali di eksport ke San Fransisco, Amerika Serikat (1938). Setelah itu berturut-turut dikirim ke Hawaii (1947), Canada(1949), dan Brazil(1953). Sedangkan masuk ke Indonesia diperkirakan tahun 1981-1982 di bawa oleh Hany Moniaga, hobiis yang tinggal di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Ia kemudian mengembangkan peternakan koi yang diberi nama Leon dan Leonny. Koi pertama itu panjangnya 90-100 cm, berumur 50-75 tahun. Sejak itulah koi populer di Indonesia dan belakangan menjadi buruan hobiis hingga saat ini. Ikan koi termasuk jenis ikan yang mudah dipelihara. Makanannya tidak selalu harus spesial karena termasuk binatang pemakan tumbuh-tumbuhan dan hewan ( omnivira). Pellet merupakan santapan utama, tapi saat ikan mengikuti kontes, Koi akan mendapat makanan tambahan dan doping khusus untuk menguatkan warna tubuhnya dalam masa karantina.

Selain itu, sayur-sayuran seperti kangkung atau buah-buahan, misalnya jeruk, bisa diberikan pada koi. Umur ikan koi bisa bertahan sampai puluhan tahun. Untuk memiliki ikan yang berasal dari perairan Eurasia and the middle east. Ini para penggemar dan calon penggemar dapat menyesuaikan diri antara keinginan dan kondisi saku. Tak selamanya harus mengeluarkan biaya yang mahal karena harganya yang bervariasi, tergantung dari ukuran dan jenis. Beberapa penjual mematok harga mulai dari Rp 50 ribu hingga mencapai Rp 8 Juta. Hebatnya, harga koi juara kontes dapat menembus ratusan juta rupiah.

BAB II PEMBAHASAN

A. Teknik Pembudidayaan Ikan Koi 1. Seleksi induk Syarat utama induk adalah calon induk sudah matang kelamin dan matang tubuh. Matang kelamin artinya induk jantan sudah menghasilkan sperma dan induk betina sudah menghasilkan telur yang matang. Matang tubuh artinya, secara fisik mereka sudah siap menjadi induk-induk produktif. Syarat lain fisiknya prima, tidak cacat. Sirip-siripnya lengkap, juga sisiknya. Gerakannya anggun, seimbang , tidak loyo. Umur jantan minimal 2 tahun, betina minimal 3 tahun. Betina lebih besar dibandingkan jantan, perutnya terlihat lebih besar dibandingkan punggung. Jantan sebaliknya, lebih langsing dan perutnya rata jika dilihat dari punggung. Sirip induk jantan siap kawin akan muncul bintik-bintik putih. Seekor induk betina berpasangan dengan 2 atau 3 induk jantan. Jika seekor betina hanya diberi seekor jantan di kolam pemijahan dan takdisangka jantannya ngadat, gagallah pemijahan. Dengan menyediakan stok jantan lebih dari satu, kegagalan pemijahan bisa dihindari. Disarankan untuk tidak menggunakan stok induk yang paling bagus, karena keturunannya biasanya jelek. Anak keturunannya belum tentu sebagus induknya. Cara Budidaya Ikan Koi, Yang dipijahkan sebaiknya koi biasa saja, tetapi masih memiliki sifat-sifat unggul, seperti warnanya pekat. Pada saat seleksi benih, nantinya bisa dipilh mana yang bagus dan mana yang diafkir. Beda jantan dan betina Jantan dan betina ikan koki dapat dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuhnya. Jantan dicirikan dengan tubuh lebih langsing dari betina dan memiliki sirip dada yang kasar di bagian belakangnya, dengan bentuk seperti gundukan pasir. Jantan yang matang kelamin akan keluar cairan berwarna putih susu, bila dipijit ke arah lubang kelamin. Sedangkan betina bertubuh lebih gendut dan memiliki sirip dada yang halus di bagian belakangnya. Kemudian

