Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH TEKNOLOGI BIOPROSES

PROTOZOA

DISUSUN OLEH : KELOMPOK NAMA : 6 (Enam) : 1. Rahmawati Nursiam 2. Niken Widiyanti 3. Evi Kartika Tammu KELAS DOSEN PENGAJAR : 4 S-I Terapan : Marlinda S.T M.Eng

JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul PROTOZOA. Diharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan kepada kita semua tentang apa itu protozoa, cirri-ciri protozoa, cara hidup protozoa, peranan protozoa dalam kehidupan, serta penyakit yang ditimbulkan oleh protozoa. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik beserta saran dari semua pihak yang bersifat membangun akan kami terima demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada rekan-rekan yang telah berperan serta dalam menyelesaikan makalah ini dari awal hingga akhir. Kritik dan saran dari teman-teman sekaligus dosen pengajar sangat kami butuhkan karena disini kami masih belajar untuk menjadi lebih baik, semoga makalah yang sudah kami kerjakan dapat diterima oleh para pembaca baik dari teman-teman ataupun dosen pengajar khususnya bagi kami pribadi, sekaligus bermanfaat bagi semuanya.Amin.

Tim Penyusun

Kelompok 6

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..... ii DAFTAR ISI... iii BAB I : PENDAHULUAN..... 1 1.1 Latar belakang .. 1 1.2 Tujuan... 1 1.3 Manfaat.............................................................................................. 2 BAB II : PEMBAHASAN.... 3

2.1 Definisi Protozoa .. 3 2.2 Ciri -ciri Umum Protozoa . .. 4 2.2.1 Ciri-ciri tubuh . 4 2.3 Cara Hidup Protozoa.... 6 2.4 Klasifikasi Protozoa . 13 2.4.1 Rhizopoda (Sarcodina) 13 2.4.2 2.4.3 2.4.4 Ciliata (Ciliophora/Infusoria). 15 Flagellata (Mastigophora) 16 Sporozoa (Apicomplexa) 17 18

2.5 Peran Protozoa Dalam Kehidupan...

2.6 Penyakit yang disebabkan Protozoa... 19 BAB III : PENUTUP...... 25 3.1 Kesimpulan. 25 3.2 Saran . 26 DAFTAR PUSTAKA. 27

iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pada dasarnya dalam ilmu taksonomi, seluruh makhluk hidup

dikelompokkan ke dalam dua kerajaan (kingdom), yakni kingdom tumbuhan (kingdom plantae) dan kerajaan hewan (kingdom animalia). Pengelompkan tersebut didasarkan atas persamaan ciri-ciri atau persamaannya. Tumbuhan mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni mempunyai klorofil (zat hijau daun) dan hewan mempunyai ciri-ciri tersendiri pula, yakni dapat bergerak. Dalam sebuah penelitian ditemukan adanya beberapa makhluk hidup bersel satu yang sekaligus mempunyai cirri-ciri tumbuhan dan ciri-ciri hewan (mempunyai klorofil dan dapat bergerak leluasa). Akhirnya sebagian ahli berpendapat bahwa bahwa makhluk-makhluk hidup ini sebaiknya dikelompokkan ke dalam kingdom animali8a, filum protozoa. Di dalam uraian ini, kita mengikuti pendapat yang kedua. Protozoa kita masukkan ke dalam kingdom animalia, kelompok avertebrata. Ukuran protozoa beranekaragam, yaitu mulai kurang dari 10 mikron sampai ada yang mencapai 6 mm, meskipun jarang. Diperairan, protozoa adalah penyusun zooplankton. Makanan protozoa meliputi bakteri, jenis protista lain, atau detritus (materi organic dari organisme mati). Protozoa hidup soliter atau berkoloni. Jika keadaan lingkungan kurang menguntungkan, protozoa

membungkus diri membentuk kista untuk mempertahankan diri. Bila mendapat lingkungan yang sesuai hewan ini akan aktif lagi. Cara hidupnya ada yang parasit, saprofit, dan ada yang hidup bebas (soliter).

1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: 1. Mahasiswa dapat menjelaskan apa yang di maksud dengan protozoa. 2. Mahasiswa dapat menyebutkan Ciri-ciri protozoa. 3. Mahasiswa dapat menjelaskan Cara hidup protozoa.

4. 5.

Mahasiswa dapat menjelaskan Peranan protozoa bagi kehidupan. Mahasiswa dapat mengetahui penyakit yang ditimbulkan protozoa

1.3 Manfaat Agar mahasiswa lebih mengetahui tentang ptozoa dan peranannya bagi kehidupan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Protozoa Protozoa merupakan mikroorganisme yang

menyerupai hewan yang

merupakan salah satu filum dari Kingdom Protista. Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu proto yang berarti pertama dan zoa yang berarti hewan. Protozoa merupakan makhluk hidup bersel satu yang bersifat mikroskopis. Sifat umum protozoa adalah uniselluler, heterotrofik, dan merupakan cikal bakal hewan yang lebih kompleks. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran plasma, sitoplasma, dan mitokondria. Bentuk dan ukuran protozoa bermacam-macam. Ada yang bentuk dan ukurannya relatif tetap ada yang waktu aktif bentuknya berubah-ubah. Walaupun ukuran dan bentuknya berbeda-beda, secara umum protozoa memiliki beberapa persamaan. Protozoa mempunyai nucleus (inti) yang berisi kromosom dan terletak dalam sitoplasma (protoplasma). Pada beberapa protozoa di dalam nucleus ini terdapat satu atau beberapa granula yang disebut nucleolus (karyosome). Jumlah nucleus ini ada yang satu atau lebih dari satu. Bagian dalam dari cytoplasma disebut endoplasma. Di dalam endoplasma ini terdapat nucleus, vakuola makanan, mitokondria. Bagian luar cytoplasma yang membungkus endoplasma disebut ektoplasma. Fungsi ektoplasma ini diduga sebagai alat gerak, untuk bernafas, membuang sisa-sisa metabolisme dan sebagai alat perlindungan diri. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Alga dan protozoa memiliki perbedaan yang tidak terlalu jauh. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Habitat hidupnya adalah hidup di air tawar (selokan, parit, sungai, dan waduk), air laut, permukaan tanah yang lembap, rendaman jerami, dan di dalam tubuh makhluk hidup lain atau di dalam jasad yang mati. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Protozoa dapat
3

berkembang biak dengan cara aseksual dan seksual, secara aseksual dilakukan dengan membelah diri dan secara seksual dengan konjugasi

