Anda di halaman 1dari 31

TUGAS PAPER MANAGING DISASTER PADA DATA CENTER

KELOMPOK : 7 Nama : Ardiyanto Kartika Sari Putri Leni Gustini Susanti Kusuma Wendy 1501167273 1501172121 1501166301 1501192470 1501153993

06 PJM

Abstrak
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk memberikan wawasan kepada pembaca akan pentingnya penempatan data center di perusahaan yang sebenarnya dapat berakibat langsung bagi perusahaan itu sendiri. Seperti kita ketahui bahwa bencana dapat terjadi kapanpun dan dimanapun baik bencana alam ataupun bencana yang dapat ditimbulkan oleh manusia. Dan dapat disadari juga di Indonesia pada abad ini sering sekali terjadi bencana bencana, terutama bencana alam yang sering terjadi adalah banjir dan gempa juga bencana bukan alam seperti kebakaran. Banyak perusahaan yang mengalami kesusahan karena kehilangan data center mereka, dan dapat mengakibatkan kebangkrutan. Maka dari itu, alangkah lebih baik jika perusahaan memiliki disaster recovery center untuk merecovery bagian penting dan yang menjadi utama bagi penunjang proses bisnis mereka sehingga cadangan data center dapat digunakan ketika data center utama terkena bencana. Tentunya sudah sangat disadari bahwa data center sangat penting bagi perusahaan karena merupakan tulang punggung dari segala kegiatan bisnis. Metode analisa yang digunakan adalah metode pengumpulan data melalui artikel dan e-journal yang dapat ditemukan dengan pencarian menggunakan internet. Data tersebut dikumpulkan dan dicari kebenarannya untuk dituangkan kedalam paper ini. Juga dilihat keberadaannya disalah satu perusahaan sebagai contoh dalam penulisan paper ini.

Kata kunci : data center, disaster recovery, analisa

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Informasi merupakan bagian terpenting dalam menjalankan suatu bisnis sehingga kebutuhan informasi terhadap suatu bisnis tidak akan pernah berhenti digunakan. Tingkat kebutuhan informasi yang tinggi dan tingginya nilai informasi menyiaratkan agar informasi harus tersimpan dalam suatu sistem yang keamanannya terjamin dari segala gangguan. Informasi akan selalu dipakai apabila dibutuhkan, bahkan sepanjang karir seseorang. Sebagai salah satu contohnya adalah disaster yang terjadi pada salah satu Bank swasta di Indonesia. Banyak Bank swasta yang eksis di bumi Indonesia ini, salah satunya adalah Bank Central Asia (BCA) yang secara resmi berdiri pada tanggal 21 Febuari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV tbk. Direktur Utama BCA dari tahun 1999 hingga sekarang adalah masih Bpk.Djohan Emir Setijoso. Pada krisis moneter pada tahun 1997 BCA mengalami krisis kepercayaan oleh masyarakat Indonesia, sehingga pada tahun itu banyak masyarakat Indonesia yang menarik uangnya dari BCA. Oleh karena krisis tersebut BCA meminta bantuan kepada pemerintah Indonesia : Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk menyuntikan dana agar BCA tidak gulung tikar, akhirnya pada tahun 1998 BPPN mengambil alih BCA. Dengan kebijakan tersebut BCA mampu bangkit dari krisis pada tahun yang sama dengan mengembalikan tingkat kepercayaan masyarakat kepadanya, sebelum krisis asset utama BCA mencapai Rp. 53.36 triliun sedangkan setelah krisis asset BCA semakin bertambah besar yakni Rp 67.93 triliun. Hingga sekarang (2010) BCA selalu memberikan pelayanan yang baik dan selalu memberikan inovasi-inovasi, seperti ATM dan Setor Tunai menggunakan mesin. Dengan berbagai macam layanan produk dan jasa, BCA memproses lebih dari 3 juta transaksi perbankan setiap hari dan memiliki lebih dari 7 juta rekening nasabah yang dapat dilayani melalui delivery channels yang luas,814 cabang-cabang diseluruh Indonesia, 5.681 ATM, Mobile Banking serta klik BCA. Didukung oleh 20.322 karyawan, visi BCA adalah menjadi bank pilihan dan menunjang pilar ekonomi Indonesia.