betina yang sudah bertelur dan matang gonad perutnya terasa lembek, bila diraba, berbeda sekali dengan betina yang belum matang gonad. Induk jantan dan betina harus sudah berumur 6 bulan. 2. Pematangan gonad induk umur minimal 24 bulan dan ukuran minimal 35 cm. induk jantan bila dilihat dengan mata akan terlihat relatif lebih panjang dan perutnya tidak buncit. Sirip depan kasar dan lebih lincah. Induk betina bila dilihat dengan mata akan terlihat pendek dan buncit perutnya, gerakan lamban dan sirip depan halus. Perut induk betina bagian bawah bila dipegang cenderung lunak / empuk itu pertanda induk tersebut siap bertelur. 3. Pemijahan Induk dimasukkan sekitar pukul 16.00 dan akan mulai memijah tengah malam. Induk betina akan berenang mengelilingi kolam dengan diikuti induk jantan di belakangya. Makin lama gerakan mereka makin seru. Cara Budidaya Ikan Koi, Induk jantan menempelkan badannya ketika mengikuti induk betina. Pada puncaknya, induk betina akan mengeluarkan telurnya dengan sesekali meloncat ke udara. Aktifitas betina ini segera diikuti jantan dengan mengeluarkan cairan sperma. Telur-telur yang terkena sperma akan menempel pada kakaban atau bahan penempel telur lainnya dan susah lepas. Juga ada sebagian telur uyang jatuh ke dasar kolam. Perkawinan selesai pada pagi hari. Induk segera dipisah dari telurnya. Jika terlambatm telur bisa habis dimakan induknya. Ada dua cara untuk memisahkan induk dari telur yang dihasilkan.Pertama, dengan memindahkan induk dari kolam pemijahan dan tetap membiarkan telur menetas di kolam tersenur. Cara kedua dengan memindahkan telur ke kolam penetasan. Cara pertama lebih praktis karena lebih menghemat lahan (kolam). Untuk mencegah agar tidak terserang jamur, telur-telur direndam dulu dalam larutan Malachyt green dengan konsentrasi 1/300.000 selama 15 menit sebelum ditaruh di kolam penetasan. Ketika akan merendam telur-telur ini, sebaiknya kakaban digoyang-goyangkan pada air agar kotoran yang mungkin menutupi telur bisa terlepas.

A. Pemijahan Alami Cara Budidaya Ikan Koi - Siapkan bak berukuran panjang 2m, lebar 1m, dan tinggi 0,4 m - Keringkan selama 2-4 hari - Isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan - Pasang hapa halus seusai ukuran bak - Masukkan ijuk secukupnya - Masukkan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari - Masukkan pula 1 ekor induk jantan - Biarkan memijah - Esok harinya tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu. B. Pemijahan Buatan Pemijahan buatan memerlukan keahlian khusus. Dua langkah kerja yang harus dilakukan dalam sistem ini adalah penyuntikkan, pengambilan sperma dan pengeluaran telur. 1. Penyuntikkan dengan ovaprim Penyuntikkan adalah kegiatan memasukkan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang digunakan adalah ovaprim. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mil ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikkan ke dalam tubuh induk tersebut; masukkan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam. 2. Penyuntikkan dengan hypofisa Penyuntikkan bisa juga dengan ekstrak kelenjar hypofisa ikan mas atau lele dumbo. Caranya siapkan induk betina yang sudah matang gonad ; siapkan 1,5 kg ikan mas ukuran 0,5 kg; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutup insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat dibawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypofisa; masukkan ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukkan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypofisa itu; suntikkan ke dalam tubuh induk betina; masukkan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selama 10 jam. 3. Pengambilan Sperma Setengah jam sebelum pengeluaran telur; sperma harus disiapkan. Caranya: 1. Tangkap induk jantan yang sudah matang kelamin 2. Potong secara vertikal tepat di belakang tutup insang

3. Keluarkan darahnya 4. Gunting kulit perutnya mulai dari anus hingga belakang insang 5. Buang organ lain di dalam perut 6. Ambil kantung sperma 7. Bersihkan kantung sperma dengan tisu hingga kering 8. Hancurkan kantung sperma dangan cara menggunting bagian yang paling banyak 9. Peras spermanya agar keluar dan masukkan ke dalam cangkir yang telah diisi 50 ml (setengah gelas) aquabides 10. Aduk hingga homogen.

4. Pengeluaran Telur Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 jam dari peyuntikkan, namun 9 jam sebelumnya diadakan pengecekkan. Cara pengeluaran telur: 1. Siapkan 3 buah baskom plastik, 1 botol Natrium Chlorida (infus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu 2. Tangkap induk dengan sekup net 3. Keringkan tubuh induk dengan lap 4. Bungkus dengan lap dan biarkan lubang telur terbuka 5. Pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya 6. Pijit bagian perut ke arah lubang telur 7. Tampung telur dalam baskom plastic 8. Campurkan larutan sperma ke dalam telur 9. Aduk hingga rata dengan bulu ayam 10. Tambahkan Natrium Chlorida dan aduk hingga rata 11. Buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah 12. Telus siap ditetaskan. 4. Fertilisasi Pembuahan atau fertilisasi (singami) adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa nukleus atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus. Biasanya melibatkan penggabungan sitoplasma (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus (kariogami). Dengan meiosis, zigot itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus seksual eukariota, dan pada dasarnya gamet-gamet yang melebur adalah haploid. Setelah

