Anda di halaman 1dari 8

Penyusunan Model Spasial untuk Prediksi Lingkungan Sebaran Malaria

Faktor ketinggian tempat (altitude), kemiringan lereng (slope) dan penggunaan lahan (LandUsed) mempengaruhi tempat perindukan nyamuk. Sedangkan unsur cuaca mempengaruhi metabolisme, pertumbuhan, perkembangan dan populasi nyamuk Anopheles tersebut. Suhu 18C merupakan suhu yang paling rendah dibutuhkan larva nyamuk di daerah tropis sedangkan suhu !C selama " bulan berturut#turut dapat mematikan semua larva nyamuk. Curah hu$an dengan penyinaran yang relati% pan$ang turut mempengaruhi habitat perindukan nyamuk. &emahaman dan analisis data lingkungan dan unsur cuaca tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pola penyebaran vektor malaria dan menduga populasi vektor malaria. 'ombinasi kedua %aktor tersebut dapat digunakan dalam penyusunan rancangan model spasial untuk membantu memprediksi pola penyebaran malaria disuatu daerah. Overlay data lingkungan (altitide, slope dan LandUsed) digunakan untuk menduga (ona risiko malaria. Sedangkan prediksi $umlah kasus malaria dimodelkan menggunakan robust regresi &oisson dengan input suhu rata#rata minimum mingguan, suhu rata#rata maksimum mingguan serta $umlah curah hu$an rata# rata mingguan dengan PDL (Polynomial Distribution Lag) of weather di lokasi studi (Sukabumi). Arithmetic Overlay antara (ona risiko dan prediksi kasus malaria menun$ukkan (ona risiko lon$akan kasus malaria tiap bulan di 'abupaten Sukabumi. )ona risiko tinggi terkonsentrasi di daerah pantai. Sedangkan (ona tidak berisiko (non risk) terkonsentrasi di daerah pegunungan. )ona risiko malaria tersebut signi%ikan mempengaruhi $umlah kasus malaria di 'abupaten Sukabumi (r * +.,!-). &rediksi kasus malaria tiap bulan di 'abupaten Sukabumi menggunakan robust regresi &oisson dengan PDL of weather ! lag untuk suhu udara rata#rata dan - lag untuk curah hu$an. Sebaran prediksi kasus malaria tersebut signi%ikan (r . +.88/) menun$ukkan $umlah kasus tertinggi ter$adi di daerah pantai dan $umlah kasus terendah ter$adi di daerah pegunungan. Sebaran lon$akan kasus malaria tertinggi $uga ter$adi di daerah pantai dan terendah di daerah pegunungan. Sedangkan pola sebaran lon$akan mengikuti pola curah hu$an bulanan di 'abupaten Sukabumi. 0nteraksi antara data lingkungan dan unsur cuaca terhadap siklus perindukan dan metabolisme nyamuk merupakan %aktor utama dalam memprediksi $umlah kasus malaria. &eringatan dini dapat dilakukan 1#1,/ bulan sebelum ter$adinya lon$akan (ona kasus malaria tinggi (high risk) di 'abupaten Sukabumi. Sebaran Daerah Endemis Malaria di Kabupaten Sukabumi Daerah Sukabumi merupakan daerah endemis malaria ( www.depkes.go.id). Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan Kabupaten Sukabumi yang cocok untuk perindukan dan perkembangbiakan nyamuk Anopheles sp. Ada 4 jenis Anopheles yang hidup di daerah Sukabumi yaitu Anopheles sundaicus yang hidup di daerah laguna/tepi

pantai Anophel es aconicus yang hidup di daerah gunung Anophles maculatus yang hidup di sa!ah dan Anopheles barbirostisyang hidup di hutan. "ola penyebaran nyamuk Anopheles tidak merata di Kabupaten Sukabumi. Sebagian besar penyebaran nyamuk tersebut terkonsentrasi di daerah pesisir pantai dan persa!ahan seperti Desa Kertajaya Kecamatan Simpenan dan Desa #angkapjaya Kecamatan #engkong. Desa Kertajaya Kecamatan Simpenan merupakan daerah endemis malaria yang terletak di !ilayah pantai. Di desa tersebut banyak terdapat laguna di tepi pantai$ sebagai tempat perindukan