Dengan banyaknya fasilitas yang di miliki dan ditawarkan oleh BCA, sudah barang tentu manajemennya harus baik dan rapih, khususnya adalah mengenai Database. Kita bisa memperkirakan berapa banyak data yang masuk tiap harinya, dan 1 milyar setiap tahunnya (3.000.000 x 360 = 1.095.000.000) Dengan banyaknya data yang harus disimpan dan diload setiap harinya, maka tidaklah mungkin BCA menggunakan system database konvensional, untuk mengatasi masalah ini BCA harus menggunakan database yang terdistribusi untuk menunjang fasilitas yang ditawarkan dan dimiliki agar proses bisnis tetap berjalan dengan lancar.

1.2 Ruang Lingkup Ruang lingkup dari penulisan paper ini akan di batasi pada pentingnya recovery data center dan tujuan serta manfaatnya juga digambarkan oleh contoh recovery data center di Bank Central Asia (BCA) dan Tespen

1.3 Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah : 1. Melakukan analisis mengenai IT Disaster dan Pemulihannya. 2. Mengetahui resiko yang ditimbulkan dari disaster data center Manfaat yang bisa diperoleh dari penulisan paper ini adalah : 1. Dapat mengetahui bagaimana pemulihan recovery yang baik. 2. Meminimalkan resiko terjadinya IT Disaster

1.4 Metodologi metodologi akan menekankan pada aspek-aspek sebagai berikut: 1. Memberikan gambaran yang jelas kepada manajemen mengenai besarnya usaha yang harus dilakukan dalam merencanakan, mengembangkan, dan memelihara sebuah DRC. 2. Menggalang komitmen penuh dari seluruh manajemen dan karyawan di berbagai lapisan organisasi untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pengembangan DRC. 3. Mendefinisikan kebutuhan recovery dipandang dari berbagai perspektif bisnis

4. Memperlihatkan dampak kerugian yang akan diderita perusahaan jika DRC tidak segera dibangun.

5. Memfokuskan diri pada pencegahan terjadinya gangguan dan mencoba untuk meminimalisasikan dampak negatif yang terjadi, walaupun tetap dipersiapkan berbagai usaha reaktif (recovery) seandainya gangguan tersebut benar-benar terjadi. 6. Memudahkan proses pemilihan anggota tim yang bertangung jawab di dalam proses pengembangan DRC.

7. Menghasilkan sebuah perencanaan recovery yang mudah dipahami, mudah diterapkan, dan mudah dipelihara.

8. Mendefinisikan secara jelas bagaimana keberadaan DRC tersebut terintegrasi secara baik dengan sejumlah entiti bisnis lain yang dalam keadaan normal tetap berjalan.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Disaster 2.1.1 Pengertian Disaster Disaster (bencana) didefinisikan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat merusak sehingga mengganggu operasional bisnis. Pengertian ini mengidentifikasi sebuah kejadian yang memiliki empat factor utama, yaitu: tiba-tiba, tidak diharapkan, bersifat sangat merusak, dan kurang perencanaan. Penyebab terjadinya bencana, antara lain: kebakaran, badai, banjir, perubahan suhu dan kelembapan yang sangat ekstrim, gempa bumi dan tanah longsor, kecelakaan lalu lintas, serta virus computer. 2.2 Disaster Management 2.2.1 Pengertian Disaster Management Serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang beresiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi (UU 24/2007).

Tujuan Disaste Management: 1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana. 2. Menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang telah ada. 3. Menjamin terselenggaranya penangglangan bencana terencana, terpadum terkoordinasi, dan menyeluruh. 4. Menghargai budaya local. 5. Membangun partisipasi dan kemitraan public serta swasta. 6. Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan. 7. Menciptakan perdamaian dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2.2.2 Disaster Management Model Disaster Management Continuum model Model tradisional, manajement bencana terjadi secara bertahap. Fokusnya lebih pada kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan secara/cepat.

