Anda di halaman 1dari 27

LABA (INCOME) Makna Income dalam perpajakan adalah sebagai jumlah kotor sehingga diterjemahkan sebagai penghasilan sebagaimana

digunakan dalam Standart Akuntansi Keuangan, sedangkan dalam Akuntansi istilah income adalah dimaknai sebagai jumlah bersih sehingga istilah laba lebih menggambarkan apa yang dimaksud dengan income. Dan lebih menunjuk pada konsep FASB. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut dengan laba komprehensif. Laba komprehensif dimaknai sebagai kenaikan aset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik. Sedangkan earning adalah laba yang diakumulasikan selama beberapa periode atau kenaikan ekuitas atau aktiva neto suatu perusahaan yang disebabkan karena aktivitas operasi maupun aktivitas di luar usaha selama periode tertentu. Karena akuntansi secara umum menganut konsep kos historis, asas akrual dan konsep penandingan, laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih pendaptan dan biaya. Sementara itu, pendapatan dan biaya diukur dan diakui melalui prosedur tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (PABU).

1.

Tujuan Pelaporan Laba Kandungan informasi dalam laba akuntansi mempunyai keunggulan dan manfaat,

seperti yang dikemukakan dalam SFAC Nomor 1, yaitu: informasi tentang earnings perusahaan dan komponen-komponen yang diukur dengan dasar accrual accounting, umumnya menyediakan indikasi yang terbaik tentang kinerja perusahaan daripada informasi tentang penerimaan dan pembayaran cash sekarang (current cash receipts and payments). Laba akuntansi dengan berbagai interpretasinya diharapkan dapat digunakan antara lain sebagai: 1. Indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian atas investasi (rate of retun on invested capital). 2. Pengukur prestasi atau kinerja badan usaha dan manajemen. 3. Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak. 4. Alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomik suatu negara. 1

5. Dasar penentuan dan penilaian kelayakan tarif dalam perusahaan public. 6. Alat pengendalian terhadap debitor dalam kontrak utang. 7. Dasar kompensasi dan pembagian bonus. 8. Alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan. 9. Dasar pembagian dividen. Teori akuntansi tentang laba akan melibatkan pengukuran dan penyajian laba yang dapat memenuhi berbagai tujuan di atas. Untuk melayani berbagai kebutuhan di atas, ada dua pendekatan yang harus dipertimbangkan dalam akuntansi laba yaitu satu laba untuk berbagai tujuan atau beda tujuan beda laba. Pendekatan pertama berusaha untuk memformulasikan konsep laba tunggal dan menyajikan untuk memenuhi berbagai tujuan secara umum. Inilah pendekatan yang ingin dicapai dalam merekayasa pelaporan keuangan umum. Walaupun teori tentang konsep laba lebih berkaitan dengan pendekatan ini, akuntansi juga berusaha untuk menyediakan informasi agar tujuan khusus dapat dipenuhi dengan menyediakan informasi yang memungkinkan pemakai untuk menentukan konsep laba sesuai dengan kebutuhan spesifiknya. Pendekatan kedua menggunakan berbagai konsep laba dan menjanjiaknnya secara jelas berbagai konsep laba tersebut secar khusus. Kebutuhan khusus ini dapat dilayani dengan menyertai statemen keuangan umum dengan berbagai laporan pelengkap. 2. Konsep Laba Konvensional Teori tentang laba masih harus dikembangkan dan dimantapkan agar dicapai interpretasi yang tepat secara intuitif mau[un ekonomik sehingga angka laba akuntansi mempunyai manfaat yang tinggi khusunya bagi investor dan kreditor. Hendriksen dan van Breda (1992) mengemukakan bahwa laba akuntansi yang sekarang berjalan (konvensional) masih problematik secara teoritis. Laba akuntansi mempunyai beberapa kelemahan berikut: a. Laba akuntansi belum didefinisi secara semantik dan jelas sehingga laba tersebut secara intuitif dan ekonomik bermakna b. Panyajian dan pengukuran laba masih difokuskan pada pemegang saham biasa atau residual c. PABU sebagai pedoman pengukuran laba masih memberi peluang untuk terjadinya ketektaatasasan (inkonsistensi) antar perusahaan

d. Karena didasarkan pada konsep historis, laba akuntansi secara umum belum memperhitungkan pengaruh perubahan daya beli dan harga e. Dalam menilai kinerja perusahaan secara keseluruhan, investor dan kreditor memandang informasi selain laba akuntansi juga bermanfaat atau bahkan lebuh bermanfaat sehingga ketepatan laba akuntansi belum menjadi tuntutan yang mendesak. Atas dasar tujuan dan kelemahan laba akuntansi dia tas, bab ini membahas dua aspek pokok teori laba yaitu (1) interpretasi laba dan implikasinya dalam tataran teori dan (2) lingkup laba atas dasar kegiatan operasi dan teori entitas. 3. Konsep Laba dalam Tataran Semantik Konsep laba dalam tataran semantik berkaitan dengan masalah makna apa yang harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada simbol atau elemen laba sehingga laba bermanfaat dan bermakna sebagai informasi. Terdapat beberapa konsep atau fungsi laba dalam tataran semantik, yaitu: pengukur kinerja, konfirmasi harapan investor, dan sebagai estimator laba ekonomik. Pengukur Kinerja Karena investor dan kreditor merupakan pihak yang dituju dalam pela-poran keuangan, dianggap bahwa mereka berkepentingan dengan informasi masa lalu untuk mengevaluasi prospek perusahaan di masa datang. FASB misalnya, menetapkan salah satu tujuan pelaporan keuangan sebagai berikut: Financial reportings hould provide information about an enterprise's financial performance during a period. ... The primary focus of financial reporting is information about an enterpise's performance provided by measures of earnings and. its component., .. Financial reportings, should provide information about how management of an enterprise has discharged its stewardship responsibility to owners (stockholders) for the use of enterprice resources entrusted to it. Diatas mengisyaratkan bahwa laba perioda (earning) dimaknai sebagai informasi tentang kinerja masa lalu yang meliputi daya melaba (earning power), akuntabilitas, dan efisiensi. Daya melaba dan efisiensi merupakan konsep yang saling berkaitan. Hal ini di kemukakan oleh Paton dan Littleton (1967) sebagai berikut: Accounting exists primarily as a means of computing a residue, a balance, the difference between cost (as efforts) and revenue (as accomplishment) for virtual enterprises. The difference reflects menegerial effectiveness and is of particular significance to those who furnish the capital and the take ultimate responsibility. 3