%ektor Anopheles Sundaicus. Sedangkan di Desa #angkapjaya Kecamatan #engkong terdapat banyak kubangan air di !ilayah egunungan sebagai tempat perindukan %ektor Anopheles Maculatus (www.depkes.go.id). Sebaran nyamuk Anopheles di Kabupaten Sukabumi ditunjukan pada &ambar '. #uasan penutupan lahan di ka!asan endemis malaria Kabupaten Sukabumi sebagian besar merupakan sungai (().'4*). Ka!asan ini menyebar di Kecamatan "elabuhan +atu. Kondisi tersebut menunjukkan bah!a tempat perindukan nyamuk Anopheles umumnya berpusat di kecamatan tersebut. Sa!ah merupakan luasan yang terkecil di ka!asan endemis malaria. "enyebaran sa!ah di Kabupaten Sukabumi sebagian besar berpusat di sebelah utara Kabupaten Sukabumi. #uasan penggunaan lahan di daerah endemis Kabupaten Sukabumi dapat dilihat secara terperinci pada ,abel '.

Interaksi Kasus Positif Malaria terhadap Lingkungan 1nalisis spasial dengan menggunakan model#model yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan bah2a kasus positi% malaria tiap desa terhadap luas pemukiman penduduk serta luas perindukan dan habitat nyamuk, didapat korelasi masingmasing sebesar !3,!4 dan 1/,,4, seperti ditun$ukan oleh 5ambar " (a). 6uasan pemukiman di daerah perindukan nyamuk signi%ikan menggambarkan hubungan kerapatan kasus positi% malaria tiap desa perindukan . 7al tersebut diduga tedapat $arak yang dekat antara tempat perindukan nyamuk dengan pemukiman penduduk. &enduduk yang tinggal di daerah perindukan nyamuk akan mudah terserang malaria. 'ontak langsung penduduk terhadap vektor nyamuk (di daerah perindukan) relati% sering ter$adi. 'ondisi tersebut dapat meningkatkan $umlah penderita malaria di desa perindukan nyamuk tersebut. &engaruh luas perindukan nyamuk tidak signi%ikan mempengaruhi kerapatan kasus positi% malaria di desa perindukan. 'ondisi ini menun$ukkan bah2a luas perindukan nyamuk tidak mampu memberikan hubungan linear terhadap kerapatan kasus positi% malaria tiap desa. 7al tersebut disebabkan oleh luas perindukan tanpa memperhatikan luas pemukiman penduduk8 sebagai host parasit malaria dan sumber darah vektor malaria, tidak memberikan hubungan yang nyata terhadap $umlah kasus ataupun kerapatan kasus malaria di desa tersebut. 9ela$ah ($arak terbang) nyamuk di 'abupaten Sukabumi mempengaruhi luas perindukan dan habitat nyamuk. 9ela$ah nyamuk mil memiliki luas perindukan dan habitat nyamuk paling besar dibandingkan dengan luas perindukan dan habitat dengan $ela$ah nyamuk 1 mil dan " mil. 6uas pemukiman pada $ela$ah nyamuk mil, $uga paling besar dibandingkan luas pemukiman pada $ela$ah 1 mil dan " mil. 'ondisi tersebut menyebabkan hubungan luas pemukiman terhadap kepadatan kasus tiap desa perindukan semakin kecil atau men$adi tidak signi%ikan dengan bertambahnya $ela$ah nyamuk. 'ontak langsung antara vektor malaria terhadap penduduk semakin berkurang atau $arang ter$adi. 'ondisi tersebut mengindikasikan adanya penurunkan $umlah penderita malaria di desa perindukan (berdasarkan karakteristik lingkungan).