Pre-during-post Disaster Model Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum bencana, selama bencana terjadi, dan setelah bencana. Sering digabung dengan continuum model.

Contract-expand Model Proses berkesinambungan, serangkaian kegiatan berjalan berdampingan, bisa ditingkatkan lagi atau tergantung pada permintaan dan kondisi.

The Crunch and Release Model o Manajement yang menekan upaya mengurangi kerentanan untuk mengatasi bencana o Bencana hanya bersifat trigger, kerentanan dipandang berasal dari proses sosio-ekonomi dan politik yang harus ditangani untuk pengurangan resiko bencana.

2.3 Disaster Recovery Plan 2.3.1 Pengertian Disaster Recovery Plan Disaster Recovery Plan (DRP) atau disebut Business Continuity Plan (BCP) atau Business Process Contigency Plan (BPCP) menjelaskan bagaimana suatu organisasi menghadapi bencana potensial. Disaster Recovery Plan menurut EC-Council adalah sebuah proses/kemampuan dari organisasi untuk menanggapi bencana atau gangguan dalam pelayanan melalui implementasi rencana pemulihan bencana untuk menstabilkan dan memulihkan fungsi kritis organisasi. Disaster Recovery Plan terdiri atas tiga perencanaan, yaitu: Perencanaan proteksi adalahperencanaan yang dibuat untuk mencegah terjadinya bencana, Perencanaan pengatasan bencana adalah perencanaan yang dibuat untuk mengurangi dampak dari bencana terhadap perusahaan, dan Perencanaan pemulihan adalah perencanaan yang dibuat untuk membantu perusahaan dalam melakukan pemulihan agar proses bisnis dapat berjalan kembali.

2.4 Data Center 2.4.1 Pengertian Data Center Menurut Newcombe (2010, p15) data center adalah lingkungan kompleks, tempat menyimpan peralatan TI. Daya listrik yang masuk ke data center harus melalui berbagai tahapan dari transformasi voltase, distribusi dan pembersihan sebelum masuk ke peralatan TI. Sebagian besar dari energi dalam fasilitas diubah menjadi panas. Oleh karena itu data center membutuhkan kapasitas mesin pendingin dalam sirkulasi udara. Juga terdapat banyak sistem pendukung dalam data center seperti pencahayaan, generator, sistem pemadam kebakaran, area pegawai yang membutuhkan listrik.

Gambar 2.1 Arus Energi Pada Data Center (Newcombe, 2010)

Gambar 2.1 menjelaskan arus energi berikut arus energi yang hilang dalam siklusnya. Dalam setiap tahapan rantai pengantaran energi, pasti terdapat kehilangan yang tidak mendasar seperti yang digambarkan dengan panah merah. Menurut Yulianti (2008, p11) data center merupakan fasilitas yang digunakan untuk penempatan beberapa kumpulan server atau sistem komputer dan sistem penyimpanan data (storage) yang dikondisikan dengan pengaturan catu daya, pengatur udara, pencegah bahaya kebakaran dan biasanya dilengkapi pula dengan sistem pengamanan fisik. Menurut Bullock (2009, p1) data center dikenal sebagai kumpulan server atau ruang komputer. Data center adalah ruangan di mana sebagian besar server dan penyimpanan data perusahaan terletak, beroperasi, dan diatur. Menurut Fadilah (2011, p38) terdapat beberapa difinisi umum tentang data center: (1) suatu struktur fisik, biasanya berupa bangunan khusus atau tersendiri, yang dirancang sebagai rumah untuk berbagai macam komputer, data center dapat melayani satu perusahaan saja atau beberapa perusahaan, (2) suatu fasilitas penyimpanan, pemeliharaan, dan membuat kempulan data tersedia untuk kegunaan berkelanjutan dan aktifitas mendatang, dan (3) sebuah fasilitas yang digunakan untuk merumahkan peralatan

elektronik dalam jumlah besar, biasanya komputer dan peralatan komunikasi. Data center adalah sebuah tempat aman untuk peralatan komputer, media penyimpanan, dan peralatan komunikasi serta jaringan yang digunakan untuk menyimpan, mendistribusikan, dan memelihara data dalam sebuah organisasi.

