Anda di halaman 1dari 18

BAB III.

PEMBAHASAN

2.1 Keuntungan dan Keterbatasan Alat Lepasan a. Keuntungan Keuntungan utama dari pesawar lepasan bisa diurutkan sebagai berikut. Keuntungan ini dibandingkan dengan sistem pesawat lainnya, misalnya pesawat cekat. Pesawat ini bisa dilepas oleh pasien dan karena itu mudah dibersihkan. Gigi-geligi dan struktur rongga mulut juga bisa dipertahankan kebersihannya dan kesehatannya selama terapi dengan pesawat. Apabila ada kerusakan atau menyebabkan rasa sakit, pasien dapat melepas`peranti sementara dan segera mengunjungi dokter gigi yang merawat. Maloklusi yang memerlukan pergerakan gigi condong (tipping), bila dirawat dengan menggunakan peranti lepasan hasilnya cukup baik. Sulit untuk mengaplikasikan tekanan yang sangat besar pada gigi-gigi yang dirawat dengan pesawat lepasan, tekanan semacam ini akan dilawan oleh daya pengungkitan pesawat. Peranti lepasan dapat diberi peninggian gigit untuk menghilangkan halangan dan displacement mandibula. Hal ini tidak mungkin dilakukan dengan peranti cekat. Konstruksi pesawat lepasan sebagian besar dilakukan di laboratorium, dan hanya membutuhkan waktu sedikit di klinik. Pengontrolan peranti lebih mudah dibandingkan dengan peranti cekat karena hanya beberapa gigi yang digerakkan pada setiap saat. Relatif murah dan tidak diperlukan persediaan bahan yang banyak dan mahal.

b.

Keterbatasan Kekurangan uatam dari peasawat lepasan adalah sebagai berikut. Pesawat hanya bisa memberikan tipe pergerakan gigi yang terbatas. Pesawat lepasan mengaplikasikan tekanan pada daerah mahkota gigi yang relatif kecil. Tekanan ini akan

mengakibatkan terjadinya gerak tipping, yang merupakan gerak utama yang bisa diperoleh dengan tipe pesawat. Gerak bodily atau gerang torquing apikal sulit diperoleh, atau bahkan tidak mungkin diperoleh, dan pesawat lepasan tidka cukup memadai untuk tipe gerakangerakan ini. Penjangkaran untuk pergerakan gigi kadang-kadang sulit dilakukan, karena gigi-gigi penjangkaran tidka bisa dicegah untuk tidak bergeser miring. Gigi-gigi penjangkaran biasanya terkena tegangan yang lebih kecil daripada bila digunakan pesawat cekat. Retensi dari pesawat lepasan lebih sulit dibanding dengan pesawat cekat. Koreksi untuk rotasi multipel tidak mudah untuk dilakukan. Hanya beberapa gigi saja yang dapat digerakkan, untuk banyak gigi membutuhkan waktu yang lebih lama dan perawatannya lebih kompleks. Sisa diastema pada kasus pencabutan sukar atau bahkan tidak mungkin ditutup dari distal. Peranti lepasan rahang bawah tidak begitu dapat diterima oleh pasien oleh karena lidah terdesak, selain adanya problema retensi. Pegas-pegas lingual jarang dapat memuaskan karena tempatnya sangat terbatas.hanya perawatan tertentu saja yang mungkin dilakukan. Derajat kerjasama yang tinggi dan ketrampilan dituntut dari pihak pasien. Pasien harus bisa memasang, melepas dan membersihkan pesawat dengan jeda yang teratur. Kerjasama dari pihak pasien memang dibutuhkan untuk semua perawatan ortodonsi yang menggunakan pesawat, tetapi ketrampilan memasang dan melepas pesawat merupakan keharusan dalam terapi dengan pesawat lepasan.