&eningkatan luas pemukiman di desa perindukan $uga mengindikasi semakin tingginya %aktor sosial# ekonomi dan migrasi mempengaruhi penyebaran kasus positi% malaria. 'ondisi tersebut menyebabkan hubungan luas pemukiman terhadap kasus malaria di desa perindukan semakin tidak nyata (: " semakin kecil) pada penambahan $ela$ah;$arak terbang vektor malaria. Faktor sosial#ekonomi dan migrasi penduduk diduga memberikan pengaruh dominan terhadap penyebaran kasus positi% malaria setiap penambahan $ela$ah nyamuk. Zona Risiko Malaria Berdasarkan nsur Lingkungan Pola spasial malaria berperan untuk mengetahui penyebab insiden malaria di suatu wilayah berlangsung secara konsisten dalam kurun waktu tertentu. Peta risiko malaria yang dibuat secara tumpang susun di atas peta tata ruang dan penutupan lahan ( LandUsed) dan di atas peta topografi dan hidrologi akan memberikan informasi untuk mencermati keterkaitan malaria dengan variabel lingkungan. Keterkaitan antara pola penyebaran malaria dan variabel lingkungan dalam kurun waktu tertentu, mengindikasikan penyebaran kawasan endemis malaria. Penentuan zona risiko malaria juga berdasarkan pada pemahaman epidemiologi vektor malaria dan ekologi nyamuk Anopheles sp. ( ibowo, !""#). Ketinggian tempat (altitude), Kemiringan lereng (slope) dan penggunaan lahan (LandUsed) merupakan variabel lingkungan yang dominan mempengaruhi pola penyebaran perindukan dan habitat nyamuk. Ketiga variabel tersebut memberikan pengaruh yang berbeda$beda terhadap populasi nyamuk dan pola penyebaran perindukan nyamuk di Kabupaten %ukabumi. Kisaran parameter lingkungan tersebut dibatasi oleh batas atas dan batas bawah dari masing$ masing parameter lingkungan. dimana penutupan lahan (LandUsed& t'(), ketinggian (altitude& t'!), dan kemiringan lereng ( slope& t')). Parameter$parameter lingkungan tersebut dikombinasikan dengan menggunakan Boolean Operator pada sistem koordinat kartesius Penentuan kawasan endemis malaria membantu dalam penentuan zona risiko malaria. *al ini disebabkan oleh kesamaan variabel lingkungan sebagai input dalam menentukan kawasan endemis malaria maupun zona risiko malaria. Penularan malaria dominan dipengaruhi oleh altitude. *al tersebut berdasarkan pada peranan altitude mempengaruhi distribusi suhu udara& yang mempengaruhi proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan nyamuk ( ard, (++! dalam %aleh, !""!). %emakin rendah ketinggian suatu tempat mengindikasikan semakin tinggi suhu udara di tempat tersebut dan sebaliknya, semakin tinggi ketinggian suatu tempat mengindikasikan semakin rendah pula suhu udara. ,nterval suhu udara di dataran rendah (khususnya daerah pantai) di Kabupaten %ukabumi merupakan kisaran suhu udara optimum bagi metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Anopheles. %edangkan kisaran suhu udara di dataran tinggi (khususnya pegunungan) merupakan batas bawah untuk metabolisme dan perkembangbiakan nyamuk. -ata lingkungan (Slope dan LandUsed) mempengaruhi distribusi habitat dan tempat perindukan nyamuk. %awah, tambak dan laguna merupakan tempat perindukan nyamuk yang utama. Kondisi lahan tersebut memberikan tempat aman bagi nyamuk untuk bertelur sehingga dapat berkembang biak dengan baik. Kondisi kemiringan lereng (slope) turut mempengaruhi populasi vektor malaria. .ereng terjal memiliki aliran arus air yang besar& dapat mempengaruhi perkembangan telur. /liran air yang deras akan merusak telur nyamuk. *al ini menyebabkan jumlah populasi nyamuk di lahan sawah di perbukitan akan jauh lebih kecil dibandingkan populasi nyamuk di lahan sawah pada dataran rendah0 landai &engaruh altitude dalam penentuan (ona risiko malaria merupakan pengaruh dominan (3!4). 7al tersebut didukung oleh pemahaman pengaruh altitude terhadap distribusi suhu untuk metabolisme dan pertumbuhan serta perkembangan nyamuk. Sedangkan pengaruh kemiringan lereng dan penggunaan

lahan mempengaruhi $umlah populasi nyamuk. 'emiringan lereng ( slope) dapat mereduksi $umlah vektor malaria, sedangkan penggunaan lahan ( LandUsed), meningkatkan $umlah vektor nyamuk. 7ubungan penggunaan lahan dan kemiringan lereng terhadap $umlah populasi nyamuk Anopheles saling berkaitan. 7al ini mengindikasikan bah2a persentase pengaruh penggunaan lahan dan kemiringan lereng terhadap penentuan (ona risiko malaria hampir sama. &engaruh peta lingkungan dalam penentuan (ona risiko malaria di 'abupaten Sukabumi berbeda dengan daerah lain. 7al ini dipengaruhi oleh distribusi $enis nyamuk yang dominan pada masing#masing daerah, sehingga penentuan tempat perindukan dan habitat nyamuk pada masing#masing daerah akan berbeda pula. &engaruh variabel lingkungan terhadap penentuan (ona risiko malaria di masing#masing daerah akan lebih baik berdasarkan kegiatan surveilens (<ibo2o, "++/). &embobotan dari masing masing peta lingkungan yang di#overlay akan menghasilkan peta (ona risiko malaria sesuai kondisi lingkungannya, seperti ditun$ukan pada 5ambar . Overlay sebaran (ona risiko malaria terhadap sebaran kasus malaria di 'abupaten Sukabumi menun$ukkan sebagian besar kasus positi% malaria berpusat di (ona risiko malaria yang tinggi. 7ubungan (ona risiko malaria terhadap kerapatan kasus menun$ukkan hubungan linear yang positi% (, ,/4), seperti ditun$ukan pada 5ambar 3. 'ondisi ini menun$ukkan bah2a kombinasi peta lingkungan (altitude slope LandUsed) dapat mempengaruhi kerapatan kasus di daerah tersebut. ersebut.