Daya melaba merupakan informasi sematik yang diharapkan dibawa oleh informasi akuntansi melalui statemen keuangan yaitu objek (element), ukuran (size), dan hubungan (relantionship). Daya melaba akan mempunyai makna kalau laba dikaitkan dengan periode dan sumber daya yang digunakan. Jadi, untuk menentukan daya melaba, tiga komponen harus diakui yaitu laba, periode, dan tingkat sumber daya (investasi). Secara umum, efisiensi adalah kemampuan menciptakan keluaran (output) tertinggi dengan sumber daya tertentu sebagai masukan (input). Bila keluaran atau sasaran tertentu telah ditentukan, efisiensi adalah kemampuan mencapai keluaran tersebut dengan sumber daya terendah (minimum) yang dimungkinkan. Laba dapat menginterpretasikan kinerja efisiensi karena laba menetukan ROI, ROA, dan ROL sebagai pengukur interpretasi. Validitas pengukur efisiensi tersebut bergantung pada bagaimana laba dari tingkat investasi diukur serta dari sudut pandang siapa informasi efisiensi ditujukan. Konfirmasi Harapan Investor Perekayasa pelaporan berusaha menyediakan informasi mengenai harap-an investor atau pemakai lainnya di masa lalu tentang kinerja perusahaan memang terealisasi. Dengan demikian, Iaba dapat diinterpretasi sebagai sarana untuk mengkonfirmasi harapan-harapan tersebut. Bila diasumsi bahwa pasar cukup efisien, laba yang diprediksi investor harus mendekati atau sama dengan laba yang dilaporkan. Bila hal ini terjadi, laba merupakan sarana untuk mengkonfirmasi harapan investor dan investor diharapkan tidak bereaksi terhadap pengumuman laba. Bila laba tidak cukup efisien, bagi investor bahkan laba sebagai basis mengambil keputusan dan mengubah keputusan. Dengan kata lain laba diinterpretasi sebagai basis untuk mengambil atau mengubah keputusan. Estimator Laba Ekonomik Akuntansi menganut asas akrual untuk mendapatkan suatu angka yang lebih bermakna secara ekonomik daripada sekadar kenaikan atair penurunan kas dalam suatu perioda. Angka laba akan bermakna kalau tia merepresentasi perubahan kemakmuran (wealth) atau penciptaan nilai (vaue creation) sebagai hasil kinerja ekonomik suatu kesatuan usaha. Secara teknis, perubahan kemakmuran atau nilai diwujudkan dalam kegiatan produktif (menghasilkan barang dan jasa). 4

Laba akuntansi adalah laba dari kaca mata perekayasa akuntansi atau kesatuan usaha karena keperluan untuk menyajikan informasi secara objektif dan terandalkan. Oleh karena itu, laba akuntansi didasarkan pada data yang telah terjadi bukan data hipotesis yang dapat berupa kos kesempatan (opportunity cost). Penegertian ekonomik dari segi akuntansi adalah kelayakan ekonomik jangka panjang dan bukan penilaian ekonomik jangka pendek. Laba ekonomik adalah laba dari kaca investor karena jeperluan untuk menilai investasi dalam saham yang dalam banyak hal bersifat subjektif bergantung pada karakteristik investor. Laba ekonomik berbeda dengan laba akuntansi karena pada umumnya laba ekonomik memperhitungkan perubahan daya beli uang dan spesifik asset. Schoroeder dan clark (1998) menunjukan perbedaan laba oleh Bedford atas dasar sifatnya menjadi laba psikis real dan uang. Laba psikis adalah laba yang berupa kenaikan dalam pemuasan keinginan manusia. Laba real yang berupa kenaikan kemakmuran ekonomik dan menjadi focus pengukuran laba ekonomik. Laba uang adalah laba yang merupakan kenaikan satuan uang dalam satu periode tanpa memperhatikan pengaruh perbedaan daya beli dan mnejadi focus pengukuran laba akuntansi. Laba akuntansi dilandasi oleh konsep kontinuitas usaha yang memandang asset sebagai sisa potensi jasa sehingga kos historis menjadi basis pengukurannya. Sementara itu, laba ekonomik dilandai oleh konsep likuiditas yang melihat asset sebagai simpanan atau sediaan nilai (store of value) setiap saat sehingga nilai sekarang menjadi basis pengukurannya. Jadi, dari beberapa aspek, laba akuntansi memang dan harus berbeda dengan laba ekonomik. Namun, laba akuntansi diharapkan dapat menjadi estimator atau indicator laba ekonomik. Perbandingan antara laba akuntansi dan ekonomik Aspek Pembeda Sudut pandang pemaknaan Laba Akuntansi Laba Ekonomik Perekayasaan akuntasi, Pemegang saham penyusunan standar, atau penyusunan statemen keuangan Kos histories Kos kesempatan, nilai pasar, nilai likuiditas Kelayakan ekonomik jangka Penilaian ekonomik panjang jangkapendek Alokasi kos Penurunan nilai ekonomik Rupiah nominal Daya beli 5

Dasar pengukuran Pengertian ekonomik Makna depresiasi Unit pengukuran

Sasaran pengukuran atau Laba uang/nominal sifat laba Konsep dasar yang Kontinuitas usaha, asas akrual melandasi Fungsi asset Sisa potensi jasa

Laba real Likuiditas, nilai tunai Simpanan/sediaan nilai

Akuntansi cukup menyediakan informasi laba dan aliran kas yag layak dan menyerahkan semua analisa dan perhitugan laba ekonomik kepada investor atau pemakai lainnya. Hal ini sesuai dengan gagasan FASB dalam merekayasa pelaporan keuangan sebagai berikut (SFAC No. 1, prg. 41): indirect measure of cast flow potential are widely considered necessary or desirable, both for particular resources and for enterprise as a whole. That information may help those who desire to estimate the value of the business enterprise, but financial accounting is not designed to measure directly the value of an enterprise. Investor, melalui analisa sekuritas, pada umumnya lebih mendasarkan diri pada laba ekonomik untuk memprediksi aliran kas atau return saham perusahaan di masa datang. Analis memandang bahwa laba akuntansi mengalami gangguan (noise) akibat perubahan PABU yang dalam banyak hal tidak merefleksi realitas ekonomik (misalnya pengguan kos historis) atau akibat manajemen laba (earning management). Oleh karena itu, karena laba akuntansi bebas dari gangguan dan mendekati laba ekonomik, laba akuntansi menjadi prediktor yang andal juga. Makna Laba Pembahasan dalam seksi ini masih merupakan bagian dari konsep laba pada tataran semantik. Pemaknaan laba sebagai pengukur efisiensi, konfirmasi harapan investor, dan estimator laba ekonomik merupakan gagasan-gagasan untuk menemukan definisi (konsep atau makna) laba yang tepat untuk tujuan akuntansi. Secara semantik, belum terdapat kesepakatan tentang makna laba yang mantap yang menjadi basis akuntansi dalam jangka panjang. Hendriksen dan van Breda (1992) mengemukakan kritik terhadap laba akuntansi sebagai berikut: There is no long-run theoretical basis for the computation and presentatian of accounting incorne( hlm. 309). Kritik di atas didasarkan pada kenyataan bahwa terdapat banyak definisi atau makna yang dilekatkan pada simbol laba oleh berbagai sumber. Akan tetapi, masih belum dapat 6