ditemukan telur mana yang sudah matang, maka kita fokuskan perhatian pada telur tersebut. Kita amati secara cermat pada saat sel sperma yang telah diencerkan dengan air, dimasukan dalam cawan petri yang berisi telur. Terjadinya fertilisasi yang telah dilaksanakan, untuk mengamati terjadinya fertilisasi secara jelas, maka kita pilih terlebih dahulu gambar telur mana yang mengalami matang telur. Matang telur atau telur yang siap dibuahi, mengenai ciri yang paling terlihat adalah inti sel yang berada di pinggir atau mengarah pada dinding (mikrofil). Ternyata setelah diamati pada layar mikroskop, masuknya sperma ke dalam sel telur melalui lubang mikrofil, terjadinya sangat cepat sekali sehingga hanya beberapa dari kita yang benar-benar melihatnya. Sesaat setelah salah satu dari ribuan sperma masuk kedalam ovum, maka dalam telur terjadi suatu perubahan atau pengembangan. Perubahan yang sangat mencolok yaitu mengenai warna telur itu sendiri. Setiap detik selalu mengalami perubahan dari warna yang tadinya cerah, lama-kelamaan warnanya menjadi pudar, hal ini dimungkinkan karena proses perkambangan sel telur yang sudah dibuahi oleh sel sperma mengamatinya selama 4 jam, dan ternyata pekembangan tersebut telah menunjukan perkembangan bentuk telur yang sangat cepat, hanya dengan waktu beberapa jam saja telur sudah ada tanda-tanda mau menetas. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik): gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi. Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat): sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul dengan fertilisasi. Setelah pembuahan, telur itu membentuk membran fertilisasi untuk merintangi pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya untuk mengaktivasi telur. 5. Penetasan telur Agar menetas dengan baik, telur harus selalu terendam dan suhu air tetap konstan. Jika suhu terlalu dingin, penetasan akan berlangsung lama. Jika suhu terlalu tinggi, telur bisa mati dan membusuk. Agar telur bisa terendam semua, rangkaian kakaban harus ditenggelamkan ke dalam kolam. Untuk itu bisa memakai jasa gedebog pisang. Potong tiga buah gedebog pisang sepanjang 40 cm, lalu letakkan diatas kakaban dengan dua ruas bambu sebagai alasnya. Agar bisa stabil, gedebog diratakan salah atu sisinya.

Dalam tempo 2 3 hari telur koi sudah mulai menetas. Setelah menetas kakaban diangkat dan dipindahkan ke tempat lain. Nantinya kakaban bisa dipakai lagi di lain kesempatan. Benih koi umur seminggu masih lembut. Umumnya orang menetaskan telur koi dalam hapa yaitu kantong yang bermata lembut yang biasa untuk menampung benih. Di hapa, benih koi lebih mudah dikumpulkan dan tidak hanyut terbawa aliran air. Koi yang baru menetas masih membawa kuning telur sebagai persediaan pakan utama yang pertama. Selama itu mereka belum membutuhkan pakan dari luar karena pencernaannya belum terbentuk sempurna. Dua atau tiga hari kemudian, mereka sudah mulai berenang. Saat ini sudah waktunya menyediakan pakan bagi benih. Benih ini harus dipindahkan ke kolam pembesaran yang banyak mengandung pakan alami. 6. Perawatan larva Setelah waktu 2-3 hari telur-telur akan menetas, larva ikan koi dapat dilihat dengan mata telanjang jika larva sedang bergerak. Larva ikan koi akan bertahan hidup tanpa diberi pakan sampai hari ketiga karena adanya cadangan pakan pada perutnya. Cadangan pakan yang ada pada larva baru akan habis pada hari ketiga. Pada awal pemeliharaan larva berikan pakan berupa kuning telur yang direbus dan sudah halus, atau berikan Rotifera jika ada. Pakan dapat juga berupa pakan buatan pabrik yang dikhususkan untuk pemeliharaan larva ikan koi. Pada hari keenam atau ketujuh kakapan atau sulak tali plastik rapia dapat diangkat dengan cara hati-hati, agar larva tidak ikut tersangkut maka sebaiknya diguyur dengan melalui selang plastik terlebih dahulu sebelum dipindahkan keluar dari kolam pemijahan. A. Teknik Pembesaran 1. Wadah pemeliharaan Ikan koi secara alami hidup di air deras sehingga membutuhkan air jernih dan berkadar oksigen tinggi. Pemeliharaan ikan koi yang terbaik adalah di kolam sehingga mudah mendapatkan makanan alami dan sinar matahari untuk merangsang pewarnaan tubuh. Kolam sebagian dinaungai karena sinar matahari yang terlalu banyak menyebabkan suhu air kolam meningkat dan air kolam menjadi keruh akibat blooming fitoplankton. Koi berukuran kecil dapat ditempatkan di akuarium, walaupun ini tidak dapat menjadi habitat permanen. Bila dipelihara dalam kelompok, koi akan belajar untuk tidak mengganggu ikan