2.2 Indikasi dan Kontraindikasi Alat Lepasan a. Indikasi Peranti lepasan dapat digunakan pada keadaan-keadaan sebagai berikut. Pasien yang kooperatif, kebersihan mulut dan geligi dalam kondisi yang baik. Maloklusi dengan pola skeletal kelas I atau yang tidak jauh menyimpang dari kelas I disertai kelainan letak gigi, yaitu: 1) terdapat jarak gigit yang besar disebabkan kesalahan inklinasi gigi, 2) gigitan terbalik disebabkan perubahan inklinasi gigi, 3) malposisi giig tetapi akar

gigi tersebut terletak pada tempat yang benar, 4) kelainan jurusan bukolingual (gigitan silang unilateral posterior) yang disebabkan displacement mandibula. Pencabutan yang terencana hendaknya memberi kesempatan gigi untuk bergerak tipping, dan hendaknya hanya menyisakan sedikit diastema atau bahkan tidak menyisakan diastema sama sekali. b. Kontraindikasi Peranti lepasan tidak sesuai digunakan pada keadaan-keadaan sebagai berikut. Diskrepansi skeletal yang jelas dalam arah sagital maupun transversal. Bila dibutuhkan penjangkaran antarmaksila. Adanya malposisi apeks, rotasi yang parah ataupun rotasi multipel. Bila diperlukan pergerakan gigi secara translasi (bodily) Bila terdapat problema ruangan, misalnya adanya berdesakan yang parah ataupun adanya diastema yang berlebihan.

2.3 Komponen Alat Lepasan Seperti halnya semua pesawat ortodonsi, pesawat lepasan harus mempunyai retensi, dan jika aktif harus memberikan tekanan dan mempunyai komponen penjangkaran. Juga harus ada rangka penghubung, yang biasanya terbuat dari resin akrilik (Foster, 1997).

a.

Komponen aktif/tekanan Komponen aktif pada alat lepasan biasanya diperoleh dari pegas, busur labial, elastik, atau

sekrup. Pegas terdiri dari pegas bukal dan pegas palatal. Pegas bukal dapat berupa retraktor bukal dengan atau tanpa penyangga, sedangkan pegas palatal dapat berupa pegas kantilever tunggal, pegas kantilever ganda, pegas T dan pegas Coffin. Busur labial aktif digunakan untuk menarik insisiv ke lingual. Pemilihan penggunaan busur sebagian tergantung pada operatornya dan sebagian tergantung pada banyaknya retraksi yang dikehendaki (Rahardjo, 2009).

Pegas Kantilever Tunggal

Pegas ini biasa disebut juga pegas jari, selain dapat menggerakkan gigi ke arah mesiodistal dapat juga digunakan untuk menggerakkan gigi ke labial atau searah dengan lengkung geligi. Diameter kawat yang digunakan 0,5 mm. Aktivasi dilakukan dengan menarik lengan pegas ke arah pergerakan gigi atau dengan memencet koil sehingga lengan pegas bergerak ke arah yang diinginkan. Perlu diperiksa apakah posisi pegas dan titik kontak dengan gigi sudah benar. Pada kunjungan pertama dilakukan aktivasi ringan saja, yaitu defleksi antara 1-2 mm. Pada kunjungan-kunjungan berikutnya defleksi dapat sampai 3 mm, meskipun demikian beberapa operator lebih menyukai defleksi 2 mm untuk memberikan tekanan yang ringan (Rahardjo, 2009).

Bagian-bagiannya terdiri dari: Lengan pegas: Bagian yang memeluk mahkota gigi kemudian memanjang kearah pusat lingkaran (koil) berfungsi untuk mendorong gigi ke arah mesial atau distal sepanjang lengkung gigi. Koil: Lanjutan lengan yang membentuk lingkaran satu atau dua kali putaran dengan diameter 2 mm, merupakan sumber kelentingan pir yang menghasilkan kekuatan aktif untuk menggerakkan gigi. Tag: Merupakan bagian dari pegas yang tertanam dalam akrilik.

Pegas Kantilever Ganda (Pegas Z)

Diameter kawat yang digunakan 0,5 mm. Lengan pegas harus selebar mesiodistal insisiv yang digerakkan agar pegas tidak kaku. Bila lengan pegas kurang panjang, rentang aktivasi sangat terbatas dan juga pasien akan kesukaran sewaktu memasang peranti. Lengan pegas yang kontak dengan gigi terletak di tengah-tengah jarak serviko-insisal gigi. Pegas harus tegak lurus pada permukaan palatal gigi yang didorong. Aktivasi dilakukan pada lengan pegas, mula-mula yang didekat koil yang jauh dari gigi, kemudian baru ujung lainnya yang mengenai gigi (Rahardjo, 2009).

