Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH KEANEKARAGAMAN BUDAYA TERHADAP BISNIS INTERNASIONAL

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas presentasi Mata Kuliah Manajemen Lintas Budaya yang Dibimbing Oleh Ayu Fury Puspita, SE., Ak.

Oleh : Dewi Nur Zanirah Olivia Vanandi Azza Heristiawati Sekar Widoretno 115020300111101 115020307111074 125020300111009

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA


Maret 2014

BAB 1 PENDAHULUAN

Tantangan utama dalam melakukan bisnis internasional adalah untuk menyesuaikan secara efektif pada perbedaan budaya, seperti penyesuaian membutuhkan pemahaman dari keragaman budaya, persepsi, klise dan nilai. Dalam beberapa tahun belakangan ini, penelitian menghubungkan antara dimensi kebudayaan dan perilaku-perilaku dan penelitian telah terbukti berguna dalam penyediaan profil integrative dari budaya internasional. Dalam kenyataanya budaya sangat berpengaruh terhadap kelancaran dalam dunia bisnis baik dalam perkembangna dalam bisnis skala nasional maupun skala internasional. Sesuatu hal baru yang tidak sesuai dengan kebudayaan suatu bangsa akan sulit diterima atau berkembang didalam Negara tersebut.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Budaya dalam Lingkup Bisnis Internasional Secara terminologi budaya adalah keseluruhan kepercayaan, aturan, teknik, kelembagaan dan artefak buatan manusia yang mencirikan populasi manusia. Jadi budaya dapat diartikan yaitu budaya terdiri atas pola-pola yang dipelajari mnengenai perlaku umum bagi anggota dari masyarakat tertentu yaitu gaya hidup yang unik dari suatu kelompok atau orang tertentu. Kebudayaan adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan, dan sikap yang membedakan suatu masyarakat dari yang lainnya. Kebudayaan suatu masyarakat menentukan ketentuan-ketentuan yang mengatur bagaimana perusahaan dapat dijalankan dalam masyarakat tersebut. Terdapat cara bagi para pelaku bisnis internasional untuk menyesuaikan diri atau hidup dengan budaya-budaya lain yaitu menyadari bahwa adanya budaya yang berbeda dari budayanya sendiri dan mereka harus mempelajari karakteristik dari budaya-budaya tersebut sehingga dapat beradaptasi. Tetapi menurut E.T. Hall terdapat dua cara untuk menyesuaikan diri dari budaya moral lain yaitu: 1. Menghabiskan seumur hidup disuatu negara tersebut. 2. Menjalani suatu program pelatihan yang sangat canggih dan ekstensif yang mencakup karakteristik-karakteristik utama dari suatu budaya, termasuk budaya.

Terdapat enam nasihat atau cara dalam melakukan bisnis lintas budaya internasional antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lakukanlah persiapan. Jangan terburu-buru. Bangkitkan kepercayaan. Memahami pentingnya bahasa. Menghormati budaya. Memahami unsur-unsur budaya.

Budaya juga sangat mempengaruhi semua fungsi bisnis misalnya dalam pemasaran, beraneka ragam sikap dan nilai menghambat banyak perusahaan untuk mengunakan bauran pemasaran yang sama disemua pasar. Begitu juga dalam manajemen sumber daya manusia, budaya nasional merupakan kunci penentu untuk mengevaluasi para manajer, serta dalam produksi dan keuangan faktor budaya sangat berpengaruh dalam kegiatan produksi dan keuangan.

B. Karakteristik Kebudayaan Beberapa karakteristik kebudayaan perlu diperhatikan karena mempunyai relevansi dengan bisnis internasional : 1. Kebudayaan mencerminkan perilaku yang dipelajari (learned behavior) yang ditularkan dari satu anggota masyarakat yang lainnya. 2. Unsur- unsur kebudayaan saling terkait (interrelated) 3. Kebudayaan sanggup menyesuaikan diri (adaptive), artinya kebudayaan berubah sesuai dengan kekuatan- kekuatan eksternal yang mempengaruhi masyarakat tersebut. 4. Kebudayaan dimiliki bersama (shared) oleh anggota- anggota masyarakata tersebut dan tentu saja menentukan keanggotaan masyarakat itu.Orang-orang yang sama-sama memiliki suatu kebudayaan adalah anggota suatu masyarakat; orang- orang yang tidak memilikinya berada diluar batas- batas masyarakat itu.1 Beberapa pendapat lain tentang karakteristik budaya,adalah sebagai berikut: 1. Dipelajari : Budaya tidak diwariskan atau bersifat biologi, budaya diperoleh dari pembelajaran dan pengalaman. 2. Dibagi : Masyarakat adalah anggota dari kelompok organisasi atau pembagian budaya masyarakat, budaya tidak spesifik pada perorangan dan individu. 3. Perubahan generasi :Budaya bersifat kumulatif, melewati dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. 4. Symbolic : Budaya berdasarkan pada kapasotas manusia untuk memberi tanda atau menggunakan sesuatu untuk menggambarkan yang lain. 5. Diteladani : Budaya mempunyai struktur dan terintegrasi, perubahan dari 1 bagian akan membawa perubahan pada bagian lain.

