Anda di halaman 1dari 53

BAB IV PELEPASAN BEBAN DENGAN OLS (OVER LOAD SHEDDING) PADA SISTEM TENAGA LISTRIK DI JAWA BALI

4.1

Teori Dasar Pelepasan Beban Gangguan yang besar dapat menyebabkan ketidak-stabilan frekuensi dan

tegangan sistem. Ketidakstabilan frekuensi seperti penurunan frekuensi yang drastis dapat menyebabkan sistem mengalami pemadaman total (black out). Salah satu strategi untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan turunnya frekuensi secara drastis adalah pelepasan sebagian beban yang dipikul oleh sistem. Setelah sebagian beban dilepas, beban-beban yang dipikul oleh pembangkit yang masih beroperasi akan berkurang dan frekuensi akan dapat kembali ke keadaan normal segera setelah terjadi keseimbangan antara pembangkitan dan pembebanan. Pelepasan beban harus dilakukan segera pada saat frekwensi sistem mulai menurun dengan drastis. Ada dua jenis pelepasan beban yang telah dikembangkan saat ini, yaitu: pelepasan beban berdasarkan penurunan frekuensi (frequency decline) dan pelepasan berdasarkan kecepatan penurunan frekuensi (rate of frequency decline). Kedua pendekatan ini masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kedua pendekatan tersebut dapat digabungkan untuk mendapatkan skema pelepasan beban yang lebih akurat. Konsep pelepasan beban ini telah berkembang ke arah pelepasan beban secara cerdas (Intelligent Load Shedding).

4.1.1. Pelepasan Beban (Load Shedding) Jika terjadi gangguan dalam sistem yang menyebabkan daya yang tersedia tidak dapat melayani beban, misalnya disebabkan oleh adanya unit pembangkit yang trip, maka untuk mencegah terjadinya collapse pada sistem perlu dilakukan pelepasan beban. Kondisi jatuhnya salah satu unit pembangkit dapat dideteksi dengan adanya penurunan frekuensi sistem yang drastis. Jika frekuensi menurun, maka setelah mencapai titik puncak dilakukan pelepasan beban tahap pertama sesuai dengan frekuensi yang menurun dan seterusnya sampai tahap yang telah ditentukan berdasarkan besanya perubahan
23

frekuensi. Mencapai titik frekuensi puncak yang telah mencapai keseimbangan atau normal kembali dikatakan seperti itu setelah melalui beberapa tahap pelepasan beban. Makin besar unit pembangkit yang jatuh yang berarti makin besar pula daya yang hilang, maka frekuensi akan menurun dengan cepat. Selain itu kecepatan menurunnya frekuensi juga tergangtung pada besar kecilnya kosntanta inersia sistem. Selain penurunan frekuensi, parameter lain yang digunakan pada pelepasan beban adalah tegangan. Secara parallel penurunan daya reaktif akan mengakibatkan penurunan tegangan. Penurunan tegangan ini dapat diatasi dengan melakukan koordinasi peralatan yaitu pelepasan sementara sampai pelepasan total pengatur tengangan, pelepasan pengubah tap pada trafo, pelepasan rekator shunt dan penghubungan kapasitor ke sistem. Jika dari koordinasi alat ini masih terjadi penurunan tegangan, maka dilakukan pelepasan beban dengan menggunakan rele tegangan. a) Pemodelan Pelepasan Beban Pemodelan pelepasan beban adalah sebagai berikut : V2 Xd I
E

V1 X1

S = P +jQ BUS

Gambar 4.1 Model diagram segaris ILS Keterangan : V2 V1 = tegangan pada bus generator ( ) = tegangan pada bus infinit sebagai bus reference (0) = perbedaan sudut tegangan antara bus infinit dengan bus generator

24

b) Persamaan untuk kestabilan frekuensi, tegangan, dan synhrophasor Pelepasan Beban berdasarkan perubahan frekuensi sistem Menurut hukum Newton, terdapat hubungan antara kopel mekanis penggerak dengan perputaran generator, yaitu :

Keterangan: TG TB J : Kopel penggerak motor : Kopel beban yang membebani generator : Momen inersia dari generator : Kecepatan sudut perputaran generator

Sedangkan frekuensi yang dihasilkan oleh generator adalah :

Adanya pengaturan frekuensi dalam sistem berarti pula pengaturan kopel penggerak generator, atau juga berarti pengaturan daya aktif generator. Ditinjau dari beban sistem, frekuensi akan turun apabila daya aktif yang dibangkitkan tidak mencukupi kebutuhan beban dan sebaliknya frekuensi akan naik apabila ada kelebihan daya reaktif pada sistem. Secara mekanis dapat dinyatakan bahwa :

T dapat dinyatakan dalam frekuensi melalui persamaan:

diperoleh : sebelum terjadi gangguan terjadi keseimbangan daya, yaitu daya yang dibangkitkan oleh sistem pembangkitan sama dengan daya beban (Pg=Pb) dan diperoleh persamaan sebagai berikut:

25

Dimana

adalah selisih daya antara yang dibangkiykan dengan

beban setelah gangguan, dalam hal ini sama dengan sebesar daya yang dibangkitkan oleh unit terganggu. Konstanta Inersia Perubahan frekuensi bisa diakibatkan juga oleh momen inersia (H) seperti pada persamaan berikut

Keterangan : J = momen inersia (kgm2) G = Rating base (MVA) = kecepatan sinkron (rad/det) Untuk mendapatkan rata-rata dari inersia mesin di dalam sistem yang multi mesin adalah sebagai berikut:

Persamaan sudut daya ( ) Untuk mendapatkan persamaan sudut daya ( ), tinjau rangkaian ekuivalen yang terdiri dari 2 bus seperti berikut:
1 2

E1
r r

E2

Gambar 4.2 Sistem tenaga terdiri dari 2 bus

Persamaan sudut daya : Sedangkan


| || |

Selanjutnya diperoleh waktu kritis (tc) sebagai berikut:

26

Persamaan untuk Kestabilan tegangan

V R +jX P +jQ

Gambar 4.3 diagram segaris untuk penentuan tegangan beban Persamaan tegangan pada beban [ ( )]

Keterangan : Q = Daya reaktif P = Daya aktif E = Tegangan generator X = Reaktansi Batas kestabilan Batas stabilitas yang harus dicapai adalah: [ ]

Keterangan : S = Daya semu YL = Admitansi beban V = Tegangan bus beban

4.1.2. Perencanaan Pelepasan beban Pada proses pelepasan beban perlu direncanakan sebelumnya bebanbeban yang akan dilepas, dengan urutan prioritas. Prioritas utama yaitu bebanbeban yang kurang penting karena beban-beban penting perlu mendapat pelayanan listrik secara kontinue. Dalam pelaksaannya pelepasan beban dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu: a) Pelepasan beban manual (Manual Load Shedding) b) Pelepasan beban otomatis (Automatic Load Shedding) c) Pelepasan beban lebih (Over Load Shedding)

