Anda di halaman 1dari 12

Makalah DASAR DASAR MANAJEMEN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP

OLEH KELOMPOK 7; HAFDALIA (L22112007) UMI KALSUM (L22112251) DEBY SALFIA MALIA NURUL FADILAH ASIZ RAHMA A. MADDANUANG

DASAR DASAR MANAJEMEN A FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bumi pertiwi Indonesia telah dikenal sebagai negeri yang berlimpah ruah dengan berbagai ragam sumberdaya alam dan budayanya. Kekayaan alam dan budaya yang kaya tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan mengapa bangsa Indonesia tidak bisa bangkit menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya yang nota bene memiliki sumberdaya alam yang minim. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia begitu lemah dalam mengurus rumah tangganya sendiri . Istilah "salah urus" menjadi begitu akrab didengar seiring dengan kegagalan prestasi yang dialami oleh perusahaan swasta maupun lembaga pemerintahan. Istilah manajemen berasal kata Perancis "management" yang mempengaruhi

perkembangan kata Inggris "management" yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Karena itu, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni atau praktik tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Mengapa manajemen begitu penting? Pentingnya manajemen dapat dilihat dari manajemen sebagai sistem sosial yang menunjukkan bahwa manajemen bersifat universal yang terdapat pada semua tipe perusahaan baik laba dan nirlaba ataupun organisasi kecil dan besar (Drucker, 1999). Manajemen dibutuhkan pada semua jenis usaha baik manufaktur maupun jasa. Permasalahan seperti keterlambatan, antrian panjang, kualitas buruk, dan pemborosan dapat dikaitkan dengan salah urus karena manajemen yang buruk. Organisasi yang merancang dan menerapkan manajemen yang teratur biasanya dapat berkembang dengan baik yang ditandai dengan meningkatnya pelanggan dan bertumbuhnya laba. Apakah disiplin manajemen itu? Disiplin manajemen dapat didefinisikan sebagai kegiatan penelitian (teori) dan pengalaman (praktik) tentang desain dan implementasi
2

pengetahuan manajerial. Masalah disiplin manajemen berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam sistem sosial untuk mengatasi berbagai masalah yang belum tentu tampak di permukaan. Ranah disiplin manajemen berangkat dari konsepsi bahwa organisasi terdiri dari sekumpulan manusia dengan hubungan yang bersifat sosial. Ranah disiplin manajemen terdiri dari fokus, proses, fungsi, dan tujuan. Fokus manajemen adalah sekumpulan manusia mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan dengan menggunakan

sumberdaya untuk mencapai tujuan organisasi. Proses manajerial terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Proses manajerial berlangsung pada semua fungsi manajemen yang meliputi sumberdaya manusia dan organisasi, operasi dan rantai pasokan, pemasaran dan penjualan, dan keuangan dan akuntansi. Demikian pula kehadiran manajemen terjadi pada kegiatan antar fungsi yang mendukung kegiatan strategi antara lain informasi dan pengetahuan, keputusan, negosiasi, dan teknologi. Sementara itu, pembaharuan antar fungsi dapat dilakukan melalui kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan dan inovasi. Konsep manajemen mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan peradaban. Manajemen Jepang muncul pada tahun 1980-an dengan penerapan sistem pengendalian mutu yang melibatkan manusia. Pengaruh era informasi membuat kemunculan perspektif kognitif pada tahun 1990-2010-an dengan penekanan pada pemahaman cara manusia berpikir, manajemen pengetahuan, pengenalan kesalahan dalam pengolahan informasi, dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan. Perkembangan disiplin manajemen menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara kemajuan inovasi suatu bangsa dengan penguasaan kemampuan manajemen. Douglas North (1990), peraih Nobel Ekonomi tahun 1993, menemukan bahwa aturan-aturan yang diistilahkan institusi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kinerja pembangunan. Pembangunan tidak dapat dipisahkan dari sistem politik dan wawasan dunia yang tercermin dalam sistem moralbudaya yaitu aturan permainan di dalam sebuah masyarakat. Bila tidak ada sistem moral yang bertanggung jawab, maka inovasi tidak akan berkembang karena sistem ekonomi digantikan oleh kegiatan pemerasan yang menimbulkan hasil yang merusak, seperti perdagangan yang tidak sehat, penuh dengan korupsi dan manipulasi, dan tidak perprinsip.