Pegas T

Prinsip mekaniknya sama dengan pegas kantilever, tetapi kelenturan pegas T berkurang karena tidak mempunyai koil. Diameter kawat yang digunakan adalah 0,5 mm. Pegas T digunakan ketika premolar (atau kadang-kadang kaninus) harus digerakkan ke bukal dan pasien kadang-kadang mendapat kesukaran sewaktu memasang peranti apabila dipergunakan kantilever ganda ataupun tunggal. Kekuatan yang diberikan oleh pegas mempunyai dua komponen, yaitu horizontal dan vertikal. Aktivasi dilakukan dengan cara menarik pegas menjauhi lempeng akrilik. Pegas ini kaku dan hanya perlu diaktivasi sedikit, pegas akan terletak dalam posisi yang benar sewaktu pasien memasang peranti. Apabila gigi sudah bergerak agak banyak padahal

belum mencapai letak yang diinginkan, pegas dapat diperpanjang dengan cara membuka lup pegas (Rahardjo, 2009).

Pegas Coffin

Merupakan pegas yang kuat (dibuat dari kawat berdimaeter 1,25 mm) yang digunakan untuk ekspansi lengkung geligi ke arah transversal, seperti kasus gigitan silang posterior unilateral displacement mandibula. Keuntungan pegas ini dapat diatur apakah akan diekspansi daerah premolar, molar, ataukah keduanya. Sebelum pegas diaktivasi, lempeng akrilik perlu diberi tanda dengan membor sedikit masing-masing satu titik di samping belahan lempeng akrilik. Selanjutnya dengan divider diukur jarak dia titik tersebut. Sebaiknya aktivasi menggunakan tangan untuk menarik kedua bagian akrilik anterior ke lateral. Kemudian, diukur jarak dua titik tersebut yang harus lebih lebar daripada sebelum diaktivasi sehingga banyaknya ekspansi diketahui. Yang harus diperhatikan adalah waktu menarik, arah kedua bagian lempeng akrilik harus betul-betul dalam satu bidang horizontal (Rahardjo, 2009).

Pegas Bukal Tanpa Penyangga

Digunakan pada kaninus yang terletak di bukal yang perlu digerakkan ke distal dan palatal. Pegas buka dibuat dari kawat 0,7 mm. Defleksi sedikit saja sudah memberikan kekuatan yang

cukup besar. Aktivasi pegas hanya sebesar 1 mm untuk menghindari kekuatan yang berlebihan. Aktivasi ke distal paling efektif apabila lengan depan ditarik ke distal, koil ditahan dengan tang pembentuk lup. Sedangkan untuk ke palatal, lengan depan sesudah koil dibengkokkan ke arah palatal (Rahardjo, 2009).

Retraktor Buka Berpenyangga Desain pegas ini sama dengan pegas bukal tanpa penyannga, dibuat dari kawat 0,5 mm yang diberi penyangga tabung baja nirkarat berdiameter 0,5 mm. Kelenturan pegas ini dua kali lebih besar dibandingkan dengan yang tanpa penyangga. Pegas ini cukup diaktivasi 2 mm. Cara aktivasi sama dengan pegas bukal tanpa penyangga (Rahardjo, 2009).

Retraktor Bukal dengan Lup Terbalik Pegas ini dapat digunakan terutama bila sulkus bukal rendah seperti di tahang bawah. Diameter kawat yang digunakan 0,7 mm. Pegas ini tidak boleh diaktivasi lebih dari 1 mm. Cara aktivasi adalah dengan membengkokkan ujung pegas kemudian memotong ujung pegas sepanjang 1 mm. Cara lain yaitu dengan membuka koil sebanyak 1 mm (Rahardjo, 2009).

