Anda di halaman 1dari 10

PENTINGNYA MENUNTUT ILMU SEPANJANG HAYAT

Oleh : Nama NIM Kelompok AAI Jurusan : Avrina Kumalasari : M0311015 : : Kimia

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal yang pokok yang harus didapatkan oleh setiap manusia. Pendidikan dilaksanakan dalam rangka memperoleh ilmu yang bermanfaat, yang bisa membawa perubahan positif bagi masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Ilmu yang bermanfaat haruslah diamalkan demi kemajuan bersama. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, kita pun juga harus menuntut ilmuilmu bermanfaat yang telah banyak ditemukan oleh penemu-penemu dunia. Untuk itu menuntut ilmu sepanjang hayat sangatlah penting untuk lebih mengetahui tentang kebesaran Sang Pencipta, Allah SWT.

PENTINGNYA MENUNTUT ILMU SEPANJANG HAYAT A. Pendidikan Islam Pendidikan pada umumnya diidentikkan dengan suatu lembaga pendidikan formal yaitu TK, SD, SMP, SMU sampai Perguruan Tinggi, sedangkan lembaga pendidikan non formal contohnya PAUD, Paket A-C, lembaga-lembaga kursus dan lain-lain. Namun sesungguhnya, pendidikan itu tidak hanya didapat dari sebuah lembaga pendidikan yang sudah disebutkan di atas. Seluruh fase kehidupan di dunia ini adalah proses pendidikan bagi manusia yang mau berfikir. Sejak dalam rahim, seorang bayi telah belajar banyak hal. Salah satunya seperti merasakan, bergerak, melihat juga mendengar. Begitu pula ketika lahir ke dunia. Secara refleks bayi tersebut belajar bernafas, menangis, menyusu. Seiring perkembangannya, bayi tersebut belajar berjalan, melompat, berbicara, dan sebagainya hingga menjadi manusia yang dewasa. Kata pendidikan menurut Suwaid (2004 : xvii) memiliki 3 kata dasar yaitu dari kata rabaa-yarbuu (bertambah dan berkembang), rabaa-yarbii (tumbuh dan mekar), rabba-yarabbu (memperbaiki dan mengurus suatu perkara). Dalam UUSPN No.20 tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, setrta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah (Azyumardi Azra, 1998:5). Pendidikan Islam merupakan proses bimbingan kepada peserta didik secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan potensi fitrahnya untuk mencapai kepribadian Islam berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Islam menaruh perhatian yang sangat terhadap pendidikan. Islam memberikan model pendidikan yang integralistik (terpadu). Konsep pendidikan Islam bersumber pada Al-Quran , Al-Hadits dan pendapat ulama pendidikan. SWT kepada Muhammad SAW

B. Tujuan Pendidikan Islam Sultan (tt, 90) menyebutkan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut : 1. Tujuan intelektual atau keilmuan : mengembangkan kemampuan intelektual dan memiliki daya nalar dan sikap kritis yang tinggi. 2. Tujuan moral : untuk menciptakan manusia yang memiliki akhlak yang luhur dan mejunjung nilai-nilai luhur kemanusiaan. 3. Tujuan agamis : membuat misi penegakkan agama untuk mempersiapkan kaderkader muslim agar siap mempertahankan negara sekaligus menyiarkan agama. 4. Tujuan spiritual : mengembangkan karakter kejiwaan yang Islami secara individu dan sosial. 5. Tujuan jasmaniah : memperhatikan kesehatan serta penampilan jasmani manusia.

C. Pentingnya Menuntut Ilmu dalam Islam 1. Pengertian Ilmu Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari alimayalamu yang berarti tahu atau mengetahui. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang pengetahuan itu. Dalam konteks ajaran Islam, ilmu yang dimaksud adalah sebuah disiplin yang disusun ulang dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologi, strategi, data, masalah, objek serta setiap aspirasinya agar sesuai dengan Islam dalam rangka membentuk tauhid.