Gambar 2.1 Protozoa

2.2 Ciri -ciri Umum Protozoa

Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof) Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel). Hidup bebas, saprofit atau parasit Organisme bersel tunggal (uniseluler) Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok) Dapat membentuk kista untuk bertahan hidup. kista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah. Protozoa tidak mempunyai dinding sel Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot 2.2.1 Ciri Tubuh
Ciri Protozoa meliputi ukuran dan bentuk, serta struktur dan fungsi tubuh. 1. Ukuran dan bentuk tubuh

Protozoa berukuran mikroskopis, yaitu sekitar 10 200 mikron (m). Bentuk selnya sangat bervariasi, ada yang tetap dan ada yang berubah-ubah. Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak

secara khas menggunakan pseudopodia (kaki palsu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif. Berdasarkan alat gerak yang dipunyai dan mekanisme gerakan inilah protozoa dikelompokkan ke dalam 4 kelas. Protozoa yang bergerak secara amoeboid dikelompokkan ke dalam Sarcodina, yang bergerak dengan flagela dimasukkan ke dalam Mastigophora, yang bergerak dengan silia dikelompokkan ke dalam Ciliophora, dan yang tidak dapat bergerak serat merupakan parasit hewan maupun manusia dikelompokkan ke dalam Sporozoa. 2. Struktur dan Fungsi Tubuh

Gambar 2.2 Struktur Tubuh Protozoa Sel protozoa umumnya terdiri dari membrane sel, sitoplasma, vakuola makanan, vakuola kontraktil (vakuola berdenyut), dan inti sel. Membran Sel Fungsi : sebagai pelindung serta pengatur pertukaran makanan dan gas Vakuola Makanan Fungsi : mencerna makanan. Vakuola makanan terbentuk dari proses makan sel atau sel dengan cara menelan oleh setiap bagian membrane sel atau melalui sitostoma (mulut sel). Zat-zat makanan hasil cernaan dalam vakuola makanan masuk ke dalam sitoplasma secara difusi. Sedangkan sisa makanan dikeluarkan dari vakuola ke luar sel melalui membrane plasma. 5

Vakuola Kontraktil Fungsi : mengeluarkan sisa makanan berbentuk cair ke luar sel melalui membrane sel serta mengatur kadar air dalam sel. Vakuola kontraktil

merupakan vakuola yang selalu mengembang dan mengempis. Inti Sel Fungsi : mengatur aktivitas sel Tabel 2.1 Sistem Protozoa

JENIS SISTEM Otot-rangka

SISTEM PROTOZOA Protozoa tidak memiliki kerangka dalam atau luar. Mereka bergerak dengan berbagai cara. Amoeba memiliki kaki palsu atau

pseudopodia yang meluas ketika bergerak. Paramecium ditutupi dengan rambut yang disebut silia. Euglena viridis memiliki cambuk seperti ekor yang disebut flagel untuk bergerak. Pencernaan Protozoa mengambil makanan melalui air dan menyimpan makanan di kantung yang disebut vakuola. Mereka memakan ganggang kecil dan bakteri. Saraf Protozoa memiliki tingkat reaksi yang sangat rendah terhadap dunia di sekitar itu dan tidak mempunyai sistem saraf. Mereka dapat bereaksi terhadap cahaya dan perubahan suhu. Sirkulasi Protozoa memiliki aliran air yang masuk melalui pori-pori. Air berisi makanan dan kebutuhan oksigen protozoa. Respirasi Protozoa mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida melalui membran selnya. Reproduksi Ekskresi Protozoa dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual. Protozoa memiliki kantung disebut vakuola yang berfungsi mengambil dan membuang air. Simetri Warna Protozoa biasanya asimetris. Protozoa umumnya berwarna pucat.

2.3 Cara Hidup Protozoa Protozoa hidup secara heterotrof dengan memangsa bakteri, protista lain, dan sampah organisme. Sebagai pemangsa bakteri, protozoa berperan penting dalam

mengontrol jumlah bakteri di alam. a. Habitat Protozoa hidup soliter atau berkoloni pada habitat yang beragam Protozoa

hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan. Tetapi apabila keadaan lingkungan kurang menguntungkan, hewan tersebut akan

mengatasinya dengan membungkus diri menjadi sista. Sama halnya dengan bakteri yang membentuk endospora. Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Beberapa jenis protozoa laut merupakan bagian dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup di dasar laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai, kolam, atau genangan air. Ada pula protozoa yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia. Beberapa protozoa berbahaya bagi manusia karena mereka dapat menyebabkan penyakit serius. Protozoa yang lain membantu karena mereka memakan bakteri berbahaya dan menjadi makanan untuk ikan dan hewan lainnya.
b. Reproduksi

Protozoa sebagian besar melakukan reproduksi secara aseksual dengan cara pembelahan biner. Pembelahan diawali deangan pembelahan inti yang diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Sebagian protozoa melakukan reproduksi seksual dengan penyatuan sel geaneratif (gamet) atau dengan penyatuan inti sel vegetatif. Reproduksi seksual dengan penyatuan inti sel disebut konyugasi.
7

Dalam siklus hidupnya, beberapa protozoa menghasilkan sel tidak aktif yang disebut kista. Kista diselubungi oleh kapsul polisakarida yang melindungi protozoa dari lingkungan yang tidak menguntungkan, misalnya kekeringan. Jika kondisi lingkungan membaik, misalnya tersedia makanan dan air maka dinding kista akan pecah dan protozoa keluar untuk memulai hidupnya kembali. Beberapa jenis protozoa membelah diri menjadi banyak sel

(schizogony). Pada pembelahan schizogony, inti membelah beberapa kali kemudian diikuti pembelahan sel menjadi banyak sel anakan.