6. Penyesuaian : Budaya berdasarkan pada kapasitas manusia untuk berubah & menyesuaikan diri. Karena perbedaan budaya terdapat dalam dunia, sebuah pemahaman dari pengaruh budaya dalam perilaku merupakan suatu kritik dari studi internasional manajemen. Jika manajer internasional tidak mengetahui sesuatu tentang budaya dari Negara lain yang mereka setujui, maka hal tersebut akan menimbulkan bencana.

C. Unsur- unsur kebudayaan Kebudayaan suatu masyarakat menentukan bagaimana anggota-anggotanya berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Unsur-unsur dasar kebudayaan adalah struktur sosial, bahasa, komunikasi, agama, dan nilai-nilai serta sikap. Interaksi unsur-unsur ini mempengaruhi lingkungan lokal yang merupakan tempat bisnis internasional dijalankan. 1. Struktur sosial Struktur sosial adalah seluruh kerangka yang menentukan peran individu-individu dalam masyarakat, stratifikasi masyarakat, dan mobilitas individu dalam masyarakat tertentu. a. Stratifikasi sosial Semua masyarakat mengelompokkan orang-orang dalam batas tertentu berdasarkan kelahiran, pekerjaan, tingkat pendidikannya, atau ciri-ciri lainnya. Namun, pentingnya kategori ini dalam menentukan bagaimana individu-individu berinteraksi satu sama lain dalam dan diantara kelompok-kelompok ini berbedabeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. b. Mobilitas sosial Mobilitas sosial adalah kemampuan individu berpindah dari suatu strata masyarakat ke strata lainnya. Mobilitas sosial cenderung akan lebih tinggi dalam masyarakat yang kurang terstratifikasi. 2. Bahasa Bahasa adalah cerminan utama kelompok-kelompok budaya karena bahasa merupakan sarana penting yang dipakai anggota-anggota masyarakat untuk berkomunikasi satu sama lain. Ada beberapa jenis bahasa diantarnya: Bahasa sebagai senjata bersaing Bahasa perantara Bahasa terjemahan Berkata tidak 3. Komunikasi Komunikasi diluar batas budaya, secara verbal maupun non verbal adalah suatu keahlian yang sangat penting bagi para manajer internasional, walaupun komunikasi sering dapat berlangsung salah diantara orang-orang yang mempunyai kebudayaan yang sama, peluang miskomunikasi akan sangat meningkat apabila orang-orang tersebut berasal dari budaya yang berbeda.

4. Agama Agama adalah aspek penting kebanyakan masyarakat. Agama mempengaruhi bagaimana cara anggota-anggota masyarakat berhubungan satu sama lain dan dengan pihak luar. Agama membentuk sikap yang dimiliki pemeluknya terhadap pekerjaan, konsumsi, tanggung jawab individu, dan perencanaan untuk masa depan. 5. Nilai dan Sikap Budaya juga mempengaruhi nilai dan sikap anggota-anggota suatu masyarakat. Nilai adalah prinsip dan standar yang diterima anggota-anggota tersebut; sikap terdiri atas tindakan, perasaan, dan pemikiran yang dihasilkan nilai-nilai tersebut. Nilai- nilai budaya sering berasal dari kepercayaan yang sangat mendalam tentang kedudukan individu dalam hubungan dengan Yang Ilahi, keluarga, dan hierarki sosial. Sikap budaya terhadap faktor-faktor seperti waktu, umur, pendidikan, dan status mencerminkan nilai-nilai ini dan pada gilirannya membentuk perilaku dan kesempatan yang tersedia bagi bisnis-bisnis internasional dalam suatu negara tertentu.