2. Klasifikasi Ilmu dalam Islam Para ulama mengklasifikasikan ilmu menurut sudut pandang masing-masing. Syech Zarnuji dalam kitab Taliimu Al Mutaalim mengatakan : ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntut segala ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntun ilmu perbuatan (ilmu Al hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baiknya ilmu adalah perbuatan dan sebagus-bagus amal adalah menjaga perbuatan. Sementara Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikaskan ilmu dalam dua kelompok: a. Ilmu fardu Ain Ilmu fardu Ain. Ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib. Maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu fardu ain. (1979: 82). Ilmu fardu ain ialah ilmu agama dengan segala cabangnya seperti yang tercakup dalam Rukun Islam. b. Ilmu Fardu Kifayah Ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakkan urusan duniawi (1979:84). Ilmu fardu kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha menegakkan urusan dunia.

3. Karakteristik Islam dalam Memperdalam Ilmu a. Lengkap Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim : 24-25) Dalam ayat di atas menjelaskan perumpamaan kepribadian kita yang akan dibentuk. Diharapkan memiliki kepribadian yang kokoh, tahan banting dan berguna bagi orang lain. Fisik, hati, dan akal tumbuh secara seimbang dan berkembang baik.

b. Step by step Dalam belajar memerlukan proses, setahap demi setahap seperti yang termaksud dalam surat Az-Zumar : 6 Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? c. Continue (Istimrarriyah) Dalam mencari ilmu atau belajar pasti mengalami pasang surut karena berkanaan dengan keimanan kita. Oleh karenanya perlu dijaga secara continue dengan sholat lima waktu dan sunah-sunah lainnya. d. Penuh kesungguhan (Jiddiyah) Dalam mencari ilmu haruslah bersungguh-sungguh dan jangan setengahsetengah agar mendapatkan berkah dari Allah SWT.

4. Nilai dalam Menuntut Ilmu dan Mengamalkannya Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW: Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. (HR. Ibn Abdulbari) Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala permasalahan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup. Nabi Muhammad SAW bersabda: Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat wajiblah ia mengetahui ilmunya pula dan barang siapa yang meginginkan kedua-duanya wajiblah ia memiliki ilmu kedua duanya pula (HR. Bukhari dan Muslim). Banyak ayat-ayat Al-Quran yang mendorong umat Islam untuk mencari ilmu. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orangorang yang mendustakan (rasul-rasul). (Ali-Imran :137)

Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"(Al-Kahfi:66) Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114) Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah :122) Dalam At-Taubah :122 telah dijelaskan dalam kondisi perang pun umat Islam dilarang untuk pergi semuanya ke medan perang, tetapi sebagian dari mereka menuntut ilmu agar dapat memberi peringatan yaitu pesan-pesan Allah kepada umat. Imam Malik mengatakan : Ilmu itu datang dari lingkungan kalian. Jika kalian memuliakannya, ia jadi mulia. Jika kalian merendahkannya, ia jadi hina. Ilmu harus didatangi buakan mendatangi. Jadikan menuntut ilmu menjadi semangat meraih cinta Allah SWT.

Syariat Islam juga menekankan bahwa ilmu harus memiliki peran bagi kehidupan di masyarakat. Ilmu harus diamalkan untuk kebaikan yaitu untuk memudahkan hidup manusia dan mengabdi kepada Allah , Yang Maha Berilmu. Manusia akan berdosa jika ia menjadikan ilmu sebagai alat untuk merusak moral, perilaku dan kehidupan manusia, karena itulah Al-Quran member peringatan

agar orang beriman dan berilmu hendaknya melakukan amal shaleh seperti dalam surat Al-Ashr: 1-3 Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Hadis dari Nabi SAW : Sesungguhnya orang mumin yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90) Mengingat pentingnya penyebaran ilmu kepada manusia atau masyarakat agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi manusia yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda Nabi: Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka.(HR Ahmad). Nilai yang sangat tinggi yang dapat kita peroleh dalam menuntut ilmu, sabda Nabi Muhammad SAW: Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun. Menuntut ilmu sendiri sangat tinggi nilainya dilihat dari segi

ibadah dikarenakan amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Menurut Syaikh Ibnu Ruslan : Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima. Nabi diutus ke dunia ini pun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya: Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar.(HR. Baihaqi).