27

a) Pelepasan Beban Manual (Manual Load Shedding) Pelepasan beban secara manual hanya berlaku pada kondisi sistem yang tidak kritis dan dalam hal ini operator harus mengambil inisiatif sendiri untuk melepaskan sebagian beban.Kekurangan kekurangan pelepasan beban secara manual adalah sebagai berikut : Diperlukan operator yang banyak Dapat terjadi pelepasan beban berlebih (overshedding) Kelambatan waktu bertindaknya operator

Pada kondisi yang kritis dimana arus naik sangat cepat, tindakan pelepasan beban secara manual sulit untuk mengantisipasi kenaikan arus.

b) Pelepasan Beban Otomatis (Automatic Load Shedding) Pelepasan beban secara otomatis direncanakan khusus untuk mengatasi kondisi sistem yang kritis. Alat yang dipakai dalam Tugas Akhir ini adalah jenis Pengaman Arus Lebih yang lebih dikenal dengan Overload Shedding (OLS). Alat ini khusus untuk mengatasi beban lebih dan bekerja akibat kenaikan arus yang melebihi suatu batas tertentu. Batas tertentu tersebut ditentukan sebesar 0,95 dari arus nominal pada incoming fedeer. Hal ini dilakukan agar OLS bekerja lebih dahulu daripada pengaman hubung singkat pada saat terjadi gangguan beban lebih. Oleh sebab itu setting OLS harus dikoordinasikan dengan setting OCR yang mengatasi gangguan hubung singkat.

c) Pelepasan Beban Lebih (Overload Shedding) Yang menjadi masalah pokok dalam merencanakan pelepasan beban suatu sistem tenaga listrik, adalah : Jumlah tingkat pelepasan beban Besar beban yang dilepas pada setiap tingkat Setting arus setiap tingkat Kelambatan waktu pada setiap tingkat pelepasan

Pelepasan beban dilakukan secara bertahap agar sistem tidak mengalami pelepasan beban yang terlalu besar atau melakukan pelepasan beban yang tidak diperlukan. Pelepasan beban ditentukan oleh besarnya kelebihan beban, hal ini dapat diartikan bahwa semakin besar kelebihan beban semakin banyak jumlah tingkat pelepasan.
28

Over Load shedding (OLS) yang bekerja atas dasar arus, diset pada suatu harga setting arus dibawah arus nominalnya (In) dan kemudian akan memberikan perintah pemutus daya (PMT) untuk melaksanakan pelepasan beban (dalam hal ini dapat dilengkapi dengan timer). Setting waktu untuk OLS ini menggunakan karakteristik waktu tunda tertentu (definite time), yaitu waktu yang diperlukan oleh rele dari menerima respon sampai bekerjanya Pemutus Daya dan besarnya adalah tetap.

4.2.

Penerapan Pola OLS (Over Load Shedding) pada Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali Penerapan pola pelepasan beban dengan overload shedding (OLS) ini

dimaksudkan sebagai antisipasi untuk menghindari pemadaman yang lebih luas akibat terjadi pembebanan lebih pada instalasi penghantar atau interbus transformer (IBT) yang disebabkan adanya gangguan di subsistem tersebut dengan cara mengurangi atau membuang sebagian beban melalui sensor beban lebih atau overload relai (OLR).

4.2.1. Dasar Penerapan Pola OLS Dasar penerapan pola OLS mengacu kepada beberapa pertimbangan operasional yaitu : a) Adanya ancaman terhadap keamanan sistem yang timbul akibat gangguan di susbsistem. b) Adanya keterbatasan kemampuan sistem penyaluran atau tidak

terpenuhinya kriteria keandalan N-1 pada jaringan. c) Kondisi dan pola pengoperasian sistem.

d) Mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat adanya gangguan serta untuk penyelamatan sistem yang lebih besar. 4.2.2. Kriteria Penerapan Sistem OLS a) Skenario Skenario yang diterapkan dalam pola OLS adalah skenario yang diharapkan dapat memberikan pengamanan yang maksimum dengan memperhatikan faktor keamanan, kemudahan dan faktor fleksibilitas
29

operasi dengan resiko pemadaman yang minimum. Untuk penerapan pola OLS, maka dalam studi pemilihan skenario harus membatasi asumsi kejadian dan kondisi yang dapat menjadikan OLS bekerja. b) Disain Pola OLS Dalam penerapan pola OLS harus memperhatikan faktor-faktor seperti : Faktor-faktor kemudahan dan keamanan dalam hal : Mengaktifkan/ menonaktifkan sistem OLS Keandalan operasi sistem OLS. Penyempurnaan/ perubahan sistem OLS Pemeliharaan/ pengujian sistem OLS

Faktor-faktor pola operasi antara lain : Pola penerapan OLS tidak terpengaruh oleh adanya perubahan konfigurasi jaringan (fleksibel). 4.2.3. Pembagian Tanggung Jawab Dalam pelaksanaan penerapan pola OLS menyangkut beberapa satuan unit tugas terkait yang akan secara formal menjadi penanggung jawab dalam setiap pola OLS yang dibuat. a) P3B ( DPT-P3B ) Menentukan nilai setting arus dan setting waktu pelepasan beban.

b) Unit Pengatur Beban ( UPB ) Menetapkan skenario pelepasan beban. Menentukan lokasi subsistem yang tidak memenuhi kriteria N-1. Memonitor perkembangan sistem dan menentukan kapan OLS tidak diperlukan lagi. Mengaktifkan atau menonaktifkan sistem OLS.

c) Sektor Membuat gambar skematik yang mengacu pada kriteria disain. Mengadakan peralatan yang diperlukan serta memasang dan menguji pola OLS.
30

Mengaktifkan dan menonaktifkan pola OLS atas perintah UPB. Pemeliharaan dan pengujian sistem OLS.

Untuk tertibnya dalam penerapan pola OLS dibuat aturan dan pedoman yang tertuang lembar terlampir. 4.2.4. Lokasi Penerapan OLS Lokasi atau instalasi yang dipasang pola OLS adalah pada penghantar atau IBT yang dinilai mempunyai kendala (pada saat itu), dimana untuk perkembangannya selalu dimonitor sesuai kebutuhan dan keperluan yang sifatnya sangat dinamis serta mengikuti perkembangan sejalan dengan kebijakan dalam pengaturan opersai sistem. Sampai saat ini lokasi gardu induk yang telah dan akan diterapkan pola OLS sebanyak 28 (duapuluh delapan), seperti terlihat pada Tabel-1.

4.3.