Retraktor Roberts Busur ini sangat lentur karena dibuat dari kawat 0,5 mm dan terdapat koil pada kedua ujungnya. Busur ini dapat diaktivasi sampai 3 mm karena busur ini lentur dan memberikan kekuatan ringan. Busur ini diaktivasi pada lengan pegas vertikal di bawah koil (Rahardjo, 2009).

Busur Labial Tinggi dengan Pegas Apron Pegas apron sangat lentur, pada prinsipnya busur ini sama dnegan retraktor Roberts. Busur labial yang tinggi menggunakan diameter kawat 0,9 mm dan pegas apron menggunakan diameter kawat 0,4 mm (Rahardjo, 2009).

Busur Labial dengan Lup U Busur ini dibuat dari kawat 0,7 mm. Keuntungan busur labial lup U ini terutama untuk mengurangi jarak gigit yang sedikit atau bila diperlukan untuk meretraksi insisiv, yang dapat digunakan bersamaan dengan pegas palatal untuk retraksi kaninus. Setelah kaninus cukup diretraksi, busur labial ini dapat diaktivasi untuk retraksi insisiv. Hanya diperlukan aktivasi sedikit saja, tidak lebih dari 1 mm (Rahardjo, 2009). Fungsi busur labial pendek adalah sebagai berikut. Untuk meretraksi gigi-gigi depan ke arah lingual/palatianal.

Untuk mempertahankan lengkung gigi dari arah labial. Untuk mempertinggi retensi dan stabilitas alat. Untuk tempat pematrian pir-pir (auxilliary springs). Bagian-bagiannya terdiri dari: Bow/busur: Merupakan lengkungan kawat dengan bentukan parabola, menyusuri seluruh permukaan labial gigi dan terletak pada tinggi servico-insisal. Lup: Berbentuk huruf U sehingga disebut U loop, terletak pada 1/3 lebar mesial-distal gigi caninus dengan panjang 8 mm dan diameter lup 4 mm. Lengan Proksimal: Merupakan kawat lanjutan dari Lup U, masuk melewati daerah interdental antara gigi insisiv lateral dan caninus. Tag: Merupakan bagian yang tertanam dalam plat akrilik. Cara aktivasi busur adalah digunakan tang pembentuk lup untuk mengaktifkan busur

labial. Lup dipegang dengan tang, tekuk kaki depan lup atau sempitkan lup dengan tang. Dengan melakukan ini kaki horizontal busur akan bergerak ke arah insisal. Kaki busur perlu dibetulkan dengan menahan lup dan menempatkan kaki horizontal busur di tengah gigi (Rahardjo, 2009).

Busur dengan Self-straightening Wires Modifikasi busur labial yang lentur lainnya adalah dengan penambahan self-straightening wires pada busur labial dengan lup U. Pegas ini cenderung menjadikan lengkung geligi menjadi datar. Diameter kawat yang digunakan untuk busur labial adalah 0,7 mm dan untuk self straightening wires adalah 0,5 mm. Aktivasi dilakukan dengan cara menutup lup U dari busur dan bila perlu mengatur tinggi busur labial (Rahardjo, 2009).

Busur Labial dengan Lup Terbalik Busur ini sama dengan busur labial dengan lup U tetapi lupnya terbalik. Diameter kawat yang digunakan 0,7 mm. Aktivasi dilakukan dalam dua tahap. Pertama membuka lup vertikal dengan cara menekan ujung lup dengan tangan. Ini akan menyebabkan busur di daerah insisiv bergerak ke insisal. Kemudian busur harus dibengkokkan pada dasar lup agar tinggi busur kembali seperti semula. Busur ini juga agak kaku, oleh karena itu aktivasi tidak boleh lebih dari 1 mm (Ragardjo, 2009).

Busur Mills Busur ini dibuat dari kawat 0,7 mm, tetapi kelenturannya bertambah oleh karena kedua lupnya diperlebar. Busur ini berguna sebagai pengganti retraktor Roberts untuk mengurangi jarak giigt yang besar. Prinsip pemeriksaan aktivasi busur sama dengan pegas bukal (Reahardjo, 2009).

