Anda di halaman 1dari 12

KEKUASAAN DAN IN-KONSISTENSI PEMBERITAAN MEDIA TELEVISI KOMERSIAL S.

Arifianto Peneliti Komunikasi dan Budaya Media

Latar Belakang Informasi yang cepat dan mampu menjangkau khalayak telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Sementara media televisi merupakan salah satu diantara media massa yang memiliki jangkauan luas tersebut. Dewasa ini televisi, sebagai bagian dari komunikasi massa di asumsikan memegang posisi penting dalam masyarakat. Peranannya yang penting inilah membuat media televisi, berkembang pesat dalam 20 dasa warsa terakhir ini. Televisi hadir sebagai alat social, politik, budaya, bahkan sebagai sebuah industry informasi corporate. Sebagai industry, televisi menjanjikan keuntungan cukup besar bagi pemiliknya, bersaing secara kompetitif. Misalnya kwartal 3,tahun 2006 Goup Media Nusantara Citra (MNC) dapat meraup keuntungan Rp.4,8 triliun (32% dari total belanja iklan TV). Kemudian Trans TV, dan Trans 7 mampu mengumpulkan keuntungan sebesar Rp.3,4 triliun (23,2%). ANTV dan Lativi (ketika itu) memperoleh pendapatan, Rp.2,3 triliun (15%) dari total belanja iklan televisi (AGB Nielsen Media Research, 2006). Hal tersebut mengakibatkan industry televisi komersial tidak lagi berorientasi untuk memenuhi hak masyarakat agar terpenuhinya kebutuhan informasi dan hiburan,tetapi lebih dominan berorientasi pada keuntungan ekonomi kapitalis, kekuatan pasar secara kompetitif. Saat ini konstelasi industry media televisi komersial cenderung mengarah pada sistem oligopoly. Media televisi dikuasai para konglomerasi media (pemilik modal), yang sekaligus memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan content. Mereka bersaing secara ketat, melakukan penetrasi pasar media televisi,tanpa peduli dengan hak public untuk mendapatkan layanan informasi dan hiburan yang berkualitas. Konsentrasi kepemilikan media televisi komersial yang terjadi saat ini dikhawatirkan berdampak negative bukan hanya pada sistem tata kelola media

di Indonesia, tetapi juga pada konten yang di trasfoemasikan kepada masyarakat sebagai khalayak pemirsanya. Sementara regulasi Pemerintah, UU

No:32/2002/tentang penyiaran tidak mampu mencegah konsentrasi kepemilikan silang, maupun tata kelola media televise komersial pada umumnya. Konsentrasi kepemilikan media televisi ini bukan semata-mata fenomena bisnis, tetapi fenomena ekonomi politik yang melibatkan kekuasaan. Kini konglomerasi media memilki potensi kekuasaan yang absolute, melebihi kekuasaan Pemerintah. Mereka mampu membentuk opini public untuk menjungkir balikkan fakta dan peristiwa realitas di masyarakat. Contohnya, kasus Bank Century, kasus mafia pajak, kasus Antasari, kasus Bibit & Chandra, kasus Susno Duadji, kasus Nazarudin, kasus Gayus Tambunan, kasus mafia anggaran di DPR,kasus PNS muda ber-rekening gandut dll. Ekpose media televisi komersial terhadap peristiwa ekonomi, dan proses politik dalam kasus tersebut banyak dipertanyakan. Bahkan banyak pihak melihat jurnalisme televisi yang digunakan cenderung meninggalkan etika praduga tidak bersalah, maupun kode etik penyiaran. Hal tersebut akan terus berlanjut, sepanjang televisi komersial menganut ideology kapitalistik. Media televisi akan menjadi alat pencitraan bagi penguasa media,terlebih lagi ketika para pemilik media masuk ke dunia politik praktis maka media televisi bisa mereka jadikan sebagai alat propaganda yang paling ampuh. Realitasnya dalam dua dasa warsa suhu politik di tanah air konstelasinya sudah mulai menghangat, dan akan terus berkembang ke berbagai ranah yang lainnya. Nuansa kompetisi pemunculan para tokoh politik mulai tercermin di berbagai pemberitaan media televisi. Pertarungan wacana politik di berbagai media televisi belakangan ini merupakan fenomena bahwa arena pertarungan politik pencitraan politisi mulai bermunculandi media televisi. Pertanyaan yang muncul, bagaimana independensi jurnalisme media televise komersial. Apakah netralitas, dan keberpihakan media televisi komersial terhadap kepentingan