Aturan

dan

Pedoman

Penerapan

Sistem

Pelepasan

Beban

dengan Overload Shedding Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau over load shadding (OLS) dilaksanakan dengan mengikuti prosedure dan kaidah sebagai berikut : 1) Dasar penerapan pola OLS Menghindari pemadaman yang lebih luas akibat terjadi pembebanan lebih pada instalasi (SUTT atau IBT) yang disebabkan adanya gangguan di subsistem tersebut dengan cara mengurangi pembebanannya. 2) Pemilihan skenario pelepasan beban Skenario yang diterapkan adalah yang dapat memberikan pengamanan yang maksimum (memperhatikan sekuriti dan dependability) dengan resiko pemadaman yang minimum. 3) Kriteria disain pola OLS Agar memperhatikan faktor-faktor kemudahan dan keamanan dalam hal : a) Mengaktifkan/ menonaktifkan sistem OLS b) Keandalan operasi sistem OLS c) Penyempurnaan/ perubahan sistem OLS

d) Pemeliharaan/ pengujian sistem OLS

31

Tabel-1. Lokasi penerapan sistem pelepasan beban dengan Over Load Shedding Lokasi GI Area-1 1. Gandul 2. Petukangan 3. Cengkareng 4. Gunung Salak 5. Bogorbaru 6. Mampang 7. Senayan 8. Cawang 9. Pulomas 10. Gambirlama IBT 500/150 kV, 2x 500 MVA SUTT 150 kV Gandul skt-1/2 SUTT 150 kV D.Kosambi skt-1/2 SUTT 150 kV Bogorbaru skt-1 SUTT 150 kV Cibinong skt-1/2 SKTT 150 kV Senaya skt-1/2 SKTT 150 kV Petukangan skt-1/2 SUTT 150 kV Gandul skt-1/2 SUTT 70 kV Pulogadung skt-1 SKTT 70 kV Pulogadung skt-1/2 Area-2 1. Bdg.Selatan 2. Cigereleng 3. Cianjur 4. Tasikmalaya 5. Sunyaragi 6. Drajat IBT 500/150 kV, 2x 500 MVA SUTT 150 kV Bdg. Selatan skt-1/2 SUTT 150 kV Bogorbaru skt-1/2 SUTT 150 kV Garut skt-1/2 SUTT 150 kV Rancaekek skt-1/2 SUTT 150 kV Garut skt-1/2 & SUTT 150 kV Kamojang skt-1/2
32

Instalasi

Lokasi GI Area-3 1. Ungaran 2. Bringi 3. Kaliwungu 4. Weleri

Instalasi

IBT 500/150 kV, 2x 500 MVA SUTT 150 kV Jelok skt-1/2 SUTT 150 kV Krapyak skt-1/2 SUTT 150 kV Kaliwungu skt-1/2 Area-4

1. Srb. Barat 2. Paiton 3. Sekarputih 4. Kertosono 5. Tulungagung 6. Banaran-150 7. Banaran-70 8. Manisrejo 9. Gilimanuk

IBT 500/150 kV, 2x 500 MVA IBT 500/150 kV, 2x 500 MVA SUTT 150 kV Srb.Barat skt-1/2 SUTT 70 kV Sekarputih skt-1/2 SUTT 70 kV Banaran skt-1/2 SUTT 150 kV Sekarputih skt-1/2 IBT 150/70 kV 2x 35 MVA IBT 150/70 kV 2x 35 MVA SKLTT 150 kV Banyuwangi skt-1/2

Gambar 4.4 Konfigurasi Jaringan 500kV Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali
33

4.4.

Penerapan Sistem Pelepesan Beban (OLS) Di Gardu Induk Sistem proteksi bertujuan sebagai pengamanan untuk meminimalkan dampak

dari akibat terjadinya kesalahan atau gangguan pada sistem tenaga listrik. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan dengan cara memisahkan bagian yang terganggu dan atau mencegah dampak meluasnya daerah yang padam. Untuk itu pada beberapa Gardu Induk (GI) diterapkan pelepasan beban dengan over load shedding (OLS) sebagai antisipasi untuk menghindari pemadaman yang lebih luas akibat terjadi pembebanan lebih pada instalasi penghantar atau interbus transformer (IBT). 4.4.1. Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) Di GITET Gandul Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau over load shedding (OLS) pada interbus-transformer ( IBT ) 2 x 500 MVA 500/150 kV di GITET Gandul sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan IBT Gandul terhubung dengan pasokan dari IBT Cibinong dan PLTU/PLTGU Muarakarang. Kriteria keandalan N-1 pada IBT 2x 500 MVA di GITET Gandul tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA di GITET Gandul atau salah satunya serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA atau salah-satu IBT di GITET Gandul antara lain adalah : - Tripnya salah satu IBT 500 MVA di GITET Gandul, sedangkan kondisi terjadi pembebanan lebih akibat tripnya sejumlah pembangkit di PLTU/ PLTGU Muarakarang tidak diperhitungkan.

34

3) Pola Penerapan. Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing IBT 500 MVA di GITET Gandul sisi 150 kV yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT (melepas sebagian pasokan beban), dengan 2 (dua) tahap pelepasan beban, yaitu :

Tahap-1 : Melepas beban dengan mentripkan PMT 150 kV di Gandul arah Kemang sirkit-1 & 2, dengan waktu tunda 5 (lima) detik. Tahap-2 : Apabila masih dirasakan adanya beban lebih, diteruskan dengan perintah mentripkan PMT 20 kV incomming trafo-2, 150/20 kV 60 MVA di GI Gandul dengan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap-1. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan, pola OLS ini harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain : Pengujian fungsi order trip ke PMT 150kV di Gandul arah Kemang sirkit- 1&2. Pengujian fungsi order trip ke PMT 20kV incomming trafo-2,150/20kV 60MVA. 5) Lain-lain Setting arus 2000 A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini sebagai modifikasi dari pola OLS sebelumnya dan telah diterapkan mulai tanggal 30 Agustus 1998.

35


Cengkareng
Trf-1 TGRNG

MUARA KARANG MUARA KARANG

MUARA KARANG

JTAKE-1 MAXI JTAKE-2

OCR Skt-1 Skt-2 DURI KOSAMBI Trf-2,3

ANGKE & KETAPANG

CKUPA BRAJA PSMIS

KBJRK & KARET

SRPNG (buka kopel)


PETUKANGAN

SNYAN MPANG

OCR

KEMANG

KEMBANGAN

OCR

GANDUL

CIBNG

Gambar 4.5 Pengoperasian Pola OLS di GI Gandul, Petukangan dan Cengkareng


36

4.4.2.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Petukangan Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Petukangan - Gandul di GI Petukangan dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Petukangan terhubung dengan pasokan dari IBT Gandul dan PLTU/PLTGU Muarakarang. Kriteria keandalan N-1 pada SUTT 150 kV Gandul - Petukangan tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Gandul kearah Petukangan sirkit 1/2 dengan arah suplai dari Gandul ke Petukangan, serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih
Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Gandul kearah Petukangan antara lain adalah :

Tripnya salah satu SUTT 150 kV Gandul - Petukangan. Berkurangnya sejumlah pasokan daya dari pembangkit PLTU/ PLTGU Muarakarang.