BAB III Pembahasan


Penyebab bencana bisa karenakan oleh alam atau kesalahan manusia sendiri. Jika disaster terjadi maka kita perlu mengatasi atau menanggulangi bencana yang telah terjadi, yang bisa disebut juga dengan Disaster Management. Disaster Management merupakan suatu kumpulan kegiatan penanggulangan bencana yang didalamnya terdapat beberapa fase, yaitu fase risk mitigation, preparedness, response, dan recovery.

Mitigation adalah aktivitas yang dilakukan untuk mengeliminasi / mereduksi kemungkinan terjadinya unexpected event, atau mereduksi akibat yang ditimbulkan. Mitigasi dilakukan berdsarkan dua aspek utama yaitu : 1. Mitigasi struktural Rekomendasi yang diberikan, meliputi segala sesuatu yang berbentuk fisik. Seperti perbaikan mesin. 2. Mitigasi non struktural Rekomendasi yang diberikan meliputi segala sesuatu yang tidak berbentuk dan biasanya pembahasanya mengenai sistem manajemen. Mitigasi non struktural meliputi aspek : - kelembagaan - prosedur

- peraturan perundang-undangan - perencanaan - pendidikan dan pelatihan - penelitian dan pengkajian - peningkatan kewaspadaan

Preparedness adalah aktivitas yang dirancang untuk meminimalisir kerugian dan kerusakan yang bersangkutan dengan aspek kehidupan, mengorganisir pemindahan secara sementara orang-orang serta properti dari lokasi yang terancam, dan memfasilitasi mereka secara tepat dan penyelamatan yang efektif, pemulihan dan rehabilitasi. Response adalah tindakan yang diambil sebagai tanggapan / reaksi terhadap terjadinya bencana. Recovery adalah tidakan - tindakan atau keputusan-keputusan yang diambil setelah bencana terjadi dengan maksud untuk memulihkan kondisi kehidupan masyarakat yang terkena bencana.

Bencana sendiri tidak bisa dihindari oleh siapapun, namun disaster bisa diminimalisir atau dicegah agar resiko terjadinya bencana menjadi kecil. Untuk mencegah resiko - resiko tersebut, dapat dilakukan dengan menyusun rencana pemulihan bencana (Disaster Recovery Plan / DRP). Dan didukung dengan dukungan DRC (Disaster Recovery Center) yang berfungsi sebagai tempat/area penyimpanan serta pengolahan data dan informasi pada saat terjadinya bencana yang mengakibatkan Data Center mengalami gangguan atau kerusakan. Sehingga memerlukan waktu yang lama untuk melakukan pemulihan.

Berikut merupakan skema dari Data Center dan Disaster Recovery Plan

DCP sendiri menjelaskan bagaimana cara perusahan menghadapi bencana potensial Komponen-komponen yang ada di DCP adalah : Bussines Impact Analysis Bagian dimana suatu bisnis menganalisa sejauh mana ketergantungannya terhadap penggunaan TI Risk Assesment Bagian ini mengidentifikasi semua ancaman yang dapat terjadi dan dapat menimbulkan kerusakan Recovery Strategy Kegiatan mendefinisikan strategi pemulihan yang mencakup penyediaan fasilitas fisik maupun teknologi - teknologi pendukung

Disaster Recovery Organization Model dan struktur organisasi yang berwenang dalam semua kegiatan pemulihan bencana Disaster Recovery Procedures Prosedur-prosedur standar yang mengatur semua aktifitas sebagai respon terjadinya bencana hingga pemulihan kembali Disaster Recovery Center Komponen terpenting dalam DRP yang mendefinisikan kebutuhan dan spesifikasi teknis dari DRP Prosedur Disaster Recovery Plan merupakan penjabaran secara teknis tentang langkah-langkah dari kegiatan recovery. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahap ini adalah : 1. Reduction/Readiness/Prevention adalah kegiatan yang lakukan untuk mereduksi

dampak bencana terhadap sistem yang bersifat kritikal yang digunakan dan persiapan tentang segala hal yang diperlukan untuk melindungi sistem tersebut terjadi bencana. pada saat

2.