Pemodelan Numerik Prediktor dan Kasus Malaria

&endugaan kasus malaria di 'abupaten Sukabumi didasarkan pada pemahaman siklus hidup malaria. :egresi &oisson dengan kemunduran 2aktu dari suhu maksimum rata rata mingguan, suhu minimum rata#rata mingguan dan $umlah curah hu$an mingguan, dapat membantu memprediksi $umlah kasus malaria yang

model dari regresi &oisson disesuaikan dengan kondisi cuaca di 'abupaten Sukabumi. Suhu minimum dan suhu maksimum rata#rata di 'abupaten Sukabumi di$adikan sebagai batas atas dan batas ba2ah & DL of weather, sehingga robust regresi &oisson untuk 'abupaten Sukabumi secara matematis dinyatakan dengan persamaan matematis.
ter$adi di 'abupaten Sukabumi. 0nterval lag

Sedangkan penentuan PDL of weather) sebagai input permodelan numerik kasus malaria ditentukan berdasarkan u$i coba tiap penambahan lag. &erbandingan model numerik prediktor kasus malaria berdasarkan
penambahan lag ditun$ukkan pada 5ambar /. &ola regresi &oisson pada 5ambar / (a, b, c dan d) menun$ukkan bah2a lag mingguan dari suhu udara maksimum dan minimum serta curah hu$an, secara signi%ikan mempengaruhi $umlah kasus malaria (korelasi . +,88/). Sedangkan koe%isien dari masing masing lag minggu pada suhu udara dan curah hu$an tidak signi%ikan. 'ondisi ini disebabkan oleh si%at multikolinearitas dari masing masing unsur yang saling mempengaruhi. Lag suhu udara maksimum dan minimum rata#rata minggu ke i secara signi%ikan mempengaruhi lag suhu udara maksimum dan minimum rata rata minggu ke i=1. 6ag curah hu$an minggu ke i $uga mempengaruhi lag curah hu$an minggu ke i=1. >ultikolinearitas $uga ter$adi antara unsur cuaca (suhu maksimum, suhu minimum dan curah hu$an). >asing#masing unsur saling mempengaruhi unsur lainnya. :eduksi multikolineritas diduga dapat meningkatkan keeratan model &oisson terhadap kasus malaria dan mengurangi keeratan antar unsur cuaca. 'ondisi ini menyebabkan model &oisson untuk memprediksi malaria hanya empirik berlaku untuk daerah sampel sa$a, tetapi tidak berlaku untuk daerah yang lain yang memiliki kimiripan unsur yang sama pada satuan 2ilayah tertentu. :eduksi model &oisson di 'ecamatan &elabuhan :atu (sebagai sampel model) menyebabkan pendugaan kasus malaria di 'ecamatan Simpenan tidak cocok digunakan. 'ondisi ini disebabkan oleh ?st (parameter dari tempat S pada minggu ke t ) di &elabuhan :atu diikutsertakan dalam model &oisson. &enggunaan reduksi maupun induksi ?st di suatu daerah $uga masih dipertimbangkan (@eklehaimanot et al!
"++3).

'emunduran suhu minimum dan suhu maksimum ! minggu sebelum ke$adian (lag ! @) dan - minggu pada urah hu$an (lag - C7) pada 5ambar /(c) di 'abupaten Sukabumi merupakan lag unsur cuaca yang signi%ikan (r*+.8,8) yang digunakan untuk model regresi &oisson. 6ag ! minggu untuk suhu udara rata rata dan lag - minggu untuk curah hu$an merupakan lag yang ideal untuk asumAs pendugaan umur nyamuk dari %ase telur hingga masa inkubasi di tubuh manusia. Suhu rata#rata tahunan di 'abupaten Sukabumi sebesar "3.3C menyebabkan 2aktu yang diperlukan nyamuk dari %ase telur ke %ase de2asa hingga masa inkubasi di tubuh manusia men$adi penyakit malaria di dalam tubuh manusia adalah ! minggu. &ada suhu tersebut, nyamuk memerlukan 2aktu 1# hari dari %ase telur ke larva, 1+#18 hari dari %ase larva men$adi de2asa, 8#! hari masa in%eksi &lasmodium sp. dan 1+#1! hari dalam tubuh manusia untuk inkubasi. Sebaran prediksi kasus malaria tiap bulan dengan regresi &oisson dengan &B6 o% 2eather di 'abupaten Sukabumi ditun$ukkan oleh 5ambar !.

