Anda di halaman 1dari 50

YULICA ARIDAWARNI, SST., M.Kes., M.Keb.

adalah : Menentukan apa yang akan dilakukan


(William H Newman)

Proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang (Nana Sujana)

Dalam konteks pembelajaran, perencanaan sebagai : Proses penyusunan materi 2. Penggunaan media 3. Penggunaan pendekatan 4. Metode pengajaran
1.

1. 2. 3. 4. 5.

Memorandum of Understanding (MoU) d institusi lahan klinik Lamanya kegiatan Praktik Klinik Proposal kegiatan per-Praktik Klinik Buku Panduan PK utk mahasiswa Rencana Anggaran Biaya (RAB)

1. Tempat dan Waktu : hari, tgl, tahun 2. Identitas yg disebut sbg pihak I dan pihak II 3. 4. 5.

6.

(msg2 diwakili oleh kepala institusi) Hak Pihak I dan Pihak II Kewajiban Pihak I dan Pihak II Jangka waktu kerjasama dan wkt pengajuan naskah kerjasama selanjutnya jika ingin diperpanjang Penentuan tempat praktik klinik (ruangan/ puskesmas) dlm stiap proposal oleh siapa

7. Pembiayaan (per-mahasiswa _ per hari) Biaya setiap pengajuan proposal*** 8. Siapa penanggungjawab jk terjadi hal yg tdk diinginkan selama proses pebelajaran klinik berlangsung 9. Hal-hal yg berkenaan dg pembatalan kerjasama 10. Sanksi yg didapatkan oleh Pihak I dan Pihak II jika ada pasal yg dilanggar 11. Tercantum tandatangan dan nama lengkap penanggungjawab MoU dari Pihak I dan II

Lama Praktik Klinik = Jumlah SKS x 4 jam x 16 minggu (hari) jumlah jam praktik klinik selama 1 hari Contoh: PKK I = 4 SKS Lama PKK I = 4 SKS x 4 jam x 16 minggu = 256 6 jam 6 jam = 42,67 = 43 hari

Lembar pengesahan yang ditandatangani: Kaur Praktik Klinik, Pudir I dan Direktur 2. Tertulis Tempat dan Waktu : hari, tgl, tahun 3. Berisi: - Latar belakang pelaksanaan PK, - tujuan, - waktu pelaksanaan PK - tempat (ruangan/puskesmas) yg diajukan sebelumnya sdh konfirmasi ke ruangan / puskesmas yang dituju
1.

- Hak institusi pendidikan : mendapatkan CI dan bimbingan bg mahasiswa - Hak lahan: mendapatkan fee - Kewajiban institusi pendidikan: bertanggungjawab terhadap pembiayaan dan hal-hal yang tidak diinginkan jika dikarenakan kesalahan mahasiswa - Kewajiban lahan: mempersiapkan CI, memberikan bimbingan dan evaluasi

- Pembiayaan : sepenuhnya ditanggung oleh pihak pendidikan - Target yg harus dicapai mahasiswa (apa dan jumlah) - Lampiran: daftar tilik, form pengkajian, form penilaian kepribadian dan keterampilan

1. BAB I berisi:

- Latar belakang pelaksanaan PK, - tujuan, - lama pelaksanaan PK - tempat (ruangan/puskesmas) yg diajukan sebelumnya sdh konfirmasi ke ruangan / puskesmas yang dituju 2. Target yang harus dicapai di setiap semester

3. Form pengkajian 4. Daftar tilik 5. Daftar target kasus yg sdh dicapai : wkt

pengambilan kasus, nama pasien, diagnosa, paraf dan nama lengkap dari CI/bidan yg membimbing pd saat kasus diambil 6. Absensi kehadiran mahasiswa 7. Form utk memuat catatan2 penting selama mahasiswa melakukan PK (diisi & diparaf CI)

BIAYA : 1. Praktik klinik: jml mahasiswa x jml hari PK 2. Transport: pengajuan proposal, penjajagan lahan, pre-post conference, supervisi, antarjemput mhs. 3. Jasa dan konsumsi supervisor (termasuk supir*) dr institusi 4. Foto copy: poposal,suratmenyurat, buku panduan, dafar tilik, form pengkajian, form penilaian. 5. Dan lain-lain***

Sebelum membuat rancangan: Lakukan pengkajian terlebih dahulu (??) Melalui pengkajian akan didapatkan status kemampuan awal peserta didik sehingga akan membantu menetapkan tujuan pembelajaran Tidak semua mahasiswa harus mendapatkan proses pembelajaran yang sama walaupun tujuan akhir dari pembelajarannya sama (mengapa?)

