Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Isolasi Tanin

Kelompok 3 . Nama Kelompok : 1. Esta Anggraeni 2. Santi Rahmadani 3. Fajar Firdzaus H 4. Cyntia Wulandari 5. Erni Nanda 6. Detia Rosalina 7. Septiyana Nur 8. Moch. Kori R
9. Naruta Sirpan 10. Murni Tiradi S

11. Leli Eprianti


12. Rantri Restiantie 13. Mahbub Andri S

Bahan dan Metode


Bahan

Sampel : Caesalpinia coriaria

Penentuan Kadar Air


Kadar air ditentukan dengan metode oven langsung dengan alat Pertanian Kimia (AOAC,1960) 1 gram sa,pel diletakkan dalam cawan porselin dan disimpan dalam oven listrik pada suhu 90 derajat celcius . 4-5 jam (sampai berat konstan) Didinginkan dalam desikator Ditimbang Dari bobot akhir sampel hitung kadar airnya

Ekstraksi Tanin
Sampel dikeringkan dan digiling menggunakan penggiling umtuk mendapatkan ukuran partikel dibawah 0,5 mm . Pelarut yang digunakan adalah air Tanin yang akan diekstraksi dengan menggunakan metode tekanan autoklaf. Efisiensi ekstraksi tergantung pada faktor proses serperti suhu , waktu dan tekanan. Sampel yang diekstraksi dibawah tekanan pada proses autoklaf pada 10 PSI selama 30 menit. Ekstrak yang diperoleh diuapkan dengan filter dan bentuk bubuk yang dihasilkan digunakan untuk seluruh proses. Ekstrak si dengan tekanan menghasilkan jumlah yang lebih tinggi daripada ekstraksi yang diperoleh dengan metode resapan . Namun produk tersebut berwarna lebih gelap dan mengandung zat non tanin lebih tinggi

1.

Pengaruh ukuran partikel

Ukuran partikel antara 50-300 ssi Keuntungan dengan menggunakan partikel keci untuk mencapai efisiensi ekstraksi yang tinggi Ukuran optimum partikel yang ditemukan adalah 0,5 mm

2. Suhu

Suhu ekstraksi yang dipilih sesuai dengan faktor kelarutan, selektifitas, uap pelarut tekanan, difusi zat terlarut dan warna sensitifitas produk yang dicapai Pada kasus yang disajikan pada jurnal ini suhu tinggi ekstraksi berguna untuk menghidrolisis dan mengekstraksi zat yang tidak diinginkan seperti hemiselulosa dan zat pektin dari bahan selulosa yang mengandung tanin Ekstraksi pada waktu yang panjang dan suhu yang tinggi menyebabkan ekstrak berwarna gelap sehingga kurang menarik Suhu optimum 80-90 c selama ektraksi berlangsung

3. Pengaruh waktu

Pengaruh waktu untuk mencapai tingkat maksimum ekstraksi tanin antara 15-40 menit Periode waktu yang optimum ekstraksi tanin adalah 30 menit Analisis tanin Identifikasi tanin dilakukan dengan KLT Dengan menggunakan pelarut standar asam catequin dan tannic menggunakan cromatofoils alumunium Dengan larutan pengembang etil asetat : (asam asetat 20:4) sebagai fase gerak Setelah pengeringan untuk melihat hasil identifikasi tanin dengan menggunakan FeCl Kuantifikasi tanin dilihat dengan spektrofotometri Larutan standar dirumuskan oleh folin denis dan kurva kalibrasi dikembangkan di 560 nm

Hasil dan Pembahasan


Studi bahan baku :
Sampel dikumpulkan dengan hati hati, setiap hari,

setelah tanaman tersebut jatuh dari pohon, lalu dikeringkan sebelum disimpan. Kandungan air diamati sebelum dan sesudah polong tersebut mengering. Pengeringan dengan metode oven sampai kadar air mencapai 4-5%

Estimasi Jumlah Tanin


Sebuah survey eksperimen dilakukan untuk mengetahui

kondisi operasional yang optimal untuk mengekstraksi bahan dengan 5% (b/v) campuran pelarut air 1. Pengaruh ukuran partikel pada ekstraksi tanin Studi awal dilakukan untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel pada pengaruh tanin untuk mencapai efisiensi ekstraksi yang tinggi diayak menggunakan alat pengayakan ball mill untuk memperoleh ukuran partikel yang berbeda beda sesuai dengan ayakan. sampel diberi label berdasarkan hasil saringan dari ayakan yang berbeda yakni: 5mm, 2mm, 1mm, 0.5mm, dan 0.1mm sesuai dengan SSI hasil digambarkan pada tabel berikut:

Hasil pengamatan diketahui ukuran partikel menurun, luas permukaan lebih tinggi dan diperoleh peningkatan ekstraksi tanin Kenaikan ini stabil sampai pengurangan ukuran partikel 0.5mm dan dengan penurunan ukuran partikel ekstraksi tanin berkurang. Isi tanin yang dihasilkan adalah 0.588 mg/ml pada ukuran partikel 0.5mm. Namun, dari pengolahan energi dan biaya pemurnian produk, tepung grinding tidak disukai. Oleh karena itu ukuran partikel 0.5mm dipilih untuk study lanjut.

2. Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi suhu optimum dipili untuk penelitian adalah 75-100 derajat celcius pada 10 Lb/15 min. ekstraksi tanin dipantau setiap 30 menit. Lalu hasil dapat diamati pada tabel dan gambar pada lampiran. Hal ini diamati bahwa 90 derajat celcius adalah suhu optimal ekstraksi tanin. kandungan tanin yang dihaslkan adalah 0.748 mg/ml. oleh karena itu ekstraksi tanin dengan metode tersebut dipilih untuk study lebih lanjut. Nilai nilai optimal diperoleh pada ekstraksi tanin adalah 0.55 mm ukuran partikel, 90 derajat dan rata rata waktu 30 menit untuk ekstraksi tanin. Hasil maksimal ekstraksi tanin adalah 31,4% berat basis kering ketika tanaman tersebut berusia 6 bulan, tetapi tanaman dalam polong menurun sebesar 15% dan 28% setelah 12 dan 42 bulan penyimpanan.

Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan untuk mengubah

proses pH, suhu dan waktu yang mengakibatkan isi tanin berkurang 25% dari tanaman tersebut. Percobaan di laboratorium menggunakan pelarut pelarut pada penelitian ini sangat penting karena akan menunjukkan bahwa ekstraksi tanin sedikit dengan pelarut non polar (sulit dieksktraksi dengan pelarut tersebut). Kompleksibilitas molekul pada percobaan dipilih untuk memilih pelarut, karena itu dipilih pelarut dengan polaritas yang berbeda.