&ola penyebaran prediksi kasus positi% malaria di 'abupaten Sukabumi mengikuti pola cosinusoidal. &rediksi kasus malaria tinggi pada bulan 9anuari hingga >aret kemudian mengalami penurunan pada bulan 1pril sampai September sedangkan pada bulan Cktober hingga Besember mengalami peningkatan. 'ondisi ini diduga akibat pengaruh pola annual dan curah hu$an di 'abupaten Sukabumi. Curah hu$an yang rendah ter$adi pada bulan >ei hingga 1gustus. 'ondisi ini mempengaruhi tempat perindukan vektor malaria. 6uasan perindukan vektor malaria men$adi semakin kecil. Sedangkan pada bulan Dovember hingga Februari, 'abupaten Sukabumi memiliki $umlah curah hu$an yang relati% lebih tinggi dibandingkan bulan yang lainnya. 7al ini menyebabkan semakin luas pula tempat perindukan vektor malaria. &engaruh pola annual suhu udara rata#rata terhadap prediksi kasus di 'abupaten Sukabumi relati% kecil. 'ondisi ini disebabkan oleh pengaruh suhu udara terhadap metabolisme dan transmisi &lasmodium sp. 'e tubuh manusia (@eklehaimanot et al., "++3). &erubahan suhu harian (maksimum maupun minimum) mempengaruhi $umlah in%eksi nyamuk terhadap &lasmodium sp. menu$u manusia. &erubahan suhu harian $uga mempengaruhi proporsi potensial transmisi &lasmodium sp. dari nyamuk terhadap manusia secara berkesinambungan; dinamik (Smith et al., "++3). Sebaran kasus prediksi di 'abupaten Sukabumi tahun "++3 sebagian besar terpusat di pantai bagian barat 'abupaten Sukabumi. 'ondisi ini disebabkan oleh suhu rata#rata ("-C) daerah tersebut merupakan suhu optimum ("/C#"-C) untuk metabolisme dan perkembangan nyamuk (Suko2ati, "++3). Baerah pantai $uga memiliki tempat perindukan nyamuk yang lebih luas dibandingkan dengan sungai di daerah pengunungan. 6agoon dan muara sungai di sekitar pantai men$adi tempat utama perindukan nyamuk. 'ondisi pengambilan data kasus malaria tiap puskesmas mempengaruhi keakuratan model prediksi malaria. Bari model tersebut, sebagian besar daerah bagian utara dan timur 'abupaten Sukabumi memiliki $umlah kisaran kasus prediksi antara +#1+ $umlah penderita malaria tiap desa di 2ilayah ker$a puskesmas (<'&). 7al ini disebabkan pengambilan data di daerah pantai secara 1CB (1ctive Case Betection) dan di daerah utara dan timur 'abupaten Sukabumi secara &CB (&assive Case Betection). 1CB lebih akurat dibandingkan &CB, karena pengambilan data berdasarkan survey langsung secara teratur di <'& dengan mengambil data kesediaan darah di masing#masing puskesmas (<ibo2o, "++/). Sebaran kasus prediksi malaria bulan 9anuari umumnya menyebar di (ona risiko tinggi. Integrasi Model Spasial Berdasarkan Unsur Lingkungan dan Unsur Cuaca 0ntegrasi model spasial bertu$uan untuk menghasilkan in%ormasi spasial kasus positi% malaria berdasarkan parameterEparameter lingkungan dan unsur cuaca di 'abupaten Sukabumi. 0ntegrasi model