3) Pola Penerapan
Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SUTT 150 kV Gandul Petukangan di GI Petukangan yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMTPMT (melepas sebagian pasokan beban), dengan 4 (empat) tahap pelepasan beban, yaitu : Tahap-1 : Melepas beban dengan mentripkan PMT 150 kV trafo-3, 60 MVA di GI Petukangan dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. Tahap-2 : Melepas beban dengan mentripkan PMT 150 kV trafo-1, 60 MVA dan PMT 150 kV arah Serpong-1 di GI Petukangan, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap-1. Tahap-3 : Melepas beban dengan mentripkan PMT 150 kV arah Serpong-2 di GI Petukangan dengan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap-2. 37

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain : Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV trafo-1 & 3 di GI Petukangan. Pengujian fungsi order trip ke PMT 150kV di Petukangan arah Serpong1/2. 5) Lain-lain Untuk keberhasilan pola OLS ini, pengoperasian PMT Kopel 150 kV di GI Serpong harus normal terpisah. Setting arus A, dengan gambar skematik terlampir.

4.4.3.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Cengkareng Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Durikosambi - Cengkareng di GI Cengkareng dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Kriteria keandalan N-1 pada SUTT 150 kV Durikosambi - Cengkareng tidak terpenuhi. GI Cengkareng sampai Jatake dipasok radial dari Durikosambi (subsistem Gandul PLTGU Muarakarang). Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Durikosambi - Cengkareng serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Durikosambi kearah Cengkareng adalah tripnya salah satu SUTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SUTT 150 kV Durikosambi kearah Cengkareng di GI Cengkareng yang selanjutnya
38

dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT (melepas sebagian beban), dengan bertahap yaitu : Tahap-1 : Mentripkan PMT 150 kV bay Tangerang sirkit-1 di GI Cengkareng (waktu tunda 3 detik ). Tahap-2 : Mentripkan PMT 150 kV trafo-3, 60 MVA di GI Cengkareng (waktu tunda 3 detik setelah tahap-1). 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi order trip ke PMT-PMT dengan hasil baik. 5) Lain-lain Untuk keberhasilan pola OLS ini, pengoperasian SUTT 150 kV Cengkareng Tangerang sirkit-1 dan sirkit-2 harus terpisah. Setting arus 800 A, dengan gambar skematik terlampir.

4.4.4.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GIS Senayan Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SKTT 150 kV Petukangan - Senayan di GIS Senayan dilaksanakan berdasarkan :

1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Kriteria keandalan N-1 pada SKTT 150 kV Petukangan - Senayan tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SKTT 150kV

Petukangan - Senayan serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih SKTT 150kV Petukangan kearah Senayan adalah tripnya salah satu SKTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SKTT 150kV Petukangan kearah Senayan di GIS Senayan yang selanjutnya dikirimkan untuk
39

mentripkan PMT-PMT penyulang 20 kV di GIS Senyayan (melepas sebagian beban), dengan bertahap yaitu : Tahap-1 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Pucung, Putik dan Akar (waktu tunda ... detik ). Tahap-2 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Lidi, Sabut dan Jamur (waktu tunda .. detik ). Tahap-3 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Prangko, Wesel dan Kempo (waktu tunda detik ). Tahap-4 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Gulat, Cangkir dan Yudo (waktu tunda ..detik ). Tahap-5 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Danayasa-II, Danayasa-II dan Gelora (waktu tunda ... detik). 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi order trip dengan hasil baik. 5) Lain-lain Setting arus ..... A, dengan gambar skematik terlampir.

40

Subsistem 150 kV MKRNG - DKSBI

SRPNG (buka kopel)


OCR PETUKANGAN OCR OCR MPANG

SNYAN

KEMANG

Subsistem 150/70 kV STBDI dan CWANG


OCR CWANG

OCR

GANDUL

Gambar 4.6 Pengoperasian Pola OLS di GI Senayan, Mampang dan Cawang


41

4.4.5.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GIS Mampang Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SKTT 150 kV Mampang - Senayan di GIS Mampang dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Kriteria keandalan N-1 pada SKTT 150 kV Mampang - Senayan tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SKTT 150 kV Mampang - Senayan serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih SKTT 150 kV Senayan kearah Mampang adalah tripnya salah satu SKTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SKTT 150 kV Senayan kearah Mampang di GIS Mampang yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT penyulang 20 kV di GIS Mampang (melepas sebagian beban), dengan bertahap yaitu : Tahap-1 Tahap-2 Tahap-3 Tahap-4 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi order trip dengan hasil baik. 5) Lain-lain Setting arus ..... A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Meteor dan Bayam (waktu tunda ... detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Musi dan Bumi (waktu tunda ..detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Bulan dan London (waktu tunda detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Bintang dan Roma (waktu tunda ..detik)

42

4.4.6.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) Di GI Cawang Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Gandul - Cawang di GI Cawang dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Kriteria keandalan N-1 pada SUTT 150 kV Gandul - Cawang tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Gandul Cawang serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih SUTT 150 kV Gandul kearah Cawang adalah tripnya salah satu SUTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SUTT 150 kV Gandul kearah Cawang di GIS Cawang yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT 150 kV di GI Cawang (melepas sebagian beban), dengan bertahap yaitu : Tahap-1 Tahap-2 : Mentripkan PMT 150kV trafo-3, 60MVA 150/20kV (waktu tunda ... detik ). : Mentripkan PMT 150kV trafo-2, 60MVA 150/20kV (waktu tunda ... detik ).

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi order trip ke PMT-PMT dengan hasil baik. 5) Lain-lain Setting arus ..... A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998

43

4.4.7.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Gambir lama Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SKTT 70 kV Pulogadung - Gambirlama di GI Gambirlama dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Kriteria keandalan N-1 pada SKTT 70 kV Pulogadung - Gambirlama tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SKTT 70 kV

Pulogadung - Gambirlama serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih SKTT 70 kV Pulogadung kearah Gambirlama adalah tripnya salah satu SKTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SKTT 70 kV Pulogadung kearah Gambirlama di GI Gambirlama yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT penyulang 20 kV di GI Gambirlama (melepas sebagian beban), dengan bertahap yaitu : Tahap-1 Tahap-2 Tahap-3 Tahap-4 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi order trip dengan hasil baik. 5) Lain-lain Setting arus ..... A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998 : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Senopati dan Ayu (waktu tunda ... detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Phiton dan Raos (waktu tunda detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Kediri dan Kutai (waktu tunda detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Tunil dan Lenong (waktu tunda detik)

44

4.4.8.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Pulomas Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 70 kV Pulogadung - Pulomas di GI Pulomas dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Kriteria keandalan N-1 pada SUTT 70 kV Pulogadung - Pulomas tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 70 kV

Pulogadung - Pulomas serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih SUTT 70 kV Pulogadung kearah Pulomas adalah tripnya salah satu SUTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SUTT 70 kV Pulogadung kearah Pulomas di GI Pulomas yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT penyulang 20 kV di GI Pulomas (melepas sebagian beban), dengan bertahap yaitu : Tahap-1 Tahap-2 Tahap-3 Tahap-4 Tahap-5 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi order trip dengan hasil baik. 5) Lain-lain Setting arus ..... A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998
45