Kemajuan terjadi dalam lingkungan yang mendukung berlangsungnya inovasi dalam lembaga baik bisnis, nirlaba, dan pemerintahan. Kemajuan bukanlah disebabkan oleh inovasi itu sendiri tetapi bagaimana wawasan dunia mempengaruhi kegiatan inovasi. Wawasan dunia yang dogmatis dapat menghambat kegiatan inovasi bahkan menolak hasil-hasil inovasi. Inovasi berkembang dalam suatu sistem moral yang membuat orang bertanggung-jawab dalam mengembangkan nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan tertentu. Kegagalan manajemen atau salah urus di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh ketidakberdayaan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan manajemen di Indonesia untuk berpihak pada kepentingan orang banyak dan bukan untuk segelintir orang. Praktik manajemen yang tidak sehat dibiarkan terus-menerus berlanjut karena proses penelitian hanya dipandang sebagai kegiatan yang objektif bebas nilai, padahal praktik manajemen berakar pada wawasan dunia atau pola pikir yang mendasarinya. Tanpa adanya penelitian yang terarah pada distorsi pola pikir, bahasa, dan kekuasaan yang menghambat kegiatan manajemen, maka akan sulit melihat berkembangnya kemampuan manajemen bangsa Indonesia. Selain minimnya penelitian yang bersifat interpretatif dan kritis dalam konteks budaya Indonesia, pendidikan manajemen juga lemah dalam menjawab persoalan nyata di depan mata, yakni pengangguran, kebangkrutan, korupsi, dan kesenjangan. Persoalan yang besar tentunya memerlukan suatu konsolidasi antar perguruan tinggi. Anehnya tidak ada konsorsium antar perguruan tinggi yang mengkaji kompetensi kewirausahaan, daya saing perusahaan, dan penciptaan lapangan kerja. Hal ini terjadi karena belum ada tanggung jawab terhadap kemandirian dalam meningkatkan kompetensi lulusan sarjana manajemen, bahkan urusan kualitas pendidikan diserahkan kepada Pemerintah . Boleh dikatakan bahwa pendidikan manajemen Indonesia alpa untuk meningkatkan perannya dalam mengatasi persoalan ekonomi dan sosial yang sedang mendera bangsa Indonesia. Disiplin manajemen masih relevan dengan kehidupan manusia yang bekerja dan berhubungan dengan lembaga atau organisasi. Tetapi persoalannya bukan pada keilmuan manajemen itu sendiri tetapi pada kesiapan dan kemauan para pelaku untuk mengikuti syarat manajemen yang menunjut keterbukaan, moralitas, dan kegigihan. Kiranya para pakar manajemen di Kota Bandung mau meneliti dan mengajarkan bahwa realitas dari berbagai
4

hambatan yang terjadi seringkali berakar pada wawasan dunia yang keliru bukan pada instrumen manajemennya. Bidang keahlian Manajemen Industri adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk penciptaan dan peningkatan nilai sistem usaha melalui fungsi dan proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Manajemen Industri antara lain adalah Manajemen Keuangan , Manajemen Kualitas , Manajemen Inovasi , Manajemen Sumber Daya Manusia , Manajemen Pemasaran , Manajemen Keputusan dan Ekonomi Teknik . Sistem Industri dan Tekno Ekonomi Bidang keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan daya saing sistem integral yang terdiri atas tenaga kerja , bahan baku , energi , informasi , teknologi , dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah. Bidang keilmuan yang dipelajari di dalam Sistem Industri dan Tekno Ekonomi antara lain adalah Statistika Industri , Sistem Logistik , Logika Pemrograman , Operational Research , dan Sistem Basis Data Sejarah Teknik Industri Di dunia Wiki letter w.svg Bagian ini membutuhkan pengembangan Awal mula Teknik Industri dapat ditelusuri dari beberapa sumber berbeda. 1.2 Rumusan Masalah

Apa saja masalah yang dihadapi dalam manajemen perikanan tangkap ? 1.3 Tujuan Penulisan