Perkembangbiakan secara seksual dapat melalui cara konjugasi, autogami, dan sitogami. Protozoa yang mempunyai habitat atau inang lebih dari satu dapat mempunyai beberapa cara perkembangbiakan. Sebagai contoh spesies Plasmodium dapat melakukan schizogony secara aseksual di dalam sel inang manusia, tetapi dalam sel inang nyamuk dapat terjadi perkembangbiakan secara seksual. Protozoa umumnya berada dalam bentuk diploid. Protozoa umumnya mempunyai kemampuan untuk memperbaiki selnya yang rusak atau terpotong. Beberapa Ciliata dapat memperbaiki selnya yang tinggal 10 % dari volume sel asli asalkan inti selnya tetap ada.
Reproduksi Vegetatif dan Generatif Pada Protozoa Protozoa sebagian besar melakukan reproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan cara pembelahan biner. Pembelahan diawali dengan pembelahan inti yang diikuti dengan pembelahan sitoplasma, kemudian menghasilkan 2 sel baru. Pembelahan biner terjadi pada Amoeba, Paramaecium, Euglena. Protozoa bersilia membelah dengan arah transversal setelah terlebih dahulu melakukan konjugasi. Protozoa berflagel membelah dengan arah longitudinal. Beberapa Protozoa lain akan membelah berulang kali (multipel fission) yang menghasilkan banyak anak sel.

Gambar 2.3 Beberapa macam proses reproduksi vegetatif pada protozoa Sebagian Protozoa melakukan reproduksi secara seksual (generatif) dengan penyatuan sel generatif (gamet) atau dengan penyatuan inti sel vegetatif. Reproduksi seksual dengan peleburan inti sel pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya disebut konjugasi.

2.4 Fisiologi Protozoa Protozoa umumnya bersifat aerobik nonfotosintetik, tetapi beberapa protozoa dapat hidup pada lingkung ananaerobik misalnya pada saluran pencernaan manusia atau hewan ruminansia. Protozoa aerobik mempunyai mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik, dan untuk menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dan atom hidrogen ke oksigen. Protozoa umumnya mendapatkan makanan dengan memangsa organisme lain (bakteri) atau partikel organik, baik secara fagositosis maupun pinositosis. Protozoa yang hidup di lingkungan air, maka oksideng dan air maupun molekulmolekul kecil dapat berdifusi melalui membran sel. Senyawa makromolekul yang tidak dapat berdifusi melalui membran, dapat masuk sel secara pinositosis. Tetesan cairan masuk melalui saluran pada membran sel, saat saluran penuh kemudian masuk ke dalam membrane yang berikatan denga vakuola. Vakuola kecil terbentuk, kemudian dibawa ke bagian dalam sel, selanjutnya molekul dalam vakuola dipindahkan ke sitoplasma. Partikel makanan yang lebih besar dimakan secara fagositosis oleh sel yang bersifat amoeboid dan anggota lain dari kelompok Sarcodina. Partikel dikelilingi oleh bagian membran sel yang fleksibel untuk ditangkap kemudian dimasukkan
9

ke dalam sel oleh vakuola besar (vakuola makanan). Ukuran vakuola mengecil kemudian mengalami pengasaman. Lisosom memberikan enzim ke dalam vakuola makanan tersebut untuk mencernakan makanan, kemudian vakuola membesar kembali. Hasil pencernaan makanan didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak tercerna dikeluarkan dari sel. Cara inilah yang digunakan protozoa untuk memangsa bakteri. Pada kelompok Ciliata, ada organ mirip mulut di permukaan sel yang disebut sitosom. Sitosom dapat digunakan menangkap makanan dengan dibantu silia. Setelah makanan masuk ke dalam vakuola makanan kemudian dicernakan, sisanya dikeluarkan dari sel melalui sitopig yang terletak disamping sitosom.
2.5 Klasifikasi Protozoa Protozoa yang sudah teridentifikasi berjumlah lebih dari 60 ribu species. Jenis protozoa yang sangat beragam tersebut dapat dibedakan menjadi empat kelas berdasarkan alat geraknya, yaitu Rhizopoda, Ciliata, Flagellata, dan Sporozoa. 2.5.1 Rhizopoda (Sarcodina)