: Mentripkan PMT 20 kV penyulang Mahesa dan Anggada (waktu tunda ... detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Taksaka dan Sempati (waktu tunda .. detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Kaswari dan Shinta (waktu tunda detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Parkit dan Tekukur (waktu tunda ..detik) : Mentripkan PMT 20 kV penyulang Kutilang dan Merpati (waktu tunda ..detik)

Subsistem 150/70 Kv Pulogadung


OCR

GMBMA

OCR

PLMAS

Gambar 4.7 Pengoperasian Pola OLS di GI Pulomas dan Gambir lama

4.4.9.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) Di GI Gunung Salak Lama Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Gunung Salak Lama - Bogorbaru di GI Gunung Salak Lama dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Sistem penyambungan single phi ke GI/ PLTP Gunung Salak Baru. Terbatasnya kemampuan busbar di GI/ PLTP Gunung Salak Lama. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Gunung Salak Lama - Bogorbaru sirkit tunggal, serta untuk menghindari terjadi hilangnya seluruh pasokan daya dari PLTP Gunung Salak Lama dan Gunung Salak Baru.
46

2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Gunung Salak Lama - Bogorbaru adalah tripnya Gunung Salak Baru - Bogorbaru. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada SUTT 150 kV Gunung Salak Lama Bogorbaru di GI Gunung Salak Lama, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV bay PLTP unit-1 dan unit 3 di GI Gunung Salaklama, secara bertahap : Tahap-1 : Mentripkan PMT 150 kV bay GT unit-3 di GI Gunung Salak Lama dengan waktu tunda 4 (empat) detik Tahap-2 : Mentripkan PMT 150 kV bay GT unit-1 di GI Gunung Salak Lama dengan waktu tunda 2 (dua) detik, setelah tahap-1 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus 1000 A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan mulai tanggal 14 Juli 1998 SUTT 150 kV

47

CIRATA

CIBINONG G

BDUTR

PDLRG UBRNG Subsistem 150/70 kV Bogor dan Cianjur


OCR

LGDAR

CGRLG CNJUR
OCR

KRCDG CGRLG
OCR

BGBRU

PANASIA

OCR

3x55 MW

G. Salak Baru BDSLN G. Salak Lama

BDSLN

Gambar 4.8 Pengoperasian Pola OLS di Subsistem Bogor 48

4.4.10.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Bogorbaru Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Bogorbaru - Cibinong di GI Bogorbaru dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Bogorbaru terhubung dengan pasokan dari Cibinong, Cianjur atau subsistem Area-2 dan PLTP Gunung Salak. Pasokan lainnya sistem 70 kV yang radial. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Bogorbaru - Cibinong sirkit 1 dan 2 dengan arah suplai dari Cibinong ke Bogorbaru, serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. Mempertahankan pasokan Sub-sistem 150/70 kV Bogorbaru dengan memutus sebagian pasokan beban GI Bogorbaru dan lainnya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih
Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Cibinong kearah Bogorbaru antara lain adalah :

Tripnya salah satu sirkit dari SUTT 150 kV Bogorbaru - Cibinong. Hilangnya sumber pasokan dari PLTP Gunung Salaklama dan Salakbaru.

3) Pola Penerapan
Mengambil sensor beban lebih pada SUTT 150 kV Bogorbaru - Cibinong di GI Bogorbaru, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV di GI Bogorbaru arah Cianjur sirkit-1 & 2, dengan waktu tunda 8 (delapan) detik.

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus 720 A, dengan gambar skematik terlampir
49

4.4.11.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Cianjur Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Bogorbaru - Cianjur di GI Cianjur dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : GI Cianjur dipasok dari subsistem IBT Cibinong dan IBT Bandung Selatan yang terhubung secara looping. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Bogorbaru - Cianjur sirkit 1/2 dengan arah suplai dari Bogorbaru kearah Cianjur. Mengamankan pasokan Sub-sistem 150/70 kV Bogorbaru dan Cianjur dengan melepas looping ke subsistem Area-2. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Bogorbaru kearah Cianjur adalah terjadinya gangguan besar di subsistem Arera-2. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada SUTT 150 kV Bogorbaru - Cianjur di GI Cianjur, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV arah Cigereleng sirkit-1 & 2 di GI Cianjur, dengan waktu tunda 4 (empat) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus 720 A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998

50

4.4.12.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Cigereleng Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Bandung Selatan - Cigereleng di GI Cigereleng dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pola pengoperasian looping subsistem Area-1 dan Area-2 melalui jalur SUTT 150 kV Cigereleng Cianjur Bogorbaru - Cibinong Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Bandung Selatan - Cigereleng sirkit 1/2 dengan kearah Cigereleng Mengamankan pasokan Sub-sistem Area-2 dengan melepas looping ke subsistem Area-1 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150kV Bandung Selatan kearah Cigereleng adalah terjadinya gangguan besar di subsistem Area-1. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada SUTT 150 kV Bandung Selatan Cigereleng sirkit 1/2 di GI Cigereleng, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV arah Cianjur sirkit-1 & 2 di GI Cigereleng, dengan waktu tunda 4 (empat) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus 1000 A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998 suplai dari Bandung Selatan -

51

4.4.13.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GITET Bandung Selatan Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada IBT 500/150 kV, 2x 500 MVA di GITET Bandung Selatan sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Sunyaragi terhubung dengan pasokan dari IBT Mandirancan dan subsistem Bandung Selatan. Pasokan lainnya berupa jaringan beban radial. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA atau salah satunya, di GITET Bandung Selatan serta untuk menghindari pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Rancaekek kearah Sunyaragi antara lain adalah : Tripnya salah satu IBT 500 MVA di GITET Bandung Selatan. Hilangnya pasokan daya dari GITET Cirata.

3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing IBT 500 MVA di GITET Bandung Selatan yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan sebagian beban, dengan 2 (dua) tahap pelepasan, yaitu : Tahap-1 : Mentripkan PMT 150 kV di GI Drajat arah Garut sirkit-1&2, menggunakan fasilitas teleproteksi dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. Tahap-2 : Mentripkan PMT 150 kV trafo 1 dan 2, 150/20 kV 30 MVA dan 60 MVA di GI Bandung Selatan dengan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap-1.

52

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsifungsi antara lain : Test intertrip sinyal PLC dan dari Bandung Selatan Kamojang - Drajat dan fungsi order trip ke PMT 150 kV di GI Drajat arah Garut sirkit-1 & 2, dengan hasil baik. Pengujian fungsi order trip ke PMT 150kV trafo 1&2, dengan hasil baik.