D. Komponen-Komponen Sosiokultural Konsep budaya adalah sedemikaian luasnya sehingga para ahli budaya telah membagi berbagai macam topik untuk memudahkan studinya. Daftar topik akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai apa budaya itu dan juga berfungsi sebagai pedoman bagi para manajer internasional ketika mereka menganalisis permasalahan khusus dari sudut pandang sosiokultural. Para ahli sangat bervariasi dalam memahami apa yang mereka anggap komponen budaya (sosiokultural) antara lain adalah: 1. Estetika adalah sesuatu yang berkaitan dengan rasa keindahan, budaya dan selera yang baik serta diungkapkan dalam seni, drama, musik, cerita rakyat dan tari-tarian. 2. Sikap dan kepercayaan selalu dimiliki oleh setiap budaya yang hampir seluruh aspek dari perilaku manusia dan membantu membawa ketertiban didalam masyarakat dan individu-individunya. Diantara beraneka ragam subjek yang dicakup oleh sikap dan kepercayaan, beberapa diantaranya sangat penting bagi para pelaku bisnis. Termasuk sikap terhadap waktu, pencapaian pekerjaan dan terhadap perubahan. 3. Sikap terhadap waktu menimbulkan lebih banyak persolan adaptasi karena setiap negara berbeda dalam menyikapi atau mengartikan waktu. 4. Sikap terhadap pencapaian pekerjaan seorang manajer akan berbeda tajam dengan di budaya-budaya lain dibandingkan dengan budaya mereka sendiri. Sehingga mereka harus merekrut bawahan yang memiliki kebutuhan untuk maju apapun motif yang mendasarinya. Salah satu sumber yang baik dari orang-orang itu adalah diantara anggota yang relatif berpendidikan, yang memandang pekerjaan sebagai jalan menuju gengsi.

5. Sikap terhadap perubahan atau ide baru akan lebih diterima apabila dapat dikaitkan lebih dekat dengan yang tradisional , sementara pada saat yang bersamaan dapat menunjukkan keunggulan relatifnya terhadap yang tradisional. Dengan kata lain semakin konsisten suatu ide baru dengan sikap dan pengalaman masyarakat maka semakin cepat ide tersebut akan diadopsi. 6. Agama adalah suatu komponen kebudayaan yang penting, bertanggung jawab atas banyak dari sikap dan kepercayaan yang mempengaruhi sikap dan perilaku dari manusia. 7. Kebudayaan material merujuk pada semua objek buatan manusia dan berkaitan dengan bagaimana orang membuat benda-benda (teknologi) dan siapa membuat apa dan mengapa (ilmu ekonomi).

E. Pentingnya Pengaruh Agama Bagi Para Pelaku Bisnis Mengetahui prinsip-prinsip dasar dari agama-agama lain akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai sikap para pengikutnya karena itu agama adalah sebuah faktor utama dalam suatu pasar tertentu. Pada realitanya agama mempunyai pengaruh yang mendalam pada dunia usaha. Misalkan seberapa efektif penawaran untuk membayar lembur serta bonus berdasarkan produktivitas, disuatu perusahaan yang para pekerjanya kebanyakan beragama hindhu dan budha. Ketaatan-ketaatan ini membuat pemeluknya berusaha untuk melepaskan diri mereka sendiri untuk dari keinginan-keinginan, dengan demikian mereka tidak memerlukan penghasilan diluar apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Orang seperti diatas ketika penghasilan mereka mulai meningkat, mereka cenderung mengurangi usahanya sehingga penghasilan pribadinya tetap tidak berubah. Contoh jika hari libur dan ritual keagamaan dapat mempengaruhi kinerja karyawan dan penjadwalan kerja. Ketika angota-anggota kelompok dari agama yang berbeda bekerja bersama-sama, maka mungkin sekali muncul perselisihan, perpecahan dan instabilitas diantara para pekerja. Karena para pebisnis yang diwakili oleh manager harus menghormati kepercayaan religius orang lain, dan menyesuaikan praktik-praktik bisnis terhadap hambatanhambatan relegius yang ada dibudaya-budaya lain. Untuk melakukan hal ini mereka pertamatama harus mengetahui apa saja kepercayaan yang ada dan hambatannya.