Response, merupakan kegiatan yang harus dilakukan pertama kali pada saat

terjadi bencana. Kegiatan ini biasanya berupa penaggulangan terkait dengan bisnis atau BCP, ditambah dengan proses analisis dampak bencana serta pengambilan keputusan mengenai kegiatan apa yang harus dilakukan untuk melakukan penanggulangan terhadap sistem IT yang bersifat kritikal berdasarkan dampak bencana yang timbulkan.

3.

Recovery, merupakan kegiatan untuk memulihkan fungsi sistem IT yang bersifat

kritikal dengan kapasitas yang sama atau kurang dari kapasitas sistem tersebut pada kondisi normal. Biasanya hasil dari kegiatan ini merupakan pemulihan sistem yang bersifat sementara, dimana akan ada kegiatan untuk mengembalikan fungsi sistem IT yang bersifat

kritikal tersebut dengan kapasitas yang sama dengan kapasitas sistem normal sebelumnya. Strategi recovery tertentu yang diputuskan bisa diterapkan pada seluruh sistem IT yang bersifat kritikal yang terkena dampak dari bencana. 4. Restoration/Normalization merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk

mengembalikan sistem IT yang bersifat kritikal beserta sistem pendukungnya pada fungsi dan kapasitas minimal, seperti sebelum terjadinya bencana. Konsep-konsep pemulihan: Recovery Point Objective (RPO) Merupakan sebuah nilai dalam suatu waktu yang menindikasikan seberapa lama perusahaan dapat mentoleransi kehilangan data. Recovery Time Objective (RTO) Merupakan sebuah nilai dalam suatu waktu yang menindikasikan seberapa lama teknologi informasi dapat dipulihkan. Maximum Tolerable Downtime (MTD) atau Maximum Allowable Outage (MAO), Nilai yang mengidentifikasikan berapa lama suatu perusahaan mampu untuk kehilangan sebuah proses bisnis Work Recovery Time (WRT) Batasan waktu yang diperlukan untuk: - Memulihkan data back-up ke dalam aplikasi - Memasukkan kembali semua data hasil backlog ke dalam aplikasi - Memasukkan kembali semua data yang muncul selama kedua atas berlangsung ke dalam aplikasi proses di

Disaster Recovery Center (DRC) merupakan suatu fasilitas dalam perusahaan yang berguna untuk mengambil alih fungsi suatu unit ketika terjadi gangguan serius yang terjadi pada satu atau beberapa unit kerja penting didalam perusahaan. Seperti pusat penyimpanan dan pengolahan data dan informasi. Ada 3 jenis DRC yang sesuai dengan kondisi alokasi anggaran masing-masing perusahaan sesuai dengan kemampuan finansialnya , yaitu :

Cold DRC Cold DRC adalah jenis yang paling lama (25 % ready) akan meyediakan sistem yang sama seperti yang berada di data center. Dimana aplikasi dan data akan unggah sebelum fasilitas DRC bisa digunakan, tetapi proses pemindahan dari data center ke lokasi DRC dilakukan secara manual

Warm DRC Warm DRC adalah tipe DRC yang standard (50 % ready), akan menyediakan komputer dengan segala komponennya, aplikasi, link komunikasi, serta backup data yang paling update, dimana sistem tidak secara otomatis berpindah, tetapi masih terdapat proses manual meskupun dilakukan seminimal mungkin.

Hot DRC Hot DRC merupakan tipe DRC yang paling cepat (90 % ready) yang mengatur secepat mungkin operasional bisnis, sistem aplikasi, link komunikasi yang sama sudah di pasang dan sudah tersedia di lokasi DRC. Data secara terus menerus di backup menggunakan koneksi antara data center dan lokasi DRC, dan operasional bisnis akan berjalan pada saat itu juga, tanpa harus mematikan sistem didata center lama.

