Anda di halaman 1dari 3

Penemuan besar kedua berupa hubungan tak terduga antara fungsi eksekutif dan hipotensi orthostatik yang muncul

pada kira-kira 30% sampel. Penemuan ini mencetuskan sebuah kemungkinan aturan dari hipotensi orthostatik (HO) dalam mengubah hubungan antara fungsi eksekutif dan hipertensi. Pendek kata, individu dengan hipertensi dan HO sama dengan individu tanpa hipertensi pada ukuran fungsi eksekutif. Fenomena ini tidak terdata sebelumnya dengan baik sehingga tidak ada data yang valid. Hubungan antara HO dengan kognitif normal pada usia tua menunjukkan hasil yang tidak berhasil dari beberapa penelitian [31]. Akan tetapi satu penelitian menunjukkan kombinasi hipertensi dan HO tersedia sebagai faktor pelindung [32]. Secara khusus Yap dkk menemukan antara 2.321 orang tua dengan hipertensi (sistolik >140 dan diastolik > 90) dan HO seperti sedikit memiliki score yang kurang pada MMSE, dibanding individu tanpa OH dan orang dengan OH dan hipotensi saja. Mekanisme efek ini tidak diperiksa lebih lanjut tapi dapat menghubungkan reduksi MAP dengan HO sehingga perfusi darah otak tetap dalam skala autoregulasi [33]. Pada penyakit parkinson, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien dengan sirkulasi abnormal (termasuk HO dan hipertensi saat keaddan telentang) lebih terlihat mendekati kriteria dementia [34]. Sebagai tambahan, peneliti menemukan bahwa tes memori episodik (bukan fungsi eksekutif) secara signifikan berhubungan dengan menurunnya tekanan darah selama tes angkat dan miring kepala. Penemuan serupa menggambarkan bahwa dysautonomia lebih mudah muncul pada individu dengan perubahan kognitif yang muncul diakhir tahap penyakit daripada individu dengan perubahan eksekutif yang muncul diawal. Ketiga, penelitian ini menunjukkan penemuan unik antara denyut nadi, dimana semakin tinggi denyut nadi pada individu dengan penyakit parkinson yang akan meningkatkan efek merusak pada fungsi eksekutif, kecepatan berpikir, dan memori. Dengan kata lain hubungan antara kognitif dan risiko kardiovaskuler dapat dipengaruhi oleh parahnya parkinson tersebut.

Peneliti tidak menyadari penelitian sebelumnya memeriksa pengaruh denyut nadi pada kognitif pada pasien parkinson. Ada beberapa jalan untuk mengonsep hubungan ini. Pada satu sisi buruknya denyut nadi merupakan indeks lain dari progresifitas penyakit parkinson sama buruknya dengan disfungsi autonom dan efek pada tekanan darah. Secara alternatif, hubungan ini bisa jadi merupakan disfungsi autonom yang berdiri sendiri. Pada kasus lain, perubahan dasar putih memunculkan efek berlainan pada variabilitas ini. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa hubungan antara leukoaraiosis dan variasi kognitif, dimana penelitian pasien baru terdiagnosa parkinson gagal dalam menggantikan temuan ini [12-14, 35], diusulkan bahwa patologi vaskular dapat berinteraksi dengan patologi parkinson. Ide hubungan antara patologi vaskuler dan parkinson ini telah diselidiki dengan gejala non kognitif parkinson. Komplikasi motorik pada parkinson akan terasosiasi antara tingginya leukoariosis dengan memburuknya fungsi motorik termasuk kesulitan berdiri/berjalan, bradikinesia, dan rigiditas [36]. Ada beberapa batasan dari penelitian ini. Pertama, desain cross sectional dan penggunaan waktu serta tempat sampel pasien yang terbatas secara umum. Lalu angka komorbid tergantung pada akuratnya dokumentasi oleh tenaga medis dalam grafik medikal pasien. Saat validitas metode ini tidak diketahui, peneliti percaya bahwa kebanyakan komorbid juga tercatat dalam medikal record pasien. Terakhir, selain tekanan darah, tidak ada angka langsung dari komorbid, dan peneliti tidak bisa menghitung keparahan atau durasi berbagai kondisi kesehatan. 5. Kesimpulan Penelitian terbaru ditambahkan ke literatur yang menyarankan hipertensi mungkin berhubungan untuk eksekutif halus dan defisit memori pada pasien parkinson. Apa yang secara partikular unik di penyakit parkinson adalah faktor juxtaposisi yang merupakan pelindung dari

risiko kardiovaskuler. Faktor pelindung termasuk penggunaan medikasi levodopa yang menurunkan tekanan darah, disfungsi autonom, dopamine agonist (berhubungan dengan valvulopati kardiak), dan keadaan fisik umum meningkatkan risiko kardiovaskuler. Penelitian terbaru menyatakan adanya hbungan antara hipertensi dan defisit kognitif pada pasien parkinson, mirip dengan dewasa tua dan dapat menjelaskan kesulitan eksekutif dan memori. Penelitian mendatang seharunya memeriksa kemungkinan mekanisme seperti leukoaraiosis dan akibatnya yang berhbungan antara vaskuler dan defisit kognitif. Meningkatkan kesehatan kardiovaskular, onset demensia sebelumnya, seharusnya diteliti sebagai cara perubahan kognitif. Oleh karena risiko tinggi penurunan kognitif/demensia, dan natural degeneratif dari penyakit parkinson, meminimalkan risiko penurunan kognitif dapat terbukti menguntungkan,