F. Pengaruh Budaya terhadap Manajemen Internasional Dalam keseluruhan masa, pengaruh kebudayaan bagi manajemen internasional adalah digambarkan dengan kepercayaan dan perilaku dasar. Berikut contoh spesifik dimana budaya masyarakat dapat secara langsung mempengaruhi pendekatan manajemen internasional: Sentralisasi vs Desentralisasi pembuatan keputusan. Di beberapa masyarakat, semua keputusan organisasional dibuat oleh manajer tingkat atas, sedangkan keputusan ini

disebar melalui perusahaan dan manajer tingkat menengah dan bawah secara aktif berpartisipasi dan membuat keputusan kunci. Keselamatan vs resiko. Dari beberapa masyarakat, pembuat keputusan organisasional biasanya enggan untuk mengambil resiko dan mendapat banyak kesulitan di dalam kondisi yang tidak menentu, di sisi lain pengambilan resiko dianjurkan, dan pembuatan keputusan didalam kondisi yang tidak menentu itu umum. Penghargaan individual vs penghargaan kelompok. Di dalam beberapa Negara, anggota yang melakukan kerja dengan bagus, secara individual akan mendapat bonus dan komisi, sedangkan dinegara lain norma budaya membutuhkan penghargaan kelompok dan penghargaan individu tidak disetujui. Prosedur informal vs formal prosedur. Di beberapa masyarakat, kebanyakan diselesaikan melalui pengertian yang informal. Sedangkan, prosedur formal diatur seterusnya dan diikuti secara kaku Kesetiaan rendah vs kesetiaan rendah organisasi. Di beberapa masyarakat, masyarakat di identifikasi sangat kuat terhadap organisasinya atau majikannya. Sedangkan di sisi lain masyarakat berpihak kepada pekerjaan di kelompoknya, seperti mekanik. Kerjasama vs Kompetisi. Beberapa masyarakat menganjurkan untuk bekerja sama antara orang-orang, yang lainnya berkompetisi dengan orang-orang. Jangka pendek vs jangka panjang. Beberapa Negara memfokuskan pada jangka pendek, seperti tujuan jangka pendek keuntungan dan efisiensi, yang lain lebih focus pada jangka panjang, seperti tujuan jangka panjang, seperti pasar modal dan pengembangan teknologi. Stabilitas vs inovasi. Budaya dari beberapa Negara menganjurkan untuk stabilitas dan ketahanan dalam perubahan. Budaya yang lain mengambil nilai-nilai yang tinggi dari inovasi dan perubahan.

G. Memahami Budaya Luar Memahami Keanekaragaman Budaya dan Kesadaran Antarbudaya Perbedaan dan keanekaragaman adalah sesuatu yang alamiah. Setiap orang, setiap bangsa memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Walaupun dunia terasa seperti semakin menyempit dan semakin pudar batas-batas negara karena kemajuan teknologi, perbedaan dan keanekaragaman akan tetap ada. Banyak yang berpendapat globalisasi dapat menyeragamkan budaya-budaya yang ada dan tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkan perbedaan-perbedaan budaya yang ada, tapi penulis yakin perbedaan dan keanekaragaman budaya pasti akan tetap ada. Perbedaan dan keanekaragaman justru menambah semaraknya kehidupan serta merupakan kekayaan bangsa. Siapapun yang berada dalam konteks bisnis internasional, bekerja pada perusahaan asing atau menjadi ekspatriat di suatu negara, ketika berinteraksi dengan orang asing pasti pernah mengalami tatapan mata yang menyiratkan ketidakpahaman, senyuman yang dipaksakan, gumaman komentar dalam bahasa yang tidak jelas akibat tidak dipahaminya