Mengetahui masalah yang dihadapi dalam manajemen perikanan tangkap

BAB II PEMBAHASAN Kasus Agroindustri Perikanan Tangkap Masalah kelautan dan perikanan dari tahun ke tahun adalah sama, tetapi kenapa kompleksitas permasalahan tersebut tidak kunjung terselesaikan? Lebih dari itu, permasalahan yang terjadi di dunia kelautan-perikanan berhadapan dengan egosentris antardepartemen dalam mengurus kavling masing-masing. Selama ini peran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai lokomotif pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia belum optimal. Hal ini dicerminkan oleh lemahnya data perikanan Indonesia, kemiskinan masyarakat nelayan, lemahnya armada tangkap nasional, maraknya aksi illegal fishing (pencurian ikan) serta lemahnya penegakkan hukum, birokrasi yang berbelit-belit dalam pelayanan perizinan usaha perikanan, dan masih banyak lagi permasalahan kelautan dan perikanan lainnya yang belum terselesaikan. Oleh karena itu sangat wajar, bila masyarakat perikanan di seluruh Indonesia mengharapkan terjadinya perubahan yang signifikan di dunia kelautan dan perikanan. Namun tidak bermaksud merendahkan kemampuan Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru, penulis masih ragu hal ini dapat dituntaskan, karena permasalahan kelautan dan perikanan sangat kompleks dan klasik, sehingga penulis mengibaratkan permasalahan ini seperti "lagu lama, kopi baru". Artinya, masalah kelautan dan perikanan dari tahun ke tahun adalah sama, tetapi kenapa kompleksitas permasalahan tersebut tidak kunjung terselesaikan? Lebih dari itu, permasalahan yang terjadi di dunia kelautan-perikanan berhadapan dengan ego sentris antardepartemen dalam mengurus kavling masing-masing. Harapan tinggal harapan, karena kabinet telah terbentuk dan akan menjalankan tugasnya selama lebih kurang lima tahun. Yang harus kita lakukan sekarang ini adalah memantau
6

program-program kerja yang akan dilaksanakan, serta memberikan tanggapan atas efektivitas dan efisiensi keberhasilan program kerja tersebut. Akankah di bawah nahkoda yang baru, dunia kelautan dan perikanan Indonesia semakin terurus dan maju? Permasalahan Klasik Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa permasalahan kelautan dan perikanan Indonesia sangat kompleks. Lebih dari itu, permasalahan tersebut bersifat klasik yang diwariskan dari tahun ke tahun, sehingga ibarat dosa turun temurun. Adapun permasalahan klasik yang terjadi di dunia kelautan dan perikanan, di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama, lemahnya data perikanan, khususnya untuk data perikanan tangkap. Hingga saat ini, data perikanan tangkap Indonesia diperoleh dari pendaratan hasil tangkapan. Padahal tidak bisa dipungkiri bahwa tempat-tempat pendataan ikan (Tempat Pelelangan Ikan/TPI) di beberapa daerah hampir tidak ada atau keberadaannya tidak merata. Kalau pun ada, fungsi TPI tidak berperan sehingga mengakibatkan masyarakat nelayan terjebak permainan tengkulak. Dengan demikian, TPI yang juga berfungsi sebagai pencatat pendaratan ikan tidak berperan sebagaimana mestinya. Selain itu, pihak pengusaha yang mendaratkan ikannya juga kerap memberikan data yang tidak sebenarnya alias di bawah data hasil tangkapan yang diperoleh. Lemahnya data perikanan tersebut akan berdampak pada biasnya kebijakan yang akan dikeluarkan atau diputuskan. Misalnya saja, di suatu daerah tidak memiliki TPI (Tempat Pelelangan Ikan), sementara perizinan penangkapan ikan terus dikeluarkan. Akibatnya adalah over-fishing dan kemiskinan nelayan yang disertai konflik di wilayah laut tersebut, baik konflik kelas sosial, konflik fishing ground, maupun konflik identitas (primordial). Lebih dari itu, lemahnya data perikanan tangkap tersebut berdampak pada rawannya hubungan dagang internasional, karena akuntabilitas dan akuratibilitas data harus dilandasi oleh bukti ilmiah terbaik (the best scientific evidence) sebagaimana yang dituangkan Pasal 61 UNCLOS 1982. Ketentuan internasional lainnya yang mensyaratkan bukti ilmiah terbaik, di antaranya yaitu Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF 1995), dan International Plan of Action-Illegal Unreported Unregulated Fishing (IPOA-IUU 1999). Berdasarkan ketentuan perikanan internasional itu, lemahnya data perikanan dapat mengakibatkan kerawanan dalam perdagangan perikanan Indonesia di pasar internasional. Namun demikian, masalah lemahnya