diidentifikasi secara mantap makna manakah yang sebenarnya dianut atau harus dianut akuntansi. Sebagai basis pembahasan dan pencarian konsep laba, beberapa gagasan atau sumber dibahas berikut ini. FASB menetapkan laba (disebut laba komprehensif sebagai elemen statemen keuangan dan mendefinisinya sebagai berikut (SEAC No.6, prg. 70): Comprehensif income is the change in equity of a business enterprised using a period. from transaction ond other events and circumstances from non owner sources. It intitudes all changes in equity during a period except those resulting from investment by owners and distributions to owners. Laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan di atas biaya (kos total yang melekat kegiatan produksi dan penyerahan barang/jasa). Pengertian ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha yang dikemukakan Paton dan Littleton (1967) yang memandang laba sebagai kenaikan aset perusahaan seperti berikut: Laba adalah kenaikan aset dalam suatu perioda akibat kegiatan produktif yang dapat dibagi atau didistribusi kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham (dalam bentuk bunga, pajak, dan dividen) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas pemegang saham semula Sejalan dengan pengertian yang diberikan Barton, ini berarti bahwa pengaruh perubahan ekuitas akibat transaksi modal (the effects of any additional capital contributions or withdrawals by owners) harus dikeluarkan dari perhitungan laba. Dari berbagai pengertian laba di atas, dapat disimpulkan bahwa laba secara konseptual mempunyai karakteristik umum sebagai berikut: a. Kenaikan kemakmuran (wealth atau well-offness) yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas. Entitas dapat berupa perorangan/individual, kelompok individual, institusi, badan, lembaga, atau perusahaan. b. Perubahan terjadi dalam suatu kurun waktu (perioda) sehingga harus diidentifikasi kemakmuran awal dan kemakmuranakhir. c. Perubahan dapat dinikmati, didistribusi, atau ditarik oleh entitas yang menguasai kemakmuranasalkankemakmuranawaldipertahankan. Kemakmuran dapat berupa aset bersih, aset, modal pemegang. saham kekayaan, investasi, sumber daya ekonomik, uang, atau apapun yang bernilai uang atau yang dapat dinilai dengan uang. Kemakmuran tersebut secara umum disebut (kapital). Kapital di sini 7

berbeda dengan modal karena modal mempunyai pengertian khusus dalam akuntansi yaitu ekuitas pemegang saham. Bila istilah capital digunakan, harus selalu dibayangkan siapa yang menguasai atau memiliki. Laba dan Kapital Pembahasan laba tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan kapital tetapi makna keduanya harus dibedakan. Dengan mendasarkan diri pada pengertian kapital yang dikemukakan oleh Irving Fisher, Hendriksen dan van Breda (1992) membedakan laba dan kapital sebagai berikut: capital is a stock of weatlh at an instant time. Income is a flow of services through time. Capital is the embodiment of future services, and income is the enjoyment of these services over a specific period of time (hlm. 279) Pengertian semacam itu sejalan dengan implikasi konsep dasar kontinuitas usaha yang dilukiskan dalam Gambar 5.6. Kapital dapat diasosiasi dengan sediaan atau potensi jasa (stock concept). Jadi, kapital dapat dipandang sebagai sediaan kemakmuran pada saat tertentu. Sementara itu, laba dapat diasosiasi dengan aliran kemakmuran (flow concept). Jadi,laba adalah aliran potensi jasa yang dapat dinikmati dalam kurun waktu tertentu dengan tetap mempertahankan tingkat potensi jasa mula-mula. Laba tidak harus selalu dinikmati tetapi dapat terus tertanam di perusahaan sehingga menambah tingkat investasi. Kalau laba harus dinikmati maka hal tersebut hanya dapat dilakukan sejauh tidak melampaui tingkat capital semula. Pengertian laba semacam ini disebut laba atau dasar konsep pemertahanan capital atau kemakmuran.

Konsep Pemertahanan Kapital Konsep ini dilandasi oleh gagasan bahwa entitas (perusahaan atau investor) berhak mendapatkan kembalian/imbalan atau return dan menikmatinya setelah capital (investasi) dipertahankan keutuhannya, atau pulih seperiti sedia kala (recovered). Harapan umum dalam kegiatan bisnis adalah kapital atau investasi yang tertanam selalu berkembang. Konsep ini mempunyai arti penting atau konsekuensi dalam beberapa hal yang salingberkaitan sebagai berikut: a. Membedakan antara kembalian atas investasi (return on invesment) dan pengembalian investasi (return of investrnent).

b. Memisahkan dan membedakan transaksi operasi (produktif) dalam arti luas dengan transaksi pendanaan dari pemilik (owner transactions). c. Menjamin agar laba yang dapat didistribusi tidak mengandung pengembalian investasi. d. Memungkinkan penentuan jumlah penyesuaian kapital (capital adjustment) untuk mempertahankan kemampuan ekonomik (kapital) awal periode akibat perubahan harga dan daya beli sehingga laba ekonomik akan terukur pula. e. Memungkinkan penggunaan berbagai dasar penilaian untuk menentukan tingkat kapital pada saat tertentu (awal dan akhir). f. Memungkinkan penerapan pendekatan aset-kewajiban (asset-liabitity approach) secara penuh dalam pemaknaan laba sehingga angka laba akuntansi akan mendekati angka laba ekonomik. Laba dapat didefenisikan secara umum: laba adalah tambahan kemampuan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan capital dalam satu periode yang berasal dalam kegiatan produktif dalam arti yang luas yang dapat dikonsumsi atau ditolak oleh entitas tanpa mengurangi kemampuan ekonomik mula mula.

4.

Konsep Laba dalam Tataran Sintaktik Menurut pendekatan sintaktik, laba didefinisikan sebagai selisih antara pendapatan

dan beban. Laba dianggap telah timbul bila terjadi kenaikan nilai dari kekayaan bersih sebagai akibat adanya transaksi. Terdapat dua pendekatan pengukuran laba. Pendekatan Transaksi (Transactions Approach) Menurut pendekatan transaksi, laba telah timbul pada saat terjadinya transaksi. Khususnya transaksi eksternal, yaitu transaksi yang terjadi dan melibatkan pihak luar. Laba

dapat timbul pada saat terjadinya transaksi pertukaran/penjualan dan terjadinya pengakuan beban. Berikut ini adalah contoh pencatatan transaksi eksternal yang dapat menimbulkan laba: Kas Penjualan Kos Barang Terjual 60.000 Sediaan Barang Dagangan Biaya Gaji Administrator Biaya Gaji Pemasaran Biaya Bunga Kas 10.000 11.500 2.500 24.000 100.000 100.000

60.000

Kas 2.000 Depresiasi Akumulasi 24.000 Mesin Untung Penjualan Mesin Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu:

25.000 1.000

1. Komponen laba dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya: atas dasar produk/konsumen 2. Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi 3. Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode 4. Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi eksternal untuk berbagai tujuan 5. Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya. Pendekatan kegiatan Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran. Kebaikan pendekatan kegiatan adalah: 1. Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenis evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditujukan pada usaha memperoleh capital gain. 10

2. Efisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen. 3. Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.

Pendekatan Pemertahanan Kapital Nilai aset dan kewajiban merupakan konsekuensi dari pengukuran pendapatan dan biaya atas dasar konsep penandingan. Laba merupakan konsekuensi dari pengukuran capital pada dua titik waktu yang berbeda. Elemen statemen keuangan diukur atas dasar pendekatan aset-kewajiban. Jadi, laba adalah perubahan atau kenaikan kapital dalam satu periode.