kata-kata yang diucapkan. Sebaliknya terkadang tanpa disadari, kita sendiri pernah membuat orang lain bingung dengan bahasa tubuh, ekspresi wajah dan aksen berbicara kita. Orang-orang dengan budaya yang berbeda memproses informasi dengan cara yang berbeda, menilai perlakuan secara berbeda dan mengukur konsep waktu dan ruang dalam pola yang berbeda pula. Ketidakpekaan atas perbedaan budaya bisa menjelma menjadi masalah bisnis yang serius (Mitchel, 2001). Satu contoh dikisahkan oleh Mitchel (2001) tentang masalah bisnis yang serius yang dialami oleh Disneyland akibat ketidakpekaan budaya. Setelah sukses membuka Disneyland di Jepang, Disneyland akan membuat taman bermain ini di Perancis. Oleh karena merasa sudah membuat keberhasilan di Jepang yang memiliki budaya yang sangat berbeda Disneyland merasa tidak perlu mengubah sistem yang sudah dianggap berhasil untuk disesuaikan dengan orang Eropa. Masalah terjadi sejak awal pembelian lahan 1.950 hektar. Tanah yang dibeli adalah lahan pertanian utama dengan harga di bawah harga pasar. Para keluarga petani Perancis yang telah berabad-abad mengelola tanah tersebut marah dan menentang. Surat kabar Perancis mencela pengusaha Amerika dengan tulisan-tulisan yang penuh kemarahan dan hinaan bahwa Disneyland telah menyepelekan ikatan petani Perancis dengan tanah leluhurnya. Selanjutnya Disneyland semakin menyinggung perasaaan masyarakat Perancis dengan menggunakan pengacara untuk bernegosiasi kontrak-kontrak yang akan dilakukan. Di Perancis, pengacara adalah alat negosiasi terakhir, penggunaan pengacara menunjukkan ketidakpercayaan dan penolakan terhadap cara Perancis, seharusnya cukup para eksekutif Disneyland saja yang bernegosiasi. Masalah semakin rumit karena ketidakpedulian Disneyland akan kultur Eropa dan norma kerja Perancis. Disneyland menuntut karyawan-karyawannya berpenampilan gaya Amerika, akibatnya staf dan serikat buruh memberontak dan menuntut model pakaian sehari-hari Perancis. Moral kerja merosot. Selain hal-hal di atas, banyak sekali detil-detil budaya yang diabaikan Disneyland di Perancis. Biaya akibat ketidakpekaan perusahaan terhadap budaya menghabiskan uang dan goodwill yang sangat besar. Ketidakpekaan dan pengabaian detil-detil budaya juga banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis dan manajer global. Mereka cenderung menyamaratakan cara dan gaya untuk diterapkan pada budaya yang berbeda. Komentar-komentar seperti Cara ini berhasil di negara saya, jadi dengan cara ini akan berhasil dimanapun, Saya tahu bagaimana menjual / membuat / mengelola bisnis ini dimanapun, Produk saya adalah yang terbaik, saya tidak perlu khawatir dengan perbedaan budaya seringkali terdengar (Beamer dan Varner, 2008). Sikap menganggap bahwa budaya kita adalah budaya yang terbaik dan budayabudaya lain seharusnya mengikuti tata cara budaya kita dan dinilai berdasarkan standar budaya kita adalah sikap yang harus dihindari ketika kita berinteraksi dengan orang dari budaya yang berbeda. Sikap ini adalah bentuk dari ethnocentrism negatif (Samovar, Porter dan McDaniel, 2010). Bila kita cenderung bersikap ethnocentrism negatif, akan menghambat keberhasilan dalam berkomunikasi antarbudaya.