data perikanan Indonesia mulai mendapatkan perhatian pemerintah pada Undang-undang Perikanan yang baru disahkan, yaitu pada Bab VI tentang Sistem Informasi Data Statistik Perikanan. Namun bagaimana nanti aplikasinya? kita lihat nanti. Kedua, kemiskinan masyarakat nelayan. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa masyarakat nelayan Indonesia hingga saat ini masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan (vicious circle). Panjang pantai 81.000 km beserta kekayaan sumberdaya alamnya, semestinya dapat mensejahterakan masyarakat pesisir, khususnya nelayan. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, semakin panjang pantai maka semakin banyak penduduk miskin di Indonesia. Hal ini dikarenakan, wilayah pesisir dan pantai Indonesia merupakan tempat atau kantung-kantung kemiskinan masyarakat nelayan. Secara teoritis, ada tiga hal yang menjadi penyebab utama kemiskinan nelayan, yaitu alamiah (kondisi lingkungan sumberdaya), kultural (budaya), dan struktural (keberpihakan pemerintah). Dari ketiga penyebab itu, masalah struktural merupakan faktor penting dan paling dominan, sehingga sangat diperlukan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kehidupan masyarakat nelayan, khususnya nelayan kecil (tradisional). Dengan demikian, kontinuitas keberpihakan pemerintah yang diejawantahkan dengan program-program pemberdayaan harus tetap digalakkan sesuai Bab IX Undang-undang Perikanan yang baru. Tentu saja, kebijakan yang ditujukan pada masyarakat nelayan harus disesuaikan dengan karakteristik masyarakat serta karakteristik sumberdaya (geografis)-nya. Ketiga, lemahnya armada perikanan tangkap nasional. Berbagai sumber menyebutkan bahwa dari 7.000 kapal ikan yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), sekitar 70 persen di antaranya merupakan milik asing. Selain itu, armada perikanan tangkap Indonesia sebagian besar memiliki produktivitas yang amat rendah yaitu hanya 8 ton/kapal/tahun. Penulis sangat sedih akan data itu, ini memunculkan pertanyaan apakah pemerintah tidak mempunyai kebijakan untuk menciptakan armada perikanan tangkap nasional sebagai tuan rumah di negerinya sendiri? Keempat, permasalahan illegal fishing (pencurian ikan) dan lemahnya penegakkan hukum yang telah menghilangkan potensi ekspor perikanan Indonesia sebesar 4 miliar dolar AS.

Selain merugikan negara, illegal fishing juga merugikan nelayan tradisional karena mereka menggunakan alat tangkap jenis trawl yang menyebabkan kerusakan lingkungan laut yang berujung pada penciptaan rendahnya pendapatan nelayan. Kelima, pelayanan perizinan usaha perikanan yang berbelit-belit dan syarat dengan pungutan liar. Sistem perizinan dinilai juga kurang efisien dan cenderung mempersulit. Dalam pembangunan perikanan masa depan, orientasi kerakyatan terutama di masa tuntutan reformasi harus menjadi tumpuan dalam mencapai target.Seperti yang diberitakan Majalah Samudera (Edisi 19, Oktober 2004) disebutkan bahwa total besaran biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk setiap pembuatan perizinan kapal asing agar bisa keluar cepat harus mengeluarkan uang berkisar Rp 40 juta sampai Rp 100 juta tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan, daerah tangkapan, dan jumlah kapal yang diurus. Dengan demikian, sudah dapat dipastikan miliaran rupiah uang siluman yang berkeliaran sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 46/Men/2001 tentang Pendaftaran Ulang Perizinan Usaha Penangkapan Ikan. Padahal, izin itu bisa diselesaikan dalam jangka waktu 16 hari tanpa biaya tambahan sesuai Pasal 9 Kepmenlutkan No 10 Tahun 2003 tentang Perizinan Usaha Penangkapan Ikan. Ke enam, Masalah Ekonomi dan Permodalan Untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan laut secara optimal dan lestari masih terdapat banyak kendala yang dihadapi, terutama menyangkut permodalan yang belum kondusif bagi investasi usaha penangkapan ikan di Kalimantan Barat. Untuk ke arah itu, maka kegiatan perikanan rakyat seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Pemberdayaan perikanan rakyat (nelayan) melalui dukungan kelembagaan dan permodalan merupakan solusi strategis untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Mengingat profil masyarakat nelayan pada umumnya masih berada pada tingkat dan posisi yang memprihatinkan, maka dipandang perlu adanya program-program kemitraan yang dapat secara langsung menyentuh pada kebutuhan yang diperlukan oleh nelayan.