Keandalan dan kesuksesan suatu layanan pusat data bergantung pada pemenuhan beberapa syarat sebagai berikut: a. fasilitas infrastruktur yang didesain dan dibangun berdasarkan standar yang sesuai dan praktik terbaik untuk mencapai operasi yang efisien dan dapat andalkan b. teknik manajemen yang menerapkan protokol dan prosedur operasi yang menjamin operasi pusat data yang dapat diandal dan efisien c. perencanaan pemulihan bencana yang memiliki prosedur yang telah ditetapkan dan teruji untuk menghadapi setiap kejadian yang mengganggu operasi data pusat dan memiliki suatu program pemulihan.

Persyaratan Bangunan dan Arsitektur: a. Ruang komputer tidak berada dibawah area perpipaan ( plumbing ) seperti kamar mandi, toilet, dapur, laboratorium dan ruang mekanik kecuali apabila sistem pengendalian air telah disiapkan. b. Tiap jendela ruang komputer yang menghadap sinar matahari harus ditutup untuk mencegah panas. c. Bangunan harus memiliki area bongkar muat yang memadai untuk menangani keluar - masuk barang/peralatan. Contoh Penggunaan Data Recovery Center : 1. Bank BCA Bank BCA memisahkan antara data center dan disaster recovery center (DRC)-nya. Sistem DRC telah dimiliki BCA sejak tahun 1989. Pada tahun 2002, sistem DRC ini ditempatkan di Singapura dan dipercayakan kepada IBM untuk pengelolaannya. Bank BCA memelihara kualitas data center yang berstandar internasional dengan didukung oleh

business continuity plan dan disaster recovery center yang beroperasi secara real time. BCA menggunakan Hot DRC yang berada di Singapura untuk menjamin kontinuitas bisnis. Data dikirim secara berkala dari pusat data BCA ke situs DRC dengan menggunakan sambungan VSAT dan Frame Relay. Masing-masing dengan kapasitas 2 Mbps. BCA telah memulai pembangunan disaster recovery center kedua di Surabaya, Jawa Timur. Kota Surabaya dipilih sebagai lokasi kedua disaster recovery center dan business continuity center dengan mempertimbangkan bahwa tingkat risiko terjadinya bencana alam relatif rendah, serta ketersediaan infrastruktur maupun jumlah karyawan terlatih yang cukup banyak. 2. Taspen Taspen saat ini telah memiliki DRC (Disaster Recovery Center) sebagai backup Data Center sejak tahun 2013. DRC memiliki fungsi yang sangat penting bagi kelancaran operasional perusahaan yang berkaitan dengan teknologi informasi sesuai dengan anggaran biaya pembangunan system oleh suatu perusahaan, Memiliki DRC dalam menjaga data center seperti mempunyai asuransi untuk kelangsungan operasional perusahaan (bisnis continuity). Kota Denpasar dipilih sebagai lokasi tempat penyimpanan DRC dengan

pertimbangan tersedia sumber daya (resource) pendukung pembangunan DRC seperti sistem

komunikasi jaringan komputer yang baik, peripheral yang dibutuhkan relatif mudah didapat, dan didukung oleh fasilitas transportasi yang memadai. Beberapa institusi membangun DRC di pulau Bali dan sebagian berada di Bandung sedangkan perusahaan yang bertaraf internasional biasanya berada di Singapura atau di Hongkong seperti Bank Central Asia ( BCA). Secara umum DRC Taspen berfungsi untuk: Meminimalisasi kerugian finansial dan nonfinansial apabila terjadi kegagalan proses

bisnis secara komputerisasi (downtime) atau adanya bencana alam yang berdampak kepada kerusakan fisik dan informasi berupa data penting perusahaan.

Meningkatkan rasa aman bagi peserta dan stakeholders.

Saat ini Taspen menggunakan Hot DRC , dimana secara realtime DRC dan DC selalu berkomunikasi dan melakukan transfer data dari DC ke DRC dan apabila DC mengalami kerusakan maka seluruh jaringan dari 48 kantor cabang Taspen akan terkoneksi langsung ke DRC yang berada di Denpasar, Bali.