public masih terjamin? Apakah kebebasan yang mereka dapatkan selama ini untuk membela kepentingan public?. Ketika media televisi digunakan sebagai ajang pertarungan politik untuk meraih kekuasaan, lantas apa yang diharapkan

khalayak masyarakat?. Rangkaian pertanyaan tersebut menjadi permasalahan penting untuk dicarikan alternative jawabannya. Tulisan artikel ini bertujuan

untuk mendiskusikan dan menjelaskan relasi kekuasan, dengan realitas pemberitaan televisi. Konsep yang digunakan untuk menganalisis permasalahan ini adalah, teori ekonomi politik dan imparsialitas media. Sumber informasi diperoleh dari hasil studi literatur, dokumentasi, kliping media,dan pengamatan penulis sebagai peneliti komunikasi dan budaya media. Analisis difokuskan

pada kuasa kepemilikan media televisi komersial, dan relasinya terhadap netralitas pemberitaan, dengan unit analisis media televisi komersial.

KEKUASAAN MEDIA TELEVISI Perspektif untuk melihat bagaimana peran kekuasaan/pemilik media televisi, terhadap eksistensi perkembangan dunia pertelevisian dapat digunakan teori ekonomi politik. Teori ini berangkat dari pendekatan kritis yang muncul sebagai respon terhadap akselerasi kapitalisme. Teori ekonomi politik, secara umum sering digunakan untuk mendiskripsikan relasi antara sistem ekonomi, sistem politik, dan sistem komunikasi dalam struktur kapitalisme global (Deliarnov, 2005). Teori ekonomi politik lebih terfokus pada hubungan struktur ekonomi, dinamika industry media dan ideology media. Artinya media tidak lebih dari satu bagian cakupan dalam sistem ekonomi, yang juga di asumsikan dekat dengan sistem politik, dan kekuasaan. Teori ini menjelaskan bahwa pasar dan ideology memiliki pengaruh besar terhadap penentuan content media. Perbedaan content media antara satu dengan lainnya tergantung pada kekuasaan pemilik media (modal) pada industry media yang bersangkutan. Curran, dan Woollacott,(1982) dalam konteks ini menganggap bahwa media berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan dan menanamkan kesadaran palsu bagi masyarakat sebagai khalayak media. Media diyakini bukanlah sekedar sebagai medium lalulintas arus informasi, antara unsur social,dan budaya dalam masyarakat. Media telah berfungsi sebagai alat penundukan, dan pemaksaan consensus,oleh kelompok tertentu yang

bertendensi memiliki kepentingan ekonomi dan politik dominan. Pada ranah ini

pola kepemilikan dan produk-produk yang disampaikan media adalah perangkat ideologis yang melanggengkan dominasi kelas pemodal terhadap public, hanya untuk memuluskan lahirnya berbagai regulasi yang pro-kapitalis/pasar. Dalam konteks operasional media lebih dominan sebagai medium para pengiklan utama,yang secara signifikan mampu mendorong dan meningkatkan penjualan produk barang dan jasa, disamping memperkuat struktur ekonomi dan politik tertentu. Faktor kepemilikan media ini berimplikasi pada konsekuensi

berkembangnya isu-isu ekonomi politik, tentang homogenisasi ,agenda setting dan hegemoni budaya media. (a).Homogenisasi dapat diartikan sebagai penyeragaman bentuk

tayangan program televisi,(financial pressures ands other forces lead all media product to becom similar,standard and uniform). (b). Agenda setting, merupakan upaya-upaya media untuk membuat pemberitaan tidak hanya menjadi saluran isu dan peristiwa, melainkan terdapat strategi tertentu yang dimainkan media sehingga pemberitaan memiliki nilai publikasi lebih seperti yang diharapkan media yang bersangkutan. (c). Hegemoni budaya, merupakan pandangan bahwa telah terjadi dominasi kelas di masyarakat, atas dominasi kelas lainnya. Hegemoni budaya mengidentivikasi dan menjelaskan dominasi dan upaya mempertahankan kekuasaan, metode yang digunakan mereka yang berkuasa atas kelas-kelas subordinat untuk menerima dan mengadopsi perubahan nilai dalam kelas tersebut. Teori ekonomi politik ini menurut pengamatan penulis, akan semakin rumit jika dikaitkan dengan konteks globalisasi. Hal tersbut diasumsikan,di satu sisi para ekonom (peneliti ekonomi) telah berhasil mengkonstruksi suatu teori sistem dunia(world system theory). Tetapi pada sisi yang lain para ahli social politik melum mampu mengkonstruksi teori umum tentang system ekonomi politik global. Menurut, Deliarnov, (2005), kesulitan mengkonstruksi sistem ekomomi global bukan hanya terletak pada segi analistis, tetapi lebih disebkan beragamnya ideology dan budaya di berbagai Negara. Ideologi dan budaya masyarakat, sebagai khalayak berpengaruh terhadap warna dan corak media televisi.