yang berukuran sama, tetapi memakan ikan yang lebih kecil. Koi suka menggali dasar kolam sehingga menyebabkan akar tanaman rusak. 2. Pengelolaan kualitas air Manajemen kualitas air mempunyai peran yang sangat penting untuk budidaya ikan koi. Air sebagai media hidup ikan, berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. Kualitas air menentukan keberadaan berbagai jenis organisme yang ada dalam diwadah akuarium maupun kolam. Kualitas air yang jauh dari nilai optimal dapat menyebabkan kegagalan budidaya, sebaliknya kualitas air yang optimal dapat mendukung pertumbuhan dan kelulusan kehidupan ikan koi. Lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ikan adalah mampu menyediakan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang optimal. Selain itu perlu diperhatikan timbulnya kondisi lingkungan yang dapat menghambat pertumbuhan ikan koi, bahkan dapat mematikan ikan, misalnya munculnya gas-gas beracun serta mikroorganisme patogen. Indikator kualitas air yang biasa digunakan untuk menilai kelayakan untuk budidaya biasanya didasarkan pada faktor fisika, kimia, dan biologi. a. Parameter Fisika 1. Suhu Suhu air dipengaruhi oleh : radiasi cahaya matahari, suhu udara, cuaca dan lokasi. Radiasi matahari merupakan faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya suhu air. Sinar matahari menyebabkan panas air di permukaan lebih cepat dibanding badan air yang lebih dalam. Densitas air turun dengan adanya kenaikan suhu sehingga permukaan air dan air yang lebih dalam tidak dapat tercampur dengan sempurna. Hal ini akan menyebabkan terjadinya stratifikasi suhu (themal stratification) dalam badan air, dimana akan terbentuk tiga lapisan air yaitu : epilimnion, hypolimnion dan thermocline. Epilimnion adalah lapisan atas yang suhunya tinggi. Hypolimnion ialah lapisan bawah yang suhunya rendah. Sedangkan thermocline adalah lapisan yang berada di antara epilimnion dan hypolimnion yang suhunya turun secara drastis (Boyd, 1990). Dalam kolam, kondisi semacam ini dapat diatasi dengan pengadukan air oleh aerator atau kincir (paddle wheel). Ikan Koi merupakan hewan yang hidup di daerah beriklim sedang dan hidup pada daerah

perairan tawar. Ikan koi dapat hidup pada kisaran suhu 8C 30C, oleh sebab itu ikan koi dapat di pelihara di seluruh Indonesia, mulai dari pantai hingga daerah pegunungan. Suhu ideal untuk tumbuh ikan Koi adalah 15C 25C. Di daerah yang menpunyai musim dingin, ikan Koi mampu bertahan hidup pada suhu 2C 3C. Ikan Koi merupakan ikan yang tidak tahan terhadap perubahan suhu secara drastis. Penurunan suhu hingga 5C dalam tempo singkat sudah dapat mengakibatkan ikan Koi stress (Tiara dan Murhananto, 2002). 2. Salinitas Salinitas suatu perairan dapat ditentukan dengan menghitung jumlah kadar klor yang ada dalam suatu sampel (klorinitas). Ikan Koi merupakan ikan air tawar, akan tetapi ikan Koi masih dapat hidup pada air yang agak asin. Ikan Koi masih bisa bertahan hidup pada air dengan salinitas 10 ppt. Ikan Koi hidup pada ppt netral, akan tetapi ikan Koi masih bisa hidup pada ppt yang agak biasa. b. Parameter Kimia 1. pH pH adalah merupakan tetapan ion hydrogen bebas dalam suatu system. Kisaran pH ditetapka mulai dari 1 hingga 14, namun pH yang sesuai untuk pertumbuhan makluk hidup adalah antara 5.5 hingga 8.5. Khusus untuk Koi pH sekitar 7 8 adalah merupakan pH yang ideal. Jika pH lebih tinggi dari 8 maka bahaya racun ammoia akan semakin rentan terhadap Koi. Sementara penurunan pH terutama sebagai akbiat dari menumpuknya kotoran dan sampas serta sisa makanan di kolam tanpa terurai dengan baik. Jika pH melonjak di 9.0, lakukan pergantian air sekitar 10 20 ppt setiap hari sampai kembali normal ke level 7 8. Jika pH 10, lakukan penggantian air antara 20 40 ppt setiap hari hingga kembali kenormal level. 2. Dissolved Oxygen (DO) Masalah oksigen terlarut ini biasanya akan menjadi kendala pada saat musim panas atau suhu udara tinggi, yang berakibat pada meningkatnya temperature air dan pertumbuhan lumut. Dengan ukuran koi yang semakin besar, juga akan membutuhkan oksigen yang semakin banyak. Rendahnya tingkat oksigen terlarut dalam air akan membuat koi stress dan dapat membunuh koi yang berukuran besar. Temperatur air yang dingin sebaliknya akan lebih dapat mengikat udara dalam air sehingga meningkatkan tingkat oksigen terlarut. Tingkat oksigen terlarut yang ideal adalah 8ppm ( Air yang mengalami saturasi penuh adalah