BAB IV Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan Kesimpulan yang bisa didapat dari karya ini adalah bencana yang merupakan kejadian yang tidak terduga dan tidak dapat diprediksi. Untuk itu Disaster recovery center sangat diperlukan, karena sistem yang disediakan, dibangun dan kemudian diintegrasikan dengan data center utama akan menjadi back up apabila terjadi permasalahan yang terjadi pada data center utama. Kita tidak bisa menghindari bencana, oleh sebab itu kita harus mengurangi resiko yang akan terjadi. Jika terjadi bencana, maka kita harus bisa mengatasi atau menangulangi akibat dari bencana tersebut. Disaster recovery dapat dibangun lebih dari satu, karena dimungkinkan juga terjadi double disaster (data center utama mengalami permasalahan, dan disaster recovery center yang pertama juga mengalami permasalahan). Contohnya dalam perusahaan, yang mempunyai DCP untuk mengatasi atau merencanakan jika terjadinya suatu potensi bencana, yaitu bank BCA dan Taspen, kedua perusahaan tersebut mempunyai DRC yang masing-masing terletak di tempat yang

berbeda dengan data center. Dalam mealokasikan DRC perusahaan harus memikirkan potensi gangguan apa yang akan terjadi jika DRC ditempatkan dalam satu tempat, apakah tempat tersebut mempunyai potensi terjadinya bencana atau tidak. Selain itu DRC juga dapat menyimpan data perusahaan yang diperbaharui secara terus menerus, jadi ketika data center mengalami kerusakan, perusahaan dapat menggunakan DRC untuk mengembalikan data dan dapat melakukan operasi seperti biasa.

4.2 Saran Kebutuhan akan disaster recovery pada masa sekarang ini sudah menjadi suatu keharusan. Karena kegiatan bisnis pada era sekarang ini hampir semua kegiatannya sudah berbasiskan IT. Jadi apabila terjadi permasalahan pada data center, maka akan kegiatan bisnis tersebut akan berhenti atau mengalami gangguan. Untuk itu disarankan agar setiap perusahaan dapat memiliki recovery data center yang berguna saat terjadinya bencana.

Selain itu dalam penempatan recovery disaster harus mempertimbangkan segala aspek yang diperlukan agar penempatan recovery disaster benar benar aman dan bermanfaat bagi perusahaan. Data center di perusahaan harus dilakukan maintenance secara rutin, untuk memastikan kelengkapan isi data. .

DAFTAR PUSTAKA
G. Somasundaram, Alok Shrivastava. (2009). Information Storage and Management: Storing, Managing, and Protecting Digital Information. Wiley. Bullock, M. 2009. Data Center Definition and Solutions. Diperoleh 01/3/2014 dari www.cio.com.

Fadilah, R., & Djumhadi. (2011). Optimasi Protocol Open Shortest Path First pada Disaster Recovery Data Center. Seminar Nasional Informatika 2011, 1(7), 37-43.

Newcombe, L. (2010). Data Center Energy Efficiency Metrics : Existing and Proposed MetricstoProvideEffectiveUnderstanding NewYork:BCS. andReporting ofDataCentreEnergy.

Yulianti, D. E., & Nanda H. B. (2008). Best Practice Perancangan Fasilitas Data Center. Jakarta: DAT.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Picture

Binusian ID Full Name Email Address

:1501167273 : Ardiyanto : chenxiaob.yahoo.co.id Current Jl.Angke Indah gang 6 No.340 Jakarta Barat 11330 DKI Jakarta, Indonesia Permanent Jl.Angke Indah gang 6 No.340 Jakarta Barat 11330 DKI Jakarta, Indonesia

Phone Numbers

Mobile : 62-8-1212173343 Home : 62-21-6311655 : Fax : 62-21-6311655

:Office: 62-21-6311655 Gender Male

Birth Place/Date Nationality Martial Status Region Formal Education Jan 2011-Present