Gambar 2.5 Rhizopoda

Rhizopoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu rhizo = akar, dan podos = kaki, atau Sarcodina (sarco = daging). Semua protozoa yang tergolong kelas Rhizopoda bergerak dengan penjuluran sitoplasma selnya yang membentuk kaki semu (pseudopodia). Bentuk pseudopodia beragam, ada yang tebal membulat dan ada yang tipis meruncing. Pseupodia berfungsi sebagai alat gerak dan
10

memangsa makanan. Hewan ini ada yang bercangkang, contohnya Globigerina dan ada yang telanjang, contohnya Amoeba proteus. Pada Rhizopoda yang bercangkang, pseudopodia menjulur keluar dari cangkang. Cangkang tersusun dari silica atau kalsium carbonat. Cangkang berukuran 0,5 mm. Bentuk sel Rhizopoda berubah-ubah saat diam dan bergerak. Sitoplasma terdiri dari ektoplasma dan endoplasma. Ektoplasma adalah sel bagian luar yang berbatasan dengan membrane plasma. Endoplasma adalah plasma sel pada bagian dalam sel. Ektoplasma bersifat lebih kental daripada endoplasma. Aliran endoplasma dan ektoplasma tersebut berperan dalam penjuluran dan penarikan pseudopodia. Amoeba proteus memiliki dua jenis vakuola yaitu

vakuola makanan dan vakuola kontraktil. Pada proses makan, pseudopodia mengelilingi makanan dan membentuk vakuola makanan. Di dalam valuola makanan, makanan dicerna. Zat makanan hasil cernaan dalam vakuola

makanan masuk ke dalam sitoplasma secara difusi. Sedangkan sisa makanan dikeluarkan dari vakuola keluar sel melalui membrane plasma. Rhizopoda berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dengan

pembelahan biner, contohnya pada Amoeba sp. Amoeba dapat berkembang biak dengan pembelahan biner tanpa melalui tahap-tahap mitosis. Pembelahan dimulai dari membelahnya inti sel menjadi dua, lalu diikuti oleh pembelahan sitoplasma. Pembelahan inti tersebut menimbulkan lekukan yang sangat dalam yang lama-lama akan putus sehingga terbentuklah dua sel anak Amoeba yang baru yang masing-masing mempunyai inti baru dan sitoplasma yang baru pula. Kedua sel anak ini akan mengalami pembelahan biner sehingga menjadi empat sel, delapan sel, enam belas sel, dan seterusnya. Pada Amoeba apabila keadaan lingkungan kurang baik misalnya kekeringan, maka Amoeba akan membentuk kista. Didalam kista Amoeba dapat membelah menjadi amoeba-amoeba baru yang lebih kecil. Bila keadaan menguntungkan maka amoeba-amoeba tadi dapat keluar dan selanjutnya amoeba ini akan tumbuh. Setelah mencapai pada ukuran tertentu maka amoeba tadi akan membelah diri seperti semula.

11

Gambar 2.6 Pembelahan biner pada Amoeba

Makananya dapat berupa ganggang, bacteri atau sisa-sisa organik. Ektoamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup liar di luar tubuh organisme lain (hidup bebas). Contohnya Amoeba proteus, Foraminifera, Arcella, Radiolaria. Entamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di dalam tubuh organisme , contohnya Entamoeba histolityca, dan Entamoeba coli. Genus/Species Rhizopoda 1. Amoeba proteus Tubuhnya bersel tunggal, di dalamnya terdapat: a. Nukleus, berperan dalam pengaturan aktivitas hidup. b. Vakuola makanan, berperan dalam

pencernaan makanan. c. Vakuola kontraktil, berperan dalam


Gambar 2.7 struktur amoeba

memelihara tekanan osmosis sel.

d. Dinding sel atau plasmolemma dengan sitoplasma yang terdiri dari ektoplasma dan endoplasma. Hidup di tempat yang lembab yang kaya bahan organik, baik di darat, laut dan air tawar, atau sebagai parasit pada manusia maupun hewan. Berkembang biak dengan cara membelah diri.
12

2. Entamoeba disentri (Entamoeba histolitica) Tubuh bersel tunggal, bentuknya tidak tetap Hidup dalam jaringan usus (bersifat endoparasit) Makanan eritrosit dan mampu membentuk cysta bila keadaan tidak menguntungkan.

Gambar 2.8 struktur entamoeba histolytiva Entamoeba histolytica mempunyai siklus hidup secara berurutan dari trophozoite (bentuk vegetatif), prakisa, kista (dengan satu atau dua inti), metatropozoite. Bentuk tropozoitenya aktif bergerak, ukurannya 10-60 mikron, sedangkan kistanya tidak bergerak ukurannya 5-20 mikron. Bentuk tropozoitenya mudah mati di luar tubuh manusia. Bentuk kistanya mudah mati dengan pengeringan atau pemanasan 550C, tetapi tahan hidup sampai dua bulan di dalam air (selokan, kali, sawah) tidak mati pada kadar chlor yang biasa dipakai dalam pengolahan air minum, tahan terhadap desinfektan. Pada feses yang basah tahan sampai 12 hari. 3. Entamoeba coli Tubuh bersel tunggal, hidup pada usus besar, kadang-kadang bersifat parasit sehingga dapat menimbulkan penyakit diarrhea. Berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan

13

selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus. 4. Arcella Tubuh memiliki rangka luar zat tanduk (kitin) Berbentuk seperti piring, dengan
satu permukaan cembung dan permukaan lainnya cekung atau datar , yang ditengahnya terdapat lubang tempat keluarnya kaki palsu.

5. Diflugia Tubuh memanjang, hidup di air tawar. Tubuh memiliki kerangka yang terdiri dari pasir. 6. Foraminifera Tubuh memiliki kerangka yang terdiri dari zat kapur dan tanah yang mengandung endapan tersebut dinamakan tanah Globigerina. Fosil Foraminifera merupakan petunjuk adanya sumber minyak. 7. Radiolarian (Heliosphaera) Hidup di laut dengan tubuh yang memiliki zat kersik, tanah yang memiliki endapan rangka tersebut dinamakan tanah radiolarian yang berguna untuk bahan penggosok.
2.5.2 Ciliata (Ciliophora/Infusoria)