spasial tersebut dapat dilihat dari algoritma identi%ikasi %actor lingkungan dan integrasi %aktor cuaca. Factor %aktor tersebut dikombinasikan dengan menggunakan Foolean Cperator pada sistem koordinat kartesius. 7asil integrasi tersebut menun$ukkan sebaran (ona risiko lon$akan kasus tiap bulan di 'abupaten Sukabumi (5ambar -.). Sebaran lon$akan kasus setiap bulan dengan konsentrasi terbesar ter$adi pada bulan 1pril hingga September. 'ondisi ini diduga akibat $umlah curah hu$an yang relati% rendah (musim kemarau) memperluas tempat perindukan malaria, seperti laguna. Suhu udara yang relati% tinggi, menyebabkan metabolisme meningkat cepat8 sehingga populasi nyamuk meningkat. &erubahan sebaran kasus tinggi luasan (ona risiko ter$adi pada bulan 1pril dan 1gustus. 7al ini disebabkan karena pengaruh lon$akan kasus ter$adi pada masa perahlian musim kemarau dan musim hu$an

&enyebaran (ona risiko tinggi terhadap lon$akan kasus (high risk) di 'abupaten Sukabumi terkonsentrasi di daerah pantai. 7al ini $uga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di daerah tersebut. Baerah tersebut memiliki kemiringan lereng (slope) yang landai (+#1+4). &enggunaan lahan $uga sebagian besar berupa sungai, lagoon maupun hutan (manggrove) sebagai tempat perindukan dan habitat nyamuk.

Kesimpulan 'lasi%ikasi penutupan lahan di 'abupaten Sukabumi berperan dalam penentuan tempat perindukan dan habitat nyamuk. &enyebaran kerapatan kasus di daerah habitat nyamuk berbanding lurus terhadap luasan pemukiman pada $ela$ah nyamuk 1 mil. Sedangkan hubungan kerapan kasus di daerah habitat nyamuk pada $ela$ah "# mil tidak berkorelasi terhadap luasan pemukiman di daerah tersebut. 7al ini disebabkan oleh kontak langsung antara manusia dan nyamuk semakin berkurang, akibat semakin $auh $arak antar pemukiman dan tempat perindukan. &engaruh sosial#ekonomi dan migrasi diduga $uga lebih dominan mempengaruhi $umlah kasus di daerah perindukan nyamuk. 'lasi%ikasi peta lingkungan membantu penentuan (ona risiko malaria

berdasarkan kondisi lingkungan tempat perindukan di 'abupaten Sukabumi. 'lasi%ikasi altitude,slope dan 6andGsed memberikan pengaruh masing#masing 3!4, 14 dan " 4 terhadap penentuan (ona risiko malaria. &emodelan (ona risiko malaria secara signi%ikan menun$ukkan kerapatan kasus malaria. Sebaran kerapatan kasus malaria terpusat di (ona risiko tinggi dengan korelasi sebesar +,,!3. >odel regresi &oisson &B6 dengan ! laguntuk suhu udara dan - lag untuk curah hu$an secara signi%ikan (r * +,8,8) mempengaruhi $umlah kasus positi% malaria di 'abupaten Sukabumi. 7al ini disebabkan oleh pengaruh suhu udara rata#rata yang mempengaruhi metabolisme dan perkembangan nyamuk serta curah hu$an yang mempengaruhi luasan tempat perindukan nyamuk. Sebaran kasus prediksi malaria secara signi%ikan dipengaruhi $uga oleh (ona risiko malaria. 7al ini ditun$ukkan oleh sebaran kasus prediksi yang terpusat di (ona risiko tinggi malaria. 'eakuratan model prediksi dipengaruhi oleh si%at pengambilan data kasus positi% malaria secara &CB dan 1CB. 7al ini membantu untuk mereduksi model error di daerah 'abupaten Sukabumi. Sedangkan si%at multikolininearitas antar lag unsur suhu udara dan curah hu$an di 'abupaten Sukabumi tidak direduksi. 7al ini disebabkan oleh kemiripan data unsur suhu udara rata#rata yang relati% hampir sama di 'abupaten Sukabumi. 'eakuratan model prediksi kasus malaria $uga dipengaruhi oleh data penyebaran nyamuk dapat mempresentasikan ke$adian kasus di daerah tersebut. &enambahan %aktor sosial#ekonomi, pertumbuhan penduduk, %asilitas kesehatan dan pengaruh transmisi &lasmodium sp. dari nyamuk ke manusia dan dari manusia ke nyamuk8 akan menambah keakuratan model prediksi kasus malaria untuk men$elaskan sebaran kasus sebenarnya. @erkait dengan aplikasi dari model ini, maka peringatan dini dapat dilakukan 1#1./ bulan sebelum ter$adinya lon$akan kasus malaria tinggi (high risk) berdasarkan data curah hu$an dan suhu udara

Anda mungkin juga menyukai