Pengajaran merupakan terjemahan dari : instruction atau teaching Instruction (C0rrey dalam Rohani 1995) merupakan: Bagian dari pendidikan yang merupakan suatu proses dimana lingkungan seseorang dengan sengaja dikelola agar memungkinkan orang tersebut dapat belajar melakukan hal tertentu atau memberikan respon terhadap situasi tertentu pula

Dalam melaksanakan pembelajaran, seorang dosen atau pengajar di lahan praktik yang sering disebut instruktur klinik berperan sebagai: 1. perancang dan 2. pengembang model pembelajaran 3. Sekaligus sbg pengelola atau pelaksana.

Instruktur klinik perlu memiliki: 1. Pengetahuan 2. Sikap, 3. Keterampilan khusus dan 4. Hal-hal atau materi yang akan disampaikan 5. Memahami tentang konsep perencanaan pembelajaran yang akan digunakan

Hunt dalam Majid (2005) ada beberapa model persiapan mengajar diantaranya: Model ROPES dan satuan pelajaran

1.
2. 3.

4.
5.

Review, Overview, Presentation, Exercise ,dan Sumarry

Model ini cocok diadopsi untuk pembelajaran klinik

Model ROPES : 1. Review Pengulangan tentang kegiatan yang akan dilakukan. 2. Overview Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan. 3. Presentation Mendemontrasikan tindakan yang akan dilakukan. 4. Exercise atau latihan Melakukan tindakan kebidanan di bawah supervisi instruktur klinik. 5. Summary Membuat rangkuman dari pembelajaran yang telah berlangsung

Kekurangan dari model ROPES adalah :

Tidak mencantumkan aspek evaluasi Padahal melalui evaluasi instruktur klinik dapat mengetahui kemampuan mahasiswanya. Akan tetapi tahap summary bisa dimodifikasi menjadi tahap evaluasi.

Model SATUAN PELAJARAN (Satpel) adalah model yang sering dipilih oleh kebanyakan pendidik karena polanya yang baku

Tahapan SATPEL 3 bagian yaitu 1. Tahap awal: Pendahuluan dan apersepsi yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa. 2. Tahap kedua merupakan kegiatan inti yaitu penyampaian materi dan pemberian bimbingan terhadap mahasiswa. 3. Tahap terakhir merupakan kegiatan penutup yang biasanya ditandai dengan Membuat rangkuman atau melaksanakan evaluasi untuk materi yang telah dipelajari.

Kegiatan di lahan praktik memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk terampil dalam menerapkan teori pada praktek klinik dengan sikap dan keterampilan profesional yang ditumbuhkan dan dibina melalui pengalaman dalam pengambilan keputusan klinik, yang merupakan penerapan secara terintegrasi kemampuan penalaran saintifik dan penalaran etik (Husin, 1992).

Menurut Schweek and Gebbie (1996) praktik klinik merupakan the heart of the total curriculum plan . Unsur yang paling utama dalam pendidikan kebidanan adalah bagaimana proses pembelajaran dikelola di lahan praktek Perlu disiapkan panduan pembelajaran klinik bagi mahasiswa dan juga bagi pembimbing atau instruktur klinik agar dapat melakukan asuhan kebidanan yang menitikberatkan pada kualitas melalui terciptanya suatu lingkungan belajar yang sarat dengan model peran (role model)

Melalui tahap pendidikan profesi diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan profesional.