Gambar 2.9 Ciliata

Ciliata berasal dari bahasa Latin, yaitu cilia = rambut kecil, atau ciliophora, yaitu phora = gerakan, bergerak dengan menggunakan silia (rambut getar). Ciliata juga disebut Infusoria (Infus = menuang) karena hewan ini ditemukan juga pada air buangan atau air cucuran. Silia terdapat pada seluruh permukaan sel atau hanya pada bagian tertentu. Selain berfungsi untuk bergerak, silia juga merupakan alat Bantu untuk makan. Silia membantu pergerakan makanan ke sitoplasma. Makanan yang terkumpul di sitoplasma akan dilanjutkan ke dalam
14

sitofaring (kerongkongan sel). Apabila telah penuh, makanan akan masuk ke sitoplasma dengan membentuk vakuola makanan. Sel Ciliata memiliki ciri khusus lain, yaitu memiliki dua inti, yaitu makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus berukuran lebih besar daripada mikronukleus. Makronukleus memiliki fungsi vegetatif, yaitu untuk

pertumbuhan dan perkembangbiakan yang mengendalikan fungsi hidup seharihari dengan cara mensisntesis RNA, juga penting untuk reproduksi aseksual. Mikronukleus memiliki fungsi reproduktif, yaitu pada konyugasi. Ciliata juga memiliki trikokis yang fungsinya untuk pertahanan dri dari musuh dan memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator).. Ciliata hidup bebas di lingkungan berair, baik air tawar maupun laut. Ciliata juga hidup di dalam tubuh hewan lain secara simbiosis maupun parasit. Ciliata yang hidup bebas di alam contohnya adalah Paramecium caudatum, Didinium, Stentor, Balantidium, dan vorticella. Jenis lainnya hidup

bersimbiosis dalam perut hewan pemakan rumput dan berfungsi membantu hewan tersebut mencerna sellulosa yang terdapat dalam rumput. Hanya sedikit jenis Ciliata yang hidup sebagai parasit. Salah satunya adalah Balantidium coli. Ciliata ini hidup pada usus besar ternak atau manusia dan dapat menyebabkan diare (balantidiosis). Ciliata melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual, yaitu dengan pembelahan biner membujur (transversal). Reproduksi seksual dilakukan dengan konyugasi. Ciliata memiliki dua inti yaitu, makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus berukuran lebih besar dibandingkan mikronukleus. Makronukleus memiliki fungsi vegetatif, yaitu untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Mikronukleus memiliki fungsi reproduktif, yaitu pada konjugasi. Contohnya pada Paramaecium sp. Ciliata melakukan reproduksi secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Reproduksi vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner membujur (transversal) sepanjang selnya. Pembelahan diawali dengan pembelahan mikronukleus dan diikuti dengan pembelahan makronucleus.

15

Gambar 2.10 Pembelahan biner pada Paramecium Reproduksi generatif dilakukan dengan konjugasi yaitu dengan cara penggabungan atau penyatuan fisik sementara antara dua individu kemudian terjadi pertukaran nukleus. Dengan demikian, akan terjadi perpaduan sifat yang dibawa oleh kedua individu tersebut dan menghasilkan satu individu baru. Reproduksi generatif Paramaecium berlangsung sebagai berikut : 1. Dua Paramaecium saling mendekat dan menempel pada bagian mulut sel untuk kawin, lalu terbentuk tabung konjugasi. 2. Mikronukleus masing-masing individu bermeosis 2 kali, lalu menghasilkan 4 mikronukleus haploid pada asing-masing individu. 3. Tiga mikronukleus melebur/hilang dan satu mikronukleus akan membelah secara mitosis menjadi dua mikronukleus. 4. Pasangan tersebut kemudian mempertukarkan satu mikronukleusnya. 5. Mikronukleus yang sudah dipertukarkan akan melebur dengan

makronukleus, terjadilah singami. Terbentuklah zigot nucleus yang diploid. Kemudian pasangan Paramaecium memisah. 6. Zigot nucleus masing-masing membelah secara mitosis sebanyak 3 kali berturut turut sehingga terbentuk 8 mikronukleus yang identic pada asingmasing paramaecium. 7. Selanjutnya masing-masing makronukleus yang asli hancur. (kenapa hancur?karena yang berperan dalam proses konjugasi hanya mikronukleus, sedangkan makronukleus untuk proses metabolisme). 8. Empat mikronukleus akan hilang sehingga tersisa akan tersisa empat mikronukleus. 9. Tiga mikronukleus akan bergabung menjadi satu mikronukleus dan satu mikronukleus lainnya akan tetap menjadi mikronukleus.

16

Gambar 2.11 Reproduksi secara konjugasi pada Paramecium


2.5.3 Flagellata (Mastigophora)

Gambar 2.12 Flagellata

Flagellata berasal dari flagell = cambuk, atau dengan menggunakan bulu cambuk, phora = gerakan yang bergerak dengan menggunakan bulu cambuk atau flagellum. Sebagian besar flagellata mempumyai dua flagellum. Letak flagellum ada yang di bagian belakang sel (posterior) sehingga saat bergerak seperti mendorong sel, dan ada yang di bagian depan sel (anterior) sehingga saat bergerak seperti menarik sel. Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat

berfotosintesis. Contohnya : Euglena viridis, Noctiluca milliaris, Volvox globator, Zooflagellata.