Pengukuran atau penilaian Kapital Pengukuran kapital pada dua titik waktu menimbulkan masalah konseptual karena dengan berjalannya waktu beberapa hal yang bersifat ekonomik berubah dan harus dipertimbangkan yaitu unit dan skala pengukur dan dasar/ atribut pengukuran. Jenis Kapital. Jenis kapital berkaitan dengan karakteristik dan wujud kapital dari kaca mata yang menguasai serta apa yang harus dipertahankan untuk menentukan laba. Dalam hal ini terdapat dua jenis konsep kapital yaitu kapital finansial dan fisis. 1. Kapital Finansial adalah Klaim dipandang dari jumlah rupiah atau nilai yang melekat padanya tanpa memperhatikan wujud fisis klaim tersebut. Wujud capital adalah instrument atau asset financial. Kapital financial adalah kapital yang dikuasai pemegang saham atau pemegang obligasi. Kapital saham dari sudut badan usaha adalah jumlah rupiah yang melekat pada asset total badan usaha tanpa memandang jenis atau komponen asset. Dalam analisa statement keuangan tradisional, tingkat kembalian atas capital financial ini dinyatakan sebagai tingkat kembalian atas asset total atau rate of return on assets (ROA) yang dirumuskan sbb: ROA = Laba bersih + Biaya Bunga Asset total rata-rata

11

2. Kapital fisis adalah sumber ekonomik yang dikuasai oleh entitas yang dipandang sebagai kapasitas produksi fisis yaitu kemampuan menghasilkan barang dan jasa.

Perbedaan antara kedua konsep diatas adalah perlakuan terhadap pengaruh perubahan harga atas asset yang ditahan atau kewajiban yang ditanggung selama suatu periode seandainya pengaruh tersebut diakui. Dalam konsep financial, pengaruh perubahan akan diakui sebagai laba atau rugi dan dilaporkan dalam statement laba-rugi. Dalam konsep fisis, pengaruh perubahan diakui sebagai penyesuaian capital dan tidak masuk dalam statement laba-rugi. Skala Pengukuran Skala pengukuran adalah unit pengukuran yang dapat dilekatkan pada suatu objek sehingga objek tersebut dapat dibedakan besar-kecilnya dari objek yang lain atas dasar unit pengukuran tersebut. Karena capital harus dinyatakan dalam satuan uang atau moneter sementara nilai satuan uang dapat berbeda antar waktu maka harus diukur satuan uang mana yang akan dipakai dengan menggunakan skala pengukuran tersebut. Dalam teori dikenal empat macam skala pengukuran yaitu: nominal, ordinal, interval,rasio. Pengukuran akuntansi bersifat rasio ksrena angka nol menunjukan ketiadaan nilai. Skala Nominal Skala nominal adalah satuan rupiah sebagaimana telah terjadi tanpa

memperhatikan perubahan daya beli dengan berjalannya waktu akibat perubahan kondisi ekonomik. Karena nilai rupiah dianggap konstan sepanjang masa, akuntansi atas dasar pengukuran ini sering disebut akuntansi dengan nilai rupiah konstan dan lebih menitikberatkan pada jumlah unit rupiah daripada jumlah unit daya beli. Skala Daya Beli Merupakan skala untuk mengatasi kelemahan skala rupiah nominal. Dengan skala ini, rupiah nominal dinyatakan kembali dalam bentuk rupiah daya beli atas indeks harga tertentu. Karena unit pengukuran dinyatakan dalam rupiah daya beli yang sama, penambhan hasil pengukuran akan memberi hasil yang bermakna.

12

Dasar atau atribut pengukuran Dua dasar penilaian yang berpaut dalam penentuan laba: Kos Historis Kos historis merupakan jumlah rupiah sepakatan atau harga pertukaran yang telah tercatat dalam sistem pembukuan. Kos historis dipilih biasanya karena kos tersebut objektif dan dapat diuji kebenarannya (verifiable). Masalah kos historis hendaknya dibedakan dengan skala rupiah nominal. Kos Sekarang Kos sekarang atau kos pengganti atau kos masukan sekarang (current input cost) menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran atau kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang sama jenis dan kondisinya atau penggantinya yang setara (ekuivalennya). Harga pertukaran harus ditentukan dari pasar barang yang sekarang digunakan kesatuan usaha (input market) sehingga harga pertukaran akan menggambarkan dengan tepat nilai aset bersangkutan. Pengukuran Laba dengan Mempertahankan Kapital Adanya tiga faktor penentu nilai kapital (jenis, skala, dan dasar penilaian) yang saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam pendekatan atau basis penilaian kapital. Tiap pendekatan sebenarnya merefleksi kombinasi antara ketiga faktor yang dipertimbangkan. Pendekatan yang dimaksud di sini adalah cara atau prosedur untuk mendapatkan jumlah rupiah kapital dan laba. Berbagai pendekatan penilaian kapital dan implikasinya terhadap penentuan laba antara lain adalah: 1. Kapitalisasi aliran kas harapan (capitalization of expected cash flows). 2. Penilaian pasar atas aset bersih perusahaan (market valuation of the firm). 3. Setara kas sekarang (current cash equivalent). 4. Harga masukan historis (historical input prices). 5. Harga masukan sekarang (current input prices). 6. Pemertahanan daya beli konstan (maintenance of constant purchasing power). Kapitalisasi aliran kas harapan Nilai kapitalisasi adalah nilai diskunan atau nilai sekarang semua aliran kas masa datang dari investasi selama periode yang diharapkan investor. Aliran kas dapat berupa aliran dividen periodik dan kas hasil penjualan atau likuidasi seluruh investasi di akir periode yang di harapkan. Bila tidak ada dividen maka aliran kas adalah kas yang akan diterima 13