5) Lain - lain Setting arus 2000 A, dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diterapkan sejak tahun 1998

53

CIRATA
BREBES /KEBASEN

BDUTR

OCR PDLRG LGDAR Subsistem 150/70 kV Cirebon KRCDG CGRLG CGRLG PANASIA CKSKA UBRNG RCKEK SRAGI SRAGI

CNJUR/ BOGOR

OCR

BDSLN BDSLN

MDCAN
OCR

GARUT - BANJAR DRJAT KAMOJANG

BDSLN

Gambar 4.9 Pengoperasian Pola OLS di GI BDSLN, CGRLG dan SRAGI


54

4.4.14.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Sunyaragi Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Rancaekek - Sunyaragi di GI Sunyaragi sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Sunyaragi terhubung dengan pasokan dari IBT Mandirancan dan subsistem Bandung Selatan. Pasokan lainnya berupa jaringan beban radial. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Rancaekek kearah Sunyaragi sirkit 1/2 dengan arah suplai dari Rancaekek ke Sunyaragi, serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Rancaekek kearah Sunyaragi antara lain adalah : Hilangnya pasokan daya dari IBT 500 MVA 500/150 kV GITET Mandirancan dalam kondisi looping dengan sistem pasokan Bandung Selatan (tripnya SUTET 500 kV Ungaran - Mandirancan atau IBT 500 MVA 500/150 kV GITET Mandirancan). 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing SUTT 150 kV arah Rancaekek di GI Sunyaragi, yang selanjutnya dikirimkan untuk melepas sebagian pasokan beban dengan mentripkan PMT-PMT 150 kV di Sunyaragi arah Brebes dan Kebasen, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain ; Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV di Sunyaragi arah Brebes dan Kebasen. 5) Lain-lain Setting arus 600 A, dengan gambar skematik terlampir.
55

4.4.15.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Drajat Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada bay SUTT 150 kV Drajat Kamojang dan Drajat - Garut di GI Drajat, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Drajat dengan pasokan dari subsistem Bandung Selatan. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Drajat Kamojang dan Drajat Garut. Mempertahankan pasokan subsistem 150/70 kV Garut Tasikmalaya dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Drajat Kamojang atau Drajat Garut lain adalah ; Tripnya salah satu dari SUTT 150 kV Drajat Kamojang atau SUTT 150 kV Drajat Garut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih di GI Drajat, pada SUTT 150 kV Drajat Kamojang dan SUTT 150 kV Drajat Garut, yang selanjutnya dikirimkan dengan menggunakan fasilitas teleproteksi untuk mentripkan PMT 150 kV di GI Tasikmalaya arah Ciamis sirkit-1 & 2, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsifungsi antara lain : Test intertrip sinyal PLC dari SUTT 150 kV Drajat Kamojang dan SUTT 150 kV Drajat Garut, dengan hasil baik. Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV di GI Tasikmalaya arah Ciamis sirkit-1 & 2, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus .. A, dengan gambar skematik terlampir.

56

4.4.16.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Tasikmalaya Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada bay SUTT 150 kV Garut - Tasikmalaya di GI Tasikmalaya, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Tasikmalaya dari subsistem Bandung Selatan radial. Pasokan Tasikmalaya kearah Ciamis berupa jaringan beban radial. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Garut Tasikmalaya. Mempertahankan pasokan subsistem 150/70 kV Tasikmalaya Ciamis Banjar, dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Garut - Tasikmalaya adalah tripnya salah satu dari SUTT 150 kV Garut - Tasikmalaya. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih di GI Tasikmalaya, pada SUTT 150 kV Tasikmalaya Garut, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV di GI Tasikmalaya bay Ciamis sirkit-1 & 2, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsifungsi antara lain ; Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV di GI Tasikmalaya bay IBT-1, 60 MVA 150/70 kV, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus A, dengan gambar skematik terlampir

57

Subsistem 150/70 kV CAMIS BANJAR

DRAJAT DRAJA T OCR


OCR

TASIK TASIK
150/70 kV kV 150/70

Subsistem 500/150 kV BDSLN - KMJNG GARUT

60 MVA

MALANGBONG

Gambar 4.10 Pengoperasian Pola OLS di GI Drajat dan Tasikmalaya

4.4.17.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GITET Ungaran Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada interbus-transformer ( IBT ) 2x 500 MVA 500/150 kV di GITET Ungaran sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan beban IBT 2x 500 MVA GITET Ungaran terpisah dengan jaringan dari pasokan IBT lainnya, memasok beban subsistem Jawa Tengah. Pengoperasian PLTU dan seluruh PLTGU Tambaklorok menjadi satu bus. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA di GITET Ungaran atau salah satunya serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA atau salah-satu IBT di GITET Ungaran adalah : Tripnya salah satu IBT 500 MVA di GITET Ungaran

58

Hilangnya pasokan daya dari beberapa unit PLTU dan PLTGU Tambaklorok.

3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing IBT 500 MVA di GITET Ungaran yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT untuk melepas sebagian pasokan bebannya, dengan 2 (dua) tahap pelepasan, yaitu: Tahap-1 : Melepas beban subsistem Solo dengan mentripkan PMTPMT 150 kV, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik, menggunakan fasilitas teleproteksi, di gardu induk : Tahap-2 Mentripkan PMT 150 kV di GI Jelok arah Bringin sirkit-1 & 2. Mentripkan PMT 150 kV di GI Klaten arah Wonosari sirkit-1 & 2

: Apabila masih dirasakan adanya beban lebih, diteruskan dengan perintah membuang beban subsistem Selatan dengan mentripkan PMT-PMT 150 kV, waktu tunda 3 detik setelah tahap-1, menggunakan fasilitas teleproteksi, di gardu induk: Mentripkan PMT 150 kV di GI Ungaran arah Bawen sirkit-1 & 2 dan arah Jelok sirkit-1 & 2. Mentripkan PMT 150 kV di GI Bawen arah Tambaklorok sirkit-1&2.

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsifungsi antara lain : Test intertrip sinyal PLC dari Ungaran - Jelok dan Ungaran - Bawen Klaten, dengan hasil baik Pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT, dengan hasil baik.

5) Lain - lain Pola OLS ini mengacu pada pola pengoperasian PLTU dan seluruh PLTGU Tambaklorok tidak terpisah. Setting arus 2000 A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini telah diiterapkan mulai tanggal 13 Desember 1997.

59


PLTU

PLTGU-BI TBK. LOROK

PLTGU-BII

KPYAK KLSRI KUDUS PWDDI RBANG CEPU GRUNG

OCR

KLNGU

SRNDL

PDLAM

OCR

UNGAR WLERI
OCR

BTANG PKLNG PMLNG

UNGRN SGRAH JELOK

BAWEN
OCR

BRNGI

WSOBO MRICA RWALO PWRJO WATES

GODEN KNTUG GJYAN

MJNGO PALUR SRGEN WSARI WGIRI

BANTUL
Gambar 4.11 Pengoperasian Pola OLS Subsistem AREA-III

KLATEN 60

4.4.18.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Kaliwungu Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Krapyak - Kaliwungu di GI Kaliwungu, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan ke GI Kaliwungu radial dari subsistem GITET Ungaran. Kriteria keandalan N-1 SUTT 150 kV Krapyak - Kaliwungu tidak terpenuhi. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Krapyak Kaliwungu. Mempertahankan pasokan beban ke GI Kaliwungu dan Polisindo dengan melepas sebagian pasokan beban ke arah GI Weleri. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Krapyak Kaliwungu adalah tripnya salah satu sirkit dari SUTT 150 kV tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada SUTT 150 kV Krapyak Kaliwungu di GI Kaliwungu, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV arah Weleri sirkit-1 & 2, dengan waktu tunda 4 (empat) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsifungsi order trip ke PMT-PMT, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus 960 A dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini telah diterapkan mulai tanggal 16 Februari 1998.