Setiap budaya memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri. Lewis (2005) menyatakan berbeda bahasa, berbeda dunia. Lewis (2005) menunjukkan beberapa perbedaan unik dari beberapa bangsa, seperti : Bagi orang Jerman dan Finlandia, kebenaran adalah kebenaran. Di Jepang dan Inggris, kebenaran yang baik apabila kebenaran itu tidak mengganggu keselarasan. Di Cina tidak ada kebenaran mutlak. Di Italia, kebenaran bisa dirundingkan. Orang Jepang tidak menyukai jabat tangan, tapi lebih menyukai membungkuk ketika menghormat orang lain dan tidak membersihkan hidung di muka umum. Orang Brazil terbiasa untuk tidak antre ketika naik bis, lebih menyukai sepatu warna coklat daripada hitam, dan datang terlambat dua jam pada pesta koktail. Orang Yunani menatap bola mata anda, menganggukkan kepalanya berarti tidak, dan ada kalanya membanting piring di restoran. Yoshida (2002) juga menyampaikan kisah tentang pertemuan bisnis antara delegasi Amerika Serikat dengan pejabat tinggi Jepang. Ia menyebutkan problem yang dihadapinya saat itu adalah perception gap. Diceritakannya, setelah delegasi Amerika selesai bertemu dengan pejabat tinggi Jepang, salah satu anggota delegasi bercerita pada seorang teman baiknya yang berkebangsaan Jepang tentang impresinya terhadap pertemuan itu. Delegasi Jepang menerima kami dengan sangat baik dan terlihat sangat menyimak apa yang kami katakan. Tapi setelah pertemuan itu, semua anggota delegasi kami menyatakan tidak dapat memahami dengan jelas hal-hal apa saja yang delegasi Jepang ingin lakukan. Kami juga merasakan suasana yang dingin selama pertemuan dan akhirnya kami merasakan bahwa orang Jepang lebih sombong daripada sebelumnya. Keesokan paginya, surat kabar Tokyo mengutip pernyataan salah satu pejabat tinggi Jepang yang ikut serta dalam pertemuan, kami sangat menghargai pertemuan yang telah dilakukan, kami berusaha sebagai pendengar yang baik daripada memaksakan pandangan kami pada mereka dan kami merasa delegasi Amerika menghargainya. Apa yang salah? Berbeda dengan persepsi delegasi Amerika, orang Jepang menganggap suasana dingin yang dirasakan adalah sikap yang tepat dan baik. Dengan mereka diam dan menyimak artinya mereka serius merenungkan setiap permasalahan pada subyek yang sedang dibahas. Lagipula di Jepang terdapat filosofi mereka yang banyak tahu tidak berbicara, dan yang tidak tahu apa-apa banyak berbicara. Dari dua peristiwa di atas, menunjukkan sangat pentingnya memahami dan mengenali perbedaan-perbedaan dari setiap budaya. Dengan memahami bahwa keanekaragaman budaya itu sangat luas dan mengagumkan, kita akan lebih terbuka menerima perbedaan yang ada dan membuka diri untuk mempelajari perbedaan-perbedaan yang ada. Konsep dan pemahaman tentang waktu, ruang, kehidupan setelah mati, alam dan realitas yang dimiliki masyarakat yang berlainan latar belakang budaya, sedikit banyak akan berdampak pada proses dan keberhasilan kita berkomunikasi dan berbisnis internasional.

Tantangan Berkomunikasi Antarbudaya pada Dunia Kerja Global Berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar belakang budaya bukanlah hal yang mudah. Organisasi dan individu yang ingin dapat bersaing di ranah global harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan berbagai kesulitan yang akan dialami ketika menjalin bisnis, bernegosiasi atau bekerja di perusahaan global. Sebagai individu global, harus mempersiapkan diri agar bisa sukses dan efektif berkomunikasi dengan orang yang berbeda latar belakang budaya. Ketika kita berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya dengan kita, saat itulah kita sedang berkomunikasi antarbudaya. Globalisasi membuat karyawan di berbagai perusahaan dan organisasi semakin heterogen. Setiap organisasi global atau yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi organisasi global, harus mempersiapkan setiap anggotanya dapat berkomunikasi antarbudaya dengan efektif karena ketrampilan berkomunikasi antarbudaya adalah tulang punggung untuk mendukung transaksi bisnis di seluruh dunia (Chitakornkijsil, 2010). Persiapan diri ini tidak hanya untuk individu yang ingin tinggal dan bekerja di luar negeri atau perusahaan yang ingin mengembangkan bisnisnya ke negara lain, tapi juga bagi para eksportir dan importir. Perbedaan kebiasaan, perilaku, nilai-nilai dapat menjadi masalah dan hanya dapat diselesaikan melalui interaksi dan komunikasi antarbudaya yang efektif (Samovar, Porter dan McDaniel, 2010). Bagi para manager global, mampu berkomunikasi dengan efektif adalah ketrampilan yang sangat penting karena kelancaran perencanaan, pengorganisasian, memonitor dan memfasilitasi, semuanya dapat terlaksana dengan baik melalui komunikasi. Ketika semua aktifitas managerial itu harus dilakukan bersama-sama dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya, menurut Chitakornkijsil (2010) hal yang paling sulit adalah proses encoding dan decoding pesan agar makna dapat diinterpretasikan dengan tepat. Walaupun pesan verbal adalah adalah cara utama dalam menyandi pesan, pesan-pesan non-verbal seperti nada suara, ekspresi wajah, postur tubuh, bahasa tubuh, jarak, kontak mata, mengandung makna yang lebih luas dan kompleks. Justru pesan-pesan non-verbal inilah yang seringkali ambigu dan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Selain masalah dalam encoding dan decoding pesan, hambatan utama bagi para manager global adalah beranekaragamnya bahasa. Kurang lebih 6000 bahasa digunakan di seluruh dunia (Chitakonrkijsil, 2010) dengan 10.000 dialek (Saee, 2007). Seorang manager global harus menguasai lebih dari 1 bahasa dan minimal menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Walaupun kedua pihak yang berkomunikasi sama-sama menguasai bahasa Inggris, masih kerap terjadi kesalahpahaman. Chitakonrkijsil menyarankan, para manager global sebaiknya menguasai bahasa konsumennya dan bahasa lokal dimana ia bekerja. Tantangan lain yang kerap dialami para manager global dan pengusaha adalah terbatasnya waktu untuk mengenal lebih dekat bahasa dan budaya dari klien, konsumen dan rekan bisnis. Waktu penempatan yang singkat di suatu negara dan ketatnya jadwal perjalanan bisnis seringkali membuat para manager global dan pengusaha tidak dapat menindaklanjuti