Flagellata heterotrofik (Tidak berkloroplas). Contohnya : Trypanosoma gambiens, Leishmania. Flagellata berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan biner membujur, misalnya pada Trypanosoma. Flagellata yang hidup bebas di

lingkungan berair, baik air tawar maupun air laut, dan ada yang hidup bersimbiosis dalam tubuh hewan. Flagellata yang hidup bersimbiosis, misalnya
17

Trichonympha campanula hidup pada usus rayap dan kecoa kayu. Flagellata ini membantu rayap atau kecoa mencerna kayu yang dimakan serangga tersebut. Flagellata yang hidup parasit antara lain adalah Trypanosoma brucei

menyebabkan penyakit tidur pada manusia di Afrika, Trypanosoma evansi penyebab penyakit surra pada ternak. Trichomonas vaginalis penyebab

penyakit pada alat kelamin wanita dan saluran kelamin pria, serta Leishmania penyebab penyakit kala-azar yang merusak sel darah manusia. Trypanosoma dan Leishmania dibawa oleh jenis lalat tertentu yang menghisap darah manusia, contohnya lalat tsetse (Glossina moritans) yang menularkan penyakit tidur. Penyakit ini merusak system saraf pusat dan pembuluh darah sehingga penderita tidak dapat berbicara dan berjalan, tidur terus-menerus , dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian.

Gambar 2.13 Pembelahan biner pada Euglena sp (kiri) dan T.evansi (kanan)

2.5.4

Sporozoa (Apicomplexa)

Gambar 2.13 Sporozoa

18

Sporozoa berasal dari bahasa Yunani, spore = biji, zoa = hewan; Sporozoa adalah hewan uniselluler yang pada salah satu tahapan dalam siklus hidupnya memiliki bentuk seperti spora. Sporozoa tidak memiliki alat gerak. Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Seluruh jenis Sporozoa hidup sebagai parasit pada hewan atau manusia. Sporozoa melakukan reproduksi secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Sporozoa memiliki pergiliran antara fase seksual dan aseksualnya. Reproduksi vegetatif dilakukan dengan pembentukan spora. Reproduksi generatif dilakukan dengan pembentukan gamet dan dilanjutkan dengan penyatuan gamet jantan dan betina. Misalnya pada Plasmodium. Pada Plasmodium peleburan gamet jantan dan gamet betina terjadi di dalam tubuh nyamuk Anopheles betina. Fase vegetatif / aseksual/ skizogoni Berlangsung di dalam tubuh manusia. a. Siklus Eksoeritrositer (EE). Nyamuk Anopheles betina mengisap darah manusia, sporozoit (bibit penyakit) dalam air liur nyamuk masuk ke dalam tubuh manusia. Sporozoit menyerang butir-butir sel darah merah kemudian masuk ke hati menjadi skizont kriptozoik. Skizont kriptozoik berkembang biak secara vegetatif dengan membelah cryptozoik. b. Siklus Eritrositer (E). Merozoit cryptozoik masuk ke dalam sel darah merah dan berkembang menjadi bentuk tropozoit. Selanjutnya inti tropozoit tersebut mengalami pembelahan secara berganda membentuk merozoit . Kemudian sel darah merah pecah. Sebagian merozoit ada yang berkembang membentuk gametofit, sedang sebagian yang lain ada yang menyerang sel darah merah yang lain. Proses merozoit menyerang sel darah merah disebut sporulasi . diri membentuk merozoit

19

Fase generatif / seksual / sporogoni Berlangsung di dalam tubuh nyamuk Anopheles betina Saat nyamuk menghisap darah manusia, gametosit ikut terbawa masuk ke dalam tubuh nyamuk. Gametofit tersebut akan berkembang menjadi mikrogamet (gamet jantan) dan makrogamet (gamet betina). Jika terjadi pembuahan (gamet jantan membuahi gamet betina) maka akan terbentuk zigot yang menempel di dinding lambung nyamuk. Zigot akan berkembang menjadi Ookinet. Ookinet menembus dinding lambung dan menempel di sebelah luar. Ookinet selanjutnya tumbuh menjadi Ookista. Ookista membelah menjadi banyak. Tiap Ookista akan membungkus diri dengan sedikit sitoplasma membentuk Oosit . Oosit akan berkembang membentuk sporozoit baru yang tersebar ke dalam jaringan tubuh nyamuk Anopheles termasuk ke dalam kelenjar liur.

Gambar 2.14 Reproduksi vegetatif dan generatif pada Plasmodium

Contoh Sporozoa adalah Toxoplasma gondii yang menyebabkan toksoplasmosis dan Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia. Toxoplasma gondii masuk ke dalam tubuh manusia

melalui makanan, misalnya daging yang tercemar kista Toxoplasma dari kotoran kucing. Infeksi Toxoplasma terutama membahayakan ibu hamil karena dapat membunuh embrio atau bayi yang dilahirkan menjadi cacat. Plasmodium masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Di dalam tubuh manusia, Plasmodium menyerang selsel hati dan sel-sel darah merah (eritrosit). Ada empat jenis Plasmodium
20

yang dapat menyebabkan penyakit malaria, yaitu

Plasmodium vivax,

Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium falciparum. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale menyebabkan malaria tertiana, Plasmodium malariae meyebabkan malaria kuartana, dan Plasmodium falciparum menyebabkan penyakit malaria yang paling berbahaya, yaitu malaria tropiokana. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale dapat tetap hidup, meskipun tidak aktif di dalam sel hati penderita malaria selama berbulanbulan bahkan bertahun-tahun. Akibatnya, di kemudian hari penyakit malaria dapat kambuh lagi. Pemberantasan penyakit malaria dapat

dilakukan dengan memotong siklus hidup Plasmodium, yaitu dengan cara mencegah adanya genangan air atau menutup tempat penampungan air. Cara ini menyebabkan nyamuk tidak dapat tumbuh menjadi dewasa. Cara lainnya adalah dengan memberi obat (misalnya obat kina) kepada si penderita. Siklus hidup Plasmodium terbagi menjadi dua, yaitu di dalam tubuh nyamuk Anopheles betina dan di dalam tubuh manusia. 2.6 Peran Protozoa Dalam Kehidupan Protozoa dapat menguntungkan dan merugikan manusia. Protozoa

berperan penting dalam mengontrol jumlah bakteri di alam karena Protozoa adalah pemangsa bakteri. Di perairan, protozoa juga merupakan zooplankton dan bentos. Zooplankton dan bentos adalah sumber makanan hewan air

termasuk udang, kepiting, dan ikan yang secara ekonomi bermanfaat bagi manusia. Protozoa khusunya Flagellata yang bersifat saprofitik memainkan peran baik sebagai herbivora dan konsumen dalam tingkatan dekomposer dari rantai makanan. Flagellata berperan sebagai phytoplankton dan zooplankton di dalam lingkungan perairan yang berfungsi sebagai sumber pakan alami organisme lain. Protozoa lain menguntungkan antara lain sebagai berikut : 1. Foraminifera, cangkang atau kerangkanya merupakan petunjuk dalam pencarian sumber daya minyak, gas alam, dan mineral.