61

4.4.19.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Bringin Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Jelok - Bringin di GI Bringin, dilaksanakan berdasarkan :

1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Jelok Bringin. Kriteria keandalan N-1 SUTT 150 kV Krapyak - Kaliwungu tidak terpenuhi. Mempertahankan pasokan beban ke GI Bringin Palur dengan melepas sebagian pasokan beban di Bringin. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Jelok - Bringin adalah tripnya salah satu sirkit dari SUTT 150 kV tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada SUTT 150 kV Jelok - Bringin sirkit-1 & 2 di GI Bringin, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 150 kV trafo1 & 2, 150/20 kV di GI Bringin (waktu tunda 3 detik). 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi order trip ke PMT trafo, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus 624 A dengan gambar skematik terlampir Pola OLS ini telah diiterapkan mulai tanggal 28 Juli 1998

62


PLTU

PLTGU-BI

PLTGU-BII
TBK. LOROK

KPYAK KLSRI KUDUS PWDDI RBANG CEPU GRUNG

OCR

KLNGU

SRNDL

PDLAM

OCR

UNGAR WLERI
OCR

BTANG PKLNG PMLNG

UNGRN SGRAH JELOK

BAWEN
OCR

BRNGI

WSOBO MRICA RWALO PWRJO WATES

GODEN KNTUG GJYAN

MJNGO PALUR SRGEN WSARI WGIRI

BANTUL

KLATEN 63

Gambar 4.12 Pengoperasian Pola OLS Subsistem AREA-III - PLTGU BLOK I dan II pisah

4.4.20.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GITET Paiton Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada interbus-transformer ( IBT ) 2x 500 MVA 500/150 kV di GITET Paiton sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Pasokan beban IBT 2x 500 MVA GITET Paiton terpisah dengan jaringan dari pasokan IBT lainnya. IBT GITET Paiton memasok beban subsistem Jawa Timur bagian Timur dan Bali secara radial. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA di GITET Paiton atau salah satunya serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA atau salah-satu IBT di GITET Paiton antara lain adalah : Tripnya salah satu IBT 500 MVA di GITET Paiton. Adanya penambahan beban yang cukup besar dari kondisi normal terhadap pasokan subsistem Paiton yang tidak terkontrol. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing IBT 500 MVA di GITET Paiton sisi 150 kV yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT (melepas sebagian beban), dengan dua tahap pelepasan, yaitu : Tahap-1 : Melepas beban dengan mentripkan PMT 150 kV di Probolinggo arah Gondangwetan sirkit-1 & 2, menggunakan fasilitas teleproteksi dengan waktu tunda 5 (lima) detik. : Apabila masih dirasakan adanya beban lebih, diteruskan dengan perintah mentripkan PMT 150 kV itrafo-2, 3 dan 4
64

Tahap-2

150/20 kV di GI Probolinggo menggunakan fasilitas teleproteksi dengan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap-1. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain : Pengujian fungsi intertrip ke PMT 150 kV Probolinggo arah Gondangwetan sirkit-1 & 2. Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV incomming trafo-2, 150/20 kV 60 MVA. 5) Lain-lain - Setting dan gambar skematik terlampir - Pola OLS ini telah diterapkankan tanggal 22 Agustus 1998

AMPLA
OCR

GITET PAITON

Subsistem 150/70kV GDWTN - BNGIL


PBLGO

KRSA
N

STBDO

BDWS O

Subsistem 150 kV LJANG, JMBER, BWNGI & BALI

Gambar 4.13 Pengoperasian Pola OLS di GITET Paiton


65

4.4.21.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GITET Surabaya Barat Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada

IBT 2x 500 MVA, 500/150 kV di GITET

Surabaya Barat sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Tidak terpenuhinya kriteria keandalan N-1 ( kondisi tertentu ) IBT 2x 500 MVA di GITET Surabaya Barat. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA atau salah satunya, di GITET Surabaya Barat, serta untuk menghindari pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada IBT 2x 500 MVA atau salah-satu IBT di GITET Surabaya Barat antara lain adalah : Tripnya salah satu IBT 500 MVA di GITET Surabaya Barat. Hilangnya pasokan daya dari beberapa unit PLTU dan PLTGU Gresik.

3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada masing-masing IBT 500 MVA di GITET Surabaya Barat yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT untuk melepas sebagian pasokan bebannya, dengan 2 (dua) tahap pelepasan, yaitu : Tahap-1 : Mentripkan PMT-PMT 150 kV, waktu tunda 3 detik di lokasi :

GI Surabaya Barat, PMT 150 kV arah Driyorejo dan Babadan.

Tahap-2

: Mentripkan PMT-PMT, denan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap1, menggunakan fasilitas teleproteksi di lokasi : GI Manyar, PMT 150 kV trafo-2, 150/20 kV 60 MVA. GI Sekarputih, PMT 150 kV trafo-4, 150/20 kV 30 MVA.

66

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain : Test intertrip sinyal PLC dari Surabaya Barat - Sekarputih, dengan hasil baik Pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT , dengan hasil baik.

5) Lain-lain Setting arus A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini sebagai modifikasi dari pola OLS sebelumnya dan akan diterapkan tanggal Senin, 15 Desember 1997.

Sistem 500 kV

PLTGU GRESIK

Subsistem 150 kV
KRIAN 500 kV OCR

Jawa Timur lainnya

CREMAI BENDO

DRIYOREJ O

BABADAN

Beban Subsistem 150/70 Kv Driyorejo/ Babadan MANYAR


Sistem 150/70 kV Banaran & Manisrejo

NGORO SEKARPUTIH

Subsistem 70 kV Sekarputih -Mendalan

Gambar 4.14 Pengoperasian Pola OLS di GITET Surabaya Barat


67

4.4.22.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Kertosono Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 70 kV Sekarputih Kertosono sirkit-1 & 2 di GI Kertosono, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Tidak terpenuhinya kriteria keandalan N-1 ( kondisi tertentu ) pada SUTT 70 kV Sekarputih Kertosono. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 70 kV Kertosono Sekarputih. Mempertahankan pasokan beban 70 kV GI Kertosono, dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 70 kV Kertosono Sekarputih adalah tripnya salah satu SUTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih di GI 70 kV Kertosono, pada SUTT 70 kV Kertosono Sekarputih, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 70 kV di GI Kertosono arah Ploso sirkit-1 & 2, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkankan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain pengujian fungsi order trip ke PMT 70 kV di GI Kertosono arah Ploso sirkit-1 & 2, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini sebagai modifikasi dari pola OLS sebelumnya dan akan diterapkan tanggal 15 desember 1997.