seandainya sebagian investasi dijual secara periodik sebanyak kenaikan nilai investasi. Laba merupakan selisih nilai kapitalisasi awal dan akhir periode. Kelemahan konsep ini; 1. Tarif kapitalisasi yang digunakan di mata perusahaan tidak selalu sama dengan tarif menurut persepsi investor. Hal ini disebabkan persepsi dan resiko pemakaian laporan keuangan tidak dapat diketahui dengan pasti. 2. Angka laba yang dihasilkan tidak intuitif komponen pembentuknya tidak tampak. 3. Terlalu menekankan pada nilai waktu uang dan aliran kas mengabaikan faktor ekonomi lain. 4. Informasi operasi dan efisiensi menjamin perusahaan tidak dapat terungkap melaui laporan laba rugi. 5. Informasi yang disajikan kurang mempunyai daya informa terhadap harapan harapan masa lalu. Penilaian pasar dan perusahaan Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital financial. Penilaian ini merupakan alternatif kapitalisasi aliran kas. Kapital diukur atas dasar berapa jumlah rupiah yang investor bersedia membayar untuk seluruh kekayaan perusahaan dikurangi seluruh kewajiban. Penilaian ini dimaksudkan untuk menghilangkan subjektifitas penyaji laporan. Penilaian diserahkan ke pihak lain dengan harapan penilaian tersebut objektif. Walaupun demikian, subjektifitas investor tetap berperan sehingga hasil penilaian dapat berbias. Setara Kas Sekarang Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Dasar pengukuran adalah tanggungan (sum) semua jumlah rupiah setara tunai pos asset dikurangi jumlah rupiah setara tunai semua utang. Jumlah rupiah setara tunai ini didasarkan atas harga pasar penjualan pos asset secara individual yang dimiliki/dikuasai perusahaan. Untuk dapat mengukur laba, tentu saja perubahan asset atau utang akibat transaksi pendanaan harus dikeluarkan. Harga Masukan Historis Penilaian ini merupakan salah satu pendekatan penilaian dengan nilai masukan. Penilaian atas dasar harga masukan dilandasi oleh gagasan bahwa kapital dapat dikatakan telah dipertahankan apabila asset pada akhir periode (dinilai dengan harga masukan) sama

14

dengan asset pada awal periode (juga dinilai dengan harga masukan). Laba merupakan kenaikan asset (tentu saja setelah pengaruh transaksi ekuitas dikeluarkan). Harga Masukan Sekarang Penilaian ini pada dasarnya sama dengan harga masukan historis kecuali bahwa dalam pendekatan ini menilai komponen-komponen kapital awal dan akhir dengan kos masukan sekarang atau kos pengganti pada saat itu. Kos pengganti suatu asset adalah jumlah rupiah yang harus dikorbankan seandainya suatu entitas tidak menguasai/memiliki asset bersangkutan. Kapital dapat dipertahankan apabila kos pengganti akhir periode sama dengan kos pengganti awal periode. Hal ini dapat diinterpretasi bahwa perusahaan mampu mempertahankan kemampuan produktif sedia kala (awal periode) sebelum kenaikan kapital dapat didistribusi dalam bentuk dividen. Pemertahanan Daya Beli Konstan Pengukuran dengan unit daya beli konstan ini basisnya adalah kos historis. Kapital awal dan akhir dinyatakan dalam unit daya beli konstan pada indeks dasar tertentu (dapat indeks awal tahun, rata-rata, atau akhir tahun). Laba yang diukur berdasarkan selisih capital awal dan akhir akan menggambarkan tambahan daya beli kapital yang dimiliki/dikuasai perusahaan tanpa harus mengurangi daya beli kapital yang mula-mula. 5. Konsep Laba dalam Tataran Pragmatik Tataran pragmatik dalam teori komunikasi berkepentingan untuk menentukan apakah pesan sampai kepada penerima dan mempengaruhi perilaku sebagaimana diarah. Teori akuntansi pragmatik memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi akuntansi. Informasi diharapkan mempunyai pengaruh kalau informasi tersebut benar-benar digunakan oleh para pemakai karena menurut persepsi pemakai (atau model pengambil keputusannya) informasi tersebut mempunyai manfaat, kualitas, atau nilai informasi. Prediktor Aliran Kas Ke Investor Perekayasa akuntansi yakin bahwa angka laba dan komponennya yang diukur atas dasar asas akrual merupakan indikator kinerja yang lebih baik dari pada sekedar perubahan. Karena investor dan kreditor menjadi pihak utama yang dituju dalam pelaporan keuangan, perekayasaan berteori bahwa investor dan kreditor berkepentingan dengan aliran kas yang masuk ke mereka atas investasinya.

15

Aliran kas yang diterima atau diharapkan investor akan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk menciptakan kas yang cukup untuk membayar semua kewajiban pada saatnya, mendanai keperluan operasi, reinvestasi, membayar bunga dan membayar deviden. Kemampuan menciptakan kas tersebut akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mendatangkan laba jangka panjang yang memadai. Oleh karena itu investor dan kreditor harus memprediksi kemampuan melaba jangka panjang. Untuk itu, investor dan kreditor memerlukan informasi laba masa lalu untuk memprediksi laba masa datang. Bahwa laba merupakan prediktor aliran kas ke investor sebenarnya menunjukkan bahwa laba menentukan harga saham.

Laba dan Harga Saham Kebermanfaatan laba dapat diukur dari hubungan antara laba dan harga saham. Bahwa laba merupakan prediktor aliran kas ke investor yang dibahas diatas sebenarnya menunjukkan bahwa laba menentukan harga saham. Aliran kas masa datang ke investor digunakan untuk menentukan apa yang disebut nilai intrinsik sekuritas atau saham.

16

Perkontrakan Efisiensi Bagian atau turunan dari teori keagenan. Teori ini didasarkan atas berbagai aspek dan implikasi hubungan keagenan. Hubungan keagenan adalah hubungan antara principal dan agen yang didalamnya agen bertindak atas nama dan untuk kepentingan principal dan atas tindakanya tersebut agen mendapat imbalan tertentu. Hubungan tersebut biasanya dinyatakan dalam bentuk kontrak. Kontrak efisien adalah kontrak yang tidak banyak menimbulkan persengketaan dan yang mendorong pihak yang berkontrak melaksanakan apa yang diperjanjikan. Aspek pragmatik laba dalam pengontrakan efisien didasarkan pada gagasan bahwa kontrak akan efisien jika laba akuntansi menjadi kriteria dalam kontrak tanpa memandang aspek semantik laba tersebut. Jadi, laba akuntansi mempunyai manfaat karena secara pragmatik dapat dijadikan alat untuk mencapai kontrak yang efisien. Pengendalian Manajemen Ikatan dalam bentuk kontrak tidak hanya terjadi antara perusahaan dan investor atau pihak luar lainnya tetapi juga antara pihak internal perusahaan. Kontrak bonus merupakan salah satu contoh kontrak internal. Laba mempunyai manfaat karena laba dapat digunakan untuk mengendalikan perilaku para partisipasi di dalam perusahaan. Laba mempunyai peranan penting dalam suatu sistem pengendalian manajemen. Sistem ini dirancang untuk mengarahkan perilaku para manajer agar mereka memaksimumkan kepentingan dirinya atau divisinya tetapi pada saat yang sama kepentingan perusahaan