5. Kedudukan Ilmu dan Orang yang Beriman dan Berilmu Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Terlihat dari banyaknya ayat Al-Quran yang memandang orang berilmu dalam posisi yang

tinggi dan mulia di samping hadits-hadits Nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Dr.Mahadi Ghulsyani(1995:39) mengemukakan: Salah satu ciri yang

membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al-Quran dan as-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mujadalah: 11, yang artinya Hai orangorang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan seseorang akan mendorong untuk menuntut ilmu dan ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia di hadapan Allah sehingga dia akan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

D. Pentingnya Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ). Sedangkan R.S. Peters, dalam bukunya sendiri "The Philosophy of Education", ia menandaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat. Dalam hal ini ada banyak hal yang melandasi pentingnya menuntut ilmu sepanjang hayat, diantaranya : 1. Membentuk kepribadian Islami yang ideal.

Pribadi Islami adalah pribadi yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai unsureunsur pembentuk kepribadiannya sehingga ia benar-benar mencerminkan keislamannya. Pendidikan yang Islami diharapkan mampu membentuk sosok muslim yang ideal yang mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara Kaffah atau keseluruhan. Ciri seorang muslim yang ideal : 1. Benar aqidahnya : percaya dan yakin sepenuhnya pada Allah SWT. 2. Benar Ibadahnya : meniatkan semua ibadah dan aktivitas karene Allah SWT. 3. Kokoh akhlaknya: sesungguhnya yang paling sempurna imannyadari orangorang mukmin adalah yang paling baik akhlaknya. (Hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Huroiroh). 4. Berwawasan luas 5. Kuat fisiknya : mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah, pada keduanya ada kebajikan. (HR.Muslim). 6. Mandiri kehidupannya 7. Bermanfaat bagi orang lain 8. Menjaga waktu dengan sungguh-sungguh 9. Bersungguh-sungguh mengendalikan hawa nafsunya 10. Teratur dalam urusan 2. Membentuk jiwa kebersamaan Amal yang dikerjakan bersama akan mempunyai kekuatan yang luar biasa dibanding dengan kerja sendirian. Ketika suatu masalah dipikirkan dengan satu kepala saja hasilnya tidak akan sebaik jika banyak kepala yang menyelesaikannya. Untuk itu diperlukan teman, guru, orang tua, orang lain yang dapat mendukung kita. Inilah yang dapat membangun jiwa kebersamaan. 3. Membentuk kepribadian magnetis Maksudnya pribadi seorang muslim seperti magnet yang dapat mengajak atau menarik orang ke jalan yang benar. Mengajak dalam syariat Islam yang memiliki pemahaman yang benar dan luas, iman yang mantap dan hubungan yang kokoh

dengan Allah sehingga mampu melaksanakan amal islami dan mampu memikul beban yang dihadapi. 4. Mengembangkan potensi individu Hendaknya kita mampu selalu meningkatkan potensi yang ada dalam diri kita dan mengembangkan softskill, salah satu caranya dengan mengikuti organisasi. Dengan demikian kita siap menjadi problem solver atas tiap masalah yang kita hadapi. 5. Memberdayakan dan mengarahkan potensi individu Dengan ilmu yang kita pelajari, kita bisa memberikan kontribusi terbaik kita untuk masyarakat, negara dan agama kita yang dapat semakin mendekatkan kita kepada Allah dan mengakui kebesaranNya.

PENUTUP Menuntut ilmu sepanjang hayat serta mengamalkan ilmunya untuk hal-hal yang positif wajib bagi kita seorang muslim dengan niatan untuk memperoleh berkah dan ridho-Nya. Dengan ilmu yang kita miliki, kita dapat mengetahui kebesaran Allah SWT sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta dapat mengajak orang untuk menuju jalan-Nya. DAFTAR PUSTAKA http://afika.blog.fisip.uns.ac.id/2010/12/17/long-live-education-in-islam/ Taufiq, Ahmad dkk.2011.Pendidikan Agama Islam.Surakarta: Yuma Pustaka bekerjasama dengan UPT MKU UNS. Tim Biro AAI UNS.2011.Buku Panduan dan Monitoring Asistensi Agama Islam. Surakarta: Yuma Pustaka bekerjasama dengan UPT MKU UNS.