Anda di halaman 1dari 9

1

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN Bahan Seminar Judul Seminar Pembawa Seminar No Stambuk Pembimbing : SKRIPSI : Respon Pertumbuhan Ikan Nila (oreochromis niloticus) Terhadap Pakan Buatan Yang Menggunakan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Dengan Dosis Yang Berbeda : LD. MUKMIN : 07 410 001 : 1. Ir. Tamar Mustari, MS 2. Ir. Budiyanti M.Si I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat dunia terhadap protein hewani dari ikan terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk dunia. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Dengan mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh karena itu kemampuan sumberdaya manusia untuk memproduksi ikan budidaya sangat dibutuhkan. Kendala yang dihadapi pembudidaya ikan saat ini adalah tingginya harga pakan komersil yang mengakibatkan keuntungan yang diperoleh rendah. Penyusunan ransum ikan sebaiknya menggunakan protein yang berasal dari sumber nabati dan hewani secara bersama-sama untuk mencapai keseimbangan nutrisi dengan harga relatif murah (Mudjiman, 2002). Pakan yang diberikan pada ikan hendaknya bermutu baik sesuai dengan kebutuhan ikan, tersedia setiap saat, dapat menjamin kesehatan dan harganya murah (Amri, 2006). Berpijak pada hal tersebut maka dilakukan penelitian tentang penggunaan rumput laut sebagai salah satu bahan pakan buatan ikan dengan pemberian yang berbeda, guna memperoleh komposisi yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan ikan budidaya. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dikemukakan yaitu: 1. Apakah dengan menggunakan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Dosis yang berbeda dalam pakan buatan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila ? 2. Apakah dengan menggunakan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Dosis yang berbeda dalam pakan buatan dapat memberikan konversi pakan yang berbeda ?

1.3

Tujuan Dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Respon pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) terhadap pakan buatan yang menggunakan tepung rumput laut ( Eucheuma cottonii) dengan dosis yang berbeda. Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah agar masyarakat dapat mengetahui dosis pakan rumput laut (Eucheuma cottonii) yang terbaik untuk pertumbuhan sehingga diharapkan para konsumen dapat memilih rumput laut sebagai salah satu bahan pakan. 1.4 Hipotesis 1. Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Dosis yang berbeda dalam pakan buatan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila. 2. Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Dosis yang berbeda dalam pakan buatan dapat memberikan konversi pakan yang berbeda.

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 8 minggu mulai pada Tanggal 17 April sampai 12 Juni Tahun 2013 di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Dayanu Ikhsanuddin Bau-Bau. 3.2 3.2.1 Alat dan Bahan Alat Penelitian Adapun alat-alat yang digunakan untuk penelitian dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini:

Tabel 3. Alat-Alat Penelitian serta Kegunaannya No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Alat Aquarium DO Meter Refractometer pH Meter Termometer Timbangan Analitik Aerator Batu Aerasi Selang Kegunaan Sebagai tempat wadah penelitian Sebagai alat pengukur oksigen Sebagai alat pengukur salinitas Sebagai alat pengukur pH Sebagai alat pengukur suhu Sebagai alat penimbang bahan penelitian Sebagai alat pemberian udara kedalam wadah Sebagai tempat keluarnya gelembung udara Sebagai alat penyalur udara dan sebagai alat pengambilan kotoran ikan

3.2.2 Bahan penelitian Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : 1. Ikan nila dengan Ukuran 4 5 cm, berat 2 3 gram 2. Pakan buatan 3. Air tawar 3.3 Metode Penelitian 3.3.1 Wadah Penelitian Wadah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu akuarium yang berukuran 40 x 30 x 25 cm, berjumlah 9 buah. Setiap akuarium diisi dengan air tawar setinggi 20 cm dan diberi aerasi. 3.3.2 Pembuatan Pakan Buatan Kandungan protein yang dibutuhkan untuk membuat pakan ikan pada penelitian ini yaitu sebesar 35 %. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini diambil berdasarkan komposisi kandungan nutrisi bahan baku pakan, tapi sebelum melakukan pembuatan pakan buatan terlebih dahulu dilakukan perhitungan komposisi bahan baku. Pembuatan pakan buatan ini dilakukan dengan cara mencampurkan semua bahan baku yang telah disiapkan. Tabel.4 Komposisi Pakan Percobaan No 1 2 3 4 5 6 Bahan Tepung Rumput Laut Ikan Teri Kering Cacing Laut Tepung Jagung Vitamin C Mineral TOTAL Pakan A 15 % 33,31 % 33,31 % 12,38 % 3% 3% 100% Komposisi ( % ) Pakan B 20 % 33,75 % 33,75 % 6,50 % 3% 3% 100% Pakan C 25 % 34,19 % 34,19 % 0.62 % 3% 3% 100%