: Jakarta, 01November 1993 : Indonesia : Single : Christian

:Bina Nusantara University, Jakarta, Indonesia Bacheleor (S1), Information Systems GPA: 2.77

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

PICTURE

PERSONAL INFORMATION Binusian ID Full Name E-Mail Address 1501172121 Kartika Sari Putri Ikaa_lo@yahoo.com Current : Jalan U No.13 Jakarta Barat DKI Jakarta, Indonesia Permanent : Perum PDP blok A.14 no.12 Karawang, 41352 Jawa barat, Indonesia Phone Number Mobile : 0899-415-4440 Home : 0267-480173 Gender Birth Place / Date Nasionallity Marital Status Religion Female Karawang / 29 Oktober 1992 Indonesia Single Christian

FORMAL EDUCATION September 2011-Present Bina Nusantara University, Jakarta, Indonesia Backelor(S1), Information System GPA : 3.75

ORGANIZATION EXPERINCE Oct 2011 present Himsisfo, Vice of Project Management Help to analysis, design and requirement in organization Aug 2012 Aug 2013 Jun 2013 Sept 2013 Himsisfo, Vice of coordinator commission 2 Help coordinate commission 2 Himsisfo, Coordinator Coordinator of community relations in study tour Jun 2012 Aug 2012 Himsisfo, Coordinator of community relations Coordinator of community relations in AKSI

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Picture

Binusian ID Full Name Email Address

:1501166301 : Leni Gustini : shinyeon_yeon.yahoo.com Current Jl Haji Senen no 54 Jakarta Barat 00000 DKI Jakarta, Indonesia Permanent Jl Raya Kosambi n0 52 Karawang 41313

Phone Numbers

: Mobile : 62-85-781898236 Home : 62-26-7436449 Fax : 62-85-781898236

Office: 62-85-781898236

Gender Birth Place/Date Nationality Martial Status Region Formal Education Jan 2011-Present

: Female : Jungkat, 01 Agustus 1993 : Indonesia : Single : Christian

:Bina Nusantara University, Jakarta ,Indonesia Bacheleor (S1), Information Systems GPA: 3.52

Organization Experience Oct 2011 Present : HIMSISFO, Commite Commitee

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Picture

Binusian ID Full Name Email Address

:1501192470 : Susanti Kusuma : susanti_kusuma@yahoo.com Current :Komp. Karang Anyar , Jl. Karang Anyar Permai, Raya kav 53-54 Blk. Blok B18 000, Jakarta Pusat 10470 DKI Jakarta, Indonesia Permanent Jl.Sukaramai N0 100 Lhokseumawe 24531 DI Aceh, Indonesia

Phone Numbers

: Mobile : 62-857-6010798 Home : Fax : 62-857-6010798 62-857-6010798

Office: 62-857-6010798

Gender Birth Place/Date Nationality Martial Status Region Formal Education Jan 2011-Present

: Female : Perbaungan, 01 September 1993 : Indonesia : Single : Buddha

:Bina Nusantara University, Jakarta ,Indonesia Bacheleor (S1), Information Systems GPA: 2.77

Organization Experience Sept 2011 Jul 1012 : HIMSISFO, Activis Komisi Tiga

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Picture

Personal Information Binusian ID Full Name Email Address :1501153993 : Wendy : wendywijayaa.gmail.com Current Jl Muara karang blok Q 4 selatan nomor 18 Jakarta Utara 14450 DKI Jakarta, Indonesia Permanent Jl Muara karang blok Q 4 selatan nomor 18 Jakarta Utara 14450 DKI Jakarta, Indonesia

Phone Numbers

: Mobile : 62-899-9887587

Home :

62-21-6625049

Fax : 62-21-6625049 Office: 62-21-6625049 Gender Birth Place/Date Nationality Martial Status Region Formal Education Jan 2011-Present :Bina Nusantara University, Jakarta ,Indonesia Bacheleor (S1), Information Systems GPA: 2.50 : Male : Jakarta, 04 Juni 1993 : Indonesia :Single : Buddha

Anda mungkin juga menyukai