Pada tahap profesi, pendidikan disusun berdasarkan : (1) Penguasaan ilmu pengetahuan & teknologi kebidanan. Pada tahap ini peserta didik dan perseptor harus memahami dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan yang diperlukan dalam melaksanakan asuhan kebidanan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan,

(2) Menyelesaikan masalah secara ilmiah, maksudnya peserta didik dituntut untuk mampu memecahkan masalah secara langsung saat berhubungan dengan pasien/klien dalam membantu memenuhi kebutuhannya melalui tahapan proses kebidanan,

(3) Sikap dan tingkah laku profesional yang dituntut dari seorang bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan dan kehidupan profesi meliputi penumbuhan dan pembinaan kemampuan berfikir, bersikap dan bertindak profesional melalui suatu lingkungan yang sarat dengan model peran (role model),

(4) Belajar aktif dan mandiri yang dapat dicapai selama pembelajaran klinik antara lain dengan membuat laporan pendahuluan, presentasi kasus dan seminar hasil dan kegiatan lainnya yang menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri dan

(5) Pendidikan berada di masyarakat atau pengalaman belajar yang dikembangkan di masyarakat (community based learning) yang dapat menumbuhkan dan membina sikap dan keterampilan para mahasiswa di masyarakat.

Untuk mencapai kompetensi di atas, maka disusunlah: Kurikulum pendidikan profesi seperti Kurikulum D3 Kebidanan, D4 Kebidanan

Pembelajaran di lahan praktik atau praktik klinik diharapkan menjadi: Kesempatan untuk menerapkan teori yang dipelajari di kelas ke dalam praktik profesional. Mahasiswa diharapkan lebih aktif dalam setiap tindakan sehingga akan menjadi orang yang cekatan dalam menggunakan teori tindakan. Praktik profesional di bidang pelayanan kebidanan mencakup banyak hal diantaranya keputusan klinis yang berasal dari teori, hukum, pengetahuan, prinsip dan pemakaian keterampilan khusus. Bidan menerima klien sebagai makhluk hidup yang unik dan mandiri dengan hak-hak yang tidak dapat dipisahkan !

Pelaksanaan pembelajaran klinik terkait erat dengan peran pengajar pada lingkungan klinis yang bertujuan untuk: MENDORONG KEMANDIRIAN DAN KEPERCAYAAN DIRI MAHASISWA !! BUKAN mendukung berkembangnya ketergantungan dan kepercayaan terhadap pengajar

Kemampuan mahasiswa selama pembelajaran di klinik sangat dipengaruhi oleh KEMAMPUAN DAN PENGALAMAN INSTRUKTUR KLINIK.

Di beberapa negara bagian di Australia dan di Amerika instruktur klinik dikenal dengan istilah PERSEPTOR. Sehingga metode pembelajaran klinik yang dikembangkan dikenal dengan istilah metode PERSEPTORSHIP

(1) experiential : meliputi penugasan klinis, tugas

tertulis, simulasi dan permainan, (2) pemecahan masalah: meliputi situasi pemecahan masalah, & situasi pembuatan keputusan, (3) konferensi: biasanya terdiri dari konferensi prapertemuan, pascapertemuan, dan jenis pertemuan klinis lainnya serta pertemuan kebidanan multi disiplin, (4) observasi: meliputi observasi di lingkungan klinis, kunjungan lapangan atau home visit , ronde kebidanan, dan peragaan,

(5) multimedia: biasanya terkait dg keragaman media yang digunakan dalam penyampaian materi misalnya:
- bentuk visual seperti slide dan film strip, - bentuk auditori seperti videotip dan dg menggunakan model atau objek lain untuk dimanipulasi, - model cetakan seperti: hand out, pamplet, buku ajar, buku kerja/buku panduan serta instruksi terprogram, - jenis media bukan cetakan seperti kaset/audiotif, komputer, film, film loop, film streep, model, overhead trasparansi, fotografi, objek nyata, slide, televisi, videotip,

(6) self directed yaitu: seperti kontrak

pembelajaran, pembelajaran sendiri, dan


(7) preceptorship dan model lain dari praktik klinik terkonsentrasi.

Watt (1990): Pengajar klinik yang lebih dikenal sebagai instruktur klinik atau clinical instructur (CI) atau digunakan juga istilah perseptor Biasanya berasal dari lahan praktik, tetapi bisa juga berasal dari institusi apabila pembimbing dari lahan praktik tidak dapat memenuhi kriteria yang disyaratkan. Karakteristik pengajar klinik (clinical instructure)?