3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Adaptasi Ikan Adaptasi ikan uji bertujuan untuk membiasakan ikan memakan pakan buatan yang diberikan. Adaptasi ikan terhadap pakan buatan ini dilakukan selama 7 hari. Setelah hewan uji telah terbiasa dengan pakan buatan tersebut, selanjutnya dilakukan penimbangan bobot biomasa awal untuk mengetahui jumlah pakan yang diberikan setiap hari. Disamping itu adaptasi juga bertujuan untuk membiasakan ikan dengan kondisi lingkungan yang baru. 3.4.2 Pemberian Pakan Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan dalam bentuk pelet dengan komposisi 35 % protein. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 8 % dari bobot tubuh ikan saat awal penelitian selama 8 minggu pemeliharaan. Jumlah pakan yang diberikan selama 8 minggu, disesuaikan dengan pertumbuhan bobot ikan setiap minggu. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.30 dan 17.30 Wita, dengan cara ditebarkan ke akuarium sedikit demi sedikit setelah dilakukan penimbangan. Penimbangan biomassa ikan dilakukan setiap minggu untuk mengetahui perkembangan ikan dan jumlah pakan yang diberikan. 3.4.3 Pengelolaan Media Budidaya Pada semua akuarium, pemeliharaan media dilakukan dengan mengeluarkan kotoran yang mengendap didasar akuarium dengan cara menyedot kotoran setiap hari sebelum pemberian pakan dengan menggunakan selang kecil. Pergantian air akuarium dilakukan 2 kali seminggu, sebanyak 30 50 % dari total volume air akuarium awal. 3.4.4 Pengukuran Kualitas Air Pengukuran kualitas air Pada 9 (Sembilan) akuarium yang meliputi salinitas, pH, suhu, dan oksigen dilakukan setiap hari Sedangkan pengukuran amoniak dilakukan minggu ke-5 dan minggu ke-8 setelah penimbangan ikan uji. 3.4.5 Rencana Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Perlakuan A Menggunakan Tepung Rumput Laut dengan kandungan 15 % Perlakuan B Menggunakan Tepung Rumput Laut dengan kandungan 20 % Perlakuan C Menggunakan Tepung Rumput Laut dengan kandungan 25 % Berdasarkan desain percobaan di atas maka diperoleh total perlakuan sebanyak 9 unit perlakuan seperti terlihat dibawah ini :
C1

A1 B1

B2

A2 C2

B3

A3

C3

Gambar 4. Tata Letak Wadah Penelitian Setelah Pengacakan 3.5 Pengukuran Peubah 3.5.1 Pertumbuhan Pertumbuhan yang diamati adalah pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan Spesifik.

3.5.1.1 Pertumbuhan Mutlak Pertumbuhan mutlak individu rata-rata, yang dihitung berdasarkan rumus Everhart dkk, (1975) dalam Effendie, (1978), yaitu : Keterangan : h : Pertumbuhan Mutlak (g) Wt : Bobot akhir ikan (g) Wo :Bobot Awal ikan (g) 3.5.1.2 Laju Pertumbuhan Spesifik Untuk menghitung pertumbuhan harian (%), digunakan laju pertumbuhan spesifik Zonneveld, dkk (1991) yaitu menurut