pesan-pesan mereka dan mendorong adanya umpan balik (feedback) dari rekan bisnis dan dari para pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang budaya (Chitakonrkijsil, 2010). Berdasarkan pengalamannya, Yoshida (2002) selanjutnya menambahkan 4 masalah utama yang ia temui selama menjadi CEO global, yaitu : 1. Kurangnya kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni lisan dan tulisan para karyawan dan manager. Kemampuan dan ketrampilan berbahasa Inggris yang tidak cukup akan menyebabkan keterlambatan dalam merespon instruksi sehingga mempengaruhi proses bisnis dan kelancaran operasional. 2. Para manager dan pimpinan perusahaan global di kantor pusat seringkali kurang berkomunikasi dengan para manager di kantor cabang tentang visi dan kebijakankebijakan strategis perusahaan. Hal ini dapat menghilangkan kesempatan untuk mempelajari perbedaan-perbedaan strategis dan melakukan brainstorming dengan para manager lokal untuk mengatasi masalah lokal. 3. Keangkuhan budaya dan etnosentrisme dari para pimpinan dan manager global yang menghambat pemahaman antarbudaya. 4. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman kebutuhan lokal serta penyesuaian tatalaksana aturan yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai budaya setempat, termasuk memahami perbedaan persepsi dan gaya berkomunikasi. Para pengusaha dan manager global, sepatutnya memberi perhatian dan siap menghadapi perbedaan-perbedaan pada : 1. Business protocol, seperti aturan pada pertemuan pertama, sikap dan perilaku ketika menyambut rekan bisnis, penampilan personal, aturan pemberian hadiah, hal-hal tabu dalam percakapan. 2. Gaya kepemimpinan. 3. Gaya dan cara pengambilan keputusan. 4. Etika bisnis dan negosiasi, termasuk masalah formalitas dan status, kecepatan dan kesabaran dalam bernegosiasi, ekspresi emosi, pesan langsung dan tidak langsung, pemahaman antara bukti dan kebenaran (Samovar, Porter dan McDaniel, 2009). Perusahaan-perusahaan Korea, Perancis, Jerman dan Jepang mengharapkan karyawannya mampu cepat beradaptasi, mampu berfungsi dan berkomunikasi dengan cakap dalam berbagai konteks budaya. Perusahaan-perusahaan Eropa mengharapkan para managernya menguasai minimal satu bahasa asing dengan baik. Semua ilmuwan komunikasi antarbudaya sepakat bahwa keahlian teknis tidaklah cukup, karyawan dan manager harus mampu beradaptasi pada berbagai konteks budaya, sensitifitas dan berkemampuan bahasa Inggris dan lokal adalah hal penting (Chitakornkijsil, 2010). Saran untuk para pengusaha, pimpinan, manager dan karyawan global : Lakukan pelatihan komunikasi antarbudaya di dalam organisasi. Mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang (kultural) orang lain.

Mulailah dari diri sendiri membangun kompetensi komunikasi antarbudaya melalui evaluasi diri, menghapus prasangka budaya, meningkatkan sensitifitas dan pemahaman antarbudaya, membangun empati yang didasarkan pada penerimaan perbedaan dan pembentukan sikap positif. Lengkapi persenjataan agar mampu berempati, yaitu : kebijaksanaan, humor, kepekaan, keluwesan, kompromi, kehangatan, ketenangan, kesiapan utuk berdiskus, menyimak dengan hati-hati dan kesabaran. Pelajari nilai budaya, adat kebiasaan, aturan dan ritual setempat / klien/ rekan bisnis agar mampu bersikap dan berperilaku dengan layak dan tepat. Tingkatkan kualitas dan kuantitas komunikasi dengan klien, pimpinan, manager dan karyawan di kantor pusat dan di kantor cabang (Yoshida, 2002; Lewis, 2005).