14ppm). Level DO dibawah ini secara temporer tidak terlalu masalah sepanjang tingkat pH, ammonia dan nitrite masih aman. Namun tingkat DO yang secara berkesinambungan di bawah 8ppm akan dapat menyebabkan masalah serius pada Koi. Koi masih dapat bertahan hidup beberapa hari pada level DO 5ppm, namun jika turun ke level 3ppm akan menyebabkan Koi mengalami kekurangan oksigen atau hyporexia. 3. Karbondioksida (CO2) Karbondioksida (CO2) merupakan hasil buangan dari semua jasad pada proses pernapasan. Dalam jumlah tertentu, gas ini dapat meracuni ikan. Biasanya ikan yang mempunyai naluri kuat akan menghindari daerah atau habitat yang kadar karbondioksidanya tinggi. Hal ini dapat diperhatikan ari tingkah laku ikan yang seolah-olah ingin keluar dari habitat yang kadar karbondioksidanya tinggi. Kadar karbondioksida ini pun mempengaruhi pH air menjadi asam. kandungan karbon dioksida (CO2) maksimal 10 pp pada ikan koi. 4. Nitrat (NO3) Nitrat adalah merupakan hasil akhir dari proses nitrifikasi dalam siklus nitrogen. Tidak terlalu berbahaya bagi Koi dibanding dengan nitrite dan ammonium. Nitrate ini adalam meupakan pupuk dan makanan bagi pertumbuhan algae (lumut). Tingginya pertumbuhan lumut dalam kolam adalah sebagai indikator tingginya tingkat nitrat dalam air. Pergantian air secara regular sekitar 10 ppm setiap minggu dapat mengurangi kadar nitrate dalam air. Kisaran yang ideal untuk nitrat adalah 20-60 ppm. Jika nitrate melebihi 60ppm, maka disarankan untuk penambahan/pergantian sebagian air. Nitrat diatas 120ppm dapat berbahaya bagi Koi, mempengaruhi pertumbuhan Koi serta memperlambat penyembuhan penyakit luka pada Koi. 5. Nitrit (NO2) Nitrit tidak sebahaya ammonia, namun tetap berbahaya untuk Koi karena mempengaruhi kinerja darah Koi untuk mengikat oksigen. Kisaran yang baik untuk koi adalah 0, maksimum 0.25ppm. Nitrit dihasilkan dari penguraian ammonia oleh nitrobacter. Dengan demikian untuk mengurangi tingkat nitrit disarankan untuk pemberian nitrobacter secara berkala selain pergantian air secara regular. Bahaya racun dari nitrit ini secara temporer dapat di atasi dengan pemberian garam dengan konentrasi 0.1%. Jika bakteri nitrobakter tidak dapat hidup di kolam, maka yang akan terjadi

