Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN Wiwaha atau perkawinan dalam masyarakat hindu memiliki kedudukan dan arti yang sangat penting.

Dalam Catur Asrama, Wiwaha dipandang sebagai sesuatu yang maha mulia,seperti dijelaskan dalam kitab Manawa Dharmasastra bahwa wiwaha tersebut bersifat sacral yang hukumnya wajib,dalam artian harus dilakukan oleh seseorang yang normal sebagai suatu kewajiban dalam hidupnya . Wiwaha atau perkawinan ini tidak boleh dilakukan karena paksaan atau pengaruh orang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya ketegangan setelah menjalani Grehasta Asrama . Keberhasilan dalam wiwaha atau perkawinan di antaranya adalah saling mencintai ,bekerja sama, saling mengisi dan bahu membahu dalam kegiatan berumah tangga . Terbentuknya keluarga bahagia dan kekal haruslah disertai adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban ,dimana hak dan kewajiban serta kedudukan suami dan istri harus seimbang dan sama meskipun

swadarmanya berbeda dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian wiwaha Wiwaha atau perkawinan dalam masyarakat Hindu memiliki arti dan kedudukan khusus dan penting sebagai awal dari masa berumah tangga atau Grehasta Asrama. Di dalam negara Republik Indonesia berlaku hukum perkawinan nasional, menurut Undang-undang No. 1 tahun 1974 pasal 1 dijelaskan : Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Legalnya suatu perkawinan menurut hukum hindu ditandai dengan pelaksanaan ritual yaitu upacara wiwaha minimal upacara byakala. Dalam upacara wiwaha (byakala) harus ada tri upasakti, yaitu Dewa saksi,Manusia saksi, dan Bhuta saksi. Dewa saksi adalah saksi dewa atau Ida Sang Hyang Widhiyang dimohon untuk menyaksikan upacara pewiwahan tersebut. Manusia saksi adalah saksi manusia.Bhuta saksi adalah saksi para Bhuta Kala . Dalam agama Hindu, setiap perkawinan dipandang sebagai suatu jalan untuk melepaskan derita orang tuanya sewaktu mereka telah meninggal. karena itu, kawin dan mempunyai anak adalah merupakan suatu perintah agama yang dimuliakan. Perkawinan itu dipandang sebagai suatu

dharma (kewajiban) yang bertujuan untuk memperoleh anak sebagai jalan untuk menebus utang (Rna). Pengertian dharma dalam perkawinan dapat dibenarkan, karena perkawinan itu diabadikan berasarkan weda dan merupakan salah satu sarira samskara atau penyucian badan melalui perkawinan. tentang dharma tersebut maharsi manu dalam Manawa

Dharmasastra mengatakan sebagai berikut: untuk menjadikan ibu maka wanita diciptakannya, dan pria diciptakan untuk dijadikan bapak, dan karena itu weda akan diabadikan oleh dharma yang harus dilakukan oleh wanita-pria sebagai suami istri. B. Tujuan Wiwaha Berdasarkan kitab Manusmrti,perkawinan bersifat religius dan

obligator karena dikaitkan dengan kewajiban seseorang untuk mempunyai keturunan dan untuk menembus dosadosa orang tua dengan jalan melahirkan seorang anak yang suputra,yaitu anak yang hormat kepada orang tua, cinta kasih terhadap sesama dan berbakti kepada Tuhan . Suputra sebenarnya berarti anak yang mulia dan mampu menyeberangkan orang tuanya dari neraka ke surga. Wiwaha bertujuan untuk membayar hutang kepada orang tua atau leluhur , maka disamakan dengan Dharma. Dalam pasal 1 Undang-undang No. 1 tahun 1974 tersirat tujuan perkawinan ialah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha

esa . Kemudian bila didekatkan dengan asas UU perkawinan maka dijelaskan bahwa: A. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. B. Suatu pekawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.

Disamping itu, setiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. C. D. Undang-undang perkawinan menganut asas monogami. Undang-undang ini mengandung prinsip bahwa calon suami istri harus telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan. C. Syarat-Syarat Wiwaha Suatu perkawinan yang dianggap sah menurut Hindu adalah sebagai berikut : 1. Perkawinan dikatakan sah apabila dilakukan menurut ketentuan hukum Hindu. 2. Semua bentuk perkawinan harus dilakukkan atas persetujuan antara kedua belah pihak. 3. Untuk mengesahkan perkawinan menurut hukum Hindu harus dilakukan oleh pendeta/rohaniwan atau pejabat agama.

4.

Suatu perkawinan dikatakan sah apabila kedua calon mempelai telah menganut Agama Hindu .

5.