Keterangan SGR : Laju pertumbuhan harian (%) Ln : Logaritma natural Wt : Bobot rata-rata ikan waktu t (g) Wo : Bobot awal ikan (g) t : Waktu pengamatan (hari) 3.5.2 Konversi Pakan Untuk mengetahui konversi pakan yang diberikan selama penelitian maka digunakan rumus Stickney (1994) : ( ) Keterangan FCR : Nilai konversi pakan F : Jumlah total pakan yang dikonsumsi (g) Wt : Bobot ikan pada ahir penelitian (g) Wo : Bobot ikan pada awal penelitian (g) D : Jumlah bobot ikan yang mati selama pemeliharaan 3.5.3 Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup untuk setiap unit percobaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Custing, 1968) dalam (Effendie, 1978) yaitu: Keterangan SR : Kelangsungan hidup % Nt : Jumlah ikan uji pada akhir penelitian (ekor) No : Jumlah ikan uji pada awal penelitian (ekor) 3.5.4 Analisis Data Data dianalisis secara statistik dengan analisis ragam untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan yang diberikan. Jika dari analisis ragam diketahui bahwa perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan untuk membandingkan perlakuan yang menghasilkan hasil terbaik (Kusriningrum, 1990).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Pertumbuhan Berat Mutlak Hasil pengamatan penimbangan pertumbuhan berat mutlak ikan nila selama penelitian ini, disajikan pada Tabel 5 Tabel 5. Pertumbuhan mutlak Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
ULANGAN I II III Total Rerata A 8,800 8,218 8,870 25,888 8,629 a PERLAKUAN (gram) B 13,263 16,763 12,828 42,853 14,284 bc C 9,000 9,463 10,090 28,553 9,518 ab

Hasil analisis ragam dengan menggunakan tepung rumput laut ( Eucheuma cottonii) dengan dosis yang berbeda selama penelitian memberikan pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan mutlak ikan nila (Lampiran 2) sehingga dilanjutkan dengan uji jarak berganda. Berdasarkan uji jarak berganda duncan, perlakuan A (8,629 gram) tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C (9,518 gram) Namun Perlakuan A (8,629 gram) berbeda nyata terhadap perlakuan B (14,284 gram) (Lampiran 3). 4.1.1.1 Laju Pertumbuhan Spesifik Hasil pengamatan penimbangan laju pertumbuhan spesifik ikan nila selama penelitian ini, disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 6. Laju Pertumbuhan Spesifik ikan nila (Oreocromis niloticus)
Ulangan I II III Total Rerata A 2,14 2,10 2,13 6,368 2,123a Perlakuan (%) B 2,72 3,01 2,64 8,371 2,790ab C 2,17 2,21 2,32 6,702 2,234ab

Hasil analisis ragam dengan menggunakan tepung rumput laut ( Eucheuma cottonii) dengan dosis yang berbeda selama penelitian memberikan pengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik(Lampiran 4), sehingga dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan. Berdasarkan uji jarak berganda duncan, perlakuan A (2,123 %/hari) tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C (2,234 %/hari) dan perlakuan B (2,790 %/hari) (Lampiran 5). 4.1.2. Konversi Pakan Hasil pengamatan konversi pakan ikan nila selama penelitian ini, disajikan pada Tabel 7 Tabel 7. Konversi Pakan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ulangan I II III Total Rerata A 16,128 16,206 15,860 48,194 16,065 bc PERLAKUAN B 12,028 10,371 12,041 34,441 11,480 a C 15,768 15,458 14,057 45,283 15,094 b

Hasil analisis ragam dengan menggunakan tepung rumput laut ( Eucheuma cottonii) dengan dosis yang berbeda selama penelitian memberikan pengaruh sangat nyata terhadap konversi pakan (Lampiran 6), sehingga dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan. Berdasarkan uji jarak berganda duncan, perlakuan A (16,065) tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C (15,094) , namun Perlakuan A (16,065) berbeda nyata terhadap perlakuan B (11,480) (Lampiran 7). 4.1.3. Kelangsungan Hidup Hasil pengamatan kelangsungan hidup ikan nila selama penelitian ini, disajikan pada Tabel 8 Tabel 8. Kelangsungan hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Ulangan I II III Total A (12 ekor) 100 100 100 100 Perlakuan B (12 ekor) 100 100 100 100 C (12 ekor) 100 100 100 100

Berdasarkan tabel 8 tersebut di atas, maka rata-rata kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan tepung rumput laut dengan dosis yang berbeda sebagai bahan utama dalam pakan Buatan selama penelitian ini, memberikan rata-rata kelangsungan hidup yang sama untuk semua perlakuan yaitu dengan tingkat kelangsungan hidup 100 %. 4.1.4. Kualitas Air Berdasarkan hasil pengukuran beberapa kualitas air selama penelitian maka didapatkan kisaran ratarata suhu, oksigen terlarut, derajat keasaman (pH), salinitas dan amoniak sebagai berikut:

4.2. Pembahasan 4.2.1. Pertumbuhan Pertumbuhan adalah rata-rata pertambahan ukuran baik berat maupun panjang. Pada peneilitan ini pertumbuhan yang dihitung adalah pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik. 4.2.1.1. Pertumbuhan Mutlak Pertumbuhan mutlak yaitu ukuran rata-rata berat organisme pada umur tertentu (Effendie, 1979). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian pakan menggunakan Tepung Rumput Laut ( Eucheuma cottonii) dengan dosis yang berbeda dalam pakan buatan, dengan kandungan protein yang sama yaitu sebesar 35 % sangat berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan mutlak pada Ikan nila (Oreochromis niloticus). Dimana pada perlakuan B (Tepung Rumput Laut 20 %) memberikan rata-rata pertumbuhan mutlak tertinggi sebesar 14,284 gram,sehingga tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap

perlakuan C (Tepung Rumput Laut 25 %) yang memberikan rata-rata pertumbuhan mutlak sebesar 9,518 gram dan perlakuan A (Tepung Rumput Laut 15 %) memberikan rata-rata pertumbuhan mutlak terendah sebesar 8,629 gram, sehingga memberikan perbedaan yang nyata terhadap perlakuan B (Tepung Rumput Laut 20 %). Halver (1972) Menyatakan bahwa kecepatan pertumbuhan ikan tergantung pada jumlah pakan yang diberikan, ruang, suhu, kedalaman air dan faktor-faktor lain. Pakan yang dimanfaatkan oleh ikan pertama digunakan untuk memelihara tubuh dan untuk memperbaiki alat-alat tubuh yang rusak, setelah itu kelebihan pakan yang ada digunakan untuk pertumbuhan. 4.2.1.2. Laju pertumbuhan spesifik Laju Pertumbuhan Spesifik adalah persentase rata-rata pertambahan ukuran baik berat tubuh ikan perhari. Angka laju pertumbuhan spesifik terendah terjadi pada perlakuan A (Tepung Rumput Laut 15 %) menghasilkan nilai rata-rata laju pertumbuhan spesifik 2,123%/hari, tidak berbeda nyata terhadap perlakuan B (Tepung Rumput Laut 20%) yang menghasilkan nilai rata-rata pertumbuhan spesifik 2,790%/hari, dan perlakuan A tidak berbeda nyata pula terhadap perlakuan C (Tepung Rumput Laut 25 %) yang menghasilkan nilai rata-rata laju pertumbuhan spesifik 2,234%/hari. Sumeru dan Ana (1992) Menyatakan bahwa dosis pakan merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan pakan karena akan memegang peranan penting dalam efektifitas penggunaan pakan. 4.2.2. Konversi Pakan Berdasarkan data hasil konversi pakan ikan nila dalam penelitian ini menunjukkan dengan penggunaan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Dosis yang berbeda dalam pakan buatan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ikan nila selama penelitian . Rasio konversi pakan tertinggi didapat pada perlakuan A (Menggunakan Tepung Rumput Laut dengan kandungan 15 %) menghasilkan nilai rata-rata konversi pakan yaitu 16,065 berbeda nyata terhadap perlakuan B menggunakan tepung rumput laut dengan kandungan 20 %) yaitu 11,480 tetapi perlakuan A tersebut tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C menggunakan tepung rumput laut dengan kandungan 25 %) yaitu 15,094. Mudjiman, (2006) menyatakan bahwa secara umum pakan yang dikonsumsi oleh ikan rata-rata berkisar 5%-6% dari bobot tubuhnya/hari. 4.2.3. Kelangsungan Hidup Hasil penelitian yang telah dilakukan, persentase kelangsungan hidup pada setiap perlakuan mencapai 100 %, hal ini menunjukan bahwa dari penanganan yang cermat serta lingkungan yang mendukung untuk meningkatan kelangsungan hidup ikan nila. Zonneveld et al., (1991) menyatakan bahwa tinggi rendahnya kelangsungan hidup dipengaruhi faktor luar seperti adanya kompetisi ruang gerak, kualitas dan kuantitas pakan, penanganan dan penangkapan yang kurang cermat dan hati-hati terutama saat sampling. 4.2.4. Kualitas Air Kisaran suhu selama penelitian adalah 28-30 oC. kisaran ini sangat mendukung pertumbuhan dan sintasan ikan nila gift. Suhu optimal dalam pemeliharaan ikan nila gift secara intensif adalah 14-38 oC, suhu diluar batas tersebut akan mengurangi selera makan. Pendapat ini sesuai Mintardjo (1984) yang mengatakan bahwa ikan-ikan tropis tumbuh dengan baik pada suhu 25-32 oC. Kisaran oksigen terlarut yang diperoleh selama penelitian 3,45 5,36 ppm. Nilai ini sudah sesuai dengan pendapat Mintardjo (1984) yang mengatakan bahwa besarnya kandungan oksigen yang perlu diperhatikan untuk menjamin kehidupan ikan yang baik adalah tidak kurang dari 3 ppm. Hal ini didukung juga oleh Soetomo (2000) yang mengatakan bahwa kandungan oksigen terlarut untuk pertumbuhan ikan