17

secara keseluruhan juga tercapai. Perilaku manajer dikendalikan melalui laba dengan cara mengaitkan konpensasi dengan laba sebagai pengukur kinerja. Teori Pasar Efisiensi Efisiensi pasar harus dikaitkan dengan sistem informasi yaitu mekanisme penyediaan informasi dengan segala regulasi yang berlaku dengan lingkup beroperasinya pasar modal. Sistem informasi menghasilkan sehimpuanan informasi bagi pelaku pasar untuk menetukan harga saham. Pasar dikatakan efisiensi dalam kaitan dengan informasi atau signal tertentu hanya jika harga saham berprilaku seakan-akan semua pelaku pasar menangkap signal tersebut dan segera merevisi harga saham harapannya kemudian mengambil strategi investasi sehingga terjadi ekuilibrium baru. Reaksi pasar modal terhadap informasi dapat digunakan untuk mengukur atau menguji kebermanfaatan informasi. Hubungan antara informasi dan harga saham dibahas dalam kontek yang disebut efiensi pasar. Bentuk Efisiensi Pasar a. Bentuk Lemah. Pasar adalah efisien dalam bentuk lemah jika harga sekuritas merefleksi secara penuh informasi harga dan volume sekuritas masa lalu. b. Bentuk Semi-kuat. Pasar adalah efisien dalam bentuk semi-kuat jika harga sekuritas merefleksi secara penuh semua informasi yang tersedia secara public termasuk data statemen keuangan. c. Bentuk Kuat. Pasar adalah efisien dalam bentuk kuat jika harga sekuritas merefleksi secara penuh semua informasi termasuk informasi privat atau dalam yang tidak dipublikasi atau off-the record. Laba Sebagai Signal Laba akuntansi yang diumumkan via statmen keuangan merupakan salah satu signal dari himpunan informasi yang tersedia bagi pasar modal. Walaupun hipotesis pasar efisien mengisyaratkan bahwa tidak seorangpun akan memperoleh retrun lebih hanya atas pengetahuannya terhadap data laba, penelitian empiris menunjukkkan bahwa laba yang diumumkan via statemen keuangan mempunyai dampak terhadap harga saham. Pengujian Kandungan Informasi Laba Bila angka laba mengandung informasi, diteorikan bahwa pasar akan bereaksi terhadap pengumuman laba. Pada saat diumumkan, pasar telah mempunyai harapan tentang berapa besarnya laba perusahaan atas dasar semua informasi yang tersedia secara 18

publik. Laba dalam analisis seperti biasanya adalah laba persaham untuk perusahaan tertentu. Laba aktual dapat pula berada dibawah laba harapan. Laba kejutan adalah angka yang ada dalam persepsi investor individual. oleh karena itu, laba kejutan untuk perusahaan tertentu dapat berbeda-beda antar investor karena berbagai faktor. Pengujian Asosiasi Studi asosiasi sering disebut studi koefisien response laba. Kepekaan return saham terhadap setiap rupiah laba atau laba kejutan. Asosiasi atau korelasi antara laba dan retrun tidak begitu kuat atau tidak sempurna. Beberapa alasan dikemukakan : 1. Angka laba hanya merupakan sebagian kecil faktor yang mempengaruhi harga saham 2. Fluktuasi laba tidak selalu menggambarkan perubahan ekonomik perusahaan tetapi semata-mata merupakan perubahan metoda akuntansi 3. Laba akuntansi dapat dipengaruhi oleh manajemen dan inkonsistensi internal akuntansi sehingga angka laba mengandung gangguan 4. Investor tidak selalu seragam dalam menginterpretasi informasi yang tersedia di pasar 5. Pasar sering berperilaku yang tak terprediksi

Pengujian Peristiwa Angka laba tidak lagi digunakan dalam pengujian ini karena menjadi focus adalah peristiwa pengumuman laba. Laba mempunyai efek pragmatic terhadap perilaku pasar modal. Reaksi pasar paling tidak menunjukkan bahwa secara empiris perilaku pasar modal seolah-olah telah menggunakan laba sehingga dapat dikatakan bahwa laba bermanfaat bagi investor.

6. Laba dan Teori Entitas Dari aspek pengukuran dan prosedur akuntansi, laba adalah selisih pendapatan dan biaya. Persoalannya adalah kapan penandingan pos-pos biaya dengan pendapatan harus berhenti sehingga selisihnya dapat disebut laba. Ini sama saja dengan masalah apakah suatu pos merupakan biaya atau merupakan pembagian laba. Untuk hal ini pengetian laba dikaitkan dengan entitas yang berkepentingan. Teori entitas berkaitan dengan penentuan 19

siapa yang dianggap paling berkepentingan dengan suatu kegiatan ekonomik sehingga pihak tersebut berhak untuk menikmati laba. Karena berkaitan dengan siapa yang berhak atas laba, teori entitas sering disebut pula dengan teori ekuitas. Konsep dasar kesatuan usaha dengan segala implikasinya sebenarnya hanya merupakan salah satu konsep dasar yang dapat dipilih dalam perekayasaan akuntansi. Konsep kesatuan mempunyai implikasi terhadap pengertian pendapatan, biaya, dan laba. Teori ekuitas atau entitas banyak dibahas dalam literature teori akuntansi adalah : Entitas usaha bersama Dengan sudut pandang ini, kesatuan yang menjadi pusat perhatian akuntansi adalah kegiatan usaha bersama yang melibatkan berbagai pihak sebagai bagian dari kegiatan ekonomik. Semua partisipan menanggung segala aspek kegiatan bersama sehingga mereka disebut secara bersama sebagai pemegang pancang seperti: manager, karyawan, pemegang saham, kreditor, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat. Sudut pandang ini menjadi relevan manakala perusahaan menjadi sangat besar.Pandangan ini dilandasi oleh gagasan bahwa perusahaan besar berfungsi sebagai institusi sosial yang mempunyai pengaruh ekonomik yang luas dan kompleks sehingga darinya dituntut pertanggung jawaban sosial.Sebagai institusi sosial, perusahaan harus menunjukkan kontribusi ekonomik terhadap masyarakat luas.Semua partisipan merupakan contributor dalam menciptakan nilai tambahan akibat kegiatan usaha bersama tersebut.Nilai tambahan merupakan ukuran kinerja ekonomik usaha bersama sehingga para pemegang pancang berhak untuk mendapatkan bagian dari nilai tambahan tersebut. Dengan sudut pandang ini laba, laba didefenisi sebagai seluruh jumlah rupiah nilai tambahan yang dihasilkan oleh kegiatan para partisipan secara bersama-sama dikurangi dengan kos material dan mesin peralatan. Laba merupakan hasil upaya bersama para pemegang pancang.Jumlah rupiah yang dibayarkan kepada partisipan bukan merupakan biaya tetapi merupakan distribusi nilai tambahan atau pembagian laba. Jumlah rupiah penjualan mengukur kemakmuran total yang diciptakan kesatuan usaha bersama. Untuk megukur nilai tambahan, jumlah itu harus dikurangi dengan kos bahan baku dan overhead nontenaga kerja karena keduanya merupakan nilai-tambahan yang diciptakan oleh institusi sosial lainnya yang ditransfer satu kesatuan usaha bersama. Jadi, secara ekonomik, nilai tambahan yang dilaporkan adalah banyaknya yang diciptakan oleh kesatuan usaha bersama itu. 20