Relasi Content dan Konteks Antara penciptaan, content, dan dampak dari teori ekonomi politik tersebut tidak hanya bertautan dengan masalah intelektual semata, tetapi juga dengan persoalan ideology dan keragaman budaya di masyarakat.Implikasi yang lebih urgen dijelaskan Staniland, 1985 seperti dikutip, Deliarnov (2005:13) dimana teori ekonomi politik mereka lihat dari dua sisi, yakni dari sisi content dan konteks.Di lihat dari sudut pandang content,terdapat beberapa macam teori ekonomi politik. Untuk mengidentivikasi ragam teori ekonomi politik tersebut dapat di ajukan berbagai pertanyaan sebagai berikut. Apakah teori tersebut memperlihatkan relasi yang bersifat sistematis antara peristiwa ekonomi dengan proses politik. Hubungan sistematis antara peristiwa ekonomi dengan proses politik dapat dilihat dari 3 (tiga) aspek. (1). Terdapatnya hubungan kausalitas antara peristiwa ekonomi dengan proses politik. Konsep tersebut lebih dikenal dengan model ekonomi politik deterministic. Model ini mengasumsikan bahwa pada hubungan deterministic antara ekonomi dan politik, dimana politik menentukan aspek ekonomi dan institusi ekonomi menentukan proses politik. (2).

Terdapatnya hubungan timbale balik antara peristiwa ekonomi, dengan proses politik. Model ini yang disebut ekonomi politik interaktif,yang menganggap fungsi fungsi politik dan ekonomi berbeda, tetapi saling mempengaruhi satu sama

lainnya. (3). Terdapatnya hubungan perilaku yang berlanjt, atau kontinyunitas antara ekonomi dan politik.

Dari beberapa jenis model teori ekonomi politik tersebut diatas, model mana yang bisa digunakan? Jawabnya sangat relative, tergantung dari situasi dan kondisi obyek yang akan dianalisis. Ketika kita menghendaki sebuah formulasi untuk segera dapat diaplikasikan dalam suatu tindakan, model deterministic lebih tepat. Model deterministic mampu memberikan gambaran yang lebih pasti mengenai permasalahan yang kita hadapi, disamping menunjukkan berbagai hal yang harus diubah (Deliarnov,2005:13). Teori

ekonomi politik mengekspresikan suatu upaya secara kontinyu, menjadikan suatu yang rumit, menjadi lebih sederhana sehingga dapat dipahami dan di terangkan dengan lebih baik. Terlepas dari itu semua yang paling urgen untuk dipahami apakah teori ekonomi politik dapat memperlihatkan hubungan yang sistematis antara peristiwa ekonomi dan proses politik atau tidak. Apakah teori ekonomi politik dapat menjelaskan secara empiris terhadap realitas peristiwa ekonomi dan proses politik, terkait dengan netralitas pemberitaan media televisi yang terjadi menjelang berlangsungnya pemilu 2014 di Indonesia. Bisa saja tekanan ekonomi yang terjadi memicu timbulnya konflik kepentingan secara internal pada industri media. Pada organisasi media setidaknya terdapat tiga komponen yang dapat memberikan tekanan ekonomi. (a) Pemilik modal yang menjadi nafas kehidupan organisasi media.