adalah ledakan nitrit. Ledakan nitrit ini akan menyebakan kerusakan pada system saraf koi, pencernaan dan liver. Jika nitrit dalam kolam atau wadah akuarium cenderung tinggi dalam waktu yang lama, akan dapat ditandai dengan kondisi insang ikan yang tidak dapat menutup sempurna, cenderung membuka dan tidak sempurna menutup. 6. Amonia (NH3) Level ammonia yang ideal untuk Koi adalah 0, maksimum 0.25ppm. Ammonia dihasilkan dari pembusukan sisa sisa pakan dan kotoran Koi. Tingginya tingkat ammonia akan menyebabkan memar pada sirip dan kulit Koi, kondisi kesehatan menurun, produksi lendir yang berlebihan, flashing hingga penyakit pinecone. Ammonia akan sangat berbahaya jika pH air di atas 8. Ammonia dalam ecosystem akan dapat diurai oleh bakteri yang menguntungkan yang disebut sebagai nitrososmonas. Tingkat ammonia ini dapat dikurangi dengan penambahan air baru secara regular dan juga pemberian batu Zeolit di chamber filter kimia. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa dilarang untuk untuk memberikan treatment garam ikan di kolam yang diisi zeolit, dengan pemberian garam maka ammonia yang diikat oleh zeolit akan dilepaskan kembali kedalam system. c. Parameter Biologi Indikator kualitas air yang mulai banyak dikembangkan sekarang ini adalah indikator secara biologi, yaitu pengamatan terhadap organisme yang hidup dalam suatu perairan (Basmi, 2000). Selanjutnya dikatakan bahwa indikator ini sangat penting karena parameter fisika dan kimia air mempengaruhi keberadaan organisme yang hidup di perairan tersebut. Indikator biologi yang sekarang digunakan antara lain organisme macrobenthic dan plankton. Namun demikian, penggunaan biota tersebut sebagai indikator kualitas air mempunyai beberapa kelemahan. Organisme makrobenthic hanya hidup pada substrat tertentu sedangkan plankton hanya hidup di kolom air (Reynolds, 1990). Indeks keragamanan makrobenthic dan plankton hanya mencerminkan perubahan struktur komunitas pada saat mengalami gangguan (stress period) dan tidak dapat membedakan antara ekosistem yang terganggu dengan ekosistem yang sehat. 3. Pengelolaan pakan

Koi adalah bottom feeder (pemakan di dasar) dan omnivora (pemakan segala). Meski demikian ia biasa makan apa saja yang bisa dimakan, seperti pucuk daun, atau berburu cacing di dasar sungai. Maka inilah guna dari sungut yang ada pada mulut ikan. Pakan buatan untuk pembesaran koi dapat diberikan dalam bentuk butiran (pellet). Sumber protein utama adalah formulasi kombinasi antara bahan nabati (misalnya tepung kedelai, tepung jagung, tepung gandum, tepung daun, dll) dan bahan hewani (seperti; tepung ikan, tepung kepala udang, tepung cumi,kekerangan dll) serta multivitamin dan mineral seperti Ca, Mg, Zn, Fe, Co sebagai pelengkap pakan. Kualitas pakan sangat menentukan tampilan warna sebagai daya tarik ikan koi sendiri, sehingga banyak upaya telah dilakukan dengan menggunakan bahan pakan yang mengandung zat pigmen seperti karotin (warna jingga), rutin (kuning) dan astasantin (merah). Zat-zat tersebut terkandung pada tubuh hewan dan tumbuhan tertentu seperti wortel mengandung zat karotin; sedangkan ganggang, chlorella, kubis, cabai hijau mengandung rutin; spirulina, kepiting, udang mengandung astasantin. Para pembudidaya saat ini tidak perlu lagi menyiapkan pakan sendiri karena sudah tersedia di pasaran pakan koi yang sudah di formulasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan zat untuk pembentukan warna ikan koi. Pakan alami atau pakan hidup misalnya cacing darah, cacing tanah, daphnia, cacing tubifex cocok diberikan pada benih koi (hingga bobot 50 g/ekor) karena lebih mudah dicerna oleh benih sesuai dengan kondisi sistem pencernaan, selain itu koi juga dapat memakan phitoplankton dalam kolam. Jumlah pakan diberikan berdasarkan jumlah ikan (bobot biomassa) dalam kolam dengan kisaran kebutuhan 3-5 % per-hari, dengan frekuensi pemberian 2-3 kali per-hari hal ini juga disesuaikan dengan kondisi ikan dan media air pemeliharaannya. Menurut pengalaman dan penelitian bertahun tahun, ditemukanlan bahan bahan aktif yang dapat ditambahkan untuk membuat warna koi lebih cemerlang. Koi yang dipelihara di kolam Lumpur ternyata memiliki kualitas warna yang lebih cemerlang dibandingkan dengan yang dipelihara di kolam tembok. Ternyata ikan loi tersebut banyak menyantap ganggang yang memang tumbuh di Lumpur. Ganggang yang dimakan koi mengandung banyak zat karoten. Maka kalau anda ingin menambah warna ikan lebih cemerlang beri makan krill, paprika, dan daun marigold, semuanya dapat anda campurkan dalam makanannya. Banyak makanan sumber karoten ini sudah dalam bentuk extract sehingga mudah dicampurkan dengan pellet atau roti

4. Hama dan penyakit Penampilan Koi yang cantik dan menawan haruslah didukung juga dengan kesehatan Koi itu sendiri. Koi yang sehat akan terlihat bersih dan cerah, serta bergerak aktif sehingga dapat menambah keindahannya. Faktor-faktor yang dapat memicu terjangkitnya penyakit pada koi antara lain, pemeliharaan yang kurang baik, kualitas air yang buruk, perubahan temperatur yang drastis, faktor lingkungan, dan faktor-faktor lainnya.Berikut adalah beberapa jenis hama dan penyakit yang dapat menyerang koi.