Entitas usaha atau bisnis Teori entitas mendasari konsep dasar kesatuan usaha yang dibahas sebelumnya, perusahaan dipandang sebagai orang atau badan yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri, serta terpisah dari investor, kreditor, dan pihak eksternal. Jadi, perusahaan dipersonifikasikan sehingga ia seakan akan dapat melakukan transaksi dan kegiatan. Dengan teori ini, laba dipandang sebagai kenaikan asset karena pendapatan dianggap sebagai aliran masuk / kenaikan asset sedangkan biaya sebagai aliran keluar asset akibat kegiatan operasi perusahaan.Pemilik, kreditor, pemerintah, serta pihak lainnya diperlakukan sebagai pihak luar.Oleh karena itu, jumlah rupiah yang didistribusikan ke mereka diperlakukan sebagai biaya.Transaksi modal tidak dibedakan dengan transaksi operasi. Gambar Teori Entitas Usaha Perusahaan Pihak Luar Kreditor Manajemen Pemegang

Sudut pandang kesatuan usaha

Pihak lain

Entitas investor Investor disini adalah investor dalam arti luas yaitu kreditor dan pemegang saham. Jadi, investor adalah penyedia dana utama perusahaan. Dengan teori ini, pusat perhatian akuntansi adalah kedua kelompok tersebut dan keduanya dipandang sebagai mitra manajemen bukan sebagai pihak luar sebagaimana dalam sudut pandang kesatuan usaha. Dengan kata lain, perusahaan melalui manajemen bertindak atas nama investor. Oleh karena itu, pelaporan keuangan harus dilaksanakan untuk kepentingan dua kelompok tersebut.Dengan sudut pandang ini, laba kemudian didefenisi sebagai jumlah rupiah yang menjadi hak investor.Sebagai konsekuensi, bunga kepada kreditor jangka panjang dan

21

dividen kepada pemegang saham bukan merupakan biaya tetapi lebih merupakan distribusi laba. Teori Entitas Investor Perusahaan Pihak Luar Entitas Kreditor Mitra Pemegang sudut pandang kesatuan investor Entitas pemilik Teori entitas ini memandang pemegang saham sebagai pemilik dan menjadi pusat perhatian akuntansi.Kreditor dianggap sebagai pihak luar.Pemegang saham tetapi menjadi mitra manajemen.Asset menjadi milik pribadi pemegang saham sehingga utang merupakan keharusan pemegang saham.Artinya, pemeganh saham menanggung segala risiko yang berkaitan dengan utang. Dengan dusut padang ini, asset bersih menjadi perhatian utama bagi pemegang saham. Kreditor, pemerintah, dan pihak atau entitas lain dianggap sebagai pihak luar pemilik sehingga semua kos yang dikorbankan yang bersangkutan dengan pihak tersebut akan dianggap sebagai biaya bukannya distribusi laba. Laba dalam teori entitas ini disebut selisih pendapatan dan biaya yang menjadi hak akhir pemilik.Asset dipandang sebagai capital financial bagi pemegang saham sebagai pemilik sehingga asset bersih menjadi pusat perhatiannya. Pemilik dianggap berkepentingan dengan nilai capital finansialnya sehingga nilai sekarang bukannya kos historis sering dipakai sebagai basis penilaian untuk menentukan nilai asset bersih. Entitas pemilik residual Konsep entitas ini memandang pemegang saham biasa sebagai pusat perhatian akuntansi.Pendekatan ini sebenarnya tidak berbeda dengan sudut pandang pemilik.Hanya dalam pendekatan ini, pemilik adalah pemegang saham biasa.Pemegang saham istimewa dianggap sebagai pihak luar sehingga dividen untuk mereka dipandang sebagai biaya. Teori 22

Manajeme n

ini dilandasi oleh pemikiran bahwa pemegang saham biasa adalah pihak yang akhirnya menanggung risiko ketidakpastian masa datang tetapi juga menikmati segala kembalian setelah pihak lain terpenuhi haknya.Oleh karena itu, penyajian laba harus dipusatkan pada pemegang saham biasa untuk membantu mereka memprediksi aliran kas di masa datang.Laba dan laba per saham untuk pemegang saham biasa menjadi informasi penting harus disajikan dalam statemen laba rugi. Entitas pengendali Konsep ini tidak secara langsung berkaitan dengan makna laba tetapi lebih berkaitan dengan penyajian data akuntansi secara keseluruhan.Teori ini menitikberatkan

pandangannya kepada pihak yang mengendalikan sumber ekonomik perusahaan tanpa memperhatkan pemilikan seperti konsep kesatuan lainnya.Pengendalian hanya dapat dilakukan oleh manusia dan karenanya siapa yang mengendalikan sumber ekonomik perusahaan harus diidentifikasi dan kemudian akuntansi memusatkan perhatiannya kepada para pengendali tersebut.Dengan demikian tujuan dan fungsi akuntansi dapat lebih mudah ditafsirkan tanpa harus mengadakan abstraksi semua. Konsep ini sebenarnya sejalan dengan konsep usaha, tetapi konsep ini lebih menekankan pada orang yang mengelola dana daripada menekankan pada wadah operasinya. Entitas dana Dana mempunyai dua pengertian yang saling dirancukan.Dana dapat diartikan sebagai kas, asset likuid, atau sumber keuangan yang dapat digunakan untuk mendanai suatu kegiatan, program, atau projek dalam rangka mencapai tujuan tertentu.Dana juga dapat berarti kesatuan, wadah, atau pusat yang dapat berupa kegiatan, program, atau projek yang didanai dengan asset likuid tersebut. Pengertian dana sebagai kesatuan usaha menurut Committee on Govermental Accounting (NCGA) : A fund is defined as an independent fiscal and accounting entity with a selfbalancing set of account (recording cash and other financial resources together with all related liabilities and residual equities or balances and changes there in) which are segregated for the purpose of the carrying on specific activities or attaining certain objectives in accordance with special regulations, restrictions, and limitations, Jadi dana dapat diartikan sebagai kesatuan akuntansi (accounting entity). Konsep ini memandang bahwa kegiatan, program, projek atau unit kegiatan lainnya sebagai kesatuan atau entitas yang berdiri sendiri dan menjadi pusat pelaporan yang disebut dana. 23