(b).Pengiklan, dan (c). Investor. Implikasinya content yang ditampilkan media televisi hanya yang bersifat ekonomi untuk mendongkrak rating, sehingga menarik pengiklan sebanyak mungkin. Pada sisi lain konflik kepentingan bisa saja muncul ketika akibat adanya persaingan yang sangat kompetitif dengan kompetitornya. Pada posisi tersebut media televisi komersial bisa terjebak pada dilemma, antara harus menghadirkan tayangan yang melayani kepentingan public,tetapi kemungkinan akan merugi, atau memilih jenis tayangan populer untuk meraih capital agar mampu bertahan hidup. Konflik kepertingan seperti itu dapat berpengaruh terhadap idependensi pemberitaan, apakah media televise yang bersangkutan tetap fairness dan justice dalam liputannya. Pada posisi tersebut media televisi dalam operasionalnya cenderung mangalami tekanan internal (pemilik modal), dan tekanan eksternal (kepentingan politik, ekonomi dan social). Akibatnya media televisi yang bersangkutan tidak akan bisa powerful, tetapi justru powerless. Tekanan seperti itu mengakibatkan pemberitaan media televisi menjadi tidak obyektif, karena terkontaminasi oleh berbagai tekanan dan kepentingan tertentu.Tekanan itu bisa datang dari dalam maupun dari luar. Tekanan dari dalam datang dari kebijakan pemilik modal, yang ambil bagian

untuk memberikan corak keredaksian. Sedangkan tekanan dari luar datang dari sistem perpolitikan, maupun regulasi dan kebijakan pemerintah.

REALITAS DAN IMPARSIALITAS BERITA Permasalahan paling actual yang sering menjadi topic diskusi di kalangan akademika, dan praktisi peneliti komunikasi dan media, diantaranya netralitas pemberitaan media televisi komersial ketika pemiliknya masuk kedalam politik praktis. Bagi televisi komersial yang berbasis ideology kapitalisme, yang dipersoalkan bukanlah bagaimana sebuah tayangan televisi itu bertabrakan dengan aspek moralitas, etika politik, pornografi dan lainnya, melainkan bagaimana ia dapat meningkatkan rating untuk mendukung perputaran capital (Pikiran Rakyat, 10/7/2003). Lepas dari persoalan itu masuknya para pemilik media ke dunia politik praktis menjadi sangat menarik. Meski secara formal mereka tidak menggunakan media televisi sebagai sarana kampanye politik mereka secara terbuka, tetapi secara sembunyi tidak bisa di pungkiri, jika awak televisi yang mereka miliki tidak kuasa menolak keinginan sang pemilik untuk memaksakan kehendak politiknya. Pengaruh kekuasaan pemilik (modal/media) terhadap netralitas berita sangat kentara. Implikasinya content media televisi komersial dalam group terentu cenderung bersifat homogin. Homoginitas content mengakibatkan penonton media televisi mengalami kesulitan untuk mencari referensi. Kesulitan mencari referensi karena informasi bersumber dari media televisi group yang dimiliki orang yang sama. Para pemilik media televisi komersial itu adalah orang yang dekat dengan kekuasaan. Mereka membangun group media dengan kepemilikan silang, untuk kepentingan, ekonomi, politik dan ideology tertentu.Dalam perspektif Marxian media berpotensi menyebarkan ideology dominan. Ideologi dominan inilah yang di asumsikan mempunyai potensi untuk menguatkan hegemoni kekuasaan para pemilik media televisi komersial.Dimana tekanan pemilik media tidak jauh dari kepentingan ekonomi, politik dan ideology tersebut. Tekanan dari aspek ekonomi untuk mengembalikan investasinya. Tekanan yang datang dari aspek politik dan ideology untuk membangun kelanggengan kekuasaan. Semankin kuatnya tekanan dari pemilik

media, semakin sulit politik keredaksian media televisi bersikap netral, untuk mempertahankan idepedensinya di hadapan khalayak pemirsanya. Kondisi tersebut hampir melanda televisi komersial di Indonesia.

In-konsistensi Berita Televisi In-konsistensi pemberitaan media televisi,bisa saja terjadi ketika terjadi tekanan dan intervensi baik secara internal maupun eksternal terhadap awak

redaksi.Sebagian besar awak redaksi mengalami kesulitan untuk tidak menjalankan ideology media atas tekanan pemiliknya, misalnya seperti contoh peristiwa berikut, ini :

Ketika kasus NCD (Negotiable of Deposit) fiktif yang dilakukan Harry Tanoesoedibyo selaku pemilik Group MNC yang diduga merugikan Negara tahun 2006, dan mencuat di permukaan menjadi opini public, dianggap terjadi inkonsistensi netralitas pemberitaan. Realitas yang terjadi ketika itu semua pemberitaan Group MNC (RCTI,TPI/MNC, Radio Trijaya, Trust) justru membelanya. Bahkan RCTI menggelar Dialog Khusus, bertajuk Kontroversi NCD Bodong pada tanggal,20/2/2006 berupaya untuk menetralisir dan melakukan pembelaan kepada pemilik media tersebut. Pada hal pihak redaktur pemberitaan ketika itu Arif Suditomo mengatakan,: sebenarnya penonton sudah tidak tertarik pada isu ini, namun saya tertantang untuk menampilkannya. Banyak prodoser yang tidak mau menampilkannya karena tayangan tersebut retingnya rendah. (Sumer ,:http://pravdakino.multiply. com/journal/item/27/ konglome rasi media-dalam-group-mnc-media nusantara-citra, diakses 26/5/2010)