68

4.4.23.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Manisrejo Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada pada interbus-transformer (IBT) 150/70 kV 2x 35 MVA di GI Manisrejo, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Tidak terpenuhinya kriteria keandalan N-1 pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA di GI Manisrejo. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA di GI Manisrejo. Mempertahankan pasokan beban subsistem 70 kV Manisrejo, dengan melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA di GI Manisrejo adalah tripnya salah satu IBT tersebut 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih di GI Manisrejo, pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT 70 kV di GI Manisrejo arah Dolopo dan Ponorogo, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. 4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkankan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain pengujian fungsi order trip ke PMT 70 kV di GI Manisrejo bay Dolopo dan Ponorogo, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus, A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini telah diterapkan tanggal 15 Desember 1997.

69

4.4.24.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Banaran-70 kV Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada IBT 150/70 kV 50 MVA dan 35 MVA di GI Banaran, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Tidak terpenuhinya kriteria keandalan N-1 IBT 150/70 kV di GI Banaran. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA di GI Banaran. Mempertahankan pasokan beban subsistem 70 kV Banaran, dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA di GI Banaran adalah tripnya salah satu IBT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih di GI Manisrejo, pada IBT 150/70 kV 2x 35 MVA, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik, di GI : GI Banaran, PMT 70 kV arah Pare sirkit-1 & 2. GI Tulungagung, PMT 70 kV trafo-1 dan trafo-2, dengan fasilitas intertrip.

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsifungsi antara lain : Test intertrip sinyal PLC dari GI Banaran - Tulungagung, dengan hasil baik Pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT di GI Banaran dan Tulungagung, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus . A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini telah diterapkan tanggal 15 Desember 1997.

70

4.4.25.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Banaran-150 kV Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT 150 kV Banaran - Sekarputih di GI Banaran, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Tidak terpenuhinya kriteria keandalan N-1 ( kondisi tertentu ) pada SUTT 150 kV Banaran - Sekarputih. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT 150 kV Banaran Sekarputih. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada pada SUTT 150 kV Banaran - Sekarputih adalah tripnya salah satu SUTT tersebut. 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih di GI Banaran pada SUTT 150 kV Banaran Sekarputih, yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMT-PMT, dengan waktu tunda 3 (tiga) detik, di GI : GI Banaran, PMT 150 kV trafo-4. GI Tulungagung, PMT 70 kV trafo-1 dan trafo-2, dengan fasilitas intertrip.

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkankan pola pelepasan beban, telah dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain pengujian fungsi order trip ke PMT 70 kV di GI Kertosono arah Ploso sirkit-1 & 2, dengan hasil baik. Test intertrip sinyal PLC dari GI Banaran - Tulungagung, dengan hasil baik Pengujian fungsi order trip ke PMT-PMT di GI Banaran dan Tulungagung, dengan hasil baik. 5) Lain - lain Setting arus A, dengan gambar skematik terlampir. Pola OLS ini telah diterapkan tanggal 15 Desember 1997.

71

Subsistem 500/150 kV Surabaya Barat

SURYA ZZ

MJANG

MANISREJO
OCR

BANARAN

SEKARPUTIH

OCR

OCR

CARUBAN
DELOPO/ PONOROGO

PARE
OCR KERTOSONO

TLGNG

PLOSO Gambar 4.15 Pengoperasian Pola OLS di Subsistem AREA-IV Bag. Barat
72

4.4.26.

Penerapan Sistem Pelepasan Beban (OLS) di GI Gilimanuk (Bali) Penerapan pola pelepasan beban dengan sensor beban lebih atau

over load shedding (OLS) pada SUTT/ SKLTT 150 kV Banyuwangi - Gilimanuk di GI Gilimanuk sisi 150 kV, dilaksanakan berdasarkan : 1) Dasar dan Tujuan Penerapan OLS Dasar dan tujuan penerapan pola OLS ini adalah : Subsistem Bali dipasok dari Banyuwangi melalui SKLTT 150 kV Banyuwangi Gilimanuk dan pembangkit (PLTD dan PLTG) di Pesanggaran. Tidak terpenuhinya kriteria keandalan N-1 ( kondisi tertentu ) pada SKLTT 150 kV Banyuwangi Gilimanuk. Mengantisipasi terjadinya pembebanan lebih pada SUTT/ SKLTT 150 kV Banyuwangi - kearah Gilimanuk sirkit 1/2 dengan arah suplai dari

Banyuwangi ke Gilimanuk, serta untuk menghindari terjadi pemadaman yang lebih luas dengan cara melepas sebagian pasokan bebannya. 2) Kondisi terjadinya pembebanan lebih Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya pembebanan lebih pada SUTT/ SKLTT 150 kV Banyuwangi kearah Gilimanuk antara lain adalah : Tripnya salah satu SUTT/ SKLTT 150 kV Banyuwangi - Gilimanuk. Hilangnya pasokan daya dari pembangkit besar di Bali (PLTG

Pesanggaran). 3) Pola Penerapan Mengambil sensor beban lebih pada SUTT/ SKLTT 150 kV Banyuwangi Gilimanuk di GI Gilimanuk yang selanjutnya dikirimkan untuk mentripkan PMTPMT (melepas sebagian pasokan beban), dengan 2 (dua) tahap pelepasan beban, yaitu : Tahap-1 : Melepas beban dengan mentripkan PMT 150 kV trafo-2 & 3, 150/20 kV di GI Kapal, menggunakan fasilitas teleproteksi dengan waktu tunda 3 (tiga) detik. : Apabila masih dirasakan adanya beban lebih, diteruskan dengan perintah mentripkan PMT 150 kV trafo-2, 150/20 kV dan PMT 150 kV SKTT bay Nusadua sirkit-1 & 2 di GI Pesanggaran menggunakan fasilitas teleproteksi dengan waktu tunda 3 (tiga) detik setelah tahap-1.
73

Tahap-2

4) Hasil Pengujian Sebelum diterapkan pola OLS ini, harus dilakukan pengujian fungsi-fungsi antara lain : Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV trafo-2 & 3 di GI Kapal. Pengujian fungsi order trip ke PMT 150 kV trafo-2, 60 MVA di GI Pesanggaran. 5) Lain-lain Setting arus sirkit-1 A, sirkit-2 A Pola OLS ini sebagai modifikasi dari pola OLS sebelumnya

74

PMRON

BWNGI SYSTEM 150 kV

SKLTT

GLMNK NGARA

ANSRI ANSRI

BRITI BRITI KAPAL GNYAR AMPLA AMPLA

OCR

SANUR SANUR

Catatan : Beban yang dilepas : Tahap I : Trafo di GI Kapal ( .. detik ) Tahap II : Trafo GI Trafo GI Pesanggaran dan Bay Nusadua ( . detik ) Setting Arus : SKLTT BWNGI GLNUK : Skt-1 = A Skt-2 = A
PSGRN

PSGRN

NSDUA

Gambar 4.16 Pengoperasian Pola OLS di Subsistem Bali


75