Sekrup Ekspansi Terdapat berbagai macam sekrup ekspansi yang dapat digunakan untuk menggerakkan gigi. Ada yang mempunyai guide pin tunggal maupun ganda. Sekrup dengan pin ganda lebih stabil, tetapi sekrup dengan pin tunggal lebih berguna apabila tempatnya sempit, misalnya di rahang bawah. Salah satu keuntungan pemakaian sekrup adalah dapat digunakan untuk

menggerakkan gigi tetapi gigi tersebut juga digunakan sebagai retensi peranti. Sekrup ekspansi dapay digunakan untuk menggerakkan lengkung geligi ke arah tarnsversal maupun sagital, anterior maupun posterior tergantung jenis dan penempatan sekrup (Rahardjo, 2009). Untuk mengaktifkan sekrup dilakukan pemutaran dengan kunci yang tersedia, sesuai dengan arah perputaran yang biasanya berupa tanda panah. Sekrup diputar seperempat putaran seminggu sekali. Operator perlu mengajari pasien atau orang tuannyacara memutar sekrup dengan benar. Biasanya aktivasi dilakukan seminggu sekali oleh pasien sendiri. Untuk mengontrol apakah psien memutar sekrup dengan benar, operator dapat memutar sekrup ke arah berlawanan dan menghirung apakah pemutaran sesuai dengan yang seharusnya. Aktivasi seperempat putaran setiap minggu akan menggerakkan gigi 1 mm setiap bulan (Rahardjo, 2009). Elastik Elastik jarang digunakan bersamaan dengan pemakaian peranti lepasan. Kadang-kadang elastik digunakan untuk retraksi insisiv atas maupun bawah. Sebuah elastik lateks atau power chain ditarik anatar dua kait di distal kaninus (Rahardjo, 2009). b. Komponen retentif Retensi adalah tahanan terhadap perubahan letak peranti lepasan. Retensi yang baik menyebabkan peranti tidak mudah lepas. Retensi didapatkan pada undercut gigi yang diberi cangkolan atau pun busur. Retensi yang baik diperlukan oleh peranti lepasan. Retensi yang kurang baik menyebabkan peranti peranti mudah lepas, pasien sukar memasang peranti sehingga peranti jarang dipakai. Apabila letak peranti tidak baik, fungsi pegas-pegas kurang baik karena peranti tidak stabil pada tempatnya (Rahardjo, 2009). Cangkolan Adams Cangkolan ini menggunakan undercut gigi di mesiobukal dan distobukal sebagai tempat retensi. Ukuran kawat yang digunakan umumnya 0,7 mm untuk molar, 0,6 mm untuk premolar dan gigi-gigi anterior. Apabila cangkolan Adams dibuat dengan benar, cangkolan harus dalam keadaan pasif tetapi kontak kontak dengan permukaan gigi. Peranti akan sukar dipasang atau dilepas jika ada kekuatan ke arah palatal pada gigi yang diberi cangkolan dan gigi tersebut dapat miring ke palatal. Oleh karena itu, membuat cangkolan cangkolan Adams yang terlalu menekan gigi harus dihindari (Rahardjo, 2009). Bagian-bagiannya terdiri dari :

Cross bar/bridge: Merupakan bagian kawat sepanjang 2/3 mesiodistal gigi anchorage yang akan dipasangi, posisi sejajar permukaan oklusal, terletak 1 mm disebelah bukal permukaan bukal , tidak tergigit ketika gigi beroklusi.

Arrow head: Terletak diujung mesial dan distal cross bar, enempel pada permukaan gigi di daerah undercut bagian mesiobukal dan distobukal. Lengan proksimal: Merupakan lanjutan dari U loop yang melewati daerah interdental dibagian oklusal sisi mesial dan distal gigi anchorage.Tidak tergigit sewaktu gigi beroklusi.

Tag: Ujung kawat pada kedua sisi tertanam didalam plat akrilik, diberi bengkokan untuk retensi.