Kasus yang dipertontonkan Metro TV ketika menyiarkan secara langsung dan berulang ulang tentang pendeklarasian Organisasi Sosial Nasional Demokrat, menjadi Partai Politik Nasional Demokrat (Nasdem) pada tanggal 26-27 Jula 2011 di Jakarta. Pada hal sebelumnya Surya Paloh selalu mengatakan bahwa Nasdem organisasi social, yang menuntut

perubahan bagi Bangsa Indonesia kedepan, dan tidak akan menjadi organisasi politik. Ucapan Surya Paloh itu, disiarkan langsung berulang ulang oleh Metro TV. Sedangkan pasca pendeklarasian Nasdem menjadi partai politik praktis pemberitaan Metro TV begitu antosiasnya

memberikan dukungan. Dalam konteks ini Metro TV telah melakukan pembohongan public, melalui jurnalistik penyiarannya, dan dapat dikatagorikan in-konsistensi terhadap dunia penyiaran di Indonesia.

Keberpihakan pemberitaan TV One, terhadap kepentingan ekonomi dan politik dalam kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Opini di media yang muncul ketika itu terbelah menjadi dua opsi, yakni, (a). karena kecelakaan teknis dan PT Minarak Lapindo Group Bakrie yang harus bertanggung jawab sepenuhnya, karena tim ahli dari ITS, UGM dan ITB memberikan rekomendasi bahwa telah terjadi kesalahan teknis dalam pengeboran gas tersebut. (b) Disebabkan karena bencana alam setelah terjadi deal antara Pemerintah dan Bakrie Group yang dikuatkan konsultan yang disewa dari luar negeri. Pada awalnya media televisi termasuk TV One begitu gencar mendukung obsi yang pertama. Tetapi setelah ada statemen dari pemilik TV One yang juga Group Lapindo, pemberitaan TV One berbalik 180 derajat. Bahkan pihak TV One jarang mengangkat kasus Lumpur Lapindo meski terjadi demo besar besaran di depan Istana Presiden. TV One ikutan menggunakan kata Lumpur Sidoarjo bukan Lumpur Lapindo seperti sebelumnya. Hal ini tampak jelas terdapat kepentingan penguasa (pemilik TV One) terhadap content media yang bertendensi peristiwa ekonomi dan proses politik. (Sumber: pengerankatak. blogspot.com diakses 3 Januari 2010)

Beberapa contoh yang dikemukakan diatas pernah diramalkan potorolog John Naisbitt, dalam Buku Megatrends terbitan 1982, bahwa siapa yang menguasai media ia akan menguasai dunia. Sudah banyak ahli ekonomi media mengingatkan, media akan berbahaya jika dikuasai kepentingan politik. Media

akan dijadikan sebagai alat untuk mencapai, dan mempertahankan kekuasaan. Sejatinya semangat UU No :32/2002/tentang penyiaran, melarang adanya oligopoly,dan media harus bersifat netral dalam pemberitaan (Ps,36,UU No:32/2000/tentang penyiaran). Relasi kepemilikan media dengan kekuasaan di tingkat elite menjadikan media rentan untuk di politisasi. Dalam konteks ini media selalu berada dalam situasi dan kondisi yang dilematis. Tidak jarang media gampang memihak dan sulit menjalankan mandat jurnalisme penyiaran yang sejatinya. Khususnya dalam penegakan, keberimbangan, netralitas dan

independensi. Meski independensi media cenderung lemah, tetapi pengaruh televisi semakin kuat, sehingga menggoda penguasa dan politisi untuk alat penggalangan massa, dan menarik simpati masyarakat. Terlebih lagi ketika penetrasi media televisi teresterial di Indonesia yang mencapai 92% (KPI, 2011). Artinya media televisi merupakan media massa yang paling berpengaruh di kalangan masyarakat pemirsanya.

PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI Di tengah perkembangan peradapan modern ini tidak seorangpun meragukan keunggulan media televisi, dibanding media massa lainnya. Media televisi bukan sekedar menjadi ikon,tetapi sebagai penanda atau symbol dari setiap kehidupan di masyarakat. Tidak sejengkalpun orang akan meninggalkan televisi, ketika ada peristiwa penting di masyarakat. Telavisi telah menjilma menjadi sarana yang murah dan cepat untuk mendapatkan akses hiburan dan informasi. Meski demikian dibalik hadirnya industry televisi, juga banyak menghadirkan berbagai permasalahan. Berbagai permasalahan itu muncul karena berkaitan dengan sajian content media televisi. Content yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan hegemoni tertentu, masih cenderung lebih dominan. Khususnya dunia periklanan dimana tujuan akhir siaran televisi komersial untuk mendulang pengiklan, melalui reting tertinggi pada program siarannya. Ketika media televisi komersial berideologi kapitalistik, sangat sulit mengharapkan televisi sebagai media edukasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana terdapat pada slogan awalnya. Habermas (1989) melihat media massa sesuangguhnya

merupakan public sphere yang harus dijaga dari berbagai pengaruh kepentingan tertentu. Media televisi seharusnya dapat digunakan sebagai penawaran berbagai gagasan, sebagaimana konsep pasar hanya ide yang baik yang dapat dijual dan dipasarkan kepada konsumen. Pada saat yang sama media televisi memproduksi ideology yang bersifat kohesif, yakni suatu perangkat nilai-nilai (commonsence) dan norma-norma yang memproduksi dominasi social tertentu untuk memapankan kekuasaan. Dunia pertelevisian merupakan sebuah arena pertarungan dalam memperebutkan makna antara pihak-pihak yang ingin berkuasa. Dalam pertarungan tersebut seharusnya media televisi lebih berpihak kepada massa, bukan penguasa atau pemilik modal. Media televisi, harus dapat mendorong khalayaknya untuk bersikap kritis. Keberpihakan kepada khalayak ini dilakukan untuk melawan dominasi hegemoni kekuasaan. Gramsci,(1971), lewat teorinya menyarankan kepada massa untuk membangun counter wacana tandingan (counter discourses). Counter ini dibangun untuk mengimbangi dominasi dan hegemoni yang dikonstruksi kaum kapitalis.

Hal ini menunjukkan adanya kepentingan penguasa (pemilik modal) terhadap content media televisi. Kepemilikan media televisi dapat mempengaruhi program tayangan karena terjadinya perubahan kebijakan, menyangkut nilai, tujuan dan budaya kerja. Pemilik media televisilah yang menentukan corak dan karakteristik media terhadap sumber informasi media televisi. Ketika sumber informasi dikuasai seorang penguasa yang memiliki kepentingan tertentu maka kebenaran yang ada pada media televisi ikut tersembunyikan. Implikasinya khalayak tidak lagi bisa mendapatkan haknya akan kebenaran informasi yang ada. Maka terjadilah distorsi informasi public, antara yang dikehendaki khalayak, dengan realitas yang diberitakan televisi. Kesenjangan informasi seperti itu berimplikasi, pada berbagai aspek lainnya. Aspek yang didominasi penyiaran televisi komersial saat ini, antara aspek ekonomi, dan politik. Kedua aspek inilah yang digunakan para pelaku konglomerasi media televisi untuk menancapkan kekuasaannya. Gagalnya siaran televisi berjaringan banayak disebabkan tarik ulur kepentingan ekonomi dan politik di kalangan pelaku usaha industry televisi

komersial di Indonesia. Sering kita lihat dalam berbagai diskusi bahwa media televisi dinobatkan sebagai pilar dan garda depan pembentukan demokratisasi. Semua Negara demokrasi, dapat dilihat dari seberapa besar kebebasan yang diberika kepada media massa. Dibentuknya televisi berjaringan salah satu diantaranya bertujuan untuk melaksanakan amanah demokrasi ekonomi bidang penyiaran di daerah. Tetapi ketika demokratisasi itu bersentuan dengan substansi potensi ekonomi televisi teristerial maka penolakan yang terjadi. Dalam konteks ini hegemoni kekuasaanlah yang dominan.

Daftar Pustaka Deliarnov,2005, Mencakup Berbagai teori dan Konsep Yang Konprehensip Ekonomi Politik Penerbit Erlangga, Jakarta

Habermas, J,1989. The Structural Transformation of the Public Sphere, Cambridge, MA.MIT,Press

Gramsci, 1971. Selection from the Prison Notebooks London Lawrance and Wishart