Teori ekuitas dana dapat dinyatakan dalam persamaan akuntansi sebagai berikut: Aset = Pembatasan Penggunaan Aset Konsep ini juga berpaut dengan konsep organisasi non profit khususnya organisasi kepemerintahan. Bila suatu unit pemerintah mengelola keuangan Negara yan dilaksanakan melalui APBN/ APBD, special regulations, restrictions, or limitations dapat dilihat dalam persamaan berikut ini: Aset Likuid (financial resources) = saldo dana (fund balances) Operasi Akuntansi dalam Teori entitas dana untuk dana Belanja Entitas dana: Projek, programs, atau unit pemerintahan (pemda) Sumber pendapatan Asset likuid = Saldo dana saldo dana bertambah Kas, Utang Objek belanja

\ saldo dana berkurang sudut pandang kesatuan usaha

7. Penyajian Laba Walaupun teori entitas yang dibahas di atas berkaitan dengan masalah penyajian, masalah lebih difokuskan pada masalah konseptual tentang apa yang disebut laba. Masalah konseptual yang erat kaitannya dengan penyajian adalah pemisahan pelaporan pos-pos transaksi dan pos-pos transaksi dengan pemilik (transaksi modal). Pos-pos operasi dalam arti luas (transaksi nonpemilik) pada umumnya dilaporkan melalui statemen laba ditahan atau statemen perubahan ekuita. Hal ini dibahas lebih lanjut sesudah ini.

A. Konsep Matching Biaya adalah semua yang dibebankan kepada produk barang dan jasa yang akan dijual untuk mendapatkan revenue. Biaya itu termasuk dalam produk atau juga belum 24

termasuk di dalamnya karena mungkin saja mendahului atau di keluarkan / accrued setelah selesainya produk, misalnya biaya penyusutan, perizinan, asuransi, dan gaji. Jika hasil dilaporkan berdasarkan proses operasional perusahaan maka setiap kenaikan nilai produk akan menimbulkan kenaikan hasil sehingga tidak perlu matching. Namun, karena hasil dan biaya dua hal yang bias berbeda dan dilaporkan berlainan serta pembebanan, pembayaran biaya produk, dan jasa tidak sama dengan waktu penjualan dan penagihan piutang akibat penjualan itu maka perlu penerapan matching. Perbedaan pembebanan, perolehan pembayaran, penggunaan biaya untuk barang dan jasa inilah penyebabnya maka perlu matching biaya kepada hasil. 1. Direct atau Product Matching Pada saat penjualan atau hasil diketahui, hasil ini di-match dengan biaya yang berkaitan dengan produk atau jasa yang di jual itu. Periode ini disebut juga produk. Konsep ini sebenarnya adalah konsep yang mengabaikan beberapa masalah antara lain biaya yang belum bisa dikaitkan langsung kepada produk itu sehingga dalam konsep ini semua biaya lain diluar biaya produk atau jasa di anggap sebagai aktiva yang dialihkan ke periode yang akan datang. 2. Indirect atau Period Matching Di sini matching dilakukan antara hasil (penjualan produk dan jasa) yang di peroleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan/dibebankan selama periode di mana digunakan bukan berdasarkan waktu perolehan atau pembayaran ini disebut biaya periodik. Sebenarnya ini bukan murni matching ini adalah approximation dari matching. Namun, konsep ini dapat diterima karena beberapa alasan berikut ini. a. Banyak biaya periodik secara tidak langsung dikaitkan dengan biaya pada periode sekarang sehingga tidak berbeda antara matching menurut dasar penggunaan atau dasar waktu pelaporan, misalnya biaya sewa toko dengan hasil penualan. b. Untuk hal-hal tertentu sukar mengidentifikasi hubungan langsung antara suatu jenis hasil dan biaya. c. Jika masalahnya suatu biaya tidak bisa di anggap akan memberikan kontribusi terhadap hasil yang akan datang mengapa tidak dibebankan pada periode sekarang. d. Untuk biaya yang bersifat berulang-ulang dan regular, tidak ada pengaruh material terhadap masalah kapan di biayakan. 25

e. Banyak biaya bersifat joint cost yang sukar diasosiasikan untuk hasil tertentu sehingga memerlukan alokasi arbitrer dengan menggunakan dasar waktu.

B. Definisi Hasil, Biaya, dan Laba Ada tiga definisi yang akan kita bahas di bawah ini menurut committee on terminology, APB Statement, dan FASB Statement. Ketiganya memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. 1. Hasil (Revenue) Committee on terminology mendefinisikan revenue sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang dibebankan kepada langganan atau mereka yang menerima jasa. Definisi ini menggunakan pendekatan revenue expense. APB mendefinisikan sebagai kenaikan gross di dalam aset dan penurunan gross dalam kewajiban yang dinilai berdasarkan prinsip akuntansi yang berasal dari kegiatan mencari laba. Definisi ini seolah-olah merupakan pendekatan revenue expense, tetapi dari kalimat sesuai dengan prinsip akuntansi, jelas ini menunjukkan pendekatan asset liability. Kemudian, FASB memberikan definisi revenue sebagai arus masuk atau peningkatan nilai aset dari suatu entitas atau penyelesaian kewajiban dari entitas atau gabungan keduanya selama periode tertentu yang berasal dari penyerahan produksi barang, pemberian jasa atas pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan. 2. Biaya (Expense) Pengertian biaya menurut committee on terminology adalah : Semua biaya yang telah dikenakan dan dapat dikurangkan pada penghasilan. Sementara itu APB mendefinisikan: Sebagai penurunan gross dalam asset atau kenaikan gross dalam kewajiban yang di akui dan dinilai menurut prinsip akuntansi yang diterima yang berasal dari kegiatan mencari laba yang dilakukan perusahaan. FASB mendefinisikan: Expense sebagai arus keluar aktiva, penggunaan aktiva atau munculnya kewajiban atau kombinasi keduanya selama suatu periode yang disebabkan oleh pengiriman

26

barang, pembuatan barang, pembebanan jasa atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan. Biaya biasanya dibagi dalam tiga golongan, yaitu: 1. Biaya yang dihubungkan dengan penghasilan pada periode itu; 2. Biaya yang dihubungkan dengan periode tertentu yang tidak dikaitkan dengan penghasilan; 3. Biaya yang karena alasan praktis tidak dapat dikaitkan dengan periode mana pun.

C.

Gain and Loss

Gains (laba/keuntungan dari transaksi tertentu yang sifatnya insidentil). Di luar laba di atas, ada laba lagi penggolongan laba diluar laba tersebut yaitu yang dikenal dengan istilah gain. Ini definisi FASB. Gain adalah naiknya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas selama periode tertentu kecuali yang berasal dari hasil atau investasi dari pemilik. Losses (rugi dari transaksi tertentu yang sifatnya insidentil); Losses adalah turunnya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas dan dari seluruh transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama periode tertentu kecuali yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik (prive).

27