Fishlice / Kutu Ikan Kutu seperti Argulus dan Ergasilus yang biasa menyerang ikan dapat juga menempel pada kulit koi. Kutu ikan tersebut dapat menimbulkan bintik-bintik merah pada kulit dan dapat pula mengakibatkan terjadinya infeksi pada koi. Untuk mengobati koi yang terkena kutu ikan, dapat dilakukan dengan memberi Demilin ( dosis 1gr/ton air) ataupun dengan menggunakan Masoten (dosis 0,3-0,5gr/ton air). Selain itu, dapat juga dilakukan pencelupan larutan Kalium Permanganat (PK) dengan dosis 10-20mg/liter air selama 30 menit.

Anchor Worm / Kutu Jarum Kutu jarum yang menyerang tubuh koi akan menghisap darah dan cairan tubuh koi. Panjang kutu jarum sekitar 5-10cm dan mudah dilihat terutama pada suhu air diatas 15C. Koi yang terserang kutu jarum biasanya sering meloncat ke permukaan air atau menggesekkan tubuhnya ke dinding atau dasar kolam. Pengobatan biasanya dilakukan dengan mencabut kutu jarum dari tubuh koi menggunakan pinset, dan luka bekas kutu yang dicabut diolesi dengan yodium tincture. Untuk membunuh larva kutu, taburkan Masoten dengan dosis 0,3-0,5gr/ton air ke dalam kolam. yang dilakukan sekitar 2-3 kali selama 2 minggu.

Fin Rot Disebabkan oleh bakteri flexibacter collumnaris dan dapat menyebabkan kematian koi. Pada koi yang terinfeksi, sirip ekor dan ujung-ujung sisiknya rusak. kadang dapt juga terjadi pendarahan di sirip. Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat yang mengandung Nifurpirinol, Nitrofurazone, Phenoxyetanol, Chloramine, dan Benzalkonium klorida.

White Spot Disease Penyakit white spot yang disebabkan Ichthyopthyrius multifilis dapat juga menyerang koi. Gejala yang timbul berupa bintik-bintik kecil warna putih berukuran sekitar 1mm di bagian sirip sampai insang. Koi yang terinfeksi akan sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding kolam karena rasa gatal. Lama kelamaan akan menyebabkan kematian ikan yang terinfeksi. Pengobatan bisa dilakukan dengan memberi garam sekitar 5kg/ton air selama 6 hari. Suhu air di atas 25C juga dapat menolong pemberantasan penyakit ini.

Koi Herpes Virus / KHV Koi yang terserang KHV akan terlihat lesu dan muncul bintik putih di insang. Lamakelamaan, kulit dan ekor akan terlihat memerah. KHV dapat menyebar dengan cepat antar koi dan hingga saat ini belum ada metode pengobatan yang efektif. Sebagai tindakan pencegahan, dapat dilakukan dengan menjaga linkungan kolam agar tetap bersih dan sehat.

Aeromonas Gejala yang muncul pada koi yang terinfeksi adalah sisik yang terlihat membengkak dan sering terangkat. Jenis penyait ini tidak fatal dan dapat disembuhkan. Pengobatan dilakukan dengan melakukan karantina dan merendam koi dengan antibakteri Biotac dosis 10ml/1000 liter air.

Parasit Lernaea Parasit lernaea atau cacing jangkar dapat menyerang seluruh bagian tubuh, bahkan sampai pada insang koi. Lernaea menyerap cairan dalam tubuh koi sehingga koi melemah. Pada kondisi yang sudah parah koi bisa mengalami kematian. Parasit lernaea gampang berkembang biak, sehingga jika seekor koi terserang lernaea dan tidak segera ditanggulangi maka akan menyebar ke koi-koi lainnya. Serangan parasit lernaea jumlah sedikit pada seekor koi bisa dicabut dan bekas gigitannya yang berdarah diolesi dengan obat merah. Jika serangan sudah menyebar, maka dapat diobati menggunakan larutan formalin berkonsentrasi 25 ppm selama 10 menit dengan pengulangan 2-3 kali setiap 2 hari sekali dengan cara pemandian.