21

2.

Radiolaria, kerangkanya jika mengendap di dasar laut menjadi tanah radiolarian yang dapat digunakan sebagai bahan penggosok.

2.6 Penyakit yang disebabkan Protozoa Protozoa yang merugikan manusia, yaitu menyebabkan penyakit antara lain : 1. Entamoeba histolytica, penyebab disentri

Gambar 2.15 Entamoeba histolytica Disentri merupakan penyakit pada gangguan pencernaan yang ditandai dengan peradangan usus besar. Gejala : diare berat sehingga timbul darah pada saat BAB, muntah yang dapat menimbulkan resiko dehidrasi. Cara mengobati : dengan meminum air putih yang cukup dan segera membawa penderita ke dokter. 2. Trypanosoma brucei, penyebab penyakit tidur di Afrika.

Gambar 2.16 Trypanosoma brucei

Gambar 2.17 siklus hidup Trypanosoma brucei


22

Penyakit ini ditimbulkan oleh gigitan lalat, yang dinamakan lalat tsetse. Gejala pertama yaitu adanya suatu benjolan kecil yang berwarna merah. Apabila penyakit itu akan berkembang, tanda-tanda dan gejalagejala akan nampak lebih lanjut dalam waktu dua atau tiga minggu. Kebanyakan dirasakan sakit kepala, nyeri urat syaraf, tidak dapat tidur (insomnia), kehilangan kesanggupan untuk mempersatukan pikiran dan denyut nadi yang cepat. 3. Trichomonas vaginalis, parasit pada alat kelamin wanita dan saluran kelamin laki-laki.

Gambar 2.18 Trypanosoma Vaginalis Trichomonas vaginalis merupakan penyakit menular lewat hubungan seksual (PMS), seseorang beresiko terkena PMS apabila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal, bila tidak diobati dengan benar penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian. Pada wanita : gejalanya Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau hubungan seksual, rasa nyeri pada perut bagian bawah, pengeluaran lendir pada vagina atau alat kelamin, keputihan berwarna putih susu bergumpal disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin dan sekitarnya, keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk dan gatal, timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual, bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada alat kelamin. Pada laki-laki : gejalanya Berupa bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada penis atau alat kelamin, luka tidak sakit, keras dan berwarna merah pada alat kelamin, rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin, rasa sakit
23

yang hebat pada saat kencing, bengkak, panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok. 4. Balantidium coli, penyebab diare.

Gambar 2.19. Balantidium coli Protozoa yang menginfeksi usus besar dan menyebabkan diare dan muntah-muntah. Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Tanda tanda yang mudah untuk kita kenali pada penderita diare yaitu Buang air besar encer (mencret), disertai rasa melilit (sakit perut), disertai rasa perut kembung, kadang disertai suhu badan yang meningkat (demam) terutama sering terjadi pada bayi dan anak. 5. Toxoplasma gondii, penyebab toksoplasmosis Toxoplasma gondii bisa menyerang manusia dan semua hewan berdarah panas terutama burung, ayam dan sejenisnya serta Hewan berkaki empat seperti sapi, kambing, kerbau, domba dll. Gejala akibat Toxoplasmosis pada orang sehat, antara lain demam, sakit kepala, pembesaran kelenjar limfa (Getah bening), lemah, lesu, nyeri tenggorokan, nyeri dan pegal di seluruh badan.

Gambar 2.20 Toxoplasma Gondii 24

6. Plasmodium sp, penyebab penyakit malaria.

Gambar 2.21 plasmodium sp Perkembangan Plasmodium dapat dibagi menjadi: Schizogony; meliputi Sporozoit Tropozoit Merozoit Sporogony; meliputi makrogamet dan mikrogamet zygot ookinet sporozoit

Gambar 2.22 Daur Hidup Plasmodium Plasmodium sp. pada manusia menyebabkan penyakit malaria dengan gejala demam, anemia dan spleomegali (pembengkakan spleen). Dan vektornya nyamuk Anopheles betina, karena nyamuk Anopheles jantan makanannya cairan tumbuhan.Dikenal empat jenis plasmodium, yaitu: Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertian (malaria tertian benigna). Plasmodium malariae menyebabkan malaria quartana. Plasmodium facifarum menyebabkan malaria tropika (malaria tertian maligna).