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kebudayaan adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan, dan sikap yang membedakam suatu masyarakat dari yang lainnya. Kebudayaan suatu masyarakat menentukan ketentuan- ketentuan yang mengatur bagaimana perusahaan dijalankan dalam masyarakata tersebut. Beberapa karakteristik kebudayaan adalah: Dipelajari, Dibagi, Perubahan generasi, Symbolic, Diteladani, Penyesuaian. Unsur- unsur dasar kebudayaan adalah struktur sosial, bahasa, komunikasi, agama, dan nilai- nilai serta sikap. Interaksi unsur- unsur ini mempengaruhi lingkungan lokal yang merupakan tempat bisnis internasional dijalankan. Para ahli sangat bervariasi dalam memahami apa yang mereka anggap komponen budaya (sosiokultural) antara lain: Estetika, Sikap dan kepercayaan, Sikap terhadap waktu, Sikap terhadap pencapaian pekerjaan, Sikap terhadap perubahan atau ide baru, Agama. Kebudayaan material merujuk pada semua objek buatan manusia dan berkaitan dengan bagaimana orang membuat benda-benda (teknologi) dan siapa membuat apa dan mengapa (ilmu ekonomi). Teknologi dari suatu masyarakat adalah bauran pengetahuan yang dapat digunakan, diterapakan oleh masyarakat dan diarahkan kepada pencapaian tujuan tujuan ekonomi dan budaya. Teknologi adalah signifikan dalam upaya bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan taraf hidup mereka dan merupakan faktor vital dalam strategi persaingan perusahaan-perusahaan multinasional.

B. Studi Kasus Di Jepang, Procter &Gamble (P&G) menggunakan suatu iklan untuk sabun camay, dimana seorang pria yang menemui seorang wanita untuk pertama kalinya untuk membandingkan kulit wanita tersebut dengan boneka porselen yang indah. Meskipun iklan itu berhasil baik di Amerika selatan & Eropa, namun iklan tersebut dianggap menghina orang jepang. Bagi seorang pria jepang mengatakan sesuatu seperti itu kepada wanita jepang menunjukkan bahwa ia bodoh/kasar, kata seorang ahli periklanan yang bekerja untuk klien. Menariknya P&G telah menggunakan iklan tersebut meskipun mendapat peringatan dari agen periklanan itu.

Iklan camay yang gagal di jepang adalah iklan yang memperliatkan seorang wanita jepang yang sedang mandi ketika suaminya masuk ke kamar mandi. Wanita tersebut mulai menceritakan kepada suaminya tentang sabun kecantikannya yang baru, tetapi suaminya mengelus pundak wanita itu, mengisyaratkan bahwa busa sabun bukanlah apa yang dia pikirkan. Meskipun iklan itu diterima dengan baik di Eropa, namun sangat gagal di Jepang, yang memandang campur tangan suami atas istrinya adalah sikap yang tidak baik. P&G juga telah melakukan kesalahan karena kurang memiliki pengetahuan mengenai pentingnya budaya bisnis. Perusahaan itu memperkenalkan deterjen cheer dengan memberikan potongan harga, tetapi hal ini merendahkan reputasi sabun itu kata seorang pesaing, tidak seperti eropa & amerika serikat, sekali anda memberikan diskon atas produk anda disini sulit sekali untuk menaikkan kembali hargan ya. Para pedagang besar terasing karena mereka telah menghasilkan uang yang lebih sedikit sebagai kibat dari margin yang kecil. Selain itu, tampaknya P&G tidak menyadari bahwa ibu- ibu rumah tangga dijepang tidak memiliki mobil keluarga untuk membawa belanjaan, sehingga mereka berbelanja diwarung- warung sekitar tempat tinggalnya. Para pedagang eceran kecil ini, yang menjual 30% dari semua deterjen yang dibeli dijepang, memiliki ruang rak yang terbatas dan oleh karenanya tidak suka menyimpan produk- produk yang didiskon karena laba yang diperoleh lebih rendah.