Keuntungan: Mempunyai retensi yang sangat tinggi. Pembuatan tidak memerlukan tang khusus. Kawat yang dibutuh tidak terlalu banyak. Dapat dikenakan pada gigi permanen, gigi desidui dan gigi yang belum tumbuh sempurna. Kerugian: Pembuatannya lebih sukar dari pada pembuatan klamer C. Jika pembuatnya kurang cermat (sering mengulang-ulang pembengkokan kawat) klamer akan mudah putus. Jika arrow head terlalu panjang, cross bar akan mudah melukai pipi atau bisa tergigit jika gigi beroklusi.

Cangkolan Southend (Southend clasp)

Cangkolan Southend berguna sebagai alternatif retensi di anterior. Cangkolan ini meliputi dua insisiv sentral yang berdampingan, mengikuti tepi gigi dan sebuah lup U kecil dibuat pada undercut interdental. Cangkolan ini tidak menonjol, retensinya baik dan dapat dipasang pada insisiv yang protrusi. Diameter kawat yang digunakan adalah 0,7 mm (Rahardjo, 2009).

Jackson Crib Pada keadaan tertentu, cangkolan selain Adams dapat berguna sebagai retensi tambahan. Cangkolan C (C clasp) atau cangkolan Jackson (Jackson crib) misalnya, dapat digunakan pada gigi sulung atau gigi permanen (Rahardjo, 2009). Retensinya cukup, tetapi tidak efektif jika dikenakan pada gigi desidui atau gigi permanen yang baru erupsi. Ukuran diameter kawat yang dipakai: untuk gigi molar 0,8 0,9 mm, sedangkan untuk gigi premolar dan gigi anterior 0,7 mm. Pembuatannya mudah, tidak memerlukan tang khusus , tidak memerlukan banyak materi kawat, dan tidak melukai mukosa.

Bagian-bagiannya terdiri dari : Lengan Retensi: Berupa lengkung kawat berbentuk huruf C memeluk leher gigi di bagian bukal dari mesial ke distal di bawah lingkaran terbesar (undercut), satu milimeter di atas gingiva dengan ujung telah ditumpulkan. Lengan Proksimal: Merupakan lanjutan dari lengan menelusuri daerah interdental. Tag: Bagian kawat yang tertanam di dalam plat akrilik.

Busur Labial Pendek Busur dibuat sampai kurang lebih sepertiga insisiv lateral kemudian dibuat lup kecil, kepanjangan kawat masuk di distal insisiv lateral. Diameter kawat yang digunakan 0,7 mm. Busur labial pendek dapat digunakan sebagai penambah retensi di regio anterior. Busur labial yang mengikuti permukaan labial insisiv berguna untuk retensi anterior terutama apabila insisiv terlalu proklinasi. Kekurangan cangkolan ini dapat menghalangi pergerakan spontan gigi-gigi anterior yang berdesakan (Rahardjo, 2009). Ball Clasp Cangkolan ini dapat dipasang di interdental gigi-gigi anterior maupun posterior. Biasanya dibuat dari kawat baja nirkarat berdiameter 0,7 mm dalam bentuk bentuk setengah jadi. Operator tinggal menekuk menjadi cangkolan. Beberapa pabrik juga memproduksi yang berukuran 0,8, 0,9 dan 1 mm. Cangkolan ini memberikan retensi yang bagus (Rahardjo, 2009). Cangkolan Inman (Inman clasp) Cangkolan Inman pada dasarnya merupakan gabungan 2 buah ball clasp dan omega loop yang disolder dengan solder laser. Prinsipnya menyerupai cengkeram Adams yang mempunyai jembatan (diganti omega loop) arrowhead (diganti dua ball clasp) yang berkontak dengan gigi. Jembatan pada cengkeram tersebut dapat disesuaikan sesuai kebutuuhan. Terdapat dua macam ukuran, yaitu untuk premolar dan molar (Rahardjo, 2009).

c.

Penjangkaran

Keputusan apakah penjangkaran perlu diperkuat atau tidak tergantung pada dua faktor berikut ini. Ukuran dan jumlah gigi-gigi penjangkaran dalam kaitannya dengan penggerak. Jumlah ruang yang tersedia untuk pergerakan gigi.

d.