Berdasarkan tradisi yang berlaku,perkawinan dikatakan sah setelah melaksanakan upacara byakala/biakaonan sebagai rangkaian upacara wiwaha.

6. 7.

Calon mempelai tidak terikat oleh suatu ikatan pernikahan. Tidak ada kelainan seperti tidak banci,kuming (tidak pernah haid), tidak sakit jiwa atau sehat jasmani dan rohani.

8.

Calon mempelai cukup umur , pria berumur 21 tahun dan wanita minimal 18 tahun.

9.

Calon mempelai tidak mempunyai hubungan darah dekat atau sepinda.

Selain itu yang tak kalah pentingnya agar pernikahan dianggap sah dan kukuh, maka perkawinan tersebut harus dibuatkan Akta

Perkawinansesuai dengan undang-undang yang berlaku. D. Bentuk Perkawinan Hindu Dalam kitab hukum hindu bernama Manawa Dharmasastra tersurat tentang bentuk-bentuk wiwaha sebagai berikut : Brahma Dai vastat hai varsah, Pntpaja vasiatha surah, gandharwo raksasa caiva paisacasca astamo dhamah

(Manawa Dharmasastra III. 21) artinya: Adapun sistem perkawinan itu ialah Brahma wiwaha, Daiwa wiwaha, Arsa wiwaha, Prajapati wiwaha, Asura wiwaha, Gandarwa wiwaha, Raksasa wiwaha dan Paisaca wiwaha. Jadi, tegasnya bentuk wiwaha menurut buku hukum hindu sebanyak delapan buah yaitu: A. Brahma Wiwaha ialah perkawinan atas dasar pemberian anak wanita kepada seorang pria ahli weda dan berperilaku baik dan setelah menghormati yang diundang sendiri oleh ayah si wanita. (Manawa Dharmasastra III.27) B. Daiwa Wiwaha ialah perkawinan atas dasar pemberian anak wanita kepada seorang pendeta yang melaksanakan upacara atau yang telah berjasa. (Manawa Dharmasastra III.28) C. Arsa Wiwaha ialah perkawinan yang dilakukan karena atas kebaikan keluarga. (Manawa Dharmasastra III.29) D. Prajapati Wiwaha ialah perkawinan terjadi atas dasar pemberian anak perempuan setelah berpesan dengan mantra semoga

kamu

berdua melaksanakan kewajibanmu bersama dan

setelah menunjukkan penghormatan kepada pengantin pria. (Manawa Dharmasastra III.30) E. Asura Wiwaha ialah bentuk perkawinan di mana setelah pengantin pria memberi mas kawin menurut kemampuan dan didorong oleh keinginannya sendiri kepada si wanita dan ayahnya menerima wanita itu untuk dimilikinya. (Manawa Dharmasastra III.31) F. Gandharwa Wiwaha ialah bentuk perkawinan atas dasar suka sama suka antara seorang perempuan dengan pria. (Manawa Dharmasastra III.32) G. Raksasa Wiwaha ialah bentuk perkawinan dengan cara menculik gadis secara paksa. (Manawa Dharmasastra III.33) H. Paisaca Wiwaha ialah bentuk perkawinan dengan cara mencuri, memaksa atau dengan membuat bingung atau mabuk. (Manawa Dharmasastra III.34) Dari semua bentuk perkawinan di atas sebagian memang dianjurkan dan sebagian lagi yang terlarang. misalnya, bentuk perkainan poin G dan poin H adalah bentuk perkawinan yang terlarang, siapa saja berani melakukan perkawinan atas dasar bentuk poin G dan H akan mendapatkan sangsi hukum.

Menurut tradisi adat di Bali, ada empat bentuk atau sistem perkawinan yaitu : A. Sistem memadik/meminang, yaitu pihak calon suami beserta kerabatnya menghadap ke rumah calon istri untuk manyatakan diri mohon untuk mengawinkan putranya dengan putri pihak keluarga calon istri. pernyataan itu disertai dengan upacara pesaksi. Praktik seperti ini dpandang paling terhormat di bali. B. Sistem ngerorod/rangkat,yaitu suatu perkawinan berlangsung atas dasar suka sama suka dan kedua mempelai sudah dianggap cukup umur. C. Sistem nyentana disebut juga nyeburin. dalam bentuk sistem ini terjadi perubahan status hukum terhadap kedua mempelai, yaitu si wania tetap berada di rumah kelahirannya sebagai ahli waris, sementara si pria mengikuti si wanita. Dalam keadaan seperti ini menurut hukum adat bali, si wanita berstatus purusa sedangkan si pria berstatus pradana. D. Sistem ngunggahin artinya perkawinan berlangsung atas kedatangan seorang wanita, di mana berdasarkan