Oleh karena koperasi sampai saat ini belum banyak memainkan peran, termasuk rendahnya kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan dana-dana program pemberdayaan, maka sistem kemitraan sangat diperlukan dari berbagai pihak dengan pola saling menguntungkan. Ke tujuh, Pola Kemitraan Salah satu pola kemitraan yang dapat dikembangkan adalah dengan sistim pola inti rakyat dimana pengusaha sebagai mitra pembina dan nelayan sebagai mitra binaan. Program kemitraan seperti ini, dipandang dapat dikembangkan terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana Selain itu pola tersebut dapat membantu modal kerja nelayan, pembinaan managemen usaha, pemasaran, adopsi teknnologi tepat guna dengan perjanjian kerjasama kemitraan yang memihak pada nelayan tanpa merugikan mitra pembina. Dalam mengembangkan program kemitraan seperti ini, pemerintah harus dapat menjadi fasilitator dengan memberikan perlindungan dan jaminan keberpihakan kepada kelompok nelayan melalui program kerjasama tersebut sehingga dapat berlangsung langgeng dan berkembang dengan baik. Masalah pemasaran juga merupakan bagian yang sangat penting bagi usaha penangkapan ikan, berkaitan dengan sifat ikan itu sendiri yang mudah mengalami proses pembusukan (perishable food). Untuk menjaga tingkat kesegaran ikan yang dihasilkan oleh nelayan agar sampai pada tingkat konsumen dengan kualitas mutu yang baik, maka prinsip-prinsip dasar penanganan ikan dengan mata rantai dingin (cold chain) mutlak diperlukan dengan dukungan prasarana yang memadai kepada nelayan. Tuan Rumah di Laut Sendiri, Ada satu prinsip yang harus dipegang dalam kebijakan perikanan dan kelautan saat ini dan yang akan datang bahwa "Bagaimanapun juga nelayan Indonesia harus mampu menjadi tuan rumah di lautnya sendiri".

10

Untuk mencapai hal tersebut, maka harus diupayakan mentransformasi para nelayan tradisional di Kalimantan Barat menjadi nelayan modern yang tangguh untuk memanfaatkan semua potensi sumberdaya ikan yang ada. Selain itu dapat memainkan peran ganda dalam membantu menjalankan fungsi pengawasan terhadap berbagai praktek ilegal yang dilakukan di laut, terutama oleh nelayannelayan kapal asing yang masih berseliwuran menangkap ikan di perairan Indonesia tanpa dapat dihentikan. Harapan-harapan tersebut memang tidaklah mudah tercapai dengan berbagai macam permasalahan mendasar yang masih tersimpan. Namun dengan keyakinan dan kekuatan yang digalang dari semua pihak, maka sumberdaya perikanan laut Indonesia khususnya di Kalimantan Barat dengan keanekaragaman (diversity) yang melimpah dengan jumlah stok yang sangat besar akan tetap memberi harapan dan peluang yang sangat terbuka lebar untuk mewujudkannya.

11

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Adapun permasalahan klasik yang terjadi di dunia kelautan dan perikanan Pertama, lemahnya data perikanan, khususnya untuk data perikanan tangkap Kedua, kemiskinan masyarakat nelayan Ketiga, lemahnya armada perikanan tangkap nasional Keempat, permasalahan illegal fishing (pencurian ikan) dan lemahnya penegakkan hukum yang telah menghilangkan potensi ekspor perikanan Indonesia Kelima, pelayanan perizinan usaha perikanan yang berbelit-belit dan syarat dengan pungutan liar. Ke enam, Masalah Ekonomi dan Permodalan Ke tujuh, Pola Kemitraan Salah satu pola kemitraan yang dapat dikembangkan adalah dengan sistim pola inti rakyat

12