Lempeng akrilik Rangka penghubung pada pesawat lepasan biasanya terbuat dari resin akrilik. Fungsi

utamanya adalah untuk basis dari komponen lain dari pesawat, tetapi juga sedikit menambah retensi dan penjangkaran. Selain itu, rangka bisa dibuat sedemikian rupa sehingga memasok tambahan yang bermanfaat baik komponen utama pesawat dalam bentuk bite plan (Foster, 1997).

2.4 Biomekanik Pergerakan Gigi 1. TEORI PIEZOELECTRIC Piezoelectricity adalah suatu fenomena yang terlihat pada material anorganik yang berkristal, dimana deformasi struktus kristal akan menghasilkan suatu aliran listrik karena adanya perpindahan electron pada kristal-kristal tersebut. Pada tahun-tahun terakhir ini diketahui bahwa kristal organic juga mempunyai sifat-sifat piezoelectric ini. Bila suatu gaya dikenakan pada tulang yang dapat menyebabkan pelengkungan (bending) tulang, maka sinyal piezoelectric dapat terlihat. Sinyal piezoelectric ini mempunyai dua karakteristik istimewa yaitu: 1) Merupakan suatu sinyal yang cepat hilang. Sebagai contoh ; bila gaya dikenakan suatu sinyal piezoletric akan terlihat dan akan cepat hilang walaupun gaya tetap digunakan. 2) Akan terlihat timbulnya signal yang sama yang berlawanan arah bila gaya yang digunakan dihilangkan.

Kedua karakteristik ini terjadi karena adanya perpindahan electron didalam kristal ini berubah karena adanya tekanan. Sewaktu kristal dideformasi, electron bergerak dari satu tempat ke tempat lain dalam kristal menyebabkan terlihatnya sinyal listrik. Bila tekanan dipertahankan, struktur kristal akan stabil dan tidak ada sinyal listrik yang terlihat. Sewaktu tekanan dihilangkan, kristal akan kembali kebentuk semula, terlihat aliran pembalikan electron yang akan menimbulkan sinyal listrik yang berlawanan arah. Dengan

demikian, aktifitas yang ritmis akan menghasilkan pergantian sinyal listrik yang konstan, sedang pemberian beban yang jarang hanya akan menghasilkan sinyal yang tidak teratur. Sinyal piezoelectric dihasilkan oleh perlengkungan tulang alveolar selama proses pengunyahan yang normal, dan mungkin sangat penting dalam mempertahankan tulang disekitar gigi. Bila matriks jaringan mengalami distorsi karena pemberian tekanan, polaritas negatif dan positif akan terjadi pada permukaan tulang. Aliran negatif akan mengaktifkan osteoblas sedangkan osteoklas akan memberikan respons pada aliran positif. Stres kompresif (tekanan) akan menghasilkan aliran negatif sedang stres tensil (tarikan) akan menimbulkan positif. Deposisi dan resorpsi tulang akan terjadi sesuai dengan jenis aliran listrik yang terjadi dan hasil akhir adalah perubahan (remodelling) tulang untuk mengntisipasi gaya mekanis yang dibebankan pada tulang. Pada pemakaian gaya ortodonti yang berkepenjangan tidak terjadi sinyal yang konstan. Sinyal singkat hanya terlihat pada waktu pemberian dan penghilangan tekanan. Dapat disimpulkan bahwan piezilectric sangat penting dalam fungsi tulang yang normal, tetapi mungkin tidak ada pengaruhnya pada pergerakan gigi secara ortodonti.

2. TEORI ALIRAN DARAH (BLOOD FLOW THEORY) Teori ini dapat menerangkan hal-hal yang terjadi dan berhubungan dengan pergerakan gigi. Aliran darah akan berkurang bila ligament periodontal mendapat tekanan dan akan bertambah atau tetap saja kalau ligament periodontal mendapat tarikan. Perubahan pada aliran darah akan mengubah keadaan kimia darah. Level oksigen akan berkurang pada daerah tekanan dan akan bertambah pada daerah tarikan. Proporsi relatif metabolit yang lain juga akan berubah dan perubahan kimia ini akan menyebabkan perubahan seluler yang akan menyebabkan gigi berpindah dari tempatnya. Walaupun teori piezolectric dan teori aliran darah ini dapat diaplikasikan sebagai kontrol biologis pergerakan gigi, teori aliran darah kelihatannya lebih dapat digunakan sebagai basis dari pergerakan gigi secara ortodonti.