pengakuannya si wanita menyerahkan diri mau dikawin oleh seorang pria. Bahkan dengan penuh harapan, si pria tidak menolak hal itu. sekarang di bali hal ini sangat jarang dilihat. lebih-lebih dengan gencarnya kaum wanita menuntut

emansipasi dipandang bila terjadi seperti itu rasanya si wanita tidak punya harga diri. Selain ada empat sistem perkawinan yang diperbolehkan dalam hukum adat di bali masih kita kenal adanya satu macam lagi bentuk perkawinan yang disebut megalandang. sistem megalandang praktiknya ialah pihak pria berusaha dengan berbagai upaya agar si wanita dapat diperistri dengan mambius, menculik ataupun dengan paksa. tanpa mengindahkan tolakan si wanita. bila dibandingkan dengan bentuk wiwaha hukum hindu di atas maka melagandang itu identik dengan perkawinan Raksasa wiwaha dan Paisaca wiwaha. Dalam perkembangan sekarang kita mengenal perkawinan

campuran. Maksudnya berlangssung suatu perkawinan yang berasal dari perbedaan warga negara, dan juga bisa atas perbedaan agama. Menurut ketentuan pasal 57 Undang-undang perkawinan terutama dalam hal ordonasi perkawinan campuran si wanita mengikuti hukum agama si suami. Menurut hukum Hindu dalam hal ini si wanita bila sudah dengan jelas mau rela mengikuti agama si suami barulah dilangsungkan upacara sudi wadani. setelah itu, baru dilanjut dengan upacara wiwaha menurut agama Hindu.

E.

Perkawinan Yang Dilarang Larangan suatu perkawinan diawali dengan pencegahan. hal ini bisa

terjadi karena dipandang belum memenuhi syarat-syarat hukum agama maupun menurut nasional. Berdasarkan pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 dari Undang-undang

perkawinan pencegahan dilakukan dengan cara mengajukan ke pengadilan negeri dalam wilayah hukum di mana dilangsungkan perkawinan itu. Atau dari pengadilan negeri meminta batalnya suatu perkawinan karena dipandang yang bersangkutan tidak memenuhi syarat hukum yang berlaku. Pencegahan dilakukan lebih banyak bersifat preventif. Pencegahan preventif dapat juga dilakukan oleh pendeta/brahmana dengan menolak untuk mengesahkannya karena dipandang tidak memenuhi syarat menurut hukum agama. Selain pencegahan secara preventif, juga bersifat represif, yaitu dengan memutuskan suatu perkawinan karena terbukti pekawinan itu didasarkan atas penipuan atau kekerasan, misalnya melalui sistem raksasa atau paisaca wiwaha atau juga dengan melagandang. Dalam peristiwa ini hakim dapat membatalkan perkawinan dan mengancam dengan sangsi hukum bagi pelakunya. Selain salah satu pihak

memiliki penyakit yang menular atau impotensi, selain itu bila salah satu menderita sakit jiwa. Menurut Dharmasastra pencegahan perkawinan bila yang

bersangkutan adalah sapinda artinya hubungan darah yang dekat dari keluarga, jadi tegasnya perkawinan yang dilarang menurut hukum hindu adalah perkawinan dilarang dengan seorang yang masih dijamin hidupnya, karena perceraian atas perkawinann yang dilakukan sebelumnya. Menurut UU No. 1 tahun 1974 suatu perkawinan dapat dibatalkan bila tidak sesuai dengan ketentuan pasal 24 dan pasal 27 isinya dapat disimpulkan sebagai berikut : A. Suatu perkawinan dapat dimintakan pembatalannya apabila bertentangan dengan hukum agama misalnya dilaksanakan dengan sistem raksasa atau paisaca wiwaha. B. Perkawinan dapat dibatalkan bilamana calon mempelai masih mempunyai ikatan perkawinan dengan seorang sebelumnya. C. Perkawinan dapat dibatalkan bila calon istri/suami mempunyai cacat yang disembunyikan sehingga salah satu pihak merasa dirugikan berbahaya, misalnya tidak mempunyai sehat pikiran penyakit atau menular yang akibat

impotensi,

mengandung karena berhubungan dengan laki-laki lain. D. Perkawinan batal berdasarkan hubungan sapinda.

E.

Perkawinan bisa di batalkan bila si istri tidak menganut agama yang sama dengan suami menurut hukum hindu.

Pembatalan perkawinan juga dapat dilakukan menurut pasal 23 Bab IV UU No. 1 Tahun 1974 adalah sebagai berikut: A. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau istri. B. C. Suami atau istri. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan. D. Pejabat yang ditunjuk dalam ayat (1) pasal 16 uu no. 1 tahun 1974 dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut tetapi hanya setelah perkawinan itu putus.