Sebagai perseptor, bidan bertanggung jawab terhadap SEMUA tindakan mahasiswa selama pembelajaran di lahan praktik. Bidan juga harus membuat Pembatasan Kewenangan yang jelas dan spesifik tentang asuhan kebidanan yang menjadi tanggung jawab mahasiswa dan tanggung jawabnya

1. Pengajar klinik harus tetap mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan klinis terbaru Menganalisa teori-teori, mengumpulkan dari berbagai sumber, dan Menekankan pemahaman konseptual pd peserta didik. Membantu peserta didik dalam menghubungkan teori yang melandasi praktik kebidanan. Mampu menyampaikan atau mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Memperlihatkan kompetensi klinis, keahlian, dalam keterampilan dan pertimbangan klinis, dan sikap serta nilai-nilai yang dikembangkan oleh peserta didik

2. Pengajar klinik sebaiknya menguasai keterampilan dasar mengajar sebagaimana layaknya seorang pengajar atau dosen kelas Keterampilan ini terkait dg kemampuan pengajar untuk bertanya, menjelaskan, memberi penguatan, mengadakan variasi, mengelola kelas dan membimbing diskusi. Semua keterampilan di atas akan tercermin dlm sikap pengajar saat: - mendiagnosis kebutuhan pembelajaran, - merencanakan instruksi, - melakukan supervisi pada peserta didik di dalam lingkungan klinis, dan - melaksanakan evaluasi pembelajaran.

Kondisi lainnya tergambar dalam cara pengajar menyampaikan informasi dalam susunan yang teratur, memberi penekanan pada hal-hal yang penting, memberikan penjelasan dan pengarahan dengan jelas dan singkat sehingga mudah dipahami, mengajukan pertanyaan yang dapat memfasilitasi pembelajaran meningkatkan kemandirian peserta didik memberikan umpan balik langsung yang positif terhadap kemajuan peserta didik

3. Pengajar klinik sebaiknya mempertahankan

hubungan harmonis dg cara membentuk hubungan interpersonal dengan peserta didik, yang ditandai dengan adanya kehangatan, rasa saling menghormati, prilaku penuh perhatian, memberi perhatian, dan bersikap lebih terbuka
Jika hubungan tdk harmonis??

Hubungan yang kurang harmonis antara keduanya dapat menyebabkan situasi dan kondisi pengajaran yang tidak kondusif. Akhirnya tentu berdampak pada transfer ilmu yang tidak optimal sehingga pencapaian kompetensi pun dapat terhambat. Hubungan ini juga dapat dijalin dengan cara memberikan dukungan, dorongan, dan mendengarkan dengan seksama serta menghargai hak peserta didik untuk menolak, bertanya, dan mengekspresikan pendapat sendiri dan dapat menerima perbedaan diantara peserta didik.

4. Terkait dengan karakteristik personal yang harus dimiliki pengajar klinis yaitu dinamis dan antusias, memiliki rasa humor, ramah, kooperatif, sabar dan mau serta mampu mengakui kesalahan dan keterbatasan yang dimilikinya.

Pembelajaran klinik bagi mahasiswa kebidanan di rumah sakit dilakukan secara kolaborasi antara: 1. perseptor atau instruktur klinik yang berasal dari institusi pendidikan dan 2. perseptor yang berasal dari lahan praktik yang diperbantukan untuk mengajar mahasiswa selama pembelajaran klinik.

(1) mengorientasikan mahasiswa yang praktik terkait (2)

(3)
(4) (5)

dg prosedur-prosedur & kebijakan di lahan praktik, berperan menjadi seorang praktisi klinis, guru sekaligus pementor, melaksanakan supervisi terhadap mahasiswa selama berada di lahan praktik, memperbaiki kemampuan mahasiswa untuk mendukung perencanaan dan tindakan kebidanan, memberi masukan & membantu serta mendorong kemampuan mahasiswa utk tujuan klinis,

(6) berkordinasi dengan institusi pendidikan untuk membahas masalah-masalah yg muncul selama pengajaran klinik, (7) memberikan pendelegasian utk menjaga halhal tdk diharapkan saat perseptor tdk dpt mendampingi mahasiswa selama pengajaran klinik, (8) mendokumentasikan perkembangan mahasiswa selama pengajaran sbg bahan utk evaluasi, (9) Memberikan laporan tertulis pd institusi sbg bahan evaluasi pd akhir pembelajaran klinis.

Nuhun...