TAHAP PERGERAKAN GIGI Tahap Pertama:

Dalam tahap pertama terjadi pergerakan langsung yang merefleksikan adanya deformasi ligamen periodontal karena tekanan akar gigi. Tidak ada perbedaan yang nyata antar pergerakan yang diakibatkan oleh kedua tekanan yang berbeda besarnya ini (60 gr dan 150 gr). Terlihat bahwa tekanan sebesar 60 gr telah cukup untuk menekan ligamen periodontal di daerah apeks gigi dan puncak alveolar (alveolar crest).

Tahap Kedua: Dalam tahap kedua dimulai penataan kembali (remodeling) serabut periodontal dan tulang dan tidak terjadi pergerakan gigi. Gigi yang mengalami pembebanan tekanan 60 gr menjalani tahap kedua ini sekitar 4 hari, tetapi gigi yang dibebani tekanan sebesar 150 gr menyelesaikan tahap kedua sekitar dua minggu.

Tahap Ketiga: Penambahan pergerakan gigi dimulai pada tahap ketiga ketika tulang pada daerah kompresi diresorpsi. Bila terjadi frontal resorption pergerakan gigi lebih teratur dan terjadi secara perlahan-lahan bila dibandingkan dengan pergerakan gigi pada underminning resorption. Bahwa gigi yang menerima beban sebasar 150 gr akan lebih cepat bergerak, sehingga pada hari ke-22 pergerakan gigi pada kedua pembebanan itu akan sama banyaknya. Dengan alasan ini beberapa dokter gigi lebih menyukai penggunaan pembebanan yang besar dalam menggerakan gigi. Tapi harus diingat bahwa dalam penggunaan gaya yang besar tidak ada istirahat bagi ligamen periodontal dan akan membahayakan vigalitas ligamen itu sendiri. Jangka waktu (durasi) pemberian gaya ortodonti akan berpengaruh pada haril perawatan. Pengalaman klinik memperlihatkan bahwa durasi tekanan yang diberikan paling sedikit selama 6 jam, dan akan lebih efektif bila durasinya terus-menerus. Tekanan yang terus menerus ini bukan berarti bahwa tekanan yang diberikan tidak menyusut (mengecil) selama waktu pemakaian tetapi harus tetap ada selama beberapa waktu tertentu. Menurut durasinya tekanan ortodonti dapat dibagi atas: Tekanan yang terus-menerus (continuous force), tekanan berkala (interrupted force), dan tekanan terputus (intermittent force). Tekanan terus-menerus adalah tekanan yang dipertahankan sehingga tidak menurun menjadi nol selama interval kunjungan pasien. Tekanan ini didapat dari alat ortodonti cekat dan

dalam mengaktifkannya harus dijaga agar tetap pada tekanan yang ringan sehingga hanya memperkecil pembuluh darah pada ligament periodontal. Tekanan berkala menunjukan tekanan yang mempunyai pola siklus selama waktu interval kunjungan, tekanan berkala ini juga dihasilkan oleh alat ortodonti cekat. Tekanan yang terputus dihasilkan oleh alat ortodonti lepas dimana tekanan yang dikenakan pada gigi akan menjadi nol bila pasien tidak memakai alat ortodonti tersebut.

Force Tooth

Tooth movement
PDL/Bone Biological electricity Blood flow disturbances Microfractures Osteoblasts (tension) Osteoclasts (compression) Resorption and Deposition of bone

Line of Force

2.5 Cara menentukan waktu kontrol Penentuan waktu kontrol pada alat orthodonti lepasan : berdasarkan pergerakan gigi dari alat ortho yang dipasangkan kontrol merupakan proses lanjutan dari perawatan orthodontiyang wajib dilakukan antara 3- 4 minggu sekali kontrol bertujuan untuk mengevaluasi perawatan orthodonti dan mengetahui keluhan yang dialami pasien