Jamur Jamur sering menyerang koi terutama pada kondisi kolam yang kotor. Koi yang sakit karena

parasit lain seperti kutu ikan juga beresiko ditumbuhi jamur. Jamur umumnya kelihatan seperti lapisan kapas yang tipis. Jamur akan menyerap cairan tubuh ikan sehingga koi akan semakin kurus dan akhirnya dapat menyebabkan kematian. Pada kondisi yang lemah tidak jarang koi juga terserang parasit / penyakit lainnya. Penganggulangan jamur bisa dilakukan dengan larutan NaCl (garam dapur) dengan konsentrasi 1,5-2,5% dengan pencelupan. Buang bulu-bulu halus jamur dengan mengolesnya memakai kapas yang diberi obat merah. Langkah berikutnya adalah memandikan ikan yang sakit dengan larutan mona-furacin.

Mata Berkabut (Cloudy Eye) Penyakit mata berkabut ditandai dengan memutihnya selaput mata ikan. Permukaan luar mata tampak dilapisi oleh lapisan tipis berwarna putih. Penyebab umum penyakit ini adalah kualitas air yang buruk, terutama air yang memiliki kadar amonia tinggi. Beberapa hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya mata berkabut antara lain, infeksi sekunder, produksi lendir berlebihan akibat reaksi terhadap serangan protozoa parasit, nilai pH air yang tidak sesuai, keracunan (klor/kloramin), pemberian obat-obatan yang tidak sesuai, atau kekurangan vitamin (khususnya vitamin A, B, dan C). Gejala mata berkabut kadang juga disertai dengan exophtalmia (pop eye/mata menonjol), malaise, atau iritasi.

Penyakit gelembung renang Penyebab penyakit gelembung renang terjadi karena pembengkakan usus yang menekan gelembung renang. Pembengkakan usus biasa terjadi karena salah makan, misalnya pemberian makanan yang mudah mengembang seperti roti. Bisa juga disebabkan usus yang tidak mampu mencerna makanan.Semua ini menyebabkan penimbunan lemak yang mampu merusak fungsi gelembung renang dan koi bertingkah aneh. Selama ini belum ada obat yang bisa menolong koi dari penyakit gelembung renang. Satu-satunya jalan adalah dengan menghindari makanan yang mudah mengembang dan banyak mengandung lemak. Juga hindarkan agar koi tidak mengalami pergoncangan suhu yang drastis. 5. Panen Berdasarkan Warna

Hasil Seleksi Ukuran, pada umur 90 hari mulai dapat dimasukan ke tahap Seleksi Warna. Disini terbagi menjadi 2 kelas yaitu :

Warna pekat menjadi pilihan seleksi yang nantinya setelah 45 hari lagi akan masuk ke Seleksi Pola

Sedangkan warna tidak pekat menjadi klas Kropyok. Biasanya kelas Kropyok ini yang dibuang / dikonsumsi oleh para petani ikan koi di Blitar.

Berdasarkan Ukuran - Pada umur 45 hari seleksinya adalah seleksi ukuran. Disini masuk 2 ukuran : yang besar / bongsor dicampur yang besar / bongsor dan yang kecil dicampur dengan yang kecil. - Yang besar bisa masuk Seleksi Warna (setelah 45 hari lagi). Sedang yang kecil mengulang masuk Seleksi Ukuran selanjutnya setelah 45 hari lagi atau dibuang.

Berdasarkan Pola

Hasil dari Seleksi Warna, dapat dilakukan Seleksi Pola pada umur 120 hari. Disini masuk 3 kategori kelas : Pola bagus masuk klas Super Kwalitas Show. Pola kurang bagus, ada cacat pola masuk klas Super. Pola tidak bagus masuk klas Super Pasar.

DAFTAR PUSTAKA

Budi, Pramono. 2012. www.google/permasalah pada budidaya ikan koi.com. Diakses pada tanggal 25 Desember 2013 pukul 19.05 WITA

Fernando. 2011.

http://budidayanews.blogspot.com/2011/02/cara-budidaya-ikan-koi.html.

Diakses pada tanggal 25 Desember 2013 pukul 17.00 WITA

Fishstock. 2013. http://ikanpeliharaan-ku.blogspot.com/2012/02/ikan-mas-koi.html. Diakses padatanggal 24 Desember 2013 pukul 14.00 WITA

Huseini.Martani. Penyakit Pada Ikan Koi. Jakarta. 2007

TUGAS INDIVIDU KULTUR IKAN HIAS

TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN MAS KOI

NAMA : YUNI MAHARANI NIM : L221 12 269

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN JURUSAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013