nila gift diatas 2 ppm. Huet (1971) mengatakan bahwa jika tidak terdapat bahan-bahan beracun, kandungan oksigen 2 ppm sudah cukup untuk mendukung kehidupan organisme air. Selama penelitian ini nilai pH berkisar 7,5-8,30. Kisaran ini masih layak untuk kehidupan ikan. pH air untuk nila gift berkisar antara 6 8,5 (Sugiarto,1988), namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7 8. (Siregar, 2003).Namun, ikan nila masih dapat tumbuh dengan baik pada pH dengan kisaran 5-10 (Sucipto, 2010). Kisaran rata-rata Amoniak selama penelitian ikan nila (Oreochromis niloticus) ,yaitu 0,09 - 0,32 mg/l pada masing-masing perlakuan dan kisaran tersebut layak untuk ikan nila (Oreochromis niloticus). Menurut Arifin (2002) kadar amonia tidak lebih dari 0,1-0,3 mg/liter. konsentrasi amonia yang toksik dalam periode waktu yang singkat berkisar antara 0,6-2,0 mg/l (Ball, 1967 dalam Boyd, 1982). Pengaruh langsung dari kadar amonia tinggi yang belum mematikan adalah rusaknya jaringan insang, dimana lempeng insang membengkak sehingga fungsinya sebagai alat pernafasan akan terganggu. Sebagai akibat lanjut, dalam keadaan kronis ikan/udang tidak lagi hidup normal (Kordi & Tancung, 2007). V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian Respon Pertumbuhan Ikan Menggunakan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Dosis yang berbeda dalam pakan buatan dapat disimpulkan : 1. Kandungan tepung rumput laut dalam pakan buatan memberikan perbedaan yang sangat nyata terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan konversi pakan. 2. Kandungan tepung rumput laut 20% dalam pakan buatan menghasilkan pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik tertinggi serta konversi pakan yang terbaik. 3. Kisaran parameter kualitas air selama penelitian berlangsung masih dalam kisaran yang layak untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan nila (Oreochromis niloticus). 5.2 Saran Agar alat-alat penunjang penelitian dan praktikum di Laboratorium Terpadu Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Dayanu Ikhsanuddin dapat dilengkapi, sehingga bisa mempermudah para peneliti selanjutnya untuk menggunakan fasilitas laboratorium tersebut DAFTAR PUSTAKA Amri.2007. Mengenal dan Mengendalikan Predator Benih Ikan". Gramedia, Jakarta Arifin, M. 2002. Teknik Produksi Dan Pemanfaatan Bioinsektisida Npv Untuk Mengendalikan Ulat Grayak Pada Kedelai, p. 121-134. Dalam Sunihardi et al. (eds.). Asmariani, 2012. Data Analisis Proksimat Cacing Laut ( Nereis sp ). Lab. Jurusan Perikanan Unhalu. Kendari Boyd C.E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Netherlands: Elsevier Science Publishers Boyd & Linchtkoppler. 1982. Water Quality Development Series no 22. International Center for Aquaculture. Aquaculture Experiment Station, Auburn, Alabama. Cushing, D.H. 1968. Fisheries biology, a study in population dynamics. Madison, Univ. of Wisconsin Press, 200 p. Direktotat Gizi Depkes. 1992. Produk Fermentasi Ikan Garam. Balai Besar RisetPengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. 2002. Cara Pembenihan Ikan yang Baik. Direktorat jenderal Perikanan. Jakarta. Effendie, M.I., 1978. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta. Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri Bogor. Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2 Untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah

Menengah Kejuruan, Jakarta. Huet, M. 1971. Text Book of Fish Culture. Fishing News (Book) Ltd., London. Hutabarat, S dan S.M. Evans. 1996. Kunci Identifikasi Zooplankton. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Khairuman dan Amri, K. 2002. Budidaya Ikan Nila AgroMedia Pustaka. Jakarta Khairuman dan Amri. K. 2007. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif. Agro Media Pustaka. Jakarta. Khairuman, 2008. Kebiasaan Makan dan Laju Pertumbuhan ikan Nila. Agromedia Pustaka. Jakarta. http://www.blogtopsites.com [20 Desember, 2010] Kordi M.G. & Tancung A.B. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Jakarta: Rineka Cipta. Kusriningrum. 1990. Dasar Perancangan Percobaan dan Rancangan Acak Lengkap. Universitas Airlangga. Surabaya. Mintardjo, K,. A Sunaryanto, Utaminingsih dan Hermayaningsih. 1984. Persyaratan tanah dan air. Direktorat jendral perikanan, direktorat pertanian. Mudjiman, A 1994. Makanan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya. Jakarta. Mudjiman, A 2006. Makanan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya. Jakarta. Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. Muhajjir.2010.BahanPresentasi,Annelida.http://aneukiology.blogspot.com:SIGLI,NAD, Indonesia [NRC] National Research Council, Subcommite on Warmwater Fish Nutrition. 1993. Nutrient requirements of fish. Washington DC : National Academy of science, 114 pp.Peres H. and Teles AO. 1999. Effect of dietary lipid level on growth performance and feed utilization by European sea bass juveniles (Dicentrarchus labrax). Aquculture, . Saanin. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta. Bandung Sawyer, C.N. and McCarty, P.L. 1978. Chemistry for Environmental Engineering. Third edition. McGraw-Hill Book Company, Tokyo. Soetomo, M.J.A., 2000. Teknik Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon). Kansiua. Yogyakarta. Stickney, R.R. 1979. Principle of Warmwater Aquaculture. John Willey and Sons Inc., New York. Stickney, R.R. 2005. Aquaculture an Introductory Text.CABI Publishing, New York. Sucipto Adi.2007. Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis sp). Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Balai Besar Pengembangan Sukabumi. Sucipto A. 2010. Memilih Lokasi Untuk Budidaya Ikan.http:// www.adisucipto.com / aquatika/memilih-lokasiuntuk-budidaya-ikan.html (25 Juli 2011). Sugiarto. 1988. Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. Penerbit CV. Simplex (Anggota IKAPI). Sukirman.2011. Genetika Dan Pemuliaan Ikan Struktur Dan Pembelahan Sel. http://lasukirmanblogspotcom.blogspot.com/2011/03/laporan-aver.html: Kendari Sumeru, S. U. & Anna S. 1992. Pakan Udang Windu. Penerbit Kanasius, Yogjakarta. Suyanto. 2003. Strategi Periklanan pada ECommerce Perusahaan Top Dunia, Yogyakarta Wiadnya, D.G.R, Hartati, Y. Suryanti, Subagyo, dan A.M. Hariati. 2000. Periode Pemberian Pakan yang mengandung Kitin untuk Memacu Pertumbuhan dan Produksi Ikan Gurame (Osphronemus goramy Lac). Jurnal Peneltian Perikanan Indonesia, 6(2) :62-67. Winarno, F.G. 1990. Teknologi Pengolahan RumputLaut. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Yuwono, E. A. Sahri & Sugiarto, 2005. Asistensi Teknis Pengembangan Budidaya Cacing Lur di PT Birulaut Katulistiwa, Lampung. Laporan, Lembaga Penelitian UNSOED, Purwokerto. Zonneveld, N, Huisman E. A. Boon, J. H. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 318 p.