25

Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale. Reproduksi seksual dimulai ketika nyamuk Anopheles mengisap darah

penderita malaria, di mana gametocyte akan terisap ke dalam lambung nyamuk. Di dalam lambung nyamuk, gametocyte jantan (mikrogamet) akan membuahi gametocyte betina (makrogamet), sehingga terjadilah zygote. Dalam waktu 24 jam zygote tumbuh menjadi ookinete. Ookinete akan menembus dinding lambung nyamuk dan tumbuh menjadi oocyst, kemudian berkumpul di dalam bagian luar dan dinding lambung. Di dalam oocyst ini akan tumbuh banyak sporozoite. Oocytst yang matang akan pecah dan sporozoitenya akan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk dan sebagian akan berkumpul di dalam kelenjar ludah nyamuk. Sporozoite ini akan masuk ke aliran darah manusia bila nyamuk tadi mengisap darah manusia. Reproduksi aseksual dimulai ketika sporozoite keluar dari aliran darah dan masuk ke dalam sel parencym hepar untuk memulai schizogoni exoerythrocytic (schizogoni di luar erythrocyte) yang pada tahap selanjutnya akan diikuti schizogoni erythrocyte (schizogoni di dalam erytrhocytic). Masa inkubasi malaria bervariasi bergantung pada daya tahan tubuh dan spesies plasmodiumya. Masa inkubasi Plasmodium vivax 14 - 17 hari, Plasmodium ovale 11 16 hari, Plasmodium malariae 12 14, dan Plasmodium falcifarum 10 12 hari. Gejala Penyakit Gejala utama malaria adalah demam yang periodik disertai menggigil dan diakhiri dengan berkeringat, anemia, splenomegali dan leukopenia. Munculnya demam yang periodik ini berkaitan dengan pecahnya sejumlah besar erythrocyte, baik yang parasit maupun tidak. Interval (selang) waktu untuk terjadinya demam yang periodik, bergantung pada lamanya waktu yang diperlukan untuk siklus schizogoni erythrocytic. Misalnya, Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, siklus schizogoni erythrocytic-nya memerlukan waktu 48 jam sehingga demamnya

26

akan terjadi selang 2 hari atau setiap hari ketiga (tertian). Plasmodium malariae memerlukan waktu 72 jam sehingga demamnya muncul setiap hari keempat (quartana) sedangkan Plasmodium falcifarum antara 36-48 jam sehingga datangnya demam menjadi tidak teratur. Infeksi oleh Plasmodium vivax, Plasmodium ovela dan Plasmodium malariae gejalanya datang mendadak berupa demam tinggi (40 40,60C), menggigil, sakit kepala, sakit otot, malaise, nausea dan setelah berlangsung beberapa jam demamnya hilang berkeringat banyak. Pada peyakit yang berat dapat terjadi coma, kejang-kejang dan kegagalan jantung, tetapi sangat jarang. Infeksi oleh Plasmodium falcifarum demamnya berlangsung lebih lama dan interval waktu terjadinya serangan lebih pendek. Plasmodium falcifarum sering menimbulkan kematian, diantaranya blacwater fever yang ditandai dengan demam yang tinggi, menggigil, urina berwarna kemerahan atau kecoklatan, dan kadang-kadang terjadi anuria. Malaria bisa juga menyerang otak (Malaria cerebralis). Pada penderita yang pengobatannya tidak sempurna penyakitnya sering kambuh lagi (relapse) terutama Plasmodium vivax dan Plasmodium malariae. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan Plasmodium, dimana proses penularannya melalui gigitan nyamuk Anopheles. Protozoa parasit jenis ini banyak sekali tersebar di wilayah tropik, misalnya di Amerika, Asia dan Afrika. Gejala : Penderita menggigil atau gemetar selama 15 menit sampai satu jam, diikuti demam dengan suhu 40 derajat atau lebih. Penderita lemah, kulitnya kemerahan dan menggigau. Demam berakhir serelah beberapa jam, penderita mulai berkeringat dan suhunya menurun. Setelah serangan itu berakhir, penderita merasa lemah tetapi keadaannya tidak mengkhawatirkan.

27

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat kita simpulan bahwa : 1. Protozoa berarti hewan-hewan yang pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik
2. Ciri -ciri Umum Protozoa Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof) Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel). Hidup bebas, saprofit atau parasit Organisme bersel tunggal (uniseluler) Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok) Dapat membentuk kista untuk bertahan hidup. kista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah. Protozoa tidak mempunyai dinding sel

3. Protozoa hidup secara heterotrof dengan memangsa bakteri, protista lain, dan sampah organisme. 4. Protozoa berperan penting dalam mengontrol jumlah bakteri di alam karena Protozoa adalah pemangsa bakteri. 5. Penyakit yang disebabkan oleh protozoa adalah
Entamoeba histolytica, penyebab disentri Trypanosoma brucei, penyebab penyakit tidur di Afrika.

Trypanosoma evansi, penyebab penyakit pada hewan ternak


Trichomonas vaginalis, parasit pada alat kelamin wanita dan saluran kelamin laki-laki. 28

Balantidium coli, penyebab diare. Toxoplasma gondii, penyebab toksoplasmosis

Plasmodium sp, penyebab penyakit malaria

B. Saran Diharapkan masyarakat dapat menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya agar terhidar dari segala sumber penyakit, karena lebih baik mencaegah dari pada mengobati.

29

Daftar Pustaka

Adhi, I Ketut D. 2008. Mengenal Protozoa. gurungeblog.com/2008/11/18/mengenalprotozoa/ Anonim. caramengobatin.com/2012/07/mengatasi-penyakit-disentri-herbal-alami.html Anonim. protozoabiologi.blogspot.com/p/peranan-protozoa.html Ferdian, Ray. 2013. Pengertian protozoa ciri-ciri dan kelas.

raytkj.blogspot.com/2012/11/pengertian-protozoa-ciri-ciri-dan-kelas.html H, Iswatun. 2011. Trypanosomiasis. iswatun-h--fkm10.web.unair.ac.id/artikel_detail-35809Umum.html Handa, Fitri. 2012. digilib.unimus.ac.id/files/disk1/119/jtptunimus-gdl-fitrihanda-5936-3babii.pdf Hidayati, Nur. 2013. Reproduksi Vegetatif dan Generatif Pad Phylum

Protozoa.aghrywiranata.blogspot.com/2013/07/makalah-reproduksi-vegetatif-dan.html

30